Anda di halaman 1dari 17

Laporan Praktikum:

INFILTRASI TANAH

Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Dasar-Dasar


Ilmu Tanah

Dosen : Iwan Aminudin, M.Si,

Disusun Oleh :

Nama: PHONIKA ARYATI

Nim :109092000006

PRODI AGRIBISNIS 2009

FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI

UIN SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA

2010 M/1431 H

KATA PENGANTAR

1
Puji syukur kami panjatkan atas kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena
atas limpahan nikmat dan karunia-Nya sehingga penulis bisa menyelesaikan
penyusunan laporan praktikum ilmu tanah dengan materi Tekstur Tanah. Laporan
ini kami susun untuk materi mata kuliah Ilmu Tanah di pergururan tinggi Uin
Syrif Hidayatullah Jakarta.

Pada saat curah hujan mencapai permukaan tanah seluruh atau sebagian
curah hujan akan diserap oleh tanah. Bagian yang tidak diserap oleh tanah akan
menjadi limpasan permukaan (mengalir menuju sungai). Air yang masuk kedalam
tanah itu disebut infiltrasi tanah (Gerakan air masuk kedalam tanah), Kapasitas
infiltrasi setiap permukaan tanah berbeda-beda bergantung pada tekstur dan
struktur tanah.

Jakarta 07 November 2010

Penulis

DAFTAR ISI

Halaman Judul …………………..……………………………………....1

2
Kata Pengantar ………………….……………………………………….2

Daftar Isi …………………..………………………………………3

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang ………………………………………….4


1.2 Tujuan Laporan ………………………………………….4

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ………………………………………….5

BAB III METODE PRAKTIKUM

3.1 Dasar Teori ………………………………………….6


3.2 Alat dan Bahan ………………………………………….7
3.3 Cara Kerja ………………………………………….8
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN PRAKTIKUM

4.1 Hasil ………………………………………….10


4.2 Pembahasan ………………………………………….11

BAB V PENUTUP

5.1 Kesimpulan ………………………………………….16


Daftar Pustaka ………………………………………………………….17

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Permasalahan

3
Air yang jatuh sebagai hujan tidak semuanya dapat mencapai permukaan
tanah; sebagian tanah oleh vegetasi dan bangunan, sebagian air yang mencapai
permukaan tanah akan masuk kedalam tanah dan manjadi air tanah melalui proses
infiltrasi; sebagian lagi mengalir kebadan air sebagai air permukaan. Masuk nya
air kedalam tanah dibantu dengan gravitasi dalam tanah, Laju infiltrasi air ke
dalam tanah, berhubungan dengan pengisian kembali tanah oleh air hujan atau
oleh air irigasi, sangat penting khusus nya untuk tanaman pertanian. Karena
tanaman sangat memerlukan air untuk memecahkan zat-zat yang terkandung
didalam tanah sarta untuk kelembapan tanah itu sendiri.

1.2 Tujuan Pembahasan

1. Memenuhi tugas matakuliah dasar-dasar ilmu tanah.

2. Mengetahui Tentang infiltrasi tanah dan Proses nya.

3. Mengetahui Kapasitas resapan air dalam tanah melalui Infiltrasi tanah


dan Kecepatan Resapan Air di tanah yang berbeda-beda.

1.3 Metode Pengumpulan Data.

a. Pengamatan Secara Langsung.

b. Studi Kepustakaan.

c. Melalui Internet.

II. TINJAUAN PUSTAKA

Bahan sementasi dan hipa yang dihasilkan dari kegiatan mikroorgnisme

menyebabkan terjadinya agregasi tanah dan stabilitas agregat meningkat sehingga

4
infiltrasi air lebih besar dan limpasan permukaan, serta erosi dapat ditekan. Pori

makro yang dihasikan aktivitas cacing tanah, semut, dan rayap meningkatkan

infiltrasi air dan menekan terjadinya air limpasan dan erosi. (Smith, at aal. 1992).

