Anda di halaman 1dari 19

SUPREMUM , INFIMUM

DAN BARISAN BILANGAN REAL


Paper ini disusun guna untuk memenuhi

Mata Kuliah Pengantar Analisis Real

Pengampu : Samsul Arifin, S.Si.

Oleh :

Purwanti Cahyaningtyastuty

08610030

PROGRAM STUDI MATEMATIKA


FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN KALIJAGA
YOGYAKARTA
2010/2011
KATA PENGANTAR

Alhamdulillahirobbil’alamin, sanjungan dan pujian hanya milik Allah Swt.


Shalawat serta salam semoga senantiasa dilimpahkan kepada Rasulullah saw
beserta keluarga dan sahabatnya, yang tidak ada lagi nabi setelahnya..

Berkat semangat dan sokongan spirit dari keluarga yang berada nun jauh
dimata, Alhamdulillah Paper kecil ini bisa selesai disusun. Paper yang demi
memenuhi tugas Mata Kuliah Pengantar Analisis Real ini mengetengahkan
tentang Supremum dan Infimum.

Meskipun penyusunan Paper ini telah selesai, tentunya masih banyak


kekurangan. Dan tentunya juga penyusun mengharapkan kritik dan saran yang
dapat membangun semangat penyusun untuk tetap istiqomah dalam menjalankan
aktifitas belajar dikemudian hari. Penyusun berharap semoga Paper yang
sederhana ini dapat bermanfaat untuk menambah ilmu pengetahuan, khususnya
untuk bidang analisis real.

Insya Allah, Amin yarobba’alamin.

Yogyakarta, 25 Oktober 2010

Penyusun

Purwanti Cahyaningtyastuty
A. Supremum dan Infimum

Di dalam bagian ini dibicarakan himpunan bilangan yang terbatas beserta sifat
– sifatnya yang berpengaruh untuk materi – materi selanjutnya.

Definisi A.1. Diberikan subset tak kosong S ⊂ ℝ .

(a) Himpunan S dikatakan terbatas ke atas (bounded above) jika terdapat

suatu bilangan u∈ℝ sedemikian hingga s ≤ u untuk semua s∈S . Setiap

bilangan u seperti ini disebut dengan batas atas (upper bound) dari S.
(b) Himpunan S dikatakan terbatas ke bawah (bounded below) jika terdapat

suatu bilangan w∈ℝ sedemikian hingga w ≤ s untuk semua s∈S . Setiap

bilangan w seperti ini disebut dengan batas bawah (lower bound) dari S.
(c) Suatu himpunan dikatakan terbatas (bounded) jika terbatas ke atas dan
terbatas ke bawah. Jika tidak, maka dikatakan tidak terbatas

(unbounded). Sebagai contoh, himpunan S := {x∈ℝ: x < 2} ini terbatas ke

atas, sebab bilangan 2 dan sebarang bilangan lebih dari 2 merupakan batas
atas dari S. Himpunan ini tidak mempunyai batas bawah, jadi himpunan
ini tidak terbatas ke bawah. Jadi, S merupakan himpunan yang tidak
terbatas.

Definisi A.2. Diberikan S subset tak kosong ℝ .

(a) Jika S terbatas ke atas, maka suatu bilangan u disebut supremum (batas
atas terkecil) dari S jika memenuhi kondisi berikut:
i. u merupakan batas atas S, dan
ii. jika v adalah sebarang batas atas S, maka u ≤ v .
Ditulis u = sup S .
(b) Jika S terbatas ke bawah, maka suatu bilangan u disebut infimum (batas
bawah terbesar) dari S jika memenuhi kondisi berikut:
i. w merupakan batas bawah S, dan
ii. jika t adalah sebarang batas bawah S, maka t ≤ w.
Ditulis w = inf S .

1. Himpunan terbatas

(i) Himpunan A ⊂ ℝ dan A ≠ θ dikatakan terbatas ke atas jika ada bilangan

nyata k sehingga berlaku

a≤k

Untuk setiap a ∈ A;k disebut batas atas himpunan A.

(ii) Himpunan A ⊂ ℝ dan A ≠ θ dikatakan terbatas ke bawah jika ada

bilangan nyata l sehingga berlaku

a≥l

Untuk setiap a ∈ A;l disebut batas bawah himpunan A.

