Anda di halaman 1dari 3

Tugu Pahlawan

Guna menghargai pengorbanan Pahlawan-pahlawan Kemerdekaan


Negara dan Bangsa Indonesia pada tanggal 10 November 1945. Untuk
lebih memberikan arti kepada Tugu yang hendak didirikan itu, diputuskan
bahwa Tugu ditempatkan di bekas puing-puing reruntuhan Gedung
Kenpeitai zaman Jepang. Bekas-bekas reruntuhan gedung ini pernah
membawa penderitaan yang tidak gampang dilupakan para pejuang
kemerdekaan dari zaman ke zaman. Sesudah menjadi gedung Raad van
Justitie (gedung pengadilan) pada zaman Nederlands Indië, pada zaman
Nippon menjadi markas Kenpeitai (polisi militer Jepang, di mana para
patriot bangsa yang dianggap melawan Jepang ditawan dan disiksa,
misalnya Ir Darmawan, tokoh ludruk Durasim). Dan pada saat meletusnya
pertempuran 10 November 1945 gedung ini juga jadi pusatnya gerakan
pemuda (PTKR = Polisi Tentara Keamanan Rakyat pimpinan Hasanudin
Pasopati dan N. Suharyo Kecik), yang kemudian gedung tadi menjadi
bulan-bulanan sasaran peluru mortir dan peluru meriam dari kapal laut, dan
bom dari pesawat terbang Thunderbolt, keduanya bagian dari angkatan
perang Inggris.

Cita-cita pendirian Tugu Pahlawan ini pada mulanya mendapat sanggahan


juga dari beberapa kalangan di Kota Surabaya sendiri. Mereka
beranggapan bahwa perumahan rakyat adalah usaha pertama-tama yang
harus diwujudkan. Bukannya usaha mendirikan tugu. Tetapi cita-cita ini
pun mendapat dukungan dari rakyat, dengan demikian rencana mendirikan
Tugu Pahlawan bisa mulai dilaksanakan.

Seorang utusan berangkat ke Jakarta membawa sebuah rencana


(ontwerp). Presiden tidak bisa menyetujui ontwerp itu dan menyarankan
bentuk “paku” untuk Tugu Pahlawan yang bakal didirikan itu.

Tentang mendirikan Tugu Pahlawan, oleh Walikota Surabaya yang baru,


R.Mustajab, kemudian dikirimkan lagi utusan ke Jakarta untuk
memperlihatkan dua belas ontwerp yang disusun menurut petunjuk-
petunjuk Presiden. Pilihan terakhir jatuh kepada sebuah ontwerp, tetapi
yang terakhir inipun mengalami perubahan-perubahan. Salah satu di
antaranya: tiang bendera yang hendak dipancangkan di pucuk tugu harus
dihilangkan.

Kerja Non-stop 40 Jam.

Dengan bantuan sepenuhnya dari jawatan-jawatan pemerintah seperti


PJKA, Kantor Telepon, Jawatan Gedung-gedung, dan beberapa instansi
swasta seperti Aniem (Perusahaan Listrik sebelum dinasionalisasi), BPM
(sebelum dinasionalisasi jadi Pertamina), serta juga dari Angkatan Darat
dan Angkatan Laut, penyelenggaraan pembangunan Tugu dimulai pada
tanggal 20 Februari 1952.

Untuk pondasi saja harus digali tanah sebanyak 620 M3.


Pekerjaan ini lalu disusul dengan pengecoran beton untuk “werkvloer”
seluas 247 M3 dengan tebal 6 cm. Beton yang disusun pakai perbandingan
1:3:6. Selesai pada tanggal 5 April 1952. Pekerjaan pengecoran beton oleh
Balai Kota ini kemudian dilanjutkan oleh Indonesian Engineering
Corporation, sebuah pemborong usaha nasional, untuk membuat pondasi.

Besi beton yang dihabiskan oleh pembuatan beton ini mencatat angka 19
ton. Sedang isi beton bertulang memakan campuran sebanyak 620 M3.
Pekerjaan ini lalu disusul pengecoran beton dengan perbandingan 1:2:3.
Oleh karena pengecoran harus diselesaikan sekali gus, maka untuk itu
empat buah mesin pencampur beton harus dikerahkan, dengan tenaga 120
orang yang bekerja bergiliran selama 40 jam nonstop. Pekerjaan inipun
selesai pada tanggal 3 Juni 1952.

Dari 45 M menjadi 45 yard

Pembangunan bagian bawah Tugu yang mencapai tinggi 30 meter itu


berakhir tepat pada tangggal 17 Agustus 1952, yaitu setelah dua bulan
terus-menerus dikerjakan. Untunglah bahwa perhitungan-perhitungan dan
perubahan menjadi 45 yard itu terjadi sesudah bagian bawah selesai
dikerjakan. Hingga waktu itu sudah ada 70 orang pekerja dikerahkan.
Pekerjaan pengecoran malahan meminta tenaga lebih banyak, sampai
sejumlah 80 orang, tetapi hasil yang diberikan tidaklah seperti yang
direncanakan. Setiap hari mereka cuma berhasil mengecor sebanyak 5
M3. Ini disebabkan karena makin tinggi memanjat, makin sukar
pelaksanaan pengecorannya.
Kekurangan-kekurangan ini kemudian menimbulkan gagasan baru, yaitu
untuk mempergunakan semacam “lift”. Menurut pendapat baru ini ternyata
hasilnya naik, sehari menjadi 9 M3. Dan tinggi yang 30 meter itu
pengecorannya selesai dalam tiga minggu.