Anda di halaman 1dari 7

Serambi Indonesia

Jumat 26 Desember 1997


Agama

Harta-Kekayaan
Tgk H Soufyan Hamzah

Kecenderungan manusia terhadap pemilikan harta-kekayaan di dunia ini adalah suatu fitrah.
Artinya manusia yang hidup ini dengan insting atau nalurinya berusaha keras untuk
menggapai kesenangan dan kebahagian hidup di dunia ini. Salah satu caranya, dengan
memiliki harta-kekayaan ini, seseorang akan terpandang mulia dan terhormat oleh manusia
lainnya. Dengan harta-kekayaannya itu, seseorang bebas bergerak kemana saja dan apa
saja dapat dikerjakannya tanpa hambatan atau kendala apapun. Memang Allah SWT
menyuruh kita berlomba-lomba mencari rezeki sebanyak-banyaknya, memperkaya diri kita
masing-masing. Namun Allah SWT. memberi petunjuk bagi hambanya yang telah memiliki
harta-kekayaan dengan pembatasan-pembatasan yang menusiawi. Artinya harta-kekayaan
yang dimiliki oleh seseorang manusia, pada hakikatnya adalah milik Allah SWT yang
dititipkan kepada seorang hamba-Nya yang telah ditakdirkan-Nya sebagai pemilikan harta-
kekayaan tersebut dengan ketentuan pembatasan yang telah diatur oleh Allah SWT sendiri,
seperti firman-Nya dalam Al Quran Al Karim surat Al Munafiqun ayat 9, bahwa orang-orang
yang telah beriman akan sangat merugi, jika dengan harta-kekayaan itu beserta anak-
anaknya semua, menjadi penyebab melemahnya untuk berzikir (ingat) kepada Allah SWT
Banyak orang melupakan, bahwa dari seseorang miskin yang sangat menderita karena
kemiskinannya, akan tetapi dengan usaha dan daya-upaya yang kemudiannya orang
tersebut menjadi kaya raya, bahkan menjadi seorang konglemerat. Akibat kelupaan itu,
sampai ia lupa pula, bahwa kekayaannya itu adalah karunia Allah SWT dan merupakan
suatu rahmat Allah yang harus disyukuri.

Kemiskinan dan harta-kekayaan adalah dua hal yang senantiasa merupakan hiasan
kehidupan manusia. Allah SWT menguji manusia ini dengan kemiskinan; apakah manusia
dengan kemiskinannya itu akan menjadi kufur terhadap Allah SWT ataukah manusia dengan
penuh kesabaran, berusaha mencari rezeki yang memang telah disediakan Allah SWT.

Ujian Allah, juga terhadap orang kaya raya atau konglemerat. Sampai dimana kewajibannya
terhadap kaum dhu'afa telah ditunaikannya. Apakah zakat telah diselesaikan sesuai dengan
petunjuk Syari'at. Di samping itu infaq dan sadaqah masih dirasakan berat sekali untuk
dilaksanakan?

Allah SWT memperingatkan kepada orang-orang kaya-raya dan konglemerat di dalam al


Quran al Karim surat Al Taghabun ayat 15 bahwa sesungguhnya harta-kekayaan, anak-pihak
kita, adalah merupakan fitnah dan Allah SWT memiliki pahala yang maha Agung. Artinya,
anganlah manusia ini ditipu dengan harta yang melimpah ruah, karena harta-kekayaan itu
semuanya akan ditinggalkannya, manakala ajal telah tiba. Rasulullah, Nabi kita Muhammad
SAW dalam suatu Hadistnya yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari memperingatkan supaya
kita jangan mau diperbudak oleh emas dan perak (harta-kekayaan), karena dapat
mencelakakan kita semua.

Dalam hadits lain yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, Rasulullah mengaskan lagi, bahwa
harta-kekayaan yang kita miliki adalah apa-apa yang telah kita makan, pakaian yang kita
pakai dan sedekah yang kita berikan.