(iii) Himpunan A ⊂ R dikatakan terbatas ke bawah jika A terbatas ke atas dan


terbatas ke bawah.

Teorema A.1.1

(i) M batas atas terkecil himpunan A jika dan hanya jika

(a) M batas – batas A, i.e., untuk ∀ a ∈ A berakibat

a ≤ M , dan

(b) Untuk ∀ ε > 0 terdapat a’ ∈ A sehingga

M −ε < a' ≤ M
(ii) m batas bawah terbesar himpunan A jika dan hanya jika

(a) m batas bawah A, i.e., untuk ∀ a ∈ A berakibat

m ≤ a , dan

(c) ∀ ε > 0 terdapat a’’ ∈ A sehingga

m ≤ a '' < m + ε

Bukti :

(i) Karena M merupakan Supremum (batas atas terkecil) himpunan A, maka


M − ε bukan batas atas himpunan A. Hal ini berarti ∃ a ' ∈ A sehingga
M − ε < a ' . Selanjutnya karena M batas atas terkecil himpunan A,

maka ∀ a ∈ A berlaku a ≤ M , khususnya a ' ≤ M .

Dengan demikian terbukti ∃ a ' ∈ A sehingga M − ε < a ' ≤ M .

Sebaliknya, karena diketahui bahwa,

a ≤ M untuk ∀ a ∈ A

dan untuk ∀ bilangan nyata ε > 0 ∃ a ' ∈ A sehingga M − ε < a '

diperoleh M batas atas dan tidak ada batas atas M1 ( yang lain) dengan
M 1 < M . Sebab jika ada maka dengan mengambil ε=
1 M − M 1 diperoleh

suatu kontradiksi, yaitu ada a '' ∈ A sehingga M − ε1 < a '' atau

M 1 =M − ( M − M 1 ) < a '' . Dengan kata lain terbukti bahwa M merupakan


supremum.

(ii) Bukti untuk batas bawah terbesar sama halnya dengan pembuktian batas
atas terkecil.
Supremum himpunan A dituliskan dengan

Sup (A), lub (A), atau bat (A)

Infimum himpunan A dituliskan dengan

Inf (A), glb (A), atau bbt (A)

Teorema A.1.2

(i) Jika A ⊂ B ⊂  dan B terbatas ke atas, maka

sup (A) ≤ sup (B)

(ii) Jika A ⊂ B ⊂  dan B terbatas ke bawah, maka

inf (A) ≥ inf (B)

Bukti :

(i) Karena A ⊂ B dan B terbatas ke atas, maka A juga terbatas ke atas.


Diambil k sebarang batas atas himpunan B. Karena A ⊂ B , maka k
merupakan batas atas A; jadi sup (B) merupakan batas atas
himpunan A.

Hal ini berakibat

sup (A) ≤ sup (B)

(ii) Karena A ⊂ B dan B terbatas ke bawah, maka A juga terbatas ke


bawah. Diambil k sebarang batas atas himpunan B. Karena A ⊂ B ,
maka k merupakan batas bawah A; jadi inf (B) merupakan batas
bawah himpunan A.

Hal ini berakibat


inf (A) ≥ inf (B)

Menurut Teorema A.2 di atas, jika A dan B masing – masing


merupakan himpunan yang terbatas diperoleh

sup ( A ∩ B ) ≤ sup ( A) ≤ sup ( A ∪ B )

inf ( A ∪ B ) ≤ inf ( A) ≤ inf ( A ∩ B)

Jika A, B ⊂ ℜ dan x ∈ℜ didefinisikan

A + B = {a + b : a ∈ A & b ∈ B} dan x + A = { x} + A .

Teorema A.1.3

Jika A, B ⊂  , dan terbatas maka

(i) sup( A + B ) ≤ sup( A) + sup( B )

(ii) inf( A + B ) ≥ inf( A) + inf( B)

Bukti :

(i) Sebut M1 = sup (A) dan M2 = sup (B).

Oleh karena itu ∀ a ∈ A berlaku a ≤ M 1 dan untuk ∀ b ∈ B berlaku

b ≤ M 2 . Hal ini berarti untuk ∀ a + b ∈ A + B

a + b ≤ M1 + M 2

Oleh karena itu

sup( A + B) ≤ M 1 + M=
2 sup( A) + sup( B)
(ii) Sebut M1 = inf (A) dan M2 = inf (B).

