Anda di halaman 1dari 5

Keterangan : 1. Kegiatan Operasi berjadwal.

1. Delapan penjuru mata angin dengan warna merah putih mengandung Untuk kegiatan ini dialokasikan rata-rata 100 jam, meliputi:
arti dan makna bahwa Badan SAR Nasional dalam mengemban
tugas di bidang kemanusiaan senantiasa menitikberatkan pada
kecepatan dan ketepatan serta dilaksanakan dengan penuh ketulusan • Dukungan VIP sebanyak 25 jam
(warna putih) dan keberanian (warna merah). • Dukungan Siaga SAR hari Natal dan Tahun Baru sebanyak 25 jam
2. Awan, gunung dan 5 ombak di laut mengandung arti dan makna • Dukungan Siaga SAR Idul Fitri sebanyak 50 jam
bahwa dalam menjalankan tugasnya Badan SAR Nasional
melingkupi segala medan tugas; Awan menggambarkan lingkup
medan tugas udara, gunung menggambarkan lingkup medan tugas 2. Kegiatan Operasi tak berjadwal
darat, ombak di laut menggambarkan lingkup medan tugas di air
yang dilandasi dengan kelima sila dalam Pancasila.
Meliputi operasi SAR dan dukungan SAR terhadap penanganan bencana alam
dan kegiatan lain yang dipandang perlu menyiagakan pesawat B0-105 sebagai
3. Pita bertuliskan ”INDONESIA” mempunyai arti bahwa Badan SAR unsur SAR. Dari kegiatan ini dialokasikan waktu sekitar 200 jam. Contoh
Nasional merupakan lembaga pemerintah Indonesia yang kegiatan ini antara lain pada waktu tanggap darurat bencana Tsunami Aceh, HR-
melaksanakan tugas pencarian dan pertolongan. 1518 di BKO kan ke Banda Aceh. Kegiatan operasi kemanusiaan ini dengan
basis di Blang Pidie untuk mendukung distribusi logistik di daerah Meulaboh
Arti Logo Badan SAR Nasional dan sekitarnya dapat berjalan lancar, karena kerjasama yang baik dengan tim
Helikopter dari type yang sejenis sebanyak 5 buah dibawah koordinasi dan
bantuan Avtur dari Perhubungan Udara.

3. Latihan SAR

Keterangan : Kegiatan latihan ditujukan pada pembentukan dan upaya mempertahankan serta
meningkatkan kualifikasi yang akan dan telah dimiliki penerbang dalam rangka
mendukung kegiatan operasi SAR. Dari alokasi jam terbang bidang latihan
1. DASAR. Warna kuning hijau adalah warna "pare anom" yang
sebanyak 150 jam, terdiri atas; latihan SAR 50 jam, konversi 30 jam, profisiensi
menurut sejarah dan tradisi bangsa Indonesia Menandakan 40 jam, kaptensi 30 jam.
kesuburan Tanah Air kita yang diperuntukkan kesejahteraan rakyat.
Wilayah Indonesia dari Sabang hingga Merauke terdiri dari 13.677
pulau/ kepulauan pada posisi silang antara dua benua dan dua • Latihan dengan dukungan helikopter yang telah dilaksanakan sampai
samudra, dengan mengandung kekayaan bumi dan air. saat ini antara lain:
2. BINTANG. Jumlah bintang sebanyak 5 buah menggambarkan • Pelatihan Dasar Rescuer,
bahwa Pancasila merupakan falsafah Negara Republik Indonesia • MARPOLEX diperairan Indonesia.
dan sebagai pandangan hidup dari bangsa kita, yang mana pada sila
kedua ialah "Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab" merupakan ciri • Latihan SAR Malindo (dengan Malaysia)
khas tugas SAR Nasional yang selalu berkaitan dengan keempat • Latihan SAR Indopura (dengan Singapura)
sila lainnya. • Latihan SAR Ausindo (dengan Australia)
3. SAR NASIONAL. Tulisan SAR Nasional dengan warna merah
sebagai ketegasan dalam melaksanakan tugas kemanusiaan yang B. SARANA SAR LAUT
meliputi seluruh wilayah dengan tekad para petugasnya untuk
bertindak dengan cepat, tepat dan berani setiap saat diperlukan.
Untuk mendukung kegiatan SAR dalam penanganan musibah diperairan, yang
terjadi di setiap wilayah, maka dibutuhkan Sarana SAR Laut pada saat
4. AVIGNAM JAGAT SAMAGRAM. Namun demikian, sila pelaksanaan operasi SAR.
pertama dari Pancasila sebagai suatu keyakinan dari setiap petugas
SAR bahwa segala tugas ini diridhoi Tuhan Yang Maha Esa dengan 1) Rescue boat
tetap berdoa "Semoga Selamatlah Alam Semesta".

