Anda di halaman 1dari 24

4.

Reformasi Perpajakan
Menurut Gunadi, “pajak ini mengikuti fenomena kehidupan sosial ekonomi
masyarakat. Di setiap perubahan kehidupan sosial perekonomian masyarakat maka sudah
sepantasnyalah bahwa pajak harus mengadakan reformasi.”6 Reformasi perpajakan
adalah perubahan yang mendasar di segala aspek perpajakan. Hal tersebut seperti yang
dikemukakan Guillermo Perry dan John Whalley bahwa ”the word reform conveys major
change.” Berdasarkan pengalaman yang terjadi di negara maju maupun negara
berkembang, terdapat begitu banyak pengertiaan mengenai reformasi perpajakan,
dikarenakan terdapat perbedaan pengertian dan pola reformasi perpajakan yang dianut
oleh negara berkembang dan yang dianut oleh negara maju. Hal ini dikarenakan terdapat
perbedaan struktur pajak yang umumnya seragam di negara maju tetapi ada bermacammacam
struktur pajak di negara berkembang. 7
Malcolm Gillis menggunakan taksonomi untuk mengklasifikasikan reformasi
perpajakan berdasarkan program-program reformasi perpajakan dengan 6 (enam) atribut
yang menjadi ciri-ciri dasarnya sehingga dapat diperoleh ratusan konfigurasi yang
berbeda dari reformasi perpajakan. Keenam atribut tersebut yakni:
1) Breadth of reform; reformasi perpajakan dapat berfokus pada reform of tax
structure, atau berfokus pada tax administration, atau reform of tax systems
(berfokus pada structural dan administrative reform).
2) Scope of reform; reformasi perpajakan dapat dilakukan secara comprehensive jika
meliputi hampir semua sumber penerimaan yang penting, atau dilakukan secara
partial jika hanya meliputi satu atau dua komponen penting dari sistem perpajakan.
3) Revenue goals; reformasi perpajakan dilakukan untuk meningkatkan penerimaan
dalam prosentase terhadap PDB (rasio pajak) yang disebut revenue enhancing,
untuk mengganti penerimaan dengan revenue neutral reform, atau bahkan untuk
mengurangi penerimaan (revenue-decreasing reform).
4) Equity goals; reformasi perpajakan untuk menegakkan keadilan disebut
redistributive jika menegakkan keadilan secara vertikal, yaitu orang berpenghasilan
tidak sama, pajaknya diperlakukan tidak sama juga, namun jika reformasi
perpajakan tidak dimaksudjkan untuk merubah distribusi pendapatan yang sudah
ada maka disebut distributionally neutral reform.
5) Resource allocations goals; reformasi perpajakan yang berusaha mengurangi
pengenaan pajak pada sumber daya agar dapat dialokasikan lebih efisien disebut
euconomically neutral, jika sistem perpajakan untuk mempengaruhi aliran sumber
daya sektor ekonomi atau aktivitas tertentu maka disebut interventionist reforms.
6) Timing of reform; dilakukan dengan mengubah seluruh kebijakan perpajakan secara
bersamaan disebut contemporaneous reforms, dengan implementasi bertahap
disebut phased reforms, atau perubahan kebijakan perpajakan yang tidak berkaitan
dilakukan dalam beberapa tahun lebih disebut successive reforms. 8
Menurut Summer, Linn dan Archarya, alasan dilakukannya reformasi perpajakan
adalah: pertama, sebagai bagian penyesuaian struktur, reformasi perpajakan digunakan
untuk mengurangi distorsi dari rangsangan ekonomi dan terjadinya ketidakefisienan dan
ketidakadilan dalam alokasi sumber daya; kedua, sebagai bagian dari usaha menstabilkan
ekonomi, reformasi perpajakan, bersamaan pemotongan belanja negara, untuk
menghasilkan pendapatan secara rasional tanpa distorsi, adil, dan berkelanjutan.9
Menurut Chaizi Nasucha, reformasi perpajakan merupakan resep untuk penyehatan
ekonomi melalui pendekatan fiskal. Mengutip Williamson dalam Mas’oed (1994),
reformasi perpajakan meliputi perluasan basis perpajakan, perbaikan administrasi
perpajakan, mengurangi terjadinya penghindaran dan manipulasi pajak, serta mengatur
pengenaan aset yang berada di luar negeri. Perubahan struktur pajak (tax base dan tax
rate) terkait dengan perubahan dalam administrasi perpajakannya.10
Malcolm Gillis juga berpesan bahwa reformasi perpajakan di negara berkembang
dapat berhasil apabila program reformasi menghasilkan perubahan yang mendasar dalam
sistem perpajakan yang memiliki dua elemen dasar yang saling mempengaruhi, yang
pertama yaitu struktur pajak, yang kedua yaitu mekanisme dan institusi yang mengatur
administrasi perpajakan dan kepatuhan perpajakan. Struktur pajak terdiri dari konfigurasi
dari dasar pajak dan tarif pajak. Administrasi dan kepatuhan perpajakan terdiri dari
prosedur, peraturan yang mengatur penghitungan pajak, pemungutan, pemeriksaan,
sanksi, banding, dan data termasuk teknologi informasi, struktur penghargaan pelayanan
masyarakat, pengungkapan yang diperlukan dan prinsip akuntansi perusahaan. 11
Menurut Liberty Pandiangan, reformasi perpajakan, yang meliputi: (1) formulasi
kebijakan dalam bentuk peraturan, dan (2) pelaksanaan dari peraturan, umumnya
diarahkan untuk dapat mencapai beberapa sasaran. Pertama, menghasilkan penerimaan
dalam jumlah yang cukup, stabil, fleksibel dan berkelanjutan. Kedua, mengurangi beban
inefisiensi dan excess burden. Ketiga, memperingan beban kelompok kurang mampu
dengan mendesain struktur pajak yang lebih adil. Dan keempat, memperkuat administrasi
perpajakan dan meminimalisasi biaya administrasi dan kepatuhan.
Bird dan Jantscher (1991) seperti dikutip Chaizi Nasucha, mengemukakan bahwa
perubahan kebijakan perpajakan tanpa didukung perubahan administrasi perpajakan
menjadi tak berarti. Perubahan di bidang perpajakan harus sejalan dengan kapasitas
administrasinya, karena administrasi perpajakan merupakan kebijakan di bidang
perpajakan yang mempunyai hubungan tak terpisahkan.
Pada tahun 1983 dunia perpajakan di Indonesia mengalami proses reformasi perpajakan, proses ini ditandai
dengan diundang-undangkannya tiga jenis undang-undang perpajakan yaitu :

1. Undang-undang Pajak Penghasilan (PPh)

melalui Undang-undang Nomor 7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan, dan telah beberapa kali mengalami
perubahan terakhir dengan Undang-undang Nomor 36 Tahun 2008 tentang Perubahan Keempat atas Undang-
undang Nomor 7 Tahun 1983 Tentang Pajak Penghasilan.

2. Undang-undang Pajak Pertambahan Nilai Barang dan Jasa dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPN dan
PPn BM)

melalui Undang-undang Nomor 8 Tahun 1983 tentang Pajak Pertambahan Nilai Barang dan Jasa dan Pajak
Penjualan Atas Barang Mewah, dan telah beberapa kali mengalami perubahan terakhir dengan Undang-undang
Nomor 18 Tahun 2000 tentang Perubahan Kedua atas Undang-undang  Nomor 8 Tahun 1983 tentang Pajak
Pertambahan Nilai Barang dan Jasa dan Pajak Penjualan Atas Barang Mewah.

3. Ketentuan umum dan tata cara perpajakan kedua jenis pajak tersebut di atas diatur dalam Undang-undang
Nomor 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan (KUP). Undang-undang ini telah
mengalami beberapa kali perubahan terakhir dengan Undang-undang Nomor 28 Tahun 2007 tentang Perubahan
Ketiga Atas Undang-undang Nomor 6 Tahun 1983 Tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan.