Oleh karena itu ∀ a ∈ A berlaku a ≥ M 1 dan untuk ∀ b ∈ B

berlaku b ≥ M 2 . Hal ini berarti untuk ∀ a + b ∈ A + B

a + b ≥ M1 + M 2

Oleh karena itu

inf( A + B) ≥ M 1 + M=
2 inf( A) + inf( B)

Himpunan bilangan nyata (himpunan bagian didalam ℝ) yang penulisannya

khusus antara lain adalah himpunan – himpunan sebagai berikut. Jika


a, b ∈  dan a < b , didefinisikan

1. [ a, b ] = { x ∈  : a ≤ x ≤ b} disebut selang tertutup (closed interval)

2. ( a, b ) = { x ∈  : a < x < b} disebut selang terbuka (open interval)


3. [ a, b ) = { x ∈  : a ≤ x < b} disebut selang tertutup di kiri atau selang

terbuka di kanan
4. ( a, b] = { x ∈  : a < x ≤ b} disebut selang tertutup di kanan atau selang

terbuka di kiri

[ a, ∞ ) = { x ∈  : x ≥ a}
( a, ∞ ) = { x ∈  : x > a}
( −∞, a=] { x ∈  : x ≤ a}
( −∞, a=) { x ∈  : x < a}
2. Penggunaan Sifat Aksioma Supremum
Pada subbab ini dibahas beberapa akibat dari aksioma supremum.
Teorema A.2.1.
Diberikan subset tak kosong S ⊂  yang terbatas ke atas dan sebarang a ⊂  .
Didefinisikan himpunan a + S := {a + s : s ∈ S } , maka berlaku
sup (a + S ) = a + sup (S ) .
Bukti :
Jika diberikan u = sup S , maka x ≤ u untuk semua x ∈ S , sehingga
a + x ≤ a + u . Oleh karena itu, a + u merupakan batas atas dari himpunan a + S .
Akibatnya sup(a + S ) ≤ a + u . Selanjutnya, misalkan v adalah sebarang batas atas
a + S , maka a + x ≤ v untuk semua x ∈ S . Akibatnya x ≤ v − a untuk semua
x ∈ S , sehingga v − a merupakan batas atas S. Oleh karena itu,=
u sup S ≤ v − a .
Karena v adalah sebarang batas atas a + S , maka dengan mengganti v dengan u =
sup S , diperoleh a + u ∈ sup ( a + S ) . Di lain pihak diketahui sup ( a + S ) ∈ a + u .

Akibatnya terbukti bahwa sup (a + S ) = a + u = a + sup S .

Teorema A.2.2
Diberikan subset tak kosong S ⊂ ℝ yang terbatas dan sebarang bilangan real a

=
> 0 . Didefinisikan himpunan aS : {as : s ∈ S } , maka berlaku
inf (aS ) = a inf (S ) .
Bukti :
Tulis u = inf aS dan v = inf S . Akan dibuktikan bahwa u = av . Karena u = inf
aS , maka u ≤ as , untuk setiap s ∈ S . Karena v = inf S , maka v ≤ s untuk setiap
s ∈ S . Akibatnya av ≤ as untuk setiap s ∈ S . Berarti av merupakan batas bawah
aS. Karena u batas bawah terbesar aS, maka av ≤ u . Karena u ≤ as untuk setiap
s∈S ,
u
maka diperoleh ≤ s untuk setiap s ∈ S (sebab a > 0 ).
a
u
Karena v = inf S , maka ≤ v yang berakibat u ≤ av . Di lain pihak diketahui
a
av ≤ u . Akibatnya u = av .

Jadi, terbukti bahwa inf (aS ) = a inf (S )

Teorema A.2.3

Jika A dan B subset tak kosong ℝ dan memenuhi a ≤ b untuk semua a∈ A dan

b∈B , maka
sup A ≤ inf B
Bukti :
Diambil sebarang b∈B , maka a ≤ b untuk semua a∈ A . Artinya bahwa b
merupakan batas atas A, sehingga sup A ≤ b . Selanjutnya, karena berlaku untuk
semua b∈B , maka sup A merupakan batas bawah B. Akibatnya diperoleh bahwa
sup A ≤ inf B .