Imam Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan suatu Hadits, bahwa Rasulullah SAW
mengancam orang-orang yang menumpuk-numpuk harta kekayaan, dengan kebinasaan,
kecuali dari harta kekayaan itu dikhususkan untuk dana kepentingan/kesejahteraan umat
dan hak semacam ini jarang sekali terjadi.
Ayat-ayat al Quran al Karim serta hadits-hadits Rasulullah SAW tersebut diatas,
memperingatkan kita supaya sadar diri. Selalu ingat (zikir) kepada Allah SWT bahwa dari
harta-kekayaan kita itu terkandung hak kaum dhu'afa, di mana juga Allah SWT melarang
kita sebagai hamba-Nya, bersifat bakhil. Keluarkanlah hak Allah dari harta-kekayaan kita
berupa zakat, infaq dan sadakah, demi mensucikan semua harta-kekayaan kita dari noda-
noda hitam yang mencelakakan diri peribadi dan keluarga, bahkan keturunan kita (cucu-
cucu dan cicit-cicit)

KAI
Kelebihan dan Keutamaan Bulan Ramadhan

PERTANYAAN
Dari Cut Khairunnisaa,
Lhoksukon, Aceh Utara.

Assalamu'alaikum Wr. Wb.

Dengan ini kami ingin menegetahui kelebihan dan keutamaan bulan Ramadhan, sehingga
kita diwajibkan berpuasa sebulan penuh di dalamnya. Atas kesediaan Bapak memberikan
jawaban di dalam KAI, kami mengucapkan banyak terima kasih.

JAWABAN
Saudari Cut Khairunnisaa,
Wa'alaikumus Salam, Wr. Wb.
Secara singkat, pengasuh jawab sebagai berikut:Beberapa hari sebelum bulan Ramadhan
datang, pada berbagai tempat pengajian di desa tempo dulu diajarkan:

Urou seugala urou, Nyang leubeh urou Jumeu'at; Nabi seugala Nabi, Nabi Muhammad
leubeh deurajat; Buleuen seugala buleun, Buleuen Puasa leubeh martabat; ... dst.

agar anak anak mendendangkannya di tiap kesempatan pada bulan mulia ini. Maka
menggemalah suara nyanyian itu ditengah padang, didendangkan anak gembala; di tepi
pantai sambil menarik pukat; di tengah sawah sambil menanam padi dan sebagainya,
meskipun yang melagukannya belum mengerti benar isi kandungannya. Terkadang orang
bertanya, agaknya, mengapa mereka melakukan demikian? Kemudiannya, melalui bacaan
kita terhadap kitab kitab muktabar, kita mengetahui, Nabi Muhammad SAW pernah
menjelaskan bahwa SHUHUF Ibrahim diturunkan pada malam pertama Ramadhan;TAURAT
diturunkan pada Nabi Musa as pada malam ke tujuh Ramadhan; INJIL diturunkan pada
malam ke empat belas Ramadhan; ZABUUR Daud as diturunkan pada malam ke delapan
belas Ramadhan; dan AL-QUR-AAN diwahyukan ayat ayat pertamanya pada malam ke tujuh
belas Ramadhan. Sehingga menurut riwayat ini, kesemua kitab samawy diturunkan pada
bulan mulia ini. Khusus mengenai Alquran, dalam ayat 185, surat Al-Baqarah, Allah
berfirman: Bulan Ramadhan, dalam bulan itulah Al-quran diturunkan, guna menjadi petunjuk
bagi manusia; menjadi penjelas dan penyaring serta pemisah antara yang haq dengan yang
bathil. Hudan, Bayyinat dan Furqaan itu kekal abadi, tidak berubah ataupun adanya
kemapuan untuk mengubahnya, karena otensitasnya dijamin Allah SWT, sesuai dengan
firmanNya dalam ayat 9, surat Al-Hajar: Sesungguhnya kamilah yang telah menurunkan
Alquran dan sesungguhnya kamilah yang menjaganya. Karena Alquran paling agung. maka
bulan Puasa yang sering juga disebut dengan Syahrul Quraan, tentu menjadi agung pula.
Adanya Alquran -menurut 'adat- belum tentu dapat menjamin kesediaan umat manusia
untuk mengambilnya sebagai way of life. Kecintaan Allah kepada manusia menghendaki ada
seseorang yang memberikan penjelasan lebih jauh, baik secara qauly, fi'ly ataupun taqriiry.
Menurut bahasa manusia, orang tersebut perlu di eska-kan. Maka turunlah eska itu dengan
menunjuk Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muththalib pengemban tugas kerasulan,
sekalian dengan tugas pertamanya, yaitu IQRA' BISMI RABBIKAL LADZI KHALAQ... Peristiwa
itupun terjadi pada bulan Ramadhan, sehingga derajat bulan inipun bertambah tinggi.
Meskipun dengan dua keistimewaan tersebut diatas, bulan Ramadhan telah menempati
rangking teratas dari semua bulan, namun masih banyak lagi keutamaan yang dimilikinya.
Antara lain sebagaimana diungkapkan Rasulullah SAW melalui pidato singkatnya pada
penghujung siang tgl 30 Syakban tahun ke 2 Hijriyah, dalam rangka menyambut
kedatangan bulan Ramadhan. Kata beliau: Wahai Umatmanusia ! Akan datang kepadamu
bulan mulia yang penuh berkah. Di dalamnya ada satu malam yang fahala beribadat pada
malam itu sama dengan ibadat seribu bulan. Allah menjadikan puasa disiang hari Ramadhan
sebagai suatu kewajiban. Menyemarakkan malam malamnya dengan ibadat sebagai amalan
sunat. Siapa yang melaksanakan suatu amalan sunat pada bulan itu, sama dengan
menunaikan kewajiban dibulan yang lain. Siapa yang menunaikan kewajiban pada bulan
tersebut sama dengan menunaikan 70 kewajiban pada bulan yang lain. Ramadhan adalan
bulan sabar. Imbalan kesabaran adalah sorga. Ramadhan adalah bulan bertimbang rasa.
Bulan yang Allah melipat gandakan keberkahan rezeki orang mukmin. Siapa yang mengajak
orang lain berbuka bersamanya, dosanya akan diampuni dan dijamin bebas dari api neraka,
disamping ia juga mendapat fahala persis seperti fahala yang diperoleh orang tersebut,
tidak berlebih dan tidak pula berkurang sedikitpun.