Teori Infiltrasi tanah yang menekan kan bahwa perkolasi air melalui

lapisan bawah tanah (subsoil), dapat menghasilkan mata air; bukan hutan yang

menghasilkan mata air (Coster. 1938)

Dibawah zone transmisi, adalah zone pembasahan (wetting zone) dengan


kadar air tanali meningkat secara cepat, mengikuti lamanya waktu infiltrasi. Zone
pembasahan ini berakhir pada daerah basali. Dengan mempertimbangkan infiltrasi
air ke arah honzontal dari sebuah media yang berpori dengan permebilitas jenuh
{saturated permeability) k dan porositas rj, Brand (1982: 35) berdasarkan Lumb
(1962).

Knapp (1978: 69) menyebutkan bahwa Hewlett dan Hibbert (1963) yang
meneliti infiltrasi dan redistribusi kadar kebasahan tanah pada lereng, telah
menyimpulkan bahwa sementara bagian atas lereng secara cepat berkurang
kejenuhannya dan secara asimtot mendekati keadaan keseimbangannya, bagian
bawah segera mengembangkan kadar air yang tetap stabil dengan nilai mendekati
keadaan jenuh Percobaan ini dilakukan dengan model berupa lempeng tanah yang
seragam, dimana kadar kebasahan digabungkan dengan ketebalan lempeng dan
karena itu, tidak menggambarkan perbedaan kadar kebasahan yang tegak lurus
terhadap bidang miring lereng.
Produksi Polisakarida yang bersifat lekat sehingga membantu agregasi

tanah (meningkatkan porositas dan infiltrasi udara dan air, serta menurunkan

kehilangan akibat erosi. (Rachman Sutanto. 2003)

INFILTRASI TANAH

A. Dasar Teori
5
Infiltrasi adalah proses masuknya air ke dalam tanah. Air yang telah ada di
dalam tanah kemudian akan bergerak ke bawah oleh gravitasi dan disebut dengan
perkolasi. Laju infiltrasi air ke dalam tanah, dalam hubungannya dengan
pengisian kembali tanah oleh air hujan atau oleh air irigasi, sangat penting.
Apabila daya infiltrasi tanah besar, berarti air mudah meresap kedalam tanah,
sehingga aliran permukaan kecil. Akibat erosi yang terjadi juga kecil. Daya
infiltrasi tanah dipengaruhi oleh pororitas dan kemantapan struktur tanah. Karena
bentuk struktur tanah yang membulat (granuler, remah, gumpal membulat),
menghasilkan tanah dengan pororitas tinggi sehingga air mudah meresap kedalam
tanah, dan aliran permukaan menjadi kecil, sehingga erosi juga kecil. Demikian
pula tanah-tanah yang mempunyai struktur tanah yang mantap (kuat), yang berarti
tidak mudah hancur oleh pukulan-pukulan air hujan, akan tahan terhadap erosi.
Sebaliknya struktur tanah yang tidak mantap, sangat mudah hancur oleh pukulan
air hujan, menjadi butiran-butiran halus sehingga menutup pori-pori tanah.
Akibatnya air infiltrasi terhambat dan aliran permukaan meningkat yang berarti
erosi juga akan meningkat.
Laju Infiltrasi dan Kapasitas Infiltrasi

Laju infiltrasi (infiltration rate) dan kapasitas infiltrasi (infiltration


capacity) adalah besaran kuantitas infiltrasi, dimana kapasitas infiltrasi adalah laju
infiltrasi maksimum unruk suatu jenis tanali tertentu sementara laju infiltrasi
adalah laju infiltrasi yang nyata pada tanah tersebut. Laju infiltrasi tergantung
pada kondisi permukaan dan bawah permukaan tanah. Faktor terpenting adalah
stabilitas pori-pori pada permukaan tanali dan laju transmisi air lewat tanah.
Secara fisik, ada empat faktor yang mempengaruhi laju infiltrasi dan kapasitas
infiltrasi tanah, yaitu: (1) Jenis tanah, (2) Kepadatan tanah, (3) Kelembapan
Tanah, (4) Tutup Tumbuhan. Namun Setiap Jenis tanah mempunyai laju infiltrasi
karakteristik yang berbeda dan bervariasi tergantung pada karakterisrik tanah
tersebut.
Faktor-faktor yang mempengaruhi laju infiltrasi adalah; kandungan air
awal, permeabilitas permukaan tanah, kondisi internal seperti ruang pori dan
kemerekahan koloid tanah, serta kandungan bahan organik tanah, juga lamanya

