Anda di halaman 1dari 131

Sakit Hati

Sebenarnya aku dilahirkan menjadi anak yang beruntung. Papa punya kedudukan di kantor
dan Mama seorang juru rias / ahli kecantikan terkenal. Sering jadi pembicara dimana-mana
bahkan sering menjadi perias pengantin orang-orang beken di kotaku. Sayangnga mereka
semua orang-orang sibuk. Kakakku, Kak Luna, usianya terpaut jauh diatasku 5 tahun. Hanya
dialah tempatku sering mengadu. Semenjak dia punya pacar, rasanya semakin jarang aku dan
kakakku saling berbagi cerita.
Saat itu aku masih SMP kelas 2, Kak Luna sudah di SMA kelas 2. Banyak teman-temanku
maupun teman kakakku naksir kepadaku. Kata mereka sih aku cantik. Walaupun aku merasa
biasa-biasa saja (Tapi dalam hati bangga lho.., he.., he..) Aku punya body bongsor dengan
kulit putih bersih. Rambut hitam lurus, mata bulat dan bibir seksi (katanya sich he.., he..).
Saat itu aku merasa bahwa payudaraku lebih besar dibandingkan teman-temanku, kadang-
kadang suka malu saat olah raga, nampak payudaraku bergoyang-goyang. Padahal
sebenarnya hanya berukuran 34B saja. Salah seorang teman kakakku, Kak Agun namanya,
sering sekali main ke rumah. Bahkan kadang-kadang ikutan tidur siang segala. Cuma
seringnya tidur di ruang baca, karena sofa di situ besar dan empuk. Ruangannya ber AC, full
music. Kak Agun bahkan dianggap seperti saudara sendiri. Mama dan orang tuanya sudah
kenal cukup lama.
Saat itu hari Minggu, Mama, Papa, dan Kak Luna pergi ke luar kota. Mak Yam pembantuku
pulang kampung, Pak Rebo tukang kebun sedang ke tempat saudaranya. Praktis aku sendirian
di rumah. Aku sebenarnya diajak Mama tapi aku menolak karena PR bahasa Inggrisku
menumpuk.
Tiba-tiba aku mendengar bunyi derit rem. Aku melihat Kak Agun berdiri sambil
menyandarkan sepeda sportnya ke garasi. Tubuhnya yang dibalut kaos ketat nampak basah
keringat.
“Barusan olah raga…, muter-muter, terus mampir…, Mana Kak Luna?”, tanyanya. Aku lalu
cerita bahwa semua orang rumah pergi keluar kota. Aku dan Kak Agun ngobrol di ruang baca
sambil nonton TV. Hanya kadang-kadang dia suka iseng, menggodaku. Tangannya seringkali
menggelitik pinggangku sehingga aku kegelian.
Aku protes, “Datang-datang…, bikin repot. Mending bantuin aku ngerjain PR”. Eh…, Kak
Agun ternyata nggak nolak, dengan seriusnya dia mengajariku, satu persatu aku selesaikan
PR-ku.
“Yess! Rampung!”, aku menjerit kegirangan. Aku melompat dan memeluk Kak Agun, “Ma
kasih Kak Agun”. Nampaknya Kak Agun kaget juga, dia bahkan nyaris terjatuh di sofa.
“Nah…, karena kamu sudah menyelesaikan PR-mu, aku kasih hadiah” kata Kak Agun.
“Apa itu? Coklat?”, kataku.
“Bukan, tapi tutup mata dulu”, kata dia. Aku agak heran tapi mungkin akan surprise terpaksa
aku menutup mata.
Tiba-tiba aku merasa kaget, karena bibirku rasanya seperti dilumat dan tubuhku terasa
dipeluk erat-erat.
“Ugh…, ugh…”, kataku sambil berusaha menekan balik tubuh Kak Agun.
“Alit…, nggak apa-apa, hadiah ini karena Kak Agun sayang Alit”.
Rasanya aku tiba-tiba lemas sekali, belum sempat menjawab bibirku dilumat lagi. Kini aku
diam saja, aku berusaha rileks, dan lama-lama aku mulai menikmatinya. Ciuman Kak Agun
begitu lincah di bibirku membuat aku merasa terayun-ayun. Tangannya mulai memainkan
rambutku, diusap lembut dan menggelitik kupingku. Aku jadi geli, tapi yang jelas saat itu aku
merasa beda. Rasanya hati ini ada yang lain. Kembali Kak Agun mencium pipiku, kedua
mataku, keningku dan berputar-putar di sekujur wajahku. Aku hanya bisa diam dan
menikmati. Rasanya saat itu aku sudah mulai lain. Napasku satu persatu mulai memburu
seiring detak jantungku yang terpacu. Kemudian aku diangkat dan aku sempat kaget!
“Kak Agun…, kuat juga”. Dia hanya tersenyum dan membopongku ke kamarku.
Direbahkannya aku di atas ranjang dan Kak Agun mulai lagi menciumku. Saat itu perasaanku
tidak karuan antara kepingin dan takut. Antara malu dan ragu. Ciuman Kak Agun terus
menjalar hingga leherku. Tangannya mulai memainkan payudaraku. “Jangan…, jangan…,
acch…, acch…”, aku berusaha menolak namun tak kuasa. Tangannya mulai menyingkap
menembus ke kaos Snoopy yang kupakai. Jari-jemarinya menari-nari di atas perut, dan
meluncur ke BH. Terampil jemarinya menerobos sela-sela BH dan menggelitik putingku.
Saat itu aku benar-benar panas dingin, napasku memburu, suaraku rasanya hanya bisa
berucap dan mendesis-desis “ss…, ss…”,. Tarian jemarinya membuatku terasa limbung,
ketika dia memaksaku melepas baju, aku pun tak kuasa. Nyaris tubuhku kini tanpa busana.
Hanya CD saja yang masih terpasang rapi. Kak Agun kembali beraksi, ciumannya semakin
liar, dan jemarinya, telapak tangannya mengguncang-guncang payudaraku, aku benar-benar
sudah hanyut. Aku mendesis-desis merasakan sesuatu yang nikmat. Aku mulai berani
menjepit badannya dengan kakiku. Namun malahan membuatnya semakin liar. Tangan Kak
Agun menelusup ke CD-ku.
Aku menjerit, “Jangan…, jangan…”, aku berusaha menarik diri. Tapi Kak Agun lebih kuat.
Gesekan tangannya mengoyak-koyak helaian rambut kemaluanku yang tidak terlalu lebat.
Dan tiba aku merasa nyaris terguncang, ketika dia menyentuh sesesuatu di “milikku”. Aku
menggelinjang dan menahan napas, “Kak Agun…, ohh.., oh…”, aku benar-benar dibuatnya
berputar-putar. Jemarinya memainkkan clit-ku. Diusap-usap, digesek-gesek dan akhirnya aku
ditelanjangi. Aku hanya bisa pasrah saja. Tapi aku kaget ketika tiba-tiba dia berdiri dan
penisnya telah berdiri tegang. Aku ngeri, dan takut. Permainan pun dilanjutkan lagi, saat itu
aku benar-benar sudah tidak kuasa lagi, aku pasrah saja, aku benar-benar tidak membalas
namun aku menikmatinya. Aku memang belum pernah merasakannya walau sebenarnya
takut dan malu.
Tiba-tiba aku kaget ketika ada “sesuatu” yang mengganjal menusuk-nusuk milikku, “Uch…,
uch…”, aku menjerit.
“Kak Agun, Jangan…, ach…, ch…, ss…, jangan”.
Ketika dia membuka lebar-lebar kakiku dia memaksakan miliknya dimasukkan. “Auuchh…”,
aku menjerit.
“Achh!”, Terasa dunia ini berputar saking sakitnya. Aku benar-benar sakit, dan aku bisa
merasakan ada sesuatu di dalam. Sesaat diam dan ketika mulai dinaik-turunkan aku menjerit
lagi, “Auchh…, auchh…”. Walaupun rasanya (katanya) nikmat saat itu aku merasa sakit
sekali. Kak Agun secara perlahan menarik “miliknya” keluar. Kemudian dia mengocok dan
memuntahkan cairan putih.
Saat itu aku hanya terdiam dan termangu, setelah menikmati cumbuan aku merasakan sakit
yang luar biasa. Betapa kagetnya aku ketika aku melihat sprei terbercak darah. Aku meringis
dan menangis sesenggukan. Saat itu Kak Agun memelukku dan menghiburku, “Sudahlah Alit
jangan menangis, hadiah ini akan menjadi kenang-kenangan buat kamu. Sebenarnya aku
sayang sama kamu”.
Saat itu aku memang masih polos, masih SMP, namun pengetahuan seksku masih minim.
Aku menikmati saja tapi ketika melihat darah kegadisanku di atas sprei, aku jadi bingung,
takut, malu dan sedih. Aku sebenarnya sayang sama Kak Agun tapi…, (Ternyata akhirnya dia
kawin dengan cewek lain karena “kecelakaan”). Sejak itu aku jadi benci…, benci…,
bencii…, sama dia.
Kenikmatan Gadis Belia
Pada tahun 1994 saya tercatat sebagai siswa baru pada SMUN 2 pada waktu itu sebagai siswa
baru, yah.. acara sekolahan biasa saja masuk pagi pulang sekitar jam 14:00 sampai pada
akhirnya saya dikenalkan oleh teman seorang gadis yang ternyata gadis itu sekolah juga di
dekat sekolah saya yaitu di SMPN 3.
Ketika kami saling menjabat tangan, gadis itu masih agak malu-malu, saya lihat juga gadis itu
tingginya hanya sekitar 158 cm dan mempunyai dada yang memang kelihatan lebih besar dari
anak seumurnya sekitar 34B (kalau tidak salah umurnya 14 tahun), mempunyai wajah yang
manis banget dan kulit walaupun tidak terlalu putih tapi sangat mulus, (sekedar info tinggi
saya 165 cm dan umur waktu itu 16 tahun), saya berkata siapa namamu?, dia jawab L—-
(edited), setelah berkenalan akhirnya kami saling memberikan nomor telepon masing-masing,
besoknya setelah saling telepon dan berkenalan akhirnya kami berdua janjian keluar besok
harinya jalan pertama sekaligus cinta pertama saya membuat saya deg-degan tetapi namanya
lelaki yah…, jalan terus dong.
Akhirnya malam harinya sekitar jam 19.00 saya telah berdiri didepan rumahnya sambil
mengetuk pagarnya tidak lama setelah itu L—-muncul dari balik pintu sambil tersenyum
manis sekali dia mengenakan kaos ketat dan rok yang kira-kira panjangnya hampir mencapai
lutut berwarna hitam.
Saya tanya, “Mana ortu kamu…”, dia bilang kalau di rumah itu dia cuma tinggal bersama
papanya dan pembantu, sedangkan kalau kakaknya dan mamanya di kota lain.
“Oohh jawab saya,” saya tanya lagi “Terus Papa kamu mana?” dia jawab kalau Papa lagi
keluar ada rapat lain di hotel (papanya seorang pejabat kira-kira setingkat dengan wagub) jadi
saat itu juga kami langsung jalan naik motorku dan tanpa disuruhpun dia langsung memeluk
dari belakang, penis saya selama jalan-jalan langsung tegang, habis dada dia begitu kenyal
terasa di belakangku seakan-akan memijit-mijit belakangku (motor waktu itu sangat
mendukung, yaitu RGR).
Setelah keliling kota dan singgah makan di tempat makan kami langsung pulang ke
rumahnya setelah tiba saya lihat rumahnya masih sepi mobil papanya belum datang.
Tiba-tiba dia bilang “Masuk yuk!., Papa saya kayaknya belum datang”. Akhirnya setelah
menaruh motor saya langsung mengikutinya dari belakang saya langsung melihat pantatnya
yang lenggak-lenggok berjalan di depanku, saya lihat jam ternyata sudah pukul 21.30, setiba
di dalam rumahnya saya lihat tidak ada orang saya bilang “Pembantu kamu mana?”, dia
bilang kalau kamar pembantu itu terpisah dari bangunan utama rumah ini agak jauh ke
belakang.
“oohh…”, jawab saya.
Saya tanya lagi, “jadi kalau sudah bukakan kamu pintu pembantu kamu langsung pergi ke
belakang?”, dia jawab iya.
“Terus Papa kamu yang bukain siapa…”
“saya…” jawabnya.
“Kira-kira Papa kamu pulang jam berapa sih…”, tanya saya. Dia bilang paling cepat juga jam
24.00. (Langsung saja pikiranku ngeres banget)
Saya tanya lagi “Kamu memang mau jadi pacar saya…”.
Dia bilang “Iya…”.
Lalu saya bilang, “kalau gitu sini dong dekat-dekat saya…”, belum sampai pantatnya duduk
di kursi sebelahku, langsung saya tarik ke dalam pelukanku dan mengulum bibirnya, dia
kaget sekali tapi belum sampai ngomong apa-apa tanganku langsung memegang payudaranya
yang benar-benar besar itu sambil saya remas-remas dengan kuat sekali (habis sudah kebelet)
diapun mengeluh “Ohh.., oohh sakit”. katanya.
Saya langsung mengulum telinganya sambil berbisik, “Tahan sedikit yah…”, dia cuma
mengangguk. Payudaranya saya remas dengan kedua tanganku sambil bibir saya jilati
lehernya, kemudian pindah ke bibirnya langsung saya lumat-lumat bibirnya yang agak seksi
itu, kamipun berpagutan saling membenamkan lidah kami masing-masing. Penis saya
langsung saya rasakan menegang dengan kerasnya. Saya mengambil tangan kirinya dan
menuntun memegang penisku dibalik celana saya, dia cuma menurut saja, lalu saya suruh
untuk meremasnya. Begitu dia remas, saya langsung mengeluh panjang, “Uuhh…, nikmat
sayang”, kata saya.
“Teruss…”, dengan agak keras kedua tanganku langsung mengangkat kaos yang dia kenakan
dan membenamkan muka saya di antara payudaranya, tapi masih terhalang BH-nya saya jilati
payudaranya sambil saya gigit-gigit kecil di sekitar payudaranya, “aahh…, aahh”. Diapun
mendesis panjang tanpa melepas BH-nya saya langsung mengangkat BH-nya sehingga BH-
nya berada di atas payudaranya, sungguh pemandangan yang amat menakjubkan, dia
mempunyai payudara yang besar dan puting yang berwarna kemerahan dan menjulang keluar
kira-kira 1/2 cm dan keras, (selama saya main cewek baruku tahu sekarang bahwa tidak
semua perempuan nanti menyusui baru keluar putingnya). Saya jilat kedua payudaranya
sambil saya gigit dengan keras putingnya. Dia pun mengeluh sambil sedikit marah. “Aahh…,
sakkiitt…”, tapi saya tidak ambil pusing tetap saya gigit dengan keras. Akhirnya diapun
langsung berdiri sambil sedikit melotot kepadaku.
Sekarang payudara dia berada tepat di depan wajah saya. Sambil saya memandangi wajahnya
yang sedikit marah, kedua tanganku langsung meremas kedua payudaranya dengan lembut.
Diapun kembali mendesis, “Ahh…, aahh…”, kemudian saya tarik payudaranya dekat ke
wajah saya sambil saya gigit pelan-pelan. Diapun memeluk kepala saya tapi tangannya saya
tepiskan. Sekelebat mata saya menangkap bahwa pintu ruang tamunya belum tertutup saya
pun menyuruh dia untuk penutup pintunya, dia pun mengangguk sambil berjalan kecil dia
pergi menutup pintu dengan mengendap-endap karena bajunya tetap terangkat sambil
memperlihatkan kedua bukit kembarnya yang bikin hati siapa saja akan lemas melihat
payudara yang seperti itu.
Setelah mengunci pintu dia pun kembali berjalan menuju saya. Saya pun langsung
menyambutnya dengan memegang kembali kedua payudaranya dengan kedua tangan saya
tapi tetap dalam keadaan berdiri saya jilati kembali payudaranya. Setelah puas mulut saya
pun turun ke perutnya dan tangan saya pelan-pelan saya turunkan menuju liang senggamanya
sambil terus menjilati perutnya sesekali mengisap puting payudaranya. Tangan sayapun
menggosok-gosok selangkangannya langsung saya angkat pelan-pelan rok yang dia kenakan
terlihatlah pahanya yang mulus sekali dan CD-nya yang berwarna putih saya remas-remas
liang kewanitaannya dengan terburu buru, dia pun makin keras mendesis, “aahh…, aakkhh…
ohh…, nikmat sekali…”, dengan pelan-pelan saya turunkan cdnya sambil saya tunggu
reaksinya tetapi ternyata dia cuma diam saja, (tiba-tiba di kepala muncul tanda setan).
Terlihatnya liang kewanitaannya yang ditumbuhi bulu-bulu tapi sangat sedikit. Sayapun
menjilatinya dengan penuh nafsu, diapun makin berteriak, “Aakkhh…, akkhh…, lagi…,
lagii..”.
Setelah puas sayapun menyuruhnya duduk di lantai sambil saya membuka kancing celanaku
dan saya turunkan sampai lutut terlihatlah CD-ku, saya tuntun tangannya untuk mengelus
penis saya yang sudah sangat tegang sehingga sepertinya mau loncat dari CD-ku. Diapun
mengelusnya terus mulai memegang penis saya. Saya turunkan CD-ku maka penis saya
langsung berkelebat keluar hampir mengenai mukanya. Diapun kaget sambil melotot melihat
penis saya yang mempunyai ukuran lumayan besar (diameter 3 cm dan panjang kira-kira 15
cm) saya menyuruhnya untuk melepas kaos yang dia kenakan dan roknya juga seperti
dipangut dia menurut saja apa yang saya suruh lakukan. Dengan terburu-buru saya pun
melepas semua baju saya dan celana saya kemudian karena dia duduk dilantai sedangkan
saya dikursi, saya tuntun penis saya ke wajahnya dia pun cuma melihatnya saja. Saya suruh
untuk membuka mulutnya tapi kayaknya dia ragu-ragu.
Setengah memaksa, saya tarik kepalanya akhirnya penisku masuk juga kedalam mulutnya
dengan perlahan dia mulai menjilati penis saya, langsung saya teriak pelan, “Aakkhh…,
aakkhh…”, sambil ikut membantu dia memaju-mundurkan penis saya di dalam mulutnya.
“aakk…, akk…, nikmat sayyaangg…”. Setelah agak lama akhirnya saya suruh berdiri dan
melepaskan CD-nya tapi muncul keraguan di wajahnya sedikit gombal akhirnya CD dan BH-
nya dia lepaskan juga maka telanjang bulatlah dia depanku sambil berdiri. Sayapun tak mau
ketinggalan saya langsung berdiri dan langsung melepas CD-ya. Saya langsung menubruknya
sambil menjilati wajahnya dan tangan saya meremas-remas kedua payudaranya yang
putingnya sudah semakin tegang, diapun mendesis, “Aahh…, aahh…, aahh…, aahh”,
sewaktu tangan kananku saya turunkan ke liang kemaluannya dan memainkan jari-jariku di
sana.
Setelah agak lama baru saya sadar bahwa jari saya telah basah. Saya pun menyuruhnya untuk
membelakangiku dan saya siapkan penis saya. Saya genggam penis saya menuju liang
senggamanya dari belakang. Saya sodok pelan-pelan tapi tidak maumasuk-masuk saya sodok
lagi terus hingga dia pun terdorong ke tembok tangannyapun berpangku pada tembok sambil
mendengar dia mendesis, “Aahh…, ssaayaa..,. ssaayaangg…, kaammuu…”, sayapun terus
menyodok dari belakang. Mungkin karena kering penis saya nggak mau masuk-masuk juga
saya angkat penis saya lalu saya ludahi tangan saya banyak-banyak dan saya oleskan pada
kepala penissaya dan batangnya dia cuma memperhatikan dengan mata sayu setelah itu. Saya
genggam penis saya menuju liang senggamanya kembali. Pelan-pelan saya cari dulu
lubangnya begitu saya sentuh lubang kemaluannya dia pun langsung mendesis kembali,
“Ahh…, aahh…”, saya tuntun penis saya menuju lubang senggamanya itu tapi saya rasakan
baru masuk kepalanya saja diapun langsung menegang tapi saya sudah tidak peduli lagi.
Dengan satu hentakan yang keras saya sodok kuat-kuat lalu saya rasa penis saya seperti
menyobek sesuatu maka langsung saja dia berontak sambil berteriak setengah menangis,
“Ssaakkiitt…”. Saya rasakan penis saya sepertinya dijepit oleh dia keras sekali hingga
kejantanan saya terasa seperti lecet di dalam kewanitaannya. Saya lalu bertahan dalam posisi
saya dan mulai kembali menyiuminya sambil berkata “Tahann.. sayang… cuman sebentar
kok…”
Saya memegang kembali payudaranya dari belakang sambil saya remas-remas secara
perlahan dan mulut saya menjilati belakangnya lalu lehernya telinganya dan semua yang bisa
dijangkau oleh mulut saya agak lama. Kemudian dia mulai mendesis kembali menikmati
ciuman saya dibadan dan remasan tangan saya di payudaranya, “Ahh…, aahh…, ahh…,
kamu sayang sama lakukan?” dia berkata sambil melihat kepada saya dengan wajah yang
penuh pengharapan. Saya cuma menganggukkan kepala padahal saya lagi sedang menikmati
penis saya di dalam liang kewanitaannya yang sangat nikmat sekali seakan-akan saya lagi
berada di suatu tempat yang dinamakan surga. “Enak sayang?”, kataku. Dia cuma
mengangguk pelan sambil tetap mengeluarkan suara-suara kenikmatan, “Aahh…, aahh…”
lalu saya mulai bekerja, saya tarik pelan-pelan penis saya lalu saya majukan lagi tarik lagi
majukan lagi dia pun makin keras mendesis, “Aahh…, ahh…, ahhkkhh…” akhirnya ketika
saya rasakan bahwa dia sudah tidak kesakitan lagi saya pun mengeluar-masukkan penis saya
dengan cepat dia pun semakin melenguh menikmati semua yang saya perbuat pada dirinya
sambil terus-meremas payudaranya yang besar itu. Dia teriak “Sayaa mauu keeluuarr…”.
Sayapun berkata “aahhkkssaayyaanggkkuu…”, saya langsung saja sodok dengan lebih keras
lagi sampai-sampai saya rasakan menyentuh dasar dari liang senggamanya tapi saya benar-
benar kesetanan tidak peduli lagi dengan suara-suara, “Ahh…, aahh…, ahh…, akkhh…,
akkhh…, truss” langsung dia bilang “Sayyaa kkeelluuaarr…, akkhh…, akhh…”, tiba-tiba dia
mau jatuh tapi saya tahan dengan tangan saya. Saya pegangi pinggulnya dengan kedua tangan
saya sambil saya kocok penis saya lebih cepat lagi, “Akkhh…, akkhh…, ssaayyaa mauu…,
kkeelluuaarr…, akkhh…”, pegangan saya di pinggulnya saya lepaskan dan langsung saja dia
terjatuh terkulai lemas.
Dari penis saya menyemprotlah air mani sebanyak-banyaknya, “Ccroott…, croott..,
ccrroott…, akkhh…, akkhh…”, saya melihat air mani saya membasahi sebagian tubuhnya
dan rambutnya, “Akhh…, thanks sayangkuu…”, sambil berjongkok saya cium pipinya
sambil saya suruh jilat lagi penisku. Diapun menjilatinya sampai bersih. Setelah itu saya
bilang pakai pakaian kamu dengan malas dia berdiri mengambil bajunya dan memakainya
kembali.
Setelah kami berdua selesai saya mengecup bibirnya sambil berkata, “Saya pulang dulu yah
sampai besok sayang…!”. Dia cuma mengangguk tidak berkata-kata lagi mungkin lemas
mungkin nyesal tidak tahu ahh. Saya lihat jam saya sudah menunjukkan jam 23.35, saya
pulang dengan sejuta kenikmatan.
Kisah Audisi Bintang Baru
Jun. 25th, 2010 by admin
Cerita Dewasa.Nama gadis itu sebut saja alyssa, usianya baru 19 tahun, prestasinya banyak,
tinggi, dan kecantikannya merupakan kecantikan khas indonesia. sayang sekali, ia tergiur
untuk menjadi bintang terkenal, sperti dinni aminarti , mas ayu anastasia, ririn dwi ,
diansastro dan lain lain. Alyssa pergi ke jakarta dan berusaha mencari jalan menuju sukses,
dan sungguh disayangkan ia menemukan jalan yang salah.
Alyssa harus bersedia ditiduri dulu oleh beberapa orang staf sebuah rumah produksi ternama
di indonesia , baru akhirnya ia dipertemukan dengan boss, rumah produksi itu.
kini sebelum namanya akan diekspos oleh rumah produksi itu, alyssa harus bermain di
sebuah film pendek , yg katanya adalah “film audisi”…….namun dari rumor yg berkembang
film ini adalah sebuah film semi porn yg sengaja dibuat untuk koleksi si boss rumah produksi
tersebut.hmmmmm..its just a rumor
Alyssa tak punya pilihan lain,sesuai perjanjian ia memang harus menjalani “film audisi” atau
harus mengganti semua pengeluaran plus 90% nilai kontrak…..masalahnya alyssa belum tahu
apa itu”fim audisi’sampai ia terjebak disini. terlanjur basah maka ya sudah basah sekalian.
perlahan alyssa melangkah menuju ruang ganti. baju yg harus ia pakai nyaris tidak menutupi
tubuhnya, bawahannya sangat pendek , sehingga kaki mulus alyssa terlihat jelas dan
pantatnya pun cukup terlihat.
sementara atasannya adalah sebuah baju backless dengan tali yg diikatkan dibelakang leher,
potongan lehernya sangat rendah, sehingga buah dadanya nyaris tak tertutupi.
jika alyssa membungkuk maka pantat dan buah dadanya akan terlihat jelas.
Fim ini katanya ceritanya adalah kisah cinta. saat alyysa keluar ruang ganti, mata lelaki di
ruangan itu terbeliak penuh nafsu. Ada kurang lebih duapuluh orang laki laki di ruangan itu
dari mulai tukang lampu sampai sutradara, alyssa adalah satu satunya perempuan di lokasi
tersebut.
sutradara memanggil pemain prianya, alyssa mengenalinya sebagai hengky, ia memang salah
satu anak emas rumah produksi ini.
ketika sutradara berteriak action, hengky kemudian merangkul alyssa, dia terlihat sudah
sangat berpengalaman. Ekspressi hengky terlihat cerah ceria dan merangkul tubuh molek itu
semakin erat, alyssa bisa merasakan sesuatu yg keras dibawah menyentuhnya.
Adegan terus berlanjutnya, alyssa dan hengky berciuman beberapa kali, dan terkadang
hengky mencium bagian atas dada alyssa.
sang sutradara mengamati adgean demi adegan dengan nafsu tertahan, sebenarnya ia ingin
sekali meniduri bintang baru ini , namun produser dan pemilik rumah produksi dengan tegas
melarangnya. meski demikian ia terus mencari cara untuk menikmati gadis itu.
“cut!!” sutradara berteriak, ” kamu lagi meluk pacar kamu apa adik kamu….” sutradara
memarahi hengky.
“sini saya tunjukin caranya…” kata sutradara. ia menghampiri alyssa memeluknya dengan
erat, kedua tangannya langsung meremas kedua bulatan pantat alyssa, senyum kemenangan
menghiasi wajahnya, alyssa tak berbuat apa apa hanya diam.
kemudian sang sutradara mencium bibir alyssa dengan penuh nafsu sambil meremas buah
dada gadis itu.
“gitu caranya, nanti kamu bawa dia ke tempat tidur untuk love scene…..nah ekspressinya
harus dapet…ngerti..? biar dapet ekspresi,,..kamu harus rangsang dia dari awal ngerti…?”
sutradara memberi arahan pada hengky.
adegan dilanjutkan , kini hengky menciumi alyssa denagn penuh nafsu , bahkan ia menyibak
pakaian atas alyssa dan menciumi buah dada gadis itu , tak ada protes dari sutradara.
saat akan masuk adegan love scene , alyssa mengatakan ia malu kalau harus beradegan
seperti itu dihadapan banyak orang, ia meminta agar orang yg tidak berkepentingan untuk
tidak ada di lokasi.
permintaan alyssa disetujui sutradara, maka ia menyuruh orang lain keluar kecuali
kameramen dan tukang lampu , sisa crew yang lain keluar dengan menggerutu.
Adegan kembali berlanjut, alyssa terbaring di tempat tidur dengan tubuh hengky diatasnya.
dan mulai menciumi dan meremas buah dada alyssa, ia kemudian mengangkat rok alyssa ke
atas , melebarkan kaki gadis itu dan dengan satu tangan membuka celananya sendiri,
mengeluarkan penisnya dan menggosok gosokannya di paha dalam alyssa.
Alyssa protes dengan adegan ini, namun dengan tenang hengky mengatakan itu arahan dari
sutradara.
Alyssa pun protes pada sutradara, namun sutradara berdalih ini dilakukan agar mendapatkan
ekspresi orang yang sedang bercinta dan penuh birahi , dia jg mengatakan pada alyssa bahwa
yg akan direkam kamera hanya wajahnya saja, demi mendapat eskpresi birahi.
alyssa sempat menolak adegan ini , namun sutradarakembali mengingatkan akan surat
perjanjian dan kontrak kerja , serta akan sia sianya pengorbanan alyssa selama ini.
alyssa tak bisa bicara apa apa lagi, ia hanya kembali berbaring di tempat tidur bersiap
melanjutkan adegan tadi.
adegan diulang , hengky menciumi dan meremas buah dada alyssa, mengangkat rok alyssa ke
atas dan menggosok gosok penisnya di paha bagian dalam alyssa.
ternyata setelah bebrapa lama, hengky kemudian menurunkan celana dalam alyssa dan
langsung mengarahkan penisnya ke bibir vagina alyssa.
alyssa memandang sutradara tanda ia keberatan dengan adegan ini , namun sutradara hanya
mengangguk pelan dan tidak mengatakan apa apa.
alyssa berpikir bagaimana mungkin adegan seperti ini bisa lulus sensor, walaupun katanya yg
di rekam hanya bagian atas terutama ekspresi ( alyssa baru tahu di kemudian hari apa tujuan
shooting film ini )
hengky kini mulai memompa tubuh alyssa, dan gadis itu pun sebenarnya mulai terangsang
dan menikmati semua ini, ia menggoyangkan pantatnya seirama dengan pompaan hengky.
pakian atas alyssa kemudian dibuka dan hengky mulai menyedoyt nyedot buah dada alyssa.
sutradara memerintahkan dua orang untuk melepas pakaian hengky , hingga kini hengky dan
alyssa telanjang bulat di ranjang dan sutradara terus merekam setiap detail adegan percintaan
itu.
geraman keras hengky dan semburan di vagina alyssa menandakan pria itu sudah orgasme,
dan tak berapa lama giliran alyssa yg orgasme.
sutradara pun menutup adegan itu, dan alyssa kemudian diberi selamat oleh semua orang yg
ada disana , bahwa ia telah menyelesaikn adegan dengan baik.
alyssa kemudian pergi ke toilet untuk membersihkan diri , dan ketika kembali ia melihat
seorang lelaki muda yang tampan sedang berbicara dengan sutradara, dia adalah produser di
rumah produksi ini , namanya resha atau reza kalo tak salah. sang sutradra ternyata sedang
memuji muji alyssa dihadapan resha.
produser itupun kemudian menjajikan akan mengorbitkan alyssa menjadi superstar baru
indonesia, ia pun memberikan undangan bagi alyssa untuk bertemu dengan beberapa
eksekutif rumah produksi ini jam stengah delapan malam.
setengah delapan malam , alyssa tiba di rumah resha, ia disambut sang sutradara dan
membawanya ke dalam , ternyata di dalam sudah menunggu ramesh dan punjabb, dua orang
pemilik production house ini sedang menikmati minuman.
Mereka semua terlihat senang dan gembira melihat kedatangan alyssa dan menaymbutnya
dengan hangat.
mereka pun duduk dan kemudian terlihat serius membicarakan karir alyssa di masa depan.
setelah beberapa lama , resha kemudian meminta alyssa memakai pakaian yg dipakainya saat
shooting tadi, dengan alasan untuk lebih meyakinkan ramesh dan punjabb.
alyssa pun stuju dan segera masuk ke ruang ganti , sebelum masuk ke ruang ganti , resha
mengingatkan agar tidak memakai apa apa lagi dibalik pakaian itu. tak ada waktu untuk
menolak, alyssa setuju saja demi karirnya.
Sesaat stelah alyssa masuk dengan pakaian tadi, seluruh pria diruangan itu berdiri dan
bertepuk tangan, mengagumi kecantikan dan kemolekan tubuh alyssa.
namun demikian alyssa merasa rikuh dengan pakaian ini, terutama pada resha yg duduk
didepannya, pasti ia bisa melihat jelas, dengan putus asa alyssa melipat kaki dan terus
menarik narik rok pendek itu ke bawah , seolah akan bisa menutupi pahanya.
tugas alyssa berikutnya adalah menari dengan pakaian itu.
alyssa pun mencoba menari dengan musik yg dipasang oleh resha, saat alyssa melakukan
gerakan memutar, rok pendeknya akan terangkat , menampilkan pantat dan vaginanya yg tak
tertutup.
tak berapa lama resha ikut bergabung menari denga alyssa , ia bahkan sempat mencium bibir
alyssa, membuatnya merasa malu.
perlahan resha mengajak alyssa ke sofa dan mendudukan gadis itu di pangkuannya.
resha kembali sibuk mencium bibir gadis itu, sementara tangannya beraksi meremas buah
dada gadis itu, jari yang lain bermain main di vaginanya.
ketika ramesh, punjabb dan sutradara kemudian pergi meninggalkan ruangan, alyssa merasa
lega, dan kemudian iapun membalas ciuman resha dengan lebih panas.
pakaian atas alyssa dilepas oleh resha, kini ia leluasa meremasi buah dada ranum itu,
smentara alyssa membalsnya dengan membuka kancing dan sleting celana resha dan
mengeluarkan penis yg sudah menegang itu.
tiba tiba alyssa merasa pundaknya di sentuh seseorang, saat menoleh alyssa terkejut dan
panik melihat ketiga orang tadi tealh kembali dan semuanya telanjang bulat.
alyssa mencoba bangkit namun resha menahannya, sang sutradara alias jati , kemudian
menarik kepala alyssa dan dengan kasar mencoba memasukan penisnya ke mulut gadis itu.
saat penis itu masuk ke mulutnya, alyssa sedikit tersiksa dan tersedak karena panis itu
mencapai tenggorknnya.
resha mengingatkan untuk tidak melawan atau ia akan mengalami hal yang lebih
menyakitkan.
alyssa menyerah dan mulai mengulum penis jati.
kemudian resha berdiri dan melepaskan sisa pakaian yang masih melekat di alyssa, dan
menyuruh gadis itu unutk berbaring di karpet.
resha membuka lebar kaki alyssa dan kemudian mengarahkan penisnya ke vagina gadis itu,
dan mulai memompanya.
penis resha terasa sempit di jepitan vagina alyssa.
ramesh tak mau tinggal diam, ia meyuruh alyssa membuka mulutnya dan ia pun memasukan
penis besarnya ke mulut mungil gadis cantik itu. dua orang yg lain sibuk bermain main
dengan buah dada alyssa, sambil penisnya digenggam oleh tangan alyssa.
setelah beberapa lama , mereka berganti posisi, kini giliran jati yang menindih alyssa, agak
sedikit repot karena tubuh jati lumyan gendut.
setelah ramesh , giliran punjabb yang menindih tubuh alyssa dan memompanya dengan kasar.
sementara alyssa sendiri tak dapat berdiam, mulutnya masih mengulum penis resha, dan
kedua tangannya sibuk mengocok penis jati dan ramesh. dan dalam periode itu alyssa sudah
beberapa kali orgasme.
kemudian resha menyuruh semuanya berhenti sejenak memberi nafas bagi alyssa.
namun sayang , adegan berikutnya malah lebih menyakitkan bagi alyssa, saat penisnya
ditembus oleh jati, pantatnya pun tiba tiba berusaha ditembus oleh resha.
hal itu sangat menyakitkan bagi alyssa, ia memohon dan menangis namun tak diindahkan.
pantat alyssa terasa panas seaakan terbakar, dan ia tak mampu bertahan lebih lama lagi , ia
menangis dan meronta ronta berusaha mlepaskan diri.
kedua orang itu menahan kuat alyssa, bahkan saat tangisan alyssa makin keras , jati
menampar pipi gadis itu mneuruhnya berhenti menangis.
seakan siksaan alyssa belum cukup , ramesh malah menyodorkan penisnya ke mulut alyssa ,
namun hanya sesaat , ia pun menarik penisnya kembali.
kini posisi alyssa bagai sebuah sandwich, dengan jati di depan dan resha dibelakang.
ramesh berusaha mencari hiburan dengan meremas buah dada alyssa dan menyuruh alyssa
untuk mengocok penisnya.
akhirnya jati hampir mencapai orgasme, ia menyuruh alyssa membuka mulut dan ia pun
menyemburkan spermanya di mulut gadis itu, tak lama disusul oleh resha yg juga
menyemburkan spermanya di mulut alyssa.
masih belum cukup mereka masih menyuruh alyssa mengocok ngocok semua penis pria yg
ada disana, dan kemudian menyemburkannya ke seluruh tubuh alyssa, dan wajahnya,
sehingga seolah ia bermandikan sperma.
alyssa akhirnya merasa tenang, karena semuanya sudah terpuaskan, ia pun terbarin di karpet
dengan menarik nafas panjang.
sayang sekali, ternyata ini bukan akhirnya,,,karena ternyata punjabb mengundang beberapa
teman bisnisnya malam itu untuk juga menikmati tubuh bintang baru ini.
melihat ada lagi yang datang, alyssa menangis dan memohon , karena ia sudah tak sanggup
lagi menghadapainya, namun tak ada yang peduli.
terpaksa…sangat terpaksa alyssa harus melayani nafsu ketujuh pria itu. sekarang malah
terlihat seperti pemerkosaan massal, saat alyssa hanya satu satunya perempuan yg harus
menjadi object seksual.
semalam suntuk, mereka berganti posisi dan gaya , menyetubuhi gadis cantik ini.
hingga akhirnya mereka semua terpuaskan, alyssa tak bisa bangun dan hanya terbaring lemah
di karpet di kelilingi boss boss dunia hiburan, yang ternyata tak segmerlap kelihatnnya.
alyssa pun jatuh tertidur.
pagi hari , seluruh tubuh alyssa terasa sakit, ia bhakan tak mampu untuk bangun.
orang orang itu ternyata punya rasa iba juga, mereka membawa alyssa ke kamar mandi ,
memandikannya dan memakaikannya pakaian, lalu menagntar pulang.
alyssa akhirnya sesuai janji diorbitkan menjadi seorang bintang muda “berbakat” , rumah
produksi mengeksposnya secara besar besaran agar namanya cepat meroket, berbagai gosip
dirancang agar namanya tetap beredar di masyarakt.
tapi di balik layar , alyssa masih harus menjadi budak seks para petinggi rumah produksi itu,
meski pun mereka tidak lagi memakai alyssa secara massal , namun alyssa harus selalu
menuruti panggilan panggilan mereka swaktu waktu.
alyssa sudah melihat contoh para artis yg menolak “bekerja sama” , mereka tiba tiba didera
gosip yg tidak mengenakkan, tidak lagi dilibatkan dalam produksi, dan yang lebih parah,
adegan bugil bahkan seksnya bisa saja beredar di kalangan luas terutama di internet
Kisah Audisi Bintang Baru
Friday, June 25th, 2010

Cerita Dewasa.Nama gadis itu sebut saja alyssa, usianya baru 19 tahun, prestasinya banyak,
tinggi, dan kecantikannya merupakan kecantikan khas indonesia. sayang sekali, ia tergiur
untuk menjadi bintang terkenal, sperti dinni aminarti , mas ayu anastasia, ririn dwi ,
diansastro dan lain lain. Alyssa pergi ke jakarta dan berusaha mencari jalan menuju sukses,
dan sungguh disayangkan ia menemukan jalan yang salah.
Alyssa harus bersedia ditiduri dulu oleh beberapa orang staf sebuah rumah produksi ternama
di indonesia , baru akhirnya ia dipertemukan dengan boss, rumah produksi itu.
kini sebelum namanya akan diekspos oleh rumah produksi itu, alyssa harus bermain di
sebuah film pendek , yg katanya adalah “film audisi”…….namun dari rumor yg berkembang
film ini adalah sebuah film semi porn yg sengaja dibuat untuk koleksi si boss rumah produksi
tersebut.hmmmmm..its just a rumor
Alyssa tak punya pilihan lain,sesuai perjanjian ia memang harus menjalani “film audisi” atau
harus mengganti semua pengeluaran plus 90% nilai kontrak…..masalahnya alyssa belum tahu
apa itu”fim audisi’sampai ia terjebak disini. terlanjur basah maka ya sudah basah sekalian.
perlahan alyssa melangkah menuju ruang ganti. baju yg harus ia pakai nyaris tidak menutupi
tubuhnya, bawahannya sangat pendek , sehingga kaki mulus alyssa terlihat jelas dan
pantatnya pun cukup terlihat.
sementara atasannya adalah sebuah baju backless dengan tali yg diikatkan dibelakang leher,
potongan lehernya sangat rendah, sehingga buah dadanya nyaris tak tertutupi.
jika alyssa membungkuk maka pantat dan buah dadanya akan terlihat jelas.
Fim ini katanya ceritanya adalah kisah cinta. saat alyysa keluar ruang ganti, mata lelaki di
ruangan itu terbeliak penuh nafsu. Ada kurang lebih duapuluh orang laki laki di ruangan itu
dari mulai tukang lampu sampai sutradara, alyssa adalah satu satunya perempuan di lokasi
tersebut.
sutradara memanggil pemain prianya, alyssa mengenalinya sebagai hengky, ia memang salah
satu anak emas rumah produksi ini.
ketika sutradara berteriak action, hengky kemudian merangkul alyssa, dia terlihat sudah
sangat berpengalaman. Ekspressi hengky terlihat cerah ceria dan merangkul tubuh molek itu
semakin erat, alyssa bisa merasakan sesuatu yg keras dibawah menyentuhnya.
Adegan terus berlanjutnya, alyssa dan hengky berciuman beberapa kali, dan terkadang
hengky mencium bagian atas dada alyssa.
sang sutradara mengamati adgean demi adegan dengan nafsu tertahan, sebenarnya ia ingin
sekali meniduri bintang baru ini , namun produser dan pemilik rumah produksi dengan tegas
melarangnya. meski demikian ia terus mencari cara untuk menikmati gadis itu.
“cut!!” sutradara berteriak, ” kamu lagi meluk pacar kamu apa adik kamu….” sutradara
memarahi hengky.
“sini saya tunjukin caranya…” kata sutradara. ia menghampiri alyssa memeluknya dengan
erat, kedua tangannya langsung meremas kedua bulatan pantat alyssa, senyum kemenangan
menghiasi wajahnya, alyssa tak berbuat apa apa hanya diam.
kemudian sang sutradara mencium bibir alyssa dengan penuh nafsu sambil meremas buah
dada gadis itu.
“gitu caranya, nanti kamu bawa dia ke tempat tidur untuk love scene…..nah ekspressinya
harus dapet…ngerti..? biar dapet ekspresi,,..kamu harus rangsang dia dari awal ngerti…?”
sutradara memberi arahan pada hengky.
adegan dilanjutkan , kini hengky menciumi alyssa denagn penuh nafsu , bahkan ia menyibak
pakaian atas alyssa dan menciumi buah dada gadis itu , tak ada protes dari sutradara.
saat akan masuk adegan love scene , alyssa mengatakan ia malu kalau harus beradegan
seperti itu dihadapan banyak orang, ia meminta agar orang yg tidak berkepentingan untuk
tidak ada di lokasi.
permintaan alyssa disetujui sutradara, maka ia menyuruh orang lain keluar kecuali
kameramen dan tukang lampu , sisa crew yang lain keluar dengan menggerutu.
Adegan kembali berlanjut, alyssa terbaring di tempat tidur dengan tubuh hengky diatasnya.
dan mulai menciumi dan meremas buah dada alyssa, ia kemudian mengangkat rok alyssa ke
atas , melebarkan kaki gadis itu dan dengan satu tangan membuka celananya sendiri,
mengeluarkan penisnya dan menggosok gosokannya di paha dalam alyssa.
Alyssa protes dengan adegan ini, namun dengan tenang hengky mengatakan itu arahan dari
sutradara.
Alyssa pun protes pada sutradara, namun sutradara berdalih ini dilakukan agar mendapatkan
ekspresi orang yang sedang bercinta dan penuh birahi , dia jg mengatakan pada alyssa bahwa
yg akan direkam kamera hanya wajahnya saja, demi mendapat eskpresi birahi.
alyssa sempat menolak adegan ini , namun sutradarakembali mengingatkan akan surat
perjanjian dan kontrak kerja , serta akan sia sianya pengorbanan alyssa selama ini.
alyssa tak bisa bicara apa apa lagi, ia hanya kembali berbaring di tempat tidur bersiap
melanjutkan adegan tadi.
adegan diulang , hengky menciumi dan meremas buah dada alyssa, mengangkat rok alyssa ke
atas dan menggosok gosok penisnya di paha bagian dalam alyssa.
ternyata setelah bebrapa lama, hengky kemudian menurunkan celana dalam alyssa dan
langsung mengarahkan penisnya ke bibir vagina alyssa.
alyssa memandang sutradara tanda ia keberatan dengan adegan ini , namun sutradara hanya
mengangguk pelan dan tidak mengatakan apa apa.
alyssa berpikir bagaimana mungkin adegan seperti ini bisa lulus sensor, walaupun katanya yg
di rekam hanya bagian atas terutama ekspresi ( alyssa baru tahu di kemudian hari apa tujuan
shooting film ini )
hengky kini mulai memompa tubuh alyssa, dan gadis itu pun sebenarnya mulai terangsang
dan menikmati semua ini, ia menggoyangkan pantatnya seirama dengan pompaan hengky.
pakian atas alyssa kemudian dibuka dan hengky mulai menyedoyt nyedot buah dada alyssa.
sutradara memerintahkan dua orang untuk melepas pakaian hengky , hingga kini hengky dan
alyssa telanjang bulat di ranjang dan sutradara terus merekam setiap detail adegan percintaan
itu.
geraman keras hengky dan semburan di vagina alyssa menandakan pria itu sudah orgasme,
dan tak berapa lama giliran alyssa yg orgasme.
sutradara pun menutup adegan itu, dan alyssa kemudian diberi selamat oleh semua orang yg
ada disana , bahwa ia telah menyelesaikn adegan dengan baik.
alyssa kemudian pergi ke toilet untuk membersihkan diri , dan ketika kembali ia melihat
seorang lelaki muda yang tampan sedang berbicara dengan sutradara, dia adalah produser di
rumah produksi ini , namanya resha atau reza kalo tak salah. sang sutradra ternyata sedang
memuji muji alyssa dihadapan resha.
produser itupun kemudian menjajikan akan mengorbitkan alyssa menjadi superstar baru
indonesia, ia pun memberikan undangan bagi alyssa untuk bertemu dengan beberapa
eksekutif rumah produksi ini jam stengah delapan malam.
setengah delapan malam , alyssa tiba di rumah resha, ia disambut sang sutradara dan
membawanya ke dalam , ternyata di dalam sudah menunggu ramesh dan punjabb, dua orang
pemilik production house ini sedang menikmati minuman.
Mereka semua terlihat senang dan gembira melihat kedatangan alyssa dan menaymbutnya
dengan hangat.
mereka pun duduk dan kemudian terlihat serius membicarakan karir alyssa di masa depan.
setelah beberapa lama , resha kemudian meminta alyssa memakai pakaian yg dipakainya saat
shooting tadi, dengan alasan untuk lebih meyakinkan ramesh dan punjabb.
alyssa pun stuju dan segera masuk ke ruang ganti , sebelum masuk ke ruang ganti , resha
mengingatkan agar tidak memakai apa apa lagi dibalik pakaian itu. tak ada waktu untuk
menolak, alyssa setuju saja demi karirnya.
Sesaat stelah alyssa masuk dengan pakaian tadi, seluruh pria diruangan itu berdiri dan
bertepuk tangan, mengagumi kecantikan dan kemolekan tubuh alyssa.
namun demikian alyssa merasa rikuh dengan pakaian ini, terutama pada resha yg duduk
didepannya, pasti ia bisa melihat jelas, dengan putus asa alyssa melipat kaki dan terus
menarik narik rok pendek itu ke bawah , seolah akan bisa menutupi pahanya.
tugas alyssa berikutnya adalah menari dengan pakaian itu.
alyssa pun mencoba menari dengan musik yg dipasang oleh resha, saat alyssa melakukan
gerakan memutar, rok pendeknya akan terangkat , menampilkan pantat dan vaginanya yg tak
tertutup.
tak berapa lama resha ikut bergabung menari denga alyssa , ia bahkan sempat mencium bibir
alyssa, membuatnya merasa malu.
perlahan resha mengajak alyssa ke sofa dan mendudukan gadis itu di pangkuannya.
resha kembali sibuk mencium bibir gadis itu, sementara tangannya beraksi meremas buah
dada gadis itu, jari yang lain bermain main di vaginanya.
ketika ramesh, punjabb dan sutradara kemudian pergi meninggalkan ruangan, alyssa merasa
lega, dan kemudian iapun membalas ciuman resha dengan lebih panas.
pakaian atas alyssa dilepas oleh resha, kini ia leluasa meremasi buah dada ranum itu,
smentara alyssa membalsnya dengan membuka kancing dan sleting celana resha dan
mengeluarkan penis yg sudah menegang itu.
tiba tiba alyssa merasa pundaknya di sentuh seseorang, saat menoleh alyssa terkejut dan
panik melihat ketiga orang tadi tealh kembali dan semuanya telanjang bulat.
alyssa mencoba bangkit namun resha menahannya, sang sutradara alias jati , kemudian
menarik kepala alyssa dan dengan kasar mencoba memasukan penisnya ke mulut gadis itu.
saat penis itu masuk ke mulutnya, alyssa sedikit tersiksa dan tersedak karena panis itu
mencapai tenggorknnya.
resha mengingatkan untuk tidak melawan atau ia akan mengalami hal yang lebih
menyakitkan.
alyssa menyerah dan mulai mengulum penis jati.
kemudian resha berdiri dan melepaskan sisa pakaian yang masih melekat di alyssa, dan
menyuruh gadis itu unutk berbaring di karpet.
resha membuka lebar kaki alyssa dan kemudian mengarahkan penisnya ke vagina gadis itu,
dan mulai memompanya.
penis resha terasa sempit di jepitan vagina alyssa.
ramesh tak mau tinggal diam, ia meyuruh alyssa membuka mulutnya dan ia pun memasukan
penis besarnya ke mulut mungil gadis cantik itu. dua orang yg lain sibuk bermain main
dengan buah dada alyssa, sambil penisnya digenggam oleh tangan alyssa.
setelah beberapa lama , mereka berganti posisi, kini giliran jati yang menindih alyssa, agak
sedikit repot karena tubuh jati lumyan gendut.
setelah ramesh , giliran punjabb yang menindih tubuh alyssa dan memompanya dengan kasar.
sementara alyssa sendiri tak dapat berdiam, mulutnya masih mengulum penis resha, dan
kedua tangannya sibuk mengocok penis jati dan ramesh. dan dalam periode itu alyssa sudah
beberapa kali orgasme.
kemudian resha menyuruh semuanya berhenti sejenak memberi nafas bagi alyssa.
namun sayang , adegan berikutnya malah lebih menyakitkan bagi alyssa, saat penisnya
ditembus oleh jati, pantatnya pun tiba tiba berusaha ditembus oleh resha.
hal itu sangat menyakitkan bagi alyssa, ia memohon dan menangis namun tak diindahkan.
pantat alyssa terasa panas seaakan terbakar, dan ia tak mampu bertahan lebih lama lagi , ia
menangis dan meronta ronta berusaha mlepaskan diri.
kedua orang itu menahan kuat alyssa, bahkan saat tangisan alyssa makin keras , jati
menampar pipi gadis itu mneuruhnya berhenti menangis.
seakan siksaan alyssa belum cukup , ramesh malah menyodorkan penisnya ke mulut alyssa ,
namun hanya sesaat , ia pun menarik penisnya kembali.
kini posisi alyssa bagai sebuah sandwich, dengan jati di depan dan resha dibelakang.
ramesh berusaha mencari hiburan dengan meremas buah dada alyssa dan menyuruh alyssa
untuk mengocok penisnya.
akhirnya jati hampir mencapai orgasme, ia menyuruh alyssa membuka mulut dan ia pun
menyemburkan spermanya di mulut gadis itu, tak lama disusul oleh resha yg juga
menyemburkan spermanya di mulut alyssa.
masih belum cukup mereka masih menyuruh alyssa mengocok ngocok semua penis pria yg
ada disana, dan kemudian menyemburkannya ke seluruh tubuh alyssa, dan wajahnya,
sehingga seolah ia bermandikan sperma.
alyssa akhirnya merasa tenang, karena semuanya sudah terpuaskan, ia pun terbarin di karpet
dengan menarik nafas panjang.
sayang sekali, ternyata ini bukan akhirnya,,,karena ternyata punjabb mengundang beberapa
teman bisnisnya malam itu untuk juga menikmati tubuh bintang baru ini.
melihat ada lagi yang datang, alyssa menangis dan memohon , karena ia sudah tak sanggup
lagi menghadapainya, namun tak ada yang peduli.
terpaksa…sangat terpaksa alyssa harus melayani nafsu ketujuh pria itu. sekarang malah
terlihat seperti pemerkosaan massal, saat alyssa hanya satu satunya perempuan yg harus
menjadi object seksual.
semalam suntuk, mereka berganti posisi dan gaya , menyetubuhi gadis cantik ini.
hingga akhirnya mereka semua terpuaskan, alyssa tak bisa bangun dan hanya terbaring lemah
di karpet di kelilingi boss boss dunia hiburan, yang ternyata tak segmerlap kelihatnnya.
alyssa pun jatuh tertidur.
pagi hari , seluruh tubuh alyssa terasa sakit, ia bhakan tak mampu untuk bangun.
orang orang itu ternyata punya rasa iba juga, mereka membawa alyssa ke kamar mandi ,
memandikannya dan memakaikannya pakaian, lalu menagntar pulang.
alyssa akhirnya sesuai janji diorbitkan menjadi seorang bintang muda “berbakat” , rumah
produksi mengeksposnya secara besar besaran agar namanya cepat meroket, berbagai gosip
dirancang agar namanya tetap beredar di masyarakt.
tapi di balik layar , alyssa masih harus menjadi budak seks para petinggi rumah produksi itu,
meski pun mereka tidak lagi memakai alyssa secara massal , namun alyssa harus selalu
menuruti panggilan panggilan mereka swaktu waktu.
alyssa sudah melihat contoh para artis yg menolak “bekerja sama” , mereka tiba tiba didera
gosip yg tidak mengenakkan, tidak lagi dilibatkan dalam produksi, dan yang lebih parah,
adegan bugil bahkan seksnya bisa saja beredar di kalangan luas terutama di internet
Posted in Umum | No Comments »
Darah Perawan Calon Sekretaris
Friday, June 25th, 2010

Cerita Dewasa.Aku sudah berkeluarga, tapi aku punya WIL yang juga sangat kucintai. Aku
sudah menganggap ia sebagai istriku saja. Karena itu aku akan memanggilnya dalam cerita
ini sebagai istriku. Dari obrolan selama ini ia mengatakan bahwa ia ingin melihatku ‘bercinta’
dengan wanita lain. Akhirnya tibalah pengalaman kami ini.
Siang di hari Sabtu itu terasa panas sekali, tiupan AC mobil yang menerpa langsung ke
arahku dan ‘istriku’ kalah dengan radiasi matahari yang tembus melalui kaca-kaca jendela.
Aku sedang melaju kencang di jalan tol menuju arah Bogor untuk suatu keperluan bisnis.
Seperti telah direncanakan, kubelokkan mobil ke arah pom bensin di Sentul. setelah tadi tak
sempat aku mengisinya. Dalam setiap antrian mobil yang cukup panjang terlihat ada gadis-
gadis penjaja minuman berenergi. Sekilas cukup mencolok karena seragamnya yang cukup
kontras dengan warna sekelilingnya.
Dari sederetan gadis-gadis itu tampak ada seorang yang paling cantik, putih, cukup serasi
dengan warna-warni seragamnya. Ia terlalu manis untuk bekerja diterik matahari seperti ini
walaupun menggunakan topi. Tatkala tersenyum, senyumnya lebih mengukuhkan lagi kalau
di sini bukanlah tempat yang pantas baginya untuk bekerja. Aku sempat khawatir kalau ia
tidak berada di deretanku dan aku masih hanyut dalam berbagai terkaan tentangnya, aku tidak
sempat bereaksi ketika ia mengangguk, tersenyum dan menawarkan produknya. Akhirnya
dengan wajah memohon ia berkata, “Buka dong kacanya..” Segera aku sadar dengan keadaan
dan refleks membuka kaca jendelaku. Istriku hanya memperhatikan, tidak ada komentar.
Meluncurlah kata-kata standar yang ia ucapkan setiap kali bertemu calon pembeli. Suaranya
enak didengar, tapi aku tak menyimaknya. Aku malah balik bertanya, “Kamu ngapain kerja
di sini?”
“Mom, kita kan masih perlu sekretaris, kenapa tidak dia aja kita coba.”
“Ya, boleh aja”, jawab istriku.
“Gimana mau?” tanyaku kepada gadis itu.
“Mau.. mau Mas”, katanya.
Setelah kenalan sebentar dan saling tukar nomor telepon, kulanjutkan perjalananku setelah
mengisi bensin sampai penuh. Istriku akhirnya tahu kalau maksudku yang utama hanyalah
ingin ‘berkenalan’ dengannya. Ia sangat setuju dan antusias.
Malam sekitar jam 20:00 HP istriku berdering, sesuai pembicaraan ia akan datang menemui
kami. Setelah diberi tahu alamat hotel kami, beberapa saat kemudian ia muncul dengan
penampilan yang cukup rapi. Ia cepat sekali akrab dengan istriku karena ternyata berasal dari
daerah yang sama yaitu **** (edited), Jawa Barat. Tidak sampai setengah jam kami sudah
merasa betul-betul sebagai suatu keluarga yang akrab. Ia sudah berani menerima tawaran
kami untuk ikut menginap bersama. Ia sempat pamit sebentar untuk menyuruh sopir salah
satu keluarganya untuk pulang saja, dan telepon ke saudaranya bahwa malam itu ia tidak
pulang.
Setelah cerita kesana-kemari akhirnya obrolan kami menjurus ke masalah seks. Setelah agak
kaku sebentar kemudian suasana mencair kembali. Kini dia mulai menimpali walau agak
malu-malu. Singkat cerita dia masih perawan, sudah dijodohkan oleh keluarganya yang ia
belum begitu puas. Keingintahuannya terhadap masalah seks termasuk agak tinggi, tapi
pacarnya itu sangat pemalu, termasuk agak dingin dan agak kampungan walau berpendidikan
cukup. Kami ceritakan bahwa dalam masalah seks kami selalu terbuka, punya banyak koleksi
photo pribadi, bahkan kali ini kami ingin membuat photo ketika ‘bercinta’.
“Udah ah, kita sambil tiduran aja yuk ngobrolnya”, ajak istriku.
“Nih kamu pakai kimono satunya”, kata istriku sambil memberikan baju inventaris hotel.
Sedangkan aku yang tidak ada persiapan untuk menginap akhirnya hanya menggunakan kaos
dan celana dalam. Ia dan istriku sudah merebahkan badannya di tempat tidur, kemudian aku
menghampiri istriku langsung memeluknya dari atas. Kucumbu istriku dari mulai bibir, pipi,
leher, dan buah dadanya. Istriku mengerang menikmatinya. Aku menghentikan cumbuanku
sejenak kemudian meminta tamu istimewaku untuk mengambil photo dengan kamera digital
yang selalu kami bawa. Tampak ia agak kikuk, kurang menguasai keadaan ketika aku
menolehnya.
Setelah aku mengajarinya bagaimana menggunakan kamera yang kuberikan itu, kemudian
kuteruskan mencumbu istriku. Dengan telaten kucumbu istriku dari ujung kepala sampai
ujung kaki. Kini tamuku tampaknya sudah menguasai keadaan, ia dengan leluasa mengintip
kami dari lensa kamera dari segala sudut. Akhirnya istriku mencapai klimaksnya setelah liang
senggamanya kumainkan dengan lidah, dengan jari, dan terakhir dengan batang istimewaku.
Sedangkan aku belum apa-apa.
“Sekarang gantian Rin, kamu yang maen aku yang ngambil photonya”, kata istriku.
“Ah Mbak ini ada-ada aja”, kata Rini malu-malu.
Sebagai laki-laki, aku sangat paham dari bahasa tubuhnya bahwa dia tidak menolak. Dalam
keadaan telanjang bulat aku berdiri dan langsung memeluk Rini yang sedang memegang
kamera. Tangan kirinya ditekuk seperti akan memegang pinggangku, tapi telapaknya hanya
dikepal seolah ragu atau malu. Kuraih kamera yang masih di tangan kanannya kemudian
kuberikan kepada istriku.
Kini aku lebih leluasa memeluk dan mencumbunya, kuciumi pipi dan lehernya, sedang
tanganku terus menggerayang dari pundak sampai lekukan pantatnya. Pundaknya
beberapakali bergerak merinding kegelian. Kedua tangannya kini ternyata sudah berani
membalas memelukku. Kemudian aku memangkunya dan merebahkannya di tempat tidur.
Kukulum bibir mungilnya, kuciumi pipinya, kugigit-gigit kecil telinganya, kemudian kuciumi
lehernya punuh sabar dan telaten. Ia hanya mendesah, kadang menarik nafas panjang dan
kadang badannya menggelinjang-gelinjang.
Tidak terlalu susah aku membuka kimononya, sejenak kemudian tampak pemandangan yang
cukup mempesona. Dua bukit yang cukup segar terbungkus rapi dalam BH yang pas dengan
ukurannya. Kulitnya putih, bersih dengan postur badan yang cukup indah. Sejenak aku
menoleh ke bawah, tampak pahanya cukup menawan. Sementara itu onggokan kecil di
selangkangan pahanya yang terbungkus CD menambah panorama keindahan.
Ia tidak menolak ketika aku membuka BH-nya, demikian juga ketika aku melepaskan
kimononya melewati kedua tangannya. Kuteruskan permainanku dengan mengitari sekitar
bukit-bukit segar itu. Seluruh titik di bagian atasnya telah kutelusuri tidak ada yang
terlewatkan, kini kedua bukti itu kuremas perlahan. Ia mendesah, “Eeehhh..”
Tatkala kukulum puting susunya, badannya refleks bergerak-gerak, desahnya pun semakin
jelas terdengar. Kuulangi lagi cumbuanku dari mulai mengulum bibirnya, mencium pipinya,
kemudian lehernya. Kemudian kuciumi lagi bukit-bukit indah itu, dan kemudian
kupermainkan kedua puting susunya dengan lidahku. Gelinjangnya semakin terasa bergerak
mengiringi desahannya yang terasa merdu sekali.
Petualanganku kuteruskan ke bagian bawahnya. Ia mencegah ketika aku akan membuka CD-
nya yang merupakan pakaian satu-satunya yang tersisa. “Ya nggak usah dibuka” ujarku,
“Aku elus-elus aja ya bagian atasnya pakai punyaku”, bujukku. Ia tidak bereaksi, tapi aku
langsung saja menyingsingkan CD-nya ke bawah. Tampaklah dua bibir yang mengapit
lembah cintanya dihiasi bulu-bulu tipis. Kupegang burungku sambil duduk mengangkang di
atas kedua pahanya, kemudian kuelus-eluskan burung itu ke ujung lembah yang sebagian
masih tertutup CD. Agak lama dengan permainan itu, akhirnya mungkin karena ia juga
penasaran, maka ia tidak menolak ketika kulepaskan CD-nya.
Kini kami sama-sama telanjang, tak satu helai benang pun yang tersisa. Kuteruskan
permainan burungku dengan lebih leluasa. Tak lama kemudian cairan kenikmatannya pun
sudah meleleh menyatakan kehadirannya. Burungku pun lebih lancar menjelajah. Tapi karena
lembahnya masih perawan agak susah juga untuk menembusnya.
Ketika kucoba untuk memasukkan burungku ke dalam lembah sorganya, tampak bibir-bibir
kenikmatannya ikut terdorong bersama kepala burungku. Menyadari alam yang dilaluinya
belum pernah dijamah, aku cukup sabar untuk melakukan permainan sampai lembah
kenikmatannya betul-betul menerimanya secara alami. Gelinjang, desahan, dan ekspresi
wajahnya yang sedang menahan kenikmatan membuatku semakin bersemangat dan lebih
percaya diri untuk tidak segera ejakulasi. Ia sudah tidak menyadari apa yang sedang terjadi.
Akhirnya kepala burungku berhasil menembus lubang kenikmatan itu.
Kuteruskan permainanku dengan mengeluarkan dan memasukkan lagi kepala burungku. Ia
merintih kenikmatan, ia pasrah saja dengan keadaan yang terjadi, karena itu aku yakin bahwa
rintihan itu bukan rintihan kesakitan, kalaupun ada, maka akan kalah dengan kenikmatan
yang diperolehnya. Selanjutnya kulihat burung yang beruntung itu lebih mendesak ke dalam.
Aku sudah tidak tahan untuk memasukkan seluruh burungku ke tempatnya yang terindah.
Kemudian kurebahkan badanku di atas tubuhnya yang indah, kuciumi pipinya sambil
pantatku kugerakkan naik turun. Sementara burungku lebih jauh menjangkau ke dalam
lembah nikmatnya. Akhirnya seluruh berat badanku kuhempaskan ke tubuh mungil itu. Dan..,
“Blesss….” seluruh burungku masuk ke dalam surga dunia yang indah. Ia mengerang,
gerakan burungku pun segera kuhentikan sampai liang kewanitaannya menyesuaikan dengan
situasi yang baru.
Setelah agak lama aku pun mulai lagi memainkan gerakan-gerakanku dengan gentle. Kini ia
mulai mengikuti iramaku dengan menggerak-gerakkan pinggulnya. Selang berapa lama
kedua tangannya lekat mencengkram punggungku, kakinya ikut menjepit kedua kakiku.
Kemudian muncul erangan panjang diikuti denyut-denyut dari lembah sorganya. “Eeehhh…”
desahnya. Aku pun sudah tidak tahan lagi untuk menumpahkan seluruh kenikmatan, segera
kucabut burungku kemudian kumuntahkan di luar dengan menekan ke selangkangannya.
“Eeehhh…” erangku juga. Kami berdua menarik nafas panjang.
Setelah agak lama kemudian aku duduk, kuraih kaos dalamku kemudian aku mengelap
selangkangnya yang penuh dengan air kenikmatanku. Tampak tempat tidurnya basah oleh
cairan-cairan bercampur bercak-bercak merah. Ia pun segera duduk, sejenak dari raut
wajahnya tampak keraguan terhadap situasi yang telah dialaminya. Aku dan istriku memberi
keyakinan untuk tidak menyesali apa yang pernah terjadi.
Besok paginya aku sempat bermain lagi dengannya sebelum check out. Betul-betul suatu
akhir pekan yang susah dilupakan. Akhirnya ia kutitipkan bekerja di perusahaan temanku.
koleksi cerita dewasa terlengkap
Posted in Umum | No Comments »
Sri Janda Kembang Penuh Nafsu
Monday, May 25th, 2009

