Anda di halaman 1dari 8

http://babang‐juwanto.blogspot.

com/2010/09/fiski‐ 1
populer‐versus‐fiksi‐serius.html



Fiski Populer Versus Fiksi Serius


‘Kedewasaan’ film koboi Barat yang disiarkan lewat televisi
selalu berkutat pada stereotipe lama – sang hero mengenakan
pakaian bernuansa gelap atau malah yang trendi, cerdik dan
kebapakan, bersikap ‘sopan’ pada penjahat; tidak langsung
menembak begitu saja – dan cenderung menonjolkan kenakalan
remaja dan perilaku-perilaku psikoneurotik pada latar Barat-
nya. Acara seperti ini menghasilkan beberapa stereotipe lagi;
salah satunya – sang hero sengaja ditampilkan berperawakan
tinggi agar mirip dengan sosok Paladin (bahasa Indonesia:
ksatria berkuda Prancis zaman dulu) dan sebagainya. (Robert
Stanton, 2007: 151)
Singkat kata, menurut Robert Stanton, dalam bukunya
yang berjudul Introduction to Fiction, bahwa fiksi serius
bermaksud menyajikan pengalaman kemanusiaan melalui fakta-
fakta, tema-tema, dan sarana-sarana kesastraan. Untuk
memahami dan menikmatinya, terkadang harus dilakukan
semacam analisis terhadap bagian-bagian tersebut dan relasi-
relasinya satu sama lain. Bagaimana dengan fiksi populer?
Sepertinya tidak berbeda, fiksi populer juga bermaksud
menyajikan pengalaman kemanusiaan. Hanya saja, tidak
diperlukan perlakuan-perlakuan khusus atau analisis-analisis
untuk memahami fiksi jenis ini. Jika fiksi populer bermaksud
sama dengan fiksi serius dan lebih mudah dipahami, bukankah

1
http://babang-juwanto.blogspot.com/2010/09/fiski-populer-
versus-fiksi-serius.html
http://babang‐juwanto.blogspot.com/2010/09/fiski‐ 3
populer‐versus‐fiksi‐serius.html



akan lebih dipilih? Pertanyaan ini bukan retorika dan tidak akan
bisa terjawab dengan beberapa pernyataan mengenai sastra yang
baik. Di dalam buku Robert Stanton, Teori Fiksi, yang telah saya
baca itu, banyak mengulas beberapa fiksi populer sebagai contoh.
Film Barat, menurut Robert adalah contoh yang baik
karena akrab di mata setiap orang. Meski bukan dikategorikan
sebagai fiksi karena lebih condong kearah drama, film Barat tetap
contoh yang baik. Karena film Barat merupakan hiburan murni
yang dapat dinikmati aksi dan ketegangannya (simpulan ini
ditarik tanpa memandang sisi artistik dalam film tersebut).
‘Fakta-fakta’ film Barat yang meliputi latar, karakter, dan alur
sudah terstandardisasi dapat kita jadikan sebagai bahan
perbandingan. Kejadian-kejadiannya berlatar tahun 1880 di
sebuah kota peternakan yang berdebu dengan lingkungan
pedesaan di tempat terdapat beberapa kabin atau bangunan
ranch— (dalam bahasa Inggris: large farm, especially in the
western U.S. and Canada, where cattle or other animals are bred
and raised). Tokoh yang bermain umumnya koboi (sering
berkecimpung dengan ternak dengan segala tetek bengeknya),
sheriff, pemilik rumah judi, dan mungkin bankir atau editor
Koran. Salah satu karakter tersebut, Robert Stanton
mencontohkan adalah penjahat yang berniat menguasai ranch,
tambang, paket emas, atau amunisi yang diperuntukkan bagi
Pasukan Berkuda AS. Beroposisi dengannya adalah sang
pahlawan yang biasanya seorang pengangguran. Di akhir adegan,
setelah beberapa kali adu jotos, tembak-menembak, dan setidak-
tidaknya satu kali adu tembak satu lawan satu di jalan kota, sang
pahlawan mengalahkan si penjahat.
Robert mempertanyakan, jika film Barat merupakan fillm
petualangan, mengapa harus ada ‘orang baik’ dan orang jahat’?
Mengapa keduanya tidak mengambil wujud dua koboi jelata saja,
tanpa perlu mempertentangkan moralitas? Mengapa yang baik
selalu menang? Jawaban terhadap pertanyaan tadi, karena di
dunia Barat ada hukum alam bahwa kebaikan selalu berlawanan
dengan kejahatan dan kebaikanlah yang selalu memenangkan
konflik tersebut. Tentu saja, saya, sebagai penonton film koboi
tersebut, berharap film bersangkutan menampilkannya lewat
layar. Harapan itu mungkin tidak disadari, tetapi mau tidak mau
keberadaannya tetap selalu ada. Jika tidak, mengapa kita selalu
terheran-heran ketika melihat sang hero bertindak pengecut atau
terbunuh oleh si penjahat?
Robert Stanton, lantas menyimpulkan, bahwa film Barat
tidak benar-benar ‘bercerita’. Sama halnya dengan fiksi serius,
film Barat mengungkapkan tema atau gagasan utama. Detail-
detail yang dipilih bermaksud menekankan moralitas yang
kontranstif; sang hero tidak pernah berbuat jahat dan si penjahat
sebaliknya. Sang hero selalu bersikap jujur dan bertindak berani;
ia selalu menepati janjinya, sopan pada wania, dan menyayangi
binatang. Kebalikannya, si penjahat tidak jujur, tidak bisa
dipercaya, kejam, dan serakah. Hal-hal kontrastif ini bahkan
http://babang‐juwanto.blogspot.com/2010/09/fiski‐ 5
populer‐versus‐fiksi‐serius.html