B. Barisan Bilangan Real


1. Pengertian
Barisan bilangan real (barisan di R) adalah fungsi pada himpunan bilangan
asli (N) yang jangkauannya termuat pada R. Dalam kaitan barisan sebagai fungsi,
dalam pengertian sebelumnya dapat ditulis barisan adalah fungsi f : N → R .
Namun karena kekhususan barisan sebagai fungsi dengan daerah asal himpunan
bilangan asli (N), dengan sifat N yang terhitung (countable) perlu disepakati hal-
hal sebagai berikut.

1. Untuk mengantisipasi kekhususan ini biasanya fungsi-fungsi ini dinyatakan


dengan notasi huruf besar X, Y, Z dan seterusnya.
Kemudian berkenaan dengan nilai-nilai fungsi dalam barisan maksimal
hanyalah terhitung, karena daerah asalnya adalah N, sehingga range dari fungsi
yang berupa barisan dapat dapat ditulis sebagai {a1, a2,…,an,…} atau {x1,
x2,…,xn,…} atau {y1, y2,…,yn,…}. Juga dengan kekhususan ini seringkali yang
ditonjolkan adalah nilai fungsinya bukan fungsinya (baca aturannya), sehingga
seringkali yang ditulis adalah nilai fungsinya.
2. Untuk membedakan antara himpunan dan barisan maka himpunan yang
menyatakan nilai fungsi dari suatu barisan tidak ditulis dalam notasi himpunan
(anggota dibatasi kurung kurawal tetapi kurung biasa), karena dalam himpunan
nilai fungsi yang sama tetap harus ditulis tidak seperti pada himpunan yang
mana unsure yang sama hanya ditulis sekali. Akibatnya dalam penulisan bias
seperti berikut. Barisan X dengan nilai fungsi yang berturut-turut bersesuaian
dengan bilangan asli 1,2,3,…,n,… ditulis sebagai X = (x1,x2, x3,…,xn,…).

Sehingga jika X : N → R , suatu barisan penulisan selanjutnya seringkali


sebagai barisan (xn) atau ( xn : n∈N), walaupun penulisan X sebagai barisan juga
digunakan.
Secara umum penulisan rumus/aturan barisan ada dua macam
• Pertama nilai fungsi ( suku ) berdasarkan letak barisan berdasarkan sukunya,
 n 
misal X=( 2n ) , Y=  .
 n + 3
• Kedua yaitu barisan yang nilainya tidak bergantung pada suku ke-n nya tetapi
ditentukan pada suku sebelumnya. Contohnya barisan fibonacci (1,1,2,3,5,8,…),
juga barisan yang didefinisikan sebagai berikut : Misal barisan X adalah barisan
dengan x1=3, xn+1= xn+ 2.( barisan rekursif).

Definisi Barisan B.1.1.


Barisan (sequene) bilangan nyata adalah fungsi dari N ke R.
Menurut definisi B.1 tersebut, jika f suatu barisan bilangan nyata, nilai f di n biasa
ditulis dengan an; jadi,

an = f ( n )

Barisan biasa dituliskan dengan,

{an } atau {a1 , a2 ,.., an }


Dengan an = f ( n ) disebut unsur (elemen) ke-n barisan itu. barisan juga dapat

dipandang sebagai himpunan terurut.

Definisi Barisan B.1.2.


Jika {an } dan {bn } dua barisan bilangan nyata, didefinisikan

(i) Jumlah (addition, sum) dua barisan {an } dan {bn } adalah suatu barisan

dengan an + bn sebagai unsur ke-n. Jadi

{an } + {bn } ={an + bn }


(ii) Perkalian skalar (scalar multiplication). Jika suatu konstanta , maka
k {an } adalah suatu barisan bilangan nyata dengan kan sebagai unsur

ke-n.
Jadi

k {an } = {kan }

(iii) Hasil ganda (product) dua barisan bilangan nyata {an } dan {bn } adalah

suatu barisan dengan anbn sebagai unsur ke-n. Jadi

{an }{bn } = {anbn }


(iv) Hasil bagi (division) barisan bilangan nyata {an } denga barisan bilangan

an
nyata {bn } adalah suatu barisan bilangan nyata dengan sebagai
bn

suku ke-n, asalkan bn ≠ 0 untuk setiap n. Jadi

{an } =  an 
 
{bn }  bn 
Definisi B.1.3.
Barisan {an } dikatakan konvergen untuk n → ∞ jika terdapat bilangan nyata a

sehingga untuk ∀ bilangan nyata ε > 0 terdapat bilangan asli n0 dan jika
nilangan asli n ≥ n0 berakibat
an − a < ε

