Anda di halaman 1dari 4

Nama : Kharisma Aprilita

R.
NIM : 051011106
Kelas :D
Kelompok :2

1. Pengertian warga negara menurut UUD 1945


Dalam UUD 1945 : Pasal 26 Ayat (1) yang menjadi warga negara adalah
orang-orang bangsa Indonesia asli dan orang-orang bangsa lain yang disahkan
dengan Undang-Undang sebagai warga Negara. Pada ayat (2), syarat-syarat
mengenai kewarganegaraan ditetapkan dengan undang-undang.
Pasal ini dengan tegas menyatakan bahwa yang menjadi warga Negara
adalah orang-orang bangsa Indonesia asli dan orang-orang bangsa lain yang
bertempat tinggal di Indonesia, mengakui Indonesia sebagai tanah airnya,
bersikap setia kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan disahkan oleh
undang-undang sebagai warga Negara.
2. Hak dan kewajiban warga Negara Indonesia menurut UUD 1945
Dalam UUD 1945 : Pasal 27 Ayat (1) Segala warga Negara bersamaan
dengan kedudukannya di dalam hukum dan pemerintahan wajib menjunjung
hukum dan pemerintahan itu dengan tidak ada kecualinya. Pada Ayat (2), Tiap-
tiap warga negara berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi
kemanusiaan.
Pasal ini memancarkan asas keadilan social dan kerakyatan. Berbagai
peraturan perundang-undangan yang mengatur hal ini—seperti yang terdapat
dalam Undang-Undang Agraria, Perkoperasian, Penanaman Modal, Sistem
Pendidikan Nasional, Tenaga Kerja, Usaha Perasuransian, Jaminan Sosial Tenaga
Kerja, Perbankan, dan sebagainya—bertujuan menciptakan lapangan kerja agar
warga Negara memperoleh penghidupan yang layak
Dalam UUD 1945 : Pasal 30 Ayat (1) Hak dan kewajiban warga Negara untuk
ikut serta dalam pembelaan Negara dan ayat (2) menyatakan pengaturan lebih
lanjut dengan undang-undang.
Pasal ini menyatakan hak dan kewajiban setiap warga Negara untuk ikut
serta dalam usaha pembelaan Negara dan ayat (2) menyatakan bahwa
pengaturannya lebih lanjut dilakukan dengan undang-undang nomor 20 Tahun
1982
3. UU negara yang terkait dengan kewarganegaraan yang telah diterbitkan di
Indonesia
• Undang-undang No. 3 Tahun 1946
Menurut UU ini, yang dimaksud dengan penduduk Negara adalah mereka
yang bertempat tinggal di Tanah Air selama satu tahun berturut-turut.
Sedangkan yang dimaksud dengan Warga Negara adalah mereka yang
memenuhi syarat sebagai berikut :
a. Penduduk asli dalam wilayah RI, termasuk anak-anak dari penduduk
asli tersebut
b. Istri seorang warganegara Indonesia
c. Keturunan dari seorang warganegara yang menikah dengan
warganegara asing
d. Anak-anak yang lahir dalam daerah RI yang oleh orangtuanya tidak
diakui dengan cara yang sah
e. Anak-anak yang lahir dalam daerah Indonesia dan tidak diketahui
siapa orangtuanya
f. Anak-anak yang lahir dalam waktu 300 hari setelah ayahnya yang
mempunyai kewarganegaraan Indonesia meninggal
g. Orang yang bukan penduduk asli yang paling akhir telah bertempat
tinggal di Indonesia selama 5 tahun berturut-turut, dan telah berumur
21 tahun atau telah menikah. Dalam hal ini apabila yang bersangkutan
berkeberatan untuk menjadi warganegara Indonesia, ia boleh menolak
dengan keterangan bahwa ia adalah warganegara dari Negara lain.
h. Masuk menjadi warganegara Indonesia dengan jalan pewarganegaraan
(naturalisasi)

UU ini mengalami dua kali perubahan yaitu dengan UU No. 6 Tahun 1947
dan UU No. 8 Tahun 1947.

• Undang-undang No. 62 Tahun 1958


Menurut UU ini yang dimaksud sebagai warga Negara Indonesia adalah :
a. Mereka yang telah menjadi warga Negara berdasarkan
UU/Peraturan/Perjanjian yang terlebih dahulu dan ditetapkan berlaku
surut
b. Mereka yang memenuhi persyaratan-persyaratan tertentu yang
ditetapkan dalam UU ini

Apa yang dimaksud dengan berlaku surut? Artinya, setiap orang yang
sudah menjadi warga Negara Indonesia menurut UU.
Tentang syarat-syarat tertentu yang diperlukan, telah ditentukan dalam
UU 62 Tahun 1958