Selanjutnya pada tahun 1985 diundangkan Undang-undang Nomor 12 Tahun 1985 tentang Pajak Bumi dan
Bangunan (PBB).

Bila kita mempelajari undang-undang lainnya seperti Undang-undang Pemilu, Undang-undang Tenaga Kerja,
Undang-undang Pornografi dan sebagainya pasti akan dijelaskan pengertian-pengertian dari kata atau kalimat yang
ada dalam undang-undang tersebut termasuk kata utama yang menjadi judul undang-undang, semisal apa yang
dimaksud dengan Pemilu, apa itu Tenaga Kerja, apa definisi Pornografi dan seterusnya. Namun tidak demikian
dengan undang-undang yang mengatur tentang pajak negara. Dari keempat undang-undang pajak tersebut di atas
tidak satupun yang memuat pengertian tentang Pajak (sampai dengan akhir tahun 2007), …..??? aneh bukan.

Justru pada undang-undang pajak daerah melalui Undang-undang Nomor 18 Tahun 1997 (14 tahun kemudian)
sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang Nomor 34 Tahun 2000 tentang Perubahan atas Undang-undang
Republik Indonesia Nomor 18 Tahun 1997 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah pengertian tentang pajak
baru dijelaskan.

Finally setelah 24 tahun sejak 1983, melalui Undang-undang Nomor 28 Tahun 2007 tentang Perubahan Ketiga Atas
Undang-undang Nomor 6 Tahun 1983 Tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan (dalam Bab I Pasal 1
butir ke 1) disebutkan pengertian tentang pajak.

Terdapat banyak definisi pajak menurut beberapa pakar, namun dalam tulisan ini saya sarikan empat pengertian.
Ok langsung aja kita meluncur ke TKP, “makanan” apa pajak itu :

a. Menurut Prof. Dr. PJA. Adriani (Guru Besar Universitas Amsterdam)

“Pajak adalah iuran kepada negara (yang dapat dipaksakan yang terutang oleh yang wajib membayarnya menurut
peraturan) dengan tidak mendapat prestasi secara langsung dan gunanya adalah untuk membiayai pengeluaran-
pengeluaran umum yang berhubungan dengan tugas Pemerintah.”

sumber: http://saptohermawan.staff.hukum.uns.ac.id/files/2008/09/definisi-pajak.ppt
b. Menurut Prof. Dr. Rahmat Soemitro

“Pajak adalah iuran rakyat kepada kas negara berdasarkan undang-undang (yang dapat dipaksakan) dengan tidak
mendapat jasa-timbal (kontraprestasi), yang langsung dapat ditunjukkan dan yang digunakan untuk membayar
pengeluaran umum.”

sumber: http://saptohermawan.staff.hukum.uns.ac.id/files/2008/09/definisi-pajak.ppt

c.  Menurut Undang-undang Nomor 34 Tahun 2000

“Pajak Daerah, yang selanjutnya disebut pajak, adalah iuran wajib yang dilakukan oleh orang pribadi atau badan
kepada Daerah tanpa imbalan langsung yang seimbang, yang dapat dipaksakan berdasarkan peraturan perundang-
undangan yang berlaku, yang digunakan untuk membiayai penyelenggaraan pemerintahan Daerah dan
pembangunan Daerah.”

d. Menurut Undang-undang Nomor 28 Tahun 2007

“Pajak adalah kontribusi wajib kepada negara yang terutang oleh orang pribadi atau badan yang bersifat memaksa
berdasarkan Undang-Undang, dengan tidak mendapatkan imbalan secara langsung dan digunakan untuk keperluan
negara bagi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.”

Dari pengertian-pengertian tersebut maka unsur-unsur dari definisi pajak adalah :

1. Penyerahan iuran/pembayaran

2. Kepada Negara/Daerah

3. Bersifat Wajib

4. Sesuai dengan Undang-undang/Peraturan

5. Tidak mendapat imbalan secara langsung

6. Untuk kemakmuran rakyat.


Apa sih sasaran reformasi perpajakan?
 

Pemerintah telah empat kali melakukan reformasi perpajakan, tahun 1983, 1994 dan 1997.
Tahun ini untuk keempat kalinya pemerintah mengajukan RUU ke DPR dalam rangka
reformasi perpajakan. Sasaran apa yang hendak dicapai pemerintah dengan reformasi yang
keempat ini dan menurut pendapat Bapak apakah sasaran itu dapat tercapai?

Pertama-tama istilah "reformasi perpajakan" harus diluruskan. Barangkali istilah itu


digunakan karena terpengaruh dengan trend reformasi dibidang lainnya. Reformasi berarti
berubahan yang mendasar. Menurut John G. Head dalam buku TAX CONVERSATIONS: A
Guide to Key Issues in the Tax Reform Debate, suatu sistim perpajakan hendaknya memiliki
sifat "quasi constitutional". Artinya sistim tersebut berlaku dalam jangka panjang dan tidak
dapat sebentar-sebentar dilakukan reformasi.

Sebenarnya yang dilakukan pemerintah sekarang ini juga bukan reformasi perpajakan.
Hanya sekedar mengubah beberapa pasal Undang-undang untuk menyesuaikan dengan
perkembangan dunia usaha dan kebijaksanaan pemerintah. Yang dapat dikategorikan
sebagai reformasi perpajakan adalah reformasi tahun 1983, dimana terjadi perubahan
sistim yang mendasar dari "Official Assessment" ke "Self Assessment".

Dirjen Pajak menyatakan ada dua hal penting yang harus dilaksanakan pemerintah dalam reformasi perpajakan.
Pertama, pembenahan administrasi dan kebijakan di bidang perpajakan. Kedua, menumbuhkan kepatuhan wajib
pajak dengan mengubah persepsi masyarakat terhadap pajak.

Menurut kami tujuan pemerintah untuk melaksanakan reformasi perpajakan sebenarnya


adalah untuk meningkatkan tax ratio dari 11% ke 16%. Namun tujuan itu tidak akan
tercapai hanya dengan perubahaan undang-undang saja. Harus disertai pembenahan
administrasi dan menumbuhkan kepatuhan wajib pajak dengan mengubah persepsi
masyarakat terhadap pajak seperti yang dikatakan oleh Dirjen Pajak.

Dalam rangka pembenahan administrasi, pemerintah dapat mencontoh pemerintah negara


lainnya, misalnya Philipina di tahun 1994 menggunakan konsultan untuk mengubah
administrasinya dari sistim manual ke sistim komputer. Hal ini telah menghasilkan
peningkatan penerimaan sebesar 30% tanpa meningkatkan tarif pajak.

Dalam rangka menumbuhkan kepatuhan wajib pajak dengan mengubah persepsi


masyarakat terhadap pajak, perlu diusahakan perubahan perilaku petugas yang dinilai oleh
masyarakat kurang simpatik. Misalnya praktek penerapan SKP yang asal-asalan dan
interpretasi dari UU Pajak dengan cara tidak tepat .
Membedah Reformasi Pajak Perlu peningkatan Mutu Dan
Militansi Pegawai
Beberapa pekan terakhir ini ada dua peristiwa penting dalam dunia perpajakan Indonesia. Yang
pertama adalah terpilihnya Direktur Jenderal Pajak, Darmin Nasuiton, sebagai Deputi Senior
Gubernur Bank Indonesia. Peristiwa yang kedua-yang erat kaitannya berita pertama-adalah
kelanjutan program reformasi perpajakan yang disebut reformasi perpajakan jilid dua. Menteri
Keuangan telah menegaskan bahwa siapapun Dirjen Pajaknya, reformasi pajak akan tetap jalan.
Tulisan ini akan mencoba menguraikan lebih dalam mengenai program reformasi perpajakan di
Ditjen Pajak.