Kumpulan Cerita Dewasa.Telah belasan tahun berpraktek aku di kawasan kumuh ibu kota,
tepatnya di kawasan Pelabuhan Rakyat di Jakarta Barat. Pasienku lumayan banyak, namun
rata-rata dari kelas menengah ke bawah. Jadi sekalipun telah belasan tahun aku berpraktek
dengan jumlah pasien lumayan, aku tetap saja tidak berani membina rumah tangga, sebab aku
benar-benar ingin membahagiakan isteriku, bila aku memilikinya kelak, dan kebahagiaan
dapat dengan mudah dicapai bila kantongku tebal, simpananku banyak di bank dan rumahku
besar.
Namun aku tidak pernah mengeluh akan keadaanku ini. Aku tidak ingin membanding-
bandingkan diriku pada Dr. Susilo yang ahli bedah, atau Dr. Hartoyo yang spesialis
kandungan, sekalipun mereka dulu waktu masih sama-sama kuliah di fakultas kedokteran
sering aku bantu dalam menghadapi ujian. Mereka adalah bintang kedokteran yang sangat
cemerlang di bumi pertiwi, bukan hanya ketenaran nama, juga kekayaan yang tampak dari
Baby Benz, Toyota Land Cruiser, Pondok Indah, Permata Hijau, Bukit Sentul dll.
Dengan pekerjaanku yang melayani masyarakat kelas bawah, yang sangat memerlukan
pelayanan kesehatan yang terjangkau, aku memperoleh kepuasan secara batiniah, karena aku
dapat melayani sesama dengan baik. Namun, dibalik itu, aku pun memperoleh kepuasan yang
amat sangat di bidang non materi lainnya.
Suatu malam hari, aku diminta mengunjungi pasien yang katanya sedang sakit parah di
rumahnya. Seperti biasa, aku mengunjunginya setelah aku menutup praktek pada sekitar
setengah sepuluh malam. Ternyata sakitnya sebenarnya tidaklah parah bila ditinjau dari
kacamata kedokteran, hanya flu berat disertai kurang darah, jadi dengan suntikan dan obat
yang biasa aku sediakan bagi mereka yang kesusahan memperoleh obat malam malam, si ibu
dapat di ringankan penyakitnya.
Saat aku mau meninggalkan rumah si ibu, ternyata tanggul di tepi sungai jebol, dan air bah
menerjang, hingga mobil kijang bututku serta merta terbenam sampai setinggi kurang lebih
50 senti dan mematikan mesin yang sempat hidup sebentar. Air di mana-mana, dan aku pun
membantu keluarga si ibu untuk mengungsi ke atas, karena kebetulan rumah petaknya terdiri
dari 2 lantai dan di lantai atas ada kamar kecil satu-satunya tempat anak gadis si ibu tinggal.
Karena tidak ada kemungkinan untuk pulang, maka si Ibu menawarkan aku untuk menginap
sampai air surut. Di kamar yang sempit itu, si ibu segera tertidur dengan pulasnya, dan
tinggallah aku berduaan dengan anak si ibu, yang ternyata dalam sinar remang-remang,
tampak manis sekali, maklum, umurnya aku perkirakan baru sekitar awal dua puluhan.
“Pak dokter, maaf ya, kami tidak dapat menyuguhkan apa apa, agaknya semua perabotan
dapur terendam di bawah”, katanya dengan suara yang begitu merdu, sekalipun di luar
terdengar hamparan hujan masih mendayu dayu.
“Oh, enggak apa-apa kok Dik”, sahutku.
Dan untuk melewati waktu, aku banyak bertanya padanya, yang ternyata bernama Sri.
Ternyata Sri adalah janda tanpa anak, yang suaminya meninggal karena kecelakaan di laut 2
tahun yang lalu. Karena hanya berdua saja dengan ibunya yang sakit-sakitan, maka Sri tetap
menjanda. Sri sekarang bekerja pada pabrik konveksi pakaian anak-anak, namun perusahaan
tempatnya bekerja pun terkena dampak krisis ekonomi yang berkepanjangan.
Saat aku melirik ke jam tanganku, ternyata jam telah menunjukkan setengah dua dini hari,
dan aku lihat Sri mulai terkantuk-kantuk, maka aku sarankan dia untuk tidur saja, dan karena
sempitnya kamar ini, aku terpaksa duduk di samping Sri yang mulai merebahkan diri.
Tampak rambut Sri yang panjang terburai di atas bantal. Dadanya yang membusung tampak
bergerak naik turun dengan teraturnya mengiringi nafasnya. Ketika Sri berbalik badan dalam
tidurnya, belahan bajunya agak tersingkap, sehingga dapat kulihat buah dadanya yang
montok dengan belahan yang sangat dalam. Pinggangnya yang ramping lebih menonjolkan
busungan buah dadanya yang tampak sangat menantang. Aku coba merebahkan diri di
sampingnya dan ternyata Sri tetap lelap dalam tidurnya.
Pikiranku menerawang, teringat aku akan Wati, yang juga mempunyai buah dada montok,
yang pernah aku tiduri malam minggu yang lalu, saat aku melepaskan lelah di panti pijat
tradisional yang terdapat banyak di kawasan aku berpraktek. Tapi Wati ternyata hanya
nikmat di pandang, karena permainan seksnya jauh di bawah harapanku. Waktu itu aku
hampir-hampir tidak dapat pulang berjalan tegak, karena burungku masih tetap keras dan
mengacung setelah ’selesai’ bergumul dengan Wati. Maklum, aku tidak terpuaskan secara
seksual, dan kini, telah seminggu berlalu, dan aku masih memendam berahi di antara
selangkanganku.
Aku mencoba meraba buah dada Sri yang begitu menantang, ternyata dia tidak memakai beha
di bawah bajunya. Teraba puting susunya yang mungil. dan ketika aku mencoba melepaskan
bajunya, ternyata dengan mudah dapat kulakukan tanpa membuat Sri terbangun. Aku
dekatkan bibirku ke putingnya yang sebelah kanan, ternyata Sri tetap tertidur. Aku mulai
merasakan kemaluanku mulai membesar dan agak menegang, jadi aku teruskan permainan
bibirku ke puting susu Sri yang sebelah kiri, dan aku mulai meremas buah dada Sri yang
montok itu. Terasa Sri bergerak di bawah himpitanku, dan tampak dia terbangun, namun aku
segera menyambar bibirnya, agar dia tidak menjerit. Aku lumatkan bibirku ke bibirnya,
sambil menjulurkan lidahku ke dalam mulutnya. Terasa sekali Sri yang semula agak tegang,
mulai rileks, dan agaknya dia menikmati juga permainan bibir dan lidahku, yang disertai
dengan remasan gemas pada ke dua buah dadanya.
Setalah aku yakin Sri tidak akan berteriak, aku alihkan bibirku ke arah bawah, sambil
tanganku mencoba menyibakkan roknya agar tanganku dapat meraba kulit pahanya. Ternyata
Sri sangat bekerja sama, dia gerakkan bokongnya sehingga dengan mudah malah aku dapat
menurunkan roknya sekaligus dengan celana dalamnya, dan saat itu kilat di luar membuat
sekilas tampak pangkal paha Sri yang mulus, dengan bulu kemaluan yang tumbuh lebat di
antara pangkal pahanya itu.
Kujulurkan lidahku, kususupi rambut lebat yang tumbuh sampai di tepi bibir besar
kemaluannya. Di tengah atas, ternyata clitoris Sri sudah mulai mengeras, dan aku jilati sepuas
hatiku sampai terasa Sri agak menggerakkan bokongnya, pasti dia menahan gejolak
berahinya yang mulai terusik oleh jilatan lidahku itu.
Sri membiarkan aku bermain dengan bibirnya, dan terasa tangannya mulai membuka kancing
kemejaku, lalu melepaskan ikat pinggangku dan mencoba melepaskan celanaku. Agaknya Sri
mendapat sedikit kesulitan karena celanaku terasa sempit karena kemaluanku yang makin
membesar dan makin menegang.
Sambil tetap menjilati kemaluannya, aku membantu Sri melepaskan celana panjang dan
celana dalamku sekaligus, sehingga kini kami telah bertelanjang bulat, berbaring bersama di
lantai kamar, sedangkan ibunya masih nyenyak di atas tempat tidur.
Mata Sri tampak agak terbelalak saat dia memandang ke arah bawah perutku, yang penuh
ditumbuhi oleh rambut kemaluanku yang subur, dan batang kemaluanku yang telah
membesar penuh dan dalam keadaan tegang, menjulang dengan kepala kemaluanku yang
membesar pada ujungnya dan tampak merah berkilat.
Kutarik kepala Sri agar mendekat ke kemaluanku, dan kusodorkan kepala kemaluanku ke
arah bibirnya yang mungil. Ternyata Sri tidak canggung membuka mulutnya dan mengulum
kepala kemaluanku dengan lembutnya. Tangan kanannya mengelus batang kemaluanku
sedangkan tangan kirinya meremas buah kemaluanku. Aku memajukan bokongku dan batang
kemaluanku makin dalam memasuki mulut Sri. Kedua tanganku sibuk meremas buah
dadanya, lalu bokongnya dan juga kemaluannya. Aku mainkan jariku di clitoris Sri, yang
membuatnya menggelinjang, saat aku rasakan kemaluan Sri mulai membasah, aku tahu,
saatnya sudah dekat.
Kulepaskan kemaluanku dari kuluman bibir Sri, dan kudorong Sri hingga telentang. Rambut
panjangnya kembali terburai di atas bantal. Sri mulai sedikit merenggangkan kedua pahanya,
sehingga aku mudah menempatkan diri di atas badannya, dengan dada menekan kedua buah
dadanya yang montok, dengan bibir yang melumat bibirnya, dan bagian bawah tubuhku
berada di antara kedua pahanya yang makin dilebarkan. Aku turunkan bokongku, dan terasa
kepala kemaluanku menyentuh bulu kemaluan Sri, lalu aku geserkan agak ke bawah dan kini
terasa kepala kemaluanku berada diantara kedua bibir besarnya dan mulai menyentuh mulut
kemaluannya.
Kemudian aku dorongkan batang kemaluanku perlahan-lahan menyusuri liang sanggama Sri.
Terasa agak seret majunya, karena Sri telah menjanda dua tahun, dan agaknya belum
merasakan batang kemaluan laki-laki sejak itu. Dengan sabar aku majukan terus batang
kemaluanku sampai akhirnya tertahan oleh dasar kemaluan Sri. Ternyata kemaluanku cukup
besar dan panjang bagi Sri, namun ini hanya sebentar saja, karena segera terasa Sri mulai
sedikit menggerakkan bokongnya sehingga aku dapat mendorong batang kemaluanku sampai
habis, menghunjam ke dalam liang kemaluan Sri.
Aku membiarkan batang kemaluanku di dalam liang kemaluan Sri sekitar 20 detik, baru
setelah itu aku mulai menariknya perlahan-lahan, sampai kira-kira setengahnya, lalu aku
dorongkan dengan lebih cepat sampai habis. Gerakan bokongku ternyata membangkitkan
berahi Sri yang juga menimpali dengan gerakan bokongnya maju dan mundur, kadangkala ke
arah kiri dan kanan dan sesekali bergerak memutar, yang membuat kepala dan batang
kemaluanku terasa di remas-remas oleh liang kemaluan Sri yang makin membasah.
Tidak terasa, Sri terdengar mendasah dasah, terbaur dengan dengusan nafasku yang ditimpali
dengan hawa nafsu yang makin membubung. Untuk kali pertama aku menyetubuhi Sri, aku
belum ingin melakukan gaya yang barangkali akan membuatnya kaget, jadi aku teruskan
gerakan bokongku mengikuti irama bersetubuh yang tradisional, namun ini juga
membuahkan hasil kenikmatan yang amat sangat. Sekitar 40 menit kemudian, disertai dengan
jeritan kecil Sri, aku hunjamkan seluruh batang kemaluanku dalam dalam, kutekan dasar
kemaluan Sri dan seketika kemudian, terasa kepala kemaluanku menggangguk-angguk di
dalam kesempitan liang kemaluan Sri dan memancarkan air maniku yang telah tertahan lebih
dari satu minggu.
Terasa badan Sri melamas, dan aku biarkan berat badanku tergolek di atas buah dadanya
yang montok. Batang kemaluanku mulai melemas, namun masih cukup besar, dan kubiarkan
tergoler dalam jepitan liang kemaluannya. Terasa ada cairan hangat mengalir membasahi
pangkal pahaku. Sambil memeluk tubuh Sri yang berkeringat, aku bisikan ke telinganya, “Sri,
terima kasih, terima kasih..”
Koleksi Cerita Dewasa Terlengkap
TAMAT
Posted in Umum | No Comments »
Kisah Pembantu Rumah Tangga
Sunday, April 12th, 2009

Kumpulan Cerita Dewasa,Kisahku mungkin biasa saja, yakni tentang prt (pembantu rumah
tangga) yang diperkosa majikannya. Memang tidak ada yang istimewa kalau cuma kejadian
semacam itu, namun yang membuat kisahku unik adalah karena aku tidak hanya diperkosa
majikanku sekali. Namun, setiap kali ganti majikan hingga tiga kali aku selalu mengalami
perkosaan. Baik itu perkosaan kasar maupun halus. Aku akan menceritakan kisahku itu setiap
majikan dalam satu cerita.
Begini kisahku dengan majikan pertama yang kubaca lowongannya di koran. Dia mencari prt
untuk mengurus rumah kontrakannya karena ia sibuk bekerja. Aku wajib membersihkan
rumah, memasak, mencuci, belanja dll, pokoknya seluruh pekerjaan rumah tangga.
Untungnya aku menguasai semuanya sehingga tidak menyulitkan. Apalagi gajinya lumayan
besar plus aku bebas makan, minum serta berobat kalau sakit.
Manajer sekitar 35 tahunan itu bernama Pak S, asal Medan dan sedang ditugasi di kotaku
membangun suatu pabrik. Mungkin sekitar 2 tahun baru proyek itu selesai dan selama itu ia
mendapat fasilitas rumah kontrakan. Ia sendirian. Istri dan anaknya tak dibawa serta karena
takut mengganggu sekolahnya kalau berpindah-pindah.
Sebagai wanita Jawa berusia 25 tahun mula-mula aku agak takut menghadapi kekasaran
orang etnis itu, namun setelah beberapa minggu akupun terbiasa dengan logat kerasnya.
Pertama dulu memang kukira ia marah, namun sekarang aku tahu bahwa kalau ia bersuara
keras memang sudah pembawaan. Kadang ia bekerja sampai malam. Sedangkan kebiasaanku
setiap petang adalah menunggunya setelah menyiapkan makan malam. Sambil menunggu,
aku nonton TV di ruang tengah, sambil duduk di hamparan permadani lebar di situ. Begitu
suara mobilnya terdengar, aku bergegas membuka pintu pagar dan garasi dan menutupnya
lagi setelah ia masuk.
“Tolong siapkan air panas, Yem,” suruhnya suatu petang, “Aku kurang enak badan.” Akupun
bergegas menjerang air dan menyiapkan bak kecil di kamar mandi di kamarnya. Kulihat ia
menjatuhkan diri di kasurnya tanpa melepas sepatunya. Setelah mengisi bak air dengan air
secukupnya aku berbalik keluar. Tapi melihat Pak Siregar masih tiduran tanpa melepas
sepatu, akupun berinisiatif.
“Sepatunya dilepas ya, pak,” kataku sambil menjangkau sepatunya.
“Heeh,” sahutnya mengiyakan. Kulepas sepatu dan kaos kakinya lalu kuletakkan di bawah
ranjang.
“Tubuh bapak panas sekali ya?” tanyaku karena merasakan hawa panas keluar dari tubuhnya.
“Bapak masuk angin, mau saya keroki?” tawarku sebagaimana aku sering lakukan di dalam
keluargaku bila ada yang masuk angin.
“Keroki bagaimana, Yem?” Baru kuingat bahwa ia bukan orang Jawa dan tidak tahu apa itu
kerokan. Maka sebisa mungkin kujelaskan.
“Coba saja, tapi kalau sakit aku tak mau,” katanya. Aku menyiapkan peralatan lalu
menuangkan air panas ke bak mandi.
“Sekarang bapak cuci muka saja dengan air hangat, tidak usah mandi,” saranku. Dan ia
menurut. Kusiapkan handuk dan pakaiannya. Sementara ia di kamar mandi aku menata
kasurnya untuk kerokan. Tak lama ia keluar kamar mandi tanpa baju dan hanya membalutkan
handuknya di bagian bawah. Aku agak jengah. Sambil membaringkan diri di ranjang ia
menyuruhku, “Tolong kau ambil handuk kecil lalu basahi dan seka badanku yang berkeringat
ini.” Aku menurut. Kuambil washlap lalu kucelup ke sisa air hangat di kamar mandi,
kemudian seperti memandikan bayi dadanya yang berbulu lebat kuseka, termasuk ketiak dan
punggungnya sekalian.
“Bapak mau makan dulu?” tanyaku.
“Tak usahlah. Kepala pusing gini mana ada nafsu makan?” jawabnya dengan logat daerah,
“Cepat kerokin aja, lalu aku mau tidur.”
Maka ia kusuruh tengkurap lalu mulai kuborehi punggungnya dengan minyak kelapa campur
minyak kayu putih. Dengan hati-hati kukerok dengan uang logam lima puluhan yang halus.
Punggung itu terasa keras. Aku berusaha agar ia tidak merasa sakit. Sebentar saja warna
merah sudah menggarisi punggungnya. Dua garis merah di tengah dan lainnya di sisi kanan.
“Kalau susah dari samping, kau naik sajalah ke atas ranjang, Yem,” katanya mengetahui
posisiku mengerokku kurang enak. Ia lalu menggeser ke tengah ranjang.
“Maaf, pak,” akupun memberanikan diri naik ke ranjang, bersedeku di samping kanannya
lalu berpindah ke kirinya setelah bagian kanan selesai.
“Sekarang dadanya, pak,” kataku. Lalu ia berguling membalik, entah sengaja entah tidak
handuk yang membalut pahanya ternyata sudah kendor dan ketika ia membalik handuk itu
terlepas, kontan nampaklah penisnya yang cukup besar. Aku jadi tergagap malu.
“Ups, maaf Yem,” katanya sambil membetulkan handuk menutupi kemaluannya itu. Sekedar
ditutupkan saja, tidak diikat ke belakang. Sebagian pahanya yang berbulu nampak kekar.
“Eh, kamu belum pernah lihat barangnya laki-laki, Yem?”
“Bbb..belum, pak,” jawabku. Selama ini aku baru melihat punya adikku yang masih SD.
“Nanti kalau sudah kawin kamu pasti terbiasalah he he he..” guraunya. Aku tersipu malu
sambil melanjutkan kerokanku di dadanya. Bulu-bulu dada yang tersentuh tanganku
membuatku agak kikuk. Apalagi sekilas nampak Pak S malah menatap wajahku.
“Biasanya orang desa seusia kau sudah kawinlah. Kenapa kau belum?”
“Saya pingin kerja dulu, pak.”
“Kau tak ingin kawin?”
“Ingin sih pak, tapi nanti saja.”
“Kawin itu enak kali, Yem, ha ha ha.. Tak mau coba? Ha ha ha..” Wajahku pasti merah
panas.
“Sudah selesai, pak,” kataku menyelesaikan kerokan terakhir di dadanya.
“Sabar dululah, Yem. Jangan buru-buru. Kerokanmu enak kali. Tolong kau ambil minyak
gosok di mejaku itu lalu gosokin dadaku biar hangat,” pintanya. Aku menurut. Kuambil
minyak gosok di meja lalu kembali naik ke ranjang memborehi dadanya.
“Perutnya juga, Yem,” pintanya lagi sambil sedikit memerosotkan handuk di bagian
perutnya. Pelan kuborehkan minyak ke perutnya yang agak buncit itu. Handuknya nampak
bergerak-gerak oleh benda di bawahnya, dan dari sela-selanya kulihat rambut-rambut hitam.
Aku tak berani membayangkan benda di bawah handuk itu. Namun bayangan itu segera jadi
kenyataan ketika tangan Pak S menangkap tanganku sambil berbisik, “Terus gosok sampai
bawah, Yem,” dan menggeserkan tanganku terus ke bawah sampai handuknya ikut terdorong
ke bawah. Nampaklah rambut-rambut hitam lebat itu, lalu.. tanganku dipaksa berhenti ketika
mencapai zakarnya yang menegang.
“Jangan, pak,” tolakku halus.
“Tak apa, Yem. Kau hanya mengocok-ngocok saja..” Ia menggenggamkan penisnya ke
tanganku dan menggerak-gerakkannya naik turun, seperti mengajarku bagaimana
mengonaninya.
“Jangan, pak.. jangan..” protesku lemah. Tapi aku tak bisa beranjak dan hanya menuruti
perlakuannya. Sampai aku mulai mahir mengocok sendiri.
“Na, gitu terus. Aku sudah lama tak ketemu istriku, Yem. Sudah tak tahan mau dikeluarin..
Kau harus bantu aku.. Kalau onani sendiri aku sudah sulit, Yem. Harus ada orang lain yang
mengonani aku.. Tolong Yem, ya?” pintanya dengan halus. Aku jadi serba salah. Tapi
tanganku yang menggenggam terus kugerakkan naik turun. Sekarang tangannya sudah berada
di sisi kanan-kiri tubuhnya. Ia menikmati kocokanku sambil merem melek.
“Oh. Yem, nikmat kali kocokanmu.. Iya, pelan-pelan aja Yem. Tak perlu tergesa-gesa..
oohh.. ugh..” Tiba-tiba tangan kanannya sudah menjangkau tetekku dan meremasnya. Aku
kaget, “Jangan pak!” sambil berkelit dan menghentikan kocokan.
“Maaf, Yem. Aku benar-benar tak tahan. Biasanya aku langsung peluk istriku. Maaf ya Yem.
Sekarang kau kocoklah lagi, aku tak nakal lagi..” Sambil tangannya membimbing tanganku
kembali ke arah zakarnya. Aku beringsut mendekat kembali sambil takut-takut. Tapi ternyata
ia memegang perkataannya. Tangannya tak nakal lagi dan hanya menikmati kocokanku.
Sampai pegal hampir 1/2 jam aku mengocok namun ia tak mau berhenti juga.
“Sudah ya, pak,” pintaku.
“Jangan dulu, Yem. Nantilah sampai keluar..”
“Keluar apanya, pak?” tanyaku polos.
“Masak kau belum tahu? Keluar spermanyalah.. Paling nggak lama lagi.. Tolong ya, Yem,
biar aku cepat sehat lagi.. Besok kau boleh libur sehari dah..”
Ingin tahu bagaimana spermanya keluar, aku mengocoknya lebih deras lagi. Zakarnya
semakin tegang dan merah berurat di sekelilingnya. Genggaman tanganku hampir tak muat.
15 menit kemudian.
“Ugh, lihat Yem, sudah mau keluar. Terus kocok, teruuss.. Ugh..” Tiba-tiba tubuhnya
bergetar-getar dan.. jreet.. jret.. cret.. cret.. cairan putih susu kental muncrat dari ujung
zakarnya ke atas sperti air muncrat. Aku mengocoknya terus karena zakar itu masih terus
memuntahkan spermanya beberapa kali. Tanganku yang kena sperma tak kupedulikan. Aku
ingin melihat bagaimana pria waktu keluar sperma. Setelah spermanya berhenti dan dia
nampak loyo, aku segera ke kamar mandi mencuci tangan.
“Tolong cucikan burungku sekalian, Yem, pake washlap tadi..” katanya padaku. Lagi-lagi
aku menurut. Kulap dengan air hangat zakar yang sudah tak tegang lagi itu serta sekitar
selangkangannya yang basah kena sperma..
“Sudah ya pak. Sekarang bapak tidur saja, biar sehat,” kataku sambil menyelimuti tubuh
telanjangnya. Ia tak menjawab hanya memejamkan matanya dan sebentar kemudian dengkur
halusnya terdengar. Perlahan kutinggalkan kamarnya setelah mematikan lampu. Malam itu
aku jadi sulit tidur ingat pengalaman mengonani Pak S tadi. Ini benar-benar pengalaman
pertamaku. Untung ia tidak memperkosaku, pikirku.
Namun hari-hari berikut, kegiatan tadi jadi semacam acara rutin kami. Paling tidak seminggu
dua kali pasti terjadi aku disuruh mengocoknya. Lama-lama akupun jadi terbiasa. Toh selama
ini tak pernah terjadi perkosaan atas vaginaku. Namun yang terjadi kemudian malah
perkosaan atas mulutku. Ya, setelah tanganku tak lagi memuaskan, Pak S mulai memintaku
mengonani dengan mulutku. Mula-mula aku jelas menolak karena jijik. Tapi ia setengah
memaksa dengan menjambak rambutku dan mengarahkan mulutku ke penisnya.
“Cobalah, Yem. Tak apa-apa.. Jilat-jilat aja dulu. Sudah itu baru kamu mulai kulum lalu isep-
isep. Kalau sudah terbiasa baru keluar masukkan di mulutmu sampai spermanya keluar. Nanti
aku bilang kalau mau keluar..” Awalnya memang ia menepati, setiap hendak keluar ia
ngomong lalu cepat-cepat kulepaskan mulutku dari penisnya sehingga spermanya
menyemprot di luar mulut. Namun setelah berlangsung 2-3 minggu, suatu saat ia sengaja
tidak ngomong, malah menekan kepalaku lalu menyemprotkan spermanya banyak-banyak di
mulutku sampai aku muntah-muntah. Hueekk..! Jijik sekali rasanya ketika cairan kental putih
asin agak amis itu menyemprot tenggorokanku. Ia memang minta maaf karena hal ini, tapi
aku sempat mogok beberapa hari dan tak mau mengoralnya lagi karena marah. Namun hatiku
jadi tak tega ketika ia dengan memelas memintaku mengoralnya lagi karena sudah beberapa
bulan ini tak sempat pulang menjenguk istrinya. Anehnya, ketika setiap hendak keluar
sperma ia ngomong, aku justru tidak melepaskan zakarnya dari kulumanku dan menerima
semprotan sperma itu. Lama-lama ternyata tidak menjijikkan lagi.
Demikianlah akhirnya aku semakin lihai mengoralnya. Sudah tak terhitung berapa banyak
spermanya kutelan, memasuki perutku tanpa kurasakan lagi. Asin-asin kental seperti fla agar-
agar. Akibat lain, aku semakin terbiasa tidur dipeluk Pak S. Bagaimana lagi, setelah capai
mengoralnya aku jadi enggan turun dari ranjangnya untuk kembali ke kamarku. Mataku pasti
lalu mengantuk, dan lagi, toh ia tak akan memperkosaku. Maka begitu acara oral selesai kami
tidur berdampingan. Ia telanjang, aku pakai daster, dan kami tidur dalam satu selimut.
Tangannya yang kekar memelukku. Mula-mula aku takut juga tapi lama-lama tangan itu
seperti melindungiku juga. Sehingga kubiarkan ketika memelukku, bahkan akhir-akhir ini
mulai meremasi tetek atau pantatku, sementara bibirnya menciumku. Sampai sebatas itu aku
tak menolak, malah agak menikmati ketika ia menelentangkan tubuhku dan menindih dengan
tubuh bugilnya.
“Oh, Yem.. Aku nggak tahan, Yem.. buka dastermu ya?” pintanya suatu malam ketika
tubuhnya di atasku.
“Jangan pak,” tolakku halus.
“Kamu pakai beha dan CD saja, Yem, gak bakal hamil. Rasanya pasti lebih nikmat..”
rayunya sambil tangannya mulai mengkat dasterku ke atas.
“Jangan pak, nanti keterusan saya yang celaka. Begini saja sudah cukup pak..” rengekku.
“Coba dulu semalam ini saja, Yem, kalau tidak nikmat besok tidak diulang lagi..” bujuknya
sambil meneruskan menarik dasterku ke atas dan terus ke atas sampai melewati kepalaku
sebelum aku sempat menolak lagi.
“Woow, tubuhmu bagus, Yem,” pujinya melihat tubuh coklatku dengan beha nomor 36.
“Malu ah, Pak kalau diliatin terus,” kataku manja sambil menutup dengan selimut. Tapi
sebelum selimut menutup tubuhku, Pak S sudah lebih dulu masuk ke dalam selimut itu lalu
kembali menunggangi tubuhku. Bibirku langsung diserbunya. Lidahku dihisap, lama-lama
akupun ikut membalasnya. Usai saling isep lidah. Lidahnya mulai menuruni leherku. Aku
menggelinjang geli. Lebih lagi sewaktu lidahnya menjilat-jilat pangkal payudaraku sampai ke
sela-sela tetekku hingga mendadak seperti gemas ia mengulum ujung behaku dan mengenyut-
ngenyutnya bergantian kiri-kanan. Spontan aku merasakan sensasi rasa yang luar biasa
nikmat. Refleks tanganku memeluk kepalanya. Sementara di bagian bawah aku merasa
pahanya menyibakkan pahaku dan menekankan zakarnya tepat di atas CD-ku.
“Ugh.. aduuh.. nikmat sekali,” aku bergumam sambil menggelinjang menikmati
cumbuannya. Aku terlena dan entah kapan dilepasnya tahu-tahu payudaraku sudah tak
berbeha lagi. Pak S asyik mengenyut-ngenyut putingku sambil menggenjot-genjotkan
zakarnya di atas CD-ku.
“Jangan buka CD saya, pak,” tolakku ketika merasakan tangannya sudah beraksi memasuki
CDku dan hendak menariknya ke bawah. Ia urungkan niatnya tapi tetap saja dua belah
tangannya parkir di pantatku dan meremas-remasnya. Aku merinding dan meremang dalam
posisi kritis tapi nikmat ini. Tubuh kekar Pak S benar-benar mendesak-desak syahwatku.
Jadilah semalaman itu kami tak tidur. Sibuk bergelut dan bila sudah tak tahan Pak Siregar
meminta aku mengoralnya. Hampir subuh ketika kami kecapaian dan tidur berpelukan
dengan tubuh bugil kecuali aku pakai CD. Aku harus mampu bertahan, tekadku. Pak S boleh
melakukan apa saja pada tubuhku kecuali memerawaniku.
Tapi tekad tinggal tekad. Setelah tiga hari kami bersetubuh dengan cara itu, pada malam
keempat Pak S mengeluarkan jurusnya yang lebih hebat dengan menjilati seputar vaginaku
meskipun masih ber-CD. Aku berkelojotan nikmat dan tak mampu menolak lagi ketika ia
perlahan-lahan menggulung CD ku ke bawah dan melepas dari batang kakiku. Lidahnya
menelusupi lubang V-ku membuatku bergetar-getar dan akhirnya orgasme berulang-ulang.
Menjelang orgasme yang kesekian kali, sekonyong-konyong Pak Siregar menaikkan
tubuhnya dan mengarahkan zakarnya ke lubang nikmatku. Aku yang masih belum sadar apa
yang terjadi hanya merasakan lidahnya jadi bertambah panjang dan panjang sampai..
aduuhh.. menembus selaput daraku.
“Pak, jangan pak! Jangan!” Protesku sambil memukuli punggunya. Tetapi pria ini begitu
kuat. Sekali genjot masuklah seluruh zakarnya. Menghunjam dalam dan sejurus kemudian
aku merasa memiawku dipompanya cepat sekali. Keluar masuk naik turun, tubuhku sampai
tergial-gial, terangkat naik turun di atas ranjang pegas itu. Air mataku yang bercampur
dengan rasa nikmat di vagina sudah tak berarti. Akhirnya hilang sudah perawanku. Aku
hanya bisa pasrah. Bahkan ikut menikmati persetubuhan itu.
Setelah kurenung-renungkan kemudian, ternyata selama ini aku telah diperkosa secara halus
karena kebodohanku yang tidak menyadari muslihat lelaki. Sedikit demi sedikit aku digiring
ke situasi dimana hubungan seks jadi tak sakral lagi, dan hanya mengejar kenikmatan demi
kenikmatan. Hanya mencari orgasme dan ejakulasi, menebar air mani!
Hampir dua tahun kami melakukannya setiap hari bisa dua atau tiga kali. Pak S benar-benar
memanfaatkan tubuhku untuk menyalurkan kekuatan nafsu seksnya yang gila-gilaan, tak
kenal lelah, pagi (bangun tidur), siang (kalau dia istirahat makan di rumah) sampai malam
hari sebelum tidur (bisa semalam suntuk). Bahkan pernah ketika dia libur tiga hari, kami
tidak beranjak dari ranjang kecuali untuk makan dan mandi. Aku digempur habis-habisan
sampai tiga hari berikutnya tak bisa bangun karena rasa perih di V-ku. Aku diberinya pil kb
supaya tidak hamil. Dan tentu saja banyak uang, cukup untuk menyekolahkan adik-adikku.
Sampai akhirnya habislah proyeknya dan ia harus pulang ke kota asalnya. Aku tak mau
dibawanya karena terlalu jauh dari orang tuaku. Ia janji akan tetap mengirimi aku uang,
namun janji itu hanya ditepatinya beberapa bulan. Setelah itu berhenti sama sekali dan
putuslah komunikasi kami. Rumahnya pun aku tak pernah tahu dan akupun kembali ke desa
dengan hati masygul.Cerita Dewasa
Posted in Umum | No Comments »
Nana Gadis Penuh Gairah
Wednesday, April 8th, 2009

Kumpulan Cerita Dewasa,Belum lama ini aku kembali bertemu Nana (bukan nama
sebenarnya). Ia kini sudah berkeluarga dan sejak menikah tinggal di Palembang. Untuk suatu
urusan keluarga, ia bersama anaknya yang masih berusia 6 tahun pulang ke Yogya tanpa
disertai suaminya. Nana masih seperti dulu, kulitnya yang putih, bibirnya yang merah
merekah, rambutnya yang lebat tumbuh terjaga selalu di atas bahu. Meski rambutnya agak
kemerahan namun karena kulitnya yang putih bersih, selalu saja menarikdipandang, apalagi
kalau berada dalam pelukan dan dielus-elus. Perjumpaan di Yogya ini mengingatkan
peristiwa sepuluh tahun lalu ketika ia masih kuliah di sebuah perguruan tinggi ternama di
Yogya. Selama kuliah, ia tinggal di rumah bude, kakak ibunya yang juga kakak ibuku.
Rumahku dan rumah bude agak jauh dan waktu itu kami jarang ketemu Nana.
Aku mengenalnya sejak kanak-kanak. Ia memang gadis yang lincah, terbuka dan tergolong
berotak encer. Setahun setelah aku menikah, isteriku melahirkan anak kami yang pertama.
Hubungan kami rukun dan saling mencintai. Kami tinggal di rumah sendiri, agak di luar kota.
Sewaktu melahirkan, isteriku mengalami pendarahan hebat dan harus dirawat di rumah sakit
lebih lama ketimbang anak kami. Sungguh repot harus merawat bayi di rumah. Karena itu,
ibu mertua, ibuku sendiri, tante (ibunya Nana) serta Nana dengan suka rela bergiliran
membantu kerepotan kami. Semua berlalu selamat sampai isteriku diperbolehkan pulang dan
langsung bisa merawat dan menyusui anak kami.
Hari-hari berikutnya, Nana masih sering datang menengok anak kami yang katanya cantik
dan lucu. Bahkan, heran kenapa, bayi kami sangat lekat dengan Nana. Kalau sedang rewel,
menangis, meronta-ronta kalau digendong Nana menjadi diam dan tertidur dalam pangkuan
atau gendongan Nana. Sepulang kuliah, kalau ada waktu, Nana selalu mampir dan membantu
isteriku merawat si kecil. Lama-lama Nana sering tinggal di rumah kami. Isteriku sangat
senang atas bantuan Nana. Tampaknya Nana tulus dan ikhlas membantu kami. Apalagi aku
harus kerja sepenuh hari dan sering pulang malam. Bertambah besar, bayi kami berkurang
nakalnya. Nana mulai tidak banyak mampirke rumah. Isteriku juga semakin sehat dan bisa
mengurus seluruh keperluannya. Namun suatu malam ketika aku masih asyik menyelesaikan
pekerjaan di kantor, Nana tiba-tiba muncul.
“Ada apa Na, malam-malam begini.”
“Mas Danu, tinggal sendiri di kantor?”
“Ya, Dari mana kamu?”
“Sengaja kemari.”
Nana mendekat ke arahku. Berdiri di samping kursi kerja. Nana terlihat mengenakan rok dan
T-shirt warna kesukaannya, pink. Tercium olehku bau parfum khas remaja.
“Ada apa, Nana?”
“Mas.. aku pengin seperti Mbak Tari.”
“Pengin? Pengin apanya?” Nana tidak menjawab tetapi malah melangkah kakinya yang putih
mulus hingga berdiri persis di depanku. Dalam sekejap ia sudah duduk di pangkuanku.
“Nana, apa-apaan kamu ini..” Tanpa menungguku selesai bicara, Nana sudah menyambarkan
bibirnya di bibirku dan menyedotnya kuat-kuat. Bibir yang selama ini hanya dapat
kupandangi dan bayangkan, kini benar-benar mendarat keras. Kulumanya penuh nafsu dan
nafas halusnya menyeruak. Lidahnya dipermainkan cepat dan menari lincah dalam rongga
mulutku. Ia mencari lidahku dan menyedotnya kuat-kuat. Aku berusaha melepaskannya
namun sandaran kursi menghalangi. Lebih dari itu, terus terang ada rasa nikmat setelah
berbulan-bulan tidak berhubungan intim dengan isteriku. Nana merenggangkan pagutannya
dan katanya, “Mas, aku selalu ketagihan Mas. Aku suka berhubungan dengan laki-laki,
bahkan beberapa dosen telah kuajak beginian. Tidak bercumbu beberapa hari saja rasanya
badan panas dingin. Aku belum pernah menemukan laki-laki yang pas.”
Kuangkat tubuh Nana dan kududukkan di atas kertas yang masih berserakan di atas meja
kerja. Aku bangkit dari duduk dan melangkah ke arah pintu ruang kerjaku. Aku mengunci
dan menutup kelambu ruangan.
“Na.. Kuakui, aku pun kelaparan. Sudah empat bulan tidak bercumbu dengan Tari.”
“Jadikan aku Mbak Tari, Mas. Ayo,” kata Nana sambil turun dari meja dan menyongsong
langkahku.
Ia memelukku kuat-kuat sehingga dadanya yang empuk sepenuhnya menempel di dadaku.
Terasa pula penisku yang telah mengeras berbenturan dengan perut bawah pusarnya yang
lembut. Nana merapatkan pula perutnya ke arah kemaluanku yang masih terbungkus celana
tebal. Nana kembali menyambar leherku dengan kuluman bibirnnya yang merekah bak bibir
artis terkenal. Aliran listrik seakan menjalar ke seluruh tubuh. Aku semula ragu menyambut
keliaran Nana. Namun ketika kenikmatan tiba-tiba menjalar ke seluruh tubuh, menjadi
mubazir belaka melepas kesempatanini.
“Kamu amat bergairah, Nana..” bisikku lirih di telinganya.
“Hmm.. iya.. Sayang..” balasnya lirih sembari mendesah.
“Aku sebenarnya menginginkan Mas sejak lama.. ukh..” serunya sembari menelan ludahnya.
“Ayo, Mas.. teruskan..”
“Ya Sayang. Apa yang kamu inginkan dari Mas?”
“Semuanya,” kata Nana sembari tangannya menjelajah dan mengelus batang kemaluanku.
Bibirnya terus menyapu permukaan kulitku di leher, dada dan tengkuk. Perlahan kusingkap
T-Shirt yang dikenakannya. Kutarik perlahan ke arah atas dan serta merta tangan Nana telah
diangkat tanda meminta T-Shirt langsung dibuka saja. Kaos itu kulempar ke atas meja. Kedua
jemariku langsung memeluknya kuat-kuat hingga badan Nana lekat ke dadaku. Kedua
bukitnya menempel kembali, terasa hangat dan lembut. Jemariku mencari kancing BH yang
terletak di punggungnya. Kulepas perlahan, talinya, kuturunkan melalui tangannya. BH itu
akhirnya jatuh ke lantai dan kini ujung payudaranya menempel lekat ke arahku. Aku melorot
perlahan ke arah dadanya dan kujilati penuh gairah. Permukaan dan tepi putingnya terasa
sedikit asin oleh keringat Nana, namun menambah nikmat aroma gadis muda.
Tangan Nana mengusap-usap rambutku dan menggiring kepalaku agar mulutku segera
menyedot putingnya. “Sedot kuat-kuat Mas, sedoott..” bisiknya. Aku memenuhi
permintaannya dan Nana tak kuasa menahan kedua kakinya. Ia seakan lemas dan
menjatuhkan badan ke lantai berkarpet tebal. Ruang ber-AC itu terasa makin hangat. “Mas
lepas..” katanya sambil telentang di lantai. Nana meminta aku melepas pakaian. Nana sendiri
pun melepas rok dan celana dalamnya. Aku pun berbuat demikian namun masih kusisakan
celana dalam. Nana melihat dengan pandangan mata sayu seperti tak sabar menunggu. Segera
aku menyusulnya, tiduran di lantai. Kudekap tubuhnya dari arah samping sembari
kugosokkan telapak tanganku ke arah putingnya. Nana melenguh sedikit kemudian sedikit
memiringkan tubuhnya ke arahku. Sengaja ia segera mengarahkan putingnya ke mulutku.
“Mas sedot Mas.. teruskan, enak sekali Mas.. enak..” Kupenuhi permintaannya sembari
kupijat-pijat pantatnya. Tanganku mulai nakal mencari selangkangan Nana. Rambutnya tidak
terlalu tebal namun datarannya cukup mantap untuk mendaratkan pesawat “cocorde” milikku.
Kumainkan jemariku di sana dan Nana tampak sedikit tersentak. “Ukh.. khmem.. hss.. terus..
terus,” lenguhnya tak jelas. Sementara sedotan di putingnya kugencarkan, jemari tanganku
bagaikan memetik dawai gitar di pusat kenikmatannya. Terasa jemari kanan tengahku telah
mencapai gumpalan kecil daging di dinding atas depan vaginanya, ujungnya kuraba-raba
lembut berirama. Lidahku memainkan puting sembari sesekali menyedot dan
menghembusnya. Jemariku memilin klitoris Nana dengan teknik petik melodi.
Nana menggelinjang-gelinjang, melenguh-lenguh penuh nikmat. “Mas.. Mas.. ampun.. terus,
ampun.. terus ukhh..” Sebentar kemudian Nana lemas. Namun itu tidak berlangsung lama
karena Nana kembali bernafsu dan berbalik mengambil inisitif. Tangannya mencari-cari arah
kejantananku. Kudekatkan agar gampang dijangkau, dengan serta merta Nana menarik celana
dalamku. Bersamaan dengan itu melesat keluar pusaka kesayangan Tari. Akibatnya,
memukul ke arah wajah Nana. “Uh.. Mas.. apaan ini,” kata Nana kaget. Tanpa menunggu
jawabanku, tangan Nana langsung meraihnya. Kedua telapak tangannya menggenggam dan
mengelus penisku.
“Mas.. ini asli?”
“Asli, 100 persen,” jawabku.
Nana geleng-geleng kepala. Lalu lidahnya menyambar cepat ke arah permukaan penisku
yang berdiameter 6 cm dan panjang 19 cm itu, sedikit agak bengkok ke kanan. Di bagian
samping kanan terlihat menonjol aliran otot keras. Bagian bawah kepalanya, masih tersisa
sedikit kulit yang menggelambir. Otot dan gelambiran kulit itulah yang membuat perempuan
bertambah nikmat merasakan tusukan senjata andalanku.
“Mas, belum pernah aku melihat penis sebesar dan sepanjang ini.”
“Sekarang kamu melihatnya, memegangnya dan menikmatinya.”
“Alangkah bahagianya MBak Tari.”
“Makanya kamu pengin seperti dia, kan?”
Nana langsung menarik penisku. “Mas, aku ingin cepat menikmatinya. Masukkan, cepat
masukkan.”
Nana menelentangkan tubuhnya. Pahanya direntangkannya. Terlihat betapa mulus putih dan
bersih. Diantara bulu halus di selangkangannya, terlihat lubang vagina yang mungil. Aku
telah berada di antara pahanya. Exocet-ku telah siap meluncur. Nana memandangiku penuh
harap.
“Cepat Mas, cepat..”
“Sabar Nana. Kamu harus benar-benar terangsang, Sayang..”
Namun tampaknya Nana tak sabar. Belum pernah kulihat perempuan sekasar Nana. Dia tak
ingin dicumbui dulu sebelum dirasuki penis pasangannya. “Cepat Mas..” ajaknya lagi.
Kupenuhi permintaannya, kutempelkan ujung penisku di permukaan lubang vaginanya,
kutekan perlahan tapi sungguh amat sulit masuk, kuangkat kembali namun Nana justru
mendorongkan pantatku dengan kedua belah tangannya. Pantatnya sendiri didorong ke arah
atas. Tak terhindarkan, batang penisku bagai membentur dinding tebal. Namun Nana
tampaknya ingin main kasar. Aku pun, meski belum terangsang benar, kumasukkan penisku
sekuat dan sekencangnya. Meski perlahan dapat memasukirongga vaginanya, namun terasa
sangat sesak, seret, panas, perih dan sulit. Nana tidak gentar, malah menyongsongnya penuh
gairah.
“Jangan paksakan, Sayang..” pintaku.
“Terus. Paksa, siksa aku. Siksa.. tusuk aku. Keras.. keras jangan takut Mas, terus..” Dan aku
tak bisa menghindar. Kulesakkan keras hingga separuh penisku telah masuk. Nana menjerit,
“Aouwww.. sedikit lagi..” Dan aku menekannya kuat-kuat. Bersamaan dengan itu terasa ada
yang mengalir dari dalam vagina Nana, meleleh keluar. Aku melirik, darah.. darah segar.
Nana diam. Nafasnya terengah-engah. Matanya memejam. Aku menahan penisku tetap
menancap. Tidak turun, tidak juga naik. Untuk mengurangi ketegangannya, kucari ujung
puting Nana dengan mulutku. Meski agak membungkuk, aku dapat mencapainya. Nana
sedikit berkurang ketegangannya.
Beberapa saat kemudian ia memintaku memulai aktivitas. Kugerakkan penisku yang hanya
separuh jalan, turun naik dan Nana mulai tampak menikmatinya. Pergerakan konstan itu
kupertahankan cukup lama. Makin lama tusukanku makin dalam. Nana pasrah dan tidak
sebuas tadi. Ia menikmati irama keluar masuk di liang kemaluannya yang mulai basah dan
mengalirkan cairan pelicin. Nana mulai bangkit gairahnya menggelinjang dan melenguh dan
pada akhirnya menjerit lirih, “Uuuhh.. Mas.. uhh.. enaakk.. enaakk.. Terus.. aduh.. ya ampun
enaknya..” Nana melemas dan terkulai. Kucabut penisku yang masih keras, kubersihkan
dengan bajuku. Aku duduk di samping Nana yang terkulai.
“Nana, kenapa kamu?”
“Lemas, Mas. Kamu amat perkasa.”
“Kamu juga liar.”
Nana memang sering berhubungan dengan laki-laki. Namun belum ada yang berhasil
menembus keperawanannya karena selaput daranya amat tebal. Namun perkiraanku, para
lelaki akan takluk oleh garangnya Nana mengajak senggama tanpa pemanasan yang cukup.
Gila memang anak itu, cepat panas.
Sejak kejadian itu, Nana selalu ingin mengulanginya. Namun aku selalu menghindar. Hanya
sekali peristiwa itu kami ulangi di sebuah hotel sepanjang hari. Nana waktu itu kesetanan dan
kuladeni kemauannya dengan segala gaya. Nana mengaku puas.
Setelah lulus, Nana menikah dan tinggal di Palembang. Sejak itu tidak ada kabarnya. Dan,
ketika pulang ke Yogya bersama anaknya, aku berjumpa di rumah bude.
“Mas Danu, mau nyoba lagi?” bisiknya lirih.
Aku hanya mengangguk.
“Masih gede juga?” tanyanya menggoda.
“Ya, tambah gede dong.”
Dan malamnya, aku menyambangi di hotel tempatnya menginap. Pertarungan pun kembali
terjadi dalam posisi sama-sama telah matang.
“Mas Danu, Mbak Tari sudah bisa dipakai belum?” tanyanya.
“Belum, dokter melarangnya,” kataku berbohong.
Dan, Nana pun malam itu mencoba melayaniku hingga kami sama-sama terpuaskan.
Koleksi Cerita Dewasa Terbaru
TAMAT
Posted in Umum | No Comments »
Ketagihan Ngentot
Tuesday, February 10th, 2009

Saya mau bercerita tentang pengalaman saya beberapa waktu yang lalu. Saya adalah wanita
yang memiliki hyperseksual yang dalam hal ini kecanduan akan kebiasaan sepongan
(melakukan oral seks terhadap kemaluan pria). Sudah lama sekali saya waktu pertama kali
menghisap kemaluan pria. Waktu itu umur saya 16 tahun. Dan setelah kejadian itu, saya
sudah mendapatkan 2 kejantanan pria lagi untuk saya sepong. Saya benar-benar tidak puas
dengan tidak terpenuhinya keinginan saya untuk menghisap kemaluan pria. Masalahnya saya
sering dipingit orang tua, apalagi ditambah dengan lingkungan sekolah saya yang merupakan
sekolahan khusus cewek. Jadi saya sering sakaw (menagih) kemaluan pria. Suatu malam,
saya sudah benar-benar tidak tahan lagi. Buku dan VCD porno pun tidak bisa memuaskan
saya. Bahkan waktu saya melakukan masturbasi pun saya tetap merasa kurang puas.
Saya yang sehabis masturbasi, membuka jendela kamar saya yang berada di lantai 2 rumah
saya. Waktu itu jam 23:30. Saya melihat jalanan di depan rumah sudah sepi sekali. Tiba-tiba
ide gila saya mulai lagi. Saya dengan nekat, diam-diam keluar rumah sambil bertelanjang
tanpa sepengetahuan siapa pun yang ada di rumah karena semua sudah pada tidur. Saya
sampai nekat melompat pagar dengan harapan ada cowok atau pria yang melihat dan
memperkosa saya. Apapun asal saya bisa menghisap kemaluannya.
Di komplek saya memang sepi sekali pada jam-jam segitu. Saya sedikit menyesal juga,
kenapa saya tidak keluar agak lebih sore. Agak dingin juga malam itu atau mungkin juga
karena saya tidak memakai selembar pakaian pun. Di ujung jalan, saya melihat masih ada
Mas Agus, tukang nasi goreng langganan saya yang masih berjualan. Langsung saya sapa dia.
“Mas Agus, nasi gorengnya dong..” pinta saya.
“Lho, Mbak Lili..? Ngapain malam-malam begini masih di luar? Ngga pake apa-apa lagi..”
sahutnya sambil terheran-heran melihat saya yang tanpa sehelai benang pun di tubuh.
“Abis panas sih, Mas. Kok tumben masih jualan..?”
Mas Agus tidak menjawab. Tetapi saya tahu matanya tidak bisa lepas dari payudaraku yang
putih polos ini.
“Ngeliatin apa mas..?” kutanya.
“Ah ngga..” katanya gugup.
Lalu Mas Agus menyiapkan penggorengannya untuk memasak nasi goreng pesananku. Saya
lihat ke arah celananya, saya tahu batang kemaluannya sudah berubah jadi bertambah besar
dan tegang. Karena saya sudah tidak tahan lagi untuk segera menghisap kemaluannya, saya
nekat juga. Saya jongkok sambil membuka ritsletingnya dan mengeluarkan batang
kejantanannya dari dalam CD-nya. Tidak pakai basa-basi, saya masukkan alat vitalnya Mas
Agus ke dalam mulut saya. Saya jilat-jilat sebentar lalu saya hisap dengan bibir. Saya yakin
Mas Agus merasakan senang yang tiada tara, seperti mendapatkan rejeki nomplok. Tidak
hanya itu, saya juga menjilati dua telor Mas Agus. Memang agak bau sih, tetapi saya benar-
benar menikmati kejantanan Mas Agus yang sekarang dia mulai bersuara, “Mmmh.. mmh..
uhh..”
Kira-kira 15 menit saya menikmati kemaluannya Mas Agus, tiba-tiba Mas Agus menyuruh
saya untuk berdiri. Dia memelorotkan celana dan CD-nya sendiri sampai bawah dan
menyuruh saya berbalik. Sekarang saya membelakangi Mas Agus. Mas Agus jongkok dan
menjilati kemaluan saya. Saya langsung merasakan kenikmatan yang hebat sekali. Hanya
sebentar dia melakukan itu. Selanjutnya dia berdiri lagi dan memasukkan batang
kejantanannya ke liang senggama saya. Kami berdua melakukan senggama sambil berdiri.
Saya melakukannya sambil pegangan di gerobak nasi gorengnya. Saya sudah benar-benar
merasa keenakan.
“Uuuh.. akkhh.. akkh.. akhh..” saya menjerit-jerit kegilaan, untung tidak ada yang
mendengar.
“Mas, kalo udah mau keluar, bilang ya..” pinta saya.
“Udah mau keluar nih..” jawabnya.
Langsung saja saya melepaskan batang kejantanannya dari liang vagina saya dan jongkok di
hadapan kemaluannya yang mengacung tegak. Tetapi setelah saya tunggu beberapa detik,
ternyata air maninya tidak keluar-keluar. Terpaksa saya kocok dan hisap lagi batang
kejantanannya, saya jilati, dan saya gigit-gigit kecil. Setelah itu tibalah saatnya saya
menerima upah yang dari tadi saya sudah tunggu-tunggu, yaitu air maninya yang memang
lezat.
“Crot.. crot.. crot..” semuanya saya minum seperti orang yang kehausan.
Langsung saja saya telan dan saya bersihkan kejantanannya dari air mani yang tersisa.
Bertepatan dengan itu, 2 laki-laki lewat di depan kami. Ternyata mereka adalah bapak-bapak
yang tinggal di komplek ini yang sedang meronda.
“Lho, Mas Agus lagi ngapain..?” kata seorang bapak di situ.
“Ah ngga pak.. mm.. ini Mbak Lily..” jawab Mas Agus malu-malu.
“Ini Om, saya habis ‘gituan’ sama Mas Agus..” saya jawab begitu nekat dengan harapan 2
bapak ini juga mau memperkosa saya seperti yang telah saya lakukan dengan si penjuali nasi
goreng.
Mereka keheranan setengah mati mendengar pengakuan saya itu.
“Adik ini tinggal dimana?” tanya salah satu dari mereka.
“Di sana, di blok F.” jawab saya.
“Ayo pulang sudah malam..!”
Dan saya pun diseret pulang. Saya takut setengah mati karena jika sampai saya dibawa
pulang, pasti ketahuan sama orang tua dan saya bakal digantung hidup-hidup.
Di tengah jalan, saya beranikan diri berkata pada mereka, “Om, mau nyusu ngga..?”
“Jangan main-main kamu..”
“Ayolah Om.. saya tau kok, Om mau juga kan ngewe sama saya..?”
Mendengar itu, si Om langsung terangsang berat. Saya langsung mengambil kesempatan
meraba-raba batang kejantanannya yang tegang.
“Ayo dong Om.. saya pengen banget lho..” saya bilang lagi untuk menegasakan maksud saya.
Bapak yang satunya lagi langsung setuju dan berkata, “Ya udah, kita bawa ke pos ronda aja
Pak Karim..” dan Pak Karim pun setuju.
Setibanya di sana, ternyata masih ada 3 orang lagi yang menunggu di sana, termasuk Bang
Parli, hansip di komplek saya. Saya kegirangan sekali, bayangkan saya akan mendapatkan 6
batang kejantanan dalam semalam. Gila.. beruntung sekali saya malam itu. Setelah kami
berenam ngobrol-ngobrol sebentar tentang kejadian antara saya dan Mas Agus, saya langsung
memberanikan diri menawarkan kesempatan emas ini ke mereka, “Saya sebenernya pengen
banget ngerasain barangnya bapak-bapak ini..”
Mereka langsung terlihat bernafsu dan terangsang mendengar perkataan saya, dan saya jeas
mengetahuinya. Saya suruh mereka berlima melepas celana dan CD mereka sendiri dan
duduk di bangku pos hansip itu. Mereka berbaris seperti menunggu dokter saja. Batang
kemaluan mereka besar-besar juga. Saya langsung memulai dengan batang kejantanan yang
paling kanan, yaitu senjata keperkasaannya Bang Parli. Saya hisap, saya gigit-gigit kecil, saya
kocok di dalam mulut saya, dan saya jilati keseluruhan batangnya dan termasuk juga
telurnya. Begitu juga pada batang keperkasaan yang kedua, ketiga, keempat, dan yang
terakhir miliknya Pak Karim.
Setelah selesai, saya masih belum puas kalau belum meminum air mani mereka. Lalu saya
duduki batang kejantananmya Bang Parli sampai masuk ke liang senggama saya. Saya
kocok-kocok di dalam vagina saya. Sementara itu, Pak Karim dan satu bapak lainnya
menjilati dan menghisap puting susu saya, sedangkan yang dua bapak lainnya menunggu
giliran. 10 menit setelah itu, saya sudah setengah tidak sadar, siapa yang menggenjot lubang
senggama saya, siapa saja yang menghisap buah dada saya, batang kejantanan siapa saja yang
sedang saya sepong, seberapa keras jeritan saya dan berapa kali saya sudah keluar karena
orgasme. Ada pula saatnya ketika satu senjata kejantanan masuk ke lubang vagina saya,
sedangkan satu senjata lagi masuk ke lubang anus saya sambil saya menghisap 3 batang
kemaluan secara bergantian. Pokoknya saya sudah tidak sadar lagi. Karena merasakan
kenikmatan yang benar-benar tiada tara.
Untungnya mereka tidak mengeluarkan air maninya di dalam lubang kewanitaan saya, kalau
tidak bisa hamil nanti saya.. berabe dong..! Lagipula saya berniat meminum semua air mani
mereka. Akhirnya saat yang saya tunggu-tunggu, yaitu saatnya saya berjongkok di depan
mereka dan mereka mengelilingi wajah saya sambil mengocok-ngocokkan barang mereka
masing-masing. Sesekali saya masih juga menghisap dan menyedot kelima batang kejantanan
itu dengan lembut.
Akhirnya, “Crot.. crot.. crot.. crot.. crot..” saya malam itu seperti mandi air mani. Saya
merasa puas sekali.
Waktu pulang, saya diantarkan Bang Parli, si hansip. Ketika sudah sampai di depan rumah
saya, sekali lagi Bang parli membuka ritsletingnya dan menyodokkan batang kejantanannya
ke dalam lubang senggama saya. Saya melakukannya sambil nungging berpegangan ke pagar
depan rumah saya. Selama 10 menit saya dan Bang parli melakukan senggama di depan
pagar rumah saya. Air maninya sekarang terpaksa dikeluarkan di punggung saya. Saya tidak
menyesal karena air maninya kali ini tidak terlalu banyak. Saya melompat pagar lagi, dan
masuk ke kamar diam-diam. Sampai di kamar sudah jam 3 lebih. Badan saya seluruhnya
malam itu bau sperma. Saya langsung tidur tanpa mandi dahulu karena besoknya saya harus
ke sekolah. Saya yakin mereka semua akan tutup mulut sebab takut dengan istri mereka
masing-masing.
Posted in Umum | No Comments »
Pembantu Seksi
Monday, January 12th, 2009

Aku berusia 37 tahun saat ini, sudah beristeri dan mempunyai 4 orang anak. Rumahku
terletak di pinggiran kota Jakarta yang bisa disebut sebagai kampung. Orang tuaku tinggal di
sebuah perumahan yang cukup elite tidak jauh dari rumahku. Orang tuaku memang bisa
dibilang berkecukupan, sehingga mereka bisa mempekerjakan pembantu. Nah pembantu
orang tuaku inilah yang menjadi ‘pemeran utama’ dalam ceritaku ini.
Bapakku baru dua bulan yang lalu meninggal dunia, jadi sekarang ibuku tinggal sendiri hanya
ditemani Enny, pembantunya yang sudah hampir 4 tahun bekerja disitu. Enny berumur 26
tahun, dia masih belum bersuami. Wajahnya tidak cantik, bahkan giginya agak tonggos
sedikit, walaupun tidak bisa disebut jelek juga. Tapi yang menarik dari Enny ini adalah
bodynya, seksi sekali. Tinggi kira-kira 164 cm, dengan pinggul yang bulat dan dada
berukuran 36. Kulitnya agak cokelat. Sering sekali aku memperhatikan kemolekan tubuh
pembantu ibuku ini, sambil membandingkannya dengan tubuh isteriku yang sudah agak
mekar.
Hari itu, karena kurang enak badan, aku pulang dari kantor jam 10.00 WIB, sampai di rumah,
kudapati rumahku kosong. Rupanya isteriku pergi, sedang anak-anakku pasti sedang sekolah
semua. Akupun mencoba ke rumah ibuku, yang hanya berjarak 5 menit berjalan kaki dari
rumahku. Biasanya kalau tidak ada di rumah, isteriku sering main ke rumah ibuku, entah
untuk sekedar ngobrol dengan ibuku atau membantu beliau kalau sedang sibuk apa saja.
Sampai di rumah ibuku, ternyata disanapun kosong, cuma ada Enny, sedang memasak.
Kutanya Enny, “En, Bu Dewi (nama isteriku) kesini nggak?”
“Iya Pak, tadi kesini, tapi terus sama temannya” jawab Enny.
“Terus Ibu sepuh (Ibuku) kemana?” Tanyaku lagi.
“Tadi dijemput Bu Ina (Adikku) diajak ke sekolah Yogi (keponakanku)”
“Oooh” sahutku pendek.
“Masak apa En? tanyaku sambil mendekat ke dapur, dan seperti biasa, mataku langsung
melihat tonjolan pinggul dan pantatnya juga dadanya yang aduhai itu.
“Ini Pak, sayur sop”
Rupanya dia ngerasa juga kalau aku sedang memperhatikan pantat dan dadanya.
“Pak Irwan ngeliatin apa sih” Tanya Enny.
Karena selama ini aku sering juga bercanda sama dia, akupun menjawab,
“Ngeliatin pantat kamu En. Kok bisa seksi begitu sih En?”
“Iiih Bapak, kan Ibu Dewi juga pantatnya gede”
“Iya sih, tapi kan lain sama pantat kamu En”
“Lain gimana sih Pak?” tanya Enny, sambil matanya melirik kearahku.
Aku yakin, saat itu memang Enny sedang memancingku untuk kearah yang lebih hot lagi.
Merasa mendapat angin, akupun menjawab lagi, “Iya, kalo Bu Dewi kan cuma menang gede,
tapi tepos”
“Terus, kalo saya gimana Pak?” Tanyanya sambil melirik genit.
Kurang ajar, pikirku. Lirikannya langsung membuat tititku berdiri.
Langsung aku berjalan kearahnya, berdiri di belakang Enny yang masih mengaduk ramuan
sop itu di kompor.
“Kalo kamu kan, pinggulnya gede, bulat dan kayaknya masih kencang”, jawabku sambil
tanganku meraba pinggulnya.
“Idih Bapak, emangnya saya motor bisa kencang” sahut Enny, tapi tidak menolak saat
tanganku meraba pinggulnya.
Mendengar itu, akupun yakin bahwa Enny memang minta aku ‘apa-apain’.
Akupun maju sehingga tititku yang sudah berdiri dari tadi itu menempel di pantatnya.
Adduuhh, rasanya enak sekali karena Enny memakai rok berwarna abu-abu (seperti rok anak
SMU) yang terbuat dari bahan cukup tipis. Terasa sekali tititku yang keras itu menempel di
belahan pantat Enny yang, seperti kuduga, memang padat dan kencang.
“Apaan nih Pak, kok keras? tanya Enny genit.
“Ini namanya sonny En, sodokan nikmat” sahutku.
Saat itu, rupanya sop yang dimasak sudah matang. Ennypun mematikan kompor, dan dia
bersandar ke dadaku, sehingga pantatnya terasa menekan tititku. Aku tidak tahan lagi
mendapat sambutan seperti ini, langsung tanganku ke depan, ku remas kedua buah dadanya.
Alamaak, tanganku bertemu dengan dua bukit yang kenyal dan terasa hangat dibalik kaos dan
branya.
Saat kuremas, Enny sedikit menggelinjang dan mendesah, “Aaahh, Pak” sambil kepalanya
ditolehkan kebelakang sehingga bibir kami dekat sekali. Kulihat matanya terpejam
menikmati remasanku. Kukecup bibirnya (walaupun agak terganggu oleh giginya yang
sedikit tonggos itu), dia membalas kecupanku. Tak lama kemudian, kami saling berpagutan,
lidah kami saling belit dalam gelora nafsu kami. TItitku yang tegang kutekantekankan ke
pantatnya, menimbulkan sensasi luar biasa untukku (kuyakin juga untuk Enny).
Sekitar lima menit, keturunkan tangan kiriku ke arah pahanya. Tanpa banyak kesukaran
akupun menyentuh CDnya yang ternyata telah sedikit lembab di bagian memeknya.
Kusentuh memeknya dengan lembut dari balik CDnya, dia mengeluh kenikmatan, “Ssshh,
aahh,
Pak Irwan, paak.. jangan di dapur dong Pak”
Dan akupun menarik tangan Enny, kuajak ke kamarnya, di bagian belakang rumah ibuku.
Sesampai di kamarnya, Enny langsung memelukku dengan penuh nafsu, “Pak, Enny sudah
lama lho pengen ngerasain punya Bapak”
“Kok nggak bilang dari dulu En?” tanyaku sambil membuka kaos dan roknya.
Dan.. akupun terpana melihat pemandangan menggairahkan di tubuh pembantu ibuku ini.
Kulitnya memang tidak putih, tapi mulus sekali. Buah dadanya besar tapi proporsional
dengan tubuhnya. Sementara pinggang kecil dan pinggul besar ditambah bongkahan
pantatnya bulat dan padat sekali. Rupanya Enny tidak mau membuang waktu, diapun segera
membuka kancing bajuku satu persatu, melepaskan bajuku dan segera melepaskan celana
panjangku.
Sekarang kami berdua hanya mengenakan pakaian dalam saja, dia bra dan CD, sedangkan
aku hanya CD saja. Kami berpelukan, dan kembali lidah kami berpagut dalam gairah yang
lebih besar lagi. Kurasakan kehangatan kulit tubuh Enny meresap ke kulit tubuhku.
Kemudian lidahku turun ke lehernya, kugigit kecil lehernya, dia menggelinjang sambil
mengeluarkan desahan yang semakin menambah gairahku, “Aahh, Bapak”.
Tanganku melepas kait branya, dan bebaslah kedua buah dada yang indah itu. Langsung
kuciumi, kedua bukit kenyal itu bergantian. Kemudian kujilati pentil Enny yang berwarna
coklat, terasa padat dan kenyal (Beda sekali dengan buah dada isteriku), lalu kugigit-gigit
kecil pentilnya dan lidahku membuat gerakan memutar disekitar pentilnya yang langsung
mengeras.
Kurebahkan Enny ditempat tidurnya, dan kulepaskan CDnya. Kembali aku tertegun melihat
keindahan kemaluan Enny yang dimataku saat itu, sangat indah dan menggairahkan. Bulunya
tidak terlalu banyak, tersusun rapi dan yang paling mencolok adalah kemontokan vagina
Enny. Kedua belah bibir vaginanya sangat tebal, sehingga klitorisnya agak tertutup oleh
daging bibir tersebut. Warnanya kemerahan.
“Pak, jangan diliatin aja dong, Enny kan malu” Kata Enny.
Aku sudah tidak mempunyai daya untuk bicara lagi, melainkan kutundukkan kepalaku dan
bibirkupun menyentuh vagina Enny yang walaupun kakinya dibuka lebar, tapi tetap terlihat
rapat, karena ketebalan bibir vaginanya itu. Enny menggelinjang, menikmati sentuhan bibirku
di klitnya. Kutarik kepalaku sedikit kebelakang agar bisa melihat vagina yang sangat indah
ini.
“Enny, memek kamu indah sekali, sayang”
“Pak Irwan suka sama memek Enny? tanya Enny.
“Iya sayang, memek kamu indah dan seksi, baunya juga enak” jawabku sambil kembali
mencium dan menghirup aroma dari vagina Enny.
“Mulai sekarang, memek Enny cuma untuk Pak Irwan” Kata Enny.
“Pak Irwan mau kan?”
“Siapa sih yang nggak mau memek kayak gini En?” tanyaku sambil menjilatkan lidahku ke
vaginanya kembali.
Enny terlihat sangat menikmati jilatanku di klitorisnya. Apalagi saat kugigit klitorisnya
dengan lembut, lalu lidahku ku masukkan ke liang kenikmatannya, dan sesekali kusapukan
lidahku ke lubang anusnya.
“Oooh, sshshh, aahh.. Pak Irwan, enak sekali Pak. Terusin ya Pak Irwan sayang”
Sepuluh menit, kulakukan kegiatan ini, sampai dia menekan kepalaku dengan kuat ke
vaginanya, sehingga aku sulit bernafas”Pak Irwan.. aahh, Enny nggak kuat Pak..
sshh”Kurasakan kedua paha Enny menjepit kepalaku bersamaan dengan itu, kurasakan
vagina Enny menjadi semakin basah. Enny sudah mencapai orgasme yang pertama. Enny
masih menghentak-hentakkan vaginanya kemulutku, sementara air maninya meleleh keluar
dari vaginanya. Kuhirup cairan kenikmatan Enny sampai kering. Dia terlihat puas sekali,
matanya menatapku dengan penuh rasa terima kasih. Aku senang sekali melihat dia mencapai
kepuasan.
Tak lama kemudian dia bangkit sambil meraih kemaluanku yang masih berdiri tegak seperti
menantang dunia. Dia memasukkan kemaluanku kedalam mulutnya, dan mulai menjilati
kepala kemaluanku. Ooouugh, nikmatnya, ternyata Enny sangat memainkan lidahnya,
kurasakan sensasi yang sangat dahsyat saat giginya yang agak tonggos itu mengenai batang
kemaluanku. Agak sakit tapi justru sangat nikmat. Enny terus mengulum kemaluanku, yang
semakin lama semakin membengkak itu. Tangannya tidak tinggal diam, dikocoknya batang
kemaluanku, sambil lidah dan mulutnya masih terus mengirimkan getaran-getaran yang
menggairahkan di sekujur batang kemaluanku.
“Pak Irwan, Enny masukin sekarang ya Pak?” pinta Enny.
Aku mengangguk, dan dia langsung berdiri mengangkangiku tepat di atas kemaluanku.
Digenggamnya batang kemaluanku, lalu diturunkannya pantatnya. Di bibir vaginanya, dia
menggosok-gosokkan kepala kemaluanku, yang otomatis menyentuh klitorisnya juga.
Kemudian dia arahkan kemaluanku ke tengah lobang vaginanya. Dia turunkan pantatnya,
dan.. slleepp.. sepertiga kemaluanku sudah tertanam di vaginanya. Enny memejamkan
matanya, dan menikmati penetrasi kemaluanku.
Aku merasakan jepitan yang sangat erat dalam kemaluan Enny. Aku harus berjuang keras
untuk memasukkan seluruh kemaluanku ke dalam kehangatan dan kelembaban vagina Enny.
Ketika kutekan agak keras, Enny sedikit meringis. Sambil membuka matanya, dia berkata,
“Pelan dong Pak Irwan, sakit nih, tapi enak banget”. Dia menggoyangkan pinggulnya sedikit-
sedikit, sampai akhirnya seluruh kemaluanku lenyap ditelan keindahan vaginanya.
Kami terdiam dulu, Enny menarik nafas lega setelah seluruh kemaluanku ‘ditelan’ vaginanya.
Dia terlihat konsentrasi, dan tiba-tiba.. aku merasa kemaluanku seperti disedot oleh suatu
tenaga yang tidak terlihat, tapi sangat terasa dan enaak sekali. Ruaar Biasaa! Kemaluan Enny
menyedot kemaluanku!
Belum sempat aku berkomentar tentang betapa enaknya vaginanya, Ennypun mulai membuat
gerakan memutar pinggulnya. Mula-mula perlahan, semakin lama semakin cepat dan lincah
gerakan Enny. Waw.. kurasakan kepalaku hilang, saat dia ‘mengulek’ kemaluanku di dalam
vaginanya. Enny merebahkan badannya sambil tetap memutar pinggulnya. Buah dadanya
yangbesar menekan dadaku, dan.. astaga.. sedotan vaginanya semakin kuat, membuat aku
hampir tidak bertahan.
Aku tidak mau orgasme dulu, aku ingin menikmati dulu vagina Enny yang ternyata ada
‘empot ayamnya’ ini lebih lama lagi. Maka, kudorong tubuh Enny ke atas, sambil kusuruh
lepas dulu, dengan alasan aku mau ganti posisi. Padahal aku takut ‘kalah’ sama dia.
Lalu kusuruh Enny tidur terlentang, dan langsung kuarahkan kemaluanku ke vaginanya yang
sudah siap menanti ‘kekasihnya’. Walaupun masih agak sempit, tapi karena sudah banyak
pelumasnya, lebih mudah kali ini kemaluanku menerobos lembah kenikmatan Enny.
Kumainkan pantatku turun naik, sehingga tititku keluar masuk di lorong sempit Enny yang
sangat indah itu.
Dan, sekali lagi akupun merasakan sedotan yang fantastis dari vagina Enny. Setelah 15 menit
kami melakukan gerakan sinkron yang sangat nikmat ini, aku mulai merasakan kedutan-
kedutan di kepala tititku.
“Enny, aku udah nggak kuat nih, mau keluar, sayang”, kataku pada Enny.
“Iya Pak, Enny juga udah mau keluar lagi nih. Oohh, sshh, aahh.. bareng ya Pak Irwan..,
cepetin dong genjotannya Pak” pinta Enny.
Akupun mempercepat genjotanku pada lobang vagina Enny yang luar biasa itu, Enny
mengimbanginya dengan ‘mengulek’ pantatnya dengan gerakan memutar yang sangat erotis,
ditambah dengan sedotan alami didalam vaginanya. Akhirnya aku tidak dapat bertahan lebih
lama lagi, sambil mengerang panjang, tubuhku mengejang.
“Enny, hh.. hh, aku keluar sayaang”
Muncratlah air maniku ke dalam vaginanya. Di saat bersamaan, Enny pun mengejang sambil
memeluk erat tubuhku.
“Pak Irwaan, Enny juga keluar paakk, sshh, aahh”.
Aku terkulai di atas tubuh Enny. Enny masih memeluk tubuhku dengan erat, sesekali
pantatnya mengejang, masih merasakan kenikmatan yang tidak ada taranya itu. Nafas kami
memburu, keringat tak terhitung lagi banyaknya. Kami berciuman.
“Enny, terima kasih yaa, memek kamu enak sekali” Kataku.
“Pak Irwan suka memek Enny?”
“Suka banget En, abis ada empot ayamnya sih” jawabku sambil mencium bibirnya.
Kembali kami berpagutan.
“Dibandingin sama Bu Dewi, enakan mana Pak?” pancing Enny.
“Jauh lebih enak kamu sayang”
Enny tersenyum.
“Jadi, Pak Irwan mau lagi dong sama Enny lain kali. Enny sayang sama Pak Irwan”
Aku tidak menjawab, hanya tersenyum dan memeluk Enny. Pembantu ibuku yang sekarang
jadi kekasih gelapku.Cerita Dewasa
Posted in Umum | No Comments »
Kenikmatan Pertama Sang Pacar
Saturday, January 3rd, 2009

Pagi itu aku tidak ada kuliah sehingga hari ini aku punya acara bebas dari pagi sampai
malam. Jam 7 pagi aku udah mulai mandi pagi, sambil mikirin rencana hari ini. Sehabis ganti
baju dan sarapan, aku ninggalin tempat kos-ku dan bawa motorku ke rumah pacarku, Yati.
Sekitar jam 8 pagi aku udah nyampe di rumahnya, kebetulan hari ini dia juga lagi libur.
Kutunggu agak lama setelah memencet bel rumahnya, Yati membukakan pintu depan
rumahnya, “lho kok sepi, pada kemana ? tanyaku sambil masuk ke rumahnya, “oh Mama lagi
ke Pasar Baru, si adik sudah berangkat pagi ke sekolah, ada PR” katanya.
“Duduk dulu ya, aku mau pake baju dulu nih, soalnya habis mandi buru-buru ada bel bunyi
dan aku yakin pasti kamu yang datang, jadinya cuman sempet pake handuk sama kaos aja”.
“Pasti belum pake baju dalam ya ? tebakku sambil senyum. “Ih dasar cowok, pikirannya yang
ngeres-ngeres aja, ” tapi suka kan …hi hi hi.

