Anda di halaman 1dari 7

Rapat Tim Kebijakan Privatisasi BUMN, 3 Desember 2002

DAFTAR ISI

1. Rencana privatisasi PT BA................................................................................1

2. Persiapan privatisasi PT BA..............................................................................1

1
Rapat Tim Kebijakan Privatisasi BUMN, 3 Desember 2002

BAHAN RAPAT TIM KEBIJAKAN PRIVATISASI BUMN

3 DESEMBER 2002

Privatisasi Badan Usaha Milik Negara (BUMN) diartikan sebagai penyerahan kontrol
efektif dari perseroan kepada pemilik baru yang diharapkan dapat mencapai sasaran
yang telah ditetapkan. Secara umum terdapat beberapa metoda privatisasi, antara
lain metoda Penempatan Langsung (Direct Placement) dan metoda Penawaran
Umum (Go Public).

Sejak dibentuknya Menteri Negara BUMN (tahun 2001) kebijakan management


BUMN termasuk privatisasi langsung ditangani oleh Meneg BUMN, sehingga
laporan yang akurat dan detail tidak ditangani oleh Departemen teknis yang terkait.

Di lingkungan Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral (DESDM) terdapat


tujuh BUMN, yaitu : PT Timah (Tbk), PT Aneka Tambang (Tbk), Pertamina, PT PLN
(Persero), PT PGN (Persero), PT Tambang Batubara Bukit Asam dan PT Koneba.

Sebanyak dua dari tujuh BUMN tersebut telah go public, yaitu PT Timah (Tbk) dan
PT Aneka Tambang (Tbk). Sedangkan empat BUMN lainnya saat ini menjadi
kewenangan Menteri Negara BUMN. Dari empat BUMN tersebut, PT PLN (Persero)
dan PT PGN (Persero) merupakan BUMN yang masih menerima dana dari APBN
dalam bentuk Daftar Isian Proyek (DIP). Pertamina merupakan satu perusahaan
negara yang diatur dengan UU tersendiri.

Saham PT Tambang Batubara Bukit Asam (PT BA) di bursa luar negeri tidak seperti
yang diperkirakan sebelumnya, karena secara umum keadaan bursa saham dunia
kurang menguntungkan. Berdasarkan penjajagan yang dilakukan oleh underwriter,
diperoleh indikasi pelaksanaan Initial Public Overing (IPO) untuk PT BA kurang
menguntungkan sehingga strategic investors merupakan skenario privatisasi yang
mungkin dapat dilakukan.
2
Rapat Tim Kebijakan Privatisasi BUMN, 3 Desember 2002

1. Rencana privatisasi PT BA

Rencana privatisasi PT BA telah disetujui dan didukung oleh Komisi VII DPR-RI
dalam acara dengar pendapat tanggal 22 Mei 2001 dengan terlebih dahulu
membentuk anak perusahaan yang mengelola cadangan batubara sebesar 367
juta ton untuk diprivatisasi. Rencana tersebut dapat disampaikan sebagai berikut:

a. Hal-hal yang telah dilaksanakan

• Mengimplementasikan Sistem Informasi Manajemen, sehingga laporan


keuangan dapat disajikan dalam kurun waktu kurang dari 7 (tujuh) hari.
• Audit laporan keuangan PTBA tahun 1997, 1998 dan 1999 telah dilakukan
oleh Auditor Independen.
• Redundansi sebanyak 282 karyawan, untuk meningkatkan efisiensi dan
produktifitas tenaga kerja.
• Kuasi reorganisasi guna memperbaiki struktur permodalan dan telah
diumumkan dalam Berita Negara RI No. 24 tambahan No. 1504 tanggal
24 Maret 2000.
• Memperoleh sertifikat ISO-9002, dalam upaya untuk peningkatan kontrol
kwalitas guna menjamin mutu produk.
• Studi pengembangan Ombilin.
• Eksplorasi pengembangan Ombilin.
• Tender pengembangan Ombilin.
• Penunjukkan Lembaga dan Profesi Penunjang Pasar Modal, yaitu:
− Underwriter : PT Danareksa Sekuritas (1 Maret 2000)
− Competent Person : International Mining Consultant (IMC)
(10 Desember 1999).
− Consultant Legal : Wiriadinata dan Widyawan
(15 Desember 1999).
− Appraiser Asset : PT Satyatama Garaha Tara (2 Mei 2000)
− Public Relation : Indo Pacific (30 Maret 2000).
− Auditor Independent : Prasetyo Utomo – Arthur Andersen
(18 Juni 2000).

