Anda di halaman 1dari 12

Latar Belakang Perusahaan

Bank rakyat Indonesia (BRI) didirikan pada 16 Desember 1895 oleh


Aria Wriatmadja sebagai lembaga keuangan yang menyediakan
pinjaman bagi penduduk Indonesia, khususnya di industri mikro.
Pada tahun 1946, BRI menjadi bank pertama miliki Negara
sebagaimana telah ditetapkan dengan keputusan PP No.1/ 1946. PT
BRI menindaklanjuti bagaimana berupaya memberikan pelayanan yang
baik kepada para nasabah kelas kecil selama satu abad kemudian
dengan terus focus kepada bagaimana mendistribuskan fasilitas
pinjaman kepada kelompok perngusaha kecil.

Pertumbuhan yang berkesinambungan didalam fasilitas pinjaman


dengan pengembangan KUK atau Kredit usaha Kecil distribusi
pinjaman dari 6,419.8 milyar 1994 naik menjadi 8.231 milyar 1995
dan 20,466 pada bulan September. BRi juga menaikkan jumlah
kantor cabang dari 18 kantor tahun 1969 dan 3.617 kantor 1983,
dengan pekerja sekitar 14,344 orang. Didalam tahun 2004, BRI
telah mengemabngkan unit bisnisnya mnjadi 4447 unit, yang
terdiri atas kantor pusat BRI, dua belas Kantor Regional, dua
belas kantor pengawas, 170 kantor cabang, dan 145 sub kantor
cabang.

Assesment

VISI

”Menjadi Bank Komersial Terkemuka yang Selalu Mengutamakan


Kepuasan Nasabah”

Komersial:

Sejak berdiri BRI merupakan bank komersial, yaitu bank yang


menerima simpanan dari masyarakat dan menyalurkannya kembali ke
masyarakat dalam bentuk pinjaman, memperoleh laba dari perbedaan
tingkat bunga simpanan dan tingkat bunga pinjaman serta fee
based income. Walaupun berperan sebagai agent of development,
BRI tetap menegaskan posisinya sebagai bank komersial yang terus
tumbuh secara berkesinambungan.

Terkemuka:

BRI adalah bank terkemuka, karena merupakan salah satu bank


terbesar di Indonesia dan micro banking terbesar dan paling
menguntungkan di dunia. Di samping itu, BRI memiliki produk/jasa
berkualitas tinggi, inovasi dalam memenuhi kebutuhan konsumen,
visi jangka panjang, dan kinerja keuangan di atas rata-rata.

Kepuasan:

Kepuasan nasabah bukan merupakan hal yang baru bagi BRI sebagai
perusahaan yang menyediakan jasa perbankan. Tantangan yang
dihadapi BRI adalah memberikan kepuasan kepada semua nasabah di
semua segmen usahanya, sesuai tema corporate campaign Perusahaan
”Bank Negeri Sendiri yang Mampu Melayani Semua Sama Baiknya”.
Untuk mencapai visi tersebut BRI dituntut untuk memiliki ukuran
dan kriteria jelas dalam mengutamakan kepuasan nasabah.

MISI

Untuk mewujudkan visi tersebut, BRI menetapkan tiga misi yang


harus dilaksanakan,

yaitu:

1.”Melakukan kegiatan perbankan yang terbaik dengan


mengutamakan pelayanan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM)
untuk menunjang peningkatan ekonomi masyarakat”

BRI berkomitmen mempertahankan kinerja terbaiknya yang


tercermin dari pencapaian hasil usaha dan keunggulan produk-
produk yang ditawarkan untuk fokus melayani usaha mikro, kecil
dan menengah. Dengan melayani UMKM pada akhirnya akan
memberikan multiplier effect terhadap peningkatan ekonomi
masyarakat mengingat UMKM merupakan tulang punggung dan
komponen terbesar ekonomi Indonesia. BRI harus memiliki
kemampuan untuk terus mengikuti dinamika sektor tersebut agar
tetap dapat memimpin di segmen UMKM.

2.”Memberikan pelayanan prima kepada nasabah melalui jaringan


kerja yang tersebar luas dan didukung oleh sumber daya manusia
yang profesional dengan melaksanakan praktik good corporate
governance”

BRI berusaha terus untuk meningkatkan pangsa pasarnya di


sektor mikro, kecil dan menengah, untuk itu BRI harus selalu
dapat memberikan pelayanan prima sebagai wujud komitmen untuk
memuaskan kebutuhan nasabah. Dengan jaringan yang tersebar
luas di seluruh pelosok Indonesia, diperlukan sumber daya
manusia yang profesional dan dikelola oleh manajemen yang
melaksanakan praktik good corporate governance sehingga
keunggulan kompetitif tersebut dapat lebih dioptimalkan.