Sambil berjalan ke kamarnya, aku lihat pinggul dan pantat pacarku ini benar-benar aduhai,
betisnya putih apalagi pahanya pasti lebih ok dan yang paling memabukkan adalah buah
dadanya yang ranum dan montok, kaos ketatnya membungkus payudara indah tanpa bh itu
dengan sempurna, memperlhatkan lekukan dada wanita yang sempurna.
Kebayang waktu kenalan dulu, wih tangannya putih sekali dan mulusnya ampun, banyak
cowok yang suka sama dia, tapi namanya cinta nggak bisa diboongin.
“Sorry ya agak lama, nih kopi kesukaanmu mas “, aku agak kaget juga.
“Eh, makasih ya?!” kataku sambil kaget dan agak konak lihat pakaiannya, Yati cuma make
celana pendek tipis batik yogya dan kaos tipis ketat coklat muda tanpa lengan dengan belahan
kaos rendah yang memperlihatkan belahan dadanya yang putih dan montok.
“Aku minum ya, wah masih panas sekali’ kataku sambil megangin mulutku yang kepanasan,
Yati ketawa ” makanya kira-kira ya kalau mau minum tiup dulu donk, mas”. “Wah lihat nih,
lidahku sampai merah gini, mesti diobatin nih kalau nggak bisa dioperasi”, kataku.
“Aduh kacian, sini ibu guru lihat dulu” kata Yati sambil duduk disampingku dan memegang
mulutku, aku diam dan memperlihatan lidahku yang kepanasan, sementara kuhirup wangi
tubuhnya yang habis mandi, hmm.

Kudekatkan dudukku pada tubuh Yati, sambil tangannya melihat-lihat lidahku, tanganku
memeluk pinggulnya dari samping sambil kulirik belahan dadanya yang putih, montok
menantang dan menggairahkan itu.
Sambil kupeluk tubuhnya, kurasakan kehangatan tubuh dan payudaranya yang montok
membuat kontolku bangkit dan mulai membesar dengan cepat, hingga menyesakkan celana
yang kupakai, “idih, kok sampai merah gini” kata Yati, tiba-tiba mulutku dilumat olehnya
dan tanpa menunggu lagi sambil tetap kupeluk tubuhnya akaupun gantian memgulum,
melumat dan mencium bibir seksinya dengan penuh gairah, satu hal yang kusuka dari
pacarku, meskipun dia orangnya pendiam kalau urusan lumat melumat dia jadi sangat ahli
sekali, dan lumatan bibir seksinya sungguh sangat menggairahkan.
Tiba-tiba Yati mengangkat pantatnya dan duduk diatas pangkuanku, bongkahan pantatnya
terasa sangat hangat kenyal dan menekan kontolku yang sudah mengeras, “Ih adikku sudah
berdiri, katanya sambil menggoyangkan pantatnya diatas kontolku”.
Kulihat matanya sudah mulai nanar dan sedikit berair, pandangannya mulai agak sayu,
kemudian aku mulai beralih menciumi leher putihnya dan sedikit jilatan dibelakang
telinga,kelihatannya salah satu titik rangsangnya ini sangat menggairahkan nafsu seks-nya,
lebih kebawah lagi, kuraba dari luar bongkahan payudaranya sudah sangat mengeras dan
lebih membesar dari biasanya, pelan kuangkat kaosnya dan sepasang penutup BH-nya,
payudara yang putih dan montok itupun menyembul dari dalam BH hitam yang dipakainya,
sangat kontras sekali dengan dadanya yang sangat putih dan montok itu.
Kuciumi dengan rakus payudara montok itu dan kujilati dengan lidahku, sampai akhirnya ke
titik pusat dadanya, putting susunya yang sudah tegak seperti penghapus pensil di ujung,
kujilati putting susunya dan ternyata titik inipun sangat mempengaruhi gairahnya, terlihat
kedua tangannya dilepas dari pelukannya dan tangannya memegang dan menarik rambut
panjangnya kebelakang sambil mulutnya mendesis seperti orang kepedasan.
Tiba-tiba tubuhnya menggelinjang kuat sekali dan memeluktubuhku erat sekali sambil
digoyang-goyangkan pantatnya diatas kontol tegakku dan akupun terasa dikeliilingi daging
nikmat, dari sepasang dadanya yang montok dan ranum serta dibawah bongkahan pantatnya
yang nggak kalah montok dan padat.

Sejenak dia terdiam sambil tetap memelukku dan dia menggelendot manja diatas
pangkuanku,
“Mas, kita kemarku yuk, takut di ruang tamu ada yang masuk, lagian disana kan lebih
leluasa,
tapi aku minta digendong ya ..? pintanya manja.
Sambil tangannya memelukku, akupun menggendong tubuhnya yang ramping dan montok itu
ke kamarnya yang lumayan jauh dari ruang tamu. Setelah menaruh Yati diatas kasur,
kuhampiri tape disamping tempat tidurnya dan kusetel lagu Forever In Love-nya Kenny G
yang sampai saat ini menjadi lagu kenangan kami berdua.

Dalam ketegangan kontolku dan nafsu yang sudah naik, kuhampiri Yati, Kucium lembut
bibirnya dan seluruh wajahnya mulai dari keningnya, jidat, matanya yang terpejam, hidung
dan akhirnya kukecup dan akhirnya kulumat bibir seksinya, tanganku tak tinggal diam mulai
dari kaos dan BHnya kubuka perlahan dan celana dalam hitam kecilnya yang menutupi
lembah dan jembut halusnya, sambil terpejam Tangan Yati meraih kancing dan resluting
celanaku dan didapatinya kontolku yang sudah tegak berdiri, kubantu melepas baju yang
kukenakan sehingga kita berdua telanjang bulat dan hanya celana dalam Yati yang masih
dipakainya.
Tiba-tiba tubuhku didorongnya, “berdiri dulu sayang, katanya, akupun turun dari tempat tidur
dan Yati pun duduk ditepi tempat tidur dan sambil membelai kontolku yang sudah sangat
tegang.
“Aku belum pernah lihat titit lelaki dewasa, tetapi punyamu besar sekali mas, sampai-sampai
tanganku rasanya mantap sekali memegangnya, boleh aku belai sayang?”.
“Tentu, belai ciumi dan manjakan kontol besar ini sayang.”, kataku.
Kontolku sebenarnya nggak terlalu besar ya kira-kira pernah kuukur pakai penggaris
panjangnya 15 cm dan bonggolnya sebesar pepsodent ukuran jumbo, yah perfectable size-lah
menurut ukuran pacarku.
Sejak pertama kali mengenal oral sex hingga hari ini, Yati menunjukkan antusias yang sangat
tinggi dengan kontolku, matanya sempat terbelalak saat pertama melihat dan memegang
kontolku yang sudah ereksi. Apalagi saat pertama kali melakukan “karaoke”, istilahku jika
ingin di-oral-sex sama pacarku, cara memperlakukan kontolku benar-benar istimewa, saat
kutanya emangnya sudah pernah karaoke ya, pacarku marah besar, bagaimana mungkin
jawabnya, ciuman bibir aja baru dengan kamu , dan akupun teringat first kiss buatku dan buat
dia benarbenar berkesan, habis sama-sama baru sekali itu sih.
Sambil duduk dipingggir kasur kubuka pahaku sehingga kontolku yang sudah ereksi terlihat
menantang seperti tugu monas, Yati jongkok dibawah sambil membelai perlahan kontolku,
jari jemarinya menari-nari sepanjang kontolku mengikuti urat-uratnya yang menonjol sambil
sesekali meremas dengan gemas, kulihat payudara Yati sangat menantang dan sesekali
kuremas juga susunya.
Dari pangkal kontolku, dekat anus, tiba-tiba Yati menjulurkan lidahnya dan menjilat-jilat
bonggol kontolku, jilatan itu kemudian berpindah keatas mengikuti batang kontolku, hingga
akhirnya kepala kontolku dijilat dan disedot perlahan-lahan. Kurasakan aliran darah mengalir
keras disepanjang urat kontolku, dan ketegangannya mungkin sudah mencapai 100%,
kepalanya membesar seperti helm tentara, warnanya kemerah-merahan dan berdenyut-denyut
nikmat sekali.
Sampai akhirnya batang kontolku mulai dilumat dan dimasukkan ke dalam mulutnya,
perlahanlahan hingga kurasakan menyentuh ujung tenggorokannya, sementara masih tersisa
sekitar 5 cm. “Masukkan semuanya dong, pintaku, “Gimana mau masuk lagi, kontolmu
terlalu panjang buat mulutku, katanya sambil melepaskan kulumannya.
Akhirnya keluar masuk kontolku dimulutnya, wah rasanya nikmat sekali, mungkin seperti ini
rasanya bersenggama, pikirku, kami memang selama ini belum pernah melakukan
persetubuhan hingga memasukkan kontolku ke dalam vaginanya, yah hanya sekedar berbugil
sambil menjilat dan mengulum alat kelamin dan orgasme tanpa melakukan senggama.

Suasana pagi yang sejuk, karena jendela kamar yang terbuka ditambah alunan instrumen
Kenny.G membuat kami sama-sama terbuai dan lupa dengan segala sesuatunya. Sambil
kujamah payudaranya, Yati kutarik dan kurebahkan di atas tempat tidur, wajahnya
benarbenar merangsang, matanya berbinar, bibirnya memerah dan payudara sangat kencang
dan memadat dengan putting susu yang mengeras. Seperti diawal aku mulai menciumi wajah
dan bibirnya kemudian aku turun kebawah, kuciumi dan kujilati mulai dari jari-jemarinya
yang putih mulus hingga ke betis indahnya, sambil kubelai dan kusentuh paha mulusnya,
tanpa terasa aku menyentuh CD hitamnya dan perlahan kuturunkan dan kulepaskan, Yati
diam dan hanya mendesah-desah menahan kenikmatan itu.
Sampai di pahanya kubelai dan kuciumi paha mulusnya seinchi demi seinchi kelihatan sekali
dia begitu terangsang, sebelum sampai ke pangkal pahanya, aku naik dan mulai menjilati
dadanya. Payudara yang putih dan mulus itu kuremas sambil mulai kujilati melingkar hingga
sampai ke putingnya kujilati dan kusedot penuh nafsu, Kulihat pinggul dan pantat Yati
bergerak dan menggelinjang tak karuan menahan kenikmatan jilatan, sedotan dan remasanku.
Kujilati kebawah lagi dan sampai ke perut Yati yang sangat mulus dan akhirnya hingga ke
bukit indah yang ditumbuhi rumput hitam yang halus dan sangat kontras dengan kemulusan
tubuhnya. Kusibakkan bulu-bulu halus yang menutupi vagina pacarku, terlihat bibir
vaginanya masih tertutup rapat,namun terlihat disitu ada cairan disekelilingnya, ternyata dia
sudah mulai basah.
Kubuka sedikit dan terlihat kelentitnya berwarna merah jambu, kecil, menonjol dan kelihatan
membasah, kuraba perlahan, Yati melenguh keras dan menggoyangkan dan mengangkat
pantatnya, Kuraba perlahan dengan jari telunjukku dan akhirnya mulai kujilati dengan ujung
lidahku, kembali terdengar erangan dan lenguhannya merasakan nikmat yang luar biasa.
“Mas, tolong aku sayang, masukkan kontol besarmu ke vaginaku, aku sudah tak tahan lagi
menahan kenikmatan ini, pintanya sambil setengah menangis. ” jangan sayang, kita belum
boleh melakukan ini, toh nanti kita juga akan menikah, kataku masih sadar, meskipun aku
jiga sudah tidak kuat lagi menahan nafsuku.
“Biarlah mas, aku rela mmberikan perawanku untukmu sayang, aku sangat mencintaimu dan
aku takut kehilangan dirimu, kata Yati, sambil mulai menarik kontolku ke arah vaginanya
yang membasah.
Kontolku yang sudah agak menurun, mulai bangkit lagi begitu menyentuh bibir vagina Yati,
sangat tegang dan begitu membesar. Dengan masih deg degan akhirnya sedikit demi sedikit
kumasukkan batang kontolku ke dalam vaginanya, saat kucoba menyelipkan kepala kontolku
ke mulut vaginanya rasanya peret dan sulit sekali, kulihat Yati sedikit meringis dan membuka
mulutnya dan sedikit menjerit, “aaah” ,namun akhirnya kepala kontolku sudah mulai masuk
dan mulai kurasakan kehangat vaginya, perlahan kumasukkan seinchi demi seinchi, pada
centimeter ke 3 menuju ke 4, Yati tiba-tiba berteriak dan menjerit, ” aduh mas sakit sekali,
katanya, seperti ada yang menusuk dan nyerinya sampai ke perut”, katanya.
“Aku cabut aja ya ?”
” Jangan, biarkan dulu kutahan rasa sakit ini, aku yang sudah merasa kenikmatan yang luar
biasa dan sedikit demi sedikit mulai kumasukkan lagi batang kontolku.
Kulihat Yati meneteskan air mata, namun tiba-tiba dia menggoyangkan pantatnya dan
tentunya akhirnya kontolku hampir seluruhnya masuk, kenikmatan yang belum pernah
kurasakan, kontolku serasa digigit bibir yang kenyal, hangat, agak lembab dan nikmat sekali.
Akhirnya kamipun mulai menikmati hubungan badan ini, ” mas rasa sakitnya sudah agak
berkurang, sekarang keluar masukkan kontolmu mas, rasanya nikmat sekali.
Perlahan aku mulai mengayun batang kontolku keluar masuk ke vagina Yati, kulihat
tangannya diangkat dan memegang erat-erat kepalanya dan akhirnya menarik sprei tempat
tidurnya, sementara pahanya dia kangkangin lebar-lebar dan mencari-cari pinggulku, hingga
akhirnya kakinya melingkar di pantatku dan seolah meminta kontolku untuk dimasukkan
dalam-dalam ke vaginanya.
Beberapa kali ayunan, akhirnya aku agak yakin dia sudah tidak begitu merasakan sakit di
vaginanya, dan kupercepat ayuhan kontolku di vaginanya. Yati berteriak-teriak dan tiba
merapatkan jepitan kakinya di pantatku, kepala menggeleng-geleng dan tangannya menarik
kuat-kuat sprei tempat tidurnya, mungkin dia mau orgasme, pikirku. Tiba-tiba tangannya
memelukku erat-erat dan kakinya makin merapatkan jepitannya di pantatku, kurasakan
payudara besarnya tergencet dadaku, rasanya hangat dan kenyal sekali, aku diam sejenak dan
kubenamkan kontolku seluruhnya di dalam vaginanya.
” Oh, mmmas aku keluar…. Ahhhhhhhhhhhhh ….ahhhhhhhhhhhhh…. ahhhhhhhhhhh, Aku
merasakan nikmat yang amat sangat, kontolku berdenyut-denyut, rasanya aliran darah
mengalir kencang di kontolku, dan aku yakin kontolku sangat tegang sekali dan begitu
membesar di dalam vagina Yati, sepertimya aku juga akan mengeluarkan air kejantananku.
Kubuka sedikit jepitan kaki Yati dipantatku, sambil kubuka lebar-lebar paha Yati, kulihat ada
cairan kental berwarna kemerah-merahan dari vagina Yati, kontolku rasanya licin sekali
dialiri cairan itu, dan akhirnya dengan cepat aku kayuh kontolku keluar masuk dari vagina
Yati, nikmat sekali rasanya.
Ada mungkin delapan sampai sembilan kayuhan kontolku di vagina Yati, tiba-tiba kurasakan
ada sesuatu yang akan meledak dari dalam kontolku dan akhirnya …. Crooot …croooot
….crooot …crooot. Kontolku yang sudah kucabut dari dalam vagina Yati, kudaratkan di atas
perut mulusnya dan semburan air kejantananku muncrat sampai ke rambut, pipi,sebagian
mulutnya, payudara dan diatas perut Yati, kuurut-urut batang kontolku dan tetesan air maniku
berjatuhan di atas jembut halus kekasihku.
Aku merebahkan diri disamping tubuh mulus Yati, kupeluk dia sambil kubelai rambutnya,
Yati terpejam, diam dan tiba-tiba dari ujung kedua belah matanya yang terpejam menetes air
mata. Kuseka air matanya dan kupeluk dia erat-erat, dan dia memelukku juga, ” Mas, hari ini
aku sudah persembahkan kesucianku untukmu, sesuatu yang berharga yang kumiliki telah
kuberikan padamu, aku nggak mau kehilangan dirimu dan tak akan kulupakan seumur
hidupku peristiwa indah hari ini … Aku sangat mencintaimu mas”.
Yati bangun dari rebahannya, mengambil saputangan dan membersihkan bercak dari sela-sela
vaginya yang telah bercampur dengan cairan kenikmatannya, saputangan biru itu berbercak
merah, memenuhi hampir setengah lembar saputangan biru itu.
“Saputangan ini akan kusimpan selamanya, sebagai tanda buat cinta kita, mas” Aku terdiam,
kemudian kubelai rambut indahnya, kukecup keningnya dan kukatakan, ” Hari ini 14
November 1994, aku telah kau berikan sesuatu yang berharga darimu, keperawananmu
membuktikan cinta sucimu, aku juga sangat mencintaimu, kuambil keperawananmu dengan
keperjakaanku, dan tak kan kulupakan hari ini selama hidupku”.
Dalam keadaan sama-sama bugil, kupeluk tubuh Yati, kehangatan tubuhnya mengalir ke
setiap pori-pori dan diapun meraskan hal yang sama, ” tahun depan aku sudah lulus,
selanjutnya aku akan melamarmu dan kita akan menikmati cinta kita selamanya, aku
mencintaimu Yati”. ” Mas, aku bangga memilikimu, lelaki sepertimu yang memang aku
idamkan selama ini”.
Keringat yang mengalir di badanku diseka Yati dengan handuk dan dia membersihkan
kontolku dengan handuk basah, akupun jadi terangsang lagi,

” Ih, si Adik kok bangun lagi, kamu benar-benar perkasa mas”, aku tersenyum, sebenarnya
aku masih ingin melakukan sekali lagi tapi jam sudah menunjukkan jam 11.30, aku takut
kalau tibatiba mamanya pulang.
Kugandeng tangan Yati dan membawanya ke kamar mandi dan dibawah guyuran shower
kamar mandinya kita mandi bersama, saling menyabuni dan bercanda bersama, Kontolku
menjadi tegang saat mandi dan Yati sempat memasturbasi kontolku yang sudah tegang
dengan busa sabun, tangannya yang halus sangat lincah mengocok batang kontolku, sekitar
lima menitan air maniku sempat keluar lagi dan muncrat sampai ke atas seperti air mancur,
Yati tertawa puas, menciumiku dan melanjutkan mandi sampai selesai.
Selesai mengeringkan badan, rambutku dikeringkan Yati dengan hairdryernya, kupakai
bajuku dan kitapun kembali ngobrol di ruang tamunya, ngopi, ngobrol dan bercanda sambil
bermesraan menikmati hari indah itu.
Posted in Umum | No Comments »
Perawan Liar
Saturday, December 27th, 2008

Sebut saja namaku Lila, umurku 16 tahun, kelas 2 SMA. Sebagai anak SMA, tinggiku relatif
sedang, 165 cm, dengan berat 48 kg, dan cup bra 36B. Untuk yang terakhir itu, aku memang
cukup pede. Walau sebenarnya wajahku cukup manis (bukannya sombong, itu kata teman-
temanku…) aku sudah lumayan lama menjomblo, 1 tahun. Itu karena aku amat selektif
memilih pacar… enggak mau salah pilih kayak yang terakhir kali.
Di sekolah aku punya teman akrab namanya Stella. Dia juga lumayan cantik, walau lebih
pendek dariku, tapi dia sering banget gonta-ganti pacar. Stella memang sangat menarik,
apalagi ia sering menggunakan seragam atau pakaian yang minim… peduli amat kata guru,
pesona jalan terus!
Saat darmawisata sekolah ke Cibubur, aku dan dia sekamar, dan empat orang lain. Satu
kamar memang dihuni enam orang, tapi sebenarnya kamarnya kecil bangeeet… aku dan
Stella sampai berantem sama guru yang mengurusi pembagian kamar, dan alhasil, kami pun
bisa memperoleh villa lain yang agak lebih jauh dari villa induk. Disana, kami berenam
tinggal dengan satu kelompok cewek lainnya, dan di belakang villa kami, hanya terpisah
pagar tanaman, adalah villa cowok.

“Lil, lo udah beres-beres, belum?” tanya Stella saat dilihatnya aku masih asyik tidur-tiduran
sambil menikmati dinginnya udara Cibubur, lain dengan Jakarta.
“Belum, ini baru mau.” Jawabku sekenanya, karena masih malas bergerak.
“Nanti aja, deh. Kita jalan-jalan, yuk,” ajak Stella santai.
“Boljug…” gumamku sambil bangun dan menemaninya jalan-jalan. Kami berkeliling
melihat-lihat pasar lokal, villa induk, dan tempat-tempat lain yang menarik. Di jalan, kami
bertemu dengan Rio, Adi, dan Yudi yang kayaknya lagi sibuk bawa banyak barang.
“Mau kemana, Yud?” sapa Stella.
“Eh, Stel. Gue ama yang lain mau pindahan nih ke villa cowok yang satunya, villa induk
udah penuh sih.” Rio yang menjawab. “Lo berdua mau bantu, nggak? Gila, gue udah nggak
kuat bawa se-muanya, nih.” Pintanya memelas.
“Oke, tapi yang enteng ajaaa…” jawabku sambil mengambil alih beberapa barang ringan.
Stella ikut meringankan beban Adi dan Yudi.
Sampai di villa cowok, aku bengong. Yang bener aja, masa iya aku dan Stella harus masuk ke
sana? Akhirnya aku dan Stella hanya mengantar sampai pintu. Yudi dan Adi bergegas masuk,
sementara Rio malah santai-santai di ruang tamu. “Masuk aja kali, Stel, Lil.” Ajaknya cuek.
“Ngng… nggak usah, Yud.” Tolakku. Stella diam aja.
“Stella! Sini dong!” terdengar teriakan dari dalam. Aku mengenalinya sebagai suara Feri.
“Gue boleh masuk, ya?” tanya Stella sambil melangkah masuk sedikit.
“Boleh doooong!!” terdengar koor kompak anak cowok dari dalam. Stella langsung masuk,
aku tak punya pilihan lain selain mengikutinya.

Di dalam, anak-anak cowok, sekitar delapan orang, kalo Rio yang diluar nggak dihitung, lagi
asyik nongkrong sambil main gitar. Begitu melihat kami, mereka langsung berteriak girang,
“Eh, ada cewek!! Serbuuuuu!!” Serentak, delapan orang itu maju seolah mau mengejar kami,
aku dan Stella langsung mundur sambil tertawa-tawa. Aku langsung mengenali delapan orang
itu, Yudi, Adi, Feri, Kiki, Dana, Ben, Agam, dan Roni. Semua dari kelas yang berbeda-beda.
Tak lama, aku dan Stella sudah berada di antara mereka, bercanda dan ngobrol-ngobrol.
Stella malah dengan santai tiduran telungkup di kasur mereka, aku risih banget melihatnya,
tapi diam aja. Entah siapa yang mulai, banyak yang menyindir Stella.

“Stell… nggak takut digrepe-grepe lu di atas sana?” tanya Adi bercanda.


“Siapa berani, ha?” tantang Stella bercanda juga. Tapi Kiki malah menanggapi serius,
tangannya naik menyentuh bahu Stella. Cewek itu langsung mem*kik menghindar, sementara
cowok-cowok lain malah ribut menyoraki. Aku makin gugup.
“Stell, bener ya kata gosip lo udah nggak virgin?” kejar Roni.
“Kata siapa, ah…” balas Stella pura-pura marah. Tapi gayanya yang kenes malah dianggap
seb-agai anggukan iya oleh para cowok. “Boleh dong, gue juga nyicip, Stell?” tanya Dio.
Stella diam aja, aku juga tambah risih. Apalagi pundak Feri mulai ditempelkan ke pundakku,
dan entah sengaja atau tidak, tangan Agam menyilang di balik punggungku, seolah hendak
merangkul. Bingung karena diimpit mereka, aku memutuskan untuk tidak bergerak.
“Gue masih virgin, Lila juga… kata siapa itu tadi?” omel Stella sambil bergerak untuk turun
dari kasur. Tapi ditahan Roni. “Gitu aja marah, udah, kita ngobrol lagi, jangan tersinggung.”
Bujuknya sambil mengelus-elus rambut Stella. Aku tahu Stella dulu pernah suka sama Roni,
jadi dia membi-arkan Roni mengelus rambut dan pundaknya, bahkan tidak marah saat
dirangkul pinggangnya.
“Lil, lo mau dirangkul juga sama gue?” bisik Agam di telingaku. Rupanya ia menyadari kalau
aku memperhatikan tangan Roni yang mengalungi pinggang Stella. Tanpa menunggu
jawaban, Agam memeluk pinggangku, aku kaget, namun sebelum protes, tangan Feri sudah
menempel di pahaku yang terbungkus celana selutut, sementara pelukan Agam membuatku
mau tak mau berbaring di dadanya yang bidang. Teriakan protes dan penolakanku tenggelam
di tengah-tengah sorakan yang lain. Rio bahkan sampai masuk ke kamar karena mendengar
ribut-ribut tadi.
“Gue juga mau, dong!” Yudi dan Kiki menghampiri Stella yang juga lagi dipeluk Roni,
sementara Adi, Ben, dan Rio menghampiriku. Berbeda denganku yang menjerit ketakutan,
Stella malah kelihatan keenakan dipeluk-peluki dari berbagai arah oleh cowok-cowok yang
mulai kegirangan itu.
“Jangan!” teriakku saat Rio mencium pipi, dan mulai merambah bibirku. Sementara Ben
menjilati leherku dan tangannya mampir di dada kiriku, meremas-remasnya dengan gemas
sampai aku ke-gelian. Kurasakan genggaman kuat Feri di dada kananku, sementara Adi
menjilati pusarku. Terny-ata mereka telah mengangkat kaosku sampai sebatas dada. Aku
menjerit-jerit memohon supaya mereka berhenti, tapi sia-sia. Kulirik Stella yang sedang
mendapat perlakuan sama dari Roni, Yudi, dan Kiki, bahkan Dana telah melucuti celana jins
Stella dan melemparnya ke bawah kasur.
Lama-kelamaan, rasa geli yang nikmat membungkus tubuhku. Percuma aku menjerit-jerit,
akhir-nya aku pasrah. Melihatnya, Agam langsung melucuti kaosku, dan mencupang
punggungku. Feri dan Rio bahkan sudah membuka seluruh pakaian mereka kecuali celana
dalam. Aku kagum juga melihat dada Feri yang bidang dan harumnya khas cowok. Aku
hanya bisa terdiam dan meringis nikmat saat dada bidang itu mendekapku dan menciumi
bibirku dengan ganas. Aku membalas ciu-man Feri sambil menikmati bibir Adi yang tengah
mengulum payudaraku yang ternyata sudah terl-epas dari pelindungnya. Vaginaku terasa
basah, dan gatal. Seolah mengetahuinya, Rio membuka celanaku sekaligus CDku sehingga
aku langsung bugil. Agak risih juga dipandangi dengan begitu liar dan berhasrat oleh cowok-
cowok itu, tapi aku sudah mulai keenakan.
“Ssshh…. aaakhh…” aku mendesis saat Adi dan Ben melumat payudaraku dengan liar.
“Mmmh, toket lo montok banget, Liiiil…” gumam Ben. Aku tersenyum bangga, namun tidak
lama, karena aku langsung menjerit kecil saat kurasakan sapuan lidah di bibir vaginaku.
“Cihuy… Lila emang masih perawan…” Agam yang entah sejak kapan sudah berada di
daerah rahasiaku menyeringai. “Akkkhh… jangan Gam…” desahku saat kurasakan
kenikmatan yang tiada tara.

“Gue udah kebelet, niih… gue perawanin ya, Lil…” Tak terasa, sesuatu yang bundar dan
keras menyusup ke dalam vaginaku, ternyata penis Agam sudah siap untuk bersarang disana.
Aku men-desah-desah diiringi jeritan kesakitan saat ia menyodokku dan darah segar
mengalir. “Sakiiit…” erangku. Agam menyodok lagi, kali ini penisnya sudah sepenuhnya
masuk, aku mulai terbiasa, dan ia pun langsung menggenjot dan menyodok-nyodok. Aku
mengerang nikmat.
“Ssshh… terusss… yaaa, akh! Akh! Nikmat, Gam! Teruuss… sayang, puasin gue…
Akkkhh…”
Sementara pantat Agam masih bergoyang, cowok-cowok lain yang sudah telanjang bulat juga
mulai berebutan menyodorkan penis mereka yang sudah tegang ke bibirku.
“Gue dulu ya, Lil… nih, lu karaoke,” ujar Rio sambil menyodokkan penisnya ke dalam
mulutku. Aku agak canggung dan kaget menerimanya, tapi kemudian aku mulai
mengulumnya dan mempe-rmainkan lidahku menjelajahi barang Rio. Ia mendesah-desah
keenakan sambil merem-melek. Sementara Ben masih menikmati buah dadaku, Adi
nampaknya sudah mulai beranjak ke arah Stella yang dikerubuti dan digenjot juga sama
sepertiku. Bedanya, kulihat Stella sudah nungging, ala doggy style, penis Dana tengah
menggenjot vaginanya dan toketnya yang menggantung sedang dilahap oleh Kiki, sementara
mulutnya mengoral penis Yudi. Stella nampak amat menikm-atinya, dan cowok-cowok yang
mengerumuninya pun demikian. Beberapa saat kemudian, kulihat Dana orgasme, dan
kemudian Rio yang keenakan barangnya kuoral juga orgasme dalam mulutku, aku kewalahan
dan hampir saja memuntahkan cairannya.
Mendadak, kurasakan vaginaku banjir, ternyata Agam sudah orgasme dan menembakkan
sper-manya di dalam vaginaku, cowok itu terbaring lemas di sampingku, untuk beberapa
menit, kukira ia tidur, tapi kemudian ia bangun dan menciumi pusarku dengan penuh nafsu.
Kini, vaginaku suda-h diisi lagi dengan penis Beni. Penisnya lebih besar dan menggairahkan,
sehingga membuat mata-ku terbelalak terpesona. Beni menyodokkan penisnya dengan pelan-
pelan sebelum mulai mengg-enjotku, rasanya nikmat sekali seperti melayang. Kedua kakiku
menjepit pinggangnya dan bongka-han pantatku turut bergoyang penuh gairah. Kubiarkan
tubuhku jadi milik mereka.
“Akkkhh…. ssshh… terus, teruuusss sayaaang… akh, nikmat, aaahhh…” erangku keenakan.
Tok-etku yang bergoyang-goyang langsung ditangkap oleh mulut dan tangan Rio. Ia
memainkan puting susuku dan mencubit-cubitnya dengan gemas, aku semakin berkelojotan
keenakan, dan meracau tidak jelas, “Akkkhh… teruuuss… entot gue, entooott gue teruuss!
Gue milik luu… aakhh…!!”
“Iya sayyyaangg… gue entot lu sampe puasss…” sahut Ben sambil mencengkeram pantatku
dan mempercepat goyangan penisnya. Rio juga semakin lahap menikmati gunung kembarku,
menjilat, menggigit, mencium, seolah ingin menelannya bulat-bulat, dan sebelum aku sempat
meracau lagi, Agam telah mendaratkan bibirnya di bibirku, kami saling berpagutan penuh
gairah, melilitkan lidah dengan sangat liar, dan klimaksnya saat gelombang kenikmatan
melandaku sampai ke puncaknya.
“Aaakkhh…. gue mau…!” Belum selesai ucapanku, aku langsung orgasme. Ben menyusul
beber-apa saat kemudian, dan vaginaku benar-benar banjir. Tubuh Ben langsung jatuh
dengan posisi penisnya masih dalam jepitan vaginaku, ia memeluk pinggangku dan menciumi
pusarku dengan lemas. Sementara aku masih saja digerayangi oleh Agam yang tak peduli
dengan keadaanku dan meminta untuk dioral, dan Rio yang menggosok-gosokkan penisnya
di toketku dengan nikmat.
Beberapa saat kemudian, Agam pun orgasme lagi. Agam jatuh dengan posisi wajah tepat di
sampingku, sementara Rio tanpa belas kasihan memasukkan penisnya ke vaginaku, dan
mengge-njotku lagi sementara aku berciuman penuh gairah dengan Agam. Selang beberapa
saat Rio org-asme dan jatuh menindihku dengan penis masih menancap, ia memelukku mesra
sebelum kemud-ian tertidur. Aku sempat mendengar erangan nikmat dari arah Stella,
sebelum akhirnya benar-benar tertidur kecapekan, membiarkan Beni dan Agam yang masih
menciumi sekujur tubuhku.

Selama tiga hari kami disana, kami selalu melakukannya setiap ada kesempatan. Sudah tak
ter-hitung lagi berapa kali penis mereka mencumbu vaginaku, namun aku menikmati itu
semua. Bahk-an, bila tak ada yang melihat, aku dan Stella masih sering bermesraan dengan
salah satu dari mereka, seperti saat aku berpapasan dengan Agam di tempat sepi, aku duduk
di pangkuannya sementara tangannya menggerayangi dadaku, dan bibirnya berciuman
dengan bibirku, dan penis-nya menusuk-nusukku dari bawah. Sungguh pengalaman yang
mendebarkan dan penuh nikmat—tubuhku ini telah digauli dan dimiliki beramai-ramai,
namun aku malah ketagihan.
Posted in Umum | No Comments »
Mbak Dian Pembantu Seksi
Wednesday, December 24th, 2008

Kriteria pembokat gue dengan postur body menantang toket ukuran 36 B plus bokong yang
bak bemper yang padet, tinggi badannya kira kira 160 dan berkulit putih…. karena pembantu
gue ini orang asal Kota Bandung, umurnya sekarang kira kira 29 tahun. silakan bayangkan
gimana bodynya, gue aja kalo liat dia lagi ngepel langsung otomatis dede yang di dalem
celana langsung mengeliak saat bongkahan dadanya memaksa keluar dari celah kerah
bajunya.
Terkadang di pikiran gue terlintas pemikiran kapan yang bisa nyicipin tubuh montok
pembokat gue yang aduhai itu… udah naga bonar gak bisa di ajak kompromi lagi, liat sedikit
aja langsung bangun dari tidurnya…
Pernah suatu hari gue lagi mau ganti baju di dalam kamar pas waktu itu gue lupa ngunci
pintu… tiba tiba gue kaget pembokat gue masuk tanpa ngetuk ngetuk lagi, mungkin dia pikir
udah lama kerja sama keluarga gue n udah kenal gue dari gue masih SD…
“Eh…, lagi ganti baju ya… Donn” kata pembantu gue sambil buka pintu kamar gue tanpa ada
rasa kegelisahan apa apa saat liat gue gak pake apa apa… cuma tinggal CD aja yang belom
gue lepas.
“Mbak, ketok dulu dong kalo mau masuk kamar Donny… gimana kalo pas masuk Donny
lagi telanjang…” celetuk gue sama dia
“Emangnya kenapa sih Donn, saya kan udah lama kerja di keluarga Donny… ,lagian’kan
waktu masih SD juga kamu suka pake CD aja kalo di rumah…”. Kata Dian sama gue yang
kayaknya acuh terhadap posisi gue yang telanjang.
“Mbak… itu’kan dulu, waktu saya masih SD. Sekarang’kan saya sudah besar… Mbak
memang gak malu yah liat saya kalo telanjang bulat gak pake apa apa…” celetuk asal keluar
dari mulut.
“Iiiihhh…. malu gapain… lagian saya juga gak mau liat… yah udah sana kalo mau ganti
baju, mbak mau beresin kamar kamu nih yang berantakan mulu tiap hari kayak kandang
sapi…”
Karena dia menjawab dengan rasa yang tidak keberatan kalo gue ganti baju disaat ada dia.
Dengan santai gue mulai turunin CD gue yang nutupin kont*l gue yang udah mulai agak
kenceng dikit…
Tanpa sengaja gue tangkap lirikan matanya yang memandang ke arak selangkangan gue yang
di tumbuhin rambut yang lebat…
“Nah… tuh ngeliatin mulu… katanya tadi mbak Dian gak mau liat, sekarang liat mulu…”
“Siapa yang liat… wong saya lagi beresin sprei yang berantakan ini kok…” bantah dia karena
malu mungkin kepergok ngelihat kearah selangkangan gue.
AKhirnya gue tinggal dia di dalam kamar gue yang sedang beresin kamar gue yang
berantakan itu, di luar gue jadi teringat gimana yah caranya buat bisa nikmatin tubuh
pembantu gue yang bahenol ini… dan gue rasa dia juga kayaknya penasaran sama kont*l gue
yang gede ini… buktinya beberapa kali gue pergokin dia ngelirik terus kearah gue.
Pas suatu hari libur, hari minggu keluarga gue pada pergi ke rumah kerabat gue yang mau
nikahin anaknya.
“Donny… kamu mau ikut gak. Mama semuanya mau pergi ke pesta pernikahan anaknya
tante Henny di Bandung…”. Tanya Mama gue.
“Kapan pulangnya Ma,…” Jawab gue sambil ngucek ngucek mata karena baru bangun…
“Mhhhmmm,… mungkin 2 hari deh baru pulang dari Bandung, kan capek dong Donn… kalo
langsung pulang…
kamu tanya kapan pulang, kamu mau ikut gak… atau mau di rumah saja” tanya mamaku
kembali…
“Kayaknya dirumah aja deh Ma… abis capek ah, jauh… lagian besok Donny ada acara sama
teman teman Donny…” jawab
ku seraya kembali membenamkan kepalaku kembali ke bantal…
“Yah udah… mama mau berangkat jalan kamu baik baik yah jaga rumah… mau apa minta
aja sama Mbak dian…”
“Dian… Dian… Dian…” panggil Mamaku
“Iyah Nyah…, Maaf saya lagi nyuci. Kurang denger tadi Nyonya panggil. Kenapa Nyah…”
Jawab Mbak Dian
Sambil datang dari belakang yang ternyata sedang cuci baju… baju yang dikenakan
sebetulnya tidaklah menantang, namun
karena terkena air sewaktu mencuci menjadi bagian paha dan dadanya seakan transparan
menantang…
“Dian… kamu jaga rumah yah selama saya dan tuan pergi ke Bandung”
“Iyah Nyah… ,” jawab kembali pembokat gue itu ke mama gue…
Setelah kira kira selang beberapa jam setelah keberangkatan mamaku… akhirnya aku keluar
dari kamar hendak buang air kecil.
Perlu Bro Bf ketahui jarak antara tempat pembantu gue nyuci sama kamar mandi deket
banget… waktu gue jalan ke kamar mandi, gue liat pembantu gue yang lagi nyuci baju
dengan posisi duduknya yang buat naga di dalam cd gue bangun…
Pembantu gue pake T shirt putih yang tipis karena dah lama di tambah lagi kaosnya kena air,
secara langsung keliatan jelas banget BH krem yang dipake pembantu gue berserta paha
mulusnya yang udah agak terbuka karena duduknya hingga keliatan CD putihnya…
“Anjriiit, mulus juga nih pembantu gue meskipun udah janda anak satu tapi dari paha dan
teteknya masih keliatan kenceng, kayak cewek yang belum pernah kesentuh sama laki
laki”.oceh gue dalam hati sambil kencing trus ngelirik ke pahanya yang mulus itu.
Sambil kencing gue mikir gimana caranya buka omongan sama pembantu gue, biar gue bisa
agak lamaan liat CD dan teteknya yang aduhai itu… pantes banyak tukang sayur selalu suka
nanyain Mbak Dian mulu kalo tiap pagi…
“Mbak gimana kabar Ani, sekarang udah umur berapa… Mbak Dian kok bisa sampai cerai
sih sama suaminya”Iseng gue tanya seputar hubungan dia sama mantan suaminya yang
sekarang udah cerai, dan kenapa bisa sampai cerai… gugup juga sih gua waktu nanyanya
kayak gue nih psikolog aja…
“Kok tiba tiba Donny tanya tentang itu sih sama Mbak… ”
“Gak pa pa kan Mbak… ”
“Anak mbak sekarang udah umur lima tahun, mbak cerai sama suami mbak karena dia
pengangguran… mau nya enak doang.
Mau bikinnya tapi gak mau besarin. Yah… lebih baik mbak minta cerai aja. masa sih mbak
sendiri yang banting tulang cari uang,
sedangkan suami mbak cuman bangun, makan, main judi sampai subuh… males Donn punya
suami pengangguran, lebih baik
sendiri… sama aja kok” Jawab pembantu ku panjang lebar, seraya tangannya tetap membilas
baju yang sedang ia cuci.
Ini dia masuk ke dalam dialog yang sebenarnya… akhirnya pembicaraan yang gue maksud
agar gue arahin pembicaraan hingga tentang persoalan hubungan intim.
“Lah… bukannya enakan punya suami, mbak… daripada gak ada…”
“Enak dari mananya Donn… punya suami sama gak punya sama aja ah…”
“Loh beda dong mbak…”
“Beda dari mananya Donn… coba jelasin, aah kamu ngomongnya kayak kamu dah pernah
ngerasain menikah aja sih Donn…”
tanya pembantuku sambil bercanda kecil.
“Yah beda lah mbak… dulu kalo masih ada suami kan kalo lagi pengen tinggal minta sama
suami mbak… sekarang udah cerai
pas lagi pengen… mau minta sama siapa…” Jawab gue sambil menjuruskan kalimat kalimat
yang gue tuju ke hal yang gue
inginin.
“Maksud Donny apa sih… mau apa. Ngomongnya jangan yang bikin mbak bingung dong
Donn…”
“Gini mbak, maksudnya apa mbak gak pernah pengen atau kangen sama ini nya laki laki…”
waktu gue ngomong gitu sambil gue turunin dikit celana pendek gue, trus gue keluarin punya
gue ngadep ke depan mukanya…
“Iiih gede banget punya kamu Donn… punya mantan suami mbak sih gak begitu gede kayak
gini…” Jawab mbak dian sambil melotot ke kont*l gue yang udah Super tegang, karena dari
tadi udah minta di keluarin.
“Kangen gak sama Kont*l laki laki mbak…” tanya kembali saya yang sempat membuyarkan
pandangan mbak dian yang dari
setadi tak lepas memandang kont*lku terus.
“…… waduh mbak gak tahu deh Donn…, kalo punya mbak dimasukin sama punya kamu
yang gede kayak gini. Gimana rasanya
mbak gak bisa ngebayangin…”
“Loh… mbak saya kan gak tanya apa rasanya di masukin sama punya saya yang lebih gede
dari punya mantan suami mbak. Saya kan cuman tanya apa mbak gak kangen sama punyanya
laki laki”Padahal didalam hati gue udah tahu keinginan dia yang pengen ngerasain kont*l gue
yang super size ini…
“mmmmhhhhh… maksud mbak dian sih… yah ada kangen sama punya laki laki… tapi
kadang kadang mbak tahan aja, abis
mbak kan dah cerai sama suami… ” jawab mbak dian yang keliatan di pipinya merona karena
merasa jawabannya ngawur
dari apa yang gue tanyain ke dia”
“Mbak… boleh gak saya pegang tet*k mbak ”
“Iiihh… Donn kok mintanya sama mbak sih, minta dong sama pacar Donny… masa sama
mbak…”
“Yah… gak pa pa sih, saya mau ngerasain begituan sama mbak dian… gimana sih begitu
sama ce yang udah pernah punya
anak… boleh yah mbak… ” kata gue sambil mendekatkan kont*l gue lebih dekat ke
mulutnya…
“iiih donny… punya kamu kena mulut mbak nih… memangnya kamu gak malu gituan sama
mbak dian…” jawab mbak dian sambil merubah posisi duduknya sambil menghadap ke
kont*l gue dan ngelepasin baju yang sedang dia bilas…
“Yah gak lah kan gak ada yang tahu… lagian kan gak ada yang tahu, kan sekarang gak ada
orang selain mbak dian sama saya”
jawab gue sambil yakinin ke dia, biar di mau kasih yang gue pengen.
“Tapi jangan keterusan yah… trus kamu mau di apain sama mbak…”
“Mbak mulutnya di buka dikit dong, saya mau masukin punya saya ke dalam mulut mbak
dian…”
“Iih… gak ah jijik… masa punya kamu di masukin ke dalam mulut mbak… mbak gak pernah
lakuin kayak gini sama mantan
suami mbak, gak ahh… ” tapi posisi tangannya sekarang malah megang kont*l gue sambil
ngocok ngocok maju mundur.
“Cobain dulu mbak enak loh… anggap aja mbak dian lagi kemut permen lolipop atau es krim
yang panjang” rayu gue ngarep
mbak dian mau masukin kont*l gue ke dalam mulutnya yang mungil itu.
Akhirnya permintaan gue diturutin tanpa banyak ngomong lagi mbak dian majuin mukanya
kearah kont*l gue yang udah
super tegang itu kedalam mulutnya yang mungil… sementara dia kemut kont*l gue maju
mundur yang terkadang di selingin jilatan jilatan yang bikin gue pegang kepalanya trus gue
tarik maju hingga kepala kont*l gue mentok sampe kerongkongan mbak dian.
“Ooooooh… mbak emut truuuus mbak…. ennnnak banget” sambil tangan gue mulai turun
megang tet*knya yang mengoda itu.
Tangan gue masuk lewat kerah kaosnya, trus langsung gue remes kera tet*knya… Tangan
mbak dian juga kayaknya gak mau
kalah sama gue. Dia malah makin ngedorong pantat gue dengan tangannya hingga hidungnya
nempel sama jembut gue…
Karena tempatnya kurang tepat untuk bertempur lalu gue ajak mbak dian ke ruangan tengah
sambil ngemut kont*l gue jalan ke ruangan tengah. Perlu di ketahui mbak dian merangkak
seperti anjing yang haus sex gak mau lepas dari kont*l gue, merangkak berjalan ngikutin
langkah kaki gue yang mundur ke arah ruang tengah.
Gue liat mulutnya yang mungil sekarang terisi kont*l gue… tangannya sambil remas remas
buah dadanya sendiri…
” Mbak dian lepasin dulu dong kont*l saya, buka dulu baju mbak dian. Entarkan mbak juga
nikmatin sepenuhnya punya saya…”
” Donnn…. punya kamu enak banget… mbak kira dari dulu jijik kalo liat ce ngemut
punyanya cowok… ehh ternyata nikmatnya
bener bener bikin ketagihan Donn…”
Dengan cepat cepat mbak dian membuka seluruh baju dan roknya yang tadi basah karena
kena air… Wooow, sungguh pemandangan yang sangat indah… kini di hadapan gue telah
ada seorang wanita yang telanjang tanpa tertutup sehelai benang… berjalan menghampiri gue
dengan posisi doggie style mbak dian kembali memasukkan kont*l gue ke dalam mulutnya
yang mungil itu.
Dengan jels bisa gue liat buah dada yang gelantungan dan bongkahan pantat yang begitu
padat, yang slama ini udah banyak bikin kont*l gue penasaran pengen di selipin diantara
bongkahan itu…
nafas suara mbak dian semakin lama semakin membara terpacu seiringin dengan birahi yang
selama ini terkubur di dalam dirinya. Sekarang terbangun dan mendapatkan suatu kepuasan
seks yang selama ini ia tahan tahan.
Sementara mbak dian ngemut kont*l gue, gue remas tet*knya yang menantang itu terkadang
gue pegang MQ nya yang ternyata udah banjir oleh cairan kenikmatan.
Gue tusuk tusuk jari tengah gue ke dalam mem*knya hingga mbak dian ngeluarin desahan
sambil meluk pantat gue…
” Mmmmhhhhh….. ooooooohhhhhh……” desahannya begitu menambah gue buat semakin
cepat menusuk nusuk liang kenikmatannya semakin cepat.
“Donnn…..OOooooohhhh…. Donnn… enak donnn… enak….” Desahan mbak dian benar
benar membuat semakin terangsang…
tusukan jari yang gue sodok sodok pun semakin gencar…
” Aaaaaahhhh…. Donnnyyyyyy…. OOOhhhhh Dooooonnn… mbakkkkk….. mmmmbb…..
klllluuuaar… ” bersamaan dengan desahan mbak Dian yang panjang, akhirnya mbak Dian
telah mencapai puncak kenikmatannya yang terasa di jari tengah yang
gue sodok sodok ke lubang MQ nya waktu mbak Dian menyemprot cairan kenikmatannya….
Karena mbak Dian telah mengalami organismenya yang pertama, maka Gue pun tak mau
kala. Irama sodokkan kont*l gue percepat kedalam mulut mbak Dian berkali kali hingga
desahan panjang gue pun mulai keluar yang menandakan sperma gue akan muncrat…
[IMG]file:///D:/PRIVE/kmpln%20carita/pembantu%20dian_files/anuanuan.gif[/IMG]
” Mbak Donny mau kkkkelllluaaar…. aaaaahhhh…. sedot mbak… sedot peju Donny…. ”
kata gue sama Mbak Dian sambil menahan kepalanya untuk memendamkan kont*l gue
hingga masuk ke tenggorokannya. Namun Mbak Dian meronta ronta tidak menginginkan
sperma gue keluar di dalam mulutnya… sia sia rontahan mbak Dian Sperma gue akhirnya
keluar hingga penuh di dalam mulutnya.
Crroooot…. Crooot… crooot… [IMG]file:///D:/PRIVE/kmpln%20carita/pembantu
%20dian_files/crotz.gif[/IMG] akhirnya Gue semburkan berkali kali peju gue di dalam mulut
mbak Dian. Meskipun pada saat Mbak Dian tidak ingin menelan Sperma gue namun gue
memaksanya untuk menelannya dan menikmati Sperma gue yang segar itu.
Posisi mbak Dian masih sama seperti sebelumnya, namun sekarang kakinya seperti
kehilangan tenaga untuk menahan berat badannya mengalami kenikmatannya… dari sela sela
bibirnya mengalir sisa spermaku yang di jilat kembali. Tubuh mbak Dian kini terkapar tak
berdaya namun menampilkan sosok wajah penuh dengan kepuasan yang selama ini tak ia
dapatkan.
Melihat expresi wajahnya membuat gue kembali semakin nafsu… karena dari tadi gue
anggap hanyalah pemanasan.
Gue berjalan mendekat ke tubuh mbak dian yang sedang lemes… trus menelentangkan posisi
tubuhnya dan gue rengangkan kedua belah pahanya. Dengan tangan sebelah kanan gue
genggam kont*l gue yang udah tegang terus menerus mengesek gesekan kepala kont*l gue di
atas permukaaan Mem*k mbak dian yang udah licin, basah karena cairan kenikmatan milik
mbak dian. Saat Gue mau menjebloskan kont*l gue yang udah menyibak bibir mem*knya,
tiba tiba mbak dian menahan dada gue dan berharap gue gak masukin kont*l gue ke dalam
mem*knya yang sudah lima tahun gak pernah terisi sama kont*l laki laki…
Karena saat itu nafsu gue udah sampe otak, gue dah gak perduli lagi sambil tetap ngeliat ke
bawah tempat dimana kont*l gue sekarang akan menembus liang kenikmatan yang sungguh
sungguh mengiurkan…
“Tenang mbak tahan dikit… saya ngerti mungkin kont*l saya terlihat terlalu besar
dibandingkan mem*k mbak. Tapi nanti disaat
udah masuk kedalam mem*k mbak… nikmatnya akan 10x lipat nikmat yang pernah mbak
dian rasain sama mantan suami
mbak…” gue bisa liat di matanya takut saat detik detik gue akan menghujang basoka yang
besar ini kedalam mem*knya yang terbilang sempit…
” Dooonnnn….. peeellllannn… mbak ngeri liat punya kamu yang besar banget itu…. ” kata
mbak Dia sambil melirik ke arah basoka rambo yang siap mengaduk gaduk isi mem*knya.
” Iya… Donny coba pelan pelan masukin nya… mbak tahan dikit yah… mungkin karena dah
lama aja mbak kali mbak… ” kataku kembali kepada mbak Dian seraya meyakinkan hatinya.
Sambil kembali menaikkan kembali libidonya, gue gesek gesek kepala kont*l gue tepat diatas
bibir mem*knya yang mulai kembali basah sama cairan kewanitaannya. Terkadang gue
selipin sedikit demi sedikit ke dalam liang mem*knya mbak Dian, lalu gue tarik kembali dan
mengesekkan kembali ke itil nya yang merah segar itu.
sleep…sleep… sleeep… mungkin sangkin basahnya mem*k mbak Dian hingga
mengakibatkan suara seperti itu….
” hhmmmmm… eeee… ssstttt….. Donnn… Donnn… Kamu apain punya mbak Dian. ” tanya
mbak Dian sambil matanya terpejam mengigit bibir bawahnya sendiri…
” Donn… udah dong… jangan bikin mbak Dian kayak gini trus…. masukkin aja Donn ”
” Mbak mohon kasihan kamu… entot*n mbak… mbak gak tahan lagi… ooohhh…
eemmmm… ” rengge mbak Dian sama gue mengharap segera kont*l gue masuk ke dalam
mem*knya dan memompa dia.
” Tahan mbak yah… ” lalu tanpa menunggu jawaban selanjutnya ku tancapkan seluruh
batang kont*l gue yang udah dari tadi mau mengobok gobok isi mem*knya.
” Doooooonn…… ” sahut mbak Dian di saat pertama gue terobos mem*knya, tangannya
langsung merangkul leher gue. Seperti orang yang mengantungkan setengah badannya.
” Pelan… pelan… Donn… nyeri… bannngeet …”
Namun gue gak sahutin ucapan mbak Dian, karena gue lagi nikmatin sesuatu yang memijit
kont*l gue yang terkadang menyedot yedod kont*l gue ini. Rasanya begitu nikmat hingga
gue tanjap lagi lebih dalam sampai terasa kont*l gue mentok di dasar rahim mbak Dian yang
motok ini.
Desahan liar mbak Dian pun semakin tak karuan… terkadang dengan tangannya sendiri mbak
Dian memelintir puting susunya yang udah mengeras…
” Gimana Mbak masih sakit… sekarang rasanya apa… enak gak mbak… ” tanya ku kepada
mbak Dian setelah gue liat raut mukanya yang penuh dengan expresi kenikmatan.
Gerakkannya dan goyangan pinggulnya yang mengikuti irama enjotan gue pun semakin lama
semakin liar. Kadang kadang pantatnya di hentakkan ke atas yang berbarengan dengan sodok
sodokkan yang gue hujam ke mem*knya.
” Donnn… Donnn… kamu hebat banget… Donnnn….”
” Donnn… mmmmmaaauuu… mmmmmbbbaaakk keluar lagi nih… OOOOOoooooohhh ”
Cengkraman tangannya di punggungku dan lipatan kedua kakinya pada pinggangku
bersamaan dengan erangan panjang yang menandai bahwa mbak
Dian akan menyemburkan air maninya untuk kedua kalinya…
Karena gue masih ngaceng dan semakin bertambah bernafsu setelah ngeliat raut muka
seorang janda beranak satu ini merasa kepuasaan, lalu tanpa banyak buang waktu lagi.
Gue langsung membalikkan tubuh mbak Dian dan memintanya untuk menungging, ternyata
mbak Dian tanpa bertanya kembali ia menuruti permintaan gue yang ingin cepat cepat
menghajar kembali mem*knya…
” Donnn, kamu memang hebat Donn… mbak baru pertama kali di ent*t sama laki laki lain
selain mantan suami mbak sendiri ”
” Donnn, sekarang kamu mau apain aja mbak ikutin aja… yang penting mbak bisa ikut
nikmatin peju kamu Donn… ” kata mbak Dian sambil mempersiapkan mem*knya dengan
membersihkan mem*knya dari cairannya sendiri yang mengalir hingga di kedua pangkal
pahanya. Beberapa kali ia seka mem*knya sendiri hingga bersih dan terlihat kering
kembali… dan siap untuk di santap kembali.
Sekarang di hadapan gue mbak Dian sudah siap dengan 2 pasang bongkahan pantatnya yang
masih kenceng, dengan posisi kepalanya lebih rendah dari pada pantatnya. Liang
kewanitaannya seakan akan menantang Kont*l gue untuk memompa mem*knya mbak Dian
kembali…
Jelas terlihat belahan bibir mem*knya yang membuka sedikit mengintip dari celah daging
segar karena barusan gue ent*t.
Dengan tangan sebelah kanan gue pegang batang kont*l gue dan tangan sebelah kirinya gue
membuka belahan pantatnya yang mulus sambil terkadang gue usap permukaan mem*knya
yang tandus bukan karena suka di cukur namun memang sudah keturunan, setiap wanita
dikeluarga tidak akan memiliki bulu/jembut pada mem*k. Sungguh indah sekali
pemandangan yang terpampang, mem*k yang mengiurkan terjepit oleh dua bongkahan
pantatnya yang bahenol itu.
Kumajukan kont*l gue hingga menempel di permukaan mem*k mbak Dian, mengorek gorek
permukaan mem*knya dengan kepala kont*l gue. Ternyata apa yang gue lakukan ini sangat
dinikmati oleh mbak Dian sendiri… yang terkadang selalu mendesah setiap kali bibir
mem*knya tersibak karena gesekan kepala kont*l gue.
Lalu dengan gerakan perlahan gue tusuk mem*k mbak Dian perlahan biar sesasi yang timbul
akan semakin nikmat disaat itilnya ikut masuk bersama dengan dorongan kont*l gue yang
mulai terpendam.
” Geli banget Donn rasanya… tapi lebih enak Donn rasanya daripada sebelumnya… ”
” Donn… lebih keras…. Donn… entot*n mbak… puasin mbak Donn… ” pinta mbak Dian
sembari memeras buah dadanya sendiri.
” Donn… lagiii… laggiii… Donn… lebiiihhh.. kencenggg lagi… ” pinta kembali mbak Dian
sambil mulutnya yang ter engap engap seperti ikan yang baru saja keluar dari air.
Hujangan kont*l ku kini semakin cepat dan semakin gencar ke dalam mem*knya… hingga
menimbulkan suara suara yang terjadi karena sodokan sodokan kont*l gue itu. Tingkat
aktivitas yang gue lakukanpun kini semakin gencar. Tangan gue memeras buah dada mbak
Dian hingga erangan mbak Dian pun semakin menjadi tak kala hentakan kont*l gue yang
kencang mengesek dinding liang kewanitaannya.
Cukup lama juga gue mengent*t*n mbak Dian dengan style doggie ini, hingga gue menyuruh
mbak Dian berganti variasi seks. Posisi mbak dian sekarang tidur terlentang namun kakinya
menimpa pada kaki sebelahnya dan badannya agak miring, dengan posisi ini mem*knya yang
terhimpit terlihat seakan membentuk belahan mem*k.
Lalu kembali lagi gue masukin kont*l gue yang masih keras ini kedalam mem*k mbak Dian,
dengan tangan sebelah gue menahan di pinggulnya. Kali ini dengan mudah kont*l gue masuk
menerobos liang kewanitaannya, enjotan gue kali ini benar benar nikmat banget karena
sekarang posisinya kont*l gue serasa di jepit sama pantatnya.
Setiap dorongan kont*l gue menimbulkan sensasi yang lebih di raut muka mbak Dian.
Mukanya mendahak ke arah gue sambil memegang lengan tangan sebelah kiri sambil
mulutnya terbuka seperti pelacur yang haus kont*l kont*l para pelanggan setianya.
” Mbak… enak gak… kont*l Donn… ” tanya gue sama mbak Dian dengan nafas yang telah
terengah engah.
” Enaaaak… Donnn …. Truuus …. Donnn…. jgan brenti… ”
” Ngomong mbak Dian kalo mulai saat ini mbak memang pelacur Donn… mbak suka banget
sama kont*l Donn…” Suruh gue ke mbak Dian buat niru ucapan gue.
” Mbak memang pelacur Donnny… kapan aja Donnny mau… mbak layani… sssstt…
Dooonn… ”
” Mbak suka bngeeeeet… koooont*l Donnnnyyy… ennnntot*n mbak Diannn tiap hari
Donnnn… entot*n… entot*n…. trussss ”
Mendengar seruan mbak Dian yang tertahan tahan karena nafsu yang besar kini sudah
menyelubungi seluruh saraf ditbuhnya, menambah birahi gue semakin memuncak.
Menambah gue semakin cepat dan cepat mengent*t*n mbak Dian, sampai sampai goyangan
buah dadanya seiringan dengan dorongan yang gue berikan ke dalam mem*k…
Akhirnya mbak Dian kembali mencapai puncaknya kembali, sambil memasukan jarinya
kedalam lubang anusnya sendiri…
” Donnnn… mbak.. mmmmau… kllllluaaar laaagi…. ooooooohhh…Doooonnn…. ” erang
mbak Dian yang hendak memuncratkan air semakin membuat ku terangsang karena mimik
mukanya yang sungguh sungguh mengairahkan.
Dengan badan yang telah lunglai, mbak Dian terkapar seperti orang yang lemah tak berdaya.
Namun pompaan kont*l gue yang keluar masuk tetap gak berhenti malah semakin lama
semakin cepat.
Tiba tiba gue ngerasain sesuatu yang berdenyut denyut disekitar pangkal kont*l gue. Dengan
keadaan mbak Dian yang sudah tidak berdaya aku terus mengent*t*n mem*knya tanpa
memperdulikan keadaan mbak Dian yang sekujur tubuhnya berkeringat karena kelelahan
setelah gue entot*n dari setadi.
” Mbaaaak… Dooonnn…nyyy mmmaaau.. kkklarrrr… Aaaahhhh…. ” Seruku disaat sesuatu
hendak mau menyembur keluar dan terus menerus memaksa.
Crrrooot… Crrrooot… CCrooot… akhirnya gue tersenyum puas dan mencabut kont*l gue
dari dalam mem*k mbak Dian dan menghampiri mbak Dian dan memangku kepalanya dan
meminta mbak Dian membersihkan bekas bekas peju gue yang bececeran di selangkangan
gue…
Gak pernah gue sia sia in saat berdua dirumah… setiap saat gue mau, langsung gue ent*t
mbak Dian. Saat mbak Dian lagi ngegosok baju tiba tiba gue sergap dia dari belakang dan
langsung buka celananya dan gue ent*t mbak Dian dalam keadaan berdiri dan slalu gue
keluarin di dalam mem*knya dan yang terkadang gue suruh mbak Dian sepong kont*l gue
lalu gue keluarin di dalam mulutnya serta langsung di nikmatin peju gue itu… katanya
nikmat manis…
Hari hari yang sangat sungguh indah selama beberapa hari gue selalu ent*tin mbak Dian
dengan berbagai variasi seks… hingga sampai mbak Dian sekarang hebat dalam mengemut
kont*l gue… Mbak Dian pun gak pernah menolak saat gue membutuhkan mem*knya karena
dia juga sudah ketagihan sodokan kont*l gue. Sering malam malam mbak Dian suka masuk
ke kamar gue dan suka sepongin kont*l gue hingga gue bangun dan langsung gue ent*t mbak
Dian.
Tati Kakak Iparku
Wednesday, December 31st, 2008

Aku memang ketagihan bermain cinta dengan wanita setengah baya alias STW. Ada lagi
pengalaman nyata yang kualami. Pengalamanku menaklukkan kakak iparku yang pendiam
dan agak religius. Entah setan mana yang merasuki diriku karena aku menjerumuskan orang
baik-baik kedalam neraka nafsu.
Kejadiannya begini, suatu hari rumahku kedatangan tamu dari Padang. Uni Tati kakak tertua
istriku. Dia datang ke Jakarta karena tugas kantor ikut seminar di kantor pusat sebuah bank
pemerintah. Uni adalah kepala cabang di Padang, Uni menginap dirumah kami. Dari pada
menginap di hotel, mendingan juga uang hotel disimpan buat beli oleh-oleh. Selama
seminggu dia tinggal dirumahku. Dari istriku kutau kalau Uni Tati berusia 40 tahun.
Suaminya sudah meningal 2 tahun lalu karena kecelakaan. Orangnya cantik, putih, tinggi
semampai. Lebih tepatnya kubilang anggun karena orangnya cenderung diam dan sangat
religius. Selama di Jakarta, setiap ada kesempatan aku dan istriku mengajak Uni jalan-jalan,
maklum ini kunjungan pertamanya ke Jakarta, biasanya ke mal karena waktunya sempit.
Kami sudah berencana pas hari Sabtu akan jalan-jalan ke Taman Safari.

Tiba hari Sabtu, istriku ternyata punya tugas mendadak dari kantor yaitu harus mengawasi
pameran di Mangga Dua. Gagal deh rencana jalan-jalan ke Taman Safari. Istriku
mengusulkan agar aku tetap mengantar Uni jalan-jalan misalkan ke Ancol saja dan pulangnya
bisa jemput istriku di Mangga Dua. Sebetulnya aku agak males kalo nggak ada istriku. Aku
merasa risih harus jalan berdua Uni karena orangnya pendiam. Akupun menduga Uni pasti
nggak mau. Tapi tanpa dinyata ternyata Uni menyetujui usul istriku.
Pagi-pagi banget istriku sudah berangkat naik KRL dari stasiun Pondok Ranji. Rumahku
yang didaerah Bintaro cukup jauh dari Mangga Dua dan Ancol. Sementara menunggu Uni
yang lagi jalan-jalan pagi aku sendirian dirumah menyeruput kopi dan merokok. Kami
berencana jalan jam 10 pagi. Sehabis ngopi dan merokok, aku kembali tidur-tiduran di
kamarku menunggu jam. Pikiranku melayang membayangkan kakak istriku ini. Uni Tati
sangat menarik perhatianku secara sexual. Jeleknya aku, mulia keluar. Aku tertantang
menaklukkan wanita baik-baik, aku tertantang menaklukkan Uni. Mumpung ada kesempatan.
Dasar setan selalu mencari kesempatan menggoda.
Kuatur jebakan untuk memancing Uni. Aku buru-buru mandi membasuh badan dan keramas.
Dengan berlilit handuk aku menunggu kepulangan Uni dari olahraga paginya. Sekitar 10
menit aku menunggu dibalik horden dan kulihat Uni memasuki pagar depan dengan pintu
besi yang agak berderit. Sengaja pintu rumah aku tutup tapi dibiarkan tak terkunci. Aku
berlalu menuju kamarku dan segera memasang jebakan untuk mengejutkan Uni. Aku masuk
kamarku dan segera bertelanjang bulat. Pintu kamar kubuka lebar-lebar, jendela kamar juga
kubuka biar isi kamar mendapat penerangan jelas.
Kudengar pintu depan berbunyi seperti ditutup. Akupun mulai beraksi. Dengan bertelanjang
bulat aku menunggu Uni melewati kamarku dengan harapan dia melihat tubuh dan juniorku
yang sedari tadi berdiri tegak membayangkan petualangan ini. Handuk kututupkan ke kepala
seolah-olah sedang mengeringkan rambut yang basah sehabis keramas. Aku berpura-pura
tidak melihat dan tidak menyadari kehadiran Uni. Dari bakik handuk yang kusibak sedikit,
kulihat sepasang sepatu kets melintas kamarku. Aku yakin Uni pasti melihat tubuhku yang
polos dengan junior yang tegak berdiri.
Nafsuku semakin menggeliat ketika kuamati dari balik handuk sepasang sepatu yang tadinya
hampir melewati kamarku kini seperti terpaku berhenti didepan kamar tanpa beranjak. Aku
semakin aktif menggosok-gosok rambutku dan berpura-pura tak tau kalo ada orang. Beberapa
detik aku berbuat begitu dan aku merencanakan sensasi berikut. Dengan tiba-tiba kuturunkan
handuk dan menengok ke arah pintu kamar. Aku pura-pura kaget menyadari ada orang.