3
Rapat Tim Kebijakan Privatisasi BUMN, 3 Desember 2002

− Biro Administrasi Efek & : PT Datindo Entrycom (6 Juni 2000)


Settlement Agent.

b. Rencana privatisasi PT BA

• Peningkatan angkutan kereta api :


− Melakukan kerjasama PT BA dengan PT KAI untuk meningkatkan
kapasitas angkutan kereta api (Tanjung Enim – Tarahan) dari 7,4 juta
ton/th (tahun 2000) menjadi 12,5 juta ton/th(tahun 2003).
− Total investasi Rp. 1,02 triliun berdasarkan tarif angkutan kereta api
yang akan dibebankan kepada PT BA, tidak ekonomis.
− Diusulkan untuk dijajagi kemungkinan pembelian lokomotif dan
gerbang second hand untuk memperkecil nilai investasi dan meminjam
kembali tarif angkutan.

• Tambang Ombilin
− Tambang ombilin akan mengurangi nilai jual dan tidak menarik
investor.
− Pemisahan tambang ombilin (Spin off) telah disetujui Menteri
Keuangan dan Menteri Negara Penanaman Modal dan Pembinaan
BUMN. Alternatif pengelolaan selanjutnya oleh PT Semen Padang,
PLTU Ombilin dan telah dipresentasikan dihadapan Gubernur
Sumatera Barat dan Sawah Lunto.

• Pengelolaan briket batubara :


− Penyertaan modal pemerintah untuk pembangunan 5 (lima) pabrik
briket batubara, telah ditunda.
− Telah disetujui perubahan peruntukan dana pengembangan briket
batubara menjadi pengembangan usaha PT BA.

• Skenario Privatisasi PT BA
− Harga saham di luar negeri kurang mengembirakan

4
Rapat Tim Kebijakan Privatisasi BUMN, 3 Desember 2002

− Penjajagan underwater diperoleh indikasi bahwa pelaksana IPO untuk


permasalahan tambang batubara Indonesia saat ini kurang
menguntungkan dan Strategic Investor merupakan Skenario yang
mungkin dilakukan.
c. Perkiraan nilai perusahaan

• Nilai PT BA diperkirakan sebesar US$ 363,98 juta


• Asumsi dan dasar perhitungan
− Nilai perusahaan berdasarkan proyeksi 20 tahun
− Kerjasama dengan PT KAI dapat dilakukan
− Penilaian dengan Constant Money
− Free-tax flow
− Discount rate 15%.

d. Keuntungan dan kerugian privatisasi PT BA

• Keuntungan :
− Meningkatkan modal usaha dan memungkinkan PT BA dapat
melakukan ekspansi.
− Meningkatkan pajak terutama bila sebagian besar batubara diekspor.
− Masyarakat dapat memiliki saham dalam rangka pemerataan
pendapatan.
− Meningkatkan citra investasi batubara di Indonesia dan dapat
menciptakan lapangan kerja baru.

• Kerugian
− Kebijakan akan berubah dan dapat mengganggu pasokan batubara ke
Suralaya yang akan berdampak terhadap penyediaan listrik.
− Mempengaruhi manajemen, apabila saham yang dialihkan lebih dari
51%.
− Dividen pemerintah berkurang, karena sebagian sudah beralih
kemasyarakat.
5
Rapat Tim Kebijakan Privatisasi BUMN, 3 Desember 2002

2. Persiapan privatisasi PT BA

Sesuai surat Menko Bidang perekonomian (selaku Ketua Kebijakan Privatisasi)


No. S-68/M.Ekon/04/2002 tanggal 1 April 2002, PT BA telah ditetapkan sebagai
salah satu BUMN yang akan diprivatisasi tahun 2002.

PT BA telah melakukan beberapa kali pertemuan dengan Kantor Meneg BUMN


(14 Januari ; 26 Februari dan 15 April 2002) untuk membahas persiapan
privatisasi PT BA, sebagai berikut :

• Privatisasi PT BA dilakukan melalui Initial Public Overing (IPO), dengan


struktur perusahaan sebagaimana saat ini tanpa terlebih dahulu membentuk
anak perusahaan sehingga tidak menimbulkan masalah pendanaan guna
pengembangan usaha.
• Apabila kondisi pasar mendukung, PT BA dapat melakukan privatisasi melalui
IPO pada tahun 2002. Sehubungan dengan rencana tersebut maka privatisasi
perlu disosialisasikan kembali kepada Komisi VIII dan IX DPR-RI, serta
kepada seluruh Stake Holders.
• Saham yang akan ditawarkan dalam IPO dan penunjukan Underwriter masih
menunggu keputusan Menteri Negara BUMN.
• Pengambilalihan 51 % saham PT KPC oleh PT BA merupakan langkah yang
strategis dan meningkatkan nilai PT BA dalam privatisasi.

6
Rapat Tim Kebijakan Privatisasi BUMN, 3 Desember 2002