KEANEKARAGAMAN HAYATI DAN PENGELOLAAN SERANGGA HAMA DALAM AGROEKOSISTEM

Pidato Pengukuhan Jabatan Guru Besar Tetap dalam Bidang Entomologi Pertanian pada Fakultas Pertanian, diucapkan di hadapan Rapat Terbuka Universitas Sumatera Utara Gelanggang Mahasiswa, Kampus USU, 10 Oktober 2009

Oleh:

MARYANI CYCCU TOBING

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2009

Keanekaragaman Hayati dan Pengelolaan Serangga Hama dalam Agroekosistem

Yang terhormat, • • • • • • • • Bapak Ketua dan Anggota Majelis Wali Amanat Universitas Sumatera Utara Bapak Rektor Universitas Sumatera Utara Para Pembantu Rektor Universitas Sumatera Utara Ketua dan Anggota Senat Akademik Universitas Sumatera Utara Ketua dan Anggota Dewan Guru Besar Universitas Sumatera Utara Para Dekan Fakultas/Pembantu Dekan, Direktur Sekolah Pascasarjana, Direktur dan Ketua Lembaga di Lingkungan Universitas Sumatera Utara Para Dosen, Mahasiswa, dan Seluruh Keluarga Besar Universitas Sumatera Utara Seluruh Teman Sejawat serta para undangan dan hadirin yang saya muliakan

Shalom dan salam sejahtera bagi kita semua Pada kesempatan yang berbahagia ini, puji dan syukur saya panjatkan ke hadirat Allah Bapa di sorga atas limpahan berkat dan kasih karunia-Nya sehingga kita dapat hadir untuk acara pengukuhan ini dalam keadaan sehat walafiat. Para hadirin yang saya muliakan, perkenankanlah saya menyampaikan pidato pengukuhan sebagai Guru Besar Tetap pada Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan dengan judul: KEANEKARAGAMAN HAYATI DAN PENGELOLAAN SERANGGA HAMA DALAM AGROEKOSISTEM

LATAR BELAKANG Hadirin yang saya muliakan, Ekosistem pertanian (agroekosistem) memegang faktor kunci dalam pemenuhan kebutuhan pangan suatu bangsa. Keanekaragaman hayati (biodiversiy) yang merupakan semua jenis tanaman, hewan, dan mikroorganisme yang ada dan berinteraksi dalam suatu ekosistem sangat menentukan tingkat produktivitas pertanian. Namun demikian dalam kenyataannya pertanian merupakan penyederhanaan dari keanekaragaman hayati secara alami menjadi tanaman monokultur dalam bentuk yang

1

Kenyataan yang terjadi di Indonesia masih jauh dari harapan karena jumlah pestisida yang terdaftar justru semakin meningkat dari tahun ke tahun. bahkan cukup banyak ditemukan satu bahan aktif didaftarkan dengan lebih dari 10 nama dagang. perkebunan. Seperti tercatat di Indonesia. 2004). yang merupakan komponen bentang alam (landscape) yang penting dalam menyediakan sarana ekologi untuk perlindungan tanaman dan serangga-serangga berguna. 2002. 1999). akibatnya agroekosistem menjadi tidak stabil. sangatlah penting bagi pertanian berkelanjutan. Akan tetapi. bahwa pada tahun 2002 terdaftar 813 nama dagang pestisida. Koperasi Ditjen BSP. keberhasilan program PHT belum berkorelasi dengan menurunnya penggunaan pestisida secara nasional (Trisyono. Meningkatnya jumlah pestisida tersebut disebabkan banyaknya pestisida generik yang terdaftar. Salah satu masalah penting dari sistem pertanian homogen adalah menurunnya ketahanan tanaman terhadap serangga hama. timbulnya penyakit dan sebagainya (Van Emden & Dabrowski. 2008).Pidato Pengukuhan Jabatan Guru Besar Tetap Universitas Sumatera Utara ekstrim. prinsip ekologi telah diabaikan secara berkesinambungan. salinisasi. jasa penguraian. parasitoid. Di Indonesia. Berbagai hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan berupa masukan agrokimia (terutama pestisida dan pupuk) telah menimbulkan dampak lingkungan dan sosial yang tidak dikehendaki (Altieri. Hasil akhir pertanian adalah produksi ekosistem buatan yang memerlukan perlakuan oleh pelaku pertanian secara konstan. sejak tahun 1989 lebih dari satu juta petani dan kelompok tani telah dilatih dengan mengikuti program Sekolah Lapang PHT (SLPHT) termasuk SLPHT Sayuran Dataran Tinggi (Untung. erosi tanah. Mulai tahun 2007 Pemerintah menaikkan anggaran yang dialokasikan untuk kegiatan SLPHT tanaman pangan. 2004). Meningkatnya jumlah nama dagang pestisida tanpa diikuti dengan meningkatnya jumlah bahan aktif tidak memberikan nilai tambah terkait dengan usaha untuk memperkecil 2 . meningkat menjadi 1082 pada tahun 2004 dan lebih dari 1500 pada tahun 2006 (Direktorat Pupuk dan Pestisida. 1997). terutama disebabkan oleh penggunaan pestisida yang tidak bijaksana (Altieri & Nicholls. Dengan adanya kemajuan pertanian modern. dan patogen) untuk mengendalikan hama. 2004). dan hortikultura. Perusakan-perusakan tersebut menimbulkan munculnya hama secara berulang dalam sistem pertanian. pencemaran air. Memburuknya masalah hama ini sangat berhubungan dengan perluasan monokultur dengan mengorbankan keragaman tanaman. Jasa-jasa ekologis yang diemban oleh keanekaragaman hayati pertanian. dan jasa pengendali hayati (predator. diantaranya jasa penyerbukan.

17% burung. Negara Indonesia dikaruniai Tuhan Yang Maha Kuasa keanekaragaman hayati yang cukup besar. Indonesia memiliki 10% jenis tumbuhan berbunga yang ada di dunia. sebagian besar lahan pertanian di dunia diusahakan dengan sistem monokultur dan hanya ditanami dengan 12 jenis tanaman gandum. 23 jenis tanaman sayuran. Dalam hal tertentu justu akan memperbesar risiko (Trisyono. Dari 515 jenis mamalia besar. Keanekaragaman hayati Indonesia sebagian telah dimanfaatkan. walaupun luas daratan Indonesia hanya 1.5/1994 dan UU RI No. PERAN EKOLOGIS KEANEKARAGAMAN HAYATI DALAM PERTANIAN Hadirin yang mulia. Apabila diperkirakan seluruh dunia ada sekitar 2 juta jenis serangga. 40% endemik. sebagian baru diketahui potensinya. Meskipun telah diterbitkan berbagai Peraturan dan Undang-Undang antara lain UU No.Keanekaragaman Hayati dan Pengelolaan Serangga Hama dalam Agroekosistem risiko penggunaan pestisida. Perlakuan secara global terhadap keanekaragaman hayati tidak asing lagi bagi para pelaku pertanian. mungkin merupakan kegiatan penting yang mempengaruhi keanekaragaman hayati. 16% reptilia dan amfibia. 78 jenis paruh bengkok. 36% endemik. hewan dan mikroba. Indonesia juga mempunyai kedudukan yang istimewa. dan sekitar 35 jenis buah dan kacang-kacangan.5/1990. Dari segi kekayaan jenis tumbuhan. perbedaan yang sangat kontras bila dibandingkan 3 . 33 jenis primata. Khususnya di dunia hewan. Diperkirakan bahwa perluasan lahan pertanian di dunia meningkat dari 265 juta ha pada tahun 1700 menjadi lebih dari 500 juta ha saat ini. 25% ikan dan 15% serangga. UU RI No. 18% endemik. dan dari 121 jenis kupu-kupu. dan sebagian besar lagi bahkan namanya saja belum diketahui (diidentifikasi). namun tandatanda begitu jelas bahwa pendekatan berdasarkan pestisida untuk mengendalikan serangga hama sudah mencapai batas. 1994). maka di Indonesia ada sekitar 300 ribu jenis. 2008). 44% endemik (Sugandhy et al.. salah satunya berdasarkan prinsip ekologi untuk mengambil keuntungan maksimal dari keanekaragaman hayati dalam ekosistem pertanian. Alternatif pendekatan sangat dibutuhkan.21/2004 tentang Konservasi Sumberdaya Alam Hayati dan Ekosistemnya. Di dunia ini diketahui ada beberapa mega center of biodiversity dan Indonesia menduduki nomor dua setelah Brazil. 12% binatang menyusui. Kenyataannya.32% seluruh luas daratan yang ada di dunia. karena pertanian yang meliputi 25-30% area di dunia.