Rescue boat merupakan kapal dengan versi SAR, sarana ini sangat menunjang
dalam penyelamatan korban di lautan. Selain sebagai sarana angkut tim rescue
A. SARANA SAR UDARA yang akan memberikan pertolongan, juga harus mempunyai kemampuan mencari
dan mengarungi lautan dengan tetap mempertimbangkan keselamatan. Guna
Sebagai komponen pendukung keberhasilan pelaksanaan operasi SAR, saran dan mendukung upaya SAR dilaut BASARNAS telah didukung dengan rescue boat.
peralatan SAR telah diupayakan untuk selalu tetap beriringan dengan kemajuan
IPTEK baik kualitas maupun kuantitasnya. 2) Rigid Inflatable Boat

HELIKOPTER (rotary wing) Sarana operasional ini dipergunakan pada daerah dekat pantai dan sangat efisien
untuk penyelamatan korban di air pada permukaan yang dangkal, berbentuk
menyerupai perahu karet dengan lunas fiber glass serta dilengkapi kemudi
a) Jumlah, type dan kemampuan pesawat. dibagian tengah untuk memberikan sudut pandang yang luas bagi operatornya.

Sarana udara yang dimiliki BASARNAS adalah Helikopter NBO-105 buatan C. SARANA ANGKUT SAR DARAT
IPTN tahun 1980 sebanyak 2 buah, kemudian mendapat hibah dari Badan Diklat
Perhubungan dan PT Pelita Air Service sebanyak 8 (delapan) buah terdiri dari 7
buah jenis NB0-105 dan 1 (satu) buah jenis Bell 206. Sebagai komponen pendukung keberhasilan pelaksanaan operasi SAR, saran dan
peralatan SAR telah diupayakan untuk selalu tetap beriringan dengan kemajuan
IPTEK baik kualitas maupun kuantitasnya.
b) Pengoperasian pesawat.

1) Rescue Truck
Rescue truk merupakan sarana penunjang operasi pertolongan terhadap musibah Pada tahun 1994 BASARNAS memperoleh bantuan pi njaman lunak dari
lain, seperti gempa bumi atau bangunan runtuh, sarana ini dapat dijadikan pemerintah Kanada untuk pengadaan peralatan monitoring musibah. Peralatan
sebagai pertimbangan dari fungsi BASARNAS dan posisi kantor Pusat di ibu tersebut berfungsi sebagai alat deteksi dini signal yang mengindikasikan lokasi
kota. musibah, alat-alat tersebut adalah LUT (Local User Terminal) yaitu berupa
perangkat stasiun bumi kecil yang mengolah data dari Cospas dan SARSAT.
Sampai saat ini BASARNAS memiliki 3 unit Rescue truck yang dioperasikan di
Jakarta, Surabaya dan Denpasar. Prioritas menempatkan RescueTruck ini karena 2. Jaring Koordinasi
pertimbangan kemungkinan musibah yang terjadi khususnya gempa bumi atau
gedung runtuh dan kecelakaan jalan raya yang sangat padat di pulau Jawa,
Komunikasi sebagai sarana koordinasi, dimaksudkan untuk dapat berkoordinasi
termasuk kecelakaan kereta api.
dalam mendukung kegiatan operasi SAR baik internal antara Kantor Pusat
BASARNAS dengan Kantor SAR dan antar Kantor SAR, dan eksternal dengan
2) Rescue Car. instansi/ organisasi berpotensi SAR dan RCCs negara tetangga secara cepat dan
tepat.
Rescue car disiapkan dalam rangka mendukung kecepatan mobilisasi tim rescue
yang akan memberikan bantuan per-tolongan. Dengan kelengkapan rescue tool, 3. Jaring Komando dan Pengendalian
maka tim rescue dapat segera memberikan bantuan pada korban yang terjepit.
Sampai dengan tahun 2004 telah didistribusi kan Rescue car ke seluruh kantor
Komunikasi sebagai sarana komando dan pengendalian, dimaksudkan untuk
SAR, seperti yang terlihat pada gambar.
mengendalikan unsur-unsur yang terlibat dalam operasi SAR.

