P. 1
kompetensi pustakawan

kompetensi pustakawan

|Views: 148|Likes:
Dipublikasikan oleh Shantii Maulanii

More info:

Published by: Shantii Maulanii on Nov 18, 2010
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

08/02/2015

pdf

text

original

TAJUK RENCANA...

Pelajar DIY Belum Bebas Narkoba
BICARA penyalahgunaan narkoba bicara tentang ancaman bagi bangsa dan negara. Mengapa? Karena penggunaan dan peredaran narkoba bagi anak-anak bangsa, khususnya remaja dan pelajar, bukan hanya akan merusak diri sendiri namun juga masa depan bangsa. Tidak mengherankan apabila hampir semua bangsa di dunia ini akan selalu berusaha agar anak-anak bangsanya menghindari dan terhindar dari penggunaan narkoba. Perang terhadap narkoba dilakukan dengan cara masing-masing. Di sisi lain, dari pihak-pihak yang memang ingin merusak bangsa dengan narkoba, juga tidak akan kunjung henti mempengaruhi dan memaksa korban mengkonsumsi narkoba. Indonesia umumnya, dan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) khususnya, harus diakui belum bebas dari narkoba. Melalui pemberitaan media massa, kita masih saja disuguhi fakta maraknya penggunaan narkoba di hampir semua elemen masyarakat. Lebih memprihatinkan lagi, kalau korban narkoba adalah para pelajar/mahasiswa dan anak-anak muda. Berita bertajuk Pelajar Pengguna Narkoba Meningkat - Kampanye Simpatik Digalakkan di halaman Pendidikan (Bernas Jogja, 9/10/2010) membuktikan hal itu dan sekaligus memprihatinkan kita. Kita percaya, pihakpihak terkait dalam melawan narkoba tentu sudah berusaha maksimal agar anak-anak kita terhindar dari narkoba. Namun kita belum sepenuhnya berhasil. Sebagaimana dilaporkan wartawan kami, kasus narkotika dan obatobatan terlarang (narkoba) di kalangan pelajar DIY pada tahun 2010 meningkat dibandingkan 2009. Berdasarkan data kasus narkoba dari Badan Narkotika Provinsi (BNP) DIY, pada periode Januari-Februari, sebanyak tujuh kasus melibatkan anak usia 16-19 tahun ditemukan, 20 kasus lain melibatkan usia 20-24 tahun. Dari jumlah kasus ini, sembilan mahasiswa dan dua pelajar ikut terlibat. Sementara pada periode 2009, ditemukan 39 kasus narkoba yang melibatkan pelaku usia 16-19 tahun dan 121 kasus lain melibatkan usia 2024 tahun. Dari kasus ini sebanyak 76 mahasiswa dan 22 pelajar terlibat yang didominasi pada kasus penggunaan ganja dan ekstasi. Di tingkat nasional, kecenderungan peredaran narkoba menyasar pelajar dan mahasiswa. Berdasarkan data Badan Narkotika Nasional (BNN), 12.848 anak usia sekolah dasar (SD) dan 110.870 anak usia SMP dan SMA diketahui mengkonsumsi narkoba. “Pelajar usia 16-24 tahun memang menjadi sasaran empuk peredaran narkoba,” kata Kasi Pemuda Badan Pemuda dan Olahraga (BPO), Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga (Dikpora) DIY, Yudi K, kepada wartawan di sela-sela Kampanye Simpatik Antinarkoba yang diikuti 150 anggota Paskibraka DIY di Kantor BPO Dikpora DIY, Jumat (8/10). Menurut Yudi, di DIY tidak hanya kasus pemakaian narkoba yang meningkat, namun dikhawatirkan juga menjadi daerah produksi narkoba. Sebab dari data BNP DIY, persebaran narkoba di kawasan DIY semakin meluas. Kalau dulu berpusat di kawasan Depok Sleman, maka setelah pengawasan ditingkatkan, persebaran berpindah ke kawasan Kasongan Bantul dan Umbulharjo Kota Jogja. Di kolom ini, kami beberapa kali menulis tajuk tentang narkoba. Setiap menulis tentang narkoba, selalu ada nuansa kekhawatiran mendalam, disamping muncul harapan baru. Satu diantaranya tentang Deklarasi Tugu Melawan Narkotika. Yogyakarta yang tidak luput dari serangan narkotika di masa lalu, kini dan mendatang berkenaan Hari Anti Narkotika Internasional (HANI) 2010 menyatakan tekad bulat melawan peredaran gelap dan penyalahgunaan narkotika dalam sebuah acara di Tugu, Yogyakarta, Jumat (25/6/2010). Pada kesempatan tersebut, ratusan pelajar, mahasiswa, seniman dan seluruh komponen masyarakat menggelar refleksi peringatan HANI 2010 Kota Yogyakarta dalam sebuah komitmen bersama bertajuk Deklarasi Tugu. Wakil Presiden Boediono pada HANI 2010 meminta seluruh elemen bangsa untuk melindungi generasi muda dari penyalahgunaan narkoba. “Siapa yang peduli terhadap penyalahgunaan narkoba, berarti dia peduli dengan kelangsungan bangsa. Sebaliknya, siapa yang tidak peduli penyalahgunaan narkoba, maka dia tidak peduli dengan kelangsungan eksistensi bangsa,” kata dia, di Jakarta, Sabtu (26/6/2010). Kita percaya, semua pihak tentu akan terus berusaha memerangi narkoba. Namun harap juga diketahui bahwa sebagaimana dikemukakan Ketua Panitia Penyuluhan Pencegahan Penyalahgunaan Narkoba di Yogyakarta, Suyamto, saat ini penanganan peredaran narkoba seringkali masih parsial. Sehingga kita sering terlambat dan didahului oleh pengedar yang mengembangkan modus mereka. ***