Reformasi perpajakan jilid pertama dimulai dengan dibentuknya Kantor Pelayanan Pajak Wajib
Pajak Besar pada 2002. Pembentukan kantor ini merupakan bagian tidak terpisahkan dari tiga
pilar reformasi perpajakan, yaitu reformasi bidang administrasi perpajakan, reformasi bidang
peraturan perpajakan dan reformasi pengawasan perpajakan.

Sebagai pilot project, maka keberhasilan pembentukan Kantor Pajak Wajib Pajak Besar ini akan
sangat memengaruhi kelanjutan program reformasi perpajakan secara keseluruhan.

Data empiris, yang diambil dari survey AC Nielsen (2004), menunjukkan bahwa pelayanan pajak
di kantor ini memberikan tingkat kepuasan yang sangat tinggi, yaitu sebesar 81, lebih besar dari
rata rata tingkat kepuasan nasional sebesar 75.

Lebih lanjut Survey AC Nielsen Tahun 2004 menyebutkan bahwa kepribadian pegawai pajak,
kemudahan dan efisiensi dalam pelayanan, jumlah pelayanan yang disediakan dan keterse-dian
informasi di Kantor Pajak Wajib Pajak Besar-memiliki nilai sangat baik (LTRO Annual Report,
2004).

Sejak digulirkan pada 2002. reformasi perpajakan setidaknya telah berhasil mengubah institusi
Direktorat Jenderal Pajak menjadi lebih baik. Indikator keberhasilan reformasi perpajakan dapat
dilihat setidaknya dari dua hal mendasar perubahan persepsi (image) masyarakat terhadap
institusi Ditjen Pajak dan keberhasilan pencapaian target penerimaan pajak.

Mari kila lihat data yang dikeluarkan oleh Transparency International. Pada 2002 Indeks
Persepsi Korupsi di Indonesia mencapai 1,9 di mana ini berarti termasuk dalam kategori sangat
korup.

Pada 2006, Indeks Persepsi Korupsi di Indonesia makin membaik yaitu mencapai 2,4. Terakhir
pada 2008 Indeks Persepsi Korupsi di Indonesia meningkat menjadi 2,6.

Apakah peningkatan indeks ini ada hubungannya dengan reformasi pajak? Data berikut akan
menjelaskan bahwa reformasi pajak (sebagai bagian dari reformasi birokrasi) telah berhasil
mengubah persepsi masyarakat terhadap Ditjen Pajak menjadi lebih baik.

Menurut hasil survei Transparency International Indonesia mengenai Indeks Persepsi Ko-rupsi
Indonesia, maka pada 2006 Ditjen Pajak masuk dalam kategori sebagai intitusi yang dinilai
paling korup dengan tingkat inisiatif meminta suap mencapai 76%.

Tahun 2008, Ditjen Pajak tidak masuk lagi dalam daftar institusi yang dinilai paling komp di
Indonesia.

Selanjutnya, perubahan persepsi masyarakat kearah yang baik tentang pajak akan berkorelasi
positif pada tingkat kepatuhan membayar pajak. Wahasil, indikator kedua mengenai keberhasilan
dalam mencapai target penerimaan pajak dengan sendirinya terpenuhi.

Sebagai gambaran, pada 2004, ketika program reformasi pajak mulai dijalankan, Ditjen Pajak
berhasilmengumpulkan penerimaan pajak sebesar Rp238,98 triliun dan pada 2008 realisasi
penerimaan pajak melonjak lebih dua kali lipatnya, yaitu sebesar Rp566,2 triliun.

Realisasi penerimaan pajak yang naik secara eksponensial dalam kurun waktu 4 tahun ini
merupakan akumulasi beberapa faktor, termasuk di dalamnya adalah keberhasilan reformasi
perpajakan.

Pekerjaan rumah

Dirjen Pajak Darmin Nasution menyatakan bahwa 2009 ini adalah tahun dicanangkannya
reformasi perpajakan jilid dua, yaitu dimulai dengan reformasi bidang Sumber Daya Manusia
(SDM) (19/3/2009).

Reformasi bidang SDM ini meliputi pembenahan mutu, integritas serta militansi SDM
perpajakan melalui peningkatan pelatihan baik di dalam maupun di luar negeri.

Menurut saya, pada 2009 ini, selain reformasi bidang SDM perpajakan, maka Ditjen Pajak masih
me miliki pekerjaan rumah (PR) yang belum selesai dalam program reformasi perpajakan jilid
satu, yaitu menuntaskan reformasi beberapa peraturan perpajakan.

Reformasi itu berupa percepatan proses amendemen terhadap UU Pajak Pertambahan Nilai
(PPN) dan Pajak Penjualan Barang Mewah (PPnBM) dan menuntaskan reformasi bidang
pengawasan dengan membentuk Komite Pengawas Perpajakan sesuai dengan amanat Pasal 36C
UU

No.36 Tahun 2007 tentan Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan (KUP).

Amendemen UU PPN dan PPnBM saat initelah masuk dalam proses pembahasan di DPR
(08/05/2009). Dengan waktu yang semakin sempit dan fokus anggota DPR yang terpecah karena
pemilihan umum, maka komitmen penyelesaian RUU ini sebelum penggantian anggota DPR
merupakan tantangan yang cukup berat.

Pembentukan Komite Pengawasan Perpajakan seharusnya dapat terlaksana segera mengingat


aturan tersebut sudah ada payung hukumnya, tinggal mengeluarkan peraturan Menteri Keuangan
saja.

Reformasi bidang SDM sebenarnya juga sudah dimulai melalui Reformasi Etika, Moral,
Integritas pada Tahun 2002. Namun, dalam rangka mewujudkan visi dan misi Ditjen Pajak,
peningkatan mutu dan militansi pegawai mutlak diperlukan.

Dengan begitu, kombinasi dari integritas (moral, etika) yang baik dan kemampuan (mutu dan
militansi) yang cemerlang - merupakan nilai [value] yang harus dimiliki oleh setiap pegawai
Ditjen Pajak.

Memang mewujudkan hal tersebut tidak semudah membalikkan telapak tangan. Salah satu alat
yang dapat digunakan adalah instrumen Individual Key Perfomance Indikator, di mana setiap
individu (pegawai) di Ditjen Pajak dapat diukur kinerjanya dengan menggunakan ukuran atau
standar yang baku (terukur dan jelas).

Instrumen ini akan semakin mudah diimplementasikan karena penyusunan Standard Operating
Procedures (SOP) setiap pekerjaan di Ditjen Pajak telah selesai dilakukan. Dengan
membandingkan hasil kerja pegawai dengan SOP-nya, maka secara sederhana pegawai tersebut
telah dapat dinilai kinerja individunya.

Terlebih dengan alat ini, selain mengurangi bias subjektivitas, tentunya konsep reward and
punishment dengan mudah dilaksanakan.
Dalam berbagai kesempatan, Direktorat Pajak menggelorakan pentingnya kesadaran membayar
pajak bagi seluruh warga masyarakat sebagai bentuk partisipasi aktif dalam pembangunan
nasional. Himbauan tersebut bisa kita temui dalam iklan televisi dan surat kabar hampir setiap
hari. Kita pun jadi terbiasa mendengar slogan ; “Hari gini tak bayar pajak, apa kata dunia?” Iklan
itu seakan menyatakan bahwa membayar pajak sudah hal yang umum dimana saja sehingga
barangsiapa yang tidak menjalankannya tergolong tertinggal dalam peradaban dunia.