Sampai disitu, diantara hadirin ada yang mengeluh, seraya menyatakan: ... tapi, wahai
Rasulullah, tidak semua kita mampu mengajak orang lain berbuka bersama ! Mendengar
keluahan itu, Rasulullah SAW segera bersabda: Fahala yang saya sebutkan tadi diberikan
Allah kepada orang yang mengajak orang lain berbuka, walaupun hanya dengan sebiji buah
korma, seteguk susu ataupun seteguk air tawar. Kemudian beliau melanjutkan: Ramadhan
adalah bulan awalnya rahmat, pertengahannya keampunan dosa dan bagian akhirnya
adalah kebebasan dari api neraka. Siapa yang meringankan tugas bawahannya pada bulan
itu, akan diampuni dosanya dan dibebaskan dirinya dari api neraka. Wahai umatku !
Perbanyakkanlah empat perkara pada bulan itu; dua perkara adalah jalan utama untuk
kalian peroleh keredhaan Allah dan dua perkara lagi menyangkut dengan apa yang amat
kalian perlukan. Untuk memperoleh keredhaan Allah kalian perlu memperbanyak tahliil,
yaitu membaca LAA ILAAHA ILLALLAH dan memperbanyak istighfaar, yaitu membaca
ASTAGHFIRULLAH. Sedangkan dua perkara yang amat kalian butuhkan itu ialah
memperbanyak do'a untuk mendapatkan surga dan memperbanyak minta perlindungan dari
api neraka. Siapa saja yang memberi minum orang berpuasa (tentunya pada waktu malam),
Allah akan memberikan untuknya minuman yang berasal dari haudh ku di dalam surga.
Demikian pidato Rasulullah menurut riwayat Ibnu Khuzaimah, Baihaqy dan Ibnu Hibbaan di
dalam kitab shahihnya.

Kita yakin, bila kita merenungi pidato singkat Rasulullah SAW ini dengan seksama dan
cermat, pastilah kita tidak akan membiarkan bulan ini berlalu percuma begitu saja, ataupun
kita nodai dengan bermacam macam kejelekan, maksiyat dan larangan. Pasti tidak akan.
Malah kita tidak akan membiarkan sedetik Ramadhanpun tanpa kita gunakan untuk apa
yang disebutkan Rasulullah. Ya, ke dua juta lima ratus sembilan puluh dua ribu detiknya itu
akan kita manfaatkan untuk amalan yang sesuai dengan tuntutan syari'at, agar iman kita
bertambah kokoh dan ketakwaan kita tambah menguat, sehingga nilai tambah dari hikmah
Ramadhanpun akan kita raih dengan izin Allah. Agaknya karena itu semua jualah, dari kecil
kita diajar mendendangkan bait syair di atas, yang sesungguhnya ia adalah terjemahan
bebas dari RAMADHAN, SAYYIDUSY-SYUHUUR, Yaitu Ramadhan adalah Maharanya semua
bulan.

