Anda di halaman 1dari 3

DILEMA PENETAPAN HARGA GANTI RUGI PENGADAAN TANAH DI

SUMATERA UTARA (Suatu Kajian Terhadap Pelaksanaan Pengadaan Tanah bagi


Pembangunan Untuk Kepentingan Umum di Wilayah Sumatera Utara, Tapanuli
Selatan dan Deli Serdang)

ABSTRAKSI

Penelitian ini dilakukan untuk untuk melihat dan menilai Pelaksanaan Pengadaan
Tanah bagi Pembangunan Untuk Kepentingan Umum di Wilayah Sumatera Utara
dalam era otonomi daerah saat ini, sesuai dengan peraturan perundang-undangan
yang ada di Provinsi Sumatera Utara.

Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif analisis dimana penelitian ini
menggambarkan bagaimana masalah penetapan harga ganti rugi dalam pelaksanaan
pengadaan tanah yang terjadi di lapangan. Dari hasil penelitian yang dilakukan,
Pengadaan tanah untuk kepentingan umum pada prinsipnya bertujuan untuk dapat
memberikan manfaat bagi yang membutuhkan tanah dan pihak masyarakat yang
tanahnya dibebaskan.

Pengadaan tanah untuk kepentingan umum dapat dilakukan pemerintah dengan cara
peralihan hak yaitu melalui cara jual beli antara pihak yang mempunyai tanah dengan
yang membutuhkan tanah. Prosedur seperti ini tentunya tidak menimbulkan masalah
jika adanya kesepakatan dari para pihak.

Kendala yang dihadapi dalam pelaksanaan ganti rugi terhadap pelepasan hak atas
tanah untuk kepentingan umum di Sumatera Utara pada umumnya adalah adanya
keberatan dari sebagian masyarakat yang terkena ganti rugi tentang besarnya jumlah
ganti rugi yang ditetapkan oleh panitia, khususnya untuk pembangunan Bandara
Kuala Namu adalah lambatnya eksekusi tanah setelah proses pembebasan akibat
krisis ekonomi dan lambannya pembangunan bandara sehingga lahan yang telah
dibebaskan dipergunakan kembali oleh masyarakat.

7
Adanya sebagian oknum masyarakat yang mencoba untuk memanfaatkan momen
pembebasan dan pengadaan tanah untuk kepentingan umum dengan meminta ganti
rugi kepada panitia pengadaan tanah meskipun tidak memiliki alas hak atas tanah
atau tanah yang dimilikinya tidak berada dalam rencana proyek pembangunan.

Untuk mengatasi hal tersebut, perlu adanya transparansi tentang berapa sebenarnya
anggaran yang tersedia untuk ganti rugi sehingga masyarakat bersedia dengan
sukarela untuk melepaskan hak atas tanahnya guna kepentingan umum tanpa adanya
intimidasi. Agar pelaksanaan ganti rugi terhadap hak atas tanah untuk kepentingan
umum agar dilakukan dengan implementasi Perpres No. 65 Tahun 2006 secara
formal maupun substansial untuk masa yang akan datang. Untuk mengatasi oknum
masyarakat yang mencoba mempengaruhi atau melakukan memanfaatkan momen
pengadaan tanah untuk pembangunan hendaknya dilakukan upaya persuasif dengan
mengecek kebenaran serta menyimpan arsip tersebut dan dilakukan tindakan tegas
berdasarkan hukum yang berlaku.

KESIMPULAN DAN SARAN/REKOMENDASI

Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian mengenai dilema penetapan harga ganti rugi pengadaan
tanah di Sumatera Utara (Suatu Kajian Terhadap Pelaksanaan Pengadaan Tanah bagi
Pembangunan Untuk Kepentingan Umum di Wilayah Sumatera Utara, Tapanuli
Selatan dan Deli Serdang), maka kesimpulan yang diperoleh adalah sebagai berikut :
1. Pengadaan tanah untuk kepentingan umum pada prinsipnya bertujuan untuk
dapat memberikan manfaat bagi yang membutuhkan tanah dan pihak
masyarakat yang tanahnya dibebaskan.
2. Pengadaan tanah untuk kepentingan umum dapat dilakukan pemerintah dengan
cara peralihan hak yaitu melalui cara jual beli antara pihak yang mempunyai
tanah dengan yang membutuhkan tanah. Prosedur seperti ini tentunya tidak
menimbulkan masalah jika adanya kesepakatan dari para pihak.
3. Kendala yang dihadapi dalam pelaksanaan ganti rugi terhadap pelepasan hak
atas tanah untuk kepentingan umum di Sumatera Utara pada umumnya adalah
adanya keberatan dari sebagian masyarakat yang terkena ganti rugi tentang
besarnya jumlah ganti rugi yang ditetapkan oleh panitia, khususnya untuk
pembangunan Bandara Kuala Namu adalah lambatnya eksekusi tanah setelah
proses pembebasan akibat krisis ekonomi dan lambannya pembangunan
bandara sehingga lahan yang telah dibebaskan dipergunakan kembali oleh
masyarakat.
4. Adanya sebagian oknum masyarakat yang mencoba untuk memanfaatkan
momen pembebasan dan pengadaan tanah untuk kepentingan umum dengan
meminta ganti rugi kepada panitia pengadaan tanah meskipun tidak memiliki
alas hak atas tanah atau tanah yang dimilikinya tidak berada dalam rencana
proyek pembangunan.

8
Saran/Rekomendasi

Berdasarkan hasil penelitian mengenai dilema penetapan harga ganti rugi


pengadaan tanah di Sumatera Utara (Suatu Kajian Terhadap Pelaksanaan Pengadaan
Tanah bagi Pembangunan Untuk Kepentingan Umum di Wilayah Sumatera Utara,
Tapanuli Selatan dan Deli Serdang), maka rekomendasi yang diperoleh adalah
sebagai berikut :
1. Solusi yang ditempuh oleh panitia pengadaan tanah/Pemerintah Daerah
terhadap sebagian masyarakat yang belum bersedia menerima ganti rugi adalah :
melakukan negosiasi/musyawarah, melakukan konsinyasi/penitipan ganti rugi,
memajukan gugatan ke pengadilan negeri.
2. Perlu adanya transparansi tentang berapa sebenarnya anggaran yang tersedia
untuk ganti rugi sehingga masyarakat bersedia dengan sukarela untuk
melepaskan hak atas tanahnya guna kepentingan umum tanpa adanya intimidasi.
3. Agar pelaksanaan ganti rugi terhadap hak atas tanah untuk kepentingan umum
agar dilakukan dengan implementasi Perpres No. 65 Tahun 2006 secara formal
maupun substansial untuk masa yang akan datang.
4. Untuk mengatasi oknum masyarakat yang mencoba mempengaruhi atau
melakukan memanfaatkan momen pengadaan tanah untuk pembangunan
hendaknya dilakukan upaya persuasif dengan mengecek kebenaran serta
menyimpan arsip tersebut dan dilakukan tindakan tegas berdasarkan hukum
yang berlaku.