Kompetensi Pustakawan Perlu Dirumuskan Ulang
KOMPETENSI pustakawan yang didefinisikan sebagai kemampuan, ketrampilan, motivasi, konsintensi dan tanggungjawab pustakawan untuk menguasai bidang pekerjaannya, perlu dirumuskan ulang. Ikatan Sarjana Ilmu Perpustakaan Indonesia (ISIPII), dalam talkshow bertajuk Kompetensi Pustakawan Indonesia membuat kesimpulan, kompetensi pustakawan perlu dirumuskan ulang agar selaras dengan kebutuhan pemakai jasa mereka di dunia kerja. Dalam talkshow di Gedung Pusat Dokumentasi dan Informasi Ilmiah, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (PDII - LIPI) Jakarta, akhir September 2010, formulasi dan kesepakatan tentang kompetensi pustakawan sudah menjadi agenda yang banyak dibicarakan setelah dikeluarkannya UndangUndang Perpustakaan UU Nomor 43 tahun 2007. “ISIPII merasa terpanggil untuk masalah ini,” kata Presiden ISIPII, Harkrisyati Kamil, saat berbicara dalam talkshow tersebut. Harkrisyati Kamil yang pernah mengepalai Perpustakaan British Council Jakarta, mengakui masalah kompetensi pustakawan di Indonesia sampai saat ini memang belum ada pedoman yang dijadikan acuan. Pada talkshow yang digagas Ikatan Sarjana Ilmu Perpustakaan Indonesia (ISIPII) dan dimoderatori oleh Utami Haryadi, M.Lib, Mpsi, juga terungkap pentingnya membuat tolok

WACANA

Senin Pahing, 11 Oktober 2010
HALAMAN 4

OLEH :

DYAH SULISTYORINI
plus’, yakni kompetensi tentang pemahaman yang baik tentang apa visi misi perusahannya, apa bisnis intinya, apa nilai-nilai yang dianut lembaga tempatnya bekerja, bahkan di level ini harus tahu ‘office politics’,” ujar Hani seraya mengutip kalimat “know your audience” itu yang paling penting. Nita berbagi resep agar pengetahuan yang diperoleh tetap dalam kondisi optimal. Menurutnya pemahaman yang komplit tentang diskripsi pekerjaan dan internalisasi nilai-nilai perusahaan hanyalah didapat dengan banyak belajar, banyak membaca, mengambil kursus, training dan grand scholarship. Sementara itu menurut Eka Meifrina Suminarsih, SIP, MM peraih predikat Pustakawan Berprestasi Terbaik Tingkat Nasional 2010, kompetensi dasar yang diperolehnya dari kampus sangatlah bermanfaat, tinggal dikembangkan sesuai dengan yang dibutuhkan oleh lembaga tempat bekerja. Eka mencontohkan tugas di tempatnya bekerja di BPPT, “Kami punya kebiasaan baik yakni tiap pagi membaca web BPPT kemudian kami memantau pertanyaan-pertanyaan yang muncul dari user, kami juga menjawab pertanyaan tentang Badan Pengkajian & Penerapan Teknologi (BPPT).” “Nah agar bisa menjawab perta-