“E..eee…maaf Uni, aku kira nggak ada orang,” kataku seraya mendekati pintu seolah-olah
ingin menutup pintu. Aku tidak berusaha menutup kemaluanku yang menantang. Malah
kubiarkan Uni terdiam memandangi tubuhku yang polos mendekat kearahnya.
Dengan tenagnya seolah aku berpakaian lengkap kudekati Uni dan sekali lagi memohon
maaf.
“Maaf ya Uni, aku terbiasa seperti ini. Aku nggak sadar kalau ada tamu dirumha ini,” kataku
sambil berdiri didepan pintu mau menutup daun pintu.
Tiba-tiba seperti tersadar Uni bergegas meninggalkanku sambil berkata “i…i…iya , tidak
apa-apa…..”. Dia langsung masuk ke kamar belakang yang diperuntukkan kepadanya selama
tingal dirumahku. Aku kemudian memakai celana pendek tanpa CD dan mengenakan kaos
oblong lantas smengetok pintu kamar Uni. “Ada apa Andy,” ujar Uni setelah membuka pintu.
Kulihat dia tidak berani menatapku. Mungkin malu. Membaca situasi seperti itu, aku tidak
menyiakan kesempatan. “Uni, maafkan Andy ya…aku lupa kalau ada tamu dirumah ini,”
kataku merangkai obrolan biar nyambung.
“Nggap apa-apa, cuma Uni malu hati, sungguh Uni malu melihat kamu telanjang tadi,”
balasnya tanpa mau menatap aku. “Kenapa musti malu? Kan nggak sengaja, apa lagi Uni kan
sudah pernah menikah jadi sudah biasa melihat yang tegak-tegak seperti itu,” kataku
memancing reaksinya.

“Sejujurnya Uni tadi kaget setengah mati melihat kamu begitu. Yang Uni malu, tanpa sadar
Uni terpaku didepan kamarmu. Jujur aja Uni sudah lama tidak melihat seperti itu jadi Uni
seperti terpana,” katanya sambil berlari ketempat tidurnya dan mulai sesenggukan. Aku jadi
ngak tega. Kudekati Uni dan kuberanikan memegang pundaknua seraya menenangkannya.
“Sudalah nggak usah malu, kan cuma kita berdua yang tau.” Melihat reaksinya yang diam
saja, aku mulai berani duduk disampingnya dan merangkul pundaknya. Kuusap-usap
rambutnya agak lama tanpa berkata apa-apa. Ketika kurasa sudah agak tenang kusarankan
untuk mandi aja. Kutuntun tangannya dan sekonyong-konyong setan mendorongku untuk
memeluk saat Uni sudah berdiri didepanku. Lama kupeluk erat, Uni diam saja. Mukanya
diselusupkan didadaku. Payudaranya yang masih kencang serasa menempel didadaku. Sangat
terasa debar jantungnya. Perlahan tangaku kuselusupkan ke balik kaos bagian belakang
berbarengan dengan ciumanku yang mendarat dibibirnya.
“Jangan Ndy…dosa,” katanya sambil melepaskan diri dari pelukanku. Namun pelukanku
tidak mau melepaskan tubuh sintal yang sedang didekapnya. Daam usaha kedua Uni sudah
menyerah. Bibirnya dibiarkan kulumat walau masih tanpa perlawanan. Ucoba lagi
menyelusupkan tangan dibalik kaosnya, kali ini bagian depan. Tangan kanan yang
menggerayang langsung pada sasaran…putting susu sebelah kiri. Uni menggeliat.
Pilinan jariku di payudaranya membuat nafsunya naik. Aku tau dari desiran nafasnya yang
mulai memburu. Aku heran juga dengan wanita ini, tetap diam tanpa perlawanan. Mungkin
ini style wanita baik-baik. Bagusnya, semua apa yang kulakukan tidak ada penolakan. Seperti
dicocok hidungnya Uni menurut saja dengan apa yang kulakukan terhadapnya.
Perlahan kubuka kaosnya, kubukan celana panjang trainings pack-nya, kubuka Bh nya,
kubuka CD-nya , Uni diam saja. Kubopong tubuhnya ketempat tidur. Kubuka kaosku, kubuka
celana pendekku……..Uni masih diam.
Lidahku mulai bermain disekujur tubuhnya. Dari ujung kepala, turun ke telinga, ke bibir, ke
leher…perlahan kusapu dadanya, payudaranya kulumat dengan gigitan kecil…turun lagi
kebawah, pusarnya kukorek dengan lidahku….turun lagi ke sekumpulan rambut dan kedua
pahanya hujilat-jilat terus sampai keujung jempol kaki. Aku tidak merasa jijik karena tubuh
Uni yang putih bersih sangat membangkitkan gairah.
Kukangkangkan kakinya, uni masih diam saja. Tapi kuamati matanya terpejam menikmati
sentuhan tiap jengkal ditubuhnya. Baru ketika kudaratkan sapuan lidahku di bibuir vagina
dan klitorisnya Uni tiba-tiba berteriak ,” Ahhhhhhhh……..”
“Kenapa Uni….Sakit?,” tanyaku. Uni hanya menggeleng. Dan aktifitas jilat menjilat vagina
itu kulanjutkan. Uni menggelinjang dahsyat dan tiba-tiba dia meraung..”Andyyyyyyy… ayo
Andy….jangan siksa aku dengan nikmat…ayo Andy tuntaskan….Uni udah nggak tahan,”
katanya.
Aku tidak mau berlama-lama. Tanpa banyak variasi lagi langsung kunaiki kedua pahanya dan
kutusukkan juniorku kelobang surganya yang sudah basah kuyup. Dengan sekali sentak
semua batangku yang panjang melesak kedalam. Agak seret kurasakan, mungkin karena
sudah dua tahun nganggur dari aktifitas. Kugenjot pantatku dengan irama tetap, keluar dan
masuk. Uni semakin menggelinjang.
Aku pikir nggak usah lama-lama bersensasi, tuntaskan saja. Lain waktu baru lama. Melihat
reaksinya pertanda mau orgasme , gerakan pantatku semakin cepat dan kencang. Uni
meronta-ronta , menarik segala apa yang bisa ditariknya, bantal, sepre. Tubuhku tak luput
dari tarikannya. Semua itu dilakukan dengan lebih banyak diam. Dan tiba-tiba tubuhnya
mengejang, “Ahhhhhhhhhhhhhhhh…….,” lolongan panjangnya menandakan dia mencapai
puncak. Aku mempercepat kocokanku diatas tubuhnya. Tiba-tiba aku dikejutkan dengan
hentakan tubuhnya dibarengi tanganya yang mendorong tubuhku. “Jangan keluarin didalam
….aku lagi subur,” suaranya tresengal-sengal ditengah gelombang kenikmatan yang belum
mereda.
Kekagetanku hilang setelah tau reaksinya. “Baik Uni cantik, Andy keluarin diluar ya,”
balasku sambil kembali memasukkan Junior ku yang sempat terlepas dari vaginanya karena
dorongan yang cukup keras. Kembali kupompa pinggulku. Aku rasa kali ini Uni agak rileks.
Tapi tetap dengan diam tanpa banyak reaksi Uni menerima enjotanku. Hanya wajahnya yang
kadang-kadang meringis keenakan.
Dan sampailah saatnya, ketika punyaku terasa mulai berkedut-kedut, cepat-cepat kucabut dari
vagina Uni dan kugencet batang juniorku sambil menyemprotkan sperma. Kuhitung ada lima
kali juniorku meludah. Sekujur tubuh Uni yang mulus ketumpahan spermaku. Bahkan
wajahnyapun belepotan cairan putih kental. Dan aku terkulai lemas penuh kenikmatan.
Kulihat Uni bagkit mengambil tisu dan meneyka badan serta mukanya.
“Andy…kamu sudah memberikan apa yang belum pernah Uni rasakan,” kata wanita cantik
itu sambil rebahan disampingku. Dengan persetujuan Uni, kami menelpon istriku
mengabarkan kalau batal ke Ancol karena Uni nggak enak badan. Padahal kami melanjutkan
skenario cinta yang menyesatkan. Kami masih tiga kali lagi melakukan persetubuhan. Dalam
dua sessi berikut sangat kelihatan perkembangan yang terjadi sama Uni. Kalo permainan
pertama dia banyak diam, permainan kedua mulai melawan, permainan ketiga menjadi
dominan, permainan keempat menjadi buas….buas…sangat buas. Aku sempat memakai
kondom biar bisa dengan leluasa menumpahkan sperma saat punyaku ada didalam vaginanya.

“Aku sadar ini dosa, tapi aku juga menikmati apa yang belum pernah aku rasakan selama
bersuami. Istriku itu adalah pilihan orang tua dan selisih 20 tahun dengan Uni. Sampai Uda
meninggal, Uni tidak pernah merasakan kenikmatan sexual seperti ini. Sebetulnya Uni masih
kepengen nikah lagi tapi tidak pernah ketemu orang yang tepat. Mungkin posisi Uni sebagai
kepala bagian membuat banyak pria menjauh.” Cerita Uni sebelum kami sama-sama tertidur
pulas.
Posted in Daun Muda | No Comments »
Perselingkuhan seorang istri
Tuesday, December 30th, 2008

Sebut saja namaku Riri, seorang wanita yang saat ini berusia 27 tahun dan telah bersuami.
Menurut banyak teman, aku adalah seorang perempuan yang cukup cantik dengan kulit putih
bersih. Walaupun demikian, postur tubuhku sebenarnya terhitung ramping dan kecil. Tinggi
badanku hanya 154 cm. Tetapi meskipun bertubuh ramping, pantatku cukup bulat dan berisi.
Sedangkan buah dadaku yang hanya berukuran 34 juga nampak padat dan serasi dengan
bentuk tubuhku.
Aku bekerja sebagai karyawati staf accounting pada sebuah toserba yang cukup besar di
kotaku. Sehingga aku mengenal banyak relasi dari para pekerja perusahaan lain yang
memasok barang ke toko tempatku bekerja. Dari sinilah kisah yang akan kupaparkan ini
terjadi.
Sebagai seorang istri, aku sebenarnya merupakan tipe istri yang sangat setia pada suami. Aku
selalu berprinsip, tidak ada lelaki lain yang menyentuh hati dan tubuhku, kecuali suamiku
yang sangat kucintai. Dan sebelum kisah ini terjadi, aku memang selalu dapat menjaga
kesetiaanku. Jangankan disentuh, tertarik dengan lelaki lain pun merupakan pantangan
bagiku.
Tetapi begitulah, beberapa bulan terakhir, justru suamiku mempunyai khayalan gila. Ia
seringkali mengatakan padaku, ia selalu terangsang jika membayangkan diriku bersetubuh
dengan lelaki lain. Entahlah, mungkin ia terpengaruh dengan cerita kawan-kawannya. Atau
mungkin juga termakan oleh bacaan-bacaan seks yang sering dibacanya. Pada awalnya, aku
jengkel setiap kali ia mengatakan hal itu padaku. Namun lama kelamaan, entah kenapa, aku
juga mulai terangsang oleh khayalan-khayalannya.

Setiap ia mengatakan dirinya ingin melihat aku digumuli lelaki lain, tiba-tiba dadaku
berdebardebar. Tanda kalau aku juga mulai terangsang dengan fantasinya itu. Bersamaan
dengan itu di toko tempatku bekerja, aku semakin akrab dengan seorang karyawan
perusahaan distribusi yang biasa datang memasok barang. Sebutlah namanya Mas Roni. Ia
seorang lelaki berbadan tinggi besar dan cukup atletis, tingginya lebih dari 180 cm. Sedang
usia sekitar 35 tahun. Sungguh aku tidak pernah mempunyai pikiran atau perasaan tertarik
padanya.
Pada awalnya hubunganku, biasa-biasa saja. Keakrabanku sebatas hubungan kerja. Namun
begitulah, Mas Roni yang berstatus duda itu selalu bersikap baik padaku. Kuakui pula, ia
merupakan pria yang simpatik. Ia sangat pandai mengambil hati orang lain. Begitu
perhatiannya pada diriku, Mas Roni seringkali memberikan hadiah padaku. Misalnya pada
saat lebaran dan tahun baru, Mas Roni memberiku bonus yang cukup besar. Padahal
karyawan lain di tokoku tidak satupun yang mendapatkannya. Bahkan saat datang ke tokoku,
ia kadang bersedia membantu pekerjaanku. Mas Roni dapat saja melakukan itu sebab ia
sangat akrab dengan bosku.
Hingga suatu ketika, sewaktu aku sedang menghitung keuangan bulanan perusahaan, tiba-tiba
Mas Roni muncul di depan meja kerjaku.
“Aduh sibuknya, sampai nggak lihat ada orang datang,” sapa Mas Roni klise.
“Eh, sorry Mas, ini baru ngitung keuangan akhir bulan,” jawabku.
“Jangan terlalu serius, nanti nggak kelihatan cakepnya lho..!” Mas Roni masih bergurau.
“Ah, Mas Roni bisa aja,” aku menjawab pendek sambil tetap berkonsentrasi ke pekerjaanku.
Setelah itu seperti biasanya, di sela-sela pekerjaanku, aku dan Mas Roni mengobrol dan
bersendau-gurau ke sana kemari. Tidak terasa sudah satu jam aku mengobrol dengannya.
“Ri, aku mau ngasih hadiah tahun baru, Riri mau terima nggak?” tanyanya tiba-tiba.
“Siapa sih yang nggak mau dikasih hadiah. Mau dong, asal syaratnya hadiahnya yang banyak
lho,” jawabku bergurau.
“Aku juga punya syarat lho Ri. Hadiah itu akan kuberikan kalau Riri mau memejamkan mata.
Mau nggak?” tanyanya lagi.
“Serius nih? Oke kalau cuman itu syaratnya aku mau,” kataku sambil menejamkan mata.
“Awas jangan buka mata sampai aku memberi aba-aba..!” kata Mas Roni lagi.
Sambil terpejam, aku penasaran hadiah apa yang akan diberikannya. Tetapi, ya ampun, pada
saat mataku terpejam, tiba-tiba aku merasakan ada benda yang lunak menyentuh bibirku.
Tidak hanya menyentuh, benda itu juga melumat bibirku dengan halus. Aku langsung tahu,
Mas Roni tengah menciumku. Maka aku langsung membuka mata. Dari sisi meja di
hadapanku, Mas Roni membungkuk dan menciumi diriku. Tetapi anehnya, setelah itu aku
tidak berusaha menghindar.
Untuk beberapa lama, Mas Roni masih melumat bibirku. Kalau mau jujur aku juga ikut
menikmatinya. Bahkan beberapa saat secara refleks aku juga membalas melumat bibir Mas
Roni. Sampai kemudian aku sadar, lalu kudorong dada Mas Roni hingga ia terjengkang ke
belakang.
“Mas, seharusnya ini nggak boleh terjadi,” kataku dengan nada tergetar menahan malu dan
sungkan yang menggumpal di hatiku.
Mas Roni terdiam beberapa saat.
“Maaf Ri, mungkin aku terlalu nekat. Seharusnya aku sadar kamu sudah menjadi milik orang
lain.
Tetapi inilah kenyataannya, aku sangat sayang padamu Ri,” ujarnya dengan lirih sambil
meninggalkanku.
Seketika itu aku merasa sangat menyesal. Aku merasa telah menghianati suamiku. Tetapi
uniknya peristiwa semacam itu masih terulang hingga beberapa kali. Beberapa kali
kesempatan Mas Roni berkunjung ke tokoku, ia selalu memberiku ‘hadiah’ seperti itu. Tentu,
itu dilakukannya jika kawan-kawanku tidak ada yang melihat. Meskipun pada akhirnya aku
menolaknya, namun anehnya, aku tidak pernah marah terhadap tindakan Mas Roni itu.
Entahlah, aku sendiri bingung. Aku tidak tahu, apakah ini dikarenakan pengaruh khayalan
suamiku yang terangsang jika membayangkan aku berselingkuh. Ataukah karena aku jatuh
cinta pada Mas Roni. Sekali lagi, aku tidak tahu. Bahkan dari hari ke hari, aku semakin dekat
dan akrab dengan Mas Roni.
Hingga pada suatu saat, Mas Roni mengajakku jalan-jalan. Awalnya aku selalu menolaknya.
Aku khawatir kalau kedekatanku dengannya menjadi penyebab perselingkuhan yang
sebenarnya. Tetapi karena ia selalu mendesakku, akhirnya aku pun menerima ajakkannya.
Tetapi aku mengajukan syarat, agar salah seorang kawan kerjaku juga diajaknya. Dengan
mengajak kawan, aku berharap Mas Roni tidak akan berani melakukan perbuatan yang tidak-
tidak.
Begitulah, pada hari Minggu, aku dan Mas Roni akhirnya jadi berangkat jalan-jalan. Agar
suamiku tidak curiga, aku katakan padanya, hari itu aku ada lemburan hingga sore hari.
Selain aku dan Mas Roni, ikut juga kawan kerjaku, Yani dan pacarnya. Oh ya, berempat kami
mengendarai mobil inventaris perusahaan Mas Roni. Berempat kami jalan-jalan ke suatu
lokawisata pegunungan yang cukup jauh dari kotaku. Kami sengaja memilih tempat yang
jauh dari kotaku, agar tidak mengundang kecurigaan tetangga, keluarga dan terutama
suamiku.

Setelah lebih dari satu jam kami berputar-putar di sekitar lokasi wisata, Mas Roni dan pacar
Yani mengajak istirahat di sebuah losmen. Yani dan pacarnya menyewa satu kamar, dan
kedua orang itu langsung hilang di balik pintu tertutup. Maklum keduanya baru dimabuk
cinta. Aku dengan suamiku waktu pacaran dulu juga begitu, jadi aku maklum saja.
Mas Roni juga menyewa satu kamar di sebelahnya. Aku sebenarnya juga berniat menyewa
kamar sendiri tetapi Mas Roni melarangku.
“Ngapain boros-boros, kalau sekedar istirahat satu kamar saja. Tuh, bed-nya ada dua,”
ujarnya.
Akhirnya aku mengalah. Aku numpang di kamar yang disewa Mas Roni.
Kami mengobrol tertawa cekikikan membicarakan Yani dan pacarnya di kamar sebelah.
Apalagi, Yani dan pacarnya seperti sengaja mendesah-desah hingga kedengaran di telinga
kami. Sejujurnya aku deg-degan juga mendengar desahan Yani yang mirip dengan suara
orang terengah-engah itu. Entah kenapa dadaku semakin berdegup kencang ketika aku
mendengar desahan Yani dan membayangkan apa yang sedang mereka lakukan di kamar
sebelah. Untuk beberapa saat, aku dan Mas Roni diam terpaku.
Tiba-tiba Mas Roni menarik tanganku hingga aku terduduk di pangkuan Mas Roni yang saat
sedang duduk di tepi tempat tidur. Tanpa berkata apa-apa dia langsung mencium bibirku.
Aku tidak sempat menghindar, bahkan aku juga membiarkan ketika bibir dan kumis Mas
Roni menempel ke bibirku hingga beberapa saat. Dadaku semakin berdegup kencang ketika
kurasakan bibir Mas Roni melumat mulutku. Lidah Mas Roni menelusup ke celah bibirku
dan menggelitik hampir semua rongga mulutku. Mendapat serangan mendadak itu darahku
seperti berdesir, sementara bulu tengkukku merinding.
Namun tiba-tiba timbul kesadaranku. Kudorong dada Mas Roni supaya ia melepas
pelukannya pada diriku.
“Masss, jangan Mas, ini nggak pantas kita lakukan..!” kataku terbata-bata.
Mas Roni memang melepas ciumannya di bibirku, tetapi kedua tangannya yang kekar dan
kuat itu masih tetap memeluk pinggang rampingku dengan erat. Aku juga masih terduduk di
pangkuannya.
“Kenapa nggak pantas, toh aku sama dengan suamimu, yaitu sama-sama mencintaimu,” ujar
Mas Roni yang terdengar seperti desahan.
Setelah itu Mas Roni kembali mendaratkan ciuman. Ia menjilati dan menciumi seluruh
wajahku, lalu merembet ke leher dan telingaku. Aku memang pasif dan diam, namun
perlahan tapi pasti nafsu birahi semakin kuat menguasaiku. Harus kuakui, Mas Roni sangat
pandai mengobarkan birahiku. Jilatan demi jilatan lidahnya di leherku benar-benar telah
membuat diriku terbakar dalam kenikmatan. Bahkan dengan suamiku sekalipun aku belum
pernah merasakan rangsangan sehebat ini.
Mas Roni sendiri nampaknya juga mulai terangsang. Aku dapat merasakan napasnya mulai
terengah-engah. Sementara aku sendiri semakin tidak kuat untuk menahan erangan. Maka
aku pun mendesis-desis untuk menahan kenikmatan yang mulai membakar kesadaranku.
Setelah itu tiba-tiba tangan Mas Roni yang kekar itu membuka kancing bajuku. Tak ayal lagi,
buah dadaku yang berwarna putih bersih itu terbuka di depan Mas Roni. Secara refleks aku
masih berusaha berontak.
“Cukup, Mas jangan sampai ke situ. Aku takut,” kataku sambil meronta dari pelukannya.
“Takut dengan siapa Ri, toh nggak ada yang tahu. Percayalah denganku,” jawab Mas Roni
dengan napas yang semakin memburu.
Seperti tidak perduli dengan protesku, Mas Roni yang telah melepas bajuku, kini ganti sibuk
melepas BH-ku. Meskipun aku masih berusaha meronta, namun itu tidak berguna sama
sekali. Sebab tubuh Mas Roni yang besar dan kuat itu mendekapku sangat erat.
Kini, dipelukan Mas Roni, buah dadaku terbuka tanpa tertutup sehelai kain pun. Aku
berusaha menutupi dengan mendekapkan lengan di dadaku, tetapi dengan cepat tangan Mas
Roni memegangi lenganku dan merentangkannya. Setelah itu Mas Roni mengangkatku dan
merebahkannya di tempat tidur. Tanpa membuang waktu, bibir Mas Roni melumat salah satu
buah dadaku, sementara salah satu tangannya juga langsung meremas-remas buah dadaku
yang lainnya. Bagai seekor singa buas ia menjilati dan meremas buah dada yang kenyal dan
putih ini.

Kini aku tidak dapat berbuat apa-apa lagi selain megap-megap dan mengerang karena
kenikmatan yang mencengkeram diriku. Aku menggeliat-geliat seperti cacing kepanasan
karena rasa geli dan nikmat ketika bibir dan lidah Mas Roni menjilat dan melumat puting
susuku.
“Ri, da.. dadamu putih dan in.. indah sekali. A.. aku makin nggak ta.. tahan.., sayang..,” kata
Mas Roni terputus-putus karena nafsu birahi yang semakin memuncak.
Kemudian Mas Roni juga menciumi perut dan pusarku. Dengan lidahnya, ia pandai sekali
menggelitik buah dada hingga perutku. Sekali lagi aku hanya mendesis-desis mendapat
rangsangan yang menggelora itu. Kemudian tanpa kuduga, dengan cepat Mas Roni
melepaskan celana dan celana dalamku dalam satu tarikan. Lagi-lagi aku berusaha melawan,
tetapi dengan tubuh besar dan tenaga kuat yang dimiliki Mas Roni, dengan mudah ia
menaklukkan perlawananku.
Sekarang tubuhku yang ramping dan berkulit putih ini benar-benar telanjang total di hadapan
Mas Roni. Sungguh, aku belum pernah sekalipun telanjang di hadapan lelaki lain, kecuali di
hadapan suamiku. Sebelumnya aku juga tidak pernah berpikir melakukan perbuatan seperti
ini. Tetapi kini, Mas Roni berhasil memaksaku, sementara aku seperti pasrah saja tanpa daya.
“Mas, untuk yang satu ini jangan Mas, aku tidak ingin merusak keutuhan perkawinanku..!”
pintaku sambil meringkuk di atas tempat tidur, untuk melindungi buah dada dan vaginaku
yang kini tanpa penutup.
“Ri.. apa.. kamu.. nggak kasihan padaku sayang.., aku sudah terlanjur terbakar.., aku nggak
kuat lagi, sayang. Please, aku.. mohon,” kata Mas Roni masih dengan terbata-bata dan wajah
yang memelas.
Entah karena aku tidak tega atau karena aku sendiri juga sudah terbakar birahi, aku diam saja
ketika Mas Roni kembali menggarap tubuhku. Bibir dan salah satu tangannya menggarap
kedua buah dadaku, sementara tangan yang satunya lagi mengusap-usap paha dan
selangkangan kakiku. Mataku benar-benar merem-melek merasakan kenikmatan itu.
Sementara napasku juga semakin terengah-engah.
Tiba-tiba saja Mas Roni beranjak dan dengan cepat melepas semua pakaian yang menempel
di tubuhnya. Kini ia sama denganku telanjang bulat-bulat. Ya ampun, aku tidak dapat
percaya, kini aku telanjang dalam satu kamar dengan lelaki yang bukan suamiku, ohh. Aku
melihat tubuh Mas Roni yang memang atletis, besar dan kekar. Ia jauh lebih tinggi dan lebih
besar dibanding suamiku yang berperawakan sedang-sedang saja.
Tetapi yang membuat dadaku berdegup lebih keras adalah benda di selangkangan Mas Roni.
Benda yang besarnya hampir sama dengan lenganku itu berwarna coklat tua dan kini tegak
mengacung. Panjangnya kutaksir tidak kurang dari 22 cm, atau hampir dua kali lipat
dibanding milik suamiku, sementara besarnya sekitar 3 sampai 4 kali lipatnya. Sungguh aku
hampir tidak percaya ada penis sebesar dan sepanjang itu. Perasaanku bercampur baur antara
ngeri, gemas dan penasaran.
Kini tubuh telanjang Mas Roni mendekapku. Darahku seperti terkesiap ketika merasakan
dada bidang Mas Roni menempel erat dadaku. Ada sensasi hebat yang melandaku, ketika
dada yang kekar itu merapat dengan tubuhku. Ohh, baru kali ini kurasakan dekapan lelaki
lain selain suamiku. Ia masih terus menciumi sekujur tubuhku, sementara tangannya juga
tidak kenal lelah meremas-remas buah dadaku yang semakin kenyal. Sekali lagi, sebelumnya
tidak pernah kurasakan sensasi dan rangsangan sedahsyat ini.
Aku tersentak ketika kurasakan ada benda yang masuk dan menggelitik lubang vaginaku.
Ternyata Mas Roni nekat memasukkan jari tangannya ke celah vaginaku. Ia memutar-
mutarkan telunjuknya di dalam lubang vaginaku, sehingga aku benar-benar hampir tidak kuat
lagi menahan kenikmatan yang menderaku. Mendapat serangan yang luar biasa nikmat itu,
secara refleks aku memutar-mutarkan pantatku. Toh, aku masih berusaha menolaknya.
“Mas, jangan sampai dimasukkan jarinya, cukup di luaran saja..!” pintaku.
Tetapi lagi-lagi Mas Roni tidak menggubrisku. Ia selanjutnya menelusupkan kepalanya di
selangkanganku, lalu bibir dan lidahnya tanpa henti melumat habis vaginaku. Aku tergetar
hebat mendapat rangsangan ini. Tidak kuat lagi menahan kenikmatan itu, tanpa sadar
tanganku menjambak rambut Mas Roni yang masih terengah-engah di selangkanganku. Kini
aku benar-benar telah tenggelam dalam birahi.
Ketika kenikmatan birahi benar-benar menguasaiku, dengan tiba-tiba, Mas Roni
melepaskanku dan berdiri di tepi tempat tidur. Ia mengocok-ngocok batang penisnya yang
berukuran luar biasa tersebut.
“Udah hampir setengah jam, dari tadi aku terus yang aktif, capek nih. Sekarang ganti kamu
dong Ri yang aktif..!” kata Mas Roni.
“Aku nggak bisa, Mas. Lagian aku masih takuut..!” jawabku dengan malu-malu.
“Oke kalau gitu pegang aja iniku, please, aku mohon, Ri..!” ujarnya sambil menyodorkan
batang penis besar itu ke hadapanku.
Dengan malu-malu kupegang batang yang keras dan berotot itu. Lagi-lagi dadaku berdebar-
debar dan darahku berdesir ketika tanganku mulai memegang penis Mas Roni. Sejenak aku
sempat membayangkan, bagaimana nikmatnya jika penis yang besar dan keras itu
dimasukkan ke lubang vagina perempuan.
“Besaran mana dengan milik suamimu Ri..?” goda Mas Roni.
Aku tidak menjawab walau dalam hati aku mengakui, penis Mas Roni jauh lebih besar dan
lebih panjang dibanding milik suamiku.
“Diapakan nih Mas..? Sumpah aku nggak bisa apa-apa,” kataku sambil menggenggam batang
penis Mas Roni.
“Oke, biar gampang, dikocok aja, sayang. Bisakan..?” jawab Mas Roni lembut.
Dengan dada berdegup kencang, kukocok perlahan-lahan penis yang besar milik Mas Roni.
Ada sensasi tersendiri ketika aku mulai mengocok buah zakar Mas Roni yang sangat besar
tersebut. Gila, tanganku hampir tidak cukup menggenggamnya. Aku berharap dengan
kukocok penisnya, sperma Mas Roni cepat muncrat, sehingga ia tidak dapat berbuat lebih
jauh terhadap diriku.
Mas Roni yang kini telentang di sampingku memejamkan matanya ketika tanganku mulai
naik turun mengocok batang zakarnya. Napasnya mendengus-dengus, tanda kalau nafsunya
mulai meningkat lagi. Aku sendiri juga terangsang melihat tubuh tinggi besar di hadapanku
seperti tidak berdaya dikuasai rasa nikmat. Tiba-tiba ia memutar tubuhnya, sehingga
kepalanya kini tepat berada di selangkanganku, sebaliknya kepalaku juga menghadap tepat di
selangkangannya. Mas Roni kembali melumat lubang kemaluanku. Lidahnya menjilat-jilat
tanpa henti di rongga vaginaku. Sementara aku sendiri masih terus mengocok batang zakar
Mas Roni dengan tanganku.
Kini, kami berdua berkelejotan, sementara napas kami juga semakin memburu. Setelah itu
Mas Roni beranjak, lalu dengan cepat ia menindihku. Dari kaca lemari yang terletak di
sebelah tempat tidur, aku dapat melihat tubuh rampingku seperti tenggelam di kasur busa
ketika tubuh Mas Roni yang tinggi besar tersebut mulai menindihku. Dadaku deg-degan
melihat adegan kami melalui kaca lemari itu. Gila, kini aku yang telanjang digumuli oleh
lelaki yang juga sedang telanjang, dan lelaki itu bukan suamiku.
Mas Roni kembali melumat bibirku. Kali ini teramat lembut. Gila, aku bahkan tanpa malu
lagi mulai membalas ciumannya. Lidahku kujulurkan untuk menggelitik rongga mulut Mas
Roni. Mas Roni terpejam merasakan seranganku, sementara tangan kekarnya masih erat
memeluk tubuhku, seperti tidak akan dilepaskan lagi.
Bermenit-menit kami terus berpagutan saling memompa birahi masing-masing. Peluh kami
mengucur deras dan berbaur di tubuhku dan tubuh Mas Roni. Dalam posisi itu tiba-tiba
kurasakan ada benda yang kenyal mengganjal di atas perutku. Ohhh, aku semakin terangsang
luar biasa ketika kusadari benda yang mengganjal itu adalah batang kemaluan Mas Roni.
Tibatiba kurasakan batang zakar itu mengganjal tepat di bibir lubang kemaluanku. Rupanya
Mas Roni nekat berusaha memasukkan batang penisnya ke vaginaku. Tentu saja aku
tersentak.
“Mas.. Jangan dimasukkan..! Jangan dimasukkan..!” kataku sambil tersengal-sengal menahan
nikmat.
Aku tidak tahu apakah permintaanku itu tulus, sebab di sisi hatiku yang lain sejujurnya aku
juga ingin merasakan betapa nikmatnya ketika batang kemaluan yang besar itu masuk ke
lubang vaginaku.
“Oke.. kalau nggak boleh dimasukkan, kugesek-gesekkan di bibirnya saja, yah..?” jawab Mas
Roni juga terengah-engah.
Kemudian Mas Roni kembali memasang ujung penisnya tepat di celah kamaluanku. Sungguh
aku deg-degan luar biasa ketika merasakan kepala penis itu menyentuh bibir vaginaku.
Namun karena batang zakar Mas Roni memang berukuran super besar, Mas Roni sangat sulit
memasukannya ke dalam celah bibir vaginaku. Padahal, jika aku bersetubuh dengan suamiku,
penis suamiku masih terlalu kekecilan untuk ukuran lubang senggamaku.
Setelah sedikit dipaksa, akhirnya ujung kemaluan Mas Roni berhasil menerobos bibir
kemaluanku. Ya ampun, aku menggeliat hebat ketika ujung penis besar itu mulai menerobos
masuk. Walaupun mulanya sedikit perih, tetapi selanjutnya rasa nikmatnya sungguh tiada
tara. Seperti janji Mas Roni, penisnya yang berkukuran jumbo itu hanya digesek-gesekkan di
bibir vagina saja. Meskipun hanya begitu, kenikmatan yang kurasa benar-benar membuatku
hampir teriak histeris. Sungguh batang zakar besar Mas Roni itu luar biasa nikmatnya.

Mas Roni terus menerus memaju-mundurkan batang penis sebatas di bibir vagina. Keringat
kami berdua semakin deras mengalir, sementara mulut kami terus berpagutan.
“Ayoohh.., ngoommoong Saayaang, giimaanna raasaanyaa..?” kata Mas Roni tersengal-
sengal.
“Oohh.., teerruss.. Maass.. teeruuss..!” ujarku sama-sama tersengal.
Entah bagaimana awal mulanya, tiba-tiba kurasakan batang kemaluan yang besar itu telah
amblas semua ke vaginaku. Blesss.., perlahan tapi pasti batang penis yang besar itu melesak
ke dalam lubang kemaluanku. Vaginaku terasa penuh sesak oleh batang penis Mas Roni yang
sangat-sangat besar itu.
“Lohh..? Mass..! Dimaassuukiin seemmua yah..?” tanyaku. “Taangguung, Saayang. Aku
nggak tahhann..!” ujarnya dengan terus memompa vaginaku secara perlahan.
Entahlah, kali ini aku tidak protes. Ketika batang penis itu amblas semua di vaginaku, aku
hanya dapat terengah-engah dan merasakan kenikmatan yang kini semakin tertahankan.
Begitu besarnya penis Mas Roni, sehingga lubang vaginaku terasa sangat sempit. Sementara
karena tubuhnya yang berat, batang penis Mas Roni semakin tertekan ke dalam vaginaku dan
melesak hingga ke dasar rongga vaginaku. Sangat terasa sekali bagaimana rasanya batang
zakar menggesek-gesek dinding vaginaku.
Tanpa sadar aku pun mengimbangi genjotan Mas Roni dengan menggoyangkan pantatku.
Kini tubuh rampingku seperti timbul-tenggelam di atas kasur busa ditindih oleh tubuh besar
Mas Roni. Semakin lama, genjotan Mas Roni semakin cepat dan keras, sehingga badanku
tersentak-sentak dengan hebat. Clep.., clep.., clep.., clep.., begitulah bunyi batang zakar Mas
Roni yang terus memompa selangkanganku.
“Teerruss Maass..! Aakuu.. nggaak.. kuuaatt..!” erangku berulang-ulang.
Sungguh inilah permainan seks yang paling nikmat yang pernah kurasakan. Aku sudah tidak
berpikir lagi tentang kesetiaan terhadap suamiku. Mas Roni benar-benar telah
menenggelamkanku dalam gelombang kenikmatan. Persetan, toh suamiku sendiri sering
berkhayal aku disetubuhi lelaki lain.
Tidak berapa lama kemudian, aku merasakan rasa nikmat yang luar biasa di sekujur tubuhku.
Badanku menggelepar-gelepar di bawah gencetan tubuh Mas Roni. Seketika itu seperti tidak
sadar, kucium lebih berani bibir Mas Roni dan kupeluk erat-erat.
“Mmaass.. aakkuu.. haampiirr.. oorrgaassmmee..!” desahku ketika aku hampir menggapai
puncak kenikmatan.
Tahu kalau aku hampir orgasme, Mas Roni semakin kencang menghunjam-hunjamkan
batang kejantanannya ke selangkanganku. Saat itu tubuhku makin meronta-ronta di bawah
dekapan Mas Roni yang sangat kuat. Akibatnya, tidak lama kemudian aku benar-benar
klimaks!
“Kaalauu.. uudahh.. orrgassme.. ngoommoong.. Saayaang.. biaarr.. aakuu.. ikuut.. puuaass..!”
desah Mas Roni.
“Oohhh.. aauuhh.. aakkuu.. klimaks.. Maass..!” jawabku.
Seketika dengan refleks tangan kananku menjambak rambut Mas Roni, sedangkan tangan
kiriku memeluknya erat-erat. Pantatku kunaikkan ke atas agar batang kemaluan Mas Roni
dapat menancap sedalam-dalamnya.
Setelah kenikmatan puncak itu, tubuhku melemas dengan sendirinya. Mas Roni juga
menghentikan genjotannya.
“Aku belum keluar, Sayang. Tahan sebentar, ya..! Aku terusin dulu,” ujarnya lembut sambil
mencium pipiku.
Gila, aku bisa orgasme walaupun posisiku di bawah. Padahal jika dengan suamiku, untuk
orgasme aku harus berposisi di atas dulu. Tentu ini karena Mas Roni yang jauh lebih perkasa
dibanding suamiku, selain batangannya yang memang sangat besar dan nikmat luar biasa
untuk vagina perempuan.
Meskipun kurasakan sedikit ngilu, kubiarkan Mas Roni memompa terus lubang vaginaku.
Karena lelah, aku pasif saja ketika Mas Roni masih terus menggumuliku. Tanpa perlawanan,
kini badanku yang kecil dan ramping benar-benar tenggelam ditindih tubuh besar Mas Roni.
Clep.. clep.. clep.. clep. Kulirik ke bawah melihat kemaluanku yang tengah dihajar batang
kejantanan Mas Roni. Gila, vaginaku dimasuki penis sebesar itu. Dan lebih gila lagi, batang
zakar besar seperti itu ternyata nikmatnya tidak terkira.
Mas Roni semakin lama semakin kencang memompakan penisnya. Sementara mulutnya tidak
henti-hentinya menciumi pipi, bibir dan buah dadaku. Mendapat rangsangan tanpa henti
seperti itu tiba-tiba nafsuku bangkit kembali. Kurasakan kenikmatan merambat lagi dari
selangkanganku yang dengan kencang dipompa Mas Roni. Maka aku balik membalas ciuman
Mas Roni, sementara pantatku kembali kuputar-putar mengimbangi penis Mas Roni yang
masih perkasa menusuk-nusuk lubang kemaluanku.
“Kaamuu ingiin.. lagii.. Rii..?” tanya Mas Roni.
“Eehh..” hanya itu jawabku.
Kini kami kembali menggelepar-gelepar bersama.
Tiba-tiba Mas Roni bergulung, sehingga posisinya kini berbalik, aku di atas, Mas Roni di
bawah.
“Ayoohh gaannttii..! Kaammuu yang di atass..!” kata Mas Roni.
Dengan posisi di atas tubuh Mas Roni, pantatku kuputar-putar, maju-mundur, kiri-kanan,
untuk mengocok batang penis Mas Roni yang masih mengacung di lubang vaginaku. Dengan
agak malu-malu aku juga ganti menjilat leher dan puting Mas Roni. Mas Roni yang telentang
di bawahku hanya dapat merem-melek karena kenikmatan yang kuberikan.
“Tuuh.., biisaa kaan..! Kaatanya taa.. dii.. nggak.. bisaa..,” ujar Mas Ronie sambil balas
menciumku dan meremas-remas buah dadaku.
Hanya selang lima menit setelah aku berada di atas, lagi-lagi kenikmatan luar biasa datang
menderaku. Aku semakin kuat menghunjam-hunjamkan vaginaku ke batang penis Mas Roni.
Tubuhku yang ramping semakin erat mendekap Mas Roni. Aku juga semakin liar membalas
ciuman Mas Roni.
“Maass.. aakuu.. haampiir.. orgasmee.. laggii.. Maass..!” kataku terengah-engah.
Tahu kalau aku akan orgasme kedua kalinya, Mas Roni langsung bergulung membalikku,
sehingga aku kembali di bawah. Dengan napas yang terengah-engah, Mas Roni yang telah
berada di atas tubuhku semakin cepat memompa selangkanganku. Tak ayal lagi, rasa nikmat
tiada tara terasa di sekujur tubuhku. Lalu rasa nikmat itu seperti mengalir dan berkumpul ke
selangkanganku. Mas Roni kupeluk sekuat tenaga, sementara napasku semakin tidak
menentu.
“Kalauu maau orgasmee ngomong Sayang, biaar leepass..!” desah Mas Roni.
Karena tidak kuat lagi menahan nikmat, aku pun mengerang keras.
“Teruss.., teruss.., akuu.. orgasmee Masss..!” desahku, sementara tubuhku masih terus
menggelepar-gelepar dalam tindihan tubuh Mas Roni.
Belum reda kenikmatan klimaks yang kurasakan, tiba-tiba Mas Roni mendengus-dengus
semakin cepat. Tangan kekarnya mendekapku erat-erat seperti ingin meremukkan tulang-
tulangku. Ia benar-benar membuatku tidak dapat bergerak. Napasnya terus memburu.
Genjotannya di vaginaku juga semakin keras dan cepat. Kemudian tubuhnya bergetar hebat.
“Rii.., akuu.. maauu.. keluuarr Sayang..!” erangnya tidak tertahankan.
Melihat Mas Roni yang hampir keluar, pantatku kuputar-putar semakin cepat. Aku juga
semakin erat memeluknya. Crot.. croot.. croot..! Sperma Mas Roni terasa sangat deras
muncrat di lubang vaginaku. Mas Roni memajukan pantatnya sekuat tenaga, sehingga batang
kejantanannya benarbenar menancap sedalam-dalamnya di lubang kemaluanku. Aku
merasakan lubang vaginaku terasa hangat oleh cairan sperma yang mengucur dari penis Mas
Roni.
Gila, sperma Mas Roni luar biasa banyaknya, sehingga seluruh lubang vaginaku terasa basah
kuyup. Bahkan karena saking banyaknya, sperma Mas Roni belepotan hingga ke bibir vagina
dan pahaku. Berangsur-angsur gelora kenikmatan itu mulai menurun.
Untuk beberapa saat Mas Roni masih menindihku, keringat kami pun masih bercucuran.
Setelah itu ia berguling di sampingku. Aku temenung menatap langit-langit kamar. Begitupun
dengan Mas Roni. Ada sesal yang mengendap dalam hatiku. Kenapa aku harus menodai
kesetiaan terhadap perkawinanku, itulah pertanyaan yang bertalu-talu mengetuk perasaanku.
“Maafkan aku, Ri. Aku telah khilaf dengan memaksamu melakukan perbuatan ini,” ujar Mas
Roni lirih.
Aku tidak menjawab. Kami berdua kembali termenung dalam alam pikiran masing-masing.
Bermenit-menit kemudian tidak sepatah kata pun yang keluar dari mulut kami berdua.
Tiba-tiba Yani mengetuk pintu sambil berteriak, “Hee, sudah siang lho.., ayo pulang..!”
Dengan masih tetap diam, aku dan Mas Roni segera beranjak, berbenah lalu berjalan keluar
kamar. Tanpa kata-kata pula Mas Roni mengecup keningku saat pintu kamar akan kubuka.
“Hayo, lagi ngapain kok pintunya pakai ditutup segala..?” kelakar Yani.
“Ah, nggak apa-apa kok, kita cuman ketiduran tadi.” jawabku dengan perasaan malu.
Sementara Mas Roni hanya tersenyum.
Posted in Cerita Dewasa | No Comments »
Perawan Liar
Saturday, December 27th, 2008

Sebut saja namaku Lila, umurku 16 tahun, kelas 2 SMA. Sebagai anak SMA, tinggiku relatif
sedang, 165 cm, dengan berat 48 kg, dan cup bra 36B. Untuk yang terakhir itu, aku memang
cukup pede. Walau sebenarnya wajahku cukup manis (bukannya sombong, itu kata teman-
temanku…) aku sudah lumayan lama menjomblo, 1 tahun. Itu karena aku amat selektif
memilih pacar… enggak mau salah pilih kayak yang terakhir kali.
Di sekolah aku punya teman akrab namanya Stella. Dia juga lumayan cantik, walau lebih
pendek dariku, tapi dia sering banget gonta-ganti pacar. Stella memang sangat menarik,
apalagi ia sering menggunakan seragam atau pakaian yang minim… peduli amat kata guru,
pesona jalan terus!
Saat darmawisata sekolah ke Cibubur, aku dan dia sekamar, dan empat orang lain. Satu
kamar memang dihuni enam orang, tapi sebenarnya kamarnya kecil bangeeet… aku dan
Stella sampai berantem sama guru yang mengurusi pembagian kamar, dan alhasil, kami pun
bisa memperoleh villa lain yang agak lebih jauh dari villa induk. Disana, kami berenam
tinggal dengan satu kelompok cewek lainnya, dan di belakang villa kami, hanya terpisah
pagar tanaman, adalah villa cowok.

“Lil, lo udah beres-beres, belum?” tanya Stella saat dilihatnya aku masih asyik tidur-tiduran
sambil menikmati dinginnya udara Cibubur, lain dengan Jakarta.
“Belum, ini baru mau.” Jawabku sekenanya, karena masih malas bergerak.
“Nanti aja, deh. Kita jalan-jalan, yuk,” ajak Stella santai.
“Boljug…” gumamku sambil bangun dan menemaninya jalan-jalan. Kami berkeliling
melihat-lihat pasar lokal, villa induk, dan tempat-tempat lain yang menarik. Di jalan, kami
bertemu dengan Rio, Adi, dan Yudi yang kayaknya lagi sibuk bawa banyak barang.
“Mau kemana, Yud?” sapa Stella.
“Eh, Stel. Gue ama yang lain mau pindahan nih ke villa cowok yang satunya, villa induk
udah penuh sih.” Rio yang menjawab. “Lo berdua mau bantu, nggak? Gila, gue udah nggak
kuat bawa se-muanya, nih.” Pintanya memelas.
“Oke, tapi yang enteng ajaaa…” jawabku sambil mengambil alih beberapa barang ringan.
Stella ikut meringankan beban Adi dan Yudi.
Sampai di villa cowok, aku bengong. Yang bener aja, masa iya aku dan Stella harus masuk ke
sana? Akhirnya aku dan Stella hanya mengantar sampai pintu. Yudi dan Adi bergegas masuk,
sementara Rio malah santai-santai di ruang tamu. “Masuk aja kali, Stel, Lil.” Ajaknya cuek.
“Ngng… nggak usah, Yud.” Tolakku. Stella diam aja.
“Stella! Sini dong!” terdengar teriakan dari dalam. Aku mengenalinya sebagai suara Feri.
“Gue boleh masuk, ya?” tanya Stella sambil melangkah masuk sedikit.
“Boleh doooong!!” terdengar koor kompak anak cowok dari dalam. Stella langsung masuk,
aku tak punya pilihan lain selain mengikutinya.

Di dalam, anak-anak cowok, sekitar delapan orang, kalo Rio yang diluar nggak dihitung, lagi
asyik nongkrong sambil main gitar. Begitu melihat kami, mereka langsung berteriak girang,
“Eh, ada cewek!! Serbuuuuu!!” Serentak, delapan orang itu maju seolah mau mengejar kami,
aku dan Stella langsung mundur sambil tertawa-tawa. Aku langsung mengenali delapan orang
itu, Yudi, Adi, Feri, Kiki, Dana, Ben, Agam, dan Roni. Semua dari kelas yang berbeda-beda.
Tak lama, aku dan Stella sudah berada di antara mereka, bercanda dan ngobrol-ngobrol.
Stella malah dengan santai tiduran telungkup di kasur mereka, aku risih banget melihatnya,
tapi diam aja. Entah siapa yang mulai, banyak yang menyindir Stella.

“Stell… nggak takut digrepe-grepe lu di atas sana?” tanya Adi bercanda.


“Siapa berani, ha?” tantang Stella bercanda juga. Tapi Kiki malah menanggapi serius,
tangannya naik menyentuh bahu Stella. Cewek itu langsung mem*kik menghindar, sementara
cowok-cowok lain malah ribut menyoraki. Aku makin gugup.
“Stell, bener ya kata gosip lo udah nggak virgin?” kejar Roni.
“Kata siapa, ah…” balas Stella pura-pura marah. Tapi gayanya yang kenes malah dianggap
seb-agai anggukan iya oleh para cowok. “Boleh dong, gue juga nyicip, Stell?” tanya Dio.
Stella diam aja, aku juga tambah risih. Apalagi pundak Feri mulai ditempelkan ke pundakku,
dan entah sengaja atau tidak, tangan Agam menyilang di balik punggungku, seolah hendak
merangkul. Bingung karena diimpit mereka, aku memutuskan untuk tidak bergerak.
“Gue masih virgin, Lila juga… kata siapa itu tadi?” omel Stella sambil bergerak untuk turun
dari kasur. Tapi ditahan Roni. “Gitu aja marah, udah, kita ngobrol lagi, jangan tersinggung.”
Bujuknya sambil mengelus-elus rambut Stella. Aku tahu Stella dulu pernah suka sama Roni,
jadi dia membi-arkan Roni mengelus rambut dan pundaknya, bahkan tidak marah saat
dirangkul pinggangnya.
“Lil, lo mau dirangkul juga sama gue?” bisik Agam di telingaku. Rupanya ia menyadari kalau
aku memperhatikan tangan Roni yang mengalungi pinggang Stella. Tanpa menunggu
jawaban, Agam memeluk pinggangku, aku kaget, namun sebelum protes, tangan Feri sudah
menempel di pahaku yang terbungkus celana selutut, sementara pelukan Agam membuatku
mau tak mau berbaring di dadanya yang bidang. Teriakan protes dan penolakanku tenggelam
di tengah-tengah sorakan yang lain. Rio bahkan sampai masuk ke kamar karena mendengar
ribut-ribut tadi.
“Gue juga mau, dong!” Yudi dan Kiki menghampiri Stella yang juga lagi dipeluk Roni,
sementara Adi, Ben, dan Rio menghampiriku. Berbeda denganku yang menjerit ketakutan,
Stella malah kelihatan keenakan dipeluk-peluki dari berbagai arah oleh cowok-cowok yang
mulai kegirangan itu.
“Jangan!” teriakku saat Rio mencium pipi, dan mulai merambah bibirku. Sementara Ben
menjilati leherku dan tangannya mampir di dada kiriku, meremas-remasnya dengan gemas
sampai aku ke-gelian. Kurasakan genggaman kuat Feri di dada kananku, sementara Adi
menjilati pusarku. Terny-ata mereka telah mengangkat kaosku sampai sebatas dada. Aku
menjerit-jerit memohon supaya mereka berhenti, tapi sia-sia. Kulirik Stella yang sedang
mendapat perlakuan sama dari Roni, Yudi, dan Kiki, bahkan Dana telah melucuti celana jins
Stella dan melemparnya ke bawah kasur.
Lama-kelamaan, rasa geli yang nikmat membungkus tubuhku. Percuma aku menjerit-jerit,
akhir-nya aku pasrah. Melihatnya, Agam langsung melucuti kaosku, dan mencupang
punggungku. Feri dan Rio bahkan sudah membuka seluruh pakaian mereka kecuali celana
dalam. Aku kagum juga melihat dada Feri yang bidang dan harumnya khas cowok. Aku
hanya bisa terdiam dan meringis nikmat saat dada bidang itu mendekapku dan menciumi
bibirku dengan ganas. Aku membalas ciu-man Feri sambil menikmati bibir Adi yang tengah
mengulum payudaraku yang ternyata sudah terl-epas dari pelindungnya. Vaginaku terasa
basah, dan gatal. Seolah mengetahuinya, Rio membuka celanaku sekaligus CDku sehingga
aku langsung bugil. Agak risih juga dipandangi dengan begitu liar dan berhasrat oleh cowok-
cowok itu, tapi aku sudah mulai keenakan.
“Ssshh…. aaakhh…” aku mendesis saat Adi dan Ben melumat payudaraku dengan liar.
“Mmmh, toket lo montok banget, Liiiil…” gumam Ben. Aku tersenyum bangga, namun tidak
lama, karena aku langsung menjerit kecil saat kurasakan sapuan lidah di bibir vaginaku.
“Cihuy… Lila emang masih perawan…” Agam yang entah sejak kapan sudah berada di
daerah rahasiaku menyeringai. “Akkkhh… jangan Gam…” desahku saat kurasakan
kenikmatan yang tiada tara.

“Gue udah kebelet, niih… gue perawanin ya, Lil…” Tak terasa, sesuatu yang bundar dan
keras menyusup ke dalam vaginaku, ternyata penis Agam sudah siap untuk bersarang disana.
Aku men-desah-desah diiringi jeritan kesakitan saat ia menyodokku dan darah segar
mengalir. “Sakiiit…” erangku. Agam menyodok lagi, kali ini penisnya sudah sepenuhnya
masuk, aku mulai terbiasa, dan ia pun langsung menggenjot dan menyodok-nyodok. Aku
mengerang nikmat.
“Ssshh… terusss… yaaa, akh! Akh! Nikmat, Gam! Teruuss… sayang, puasin gue…
Akkkhh…”
Sementara pantat Agam masih bergoyang, cowok-cowok lain yang sudah telanjang bulat juga
mulai berebutan menyodorkan penis mereka yang sudah tegang ke bibirku.
“Gue dulu ya, Lil… nih, lu karaoke,” ujar Rio sambil menyodokkan penisnya ke dalam
mulutku. Aku agak canggung dan kaget menerimanya, tapi kemudian aku mulai
mengulumnya dan mempe-rmainkan lidahku menjelajahi barang Rio. Ia mendesah-desah
keenakan sambil merem-melek. Sementara Ben masih menikmati buah dadaku, Adi
nampaknya sudah mulai beranjak ke arah Stella yang dikerubuti dan digenjot juga sama
sepertiku. Bedanya, kulihat Stella sudah nungging, ala doggy style, penis Dana tengah
menggenjot vaginanya dan toketnya yang menggantung sedang dilahap oleh Kiki, sementara
mulutnya mengoral penis Yudi. Stella nampak amat menikm-atinya, dan cowok-cowok yang
mengerumuninya pun demikian. Beberapa saat kemudian, kulihat Dana orgasme, dan
kemudian Rio yang keenakan barangnya kuoral juga orgasme dalam mulutku, aku kewalahan
dan hampir saja memuntahkan cairannya.
Mendadak, kurasakan vaginaku banjir, ternyata Agam sudah orgasme dan menembakkan
sper-manya di dalam vaginaku, cowok itu terbaring lemas di sampingku, untuk beberapa
menit, kukira ia tidur, tapi kemudian ia bangun dan menciumi pusarku dengan penuh nafsu.
Kini, vaginaku suda-h diisi lagi dengan penis Beni. Penisnya lebih besar dan menggairahkan,
sehingga membuat mata-ku terbelalak terpesona. Beni menyodokkan penisnya dengan pelan-
pelan sebelum mulai mengg-enjotku, rasanya nikmat sekali seperti melayang. Kedua kakiku
menjepit pinggangnya dan bongka-han pantatku turut bergoyang penuh gairah. Kubiarkan
tubuhku jadi milik mereka.
“Akkkhh…. ssshh… terus, teruuusss sayaaang… akh, nikmat, aaahhh…” erangku keenakan.
Tok-etku yang bergoyang-goyang langsung ditangkap oleh mulut dan tangan Rio. Ia
memainkan puting susuku dan mencubit-cubitnya dengan gemas, aku semakin berkelojotan
keenakan, dan meracau tidak jelas, “Akkkhh… teruuuss… entot gue, entooott gue teruuss!
Gue milik luu… aakhh…!!”
“Iya sayyyaangg… gue entot lu sampe puasss…” sahut Ben sambil mencengkeram pantatku
dan mempercepat goyangan penisnya. Rio juga semakin lahap menikmati gunung kembarku,
menjilat, menggigit, mencium, seolah ingin menelannya bulat-bulat, dan sebelum aku sempat
meracau lagi, Agam telah mendaratkan bibirnya di bibirku, kami saling berpagutan penuh
gairah, melilitkan lidah dengan sangat liar, dan klimaksnya saat gelombang kenikmatan
melandaku sampai ke puncaknya.
“Aaakkhh…. gue mau…!” Belum selesai ucapanku, aku langsung orgasme. Ben menyusul
beber-apa saat kemudian, dan vaginaku benar-benar banjir. Tubuh Ben langsung jatuh
dengan posisi penisnya masih dalam jepitan vaginaku, ia memeluk pinggangku dan menciumi
pusarku dengan lemas. Sementara aku masih saja digerayangi oleh Agam yang tak peduli
dengan keadaanku dan meminta untuk dioral, dan Rio yang menggosok-gosokkan penisnya
di toketku dengan nikmat.
Beberapa saat kemudian, Agam pun orgasme lagi. Agam jatuh dengan posisi wajah tepat di
sampingku, sementara Rio tanpa belas kasihan memasukkan penisnya ke vaginaku, dan
mengge-njotku lagi sementara aku berciuman penuh gairah dengan Agam. Selang beberapa
saat Rio org-asme dan jatuh menindihku dengan penis masih menancap, ia memelukku mesra
sebelum kemud-ian tertidur. Aku sempat mendengar erangan nikmat dari arah Stella,
sebelum akhirnya benar-benar tertidur kecapekan, membiarkan Beni dan Agam yang masih
menciumi sekujur tubuhku.

Selama tiga hari kami disana, kami selalu melakukannya setiap ada kesempatan. Sudah tak
ter-hitung lagi berapa kali penis mereka mencumbu vaginaku, namun aku menikmati itu
semua. Bahk-an, bila tak ada yang melihat, aku dan Stella masih sering bermesraan dengan
salah satu dari mereka, seperti saat aku berpapasan dengan Agam di tempat sepi, aku duduk
di pangkuannya sementara tangannya menggerayangi dadaku, dan bibirnya berciuman
dengan bibirku, dan penis-nya menusuk-nusukku dari bawah. Sungguh pengalaman yang
mendebarkan dan penuh nikmat—tubuhku ini telah digauli dan dimiliki beramai-ramai,
namun aku malah ketagihan.
Posted in Umum | No Comments »
Dewi oh Dewi
Friday, December 26th, 2008

Aku terbangun dari tidurku di atas sebuah ranjang ukuran king size. Tubuhku telanjang bulat
tanpa sehelai benang pun. Di kedua payudaraku masih tersisa air mani pria yang lengket di
kulitku. Di samping kiriku, kulihat
Andre juga dalam keadaan bugil sedang tidur tertelungkup. Di kananku, Tommy yang juga
bugil tidur dalam posisi miring dengan kaki agak tertekuk.

Kudengar suara orang menggerakkan badannya agak jauh. Aku duduk di atas tempat tidurku,
dan kulihat Dewi dengan tubuh mulusnya yang telanjang bulat sedang membalikkan badan,
dan meneruskan tidurnya. Di sampingnya ada Donny yang tidur telanjang bulat dalam posisi
terlentang, dan mm..ini pemandangan yang menggairahkanku, batang kemaluannya dalam
posisi tegang mengacung ke atas.
Aku turun dari tempat tidur, dan menuju ke arah Donny. Tanganku mulai nakal mengocok-
ngocok batang kemaluannya. Donny mulai bereaksi, tanpa sadar pinggulnya ikut irama naik-
turun. Aku mempercepat kocokan tanganku di batang kemaluannya. Donny terbangun dan
tersenyum melihatku.
“Wow, Sus, enak banget kocokan kamu, terus sayang.. oh.. oh,” Donny berkata padaku
sambil mulai terengah-engah.
Aku kemudian bangkit dan menaiki tubuh Donny. Kuarahkan batang kemaluannya yang telah
besar dan menegang itu ke lubang kemaluanku. Kumasukkan pelan-pelan batang
kemaluannya ke dalam lubang kemaluanku, dan aku mulai bergerak naik turun di atas tubuh
Donny. Nikmatnya memang luar biasa sekali, aku merasakan batang kemaluan Donny
menusuk-nusuk rahimku. Donny kini mulai mengimbangiku. Dia pun asyik memainkan
pinggulnya, sementara kedua tangannya memegang erat pinggangku. Lidahnya mulai
bermain mengisap dan menjilati payudaraku.

“Don, tetekku ‘kan masih ada bekas pejunya,” aku memperingatkan.


“Ah, cuek,” kata Donny sambil terus menjilati dan mengisap puting payudaraku.
Lalu dengan kecepatan luar biasa, Donny membalik tubuh kami berdua tanpa melepaskan
batang kemaluannya dari lubang kemaluanku. Kini Donny yang di
atas, dia yang bergerak aktif memasukkeluarkan batang kemaluannya.
“Ah.., ah.., awww.., sstt.., ah..,” mulutku mulai mendesis berulangkali karena rangsangan
yang ditimbulkan Donny.
Sedang asyiknya aku dan Donny bersenggama, Dewi yang tidur di sebelah kami terbangun.
Dia melihat kami sedang asyik bersenggama, lalu ikut bergabung bersama kami. Dewi
menyodorkan payudaranya yang luar biasa besar berukuran 38D ke mulut Donny. Lidah
Donny segera menjilati payudara Dewi dan kemudian mulutnya asyik mengisap puting
payudara Dewi berulangkali. Melihat itu, tanganku mulai nakal. Kususupkan jari telunjuk dan
tengah tangan kananku ke lubang kemaluan Dewi. Aku asyik memainkan jari-jariku ke luar
masuk lubang kemaluan Dewi. Dewi membiarkan saja, malah dia semakin lebar
mengangkangkan kedua pahanya, sehingga jari-jariku bisa leluasa keluar masuk lubang
kemaluannya.
Aku sendiri sudah dua kali mencapai orgasme karena tak kuasa menahan nikmat yang
ditimbulkan kocokan batang kemaluan Donny di lubang kemaluanku. Namun Donny
tampaknya belum lelah, dia masih asyik menyetubuhiku sambil mulutnya mengisap payudara
Dewi. Andre yang terbangun melihat kami bertiga di lantai ikut bergabung. Andre meminta
Dewi mengisap batang kemaluannya, dan Dewi tak menolaknya. Di sebelahku, Dewi
mengisap batang kemaluan Andre dengan penuh gairah. Tiba-tiba kulihat Tommy juga
terbangun. Dia pun bergabung bersama kami. Tommy segera menyodorkan batang
kemaluannya ke depan mulutku, dan aku segera membuka mulutku dan mengisap batang
kemaluan lelaki yang tadi telah beberapa kali menyetubuhiku.
Kini, kami kembali berpesta orgy sex. Sebelumnya, kami sudah melakukan itu, dan karena
lelah, kami semua tertidur. Setelah terbangun, rupanya kami – termasuk aku – masih belum
puas, dan sekali lagi melanjutkan pesta orgy sex kami. Nikmatnya memang berbeda
dibandingkan hanya bersenggama antara satu pria dan satu wanita saja. Kalau orgy sex
rasanya lebih nikmat, karena aku yang wanita bisa merasakan berbagai batang kemaluan pria
dan juga berbagai macam gaya dan posisi seks.

Donny tiba-tiba mempercepat goyangannya, rupanya dia sudah hampir sampai klimaksnya,
dan tak berapa lama kemudian, Donny menyemprotkan air mani dari batang kemaluannya di
dalam lubang kemaluanku. Tommy mencabut batang kemaluannya dari mulutku, dia
mengambil tissue, membersihkan lubang kemaluanku sekedarnya saja, dan segera
memasukkan batang kemaluannya yang sudah tegang membesar ke dalam lubang
kemaluanku.
Kini, Tommy yang menggoyang-goyangkan pinggulnya dan menyetubuhiku. Aku lagi-lagi
mencapai orgasmeku, sementara kulihat Andre juga telah mencapai klimaksnya dan
menyemprotkan air mani dari batang kemaluannya di dalam mulut Dewi. Sebagian air mani
itu meleleh keluar mulut Dewi, sementara Dewi masih terus mengisap kuat-kuat batang
kemaluan Andre agar seluruh air mani Andre tertumpah habis dari batang kemaluannya.
Andre kemudian mencabut batang kemaluannya dari mulut Dewi, lalu Dewi menyeka sisa-
sisa air mani Andre dengan tangannya dan tangannya yang penuh dengan sisa-sisa air mani
Andre disekanya ke payudaranya.
“Biar tetek gue makin asyik kalau sering kena peju cowo,” ujar Dewi bergurau sambil
tertawa.
Tapi aku tak sempat memperhatikan lagi kelanjutannya, karena bersamaan aku mencapai
orgasmeku yang kesekian kalinya, Tommy juga mencapai klimaksnya dan menyemprotkan
air maninya di dalam lubang kemaluanku. Namun Tommy dengan sigap mencabut batang
kemaluannya dari lubang kemaluanku, lalu menyodorkannya ke depan mulutku.
“Susi, isep dong, sayang,” pintanya.

Aku segera memasukkan batang kemaluan Tommy ke dalam mulutku dan mengisapnya kuat-
kuat. Kurasakan Tommy masih beberapa kali menyemprotkan air maninya yang tersisa di
dalam mulutku. Wah, rasanya air mani Tommy banyak sekali sampai meleleh keluar
mulutku.
Posted in Daun Muda | No Comments »
Yeni Budak Nafsu
Thursday, December 25th, 2008

Yeni ditugaskan sebagai pimpinan unit sebuah bank BUMD di sebuah kabupaten. untuk itu
maka ia harus berpisah dengan suaminya yang bekerja sebagai dosen dan pengusaha di kota.
Yeni menyewa sebuah kamar paviliun yang dihuni oleh seorang wanita tua yang anak-
anaknya pada ke kota semua.
Pada hari pertama ia bertugas, banyak sekali kesan yang dapat di terimanya dari para
bawahannya di kantor. Yeni pulang pergi ke kantor selalu menumpang bendi (delman) yang
dimiliki oleh tetangganya yang bernama Udin, kebetulan Udin telah kenal baik dengan Mak
Minah pemilik rumah yang ditempati Yeni. Udin seorang duda yang berumur kurang lebih 45
tahun, cerai dan tidak memiliki anak. Jarak rumah Udin dan Yeni memang jauh sebab di desa
itu antara rumah dibatasi oleh kebun kelapa. Karena terlalu sering mengantar jemput Yeni,
maka secara lambat laun ada perasaan suka Udin terhadap Yeni namun segala keinginan itu
di buang jauh-jauh oleh Udin karena ia tahu Yeni telah mempunyai suami dan setiap minggu
suami Yeni selalu datang, tingkah suami istri itu selalu membuat Udin tidak enak hati, namun
ia harus pasrah bagaimanapun sebagai suami istri layaklah mereka berkumpul dan
bermesraan untuk mengisi saat kebersamaan.

Udin setiap hari selalu melihat sosok keelokan tubuh Yeni tapi bagaimana caranya
menaklukannya, sedang birahinya selalu minta dituntaskan saat bersama Yeni diatas
bendinya. Kemudian timbullah pikiran licik Udin dengan meminta pertolongan seorang
dukun, ia berkeinginan agar Yeni mau dengannya. Atas bantuan dukun itu, Udin merasa puas
dan mulailah ia mencoba pelet pemberian dukunnya.
Siang saat Yeni menumpang bendi, Udin melihat paha Yeni yang putih mulus itu, kejadian
itu membuat birahi Udin naik dan kejantanannya berdiri saat itu ia mengenakan celana katun
yang longgar sehingga kejantanannya yang menonjol terlihat oleh Yeni, Udin malu dan
berusaha membuang muka, sedang Yeni merasa tidak enak hati dan menutupkan pahanya,
wajahnya bersemu merah ia merasakan bahwa batang kemaluan Udin itu memang besar dan
panjang tidak seperti milik suaminya. Ia tahu pasti kalau bercinta dengan Udin akan dapat
memberikan anak baginya serta kepuasan yang jauh berbeda saat bercinta dengan suaminya,
memang saat akhir-akhir ini frekwensi hubungan seks dengan suaminya agak berkurang dan
suaminya cepat selesai, telah 2 tahun menikah belum ada tanda-tanda ia hamil ini semakin
membuat ia uring-uringan dan kepuasan yang dia harapkan dari suaminya tidak dapat Yeni
nikmati. Sedang kalau ia melihat sosok Udin tidaklah sebanding dengannya karena status
sosial dan intelektualnya jauh dibawah suaminya ditambah face-nya yang tidak masuk
katagorinya di tambah lagi kehidupan Udin yang bergelimang dengan kuda kadang
membuatnya jijik, namun semua itu dibiarkannya karena Yeni butuh bantuan Udin mengantar
jemput, ditambah Udin memang baik terhadapnya.
Kalau dilihat sosok Yeni, ia seorang wanita karier berusia 27 tahun dan ia telah bekerja di
bank itu kurang lebih 4 tahun, ia menikah dengan Beni, belun dikaruniai anak, tingginya 161
cm, rambut sebahu dicat agak pirang, kulit putih bersih dan memiliki dada 34B sehingga
membuat para lelaki ingin dekat dengannya dan menjamah payudaranya yang montok dan
seksi.
Dengan berbekal pelet yang diberikan gurunya, Udin mendatangi rumah Yeni. Malam itu
gerimis dan Udin mengetuk pintu rumah Yeni. Kebetulan yang membukakan pintu adalah
Yeni yang saat itu sedang membaca majalah.
“Eee.. Bang Udin tumben ada apa Bang?” tanya Yeni.
“Ooo.. saya ingin nonton acara bola sebab saya tidak punya televisi apa boleh Bu Yeni?”
jawab Udin.
“Ooo.. boleh.. masuklah.. Bang.. langsung aja ke ruang tengah, televisi disitu..” Yeni
menerangkan sambil ia menutup pintu. Diluar hujan mulai lebat.
“Sebentar ya Bang?” Yeni ke belakang, membuatkan minum untuk Udin. Udin duduk
diruangan itu sambil melihat televisi.
Tidak berapa lama Yeni keluar membawa nampan berisi segelas air dan makanan kecil,
sambil jongkok ia menyilakan Udin minum. Saat itu Udin sempat terlihat belahan dada Yeni
yang mulus sehingga Udin berdesir dadanya karena kemulusan kulit dada Yeni. Sambil
minum Udin menanyakan, “Mak Minah mana Bu, kok sepi aja?”
“Ooo Mak Minah sudah tidur,” jawab Yeni.
“Bagaimana kabarnya Bang?” Yeni membuka pembicaraan. “Baik-baik saja,” jawab Udin
sambil melafalkan mantera peletnya. Sambil menonton Udin berulang-ulang mencoba
manteranya, saat itu Yeni sedang asyik membaca majalah. Merasa manteranya telah
mengenai sasaran, Udin berusaha mengajak Yeni bicara tentang rumah tangga Yeni dan
suaminya, diselingi ngomong jorok untuk membuat Yeni terangsang.