Namun persoalan penting dalam hal pembayaran pajak ini adalah, sejauhmana relevansi
kepatuhan warga para wajib pajak ini dengan benefit yamg mereka terima dari Negara dalam
bentuk pelayanan sosial yang menjadi hak mereka? Apakah ada jaminan negara dengan
membayar pajak secara patuh akan memudahkan mereka dalam mendapatkan pelayanan
kesehatan, pendidikan, kebutuhan sandang pangan dan papan yang merupakan kebutuhan primer
manusia yang berperadaban?

Di beberapa Negara maju yang memberlakukan wajib pajak, warga Negara mendapatkan
tunjangan dari Negara, misalnya tunjangan untuk yang pengangguran, tunjangan kesehatan
gratis, pendidikan dasar gratis, transportasi yang nyaman,dll. Keuntungan-keuntungan secara
langsung maupun tidak langsung ini mendorong warga untuk memenuhi kewajibannya untuk
membayar pajak dengan kesadaran penuh bahwa mereka akan mendapatkan imbalannya melalui
fasilitas yang telah dirancang oleh pemerintah. Secara otomatis keinginan untuk mengingkari
kewajiban membayar pajak akan terkikis.

Persoalan besar di Indonesia, selain dari sisi wajib pajak, adalah tidak adanya transparansi
penerimaan pajak oleh instansi terkait. Informasi jumlah penerimaan pajak secara resmi belum
tersedia bagi publik. Demikian juga informasi mengenai jumlah pajak tak tertagih beserta nama
wajib pajak terkait. Ketidakjelasan informasi ini menimbulkan ketidakpercayaan publik terhadap
instansi pajak yang pada gilirannya menurunkan kesadaran mereka untuk membayar pajak.

Sistem pembayaran pajak kita yang bersifat progresif juga menimbulkan peluang permainan
antara petugas pajak dengan wajib pajak untuk mengurangi besarnya pajak yang harus dibayar.
Sistem progresif pada akhirnya akan menimbulkan besaran pajak yang semakin besar sesuai
keuntungan wajib pajak dibanding misalnya dengan menerapkan sistem proporsional 10% dari
pendapatan. Sistem inilah yang mendorong wajib pajak,khususnya perusahaan berupaya
mengurangi data penghasilannya dengan tujuan dapat mengurangi besaran pajak yang harus
dibayar.

Dalam system progresif , besar pajak yang harus dibayar adalah 5% untuk penghasilan kena
pajak (PKP) sampai dengan Rp 50 juta, 15% untuk PKP di atas Rp 50 juta hingga Rp 250 juta,
25 % untuk lapisan PKP 250 juta hingga Rp 500 juta dan 30 % untuk lapisan PKP di atas 500
juta,-. Secara keseluruhan besar pajak yang harus dibayar wajib pajak dengan penghasilan di atas
Rp 500 jt per tahun misalnya akan berkisar 20% dari total penghasilannya. Kondisi ini
mendorong wajib pajak untuk mengurangi data penghasilannya dengan sepengetahuan petugas
pajak namun dengan imbalan sebagian pajak yang harus disetor ke Negara dialihkan ke rekening
pribadi petugas pajak tersebut.
Dengan memahami latar belakang sistem pajak di atas, kita bisa memaklumi bagaimana seorang
petugas pajak memiliki rekening Rp 25 milyar sebagaimana diangkat oleh Kombes Susno Duaji.
Mungkin saja rekening tersebut hanya merupakan transit untuk distribusi kepentingan pihak
yang lebih luas. Dengan demikian, kemungkinan terbongkarnya sindikat pajak ini akan semakin
sulit untuk diurai karena banyaknya pihak berkepentingan yang akan mencoba menutupi kasus
ini.

Untuk mengeliminir kemungkinan bocornya pajak yang menjadi hak pemerintah, maka
diperlukan reformasi sistem pajak di Indonesia. Sistem Progresif pada hakikatnya mencoba
menciptakan subsidi silang antara wajib pajak berpenghasian kecil dan wajib pajak besar.
Namun wajib pajak besar pasti akan mencari jalan untuk mengurangi kewajibannya antara lain
dengan kolusi dengan pihak instansi pajak itu sendiri. Pemerintah sebaiknya merubah system ini
menjadi system pajak bernilai tetap,misalnya 10 % dari penghasilan kena pajak sehingga secara
keseluruhan tidak terlalu memberatkan wajib pajak .

Himbauan pemerintah untuk menciptakan kesadaran membayar pajak patut kita respon dengan
baik. Namun di sisi lain, pemerintah juga perlu menciptakan kondisi yang mendorong lahirnya
kesadaran para wajib pajak tersebut. Pertama ,pemerintah harus bisa memastikan bahwa warga
khususnya wajib pajak akan menikmati hasil pembayaran pajaknya melalui layanan pemerintah
yang semakian mudah dan murah dalam bidang kesehatan,pendidikan dan infrastruktur. Kedua ,
pemerintah harus menciptakan system yang lebih baik untuk mengurangi kemungkinan
penyelewengan pajak melalui sistem yang baru sekaligus menyadarkan wajib pajak besar untuk
membayar pajak tanpa mematikan potensi mereka untuk menginvestasikan dana mereka karena
pajak yang terlalu besar.
REFORMASI PERPAJAKAN DI INDONESIA
Sejarah Perpajakan di Indonesia

Pada masa kerajaan dahulu telah ada pungutan seperti pajak. Namun, pungutan seperti itu
dipersembahkan kepada raja sebagai wujud rasa hormat dan upeti kepada raja, yang disampaikan rakyat
di wilayah kerajaan maupun di wilayah jajahan, figur raja dalam hal ini dapat dipandang sebagi
manifestasi dari kekuasaan tunggal kerajaan (negara).

Pada awal kemerdekaan, dikeluarkan Undang-Undang Darurat Nomor 12 Tahun 1950 yang
menjadi dasar bagi pajak peredaran (barang), yang dalam tahun 1951 diganti dengan pajak
penjualan(PPn) 1951 Pengenaan pajak secara sitematis dan permanen, dimulai dengan pengenaan pajak
terhadap tanah, hal ini telah ada pada zaman kolonial. Pajak ini disebut “Landrent” (sewa tanah) oleh
Gubernur Jenderal Raffles dari Inggris. Pada masa penjajahan Belanda disebut “Landrente”. Peraturan
tentang Landrente dikeluarkan tahun 1907 yang kemudian diubah dan ditambah dengan Ordonansi
Landrente. Pada tahun 1932, dikeluarkan Ordonansi Pajak Kekayaan (PKk) yang beberapa kali diubah
dengan Undang-Undang Nomor 24 Tahun1964.

Pada tahun 1960 dikeluarkan UU Nomor 5 Tahun 1960 yang mengemukakan bahwa hukum atas
tanah berlaku atas semua tanah di Indonesia, ditegaskan lagi dengan Keputusan Presidium Kabinet
Tanggal 10 Februari Tahun 1967 Nomor 87/Kep/U/4/1967 dengan pemberian otonomi dan
desentralisasi kepada pemerintah Daerah, Pajak Hasil Bumi kemudian namanya diubah menjadi IPEDA
(Iuran Pembangunan Daerah) berdasarkan Surat Keputusan Menteri Iuran Negara No.PM.PPU 1-1-3
Tanggal 29 November 1965 yang berlaku mulai 1 November 1965.

