P. 1
renungan mendidik anak

renungan mendidik anak

|Views: 70|Likes:
Dipublikasikan oleh b_co0d

More info:

Published by: b_co0d on Nov 18, 2010
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/14/2012

pdf

text

original

Sebagai bahan renungan kita ya.

Mudah-mudahan kita semakin menjadi orangtua yang bermanfaat untuk anak bukan yang mematikkan potensi anak.

SalamForum Orangtua Shalih

Pendidikan Profesionalisme Sejak TKAsvi Warman Adam – Ayah Seorang Murid SD

Artikel Jalaluddin Rachmat di Republika 11-12 Juni 1996 lalu membahas secara normatif apa yang harus diperbaiki dan dipersiapkan dalam bidang pendidikan nasional menghadapi era globalisasi dan perdagangan bebas tahun 2003. Kolom ini melengkapi tulisan Kang Jalal itu dengan kongres, yakni pengalaman anak saya mengikuti taman kanak-kanak di Paris, Prancis. Mudah-mudahan perbandingan ini bisa bermanfaat.

Ketika pulang ke Indonesia, putri saya yang berumur 4 tahun masuk sebuah TK favorit di bilangan Tebet, Jakarta Selatan. Hari pertama, murid-murid menaruh tasnya pada rak yang tersusun berupa 36 kotak di kelas. Kebetulan anak saya menaruh tasnya pada tempat yang sama, kotak itu sudah terisi.

Anak saya melapor ke Ibu Guru. Jawaban guru: “Semua di kelas ini punya Ibu Guru. Anak-anak boleh memakai, tetapi kalian jangan bertengkar, kamu harus hidup rukun. Kamu harus belajar mengalah.”Saya yang mengantar anak ke sekolah pada hari-hari pertama dia masuk TK di Indonesia merasa “kesalahan fatal” dalam dunia pendidikan telah dimulai sejak anak-anak berusia dini. Anak saya ketika mendengar penjelasan ibu guru itu barangkali mengalami semacam “cultural shock” kecil-kecilan.

Sebelum masuk TK di Jakarta, sedari umur 2,5 tahun ia telah ikut TK di Paris. Di Prancis, anak-anak masuk TK sejak 2 tahun terhitung bulan September. Sekolah gratis, kecuali uang makan siang yang harus dibayar orang tua. Ada tiga kategori pembayarannya berdasarkan penghasilan orang tua. Saya, penerima beasiswa dari pemerintah Prancis, termasuk klasifikasi pembayar terendah. Sekolah itu

Di sini yang dididik adalah kepemilikan. ditempel foto dan tertulis nama murid. Si anak tidak boleh mengambil milik orang lain. murid harus menggantung mantelnya di dinding kelas sebelah luar. Di situ ada bangku-bangku disusun secara . Apa yang diajarkan? Mereka belajar menyanyi. Guru-gurunya digaji departemen pendidikan. Tetapi setelah itu semuanya berjalan lancar. Ia juga ketika pulang sekolah mengambil mantelnya sendiri. Setelah beberapa bulan foto itu dicabut guru. Sekolah TK itu merupakan tanggung jawab bersama Kotapraja dan Departemen Pendidikan. Tangisan anak-anak bercampur dengan teriakan guru serta ketawa murid-murid yang suka mengganggu temannya. Dapat dibayangkan betapa sulitnya mengatur anak usia 2 tahun. Jumlah gantungan sebanyak jumlah murid. bukan kerukunan/harmoni. bukan mantel orang lain. Tetapi setelah itu semuanya tanggung jawab ibu guru. tapi juga ia berhak agar miliknya tidak diambil orang lain. Selama seminggu orang tua diperbolehkan menemani di luar kelas. Guru itu dibantu seorang pembantu yang siap mengurus bila anak itu harus ke kamar kecil. mendengarkan cerita/dongeng edukatif dari sang guru dan mengerjakan prakarya yang mereka sukai. Setiap murid harus menggantung mantelnya pada gantungannya sendiri. Jadi yang pertama diajarkan adalah keteraturan. Setiap terjadi pertambahan murid usia TK di wilayah tersebut. Kelas itu memang mirip studio seniman.mulai pukul 8 pagi sampai 16 sore dan siangnya mereka bersama-sama makan di kantin sekolah. Seminggu pertama memang di sekolah itu ramai dan riuh rendah. Dengan kata lain sedari dini anakanak sudah dididik mematuhi hukum. Sebelum masuk kelas. berarti si murid berkat kebiasaannya sudah mengenal namanya sendiri dalam bentuk tulisan. Sedangkan gedung sekolah beserta perlengkapannya dibiayai dan dikelola pemerintah kota. kotapraja bertanggung jawab menyediakan sekolah/kelas baru.