ditonjolkan melalui ciri-ciri fiksi yang terkadang simbolis. Sang


hero mengenakan topi putih, mengendarai kuda putih, dan
wajahnya bercukur rapi; ia juga ditemani seorang teman yang
dungu, tetapi baik. Sebaliknya, si penjahat mengenakan memakai
topi hitam, berkumis tipis; kawan-kawannya tampak seperti orang
yang tidak bercukur selama tiga hari. Konvensi-konvensi ini
terkadang digantikan oleh yang baru. Apa pun simbol yang
dipakai, para spektator harus dapat mengenali dan
menafsirkannya sendiri.
Jika tidak ada perbedaan mendasar antara fiksi serius dan
fiksi populer, mengapa yang terakhir lebih mudah dibaca?
Tentunya, lagi-lagi menurut Robert Stanton, bahwa karena dalam
konteks Barat kita selalu berharap sang hero mengenakan topi
putih dan mengalahkan si penjahat. Elemen-elemen yang ada
pada fiksi populer seperti karakter, situasi-situasi, tema-tema, dan
sarana-sarana kesastraan selalu terstereotipekan. Sehingga,
elemen-elemen inilah yang tidak ditemui dalam fiksi serius.
Alasan Robert adalah jika dalam sebuah fiksi populer terdapat
seorang tokoh berusia sembilan belas tahun ‘berbintik-bintik
cokelat di hidungnya’, akan diketahui bahwa ia baik, tetapi
mudah marah. Sang pahlawan nanti akan menikahi dia. Jika ada
seorang gadis lain yang gemar ‘tersenyum genit dan
menantang…’, akan segera diketahui bahwa sang hero tidak akan
meminangnya. Tulisan semacam ini terlalu mudah dibaca.
Pernyataan ataupun asersi yang bersifat mentah berikut
tampaknya sudah menjadi tradisi. Menurut Robert Stanton, para
mahasiswa, termasuk saya sendiri yang notabane adalah
mahasiswa sastra Inggris, kerap mengucapakannya sembari
berkata pada diri (saya) sendiri, apa salahnya lebih menyukai
fiksi serius ketimbang fiksi populer? Tidak ada yang salah
dengan itu. Karena kita tahu bahkan mengenal orang-orang yang
seleranya pada fiksi, acara TV, atau kegemaran lebih rendah
ketimbang saya sendiri. Saya bahkan Anda (yang sedang
membaca laman saya ini) tidak mengatakan bahwa itu ‘salah’,
tetapi Anda dan saya pasti tahu bahwa mereka telah kehilangan
nilai-nilai tertentu. Keadaan tersebut, menurut Robert Stanton,
hampir mirip dengan seorang bocah yang selama hidupnya cuma
makan selai kacang, ia tidak tahu bagaimana rasanya makan roti
isi jeli. Ironis, bukan? Atau mungkin relatif?
Fiksi berada pada tingkatan yang berbeda karena para
pembaca berkeinginan lain. Fiksi dapat membuat pembaca
menghabiskan waktu dengan bergembira, membayangkan
tempat-tempat dan petualangan-petualangan aneh, membagi
pengalaman emosional para tokoh, melihat bagaimana mereka
berinteraksi dengan berbagai persoalan etika dan moral, merunut
dan mengamati teknik-teknik yang dipakai pengarang, dan
memandang hidup melalui kacamata prinsip-prinsip dan filosofi-
filosofi tertentu, lebih dibandingkan orang lain. Bila seorang
pembaca hanya mengenal dua atau tiga persyaratan di atas dan
http://babang‐juwanto.blogspot.com/2010/09/fiski‐ 7
populer‐versus‐fiksi‐serius.html