Perluasan tanah pertanian mengakibatkan hilangnya habitat alami . jagung. Secara ekonomi monokultur untuk sementara waktu mungkin menguntungkan bagi para pelaku di bidang pertanian maupun perkebunan. Proses penyederhanaan lingkungan menjadi monokultur pertanian memberi dampak terhadap keanekaragaman hayati dalam hal: . dan 53% hanya ditanami dengan 3 jenis kapas (Altieri.000 keragaman jenis padi lokal. Filipina sebagai salah satu produsen beras berproduksi tinggi sudah menggantikan lebih dari 300 jenis beras tradisional (Thrupp. menggiring petani menggunakan hanya satu kultivar tersebut dan 4 . Kehilangan keanekaragaman sumberdaya genetik juga terjadi di negara yang sudah berteknologi tinggi seperti Amerika Serikat. keragaman pertanian sudah didominasi oleh monokultur tanaman. Bukti nyata dampak dari erosi sumber genetik adalah promosi beras hasil Revolusi Hijau di Bangladesh yang menyebabkan kehilangan 7. dan kentang) untuk memenuhi setengah kebutuhan energi nabatinya. penggunaan bahan kimia sintetis dan kegiatan lainnya . tetapi dalam jangka waktu panjang tidak demikian adanya. hal ini merupakan contoh yang sangat sederhana dari ketersediaan keragaman (Brown & Young. beras. 1999). 1997).638 jenis pir sudah tidak ditanami lagi.Kehilangan berbagai jenis serangga berguna akibat hilangnya tanaman liar sebagai sumber makanan. 72% hanya dengan 4 jenis kentang. hanya 4 jenis (gandum. 2004). 60-70% lahan hanya ditanami 2 atau 3 jenis kacang-kacangan. Namun demikian umat manusia hanya bergantung pada 14 spesies mamalia dan burung untuk memenuhi 90% pasokan pangan hewani mereka. 1990). penyempitan keragaman tanaman secara drastis mengakibatkan produksi makanan di dunia akan semakin memburuk (Altieri & Nicholls. Di Indonesia bahkan terjadi penyusutan yang sangat besar terhadap sumberdaya genetik berupa penyusutan 1500 padi kultivar padi lokal akibat pemanfaatan teknologi monokultur dengan menggalakkan padi Pelita Baru sejak tahun 1978 (NCBC. 80% dari 7000 jenis apel yang ditanam pada tahun 18041904 dan 88% dari 2. 1993).Pidato Pengukuhan Jabatan Guru Besar Tetap Universitas Sumatera Utara dengan keragaman tanaman hutan tropis yakni dalam 1 ha terdapat lebih dari 100 jenis tanaman. Hal ini terjadi karena kebijakan intensifikasi pertanian menggunakan satu macam kultivar unggul secara nasional. Malahan.Konversi menjadi lahan pertanian homogen dengan nilai habitat yang rendah .Erosi sumber-sumber genetik yang bervariasi karena peningkatan varitas tanaman berproduksi tinggi yang seragam Pada negara berkembang.

stabilitas dan keanekaragaman hayati dapat dimanfaatkan untuk mencapai pertanian berkelanjutan. rotasi tanaman dan penanaman lahan-lahan terbuka sangat perlu dilakukan karena meningkatkan stabilitas ekosistem serta mengurangi resiko gangguan hama (Altieri & Nicholls. patogenisitas. Salah satu pendorong meningkatnya serangga pengganggu adalah tersedianya makanan terus menerus sepanjang waktu dan di setiap tempat. Untuk mewujudkan pertanian berkelanjutan maka tindakan mengurangi serangan hama melalui pemanfaatan musuh alami serangga dan meningkatkan keanekaragaman tanaman seperti penerapan tumpang sari. 5 . Kesuburan tanah tetap terpelihara bukan karena daur ulang secara alami atau penguraian sisa tanaman yang dipanen. Komoditi tanaman yang dimodifikasikan untuk memenuhi kebutuhan manusia rusak karena tingginya serangan hama. Demikian pula dengan persiapan persemaian secara komersial dan penanaman mekanis menggantikan cara alami penyebaran benih. pestisida kimia menggantikan pengendalian alami terhadap hama dan manipulasi genetik menggantikan proses evolusi dan seleksi tanaman secara alami. Pemecahan ini dapat diperbaiki dengan pemulihan komponen komoditi melalui penambahan atau peningkatan keanekaragaman hayati. akhirnya menimbulkan ketidakstabilan agroekosistem dan meningkatnya serangan hama. parasitisme.. Adanya perluasan monokultur tanaman yang mengorbankan vegetasi alami sehingga mengurangi keragaman habitat lokal. Umumnya semakin intensif tanaman tersebut dimodifikasi maka akan semakin intensif pula hama yang menyerangnya (Swift et al. persaingan intraspesies dan interspesies. Karakteristik sifat-sifat pengaturan sendiri komoditi alami akan hilang bila manusia memodifikasi komoditi tersebut dengan memecah interaksi kehidupan tanaman dan akhirnya menjadi rapuh. 1999). produktivitas.Keanekaragaman Hayati dan Pengelolaan Serangga Hama dalam Agroekosistem mengabaikan kultivar lokal sehingga kultivar yang telah teradaptasi lama itu tersisihkan dan akhirnya hilang. tetapi karena pemupukan sintetis. Budidaya tanaman monokultur dapat mendorong ekosistem pertanian rentan terhadap organisme serangga hama. suksesi. 1996) (Gambar 1). Mekanisme-mekanisme alami seperti predatisme. Konsekuensi dari pengurangan keanekaragaman hayati akan lebih jelas terlihat pada pengelolaan hama pertanian.

Perluasan agroekosistem terisolasi dari tanaman alami 6 . edafik.Keragaman tanaman di dalam dan sekitar agroekosistem .. manusia dan sosioekonomi. yaitu: . gulma.Pidato Pengukuhan Jabatan Guru Besar Tetap Universitas Sumatera Utara Gambar 1. Keanekaragaman dalam agroekosistem dapat berupa variasi dari tanaman. anthropoda. dan mikroorganisme yang terlibat beserta faktor-faktor lokasi geografi.Kekuatan atau keutuhan manajemen . Menurut Southwood & Way (1970). tingkat keanekaragaman hayati dalam agroekosistem bergantung pada 4 ciri utama.Keragaman tanaman yang sifatnya permanen di dalam agroekosistem . Pengaruh intensifikasi terhadap keanekaragaman hayati dalam agroekosistem dan hubungannya dengan keanekaragaman artropoda (Sumber: Swift et al. iklim. 1996) KEANEKARAGAMAN HAYATI ALAMI DALAM AGROEKOSISTEM Hadirin yang mulia.

dari lingkungan sekitar yang berkoloni dalam agroekosistem. mikroba patogen dan lain-lain. pengurai. Gabungan antara fungsi-fungsi keanekaragaman hayati akan memicu sinergisitas yang dapat membantu di dalam agroekosistem dengan meningkatkan faktor-faktor yang berpengaruh.Sumber-sumber biota: makhluk hidup yang memiliki kontribusi terhadap penyerbukan. Apabila perencanaan dilakukan dengan baik. dan musuh alami (Vandermeer & Perfecto. Komponen pertama adalah keanekaragaman hayati yang terencana. antara lain: aktivitas biologi tanah. pepohonan.Biota produktif: tanaman. pengendalian hayati. yang dikendalikan oleh petani melalui manajemen budidaya. tanaman. herbivora. . dan memberikan perlakuan terbaik dalam peningkatan komponen keanekaragaman hayati yang diinginkan (Altieri & Nicholls. serangga hama. Oleh sebab itu perlu dilakukan identifikasikan tipe-tipe keanekaragaman hayati untuk memelihara dan/atau meningkatkan pengaruh-pengaruh ekologis. hasil penelitian membuktikan bahwa populasi serangga hama di dalam agroekosistem dapat diturunkan di bawah ambang ekonomi yaitu dengan meningkatkan populasi musuh alami atau yang memiliki efek pencegahan langsung terhadap serangga herbivora (Gambar 2). dekomposisi. Hal ini melibatkan manajemen dan perencanaan yang baik dalam agroekosistem karena banyak hubungan penting antara tanah.. Ada dua komponen penting keanekaragaman hayati yang dikenal dalam agroekosistem. 7 . mikroorganisme. variasinya tergantung dari manajemen dan pengaturan tanaman secara sementara.Biota perusak: gulma. peningkatan arthropoda dan antagonis yang menguntungkan dan lain-lain. meliputi tanaman dan hewan yang secara sengaja dimasukkan oleh petani ke dalam agroekosistem. dan sistem pertanaman (Swift et al. memiliki peranan penting dalam keanekaragaman hayati dan kekompleksan agroekosistem .Keanekaragaman Hayati dan Pengelolaan Serangga Hama dalam Agroekosistem Komponen keanekaragaman hayati dalam agroekosistem dapat dikelompokkan berdasarkan hubungan peranan. 2004). carnivora. dan lain-lain. fungsi. 1996) yang terdiri dari: . 1995). Sifat optimal agroekologik bergantung pada tingkat interaksi antara berbagai komponen biotik dan abiotik. Komponen kedua adalah gabungan keanekaragaman hayati. siklus nutrisi. dan lain-lain. serangga herbivora. terdiri dari seluruh tumbuhan dan hewan. hewan atau ternak yang dipilih oleh petani. yang seluruhnya penting untuk memelihara kestabilan maupun keutuhan agroekosistem. yang saling berhubungan atau berinteraksi.