D. PERALATAN SAR (SAR Equipment)


4. Jaring Pembinaan, Administrasi dan Logistik

Peralatan SAR adalah merupakan bagian penting bagi rescuer ketika


Jaring ini digunakan oleh BASARNAS untuk pembinaan Kantor SAR dalam
melaksanakan pertolongan terhadap korban musibah dilapangan, sehingga
pelaksanaan pembinaan dan administrasi perkantoran.
dengan dukungan peralatan yang memadai akan membantu proses pertolongan
dan selanjutnya akan meningkatkan prosentasi keberhasilan operasi.
Peralatan komunikasi yang dimiliki BASARNAS dan Kantor SAR sebagai
berikut :
Peralatan SAR ini diklasifikasikan dalam dua kelompok yaitu:

1. Peralatan perorangan • Fixed Line Telecommunication


• Radio Communication (HFNHF)
Terdiri atas Peralatan pokok perorangan dan Peralatan pendukung perorangan; • AFTN Automatic message switching

2. Peralatan beregu. Dengan dilengkapinya radio VHF Air band dan Marine band, memungkinkan
untuk memonitor penerbangan dan pelayaran.
Terdiri atas Peralatan pokok beregu dan Peralatan pendukung beregu;
Dalam rangka meningkatkan kemampuan personil BASARNAS maupun UPT di
daerah dan Potensi SAR, telah dilakukan pendidikan dan pelatihan, penyuluhan
Dengan klasifikasi ini akan memberikan kemudahan dalam memilah ketika
kepada masyarakat serta pembinaan SDM Potensi SAR
melakukan penyimpanan maupun penyiapan untuk operasi.

Untuk mendukung kegiatan dan operasi SAR, serta dalam rangka mendukung
a. Pelatihan
Siaga SAR, Kantor-kantor SAR telah dilengkapi dengan peralatan SAR,
meskipun belum dapat memenuhi seluruh kebutuhan sesuai persyaratan
mengingat keterbatasan anggaran dan biaya operasional. Peralatan SAR masing- Pelatihan dilakukan dengan menyelenggarakan kegiatan:
masing Kantor SAR sedikit berbeda jenis maupun jumlahnya, tergantung lokasi
dan kondisi setempat.
1) Pelatihan dasar dan lanjutan SAR oleh BASARNAS, serta masing-masing instansi/ o
2) Pendidikan khusus atau spesialisasi yang dilaksanakan oleh BASARNAS, meliputi :
E. PERALATAN KOMUNIKASI

• Pendidikan SAR Mission Coordinator ( SMC )


Salah satu komponen pfasilitas SAR yang memegang kunci peranan penting
dalam pelaksanaan kegiatan SAR adalah Sistem Komunikasi SAR. Sistem • Kemampuan perencanaan dan pengendalian operasi.
komunikasi ini tidak lepas dari semua jenis peralatan komunikasi yang • Pendidikan SAR Controller.
digunakan sebagai sarana pertukaran informasi balk berupa voice maupun data • Pendidikan operator radio/ komunikasi elektronika.
dalam kegiatan SAR. Sistem komunikasi yang digelar mempunyai fungsi:
• Pendidikan rescue (kemampuan pertolongan)

1. Jaringan Penginderaan Dini


• Pendidikan Instruktur SAR.

3) Mengikut sertakan pendidikan ke luar negeri, untuk membekali pengetahuan dasar SA