Bu, sudah berapa lama Ibu kawin dan kenapa belum hamil?” tanya Udin.
“Lho malu saya Bang, soalnya suami saya sibuk dan saya juga sibuk bekerja bagaimana kami
mau berhubungan dan suami saya selalu egois dalam bercinta.” jawab Yeni menjelaskan.
“Oh begitu? bagaimana kalau suami ibu jarang datang dan ibu butuh keintiman?” tanya Udin.
“Jangan ngomong itu dong Bang, saya malu masa rahasia kamar mau saya omongin ama
Abang?” jawab Yeni.
“Bu Yeni, saya tau Ibu pasti kesepian dan butuh kehangatan lebih-lebih saat hujan dan dingin
saat ini apa Ibu nggak mau mencobanya?” Udin berkata dengan nada terangsang.
“Haa.. dengan siapa?” jawab Yeni, “Sedang Beni suamiku di kota,” timpalnya.
“Dengan saya..” jawab Udin.
“Haa gila! masa saya selingkuh?” Yeni menerangkan sambil mengeser duduknya. Udin
merasa yakin Yeni tidak menolak jika ia memegang tangannya.

“Jangan lah Bang, nanti dilihat Mak Minah.” Yeni mengeser duduknya.
“Oooh.. Mak Minah udah tidur tapi..?” jawab Udin memegang tangan Yeni dan mencoba
memeluk tubuh mulus itu. Sambil mencoba melepaskan diri dari Udin Yeni beranjak ke
kamar, ia memang berusaha menolak namun pengaruh dari pelet Udin tadi telah mengundang
birahinya. Ia biarkan Udin ikut ke kamarnya. Saat berada di kamar, Yeni hanya duduk di
pingir ranjangnya dan Udin berusaha membangkitkan nafsu Yeni dengan meraba dada dan
menciumi bibir Yeni dengan rakus sebagaimana ia telah lama tidak merasakan kehangatan
tubuh wanita. Udin berusaha meremas dada Yeni dan membuka blous tidur itu dengan
tergesa-gesa, ia tidak sabar ingin menuntaskan birahinya selama ini. Sementara mulutnya
tidak puas-puasnya terus menjelajahi leher jenjang Yeni turun ke dada yang masih ditutupi
BH pink itu. Sementara Yeni hanya pasrah terhadap perbuatan Udin, ia hanya menikmati saat
birahinya ingin dituntaskan.
Kemudian tangan Udin membuka tali pengikat BH itu dari belakang dan terlihatlah sepasang
gunung kembar mulus yang putingnya telah memerah karena remasan tangan Udin. Dengan
mulutnya, Udin menjilat dan mengigit puting susu itu sementara tangan Udin berusaha
membuka CD Yeni dan mengorek isi goa terlarang itu. Udinpun telah telanjang bulat lalu ia
meminta Yeni untuk mengulum batang kemaluannya, Yeni menolak karena batang
kejantanan Udin panjang, besar dan baunya membuat Yeni jijik. Dengan paksa Udin
memasukan batang kejantanannya ke mulut Yeni dengan terpaksa batang kejantanan itu
masuk dan Yeni menjilatnya sambil memainkan lidah di ujung meriam Udin. Udinpun tidak
ketinggalan dengan caranya ia memainkan lidahnya di liang kewanitaan Yeni, lebih-lebih
saat ia menemukan daging kecil di belahan liang kewanitaan itu dan dijilatinya dengan
telaten sampai akhirnaya setelah berualng-ulang Yeni klimaks dan menyemburkan air
maninya ke mulut Udin. Saat lebih kurang 20 menit Udinpun memuncratkan maninya ke
mulut Yeni dan sempat tertelan oleh Yeni.
Kemudian Udin mengganti posisi berhadap-hadapan, Yeni ditelentangkannya di ranjang dan
di pinggulnya diletakkan bantal lalu ia buka paha Yeni dengan menekuk tungkai Yeni ke
bahunya. Sambil tangannya merangsang Yeni kedua kalinya Udinpun meremas payudara
Yeni dan mengorek isi liang kewanitaan Yeni yang telah memerah itu, lalu Yeni kembali
dapat dinaikkan nafsunya sehingga mudah untuk melakukan penetrasi. Bagi Udin inilah saat-
saat yang di tunggu-tunggunya, paha yang telah terbuka itu ia masukkan batang
kejantanannya dengan hati-hati takut akan menyakiti liang kewanitaan Yeni yang kecil itu.
Berulang kali ia gagal dan setelah sedikit dipaksakan akhirnya batang kejantanannya dapat
masuk dengan pelan dan ini sempat membuat Yeni kesakitan. “Ouu.. jangan keras-keras
Bang, ntar berdarah,” kata Yeni. “Sebentar ya.. Yen sedikit lagi,” kata Udin sambil
mendorong masuk batang kejantanannya ke dalam liang kewanitaan sempit itu. Dengan
kesakitan Yeni hanya membiarkan aksi Udin itu dan mulutnya telah disumbat oleh bibir Udin
supaya Yeni tidak kesakitan. “Ooouu.. ahh.. ahh.. aahh..” hanya itu yang terdengar dari mulut
Yeni dan itu berlangsung lebih kurang 17 menit dan akhirnya Udin menyemburkan air
kenikmatannya dalam liang kewanitaan Yeni sebanyak-banyaknya dan ia lalu rebah di
samping Yeni hingga pagi.
Permainan mesum itu berlangsung tiga kali dan membuat Yeni serasa dilolosi tulang
benulang hingga ia merasa harus libur ke kantor karena ia tidak kuat dan energinya terkuras
oleh Udin malam itu.
Sejak kejadian itu hampir setiap kesempatan mereka selalu melakukan hubungan gelap itu,
karena Yeni telah berada dibawah pengaruh pelet Udin dan saat suaminya datang Yeni
pandai mengatur jadwal kencannya sehingga tidak membuat curiga suami dan masyarakat di
desa itu, mereka kadang-kadang melakukan hubungan seks di gubuk Udin yang memang
agak jauh dari rumah penduduk lainnya. Yenipun rajin menggunakan pil KB karena ia juga
takut hamil karena hubungan gelapnya itu dan suatu hari ia terlupa dan ia positif hamil, ia
amat gusar dan karena pintarnya Yeni memasang jadwal dengan suaminya maka suaminya
amat suka cita dan padahal Udin tahu benih itu adalah anaknya karena hampir tiap ada
kesempatan ia melakukanya dengan Yeni sedang dengan suaminya Yeni hanya sekali 20 hari
dan tidak rutin. Akhirnya anak Yeni lahir di kota karena saat akhir kehamilannya, Yeni
pindah ke kota sesuai permintaan suaminya, tidak ada kemiripan anaknya denagn Beni yang
ada hanya mirip Udin. Sejak Yeni berada di kota, secara sembunyi-sembunyi Udin
menyempatkan diri untuk berkencan dengan Yeni karena Yeni sudah tidak dapat melepaskan
diri dari pengaruh pelet Udin.

Posted in Cerita Dewasa | No Comments »


Mbak Dian Pembantu Seksi
Wednesday, December 24th, 2008
Kriteria pembokat gue dengan postur body menantang toket ukuran 36 B plus bokong yang
bak bemper yang padet, tinggi badannya kira kira 160 dan berkulit putih…. karena pembantu
gue ini orang asal Kota Bandung, umurnya sekarang kira kira 29 tahun. silakan bayangkan
gimana bodynya, gue aja kalo liat dia lagi ngepel langsung otomatis dede yang di dalem
celana langsung mengeliak saat bongkahan dadanya memaksa keluar dari celah kerah
bajunya.
Terkadang di pikiran gue terlintas pemikiran kapan yang bisa nyicipin tubuh montok
pembokat gue yang aduhai itu… udah naga bonar gak bisa di ajak kompromi lagi, liat sedikit
aja langsung bangun dari tidurnya…
Pernah suatu hari gue lagi mau ganti baju di dalam kamar pas waktu itu gue lupa ngunci
pintu… tiba tiba gue kaget pembokat gue masuk tanpa ngetuk ngetuk lagi, mungkin dia pikir
udah lama kerja sama keluarga gue n udah kenal gue dari gue masih SD…
“Eh…, lagi ganti baju ya… Donn” kata pembantu gue sambil buka pintu kamar gue tanpa ada
rasa kegelisahan apa apa saat liat gue gak pake apa apa… cuma tinggal CD aja yang belom
gue lepas.
“Mbak, ketok dulu dong kalo mau masuk kamar Donny… gimana kalo pas masuk Donny
lagi telanjang…” celetuk gue sama dia
“Emangnya kenapa sih Donn, saya kan udah lama kerja di keluarga Donny… ,lagian’kan
waktu masih SD juga kamu suka pake CD aja kalo di rumah…”. Kata Dian sama gue yang
kayaknya acuh terhadap posisi gue yang telanjang.
“Mbak… itu’kan dulu, waktu saya masih SD. Sekarang’kan saya sudah besar… Mbak
memang gak malu yah liat saya kalo telanjang bulat gak pake apa apa…” celetuk asal keluar
dari mulut.
“Iiiihhh…. malu gapain… lagian saya juga gak mau liat… yah udah sana kalo mau ganti
baju, mbak mau beresin kamar kamu nih yang berantakan mulu tiap hari kayak kandang
sapi…”
Karena dia menjawab dengan rasa yang tidak keberatan kalo gue ganti baju disaat ada dia.
Dengan santai gue mulai turunin CD gue yang nutupin kont*l gue yang udah mulai agak
kenceng dikit…
Tanpa sengaja gue tangkap lirikan matanya yang memandang ke arak selangkangan gue yang
di tumbuhin rambut yang lebat…
“Nah… tuh ngeliatin mulu… katanya tadi mbak Dian gak mau liat, sekarang liat mulu…”
“Siapa yang liat… wong saya lagi beresin sprei yang berantakan ini kok…” bantah dia karena
malu mungkin kepergok ngelihat kearah selangkangan gue.
AKhirnya gue tinggal dia di dalam kamar gue yang sedang beresin kamar gue yang
berantakan itu, di luar gue jadi teringat gimana yah caranya buat bisa nikmatin tubuh
pembantu gue yang bahenol ini… dan gue rasa dia juga kayaknya penasaran sama kont*l gue
yang gede ini… buktinya beberapa kali gue pergokin dia ngelirik terus kearah gue.
Pas suatu hari libur, hari minggu keluarga gue pada pergi ke rumah kerabat gue yang mau
nikahin anaknya.
“Donny… kamu mau ikut gak. Mama semuanya mau pergi ke pesta pernikahan anaknya
tante Henny di Bandung…”. Tanya Mama gue.
“Kapan pulangnya Ma,…” Jawab gue sambil ngucek ngucek mata karena baru bangun…
“Mhhhmmm,… mungkin 2 hari deh baru pulang dari Bandung, kan capek dong Donn… kalo
langsung pulang…
kamu tanya kapan pulang, kamu mau ikut gak… atau mau di rumah saja” tanya mamaku
kembali…
“Kayaknya dirumah aja deh Ma… abis capek ah, jauh… lagian besok Donny ada acara sama
teman teman Donny…” jawab
ku seraya kembali membenamkan kepalaku kembali ke bantal…
“Yah udah… mama mau berangkat jalan kamu baik baik yah jaga rumah… mau apa minta
aja sama Mbak dian…”
“Dian… Dian… Dian…” panggil Mamaku
“Iyah Nyah…, Maaf saya lagi nyuci. Kurang denger tadi Nyonya panggil. Kenapa Nyah…”
Jawab Mbak Dian
Sambil datang dari belakang yang ternyata sedang cuci baju… baju yang dikenakan
sebetulnya tidaklah menantang, namun
karena terkena air sewaktu mencuci menjadi bagian paha dan dadanya seakan transparan
menantang…
“Dian… kamu jaga rumah yah selama saya dan tuan pergi ke Bandung”
“Iyah Nyah… ,” jawab kembali pembokat gue itu ke mama gue…
Setelah kira kira selang beberapa jam setelah keberangkatan mamaku… akhirnya aku keluar
dari kamar hendak buang air kecil.
Perlu Bro Bf ketahui jarak antara tempat pembantu gue nyuci sama kamar mandi deket
banget… waktu gue jalan ke kamar mandi, gue liat pembantu gue yang lagi nyuci baju
dengan posisi duduknya yang buat naga di dalam cd gue bangun…
Pembantu gue pake T shirt putih yang tipis karena dah lama di tambah lagi kaosnya kena air,
secara langsung keliatan jelas banget BH krem yang dipake pembantu gue berserta paha
mulusnya yang udah agak terbuka karena duduknya hingga keliatan CD putihnya…
“Anjriiit, mulus juga nih pembantu gue meskipun udah janda anak satu tapi dari paha dan
teteknya masih keliatan kenceng, kayak cewek yang belum pernah kesentuh sama laki
laki”.oceh gue dalam hati sambil kencing trus ngelirik ke pahanya yang mulus itu.
Sambil kencing gue mikir gimana caranya buka omongan sama pembantu gue, biar gue bisa
agak lamaan liat CD dan teteknya yang aduhai itu… pantes banyak tukang sayur selalu suka
nanyain Mbak Dian mulu kalo tiap pagi…
“Mbak gimana kabar Ani, sekarang udah umur berapa… Mbak Dian kok bisa sampai cerai
sih sama suaminya”Iseng gue tanya seputar hubungan dia sama mantan suaminya yang
sekarang udah cerai, dan kenapa bisa sampai cerai… gugup juga sih gua waktu nanyanya
kayak gue nih psikolog aja…
“Kok tiba tiba Donny tanya tentang itu sih sama Mbak… ”
“Gak pa pa kan Mbak… ”
“Anak mbak sekarang udah umur lima tahun, mbak cerai sama suami mbak karena dia
pengangguran… mau nya enak doang.
Mau bikinnya tapi gak mau besarin. Yah… lebih baik mbak minta cerai aja. masa sih mbak
sendiri yang banting tulang cari uang,
sedangkan suami mbak cuman bangun, makan, main judi sampai subuh… males Donn punya
suami pengangguran, lebih baik
sendiri… sama aja kok” Jawab pembantu ku panjang lebar, seraya tangannya tetap membilas
baju yang sedang ia cuci.
Ini dia masuk ke dalam dialog yang sebenarnya… akhirnya pembicaraan yang gue maksud
agar gue arahin pembicaraan hingga tentang persoalan hubungan intim.
“Lah… bukannya enakan punya suami, mbak… daripada gak ada…”
“Enak dari mananya Donn… punya suami sama gak punya sama aja ah…”
“Loh beda dong mbak…”
“Beda dari mananya Donn… coba jelasin, aah kamu ngomongnya kayak kamu dah pernah
ngerasain menikah aja sih Donn…”
tanya pembantuku sambil bercanda kecil.
“Yah beda lah mbak… dulu kalo masih ada suami kan kalo lagi pengen tinggal minta sama
suami mbak… sekarang udah cerai
pas lagi pengen… mau minta sama siapa…” Jawab gue sambil menjuruskan kalimat kalimat
yang gue tuju ke hal yang gue
inginin.
“Maksud Donny apa sih… mau apa. Ngomongnya jangan yang bikin mbak bingung dong
Donn…”
“Gini mbak, maksudnya apa mbak gak pernah pengen atau kangen sama ini nya laki laki…”
waktu gue ngomong gitu sambil gue turunin dikit celana pendek gue, trus gue keluarin punya
gue ngadep ke depan mukanya…
“Iiih gede banget punya kamu Donn… punya mantan suami mbak sih gak begitu gede kayak
gini…” Jawab mbak dian sambil melotot ke kont*l gue yang udah Super tegang, karena dari
tadi udah minta di keluarin.
“Kangen gak sama Kont*l laki laki mbak…” tanya kembali saya yang sempat membuyarkan
pandangan mbak dian yang dari
setadi tak lepas memandang kont*lku terus.
“…… waduh mbak gak tahu deh Donn…, kalo punya mbak dimasukin sama punya kamu
yang gede kayak gini. Gimana rasanya
mbak gak bisa ngebayangin…”
“Loh… mbak saya kan gak tanya apa rasanya di masukin sama punya saya yang lebih gede
dari punya mantan suami mbak. Saya kan cuman tanya apa mbak gak kangen sama punyanya
laki laki”Padahal didalam hati gue udah tahu keinginan dia yang pengen ngerasain kont*l gue
yang super size ini…
“mmmmhhhhh… maksud mbak dian sih… yah ada kangen sama punya laki laki… tapi
kadang kadang mbak tahan aja, abis
mbak kan dah cerai sama suami… ” jawab mbak dian yang keliatan di pipinya merona karena
merasa jawabannya ngawur
dari apa yang gue tanyain ke dia”
“Mbak… boleh gak saya pegang tet*k mbak ”
“Iiihh… Donn kok mintanya sama mbak sih, minta dong sama pacar Donny… masa sama
mbak…”
“Yah… gak pa pa sih, saya mau ngerasain begituan sama mbak dian… gimana sih begitu
sama ce yang udah pernah punya
anak… boleh yah mbak… ” kata gue sambil mendekatkan kont*l gue lebih dekat ke
mulutnya…
“iiih donny… punya kamu kena mulut mbak nih… memangnya kamu gak malu gituan sama
mbak dian…” jawab mbak dian sambil merubah posisi duduknya sambil menghadap ke
kont*l gue dan ngelepasin baju yang sedang dia bilas…
“Yah gak lah kan gak ada yang tahu… lagian kan gak ada yang tahu, kan sekarang gak ada
orang selain mbak dian sama saya”
jawab gue sambil yakinin ke dia, biar di mau kasih yang gue pengen.
“Tapi jangan keterusan yah… trus kamu mau di apain sama mbak…”
“Mbak mulutnya di buka dikit dong, saya mau masukin punya saya ke dalam mulut mbak
dian…”
“Iih… gak ah jijik… masa punya kamu di masukin ke dalam mulut mbak… mbak gak pernah
lakuin kayak gini sama mantan
suami mbak, gak ahh… ” tapi posisi tangannya sekarang malah megang kont*l gue sambil
ngocok ngocok maju mundur.
“Cobain dulu mbak enak loh… anggap aja mbak dian lagi kemut permen lolipop atau es krim
yang panjang” rayu gue ngarep
mbak dian mau masukin kont*l gue ke dalam mulutnya yang mungil itu.
Akhirnya permintaan gue diturutin tanpa banyak ngomong lagi mbak dian majuin mukanya
kearah kont*l gue yang udah
super tegang itu kedalam mulutnya yang mungil… sementara dia kemut kont*l gue maju
mundur yang terkadang di selingin jilatan jilatan yang bikin gue pegang kepalanya trus gue
tarik maju hingga kepala kont*l gue mentok sampe kerongkongan mbak dian.
“Ooooooh… mbak emut truuuus mbak…. ennnnak banget” sambil tangan gue mulai turun
megang tet*knya yang mengoda itu.
Tangan gue masuk lewat kerah kaosnya, trus langsung gue remes kera tet*knya… Tangan
mbak dian juga kayaknya gak mau
kalah sama gue. Dia malah makin ngedorong pantat gue dengan tangannya hingga hidungnya
nempel sama jembut gue…
Karena tempatnya kurang tepat untuk bertempur lalu gue ajak mbak dian ke ruangan tengah
sambil ngemut kont*l gue jalan ke ruangan tengah. Perlu di ketahui mbak dian merangkak
seperti anjing yang haus sex gak mau lepas dari kont*l gue, merangkak berjalan ngikutin
langkah kaki gue yang mundur ke arah ruang tengah.
Gue liat mulutnya yang mungil sekarang terisi kont*l gue… tangannya sambil remas remas
buah dadanya sendiri…
” Mbak dian lepasin dulu dong kont*l saya, buka dulu baju mbak dian. Entarkan mbak juga
nikmatin sepenuhnya punya saya…”
” Donnn…. punya kamu enak banget… mbak kira dari dulu jijik kalo liat ce ngemut
punyanya cowok… ehh ternyata nikmatnya
bener bener bikin ketagihan Donn…”
Dengan cepat cepat mbak dian membuka seluruh baju dan roknya yang tadi basah karena
kena air… Wooow, sungguh pemandangan yang sangat indah… kini di hadapan gue telah
ada seorang wanita yang telanjang tanpa tertutup sehelai benang… berjalan menghampiri gue
dengan posisi doggie style mbak dian kembali memasukkan kont*l gue ke dalam mulutnya
yang mungil itu.
Dengan jels bisa gue liat buah dada yang gelantungan dan bongkahan pantat yang begitu
padat, yang slama ini udah banyak bikin kont*l gue penasaran pengen di selipin diantara
bongkahan itu…
nafas suara mbak dian semakin lama semakin membara terpacu seiringin dengan birahi yang
selama ini terkubur di dalam dirinya. Sekarang terbangun dan mendapatkan suatu kepuasan
seks yang selama ini ia tahan tahan.
Sementara mbak dian ngemut kont*l gue, gue remas tet*knya yang menantang itu terkadang
gue pegang MQ nya yang ternyata udah banjir oleh cairan kenikmatan.
Gue tusuk tusuk jari tengah gue ke dalam mem*knya hingga mbak dian ngeluarin desahan
sambil meluk pantat gue…
” Mmmmhhhhh….. ooooooohhhhhh……” desahannya begitu menambah gue buat semakin
cepat menusuk nusuk liang kenikmatannya semakin cepat.
“Donnn…..OOooooohhhh…. Donnn… enak donnn… enak….” Desahan mbak dian benar
benar membuat semakin terangsang…
tusukan jari yang gue sodok sodok pun semakin gencar…
” Aaaaaahhhh…. Donnnyyyyyy…. OOOhhhhh Dooooonnn… mbakkkkk….. mmmmbb…..
klllluuuaar… ” bersamaan dengan desahan mbak Dian yang panjang, akhirnya mbak Dian
telah mencapai puncak kenikmatannya yang terasa di jari tengah yang
gue sodok sodok ke lubang MQ nya waktu mbak Dian menyemprot cairan kenikmatannya….
Karena mbak Dian telah mengalami organismenya yang pertama, maka Gue pun tak mau
kala. Irama sodokkan kont*l gue percepat kedalam mulut mbak Dian berkali kali hingga
desahan panjang gue pun mulai keluar yang menandakan sperma gue akan muncrat…
[IMG]file:///D:/PRIVE/kmpln%20carita/pembantu%20dian_files/anuanuan.gif[/IMG]
” Mbak Donny mau kkkkelllluaaar…. aaaaahhhh…. sedot mbak… sedot peju Donny…. ”
kata gue sama Mbak Dian sambil menahan kepalanya untuk memendamkan kont*l gue
hingga masuk ke tenggorokannya. Namun Mbak Dian meronta ronta tidak menginginkan
sperma gue keluar di dalam mulutnya… sia sia rontahan mbak Dian Sperma gue akhirnya
keluar hingga penuh di dalam mulutnya.
Crroooot…. Crooot… crooot… [IMG]file:///D:/PRIVE/kmpln%20carita/pembantu
%20dian_files/crotz.gif[/IMG] akhirnya Gue semburkan berkali kali peju gue di dalam mulut
mbak Dian. Meskipun pada saat Mbak Dian tidak ingin menelan Sperma gue namun gue
memaksanya untuk menelannya dan menikmati Sperma gue yang segar itu.
Posisi mbak Dian masih sama seperti sebelumnya, namun sekarang kakinya seperti
kehilangan tenaga untuk menahan berat badannya mengalami kenikmatannya… dari sela sela
bibirnya mengalir sisa spermaku yang di jilat kembali. Tubuh mbak Dian kini terkapar tak
berdaya namun menampilkan sosok wajah penuh dengan kepuasan yang selama ini tak ia
dapatkan.
Melihat expresi wajahnya membuat gue kembali semakin nafsu… karena dari tadi gue
anggap hanyalah pemanasan.
Gue berjalan mendekat ke tubuh mbak dian yang sedang lemes… trus menelentangkan posisi
tubuhnya dan gue rengangkan kedua belah pahanya. Dengan tangan sebelah kanan gue
genggam kont*l gue yang udah tegang terus menerus mengesek gesekan kepala kont*l gue di
atas permukaaan Mem*k mbak dian yang udah licin, basah karena cairan kenikmatan milik
mbak dian. Saat Gue mau menjebloskan kont*l gue yang udah menyibak bibir mem*knya,
tiba tiba mbak dian menahan dada gue dan berharap gue gak masukin kont*l gue ke dalam
mem*knya yang sudah lima tahun gak pernah terisi sama kont*l laki laki…
Karena saat itu nafsu gue udah sampe otak, gue dah gak perduli lagi sambil tetap ngeliat ke
bawah tempat dimana kont*l gue sekarang akan menembus liang kenikmatan yang sungguh
sungguh mengiurkan…
“Tenang mbak tahan dikit… saya ngerti mungkin kont*l saya terlihat terlalu besar
dibandingkan mem*k mbak. Tapi nanti disaat
udah masuk kedalam mem*k mbak… nikmatnya akan 10x lipat nikmat yang pernah mbak
dian rasain sama mantan suami
mbak…” gue bisa liat di matanya takut saat detik detik gue akan menghujang basoka yang
besar ini kedalam mem*knya yang terbilang sempit…
” Dooonnnn….. peeellllannn… mbak ngeri liat punya kamu yang besar banget itu…. ” kata
mbak Dia sambil melirik ke arah basoka rambo yang siap mengaduk gaduk isi mem*knya.
” Iya… Donny coba pelan pelan masukin nya… mbak tahan dikit yah… mungkin karena dah
lama aja mbak kali mbak… ” kataku kembali kepada mbak Dian seraya meyakinkan hatinya.
Sambil kembali menaikkan kembali libidonya, gue gesek gesek kepala kont*l gue tepat diatas
bibir mem*knya yang mulai kembali basah sama cairan kewanitaannya. Terkadang gue
selipin sedikit demi sedikit ke dalam liang mem*knya mbak Dian, lalu gue tarik kembali dan
mengesekkan kembali ke itil nya yang merah segar itu.
sleep…sleep… sleeep… mungkin sangkin basahnya mem*k mbak Dian hingga
mengakibatkan suara seperti itu….
” hhmmmmm… eeee… ssstttt….. Donnn… Donnn… Kamu apain punya mbak Dian. ” tanya
mbak Dian sambil matanya terpejam mengigit bibir bawahnya sendiri…
” Donn… udah dong… jangan bikin mbak Dian kayak gini trus…. masukkin aja Donn ”
” Mbak mohon kasihan kamu… entot*n mbak… mbak gak tahan lagi… ooohhh…
eemmmm… ” rengge mbak Dian sama gue mengharap segera kont*l gue masuk ke dalam
mem*knya dan memompa dia.
” Tahan mbak yah… ” lalu tanpa menunggu jawaban selanjutnya ku tancapkan seluruh
batang kont*l gue yang udah dari tadi mau mengobok gobok isi mem*knya.
” Doooooonn…… ” sahut mbak Dian di saat pertama gue terobos mem*knya, tangannya
langsung merangkul leher gue. Seperti orang yang mengantungkan setengah badannya.
” Pelan… pelan… Donn… nyeri… bannngeet …”
Namun gue gak sahutin ucapan mbak Dian, karena gue lagi nikmatin sesuatu yang memijit
kont*l gue yang terkadang menyedot yedod kont*l gue ini. Rasanya begitu nikmat hingga
gue tanjap lagi lebih dalam sampai terasa kont*l gue mentok di dasar rahim mbak Dian yang
motok ini.
Desahan liar mbak Dian pun semakin tak karuan… terkadang dengan tangannya sendiri mbak
Dian memelintir puting susunya yang udah mengeras…
” Gimana Mbak masih sakit… sekarang rasanya apa… enak gak mbak… ” tanya ku kepada
mbak Dian setelah gue liat raut mukanya yang penuh dengan expresi kenikmatan.
Gerakkannya dan goyangan pinggulnya yang mengikuti irama enjotan gue pun semakin lama
semakin liar. Kadang kadang pantatnya di hentakkan ke atas yang berbarengan dengan sodok
sodokkan yang gue hujam ke mem*knya.
” Donnn… Donnn… kamu hebat banget… Donnnn….”
” Donnn… mmmmmaaauuu… mmmmmbbbaaakk keluar lagi nih… OOOOOoooooohhh ”
Cengkraman tangannya di punggungku dan lipatan kedua kakinya pada pinggangku
bersamaan dengan erangan panjang yang menandai bahwa mbak
Dian akan menyemburkan air maninya untuk kedua kalinya…
Karena gue masih ngaceng dan semakin bertambah bernafsu setelah ngeliat raut muka
seorang janda beranak satu ini merasa kepuasaan, lalu tanpa banyak buang waktu lagi.
Gue langsung membalikkan tubuh mbak Dian dan memintanya untuk menungging, ternyata
mbak Dian tanpa bertanya kembali ia menuruti permintaan gue yang ingin cepat cepat
menghajar kembali mem*knya…
” Donnn, kamu memang hebat Donn… mbak baru pertama kali di ent*t sama laki laki lain
selain mantan suami mbak sendiri ”
” Donnn, sekarang kamu mau apain aja mbak ikutin aja… yang penting mbak bisa ikut
nikmatin peju kamu Donn… ” kata mbak Dian sambil mempersiapkan mem*knya dengan
membersihkan mem*knya dari cairannya sendiri yang mengalir hingga di kedua pangkal
pahanya. Beberapa kali ia seka mem*knya sendiri hingga bersih dan terlihat kering
kembali… dan siap untuk di santap kembali.
Sekarang di hadapan gue mbak Dian sudah siap dengan 2 pasang bongkahan pantatnya yang
masih kenceng, dengan posisi kepalanya lebih rendah dari pada pantatnya. Liang
kewanitaannya seakan akan menantang Kont*l gue untuk memompa mem*knya mbak Dian
kembali…
Jelas terlihat belahan bibir mem*knya yang membuka sedikit mengintip dari celah daging
segar karena barusan gue ent*t.
Dengan tangan sebelah kanan gue pegang batang kont*l gue dan tangan sebelah kirinya gue
membuka belahan pantatnya yang mulus sambil terkadang gue usap permukaan mem*knya
yang tandus bukan karena suka di cukur namun memang sudah keturunan, setiap wanita
dikeluarga tidak akan memiliki bulu/jembut pada mem*k. Sungguh indah sekali
pemandangan yang terpampang, mem*k yang mengiurkan terjepit oleh dua bongkahan
pantatnya yang bahenol itu.
Kumajukan kont*l gue hingga menempel di permukaan mem*k mbak Dian, mengorek gorek
permukaan mem*knya dengan kepala kont*l gue. Ternyata apa yang gue lakukan ini sangat
dinikmati oleh mbak Dian sendiri… yang terkadang selalu mendesah setiap kali bibir
mem*knya tersibak karena gesekan kepala kont*l gue.
Lalu dengan gerakan perlahan gue tusuk mem*k mbak Dian perlahan biar sesasi yang timbul
akan semakin nikmat disaat itilnya ikut masuk bersama dengan dorongan kont*l gue yang
mulai terpendam.
” Geli banget Donn rasanya… tapi lebih enak Donn rasanya daripada sebelumnya… ”
” Donn… lebih keras…. Donn… entot*n mbak… puasin mbak Donn… ” pinta mbak Dian
sembari memeras buah dadanya sendiri.
” Donn… lagiii… laggiii… Donn… lebiiihhh.. kencenggg lagi… ” pinta kembali mbak Dian
sambil mulutnya yang ter engap engap seperti ikan yang baru saja keluar dari air.
Hujangan kont*l ku kini semakin cepat dan semakin gencar ke dalam mem*knya… hingga
menimbulkan suara suara yang terjadi karena sodokan sodokan kont*l gue itu. Tingkat
aktivitas yang gue lakukanpun kini semakin gencar. Tangan gue memeras buah dada mbak
Dian hingga erangan mbak Dian pun semakin menjadi tak kala hentakan kont*l gue yang
kencang mengesek dinding liang kewanitaannya.
Cukup lama juga gue mengent*t*n mbak Dian dengan style doggie ini, hingga gue menyuruh
mbak Dian berganti variasi seks. Posisi mbak dian sekarang tidur terlentang namun kakinya
menimpa pada kaki sebelahnya dan badannya agak miring, dengan posisi ini mem*knya yang
terhimpit terlihat seakan membentuk belahan mem*k.
Lalu kembali lagi gue masukin kont*l gue yang masih keras ini kedalam mem*k mbak Dian,
dengan tangan sebelah gue menahan di pinggulnya. Kali ini dengan mudah kont*l gue masuk
menerobos liang kewanitaannya, enjotan gue kali ini benar benar nikmat banget karena
sekarang posisinya kont*l gue serasa di jepit sama pantatnya.
Setiap dorongan kont*l gue menimbulkan sensasi yang lebih di raut muka mbak Dian.
Mukanya mendahak ke arah gue sambil memegang lengan tangan sebelah kiri sambil
mulutnya terbuka seperti pelacur yang haus kont*l kont*l para pelanggan setianya.
” Mbak… enak gak… kont*l Donn… ” tanya gue sama mbak Dian dengan nafas yang telah
terengah engah.
” Enaaaak… Donnn …. Truuus …. Donnn…. jgan brenti… ”
” Ngomong mbak Dian kalo mulai saat ini mbak memang pelacur Donn… mbak suka banget
sama kont*l Donn…” Suruh gue ke mbak Dian buat niru ucapan gue.
” Mbak memang pelacur Donnny… kapan aja Donnny mau… mbak layani… sssstt…
Dooonn… ”
” Mbak suka bngeeeeet… koooont*l Donnnnyyy… ennnntot*n mbak Diannn tiap hari
Donnnn… entot*n… entot*n…. trussss ”
Mendengar seruan mbak Dian yang tertahan tahan karena nafsu yang besar kini sudah
menyelubungi seluruh saraf ditbuhnya, menambah birahi gue semakin memuncak.
Menambah gue semakin cepat dan cepat mengent*t*n mbak Dian, sampai sampai goyangan
buah dadanya seiringan dengan dorongan yang gue berikan ke dalam mem*k…
Akhirnya mbak Dian kembali mencapai puncaknya kembali, sambil memasukan jarinya
kedalam lubang anusnya sendiri…
” Donnnn… mbak.. mmmmau… kllllluaaar laaagi…. ooooooohhh…Doooonnn…. ” erang
mbak Dian yang hendak memuncratkan air semakin membuat ku terangsang karena mimik
mukanya yang sungguh sungguh mengairahkan.
Dengan badan yang telah lunglai, mbak Dian terkapar seperti orang yang lemah tak berdaya.
Namun pompaan kont*l gue yang keluar masuk tetap gak berhenti malah semakin lama
semakin cepat.
Tiba tiba gue ngerasain sesuatu yang berdenyut denyut disekitar pangkal kont*l gue. Dengan
keadaan mbak Dian yang sudah tidak berdaya aku terus mengent*t*n mem*knya tanpa
memperdulikan keadaan mbak Dian yang sekujur tubuhnya berkeringat karena kelelahan
setelah gue entot*n dari setadi.
” Mbaaaak… Dooonnn…nyyy mmmaaau.. kkklarrrr… Aaaahhhh…. ” Seruku disaat sesuatu
hendak mau menyembur keluar dan terus menerus memaksa.
Crrrooot… Crrrooot… CCrooot… akhirnya gue tersenyum puas dan mencabut kont*l gue
dari dalam mem*k mbak Dian dan menghampiri mbak Dian dan memangku kepalanya dan
meminta mbak Dian membersihkan bekas bekas peju gue yang bececeran di selangkangan
gue…
Gak pernah gue sia sia in saat berdua dirumah… setiap saat gue mau, langsung gue ent*t
mbak Dian. Saat mbak Dian lagi ngegosok baju tiba tiba gue sergap dia dari belakang dan
langsung buka celananya dan gue ent*t mbak Dian dalam keadaan berdiri dan slalu gue
keluarin di dalam mem*knya dan yang terkadang gue suruh mbak Dian sepong kont*l gue
lalu gue keluarin di dalam mulutnya serta langsung di nikmatin peju gue itu… katanya
nikmat manis…
Hari hari yang sangat sungguh indah selama beberapa hari gue selalu ent*tin mbak Dian
dengan berbagai variasi seks… hingga sampai mbak Dian sekarang hebat dalam mengemut
kont*l gue… Mbak Dian pun gak pernah menolak saat gue membutuhkan mem*knya karena
dia juga sudah ketagihan sodokan kont*l gue. Sering malam malam mbak Dian suka masuk
ke kamar gue dan suka sepongin kont*l gue hingga gue bangun dan langsung gue ent*t mbak
Dian.
Posted in Umum | No Comments »
Terjebak Nafsu
Tuesday, December 23rd, 2008

Namaku Yani, seorang istri berumur 25 tahun. Selama dua tahun perkawinanku dgn Awang,
28 tahun penuh dengan kebahagiaan dan ketentraman hati, apalagi setelah lahir buah cinta
kami menambah suka cita bagi kami. Namun kebahagiaan yang sampai sebelum itu terjadi
adalah milik kami berdua, harus terbagi antara suami dengan Tatang yang tak lain adalah
teman suamiku semenjak kuliah di suatu perguruan tinggi negeri ternama di kota malang.
Kejadian itu bermula dari keisengan suamiku yang suatu ketika mengajukan ide yang
sekiranya membuatku terhenyak. Disuatu malam disaat setelah menidurkan si kecil, kami
berbincang-bincang ringan dengan tangannya yang sambil memeluk pinggangku dengan
hangatnya.
“ Sayang, kamu punya obsesi liar ndak” Tanya suamiku suatu ketika dengan tiba-tiba.
“ Obsesi liar apa nih maksudnya, Mas?” Heran dengan penuh selidik dariku.

“ Maksudku obsesi liar ya…yang pastinya berhubungan dengan Sex” Jawabnya seketika itu
juga.
“ Ndak juga tuh, semua yg udah kuterima darimu sangatlah sempurna bagiku” Bantahku saat
itu .
“ Ehm…bagaimana kalo km mendapatkan dari orang lain, bukan dari aku?”Tanyanya
kemudian.
“ Maksudnya, apa mas. Km kok aneh gini sih?” Sungguh, pertanyaan itu sangat
menggelitikku untuk tahu.
“ Yach..itu, aku kok punya obsesi terpendam dari dulu. Aku merasa bernafsu sekali tiap
memikirkan kamu, seandainya aku melihat km disetubuhi oleh orang lain. Kalau seumpama
kita wujudkan bagaimana menurutmu?” Ucapnya dengan tatapan memilu kepadaku.
Setelah mendengar itu, kuberdiam beberapa saat sambil mengira-ngira apakah ini benar-
benar ucapan dari suamiku tercinta. Sungguh tidak kukira andai suamiku memintaku untuk
selingkuh. Uh..sungguh jauh sekali dari yang aku kira, selama ini dihatiku ga da yang mampu
mengalahkan cintaku ke suamiku. Ga terbersitpun dari diriku tuk berniat selingkuh. Namun
setelah kucoba mencerna kegelisahan hatiku, aku pun bertanya padanya dengan pelan-pelan.
“ Mas, apakah km bercanda tentang hal ini?” Apakah kamu sadar dah memintaku tuk
selingkuh?” sungutku menandakan tak setuju atas tawarannya.
“ Iya sayang, aku menyadari apa yang barusan aku tawarin kekamu. Sungguh, aku merasa
bergairah banget bila membayangkan hal itu. Please, andai kusuruh milih kamu pingin sama
siapa sayang?” tekatnya semakin menjadi-jadi.
Terus terang, secara iseng dengan tujuan mengikuti canda suamiku dan ingin menguji
seberapa kuatnya dia mencoba mewujudkan ide gilanya itu, kujawab sekenanya. Disatu
pikiranku hanya terbersit nama Tatang, yach selama aku dan suamiku berpacaran seringkali
aku melihat sosok yang cukup tampan dan atletis ditempat kosnya, yang pada akhirnya
kuketahui dari suamiku dia bernama Tatang, teman sekampus suamiku saat itu. Aku merasa
ada rasa sedikit suka padanya, bagaimana tidak dengan postur tegap ditunjang tampan juga
kelihatan tidak sombong. Terlihat dari sikapnya yang kerapkali menyapaku meskipun aku
tidak melihatnya suatu ketika saat ketemu disuatu tempat. Hal itulah yang terkadang
membuatku sedikit banyak merasa kagum kepadanya.
“ Ehm, boleh aja wujudin ide km asal cowoknya Tatang” ujarku dengan mantap sambil
mewaspadai perubahan ekspresi dari suamiku.

Ternyata benar-benar terlihat perubahan ekspresinya” Apa, Tatang…Maksudmu Tatang


temen sekampusku dulu?” tanyanya dengan rasa kaget.
“Hehehe, rasain tuh gimana kalo aku ikutin permainanmu sayang” ujarku dalam hati
menyambut kemenangan.
“ Iya betul, Tatang teman sekampusmu itu mas, kalau ama dia aku mau aja, tapi mainnya
satu-satu ya”Jawabku seketika itu. Kulihat agak diam sesaat suamiku sebelum menjawab.
Aku kira dia bakalan ga setuju, apalagi setelah dia mengetahui saat dulu Tatang terlihat
sering mencuri pandang padaku. “Wah, akhirnya selesai juga neh permainan ini” batinku
sambil berdoa. Namun ternyata pikiranku salah.
“ Ok, baik aku coba deh menghubungi dia” Jawabnya dengan seketika memupuskan
kemenanganku.
“Oh tidak, kenapa dia menyutujui gurauanku ini ?” sesalku dalam hati. Sungguh meskipun
dalam batinku aku menolaknya, namun pada dasarnya ada juga sedikit kesenangan atau lebih
tepatnya rasa penasaran yang aku rasakan andai aku bisa mewujudkan obsesi itu.
“Wah tampaknya aku mulai terhanyut ama perasaan ini.” “Oh Tuhan, kenapa aku jadi
bimbang begini”batinku saat itu juga.
“Kamu serius sayang, mau wujudkan obsesi ini?”ujarnya tuk menyakinkan pernyataanku
barusan.
Dengan agak ragu-ragu kuiyakan pertanyaanya. “Iya, benar tapi apa dia mau juga?” tanyaku.
Mengingat aku dah pernah melahirkan anak kami, pastinya bodiku sedikit banyak pasti
berubah. Memang sih sebelum si kecil lahir, bodiku terbilang montok menggairahkan, itu
kata suamiku lho hehehe.., dengan tinggi 160 cm, berat 48 kg, Bra 34C pastinya terlihat asyik
tuk melihatnya. Namun saat ini yang sedikit berbeda adalah ukuran Bra-ku yang semakin
besar dengan ukuran 38A makin menambah ,montok dadaku ini. Tetapi yang sedikit
bermasalah adalah berat badanku yang masih berkisar 53 kg, membuatku kawatir akan hal ini
terasa jauh dari ideal.
Tetapi secepat kilat suamiku mengetahui kekawatiranku, dan langsung menenangkanku
dengan berujar “Jangan kuatir akan penampilanmu, menurutku km jauh lebih mempesona
sekarang dibanding saat kita pacaran dulu”. Ujarnya berusaha menyakinkanku.

“Masak seh?”bantahku. “Aku khan tambah gendut, coba liat nih perutku”yakinku berulang
kali. Namun setiap kali ku debatin mengenai penampilanku, tiap kali itu pula suamiku
menenangkanku, dan memang benar akupun akhirnya merasa tenang dan PD. Mungkin
karena itu juga, akhirnya pelabuhan terakhirku ke suamiku ini, dia adalah tipe cowok yang
sangat mampu menyenangkan perempuan. Yang akhirnya perdebatanku ditutup dengan
percumbuan yang hangat dengan persetubuhan alami yang mungkin bisa dikatakan terakhir
kalinya kita melakukannya berdua.
Beberapa hari berikutnya semenjak percakapan malam itu, tepatnya saat sepulang kantor
suamiku, aku diberitahukan tuk siap-siap weekend di Hotel Santika Malang keesokan
harinya. “ Memangnya ada kepentingan apa Mas, kok tumben kita weekend di hotel?” ujarku
penuh tanda tanya.
“Masak sih lupa ama obsesiku?” jawabnya dengan singkat.
“Oh..tidak dalam hatiku, jadi benar dia mau mewujudkan hal itu.” Batinku dalam hati.” Jadi
km serius Mas, ngelakuin itu?”. “Memangnya dengan siapa cowoknya itu?”tanyaku
kemudian.
“Ya..sesuai dengan permintaanmu kemarin sayang”ujarnya dengan sambil lalu memasukkan
beberapa bajunya ke dalam koper.
“Maksudmu dengan Tatang,Mas?”tanyaku penuh dengan selidik. Sungguh perasaan dihatiku
sangat kacau, antara mengharap kehadiran Tatang dengan menjaga keutuhanku sebagai
wanita bersuami. Namun dalam benakku apakah perselingkuhan ini dinilai wajar dimana
suamiku sendiri yang memperbolehkannya. “Ini bener-bener gila, rasanya sungguh
membingungkan”Jeritku dalam hati. Namun apa daya, aku ingin melihat seberapa kuatnya
suamiku melihat istrinya sendiri digauli oleh orang lain didepan matanya sendiri. Dengan
harapan, disaat sebelum melakukan suamiku bakal langsung membatalkan hal itu. “Uh..ok
akan kubuat km menyesal Mas?”ujarku dalam hati.

Dengan wajah yang berseri-seri suamiku berkata” Ya pastilah dengan Tatang, memangnya
kamu minta yang laen?”. “Ya sudah pokoknya malem ini km persiapkan baju tidurmu, pilih
lingerie hitam ama merah saja ya sayang” tambahnya dengan penuh semangat.
Malem itu kulalui dengan perasaan yang tidak tenang, banyak sekali yang berkecamuk dalam
batinku antara mengikuti nafsu suamiku, nafsuku sendiri yang sedikit banyak agak
terpengaruh, serta menolak ajakan itu. Pikirku kemudian toh ini hal ini bakal menyenangkan
suamiku dan terjadi sekali aja. Namun ternyata aku keliru…
Paginya, setelah aku menitipkan anakku pada kedua orangtuaku, segera saja kubergegas
memasukkan tas ke mobil Sidekick ’99 warna hijau metalik. “Mengenang honey
moon,Ma”ujarku singkat ke orangtuaku disaat ditanya alasanku menginap dihotel. Kemudian
mobilpun mengantarkan kami ke tempat itu. Tak berapa lama kemudian kami sampai dilobi
hotel buat reservasi kamar, yang ternyata suamiku dah memesannya sebelumnya.
Dalam perjalanan menuju kamar, tangan suamiku melingkarkan ke pinggangku sambil
berujar “Kamu siap khan sayang, ini pasti menjadi pengalaman yang mengasyikkan buat
kita”.
” Uh..kok dia ga membatalkan ini ya..apakah memang dia dah siap melihat istrinya
disetubuhi oleh Tatang” dalam batinku berharap. Yang pasti akan kulihat seberapa jauh
permainan ini.
Sekitar 45 menit berlalu aku dan suamiku menunggu di kamar hotel itu. Selama itu pula tak
henti-hentinya Awang, suamiku melihat arloji yang terpasang dipergelangan tangan kanannya
seraya berharap Tatang bisa cepat datang.
“Mas, kamu yakin Tatang akan datang, jangan-jangan dia hanya mempermainkanmu saja”
tanyaku ke dia dengan harapan bisa segera dibatalkan. Namun ternyata tak berapa lama
kemudian ada dering telepon ke hanphone suamiku, dan ternyata yang telpon adalah Tatang,
dan dia sudah ada dilobi hotel. “Oh, Tuhan akhirnya hal itu akan terjadi disini”batinku dalam
hati. Rasa deg-degan semakin kencang mana kala Tatang segera menuju ke kamar ini.
Tak berapa lama kemudian, suara bel kamar berbunyi. Langsung saja Awang,suamiku
beringsut menuju pintu tuk membuka dan memastikan kalo yang datang adalah Tatang.
Benar juga, dilihat dari teriakan gembira kecil suamiku, aku pastikan kalau itu adalah Tatang.
Deg..dadaku terasa semakin tidak berirama dan semakin cepat manakala Tatang mulai
memasuki kamar ini. Kulihat dia melemparkan senyum manisnya kediriku sambil menyapa
“Bagaimana kabarmu,Yan? ujarnya ramah.
“Baik,bagaimana denganmu?”balasku ke dia.
“Baik juga, oh ya kamu terlihat sexy ya sama seperti terakhir kita ketemu dulu”ujarnya
merayuku.
“Ah,..kamu ada-ada saja, biasa aja lagi” ujarku dengan tersipu malu. Jujur, rasanya aku mulai
menikmati permainan ini. Yach, bisa dibilang Tatang sekarang lebih terlihat tampan daripada
dulu, aku sungguh-sungguh dibuatnya panas dingin dengan penuh rasa tidak percaya bakal
bertemu dengannya lagi. Namun, itu tak berlangsung lama setelah suamiku memecahkan
kebisuanku dengan memintaku tuk berganti baju. Segera saja kupenuhi dengan menuju kamar
mandi. Disana aku memilih lingerie yang warna hitam, dengan kainnya yang tipis sehingga
apapun yang ditutupi akan tersetak dan terlihat jelas, ditambah jenis celana dalamnya yang
sangat mini, bisa dikatakan hanyalah penghias karena celana itu ga sepenuhnya menutupi
vaginaku ini.
Segera saja, dengan perasaan berdebar-debar keberanikan diriku melangkah menuju Tatang
dan suamiku yang sedang berbincang-bincang. Saat mereka menyadari kehadiranku dengan
pakaian ini, terlihat sekali ekspresi Tatang yang telihat kaget penuh nafsu memandangku.
Serta merta dia beringsut dari tempat duduknya menujuku. Dengan pelan dan penuh
penghayatan, dia memberanikan diriku memelukku dengan hangatnya. Kulirik suamiku,
ternyata dia memperhatikan kami dengan seksama. Tak kulihat ada raut muka ketidak
setujuannya terhadap perlakuan tatang kepadaku. Hal itu memberiku keberanian tuk
mencium bibir Tatang. “ehm..muach…oohh..” rintihku disaat bibirku dibalas dengan
pagutannya yang melumat bibirku ini dengan ganasnya. “Kamu sungguh sexy sekali
yani”ujarnya kepadaku. Tak Cuma itu saja, kedua tangannya yang semula memelukku mulai
berani mempermainkan buah dada dan vaginaku. Gesekan demi gesekan yang dilakukannya
padaku menambah birahiku semakin tinggi. Aku sangat menikmatinya, sampai ta kusadari
aku berdesis penuh kenikmatan. Oh, Tatang..ehmm..ohh enak Tang..”ujarku lirih disaat dia
mulai memainkan bibir dan lidahnya ke payudaraku. Sungguh ga kukira aku bisa
menikmatinya seperti ini. Satu persatu bajunya dia copot dengan ta sabarnya tuk ingin
merengkuhku lebih. Segera saja dia mulai menuntunku ke tempat tidur dengan menyisakan
celana dalam saja yang dia pakai. Kemudian dengan pintarnya sambil mengulum payudaraku,
tangan satunya telah memainkan klitorisku dengan hebatnya. “oh..Tatang,
sayang..hmm..oochh..enak sekali, terusss..sayaaang”pintaku tuk jangan menghentikan
aktivitasnya. Terasa bawah vaginaku telah mengalir cairan bening dengan derasnya. Sambil
bersungkut dan senyum kepadaku, dia melepaskan celana dalamku. “Oh..apakah
persetubuhan ini akan terjadi”batinku dalam hati.

Antara menikmati dan bimbang aku beranikan diri memegang penisnya yang sudah dari tadi
tegak berdiri. Kuelus-elus batang penis itu. “Oh tuhan, inikah penis Tatang?”ujarku dalam
hati. Sungguh penisnya sangat kokoh, keras, dan kulihat sangat menabjubkan. Meskipun
kurang lebih sama dengan punya suamiku, namun penis tatang punya kekhasan yaitu agak
bengkok kesamping dengan kepala penisnya yang besar dan merah saat kulihat seksama.
Dengan naluriah kucium dan kukulum penisnya sambil kujilati scrotum-nya. “Oh..enak
banget Yan, aku dah memimpikan hal ini sejak lama”ujarnya kepadaku. Ternyata semenjak
aku pacaran ama suamiku dulu, aku adalah fantasi sex baginya. Kurang lebih 5 menit aku
mengulum penisnya sampai akhirnya dia mendorongku tuk berbaring di tempat tidur.
Kemudian giliran dia yang meng-oral vagina ini. Sangat ga kusangka, dia belajar dimana bisa
mengoral seenak ini. Pertama dia sapukan lidahnya dari bawah ke atas, kemudian
memutar2kan beberapa saat dibagian atas yang kemudian dilanjutkan ketengah. Begitu saja
terus menerus dia lakukan hal itu. Sampai akhirnya..”ochh..Tang..aku mau KELUAAARR”
erangku sambil menggapit kepalanya dengan kedua pahaku sambil menjambak rambutnya.
“OOhh…sstttss..ohh enaknya sayang…”erangku lagi mengiringi orgasmeku yang pertama.
Beberapa lamanya aku dibiarkannya tuk menikmati orgasmeku, yang kemudian dengan
lembutnya dia membuka pahaku kesamping. Oh..rasanya persetubuhan ini akan terjadi. Saat
kulirik ke suamiku, tampak dia dah mulai menggosok-gosokkan penisnya dengan tangan.
Ada rasa kagum tersendiri dan begitu sexy sekali diriku disaat bisa orgasme didepan suami
dan tentunya Tatang pastinya.
Kemudian mulai Tatang menindihku dengan menggosok-gosokkan penisnya ke vaginaku.
Wah, sensasi ini sungguh amat sangat menyiksa batinku. Belum usai kenikmatan atas
orgasme yang barusan kudapatkan harus merasakan kenikmatan gesekannya.
“OOcchh..Ach..Hmm..Achh.enak banget..masukin cepat Tang..Achh?!”ujarku ta sabar
menerima penisnya dalam vaginaku. Segera setelah itu, dia mengarahkan penisnya ke
vaginaku. Bless..Ochh, enak banget apalagi disaat dia mulai memaju mundurkan penisnya
itu. Tangannyapun ta ketinggalan dengan meremas-remas kedua payudaaraku ini sungguh ta
terbayangkan rasanya.Ta berapa lama kemudian”Occhhh..ahh..Ochhh..aku kellluuaaarr
laagiii”. “ Achhh..”jeritku sambil merengkuh tubuh Tatang dengan eratnya. Benar-benar
nikmatnya, ternyata benar adanya hal ini membuat kenangan tersendiri buat kami. Segera
sesudahnya Tatang memintaku tuk posisi jongkok. Disini aku dah tau apa yang dimauinya,
karena aku dan suamiku sering melakukan posisi ini. Kemudian mulai lagi pergulatan kami,
dengan nafas dan keringat yang bercucuran pada diri kami masing-masing, Tatang tetap
mempertahankan posisi itu dengan menyodok berulang-ulang. Tampak terlihat dari mukanya
dia begitu suka dengan posisi ini. Begitu juga denganku, bagi para wanita posisi ini
memberikan stimulasi maksimum pada liang vagina yang sudah dalam fase nikmat. Hingga
akhirnyaa…” Acchh..aku keluar Yani…OOchh…..crott..croot..crott..” dia muntahkan
spermanya di pantatku. Hingga beberapa lamanya dia diam membisu dengan mata terpejam
coba menikmati semaksimum mungkin orgasmenya itu.
Posted in Cerita Dewasa | No Comments »
Tante Dewi
Monday, December 22nd, 2008

Sebenarnya jujur aku merasa malu juga untuk menceritakan pengalamanku ini, akan tetapi
melihat pada jaman ini mungkin hal ini sudah dianggap biasa. Maka aku beranikan diri untuk
menceritakanya kepada para pembaca. Tetapi ada baiknya aku berterus terang bahwa aku
menyukai wanita yang lebih tua karena selain lebih dewasa juga mereka lebih suka merawat
diri. Aku seorang pria yang suka terhadap wanita yang lebih tua daripadaku.
Dimulai dari aku SMA aku sudah berpacaran dengan kakak kelasku begitu juga hingga aku
menamatkan pendidikan sarjana sampai bekerja hingga saat ini. Satu pengalaman yang tak
terlupakan adalah ketika aku berpacaran dengan seorang janda beranak tiga. Demikian
kisahnya, suatu hari ketika aku berangkat kerja dari Tomang ke Kelapa Gading, aku tampak
terburu-buru karena waktu sudah menunjukkan pukul 07.45. Sedangkan aku harus sampai di
kantor pukul 08.30 tepat. Aku terpaksa pergi ke Tanah Abang dengan harapan lebih banyak
kendaraan di sana. Sia-sia aku menunggu lebih dari 15 menit akhirnya aku putuskan aku
harus berangkat dengan taxi. Ketika taxi yang kustop mau berangkat tiba-tiba seorang wanita
menghampiriku sambil berkata, “Mas, mau ke Pulo Gadung ya?” tanyanya, “Saya boleh ikut
nggak? soalnya udah telat nich.”

Akhirnya aku perbolehkan setelah aku beritahu bahwa aku turun di Kelapa Gading.
Sepanjang perjalanan kami bercerita satu sama lain dan akhirnya aku ketahui bernama Dewi,
seorang janda dengan 3 orang anak dimana suaminya meninggal dunia. Ternyata Dewi
bekerja sebagai Kasir pada sebuah katering yang harus menyiapkan makanan untuk 5000
buruh di Kawasan Industri Pulo Gadung. Aku menatap wanita di sebelahku ini ternyata masih
cukup menggoda juga. Dewi, 1 tahun lebih tua dari aku dan kulit yang cukup halus, bodi
yang sintal serta mata yang menggoda. Setelah meminta nomor teleponnya aku turun di
perempatan Kelapa Gading. Sampai di kantor aku segera menelepon Dewi, untuk
mengadakan janji sore hari untuk pergi ke bioskop.
Tidak seperti biasanya, tepat jam 05.00 sore aku bergegas meninggalkan kantorku karena ada
janji untuk betemu Dewi. Ketika sampai di Bioskop Jakarta Theater, tentunya yang sudah aku
pilih, kami langsung antri untuk membeli tiket. Masih ada waktu sekitar 1 jam yang kami
habiskan untuk berbincang-bincang satu sama lain. Selama perbincangan itu kami sudah
mulai membicarakan masalah-masalah yang nyerempet ke arah seks. Tepat jam 19.00,
petunjukan dimulai aku masuk ke dalam dan menuju ke belakang kiri, tempat duduk favorit
bagi pasangan yang sedang dimabuk cinta. Pertunjukan belum dimulai aku sudah membelai
kepala Dewi sambil membisikkan kata-kata yang menggoda. “Dewi, kalau dekat kamu,
saudaraku bisa nggak tahan,” kataku sambil menyentuh buah dadanya yang montok. “Ah
Mas, saudaranya yang di mana?” katanya, sambil mengerlingkan matanya. Melihat hal itu
aku langsung melumat habis bibirnya sehingga napasnya nampak tersengal-sengal. “Mas,
jangan di sini dong kan malu, dilihat orang.” Aku yang sudah terangsang segera mengajaknya
keluar bioskop untuk memesan taxi. Padahal pertunjukan belum dimulai hanya iklan-iklan
film saja yang muncul.

Setelah menyebutkan Hotel **** (edited), taxi itupun melaju ke arah yang dituju. Sepanjang
perjalanan tanganku dengan terampil meremas buah dada Dewi yang sesekali disertai
desahan yang hebat. Ketika tanganku hendak menuju ke vagina dengan segera Dewi
menghalangi sambil berkata, “Jangan di sini Mas, supir taxinya melihat terus ke belakang.”
Akhirnya kulihat ke depan memang benar supir itu melirik terus ke arah kami. Sampai di
tempat tujuan setelah membayar taxi, kami segera berpelukan yang disertai rengekan manja
dari Dewi, “Mas Jo, kamu kok pintar sekali sih merangsang aku, padahal aku belum pernah
begini dengan orang yang belum aku kenal.” Seraya sudah tidak sabar aku tuntun segera
Dewi ke kamar yang kupesan. Aku segera menjilati lehernya mulai dari belakang ke depan.
Kemudian dengan tidak sabarnya dilucutinya satu persatu yang menempel di badanku hingga
aku bugil ria. Penisku yang sudah menegang dari tadi langsung dalam posisi menantang
Dewi.
Kemudian aku membalas melucuti semua baju Dewi, sehingga dia pun dalam keadaan bugil.
Kemudian dengan rakus dijilatinya penisku yang merah itu sambil berkata, “Mas kontolnya
merah banget aku suka.” Dalam posisi 69 kujilati juga vagina Dewi yang merekah dan
dipenuhi bulu-bulu yang indah. 10 Menit, berlalu tiba-tiba terdengar suara, “Mas, aku mau
keluaarr..”
“Cret.. cret.. cret..”
Vagina Dewi basah lendir yang menandakan telah mencapai orgasmenya. 5 Menit kemudian
aku segera menyusul, “Dewi, Wi, Mas mau keluar..”
“Crot.. crot.. crot..”
Spermaku yang banyak akhirnya diminum habis oleh Dewi.
Setelah itu kami pun beristirahat. Tidak lama kemudian Dewi mengocok kembali penisku
yang lunglai itu. Tidak lama kemudian penisku berdiri dan siap melaksanakan tugasnya.
Dituntun segera penisku itu ke vaginanya. Pemanasan dilakukan dengan cara menggosokkan
penisku ke vaginanya. Dewi mendesah panjang, “Mas, kontolnya kok bengkok sih, nakalnya
ya dulunya?” Tidak kuhiraukan pembicaraan Dewi, aku segera menyuruhnya untuk
memasukkan penisku ke vaginanya. “Dewi, masukkan cepat! Jonathan tidak tahan lagi nih.”
Sleep.. bless.. masuk sudah penisku ke vaginanya yang merekah itu. Tidak lupa tanganku
meremas buah dadanya sesekali menghisap payudaranya yang besar walaupun agak turun
tapi masih nikmat untuk dihisap. Goyangan demi goyangan kami lalui seakan tidak
mempedulikan lagi apakah yang kami lakukan ini salah atau tidak. Puncaknya ketika Dewi
memanggil namaku, “Jonathan.. terus.. terus.. Dewi, mau keluar..” Akhirnya Dewi keluar
disertai memanggil namaku setengah berteriak, “Jonathan.. aku.. keluaarr..” sambil
memegang pantatku dan mendorongnya kuat-kuat.

Tidak berselang lama aku pun merasakan hal sama dengan Dewi, “Wi.. ah.. ah.. tumpah
dalam atau minum Wi..” kataku. Terlambat akhirnya pejuku tumpah di dalam, “Wi.. kamu
hebat.. walaupun sudah punya 3 anak,” kataku sambil memujinya. Akhirnya malam itu kami
menginap di hotel **** (edited). Kami berpacaran selama 1 tahun, walaupun sudah putus,
tetapi kami masih berteman baik.
Adakah di antara pembaca baik itu gadis, janda, maupun tante yang bersedia kencan lepas
denganku aku siap melayaninya, terlebih lagi kalau lebih tua dariku. Silakan kirim email ke
alamatku disertai nomor telepon, pasti aku hubungi. Benar juga kata pepatah, “Kelapa yang
tua, tentu banyak juga santannya”. Yang lebih tua memang enak juga untuk dikencani.
Posted in Setengah Baya | No Comments »
Birahi Sang Perawat
Sunday, December 21st, 2008

Hari ini adalah hari pertamaku tinggal di kota Bandung. Karena tugas kantorku, aku terpaksa
tinggal di Bandung selama 5 hari dan weekend di Jakarta. Di kota kembang ini, aku menyewa
kamar di rumah temanku. Menurutnya, rumah itu hanya ditinggali oleh Ayahnya yang sudah
pikun, seorang perawat, dan seorang pembantu. “Rumah yang asri” gumamku dalam hati.
Halaman yang hijau, penuh tanaman dan bunga yang segar dikombinasikan
dengan kolam ikan berbentuk oval.
Aku mengetuk pintu rumah tersebut beberapa kali sampai pintu dibukakan. Sesosok tubuh
semampai berbaju serba putih menyambutku dengan senyum manisnya.
“Pak Rafi ya..”.
“Ya.., saya temannya Mas Anto yang akan menyewa kamar di sini. Lho, kamu kan pernah
kerja di tetanggaku?”, jawabku surprise.
Perawat ini memang pernah bekerja pada tetanggaku di Bintaro sebagai baby sitter.
“Iya…, saya dulu pengasuhnya Aurelia. Saya keluar dari sana karena ada rencana untuk
kimpoi lagi. Saya kan dulu janda pak.., tapi mungkin belum jodo.., ee dianya pergi sama
orang lain.., ya sudah, akhirnya saya kerja di sini..”,

Mataku memandangi sekujur tubuhnya.Tati (nama si perawat itu) secara fisik memang tidak
pantas menjadi seorang perawat. Kulitnya putih mulus, wajahnya manis, rambutnya hitam
sebahu, buah dadanya sedang menantang, dan kakinya panjang semampai. Kedua matanya
yang bundar memandang langsung mataku, seakan ingin mengatakan sesuatu.
Aku tergagap dan berkata, “Ee.., Mbak Tati, Bapak ada?”.
“Bapak sedang tidur. Tapi Mas Anto sudah nitip sama saya. Mari saya antarkan ke kamar..”.
Tati menunjukkan kamar yang sudah disediakan untukku. Kamar yang luas, ber-AC, tempat
tidur besar, kamar mandi sendiri, dan sebuah meja kerja. Aku meletakkan koporku di lantai
sambil melihat berkeliling, sementara Tati merunduk merapikan sprei ranjangku. Tanpa
sengaja aku melirik Tati yang sedang menunduk. Dari balik baju putihnya yang kebetulan
berdada rendah, terlihat dua buah dadanya yang ranum bergayut di hadapanku. Ujung buah
dada yang berwarna putih itu ditutup oleh BH berwarna pink. Darahku terkesiap. Ahh…,
perawat cantik, janda, di rumah yang relatif kosong.Sadar melihat aku terkesima akan
keelokan buah dadanya, dengan tersipu-sipu Tati menghalangi pemandangan indah itu
dengan tangannya.

“Semuanya sudah beres Pak…, silakan beristirahat..”.


“Ee…, ya.., terima kasih”, jawabku seperti baru saja terlepas dari lamunan panjang.
Sore itu aku berkenalan dengan ayah Anto yang sudah pikun itu. Ia tinggal sendiri di rumah
itu setelah ditinggalkan oleh istrinya 5 tahun yang lalu. Selama beramah-tamah dengan sang
Bapak, mataku tak lepas memandangi Tati. Sore itu ia menggunakan daster tipis yang
dikombinasikan dengan celana kulot yang juga tipis. Buah dadanya nampak semakin
menyembul dengan dandanan seperti itu.
Di rumah itu ada seorang pembantu berumur sekitar 17 tahun. Mukanya manis, walaupun
tidak secantik Tati. Badannya bongsor dan motok. Ani namanya. Ia yang sehari-hari
menyediakan makan untukku.
Hari demi hari berlalu. Karena kepiawaianku dalam bergaul, aku sudah sangat akrab dengan
orang-orang di rumah itu. Bahkan Ani sudah biasa mengurutku dan Tati sudah berani untuk
ngobrol di kamarku. Bagi janda muda itu, aku sudah merupakan tempat mencurahkan isi
hatinya. Begitu mudah keakraban itu terjadi hingga kadang-kadang Tati merasa tidak perlu
mengetuk pintu sebelum masuk ke kamarku.
Sampai suatu malam, ketika itu hujan turun dengan lebatnya. Aku, karena sedang suntuk
memasang VCD porno kesukaanku di laptopku. Tengah asyik-asyiknya aku menonton tanpa
sadar aku menoleh ke arah pintu, astaga…, Tati tengah berdiri di sana sambil juga ikut
menonton. Rupanya aku lupa menutup pintu, dan ia tertarik akan suara-suara erotis yang
dikeluarkan oleh film produksi Vivid interactive itu. Ketika sadar bahwa aku mengetahui
kehadirannya, Tati tersipu dan berlari ke luar kamar.
“Mbak Tati..”, panggilku seraya mengejarnya ke luar. Kuraih tangannya dan kutarik kembali
ke kamarku.
“Mbak Tati…, mau nonton bareng? Ngga apa-apa kok..”.
“Ah, ngga Pak…, malu aku..”, katanya sambil melengos.
“Lho.., kok malu.., kayak sama siapa saja.., kamu itu.., wong kamu sudah cerita banyak
tentang diri kamu dan keluarga.., dari yang jelek sampai yang bagus.., masak masih ngomong
malu sama aku?”, Kataku seraya menariknya ke arah ranjangku.
“Yuk kita nonton bareng yuk..”, Aku mendudukkan Tati di ranjangku dan pintu kamarku
kukunci.
Dengan santai aku duduk di samping Tati sambil mengeraskan suara laptopku. Adegan-
adegan erotis yang diperlihatkan ke 2 bintang porno itu memang menakjubkan. Mereka
bergumul dengan buas dan saling menghisap. Aku melirik Tati yang sedari tadi takjub
memandangi adegan-adegan panas tersebut. Terlihat ia berkali-kali menelan ludah. Nafasnya
mulai memburu, dan buah dadanya terlihat naik turun. Aku memberanikan diri untuk
memegang tangannya yang putih mulus itu. Tati tampak sedikit kaget, namun ia membiarkan
tanganku membelai telapak tangannya. Terasa benar bahwa telapak tangan Tati basah oleh
keringat. Aku membelai-belai tangannya seraya perlahan-lahan mulai mengusap pergelangan
tangannya dan terus merayap ke arah ketiaknya. Tati nampak pasrah saja ketika aku
memberanikan diri melingkarkan tanganku ke bahunya sambil membelai mesra bahunya.
Namun ia belum berani untuk menatap mataku. Sambil memeluk bahunya, tangan kananku
kumasukkan ke dalam daster melalui lubang lehernya. Tanganku mulai merasakan
montoknya pangkal buah dada Tati. Kubelai-belai seraya sesekali kutekan daging empuk
yang menggunung di dada bagian kanannya.
Ketika kulihat tak ada reaksi dari Tati, secepat kilat kusisipkan tangganku ke dalam BH-
nya…, kuangkat cup BH-nya dan kugenggam buah dada ranum si janda muda itu.
“Ohh.., Pak…, jangan..”, Bisiknya dengan serak seraya menoleh ke arahku dan mencoba
menolak dengan menahan pergelangan tangan kananku dengan tangannya.
“Sshh…, ngga apa-apa Mbak…, ngga apa-apa..”.
“Nanti ketauanhh..”.
“Nggaa…, jangan takut..”, Kataku seraya dengan sigap memegang ujung puting buah dada
Tati dengan ibu jari dan telunjukku, lalu kupelintir-pelintir ke kiri dan kanan.
“Ooh.., hh.., Pak.., Ouh.., jj.., jjanganhh.., ouh..”, Tati mulai merintih-rintih sambil
memejamkan matanya. Pegangan tangannya mulai mengendor di pergelangan tanganku.
Saat itu juga, kusambar bibirnya yang sedari tadi sudah terbuka karena merintih-rintih.
“Ouhh.., mmff.., cuphh.., mpffhh..”, Dengan nafas tersengal-sengal Tati mulai membalas
ciumanku. Kucoba mengulum lidahnya yang mungil, ketika kurasakan ia mulai membalas
sedotanku. Bahkan ia kini mencoba menyedot lidahku ke dalam mulutnya seakan ingin
menelannya bulat-bulat.