Menyediakan inang alternatif dan mangsa pada saat kelangkaan populasi inang 2. dengan cara: 1. Komponen. sumber-sumber daya tertentu untuk musuh-musuh alami telah tersedia karena adanya keragaman tanaman. Menjaga populasi hama yang dapat diterima pada waktu tertentu untuk memastikan kelanjutan hidup dari musuh alami 8 . rotasi tanaman. penggunaan pupuk kompos dan pupuk daun. lebih mudah untuk dimanipulasi dan tidak digunakannya pestisida (Gambar 3). Pada pertanaman monokultur sangat sulit dilakukan pengendalian hayati yang tepat dan efisien karena kurang jelasnya penampakan efektif dari musuh alami dan adanya gangguan beberapa perlakuan dalam sistem ini. Sebaliknya pada pertanaman polikultur. tanaman penutup. Mengganti atau menambah keragaman pada agroekosistem yang telah ada dapat dilakukan agar musuh alami efektif dan populasinya meningkat (Van Driesche & Bellows Jr. kombinasi tanaman-ternak dan lain-lain. pengolahan tanah. fungsi. 1996). pepohonan. dan hewan-hewan seperti: tumpangsari.. agroforestri. 1999) Strategi yang dibutuhkan untuk meningkatkan keanekaragaman hayati dalam agroekosistem adalah menggalakkan sinergisitas berbagai tanaman.Pidato Pengukuhan Jabatan Guru Besar Tetap Universitas Sumatera Utara Gambar 2. Menyediakan pakan (tepung sari dan nektar) parasitoid dewasa 3. dan strategi meningkatkan keanekaragaman hayati dalam agroekosistem (Sumber: Altieri. KERAGAMAN TANAMAN DAN PENGENDALIAN HAYATI Hadirin yang saya muliakan.

tepungsari. Dampak pengelolaan agroekosistem terhadap keanekaragaman musuh alami dan kelimpahan serangga hama (Altieri & Nicholls.. Ukuran keberhasilan peningkatan musuh alami juga dipengaruhi oleh luasnya areal pertanian. Untuk meningkatkan keefektifan musuh alami dapat dilakukan dengan memanipulasi sumber daya non target (mis. Seluruh strategi peningkatan keragaman yang digunakan harus didasarkan pada pengetahuan akan kebutuhan ekologis dari musuh-musuh alami. atau efek langsung dari spesies tanaman tertentu. komposisi dan karakteristik tanaman. karena mempengaruhi kecepatan perpindahan imigrasi. emigrasi dan waktu efektif dari musuh alami tertentu di lahan pertanian. nektar. ruang dan waktu). tetapi juga ketersediaan distribusi spatial dan dispersi sementara. 9 . 2000) Strategi peningkatan musuh alami tergantung dari jenis herbivora dan musuh-musuh alaminya.Keanekaragaman Hayati dan Pengelolaan Serangga Hama dalam Agroekosistem Gambar 3. 1996). sehingga bukan hanya kelimpahan sumber-sumber daya non-target saja yang dapat mempengaruhi populasi musuh alami. kondisi fisiologis tanaman.: inang atau mangsa alternatif. sehingga meningkatkan kemungkinan musuh alami tetap tinggal pada habitatnya dan berkembang biak (Van Driesche & Bellows Jr. Manipulasi sumber-sumber daya non-target akan merangsang musuh alami membentuk koloni habitat.

Data memaparkan bahwa kebun buah-buahan dengan tanaman liar dibawahnya menimbulkan kerusakan lebih rendah oleh serangan serangga dibanding dengan kebun buah yang diusahakan bebas dari tanaman lain (clean cultivated). juga pada kepadatan tingkat tropik secara alami (Southwood & Way. Manipulasi dengan menggunakan tanaman penutup tanah (cover crops) juga berpengaruh terhadap serangga hama dan musuh-musuh alaminya. Bunga gulma tertentu (kebanyakan Umbelliferae. polikultur tanaman tahunan lebih mendukung herbivora ke tingkat lebih rendah daripada monokultur. lalat buah B. 2004). 1970). Hasil studi interaksi tanaman-gulmaserangga diperoleh bahwa gulma mempengaruhi keragaman dan keberadaan serangga herbivora dan musuh-musuh alaminya dalam sistem pertanian. 2002. semakin tinggi keragaman ekosistem dan semakin lama keragaman ini tidak diganggu oleh manusia. dan Compositae) memegang peranan penting sebagai sumber pakan parasitoid dewasa yang dapat menekan populasi serangga hama (Altieri. 2007).Pidato Pengukuhan Jabatan Guru Besar Tetap Universitas Sumatera Utara Berbagai penelitian menunjukkan bahwa keanekaragaman tanaman dapat menurunkan populasi serangga herbivor. Dilaporkan bahwa akibat penggunaan insektisida yang berlebihan di Taiwan.. 10 . Ditinjau dari dinamika serangga. hanya sebagian kecil petani yang tertarik menggunakan perangkap atraktan Metil Eugenol (ME) (Tobing et al. dorsalis telah resisten terhadap berbagai insektisida (Hsu & Feng. Hsu et al. meskipun ditemukan keanekaragaman tanaman liar di bawah pertanaman jeruk dan sebagian besar dilakukan tumpangsari dengan berbagai jenis sayuran di lahan jeruk. Hasil penelitian pada pertanaman jeruk di Kabupaten Karo menunjukkan bahwa serangan lalat buah Bactrocera dorsalis telah mulai mengkhawatirkan dengan persentase kerusakan yang cukup tinggi.. 1999). semakin banyak pula interaksi internal yang dapat dikembangkan untuk meningkatkan stabilitas serangga. 1970). Namun metode pengendalian lalat buah yang dilakukan oleh sebagian besar petani jeruk adalah dengan menggunakan insektisida. Penggunaan pestisida yang intensif akan dapat menimbulkan resistensi dan musuhmusuh alami turut terbunuh. Stabilitas komunitas serangga selain bergantung pada keragamannya. Leguminosae. karena melimpahnya jumlah dan efisiensi predator dan parasitoid (Southwood & Way. Kecenderungan ini disebabkan oleh kestabilan populasi musuh alami dengan adanya ketersediaan sumber-sumber pakan dan mikro habitat secara terus-menerus. Kemungkinan lain adalah herbivora tertentu lebih memilih habitat pada tanaman sejenis yang menyediakan semua kebutuhannya secara terpusat dan kondisi fisik yang selalu sama.

cucurbitae sejak 1996 setelah digunakannya perangkap ME yang dicampur sedikit dengan insektisida. Monokultur adalah implikasi dari penyederhanaan keanekaragaman. Seperti dilaporkan bahwa ulat daun kubis Plutella xylostella di berbagai daerah sentra produksi di Jawa Tengah dan Yogyakarta telah sangat resisten terhadap insektisida dengan bahan aktif (b. MONOKULTUR DAN KEGAGALAN PENGENDALIAN HAMA SECARA KONVENSIONAL Hadirin yang saya muliakan. resitensi. terutama melalui ekspansi lahan yang hanya menunjang pertumbuhan satu jenis tanaman.a. Kakinohana. 2003. sehingga perkebunan jeruk dapat terbebas dari lalat buah. tetapi juga terjadi karena penggunaan pestisida yang tidak bijaksana. Di Indonesia contohnya. 2008). 1996. 2001. Saat ini monokultur telah meningkat secara drastis di seluruh dunia.a. risurjensi. 2004). Selama sistem monokultur dipelihara sebagai struktur dasar sistem pertanian modern.9 juta ha tahun 2006. negara Jepang telah terbebas dari lalat buah B. metoksifenosida Trisyono. dan tanaman lebih rentan terhadap hama) (Gambar 4) dan nilai-nilai sosial (keracunan dan penyakit pada manusia serta pencemaran lingkungan). 11 . hasil akhirnya akan memerlukan campur tangan manusia untuk membentuk ekosistem buatan dalam bentuk pemakaian bahan kimia sintetis yang meningkatkan produksi hanya sementara saja. 1997). masalah hama akan berlanjut terus karena dampak negatip yang ditimbulkannya juga akan semakin tinggi. akan tetapi berdampak terhadap kerusakan lingkungan (matinya serangga penyerbuk dan musuh alami. Rahman. dorsalis sejak 1993 dan B. perkebunan kelapa sawit dengan luas areal 290 ribu ha pada tahun 1980 telah meningkat 2000% menjadi 5. Hal yang sama seharusnya dapat dilakukan di pertanaman jeruk di Kabupaten Karo apabila seluruh petani jeruk secara serentak melakukan pengendalian hama lalat buah seperti yang dilakukan di Jepang. Listyaningrum.Keanekaragaman Hayati dan Pengelolaan Serangga Hama dalam Agroekosistem Sebaliknya. demikian pula dengan ulat grayak Spodoptera exigua pada daun bawang merah juga telah resisten terhadap b. serta pelepasan lalat jantan mandul (Iwahashi et al. perubahan status hama.) deltametrin (Nuryanti.. Meningkatnya serangan hama bukan hanya karena penyederhanaan tanaman.

(2002) di Kabupaten Karo terhadap petani sayuran di 42 desa dari 6 kecamatan diperoleh bahwa sebagian besar petani menggunakan pesitisida secara berlebihan. Demikian pula dengan perkebunan kelapa sawit milik negara maupun swasta sebagian besar masih menggunakan pestisida untuk pengelolaan hama-hama penting seperti ulat api. Dampak ekologis dari monokultur dan perlakuan pestisida terhadap hama dalam agroekosistem (Sumber: Altieri & Nicholls. Hal ini jelas sangat merugikan baik bagi petani. dosis yang tidak tepat dan mencampur berbagai jenis pesitisida.Pidato Pengukuhan Jabatan Guru Besar Tetap Universitas Sumatera Utara Gambar 4. Akhir-akhir ini di beberapa perkebunan kelapa sawit terjadi ledakan hama ulat api dan ada kecenderungan frekuensinya menjadi semakin sering setelah aplikasi 12 . kumbang tanduk dan tikus. maupun lingkungan. ulat kantung. 2004) Hasil penelitian Tobing et al. konsumen.