Sebagaimana biasa, tamu kita yang amat mulia ini tidak pernah datang dengan tangan
kosong. Ia selalu membawa rahmat, maghfirah dan keampunan dosa bagi orang yang
memerlukan dan berupaya memetiknya. Marilah kita memanfaaatkan peluang ini dengan
sebaik baik mungkin! Demikian, Wallahu A'lamu Bish-Shawaab!!!

Ala Kaum Syu'ara Menyambut Ramadhan


Oleh Nab Bahany As

Sejuta rindu berpacu di dada Seperti ombak samudra Ingin segera berpelukan Antara aku
dan kamu Ramadhan

(Ameer Hamzah: Antologi Puasa untuk Tuhan)

Itulah penggalan puisi "Puasa untuk Tuhan" yang dibacakan Undin Pelor pada acara
apresiasi budaya Islam dan baca puisi 10800 detik bersama para penyair (Syu'ara) Aceh di
Kampus Fakultas Adab IAIN Ar-Raniry Darussalam, Banda Aceh, tanggal 23 Desember 1997.
Acara yang diprakarsai Senat Mahasiswa Fakultas Adab ini bertujuan meningkatkan
pemahaman apresiasi sastra bagi mahasiswa Adab, sekaligus menyambut bulan suci
Ramadhan.

Gelar Puisi islami ini dikoordinir oleh Ameer Hamzah (Pengasuh mata kuliah Apresiasi
Budaya Islam di Fakultas Adab).Menurut Ameer, Gelar Puisi Islami seperti ini untuk
menunjukkan kepada masyarakat bahwa para penyair Aceh adalah para penyair yang
beriman, bukan penyair yang tidak beriman. Allah SWT dalam al-Quran memperkenalkan
kepada kita bahwa ada dua kelompok penyair, sebagaimana tercantum dalam Surah Asy-
Syuara ayat: 224 --227.

"Dan penyair-penyair itu diikuti oleh orang-orang yang sesat. Tidakkah kamu melihat
bahwasanya mereka mengembara di tiap-tiap lembah. Dan, bahwasanya mereka
mengatakan apa yang mereka sendiri tidak mengerjakannya. Kecuali penyair-penyair yang
beriman dan beramal saleh dan banyak menyebut Allah dan mendapat kemenangan
sesudah menderita kezaliman. Dan orang-orang yang zalim itu kelak akan mengetahui ke
tempat mana mereka akan kembali Tak hanya penyair papan atas di Banda Aceh yang
tampil mendakwahkan puisi-puisinya, para akademisi mulai dari Rektor Bidang
Kemahasiswaan, Drs H Abduh Dahlan, Dekan Fakultas Adab, Drs H Zubir Raden, MA, Dekan
Fakultas Dakwah, DR H Rusjdi Ali Muhammad, Dekan Bidang Kemahasiswaan Fakultas Adab,
DR H Azman Ismail, Ketua Jurusan serta para dosen lainnya ikut tampil membacakan puisi-
puisi bernilai dakwah. Sedangkan Rektor Dr Safwan Idris, MA yang mendukung perhelatan
ini tidak sempat hadir karena ada acara penting yang harus dihadirinya.

Para penyair Aceh satu persatu tampil mendakwahkan puisi-puisinya di hadapan ratusan
mahasiswa yang sengaja datang menyaksikan bagaimana ala penyair menyambut bulan
suci Ramadhan tahun ini. Hasyim KS, Maskirbi, Din Saja, Wiratmadinata, Doel CP Allisah,
Nab Bahany As, Zab Bransah, Zulfikar Sawang, Ikhwanul Fitri Nasution, Yanto, Udin Pelor,
Nurdin Supi, Kelompok Makelar, Musik Batas tampil penuh makna.