6
air hujan atau pemberian air irigasi. Dalam mengukur laju kecepatan infiltrasi
tanah dilapangan dapat dinyatakan dengan:
w : Berat air/volume air.
V : Kecepatan air.
t : Waktu kecepatan resapan air. Hal tersebut dinyatakan dalam:

V= w
t
Misal:
Kecepatan air meresap/laju infiltrasi air kedalam tanah 30 detik, dan
volume air dalam percobaan sebanyak 2 liter. Tentukan berapa kecepatan laju
infiltrasi air kedalam tanah dalam satuan Liter/menit.
Jawab: 2 liter = 4 liter/menit
0,5 menit 30 detik dijadikan menit menjadi 0,5 menit.

Semakin kecil laju infiltrasi maka semakin subur tanah tersebut karena banyak
mengandung unsur hara dan pori-pori yang baik untuk tanaman pertanian khusus
nya.
B. Tujuan Praktek
- Mengetahui kecepatan resapan air yang masuk dalam tanah (Infiltrasi

tanah) di tanah yang berbeda-beda.

- Dapat mengetahui laju infiltrasi dan Peroses infiltrasi tanah serta faktor

penyebabnya.

C. Alat dan Bahan

- Literan yang dilubangi dua arah (atas dan bawah) yang berukuran 2 liter.

- Ember penampung air

- Gelas mili liter/ gelas piala 200 ml

- Air

- Gayung

- Stop Watch

D. Cara Kerja

7
Dalam percobaan praktikum ini di awali dengan mencari lokasi mana yang

akan diambil untuk pengujian kecepatan laju infiltrasi tanah, diantara nya lokasi

pada lahan Tanah olahan (OT), dan lokasi pada lahan tanpa olah Tanah (TOT).

sampel lahan tersebut diambil untuk perbandingan kecepatan dan kesuburan

tanah. Biasanya pada tanah Olahan laju infiltrasi lebih cepat ketimbang pada lahan

Tanpa olah tanah. Sebelum percobaan dimulai siapkan air sebanyak 2 liter dan

ditampung didalam ember penampung air. Selanjutnya percobaan dimulai pada

lahan olahan dengan cara Menancapkan Literan Besi kedalam tanah namun

diusahakan jangan sampai air yang akan dituangkan tidak bocor dan dalam

menancapkan jangan terlalu dalam kira-kira 1-2cm. Berikut gambar literan besi

saat ditancap kan ke dalam tanah.

Setelah Literan di tancapkan didalam tanah tuang air yang ada didalam ember

penampung secara perlahan dengan menggunakan Gelas mili liter/Gelas Piala

200ml, degan diukur terlebih dahulu masa air yang dituangkan sebanyak 2 liter,

dan tuang secara berangsur-angsur sampai air memenuhi Literan besi.

8
Berikut Gambar cara menuangkan air kedalam literan besi.

Setelah literan terisi penuh, secara bersamaan hitung kecepatan resapan air
yang masuk dalam tanah (infiltrasi) dengan menggunakan Stop Watch, kemudian
tunggu air yang meresap tersebut sampai air benar-benar teresap semua kedalam
tanah sambil memperhatikan laju kecepatan air tersebut dengan Stop Watch.
Setelah ai benar-benar telah habis teresap oleh tanah maka dengan cara bersamaan
pula Stop Watch di berhentikan. Kemudian Catat berapa lama laju infiltrasi tanah
tersebut kemudian hitung kecepatan nya dengan satuan Liter/menit. Hal yang
perlu diperhatikan: kebocoran pada literan sering terjadi apabila kita tidak teliti
dengan seksama karena dalam penghitungan kecepatan laju infiltrasi ini tidak
dibenarkan apabila literan tersebut bocor dan perlu pengulangan percobaan jika
hal tersebut terjadi. Jika terjadi kebocoran air biasa nya keluar sangat cepat dari
sisi-sisi literan.

Berikut Gambar Literan yang telah dipenuhi air dan proses penungguan:

9
Setelah kita mengetahui hasil dari percobaan pertama pada lahan tanah
Olahan (pohon singkong), percobaan selanjutnya dilakukan pada lahan Tanpa
olah tanah dengan cara metode yang sama pada tanah olahan, setelah hasil
keduanya didapat bandingkan dan perhatikan dengan sesama faktor apa yang
membedakan dari hasil keduanya. Maka dari itu di pembahasan akan dijelas kan
faktor-faktor apa saja yang menyebabkan nya.