Komunikasi sebagai sarana penginderaan dini dimaksudkan agar setiap musibah
pelayaran dan/atau penerbangan dan/ atau bencana dan/ atau musibah lainnya
b. Pembinaan
dapat dideteksi sedini mungkin, supaya usaha pencarian, pertolongan dan
penyelamatan dapat dilaksanakan dengan cepat. Oleh karena itu setiap
informasi/musibah yang diterima harus mempunyai kemampuan dalam hal Pembinaan potensi SAR nasional dilakukan baik oleh BASARNAS secara bertahap sesu
kecepatan, kebenaran dan aktualitasnya. Implementasi sistem komunikasi harus pemerintah, swasta dan masyarakat berpotensi SAR untuk mendukung operasi SAR disa
mengacu path peraturan internasional yaitu peraturan IMO untuk memonitor masing-masing. Pembinaan juga dilakukan oleh FKSD berdasarkan program pembinaan
musibah pelayaran dan peraturan ICAO untuk memonitor musibah penerbangan. instansi/organisasi pemilik Potensi SAR Daerah. Adapun jumlah personil yang telah dib
seluruh unsur Potensi SAR tertera dalam tabel di bawah.
Kelas : 30 %
Praktek : 70 %
c. Latihan SAR Materi :
a. ESAR (10 JP)
b. Medical
Latihan ini dimaksudkan untuk memelihara kemampuan/ ketrampilan SAR yang telah dimiliki, First responder
demi memperoleh (13 JP)
prestasi yang
handal. Latihan yang dilaksanakan antara lain : c.Teknik Evakuasi (12 JP)
d. Prosedur Operasi Hell ( 2 JP)
e. Pengenalan Pertolongan di Air ( 2 JP)
• Latihan/Gladi Pos Komando (Gladi Posko), untuk melatih prosedur tetap atau petunjuk pelaksanaan
f. Komunikasi Signaloperasi
(1 JP) SAR, dan
melatih mekanisme staf dengan simulasi skenario latihan. g. Aplikasi Lapangan (30 JP)
• Perencanaan dan pengendalian.
• Pencarian. 3. Rescuer Muda-2 (50 JP)
• Pertolongan. Waktu : 5 hari
• Penanggulangan Penderita Gawat Darurat (PPGD) Peserta : 20 orang
Kelas : 30 %
• Evakuasi Praktek : 70 % Prerequisite
Materi
d. Latihan SAR a. ESAR ( 4 PM)
Pengenalan Nay., PPM, Survival, dan teknik Pencarian
b. Medical First responder ( 9 JP)
Penyuluhan tentang SAR untuk menunjang tugas Operasi SAR dengan cara melakukan penyiapan
c. Teknikbahan dan penyuluhan
Evakuasi ( 6 JP) tugas
SAR seperti penyiapan bahan-bahan penyusunan pedoman penyuluhan tugas-tugas SAR, penyiapan petunjuk
d. Komunikasi teknis
signal penyuluhan
( 1 JP)
kepada masyarakat. e. Aplikasi Lapangan (30 JP)
4. Jungle Search and Rescue technique (80 JP)
Pembinaan potensi SAR dilakukan sebagai bagian dari strategi jangka pendek Waktu : 8 hari
Badan SAR Nasional yang dilaksanakan secara bertahap, bertingkat dan Peserta : 20 orang
berlanjut. Untuk menuju siapnya tenaga SAR yang handal dan profesional maka Kelas : 30 %
pendidikan dan latihan dalam rangka pembinaan potensi SAR dapat Praktek : 70 %
dilaksanakan menjadi tiga tingkat: Prerequisite : MFR 2 (CPR & Patient-Assessment)
Materi :
a. Navigasi Darat (10 JP)
• Diklat SAR tingkat Dasar b. Medical First responder ( 8 JP)
• Diklat SAR tingkat Lanjutan c. Teknik Pencarian ( 8 JP)
• Diklat SAR tingkat Spesialis d. Teknik Evakuasi ( 7 JP)
e. Prosedur Operasi Heli ( 4 JP)
• Diklat SAR tingkat Pendukung f. Survival dan Signal ( 3 JP)
g. Aplikasi Lapangan (40 JP)
Dengan banyaknya potensi yang ada diberbagai kalangan masyarakat, maka 5. High Angle Rescue Technique (80 JP)
potensi instansi/organisasi dapat melaksanakannya diklat SAR dengan Waktu : 8 hari
kurikulum, silabus, instruktur dan sertifikasi dari BASARNAS. Peserta : 20 orang
Kelas : 30 %
Mekanisme Pengajuan Diklat sebagai berikut : Praktek : 70 %
DIAGRAM PENGAJUAN PELATIHAN (SERTIFIKAT) SAR BAGI Prerequisite : MFR 2 (CPR & Patient-Assessment)
POTENSI SAR Materi :