Tetapi mereka harus menyelesaikan gambar itu sampai selesai. agar senantiasa mengalah. Betapa sederhana konsep itu dan efektif seumur hidup. tuntas. Berarti sedari kecil anakanak sudah diarahkan menekuni sebuah pekerjaan (lalu kemudian itu berubah jadi profesi). lampu dimatikan. monopoli. Ketika berbicara dengan guru kelas itu saya sangat kagum pada kesederhanaan konsep pendidikan TK yang dijalankannya. Setelah itu kasur-kasur busa diturunkan ke lantai. melihat-lihat buku cerita bergambar. bermain lego.” Lukisan itu tidak diberi nilai. semuanya tergantung kebaikan ibu guru. Praktek semacam ini yang diterapkan sejak awal jelas sejalan dengan konsep link and match yang baru dimulai diupayakan di tanah air kita.kelompok. sampai selesai dan tuntas. acara dongeng oleh ibu guru. mendengarkan musik lewat walkman. Untuk apa anak usia 4 tahun . Saya hanya bertugas mengarahkan agar anak-anak melakukan pekerjaannya sampai selesai. Betapa kaget saya ketika di Indonesia anak-anak dididik untuk hidup rukun tidak boleh bertengkar. Ia telah dididik untuk menekuni satu bidang. kuas dan cat sudah tersedia. dll. kertas. Beberapa hari kemudian murid-murid TK nol kecil itu ditanya siapa Presiden Indonesia? Lalu Ibu Guru menjelaskan namanya. anak-anak itu tidur siang selama 1. Ada meja dan bangku untuk melukis. Betapa hebatnya. Tidak ada peraturan yang jelas. misalnya mendengarkan radio atau musik (lewat walkman). Ini sangat berguna bagi kehidupannya kelak. misalnya tadi dalam letak tas sang murid.5 jam. pendidikan profesionalisme sudah ditanamkan sejak TK. Setelah makan siang dalam kantin sekolah. Sebelum rampung ia tidak boleh mengerjakan pekerjaan lain. (Konsep agar selalu mengalah ini jelas tidak cocok menghadapi era persaingan global dewasa ini). “Di sini saya tidak mengajar pelajaran. Guru tidak mengajar murid agar bisa menggambar bagus tetapi yang penting gambar itu selesai. Murid yang suka melukis boleh menggambar.

dan sudah tersedia 3-4 jawaban. Anak-anak tidak dididik menjawab kreatif. orang tua mengambil rapor ke sekolah. Hanya satu jawaban benar. Hapalan ini apakah perlu bagi anak seumur itu? Saya masih sangsi. Kunti. karena hampir tiap hari ada pemberitaannya. Banyak hapalan. amplop berisi uang pun diselipkan ke tangan guru. Buku-buku seperti Arif. Ketika menerima rapor. Rapor dibagikan di kelas oleh guru. Pancasila boleh saja diajarkan tetapi untuk anak usia 4 tahun tak perlu berbentuk hapalan. Tinggal pilih salah satu dan lingkari. Selain itu anak-anak 4 tahun disuruh menghapal kelima sila Pancasila. Sekarang anak saya sudah SD. RTB membantu system ini. Ada satu pertanyaan. Sekadar tanda terima kasih kepada pahlawan tanpa tanda jasa itu.** . yang gajinya hampir sama dengan upah buruk di pabrik. Dan ketika kenaikan kelas.tahu Presidennya? Bila menonton televisi ia toh akan tahu dengan sendirinya. carilah itu. ia terbiasa belajar dengan memakai sistem multiple choice.

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->