Sedangkan untuk pajak penghasilan, dimulai dengan adanya tenement tax (huistaks) pada tahun
1816, sejenis pajak yang dikenakan sebagai sewa terhadap mereka yang menggunakan bumi sebagai
tempat berdirinya rumah atau bangunan. Pada periode sampai dengan tahun 1908 terdapat perbedaan
perlakuan perpajakan antara penduduk pribumi dengan orang Asia dan orang Eropa, dengan kata lain
dapat dikatakan, bahwa terdapat banyak perbedaan dan tidak ada uniformitas dalam perlakuan
perpajakan, tercatat beberapa jenis pajak yang hanya diberlakukan kepada orang Eropa seperti “patent
duty”. Sebaliknya, business tax atau bedrijfsbelasting untuk orang pribumi. Selain itu, sejak tahun 1882
sampai tahun 1916 dikenal adanya Poll Tax yang pengenaannya berdasarkan status pribadi, pemilikan
rumah dan tanah.
Pada tahun 1908 terdapat Ordonansi Pajak Pendapatan yang diperlakukan untuk orang Eropa,
dan badan-badan yang melakukan usaha bisnis tanpa memperhatikan kebangsaan pemegang sahamnya.
Dasar pengenaan pajaknya penghasilan yang berasal dari barang bergerak maupun barang tak gerak,
penghasilan dari usaha, penghasilan pejabat pemerintah, pensiun dan pembayaran berkala. Tarifnya
bersifat proporsional dari 1%, 2% dan 3% atas dasar kriteria tertentu.

Tahun 1920 dianggap sebagai tahun unifikasi, dimana dualistik yang selama ini ada, dihilangkan
dengan diperkenalkannya General Income Tax yaitu Ordonansi Pajak Pendapatan Yang Dibaharui tahun
1920 (Ordonantie op de Herziene Inkomstenbelasting 1920, Staatsblad 1920 1921, No.312) yang berlaku
baik bagi penduduk pribumi, orang Asia maupun orang Eropa. Dalam Ordonansi Pajak Pendapatan ini
telah diterapkan asas-asas pajak penghasilan yaitu asas keadilan domisili dan asas sumber.

Tahun 1925 ditetapkanlah Ordonansi Pajak Perseroan tahun 1925 (Ordonantie op de


Vennootschapbelasting) yaitu pajak yang dikenakan tethadap laba perseroan, yang terkenal dengan
nama PPs (Pajak Perseroan), dengan berlakunya Ordonansi Pajak Perseroan 1925 dan dengan
perkembangan pajak pendapatan di Negeri Belanda, maka timbul kebutuhan untuk merevisi Ordonansi
Pajak Pendapatan 1920, yakni dengan ditetapkannnya Ordonasi Pajak Pendapatan tahun 1932
(Ordonantie op de Incomstenbelasting 1932, Staatsblad 1932, No.111) yang dikenakan kepada orang
pribadi (Personal Income Tax). Asas-asas pajak penghasilan telah diterapkan kepada penduduk Indonesia
dan kepada bukan penduduk Indonesia hanya dikenakan pajak atas penghasilan yang dihasilkannnya di
Indonesia. Ordonansi ini telah mengenal asas domisili dan asas sumber.

Ordonansi ini telah mengalami beberapa kali perubahan dan penyempurnaan antara lain
dengan UU No. 8 tahun 1967 tentang Penisbahan dan Penyempurnaan Tatacara Pcmungutan Pajak
Pendapatan 1944, Pajak Kekayaan 1932 dan Pajak Perseroan tahun 1925 yang dalam prakteknya lebih
dikenal dengan UU MPO dan MPS. Perubahan penting lainnya adalah UU No. 8 tahun 1970 memasukkan
fungsi pajak mengatur/regulerend dalam Ordonansi PPs 1925, khususnya tentang ketentuan “ tax
holiday”. Ordonasi PPs 1925 berlaku sampai dengan tanggal 31 Desember 1983, yaitu pada saat
diadakannya tax reform.

Tahun 1935 ditetapkanlah Ordonansi Pajak Pajak Upah (loonbelasting) yang memberi kewajiban
kepada majikan untuk memotong Pajak Upah/gaji pegawai yang mempunyai tarif progresif dari 0%
sampai dengan 15%. Pada zaman Perang Dunia II diperlakukan Oorlogsbelasting (Pajak Perang)
menggantikan ordonansi yang ada dan pada tahun 1946 diganti dengan nama Overgangsbelasting (Pajak
Peralihan). Dengan UU Nomor 21 tahun 1957 nama Pajak Peralihan diganti dengan nama Pajak
Pendapatan tahun 1944 yang disingkat dengan Ord. PPd. 1944. Pajak Pendapatan sendiri disingkat
dengan PPd. Ord. PPd. 1944 setelah beberapa kali mengalami perubahan terutama dengan perubahan
tahun 1968 yakni dengan adanya UU No. 8 tahun 1968 tentang Perubahan dan Penyempurnaan
Tatacara Pemungutan Pajak Pendapatan 1944, Pajak Kekayaan 1932 dan Pajak Perseroan 1925, yang
lebih terkenal dengan “UU MPO dan MPS”. Perubahan lainnya adalah dengan UU No. 9 tahun 1970 yang
berlaku sampai dengan tanggal 31 Desember 1983, yakni dengan diadakannya tax reform di Indonesia.

Reformasi Perpajakan di Indonesia

Reformasi perpajakan adalah perubahan yang mendasar di segala aspek perpajakan. Reformasi
pajak dilakukan agar sistem perpajakan dapat lebih efektif dan efisien, sejalan dengan perkembangan
globalisasi yang menuntut daya saing tinggi dengan negara lain. Tentu saja dengan memperhatikan
prinsip-prinsip perpajakan yang sehat seperti persamaan (equality), kesederhanaan (simplicity), dan
keadilan (fairness), sehingga tidak hanya berdampak terhadap peningkatan kapasitas fiskal, melainkan
juga terhadap perkembangan kondisi ekonomi makro.

Adapun langkah-langkah reformasi perpajakan tersebut antara lain meliputi :

Langkah-langkah pembaruan kebijakan (tax policy reform); melalui Perubahan UU PPh, Perubahan
UU PPN dan PPnBM, Perubahan UU PBB, Perubahan UU Bea Materai, serta UU Kepabeanan dan
UU cukai. Pada intinya Paket Amandemen Undang-Undang Perpajakan ini lebih dititik-beratkan
pada pemberian rasa keadilan dan kepastian hukum di bidang perpajakan, yang bertujuan untuk
mendorong investasi, serta mengoptimalkan penerimaan perpajakan.

Langkah-langkah pembaruan administrasi perpajakan (tax administrative reform); meliputi :

penyempurnaan peraturan pelaksanaan undang-undang perpajakan;

pembentukan dan perluasan Kantor Pelayanan Pajak (KPP) khusus Wajib Pajak (WP) Besar
(Large Taxpayer Office, LTO), diantaranya meliputi pembentukan organisasi berdasarkan
fungsi, pengembangan sistem administrasi perpajakan yang terintegrasi dengan
pendekatan fungsi, dan implementasi dari prinsip-prinsip Good Corporate Governance;
pembangunan KPP khusus WP menengah, dan KPP khusus WP kecil di Kanwil VI Direktorat
Jenderal Pajak;

pengembangan basis data, pembayaran pajak dan penyampaian SPT secara online;

perbaikan manajemen pemeriksaan pajak; serta

peningkatan efektivitas penerapan kode etik di jajaran Direktorat Jenderal Pajak dan Komisi
Ombudsman Nasional.

Reformasi perpajakan pertama, tahun 1983, dengan diundangkannya :

Undang-undang Nomor 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan (UU
KUP);

Undang-undang Nomor 7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan (UU PPh 1984);

Undang-undang Nomor 8 Tahun 1983 tentang Pajak Pertambahan Nilai Barang dan Jasa dan
Pajak Penjualan atas Barang Mewah (UU PPN 1984);

Undang-undang No. 12 Tahun 1985 tentang Pajak Bumi (UU PBB) dan Bangunan; dan

Undang-undang No. 13 Tahun 1985 tentang Bea Materai (UU BM).

Reformasi undang-undang perpajakan tersebut benar-benar mengganti perpajakan warisan


Belanda seperti Pajak Perseroan 1944.