a. Faktor Keselamatan;
b. Penggunaan peralatan dan perawatannya;
KLASIFIKASI DAN MATERI c. Pengetahuan tali, perawatan dan pembuatan simpul;
1. Rescuer - (130 JP) d. Anchoring dan Belaying;
e. Rappeling dan Ascending;
Waktu : 13 hari f. One Person rescue Technique ;
Peserta : 20 orang g. Lowering (inside & overhead anchor);
Kelas : 30 % h. Lowering and Mechanical Advantage System;
Praktek : 70 % i. Highline & Slope Evacuation.
Materi :
a.ESAR (18 JP)
6. Close / Open Water Rescue
Waktu : 8 hari
• Navigasi Darat Peserta : 20 orang
• Survival Kelas : 30 %
Praktek : 70 %
• PPPM Prerequisite : MFR 2 (CPR & Patient-Assessment)
• Teknik Pencarian Materi :
a. Pengantar dan faktor keselamatan di air;
b. Medical First responder (25 JP) b. Kedaruratan dan standart prosedur penanganan;
c. Teknik Evakuasi (25 JP) c. Pengenalan arus;
d. Prosedur Operasi Heli (6 JP) d. Personal floation device dan self rescue;
e. Komunikasi SAR (2 JP) e. Metode pertolongan di air;
f. Ceramah dan Organisai SAR (2 JP) f. Teknik stabilisasi dan membawa korban
g. Binsik (10 JP) 7. T.O.T. SAR (60 JP)
h. Aplikasi Lapangan (30 JP) Waktu : 8 hari
2. Rescuer Muda - (170 JP) Peserta : 20 orang
Waktu : 7 hari Kelas : 30 %
Peserta : 20 orang Praktek :70 %
Prerequisite : High Angle Rescue, Jungle rescue, water rescue
Materi : Dengan berbekal kemerdekaan, maka tahun 1950 Indonesia masuk menjadi
a. Informasi dan instruksi; anggota organisasi penerbangan internasional ICAO (International Civil
b. Komunikasi dan kemampuan di depan kelas; Aviation Organization). Sejak saat itu Indonesia diharapkan mampu menangani
c. Menentukan maksud dan tujuan; musibah penerbangan dan pelayaran yang terjadi di Indonesia.
d. Merencanakan pelajaran; Sebagai konsekwensi logis atas masuknya Indonesia menjadi anggota ICAO
e. Mempergunakan alat-alat instruksi visual; tersebut, maka pemerintah menetapkan Peraturan Pemerintah Nomor 5 tahun
f. Cara memberikan instruksi; 1955 tentang Penetapan Dewan Penerbangan untuk membentuk panitia SAR.
g. Manajemen pelatihan; Panitia teknis mempunyai tugas pokok untuk membentuk Badan Gabungan SAR,
h. Outdoor activity (SAR skill) menentukan pusat-pusat regional serta anggaran pembiayaan dan materil.
i. Praktek pengajaran. Sebagai negara yang merdeka, tahun 1959 Indonesia menjadi anggota
International Maritime Organization (IMO). Dengan masuknya Indonesia
sebagai anggota ICAO dan IMO tersebut, tugas dan tanggung jawab SAR
A. TUGAS POKOK
semakin mendapat perhatian. Sebagai negara yang besar dan dengan semangat
gotong royong yang tinggi, bangsa Indonesia ingin mewujudkan harapan dunia
Dalam Peraturan Menteri Perhubungan Nomor KM.43Tahun 2005 Tentang international yaitu mampu menangani musibah penerbangan dan pelayaran.
Organisasi dan tata kerja Departemen Perhubungan, Badan SAR Nasional Dari pengalaman-pengalaman tersebut diatas, maka timbul pemikiran bahwa
mempunyai tugas pokok melaksanakan pembinaan, pengkoordinasian dan perlu diadakan suatu organisasi SAR Nasional yang mengkoordinir segala
pengendalian potensi Search and Rescue (SAR) dalam kegiatan SAR terhadap kegiatan-kegiatan SAR dibawah satu komando. Untuk mengantisipasi tugas-
orang dan material yang hilang atau dikhawatirkan hilang, atau menghadapi tugas SAR tersebut, maka pada tahun 1968 ditetapkan Keputusan Menteri
bahaya dalam pelayaran dan atau penerbangan, serta memberikan bantuan SAR Perhubungan Nomor T.20/I/2-4 mengenai ditetapkannya Tim SAR Lokal Jakarta
dalam penanggulangan bencana dan musibah lainnya sesuai dengan peraturan yang pembentukannya diserahkan kepada Direktorat Perhubungan Udara. Tim