. namun tampaknya tidak menarik untuk digunakan oleh pelaku perkebunan. Beauveria bassiana. 1996). anisopliae dengan konsentrasi 1010 – 1015 spora/ha dapat menurunkan populasi 13 .Keanekaragaman Hayati dan Pengelolaan Serangga Hama dalam Agroekosistem insektisida sintetik. karena sistem pertanian modern mengurangi atau menghilangkan sumber-sumber daya alam dan kesempatan untuk musuh alami. Hal ini diduga karena daya bunuh mikroorganisme patogen (entomopatogenik) yang bekerja tidak langsung membunuh hama sasaran seperti pestisida tetapi membutuhkan waktu beberapa hari. 2003). Tobing et al. virus β-Nudaurelia. Pertanian modern telah menseleksi tanaman berproduksi tinggi. cendawan entomopatogen M. Seperti yang ditemukan pada lahan pertanaman padi di Indonesia. Tanaman homogen secara genetik yang diusahakan pada sistem monokultur tidak memiliki mekanisme pertahanan ekologi yang dapat mentoleransi serangan hama. akibatnya tanaman ini semakin rentan terhadap hama dengan mengorbankan pertahanan alaminya. maka jumlah musuh alami terus menurun yang akhirnya menurunkan peran pengendalian serangga hama secara hayati dan hanya mengandalkan pengendalian dengan pestisida (Van Driesche & Bellows Jr. Konsekuensinya. 2009). bahwa ketergantungan petani terhadap pestisida cukup tinggi meskipun berbagai teknik pengendalian ramah lingkungan sudah tersedia. Pengendalian ulat api dapat menggunakan musuh alami berupa entomopatogenik seperti jamur Cordyceps militaris. Terjadinya gangguan terhadap fungsi dan faktor-faktor pengendali alami yang ada di dalam ekosistem perkebunan kelapa sawit. Sebenarnya sudah banyak ditemukan musuh-musuh alami yang potensial serta dapat dikembangbiakkan di laboratorium bahkan telah diperdagangkan. Metarhizium anisopliae dan virus Baculovirus oryctes. Multiple Nucleopolyhedrosis (MNPV) dan bakteri Bacillus thuringiensis. Menempatkan satu sarang (gupon) burung hantu di perkebunan kelapa sawit seluas 25 ha dengan sepasang burung hantu dapat memangsa tikus ± 3000 ekor/tahun (Prawirosukarto et al.. namun akhir-akhir ini beberapa perkebunan kelapa sawit telah memelihara burung hantu (Tyto alba) sebagai predator tikus. juga dengan menggunakan perangkap feromon sintetis yang dapat menangkap kumbang badak dalam jumlah besar.. diduga disebabkan kematian musuh alami (parasitoid dan predator). Penggunaan feromon cukup murah karena biayanya hanya 20% dari biaya penggunaan pestisida dan ramah lingkungan. 2006. Pengendalian tikus yang biasanya dilakukan dengan menggunakan perangkap. Pengendalian tikus sawah Rattus argentiventer dengan protozoa patogenik Sarcocystis singaporensis (Jäkel et al.. zat perekat atau racun tikus. Demikian pula kumbang badak Oryctes rhinoceros selain dapat dikendalikan dengan jamur entomopatogenik Beauveria bassiana.

. rendahnya keanekaragaman hayati. Alias et al. bahan organik tanah dan aktivitas biologi. 2001).Pidato Pengukuhan Jabatan Guru Besar Tetap Universitas Sumatera Utara wereng coklat sampai 66% (Santosa & Sulistyo.. Mekanisme yang dibutuhkan untuk meningkatkan ketahanan agroekosistem dapat dilakukan dengan cara meningkatkan: jenis tanaman dan keragaman genetik. Seluruh perlakuan ini akan menghasilkan peningkatan fungsi keanekaragaman hayati baik di dalam maupun di atas tanah. PERENCANAAN AGROEKOSISTEM MENUJU PERTANIAN BERKELANJUTAN Karakteristik dari pengaturan sendiri (self regulation) komunitas alami akan hilang bila kita memodifikasi dan menyederhanakannya dengan memutuskan interaksi komunitas tersebut yang akhirnya menjadi rapuh. penutup tanah (cover crop). Di Indonesia. 2006. Banyak studi menunjukkan bahwa dalam sistem pertanian monokultur. monokultur. belum ada data berapa nilai (rupiah) terhadap lingkungan dan sosial akibat penggunaan pestisida. Kekhawatiran saat ini adalah penggunaan pestisida yang sangat tinggi dan akan terus meningkat dalam sistem pertanian. Hasil penelitian telah membuktikan bahwa tanaman yang diberi pupuk dengan bahan kimia sintetis lebih rentan terhadap serangan hama dibandingkan tanaman organik dan yang tumbuh pada tanah yang aktif secara hayati (Hsu et al. 1999). fungsi keanekaragaman musuh alami dan antagonis. kerentanan tanaman secara fisiologi terhadap hama dipengaruhi oleh pupuk yang digunakan (pupuk organik vs kimia) (Altieri. pengendalian penggerek batang padi kuning dengan menggunakan feromon (Katti et al. sedangkan menurut Conway & Pretty (1991) di Amerika Serikat mencapai US$ 8 milyar per tahun. kadar bahan organik tanah yang rendah. Demikian pula untuk hama penting tanaman perkebunan seperti penggerek buah kopi Hypothenemus hampei dan penggerek buah kakao Conopomorpha cramerella telah dapat dikendalikan dengan perangkap feromon (Wiryadiputra. Langkah pertama yang harus dilakukan adalah mengenali akar permasalahan dari ketidakstabilan atau kerusakan agroekosistem yaitu: penggunaan pestisida dan pemupukan yang berlebihan.. dan kelembaban yang tidak seimbang. Langkah kedua adalah meningkatkan praktek manajemen untuk mengoptimalkan kesehatan dan ketahanan agroekosistem dengan menyediakan sarana ekologis. aktivitas biologi tanah yang rendah. 2007). yang berperan 14 . keseragaman genetik. 2009). dan menghilangkan input beracun. 2004).

harus diterapkan menjadi sistem praktikal alternatif untuk memenuhi kebutuhan spesifik dari komunitas pertanian daerah agroekologis yang berbeda. polikultur untuk saling melengkapi sehingga akan meningkatkan produksi. Strategi penting dalam ketahanan pertanian agar dapat berkelanjutan adalah mengembalikan keragaman melalui: tumpangsari dan rotasi tanaman untuk penyediaan nutrisi tanaman dan memutuskan siklus hidup serangga hama. 1999). memodifikasi iklim mikro dan meningkatkan peran musuh alami.Keanekaragaman Hayati dan Pengelolaan Serangga Hama dalam Agroekosistem penting dalam memulihkan kapasitas sistim produksi (Altieri & Nicholls. sosio ekonomi. yaitu dari pendekatan PHT menjadi EBPM (Ecologically Based Pest Management) atau pengelolaan hama berbasis ekologik. 15 . luas areal pertanian. 2. 2004). Pengelolaan hama secara hayati yang tepat dan efisien lebih sulit dilakukan pada pertanaman monokultur daripada polikultur. keragaman dan sistem pertanian yang efisien. jenis dan struktur tanah. sebaliknya pada pendekatan EBPM tujuan akhir sistem produksi yang akan dicapai adalah ’rancangan’ agroekosistem yang secara ekonomi menguntungkan dan secara ekologis berkelanjutan (Kogan. Daerah-daerah di Indonesia memiliki banyak jenis sistem pertanian karena ditentukan oleh berbagai faktor. ketersediaan sumber daya. 1999). degradasi lingkungan. Pendekatan yang digunakan dalam PHT umumnya hanya terkait dengan tujuan pencapaian skala dan keuntungan jangka pendek. gabungan tanaman-ternak untuk meningkatkan luaran biomas yang tinggi dan mengoptimalkan sistem daur ulang. Penyederhanaan lingkungan menjadi monokultur pertanian memberi berbagai dampak terhadap keanekaragaman hayati. input rendah. intensitas teknologi. Oleh sebab itu pengelolaan serangga di masa datang sudah harus direvisi secara menyeluruh. dan lain-lain (Altieri & Nicholls. dan lain-lain. KESIMPULAN 1. tanaman penutup untuk memperbaiki kesuburan tanah. agroforestri untuk menghasilkan hubungan yang saling melengkapi diantara komponen dan meningkatkan penggunaan berganda agroekosistem. seperti: iklim. Konsep dasar dari kelangsungan hidup.

Dibutuhkan strategi untuk meningkatkan keanekaragaman hayati dengan mengoptimalkan sinergitas berbagai komponen yang ada di dalam agroekosistem. Perlu dilakukan perencanaan agroekosistem yang baik agar stabilitas ekosistem dapat ditingkatkan serta mengurangi resiko gangguan hama sehingga dapat terwujud pertanian berkelanjutan. 4.Pidato Pengukuhan Jabatan Guru Besar Tetap Universitas Sumatera Utara 3. 5. 16 . Pengendalian hama berdasar PHT sebaiknya direvisi menjadi pengelolaan hama berbasis ekologik (PHBE atau Ecologically Based Pest Management).