Adapun perubahan yang telah dilakukan adalah :

UU KUP telah diubah dengan UU No. 9 Tahun 1994 (perubahan pertama), UU No. 16 Tahun
2000 (perubahan kedua) dan UU No. 28 Tahun 2007 (perubahan ketiga).

UU PPh 1984 telah diubah dengan UU No. 7 Tahun 1991 (perubahan pertama), UU No. 10 Tahun
1994 (perubahan kedua), UU No. 17 Tahun 2000 (perubahan ketiga) dan UU No. 36 Tahun
2008 (perubahan keempat).

UU PPN dan PPn BM 1984 telah diubah dengan UU No. 11 tahun 1994 (perubahan pertama), UU
No. 18 tahun 2000 (perubahan kedua) dan UU No. 42 TAhun 2009 (perubahan ketiga).
UU PBB telah diubah dengan UU No. 12 tahun 1994 (perubahan pertama), UU No. 20 tahun
2000 (perubahan kedua) dan Undang-undang Nomor 28 tahun 2009 (perubahan ketiga).

Analisis

Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan

Salah satu dari undang-undang perpajakan yang utama yang berlaku setelah reformasi
perpajakan tahun 1983 adalah Undang-undang Nomor 6 tahun 1983 tentang Ketentuan Umum
dan Tata Cara Perpajakan. Undang-undang Nomor 6 tahun 1983 hanya berisikan Hukum Pajak
Formal, yang semata-mata memuat peraturan-peraturan mengenai tata-cara pelaksanaan
pemungutan pajak oleh negara.

Perubahan atas UU No. 6 Tahun 1983 tidak mengubah nama UU tersebut, yaitu Ketentuan Umum
Perpajakan.

Undang-Undang No. 28 Tahun 2007 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan
merupakan perubahan ketiga atas UU No. 6 Tahun 1983. Perubahan pertama pada 1994 (berlaku
efektif tahun pajak 1995), sedangkan perubahan kedua pada 2000 (berlaku mulai tahun pajak
2001).

Revisi pertama dan kedua, secara substansial, tidak terlalu banyak yang berubah. Fokus
perubahan lebih pada upaya meningkatkan kepastian hukum dengan cara mengangkat peraturan
pelaksanaan umumnya dalam bentuk keputusan menteri keuangan atau surat edaran dirjen pajak
menjadi materi undang-undang. Perubahan lain menyangkut harmonisasi pasal-pasal dalam UU
Perpajakan, yaitu memindahkan pasal dari satu UU ke UU yang lain. Ini berbeda dengan revisi UU
KUP 2007, dimana perubahannya sangat substansial menyangkut sistem dan prosedur, penataan
kembali hak dan kewajiban wajib pajak (WP), sanksi kepada fiskus, dan hubungan antara wajib
pajak dan fiskus.

Isu penting dalam Undang-Undang dimaksud adalah mengenai keseimbangan hak dan
kewajiban antara Wajib Pajak dan aparatur pajak. Selain itu, perbaikan dan penguatan
kewenangan aparatur pajak agar tetap dapat berfungsi efektif namun tetap menjaga prinsip-
prinsip akuntabilitas, proporsional, dan integritas. Undang-Undang ini akan menjadi acuan bagi
perubahan undang-Undang perpajakan lainnya mengenai Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dan
Pajak Penghasilan (PPh).
Dalam Undang-Undang tersebut terdapat pokok-pokok perubahan mengenai Ketentuan
Umum dan Tata Cara Perpajakan, antara lain:

Ketentuan mengenai pengambilan, pengisian, penandatanganan dan penyampaian Surat


Pemberitahuan (SPT) dapat dilakukan melalui media elektronik;

Batas akhir penyampaian SPT Tahunan PPh yang sebelumnya paling lambat tiga bulan diubah menjadi
paling lambat empat bulan setelah akhir tahun pajak;

Sanksi administrasi berupa denda bagi WP yang dengan kemauan sendiri mengungkapkan
ketidakbenaran perbuatannya setelah dilakukan pemeriksaan tetapi belum dilakukan
tindak penyidikan, diturunkan dari 200% menjadi 150%;

Daluwarsa penetapan pajak dan daluwarsa penagihan dipersingkat dari sepuluh tahun menjadi lima
tahun sejak berakhirnya masa pajak, bagian tahun pajak atau tahun pajak;

Dalam rangka mendorong WP mengungkapkan penghasilan yang belum dilaporkan dalam SPT Tahunan
PPh sebelum tahun 2007, WP diberi kesempatan untuk menyampaikan pembetulan
dengan diberikan pengurangan atau penghapusan sanksi administrasi, dengan syarat
pembetulan tersebut dilakukan pada tahun pertama berlakunya UU ini; dan

Paling lama satu tahun setelah berlakunya UU ini, WP Orang Pribadi yang sukarela mendaftarkan diri
untuk memperoleh NPWP diberikan penghapusan sanksi administrasi atas pajak, kecuali
terdapat data atau keterangan yang menyatakan bahwa SPT WP tidak benar atau lebih
bayar.

Sistem Pemungutan Pajak

Pada masa sebelum Peraturan Perpajakan tahun 1983 diberlakukan, diterapkan Official
Assessment System dimana dalam sistem pemungutan pajak ini memberi wewenang kepada
pemungut pajak (fiskus) untuk menentukan besarnya pajak yang harus dibayar (pajak yang
terutang) oleh seseorang. Sistem ini membuat WP bersifat pasif dan menunggu dikeluarkannya
suatu ketetapan pajak oleh fiskus. Besarnya utang pajak seseorang pun baru diketahui setelah
adanya surat ketetapan pajak.

Namun setelah tahun 1983, berdasarkan UU Perpajakan Tahun 1983 dan berlalu di
Indonesia sejak tahun 1984 sampai sekarang diterapkan Self Assessment System, dimana WP
diberi wewenang penuh untuk menghitung, memperhitungkan, menyetorkan, dan melaporkan
sendiri besarnya utang pajak. Sistem ini membuat WP aktif, sedangkan fiskus tidak turut campur
dalam penentuan besarnya pajak yang terutang seseorang, kecuali WP melanggar ketentuan yang
berlaku.

Tiga prinsip yang mendasari sistem dan mekanisme pemungutan pajak adalah:

Pemungutan pajak merupakan perwujudan pengabdian dan peran serta wajib pajak untuk
secara langsung dan bersama-sama melakukan kewajiban perpajakan yang diperlakukan
untuk pembiayaan negara.

Tanggung jawab atas kewajiban pelaksanaan pemungutan pajak sebagai pencerminan


kewajiban di bidang perpajakan berada pada anggota masyarakat wajib pajak sendiri.
Pemerintah dalam hal ini aparat perpajakan, sesuai dengan fungsinya berkewajiban
melakukan pembinaan, pelayanan dan pengawasan terhadap pemenuhan kewajiban
perpajakan berdasarkan ketentuan yang digariskan dalam peraturan perundang-undangan
perpajakan.

Anggota masyarakat wajib pajak diberi kepercayaan untuk dapat melaksanakan kegotong
royongan nasional melalui sistem menghitung, memperhitungkan, membayar dan
melaporkan sendiri pajak yang terutang (self assessment) sehingga melalui sistem ini
administrasi perpajakan diharapkan dapat dilaksanakan dengan rapi, terkendali,
sederhana, dan mudah untuk dipahami oleh anggota masyarakat wajib pajak.

Tarif Pajak

PPh

Pokok-pokok pikiran dalam UU No. 36 Tahun 2008 adalah:

Penurunan tarif Pajak Penghasilan (PPh). Penurunan tarif PPh ini untuk mengimbangi tarif PPh
yang berlaku di negara-negara tetangga yang relatif lebih rendah, meningkatkan daya
saing di dalam negeri, mengurangi beban pajak dan meningkatkan kepatuhan Wajib Pajak
(WP).