Barisan yang dimaksud di dalam Definisi B.4. juga dikatakan kovergen ke a atau
berlimit a untuk n → ∞ dan dituliskan dengan
lim an = a atau lim an − a =
0
n →∞ n →∞

Dalam hal ini a disebut limit barisan {an } . Barisan bilangan nyata {an } dikatakan

terbatas jika terdapat bilangan M ≥ 0 sehingga berlaku


an ≤ M

Untuk ∀ n, atau dengan kata lain {an } = {a1 , a2 ,..} merupakan himpunan terbatas.

Teorema B.1.1
Setiap barisan bilangan nyata yang konvergen terbatas.

Bukti :
Diambil sebarang bilangan nyata {an } yang konvergen. Jadi ada bilangan nyata k

sehingga untuk ∀ bilangan nyata ε > 0 terdapat bilangan asli n0 dan jika bilangan
asli n ≥ n0 berakibat

an − k < ε

untuk ∀ n ≥ n0 . Selanjutnya, diambil bilangan

{
M = maks a1 , a2 ,.., an0 −1 , k + ε }
Mudah dipahami bahwa:
an ≤ M

Untuk ∀ bilangan asli n dan bukti selesai.

Teorema B.1.2.
Jika bilangan nyata {an } konvergen untuk n → ∞ limitnya tunggal

Bukti :
Andaikan {an } mempunyai limit k dan a. Jadi untuk sebarang bilangan nyata

ε > 0 terdapat bilangan asli n’ dan n” sehingga


(i) Untuk ∀ bilangan asli n ≥ n ' benar bahwa
ε
an − k <
2
(ii) Untuk ∀ bilangan asli n ≥ n '' benar bahwa
ε
an − a <
2

Selanjutnya diambil bilangan asli n0 = maks {n’,n”}.

Menurut (i) dan (ii), untuk ∀ bilangan asli n ≥ n0 berakibat

k − a ≤ an − a + k − an ≤ an − k + an − a

ε ε
< + ε
=
2 2

Atau terbukti bahwa k=a ( limit barisan tunggal).

Teorema B.1.3.
Jika {an } dan {bn } masing – masing barisan bilangan nyata yang konvergen,

katakan lim an = a dan lim bn = b dan α ∈ R maka barisan – barisan bilangan


n →∞ n →∞

{an } + {bn } , {α an } , {anbn } konvergen dan

(i) lim ( an + bn ) =lim an + lim bn =a + b ,


n →∞ n →∞ n →∞

=
(ii) lim α an α=
lim an α an ,
n →∞ n →∞

(iii) lim ( an ⋅ bn ) =lim an ⋅ lim bn =a ⋅ b ,


n →∞ n →∞ n →∞

a  an lim an a
(iv) Apabila b, bn ≠ 0, ∀n , maka  n  kurang dari lim
= =
n →∞
n →∞ b
 bn  n lim bn b
n →∞

Bukti :
Untuk (iii).
lim an = a dan lim bn = b
n →∞ n →∞

Maka untuk ∀ bilangan ε > 0 dapat dipilih bilangan asli n’ dan n” sehingga
(a) Untuk ∀ bilangan asli n ≥ n ' berakibat
ε
an − a <
2 ( M b + 1)

(b) Untuk ∀ bilangan asli n ≥ n '' berakibat


ε
bn − b 2 <
( a + 1)
Dengan Mb = bat { bn ; n = 1, 2,...} .

Diambil bilangan asli n0 = maks {n’,n”}, maka Untuk ∀ bilangan asli


n ≥ n0 berlaku

anbn − ab = anbn − abn + abn − ab

≤ bn an − a + a bn − b

< M b an − a + a bn − b

ε ε
< Mb +a
2 ( M b + 1) 2 { a + 1}

ε ε
< + ε
=
2 2

Definisi Limit Barisan B.1.4.

Misalkan X = ( x n ) suatu barisan. Bilangan real x disebut limit barisan

X = ( x n ) , jika untuk ∀ ε > 0 , terdapat bilangan asli K(ε) sehingga untuk

∀ n ≥ K ( ε ) , suku-suku xn berada pada lingkungan ε dari x ( Vε (x) ).