Direktorat Pupuk dan Pestisida. H. Departemen Pertanian. L. Council. Hsu. 1991. pp. 375 hal. & J.69-84.W. 1999. Pestisida untuk Pertanian dan Kehutanan. 2004.J. 97(5): 1682-1688. Susceptibility of melon fly (Bactrocera cucurbitae) and oriental fruit fly (B. W.N. Young.. Food Product Press. and Insect Pest Management in Agricultural System. Ecosystems and Environment 74:19-31. & Wu. Norton & Co. .I. W. 14-19. 59-78.R. 1990.Keanekaragaman Hayati dan Pengelolaan Serangga Hama dalam Agroekosistem DAFTAR PUSTAKA Alias. W. & Feng. Feeding the world in the nineties. Res. 2004. W. 2002. Biodiversity. Unwelcome harvest: agriculture and polution. New York.. The ecological role of biodiversity in agroecosystem. & J. Tay. Applying agroecological concepts to development of ecologically based best management systems.C. Qualset. . Brown et al. Lwis Publ. Entomol. Dalam Proceedings of a Workshop “Professional societies and ecological based best management systems”. 1:46-52.A. Econ. Eds. London. dorsalis) to insecticides in Taiwan. Conopomorpha cramerella (Snellen) (Lepidoptera: Gracillariidae). Resistance and synergistic effect of insecticides in Bactrocera dorsalis (Diptera: Tephritidae) in Taiwan.E. Efficacy of mating disruption using synthetic pheromone for the management of cocoa pod borer.O..R. L. eds. & C. Biodiversity and Pest Management in Agroecosystems. J. J. . Farming Systems and Res. 17 .R. PP. 236 p. 1999. Washington. Extension 4:1-14. New York. Sadao & E. 2004. Plant Protection Bull. DC. Dalam Biodiversity in Agroecosystems. Malaysian Cocoa J. pp.W. 1994. Conway. A. Earthscan Publ. 2002. .. Nat.T.B. Sustainability in agricultural development. Jakarta. M. Pretty. Brown. Dalam State of the World. 44: 303-314. Altieri. Collins & C. Ecosystem Function. Nicholls. G. . Agriculture. J. 2000.

Ann. 1996. 102(1):160-169. 89(5): 653-660. 2001. Kakinohana. 2000. Agrosains 16:135-140. 490 hal. T.Pidato Pengukuhan Jabatan Guru Besar Tetap Universitas Sumatera Utara Hsu. Pengelolaan serangga dan pertanian organik berkelanjutan di pedesaan: menuju revolusi pertanian gelombang ketiga di abad 21. Fakultas Pertanian UGM Yogyakarta. Nuryanti. Entomol. Wratten & G. Shen & S. 2006. 2009. 2004.. 1997. Attractiveness of ME to the fruit fly Bactrocera carambolae (Diptera: Tephritidae) in Indonesia.. Crop Protec. T. Econ. Purwantoro. Tesis. S. 2005.R. 25: 773-780. D. Y. Pranadji. Pestisida untuk Pertanian dan Kehutanan. of Entomol. 38p. J. Verma & K. Gurr. Listyaningrum.S. Forum Penelitian Agro Ekonomi 23(1): 38-47. Hwang. The third Asia Pasific Conf. & Sastrodihardjo.Y. 1999. Entomol.A. Bactrocera cucurbitae and the Oriental fruit fly. Jakarta. Iwahashi. Katti. Annual Review of Entomology 45: 175-201. Bactrocera dorsalis. Integration of pheromone mass trapping and biological control as an alternate strategy for management of yellow stem borer and leaf folder in rice. Entomol. 69 hal.G. T. H.. Bacillus thuringiensis dan Khlorfluazuron. Promkerd & S. Am..T. Integrated Pest Management: Constructive Criticism or Revolutionism? Phytoparasitica 27(2):1-6..S.A. 63:325-328.A. Khoprasert. after eradication. P. Koperasi Ditjen BSP. 18 . Y. Jäkel. O. Trisyono & A. Krishnaiah. 2003. Soil fertility management and pest responses: A comparison of organic and synthetic fertilization. (APCE III). I. Pasalu. Indian J. Okinawa project to prevent reestablishment of the melon fly. Seleksi resistensi Plutella xylostella terhadap deltametrin. An experimental field study to assess the effectiveness of bait containing the parasitic protozoan Sarcocystis singaporensis for protecting rice crops against rodent damage.P.. Syamsudin-Subahar. Kogan. T. S. N.D. N.C. G. W. Hongnark. Kepekaan Beberapa Populasi Plutella xylostella di Jawa Tengah dan Yogyakarta terhadap Deltametrin.C. 2001. & Saptana. M. Habitat management to conserve natural enemies of arthropod pests in agriculture.Y. Landis. Soc.

Tobing. Intercropping and pest management. 2004. pp. D. Sulistyo. Mariati dan R. Dept. Mooney. Bakti & Lisnawita. Hawkins. 65 pp. L. American Entomologist 46: 154-161. A. pp. 1994. Smith. Sipayung.. S. 2000. Swift.M. M. 19 . Anderson. Thrupp. Fakultas Pertanian UGM Yogyakarta. Ong & B. Vandermer. Fac. Saragih. Washington.A. Inovasi Pertanian 6(1):1-10. A. & M. Rahman.A. 2007. PPKS Medan. .C.A. J. Pengaruh Metil Eugenol dalam pengendalian lalat buah Bactrocera dorsalis Hend. Plant Pests & Diseases. C. Univ. Ramakrishnan.E.J. 2002. Raleigh. Jakarta.R. Natur Indonesia 9(2):127-130. A review of major concepts.M. T..S. H. Ecological background to pest management. 1970. John Wiley & Sons. Diskusi Panel Peluang Bisnis Keanekaragaman Hayati Serangga Nusantara. Peranan musuh alami hama utama padi pada ekosistem sawah. 34 hal.L.7-13. B. S.. Strategi Keanekaragaman Hayati “Peranan kekayaan keanekaragaman hayati serangga dalam pembangunan nasional”. Guthrie. Biodiversity and agroecosystem function. eds.261-298. Sutanto & H. Susanto & R. 2007. Bali 25-27 Juli 2007. Dalam Concepts of Pest Management. M.E. Sugandhy. Way. Sumatera Utara..Keanekaragaman Hayati dan Pengelolaan Serangga Hama dalam Agroekosistem Prawirosukarto. McSorley. D. R.J. Santosa. North Carolina State University. J. Teknologi pengendalian hama dan penyakit pada kelapa sawit. Sumatera Utara. J. Agric. & R. H. 2007. Purba. A. (Diptera: Tephritidae) pada pertanaman jeruk. New York. Monitoring resistensi Plutella xylostella (Lepidoptera: Plutellidae) terhadap Deltametrin dan Profenofos. A. P. dalam Functional Roles of Biodiversity: A Global Perspective.K. & J. Ariaji & I. DC. Linking biodiversity and agriculture: Challenges and opportunities for sustainable food security.S. Bakti. Ed. J. Southwood. Marheni. Rabb & F.A. 1997. The research of insecticide marketing for vegetable and horticultural crops in Karo District. World Resources Institute. 53 hal. The use of pheromone traps and nets to control Oryctes rhinoceros (Coleoptera: Scarabaeidae) in oil palm plantation. 2002. . Tesis. Wardana.Y. S. 1996. Kongres Perhimpunan Entomologi VII dan Seminar Nasional.

T. Siregar. M. Oakland. Insect Science and Applications 15:605-620. 2004. J. Dampak pengendalian hama terpadu terhadap pendaftaran dan penggunaan pestisida di Indonesia. Tan. Trisyono.C. K. Y.S. Refleksi dan Tuntutan Perlunya Manajemen Pestisida. Hypothenemus hampei). & I.A. 10:1-7. 1997. Indo. Biological Control. Van Driesche. Lisnawita & Meiriani. Van Emden. Perlin. & T. Penggunaan perangkap dalam pengendalian hama penggerek buah kopi (PBKo. Perfecto. Dabrowski..Z. Chapman and Hall.F & Z. 2006. Vandermeer. S. Pelita Perkebunan 22(2): 101—118. California. J. Pidato Pengukuhan Guru Besar UGM Yogyakarta. Penggunaan protozoa Sarcocystis singaporensis (Apicomplexa: Sarcocystidae) untuk pengendalian tikus sawah Rattus argentiventer.Pidato Pengukuhan Jabatan Guru Besar Tetap Universitas Sumatera Utara Tobing.G. H. 1995. J. Food First Books. Breakfast of biodiversity. 2006. Bellows Jr. 20 . A. Issues of biodiversity in pest management. Untung. New York. 2009. Hama dan Penyakit Tumbuhan Tropika 9(1):39-45. Wiryadiputra. 1996. R.