• Undang-undang Kewarganegaraan pada Masa Orde Baru


Untuk memecahkan masalah bipartride orang-orang Cina telah ditempuh
perundingan dan perjanjian Soenaryo — Choun En Lai yang selanjutnya
melahirkan UU No. 2 tahun 1958. UU ini menjadi tidak berlaku dengan
diberlakukannya UU No. 4 Tahun 1969. Dalam pasal 2, 3, dan 4 UU ini
dengan tegas dan jelas dinyatakan bahwa “bagi mereka yang menurut
perjanjian dwi-kewarganegaraan telah menjadi warganegara Indonesia,
tetap menjadi warganegara Indonesia, demikian pula dengan anak-
anaknya yang telah dewasa, yang selanjutnya mereka lainnya harus
tunduk kepada ketentuan-ketentuan yang terkandung dalam UU No. 62
Tahun 1958”.
UU No. 62 Tahun 1958 tetap masih dapat diberlakukan hingga sekarang
sebagai undang-undang kewarganegaraan, tapi memang ada yang perlu
dilakukan perubahan karena di dalam undang-undang itu ada ketentuan
yang sudah tidak sesuai lagi, seperti ketentuan tentang kehilangan
kewarganegaraan. Beberapa peraturan perundang-undangan yang
muncul pada masa Orde Baru, seperti UU No. 4 Tahun 1969, UU No. 3
Tahun 1976, dan PP no. 13 tahun 1976, merupakan upaya
penyempurnaan ketentuan tersebut.

4. Karakteristik warganegara yang demokrat


Rasa hormat dan tanggung jawab. Warganegara harus memiliki rasa
hormat terutama terhadap pluralitas masyarakat Indonesia. Warganegara juga
turut bertanggungjawab menjaga keteraturan Negara yang berdiri di atas
pluralitas.
Bersikap kritis. Warganegara demokrat selalu bersikap kritis, baik terhadap
kenyataan empiris (realitas sosial, budaya, dan politik) maupun terhadap
kenyataan supra-empiris (agama, mitologi, kepercayaan).
Membuka diskusi dan dialog. Artinya, ada kemampuan untuk mendengar
dan sekaligus membuka negosiasi yang memungkinkan adanya kompromi.
Dengan diskusi, pandangan-pandangan yang terasa asing dan cara pandang
baru, akan memperkaya pemikiran sendiri.
Bersikap terbuka. Merupakan rasa hormat terhadap kebebasan sesama
manusia, termasuk tenggang rasa pada hal-hal yang tidak biasa, baru dan asing.
Sikap terbuka yang didasarkan atas kesadaran akan pluralisme dan
keterbatasan diri akan melahirkan kemampuan untuk menahan diri, tidak
secepatnya menjatuhkan pilihan dan penilaian.
Rasional. Warganegara demokrat mempunyai kemampuan untuk
mengambil keputusan secara bebas. Masalah-masalah politik khususnya
perubahan politik yang demokratis dan tanpa kekerasan hanya bias diselesaikan
dengan keputusan-keputusan rasional.
Adil. Bagi warganegara yang demokrat, tidak ada tujuan baik yang
diwujudkan dengan cara-cara yang tidak adil. Penggunaan cara-cara yang tidak
adil adalah bentuk pelanggaran hak asasi dari orang yang diperlakukan tidak
adil.
Jujur. Sikap adil akan melahirkan kejujuran dan tanggung jawab. Karena
warganegara yang baik selalu mengedepankan akal sehat dan mampu
meyakinkan orang lain, bukannya mengakali.

5. Kecakapan warga negara yang harus dikuasai di alam demokrasi


• Kecakapan Intelektual
Kemampuan warganegara untuk memikirkan politik secara kritis, yaitu
memahami isu itu berikut sejarahnya, kaitannya dengan masa kini, serta
merangkainya dengan piranti-piranti intelektual untuk membuat berbagai
pertimbangan yang akan bermanfaat dalam menangani isu tersebut, akan
membutuhkan kecakapan intelektual yang menjadi dasar bagi
warganegara yang bertanggungjawab dan terdidik.
• Kecakapan partisipatoris
Untuk dapat berpartisipasi dengan efektif dan bertanggungjawab, warga
Negara perlu kecakapan partisipatoris. Dalam konteks pendidikan politik,
kecakapan partisipatoris mencakup tiga kecakapan berikut :
a. Keahlian berinteraksi (interacting)
merupakan kemampuan yang diperlukan oleh warganegara untuk
berkomunikasi dan bekerjasama dengan warganegara lain. Keahlian ini
meliputi keahlian mendengarkan dengan penuh perhatian, bertanya
dengan efektif, mengutarakan pikiran dan perasaan, mengelola konflik
melalui mediasi, kompromi, dan kesepakatan.
b. Keahlian memantau (monitoring) isu publik
merupakan keahlian untuk mengamati dan memahami penanganan
persoalan yang terkait dengan proses politik dan pemerintahan.
Keahlian ini meliputi kemampuan untuk meriset isu publik melalui
studi pustaka hingga studi lapangan, menghadiri pertemuan-
pertemuan publik, dan mengamati proses pengadilan dan mekanisme
kerja sistem hukum

c. Keahlian mempengaruhi (influencing) kebijakan publik


merupakan keahlian untuk mempengaruhi yang mengacu kepada
kemampuan warganegara untuk mempengaruhi proses politik dan
pemerintahan. Keahlian ini meliputi kemampuan untuk membuat
petisi, berbicara di depan umum, bersaksi di depan badan-badan
publik, terlibat dalam kelompok advokasi ad-hoc, dan membangun
aliansi.