SAR Nasional dan Internasional. inilah yang akhirnya menjadi embrio dari organisasi SAR Nasional di Indonesia
yang dibentuk kemudian.
Pada tahun 1968 juga, terdapat proyek South East Asia Coordinating Committee
B. FUNGSI on Transport and Communications, yang mana Indonesia merupakan proyek
payung (Umbrella Project) untuk negara-negara Asia Tenggara. Proyek tersebut
Dalam melaksanakan tugas pokok tersebut di atas, Badan SAR Nasional ditangani oleh US Coast Guard (Badan SAR Amerika), guna mendapatkan data
menyelenggarakan fungsi : yang diperlukan untuk rencana pengembangan dan penyempurnaan organisasi
SAR di Indonesia.
1. Perumusan kebijakan teknis di bidang pembinaan potensi SAR dan Kesimpulan dari tim tersebut adalah :
pembinaan operasi SAR; 1.Perlu kesepakatan antara departemen-departemen yang memiliki fasilitas dan
2. Pelaksanaan program pembinaan potensi SAR dan operasi SAR; peralatan;
3. Pelaksanaan tindak awal; 2.Harus ada hubungan yang cepat dan tepat antara pusat-pusat koordinasi dengan
4. Pemberian bantuan SAR dalam bencana dan musibah lainnya; pusat fasilitas SAR;
5. Koordinasi dan pengendalian operasi SAR alas potensi SAR yang 3.Pengawasan lalu lintas penerbangan dan pelayaran perlu diberi tambahan
dimiliki oleh instansi dan organisasi lain; pendidikan SAR;
6. Pelaksanaan hubungan dan kerja sama di bidang SAR balk di dalam 4.Bantuan radio navigasi yang penting diharapkan untuk pelayaran secara terus
maupun luar negeri; menerus.
7. Evaluasi pelaksanaan pembinaan potensi SAR dan operasi SAR Dalam kegiatan survey tersebut, tim US Coast Guard didampingi pejabat -
8. Pelaksanaan administrasi di lingkungan Badan SAR Nasional. pejabat sipil dan militer dari Indonesia, tim dari Indonesia membuat kesimpulan
bahwa :
C. SASARAN PENGEMBANGAN BASARNAS 1.Instansi pemerintah baik sipil maupun militer sudah mempunyai unsur yang
dapat membantu kegiatan SAR, namun diperlukan suatu wadah untuk
menghimpun unsur-unsur tersebut dalam suatu sistem SAR yang baik. Instansi-
Dalam rangka mewujudkan visi dan misi Basarnas, perlu dilaksanakan strategi- instansi berpotensi tersebut juga sudah mempunyai perangkat dan jaringan
strategi sebagai berikut : komunikasi yang memadai untuk kegiatan SAR, namun diperlukan pengaturan
pemanfaatan jaringan tersebut.
1. Menjadikan BASARNAS sebagai yang terdepan dalam melaksanakan 2.Personil dari instansi berpotensi SAR pada umumnya belum memiliki
operasi SAR dalam musibah pelayaran dan penerbangan, bencana dan kemampuan dan keterampilan SAR yang khusus, sehingga perlu pembinaan dan
musibah lainnya; latihan.
2. Pembentukan Institusi yang dapat menangani pendidikan awal dan Peralatan milik instansi berpotensi SAR tersebut bukan untuk keperluan SAR,
pendidikan penataran di lingkungan BASARNAS walaupun dapat digunakan dalam keadaan darurat, namun diperlukan
3. Mengembangkan regulasi yang mampu mengerahkan potensi SAR standardisasi peralatan.
melalui mekanisme koordinasi yang dipatuhi oleh semua potensi Hasil survey akhirnya dituangkan pada "Preliminary Recommendation" yang
SAR; berisi saran-saran yang perlu ditempuh oleh pemerintah Indonesia untuk
4. Melaksanakan pembinaan SDM SAR melalui pola pembinaan SDM mewujudkan suatu organisasi SAR di Indonesia.
yang terarah dan berlanjut agar dapat dibentuk tenaga-tenaga SAR PERKEMBANGAN ORGANISASI BASARNAS
yang profesional. Berdasarkan hasil survey tersebut ditetapkan Keputusan Presiden Nomor 11
5. Melaksanakan pemenuhan sarana/ prasarana dan peralatan SAR tahun 1972 tanggal 28 Februari 1972 tentang pembentukan Badan SAR