bahkan materi yang unlimited selalu mama sediakan. Pertama sekali dari lubuk hati yang paling dalam. tidak pernah marah tetapi hanya memberikan nasihat dan saran terhadap anak-anaknya. jadi jangan disia-siakan. dan bertanggung jawab terhadap pekerjaan. Luhut Lumbantobing yang telah menanamkan arti pentingnya pendidikan. tetapi mama yang selalu menjadi inspirator saya agar tetap giat. yang belum pernah menolak setiap permintaan. Tahun 1984 setelah lulus S-2 saya mengenang suatu percakapan dengan bapak tentang keinginan saya untuk melanjutkan studi S-3. jujur. you are the greatest. mama adalah panutan yang luar biasa buat anakanaknya. Sebelum saya mengakhiri pidado pengukuhan ini. dan kerja keras. izinkan saya menyampaikan ucapan terima kasih dan penghargaan yang setinggitingginya kepada berbagai pihak yang telah menghantarkan saya menjadi Guru Besar Tetap dalam bidang Entomologi Pertanian di Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara. My beloved mama. Tidak pernah saya lupakan kata-kata beliau “semua bisa diganti dalam hidup ini kecuali waktu. akhirnya tahun 1991 saya mengambil keputusan untuk melanjutkan studi S-3. Beliau menentang rencana tersebut dengan alasan “perempuan di Indonesia kurang dihargai dan diakui eksistensinya”. disiplin.Keanekaragaman Hayati dan Pengelolaan Serangga Hama dalam Agroekosistem UCAPAN TERIMA KASIH Hadirin yang saya muliakan. kecintaan terhadap buku. 21 . Buat mama yang tahun ini berusia 87 tahun but still doing business and very hard working. dan menyebut saya ‘pembangkang dan keras kepala’. belum dapat saya bayangkan apa yang akan dikatakan bapak kepada saya mengingat saya suka membantah dan beragumentasi dengan almarhum. Semoga Tuhan memberikan kesehatan yang baik dan umur panjang agar dapat bersama kami semua anak-anaknya. belajar terus selama masih ada nafasmu”. Mangisi Simorangkir yang dengan penuh kesabaran setiap hari menghadapi karakter “galak” dan suara saya yang keras. Setelah bapak meninggal dunia tahun 1988. Saya mengucapkan terima kasih dan penghormatan yang setinggi-tingginya kepada bapak saya almarhum dr. Seandainya beliau dapat hadir saat ini. Mama. saya mengucapkan terima kasih dan penghormatan yang setinggi-tingginya kepada mama. Kadangkala saya merasa jenuh dengan rutinitas pekerjaan di kampus. terima kasih yang tidak terhingga telah membesarkan dan mendidik saya dengan penuh kesabaran dan ketulusan tanpa mengenal lelah.

Soemartono Sosromarsono. Ucapan terima kasih disampaikan kepada Prof. Ph. Kepada Prof. Chairuddin P. Soelaksono Sastrodihardjo. terima kasih saya ucapkan.Sc. APU. pembimbing S-1 saya di Departemen Biologi-ITB. SMA sampai Perguruan Tinggi. Kepada para Pembantu Rektor. Terima kasih diucapkan kepada Ir.D. Isman Nuriadi yang membantu saya dan temanteman di Fakultas Pertanian USU tanpa pamrih. yang telah memberikan bantuan dan dukungan. Demikian juga kepada para anggota Majelis Wali Amanat USU. Terima kasih diucapkan kepada Dekan Fakultas Pertanian USU Prof.D. Tim Kenaikan Pangkat dan Jabatan Universitas Sumatera Utara yang telah mendukung dan menyetujui pengusulan saya sebagai Guru Besar Tetap pada Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara. Senat Akademik. SMP. baik secara moril maupun materil dalam perjalanan studi dan karier saya selama ini. saya mengucapkan terima kasih. Dewan Guru Besar. Ir. M. Ph. juga selalu mengingatkan untuk berbicara dan menulis bahasa Indonesia dengan baik dan benar. Lubis. saya ucapkan terima kasih. SD. Bapak Prof. sebagai Promotor saya dan dosen saya di S-2 Dr. DTM&H.. Pidato pengukuhan ini bisa saya sampaikan atas jasa ikhlas dari guru-guru saya mulai TK. Ph. anggota tim penilai pangkat di Fakultas Pertanian USU. saya ucapkan terima kasih. Zulkifli Nasution. Ucapan terima kasih yang tulus saya haturkan kepada Rektor Universitas Sumatera Utara. yang pertama kali mengarahkan minat saya mendalami Entomologi. sebagai ketua. dan bagian kepegawaian USU yang telah memproses segala keperluan pengusulan Guru Besar saya. saya haturkan terima kasih. diucapkan terima kasih tidak terhingga yang telah membimbing saya bukan hanya di 22 .Pidato Pengukuhan Jabatan Guru Besar Tetap Universitas Sumatera Utara Kepada Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia dan Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi yang atas nama Pemerintah RI telah memberikan kepercayaan dan kehormatan kepada saya untuk menyandang jabatan Guru Besar. Kepada seluruh rekan sejawat dan para pegawai di lingkungan Fakultas Pertanian USU yang telah menunjukkan kerjasama yang baik saya ucapkan terima kasih. mari kita jaga kerjasama dan kekompakan yang telah kita bina selama ini terus untuk dipertahankan dan ditingkatkan di masa mendatang. Soedarwohadi Sastrosiswojo.. Khusus kepada CoPromotor saya almarhum Dr.D. Hadirin yang saya hormati. Sidarta Wardoyo yang selain mendidik saya. SpA(K).

Ph.5 tahun di Jerman dan kepada TMPD Dikti Depdiknas atas bantuan moril maupun materil untuk program pendidikan S-2 dan S-3.Ibu Prof. H. MP. terima kasih atas kesabarannya. Evalina Pandia. ipar. 23 . Meiriani. MP. Nurlisa Ginting. Ir. Terima kasih kepada DAAD yang telah memberikan kesempatan kepada saya untuk mengikuti pelatihan 1.Ibu Ir. Syafrida Manuwoto. Ir.Phil.T. Ratna Lahay. Khusus kepada Tante Ny.D. Ucapan terima kasih dan penghargaan yang tinggi juga saya sampaikan kepada para dosen saya di ITB.Sc. Dr.Keanekaragaman Hayati dan Pengelolaan Serangga Hama dalam Agroekosistem bidang entomologi tetapi juga bimbingan rohani. M.. dengan harapan dan doa saya semoga apa yang Bapak/Ibu lakukan menjadi bagian amal dan ibadah yang mengalir secara berkesinambungan. yang mengingatkan saya untuk terus mengabdi di bidang pendidikan dan membantu petani.Sc. F. Rosita Spayung. Ir. Prof. Posma Marbun.. MP. Mariati. mereka selalu rajin mengunjungi saya selama masa studi S-1. saya mengucapkan terima kasih tidak terhingga atas perhatiannya yang luar biasa. dan keponakan yang tetap memberikan saya ruang dan waktu serta pengertian menghadapi saya. Charloq. Ir. khususnya di Departemen Biologi ITB dan Program Pascasarjana IPB yang telah mengantarkan saya menapaki tahapan-tahapan kelimuan dengan kelengkapan gelar akademik saya di perguruan tinggi. dan Prof. S. sesuai dengan motto kita “sekali teman tetap teman”. Ningrum Natasha Sirait. Terima kasih kepada teman-teman angkatan ’70 ITB yang tetap menjaga kekompakan hingga hari ini dan selalu saling mendukung di setiap pekejaan yang kita emban. Wattimena. adik. Aunu Rauf. MP. Bintang. Kepada Prof. Dr. G.D. Ir. M. Morida Siagian.A. S-2. MURP dan keluarga .. MP. Ir. . Terima kasih juga disampaikan kepada sahabat-sahabat saya yang selalu menyediakan waktu untuk sharing dalam suka dan duka: . Sitompul dan keluarga.Rekan-rekan PA Ruth: Ir. dan S-3. MLI dan keluarga . abang. Hotnida Sinaga.. Saya juga berterima kasih kepada dukungan keluarga besar Tobing dan keluarga ibu saya “Simor Group” yang hadir hari ini. dan Ir. Ir. M. MP. Terima kasih kepada CoPromotor saya Prof. MP. Ph.H.. Klingauff diucapkan terima kasih yang telah membimbing saya dalam penelitian di Bonn Universität.Ibu Ir. Ph. Untuk seluruh keluarga kakak.D.

Amin.Pidato Pengukuhan Jabatan Guru Besar Tetap Universitas Sumatera Utara Puncak dari perjuangan untuk sampai ke mimbar yang terhormat hari ini merupakan bukti bahwa segala sesuatu yang telah saya raih adalah karena kasih dan berkat Tuhan semata (Sola Gratia). Terima kasih Tuhan karena menjadi sahabat sejati dalam perjalanan hidup saya. Shalom. Akhirnya saya mengucapkan terima kasih atas perhatian dan kesabaran hadirin sekalian dalam mengikuti acara prosesi pengukuhan ini dan mohon maaf bila ada yang alpa saya sebut atau tuliskan tetapi sejujurnya semua orang-orang dalam kehidupan sayalah yang telah berjasa mengantarkan saya sampai dikukuhkan sebagai Guru Besar hari ini. Tuhan Memberkati Kita. 24 .