Wiratmadinata yang tampil di tengah-tengah acara dengan membacakan sajak panjang


Emha Ainun Nadjib "Aku Masjid", pembacaan puisi ini benar-benar mencerminkan suasana
dakwah yang mengajak umatnya untuk memahami kembali bagaimana menempatkan
masjid sebagai rumah Tuhan dalam kehidupan sehari-hari. "Aku ini masjid, tataplah baik-
baik seluruh aliran darahmu dan detak jantungku/seluruh deritamu termuat di kandungan
cintaku/bersujudlah, bermanung, ber-iktikaf// Itulah salah satu dari bait dari puisi "Aku
Masjid" yang dibacakan penyari Wira dengan penuh penghayatan, gerak mimik dan gaya
deklamasinya yang khas. Sehingga pembacaan puisi itu tampak menjadi sebuah paket
"dakwah" yang menyadarkan kita untuk memperlakukan masjid sebagai tempat curahan
segala persoalan hidup kepada Tuhan.
Penyair Wira mungkin sengaja membacakan puisi itu, untuk memberi tahu kembali bahwa
fungsi masjid seperti yang dipesankan Emha Ainun Nadjib dalam sajak ini, bahwa masjid itu
tak hanya menjadi tempat ibadah semata: "Aku masjid. Ayolah/Mulai hari baru dariku/cinta
kasih dan masa depan/politik dan kebudayaan// Aku masjid/ Aku rumah mu, aku
negerimu/tempatmu merundingkan segala sesautu/Titik berangkatmu membongkar segala
sesautu yang buntu. Dua bait diatas jelas menggambarkan bagaimana Emha mendakwah
kan fungsi Masjid bagi umat yang selama ini mungkin Masjid ini hadir dianggap sebagai
tempat ibadah semata bagi kebanyakan umat Islam.

Padahal dalam sejarah sendiri (seperti masjid kardova) di masa kemajuan Islam dulu, masjid
itu di samping digunakan sebagai tempat ibadah juga difungsikan sebagai pusat temapt
pengembangan ilmu pengetahuan. "Maka saya sengaja membacakan puisi ini, karena saya
tidak bisa berdakwah, mungkin dengan puisi Mas Emha ini akan menjadi suatu dakwah
dalam kita menyambut bulan suci Ramadhan", begitu kata Wiratmadinata ketika mengakhiri
pembacaan sejak "Aku Mesjid" karya Emha Ainun Nadjib.

Selain Wira, dalam baca puisi "O... Ramadhan" ini, penyair-penyair yang diundang satu
persatu tampil ke pentas yang didekor seperti layaknya sebuah panggung "kartun" yang
penuh simbul-simbul bernuansa seni. Di atas panggung pas di halaman Fakultas Adab inilah,
puisi-puisi bernilai dakwah itu mengalir dari sejumlah penyair Aceh dalam rangka
menyambut bulan suci Ramadhan ini. Seniman tradisional Udin Pelor yang tampil pada
giliran terakhir merupakan puncak kekuatan acara yang ditunggu-tunggu ratusan
mahasiswa yang ingin melihat penampilannya. Dengan tidak canggung-canggung Udin Pelor
pun bersyair dalam bahasa campur aduk sebagai ciri khas kepenyairannya. Ia membaca dua
puisi Ameer Hamzah, Puasa untuk Tuhan, dan Lidah Api. Setelah itu Udin mulai beraksi
dengan berbagai potensi yang ada padanya. Meskipun syair-syair yang dilantunkan Udin
banyak bersifat spontanitas, namun memiliki makna dan nilai dakwahnya tersendiri. Hal itu
dapat disimak seperti dalam sebuah syair bahasa Aceh "Hoo Tawoe?" Syair Udin ini
walaupun terkesan sederhana, namun kalau direnungkan nilai syair itu penuh mengandung
hakekat hidup manusia.