Tangannya kini sudah tidak menahan pergelanganku lagi, namun kedua-duanya sudah
melingkari leherku. Malahan tangan kanannya digunakannya untuk menekan belakang
kepalaku sehingga ciuman kami berdua semakin lengket dan bergairah. Momentum ini tak
kusia-siakan. Sementara Tati melingkarkan kedua tangannya di leherku, akupun
melingkarkan kedua tanganku di pinggangnya. Aku melepaskan bibirku dari kulumannya,
dan aku mulai menciumi leher putih Tati dengan buas. “aahh..Ouhh..” Tati menggelinjang
kegelian dan tanganku mulai menyingkap daster di bagian pinggangnya. Kedua tanganku
merayap cepat ke arah tali BH-nya dan, “tasss..” terlepaslah BH-nya dan dengan sigap
kualihkan kedua tanganku ke dadanya.
Saat itulah lurasakan betapa kencang dan ketatnya kedua buah dada Tati. Kenikmatan
meremas-remas dan mempermainkan putingnya itu terasa betul sampai ke ujung sarafku.
Penisku yang sedari tadi sudah menegang terasa semakin tegang dan keras. Rintihan-rintihan
Tati mulai berubah menjadi jeritan-jeritan kecil terutama saat kuremas buah dadanya dengan
keras. Tati sekarang lebih mengambil inisiatif. Dengan nafasnya yang sudah sangat terengah-
engah, ia mulai menciumi leher dan mukaku. Ia bahkan mulai berani menjilati dan menggigit
daun telingaku ketika tangan kananku mulai merayap ke arah selangkangannya. Dengan
cepat aku menyelipkan jari-jariku ke dalam kulotnya melalui perut, langsung ke dalam celana
dalamnya. Walaupun kami berdua masih dalam keadaan duduk berpelukan di atas ranjang,
posisi paha Tati saat itu sudah dalam keadaan mengangkang seakan memberi jalan bagi jari-
jemariku untuk secepatnya mempermainkan kemaluannya.
Hujan semakin deras saja mengguyur kota Bandung. Sesekali terdengar suara guntur
bersahutan. Namun cuaca dingin tersebut sama sekali tidak mengurangi gairah kami berdua
di saat itu. Gairah seorang lajang yang memiliki libido yang sangat tinggi dan seorang janda
muda yang sudah lama sekali tidak menikmati sentuhan lelaki. Tati mengeratkan pelukannya
di leherku ketika jemariku menyentuh bulu-bulu lebat di ujung vaginanya. Ia menghentikan
ciumannya di kupingku dan terdiam sambil terus memejamkan matanya. Tubuhnya terasa
menegang ketika jari tengahku mulai menyentuh vaginanya yang sudah terasa basah dan
berlendir itu. Aku mulai mempermainkan vagina itu dan membelainya ke atas dan ke bawah.
“Ouuhh Pak.., ouhh.., aahh.., g..g.ggelliiihh”.
Tati sudah tidak bisa berkata-kata lagi selain merintih penuh nafsu ketika clitorisnya
kutemukan dan kupermainkan. Seluruh badan Tati bergetar dan bergelinjang. Ia nampak
sudah tak dapat mengendalikan dirinya lagi. Jeritan-jeritannya mulai terdengar keras. Sempat
juga aku kawatir dibuatnya. Jangan-jangan seisi rumah mendengar apa yang tengah kami
lakukan. Namun kerasnya suara hujan dan geledek di luar rumah menenangkanku. Benda
kecil sebesar kacang itu terasa nikmat di ujung jari tengahku ketika aku memutar-mutarnya.
Sambil mempermainkan clitorisnya, aku mulai menundukkan kepalaku dan menciumi buah
dadanya yang masih tertutupi oleh daster.
Seolah mengerti, Tati menyingkapkan dasternya ke atas, sehingga dengan jelas aku bisa
melihat buah dadanya yang ranum, kenyal dan berwarna putih mulus itu bergantung di
hadapanku. Karena nafsuku sudah memuncak, dengan buas kusedot dan kuhisap buah dada
yang berputing merah jambu itu. Putingnya terasa keras di dalam mulutku menandakan nafsu
janda muda itupun sudah sampai di puncak. Tati mulai menjerit-jerit tidak karuan sambil
menjambak rambutku.
Sejenak kuhentikan hisapanku dan bertanya, “Enak Mbak?”. Sebagai jawabannya, Tati
membenamkan kembali kepalaku ke dalam ranumnya buah dadanya. Jari tengahku yang
masih mempermainkan clitorisnya kini kuarahkan ke lubang vagina Tati yang sudah
menganga karena basah dan posisi pahanya yang mengangkang. Dengan pelan tapi pasti
kubenamkan jari tengahku itu ke dalamnya.
“Auuhh.., P.Paak.., hh”. Tati menjerit dan menaikkan kedua kakinya ke atas ranjang.
“Terrusshh.., auhh..”. Kugerakkan jariku keluar masuk di vaginanya dan Tati
menggoyangkan pingggulnya mengikuti irama keluar masuknya jemariku itu.
Aku menghentikan ciumanku di buah dada Tati dan mulai mengecup bibir ranum janda itu.
Matanya tak lagi terpejam, tapi memandang sayu ke mataku seakan berharap kenikmatan
yang ia rasakan ini jangan pernah berakhir. Tangan kiriku yang masih bebas, membimbing
tangan kanan Tati ke balik celana pendekku. Ketika tangannya menyentuh penisku yang
sudah sangat keras dan besar itu, terlihat ia agak terbelalak karena belum pernah melihat
bentuk yang panjang dan besar seperti itu. Tati meremas penisku dan mulai mengocoknya
naik turun naik turun.., kocokan yang nikmat yang membuatku tanpa sadar melenguh, “Ahh..,
Mbaak.., enaknya.., terusin..”.
Saat itu kami berdua berada pada puncaknya nafsu. Aku yakin bahwa Mbak Tati sudah ingin
secepatnya memasukkan penisku ke dalam vaginanya. Ia tidak mengatakannya secara
langsung, namun dari tingkahnya menarik penisku dan mendekatkannya ke vaginanya sudah
merupakan pertanda. Namun, di detik-detik yang paling menggairahkan itu terdegar suara si
Bapak tua berteriak, “Tatiii…, Tatiii..”. Kami berdua tersentak. Kukeluarkan jemariku dari
vaginanya, Tati melepaskan kocokannya dan ia membenahi pakaian dan rambutnya yang
berantakan. Sambil mengancingkan kembali BH-nya ia keluar dari kamarku menuju kamar
Bapak tua itu. Sialan!, kepalaku terasa pening. Begitulah penyakitku kalau libidoku tak
tersalurkan.
Beberapa saat lamanya aku menanti siapa tahu janda muda itu akan kembali ke kamarku.
Tapi nampaknya ia sibuk mengurus orang tua pikun itu, sampai aku tertidur. Entah berapa
lama aku terlelap, tiba-tiba aku merasa napasku sesak. Dadaku serasa tertindih suatu beban
yang berat. Aku terbangun dan membuka mataku. Aku terbelalak, karena tampak sesosok
tubuh putih mulus telanjang bulat menindih tubuhku.
“Mbak Tati?”, Tanyaku tergagap karena masih mengagumi keindahan tubuh mulus yang
berada di atas tubuhku. Lekukan pinggulnya terlihat landai, dan perutnya terasa masih
kencang. Buah dadanya yang lancip dan montok itu menindih dadaku yang masih terbalut
piyama itu. Seketika, rasa kantukku hilang. Mbak Tati tersenyum simpul ketika tangannya
memegang celanaku dan merasakan betapa penisku sudah kembali menegang.
“Kita tuntaskan ya Mbak?”, Kataku sambil menyambut kuluman lidahnya. Sambil dalam
posisi tertindih aku menanggalkan seluruh baju dan celanaku. Kegairahan yang sempat
terputus itu, mendadak kembali lagi dan terasa bahkan lebih menggila. Kami berdua yang
sudah dalam keadaan bugil saling meraba, meremas, mencium, merintih dengan keganasan
yang luar biasa. Mbak Tati sudah tidak malu-malu lagi menggoyangkan pinggulnya di atas
penisku sehingga bergesekan dengan vaginanya.
Tidak lebih dari 5 menit, aku merasakan bahwa nafsu syahwat kami sudah kembali berada
dipuncak. Aku tak ingin kehilangan momen lagi. Kubalikkan tubuh Tati, dan kutindih
sehingga keempukan buah dadanya terasa benar menempel di dadaku. Perutku menggesek
nikmat perutnya yang kencang, dan penisku yang sudah sangat menegang itu bergesekan
dengan vaginanya.
“Mbak.., buka kakinya.., sekarang kamu akan merasakan sorganya dunia Mbak..”, bisikku
sambil mengangkangkan kedua pahanya. Sambil tersengal-sengal Tati membuka pahanya
selebar-lebarnya. Ia tersenyum manis dengan mata sayunya yang penuh harap itu.
“Ayo Pak.., masukkan sekarang”, Aku menempelkan kepala penisku yang besar itu di mulut
vagina Tati. Perlahan-lahan aku memasukkannya ke dalam, semakin dalam, semakin dalam
dan, “aa.., Aooohh.., paakh.., aahh..”, rintihnya sambil membelalakkan matanya ketika
hampir seluruh penisku kubenamkan ke dalam vaginanya. Setelah itu, “Blesss”, dengan
sentakan yang kuat kubenamkan habis penisku diiringi jeritan erotisnya, “Ahh.., besarnyah..,
ennnakk ppaak..”.
Aku mulai memompakan penisku keluar masuk, keluar masuk. Gerakanku makin cepat dan
cepat. Semakin cepat gerakanku, semakin keras jeritan Tati terdengar di kamarku. Pinggul
janda muda itu pun berputar-putar dengan cepat mengikuti irama pompaanku. Kadang-
kadang pinggulnya sampai terangkat-angkat untuk mengimbangi kecepatan naik turunnya
pinggulku. Buah dadanya yang terlihat bulat dalam keadaan berbaring itu bergetar dan
bergoyang ke sana ke mari. Sungguh menggairahkan!
Tiba-tiba aku merasakan pelukannya semakin mengeras. Terasa kuku-kukunya menancap di
punggungku. Otot-ototnya mulai menegang. Nafas perempuan itu juga semakin cepat. Tiba-
tiba tubuhnya mengejang, mulutnya terbuka, matanya terpejam,dan alisnya merengut
“aahh..”. Tati menjerit panjang seraya menjambak rambutku, dan penisku yang masih
bergerak masuk keluar itu terasa disiram oleh suatu cairan hangat. Dari wajahnya yang
menyeringai, tampak janda muda itu tengah menghayati orgasmenya yang mungkin sudah
lama tidak pernah ia alami itu. Aku tidak mengendurkan goyangan pinggulku, karena aku
sedang berada di puncak kenikmatanku.
“Mbak.., goyang terus Mbak.., aku juga mau keluar..”. Tati kembali menggoyang pinggulnya
dengan cepat dan beberapa detik kemudian, seluruh tubuhku menegang.
“Keluarkan di dalam saja pak”, bisik Tati, “Aku masih pakai IUD”. Begitu Tati selesai
berbisik, aku melenguh.
“Mbak.., aku keluar.., aku keluarr.., aahh..”, dan…, “Crat.., crat.., craat”, kubenamkan
penisku dalam-dalam di vagina perempuan itu. Seakan mengerti, Tati mengangkat
pinggulnya tinggi-tinggi sehingga puncak kenikmatan ini terasa benar hingga ke tulang
sumsumku.
Kami berdua terkulai lemas sambil memejamkan mata. Pikiran kami melayang-layang entah
ke mana. Tubuhku masih menindih tubuh montok Tati. Kami berdua masih saling berpelukan
dan akupun membayangkan hari-hari penuh kenikmatan yang akan kualami sesudah itu di
Bandung.

Sejak kejadian malam itu, kesibukan di kantorku yang luar biasa membuatku sering pulang
larut malam. Kepenatanku selalu membuatku langsung tertidur lelap. Kesibukan ini bahkan
membuat aku jarang bisa berkomunikasi dengan Tati. Walaupun begitu, sering juga aku
mempergunakan waktu makan siangku untuk mampir ke rumah dengan maksud untuk
melakukan seks during lunch. Sayang, di waktu tersebut ternyata Ayah Anto senantiasa
dalam keadaan bangun sehingga niatku tak pernah kesampaian. Namun suatu hari aku cukup
beruntung walaupun orang tua itu tidak tidur. Aku mendapat apa yang kuinginkan.
Ceritanya sebagai berikut: Tati diminta oleh Ayah Anto untuk mengambil sesuatu di
kamarnya. Melihat peluang itu, aku diam-diam mengikutinya dari belakang. Kamar ayah
Anto memang tidak terlihat dari tempat di mana orang tua itu biasa duduk. Sesampainya di
kamar kuraih pinggang semampai perawat itu dari belakang. Tati terkejut dan tertawa kecil
ketika sadar siapa yang memeluknya dan tanpa basa-basi langsung menyambut ciumanku
dengan bibirnya yang mungil itu sambil dengan buas mengulum lidahku. Ia memang sudah
tidak malu-malu lagi seperti awal pertemuan kami.
Janda cantik itu sudah menunjukkan karakternya sebagai seorang pecinta sejati yang tanpa
malu-malu lagi menunjukkan kebuasan gairahnya. Kadang aku tidak mengerti, kenapa
suaminya tega meninggalkannya. Namun analisaku mengatakan, suaminya tak mampu
mengimbangi gejolak gairah Tati di atas ranjang dan untuk menutupi rasa malu yang terus
menerus terpaksa ia meninggalkan perempuan muda itu untuk hidup bersama dengan
perempuan lain yang lebih ‘low profile’. Aku memang belum sempat menanyakan pada Tati
bagaimana ia menyalurkan kebutuhan biologisnya di saat menjanda. Aku berpikir, bawa
masturbasi adalah jalan satu-satunya.
Kami berdua masih saling berciuman dengan ganas ketika dengan sigap aku menyelipkan
tanganku ke balik baju perawatnya yang putih itu. Sungguh terkejut ketika aku sadar bahwa
ia sama sekali tidak memakai BH sehingga dengan mudahnya kuremas buah dada kanannya
yang ranum itu.
“Kok ngga pakai BH Mbak..?” Sambil menggelinjang dan mendesah, ia menjawab sambil
tersenyum nakal.
“Supaya gampang diremas sama kamu..”. Benar-benar jawaban yang menggemaskan!
Kembali kukulum bibir dan lidahnya yang menggairahkan itu sambil dengan cepat kubuka
kancing bajunya yang pertama, kedua, dan ketiga. Lalu tanpa membuang waktu kutundukkan
kepalaku, dengan tangan kananku kukeluarkan buah dada kanannya dan kuhisap sedemikian
rupa sehingga hampir setengahnya masuk ke dalam mulutku. Tati mulai mengerang kegelian,
“Ouhh.., geli Mas.., geliii.., ahh..”. Sejak kejadian malam itu, ia memang membiasakan
dirinya untuk memanggilku Mas. Sambil menggelinjang dan merintih, tangan kanan Tati
mulai mengelus-elus bagian depan celana kantorku.
Penisku yang terletak tepat di baliknya terasa semakin menegang dan menegang. Jari-jari
lentik perempuan itu berusaha untuk mencari letak kepala penisku untuk kemudian digosok-
gosoknya dari luar celana. Sensasi itu membuat nafasku semakin memburu seperti layaknya
nafas kuda yang tengah berlari kencang. Seakan tak mau kalah darinya, tangan kiriku
berusaha menyingkap rok janda muda itu dan dengan sigap kugosokkan jari-jemariku di
celana dalamnya. Tepat diatas vaginanya, celana dalam Tati terasa sudah basah. Sungguh
hebat! Hanya dalam beberapa menit saja, ia sudah sedemikian terangsangnya sehingga
vaginanya sudah siap untuk dimasuki oleh penisku.
Tanpa membuang waktu kuturunkan celana dalam tipis yang kali ini berwarna hitam,
kudorong tubuh montok perawat itu ke dinding, lalu kuangkat paha kanannya sehingga
dengkulnya menempel di pinggangku. Dengan sigap pula kubuka ritsluiting celanaku dan
kukeluarkan penisku yang sudah sangat tegang dan besar itu. Tati sudah nampak pasrah. Ia
hanya bersender di dinding sambil memejamkan matanya dan memeluk bahuku.
“Tatiii.., mana minyak tawonnya.., kok lama betuul”. Suara orang tua itu terdengar dengan
keras. Sungguh menjengkelkan. Tati sempat terkejut dan nampak panik ketika kemudian aku
berbisik,
“Tenang Mbak.., jawab aja.., kita selesaikan dulu ini.., kamu mau kan?” Ia mengangguk
seraya tersenyum manis.
“Sebentar Pak..”, teriaknya.
“Minyak tawonnya keselip entah ke mana.., ini lagi dicari kok”. Ia tertawa cekikikan, geli
mendengar jawaban spontannya sendiri. Namun tawanya itu langsung berubah menjadi
jerikan erotis kecil ketika kupukul-pukulkan kepala penisku ke selangkangannya.
Perlahan-lahan kutempelkan kepala penisku itu di pintu vaginanya. Sambi kuputar-putar kecil
kudorong pinggulku perlahan-lahan. Tati ternganga sambil terengah-engah, “aahh.., aahh..,
ouhh.., Mas.., besar sekali.., pelan-pelan Mas..pelan-pelanhh..”, dan, “aaah”. Tati menjerit
kecil ketika kumasukkan seluruh penisku ke dalam vaginanya yang becek dan terasa sangat
sempit dalam posisi berdiri ini. Aku menyodokkan penisku maju mundur dengan gerakan
yang percepatannya meningkat dari waktu ke waktu. Tubuh Tati terguncang-guncang, buah
dadanya bergayut ke kiri dan kanan dan jeritannya semakin menjadi-jadi.
Aku sudah tak peduli kalau ayah Anton sampai mendengarkan jeritan perempuan itu.
Nafsuku sudah naik ke kepala. Janda muda ini memang memiliki daya pikat seks yang luar
biasa. Walaupun ia hanya seorang perawat, namun kemulusan dan kemontokan badannya
sungguh setara dengan perempuan kota jaman sekarang. Sangat terawat dan nikmat sekali
bila digesek-gesekkankan di kulit kita. Gerakan pinggulku semakin cepat dan semakin cepat.
Mulutku tak puas-puasnya menciumi dan menghisap puting buah dadanya yang meruncing
panjang dan keras itu. Buah dadanya yang kenyal itu hampir seluruhnya dibasahi oleh air
liurku. Aku memang sedang nafsu berat. Aku merasakan bahwa sebentar lagi aku akan
orgasme dan bersamaan dengan itu juga tubuh Tati menegang.
Kupercepat gerakan pinggulku dan tiba-tiba, “aahh.., Mas.., Masss, aku keluarrr.., aahh”,
Jeritnya. Saat itu juga kusodokkan penisku ke dalam vagina janda muda itu sekeras-kerasnya
dan, “Craat.., craatt.., craat”.
“Ahh…, Mbaak”, erangku sambil meringis menikmati puncak orgasme kami yang waktunya
jatuh bersamaan itu. Kami berpelukan sesaat dan Tati berbisik dengan suara serak.
“Mas.., aku ngga pernah dipuasin laki-laki seperti kamu muasin saya.., kamu hebat..”. Aku
tersenyum simpul.
“Mbak., aku masih punya 1001 teknik yang bisa membuat kamu melayang ke surga ke-7..,
ngga bosan kan kalo lain waktu aku praktekkan sama kamu?”. Perlahan Tati menurunkan
paha kanannya dan mencabut penisku dari vaginanya.
“Bosan? Aku gila apa.., yang beginian ngga akan membuatku bosan.., kalau bisa tiap hari aku
mau Mas..”. Benar-benar luar biasa libido perempuan ini. Beruntung aku mempunyai libido
yang juga luar biasa besarnya. Sebagai partner seks, kami benar-benar seimbang.
Setelah kejadian siang itu, aku dan Tati seperti pengantin baru saja. Tak ada waktu luang
yang tak terlewatkan tanpa nafsu dan birahi. Walaupun demikian, aku tekankan pada Tati,
bahwa hubungan antara aku dan dia, hanyalah sebatas hubungan untuk memuaskan nafsu
birahi saja. Aku dan dia punya hak untuk berhubungan dengan orang lain. Tati si janda muda
yang sudah merasakan kenikmatan seks bebas itu tentu saja menyetujuinya.
Suatu hari, Tati masuk ke dalam kamarku dan ia berkata, “Mas, aku akan mengambil cuti
selama 1 bulan. Aku harus mengurusi masalah tanah warisan di kampungku..”.
“Lha.., kalau Mbak pulang, siapa yang akan mengurusi Bapak?”, tanyaku sambil
membayangkan betapa kosongnya hari-hariku selama sebulan ke depan.
“Mas Anto bilang, akan ada adik Bapak yang akan menggantikan aku selama 1 bulan..,
namanya Mbak Ine.., dia ngga kimpoi.., umurnya sudah hampir 40 tahun.., orangnya baik
kok.., cerewet.., tapi ramah..”. Yah apa boleh buat, aku terpaksa kehilangan seorang teman
berhubungan seks yang sangat menggairahkan. Hitung-hitung cuti 1 bulan.., atau kalau
berpikir positif.., its time to look for a new partner!!!
Hari ini adalah hari ke lima setelah kepergian Tati. Mbak Ine, pengganti sementara Tati,
ternyata adalah adik ipar ayah Anto. Jadi, adik istri si bapak tua itu. Mbak Ine adalah seorang
perempuan Sunda yang ramah. Wajahnya lumayan cantik, kulitnya berwarna hitam manis,
badannya agak pendek dan bertubuh montok. Ukuran buah dadanya besar. Jauh lebih besar
dari Tati dan senantiasa berdandan agak menor. Wanita yang berumur hampir 40 tahun itu
mengaku belum pernah menikah karena merasa bahwa tak ada laki-laki yang bisa cocok
dengan sifatnya yang avonturir. Saat ini ia bekerja secara freelance di sebuah stasiun televisi
sebagai penulis naskah. Kemampuan bergaulku dan keramahannya membuat kami cepat
sekali akrab.
Lagi-lagi, kamarku itu kini menjadi markas curhatnya Mbak Ine.
“Panggil saya teh Ine aja deh..”, katanya suatu kali dengan logat Bandungnya yang kental.
“Kalau gitu panggil saya Rafi aja ya teh.., ngga usah pake pak pak-an segala..”, balasku
sambil tertawa.
Baru 5 hari kami bergaul, namun sepertinya kami sudah lama saling mengenal. Kami seperti
dua orang yang kasmaran, saling memperhatikan dan saling bersimpati. Persis seperti cinta
monyet ketika kita remaja. Saat itu seperti biasa, kami sedang ngobrol santai dari hati ke hati
sambil duduk di atas ranjangku. Aku memakai baju kaos dan celana pendek yang ketat
sehingga tanpa kusadari tekstur penis dan testisku tercetak dengan jelas. Bila kuperhatikan,
beberapa kali tampak teh Ine mencuri-curi melirik selangkanganku yang dengan mudah
dilihatnya karena aku duduk bersila. Aku sengaja membiarkan keadaan itu berlangsung.
Malah kadang-kadang dengan sengaja aku meluruskan kedua kakiku dengan posisi agak
mengangkang sehingga cetakan penisku makin nyata saja di celanaku.
Sesekali, ditengah obrolan santai itu, tampak teh Ine melirik selangkanganku yang diikuti
dengan nafasnya yang tertahan. Kenapa aku melakukan hal ini? Karena libidoku yang luar
biasa, aku jadi tertantang untuk bisa meniduri teh Ine yang aku yakini sudah tak perawan lagi
karena sifatnya yang avonturir itu. Dan lagi, dari sifatnya yang ramah, ceria, cerewet dan
petualang itu, aku yakin di balik tubuh montok perempuan setengah baya tersimpan potensi
libido yang tak kalah besar dengan Tati. Juga, gayanya dalam bergaul yang mudah
bersentuhan dan saling memegang lengan sering membuat darahku berdesir. Apalagi kalau
aku sedang dalam keadaan libido tinggi.
Saat ini, teh Ine mengenakan daster berwarna putih tipis sehingga tampak kontras dengan
warna kulitnya yang hitam manis itu. Belahan buah dadanya yang besar itu menyembul di
balik lingkaran leher yang berpotongan rendah di bagian dada. Dasternya sendiri berpola
terusan hingga sebatas lutut sehingga ketika duduk, pahanya yang montok itu terlihat dengan
jelas. Aku selalu berusaha untuk bisa mengintip sesuatu yang terletak di antara kedua paha
teh Ine. Namun karena posisi duduknya yang selalu sopan, aku tak dapat melihat apa-apa.
Bukan main! Ternyata seorang wanita berusia 40-an masih mempunyai daya tarik sexual
yang tinggi. Terus terang, baru kali ini aku berani berfantasi mengenai hubungan seks dengan
teh Ine. Sementara ia bercerita tentang masa mudanya, pikiranku malah melayang dan
membayangkan tubuh teh Ine sedang duduk di hadapanku tanpa selembar benangpun.
Alangkah menggairahkannya. Aku seperti bisa melihat dengan jelas seluruh lekuk tubuhnya
yang mulus tanpa cacat. Tanpa sadar, penisku menegang dan cairan madzi di ujungnya pun
mulai keluar. Celanaku tampak basah di ujung penisku, dan cetakan penis serta testisku
semakin jelas saja tercetak di selangkangan celanaku.
Membesarnya penisku ternyata tak lepas dari perhatian teh Ine. Tampak jelas terlihat
matanya terbelalak melihat ukuran penisku yang membesar dan tercetak jelas di celana
pendekku. Obrolan kami mendadak terhenti karena beberapa saat teh Ine masih terpaku pada
selangkanganku.
“Kunaon teh..?”, tanyaku memancing.
“Eh.., enteu.., kamu teh mikirin apa sih?”, katanya sambil tersenyum simpul.
“Mikirin teh Ine teh.., entah kenapa barusan saya membayangkan teh Ine nggak pakai apa-
apa.., aduh indahnya teh..”, tiba-tiba saja jawaban itu meluncur dari mulutku. Aku sendiri
terkejut dengan jawabanku yang sangat terus terang itu dan sempat membuatku terpaku
memandang wajah teh Ine. Wajah teh Ine tampak memerah mendengar jawabanku itu.
Napasnya mendadak memburu.
Tiba-tiba teh Ine bangkit dari duduknya dan berjalan menuju pintu. Ia menutup pintu
kamarku dan menguncinya. Leherku tercekat, dan kurasakan jantungku berdegup semakin
kencang. Dengan tersenyum dan sorot mata nakal ia menghampiriku dan duduk tepat di
hadapan selangkanganku. Aku memang sedang dalam posisi selonjor dengan kedua kaki
mengangkang.
“Fi, kamu pingin sama teteh..? Hmm?”, Desahnya seraya meraba penis tegangku dari luar
celana. Aku menelan ludah sambil mengangguk perlahan dan tersenyum. Entah mengapa,
aku jadi gugup sekali melihat wajah teh Ine yang semakin mendekat ke wajahku. Tanpa sadar
aku menyandarkan punggungku ke tembok di ujung ranjang dan teh Ine menggeser duduknya
mendekatiku sambil tetap menekan dan membelai selangkanganku. Nafas teh Ine yang
semakin cepat terasa benar semakin menerpa hidung dan bibirku. Rasa nikmat dari belaian
jemari teh Ine di selangkanganku semakin terasa keujung syaraf-syarafku. Napasku mulai
memburu dan tanpa sadar mulutku mulai mengeluarkan suara erangan-erangan.
Dengan lembut teh Ine menempelkan bibirnya di atas bibirku. Ia memulainya dengan
mengecup ringan, menggigit bibir bawahku, dan tiba-tiba.., lidahnya memasuki mulutku dan
berputar-putar di dalamnya dengan cepat. Langit-langit mulutku serasa geli disapu oleh lidah
panjang milik perempuan setengah baya yang sangat menggairahkan itu. Aku mulai
membalas ciuman, gigitan, dan kuluman teh Ine. Sambil berciuman, tangan kananku
kuletakkan di buah dada kiri teh Ine. Uh.., alangkah besarnya.., walaupun masih ditutupi oleh
daster, keempukan dan kekenyalannya sudah sangat terasa di telapak tanganku.
Dengan cepat kuremas-remas buah dada teh Ine itu, “Emph.., emph..”, rintihnya sambil terus
mengulum lidahku dan menggosok-gosok selangkanganku. Mendadak teh Ine menghentikan
ciumannya. Ia menahan tanganku yang tengah meremas buah dadanya dan berkata, “Fi,
sekarang kamu diam dulu yah.., biar teteh yang duluan..”.
Tiba-tiba dengan cepat teh Ine menarik celana pendekku sekalian dengan celana dalamku.
Saking cepatnya, penisku yang menegang melejit keluar. Sejenak teh Ine tertegun menatap
penisku yang berdiri tegak laksana tugu monas itu. “Gusti Rafi.., ageung pisan..”, bisiknya
lirih. Dengan cepat teh Ine menundukkan kepalanya, dan seketika tubuhku terasa dialiri oleh
aliran listrik yang mengalir cepat ketika mulut teh Ine hampir menelan seluruh penisku.
Terasa ujung penisku itu menyentuh langit-langit belakang mulut teh Ine. Dengan sigap teh
Ine memegang penisku sementara lidahnya memelintir bagian bawahnya. Kepala teh Ine naik
turun dengan cepat mengiringi pegangan tangannya dan puntiran lidahnya.
Aku benar-benar merasa melayang di udara ketika teh Ine memperkuat hisapannya. Aku
melirik ke arah kaca riasku, dan di sana tampak diriku terduduk mengangkang sementara teh
Ine dengan dasternya yang masih saja rapi merunduk di selangkanganku dan kepalanya
bergerak naik turun. Suara isapan, jilatan dan kecupan bibir perempuan montok itu terdengar
dengan jelas. Kenikmatan ini semakin menjadi-jadi ketika kurasakan teh Ine mulai meremas-
remas kedua bola testisku secara bergantian. Perutku serasa mulas dan urat-urat di penisku
serasa hendak putus karena tegangnya. Teh Ine tampak semakin buas menghisapi penisku
seperti seseorang yang kehausan di padang pasir menemukan air yang segar. Jari-
jemarinyapun semakin liar mempermainkan kedua testisku. “Slurrp.., Cuph.., Mphh..”. Suara
kecupan-kecupan di penisku semakin keras saja.
Nafsuku sudah naik ke kepala. Aku berontak untuk berusaha meremas kedua buah dada
montok dan besar milik wanita lajang berusia setengah baya itu, namun tangan teh Ine
dengan kuat menghalangi tubuhku dan iapun semakin gila menghisapi dan menjilati penisku.
Aku mulai bergelinjang-gelinjang tak karuan.
“Teh Ine.., teeeh, gantian dongg.., please.., saya udah ngga kuaat, aahh.., sss..”, erangku
seakan memohon. Namun permintaanku tak digubrisnya. Kedua tangan dan mulutnya
semakin cepat saja mengocok penisku. Terasa seluruh syaraf-syarafku semakin menegang
dan menegang, degup jantungku berdetak semakin kencang.. napaskupun makin memburu.
“Oohh…, Teh Ine.., Teh Ineee…, aahh.”, Aku berteriak sambil mengangkat pinggulku tinggi-
tinggi dan, “Crat.., craat.., craat”, aku memuncratkan spermaku di dalam mulut teh Ine.
Dengan sigap pula teh Ine menelan dan menjilati spermaku seperti seorang yang menjilati es
krim dengan nikmatnya. Setiap jilatan teh Ine terasa seperti setruman-setruman kecil di
penisku. Aku benar-benar menikmati permainan ini.., luar biasa teh Ine, “Enak Fi..? Hmm?”,
teh Ine mengangkat kepalanya dari selangkanganku dan menatapku dengan senyum
manisnya, tampak di seputar mulutnya banyak menempel bekas-bekas spermaku.
“Fuhh nikmatnya sperma kamu Fi..” Bisiknya mesra seraya menjilat sisa-sisa spermaku di
bibirnya.
“Obat awet muda ya teh..”, kataku bercanda.
“Yaa gitulah…, antosan sekedap nya? Biar teteh ambilkan minum buat kamu”. Oh my God..,
benar-benar seorang wanita yang penuh pengabdian, dia belum mengalami orgasme apa-apa
tapi perhatiannya pada pasangan lelakinya luar biasa besar, sungguh pasangan seks yang
ideal! Kenyataan itu saja membuat rasa simpati dan birahiku pada teh Ine kembali bergejolak.
Teh Ine kembali dari luar membawa segelas air.
“Minum deh.., biar kamu segeran..”.
“Nuhun teh.., tapi janji ya abis ini giliran saya muasin teteh..”. Aku meneguk habis air dingin
buatan teh Ine dan saat itu pula aku merasakan kejantananku kembali. Birahiku kembali
bergejolak melihat tubuh montok teh Ine yang ada di hadapanku.
Aku meraih tangan teh Ine dan dengan sekali betot kubaringkan tubuhnya yang molek itu di
atas ranjang.
“Eeehh.., pelan-pelan Fi..”, teriak teh Ine dengan geli.
“Teteh mau diapain sih… “, lanjutnya manja. Tanpa menjawab, aku menindih tubuh montok
itu, dan sekejap kurasakan nikmatnya buah dada besar itu tergencet oleh dadaku. Juga,
syaraf-syaraf sekitar pinggulku merasakan nikmatnya penisku yang menempel dengan
gundukan vaginanya walaupun masih ditutupi oleh daster dan celana dalamnya.
Kupandangi wajah teh Ine yang bundar dan manis itu. Kalau diperhatikan, memang sudah
terdapat kerut-kerut kecil di daerah mata dan keningnya. Tapi peduli setan! Teh Ine adalah
seorang wanita setengah baya yang paling menggairahkan yang pernah kulihat. Pancaran aura
sexualnya sungguh kuat menerangi sanubari lelaki yang memandangnya.
“Teteh mau tau apa yang ingin saya lakukan terhadap teteh?”, Kataku sambil tersenyum.
“Saya akan memperkosa teteh sampai teteh ketagihan”.
Lalu dengan ganas, aku memulai menciumi bibir dan leher teh Ine. Teh Inepun dengan tak
kalah ganasnya membalas ciuman-ciumanku. Keganasan kami berdua membuat suasana
kamarku menjadi riuh oleh suara-suara kecupan dan rintihan-rintihan erotis. Dengan tak sabar
aku menarik ritsluiting daster teh Ine, kulucuti dasternya, BH-nya, dan yang terakhir.., celana
dalamnya. Wow.., sebuah gundukan daging tanpa bulu sama sekali terlihat sangat menantang
terletak di selangkangan teh Ine. My God.., alangkah indahnya vagina teh Ine itu.., tak pernah
kubayangkan bahwa ia mencukur habis bulu kemaluannya.
“Kamu juga buka semua dong Fi”, rengeknya sambil menarik baju kaosku ke atas. Dalam
sekejap, kami berdua berdua berpelukan dan berciuman dengan penuh nafsu dalam keadaan
bugil! Sambil menindih tubuhnya yang montok itu, bibirku menyelusuri lekuk tubuh teh Ine
mulai dari bibir, kemudian turun ke leher, kemudian turun lagi ke dada, dan terus ke arah
puting susu kirinya yang berwarna coklat kemerah-merahan itu. Alangkah kerasnya puting
susunya, alangkah lancipnnya.., dan mmhh.., seketika itu juga kukulum, kuhisap dan kujilat
puting kenyal itu.., karena gemasnya, sesekali kugigit juga puting itu.
“Auuhh.., Fi.., gellii.., sss.., ahh”, rintihnya ketika gigitanku agak kukeraskan. Badan
montoknya mulai mengelinjang-gelinjang ke sana k emari.., dan mukanya menggeleng-
geleng ke kiri dan ke kanan. Sambil menghisap, tangan kananku merayap turun ke
selangkangannya. Dengan mudah kudapati vaginanya yang besar dan sudah sangat becek
sekali. Akupun dengan sigap memain-mainkan jari tenganku di pintu vaginanya.
“Crks.., crks.., crks”, terdengar suara becek vagina teh Ine yang berwarna lebih putih dari
kulit sekitarnya. Ketika jariku mengenai gundukan kecil daging yang mirip dengan sebutir
kacang, ketika itu pula wanita setengah baya itu menjerit kecil.
“Ahh.., geli Fi.., gelli”, Putaran jariku di atas clitoris teh Ine dan hisapanku pada kedua puting
buah dadanya makin membuat lajang montok berkulit hitam manis itu semakin bergelinjang
dengan liar.
“Fi.., masukin sekarang Fi.., sekarang.., please.., teteh udah nggak tahan..ahh..”. Kulihat
wajah teh Ine sudah meringis seperti orang kesakitan. Ringisan itu untuk menahan gejolak
orgasmenya yang sudah hampir mencapai puncaknya. Dengan sigap kuarahkan penisku ke
vagina montok milik teh Ine.., kutempelkan kepala penisku yang besar tepat di bawah
clitorisnya, kuputar-putarkan sejenak dan teh Ine meresponnya dengan mengangkangkan
pahanya selebar-lebarnya untuk memberi kemudahan bagiku untuk melakukan penetrasi..,
saat itu pula kusodokkan pantatku sekuat-kuatnya dan, “Blesss”, masuk semuanya!
“Aahh.” Teh Ine menjerit panjang.., “Besar betul Fi.., auhh., besar betuull…, duh gusti
enaknya.., aahh..”. Dengan penuh keganasan kupompa penisku keluar masuk vagina teh Ine.
Dan iapun dengan liarnya memutar-mutar pinggulnya di bawah tindihanku. Astaga.., benar-
benar pengalaman yang luar biasa! Bahkan keliaran teh Ine melebihi ganasnya Mbak Tati..,
luar biasa!
Kedua tubuh kami sudah sangat basah oleh keringat yang bercampur liur. Kasurkupun sudah
basah di mana-mana oleh cairan mani maupun lendir yang meleleh dari vagina teh Ine,
namun entah kekuatan apa yang ada pada diri kami…, kami masih saling memompa,
merintih, melenguh, dan mengerang. Bunyi ranjangkupun sudah tak karuan.., “Kriet.., kriet..,
krieeet”, sesuai irama goyangan pinggul kami berdua. Penisku yang besar itu masih dengan
buasnya menggesek-gesek vagina teh Ine yang terasa sempit namun becek itu.
Setelah lebih dari 15 menit kami saling memompa, tiba-tiba kurasakan seluruh tubuh teh Ine
menegang.
“Fi.., Fi.., Teteh mau keluar..”.
“Iya teh, saya juga.., kita keluar sama-sama teh…”, Goyanganku semakin kupercepat dan
pada saat yang bersamaan kami berdua saling berciuman sambil berpelukan erat.., aku
menancapkan penisku dalam-dalam dan teh Ine mengangkat pinggulnya tinggi-tinggi…,
“Crat.., crat.., crat.., crat”, kami berdua mengerang dengan keras sambil menikmati
tercapainya orgasme pada saat yang bersamaan. Kami sudah tak peduli bila seisi rumah akan
mendengarkan jeritan-jeritan kami, karena aku yakin teh Inepun tak pernah merasakan
kenikmatan yang luar biasa ini sepanjang hidupnnya.
“Ahh.., Fi.., kamu hebaat.., kamu hebaathh.., hh.., Teteh ngga pernah ngerasain kenikmatan
seperti ini”.
“Saya juga teh.., terima kasih untuk kenikmatan ini..”, Kataku seraya mengecup kening teh
Ine dengan mesra.
“Mau tau suatu rahasia Fi?”, tanyanya sambil membelai rambutku, “Teteh sudah lima tahun
tidak bersentuhan dengan laki-laki.., tapi entah kenapa, dalam 5 hari bergaul dengan kamu..,
teteh tidak bisa menahan gejolak birahi teteh.., ngga tau kenapa.., kamu itu punya aura seks
yang luar biasa..”. Teh Ine bangkit dari ranjangku dan mengambil sesuatu dari kantong
dasternya. Sebutir pil KB.
“Seperti punya fitasat, teteh sudah minum pil ini sejak 3 hari yang lalu..”, katanya tersenyum,
“Dan akan teteh minum selama teteh ada di sini..”, Teh Ine mengerdipkan matanya padaku
dengan manja sambil memakai dasternya.
“Selamat tidur sayang”, Teh Ine melangkah keluar dari kamarku.
Teh Ine memang luar biasa. Ia bukan saja dapat menggantikan kedudukan Tati sebagai
partner seks yang baik, tetapi juga memberi sentuhan-sentuhan kasih sayang keibuan yang
luar biasa. Aku benar-benar dimanja oleh wanita setengah baya itu. Fantasi sexualnya juga
luar biasa. Mungkin itu pengaruh dari pekerjaannya sebagai penulis cerita drama. Coba
bayangkan, ia pernah memijatku dalam keadaan bugil, kemudian sambil terus memijat ia bisa
memasukkan penisku ke dalam vaginanya, dan aku disetubuhi sambil terus menikmati
pijatan-pijatannya yang nikmat. Ia juga pernah meminta aku untuk menyetubuhinya di saat ia
mandi pancuran di kamar mandi dan kami melakukannya dengan tubuh licin penuh sabun.
Dan yang paling sensasional adalah.., Sore itu aku sudah berada di rumah. Karena load
pekerjaan di kantorku tidak begitu tinggi, aku sengaja pulang cepat. Selesai mandi aku duduk
di meja makan sambil menikmati pisang goreng buatan teh Ine. Perempuan binal itu memang
luar biasa. Ia melayaniku seperti suaminya saja. Segala keperluan dan kesenanganku benar-
benar diperhatikan olehnya. Seperti biasa, aku mengenakan baju kaos buntung dan celana
pendek longgar kesukaanku dan (seperti biasa juga) aku tidak menggunakan celana dalam.
Kebiasaan ini kumulai sejak adanya teh Ine di rumah ini, karena bisa dipastikan hampir tiap
hari aku akan menikmati tubuh sintal adik ipar ayah si Anto itu.
Sore itu sambil menikmati pisang goreng di meja makan, aku bercakap-cakap dengan ayah
Anto. Orang tua itu duduk di pojok ruangan dekat pintu masuk untuk menikmati semilirnya
angin sore kota Bandung. Jarak antara aku dengannya sekitar 6 meter. Sambil bercakap-cakap
mataku tak lepas dari teh Ine yang mondar mandir menyediakan hidangan sore bagi kami.
Entah ke mana PRT kami saat itu. Teh Ine mengenakan celana pendek yang ditutupi oleh
kaos bergambar Mickey Mouse berukuran ekstra besar sehingga sering tampak kaos itu
menutupi celana pendeknya yang memberi kesan teh Ine tidak mengenakan celana. Aku
berani bertaruh perempuan itu tidak menggunakan BH karena bila ia berjalan melenggang,
tampak buah dadanya bergayut ke atas ke bawah, dan di bagian dadanya tercetak puting buah
dadanya yang besar itu. Tanpa sadar batang penisku mulai membesar.
Setelah selesai dengan kesibukannya, teh Ine duduk di sebelah kiriku dan ikut menikmati
pisang goreng buatannya. Kulihat ia melirik ke arahku sambil memasukkan pisang goreng
perlahan-lahan ke dalam mulutnya. Sambil mengerdipkan matanya, ia memasukkan dan
mengeluarkan pisang goreng itu dan sesekali menjilatnya. Sambil terus berbasa basi dengan
orang tua Anto, aku menelan ludah dan merasakan bahwa urat-urat penisku mulai mengeras
dan kepala penisku mulai membesar. Tiba-tiba kurasakan jari-jemari kanan teh Ine
menyentuh pahaku. Lalu perlahan-lahan merayap naik sampai di daerah penisku. Dengan
gemas teh Ine meremas penis tegangku dari luar celanaku sehingga membuat cairan beningku
membuat tanda bercak di celanaku.
Setelah beberapa lama meremas-remas, tangan itu bergerak ke daerah perut dan dengan cepat
menyelip ke dalam celana pendekku. Aku sudah tidak tahu lagi apa isi percakapan orang tua
Anto itu. Beberapa kali ia mengulangi pertanyaannya padaku karena jawabanku yang asal-
asalan. Degup jantungku mulai meningkat. Jemari lentik itu kini sudah mencapai kedua
bolaku. Dengan jari telunjuk dan tengah yang dirapatkan, perempuan lajang itu mengelus-
elus dan menelusuri kedua bolaku.., mula-mula berputar bergantian kiri dan kanan kemudian
naik ke bagian batang.., terus bergerak menelusuri urat-urat tegang yang membalut batang
kerasku itu, “sss…, teteh..”. Aku berdesis ketika kedua jarinya itu berhenti di urat yang
terletak tepat di bawah kepala penisku.., itu memang daerah kelemahanku.., dan perempuan
sintal ini mengetahuinya.., kedua jemarinya menggesek-gesekkan dengan cepat urat penisku
itu sambil sesekali mencubitnya.
“aahh…”, erangku ketika akhirnya penisku masuk ke dalam genggamannya.
“Kenapa Rafi?”, Orang tua yang duduk agak jauh di depanku itu mengira aku mengucapkan
sesuatu.
“E.., ee…, ndak apa-apa Pak..”, Jawabku tergagap sambil kembali meringis ketika teh Ine
mulai mengocok penisku dengan cepat. Gila perempuan ini! Dia melakukannya di depan
kakaknya sendiri walaupun tidak kelihatan karena terhalang meja.
“Saya cuma merasa segar dengan udara Bandung yang dingin ini..”, Jawabku sekenanya.
“Ooo begitu.., saya pikir kamu sakit perut.., habis tampangmu meringis-meringis begitu..”,
Orang tua itu terkekeh sambil memalingkan mukanya ke jalan raya.
Begitu kakaknya berpaling, teh Ine dengan cepat merebahkan kepalanya ke pangkuanku
sehingga dari arah ayah Anto, teh Ine tak tampak lagi. Dengan cepat tangannya
memelorotkan celanaku sehingga penisku yang masih digenggamnya dengan erat itu terasa
dingin terterpa angin. Sejenak perempuan itu memandang penis besarku itu.., ia selalu
memberikan kesempatan pada matanya untuk menikmati ukuran dan kekokohannya.
Kemudian teh Ine menjulurkan lidahnya dan mulai menjilat mengelilingi lubang penisku..,
kemudian ia memasukkan ujung lidahnya ke ujung lubang penisku dan mengecap cairan
beningku.., lalu lidahnya diturunkan lagi-lagi ke urat di bawah penisku. Aku mulai
menggelinjang-gelinjang tak karuan, walaupun dengan hati-hati takut ketahuan oleh kakak
teh Ine yang duduk di depanku. Tanganku mulai meraba-raba buah dadanya yang besar itu
dan meremasnya dengan gemas, “sss.., teeehh..”, desisku agak keras ketika perempuan itu
dengan kedua bibirnya menyedot urat di bawah kepala penisku itu.., sementara tangannya
meremas-remas kedua bolaku…, aawwww nikmatnya…, aku begitu terangsang sehingga
seluruh pori-pori kulitku meremang dan mukaku berwarna merah. Aku sudah dalam tahap
ingin menindih dan sesegera mungkin memasukkan penisku ke dalam vagina perempuan ini
tapi semua itu tak mungkin kulakukan di depan kakaknya yang masih duduk di depanku
menikmati lalu lalang kendaraan di depan rumahnya.
Tiba-tiba bibir teh Ine bergerak dengan cepat ke kepala penisku.., sambil terus kupermainkan
putingnya kulihat ia membuka mulutnya dengan lebar dan tenggelamlah seluruh penisku ke
dalam mulutnya. Aku kembali mendesis dan meringis sambil tetap duduk di meja makan
mendengarkan ocehan orang tua Anto yang kembali mengajakku berbincang. Mulut teh Ine
dengan cepat menghisap dan bergerak maju mundur di penisku. Tanganku menarik dasternya
ke atas dari arah punggung sehingga terlihatlah pantatnya yang mulus tidak ditutupi oleh
selembar benangpun. Aku ingin menjamah vaginanya, ingin rasanya kumasukkan jari-jariku
dengan kasar ke dalamnya dan kukocok-kocok dengan keras tapi aku sudah tak kuat lagi.
Jilatan lidah, kecupan, dan sedotan teh Ine di penisku membuat seluruh syarafku menegang.
Tiba-tiba kujambak rambut teh Ine dan kutekan sekuat-kuatnya sehingga seluruh penisku
tenggelam ke dalam mulutnya. Kurasakan ujung penisku menyentuh langit-langit
tenggorokan teh Ine dan, “Creeet…, creeett…, creeettt”, menyemburlah cairan maniku ke
mulut teh Ine.
“Ahh…, aahh.., aahh.., tetteeehh…”, Aku meringis dan mendesis keras ketika cairan maniku
bersemburan ke dalam mulut teh Ine. Perempuan itu dengan lahap menjilati dan menelan
seluruh cairanku sehingga penisku yang hampir layu kembali sedikit menegang karena terus-
terusan dijilat. Aku memejamkan mataku.., gilaa.., permainan ini benar-benar menakjubkan.
Ada rasa was-was karena takut ketahuan, tapi rasa was-was itu justru meningkatkan nafsuku.

Teh Ine memandang penisku yang sudah agak mengecil namun tetap saja dalam posisi tegak.
“Luar biasa…”, Bisiknya, “Siap-siap nanti malam yah?” Katanya sambil bangkit dan
beranjak ke dapur.
Aku cukup kagum dengan prestasi yang kucapai di rumah ini. Baru 2 bulan di Bandung, aku
sudah bisa meniduri 2 orang wanita yang sudah lama tidak pernah menikmati sentuhan lelaki.
Dan wanita-wanita itu, aku yakin akan selalu termimpi-mimpi akan besar dan nikmatnya
gesekan penisku di dalam vagina mereka.
Posted in Setengah Baya | No Comments »
Adik Istriku
Saturday, December 20th, 2008
Istri saya adalah anak ke 2 dari empat saudara yang kebetulan semuanya wanita dan
semuanya telah menikah serta dikarunia putra-putri yang relatif masih kecil, diantara saudara-
saudara istri , saya cukup dekat dengan adik istri saya yang kurang lebih berumur 34 tahun
namanya Siska (bukan nama sebenarnya).
Keakraban ini bermula dengan seringnya kami saling bertelepon dan makan siang bersama
pada saat jam kantor (tentunya kami saling menjaga rahasia ini), dimana topik pembicaraan
berkisar mengenai soal pekerjaan, rumah tangga dan juga kadangkala masalah seks masing-
masing.
Perlu diketahui istri saya sangat kuno mengenai masalah seks, sedangkan Siska sangat
menyukai variasi dalam hal berhubungan seks dan juga open minded kalau berbicara
mengenai seks, juga kebetulan dikeluarga istri saya dia paling cantik dan sensual, sebagai
ilustrasi tingginya kurang lebih 165 cm, kulit putih mulus, hidung mancung, bibir agak
sedikit kelihatan basah serta ukuran dada 34 a.
Keakraban ini dimulai sejak tahun 1996 dan berlangsung cukup lama dan pada tahun 1997
sekitar Juni, pembicaraan kami lebih banyak mengarah kepada masalah rumah tangga,
dimana dia cerita tentang suaminya yang jarang sekali memperlihatkan perhatian, tanggung
jawab kepada dia dan anak-anak, bahkan dalam soal mencari nafkahpun Siska lebih banyak
menghasilkan daripada suaminya ditambah lagi sang suami terlalu banyak mulut alias
cerewet dan bertingkah polah bak orang kaya saja.

Menurut saya kehidupan ekonomi keluarga Siska memang agak prihatin walaupun tidak
dapat dikatakan kekurangan, tetapi boleh dikatakan Siskalah yang membanting tulang untuk
menghidupi keluarganya.
Disamping itu sang suami dengan lenggang keluyuran dengan teman-temannya baik pada
hari biasa maupun hari minggu dan Siska pernah mengatakan kepada saya bahwa lebih baik
suaminya pergi keluar daripada di rumah, karena kalau dia dirumah pusing sekali
mendengarkan kecerewetannya.

Saya menasihati dia agar sabar dan tabah menghadapi masalah ini, karena saya seringkali
juga menghadapi masalah yang kurang lebih sama dengannya hanya saja penekanannnya
berbeda dengan kakaknya.
Istri saya seringkali ngambek yang tidak jelas sebabnya dan bilamana itu terjadi seringkali
saya tidak diajak berbicara lama sekali.
Akhirnya Siska juga menceritakan keluhannya tentang masalah seks dengan suaminya,
dimana sang suami selalu minta jatah naik ranjang 2-3 kali dalam semingggu, tetapi Siska
dapat dikatakan hampir tidak pernah merasakan apa yang namanya orgasme/climax sejak
menikah sampai sekarang, karena sang suami lebih mementingkan kuantitas hubungan seks
ketibang kualitas.
Siska juga menambahkan sang suami sangat kaku dan tidak pernah mau belajar mengenai apa
yang namanya foreplay, walaupun sudah sering saya pinjami xxx film, jadi prinsip suaminya
langsung colok dan selesai dan hal itupun berlangsung tidak sampai 10 menit.
Siska lalu bertanya kepada saya, bagaimana hubungan saya dengan kakaknya dalam hal
hubungan seks, saya katakan kakak kamu kuno sekali dan selalu ingin hubungan seks itu
diselesaikan secepat mungkin, terbalik ya kata Siska.
Suatu hari Siska telepon saya memberitahukan bahwa dia harus pergi ke Bali ada penugasan
dari kantornya, dia menanyakan kepada saya apakah ada rencana ke Bali juga, karena dia
tahu kantor tempat saya bekerja punya juga proyek industri di Bali, pada awalnya saya agak
tidak berminat untuk pergi ke Bali, soalnya memang tidak ada jadwal saya pergi ke sana.
Namun dengan pertimbangan kasihan juga kalau dia seorang wanita pergi sendirian ditambah
lagi ‘ kan dia adik istri saya jadi tidak akan ada apa-apa, akhirnya saya mengiyakan untuk
pergi dengan Siska.
Pada hari yang ditentukan kita pergi ke Bali berangkat dari Jakarta 09.50, pada saat tiba di
Bali kami langsung menuju Hotel Four Season di kawasan Jimbaran, hotel ini sangat
bernuansa alam dan sangat romantis sekali lingkungannya, pada saat menuju reception desk
saya langsung menanyakan reservasi atas nama saya dan petugas langsung memberikan saya
2 kunci bungalow, pada saat itu Siska bertanya kepada saya, oh dua ya kuncinya, saya bilang
iya, soalnya saya takut lupa kalau berdekatan dengan wanita apalagi ini di hotel, dia
menambahkan ngapain bayar mahal-mahal satu bungalow saja ‘kan kita juga saudara pasti
engga akan terjadi apa-apa kok , lalu akhirnya saya membatalkan kunci yang satu lagi, jadi
kita berdua share 1 bungalow.
Saat menuju bungalow kami diantar dengan buggie car (kendaraan yang sering dipakai di
lapangan golf) mengingat jarak antara reception dengan bungalow agak jauh, didalam
kendaraan ini saya melihat wajah Siska , ya ampun cantik sekali dan hati saya mulai
bergejolak , sesekali dia melemparkan senyumnya kepada saya, pikiran saya, dasar suaminya
tidak tahu diuntung sudah dapat istri cantik dan penuh perhatian masih disia-siakan.
Di dalam bungalow kami merapikan barang dan pakaian kami saya menyiapkan bahan
meeting untuk besok sementara dia juga mempersiapkan bahan presentasi , pada saat saya
ingin menggantungkan jas saya tanpa sengaja tangan saya menyentuh buah dadanya karena
sama-sama ingin menggantungkan baju masing-masing, saya langsung bilang sorry ya Sis
betul saya tidak sengaja, dia bilang udah engga apa-apa anggap aja kamu dapat rejeki…. wow
wajahnya memerah tambah cantik dia.
Lalu kita nonton tv bareng filmya up close and personal, pada saat ada adegan ranjang saya
bilang sama Siska wah kalo begini terus saya bisa enggak tahan nih, lalu saya berniat
beranjak dari ranjang mau keluar kamar (kita nonton sambil setengah tiduran di ranjang), dia
langsung bilang mau kemana sini aja, engga usah takut deh sambil menarik tangan saya
lembut sekali seakan memohon agar tetap disisinya… ..selanjutnya kita cerita dan berandai-
andai kalau dulu kita sudah saling ketemu…dan kalau kita berdua menikah dan sebagainya..

Saya memberanikan diri bicara, Sis kamu koq cantik dan anggun sih, Siska menyahut nah
kan mulai keluar rayuan gombalnya, sungguh koq sih saya engga bohong, saya pegang
tangannya sambil mengelusnya, oww geli banget , Andry come on nanti saya bisa lupa nih
kalo kamu adalah suami kakak saya….biarin aja kata saya.

Perlahan tapi pasti tangan saya mulai merayap ke pundaknya terus membelai rambutnya
tanpa disangka dia juga mulai sedikit memeluk saya sambil membelai kepala dan rambut
saya…..akhirnya saya kecup keningnya dia bilang Andry kamu sungguh gentle sekali…uh
indahnya kalau dulu kita bisa menikah saya bilang abis kamunya sih udah punya
pacar…..berlanjut saya kecup juga bibirnya yang sensual dia juga membalas kecupan saya
dengan agresif sekali dan saya memakluminya karena saya yakin dia tidak pernah
diperlakukan sehalus ini….kami berciuman cukup lama dan saya dengar nada nafasnya mulai
tidak beraturan, tangan saya mulai merambat ke daerah sekitar buah dadanya…dia sedikit
kaget dan menarik diri walaupun mulut kami masih terus saling bertempur… ..
Kali ini saya masukkan tangan saya langsung ke balik bhnya dia menggelinjang saya
mainkan putingya yang sudah mulai mengeras dan perlahan saya buka kancing bajunya
dengan tangan saya yang kanan, setelah terbuka saya lepas bhnya wow betapa indah buah
dadanya ukurannya kurang lebih mirip dengan istri saya namun putingnya masih berwarna
merah muda mungkin karena dia tidak pernah menyusui putranya, Siska terhenyak sesaat
sambil ngomong, Andry koq jadi begini….Sis saya suka ama kamu, terus dia menarik diri…
saya tidak mau berhenti dan melepaskan kesempatan ini langsung saya samber lagi buah
dadanya kali ini dengan menggunakan lidah saya sapu bersih buah dada beserta
putingnya… .Siska hanya mendesah-desah sambil tangannya mengusap-ngusap kepala saya
dan saya rasakan tubuhnya semakin menggelinjang kegelian dan keringat mulai mengucur
dari badannya yang harum dan putih halus….
Lidah saya masih bermain diputingnya sambil menyedot-nyedot halus dia semakin
menggelinjang dan langsung membuka baju saya pada saat itu saya juga membuka kancing
roknya dan terlihat paha yang putih mulus nan merangsang, kita sekarang masing-masing
tinggal ber cd saja, tangan dia mulai membelai pundak dan badan saya, sementara itu lidah
saya mulai turun ke arah pangkah paha dia semakin menggelinjang, ow andry enak dan geli
sekali …..
perlahan saya turunkan cdnya, dia bilang andry jangan bilang sama siapa-siapa ya terutama
kakak saya….saya bilang emang saya gila kali, pake bilang-bilang kalo kita ………. setelah
cdnya saya turunkan saya berusaha untuk menjilat kelentitnya yang berwarna merah
menantang pada awalnya dia tidak mau, katanya saya belum pernah ……, nah sekarang
saatnya kamu mulai mencoba
lidah saya langsung menari-nari di kelentitnya dia meraung keras….oohhhhhhhh
andry ………enaaaaaaaa aaakkkkkkkkkkk sekali…..saya …saya enggak pernah merasakan
ini sebelumnya kamu pintar sekali sih……… ..terus saya jilat kelentit dan lubang
vaginanya… ..tidak berapa lama kemudian dia menjerit…. .auuuuuuuuwwww saya keluar
andry oooooooooooohhhhhhh hhenak sekali…..dia bangkit lalu menarik dengan keras cd
saya ….langsung dia samber kontol saya dan dilumatnya secara hot dan agresif sekali…..oh
nikmatnya… .terus terang istri saya tidak perah mau melakukan oral sex dengan saya……dia
terus memainkan lidahnya dengan lincah sementara tangan saya memainkan puting dan
kelentitnya. …tiba-tiba dia mengisap kontol saya keras sekali ternyata dia orgasme lagi……..
…dia lepaskan kontol saya, andry ayo dong masukin ke sini sambil menunjuk lobangnya
…..perlahan saya tuntun kontol saya masuk ke memeknya…. ..dia terpejam saat kontol saya
masuk ke dalam memeknya sambil dia tiduran dan mendesah-desah. …….ohhhhhhhh andry
biasanya suami saya sudah selesai dan saya belum merasakan apa-apa, tapi kini saya udah
dua kali keluar, kamu baru saja mulai…..waktu itu kami bercinta udah kurang lebih 30 menit
sejak dari awal kita bercumbu…. ……… ……… ..

Sekarang saya angkat ke dua kakinya ke atas lalu ditekuk, sehingga penetrasi dapat lebih
dalam lagi sambil saya sodok keluar masuk memeknya…. dia terpejam dan terus
menggelinjang dan bertambah liar dan saya tidak pernah menyangka orang seperti Siska yang
lemah lembuh ternyata bisa liar di ranjang,
dia menggelinjang terus tak keruan…… .uhhhhhhh andry saya keluar lagi…..saya angkat
perlahan kontol saya dan kita berganti posisi duduk , terus dia yang kini mengontrol jalannya
permainan ,…dia mendesah sambil terus menyebut ohh andry….ohhh andry dia naik turun
makin lama makin kencang sambil sekali-kali menggoyangkan pantatnya… ….tangannya
memegang pundak saya keras sekali..iiiiiiiiiii hhhhhhhhhhhh uuuuuuuuuhhhhhhhhhh hhhh
andry saya keluar lagi ……..kamu koq kuat sekali…… .come on andry keluarin dong saya
udah engga tahan nih,,,,,,,, biar aja kata saya…..saya mau bikin kamu keluar terus , kan kamu
bilang sama saya , kamu engga pernah orgasme sama suami kamu sekarang saya bikin kamu
orgasme terus……. .iya sih tapi ini betul-betul luar biasa andry,…… ……..ohhhhhhh hhhh
betapa bahagianya saya kalau bisa setiap hari begini sama kamu……ayo jangan ngaco ah
mana mungkin lagi, kata saya…
Saya bilang sekarang saya mau cobain doggy style, apa tuh katanya, ya ampun kamu engga
tau, engga tuh katanya, lalu saya pandu dia untuk menungging dan perlahan saya masukkan
kontol saya ke memeknya yang sudah banjir karena keluar terus, pada saat kontol saya sudah
masuk sempurna mulailah saya tusuk keluar masuk dan goyangin makin lama makin
kencang….. dia berteriak dan menggelinjang dan mengguncangkan tubuhnya…. ….andry.
…….aaaaaaaam mmmmmmmmmpuuuuuu uuuuuuunnnn dehhhhhhhhhhhhhhhhh hhhh saya
keluar lagi nih dan waktu itu saya juga udah mau keluar…… saya bilang nanti kalau saya
keluar maunya di mulut Siska, ah jangan Siska belum pernah dan kayaknya jijik deh………
cobain dulu ya…..akhirnya dia mengangguk.. ……… .
Tiba saatnya saya sudah mau orgasme saya cabut kontol saya dan sembari dia jongkok saya
arahkan kepala kontol saya ke mulutnya sambil tangan dia mengocok-ngocok kontol saya
dengan sangat bernafsu…. ..sis…. ……… …..udah mau keluar langsung kontol saya
dimasukkan ke dalam mulutnya engga lama lagi…..creetttttt tt creeeeeeeettttttttt ttt
crettttttttttttttt creeeeeeeeetttttttt ttttt, penuhlah mulut dia dengan sperma saya sampai
berceceran ke luar mulut dan jatuh di pipi dan buah dadanya.. dia terus menjilati kontol saya
sampai semua sperma saya kering saya tanya gimana sis enak enggak rasanya dia bilang not
bad……… ……… ……… ……… kita berdua tertidur sampai akhirnya kita bangun jam
21.30……. ……… ……… ………
Siska mengecup halus bibir saya…….. ..Andry, thanks a lot ………..saya benar-benar puas
sama apa yang kamu berikan kepada saya, walaupun ini hanya sekali saja pernah terjadi
dalam hidup saya……..
Posted in Cerita Dewasa | No Comments »
Mbak Anna Tetanggaku
Friday, December 19th, 2008

Namaku Andi mahasiswa di sebuah universitas terkenal di Surakarta. Di kampungku sebuah


desa di pinggiran kota Sragen ada seorang gadis, Ana namanya. Ana merupakan gadis yang
cantik, berkulit kuning dengan body yang padat didukung postur tubuh yang tinggi membuat
semua kaum Adam menelan ludah dibuatnya. Begitu juga dengan aku yang secara diam-diam
menaruh hati padanya walaupun umurku 5 tahun dibawahnya, tapi rasa ingin memiliki dan
nafsuku lebih besar dari pada mengingat selisih umur kami. Kebetulan rumah Mbak Ana
tepat berada di samping rumahku dan rumah itu kiranya tidak mempunyai kamar mandi di
dalamnya, melainkan bilik kecil yang ada di luar rumah. Kamar Mbak Ana berada di samping
kanan rumahku, dengan sebuah jendela kaca gelap ukuran sedang. Kebiasaan Mbak Ana jika
tidur lampu dalam rumahnya tetap menyala, itu kuketahui karena kebiasaan burukku yang
suka mengintip orang tidur, aku sangat terangsang jika melihat Mbak Ana sedang tidur dan
akhirnya aku melakukan onani di depan jendela kamar Mbak Ana.

Ketika itu aku pulang dari kuliah lewat belakang rumah karena sebelumnya aku membeli
rokok Sampurna A Mild di warung yang berada di belakang rumahku. Saat aku melewati
bilik Mbak Ana, aku melihat sosok tubuh yang sangat kukenal yang hanya terbungkus
handuk putih bersih, tak lain adalah Mbak Ana, dan aku menyapanya, “Mau mandi Mbak,”
sambil menahan perasaan yang tak menentu. “Iya Ndik, mau ikutan..” jawabnya dengan
senyum lebar, aku hanya tertawa menanggapi candanya. Terbersit niat jahat di hatiku,
perasaanku menerawang jauh membanyangkan tubuh Mbak Ana bila tidak tertutup sehelai
benangpun.
Niat itupun kulakukan walau dengan tubuh gemetar dan detak jantung yang memburu,
kebetulan waktu itu keadaan sunyi dengan keremangan sore membuatku lebih leluasa.
Kemudian aku mempelajari situasi di sekitar bilik tempat Mbak Ana mandi, setelah
memperkirakan keadaan aman aku mulai beroperasi dan mengendap-endap mendekati bilik
itu. Dengan detak jantung yang memburu aku mencari tempat yang strategis untuk mengintip
Mbak Ana mandi dan dengan mudah aku menemukan sebuah lubang yang cukup besar
seukuran dua jari. Dari lubang itu aku cukup leluasa menikmati kemolekan dan keindahan
tubuh Mbak Ana dan seketika itu juga detak jantungku berdetak lebih cepat dari sebelumnya,
tubuhku gemetar hingga kakiku terasa tidak dapat menahan berat badanku. Kulihat tubuh
yang begitu sintal dan padat dengan kulit yang bersih mulus begitu merangsang setiap nafsu
lelaki yang melihatnya, apalagi sepasang panyudara dengan ukuran yang begitu
menggairahkan, kuning langsat dengan puting yang coklat tegak menantang setiap lelaki.

Kemudian kupelototi tubuhnya dari atas ke bawah tanpa terlewat semilipun. Tepat di antara
kedua kaki yang jenjang itu ada segumpal rambut yang lebat dan hitam, begitu indah dan saat
itu tanpa sadar aku mulai menurunkan reitsletingku dan memegangi kemaluanku, aku mulai
membayangkan seandainya aku dapat menyetubuhi tubuh Mbak Ana yang begitu
merangsang birahiku. Terasa darahku mengalir dengan cepat dan dengusan nafasku semakin
memburu tatkala aku merasakan kemaluanku begitu keras dan berdenyut-denyut. Aku
mempercepat gerakan tanganku mengocok kemaluanku, tanpa sadar aku mendesah hingga
mengusik keasyikan Mbak Ana mandi dan aku begitu terkejut juga takut ketika melihat Mbak
Ana melirik lubang tempatku mengintipnya mandi sambil berkata, “Ndik ngintip yaaa…”
Seketika itu juga nafsuku hilang entah kemana berganti dengan rasa takut dan malu yang luar
biasa. Kemudian aku istirahat dan mengisap rokok Mild yang kubeli sebelum pulang ke
rumah, kemudian kulanjutkan kegiatanku yang terhenti sesaat.
Setelah aku mulai beraksi lagi, aku terkejut untuk kedua kalinya, seakan-akan Mbak Ana tahu
akan kehadiranku lagi. Ia sengaja memamerkan keindahan tubuhnya dengan meliuk-liukkan
tubuhnya dan meremas-remas payudaranya yang begitu indah dan ia mendesah-desah
kenikmatan. Disaat itu juga aku mengeluarkan kemaluanku dan mengocoknya kuat-kuat.
Melihat permainan yang di perlihatkan Mbak Ana, aku sangat terangsang ingin rasanya aku
menerobos masuk bilik itu tapi ada rasa takut dan malu. Terpaksa aku hanya bisa melihat dari
lubangtempatku mengintip.
Kemudian Mbak Ana mulai meraba-raba seluruh tubuhnya dengan tangannya yang halus
disertai goyangan-goyangan pinggul, tangan kanannya berhenti tepat di liang kewanitaannya
dan mulai mengusap-usap bibir kemaluannya sendiri sambil tangannya yang lain di
masukkan ke bibirnya. Kemudian jemari tangannya mulai dipermainkan di atas kemaluannya
yang begitu menantang dengan posisi salah satu kaki diangkat di atas bak mandi, pose yang
sangat merangsang kelelakianku. Aku merasa ada sesuatu yang mendesak keluar di
kemaluanku dan akhirnya sambil mendesah lirih, “Aahhkkkhh…” aku mengalami puncak
kepuasan dengan melakukan onani sambil melihat Mbak Ana masturbasi. Beberapa saat
kemudian aku juga mendengar Mbak Ana mendesah lirih, “Oohhh.. aaahh..” dia juga
mencapai puncak kenikmatannya dan akhirnya aku meninggalkan tempat itu dengan perasaan
puas.