ukur dan sistem untuk melakukan uji kompetensi. “Bagaimana sistem dan aturan mainnya, kemudian siapa yang berhak melakukan uji kompetensi, serta materi ujiannya belum terdefinisi secara gamblang,” lanjut Harkrisyati. Kompetensi yang mencakup pengetahuan, ketrampilan, kemampuan atau karakteristik yang berhubungan dengan kinerja banyak diperbincangkan karena kompetensi menawarkan suatu kerangka kerja organisasi yang efektif dan efisien dalam mendayagunakan sumber daya yang ada. Kompetensi yang terbagi atas kompetensi professional dan kompetensi individu yang telah diperoleh melalui jalur pendidikan haruslah terus dikembangkan sesuai dengan level yang dijejaki dalam dunia kerja, kata pustakawati Hani Qonitah, SIP, MA Rec, yang saat ini menjabat sebagai eksekutif di Exxon Mobil. Menurut dia, setiap level pekerjaan pustakawan dari tingkatan “clerical”, “data entry”, “reference assistant”, “teknisi”, analis terus ke atas hingga level manajemen haruslah terus mengembangkan kompetensi yang dimiliki sesuai dengan bidang kerjanya. “Bila sudah sampai level manajemen, maka seseorang harus mengembangkan kompetensi ‘plus-

nyaan dari user terkait dengan perkembangan ilmu pengetahuan, maka kami semua pustakawan dituntut pula mengikuti dan memahami perkembangan ilmu pengetahuan terbaru yang dikembangkan BPPT,” kata Eka yang mengambil S2 ke Belgia dan sudah 12 tahun mengabdi di BPPT. Eka juga mengajak perlunya pengembangan diri untuk meningkatkan kompetensi melalui pelatihan, training, dan studi banding ke berbagai tempat seraya menyebutkan bahwa BPPT menghimbau pustakawaanannya untuk satu kali per tahun melakukan pelatihan dan satu kali dalam tiga tahun berkunjung ke luar negeri. Sementara Titiek Kismiyati dari PERPUSNAS, menyatakan tengah terlibat perumusan kompetensi pustakawan Indonesia. Titiek adalah tim perumus kompetensi Perpustakaan Indonesia. Tim itu terdiri dari berbagai elemen yakni unsur akademisi, praktisi dan pemerhati perpustakaan. Wakil Ketua ISIPII, Agus Rusmana, menyatakan kompetensi pustakawan tercipta dari sintesa berbagai faktor dan terus berkembang. “Kenyataan di lapangan yang banyak diperlukan justru bukan ketrampilan teknis, seperti mengatalogisasi atau klasifikasi, namun lebih pada soft skill. Nah yang penting bagi para akademisi adalah harus tetap memberikan dasar-dasar kompetensi dan secara konsisten terus mengevaluasinya,” ujar Agus. (antara)