Artinya, semua manusia pasti akan kembali pada asal mulanya. Begitulah yang
dimaksudkan Udin dalam syairnya "Ho Tawooe" (kemana kita akan pulang) "Mandum
geutanyoe tawooe bak asai mula (semua kita akan kembali pada asalnya). Apa nilai dakwah
yang ada dalam syair semacam ini. Dapat kita petik setidkanya Udin mengingatkan bahwa
hidup ini akan diakhiri oleh suatu kematian, maka sebelum kematian datang menjemputnya,
kita harus menyadari apa yang harus di bawa ketika kita akan kembali ke asal mula
menghadap Tuhan. Sementara Maskirbi tidak membacakan puisi, ia tampil degan sebuah
cerpennya yang baru selesai ditulis. Bahkan bisa jadi, cerpen yang menceritakan tentang
desas desus bayi buangan akhir-akhir ini merupakan publikasi awal yang dibacakan dalam
forum "10800 detik" sebelum cerpen itu dikirimkan ke media masa. Meski cerpen itu tidak
dihiasi dengan bahasa-bahasa agama, namun dari alur cerita dapat dinilai ada suatu pasan
dakwah yang ingin disampaikan pengarang kepada kita. Di mana seorang tokoh kepala
polisi yang digambarkan dalam cerpen itu, bahwa setiap perkara yang periksa pada setiap
pelaku kejahatan, perkara itu persis seperti apa yang pernah ia lakukan sendiri. Tapi
kejahatan yang ia lakukan tidak ada yang tahu. Bahkan ia sendiri baru mengetahui
kejahatan yang pernah dibuatnya ketika ia memeriksa para pelaku kejahatan.

Dalam kasus aborsi, misalnya, ia sendiri pernah menyuruh seorang perempuan yang pernah
digaulinya untuk menggugurkan kandunganya. Demikian pula dalam kasus kejahatan
lainnya, terbayang kembali di benaknya, tapi ia tidak diperiksa dan tidak dihukum. Semua
kesalah itu terus menghantui hidupnya, sampai akhirnya ia mati karena tersiksa oleh rasa
bersalah yang terus menghatui hidupnya. Dari alur cerita cerpen Maskirbi ini jelas sekali
memperlihatkan suatu kemunafikan manusia sebagai penegak hukum, yang padahal ia
sendiri tak jarang melakukan perbuatannya yang melanggar hukum. Sudah tentu, nilai
dakwah dalam cerpen ini adalah mengajak manusia untuk selalu berlaku jujur, baik
terhadap dirinya maupun untuk orang lain.

Kehadiran Hasyim KS, yang dianggap oleh penyair sebagai "Panglima Penyair Aceh" saat ini
semakin memberi makna khusus bagi mahasiswa IAIN Ar-Raniry. Hasyim mengharapkan
agar Gelar Puisi seperti ini dapat berlangsung setiap tahun. Menurut Hasyim, penyair adalah
kaca mata peradaban yang selalu merekam nuansa zaman.

þNab Bahany As, penyair, alumnus Fakultas Adab IAIN Ar-Raniry Banda
Aceh.

MIMBAR

Shalat Melahirkan Insan yang Taqwa


Oleh Drs Tgk H A Gani Isa

"Wahai Tuhan kami, jadikanlah kami sebagai orang yang menyerahkan diri kepada-Mu,
tunjukilah kami cara-cara menyembah kepada-Mu dan terimalah tobat kami" (QS, 11;128).
Menyadari diri sebagai makhluk yang lemah dan fana, dengan senantiasa berdoa "Ya Allah
sesungguhnya aku telah menganianya diriku dan tak seorangpun yang dapat menghapus
dosa-dosaku selain Engkau, karena itu karunialah aku perlindungan-Mu dan berikanlah
padaku rahmat-Mu sesungguhnya hanya Engkaulah Yang Maha melindungi dan Maha
Pengasih. Konsep ibadah dalam Islam mempunyai cakupan luas, bermula dari soal-soal iman
kepada Tuhan dengan segala sifat Keesaan-Nya. Ia meliputi dua jalur hubungan dengan
Khalik yaitu; 1. Dengan Tuhan sendiri sebagai Sang Khalik (Pencipta). 2. Dengan makhluk
(ciptaan). Yang pertama bersifat spiritual dan yang kedua bersifat sosial. Ia tidak terbatas
pada manifestasi lahiriah dan pengabdian seseorang kepada Tuhan seperti mengerjakan
shalat, haji, membayar zakat, puasa. Akan tetapi semua amal kebajikan yang dilaksanakan
dengan niat yang ikhlas dan sesuai dengan perintah Allah untuk mencari ridha-Nya adalah
bernilai ibadah.