3. ”Memberikan keuntungan dan manfaat yang optimal kepada


pihak-pihak yang berkepentingan (stakeholders)”

Misi memberikan keuntungan merupakan landasan setiap


pengambilan keputusan dengan memperhitungkan implikasi cost &
benefit terhadap semua stakeholders. Di sisi lain, BRI sebagai
bagian dari komunitas masyarakat tidak hanya sekedar
memberikan keuntungan finansial tetapi juga manfaat yang
bersifat non finansial kepada seluruh stakeholders.

BUDAYA PERUSAHAAN

BRI menerapkan nilai-nilai perusahaan (corporate value) yang


menjadi landasan berpikir, bertindak, serta berperilaku setiap
insan BRI sehingga menjadi budaya kerja perusahaan yang solid
dan berkarakter. Nilai-nilai tersebut adalah integritas,
profesionalisme, kepuasan nasabah, keteladanan, dan
penghargaan kepada SDM.

BRI sebagai perusahaan terbuka berkomitmen mematuhi seluruh


ketentuan perundang-undangan yang berlaku dalam kegiatan
operasional bank maupun pasar modal. Hal tersebut telah
mendorong BRI untuk selalu mengutamakan prudential banking dan
kepentingan stakeholders.

Komitmen ini juga diwujudkan dalam bentuk tata kelola


perusahaan sebagai berikut:

1. Mengintensifkan program budaya sadar risiko dan kepatuhan


kepada setiap pekerja di seluruh unit kerja;
2. Mengintensifkan peningkatan kualitas pelayanan di seluruh
unit kerja;

3. Menjabarkan dan memonitor setiap kemajuan yang dicapai


perusahaan ke dalam rencana tindakan yang terukur dan dapat
dipertanggungjawabkan oleh setiap unit kerja;

4. Menerapkan kebijakan reward dan punishment yang tegas dan


adil

Produk Layanan Jasa perbankan yang dilakukan

Layanan Simpanan
Deposito
Deposito BRI Rupiah, Deposito BRI Valas, Depobri On Call
DOC),SertiBRI
Giro
GiroBRI Rupiah, GiroBRI Valas
Tabungan
BritAma, Simpedes, Tabungan Haji, BRI Prioritas, BritAma
Dollar
Layanan Pinjaman
1.Mikro
Kupedes
2.Ritel
Kredit Agunan Kas, Kredit Express, Kredit Investasi, Kredit
Modal Kerja, Kredit Modal Kerja Ekspor, Kredit Modal Kerja
Impor, Kredit Modal Kerja Konstruksi, BRI Guna, Kredit
Waralaba, Kredit SPBU, Kredit Resi Gudang, Kredit Talangan BBM,
Kredit Modal Kerja Konstruksi - BO I
3.Menengah
Agribisnis, Bisnis Umum
4.Program
KPEN-RP, KPR & KPRS Bersubsidi, Kredit Ketahanan Pangan dan
Energi, KUR BRI
Pelayanan Jasa Perbankan
1.Jasa Bisnis
Bank Garansi, Kliring, Remittance, SKBDN
2.Jasa Keuangan
Bill Payment, CEPEBRI, Inkaso, Penerimaan Setoran, Transaksi
Online, Transfer dan LLG
3.Jasa Lain
Setoran Pajak, Dana Orang Tua Asuh, Western Union, Denda
Tilang, Zakat dan Infaq, Layanan Ekspor / Import,
4.Kelembagaan
Cash Management, Salary Crediting, SPP Online, Cash Management
BRI
5.E-banking
ATM BRI, SMS Banking BRI, Phone Banking,
6. BRI Treasury, Foreign Exchange, Money Market, Fixed Income
Securities (FIS), Derivative dan Structured Treasury Products
Produk Konsumer
Kartu Kredit, Kredit Pemilikan Rumah (KPR), Kredit Kendaraan
Bermotor (KKB), Kredit Multi Guna (KMG), Kiosk
Produk Jasa Investasi
Reksadana, Dana Pensiun Lembaga Keuangan (DPLK) BRI, OBLIGASI
NEGARA RITEL (ORI)

Produk life Cycle Analysis

Semua produk mengalami peningkatan yang cukup signifikan


sehingga semua produk dalam posisi growth
Introductory Growth Maturity
Decline Stage
Stage Stage Stage

Produk KUPEDES
• Memodifikasi pasar
• Memasuki segmen
pasar baru Total
• Memodifikasi produk Market
Sales

2007

Baseline

Situasi

Sebelum Deregulasi (1966-1983)

Di era itu, kebijakan Government of Indonsia (Pemerintah


Indonesia) difokuskan pada pembangunan pertanian dan desa. Oleh
karena itu, BRi secara aktif mendistribusikan pinjaman di sector
pertanian khususnya pangan. Fungsi BRI adalah untuk mendukung
pemulihan dan pengembangan ekonomi di perbankan dan keuangan
sebagaimana telah ditetapkan didalam Undang-undang No.21/1968.
Dengan demikian BRI telah mendistribusikan kredit brsubsidi yang
disebut Bimas (bimbingan Massal) dimana pinjaman Liquidity loan
of bank Indonesia merupakan sumber dana. Fungsi utama BRi adalah
menyediakan dana untuk produksi panen seperti benih, pupuk, dan
pestisida.