Karena Kemurahan Allah

Syukur 25 Tahun Kependetaan Pdt. Monang Silaban, STh
DARI keluarga pelayan Allah yang tekun, setia dan humoris, lahirlah seorang anak yang kelak kemudian juga menjadi pelayan Allah. Demikianlah, Pdt. Monang Silaban, STh., adalah anak kelima dari sepuluh bersaudara atau anak keempat dari tujuh bersaudara (yang hidup) dari pasangan Pdt. Abisai Silaban (alm) dan Kesteria br Galingging. Monang Silaban yang lahir di Desa Sigulok, Dolok Sanggul, Kabupaten Humbang Hasundutan, Provinsi Sumatera Utara, 23 Maret 1953, memulai kependetaan tanggal 6 Oktober 1985. Pada hari Senin, 11 Oktober 2010, pukul 15.00 - selesai, di Gereja HKBP Yogyakarta, Jalan I Dewa Nyoman Oka No 22 Kotabaru, Yogyakarta, Pdt Monang Silaban, STh sekeluarga akan merayakan Ibadah Syukur 25 Tahun Kependetaan. Bersama isteri Pasuria Banjarnahor, dan putri-putra Friska Mastina Silaban, ST., Dr Agustinus Marojahan Silaban, Elga Ferbrianto Silaban, dan Novalia Rapenta Silaban berbagi kegembiraan bersama keluarga besar HKBP dan para sahabat dalam acara ibadah, resepsi, adat dan hiburan. Tema yang dipilih Monang Silaban dalam ibadah syukur ini adalah “Karena Kemurahan Allah”. Tema ini pulalah yang dia pakai sebagai judul buku Perjalanan Panjang Pdt Monang dalam Misi Pelayanan di HKBP yang juga akan diluncurkan pada hari Senin ini. “Tema tersebut merupakan rangkuman dan kesimpulan dari firman Tuhan yang tertulis dalam Roma 9 : 16. Nas ini adalah nasehat hidup yang bernas pada waktu menyaksikan iman saat lepas sidi (Manghatidangkon Haporseaon tahun 1971 di HKBP Lawe Sigala-gala, Kota Cane-Aceh Tenggara). Sungguh tepat dan benar firman Tuhan dan tema ini mewarnai dan mengilhami hidup saya mulai lahir ke dunia sampai saat ini. Jadi tema dan nas ini disaksikan bukan hanya pada saat lepas sidi atau menyaksikan iman gereja secara seremonial, tetapi juga secara moral-sosial sepanjang hidup saya,” kata dia kepada Bernas Jogja di Gereja HKBP Yogyakarta, Kotabaru, pekan lalu. Selalu rendah hati Menurut Pdt Monang Silaban, STh., secara teologis tema “Karena Kemurahan Allah” adalah sesuatu yang sangat sentral dan penting untuk dimiliki setiap pribadi Kristen khususnya pada hamba Tuhan untuk selalu memiliki hidup yang seturut kehendak Tuhan yaitu selalu rendah hati. Nas dan tema tersebut akan selalu mengarah kepada hidup orang yang percaya agar jangan sombong dan tinggi hati. Agar orang-orang dapat percaya kepada Yesus Kristus tidak mengandalkan pikirannya sendiri. Sebaliknya, mereka selalu mengandalkan Tuhan dalam semua rencana, perjalanan dan pekerjaannya. Kedatangan Yesus ke dunia ini salah satunya adalah untuk meruntuhkan segala keangkuhan dan kesombongan. “Sebagaimana tertulis di Markus 10:45, ‘Saya datang bukan untuk dilayani tetapi untyuk melayani’, prinsip melayani dengan sungguh tentu lahir dalam diri seseorang yang selalu mengakui : karena kemurahan Allah di dalam hidupnya, lahir dalam diri seseorang yang rendah hati dan bukan yang tinggi hati. Orang Kristen, apalagi hamba Tuhan, harus selalu memiliki komitmen bahwa dirinya dipilih dan dipakai oleh Tuhan (dan terpakai) adalah karena kemurahan Allah,” kata dia. Monang mengisahkan, sejalan

BEBAS BICARA...
Bedah Buku MahasiswaFT Hadiah untuk UWMY
FAKULTAS Teknik Universitas Widya Mataram Yogyakarta (FT UWMY) sejak berdiri dari tahun 1982 baru sekarang menyelenggarakan Bedah Buku dan Launching, yakni pada hari Sabtu 9 Oktober 2010 di kampus UWMY, Dalem Mangkubumen, Yogyakarta. Buku yang dibedah bertajuk History of Good on Tribals Religion - Kisah Tuhan dalam Agama Suku adalah karya mahasiswa kami dari Papua, Juan Frank Hamah Sagrim. Perjalanan panjang sejarah Fakultas Teknik UWMY selama 28 tahun inilah hadiah ulang tahun bagi civitas akademika UWMY. Almarhum Presiden Ir Soekarno pernah mengatakan bahwa jangan sekali-kali meninggalkan sejarah. Karena sejarah adalah proses yang panjang hingga sekarang, maka sudah waktunya Fakultas Teknik UWMY menginstropeksi diri agar lebih baik dan maju di masa depan. Janganlah melupakan dan meninggalkan budaya bangsa kita, walaupun kita berbeda-beda suka, bahasa, agama, pulau, tetap Bhineka Tunggal Ika Indonesiaku tercinta. Civitas akademika Fakultas Teknik UWMY mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah mendukung acara bedah buku dan launching dalam rangka ikut mensyukuri Dies Natalis ke-28 Universitas Widya Mataram Yogyakarta tanggal 7 Oktober 2010.

