Anda di halaman 1dari 3

c 

  

Yogyakarta, selain terkenal dengan sebutan kota pelajar, kota kebudayaan juga disebut
kota pariwisata, banyak tempat menarik yang bisa dinikmati para pelancong domestik
maupun mancanegara. ©  salah satunya, tempat ini terletak disebelah tenggara
kota Yogyakarta. Bila berada di tempat ini kita serasa sedang berada di khayangan atau
dalam bahasa jawa ©  , kita dapat menikmati indahnya kota jogja di atas
ketinggian dengan udara yang sejuk. Mungkin anda mengira ©  adalah sebuah
puncak gunung yang tinggi, tempat itu hanyalah bagian dari rangkaian bukit kecil di sebelah
kanan jalan Jogja-Wonosari.

Untuk mencapai tempat itu, merupakan suatu tantangan tersendiri, melewati jalanan
naik menanjak berkelok mulai dari pertigaan Piyungan, Bokong Semar (nama pemberian
masyarakat setempat untuk jalan berkelok sebelum Hargodumilah), adrenalin akan terpacu,
tetapi bagi yang belum hafal jalan ini harus ektra hati-hati, dan tidak boleh sembarangan
mendahului kendaraan yang didepannya.

³Sewaktu gempa dahyat mengguncang Yogyakarta dulu, jalan raya Jogja-Wonosari di


dekat ©  ini retak melintang memotong jalan raya´ tutur seorang penjaga parkir.
Perbaikan dilakukan oleh pemerintah, jalan diperlebar dengan ³mengepras´ tanah di lereng
bukit, untuk memperkuat dibuat talut setinggi sepuluhan meter sepanjang bukit
Hargodumilah, jalan diperlebar sekitar 5 meter dengan beton. Sekarang ©  benar-
benar nyaman untuk disinggahi, karena baik parkir motor atau mobil bisa terakomodir
dengan baik dan mudah sekali.

Menjelang sore hari, banyak orang yang datang untuk sekedar menikmati pemandangan
nan cantik dari puncak ©  . Dari sana bisa dilihat bangunan-bangunan tinggi di
Yogyakarta, lalu lintas jalan dan yang lebih menarik lagi tampak gunung Merapi yang gagah
menjulang tinggi di sebelah utara, sungguh pemandangan yang mengesankan sembari
menunggu matahari tenggelam di ufuk barat. Apalagi jika malam minggu pengunjung datang
berlipat ganda, kebanyakan muda-mudi yang ingin memandang bintang katanya.
Hargodumilah disebut juga Bukit Bintang, nama pemberian muda-mudi yang berkunjung
kesana. Entah mulai kapan nama itu muncul yang jelas itu karena pada malam hari, kita dapat
melihat pemandangan Yogyakarta dari atas dan lampu rumah-rumah terlihat seperti bintang.
Apalagi cakrawala malam membuat kota Jogja seakan menyatu dengan langit.
Adang-adang 
  

Dimana ada keramain, disitu akan tumbuh geliat ekonomi, begitu pula Hargodumilah,
disekeliling bukit sudah berdiri warung-warung yang menambah semarak dan hidup
Hargodumilah. Warung-warung kecil tersebut menyediakan makanan dan juga berbagai
macam minuman. Mi rebus, mi goreng, pisang bakar, roti bakar dan minuman seperti
wedang jahe bisa dinikmati sembari duduk di pondok memandang indahnya pemandangan..

Adalah Daryati seorang wanita separuh baya yang berasal dari dusun Jurangan, desa
Plesetan yang juga mencoba memanfaatkan keramaian ©  untuk 
 

rejeki. Setelah gempa, ibu dua orang anak ini berniat membantu suaminya yang bekerja
sebagai pencari belalang untuk mencukupi kebutuhan hidup dengan berjualan jagung bakar
dan minuman di seputaran ©  . Awalnya dia berjualan di dekat warung-warung
disana karena tidak memiliki warung sendiri, namun karena sering mendapat protes dari
penjual di warung, akhirnya Daryati mengalah dan memutuskan untuk pidah tempat. ³Saya tu
ndak boleh jualan di situ mas, katanya bikin seret penjual lain´ tuturnya sambil mengupas
jagung pesanan. Sekarang dia menjajakan jagungnya di tepi jalan di talut yang dibangun
setelah gempa itu, sungguh menjadi keberuntungan baginya, sekarang tempat itu malah
menjadi area favorit bagi para pengunjung. Bersama iparnya Amronah, malam itu mereka
sedikit bercerita ³di sini tu Cuma 
 
 mas, kalau ada yang beli ya syukur kalau
nggak ya ndak papa´.

Sekitar pukul 17.00 WIB Daryati mulai menjajakan dagangannya, dengan berjalan kaki dari
rumahnya berbekal sebuah
, arang, beberapa stoples perasa untuk jagung, margarine,
dan tak ketinggalan 20 batang jagung. ³Namanya juga adang-adang kalau bawa banyak nanti
takut gak laku, jadi bawa 20 saja kalau pas rame bias bawa sampai 50 batang´ katanya sambil
membakar jagung rasa pedas manis yang saya pesan. Dengan jagung yang di jual dengan
harga Rp. 3.500 per batang dia mendapat penghasilan Rp 70.000 setiap harinya cukup untuk
memenuhi kebutuhan hidupnya bersama suami dan kedua orang anaknya. ³Allah maha adil,
saya sudah mau ngalah untuk pindah karena saya ndak punya modal buat bikin warung,
sekarang masih aja ada yang komplain padahal saya jualan sudah lebih mahal dari warung-
warung´ tuturnya dengan nada sinis sembari memberikan jagung yang sudah selesai dibakar.
Daryati sering bertanya-tanya mengenai status tanah Hargodumilah, status warung-warung
yang berdiri disekelilingnya, apakah legal atau tidak, pemiliknya bukan warga setempat
melainkan orang dari Wates dan daerah lain. Pernah dengar bahwa kepemilikan
Hargodumilah ini di bawah Kraton Ngayojokarto Hadiningrat. ³Sudahlah rejeki orang
sendiri-sendiri maka dari itu saya tetap bertahan walau protes datang dari mana-mana yang
penting saya usaha halal´ tuturnya.

Di balik semua cerita itu, Hargodumilah tetap indah dan juga memberikan suatu
kehidupan yang menjajikan layaknya khayangan, jadi jika sekali waktu anda naik ke
GunungKidul, sempatkanlah mampir di Hargodumilah.

Yohanes Galih Ari Pinundhi.PBSID.USD.071224056