Selama periode itu, bimas berhasil memberikan banyak kontribusi


pada pembangunan nasional yaitu program pemenuhan beras. Akan
tetapi di sector keuangan, non performing loan (NPL) of Bimas
naik secara drastic dari 5% tahun 1973 menjadi 35% sepuluh tahun
kemudian. Konsekuensinya, Departemen keuangan dan Bi
bertanggungjawab atas resiko kredit, menghadapi problem serius
dikarenakan program itu.

Era Reregulasi (1983-1997)

Didalam tahun 1980-an harga minyak menurun dengan tajam dari $30
menjadi 12$ per barrel dan pemerintah kekurangan dana untuk
membiayai program-program bersubsidi. Oleh karena itu Pemerintah
Indonesia mendeklarasikan Paket deregulasi perbankan pada juni
1983 untuk mendukungekspor nonmigas dengan penurunan permintaan
minyak. Dengan deregulasi itu, bank-bank diharapkasn lebih
terorientasi pada pasar. Alhasil, persaingan diantara bank-bank
bermunculan karena ini tidak sulit untuk memulai suatu bank.
Didalam tahun 1983, ada 874 bnk-bank milik Negara dan 353 milik
swasta. Sementara itu pada tahun 1997 mencapai 1527 kantor dan
ban milik Negara mencapai 4150 kantor.

Dalam sapek-aspek yang lainnya jumlah simpanan tahun 1983


mencapai total Rp. 12,300 milyar dengan totala pertumbuhan
41.8%. pertumbuhan deposito tetap pada bank milik Negara adalah
35.8% dibandingkan dengan bank-bank swasta 78.5%. Regulasi
tersebut memberikan keringanan untuk bank-bank merencanakan
tingkat bunga sesuai dengan pasar. Bank-bank swasta
mengembangkan secara gencar dasar nasabah dengan menawarkan
bunga kompetitif, pengembagan cepat kantor cabang, dan berbagai
macam layanan.

Iplikasi deregulasi terhadap BRI

Deregulasi ini memperkuat BRI untuk mengembangkan lebih baik


rencana bisnis guna meopang fungsinya sebagai lembaga keuangan
karena persaingan diantara industry bank menjadi lebih solid.
Kondisi tersebut memperkuat BRi untuk mengemabngkan jasanya dan
bukan berkonsentrasi pada bagaimana memfasilitasi kredit untuk
program pemerintah.

Deregulasi tersebut mempngaruhi kinerja BRi secara signifikan,


khususnya pada saham pasar dan pertumbuhan kredit dan jumlah
tabungan. Regulasi baru tersebut memaksa bank-bank termasuk BRi
untuk mendistribusikan kredit pada sector yang riil.

Keputuan strategi BRi Pasca Deregulasi

Deregulasi perbankan 1983 telah membuka persaingan di industry


perbankan. Konsekuensinya, BRI menghentikan pinjaman yang
dikhususkan, BImas. Ini men jadi suatu kendala bagi BRI untuk
menunjang dan menjadi komersil, sementara itu masih menjalankan
fungsinya sebagai lembaga keuangan yang membantu aktivitas-
aktivitas ekonomi di desa. Alhasil, BRi memutuskan untuk
mengubah konsep bisnisnya dengan meluncurkan produk kredit yang
disebut Kupedes dengan memberikan para nasabah khususnya petani
keuntungan seprti jaminan keamanan, lokasi yang nyaman, dan
kesetaran. BRi telah memprakarsai Simpedes kepada nasabah lebih
dari 5 juta konsumen menjadi pelangan setia.

Krisis Ekonomi di Indonesia 1997


Latar belakang krisis keuangan di Indonesia jatuh dengan cepat
pada nilai tukar di Negara lain seperti Thailand, Korea selatan
dan Malaysia sejak pertengahan 1997. Nilai tukar rupiah melonjak
tajam sampai 17.000 per dolar akibatnya banyak bank yang
dilikuidasi.