KELUARGA PENDETA - Pdt Monang Silaban, STh beserta keluarga. Dia memperingati Ibadah Syukur 25 Kependetaan di Gereja HKBP Yogyakarta, Senin (11/10/2010).

ISTIMEWA

Sarasehan Kebahasaan dan Kesastraan di BBY
PERJALANAN sejarah bahasa Indonesia dapat ditelusuri dari dicetuskannya Sumpah Pemuda pada Oktober 1928. Salah satu bunyi butir Sumpah Pemuda ialah “Menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia”. Dari butir itulah tercermin tekad politik pemuda Indonesia untuk memulai tonggak sejarah bangsa Indonesia di masa mendatang, khususnya dalam penggunaan bahasa Indonesia. Balai Bahasa Yogyakarta sebagai lembaga pemerintah yang bertugas melaksanakan pembangunan nasional di bidang kebahasaan dan kesastraan di daerah akan mengadakan sarasehan kebahasaan dan kesastraan. Tema Bulan Bahasa dan Sastra 2010 adalah Pembentukan Karakter Bangsa Melalui Peningkatan Kualitas Bahasa dan Sastra Indonesia dan Daerah. Pembicara Salomo Simanungkalit (pemerhati bahasa, penulis, wartawan Kompas) dan Acep Zamzam Noor (sastrawan). Sarasehan dilaksanakan di Aula Sutan Takdir Alisjahbana, Balai Bahasa Yogyakarta (BBY), Jalan I Dewa Nyoman Oka 34 Yogyakarta, Selasa (19/10/2010). Peserta terbatas sejumlah 250 orang. Pendaftaran peserta gratis dan dibuka sampai 15 Oktober 2010 (atau setelah peserta mencapai 250 orang) di Kantor BBY.

dengan pemutasian ayahnya dari desa ke desa, masa kecil Monang juga dilalui dengan penuh derita baik dari segi ekonomi, kesehatan dan pendidikan. Masa kecil yang sangat menyedihkan adalah ketika harus makan tanpa piring, karena nasi hanya cukup untuk segenggam. Selain itu, sebelum makan nasi terlebih dulu harus makan ubi untuk mengenyangkan perut. Pernah juga menggoreng ikan tanpa kuali dengan mencelupkan ikan ke minyak goreng dan diletakkan di atas bara api. Masuk teologi Pada masa pendidikan Sekolah Rakyat (SR) di Laehole, Monang masih memakai alat tulis tradisional yang terbuat dari batu. Masa pendidikan Sekolah Menengah Pertama (SMP) dia tempuh di Lawe Sigala, Kota Cane, Aceh Tenggara. Pendidikan SMA di SMA Campus FKIP Nomensen, Pematangsiantar. Selanjutnya ketika masa kuliah dia menempuh pendidikan di Fakultas Theologia Universitas HKBP Nomen-

sen pada tahun 1975. Motivasi masuk Fakultas Theologia adalah sebagai respon terhadap ajakan dan cita-cita orangtua, serta untuk menggantikan abangnya yang sudah almarhum dan gagal menyelesaikan pendidikan teologia. Monang sempat mengalami lika-liku pendidikan teologi. Dia memperoleh gelar SmTh di Akademi Theologia GKE Banjarmasin. Monang sudah mengalami penempatan kependetaan di sepuluh tempat pelayanan. Penempatan pertama di HKBP Resort Balige yang melayani sebagai Pendeta diperbantukan (1985-1988). Selanjutnya pada saat penempatan kedelapan di Kantor Pusat HKPB sebagai Kepala Inspektorat (2001-2004), Monang melanjutkan studi program sarjana Theologia di STT HKBP Pematang Siantar. Kemudian penempatan kesembilan di Distrik XXI Langkat menjadi Praeses Distrik Langkat (2004-2008). Penempatan kesepuluh di HKBP Resort Yogyakarta sebagai Pendeta Resort (2008 - sekarang). (d2/mar)