C. Hasil

Jenis Lahan
Percobaan Kecepatan Infiltrasi
Kelompok Vegetasi
(menit/liter)
T.O.T O.T

1&6 1 Rumput  0,36

2 Pohon singkong  0,25

2&7 1 Pepaya  0,039

2 Pohon singkong  0,060

10
3&8 1 Jagung  0,44

2 Sawi  0,065

4&9 1 Jagung  0,17

2 Lahan tergenang  0,041

5 & 10 1 Rumput Tergenang  0,043

2 Jagung  0,56

11 & 12 1 Jagung  0,88

2 Lahan Tergenang  0,36

2.2 PEMBAHASAN
Infiltrasi merupakan Peroses masuk nya air atau meresapnya air kedalam
tanah melalui pori-pori tanah. Laju gerak air menembus tanah atau konduktivitas
hidrolik, dapat berkurang dengan makin berkurangnya ruang pori. Gerak air
menembus tanah pada status air di atas kapasitas lapang terutama dikendalikan
oleh potensial gravitasi, dan potensial matrik pada status air di bawah kapasitas
lapang. Konduktivitas hidraulik menurun dengan cepat, dengan semakin
menurunnya potensial air, sehingga gerak air sangat lambat pada tanah kering dan
praktis berhenti pada potensial air sekitar –15 bar. Pada tanah yang sangat kering,
air hanya bergerak sebagai uap. Perbedaan temperatur antara permukaan tanah
dengan horizon yang lebih dalam mampu menggerakkan air (uap) ke atas pada
musim dingin dan ke bawah pada musim panas. Bila dalamnya permukaan air
tanah sekitar satu meter, gerak air ke atas cukup memadai untuk kebanyakan
tanaman. Kuantitas air yang mampu diserap oleh tanah sangat tergantung pada

11
kondisi fisik tanah misalnya, bobot isi (daya tanah melarutkan air), infiltrasi (daya
tanah meresap kan air), porositas (jumlah volume udara yang terkandung dalam
tanah), dan struktur tanah(bentukan hasil penyusunan butiran-butiran tanah).
Sebelum mencapai kejenuhan, air masih dapat diserap oleh tanah. Jika telah
melebihi kejenuhan, air hujan yang jatuh ke permukaan tanah akan dialirkan
sebagai limpasan permukaan (surface run off), ke badan air. Air yang masuk
kedalam tanah akan mencapai akifer. Air hujan yang jatuh kebumi dan menjadi
air permukaan memiliki kadar bahan-bahan terlarut atau unsur hara yang sangat
sedikit. Karena air hujan biasa nya asam, dengan Ph 4,2. Hal ini disebabkan air
hujan melarutkan gas-gas yang terdapat diatmosfer misalnya CO 2, Sulfur (S),
dan nitrogen oksida (NO2). Yang dapat membentuk asam lemah (Novotny dan
Olem , 1994). Setelah jatuh kepermukaan bumi, air hujan mengalami kontak
dengan tanah dan melarut kan bahan-bahan yang terkandung didalam tanah.
Struktur tanah mempengaruhi laju infiltrasi air kedalam air. Daya penahan
air adalah banyaknya air yang di tahan oleh tanah kering yang halus. Hal ini
dinyatakan dengan gr air per 100gr tanah halus dan kering. Contoh:

- Tanah berpasir bisa menahan 18-19 gr air per 100gr tanah.

- Tanah yang baik rata-rata bisa menahan 27-29 gr per 100gr tanah

- Tanah berliat bisa menahan air sekitar 56-80gr per 100gr tanah

- Sedang tanah yang berhumus bisa menahan air lebih dari 100gr per 100gr
tanah.

Maka dari itu daya tahan air pokoknya tergantung dari tekstur tanah. Jumlah
total yang dapat ditahan tergantung dari daya tahan dan dari dalam nya tanah.
Maka permeabilitas dinyatakandengan kecepatan air turun sampai kelapisan tanah
yang terbawah, dan ini tergantung dari;

o Tekstur tanah, ingat bahwa tanah liat kurang permeabilitas bila disbanding
dengan tanah pasir.

o Struktur tanah, ingat pada tanah yang padat kurang permeabel dari tanah
yang gembur.