Kinerja BRI didalam tahun 1999

Kinerja Keuangan

Kinerja BRI selama krisis lebih baik dibandingkan dengana bank-


bank yang lainnya, karena pengusaha-pengusaha kecil tidak
terutama sekali dipengaruhi oleh krisis. Kondisi ini tampak dari
jumlah transaksi L/C US$2.2 milyar 1997 dan US$ 2.07 milyar
1998. Meskipun demikian BRI mengalami kerugian total 1,7 triliun
dan mengalam CAR negative 25% sehingga di rekapitalisasi dimana
BRI mendapatkan tambahan dana bantuan dari BI sebesar 29,1
Triliun dengan bunga flat, lebih rendah bila dibandingkan bank
bank lain yang tingkat LDR dan NPL nya sama

Setelah Restrukturisasi (tahun 2000 - 2003)

Transformasi perusahaan melalui restrukturisasi dan


rekapitalisasi mengalami kesuksesan hal ini bisa dilihat pada
performa keuangan di tahun 2000. Target Net profit yang dicapai
3000% dari target yang ditetapkan yaitu 11 triliun tercapai 335
triliun. Tahun 2003 BRI melakukan IPO dan mendapat respon
positif dari pasar.

Kondisi 2004

Tujuan : Menjadi Bank yang paling dibanggakan

Strategi bisnis
- Mengimplementasikan sitem online untuk 325 cbang dan 100
unit BRI serta membuka BRI Syariah.

- Focus pada kredit Mikro, Kecil dan menengah yang mempunyai


jaringan yang luas yang ditunjang dengan system informasi dan
teknologi yang dijalankan oleh sumber daya manusia yang
professional.

- Mengembangkan pelayanannya dengan mengeluarkan kartu debet


dan kartu kredit, Kredit perumahan, kredit kendaraan dsb.

- General Banking services (pelayanan transaksi pembayaran


keseharian yang biasanya dilakukan oleh pelanggagn seperti
pembayaran tagihan telpon, tagihan listrik, ADIRA, FIF dsb).

- Transaaksi penukaran uang asing dan pelayanan keuangan


lainnya seperti pelayanan transaksi real time online dari
tempat pelanggan melalui phone banking atau sms banking.

Produk development

- Kartu Debet dan kartu kredit yang memudahkan pelanggan


untuk bertransaksi seperti di tempat belanja, penarikan uang
kas dan transfer melalui ATM BRI dan ATM lainya yang terjalin
dalam kerjasama dalam ATM bersama, dan Link.

- Kartu debit Britama Prime card dengan berbagai tipe seperti


regular, gold dan platinum tergantung batas pengambilannya.

- Phone banking

- Transaaksi penukaran uang asing yang membantu dalam


pelayanan kegiatan ekspor impor

Tekhnologi informasi
- Mengimplementasikan system computer online real time yang
menghubungkan kantor pusat, kantor regional, semua cabang, dan
100 BRI Unit.

- Tekhnologi untuk melaksanakan SBU unit tidak tersedia

Human Resaurce development

- Kurangnya Sumber daya manusia yang mengusasi teknologi


informasi tersebut sehingga target untuk semua cabang dan 300
unit untuk bisa online real time tidak bisa terpenuhi.

- Hanya Kompeten dibidang transaksi perbankan sehngga


transaksi pembiayaan lainnya merupakan hal baru.

Tahun 2010

Menjadi Universal Banking artinya menjadi salah satu bank


bertingkat international yang memiliki produk/jasa berkualitas
tinggi dan inovasi dalam memenuhi semua kebutuhan pembiayaan
konsumen,

GAP yang ada

Teknologi informasi

Belum semua cabang dan unit BRI menggunakan system computer


Online real time.

Sumber Daya Manusia

- Kurangnya sumber daya manusia yang menguasai teknologi


informasi tersebut.

- Kurangnnya pengetahuan akan transaksi pembiayaan lainnya


seperti ekspor impor,
Grand Strategi yang sebaiknya diterapkan

1. Tetap focus pada penyaluran kredit Usaha Mikro, Kecil,


Menengah dengan porsi 80%, Giro dan penempatan pada bank lain
5%, Surat surat berharga (SUN, SBI, SUKUK, Saham) 5%, Kredit
konsorsium 5%, Kredit Konsumen lainya 5% karena sesuai dengan
keunggulan yang dimiliki.

2.Mengusahakan teknologi informasi online realtime seluruh


cabang yang ada dan sebagian unit di kota kota kecil yang
sudah tersedia jaringan.

3. Pengembangan Sumber Daya Manusia berupa pelatihan dalam


rangka peralihan tekhnologi berupa penerapan Sistem online
realtime seluruh cabang dan sebagian unit secara berkala dan
penambahan pengetahuan akan transaksi financial lainya yang
bisa dilayani oleh system online realtime

4.Tujuan perusahaan untuk menjadi universal banking


seluruhnya pada tahun 2010 tidak mungkin dilaksanakan namun
hanya sebagian cabang saja yang sudah dipersiapkan SDM nya.