PUSTAKA
tema dan nas ini disaksikan bukan hanya pada saat lepas sidi atau menyaksikan iman gereja secara seremonial tetapi juga secara moralsosial sepanjang hidup saya. (Refleksi “Karena Kemurahan Allah” Pdt. Monang Silaban, STh. yang mensyukuri 25 Tahun Kependetaannya, tanggal 6 Oktober 2010). KARYA monumental ini merupakan kado bagi seorang pendeta yang mensyukuri dan merayakan 25 Tahun Kependetaannya. Pendeta itu bernama Monang Silaban, STh yang kini mengabdi sebagai Pendeta HKBP Ressort Yogyakarta. Buku ini dibagi dalam dua bagian. Bagian I Biografi jubilaris, kenangan di masa pelayanan, penahbisan 18 orang pendeta HKBP, refleksi “Karena Kemurahan Allah” dan artikelartikel. Bagian II berupa 17 tulisan para kontributor. Sebelum masuk ke bagian biografi, di bagian depan buku ada kata pengantar, sambutan-sambutan dan daftar isi. Ke-17 tulisan tersebut adalah Hubungan Antara HKBP Yogyakarta dan Duta Wacana (Pdt Em. Chris Hartono, Th.D); HKBP Yogyakarta Menapaki Sejarahnya Secara Istimewa di Tengah Keistimewaan Daerah Istimewa Yogyakarta (St Lodewijk Herman Simanjuntak); Pergumulan, Kerinduan dan Harapan Seorang Calon Sintia di HKBP Yogyakarta (Ir Risma Adelina Simanjutak, MT); Dua Tahun Kehadiran Perempuan Praeses di HKBP : Sebuah Releksi 7 September 2009-7 September 2010 (Debora Purada Sinaga); Peran Gereja HKBP di Tengan Masyarakat dan Negara Indonesia (Pdt Nelson Siregar). Manusia Diciptakan untuk Bekerja, Sebuah Teologi tentang Kerja (Pdt Bangun Marozha Sitohang, STh); Disiplin dan Etos Kerja Kristiani Sebagai Wujud Kesaksian Orang Beriman (Pdt BT Simarmata, MTh); Tohonan Pendeta - Kemurahan Allah Memanggil Aku Menjadi Pendeta (Pdt Dr Siter MP Hotasoit, MA); “Beritakanlah Injil kepada Semua Makhluk!” “Berikanlah Kami pada Hari Ini Makanan Kami Secukupnya!” (JR Hutauruk); Pendeta Sebagai Nabi, Gembala dan Iman (Pdt Marolop P. Sinaga, STh); Tantangan dan Tanggungjawab Pelayan Gereja Menghadapi Masalah Sosial Era Globalisasi (Pdt Dr Darwin Lumbantobing). Teguh Karena Sauh : Kekuatan Batiniah Menghadapi Tantangan Hidup (Pdt Efendi Silitongan, STh); Berdirilah Teguh dan Giatlah Selalu dalam Pelayanan Tuhan di Tengahtengah Tantangan Zaman (Pdt Robinson Radjagukguk, PhD); Penilaian Kritis Terhadap Kuasa dan Hak Menilai Ajaran Menurut Martin Luther (Pdt Dr Ir Fridz Pardamean Sihombing); Suatu Model Resolusi Konflik Kontekstual (Pdt Dr Plasthon Simanjuntak); Tinjauan Theologis Alkitabiah tentang Peraturan Bersama Mendagri dan Menag (Pdt WTP Simarmata, MA); dan Musik Dalam Ibadah: Memuja Kemurahan Hati Sang Pencipta (Pfdt Erwin Rambe, MTh). Ketua Rapat Pendeta HKBP Pdt WTP Simarmata, MA dalam sambutan di buku ini mengemukakan, menjadi pendeta adalah suatu pilihan sekaligus pergumulan. Jangan salah, pilihan dimaksud bukan berasal dari manusia melainkan dari Allah. Karena itu, panggilan ilahi adalah berkat yang sudah selayaknya kita syukuri dan aminkan. Meskipun demikiam, panggilan itu bukanlah suatu yang “sudah final” melainkan selalu berproses di dalam ruang dan waktu. Proses itulah yang senantiasa melahirkan pergumulan dalam diri sang pendeta. Dia bergumul dengan panggilannya ketika melihat berbagai ketidakadilan di sekitarnya. Dia bergumul dengan panggilannya ketika melihat kesewenang-wenangan berlangsung di institusi yang dilayaninya dan “mengorbankan” kawankawan atau bahkan dirinya sendiri. Pergumulannya semakin berat ketika melihat ideal yang diimpikannya tidak terwujud dalam pelayanannya. Membaca buku ini, selain dapat mengikuti perjalanan panjang Pdt Monang Silaban, STh dalam misi pelayanan di HKBP, kita juga dapat belajar dari pemikiran para kontributor tulisan, dan terlebih kita dapat ikut merenungkan (sekaligus merasakan) kemurahan Allah bagi kita semua dalam kehidupan sehari-hari. (mar)