Dago Bandung ITB-Bandung Goethe-Jerman Bonn Universität IPB . Medan 20155 cyccu@indosat. Tobing. Bidang Studi Umum Umum IPA Biologi Bahasa Jerman Entomologi Pertanian Entomologi Pertanian Entomologi Pertanian 25 . Dr. Tobing Naomi Naomi Happy Kristianti L. Ijazah M.S. DATA PRIBADI Nama NIP Jabatan Pangkat/Gol.Keanekaragaman Hayati dan Pengelolaan Serangga Hama dalam Agroekosistem RIWAYAT HIDUP A. Lukman L.E. Dian Kurnianto L. Tobing Taman Setia Budi Indah Blok F No. 55 Medan 20132. Tobing Hj. M. Sp. Tobing Marantina L. Indonesia Program Studi Agroekoteknologi Fakultas Pertanian USU JL. Luthfiah L. Luhut Lumbantobing (Alm. Dra. Lahir Nama Orang Tua Ayah Ibu Nama Saudara : : : : : : : : Prof. S.S. Tobing.) Mangisi Hasiholan br. H. Maryani Cyccu Tobing. Simorangkir dr. Tobing. Dr.id Alamat Rumah Kantor : : Email : B. 1 Siantar Katolik Siantar K. Kampus USU.PD Tio Dohar L. Maruli L. Bioteknologi. PENDIDIKAN Stratum SD SMP SMA S-1 S-2 S-3 Tempat Neg. Tobing Ir.net. MS Maranti L. Tobing Drs. Amir Toga L. Sumatera Utara. Tempat/Tgl.Bogor Tahun 1963 1966 1969 1975 1978 1979 1984 1996 Ijazah Ijazah Ijazah Ijazah Dra.Bogor IPB . 19521022 197603 2 002 Guru Besar Pembina Utama Muda/IVc Pematang Siantar/22 Oktober 1952 dr.

Pelatihan Penulisan Artikel Harian Kompas Workshop Collaboration in Development of Integrated Natural Resources Management and Postgraduate Program Waktu 14-16 Okt. 2008 9-10 June 2008 26 . 3. 2. Kedokteran Tropis. 5. 9. I Pembina Pembina Tkt. dan Biologi) Ketua Unit Pengembangan Riset dan Pengabdian pada Masyarakat. PEKERJAAN 1975-sekarang 2004-sekarang 1999-2006 1999-2003 2006-sekarang 2003-2007 : : : : : : Dosen di Fakultas Pertanian USU Dosen di Sekolah Pascasarjana USU (Program Studi: Agroekoteknologi. I Pembina Utama Muda Golongan/Jabatan IIIa IIIa/Asisen Ahli Madya IIIb/Asisten Ahli IIIc/Lektor Muda IIId/Lektor Madya IVa/Lektor IVb/Lektor Kepala IVb/Guru Besar IVc/Guru Besar Tahun Maret 1976 April 1977 April 1978 April 1980 April 1983 April 2001 April 2006 Nop. USU Ketua Dewan Redaksi Jurnal Ilmu Pertanian KULTURA Penanggung Jawab Jurnal Ilmu Pertanian KULTIVAR Anggota Lembaga Penilai Independen Gerakan Reboisasi Hutan dan Lahan (GERHAN) Propinsi Sumatera Utara Ketua Tim/Koordinator Identifikasi. 7. 1. 8. Judul Pelatihan/Lokakarya/Workshop 1. 2008 April 2009 : : : : : : : : : 1 1 1 1 1 1 1 1 1 E. I Penata Penata Tkt. RIWAYAT KEPANGKATAN No. 6.Pidato Pengukuhan Jabatan Guru Besar Tetap Universitas Sumatera Utara C. I Pembina Tkt. 4. 2. PELATIHAN/LOKAKARYA/WORKSHOP 5 TAHUN TERAKHIR No. Fakultas Pertanian. Determinasi OPT/OPTK dari luar negeri dalam lingkup BKP Kelas II Medan Pengurus Masyarakat Konservasi Tanah dan Air Indonesia (MKTI) Cabang Sumatera Utara Pengurus Forum DAS Ular Sumatera Utara 2008-sekarang : 2008-sekarang 2009 : : D. Pangkat Capeg Penata Muda Penata Muda Tk.

Seminar Nasional V Perhimpunan Entomologi Indonesia. P. M. 2009). Bulan Bakti Karantina. 27 .R. (Terakreditasi) Harling. dan Sumatera MICE (Meeting. Arocha. Tobing. Keanekaragaman lalat buah (Diptera: Tephritidae) pada pertanaman markisa di Kabupaten Karo. 2009. 2. Jurnal Hama dan Penyakit Tumbuhan Tropika 9(1):39-45. 5. Siahaan. 3.C. Marheni dan M. Y. A. M. 8. Tobing. Tobing.. Seminar Pengamanan Ketahanan Pangan sekaligus Penyelamat Lingkungan. Vertical distribution and monitoring population of Thrips palmi Karny (Thysanoptera: Thripidae) on Solanum tuberosum (potato plant). Tobing. 2007. 2008. The effectiveness of Dringo (Acorus calamus) flour to control the rice weevil Sitophilus oryzae (Coleoptera: Curculionidae) in white rice. 2006 19-21 Des. Conference. Kelly and R.Z. S. Bogor 18-19 Maret 2008. 4. Journal Bioscience 18(2):1-8. Harju. Vol. Bali. First report of 16 Sr II Candidatus Phytoplasma aurantifola infecting chilli and tamarillo in Indonesia.C. Sitepu dan I. and Exhibition) National Course Biocontrol and Plant Clinic Molecular Diagnostic for Plant Pathology. Medan 4 Desember 2007. Tobing. Seminar Nasional Perlindungan Tanaman. 4. 7. KARYA ILMIAH YANG DISAJIKAN 5 TAHUN TERAKHIR 1. Reedeer. longissima (Coleoptera: Chrysomelidae). 6. 19 (Feb-Aug. Pengelolaan serangga hama oleh petani sayuran di Kabupaten Karo.C. MC.C. Siregar. Kemampuan Tetrastichus brontispae (Hymenoptera:. M.Eulophidae) memarasit B.F. 6. M. Resiko kerugian dan cara pengendalian hama Icerya purchasi sebagai OPTK A2 pada tanaman hias. Tobing.. 2008.. 2009. 2008. Tobing. Incentive.C. New Disease Reports.Keanekaragaman Hayati dan Pengelolaan Serangga Hama dalam Agroekosistem 3. Bakti. Tobing. 2007 21-24 Agt. 2005 12-13 Oktober 2004 2-6 Agt 2004 F. Medan 8 Juli 2008. Lisnawita dan Meiriani. dan D. Mobile Plant Clinic Training Pelatihan Pengelolaan Jurnal untuk Meningkatkan Akreditasi se-Jawa. 2009. International Seminar Bio Agricultural Input for Sustainable Agriculture: Prospect and Challenges Medan 1-2 Juli 2008. Bogor 5-6 Agustus 2009. 5. 2007. R. Pelatihan Akarologi Pertanian 10-15 Sept.C. V.C. Penggunaan protozoa Sarcocystis singaporensis (Apicomplexa: Sarcocystidae) untuk pengendalian tikus sawah Rattus argentiventer. M. 7. M.

) (Coleoptera: Coccinellidae) pada kutu daun Macrosiphoniela sanborni Gilette (Homoptera: Aphididae). M. MC.C. Lisnawita dan S. dan D. Oemry. Pangaribuan. (Terakreditasi).. Jurnal Agrikultura 18(1):1-5. Bakti dan Marheni 2006. (Coleoptera: Scolytidae). Pekanbaru 23-25 Juli 2007. Tobing. 2007. 14. Tobing. (Diptera:Tephritidae) pada pertanaman jeruk. 2007. Tobing. Perbanyakan Beauveria bassiana pada beberapa media dan patogenisitasnya terhadap imago penggerek buah kopi Hypothenemus hampei Ferr. 10. 2007. Bakti. 28 . (Terakreditasi).. Saragih.. M. Biologi Thrips parvispinus Karny (Tysanoptera: Thripidae) pada tanaman cabai. M. Tobing.C. S. Kongres Perhimpunan Entomologi VII dan Seminar Nasional. D. Putrajaya-Malaysia 12-15 December 2006. M. Tobing.) (Hemiptera: Aleyrodidae) pada pertanaman cabai. 2007.C. Y. Biologi predator Cheilomenes sexmaculata (Fabr. Sutanto dan H. perception and practices in vegetables pest management in North Sumatera. D.C. Seminar Nasional “Inovasi dan Alih Teknologi Pertanian Spesifik Lokasi Mendukung Revitalisasi Pertanian”. (Terakreditasi). Pemangsaan Cheilomenes sexmaculata (Fabr. 15.) (Coleoptera: Coccinellidae) terhadap kutu daun Macrosiphoniella sanborni Gilette (Homoptera: Aphididae) pada tanaman krisan. 9.C. A. Oemry.Pidato Pengukuhan Jabatan Guru Besar Tetap Universitas Sumatera Utara 8. (Terakreditasi). Tobing. M. Tobing. Jurnal Agritrop 26(1):52-57. Nasution. 13. M. 2007. Medan 5 Juni 2007. MC. Bakti. M. Kongres Perhimpunan Entomologi VII dan Seminar Nasional. Bakti. Jurnal Natur Indonesia 9(2):127-130. Bakti. Bakti dan Z. 17. Tobing.. 11. 2006. Journal Agritrop 26(3):99-104. 2007 Biologi penggerek polong Maruca testulalis Geyer (Lepidoptera: Pyralidae) pada tanaman kacang panjang. D.. Pangestiningsih dan S.C. Bali 25-27 Juli 2007. Tobing. Siregar dan S. Jurnal Agrikutura 17(1):30-35. 16. Marheni. M. Agriculture Congress 2006 “Agriculture for Life and Wealth Creation”. 2007. Keanekaragaman nematoda pada beberapa sentra kentang di Sumatera Utara. The use of pheromone traps and nets to control Oryctes rhinoceros (Coleoptera: Scarabaeidae) in oil palm plantation. 12. Pengaruh warna dan ketinggian perangkap berperekat untuk memantau populasi Bemisia tabaci (Genn. Tobing.C. Pengaruh Metil Eugenol dalam pengendalian lalat buah Bactrocera dorsalis Hend.C. Sipayung.Z. (Terakreditasi).V. 2007. Fitria E.. Mariati dan R. D. Bali 25-27 Juli 2007. Seminar BKS PTN Wilayah Barat. A. D. Farmers’ knowledge.