secara bertahap agar dapat menjadikan operasi tindak awal SAR yang Indonesia (BASARI). Adapun susunan organisasi BASARI terdiri dari :
mandiri, cepat, tepat, dan handal sesuai ketentuan nasional dan 1. Unsur Pimpinan
internasional. 2. Pusat SAR Nasional (Pusarnas)
6. Melaksanakan pendidikan dan pelatihan SAR melalui jenjang 3. Pusat-pusat Koordinasi Rescue (PKR)
pendidikan sesuai dengan kebutuhan dalam lingkungan BASARNAS. 4. Sub-sub Koordinasi Rescue (SKR)
7. Penciptaan system sosialisasi dan penyuluhan kepada masyarakat 5. Unsur-unsur SAR
tentang penyelenggaraan operasi SAR Pusarnas merupakan unit Basari yang bertanggungjawab sebagai pelaksana
8. Mengembangkan kerjasama dengan Pemda melalui FKSD, organisasi operasional kegiatan SAR di Indonesia. Walaupun dengan personil dan peralatan
dan instansi berpotensi SAR, balk dalam negeri maupun luar negeri yang terbatas, kegiatan penanganan musibah penerbangan dan pelayaran telah
dalam rangka pembinaan potensi SAR. dilaksanakan dengan hasil yang cukup memuaskan, antara lain Boeing 727-
PANAM tahun 1974 di Bali dan operasi pesawat Twinotter di Sulawesi yang
dikenal dengan operasi Tinombala.
Lahirnya organisasi SAR di Indonesia yang saat ini bernama BASARNAS Secara perlahan Pusarnas terus berkembang dibawah pimpinan (alm) Marsma S.
diawali dengan adanya penyebutan "Black Area" bagi suatu negara yang tidak Dono Indarto. Dalam rangka pengembangan ini pada tahun 1975 Pusarnas resmi
memiliki organisasi SAR. menjadi anggota NASAR (National Association of SAR) yang bermarkas di
Amerika, sehingga Pusarnas secara resmi telah terlibat dalam kegiatan SAR Presiden melalui Sekretariat Negara (Setneg).
secara internasional. Tahun berikutnya Pusarnas turut serta dalam kelompok Struktur Organisasi BASARNAS (LPNK)
kerja yang melakukan penelitian tentang penggunaan satelit untuk kepentingan
kemanusiaan (Working Group On Satelitte Aided SAR) dari International
TUGAS & FUNGSI FKSD
Aeronautical Federation.
Bersamaan dengan pengembangan Pusarnas tersebut, dirintis kerjasama dengan
negara-negara tetangga yaitu Singapura, Malaysia, dan Australia. FKSD mempunyai tugas mendata, membina, mengkoordinir dan mengerahkan
Untuk lebih mengefektifkan kegiatan SAR, maka pada tahun 1978 Menteri potensi SAR di daerah sesuai kejadian yang terjadi di dalam wilayahnya. Untuk
Perhubungan selaku kuasa Ketua Basari mengeluarkan Keputusan Nomor melaksanakan tugas tersebut, FKSD mengemban fungsi :
5/K.104/Pb-78 tentang penunjukkan Kepala Pusarnas sebagai Ketua Basari pada
kegiatan operasi SAR di lapangan. Sedangkan untuk penanganan SAR di daerah
1. Penyusunan rencana dan program pembinaan.
dikeluarkan Instruksi Menteri Perhubungan IM 4/KP/Phb-78 untuk membentuk
2. Pelaksanaan koordinasi pembinaan.
Satuan Tugas SAR di KKR (Kantor Koordinasi Rescue).
3. Pemasyarakatan SAR.
Untuk efisiensi pelaksanaan tugas SAR di Indonesia, pada tahun 1979 melalui
4. Penyiapan unsur SAR.
Keputusan Presiden Nomor 47 tahun 1979, Pusarnas yang semula berada
5. Koordinator Tim Rescue.
dibawah Basari, dimasukkan kedalam struktur organisasi Departemen
Perhubungan dan namanya diubah menjadi Badan SAR Nasional (BASARNAS).
Dengan diubahnya Pusarnas menjadi Basarnas, Kepala Pusarnas yang semula
esselon II menjadi Kepala Basarnas esselon I. Demikian juga struktur
organisasinya disempurnakan dan Kabasarnas membawahi 3 pejabat esselon II.
Dalam perkembangannya keluar Keputusan Menteri Perhubungan Nomor 80
tahun 1998 tentang Organisasi Tata Kerja Basarnas, yang salah satu isinya