Bagi WP orang pribadi, tarif PPh tertinggi diturunkan dari 35% menjadi 30% dan
menyederhanakan lapisan tarif dari 5 lapisan menjadi 4 lapisan, namun
memperluas masing-masing lapisan penghasilan kena pajak (income bracket),
yaitu lapisan tertinggi dari sebesar Rp 200 juta menjadi Rp 500 juta.

Bagi WP badan, tarif PPh yang semula terdiri dari 3 lapisan, yaitu 10%, 15% dan 30%
menjadi tarif tunggal 28% di tahun 2009 dan 25% tahun 2010. Penerapan tarif
tunggal dimaksudkan untuk menyesuaikan dengan prinsip kesederhanaan dan
international best practice. Selain itu, bagi WP badan yang telah go public
diberikan pengurangan tarif 5% dari tarif normal dengan kriteria paling sedikit
40% saham dimiliki oleh masyarakat. Insentif tersebut diharapkan dapat
mendorong lebih banyak perusahaan yang masuk bursa sehingga akan
meningkatkan good corporate governance dan mendorong pasar modal sebagai
alternatif sumber pembiayaan bagi perusahaan.

Bagi WP UMKM yang berbentuk badan diberikan insentif pengurangan tarif sebesar
50% dari tarif normal yang berlaku terhadap bagian peredaran bruto sampai
dengan Rp 4,8 miliar. Pemberian insentif tersebut dimaksudkan untuk mendorong
berkembangnya UMKM yang pada kenyataannya memberikan kontribusi yang
signifikan bagi perekonomian di Indonesia. Pemberian insentif juga diharapkan
dapat mendorong kepatuhan WP yang bergerak di UMKM.

Bagi WP orang pribadi Pengusaha Tertentu, besarnya angsuran PPh Pasal 25


diturunkan dari 2% menjadi 0,75% dari peredaran bruto. Penurunan tarif tersebut
dimaksudkan untuk membantu likuiditas WP dengan pembayaran angsuran pajak
yang lebih rendah serta memberikan kepastian dan kesederhanaan penghitungan
PPh.

Bagi WP pemberi jasa yang semula dipotong PPh Pasal 23 sebesar 15% dari perkiraan
penghasilan neto menjadi 2% dari peredaran bruto. Perubahan tarif tersebut
dimaksudkan untuk memberikan keseragaman pemotongan pajak yang
sebelumnya ada yang didasarkan pada penghasilan bruto dan sebagian didasarkan
pada penghasilan neto. Dengan metode ini, penerapan perpajakan diharapkan
dapat lebih sederhana dan tarif relatif lebih rendah sehingga dapat meningkatkan
kepatuhan WP.
Bagi WP penerima dividen yang semula dikenai tarif PPh progresif dengan tarif
tertinggi sampai dengan 35%, menjadi tarif final 10%. Penurunan tarif tersebut
dimaksudkan untuk mendorong perusahaan untuk membagikan dividen kepada
pemegang saham, mendorong tumbuhnya investasi di Indonesia karena
dikenakan tarif lebih rendah dan meningkatkan kepatuhan WP.

Pembebasan kewajiban pembayaran fiskal luar negeri bagi WP yang telah mempunyai NPWP
fiskal sejak 2009 serta penghapusan pemungutan fiskal luar negeri pada tahun 2011.
Pembayaran fiskal luar negeri adalah pembayaran pajak di muka bagi orang pribadi yang
akan bepergian ke luar negeri. Kebijakan penghapusan kewajiban pembayaran fiskal luar
negeri bagi WP yang memiliki NPWP dimaksudkan untuk mendorong WP memiliki NPWP
sehingga memperluas basis pajak. Diharapkan pada 2011 semua masyarakat yang wajib
memiliki NPWP telah memiliki NPWP sehingga kewajiban pembayaran fiskal luar negeri
layak dihapuskan.

Peningkatan nilai Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP) untuk diri WP orang pribadi sebesar
20% dari Rp 13,2 juta menjadi Rp 15,84 juta, sedangkan untuk tanggungan istri dan
keluarga ditingkatkan sebesar 10% dari Rp 1,2 juta menjadi Rp 1,32 juta dengan paling
banyak 3 tanggungan setiap keluarga. Hal ini dimaksudkan untuk menyesuaikan PTKP
dengan perkembangan ekonomi dan moneter serta mengangkat pengaturannya dari
peraturan Menteri Keuangan menjadi undang-undang.

Penerapan tarif pemotongan/pemungut an PPh yang lebih tinggi bagi WP yang tidak memiliki
NPWP

Pengenaan tarif 20% lebih tinggi dari tarif normal untuk WP non NPWP yang menerima
penghasilan dipotong PPh Pasal 21.

Pengenaan tarif 100% lebih tinggi dari tarif normal untuk WP non NPWP yang menerima
penghasilan dipotong PPh Pasal 23.

Pengenaan tarif 100% lebih tinggi dari tarif normal untuk WP non NPWP yang menerima
penghasilan dipotong PPh Pasal 22

Perluasan biaya yang dapat dikurangkan dari penghasilan bruto. Dimaksudkan bahwa
pemerintah memberikan fasilitas kepada masyarakat yang secara nyata ikut berpartisipasi
dalam kepentingan sosial, dengan diperkenankannya biaya tersebut sebagai pengurang
penghasilan bruto.

Sumbangan dalam rangka penganggulangan bencana nasional dan infrastruktur sosial

Sumbangan dalam rangka fasilitas pendidikan, penelitian dan pengembangan yang


dilakukan di Indonesia.

Sumbangan dalam rangka pembinaan olahraga dan keagamaan yang sifatnya wajib bagi
pemeluk agama yang diakui di Indonesia.

Pengecualian dari objek PPh

Sisa lebih yang diterima atau diperoleh lembaga atau badan nirlaba yang bergerak dalam
bidang pendidikan dan atau bidang penelitian dan pengembangan yang ditanamkan
kembali paling lama dalam jangka waktu 4 tahun tidak dikenai pajak.

Beasiswa yang diterima atau diperoleh oleh penerima beasiswa tidak dikenai pajak.

Bantuan atau santunan yang diterima dari Badan Penyelenggara Jaminan Sosial tidak
dikenai pajak

Penegasan surplus Bank Indonesia sebagai objek pajak. Aturan ini dimaksudkan untuk
memberikan penegasan terhadap penafsiran yang berbeda tentang surplus BI. Menurut
UU No.7 Tahun 1983 tentang PPh, pengertian penghasilan adalah setiap tambahan
kemampuan ekonomis yang diterima atau diperoleh WP dengan nama dan dalam bentuk
apapun. Dengan demikian surplus BI adalah tambahan kemampuan ekonomis yang
termasuk objek PPh yang diatur dalam UU PPh.

Peraturan perpajakan untuk industri pertambangan minyak dan gas bumi, bidang usaha panas
bumi, bidang usaha pertambangan umum termasuk batubara dan bidang usaha berbasis
syariah, diatur tersendiri dengan Peraturan Pemerintah.

Berdasarkan UU No. 36 tahun 2008 tentang Perubahan Keempat atas Undang-undang


No. 7 tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan, tarif pajak penghasilan yang dikenakan atas
penghasilan kena pajak baik untuk WP Perseorangan (WP OP) maupun WP Badan telah terjadi
perubahan.
Khusus untuk WP Badan sebelumnya berlaku tarif progresif yaitu 10%, 15% dan 30%
[UU No. 17 tahun 2000 pasal 17 ayat (1b)], sedangkan berdasarkan Pasal 17 ayat (1b) UU No.
36 tahun 2008 dikenakan tarif tunggal sebesar 28%. Kemudian, dalam ayat 2a diatur lebih
lanjut bahwa mulai tahun pajak 2010 tarif yang berlaku diturunkan lagi menjadi 25%.