2004. 2005.C. Tobing. Tobing. Bakti. 2004. (Terakreditasi). Thrips palmi Karny (Thysanoptera: Thripidae) on potato plant. 8 Juli 2008 Medan Pemakalah 29 . (Terakreditasi). 2005. Siregar. 23. The Fifth Regional IMT-GT UNINET Conference and International Seminar. 20. Nama Sosialisasi Penyebarluasan Informasi Karantina Pertanian Seminar Nasional Pelindungan Tanaman Seminar Nasional Bioteknologi Pertanian untuk Pembangnan Pertanian International Seminar on the 20th Years of Biology Deparment Faculty of Mathematics and Natural Sciences Bulan Bakti Karantina Waktu 12 Agustus 2009 Tempat Medan Peran Peserta 2. M. Distribution of Thrips palmi Karny (Thysanoptera: Thripidae) on potato plant. Pembiakan massal nematoda entomopatogen Steinernema carpocapsae (Rhabditida: Steinernematidae) secara in vivo and in vitro. The 1st International Conference of Crop Security 2005 (ICCS 2005). Asosiasi antara Sitophilus oryzae (Col. Jurnal Agritrop 23(1):3235. Tobing.C. M. Tobing. 2006. Tobing.: Curculionidae) dan Tribolium castaneum (Col. Marheni and Nina Siregar. dan D.Keanekaragaman Hayati dan Pengelolaan Serangga Hama dalam Agroekosistem 18. dan A. M. Tobing.C.. 19.C. 22. Semiloka Nasional Jeruk IV. Jurnal Natur Indonesia 7(2):121-125. M. Malang 20-22 September 2005. PERTEMUAN ILMIAH 5 TAHUN TERAKHIR No. (Terakreditasi). G. 27 Agustus Medan 2008 Peserta 5. 1. 2005. 5-6 Agustus 2009 28 Juli 2009 Bogor Medan Pemakalah Peserta 4.C. Kajian aspek biologi Riptortus linearis (Hemiptera: Alydidae) pada polong kacang hijau. Medan 22-23 June 2006.C. Jurnal Stigma XII (1):56-60. M. 3. M. Perkembangan populasi lalat buah Bactrocera dorsalis (Diptera: Tephritidae) di Kabupaten Karo. Medan 25-26 Nopember 2005. 21.: Tenebrionidae) terhadap laju pertumbuhan dan kerusakan beras.

Seminar Hasil 24-25 Juli Penelitian Dosen 2007 Bidang Ilmu Pertanian BKS PTN Wilayah Barat Seminar Nasional Inovasi dan Alih Teknologi Pertanian Spesifik Lokasi Mendukung Revitalisasi Pertanian Seminar Telematika untuk Peningkatan Daya Saing Masyarakat Peran Sektor Perkebunan terhadap Sumber Pendapatan Daerah di Propinsi Sumatera Utara 5 Juni 2007 Pekanbaru.Pidato Pengukuhan Jabatan Guru Besar Tetap Universitas Sumatera Utara No. 2 Mei 2007 Medan Peserta 14. Riau Pemakalah 12. 25-27 Juli 2007 Denpasar Bali Pemakalah 11. 30 Oktober 2007 Medan Peserta 10. Nama International Seminar Bio Agricultural Input for Sustainable Agriculture: Prospect and Challenges Seminar Nasional V Perhimpunan Entomologi Indonesia Seminar Sehari Pengamanan Ketahanan Pangan sekaligus Penyelamat Lingkungan Seminar dan Lokakarya Pengelolaan dan Pembentukan Forum DAS Wampu Sei Ular Kongres Perhimpunan Entomologi dan Seminar Nasional Waktu 1-2 Juli 2008 Tempat Putra JayaKuala Lumpur Peran Pemakalah 7. 4 Desember Medan 2007 Pemakalah 9. 18-19 Maret 2008 Bogor Pemakalah 8. Medan Pemakalah 13. 15 Maret 2007 Medan Peserta 30 . 6.

18-20 Nopember 2005 Medan Peserta 22. 29-30 Nopember 2005 Medan Pemakalah 21. 4 April 2006 Medan 20. Nama Agriculture Congress Agriculture for Life and Wealth Creation Seminar Nasional Bioteknologi & Pemuliaan Tanaman Seminar Nasional Pengembangan Wilayah dan Agribisnis Komoditi Unggulan dengan Pendekatan Agropolitan di Sumatera Utara The Fifth Regional IMT-GT UNINET Conference and International Seminar Seminar Nasional Sistem Pertanian Hemat Air Loka Nasional Jeruk IV Peranan Agribisnis dalam Menciptakan Kualitas Jeruk Indonesia yang Berdaya Saing di Pasar Global Prospek Pengembangan dan Penerapan Kebijakan Alternative Development untuk Menanggulangi Penanaman Gelap Ganja di Indonesia The 1st International Conference of Crop Security Crop Security for Food Safety and Human Health. 20-22 September 2005 Malang. 22-23 June 2006 Medan Ketua Panitia & Pemakalah Peserta 19. 4 Juni 2005 Medan Peserta 31 .Keanekaragaman Hayati dan Pengelolaan Serangga Hama dalam Agroekosistem No. Peserta 17. Jawa Pemakalah Timur 23. Seminar Strategi Penguatan Ketahanan Pangan Waktu 12-15 December 2006 1-2 Agustus 2006 27 Juli 2006 Tempat Putrajaya. Medan Peserta 18. Malaysia Bogor Peran Pemakalah 16. 15.

(Coleoptera: HPT Scolytidae) pada USU Tanaman dengan Kopi. A. HPT Fakultas Pertanian USU dengan Program SP4 Direktorat Jenderal Perguruan Tinggi Depdiknas. M. M. Kerjasama Dept. M. Perkembangan Populasi Liriomyza huidobrensis (Diptera: Agromyzidae) pada Tanaman Kentang.C. A. 2006...C. Uji Parasitasi terhadap Tetrastichus kumbang janur brontispae kelapa B. Manurung. 2007 Keanekaragaman lalat buah (Diptera: Tephritidae) pada pertanaman markisa di Kabupaten Karo. I. 2009. Y. Kerjasama Dept. HPT Fakultas Pertanian USU dengan Kebun Percobaan Tanaman Buah (KPTB) Panah. Kerjasama Dept. M. Tobing.C. Sihombing. 2008. M. Siahaan dan M.C. Siburian. Tobing.. D.. Saragih. P. Ningsih. Tobing.. Susanto. A. Tongkoh Tiga 32 .Z. Kerjasama Dept.Pidato Pengukuhan Jabatan Guru Besar Tetap Universitas Sumatera Utara H. Kemampuan larva Oryctes rhinoceros (Coleoptera: Scarabaeidae) menularkan jamur Metarhizium anisopliae ke larva sehat di gawangan kelapa sawit. (Hymenoptera:.F. D. Uji penggunaan perangkap feromon dan jala untuk pengendalian Oryctes rhinoceros (Coleoptera: Scarabaeidae) pada tanaman kelapa sawit. Tobing. Kecamatan Pagar Marbau.J. Sutanto dan H.. S. Tobing. A. Dinas Kerjasama Dept. Sitepu.Z. HPT Fakultas Pertanian USU dengan Pusat Penelitian Kelapa Sawit Marihat. 2008.C. Pengendalian tikus sawah Rattus argentiventer dengan menggunakan protozoa Sarcocystis singaporensis (Apicomplexa: Sarcocystidae). Siregar dan M. 2007. Bakti. HPT Fakultas Pertanian USU dengan Balai Besar Perbenihan dan Proteksi Tanaman Perkebunan (B2P2TP) Medan. F. Siagian.. Sitepu. Kerjasama Dept.C. Fakultas Pertanian Perkebunan dan Pertanian Kabupaten Dairi.Eulophidae) longissima (Coleoptera: Chrysomelidae) di laboratorium.P. U. KEGIATAN PENELITIAN 5 TAHUN TERAKHIR Tobing. M. Silalahi dan H. M. 2005. HPT Fakultas Pertanian USU dengan Pusat Penelitian Kelapa Sawit Marihat. Tobing. Penggunaan atraktan Methanol untuk pengendalian penggerek buah kopi Hypothenemus hampei Ferr. Kerjasama Dept. Siregar dan V.R.C. Bakti. HPT Fakultas Pertanian USU dengan Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Pasar Miring.

EDITOR 1. Prosiding Seminar Nasional dan Rapat Tahunan (SEMIRATA) Bidang Ilmu Pertanian BKS-PTN Wilayah Indonesia Barat. 3. 2. Medan 11-12 Juni 2002. J.Keanekaragaman Hayati dan Pengelolaan Serangga Hama dalam Agroekosistem I. Proceedings of The 5th Regional IMT-GT Uninet Conference & International Seminar 2006. Nama Piagam Penghargaan Satyalencana Karya Satya 10 Tahun Satyalencana Karya Satya 20 Tahun Satyalencana Karya Satya 30 Tahun Tahun 2002 2005 2009 33 . 2. 1. PENGHARGAAN Pemberi Penghargaan Presiden RI Presiden RI Presiden RI No.