mengenai pejabat esselon II di Basarnas, yaitu :
1. Sekretaris Badan;
2. Kepala Pusat Bina Operasi;
3. Kepala Pusat Bina Potensi;
Adanya organisasi SAR akan memberikan rasa aman dalam penerbangan dan
pelayaran. Sejalan dengan perkembangan moda transportasi serta kemajuan
IPTEK di bidang transportasi, maka mobilitas manusia dan barang dari suatu
tempat ke tempat lain dalam lingkup nasional maupun internasional mempunyai
resiko yang tinggi terhadap kemungkinan terjadinya kecelakaan yang menimpa
pengguna jasa transportasi darat, laut dan udara. Penerbangan dan pelayaran
internasional yang melintasi wilayah Indonesia membutuhkan jaminan
tersedianya penyelenggaraan SAR apabila mengalami musibah di wilayah
Indonesia. Tanpa adanya hal itu maka Indonesia akan dikategorikan sebagai
"black area" untuk penerbangan dan pelayaran. Status "black area" dapat
berpengaruh negatif dalam hubungan ekonomi dan politik Indonesia secara
internasional. Terkait dengan maslah tersebut, Badan SAR Nasional sebagai
instansi resmi pemerintah yang bertanggungjawab di bidang SAR ikut
mempunyai andil yang besar dalam menjaga citra Indonesia sebagai daerah yang
aman untuk penerbangan dan pelayaran. Dengan citra yang baik tersebut
diharapkan arus transportasi akan dapat bejalan dengan lancar dan pada
gilirannya akan meningkatkan perekonomian nasional Indonesia.
Dengan meningkatnya tuntutan masyarakat mengenai pelayanan jasa SAR dan
adanya perubahan situasi dan kondisi Indonesia serta untuk terus mengikuti
perkembangan IPTEK, maka organisasi SAR di Indonesia terus mengalami
penyesuaian dari waktu ke waktu. Organisasi SAR di Indonesia saat ini diatur
dengan Peraturan Menteri Perhubungan No. KM 43 Tahun 2005 tentang
Organisasi dan Tata Kerja Departemen Perhubungan dan Keputusan Menteri
Perhubungan No. KM 79 Tahun 2002 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kantor
SAR. Dalam rangka terus meningkatkan pelayanan SAR kepada masyarakat,
maka pemerintah telah menetapkan Peraturan Pemerintah No. 36 Tahun 2006
tentang Pencarian dan Pertolongan yang mengatur bahwa Pelaksanaan SAR
(yang meliputi usaha dan kegiatan mencari, menolong, dan menyelamatkan jiwa
manusia yang hilang atau menghadapi bahaya dalam musibah pelayaran,
dan/atau penerbangan, atau bencana atau musibah lainnya) dikoordinasikan oleh
Basarnas yang berada dibawah dan bertanggungjawab langsung kepada Presiden.
Menindak lanjuti Peraturan Pemerintah tsb, Basarnas saat ini sedang berusaha
mengembangkan organisasinya sebagai Lembaga Pemerintah Non Departemen
sebagai upaya menyelenggarakan pelaksanaan SAR yang efektif, efisien, cepat,
handal, dan aman.
Berdasarkan kajian dan analisa kelembagaan, sesuai dengan perkembangan dan
tuntutan tugas yang lebih besar, pada Tahun 2007 dilakukan perubahan
Kelembagaan dan Organisasi BASARNAS menjadi Lembaga Pemerintah Non
Departemen (LPND), yang diatur secara resmi dengan Peraturan Presiden
Republik Indonesia Nomor 99 Tahun 2007 tentang Badan SAR Nasional.
Sebagai LPND, BASARNAS berada di bawah dan bertanggung jawab langsung
kepada Presiden.
Pada Perkembangannya, sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 39 tahun
2009, sebutan LPND berubah menjadi Lembaga Pemerintah Non Kementerian
(LPNK), sehingga BASARNAS pun berubah menjadi BASARNAS (LPNK).
Sebagai LPNK, BASARNAS secara bertahap melepaskan diri dari struktur
Kementerian Perhubungan. Namun hingga Tahun 2009, pembinaan administratif
dan teknis pelaporan masih melalui Kementerian Perhubungan. Selanjutnya per
Tahun 2007 BASARNAS (LPNK) akan langsung bertanggung jawab ke