Di suatu sore aku berpapasan dengan Mbak Ana.


“Sini Ndik,” ajaknya untuk mendekat, aku hanya mengikuti kemauannya, terbersit perasaan
aneh dalam benakku.
“Mau kemana sore-sore gini,” tanyanya kemudian.
“Mau keluar Mbak, beli rokok..” jawabku sekenanya.
“Di sini aja temani Mbak Ana ngobrol, Mbak Ana kesepian nih..” ajak Mbak Ana.
Dengan perlahan aku mengambil tempat persis di depan Mbak Ana, dengan niat agar aku
leluasa memandangi paha mulus milik Mbak Ana yang kebetulan cuma memakai rok mini
diatas lutut.
“Emangnya pada kemana, Mbak..” aku mulai menyelidik.
“Bapak sama Ibu pergi ke rumah nenek,” jawabnya sambil tersenyum curiga.
“Emang ada acara apa Mbak,” tanyaku lagi sambil melirik paha yang halus mulus itu ketika
rok mini itu semakin tertarik ke atas.
Sambil tersenyum manis ia menjawab, “Nenek sedang sakit Ndik, yaa… jadi aku harus
nunggu rumah sendiri.”
Aku hanya manggut-manggut.
“Eh… Ndik ke dalam yuk, di luar banyak angin,” katanya.
“Mbak punya CD bagus lho,” katanya lagi.
Tanpa menunggu persetujuanku ia langsung masuk ke dalam, menuju TV yang di atasnya ada
VCD player dan aku hanya mengikutinya dari belakang, basa-basi aku bertanya, “Filmnya
apa Mbak..”
Sambil menyalakan VCD, Mbak Ana menjawab, “Titanic Ndik, udah pernah nonton.”
Aku berbohong menjawab, “Belum Mbak, filmnya bagus ya..”
Mbak Ana hanya mengangguk mengiyakan pertanyaanku.
Setelah film terputar, tanpa sadar aku tertidur hingga larut malam dan entah mengapa Mbak
Ana juga tidak membangunkanku. Aku melihat arloji yang tergantung di dinding tembok di
atas TV menandakan tepat jam 10 malam. Aku menebarkan pandangan ke sekeliling ruangan
yang nampak sepi dan tak kutemui Mbak Ana. Pikiranku mulai dirasuki pikiran-pikiran yang
buruk dan pikirku sekalian tidur disini aja. Memang aku sering tidur di rumah teman dan
orang tuaku sudah hafal dengan kebiasaanku, akupun tidak mencemaskan jika orang tuaku
mencariku. Waktu berlalu, mataku pun tidak bisa terpejam karena pikiran dan perasaanku
mulai kacau, pikiran- pikiran sesat telah mendominasi sebagian akal sehatku dan terbersit niat
untuk masuk ke kamar Mbak Ana. Aku terkejut dan nafasku memburu, jantungku berdetak
kencang ketika melihat pintu kamar Mbak Ana terbuka lebar dan di atas tempat tidur tergolek
sosok tubuh yang indah dengan posisi terlentang dengan kaki ditekuk ke atas setengah lutut
hingga kelihatan sepasang paha yang gempal dan di tengah selakangan itu terlihat dengan
jelas CD yang berwarna putih berkembang terlihat ada gundukan yang seakan-akan penuh
dengan isi hingga mau keluar.
Nafsu dan darah lelakiku tidak tertahan lagi, kuberanikan mendekati tubuh yang hanya
dibungkus dengan kain tipis dan dengan perlahan kusentuh paha yang putih itu, kuusap dari
bawah sampai ke atas dan aku terkejut ketika ada gerakan pada tubuh Mbak Ana dan aku
bersembunyi di bawah kolong tempat tidur. Sesaat kemudian aku kembali keluar melihat
keadaan dan posisi tidur Mbak Ana yang menambah darah lelakiku berdesir hebat, dengan
posisi kaki mengangkang terbuka lebar seakan-akan menantang supaya segera dimasuki
kemaluan laki-laki.
Aku semakin berani dan mulai naik ke atas tempat tidur, tanpa pikir panjang aku mulai
menjilati kedua kaki Mbak Ana dari bawah sampai ke belahan paha tanpa terlewat semilipun.
Seketika itu juga ia menggelinjang kenikmatan dan aku sudah tidak mempedulikan rasa takut
dan malu terhadap Mbak Ana. Sampai di selangkangan, aku merasa kepalaku dibelai kedua
tangan yang halus dan akupun tidak menghiraukan kedua tangan itu. Lama-kelamaan tangan
itu semakin kuat menekan kepalaku lebih masuk lagi ke dalam kemaluan Mbak Ana yang
masih terbukus CD putih itu. Dia menggoyang-goyangkan pantatnya, tanpa pikir panjang aku
menjilati bibir kemaluannya hingga CD yang semula kering menjadi basah terkena cairan
yang keluar dari dalam liang kewanitaan Mbak Ana dan bercampur dengan air liurku.
Aku mulai menyibak penutup liang kewanitaan dan menjilati bibir kemaluan Mbak Ana yang
memerah dan mulai berlendir hingga Mbak Ana terbangun dan tersentak. Secara refleks dia
menampar wajahku dua kali dan mendorong tubuhku kuat-kuat hingga aku tersungkur ke
belakang dan setelah sadar ia berteriak tidak terlalu keras, “Ndik kamu ngapaiiin…” dengan
gemetar dan perasaan yang bercampur aduk antara malu dan takut, “Maafkan aku Mbak, aku
lepas kontrol,” dengan terbata-bata dan aku meninggalkan kamar itu. Dengan perasaan berat
aku menghempaskan pantatku ke sofa biru yang lusuh. Sesaat kemudian Mbak Ana
menghampiriku, dengan tergagap aku mengulangi permintaan maafku, “Ma..ma..afkan… aku
Mbak..” Mbak Ana cuma diam entah apa yang dipikirkan dan dia duduk tepat di sampingku.
Beberapa saat keheningan menyelimuti kami berdua dan kamipun disibukkan dengan pikiran
kami masing-masing sampai tertidur.
Pagi itu aku bangun, kulihat Mbak Ana sudah tidak ada lagi di sisiku dan sesaat kemudian
hidungku memcium aroma yang memaksa perutku mengeluarkan gemuruh yang hebat. Mbak
Ana memang ahli dibidang masak. Tiba-tiba aku mendengar bisikan yang merdu memanggil
namaku, “Ndik ayo makan dulu, Mbak udah siapin sarapan nih,” dengan nada lembut yang
seolah-olah tadi malam tidak ada kejadian apa-apa. “Iya Mbak, aku cuci muka dulu,” aku
menjawab dengan malas.
Sesaat kemudian kami telah melahap hidangan buatan Mbak Ana yang ada di atas meja,
begitu lezatnya masakan itu hingga tidak ada yang tersisa, semua kuhabiskan. Setelah itu
seperti biasa, aku menyalakan rokok Mild kesayanganku, “Ndik maafkan Mbak tadi malam
ya,” Mbak Ana memecah keheningan yang kami ciptakan.
“Harusnya aku tidak berlaku kasar padamu Ndik,” tambahnya.
Aku jadi bingung dan menduga-duga apa maksud Mbak Ana, kemudian akupun menjawab,
“Seharusnya aku yang meminta maaf pada Mbak, aku yang salah,” kataku dengan
menundukkan kepala.
“Tidak Ndik.. aku yang salah, aku terlalu kasar kepadamu,” bisik Mbak Ana.
Akupun mulai bisa menangkap kemana arah perkataan Mbak Ana.
“Kok bisa gitu Mbak, kan aku yang salah,” tanyaku memancing.
“Nggak Ndik.. aku yang salah,” katanya dengan tenang, “Karena aku teledor, tapi nggak pa-
pa kok Ndik.”
Aku terkejut mendengar jawaban itu.
“Ndik, Mbak Ana nanya boleh nggak,” bisik Mbak Ana mesra.
Dengan senyum mengembang aku menjawab, “Kenapa tidak Mbak.”
Dengan ragu-ragu Mbak Ana melanjutkan kata-katanya, “Kamu udah punya pacar Ndik..”
suara itu pelan sekali lebih mirip dengan bisikan.
“Dulu sih udah Mbak tapi sekarang udah bubaran.” Kulihat ada perubahan di wajah Mbak
Ana.
“Kenapa Ndik,” dan akupun mulai bercerita tentang hubunganku dengan Maria teman SMP-
ku dulu yang lari dengan laki-laki lain beberapa bulan yang lalu, Mbak Ana pun
mendengarkan dengan sesekali memotong ceritaku.
“Kalo Mbak Ana udah punya cowok belum,” tanyaku dengan berharap.
“Belum tuh Ndik, lagian siapa yang mau sama perawan tua seperti aku ini,” jawabnya dengan
raut wajah yang diselimuti mendung.
“Kamu nggak cari pacar lagi Ndik,” sambung Mbak Ana.
Dengan mendengus pelan aku menjawab, “Aku takut kejadian itu terulang, takut kehilangan
lagi.”
Dengan senyum yang manis dia mendekatiku dan membelai rambutku dengan mesra,
“Kasian kamu Andi..” lalu Mbak Ana mencium keningku dengan lembut, aku merasa ada
sepasang benda yang lembut dan hangat menempel di punggungku. Sesaat kemudian
perasaanku melayang entah kemana, ada getaran asing yang belum pernah kurasakan selama
ini.

“Ndik boleh Mbak jadi pengganti Maria,” bisik Mbak Ana mesra.
Aku bingung, perasaanku berkecamuk antara senang dan takut, “Andik takut Mbak,”
jawabku lirih.
“Mbak nggak akan meninggalkanmu Ndik, percayalah,” dengan kecupan yang lembut.
“Bener Mbak, Mbak Ana berani sumpah tidak akan meninggalkan Andik,” bisikku spontan
karena gembira.
Mbak Ana mengangguk dengan senyumnya yang manis, kamipun berpelukan erat seakan-
akan tidak akan terpisahkan lagi.
Setelah itu kami nonton Film yang banyak adegan romantis yang secara tidak sadar membuat
kami berpelukan, yang membuat kemaluanku berdiri. Entah disengaja atau tidak, kemudian
Mbak Ana mulai merebahkan kepalanya di pangkuanku dan aku berusaha menahan nafsuku
sekuat mungkin tapi mungkin Mbak Ana mulai menyadarinya.
“Ndik kok kamu gerak terus sih capek ya.”
Dengan tersipu malu aku menjawab, “Eh… nggak Mbak, malah Andik suka kok.”
Mbak Ana tersenyum, “Tapi kok gerak-gerak terus Ndik..”
Aku mulai kebingungan, “Eh.. anu kok.”
Mbak Anak menyahut, “Apaan Ndik, bikin penasaran aja.”
Kemudian Mbak Ana bangun dari pangkuanku dan mulai memeriksa apa yang bergerak di
bawah kepalanya dan iapun tersenyum manis sambil tertawa, “Hii.. hii.. ini to tadi yang
bergerak,” tanpa canggung lagi Mbak Ana membelai benda yang sejak tadi bergerak-gerak di
dalam celanaku dan aku semakin tidak bisa menahan nafsu yang bergelora di dalam dadaku.
Kuberanikan diri, tanganku membelai wajahnya yang cantik dan Mbak Ana seperti
menikmati belaianku hingga matanya terpejam dan bibirnya yang sensual itu terbuka sedikit
seperti menanti kecupan dari seorang laki-laki. Tanpa pikir panjang, kusentuhkan bibirku ke
bibir Mbak Ana dan aku mulai melumat habis bibir yang merah merekah dan kami saling
melumat bibir. Aku begitu terkejut ketika Mbak Ana memainkan lidahnya di dalam mulutku
dan sepertinya lidahku ditarik ke dalam mulutnya, kemudian tangan kiri Mbak Ana
memegang tanganku dan dibimbingnya ke belahan dadanya yang membusung dan tangan
yang lain sedari tadi asyik memainkan kemaluanku. Akupun mulai berani meremas-remas
buah dadanya dan Mbak Anapun menggelinjang kenikmatan, “Te..rus… Ndik aaahh…”
Kemudian dengan tangan yang satunya lagi kuelus dengan lembut paha putih mulus Mbak
Ana, semakin lama semakin ke atas.
Tiba-tiba aku dikejutkan tangan Mbak Ana yang semula ada di luar celana dan sekarang
sudah mulai berani membuka reitsletingku dan menerobos masuk meremas-remas buah
zakarku sambil berkata, “Sayang.. punyamu besar juga ya..” Akupun mulai berani
mempermainkan kemaluan Mbak Ana yang masih terbungkus CD dan iapun semakin
menggeliat seperti cacing kepanasan, “Aaahh lepas aja Ndik..” Sesaat kemudian CD yang
melindungi bagian vital Mbak Ana sudah terhempas di lantai dan akupun mulai
mempermainkan daging yang ada di dalam liang senggama Mbak Ana. “Aaahhh enak, enak
Ndik masukkan aja Ndik,” jariku mulai masuk lebih dalam lagi, ternyata Mbak Ana sudah
tidak perawan lagi, miliknya sudah agak longgar dan jariku begitu mudahnya masuk ke liang
kewanitaannya.
Satu demi satu pakaian kami terhempas ke lantai sampai tubuh kami berdua polos tanpa
selembar benang pun. Mbak Ana langsung memegang batang kemaluanku yang sudah
membesar dan tegak berdiri, kemudian langsung diremas-remas dan diciumnya. Aku hanya
bisa memejamkan mata merasakan kenikmatan yang diberikan Mbak Ana saat bibir yang
lembut itu mengecup batang kemaluanku hingga basah oleh air liurnya yang hangat. Lalu
lidah yang hangat itu menjilati hingga menimbulkan kenikmatan yang tak dapat
digambarkan. Tidak puas menjilati batang kemaluanku, Mbak Ana memasukkan batang
kemaluanku ke mulutnya yang sensual itu hingga amblas separuhnya, secara refleks
kugoyangkan pantatku maju mundur dengan pelan sambil memegangi rambut Mbak Ana
yang hitam dan lembut yang menambah gairah seksualku dan aroma harum yang membuatku
semakin terangsang.
Setelah puas, Mbak Ana menghempaskan pantatnya di sofa. Akupun paham dan dengan
posisi kaki Mbak Ana mengangkang menginjak kedua pundakku, aku langsung mencium
paha yang jenjang dari bawah sampai ke atas. Mbak Ana menggelinjang keenakan,
“Aaahhh…” desahan kenikmatan yang membuatku tambah bernafsu dan langsung bibir
kemaluannya yang merah merekah itu kujilati sampai basah oleh air liur dan cairan yang
keluar dari liang kenikmatan Mbak Ana.
Mataku terbelalak saat melihat di sekitar bibir kenikmatan itu ditumbuhi bebuluan yang halus
dan lebat seperti rawa yang di tengahnya ada pulau merah merekah. Tanganku mulai beraksi
menyibak kelebatan bebuluan yang tumbuh di pinggir liang kewanitaan, begitu indah dan
merangsangnya liang sorga Mbak Ana ketika klitoris yang memerah menjulur keluar dan
langsung kujilati hingga Mbak Ana meronta-ronta kenikmatan dan tangan Mbak Ana
memegangi kepalaku serta mendorong lebih ke dalam kedua pangkal pahanya sambil
menggoyanggoyangkan pinggulnya hingga aku kesulitan bernafas. Tanganku yang satunya
meremas-remas dan memelintir puting susu yang sudah mengeras hingga menambah
kenikmatan bagi Mbak Ana.
“Ndik.. udah… aaahhh, masukin.. ajaaa.. ooohh…” aku langsung berdiri dan siap-siap
memasukkan batang kemaluanku ke lubang senggama Mbak Ana. Begitu menantang posisi
Mbak Ana dengan kedua kaki mengangkang hingga kemaluannya yang merah mengkilat dan
klitorisnya yang menonjol membuatku lebih bernafsu untuk meniduri tubuh Mbak Ana yang
seksi dan mulus itu. Perlahan namun pasti, batang kemaluanku yang basah dan tegak
kumasukkan ke dalam liang kewanitaan yang telah menganga menantikan kenikmatan
sorgawi. Setelah batang kemaluanku terbenam kami secara bersamaan melenguh kenikmatan,
“Aaahh…” dan mulai kugoyangkan perlahan pinggulku maju mundur, bagaikan terbang ke
angkasa kenikmatan tiada tara kami reguk bersama. Bibir kamipun mulai saling memagut dan
lidah Mbak Ana mulai bermain-main di dinding rongga mulutku, begitu nikmat dan hanggat.
Liang senggama Mbak Ana yang sudah penuh dengan lendir kenikmatan itupun mulai
menimbulkan suara yang dapat meningkatkan gairah seks kami berdua. Tubuh kamipun
bermandikan keringat.
Tiba-tiba terdengar teriakan memanggil Mbak Ana. “Aaaan… Anaaa..” Kami begitu terkejut,
bingung dan grogi dengan bergegas kami memungut pakaian yang berserakan di lantai dan
memakainya. Tanpa sadar kami salah ambil celana dalam, aku memakai CD Mbak Ana dan
Mbak Ana juga memakai CD-ku. Kemudian aku keluar dari pintu belakang dan Mbak Ana
membukakan pintu untuk bapak dan ibunya.
Keesokan harinya aku baru berniat mengembalikan CD milik Mbak Ana dan mengambil CD-
ku yang kemarin tertukar. Aku berjalan melewati lorong sempit diantara rumahku dan rumah
Mbak Ana. Kulihat Mbak Ana sedang mencuci pakaian di dekat sumur belakang rumahku.
Setelah keadaan aman, aku mendekati Mbak Ana yang asyik mencuci pakaian termasuk CD-
ku yang kemarin tertukar. Sambil menghisap rokok sampurna A Mild, “Mbak nih CD-nya
yang kemarin tertukar,” sambil duduk di bibir sumur, sekilas kami bertatap muka dan
meledaklah tawa kami bersamaan, “Haa.. Haaaa…” mengingat kejadian kemarin yang sangat
menggelikan. Setelah tawa kami mereda, aku membuka percakapan, “Mbak kapan main lagi,
kan kemarin belum puas.” Dengan senyum yang manis, “Kamu mau lagi Ndik, sekarang juga
boleh..” Aku jadi terangsang sewaktu posisi Mbak Ana membungkuk dengan mengenakan
daster tidur dan dijinjing hinggga di atas lutut. “Emang ibu Mbak Ana sudah berangkat ke
sawah, Mbak,” sambil menempelkan kemaluanku yang mulai mengeras ke pantat Mbak Ana.
“Eh…eh jangan disini Ndik, entar diliat orang kan bisa runyam.”
Kemudian Mbak Ana mengajakku masuk ke kamar mandi, sesaat kemudian di dalam kamar
mandi kami sudah berpelukan dan seperti kesetanan aku langsung menciumi dan menjilati
leher Mbak Ana yang putih bersih. “Ohhh nggak sabaran baget sih Ndik,” sambil melenguh
Mbak Ana berbisik lirih. “Kan kemaren terganggu Mbak.” Setelah puas mencium leher aku
mulai mencium bibir Mbak Ana yang merah merekah, tanganku pun mulai meremas-remas
kedua bukit yang mulai merekah dan tangan yang satunya lagi beroperasi di bagian kemaluan
Mbak Ana yang masih terbungkus CD yang halus dan tangan Mbak Ana pun mulai
menyusup di dalam celanaku, memainkan batang kemaluanku yang mulai tegak dan
berdenyut.
Sesaat kemudian pakaian kami mulai tercecer di lantai kamar mandi hingga tubuh kami polos
tanpa sehelai benangpun. Tubuh Mbak Ana yang begitu seksi dan menggairahkan itu mulai
kujilati mulai dari bibir turun ke leher dan berhenti tepat di tengah kedua buah dada yang
ranum dengan ukuran yang cukup besar. Kemudian sambil meremas-remas belahan dada
yang kiri puting susu yang kecoklatan itu kujilati hingga tegak dan keras. “Uhhh.. ahhh.. terus
Ndik,” Mbak Ana melenguh kenikmatan ketika puting susu yang mengeras itu kugigit dan
kupelintir menggunakan gigi depanku. “Aaahhh.. enak Mbak..” Mbak Anapun mengocok dan
meremas batang kemaluanku hingga berdenyut hebat.
Kemudian aku duduk di bibir bak mandi dan Mbak Ana mulai memainkan batang
kemaluanku dengan cara mengocoknya. “Ahhh.. uhhhhh..” tangan yang halus itu kemudian
meremas buah zakarku dengan lembut dan bibirnya mulai menjilati batang kemaluanku.
Terasa nikmat dan hangat ketika lidah Mbak Ana menyentuh lubang kencing dan
memasukkan air liurnya ke dalamnya. Setelah puas menjilati, bibir Mbak Ana mulai
mengulum hingga batang kemaluanku masuk ke dalam mulutnya. “Aahhh… uuuhhff…”
lidah Mbak Ana menjilat kemaluanku di dalam mulutnya, kedua tanganku memegangi
rambut yang lembut dan harum yang menambah gairah sekaligus menekan kepala Mbak Ana
supaya lebih dalam lagi hingga batang kemaluanku masuk ke mulutnya.
“Gantian dong Ndik,” Mbak Ana mengiba memintaku bergantian memberi kenikmatan
kepadanya. Kemudian aku memainkan kedua puting susu Mbak Ana, mulutku mulai
bergerak ke bawah menuju selakangan yang banyak ditumbuhi bebuluan yang halus dan
lebat. Mbak Anapun tanpa dikomando langsung mengangkangkan kedua kakinya hingga
kemaluannya yang begitu indah merangsang setiap birahi laki-laki itu kelihatan dan
klitorisnya yang kemerahan menonjol keluar, akupun menjilati klitoris yang kemerahan itu
hingga berlendir dan membasahi bibir kemaluan Mbak Ana. “Aaahhh… aaahh… terus…
enak..” Mbak Ana menggelinjang hebat dengan memegangi kepalaku, kedua tangannya
menekan lebih ke dalam lagi.
Setelah liang kenikmatan bak Ana mulai basah dengan cairan yang mengkilat dan bercampur
dengan air liur, kemudian aku memasukkan kedua jariku ke dalam liang kewanitaan Mbak
Ana dan kumainkan maju mundur hingga Mbak Ana menggelinjang hebat dan tidak tahan
lagi. “Ndik.. ooohh.. ufff cepetan masukin aja..” Dengan posisi berdiri dan sebelah kaki
dinaikkan ke atas bibir bak mandi, Mbak Ana mulai menyuruh memasukkan batang
kemaluanku ke liang senggamanya yang sejak tadi menunggu hujaman kemaluanku.
Kemudian aku memegang batang kemaluanku dan mulai memasukkan ke liang kewanitaan
Mbak Ana. “Aahhh…” kami bersamaan merintih kenikmatan, perlahan kuayunkan pinggulku
maju mundur dan Mbak Ana mengikuti dengan memutar-mutar pinggulnya yang
mengakibatkan batang kemaluanku seperti disedot dan diremas daging hidup hingga
menimbulkan kenikmatan yang tiada tara. Kemudian kuciumi bibir Mbak Ana dan kuremas
buah dadanya yang montok hingga Mbak Ana memejamkan matanya menahan kenikmatan.
“Ahhh… uhhh…” Mbak Ana melenguh dan berbisik, “Lebih kenceng lagi Ndik.” Kemudian
aku lebih mempercepat gerakan pantatku hingga menimbulkan suara becek, “Jreb.. crak..
jreb.. jreb…” suara yang menambah gairah dalam bermain seks hingga kami bermandikan
keringat.
Setelah bosan dengan posisi seperti itu, Mbak Ana mengubah posisi dengan membungkuk,
tangannya berpegangan pada bibir bak mandi kemudian aku memasukkan batang
kemaluanku dari belakang. Terasa nikmat sekali ketika batang kemaluanku masuk ke liang
senggama Mbak Ana. Terasa lebih sempit dan terganjal pinggul yang empuk. Kemudian
tanganku memegangi leher Mbak Ana dan tangan yang lain meremas puting susunya yang
bergelantungan. “Uuuhhh… ahhh enak Ndik,” dan aku semakin mempercepat gerakan
pantatku. “Uuuhhh.. uuuhhh Ndik, Mbak mau keluar,” akupun merasakan dinding kemaluan
Mbak Ana mulai menegang dan berdenyut begitu juga batang kemaluanku mulai berdenyut
hebat. “Uuuhhhk.. aahh.. aku juga Mbak..” Kemudian tubuh Mbak Ana mengejang dan
mempercepat goyangan pinggulnya lalu sesaat kemudian dia mencapai orgasme, “Aaahh…
uuuhh…” Terasa cairan hangat membasahi batang kemaluanku dan suara decakan itupun
semakin membecek “Jreeb… crak… jreb..” Akupun tak tahan lagi merasakan segumpalan
sesuatu akan keluar dari lubang kencingku. “Aaahhh… ooohhh… Mbak Anaaa…” Terasa
tulang-tulangku lepas semua, begitu capek. Akupun tetap berada di atas tubuh sintal Mbak
Ana. Kemudian kukecup leher dan mulut Mbak Ana, “Makasih Mbak, Mbak Ana memang
hebat..” Mbak Anapun cuma tersenyum manis.
Posted in Cerita Dewasa | No Comments »
Pemerkosaan yang Fantastis
Tuesday, December 16th, 2008

Suatu saat suamiku harus meneruskan S2nya ke luar negeri untuk tugas perusahaan. Aku
mengantar kepergian suamiku sampai di bandara. Demikian sejak itu, aku harus
membiasakan hidupnya dengan jadwal tugas suamiku, suatu hari menjelang sore hari, setelah
menyediakan makan malam di atas meja, yang pada saat ini harus disiapkan sendiri, sebab
pembantuku sedang pulang kampung, karena mendadak ada keluarga dekatnya di kampung
yang sakit berat.
John, teman suamiku yang orang Italy pada waktu mereka sekolah di Inggris bersama, sedang
mendapat tugas di Indonesia sementara ini tinggal dirumah. Telah hampir satu bulan John
tinggal bersama kami, istrinya tetap berada di Italy. Seperti biasanya setelah selesai makan
bersama, aku kembali kekamar dan karena udara diluar terasa panas aku ingin mengambil
shower lalu aku mengambil handuk dan masuk ke kamar mandi untuk berpancur.
Letak kamar mandi menyambung dengan kamar tidurnya. Setelah selesai mandi, aku
mengeringkan tubuhku dan dengan hanya membungkus tubuhku dengan handuk mandi, aku
membuka pintu kamar mandi dan masuk ke dalam kamar tidurku. Disudut seberang kamar
tidur yang tidak tertutup pintunya terlihat John sedang santai dikamarnya, rupanya dia telah
selesai makan dan masuk ke kamarnya untuk nonton TV memang dia lebih senang di dalam
kamar yang lantainya dilapisi karpet tebal dan udaranya dingin oleh AC.

Dengan masih dililit handuk, aku duduk di depan meja rias untuk mengeringkan dan bersisir
rambut. Pada saat itu John kulihat dari cerminku mendadak bangkit dari tempat duduknya
dan berjalan mondar mandir di dalam ruangan kamarnya, terlihat malam ini John agak
gelisah, tidak seperti biasa yang selalu menutup pintu kamarnya, malam ini dia mondar
mandir dan sekali-sekali matanya yang biru kecoklatan melihat ke arahku yang sedang duduk
menyisir rambutku.
Melihat John seperti itu, aku bangkit berdiri dan berjalan menuju pintu untuk menutup pintu
kamarku, aku sempat melihat John tersenyum padaku sambil berkata, “Hai Hesty kau cantik
sekali malam ini..!”.
Tiba tiba John langsung berdiri melintas kamarnya, tanpa aba-aba salah satu kakinya
menahan pintu kamarku lalu tangannya yang kekar mencoba menggapai pinggangku, tercium
olehku bau alkohol dari mulutnya rupanya John baru saja minum whisky, “..John, sadar.. aku
Hesty istri temanmu..!”
John bisa bicara dalam bahasa Indonesia, aku mencoba berbalik dan karena eratnya
pegangannya di pinggangku, aku terhuyung-huyung dan aku jatuh telentang di lantai yang
dilapisi karpet tebal. Kedua kakiku terpentang lebar, sehingga handuk yang tadinya menutupi
bagian bawahku tersingkap, yang mengakibatkan bagian bawahku terbuka polos terlihat
bagian pahaku yang putih mulus masih agak basah karena belum sempat kering dengan betul.
Rupanya minuman keras sangat mempengaruhi pikiran John yang sudah begitu lama tidak
kencan dengan wanita, John dengan cepat berjalan ke arahku yang sedang telentang di lantai
dan sekarang jongkok diantara kedua kakiku yang terbuka lebar itu. Dengan cepat kepalanya
telah berada diantara pangkal pahaku dan tiba-tiba terasa lidahnya yang kasar dan basah itu
mulai menjilati pahaku, hal ini menimbulkan perasaan yang sangat geli. Aku mencoba
menarik badannya ke atas untuk menghindari serbuannya pada pahaku, akan tetapi tangannya
begitu kekar tubuhnya terlihat besar dan atletis menahan tubuhku.
John menunjukan matanya yang jalang, yang membuat aku ketakutan sehingga badanku
terdiam dengan kaku. Kedua matanya melotot dengan buas melihat ke arah selangkanganku,
kepalanya berada diantara kedua pahaku. Jilatannya makin naik ke atas dan tiba-tiba badanku
menjadi kejang ketika bibir John itu terasa menyentuh pinggir dari belahan bibir kemaluanku
dari bawah terus naik ke atas dan akhirnya badanku terasa meriang ketika lidah John yang
besar basah dan kasar itu menyentuh klitorisku dan menggesek dengan suatu jilatan yang
panjang, yang membuat aku terasa terbang melayang-layang bagaikan layang-layang putus
ditiup angin.
“..Aaarrgghh..!” tak terasa keluar keluhan panjang dari mulutku.
Tubuhku terus bergetar-getar seperti orang kena setrum dan mataku terbeliak melihat kearah
lidah John yang bolak balik menyapu belahan bibir kemaluanku dan dengan tanpa kusadari
kedua pahaku makin kubuka lebar, memberikan peluang yang makin besar pada lidah John
bermain-main pada belahan kemaluanku. Dengan tak dapat ditahan lagi, cairan pelumas
mulai membanjiri keluar dari dalam kemaluanku dan dari cairan ini makin membuat John
makin giat memainkan lidahnya terus menyapu dari bawah ke atas, mulai dari permukaan
lubang anusku naik terus menyapu belahan bibir vaginaku sampai pada puncaknya yaitu pada
klitorisku.
Ohhh… ssshh… gilaa.. aku dibuat melayang..! dengan cepat vaginaku menjadi basah kuyup
oleh cairan birahi yang keluar terus menerus dari dalam vaginaku. Sejenak aku seakan-akan
lupa diri, terbawa oleh nafsu birahi yang melanda..! akan tetapi pada saat berikut aku baru
sadar akan situasi yang menimpaku.
“Aduuuhh benar-benar gila ini, aku terbuai oleh nafsu karena sentuhan seorang laki laki
bule.. aaahh.. tidak.. tidak bisa ini terjadi!”, dengan cepat aku menarik tubuhku dan mencoba
bergulir membalik badan untuk bisa meloloskan diri dari John.
Dengan membalik badan, sekarang aku merangkak dengan kedua tangan dan lutut dan
rupanya ini suatu gerakan yang salah yang berakibat sangat sangat fatal bagiku karena
dengan tiba-tiba terasa sesuatu tenaga yang besar menahan pinggangku dan ketika masih
dalam keadaan merangkak itu aku menoleh kepalaku ke belakang, terlihat John dengan kedua
tangannya merangkul pinggangku dan kepalanya mendekap punggungku tangannya mencoba
menarik handuk yang hanya tinggal separoh melilit badanku, badannya yang berat itu
menekan tubuhku.
Aku mencoba merangkak maju dan berpegang pada tepi tempat tidur untuk mencoba berdiri,
akan tetapi tiba-tiba John menekan badannya yang beratnya hampir 80 Kg itu sehingga
posisiku yang sudah setengah berlutut, karena beratnya badan John, akhirnya aku tersungkur
ke tempat tidur dengan posisi berlutut di pinggir tempat tidur dan separuh badan tertelungkup
di atas tempat tidur, di mana badan John menindih badanku. Kedua kaki John berlutut sambil
bertumpu di lantai diantara kedua pahaku yang agak terkangkang dan karena posisi badanku
yang tertelungkup itu, akhirnya handuk yang setengah melilit dan menutupi badanku lepas,
sehingga seluruh tubuhku terbuka telanjang dengan lebar. Terdengar John mendesah melihat
pinggangku yang ramping serta bongkahan pantatku yang bulat menonjol.
“..Oh..Hesty tak kusangka kau begitu sexy..!” Tubuh John makin dirapatkan ketubuhku,
sehingga terasa pantatku tergesek oleh kedua pahanya yang besar dan berbulu.
Dalam usaha merenggangkan kedua kakiku, tangan John bergerak-gerak di selangkanganku
dan tanpa dapat dihindari bagian bawah vaginaku tergesek-gesek oleh jari jarinya yang besar
besar itu. Bagai terkena aliran listrik aku menjerit, “Ouch..! ..Jooohn.. jaaangaaan..!”
Aku mencoba melawannya, tetapi kedua tanganku tidak dapat digerakkan karena terhimpit
diantara badanku sendiri. Tiba-tiba aku merasakan ada suatu benda kenyal, bulat panas
terhimpit pada belahan pantatku dan tiba-tiba aku menyadari akan bahaya yang akan
menimpaku, John rupanya sudah mulai beraksi dengan menggesek-gesekan batang
kemaluannya pada belahan kenyal pantatku.
“Auooohh.. John.. stopp..! pleasee.. aach..!” dengan panik aku mencoba menyuruhnya
berhenti melakukan aksinya, akan tetapi seruan itu tidak dipedulikan oleh John malahan
sekarang terasa gerakan-gerakan menusuk nusuk benda tersebut pada belahan bongkahanku
mula-mula perlahan dan semakin lama semakin gencar saja. Aku menoleh ke kanan, ke arah
kaca besar lemari yang persis berada di samping kanan tempat tidur, terlihat batang kemaluan
orang asing tersebut telah tegang dan ya ampun.. besaaar sekali..! dan terlihat batang
kemaluannya yang merah berurat bagai sosis besar dengan ujungnya berbentuk agak bulat
sedang menggesek gesek bagian pantatku. Rupanya Orang asing ini sudah sangat terangsang
dan sekarang dia sedang berusaha memperkosaku. Aku benar-benar menjadi panik,
bagaimana tidak.. aku akan diperkosa oleh teman suamiku yang tampak sedang kesetanan
oleh nafsu birahinya.
Tanpa kusadari sodokan-sodokan batang kemaluan John semakin gencar saja, sehingga aku
yang melihat melalui cermin gerakan pantat bule yang bahenol pahanya yang kekar benar-
benar membuatku terpana karena gerakan tekanan-tekanan ke depan pantatnya benar-benar
sangat cepat dan gencar, terasa sekarang serangan-serangan kepala batang kemaluannya
tersebut mulai menimbulkan perasaan geli pada belahan pantatku dan kadang-kadang ujung
batang kemaluannya menyentuh dengan cepat lubang anusku, menimbulkan perasaan geli
yang amat sangat.
Terlihat kedua kakinya melangkah ke depan, sehingga sekarang kedua pahanya yang berbulu
memepeti kedua pahaku dan gerakan tekanan dan cocolan-cocolan kepala batang
kemaluannya mulai terarah menyentuh bibir kemaluanku, aku menjadi bertambah panik,
disamping perasaan yang mulai terasa tidak menentu, karena sodokan-sodokan kepala batang
kemaluan John menimbulkan perasaan geli dan mulai membangkitkan nafsu birahiku yang
sama sekali aku tidak kehendaki.
Akhirnya dengan suatu gerakan dan tekanan yang cepat, John mendorong pantatnya ke depan
dengan kuat, sehingga kemaluannya yang telah terjepit diantara bibir kemaluanku yang
memang telah basah kuyup dan licin itu, akhirnya terdorong masuk dengan kuat dan
terbenam ujung kemaluannya kedalam vaginaku, diikuti dengan jeritan panjang kepedihan
yang keluar dari mulutku.
“Aduuuhh..!” kepalaku tertengadah ke atas dengan mata yang melotot serta mulut yang
terbuka megap-megap kehabisan udara serta kedua tangan mencengkeram dengan kuat pada
kasur. Akan tetapi John, tanpa memberikan kesempatan padaku untuk berpikir dan menyadari
keadaan yang sedang terjadi, dengan cepat mulai memompa batang kemaluannya dengan
gerakan-gerakan yang beringas, tanpa mengenal kasihan pada istri temannya yang baru
pertama kali ini menerima batang kemaluan yang sedemikian besarnya dalam vaginaku.
“Aaahh.. !” tiba-tiba aku merasakan sesuatu yang besar, benar-benar besar sedang mulai
memaksa masuk ke dalam vaginaku, memaksa bibir vaginaku membuka sebesar-besarnya,
rasanya sampai sebatas kemampuan yang bisa kutolerir. Aku menoleh ke arah cermin untuk
melihat apa yang sedang memaksa masuk ke dalam vaginaku itu dan.., “Aaaduuuhh.. gila..
benar-benar fantastis besarnya batang penis bule ini” keluhku, terlihat bagian pangkal
belakang batang kemaluan John sepanjang kurang lebih 5 cm membengkak, membentuk
seperti bonggol, dan dari bagian tersebut sedang mulai dipaksakan masuk, menekan bibir-
bibir kemaluanku dan secara perlahan-lahan menerobos masuk ke dalam lubang vaginaku .
“Ooohh.. aaampun.. jangan John.. aku tidak sanggup kalau engkau memaksakan benda itu
masuk ke dalam vaginaku!” aku memelas tak berdaya mengharapkan John akan mengerti,
akan tetapi sia-sia saja, dengan mata melotot aku melihat benda tersebut mulai menghilang ke
dalam liang kemaluanku, “Hesty.. nanti kalau sudah masuk semuanya dan licin kau akan
merasakan kenikmatan yang kamu belum pernah rasakan sebelumnya..!”
John mencoba menenangkanku, kepalaku tertengadah ke atas dan mataku terbalik ke
belakang sehingga bagian putihnya saja yang kelihatan, dan sekujur badanku mengejang,
bongkahan tersebut terus menerobos masuk ke dalam lubang vaginaku, sampai akhirnya
seluruh lubang kenikmatanku dipenuhi oleh kepala, batang kemaluan dan bongkahan pada
pangkal batang kemaluan bule tersebut.
Oh.. benar-benar terasa sesak dan penuh rongga vaginaku dijelali oleh keseluruhan batang
kemaluan bule tsb. Dalam keadaan itu John terus melanjutkan menekan-nekan pantatnya
dengan cepat, membuat badanku ikut bergerak-gerak karena belakang batang kemaluannya
telah terganjal di dalam lubang kemaluanku akibat bongkahan pada pangkal batang
kemaluannya yang besar itu.
Pantat John tersebut terus bergerak-gerak dengan liarnya, sambil bibirnya menciumi
pundakku yang sudah tidak ditutupi handuk, terengah-engah dan mendengus-dengus, hal ini
mengakibatkan batang kemaluannya dan bongkahan tersebut mengesek-gesek pada dinding-
dinding vaginaku yang sudah sangat sangat kencang dan sensitif mencengkeram, yang
menimbulkan perasaan geli dan nikmat yang amat sangat.. aku mulai menyadari betapa
hebatnya kenikmatan yang sedang menyelubungi seluruh sudut-sudut yang paling dalam di
relung tubuhku akibat sodokan-sodokan batang kemaluan bule dalam rongga vaginaku yang
menjepit erat sehingga kepalaku tergeleng-geleng ke kiri dan ke kanan dengan tak terkendali
dan dengan histeris pantatku kutekan ke belakang merespon perasaan nikmat yang diberikan
oleh John, yang tak pernah kualami selama ini.
“Ooohh.. tidaak..!” pikirku, “Aku tak pantas mengalami ini.. aku bukan seorang maniak seks!
Aku selama ini tidak pernah nyeleweng dengan siapa pun.. ta. taapii.. sekarang.. ooohh
seorang bule? Adduuuhh! Tapiii.. ooohh.. enaaaknya.. aghh.. akuuu.. tak dapat menahan ini..
agghh.. aku tak menyadari betapa nikmaaatnya.. penis besar dari seorang bule yang perkasa
ini..! ssssshhhh… aaaaqhh..!.. Ooohh.. benar juga katanya belum pernah aku merasakan
begini dahsyat rasa nikmaaatnyaaa..!” “..Ssshh.. aaachh.. apa yang harus kulakukan..??
Batang kemaluannya yang luar biasa besar itu dengan cepat keluar masuk melicinkan lubang
kemaluanku tanpa mempedulikan betapa besar batang kemaluannya yang akan dimasukkan
itu dibandingkan dengan daya tampung vaginaku. Akhirnya seluruh batang kemaluan bule itu
masuk, dari setiap gerakan menyebabkan keseluruhan bibir vaginaku mengembang dan
mencengkeram batangnya dan klitorisku yang sudah keluar semuanya dan mengeras ikut
tertekan masuk ke dalam, di mana klitorisku terjepit dan tergesek dengan batang
kemaluannya yang besar dan berurat itu, walaupun terasa penuh sesak tetapi lubang vaginaku
sudah semakin licin dan lancar, “..Ooohh..mengapa aku jadi keenakan.?. ini tak mungkin
terjadi..!” pikirku setengah sadar.
“Aku mulai menikmati diperkosa oleh teman suamiku, bule lagi? gilaa..!” sementara
perkosaan itu terus berlangsung, desiran darahku terasa mengalir semakin cepat secepat
masuknya batang kemaluannya yang luar biasa besar itu, pikiran warasku perlahan-lahan
menghilang kalah oleh permainan kenikmatan yang sedang diberikan oleh keperkasaan
batang kemaluannya yang sedang ‘menghajar’ liang kenikmatanku, perasaanku seakan-akan
terasa melayang-layang di awan-awan dan dari bagian vaginaku yang dijejali batang
kemaluannya yang super besar itu terasa mengalir suatu perasaan mengelitik yang menjalar
ke seluruh bagian tubuh, membuat perasaan nikmat yang terasa sangat fantastis yang belum
pernah aku rasakan sedemikian dahsyat, membuat mataku terbeliak dan terputar-putar akibat
pengaruh batang kemaluan John yang begitu besar dan begitu dahsyat mengaduk-aduk
seluruh bagian yang sensitif di dalam vaginaku tanpa ada yang tersisa satu milipun.
Keseluruhan syaraf syaraf yang bisa menimbulkan kenikmatan dari dinding dalam vaginaku
tak lolos dari sentuhan, tekanan, gesekan dan sodokan kepala dan batang kemaluan John yang
benar-benar besar itu, rasanya paling tidak tiga kali besarnya dari batang kemaluan suamiku
tapi seratus kali lebih nikmaaat…! dan cara gerakan pantat bule perkasa ini bergerak
memompakan batang kemaluannya keluar masuk ke dalam vaginaku, benar-benar fantastis
sangat cepat, membuatku tak sempat mengambil nafas ataupun menyadari apa yang terjadi,
hanya rasa nikmat yang menyelubungi seluruh perasaanku, pandanganku benar benar gelap
membuat secara total aku tidak dapat mengendalikan diri lagi.
Akhirnya aku tidak dapat mengendalikan diriku lagi, rasa bersalah kalah oleh kenikmatan
yang sedang melanda seluruh tubuhku dari perasaan yang begitu nikmat yang diberikan John
padaku, dengan tidak kusadari lagi aku mulai mendesah menggumam bahkan mengerang
kenikmatan, pikiranku benar benar melambung tinggi.. Tanpa malu aku mulai mengoceh
merespons gelora kenikmatan yang menggulung diriku, “Ooohh.. John you’re cock is so
biiig.. so fuuuulll.. so gooood..!! enaaakk.. sekaaaaliii..!! aaaggh..! teruuusss.. Fuuuck meee
Jooohn..”
Aku benar-benar sekarang telah berubah menjadi seekor kuda binal, aku betinanya sedang ia
kuda jantannya. Pemerkosaan sudah tidak ada lagi di benakku, pada saat ini yang yang
kuinginkan adalah disetubuhi oleh John senikmat dan selama mungkin, suatu kenikmatan
yang tak pernah kualami dengan suamiku selama ini.
“Ooohh.. yess mmmhh.. puasin aku John sssshh.. gaaaghh….! pen.. niiishh.. mu.. begitu
besaaar dan perkasaa..! ..aaaarrgghhh…!” terasa cairan hangat terus keluar dari dalam
vaginaku, membasahi rongga-rongga di dalam lubang kemaluanku. “Aaagghhh.. ooohh.. tak
kusangka benar-benar nikmaaaaat.. dientot kontol bule..” keluhku tak percaya, terasa
badanku terus melayang-layang, suatu kenikmatan yang tak terlukiskan.
“Aaagghhh… Joohhn.. yesss.. pushhh.. and.. pulll.. your big fat cock..!” gerakanku yang
semakin liar itu agaknya membuat John merasa nikmat juga, disebabkan otot-otot
kemaluanku berdenyut-denyut dengan kuat mengempot batang kemaluannya, mungkin
pikirnya ini adalah kuda betina terhebat yang pernah dinikmatinya, hangat.. sempit dan
sangat liar.
Tiba tiba ia mencabut seluruh batang kemaluannya dari lubang vaginaku dan anehnya aku
merasakan suatu kehampaan yang luar biasa..! Dengan tegas ia menyuruhku merangkak
keatas kasur dan memintaku merenggangkan kakiku lebar lebar serta menunggingkan
pantatku tinggi tinggi, oh benar benar kacau pikiranku, sekarang aku harus melayani seluruh
permintaannya dan sejujurnya aku masih menginginkan ‘pemerkosaan’ yang fantastis ini,
merasakan batang kemaluan John yang besar itu menggesek seluruh alur syaraf kenikmatan
yang ada diseluruh sudut lubang vaginaku yang paling dalam yang belum pernah tersentuh
oleh batang kemaluan suamiku.
Sementara otakku masih berpikir keras, tubuhku dengan cepat mematuhi keinginannya tanpa
kusadari aku sudah dalam posisi yang sangat merangsang menungging sambil kuangkat
pantatku tinggi tinggi kakiku kubuka lebar dan yang paling menggiurkan orang bule ini
adalah liang vaginaku yang menantang merekah basah pasrah diantara bongkahan pantatku
lalu, kubuat gerakan erotik sedemikian rupa untuk mengundang batang kemaluannya
menghidupkan kembali gairah rangsangan yang barusan kurasakan.
Rupanya John baru menyadari betapa sexynya posisi tubuh istri temannya ini yang memiliki
buahdada yang ranum pinggangnya yang ramping serta bongkahan pantatnya yang bulat, dan
barusan merasakan betapa nikmatnya lubang vaginanya yang hangat dan sempit
mencengkeram erat batang penisnya itu, “..Ooohh Hesty tak kusangka tubuhmu begitu
menggairahkan vaginamu begitu ketat begitu nikmaaat..!” aah aku begitu tersanjung belum
pernah kurasakan gelora birahiku begitu meletup meletup, suamiku sendiri jarang
menyanjungku, entah kenapa aku ingin lebih bergairah lagi lalu kuangkat kepalaku
kulemparkan rambut panjangku kebelakang dengan gerakan yang sangat erotik.
Dengan perlahan ia tujukan ‘monster cock’ nya itu keliang vaginaku, aku begitu penasaran
ingin melihat dengan mata kepalaku sendiri bagaimana caranya ia memasukkan ‘benda’ itu
kevaginaku lalu kutengok kecermin yang ada disampingku dan apa yang kulihat benar benar
luar biasaa..! jantungku berdegup kencang napasku mulai tidak beraturan dan yang pasti
gelora birahiku meluap deras sekaaalii..! betapa tidak tubuh john yang besar kekar bulunya
yang menghias didadanya sungguh pemandangan yang luar biasa sexy buatku.! belum lagi
melihat batang kemaluannya yang belum pernah kulihat dengan mata kepalaku sendiri begitu
besaaar, kekaar dan panjaaang..!
Dan sekarang akan kembali dimasukkan kedalam liang vaginaku..! Secara perlahan kulihat
benda besar dan hangat itu menembus liang kenikmatanku, bibir vaginaku memekar
mencengkeram batang penisnya ketat sekali..! rongga vaginaku tersumpal penuh oleh ‘big fat
cock’ John.
“..Sssshhh.. Aaaarggghhh..!” Aku mendesah bagai orang kepedesan ketika batang
kemaluannya mulai digeserkan keluar masuk liang kenikmatanku..! nikmatnya bukan
kepalang..! belum pernah kurasakan sebegini nikmaat..! besaar.. padaat.. keraas.. panjaang..!
oooggghhh.. entah masih banyak lagi kedahsyatan batang kemaluan John ini. Dan ketika
John mulai memasukkan dan mengeluarkan secara berirama maka hilanglah seluruh
kesadaranku, pikiranku terasa melayang layang diawang awang, tubuhku terasa ringan hanyut
didalam arus laut kenikmatan yang maha luas. Setengah jam john memompa batang
kemaluannya yang besar dengan gerakan berirama, setengah jam aku mendesah merintih dan
mengerang diombang ambingkan perasaan kenikmatan yang luar biasa, tiba tiba dengan gaya
“doggy style’ ini aku ingin merasakan lebih liar, aku ingin John lebih beringas lagi
“Yess.. John.. harder.. John.. faster.. aargh.. fuck me.. WILDER..!”
Giliran John yang terhipnotis oleh teriakanku, kurasakan tangannya mencengkeram erat
pinggangku dengusan napasnya makin cepat bagai banteng terluka gerakan-gerakan
tekanannya makin cepat saja, gerakan-gerakan yang liar dari batang penisnya yang besar itu
menimbulkan perasaan ngilu dibarengi dengan perasaan nikmat yang luar biasa pada bagian
dalam vaginaku, membuatku kehilangan kontrol dan menimbulkan perasaan gila dalam
diriku, pantatku kugerak-gerakkan ke kiri dan ke kanan dengan liar mengimbangi gerakan
sodokan John yang makin menggila cepatnya, tiba tiba pemandanganku menjadi gelap
seluruh badanku bergetar..! Ada sesuatu yang ingin meletup begitu dahsyat didalam diriku.
“Ooohh.. fuck me hard..! aaaduuh.. aaaghh! Joooohn..! I can’t hold any longerrr..! terlalu
eeeeenaaaakk..! tuntaaassin Johnn..! Aaaaarrrghh..! I’m cummiiiiiing.. Joooohn..” lenguhan
panjang keluar dari mulutku dibarengi dengan glinjangan yang liar dari tubuhku ketika
gelombang orgasme begitu panjaaang dan dahsyaaat menggulung sekujur tubuhku.
Badanku mengejang dan bergetar dengan hebat kedua kakiku kurapatkan erat sekali menjepit
batang penis John seolah olah aku ingin memeras kenikmatan tetes demi tetes yang
dihasilkan oleh batang kejantanannya, kepalaku tertengadah ke atas dengan mulut terbuka
dan kedua tanganku mencengkeram kasur dengan kuat sedangkan kedua otot-otot pahaku
mengejang dengan hebat dan kedua mataku terbeliak dengan bagian putihnya yang kelihatan
sementara otot-otot dalam kemaluanku terus berdenyut-denyut dan hal ini juga menimbulkan
perasaan nikmat yang luar biasa pada John karena batang kemaluannya terasa dikempot
kempot oleh lobang vaginaku yang mengakibatkan sebentar lagi dia juga akan mengalami
orgasme.
“..Aaaarghh.. Hesty your cunt is sooo tiiiight….! I’ve never crossed in my mind that your
cunt so delicious..! aargh ..!” John mendengus dengus bagai kuda liar tubuhku dipeluk erat
dari belakang, bibirnya menciumi tengkukku belakang telingaku dan tangannya meraih
payudaraku, puting susuku yang sudah mengeras dan gatal lalu dipuntir puntirnya.. ooohhh
sungguh luar biasaa..! kepalaku terasa kembali berputar putar, tiba tiba John mengerang
keras.. tiba tiba kurasakan semburan hebat dilorong vaginaku cairan hangat dan kental yang
menyembur keluar dari batang kejantanannya, rasanya lebih hangat dan lebih kental dan
banyak dari punya suamiku, air mani John serasa dipompakan, tak henti-hentinya ke dalam
lobang vaginaku, rasanya langsung ke dalam rahimku banyak sekali.
Aku dapat merasakan semburan-semburan cairan kental hangat yang kuat, tak putus-putusnya
dari penisnya memompakan benihnya ke dalam kandunganku terus menerus hampir selama 1
menit, mengosongkan air maninya yang tersimpan cukup lama, karena selama ini dia tidak
pernah bersetubuh dengan istrinya yang berada jauh di negaranya.
John terus menekan batang kemaluannya sehingga clitorisku ikut tertekan dan hal ini makin
memberikan perasaan nikmat yang hebat, “..Aaaaaaarrrrggghhhh…!” tak kusangka, tubuhku
bergetar lagi merasakan rangsangan dahsyat kembali menggulung sekujur tubuhku sampai
akhirnya aku mengalami orgasme yang kedua dengan eranganku yang cukup panjaaang,
Tubuhku bagai layang layang putus ambruk dikasur.
Aku tertelungkup terengah engah, sisa sisa kenikmatan masih berdenyut denyut di vaginaku
merembet keseluruh tubuhku. John membaringkan dirinya disampingku sambil mengelus
punggungku dengan mesra. Seluruh tubuhku terasa tidak ada tenaga yang tersisa, ringan
seenteng kapas pikiranku melayang jauh entah menyesali kejadian ini atau malah mensyukuri
pengalaman yang luar biasa ini. Akhirnya aku tertidur dengan nyenyaknya karena letih.
Keesokan harinya aku terbangun dengan tubuh yang masih terasa lemas dan terasa tulang-
tulangku seakan-akan lepas dari sendi-sendinya. Aku agak terkejut melihat sesosok tubuh
tidur lelap disampingku, pikiranku menerawang mengingat kejadian tadi malam sambil
menatap ke arah sosok tubuh tersebut, kupandangi tubuhnya yang telanjang kekar besar
terlihat bulu bulu halus kecoklat-coklatan menghias dadanya yang bidang lalu bulu bulu
tersebut turun kebawah semakin lebat dan memutari sebuah benda yang tadi malam
‘menghajar’ vaginaku, benda itu masih tertidur tetapi ukurannya bukan main.., jauh lebih
besar daripada penis suamiku yang sudah tegang maksimum. Tiba tiba darahku berdesir,
vaginaku terasa berdenyut, “..Oh.. apa yang terjadi pada diriku..?”
Posted in Pemerkosaaan | No Comments »
Tante Cisca
Monday, December 15th, 2008

Waktu itu gua di ajak temen gua buat liat hasil lukisan yang di bikin temen gua itu cewe dia
di bawah gua 1 tahun se enggaknya gua senior dianyalah… sewaktu gua tiba di rumah dia
ada seorang wanita sexy, cantik, waaahhhh susah deh buat diomongin pokoknya top banget,
lalu dia senyum ama gua…
“Eh Nit sapa tuh?” tanyaku
“Oooooo Tante gua tuh Ndry kenapa? Suka?”..
“Yeeee enak aja loe,” jawabku.
“Yuk gua kenalin ama Tante gua, ajak Nita”
“Aloooo Tanteeee,” kata Nita”..
“Ehhh udah pulang Nit,” tanya Tante Cisca?
“Iya Tan,” jawab Nita..
“Oh iya Tan kenalin nih temen Nita”.. lalu Tante Cisca mengulurkan tangannya begitu juga
gua..
“Cisca,” katanya.
“Andry,” kataku, waaahh tangan nya lembut banget langsung otak gua jadi gak karuan
untung Nita ngajak gua masuk kalo gak udah deh otak gua ngeressssss.

Sesudah gua ngeliat hasil lukisan si Nita gua ngobrol-ngobrol ama Nita dan Tante Cisca.
Enak juga ngobrol ama tantenya Nita cepet akraban orangnya tapi setengah jam kemudian
Nita pamit ke belakang dulu otomatis tinggal gua dan Tante Cisca saja berdua. Tante Cisca
yang memakai celana street dan kaos tipis membuat jatungku mulai gak karuan, tapi gua
ngejaga supaya tidak ketauan kalo gua lagi merhatiin Tante Cisca, kami ngobrol ngalor-
ngidul lama-lama duduknya semakin dekat denganku waaahhhh, makin dag dig dug aja nih
jatung gua.. gimana enggak Tante Cisca yang putih mulus itu duduknya ngangkang bebas
banget pikirku apa dia kaga malu ama gua apa? Lambat laun pembicaraan kami mulai
menjurus ke hal-hal yang berbau sex.
“Ndry kamu punya cewe?” tanyanya.
“Blom tan,” jawabku
“Tante sendiri kok sendirian …?”
“Hhhmmmm gak kok kan ada Nita.”
“Maksud saya laki-laki yang jagain Tante siang dan malem lho.”
“Ooooooo Tante cerai sama om 2 tahun yang lalu Ndry…”
“Tante gak kesepian..?”
“Tak tuh kan ada Nita.”
“Maksud saya yang nemenin Tante malem hari.”
“Ih kamu nakal yah.” kata Tante Cisca sambil mecubit paha ku. Otomatis meringis kesakitan
sambil tertawa… hehehhehee…
“Bener Tante gak kesepian, gua bertanya lagi..?” Tante Cisca bukanya menjawab, dia malah
memeluku sambil menciumiku, aku kaget campur seneng. sewaktu kami begumul di ruang
depan tiba-tiba Nita dateng, untung tadi pintu yang mau ke dapur tertutup kalo ketauan Nita
bahaya nih.. kami menghentikan pagutan kami.. lalu Tante Ciscapun pergi ke kamarnya
sambil malu-malu. Setelah Nita datang gua langsung pamitan, lalu gua pamitan ama Tante
Cisca.
“Tante, Andry pulang dulu,” kataku.
“Lho kok buru-buru?” tanya Tante Cisca sambil keluar kamar.
“Ada kepeluan lain Tan,” jawab ku…
“Lain kali ke sini lagi yah,” kata Tante Nita sambil mengerlingkan matanya:..
“Ooooo iya Tante,” kataku sedikit kaget, tapi agak seneng juga…
Setelah kejadian itu gua jadi kangen ama Tante Cisca.. suatu hari gua lagi jalan sendirian di
mall, gua gak nyangka kalo ketemu ama Tante Cisca..
“Allo Tante,” sapaku…
“Hi Andry,” jawabnya..
“Mau kemana Ndry.?”
“Hhhhmmm lagi pengen jalan aja Tante.”
“Kamu ada waktu.?”
“Kalo gak ada gak papa..”
“Emang mau ke mana Tan.?”
“Temenin Tante makan yuk..”
Waaaahhhhh… tawaran itu gak mungkin gua tolak jarang jarang ada yang traktir gua,
maklum gua anak kostan heueuehueuh. Tanpa berpikir panjang gua langsung meng iya kan
tawarannya.
Setelah kami makan Tante Cisca ngajak gua keliling sekitar Bandung.. Tanpa kita sadari kalo
malam udah larut.. Waktu itu jam menunjukan pukul 22.30…Lalu gua ngajak Tante Cisca
pulang, gua di anter ama Tante Cisca sampai depan rumah kostan gua…Tapi sebelum gua
keluar dari mobil gua kaget campur seneng Tante Cisca menarik badan gua lalu menciumiku
dengan ganas…Kami berpagutan lumayan lama. Lama-lama gua makin panas lalu gua ajak
Tante Cisca masuk ke dalam kostan gua…Lalu kami masuk setelah di dalam Tante Cisca
menubruk badan gua hingga kami berdua jatuh di atas kasur. Lalu kami beerciumana lagi.
tiba-tiba tangan gua yang nakal mulai mengerayangi badan Tante Cisca yang sexy.
Setelah itu gua buka tank top Tante Cisca.. wooowwwww ternyata dia tidak memakai BH itu
membuat gua gampang buat menikmati indahnya payudara Tante Cisca yang indah itu..
Tante Cisca mulai mengerang keenakan..
“Ooooooohhhh.. Andryyy.. remas terushhhh,” kata Tante Cisca mendesah.
“Mendengar itu aku makin menggila…”
“Gua gigit putting susu Tante Cisca…”
“Aaaccchhhhhh… enak sayang.. terussshhh…”
Lalu gua buka celana jeans Tante Cisca… sambil terus kupermain kan gundukan kembar itu
dengan rakus setelah gua buka celana jean tante Cisca, gua buka CD Tante Cisca yang
berwarna hitam itu.. ooooohhhhh indah betul pemandangan malam ini gumamku dalam
hati… Lalu aku pun menyuruh Tante Cisca buat membuka pahanya lebar-lebar..
“Baik sayang. lakukan apa yang kau mau..”
Lalu gua benamkan muka gua ke selangkangan Tante Cisca.
“Aaaaacccchhhhhhhhhhhh.. geli sayang.jerit Tante Cisca, badannya bergoyang-goyang ke
kanan dan ke kiri menahan nikmat… aaaaccchhhhhhh terus sayang.. oooohhhhhhhh”
“Gua jilat, gigit, jilat lagi hhhhmmmmmmm… memek Tante Cisca harum”
Lalu tangan Tante Cisca mencari-cari sesuatu di balik celana dalam ku………
“Wwoooooowwwww,” jeritnya.
“Aku gak percaya punyaan kamu gede ndry…”
“Tante suka?” tanyaku.
“Suka banget..”
Lalu kupermainkan lagi memeknya, kami bermain 69 Tante Cisca melumat kontolku dengan
rakusnya, sampai tiba saatnya dia mulai merengek-rengek supaya kontolku dimasukkan ke
dalam liang memeknya.
“Ndryyyy.. sekarang sayang aku gak kuaatttthhh.!!!”
“Sekarang Tante..?”
“Iya sayang cepaaattt.” Lalu gua menaiki badan Tante Cisca perlahan-lahan gua masukin
kontol gua… oooooohhhhhh… sleeeepp perlahan-lahan kontolkupun kubenamkan.
Tante Cisca sedikit teriak “Aaaaaccccchhhhhhh Ndryyyyy”. Memek Tante Cisca masih
sempit, hangat aahhh.. pokoknya enak banget…
“Masukin yang dalem Ndryy… oooohhhhhhh.!!!
“Goyangin Tante..” Slepppp… sleppppp… sleeppppp.. kontolku keluar masuk”.
“Ooohhhh…. ooohhhhhhh.. ooohhhhhhhh……” kami berpacu untuk mencapai klimaks dan
akhirnya kami pun keluar sama sama.. Setelah kami puas bercinta kamupun tertidur pulas dan
bangun kesiangan untung waktu itu temen-temen sekostanku sedang mudik, jadi aku gak
terlalu khawatir…
“Kamu hebat tadi malam Ndry sampe aku kewalahan” lalu Tante Cisca pun pamitan untuk
pulang lalu dia berkata “Lain kali kita main lagi yah aku masih penasaran ama kamu
Ndry”….
“Kalo kamu mau apa-apa bilang aja ama Tante ya jangan sungkan-sungkan!!”..
“Baik Tante,” kataku… lalu Tante Cisca pun pulang dengan wajah berseri-seri… setelah
kami melakukan percintaan itu kamipun melakukannya berulang kali dan hubungan kamipun
masih berlanjut hingga kini, tapi hubungan yang tanpa ikatan, hanya hubungan antara orang
yang haus akan sex.. dan semenjak itu akupun diajari berbagai jurus dalam permainan sex…
mulai dari doggy style sampai berbagai jurus yang sangat nikmat.
Setelah gua berhubungan dengan Tante Cisca kebutuhan akan sehari-hari gua lebih dari
cukup apapun yang gua minta dari Tante Cisca dia pasti memberikannya, soalnya dia bilang
permainan ranjangku hebat sekali dan adikku ini lumayan besar, katanya.. dan gua bisa
ngebikin Tante Cisca puas. Selama kami berhubungan, Nita temanku itu dan sepupu Tante
Cisca itu tidak pernah mengetahuinya, kalo dia tahu berabe deh.. heheheheheheheh……
Posted in Tante Girang | No Comments »
Adik Istriku
Friday, December 12th, 2008

Saya, Andry (bukan nama sebenarnya) adalah seorang pria berumur 35 tahun dan telah
berkeluarga , istri saya seumur dengan saya dan kami telah dikarunia 2 putra.
Istri saya adalah anak ke 2 dari empat saudara yang kebetulan semuanya wanita dan
semuanya telah menikah serta dikarunia putra-putri yang relatif masih kecil, diantara saudara-
saudara istri , saya cukup dekat dengan adik istri saya yang kurang lebih berumur 34 tahun
namanya Siska (bukan nama sebenarnya).
Keakraban ini bermula dengan seringnya kami saling bertelepon dan makan siang bersama
pada saat jam kantor (tentunya kami saling menjaga rahasia ini), dimana topik pembicaraan
berkisar mengenai soal pekerjaan, rumah tangga dan juga kadangkala masalah seks masing-
masing.
Perlu diketahui istri saya sangat kuno mengenai masalah seks, sedangkan Siska sangat
menyukai variasi dalam hal berhubungan seks dan juga open minded kalau berbicara
mengenai seks, juga kebetulan dikeluarga istri saya dia paling cantik dan sensual, sebagai
ilustrasi tingginya kurang lebih 165 cm, kulit putih mulus, hidung mancung, bibir agak
sedikit kelihatan basah serta ukuran dada 34 a.
Keakraban ini dimulai sejak tahun 1996 dan berlangsung cukup lama dan pada tahun 1997
sekitar Juni, pembicaraan kami lebih banyak mengarah kepada masalah rumah tangga,
dimana dia cerita tentang suaminya yang jarang sekali memperlihatkan perhatian, tanggung
jawab kepada dia dan anak-anak, bahkan dalam soal mencari nafkahpun Siska lebih banyak
menghasilkan daripada suaminya ditambah lagi sang suami terlalu banyak mulut alias
cerewet dan bertingkah polah bak orang kaya saja.
Menurut saya kehidupan ekonomi keluarga Siska memang agak prihatin walaupun tidak
dapat dikatakan kekurangan, tetapi boleh dikatakan Siskalah yang membanting tulang untuk
menghidupi keluarganya.
Disamping itu sang suami dengan lenggang keluyuran dengan teman-temannya baik pada
hari biasa maupun hari minggu dan Siska pernah mengatakan kepada saya bahwa lebih baik
suaminya pergi keluar daripada di rumah, karena kalau dia dirumah pusing sekali
mendengarkan kecerewetannya.
Saya menasihati dia agar sabar dan tabah menghadapi masalah ini, karena saya seringkali
juga menghadapi masalah yang kurang lebih sama dengannya hanya saja penekanannnya
berbeda dengan kakaknya.
Istri saya seringkali ngambek yang tidak jelas sebabnya dan bilamana itu terjadi seringkali
saya tidak diajak berbicara lama sekali.
Akhirnya Siska juga menceritakan keluhannya tentang masalah seks dengan suaminya,
dimana sang suami selalu minta jatah naik ranjang 2-3 kali dalam semingggu, tetapi Siska
dapat dikatakan hampir tidak pernah merasakan apa yang namanya orgasme/climax sejak
menikah sampai sekarang, karena sang suami lebih mementingkan kuantitas hubungan seks
ketibang kualitas.
Siska juga menambahkan sang suami sangat kaku dan tidak pernah mau belajar mengenai apa
yang namanya foreplay, walaupun sudah sering saya pinjami xxx film, jadi prinsip suaminya
langsung colok dan selesai dan hal itupun berlangsung tidak sampai 10 menit.
Siska lalu bertanya kepada saya, bagaimana hubungan saya dengan kakaknya dalam hal
hubungan seks, saya katakan kakak kamu kuno sekali dan selalu ingin hubungan seks itu
diselesaikan secepat mungkin, terbalik ya kata Siska.
Suatu hari Siska telepon saya memberitahukan bahwa dia harus pergi ke Bali ada penugasan
dari kantornya, dia menanyakan kepada saya apakah ada rencana ke Bali juga, karena dia
tahu kantor tempat saya bekerja punya juga proyek industri di Bali, pada awalnya saya agak
tidak berminat untuk pergi ke Bali, soalnya memang tidak ada jadwal saya pergi ke sana.
Namun dengan pertimbangan kasihan juga kalau dia seorang wanita pergi sendirian ditambah
lagi ‘ kan dia adik istri saya jadi tidak akan ada apa-apa, akhirnya saya mengiyakan untuk
pergi dengan Siska.
Pada hari yang ditentukan kita pergi ke Bali berangkat dari Jakarta 09.50, pada saat tiba di
Bali kami langsung menuju Hotel Four Season di kawasan Jimbaran, hotel ini sangat
bernuansa alam dan sangat romantis sekali lingkungannya, pada saat menuju reception desk
saya langsung menanyakan reservasi atas nama saya dan petugas langsung memberikan saya
2 kunci bungalow, pada saat itu Siska bertanya kepada saya, oh dua ya kuncinya, saya bilang
iya, soalnya saya takut lupa kalau berdekatan dengan wanita apalagi ini di hotel, dia
menambahkan ngapain bayar mahal-mahal satu bungalow saja ‘kan kita juga saudara pasti
engga akan terjadi apa-apa kok , lalu akhirnya saya membatalkan kunci yang satu lagi, jadi
kita berdua share 1 bungalow.
Saat menuju bungalow kami diantar dengan buggie car (kendaraan yang sering dipakai di
lapangan golf) mengingat jarak antara reception dengan bungalow agak jauh, didalam
kendaraan ini saya melihat wajah Siska , ya ampun cantik sekali dan hati saya mulai
bergejolak , sesekali dia melemparkan senyumnya kepada saya, pikiran saya, dasar suaminya
tidak tahu diuntung sudah dapat istri cantik dan penuh perhatian masih disia-siakan.
Di dalam bungalow kami merapikan barang dan pakaian kami saya menyiapkan bahan
meeting untuk besok sementara dia juga mempersiapkan bahan presentasi , pada saat saya
ingin menggantungkan jas saya tanpa sengaja tangan saya menyentuh buah dadanya karena
sama-sama ingin menggantungkan baju masing-masing, saya langsung bilang sorry ya Sis
betul saya tidak sengaja, dia bilang udah engga apa-apa anggap aja kamu dapat rejeki…. wow
wajahnya memerah tambah cantik dia.
Lalu kita nonton tv bareng filmya up close and personal, pada saat ada adegan ranjang saya
bilang sama Siska wah kalo begini terus saya bisa enggak tahan nih, lalu saya berniat
beranjak dari ranjang mau keluar kamar (kita nonton sambil setengah tiduran di ranjang), dia
langsung bilang mau kemana sini aja, engga usah takut deh sambil menarik tangan saya
lembut sekali seakan memohon agar tetap disisinya… ..selanjutnya kita cerita dan berandai-
andai kalau dulu kita sudah saling ketemu…dan kalau kita berdua menikah dan sebagainya..