12
Sebagai contoh tanah berpasir yang sangat permeabel, turunnya air dengan
kecepatan 50-60 cm perjam, sedangkan pada tanah lempung berliat hanya 0,6
cm per jam.

Daya pengikat air dan permeabilitas adalah data-data yang sangat penting dalam
soal irigasi (maksudnya air siraman bukan sawah), karena daya pengikat air
menentukan berapa banyaknya air yang dibutuhkan, sedang permeabilitas
menentukan kecepatan waktu dimana air itu dibutuhkan.

Pada umumnya jenis tanah Iempung mempunyai Iaju infiltrasi yang


rendah sedangkan pada tanah berpasir laju infiltrasinya tinggi. Jenis tanah yang
sama tetapi dengan kepadatan yang berbeda akan mempunyai laju infiltrasi yang
juga berbeda. Makin padat tanah tersebut, semakin kecil laju infiltrasi yang terjadi
Kelembaban tanah yang selalu berubah setiap saat juga mempengaruhi laju
infiltrasi yang terjadi. Makin tinggi kadar air di dalam tanah, laju infiltrasi tanah
tersebut makin kecil. Dengan demikian dapat dimengerti bahwa semakin lama,
laju infiltrasi akan semakin kecil. Pengaruh tanaman di atas permukaan tanah ada
dua, yaitu yang berfungsi menghambat aliran air di atas permukaan sehingga
kesempatan berinfiltrasi lebih besar, dan tumbuhan dengan sistem akar-akaran
yang dapat lebih menggemburkan tanah, sehingga semakin baik tutup tanaman
yang ada, makin tinggi laju infiltrasi yang terjadi.
Air yang memasuki tanah yang kering berasal dari permukaan tanah,
dengan jalan masuk yang tetap yaitu pori-pori tanah. Meskipun jumlah pori-pori
dapat dianggap tetap, tetapi volume pori dapat berubah-ubah. Pada tanah
lempung, swelling akibat pembasahan dapat mengurangi volume pori-pori tanah
berukuran besar yang mempengaruhi laju infiltrasi dan kapasitas infiltrasi.
Berikut Sekilas Proses Distribusi Air Selama Infiltrasi
Ketika air hujan jatuh kepermukaan tanah yang kering, tidak ada air yang
masuk lewat permukaan tanah sampai lapisan adsorbed film pada pemukaan
tanah terbentuk. Hanya setelah lapisan itu terbentuk air akan bergerak lewat tanah
dengan gaya gravitasi. Karena gaya-gaya pendorong yang merupakan gabungan
dari defisiensi tekanan pori dan gaya gravitasi, infiltrasi dimulai dengan laju yang

13
tinggi. Laju infiltrasi akan berkurang setelah lapisan adsorbed film itu jenuh, dan
akhimya bertahan pada laju konstan yang rendah jika hujan tetap berlangsung
dengan konstan, Bagian permukaan sekitar 1 cm berada dalam keadaan jenuh
yang disebut dengan zone jenuh, dan sweffing terjadi pada tanah lempung yang
mengakibatkan bertambahnya kadar air tanah pada lapisan ini. Di bawah lapisan
ini, kadar air menurun secara drastis ke 70-80% derajat kejenuhan, yang
merupakan kadar air yang berada antara jenuh dan kapasitas lapangan. Lapisan ini
disebut zone transmisi dan kadar airnya tetap konstan atau berkurang sedikit demi
sedikit terhadap kedalaman seiring dengan bertambahnya kedalaman pembasahan.
Teknik Pengukuran Kadar Air Tanah
Kemampuan mengukur mengendalikan suplai air tanah kepada tanaman
merupakan dasar untuk meningkatkan efisiensi penggunaan air, juga dasar untuk
telaah lebih lanjut mengenai hubungan antara air dan tanaman. Besaran terbaik
untuk mengukur ketersediaan air bagi tanaman adalah potensial air. Komponen
utama dari potensial air tanah adalah potensial matrik dan potensial zat terlarut. Di
daerah humida potensial matrik merupakan komponen utama, akan tetapi di
daerah arid potensial zat terlarut atau potensial osmosis seringkali merupakan
komponen penting dalam total potensial air tanah. Pada saat curah hujan mencapai
permukaan tanah seluruh atau sebagian curah hujan akan diserap oleh tanah.
Bagian yang tidak diserap oleh tanah akan menjadi limpasan permukaan
(mengalir menuju sungai). Kapasitas infiltrasi setiap permukaan tanah berbeda-
beda bergantung pada tekstur dan struktur tanah. Sebelum air diloloskan
“(meresap) kedalam tanah, pada dasarnya ditahan terlebih dahulu oleh butiran
tanah hingga tanah menjadi lembab. Air didalam tanah ditahan oleh gaya absorbsi
permukaan butir-butir tanah dan tekanan antara molekul air.
Banyaknya air yang dapat dikandung oleh tanah disebut kapasitas
menahan air. Jika infiltrasi lebih besar dari kapasitas menahan air yang minimum
maka air itu akan terus kepermukaan air tanah (perkolasi). Akan tetapi jika
infiltrasi itu lebih kecil, air akan tertahan dalam tanah dan tidak terjadi perkolasi.
Kapasitas menahan air yang minimum tersebut disebut kapasitas menahan air
normal.