UU PPh nomor 36 tahun 2008 berlaku efektif per 1 Januari 2009, dimana tarif PPh Badan
menggunakan tarif tunggal 28% untuk tahun pajak 2009 (Pasal 17 ayat 1 huruf b) dan berubah
menjadi 25% untuk tahun pajak 2010 (Pasal 17 ayat (2a)).

Sesuai Pasal 31E ayat (1) menyatakan bahwa : Wajib Pajak badan dalam negeri dengan
peredaran bruto sampai dengan Rp50.000.000.000,00 (lima puluh miliar rupiah) mendapat
fasilitas berupa pengurangan tarif sebesar 50% (lima puluh persen) dari tarif sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 17 ayat (1) huruf b dan ayat (2a) yang dikenakan atas Penghasilan Kena
Pajak dari bagian peredaran bruto sampai dengan Rp4.800.000.000,00 (empat miliar delapan
ratus juta rupiah).

PPN dan PPn BM

Ketentuan sebelumnya, sesuai UU NO. 18/2000 tentang PPN dan PPnBM, menyebutkan
perubahan tariff PPN cukup dilakukan dengan penerbitan peraturan menteri. Namun
kewenangan tersebut dicabut pada UU PPN dan PPn BM yang baru disahkan DPR.

Ketentuan sebelumnya, sesuai UU NO. 18 Tahun 2000 tentang PPN dan PPnBM,
menyebutkan perubahan tariff PPN cukup dilakukan dengan penerbitan peraturan menteri
sedangkan untuk ketentuan yang baru, dalam pasal 8 ayat (1) UU No. 42 Tahun 2009
menyebutkan, penetapan kelompok barang kena pajak yang tergolong mewah dengan tariff
PPnBM paling rendah 10% dan maksimal 200%, wajib melalui Peraturan Pemerintah.
sedangkan untuk tariff PPN diatur dalam pasal 3 ayat (1) UU No. 42 Tahun 2009 menyebutkan,
tarif PPN yang ditetapkan 10% dapat diubah menjadi paling rendah 5% dan paling tinggi 15%
melalui penerbitan Peraturan Pemerintah. UU No. 42 Tahun 2009 secara resmi berlaku sejak 1
April 2010.

PPN dan PPn BM

Tarif Pajak Bumi dan Bangunan untuk Perdesaan dan Perkotaan diturunkan dari 0,5
persen terhadap nilai jual obyek pajak menjadi paling tinggi 0,3 persen dari NJOP. Langkah ini
diharapkan dapat memperluas basis pemungutan PBB. Kewenangan penetapan tarif PBB akan
dialihkan dari pemerintah pusat kepada pemerintah kabupaten/kota setelah 31 Desember
2013.

Selain mengubah besaran tarifnya, UU ini juga menetapkan aturan baru tentang Nilai
Jual Kena Pajak (NJKP) dan Nilai Jual Obyek Pajak Tidak Kena Pajak (NJOPTKP). Sebelumnya,
NJKP ditetapkan 20-100 persen dari NJOP yang sudah dikurangi NJOPTKP, kini aturan tersebut
tidak dipergunakan lagi.
Cara Pemungutan Pajak.
Dalam melakukan pemungutan pajak, pemerintah pada mulanya meminta wajib pajak untuk
menyetor besarnya pajak sesuai dengan Peraturan Perundangan yang berlaku dan kewenangan
aparat perpajakan sangat besar, cara ini dikenal dengan istilah sistem official assessment.
Kewenangan ini kemudian mulai dikurangi dengan keluarnya Undang-Undang no. 8/67 dan PP
No.11 tahun 1967 yang memperkenalkan cara pemungutan Menghitung Pajak Sendiri (MPS)
dan Menghitung Pajak Orang (MPO) kemudian fiskus akan menetapkan berapa sebenarnya
pajak yang seharusnya dibayar oleh wajib pajak dengan mengeluarkan Surat Ketetapan Pajak
(SKP). Cara ini dikenal dengan sistem self assessment yang tidak penuh. Penetapan besarnya
pajak masih merupakan kewenangan pejabat pajak sehingga wajib pajak sebagai rakyat
merdeka masih belum memperoleh kepercayaan dari pemerintah untuk bersama-sama
membangun Negara Indonesia yang telah merdeka sejak tahun 1945, artinya cara-cara kolonial
Belanda masih tetap dipakai.
Selanjutnya sejak tahun 1983 yang dikenal dengan istilah tax reform kepada wajib pajak
diberikan kepercayaan yang besar dengan melakukan penghitungan pajak sendiri,
melaporkannya dan menyetor langsung ke Kas Negara atau menyetor melalui bank persepsi.
Fiskus tidak lagi mengikutinya dengan mengeluarkan SKP, cara ini dikenal dengan sistem self
assessment penuh, SKP baru diterbitkan jika atas wajib pajak dilakukan pemeriksaan karena
permintaan restitusi kelebihan pembayaran pajak, karena kelalaian memenuhi kewajiban
administrasi perpajakan seperti tidak menyampaikan SPT dan tidak menyelenggarakan
pembukuan sebagaimana mestinya atau karena terkena sampling.
SKP yang dikeluarkan dapat berupa :
4
- Surat Ketetapan Pajak Lebih Bayar (SKPLB) yaitu apabila memang ternyata wajib pajak
telah lebih membayar pajak kepada Negara, dengan demikian Negara harus
mengembalikan kelebihan pembayaran pajak tersebut jika diminta kembali oleh wajib
pajak.
- Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar (SKPKB) yaitu apabila ternyata setelah diperiksa
pajak yang telah disetor oleh wajib pajak lebih kecil dari besarnya pajak hasil pemeriksaan ,
karena itu wajib pajak masih harus membayar kekurangan pajaknya kepada Negara.
- Surat Ketetapan Pajak Nihil (SKPN) yaitu apabila ternyata setelah diperiksa jumlah pajak
yang dibayar oleh wajib pajak sama dengan jumlah pajak hasil pemeriksaan.
Untuk meringankan pembayaran pajak yang jumlahnya besar kepada wajib pajak diberikan
kesempatan untuk mengangsur pajak setiap bulan dengan mempergunakan SPT Masa yang
kemudian akan diperhitungkan pada saat melunasi hutang pajak tahunan.
Perlu diketahui bersama bahwa, dalam perpajakan, pemerintah tidak mau ketinggalan dalam
mengikuti perkembangan teknologi yaitu dengan diberlakukannya pengisian SPT secara on line
melalui komputer, walaupun penggunaannya masih dibatasi hanya untuk pengusaha dengan
jumlah pajak yang besar saja .
Dalam sistem ini pihak fiscus masih cukup dominan untuk menghitung dan menetapkan utang pajak.
Sistem ini umumnya diterapkan terhadap jenis pajak yang melibatkan masyarakat luas di mana
masyarakat selaku subyek pajak atau wajib pajak dipandang belum mampu disertahi tanggung jawab
untuk menghitung dan menetapkan pajak. Contoh pajak yang masih menggunakan sistem ini adalah
Pajak Bumi dan Bangunan.

Sistem ini umumnya diterapkan pada jenis pajak di mana wajib pajaknya dipandang cukup
mampu untuk diserahi tanggung jawab untuk menghitung dan menetapkan utang pajaknya
sendiri. Dalam hal ini, subyek pajak atau wajib pajak relatif terbatas, contohnya Pajak
Penghasilan (PPh), Pajak Pertambahan Nilai (PPN), dan Pajak Penjualan atas Barang mewah
(PPn. BM). Dengan diterapkannya sistem pemungutan yang seperti ini, diharapkan akan
mengatasi kelemahan dari stelsel campuran.