Selanjutnya jika barisan X memenuhi definisi di atas, dikatakan X = ( x n )

konvergen ke x atau lim atau lim atau lim .


X =x ( xn ) = x xn → x
Dari definisi barisan dapat diperoleh hasil bahwa jika ada,

LIMIT BARISAN adalah UNIK.

Dan TIDAK SEMUA BARISAN PUNYA LIMIT.

Definisi barisan di atas hanyalah untuk menguji apakah suatu titik merupakan
limit barisan atau bukan. Sehingga dengan mengambil pernyataan kontraposisi
dari definisi diperoleh, Bilangan t bukan limit dari barisan X = ( x n ) jika terdapat

bilangan positif tertentu δ sedemikian sehingga untuk sebarang bilangan asli K,


terdapat bilangan asli m > K, sedemikian sehingga | xm – t | ≥ δ.

Misal X = ( x n ) barisan, dan x bilangan real:

X konvergen ke x
(a) Untuk setiap lingkungan ε dari x (Vε ( x ) ) , terdapat bilangan asli K(ε)

sehingga untuk ∀ n ≥ K ( ε ) , suku-suku xn berada pada lingkungan- ε dari x

(Vε ( x ) ) .
(b) Untuk setiap ε>0, terdapat bilangan asli K(ε) sehingga untuk ∀ n ≥ K ( ε ) ,

suku-suku xn memenuhi |xn-x| <ε.


(c) Untuk setiap ε>0, terdapat bilangan asli K(ε) sehingga untuk ∀ n ≥ K ( ε ) ,

suku-suku xn memenuhi x-ε< xn<x+ε.

2. Barisan Monoton
Berikut ini diberikan pengertian mengenai barisan naik dan turun
monoton.
Definisi B.2.1.
Diberikan barisan bilangan real X = (xn ) .
(i) Barisan X dikatakan naik (increasing) jika xn ≤ xn +1 untuk semua n ∈ N .

(ii) Barisan X dikatakan naik tegas (strictly increasing) jika xn < xn +1 untuk

semua n ∈ N .
(iii) Barisan X dikatakan turun (decreasing) jika xn ≥ xn +1 untuk semua n ∈ N .

(iv) Barisan X dikatakan turun tegas (strictly decreasing) jika xn > xn +1 untuk

semua n ∈ N .

Definisi B.2.2. Barisan X = ( xn ) dikatakan monoton jika berlaku salah satu X

naik atau X turun.

3. Barisan Bagian
Pada bagian ini akan diberikan konsep barisan bagian (subsequences) dari suatu
barisan bilangan real.
Definisi B.3.1.
Diberikan barisan bilangan real X = ( xn ) dan diberikan barisan

bilangan asli naik tegas n1 < n2 < .. < nk < .. Barisan X ' = ( xnk ) dengan

(
( xnk ) = xn1 , xn2 ,..., xnk ,... )
disebut dengan barisan bagian atau sub barisan (subsequences) dari X.

4. Barisan Cauchy
Definisi B.4.1.
Barisan bilangan real X = (xn ) disebut barisan Cauchy jika untuk
setiap e > 0 terdapat H (ε ) ∈ N sedemikian hingga untuk setiap n, m ∈ N dengan

n, m ≥ H ( ε ) , berlaku xn − xm < ε .

Contoh :
1
Barisan   merupakan barisan Cauchy.
n
2
=
Jika diberikan e > 0 , dapat dipilih H H ( ε ) ∈ N sedemikian hingga H > .
ε
1 1 ε
Maka jika n,m ³ H , diperoleh ≤ < dan dengan cara yang sama diperoleh
n H 2
1 ε
< . Oleh karena itu, jika n,m ³ H(e ) , maka
m 2

1 1 1 1 ε ε
− ≤ + < + =ε
n m n m 2 2

1
Karena berlaku untuk sebarang e > 0 , maka dapat disimpulkan bahwa  
n
merupakan barisan Cauchy.
DAFTAR PUSTAKA
Pratiwi Rahayu S.Si, Pipit. Hand Out Kuliah Pengantar Analisis Real. Fakultas
UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
Darmawijaya, Prof.Dr. Soeparna. Pengantar Analisis Real. Fakultas
Matematika dan IPA Universitas Gadjah Mada Yogyakarta
//http.Gatutis.staff.fkip.uns.ac.id