Di antara ibadah mahdhah tersebut, shalat merupakan ibadah rutin dilaksanakan secara
terus menerus selama 24 jam, lima kali sehari semalam. Kebaikan-kebaikan yang
ditimbulkan shalat bagi kehidupannya dapat dibagi ke dalam dua hal yang mendasar yaitu;
1. Menumbuhkan sifat-siaft akhlak dan moral serta menjauhkan dirinya dari perbuatan
tercela dan munkar.
2. Menumbuhkan sifat moral yang gemar berbuat kebaikan untuk orang lain.
Sifat-sifat yang baik yang dapat menyelamatkan orang lain dapat disebutkan antara lain;
Ihsan (perlakuan yang abik), kejujuran (amanat), kebenaran (siddik). Sedangkan sifat-sifat
baik yang bertujuan meningkat perbuatan baik pada orang lain seperti; pema'af (afw),
keadilan (adl), pemberani (syaja) (ah), sabar (sbr), berterimakasih (syukur), penyantun
(hilm) dan sebagainya. Semua sifat ini merupakan wujud nyata dari ibadah shalat. Shalat
yang dilakukan seseorang diawali dengan wudhuk, pensucian diri dari segala kotoran atau
hadits dari seluruh tubuh, karena orang yang tidak bersih shalatnya tidak diterima.
Selanjutnya shalat diawali dengan niat serta mengharapkan ridha-Nya, untuk itu pula
diperlukan hati yang bersih dari segala kotoran membuat dirinya khusyu' karena
menghadap Tuhan Sang Pencipta-Nya. Mengucap takbir sebagai pengakuan Allah Maha
Besar, demikian di kala sujud sebagai pertanda tidak ada yang lebih besar selain Allah,
sambil berucap "Subhana Rabbiyal A'la Qabihamdihi" Maha suci Tuhan Yang Maha Tinggi
dan dengan segala puji bagi Nya. Semakin banyak shalat itu dilakukan seseorang dengan
penuh kesadaran, berarti sebanyak itu pula rohani dan jasmani dilatih berhadapan dengan
zat Yang Maha Suci. Yang dampaknya membawa kepada kesucian rohani dan jasmani.
Kesucian jasmani dan rohani akan memancarkan akhlak mulia, sikap hidup dinamis penuh
amal shalih, sekaligus terhindar dari berbagai perbuatan dosa, jahat dan keji sebagaimana
bunyi ayat: "Dan tegakkan shalat karena shalat itu mencegah diri dari perbuatan keji dan
jahat" (QS, 70;19-23). Ditinjau dari segi displin, shalat merupakan pendidikan positif
menjadikan manusia dan masyarakatnya hidup teratur, yang dalam surat al-Ashr telah
diisyaratkan pula bahwa manusia akan rugi hidupnyak, manakala ia lalai tidak disiplin
dengan waktu.

Betapa indahnya sistem hidup manusia manusia muslim dengan ajaran shalat itu, ketika fajr
subuh bersibak di ufuk timur, pertanda kewajiban shalat subuh tiba. Di saat manusia lainnya
masih tertidur di bawah selimutnya. Umat Islam telah bangun, membersihkan diri,
menghadapkan wajahnya kepada Tuhan. Jadi hidup seorang muslim dimulai dengan mengisi
kesucian dan nafas tauhid, sehingga hidup itu bertenaga dan penuh optimis.

Selama seseorang melakukan ibadah shalat, kalau dihitung mulai dari takbir sampai selesai,
paling sedikit menyebut nama Allah; mengucapkan Allahu akbar 100 kali, bismillah 27 kali,
subhana rabbiyal adhimi 52 kali, subhana Rabbiyal a'ala 51 kali, La ilahaillallah 10 kali,
allahumma 9 kali dan alhamdulillah 17 kali. Umumnya orang-orang yang mendapat
gangguan jiwa adalah akibat emosi dan tertumpuknya pikiran yang serba ruwet tak
terpecahkan, sehingga menyebabkan hilangnya keseimbangan dalam jiwa manusia
(neurosis). Dr A.A Brill mengatakan "Any one is truly religions does not develop a neurosis"
(Tiap-tiap orang yang betul-betul menjalankan agama tidka bsia kena penyakit neorosis).
Maka shalat menjadi penawar paling mujarab bagi kesehatan jiwa, rohani dan pisik manusia.
Shalat dapat memberikan ketenangan batin "dirikan shalat untuk mengingat Ku (QS, 20;14).
Demikianlah bangunannya yang diinginkan shalat, melahirkan sosok insan ayng beriman
dan bertakwa, memberikan sumber moral yang cukup tinggi, menaruh benci terhadap
segala sifat keji dan munkar.