Saya memberanikan diri bicara, Sis kamu koq cantik dan anggun sih, Siska menyahut nah
kan mulai keluar rayuan gombalnya, sungguh koq sih saya engga bohong, saya pegang
tangannya sambil mengelusnya, oww geli banget , Andry come on nanti saya bisa lupa nih
kalo kamu adalah suami kakak saya….biarin aja kata saya.
Perlahan tapi pasti tangan saya mulai merayap ke pundaknya terus membelai rambutnya
tanpa disangka dia juga mulai sedikit memeluk saya sambil membelai kepala dan rambut
saya…..akhirnya saya kecup keningnya dia bilang Andry kamu sungguh gentle sekali…uh
indahnya kalau dulu kita bisa menikah saya bilang abis kamunya sih udah punya
pacar…..berlanjut saya kecup juga bibirnya yang sensual dia juga membalas kecupan saya
dengan agresif sekali dan saya memakluminya karena saya yakin dia tidak pernah
diperlakukan sehalus ini….kami berciuman cukup lama dan saya dengar nada nafasnya mulai
tidak beraturan, tangan saya mulai merambat ke daerah sekitar buah dadanya…dia sedikit
kaget dan menarik diri walaupun mulut kami masih terus saling bertempur… ..
Kali ini saya masukkan tangan saya langsung ke balik bhnya dia menggelinjang saya
mainkan putingya yang sudah mulai mengeras dan perlahan saya buka kancing bajunya
dengan tangan saya yang kanan, setelah terbuka saya lepas bhnya wow betapa indah buah
dadanya ukurannya kurang lebih mirip dengan istri saya namun putingnya masih berwarna
merah muda mungkin karena dia tidak pernah menyusui putranya, Siska terhenyak sesaat
sambil ngomong, Andry koq jadi begini….Sis saya suka ama kamu, terus dia menarik diri…
saya tidak mau berhenti dan melepaskan kesempatan ini langsung saya samber lagi buah
dadanya kali ini dengan menggunakan lidah saya sapu bersih buah dada beserta
putingnya… .Siska hanya mendesah-desah sambil tangannya mengusap-ngusap kepala saya
dan saya rasakan tubuhnya semakin menggelinjang kegelian dan keringat mulai mengucur
dari badannya yang harum dan putih halus….
Lidah saya masih bermain diputingnya sambil menyedot-nyedot halus dia semakin
menggelinjang dan langsung membuka baju saya pada saat itu saya juga membuka kancing
roknya dan terlihat paha yang putih mulus nan merangsang, kita sekarang masing-masing
tinggal ber cd saja, tangan dia mulai membelai pundak dan badan saya, sementara itu lidah
saya mulai turun ke arah pangkah paha dia semakin menggelinjang, ow andry enak dan geli
sekali …..
perlahan saya turunkan cdnya, dia bilang andry jangan bilang sama siapa-siapa ya terutama
kakak saya….saya bilang emang saya gila kali, pake bilang-bilang kalo kita ………. setelah
cdnya saya turunkan saya berusaha untuk menjilat kelentitnya yang berwarna merah
menantang pada awalnya dia tidak mau, katanya saya belum pernah ……, nah sekarang
saatnya kamu mulai mencoba
lidah saya langsung menari-nari di kelentitnya dia meraung keras….oohhhhhhhh
andry ………enaaaaaaaa aaakkkkkkkkkkk sekali…..saya …saya enggak pernah merasakan
ini sebelumnya kamu pintar sekali sih……… ..terus saya jilat kelentit dan lubang
vaginanya… ..tidak berapa lama kemudian dia menjerit…. .auuuuuuuuwwww saya keluar
andry oooooooooooohhhhhhh hhenak sekali…..dia bangkit lalu menarik dengan keras cd
saya ….langsung dia samber kontol saya dan dilumatnya secara hot dan agresif sekali…..oh
nikmatnya… .terus terang istri saya tidak perah mau melakukan oral sex dengan saya……dia
terus memainkan lidahnya dengan lincah sementara tangan saya memainkan puting dan
kelentitnya. …tiba-tiba dia mengisap kontol saya keras sekali ternyata dia orgasme lagi……..
…dia lepaskan kontol saya, andry ayo dong masukin ke sini sambil menunjuk lobangnya
…..perlahan saya tuntun kontol saya masuk ke memeknya…. ..dia terpejam saat kontol saya
masuk ke dalam memeknya sambil dia tiduran dan mendesah-desah. …….ohhhhhhhh andry
biasanya suami saya sudah selesai dan saya belum merasakan apa-apa, tapi kini saya udah
dua kali keluar, kamu baru saja mulai…..waktu itu kami bercinta udah kurang lebih 30 menit
sejak dari awal kita bercumbu…. ……… ……… ..
Sekarang saya angkat ke dua kakinya ke atas lalu ditekuk, sehingga penetrasi dapat lebih
dalam lagi sambil saya sodok keluar masuk memeknya…. dia terpejam dan terus
menggelinjang dan bertambah liar dan saya tidak pernah menyangka orang seperti Siska yang
lemah lembuh ternyata bisa liar di ranjang,
dia menggelinjang terus tak keruan…… .uhhhhhhh andry saya keluar lagi…..saya angkat
perlahan kontol saya dan kita berganti posisi duduk , terus dia yang kini mengontrol jalannya
permainan ,…dia mendesah sambil terus menyebut ohh andry….ohhh andry dia naik turun
makin lama makin kencang sambil sekali-kali menggoyangkan pantatnya… ….tangannya
memegang pundak saya keras sekali..iiiiiiiiiii hhhhhhhhhhhh uuuuuuuuuhhhhhhhhhh hhhh
andry saya keluar lagi ……..kamu koq kuat sekali…… .come on andry keluarin dong saya
udah engga tahan nih,,,,,,,, biar aja kata saya…..saya mau bikin kamu keluar terus , kan kamu
bilang sama saya , kamu engga pernah orgasme sama suami kamu sekarang saya bikin kamu
orgasme terus……. .iya sih tapi ini betul-betul luar biasa andry,…… ……..ohhhhhhh hhhh
betapa bahagianya saya kalau bisa setiap hari begini sama kamu……ayo jangan ngaco ah
mana mungkin lagi, kata saya…
Saya bilang sekarang saya mau cobain doggy style, apa tuh katanya, ya ampun kamu engga
tau, engga tuh katanya, lalu saya pandu dia untuk menungging dan perlahan saya masukkan
kontol saya ke memeknya yang sudah banjir karena keluar terus, pada saat kontol saya sudah
masuk sempurna mulailah saya tusuk keluar masuk dan goyangin makin lama makin
kencang….. dia berteriak dan menggelinjang dan mengguncangkan tubuhnya…. ….andry.
…….aaaaaaaam mmmmmmmmmpuuuuuu uuuuuuunnnn dehhhhhhhhhhhhhhhhh hhhh saya
keluar lagi nih dan waktu itu saya juga udah mau keluar…… saya bilang nanti kalau saya
keluar maunya di mulut Siska, ah jangan Siska belum pernah dan kayaknya jijik deh………
cobain dulu ya…..akhirnya dia mengangguk.. ……… .
Tiba saatnya saya sudah mau orgasme saya cabut kontol saya dan sembari dia jongkok saya
arahkan kepala kontol saya ke mulutnya sambil tangan dia mengocok-ngocok kontol saya
dengan sangat bernafsu…. ..sis…. ……… …..udah mau keluar langsung kontol saya
dimasukkan ke dalam mulutnya engga lama lagi…..creetttttt tt creeeeeeeettttttttt ttt
crettttttttttttttt creeeeeeeeetttttttt ttttt, penuhlah mulut dia dengan sperma saya sampai
berceceran ke luar mulut dan jatuh di pipi dan buah dadanya.. dia terus menjilati kontol saya
sampai semua sperma saya kering saya tanya gimana sis enak enggak rasanya dia bilang not
bad……… ……… ……… ……… kita berdua tertidur sampai akhirnya kita bangun jam
21.30……. ……… ……… ………
Siska mengecup halus bibir saya…….. ..Andry, thanks a lot ………..saya benar-benar puas
sama apa yang kamu berikan kepada saya, walaupun ini hanya sekali saja pernah terjadi
dalam hidup saya……..
Posted in Sedarah | No Comments »
ML dengan Pacar Kakakku
Sunday, August 31st, 2008

Siang itu aku sendirian. Papa, Mama dan Mbak Sari mendadak ke Jakarta karena nenek sakit.
Aku nggak bisa ikut karena ada kegiatan sekolah yang nggak bisa aku tinggalin. Daripada
bengong sendirian aku iseng bersih-bersih rumah. Pas aku lagi bersihin kamar Mbak Sari aku
nemu sekeping vCD. Ketika aku merhatiin sampulnya.. astaga!! ternyata gambarnya
sepasang bule yang sedang berhubungan sex. Badanku gemetar, jantungku berdegup
kencang. Pikiranku menerawang saat kira-kira 1 bulan yang lalu aku tanpa sengaja mengintip
Mbak Sari dengan pacarnya berbuat seperti yang ada di sampul vCD tsb. Sejak itu aku sering
bermasturbasi membayangkan sedang bersetubuh.
Tadinya aku bermaksud mengembalikan vCD tersebut ke tempatnya, tapi aah.. mumpung
sendirian aku memutuskan untuk menonton film tersebut. Jujur aja aku baru sekali ini nonton
blue film.
Begitu aku nyalain di layar TV terpampang sepasang bule yang sedang saling mencumbu.
Pertama mereka saling berciuman, kemudian satu persatu pakaian yang melekat mereka
lepas. Si cowok mulai menciumi leher ceweknya, kemudian turun ke payudara. Si cewek
tampak menggeliat menahan nafsu yang membara. Sesaat kemudian si cowok mejilati
vaginanya terutama di bagian klitorisnya. Si cewek merintih-rintih keenakan. Selanjutnya
gantian si cewek yang mengulum penis si cowok yang sudah ereksi. Setelah beberapa saat
sepertinya mereka tak tahan lagi, lalu si cowok memasukkan penisnya ke vagina cewek bule
tadi dan langsung disodok-sodokin dengan gencar. Sejurus kemudian mereka berdua
orgasme. Si cowok langsung mencabut rudalnya dari vagina kemudian mengocoknya di
depan wajah ceweknya sampai keluar spermanya yang banyak banget, si cewek tampak
menyambutnya dengan penuh gairah.
Aku sendiri selama menonton tanpa sadar bajuku sudah nggak karuan. Kaos aku angkat
sampai diatas tetek, kemudian braku yang kebetulan pengaitnya di depan aku lepas. Kuelus-
elus sendiri tetekku sambil sesekali kuremas, uhh.. enak banget. Apalagi kalo kena putingnya
woww!!
Celana pendekku aku pelorotin sampe dengkul, lalu tanganku masuk ke balik celana dalam
dan langsung menggosok-gosok klitorisku. Sensasinya luar biasa!!
Makin lama aku semakin gencar melakukan masturbasi, rintihanku semakin keras. Tanganku
semakin cepat menggosok klitoris sementara yang satunya sibuk emremas-remas toketku
sendiri. Dan,
“Oohh.. oohh..”
Aku mencapai orgasme yang luar biasa. Aku tergeletak lemas di karpet.
Tiba-tiba, bel pintu berbunyi. Tentu saja aku gelagapan benerin pakaianku yang terbuka
disana-sini. Abis itu aku matiin vCD player tanpa ngeluarin discnya.
“Gawat!” pikirku.
“Siapa ya? Jangan-jangan pa-ma! Ngapain mereka balik lagi?”.
Buru-buru aku buka pintu, ternyata di depan pintu berdiri seorang cowok keren. Rupanya
Mas Andi pacar Mbak Sari dari Bandung.
“Halo Ulfa sayang, Mbak Sarinya ada?”
“Wah baru tadi pagi ke Jakarta. Emang nggak telpon Mas Andi dulu?”
“Waduh nggak tuh. Gimana nih mo ngasi surprise malah kaget sendiri.”
“Telpon aja HP-nya Mas, kali aja mau balik” usulku sekenanya.
Padahal aku berharap sebaliknya, soalnya terus terang aku diem-diem aku juga naksir Mas
Andi. Mas Andi menyetujui usulku. Ternyata Mbak Sari cuman ngomong supaya nginep
dulu, besok baru balik ke Bandung, sekalian ketemu disana. Hura! Hatiku bersorak, berarti
ada kesempatan nih.
Aku mempersilakan Mas Andi mandi. Setelah mandi kami makan malam bareng. Aku
perhatiin tampang dan bodi Mas Andi yang keren, kubayangkan Mas Andi sedang telanjang
sambil memperlihatkan “tongkat kastinya”. Nggak sulit untuk ngebayangin karena aku kan
pernah ngintip Mas Andi ama Mbak Sari lagi ml. Rasanya aku pengen banget ngerasain penis
masuk ke vaginaku, abis keliatannya enak banget tuh.
“Ada apa Ulfa, Kok ngelamun, mikirin pacar ya?” tanyanya tiba-tiba.
“Ah, enggak Mas, Ulfa bobo dulu ya ngantuk nih!” ujarku salting.
“Mas Andi nonton TV aja nggak papa kan?”
“Nggak papa kok, kalo ngantuk tidur aja duluan!”
Aku beranjak masuk kamar. Setelah menutup kintu kamar aku bercermin. Bajuku juga
kulepas semua. Wajahku cantik manis, kulitku sawo matang tapi bersih dan mulus. Tinggi
165 cm. Badanku sintal dan kencang karena aku rajin senam dan berenang, apalagi ditunjang
toketku yang 36B membuatku tampak sexy. Jembutku tumbuh lebat menghiasi vaginaku
yang indah. Aku tersenyum sendiri kemudian memakai kaos yang longgar dan tipis sehingga
meninjolkan kedua puting susuku, bahkan jembutku tampak menerawang. Aku merebahkan
diriku di atas kasur dan mencoba memejamkan mata, tapi entah kenapa aku susah sekali
tidur. Sampai kemudian aku mendengar suara rintihan dari ruang tengah. Aneh! Suara siapa
malam-malam begini? Astaga! Aku baru inget, itu pasti suara dari vCD porno yang lupa aku
keluarin tadi, apa Mas Andi menyetelnya? Penasaran, akupun bangkit kemudian perlahan-
lahan keluar.
Sesampainya di ruang tengah, deg!! Aku melihat pemandangan yang mendebarkan, Mas
Andi di depan TV sedang menonton bokep sambil ngeluarin penisnya dan mengelusnya
sendiri. Wah.. batangnya tampak kekar banget.
Aku berpura-pura batuk kemudian dengan tampang seolah-olah mengantuk aku mendekati
Mas Andi. Mas Andi tampak kaget mendengar batukku lalu cepat-cepat memasukkan
penisnya ke dalam kolornya lagi, tapi kolornya nggak bisa menyembunyikan tonjolan
tongkatnya itu.
“Eh, Ulfa anu, eh belum tidur ya?”
Mas Andi tampak salting, kemudian dia hendak mematikan vCD player.”
Iya nih Mas, gerah eh nggak usah dimatiin, nonton berdua aja yuk!” ujarku sambil
menggeliat sehingga menonjolkan pepaya bangkokku.
“Oh iya deh.”
Kamipun lalu duduk di karpet sambil menonton. Aku mengambil posisi bersila sehingga
bawukku mengintip keluar dengan indahnya.
“Mas, gimana sih rasanya bersetubuh?” tanyaku tiba-tiba.
“Eh kok tau-tau nanya gitu sih?”
Mas Andi agak kaget mendengar pertanyaanku, soalnya saat itu matanya asyik mencuri
pandang ke arah selakanganku. Aku semakin memanaskan aksiku, sengaja kakiku kubuka
lebih lebar sehingga vaginaku semakin terlihat jelas.
“Alaa nggak usah gitu! Aku kan pernah ngintip Mas sama Mbak Sari lagi gituan.. nggak papa
kok, rahasia terjaga!”
“Oya? He he he yaa.. enak sih.”
Mas Andi tersipu mendengar ledekanku.
Akupun melanjutkan, “Mas, vaginaku sama punya Mbak Sari lebih indah mana?” tanyaku
sambil mengangkat kaosku dan mengangkangkan kakiku lebar-lebar so bawukkupun
terpampang jelas.
“Ehh glek bagusan punyamu.”
“Terus kalo toketnya montokan mana?” kali ini aku mencopot kaosku sehingga payudara dan
tubuhku yang montok itu telanjang tanpa sehelai benang yang menutupi.
“Aaanu.. lebih montok dan kencengan tetekmu!”
Mas Andi tampak melotot menyaksikan bodiku yang sexy. Hal itu malah membuat aku
semakin terangsang.
“Sekarang giliran aku liat punya Mas Andi!”
Karena sudah sangat bernafsu aku menerkam Mas Andi. Kucopoti seluruh pakaiannya
sehingga dia bugil. Aku terpesona melihat tubuh bugil Mas Andi dari dekat. Badannya agak
langsing tapi sexy. penisnya sudah mengacung tegar membuat jantungku berdebar cepat.
Entah kenapa, kalo dulu ngebayangin bentuk burung cowok aja rasanya jijik tapi ternyata
sekarang malah membuat darahku berdesir.
“Wah gede banget! Aku isep ya Mas!”
Tanpa menunggu persetujuannya aku langsung mengocok, menjilat dan mengulum batang
kemaluannya yang gede dan panjang itu seperti yang aku tonton di BF.
“Slurp Slurp Slurpmmh! Slurp Slurp Slurp mmh.”
Ternyata nikmat sekali mengisap penis. Aku jepit penisnya dengan kedua susuku kemudian
aku gosok-gosokin, hmm nikmat banget! Mas Andi akhirnya tak kuat menahan nafsu.
Didorongnya tubuh sintalku hingga terlentang lalu diterkamnya aku dengan ciuman-ciuman
ganasnya. Tangannya tidak tinggal diam ikut bekerja meremas-remas kelapa gadingku.
“Ahh mmh.. yesh uuh.. enak mas”
Aku benar-benar merasakan sensasi luar biasa. Sesaat kemudian mulutnya menjilati kedua
putingku sambil sesekali diisap dengan kuat.
“Auwh geli nikmat aah ouw!”
Aku menggelinjang kegelian tapi tanganku justru menekan-nekan kepalanya agar lebih kuat
lagi mengisap pentilku. Sejurus kemudian lidahnya turun ke vaginaku. Tangannya
menyibakkan jembutku yang rimbun itu lalu membuka vaginaku lebar-lebar sehingga
klitorisku menonjol keluar kemudian dijilatinya dengan rakus sambil sesekali menggigit kecil
atau dihisap dengan kuat.
“Yesh.. uuhh.. enak mas.. terus!” jeritku.
“Slurp Slurp, vaginamu gurih banget Ulfa mmh”.
Mas Andi terus menjilati vaginaku sampai akhirnya aku nggak tahan lagi.
“Mas.. ayo.. masukin penismu.. aku nggak tahan..”
Mas Andi lalu mengambil posisi 1/2 duduk, diacungkannya penisnya dengan gagah ke arah
lubang vaginaku. Aku mengangkangkan kakiku lebar-lebar siap menerima serangan
rudalnya. Pelan-pelan dimasukkannya batang rudal itu ke dalam vaginaku.
“Aauw sakit Mas pelan-pelan akh..”
Walaupun sudah basah, tapi vaginaku masih sangat sempit karena aku masih perawan.
“Au.. sakit”
Mas Andi tampak merem menahan nikmat, tentu saja dibandingkan Mbak Sari tempikku jauh
lebih menggigit. Lalu dengan satu sentakan kuat sang rudal berhasil menancapkan diri di
lubang kenikmatanku sampai menyentuh dasarnya.
“Au.. sakit..”
Aku melonjakkan pantatku karena kesakitan. Kurasakan darah hangat mengalir di pahaku,
persetan! Sudah kepalang tanggung, aku ingin ngerasain nikmatnya bercinta. Sesaat
kemudian Mas Andi memompa pantatnya maju mundur.
“Jrebb! Jrebb! Jrubb! Crubb!”
“Aakh! Aakh! Auw!”
Aku menjerit-jerit kesakitan, tapi lama-lama rasa perih itu berubah menjadi nikmat yang luar
biasa. vaginaku serasa dibongkar oleh tongkat kasti yang kekar itu.
“Ooh.. lebih keras, lebih cepat”
Jerit kesakitanku berubah menjadi jerit kenikmatan. Keringat kami bercucuran menambah
semangat gelora birahi kami.
Tapi Mas Andi malah mencabut penisnya dan tersenyum padaku. Aku jadi nggak sabar lalu
bangkit dan mendorongnya hingga telentang. Kakiku kukangkangkan tepat di atas penisnya,
dengan birahi yang memuncak kutancapkan batang bazooka itu ke dalam bawukku,
“Jrebb.. Ooh..” aku menjerit keenakan, lalu dengan semangat 45 aku menaik turunkan
pantatku sambil sesekali aku goyangkan pinggulku.
“Ouwh.. enak banget tempikmu nggigit banget sayang.. penisku serasa diperas”
“Uggh.. yes.. uuh.. auwww.. penismu juga hebaat, bawukku serasa dibor”
Aku menghujamkan pantatku berkali-kali dengan irama sangat cepat. Aku merasa semakin
melayang. Bagaikan kesetanan aku menjerit-jerit seperti kesurupan. Akhirnya setelah
setengah jam kami bergumul, aku merasa seluruh sel tubuhku berkumpul menjadi satu dan
dan
“Aah mau orgasme Mas..”
Aku memeluk erat-erat tubuh atletisnya sampai Mas Andi merasa sesak karena desakan
susuku yang montok itu.
“Kamu sudah sayang? OK sekarang giliran aku!”
Aku mencabut vaginaku lalu Mas Andi duduk di sofa sambil mememerkan ‘tiang listriknya’.
Aku bersimpuh dihadapannya dengan lututku sebagai tumpuan. Kuraih penis besar itu,
kukocok dengan lembut. Kujilati dengan sangat telaten. Makin lama makin cepat sambil
sesekali aku isap dengan kuat.
“Crupp.. slurp.. mmh..”
“Oh yes.. kocok yang kuat sayang!”
Mas Andi mengerang-erang keenakan, tangannya meremas-remas rambutku dan kedua bola
basket yang menggantung di dadaku. Aku semakin bernafsu mengulum. Menjilati dan
mengocok penisnya.
“Crupp crupp slurp!”
“Ooh yes.. terus sayang yes.. aku hampir keluar sayang!”
Aku semakin bersemangat ngerjain penis big size itu. Makin lama makin cepat cepat Cepat,
lalu lalu
“Croot.. croot..”
Penisnya menyemburkan sperma banyak sekali sehingga membasahi rambut wajah, tetek dan
hampir seluruh tubuhku. Aku usap dan aku jilati semua maninya sampai licin tak tersisa, lalu
aku isap penisnya dengan kuat supaya sisa maninya dapat kurasakan dan kutelan.
Akhirnya kami berdua tergeletak lemas diatas karpet dengan tubuh bugil bersimbah keringat.
Malam itu kami mengulanginya hingga 4 kali dan kemudian tidur berpelukan dengan tubuh
telanjang. Sungguh pengalaman yang sangat mengesankan.
Tamat
Posted in Cerita Dewasa | No Comments »
Gadis SMU
Sunday, August 31st, 2008

Halo, masih ingat dengan Leni teman kostku, dalam ceritaku yang kedua: Kenikmatan oral
sex. Nah sejak kejadian tersebut, hampir tiap hari kami melakukan oral sex, sehingga kami
bisa saling meneguk air surgawi lawan masing-masing. Setiap aku ereksi, aku selalu mencari
kesempatan untuk main dengan Leni, sehingga spermaku tidak terbuang sia-sia karena selalu
habis ditelannya, tentu saja aku juga selalu menyedot cairan cintanya.
Sayangnya kenikmatan tersebut cuma bertahan satu bulan, entah karena apa sehingga Leni
harus pindah kuliah di kota kelahirannya. Waduh, penisku sangat sengsara, air maniku
kembali terbuang sia-sia. Setiap malam ereksi terus selama beberapa jam, sampai susah tidur,
mendambakan kocokan tangan dan bibir cewek.

Sampai suatu hari, ketika sore pulang kerja, Mei-Mei temen kostku mau pinjam film dvd
Lord of the Ring 2 milikku. Aku perbolehkan, tapi nanti malam saja, kataku kepadanya.
Sebagai gambaran, Mei-Mei tuh anak SMU kelas 3, lumayan facenya, supel, rada kurus, tapi
dadanya proporsional, kencang dan indah. Malamnya, aku tuh lupa mau pinjamin dia film,
tapi malah nonton BF yang barusan kupinjam tadi siang dari temanku. Kubuka pakaianku
sampai telanjang bulat, karena badanku jadi panas atas bawah karena BF. Dengan posisi
duduk, kukocok pelan-pelan penisku yang sudah berdiri tegak, sambil nonton BF. Dalam film
tersebut, diperlihatkan, cewek bule cakep sedang mengoral penis lawannya dengan sangat
menggairahkan dan sangat menikmatinya, seperti makan ice cream.
Sedang asyik-asyiknya mengocok, tiba-tiba kamarku terbuka dan Mei-Mei, dengan sedikit
berteriak “Mana filmnya? Ihh gila, ngapain Ko? Jorok banget”
Kontan aku langsung terloncat dari dudukku sambil menutupi penisku yang berdiri,
“Akh..aku aku..” kataku tergagap.
Mei-Mei langsung masuk kamarku dan menguncinya, “Hayo, nonton BF kok sambil
telanjang? Ngapain saja tuh?”
Kataku “Akh, kegiatan rutin cowok kok”
Lalu dengan cueknya dia juga akhirnya ikutan melihat film BF, sementara pinggang ke
bawahku kututupi selimut. Tontonan BF saat itu yaitu 2 manusia berlawanan jenis sedang
mengoral kelamin lawannya. Lalu Mei-Mei tanya padaku,”Ko, emang enak gituan? Kok
mereka tidak jijik ya?”
Jawabku,”Kamu pernah terangsang belum? Masa belum pernah?”.
“Pernahlah, aneh kamu Ko”, katanya.
“Lalu rasanya seperti apa? Apakah kamu merasakan sensasi aneh dibagian-bagian tertentu
tubuhmu? Pernah tidak masturbasi?”, tanyaku.
“Ya ada rasa geli-gelinya, masturbasi? Maksa keluar sel telur wanita? Belum pernah tuh,
sakit kan?”, jawabnya.

“Gila, justru tidak sakit, tapi malah sangat nikmat, itulah salah satu hal yang paling nikmat di
dunia, namanya sex! Apapun bentuknya, masturbasi, onani, oral, anal, senggama, dll.”
“Lalu diantara semua kegiatan tadi, yang paling enak yang mana Ko?”
“Ya, kalau dari urutan terbawah, masturbasi/onani karena sendirian melakukannya, lalu oral
sex dan yang paling nikmat tiada tara adalah senggama”, jawabku dengan enteng.
“Aku yakin Ko Tedi pernah senggama kan? Ngaku aja deh!” protesnya.
“Sayang sekali tebakanmu salah, justru belum pernah! Milikku hanya kuberikan untuk istriku
kelak, yee!” balasku dengan bangga, “Tapi kalau oral sex sih pernah, dengan Leni.”
“Hah? Dengan Ci Leni? Teman satu kost kan? Masa sih? Kapan? kok aku tidak pernah tahu,
gila loe, lalu kamu ambil kesuciannya dan tidak tanggung jawab?”
“Masa aku main dengan Leni harus omong sama kau? Lagipula dia sudah tidak perawan
karena pernah senggama dengan pacarnya waktu SMA. Kami melakukannya atas sama-sama
saling suka kok, kami tidak senggama lho, cuma oral sex. Hampir tiap hari kami
melakukannya, enak lho, nikmat sekali, lagipula aman karena tidak merusak selaput dara
cewek, nyesel deh kamu tidak pernah merasakannya,” godaku.
“Emang bener nikmat? Serius nih tidak sakit atau selaput daraku, eh mak.. maksudku selaput
dara tidak pecah?” tanyanya dengan malu karena salah ucap. Aku mengangguk mengiyakan,
aku yakin sekali, Mei-Mei pasti mau diajak oral sex. Film BF yang kupause tadi lalu
kuresume lagi. Melihat ekspresi wajahnya yang putih itu, kelihatan bahwa dia mulai
terangsang, napasnya berat dan wajahnya memerah. Penisku yang setengah tegang, akhirnya
jadi tegang lagi.
Kami dalam keadaan duduk saat itu. Kupeluk Mei-Mei dari belakang pelan-pelan lalu
kugerai rambut yang menutupi pipi kanannya dan kudaratkan ciumanku di pipi kanannya.
Mei-Mei masih tegang karena tidak pernah dipegang cowok. Apalagi penisku yang sudah
ereksi dari tadi, menempel di pantatnya, walau pinggangku masih terlilit selimut. Kugenggam
tangan kirinya dengan tangan kananku, tangan kiriku memeluknya, sementara bibirmu mulai
menciumi pipi, leher, dan telinganya.
“Ohh..sstt” desisnya. Aku cium bibirnya yang mungil, pelan saja dan dia mulai
menanggapinya. Kupermainkan lidahku dengan lidahnya, sementara kuputar pelan-pelan
tubuhnya sampai menghadapku (masih dalam keadaan duduk). Dengan cukup cepat, kuganti
film BF tersebut, dengan lagu mp3 barat yang romantis. Kupeluk mesra dia, kedua tanganku
mengelus-elus punggungnya dan terkadang kuremas lembut kedua pantatnya. Aku sangat
suka pantat cewek, begitu menggairahkan, apalagi yang padat berisi, ingin rasanya meremas
dan menciuminya. Penisku yang tegak lurus terkadang kugesekkan keperutnya. Bingung dia
harus memperlakukan penis seperti apa. Langsung kubimbing tangannya untuk mengelus-
elus dan mengurut seluruh bagian penis dan kedua bijinya. Memang kalau cewek yang
pegang penis, sungguh berbeda jauh nikmatnya apalagi sudah beberapa minggu penisku ini
mendambakan kocokan dan emutan cewek lagi.
Kurebahkan Mei-Mei pelan-pelan, bibirku semakin bergerilya di bibirnya, leher dan
telinganya.
“Ohh, sst..” desahnya, yang semakin membuatku bernafsu. Dengan bibirku yang tetap aktif,
tangan kananku mulai menelusuri badannya, kuelus-elus pundaknya, lalu turun ke dada
kanannya. Kuraba pelan, lalu mulai remasan-remasan kecil, dia mulai menggeliat (geliatnya
sangat sexy). Wah gila, kenyal dan kencang, semakin kuperlama remasanku, dengan sekali-
kali kuraba perutnya. Tanganku mulai masuk didalam bajunya, mengelus perutnya dan Mei-
Mei kegelian. Tanganku yang masih di dalam bajunya, mulai naik kedadanya dan meremas
kedua gunung kembarnya, jariku keselipkan dibranya agar menjangkau putingnya untuk
kupermainkan. Mei-Mei mulai sering medesah,
“Sst.. ahh.. ohh” Karena branya sedikit kencang dan mengganggu aktivitas remasanku, maka
tanganku kulingkarkan ke belakang punggungnya.
Kait branya kubuka, sehingga longgarlah segel 2 bukit kembar itu. Bajunya kusingkap keatas,
wah indah sekali dadanya, putih mulus, kedua putingnya mencuat mengeras ingin dijilati.
Sudah saatnya nih beraksi si lidah. Kujilati, kusedot-sedot, kucubit, kupelintir kecil kedua
putingnya. Mei-Mei mulai meracau tidak karuan manahan nikmatnya permainan bibirku di
kedua dadanya. Kubuka baju dan branya sehingga tubuh atasnya bugil semua. Tubuhnya
yang putih, dua bukit ranum dengan 2 puting mencuat indah, wajahnya memerah, keringat
mengalir, ditambah desahan-desahan yang menggairahkan, sungguh pemandangan yang tidak
boleh disia-siakan. Kuciumi bibirnya lagi, dengan kedua tanganku yang sudah bebas
bergerilya di kedua bongkahan dadanya. Nafas kami menderu menyatu, mendesah, ruangan
kamarku menjadi semakin hangat saja.
Dengan adanya lagu yang sedang mengalun rada keras, kami memberanikan diri mendesah
lebih keras. Kuciumi dan kujilati badannya, mulai dari lengan atas, naik ke pundak dan leher,
turun ke dadanya. Sengaja kujilati bongkahan dadanya berlama-lama tanpa menyentuh
putingnya, kupermainkan lidahku disekitar putingnya. Tiba-tiba lidahku menempel ke puting
kanannya dan kugetarkan cepat, tangan kiriku mencubit-cubit puting kirinya, Mei-Mei
semakin kelojotan menahan geli-geli nikmat. Enak sekali menikmati bukit kembar cewek,
inginnya nyusu terus deh. Tangan kananku mulai merayap ke pahanya, kuelus naik turun,
terkadang sengaja menyentuh pangkal pahanya.
Terakhir kali, tanganku merayap ke pangkal paha, dengan satu jariku, kugesek-gesekkan ke
vaginanya yang ternyata sudah basah sampai membekas keluar di celana pendeknya. Kedua
kakinya langsung merapat menahan geli. Tanganku mengelus pahanya dan membukanya,
menjalar ke kemaluannya, lalu semua jariku mulai menggosokkan naik turun ke bukit
kemaluannya.
“Ah gila..uhh hmm”, geliatnya sambil meremas bantalku. Kulumat bibirnya, tanganku mulai
menyusup kedalam celananya, menguak CD-nya, meraba vaginanya. Mei-Mei semakin
terangsang, dengan desisan pelan serta gelinjang-gelinjang birahi. Tak lama kemudian dia
mendesis panjang dan mengejang, lalu vaginanya berdenyut-denyut seperti denyutan penis
kalau melepas mani. Mei-Mei lalu menarik nafas panjang. Basah mengkilap semua jariku,
mungkin tidak pernah terasang seperti ini, lalu kujilat sampai kering
“Lebih enak dan gurih, perawan mungkin memang paling enak,” kata hatiku.
“Koko nakal, ” katanya sambil memelukku erat. Sudah saatnya penisku dipuaskan. Kucium
bibirnya lembut, kubimbing lagi tangannya untuk meremas dan mengurut penisku. Gantian
aku yang melenguh dan mendesis, menahan nikmat. Posisiku berbaring di bawah dan Mei-
Mei mulai menyerbu tubuhku sambil tetap memijat penisku, mencium dan menjilat dadaku,
putingku, perutku dan akhirnya sampai tepat didepan tonjolan penisku. Mei-Mei lalu
membuka balutan selimut yang melingkari pinggangku, dan penisku melompat keluar. Kaget
dan tertawa tertahan Mei-Mei melihat penisku.
“Ih lucu deh, gemes aku jadinya, harus digimanain lagi nih Ko?”, tanyanya bingung sambil
tetap mengelus-elus batang kejantananku. Terlihat disekitar ujung penisku sudah basah
mengeluarkan cairan bening karena ereksi dari tadi.
“Ya diurut-urut naik turun gitu, sambil dijilat seperti menikmati es krim” sahutku. Ditimang-
timangnya penisku, dengan malu-malu lalu dijilati penisku, ekspresi wajahnya seperti anak
kecil.
Mulai dimasukkan penisku ke mulutnya dan “Ahh Mei, jangan kena gigi, rada sakit tuh, ok
sayang?”
“Hmm, ho oh”, mengiyakan sambil tetap mengulum penisku. Nah begini baru enak,
walaupun masih amatir.
“Yess..” desahku menahan nikmat, terlihat semakin cepat gerakan naik turun kepalanya.
“Ko, bolanya juga?” tanyanya lagi sambil menunjuk ke zakarku.
“Iya dong sayang, semuanya deh, tapi jangan kena gigi lho”.
Dijilati dan diemutnya zakarku, setiap jengkal kemaluanku tidak luput dari jilatannya, hingga
kemaluanku basah kuyup.
“Ahh..ohh..yes..” desahku dengan semakin menekan-nekan kepalanya. Dimasukkannya
batangku pelan-pelan ke mulutnya yang mungil sampai menyentuh tenggorokannya, penisku
dikulum-kulum, divariasikan permainan lidahnya dan aku semakin menggeliat. Terkadang
dia juga menjilati lubang kencingku, diujung kepala penis, sehingga aku hampir melompat
menahan nikmat dan geli yang mendadak.
“Nah, ketahuan sekarang!” katanya sambil melirik padaku dengan tatapan nakalnya.
Diulanginya perbuatan tadi dengan sengaja sampai aku berontak liar ke kiri kanan karena geli
sekali.
“Jangan Mei, jangan diterus lagi di sana, aku tidak kuat”, kataku sambil ngos-ngosan, “Itu
kepala penis juga daerah sangat sensitif lho,” lanjutku untuk mengalihkan perhatiannya agar
tidak diserang lubang kencingku terus.
Dilanjutkannya lagi kocokan ke penisku dengan mulutnya. Pelan-pelan kubelai rambutnya
dan aku mengikuti permainan lidah Mei-Mei, kugoyangkan pantatku searah. Enak sekali
permainan bibir dan lidahnya, Mei-Mei sudah mulai terbiasa dengan kejantanan cowok.
Akhirnya, badanku mulai mengejang, “Mei, aku mau keluar.. ohh ahh..” dan sengaja
dipercepat kocokan penisku dengan tangannya.
Croott crot crot creet.. air maniku berhamburan keluar banyak sekali, sebagian kena
wajahnya, ada yang muncrat sampai monitorku, dan sebagian lagi meluber di tangan Mei-
Mei dan penisku. Mei-Mei sempat terpesona melihat pemandangan menakjubkan itu.
“Wow, kok bisa ya Ko? Rasanya seperti apa ya?”
Lalu dia menjilat air maniku yang meluber di penisku.
“Asin dan gurih, enak juga ya Ko?”, katanya sambil menelan semua spermaku sampai habis
bersih dan kinclong.
“Sperma baik lho untuk cewek, bisa menghaluskan kulit, obat awet muda dan menambah
stamina dan tenagamu”, jelasku padanya.
“Wah, kalau gitu koko sayang, tiap hari Mei-Mei bolehkan meminumnya?” tanyanya mesra
sambil mendekatkan wajahnya ke wajahku.
“Tentu saja sangat boleh sayangku,” sahutku.
Badanku menindih badannya, bibirnya mencium bibirku, kurasakan dia mulai terangsang
lagi. Kuremas-remas dadanya yang sudah menunggu dari tadi untuk dinikmati lagi. Kuraba-
raba lagi vagina si Mei-Mei, pinggangnya menggeliat menahan nikmat sekaligus geli yang
demikian hebat sampai pahanya merapat lagi. Kupelorotkan celana pendeknya, sengaja tidak
dengan CD-nya, karena aku ingin melihat pemandangan indah dulu. Wow, CD-nya pink tipis
berenda dan mungil, sehingga dalam keadaan normal kelihatan jelas bulu-bulunya.
Lalu kujilati kedua pahanya dari bawah sampai ke pangkalnya, lalu kucium aroma lembab
vaginanya, oh sungguh memabukkan, membuat laki-laki manapun semakin bernafsu. Kujilat
sekitar pangkal paha tanpa mengenai vaginanya, yang membuat Mei-Mei semakin penasaran
saja. Kupelorotkan CD-nya pelan-pelan sambil menikmati aroma khas vaginanya, lalu kujilat
CD bagian dalam yang membungkus kemaluannya. Sesaat aku terpesona melihat vaginanya,
bulunya yang tertata rapi tapi pendek-pendek, bibirnya yang gundul mengkilap terlihat jelas
dan rapat, di tengah-tengahnya tersembul daging kecil.
Vagina yang masih suci ini semakin membuatku bergelora, penisku mulai berontak lagi
minta dipijat Mei-Mei. Mulutku sudah tidak sabaran untuk menikmati sajian paling lezat itu,
lidahku mulai bergerilya lagi. Pertama kujilati bulu-bulu halusnya, rintihan Mei-Mei
terdengar lagi. Terbukti titik lemah Mei-Mei ada di vaginanya, begitu dia menggerakkan
pantatnya, dengan antusias lidahku menari bergerak bebas di dalam vaginanya yang sempit
(masih aman karena selaput dara berada lebih ke dalam).
Begitu sampai di klitorisnya (yang sebesar kacang kedelai), langsung kukulum tanpa ampun
“Akhh.. sstt.. ampun enaknya.. stt” racaunya sambil menggeleng-geleng kepalanya menahan
serbuan kenikmatan yang menggila dari lidahku. Dengan gerakan halus, kuusap-usap
klitorisnya dan dia makin kelojotan dan tidak begitu lama terjadi kontraksi di vaginanya. Aku
tau Mei-Mei akan klimaks lagi, makin kupercepat permainan lidahku. Kemudian diraihnya
bantalku dan ditutupnya ke mulutnya, dan dia menjerit sambil badannya meregang.
Mengalirlah dengan deras cairan cintanya itu, tentu saja yang telah kutunggu-tunggu itu.
Kujilati semua cairan yang ada sampai vaginanya mengkilap bersih, nyam nyam segarnya,
enak sekali.
Beberapa saat, kubiarkan Mei-Mei istirahat sambil mengatur napas. Kuhangati badannya,
kupeluk erat (sambi menggesek gesekkan penisku yang sudah ereksi lagi dari tadi ke bibir
vaginanya), dan kupeluk erat dengan mesra, kukecup keningnya, dan kedua pipinya. Sambil
memandangku, wajahnya tersenyum bahagia sekali, baru kali ini dia merasakan nikmat
begitu dasyat, sampai lemas sekujur tubuhnya. Setelah nafasnya mulai normal, kuciumi
bibirnya dengan lembut.
“Nikmat sekali kan say? Ingin lagi? Masih kuat kan?” kataku dengan mencium bibirnya lagi
(aku memang suka ciuman).
“Lho masih bisa lagi toh?” tanyanya sambil mengharapkan jawaban iya dariku. Kucium rada
lama bibirnya dengan lembut.
“Iya dong, selama kita masih kuat, kenapa nggak?” balasku sambil masih menggesekan
penisku ke vaginanya.
“Oh..hmm..” desahnya.
Sekarang show time untuk posisi 69. Dengan badanku di atas, kepalaku ke gundukan
kemaluannya dan penisku kuarahkan ke mulutnya. Sergap sekali dia menangkap penisku
dengan bibirnya. Langsung dijilati penisku tanpa dikulumnya, seperti tadi dia menghisap
bijiku dan bahkan sampai lubang pantatku dijilatinya. Aku menahan nikmat sambil tak mau
kalah untuk menggempur habis vaginanya. Kusapu habis seluruh vaginanya dengan lidah dan
bibirku, kubuka vaginanya sedikit, lalu kumasukkan lidahku di sana sambil menggetar-
getarkannya. Reaksi Mei-Mei pun langsung menjepit kepalaku, berhenti sesaat mengulum
penisku menikmati serangan lidahku. Mei-Mei dengan sengaja juga menyerang kepala
penisku, dinaik turunkan mulutnya disekitar kepala penisku sambil sesekali lidahnya sengaja
menjilati lubang kencingku.
“Gila nikmatnya..uhh..ahh..” rintihku. Kami mulai seirama bergoyang badan bersama. Aku
mulai merasakan bahwa vagina Mei-Mei mulai mengejang, sementara penisku belum mau
keluar.
Lalu kuhentikan sementara, memandang dengan takjub lubang kemaluannya dan menghirup
aroma khas wanitanya.
Mei-Mei protes, “Uhh..Ko kok dihentikan, mau keluar nih.”
Jawabku,”Jangan dulu sayang, mau kan kita keluar bersama-sama? Lebih nikmat lho, ok?”
Dipercepat kocokan mulutnya di batangku, sementara aku meremas-remas pantatnya. Mulai
nih terasa panas penisku, dan kuterkam lagi vaginanya tanpa ampun. Semakin cepat aku
melahap vaginanya, makin cepat pula kocokkannya. Aduh duh enaknya, kami sama-sama
mendesah, merintih dan pada akhirnya badan kami tegang dan lidahku sudah bersiap-siap di
depan vaginanya untuk menampung semua cairannya, sedangkan Mei-Mei mengeluarkan
penisku dari emutannya dan mengocoknya dengan tangannya.
“Aah.. oh.. yes.. croot.. crot..”
Badan kami sesaat seperti tersetrum listrik kenikmatan yang tiada taranya. Banyak sekali
cairan cinta yang dikeluarkan vaginanya dan tentu saja harus habis kujilati, tanganku masih
tetap meremas-remas bongkahan pantatnya. Air maniku bermuncratan di wajah, leher dan
dadanya Mei-Mei. Dikulum dan diurutnya penisku dari pangkal sampai kepala penis sampai
yakin air maniku habis, lalu diambilnya ceceran spermaku di tubuhnya untuk ditelan. Aku
membantunya, dengan menjilati badannya yang terkena siraman spermaku lalu kuberikan ke
bibirnya agar ditelan olehnya.
Setelah habis semua, kupeluk mesra dan kucumbu dia, kunikmati setiap jengkal tubuhnya
dengan tanganku.
“Sayang, kamu mau kan tidur denganku malam ini? Besok kan minggu.” tanyaku lalu
mencium bibirnya yang lembut itu. Mei-Mei cuma mengangguk tanpa melepaskan bibirku.
Malam itu kami tidur bersama dengan masih tetap telanjang bulat, sambil kudekap erat
tubuhnya.
Keesokan paginya sekitar jam 5.30-an, seperti biasa penisku selalu ereksi. Mei-Mei sudah
bangun duluan sebelum aku, dan kurasakan kocokan-kocokan nikmat di penisku. Aku yang
masih ngantuk, jadi tidak bisa berkonsentrasi apalagi aku mencium aroma khas
kewanitaannya, sehingga gairahku meningkat cepat. Ternyata Mei-Mei sudah dengan posisi
69, mengoral penisku yang selalu ereksi tiap pagi. Pantas saja vaginanya di depan hidungku,
makanya baunya lezat sekali, pagi-pagi sudah diberi suguhan yang menaikkan gairah laki-
laki. Aku membutuhkan sesuatu yang segar dan enak untuk membasahi tenggorokanku di
pagi hari. Vaginanya yang sudah lembab itu, langsung kujilati dengan ganas. Tanganku
memilin-milin putingnya dan dia semakin meningkatkan kecepatan mulutnya. Yes.. pagi-
pagi, dua kemaluan sudah berolahraga, walaupun cuma oral sex, tapi nikmatnya luar biasa.
Aku tau kalau aku akan klimaks, karena itu, goyangan lidahku pun harus sering menggapai
sasarannya yaitu klitorisnya yang indah.
Dan..
Ahh.. oohh.. crott..
Penisku mengeluarkan lahar panasnya dan vaginanya pun membanjir. Sekali lagi kami
berdua saling membersihkan kemaluan lawan masing-masing dari banjir cairan kenikmatan.
Lalu kupeluk dan kucium dia dan kami melanjutkan tidur sampai jam 10-an.
Sejak saat itu, hampir tiap malam atau sore, kami sering melakukan oral sex sampai berlanjut
tidur telanjang bersama melepas kenikmatan dengan menghangati badan. Terutama pada saat
menjelang Ebtanas, untuk menambah kesehatan, stamina dan pikirannya, tiap sore dan
malam, Mei-Mei pasti meminum air maniku. Dan hasil ujiannya pun bagus, kami sama-sama
senang dan merayakannya dengan oral sex sepanjang hari.
Kelak kalau aku punya istri, kami akan sering olahraga agar tubuh tetap bugar, fit, bentuk
badan tetap terjaga. Tentu saja juga harus minum air maniku tiap beberapa hari sekali agar
awet muda, bergairah dan kulitnya senantiasa halus mulus terpelihara.
Posted in Daun Muda | No Comments »
Rin Kekasihku
Sunday, August 31st, 2008

Kebetulan pada saat itu, saya mempunyai seorang kekasih teman satu sekolah, nama
panggilannya Rin. Dia adalah anak ke 3 dari 8 bersaudara. Rin tinggal di Bandung bersama
kakaknya sedangkan orang tua dan adik-adiknya menetap di luar Jawa. Selama berpacaran
dengan Rin, saya belum pernah melakukan seperti apa yang saya lakukan dengan Mbak Ami
di Yogya. Paling maksimal saya hanya mencium pipi atau kening Rin, itupun saya lakukan
jika ada acara khusus.
Seperti biasanya, karena usai sekolah sore hari maka saya mengantarkan Rin pulang ke
rumahnya di daerah Bandung Barat. Biasanya setelah sampai dirumah Rin saya langsung
pulang, tapi hari itu saya sengaja untuk masuk dulu ke rumah Rin.
“Kamu mau saya temanin dulu apa nggak?” tanya saya kepada Rin.
“Temanin yach.., besok khan tanggal merah, lagian kakakku lagi nonton di luar”, jawab Rin
dengan ringannya.
“Ok, kalau gitu mobilnya saya masukin ke carport aja, nggak usah diparkir di jalan”, balas
saya sambil membuka pintu pagar rumahnya.
Setelah memasukkan mobil, saya terus masuk ke ruang tamu dan duduk. Tidak begitu lama
Rin ke ruang tamu sambil membawa teh hangat untuk saya.
“Aku ganti baju dulu, kamu minum dech” kata Rin kepada saya.
“Iya, aku nunggu di sini aja lah, kamu jangan lama-lama ganti bajunya” kata saya.
Tidak begitu lama, Rin telah kembali dengan menggunakan kaos dan celana pendek. Dia
duduk di samping saya, begitu saya perhatikan ternyata satu kancing bagian atas kaosnya
dibuka. Hal itu menimbulkan rangsangan untuk mencumbunya.
“Rin, kakakmu kira-kira pulang jam berapa” tanya saya.
“Yach.. Paling juga jam 10 an sampai rumah, kenapa?” tanya Rin kepada saya.
“Nggak.. Ya berarti masih ada waktu cukup” sahut saya lagi.
“Emang.. Mau apa?” tanya Rin menyelidik
Kemudian saya menarik badan Rin untuk bersandar di badan saya dan saya tanya,” Boleh
saya cium kamu?”
Tanpa menunggu jawaban dari Rin, saya sudah mendaratkan bibir saya di bibirnya. Uch.. Rin
pun membalas ciuman saya ini dan dia juga membuka mulutnya dengan maksud agar
lidahnya bisa menggapai lidah saya.
“Rin.. Aku sayang sama kamu” kata saya seraya menghentikan untuk sesaat ciuman di
bibirnya.
“He.. Eh, aku juga” balas Rin sambil terus menggigit bibir dan lidah saya.
Sambil mencium, tangan saya juga sudah mulai mengelus punggungnya dan kemudian
bergeser ke lengannya dan berhenti sejenak di sekitar ketiaknya. Tangan Rin pun semakin
kencang memeluk badan saya, kelihatannya Rin sudah terbawa emosinya dan dia juga
kelihatannya menikmati ketika saya mulai mencium belakang telinga dan lehernya.
“Shh.. Ach.. Ko, geli” desah Rin sambil ke dua tangannya memegang kepala saya.
“Rin.., suka ya..?” tanya saya sambil terus menciuminya dan tangan saya mengelus-elus
lengannya.
Ciuman saya dari leher kemudian turun ke bagian bawah leher dimana kancing kaosnya
sudah terbuka satu. Hanya sebentar ciuman saya di daerah itu, kemudian ciuman saya geser
lagi ke bibirnya. Sambil berciuman, saya pindahkan tangan saya ke buah dadanya dan saya
usap-usap dari luar kaosnya dengan sekali-kali saya remas.
“Ko.. Jangan.. Sakit” bisik Rin sambil kepalanya mendongak ke atas.
Tangan sayapun terus mencoba untuk masuk melalui kancing yang telah terbuka dan
langsung menyusup ke dalam cup bra nya.
“Ach..” desah Rin, sambil tangannya ikut memegangi tangan saya, ntah maksudnya melarang
atau mempertahankan tangan saya untuk terus mengolahnya. Tetapi.., setelah beberapa saat
saya meremas buah dadanya, tiba-tiba..
“Plak..” tangan Rin pun menampar pipi saya.
Kaget juga saya dengan tamparan dia itu, saya pikir saking enaknya di remas buah dadanya
sehingga dia menjadi begitu tenyata sebaliknya, dia kaget karena diremas-remas buah
dadanya.
“Kamu.. Ngapain Ko..” tanya Rin kepada saya.
“Ech.., kenapa kamu nggak mau” saya balik bertanya.
“Iya.. Jangan nggak boleh khan” balas Rin.
“Ya sudah.. Maaf ya” kata saya sambil kemudian saya membetulkan duduk saya.
Untuk beberapa saat kami berdua terdiam, mungkin Rin menyesali apa yang baru saja terjadi
dan saya menyesali karena apa yang saya rencanakan tidak terpenuhi padahal penis saya
sudah mengeras karena terangsang. Dengan berat hati, saya akhirnya minta ijin untuk pulang.
“Kamu kesel yach.. Saya nggak mau” tanya Rin kepada saya.
“Nggak, kenapa, saya tidak mau memaksa khok” jawab saya kemudian.
“Ko.., saya sayang sama kamu tapi saya belum bisa untuk menerima apa yang tadi kamu
lakukan dan jika hal itu kita lakukan pasti ingin mengulang terus” begitu penjelasan Rin
kepada saya.
“Nggak apa-apa khok, nggak usah kamu pikirin lagi dech Rin” balas saya sambil berdiri
untuk pulang.
“Saya pulang ya dan maaf soal tadi” kata saya kepada Rin, kemudian saya kecup keningnya.
“Iya dech hati-hati nggak usah ngebut” kata Rin.
Setelah kejadian malam itu, hubungan saya dengan Rin tetap berlangsung terus dan paling
maksimal saya hanya mengecup bibirnya sebentar tanpa ada aktivitas lainnya. Tidak terasa
hubungan kami sudah mencapai 2 tahun dan kami berdua lulus dari SMA di Bandung. Saya
melanjutkan ke salah satu perguruan tinggi terkenal di Yogya dan Rin kuliah di Bandung.
Kami hanya berkomunikasi dengan telepon atau surat dan bertemu jika masa kuliah sedang
libur dan tidak terasa telah lebih dari 1 tahun kami berhubungan jarak jauh.
Sampai suatu malam, sehabis kuliah saya dibonceng oleh teman kuliah saya yang bernama
Ipin melintas dikawasan Malioboro biasa mau cuci mata karena sudah sumpek dengan kuliah
seharian dan saya dikagetkan ketika melihat satu rombongan yang menarik perhatian saya
dimana saya lihat Rin berada di antara rombongan itu.
“Ipin, kita ikutin rombongan itu, kayaknya aku liat Rin dech” kata saya.
“Hah.. Masa sich, khok kamu bisa nggak tahu kalau dia ke Yogya” balas Ipin dengan nada
kaget.
Ipin tahu kalau saya punya kekasih di Bandung yang namanya Rin.
“Iya nich.. Jangan-jangan aku salah liat, tapi kita ikutin aja lah paling nggak kita bisa tahu
mereka nginap dimana” balas saya kemudian.
Akhirnya saya dan Ipin mengikuti rombongan itu dan saya pastikan kalau yang saya liat itu
adalah Rin tidak salah lagi. Kita ikuti sampai mereka masuk ke sebuah hotel di samping
stasiun.
“Sudah, samperin aja Ko, cuek aja.. Khok dia nggak kasih kabar sama kamu” kata Ipin
kepada saya ketika melihat saya ragu mau ikut masuk ke hotel itu atau tidak.
“Ayo.. Lah, parkirin aja motornya kita datengin” balas saya kepada Ipin.
Setelah memarkir motor, saya dan Ipin mendatangani receptionist dan menanyakan
rombongan yang baru masuk tersebut.
“Selamat malam Mbak, mau nanya apa yang barusan rombongan dari Universitas ‘xx’ dari
Bandung” tanya saya kepada Mbak di receptionist.
“Iya, betul Mas, sudah 2 hari rombongan itu disini, besok pagi sudah mau check out ke
Semarang” jawab Mbak nya itu.
“Bisa saya minta tolong dihubungi dengan salah satu dari rombongan itu namanya Rin?”
tanya saya kepada si Mbak.
“Sebentar ya Mas, saya coba dulu” jawab si Mbak receptionist itu sambil mengangkat gagang
telepon.
Tidak beberapa lama Rin terlihat menuju counter receptionist dan saya lihat muka dia kaget
karena melihat saya.
“Hi.., khok tahu saya ada di sini” tanya Rin.
“Iya, tadi liat lagi jalan rame-rame di Malioboro” jawab saya ke Rin.
Setelah memperkenalkan teman saya Ipin kepada Rin, kemudian saya bertanya lagi ke Rin.
“Khok kamu nggak kasih kabar kalau mau ke Yogya” kata saya.
“Iya, sorry ya saya nggak sempet kasih tahu, besok juga sudah mau ke Semarang, disana 2
malam terus balik lagi ke Bandung. Kita lagi studi banding” balas Rin.
Tidak lama kemudian, datang seorang temannya Rin yang setelah dikenalkan ternyata
bernama Rohim. Dengan nada yang agak sok dia bertanya kepada Rin,
“Siapa Rin?”
“Oh, ini temanku waktu SMA di Bandung, sekarang kuliah di Yogya” jawab Rin dengan
nada ragu.
Saya kaget juga melihat wajah Rin yang ragu dan kenapa juga dia bilang saya temannya khok
bukan pacar atau apalah.. padahal saya dengan Rin sudah menjalin hubungan dekat selama 3
tahun lebih. Demikian percakapan awal yang tidak mengenakan dan akhirnya saya tidak mau
berlama-lama di hotel tersebut dan saya bilang kepada Rin.
“Ok, nanti setelah kamu sampai di Bandung kasih tahu saya dan saya akan ke Bandung”.
Dengan hati yang kesal dan dengan berbagai macam pertanyaan yang berkecamuk di kepala,
saya dan Ipin pulang. Ipin pun tahu perasaan saya tetapi dia diam saja tidak mau mengungkit
masalah itu.
“Sudah.. Ntar ke Bandung aja, di clear kan”komentar Ipin singkat, padat dan jelas.
Beberapa minggu setelah kejadian di Yogya dan liburan kuliah sudah mulai sayapun pergi ke
Bandung dengan menggunakan bis malam. Setibanya di Bandung, setelah istirahat sebentar
di rumah, saya berangkat menuju ke rumah Rin dengan membawa oleh-oleh. Dengan
perasaan hati yang agak galau, saya menekan bel rumahnya dan tidak begitu lama Rin
membukakan pintu pagar rumahnya.
“Eh.. Ko, apa kabar, kapan sampainya?” tanya Rin.
“Tadi subuh naik bus malam. Ini dibawain bakpia untuk di rumah” jawab saya sambil masuk
ke rumahnya.
“Kok sepi, sedang pada pergi?” tanya saya lagi.
“Iya, lagi ke Ciwidey mau lihat Situ Patenggang” jawab Rin.
“Sebentar ya, saya buatkan teh dulu untuk kamu” kata Rin sambil berjalan ke arah dapur.
Sayapun kemudian duduk dan seperti biasanya di bawah meja tamu terdapat beberapa album
dan saya mengambil satu yang paling atas. Mungkin ada foto-foto baru yang bisa saya lihat
sambil menunggu. Sayapun membuka lembar demi lembar halaman album tersebut dan
setelah beberapa halaman saya terkejut karena terdapat beberapa foto Rin berdua dengan
Rohim dalam posisi seperti sepasang muda-mudi yang sedang mabuk asmara.
Ketika Rin datang dengan membawa teh hangat, saya tanyakan perihal foto-foto tersebut
dan..
“Oh.. Itu, ya cuma iseng aja foto berdua pas waktu di Yogya dan Semarang” Rin menjawab
dengan mimik muka yang tampaknya dibuat setenang mungkin. Tetapi saya bisa menangkap
semua itu.
“Tapi.. Nggak ada apa-apa khok” kata Rin kemudian.
Dengan rasa kesal, saya tutup album itu.
“Kamu pacaran sama dia?” tanya saya kepada Rin.
“Nggak.. yach akhir-akhir ini nggak tahu kenapa saya dekat dengan dia” jawab Rin dengan
nada yang sedikit ragu.
“Kamu sich Ko.. Pake kuliah di Yogya, jadi saya nggak ada yang nemenin di Bandung”
lanjut Rin mencoba untuk memberi penjelasan.
“Maaf ya Rin, saya jadi nggak bisa nemenin kamu di Bandung” kata saya.
Kemudian saya meminum tehnya dan setelah itu saya tarik badan Rin untuk mendekat ke
saya dan langsung saya cium bibirnya. Bibir kamipun saling bertemu dan terus sampai
lidaHPun ikut bertaut. Wach.. sudah tambah pengalaman nich si Rin, saya berkata di dalam
hati.
“Rin.. Saya kangen ma kamu” kata saya.
“Iya.. Aku juga, terus Ko.. Ach..” desah Rin membalas ucapan saya.
Sayapun tidak hanya mencium bibirnya saja tapi bergerak terus menelusuri telinga, leher dan
kembali lagi ke bibirnya. Tangan sayapun mulai bergerilya dengan mulai membuka kancing
dari kaos yang dipakai, saya buka satu persatu dan akhirnya terbuka semuanya yang
mengakibatkan saya bisa melihat dengan jelas bra yang menutup dua buah bukit kembarnya.
Dengan sedikit ragu-ragu, saya sentuh bagian atas buah dadanya dan sekali-kali saya elus
dengan mengitari bagian yang menggunung dari buah dada Rin.
“Ach.. Enak Ko.. Geli..” kata Rin sambil mendesah manja.
“Boleh saya remes?” tanya saya..
“Iya.. Ayo..” pinta Rin
Dengan rasa heran karena dulu Rin tidak mau, sayapun kemudian meremas dari luar cup bra
nya dan setelah beberapa lama saya beranikan untuk menurunkan tali bra nya dan menarik
sampai ke perutnya. Tampaklah dua buah bukit kembar yang masih ranum dengan putingnya
yang agak menonjol.
“Rin.. Bagus punyamu” kata saya sambil mengelus dan mendekatkan bibir saya untuk
mengecup dan mengulum putingnya.
“Ko.. Ayo, isap putingku ya” pinta Rin.
Tampaknya Rin sudah mulai terangsang dan saya pun tidak menyia-nyiakan permintaan Rin
itu. Sambil mengulum putingnya dengan bergantian kiri dan kanan sambil meremas-remas
buah dadanya, saya merasa tangan Rin mulai turun ke arah penis saya yang sudah tegang.
“Ko.. Keras sekali punyamu” kata Rin sambil mengelus-elus penis saya dari luar celana saya.
“Buka Rin..” saya berkata kepada Rin dan tanpa ragu-ragu Rin pun membuka risleting celana
saya dan mengeluarkannya.
Kemudian Rin pun mulai meremas-remas penis saya dan mengocoknya.
“Rin.. Enak, terus.. Ach..” desah saya dimana mulut saya terus mengulum dan mengisap
putingnya bagian kiri dan kanan.
Melihat Rin semakin terangsang, saya memberanikan tangan saya untuk menjamah daerah
terlarangnya. Saya usap sambil menekan ringan jari saya di bagian kewanitaannya dari luar
celana pendek yang dipakainya.
“Ko.. Khok tangannya ke situ?”tanya Rin sambil terus mendesah.
“Kenapa, kamu nggak mau?”saya balik bertanya.
Ternyata Rin diam saja bahkan desahannya semakin kuat. Melihat keadaan itu, saya semakin
berani untuk menurunkan celana pendek Rin yang hanya memakai karet sekaligus dengan
celana dalamnya. Untuk sekejap, Rin menahan laju tangan saya, tetapi setelah saya berhasil
menurunkan celananya, akhirnya Rin diam saja dan bahkan merenggangkan ke dua kakinya.
Jari-jari tangan saya pun terus mengolah lahan yang selama ini ditutupinya, saya usap-usap
dan sekali-kali jari tengah saya masuk ke dalam lubang kewanitaannya. Aktifitas ini saya
lakukan untuk beberapa menit sampai akhirnya daerah kewanitaannya menjadi basah.
“Rin.. Mulai basah tuch” kata saya .
“Iya.. Enak Ko, terus Ko.., mau..” balas Rin dengan suara yang mendesah.
Kemudian saya menarik badan Rin agar berbaringkan di sofa ruang tamu dan tanpa ada
penolakan Rin pun sudah berbaring. Aktivitas dari jari-jari tangan saya teruskan untuk
mengolah lubang kewanitaan Rin, sambil terus memilin secara perlahan klitorisnya dan
sekali-kali masuk ke dalam lubangnya, tangan saya pun berusaha untuk merenggangkan ke
dua paha Rin agar lebih mudah. Tanpa adanya penolakan, entah karena sudah terangsang, Rin
membuka lebar-lebar ke dua pahanya sehingga aktivitas jari saya semakin mudah di sekitar
lubang kewanitaannya.
“Rin.. Aku masukin ya” pinta saya..
“Jangan.. Aku nggak mau” jawab Rin.
Rin menjawab begitu sambil terus menggoyangkan pinggulnya sehingga jari-jari tangan saya
keluar masuk di lubangnya. Tangan Rin sendiri sekali-kali menahan laju tangan saya.
Aktifitas mulut saya juga terus berlanjut di sekitar buah dadanya karena saya ingin membuat
dia benar-benar terangsang dan akhirnya bersedia untuk bersetubuh.
Sayapun mencoba untuk berbaring di samping Rin sambil terus mengolah lubang
kewanitaannya dan tangan Rin pun semakin meremas dan mengocok penis saya yang sudah
benar-benar keras. Setelah beberapa lamai, sayapun sudah tidak tahan lagi dan mulai manaiki
tubuh Rin agar penis saya bisa mendekat ke lubang kewanitaannya Rin.
“Tahan.. Ya..” kata saya kepada Rin dengan nada memerintah secara halus.
“Jangan Ko.. Aku nggak mau” kata Rin sambil mencoba untuk menahan penis saya yang
sudah berada di depan lubangnya dan Rin berusaha untuk merapatkan kakinya tetapi tidak
bisa karena saya berada di antara ke dua kakinya.
Sayapun terus memajukan penis saya, setelah bagian kepala penis saya tepat berada di lubang
kewanitaannya saya mendorong agar kepala penisnya bisa masuk.
“Ach..” saya mendesah sambil terus mendorong agar penis saya bisa masuk seluruhnya.
“Ko.. Jangan.. Aduhh.. Sakit” kata Rin sambil berusaha untuk mendorong badan saya.
“Tahan Rin, sedikit lagi masuk semua..” kata saya selanjutnya.
Sampai akhirnya penis saya masuk seluruhnya dan kemudian saya diamkan sebentar agar
lubang kewanitaan Rin beradaptasi dengan penis saya yang baru masuk. Setelah beberapa
saat saya diamkan, saya coba untuk memaju dan mundurkan penis saya.
“Oh.. Rin.. Enak sekali, sempit sekali..” desah saya sambil terus memompa rongga
kewanitaannya.
“Ko.. sudah.. Ko.., jangan diterusin” kata Rin dengan nada hampir menangis.
Saya terus saja memompanya.. Slruup.. Slruup.. Begitulah suaranya ketika penis saya maju
mundur. Raut muka Rin mulai memerah dan matanya pun mulai menutup seakan akan
menahan rasa sakit di bagian lubang kewanitaannya. Namun demikian, jika saya perhatikan
dari gerakan pinggulnya yang mulai bergoyang, saya yakin Rin mulai merasakan nikmatnya
penis saya.
Rin terus menggoyangkan pinggulnya seirama dengan maju mundurnya penis saya dan
setelah beberapa lama dengan posisi saya di atas, dari penis saya terasa ingin mengeluarkan
air mani.
“Rin.. Sebentar lagi saya mau keluar”kata saya.
“Ko.. Sudah.. Jangan diterusin” pinta Rin dengan air mata yang mulai keluar dan saya tetap
tidak peduli dan terus memompanya.
“Rin.. Saya keluar.. Ach.. Ach..” saya mengerang tertahan karena merasakan nikmatnya
keluar di dalam lubang kewanitaan yang hangat.
Sayapun mengeluarkan banyak sekali air mani di dalam lubang kewanitaan Rin. Untuk
beberapa saat saya diamkan penis saya untuk tetap di dalam lubang kewanitaan Rin. Sampai
penis saya mengecil, baru saya tarik dan saya lihat air mani saya mengalir keluar dari lubang
kewanitaan Rin dibarengi dengan bercak berwarna merah dan jatuh di sofa tempat kami
barusan melakukan aksi persetubuhan.
“Rin.. Saya sudah ambil perawan kamu” kata saya kepada Rin.
“Iya.. Ko, kamu khok teganya begitu” balas Rin dengan suara agak parau.
“Saya bakalan hamil nggak, khan nggak boleh kita melakukan ini” lanjut Rin masih dengan
suara yang agak parau.
Kemudian Rin berdiri dan berlari ke dalam kamarnya dan ke kamar mandi untuk
membersihkan lubang kewanitaannya dari air mani yang telah saya keluarkan di dalam
lubang kewanitaannya..
Setelah kejadian itu, saya berhasil beberapa kali bersetubuh dengan Rin sampai akhirnya dia
memutuskan hubungannya dengan saya dan kemudian menikah dengan Rohim tanpa
memberitahu saya sama sekali.
Saat ini, Rin tinggal di Jakarta dan sudah mempunyai 2 orang anak dari Rohim. Saya
menyesal karena tidak bisa menjadi suaminya tetapi setelah saya pikir-pikir lagi ternyata saya
lebih beruntung karena telah memperoleh keperawanan Rin dan saya tidak tahu bagaimana
Rin menjelaskan kepada Rohim pada saat ‘malam pengantin’nya berlangsung.
Rin, saya minta maaf karena saya telah membuat kamu berpikir keras untuk menjelaskan
status keperawanan kamu kepada Rohim. Untuk Rohim, jangan paksa Rin untuk menjelaskan
siapa yang mengambil keperawanan Rin. Dan untuk kalian berdua.. Rin dan Rohim, mudah-
mudahan perkawinan kalian langgeng tanpa mempermasalahkan hal-hal yang telah lampau.
Tamat
Posted in Daun Muda | No Comments »