Drs Tirto Suwondo, MHum Ir Ilmardani Rince Ramli, MM Kepala Balai Bahasa Yogyakarta Dekan Fakultas Teknik UWMY Jalan I Dewa Nyoman Oka 34 Dalem Mangkubumen, Yogyakarta Yogyakarta
Direktur Utama: Bimo Sukarno, Direktur: Sudiyarta, Pemimpin Umum /Redaksi: Bimo Sukarno, Pemimpin Perusahaan: Bambang Sukoco, Sekretaris Korporat: Tedy Kartyadi, Redaktur Senior: Hj Arie Giyarto, YB Margantoro, Redaktur Pelaksana: Sugeng Prayitno, Wakil Redaktur Pelaksana: Philipus Jehamun Redaktur: A Juvintarto, Asisten Redaktur: Sholihul Hadi, Shanti Hapsari, Warjono Staf Redaksi: Nila Hastuti, Sukendar, Sariyati, AP Sujito, Y Putu Palupi, Robertus Sumiarno, Herman Rio Itawan, Chatarina Binarsih, Rob Arianto, Sutaryono, Sri Widodo, Z Bambang Darmadi, Magelang: C Kurniawati, Klaten: Masal Gurusinga, Temanggung: Endi Yarsana, Purbalingga: Prasetyo, Kebumen: Nanang W Hartono, Jakarta: Sumbono. Manajer Iklan: Zubaedi, Manajer Sirkulasi: Catur Nugroho, Manajer PSDM/Umum: Wisnu Wardaya, Manajer Keuangan: Roby Indra Mardany, Iklan Jakarta: Hariri, Penerbit: PT. MEDIA BERNAS JOGJA, Tarif Langganan: Rp 40.000,-/bulan (7 kali terbit seminggu), Tarif Iklan: Warna Rp 22.000,-/mmk (minimal 600 mmk), Hitam - Putih Rp 12.000,-/mmk, kolom Pp 6.000,-/mmk (minimal 1x30mm, maksimal 1x100 mm) Iklan Baris Rp 6.000,- perbaris (perbaris 30 karakter), keluarga/duka cita Rp 6.000,- per mmk, Advertorial Hitam Putih Rp 9.000,-/mmk (minimal 1/4 halaman), Advertorial Berwarna Rp 18.000 permmk (minimal 1/4 halaman), semua ditambah PPN 10%. Bank : BPD DIY Cabang Yogyakarta No. AC 001.111.000.504 Bank Mega Cabang Yogyakarta No. AC 01.034.00.11.001225. Alamat Redaksi/Iklan/Sirkulasi: Jl. IKIP PGRI Sonosewu Yogyakarta 55162, Telpon Semua Bagian (0274) 377559 (hunting), No Fax (0274) 419455. Hotline Iklan : (0274) 419449. Biro Jakarta: Jl Ciputat Raya No.9A Telp(021)5330976 Jakarta. Kontak: Hariri Telepon 081379139660 Website: www.bernas.co.id, Email: bernasjogja@yahoo.com, iklan_bernasjogja@yahoo.com Percetakan: PT Muria Baru Offset Yogyakarta (Isi di luar tanggung jawab percetakan)

Judul buku: Karena Kemurahan Allah - Perjalanan Panjang Pdt. Monang Silaban, STh dalam Misi Pelayanan di HKBP Editor: Pdt Robinson Radjagukguk, MST, ThM, PhD., dan kawan-kawan Penerbit: Tim kerja 25 Tahun Kependetaan Pdt Monang Silaban, STh, 2010 Tebal buku: xv + 317 halaman

Menjadi Pendeta Itu Suatu Pilihan
SUNGGUH tepat dan benar firman Tuhan dan tema ini mewarnai dan mengilhami hidup saya mulai lahir ke dunia sampai saat ini. Jadi

Wartawan BERNAS JOGJA selalu dibekali tanda pengenal dan tidak diperkenankan menerima/meminta apa pun dari narasumber.

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->