mengabaikan yang lain, dia hanya bisa menikmati fiksi populer


atau acara TV yang sebanding dengan kemampuannya itu. Ia
malampiaskan berbagai kebutuhannya melalui fiksi. Baginya,
fiksi menyediakan mimpi-mimpi artifisial sehingga hasratnya
akan keamanan, kemewahan, seks, kekerasan, dan keyakinan
batin dapat terpenuhi tanpa harus dibarengi oleh kesulitan dan
berbuntut pada rasa bersalah. Sebaliknya, fiksi serius dialamatkan
pada pembaca yang dapat mencerap semua atau hampir semua
syarat yang telah disebut di atas. Harapannya terhadap sebuah
karya fiksi serius mungkin tampak meremehkan fiksi populer
seperti juga harapan seorang pemain bridge atas permainan Old
Maid. Di luar semuanya, fiksi adalah kehidupan, sedang
kehidupan adalah permainan yang paling menarik. Membaca
fiksi yang bagus ibarat memainkan permainan yang tinggi
tingkat kesulitannya dan bukannya seperti memainkan
permainan sepele tempat para pemain menggampangkan
atau bahkan mengabaikan peraturan yang ada.
Agar mudah dibaca, fiksi populer terdiri atas beberapa
karakter, situasi, dan tema saja. Fiksi jenis ini tidak akan
mengulas keragaman yang ada dalam hidup. Meski kerap
mendasarkan kisahnya pada kejadian nyata, fiksi pupuler tidak
lebih sekadar tiruan dari apa yang telah diciptakan oleh
pengarang lainnya. Akhirnya, untuk melestarikan stereotipe yang
telah ditonjolkan pada bagian-bagian tertentu, fiksi populer akan
mengorbankan keberadaan bagian-bagian lain. Untuk memenuhi
persyaratan tematis, setiap pahlawan (ataupun hero) Barat
haruslah seorang penembak tercepat di wialyah Barat. Untuk
mempertahankan simbolnya, ia harus memenangkan sejumlah
perkelahian tanpa harus mengotori topi laken putihnya.

Sumber:
Stanton, Robert. 1965. “An Introduction to Fiction”.
Sugihastuti & Rossi Abi Al Irsyad. 2007. “Teori Fiksi, Robert
Stanton”.2

2
http://babang-juwanto.blogspot.com/2010/09/fiski-populer-
versus-fiksi-serius.html