14
Air yang dapat bergerak dalam tanah adalah air kapiler dan air gravitasi.
Air gravitasi bergerak dalam ruang tanah oleh karena gravitasi. Jika ruang-ruang
itu telah jenuh dengan air, air tersebut akan bergerak kebawah.
Factor-faktor yang mempengaruhi infiltrasi;
1. Tumbuh-tumbuhan. Jika permukaan tanah tertutup oleh pohon-pohon dan
rumput, infiltrasi dapat dipercepat.
2. Jumlah air yang teredia di permukaan tanah.
3. Sifat permukaan tanahtermasuk kelembapan tanah. Jika tanah belum
lembap, infiltrasi akan melembapkan dulu tanah dibagian atas.
Pemampatan oleh curah hujan. Gaya pukulan butir-butir hujan mengurangi
kapasitas infiltrasi karena akan memberi efek pemampatan pori tanah oleh butiran
kecil yang terpencar akibat pukulan butiran hujan.

15
KESIMPULAN

Air yang hujan yang jatuh kepermukaan bumi tidak sepenuhnya dapat
diserap oleh tanah, sebagian mengalir ke sungai. Laju infiltrasi tanah tergantung
pada faktor-faktor yang ada diatas permukaan tanah tersebut dan besarnya pori-
pori tanah. Hal ini berkaitan dengan butiran pori tanah pada permukaan tekstur
tanah. Maka dari setiap Tanah memiliki berbagai macam perbedaan pada laju
kecepatan resapan/infiltrasi tanah hal tersebut tergantung pada tekstur tanah itu.
Namun pada tanah yang memiliki laju kecepatan menyerap air lebih baik maka
tanah tersebut dapat dikatakan subur, sebaliknya pada tanah yang tidak subur
maka laju kecepatan resapan air/infiltrasi terlihat lambat, percobaan telihat jelas
pada tanah liat dan lempung hal itu dikarenakan oleh kepadatan unsur dari tanah
tersebut.

16
DAFTAR PUSTAKA

Arif, Arifin. 2001. Hutan dan Kehutanan. Yogyakarta: Kanisius Media.

Effendi, Hefni. 2003. Telaah Kualitas Air. Yogyakarta: Kanisius Media.

Hardjowigeno, H. Sarwono. 2000. ILMU TANAH. Jakarta: Akademika

Pressindo.

Hardjowigeno, H. Sarwono. 2003. ILMU TANAH. Jakarta: Akademika

Pressindo.

Suhardi. 1983. Dasar-Dasar Bercocok Tanam. Yogyakarta: Kanisius Media

Sutanto, Rachman. 2002. Pertanian Organik. Yogyakarta: Kanisius Media.

Sutanto, Rachman. 2005. Dasar-Dasar Ilmu Tanah Konsep dan Kenyataan.

Yogyakarta: Kanisius Media

Yani, Ahmad dan Mamat Ruhimat. 2007. Geografi Menyingkap Fenomena

Geosfer. Bandung: Grafindo Media Pratama.

17