Anda di halaman 1dari 5

HTTP://BABANG‐ 1


JUWANTO.BLOGSPOT.COM/2010/09/MENENTUKAN‐TEMA‐
FIKSI‐ADALAH‐PEMBACA.HTML



Menentukan Tema Cerita itu adalah Pembaca loh!1

1
http://babang-juwanto.blogspot.com/2010/09/menentukan-
tema-fiksi-adalah-pembaca.html
Menarik untuk saya cermati, Pusat Bahasa, dalam rangka Bulan
Bahasa dan Sastra Tahun 2010, mempunyai tema sebagai berikut:
“Pembentukan Karakter Bangsa melalui Peningkatan Kualitas
Bahasa dan Sastra Indonesia dan Daerah”. Sekilas, bagi
kebanyakan orang awam seperti saya, semisalnya belum terlalu
memahami apa Bahasa dan Sastra itu, tentu saja akan bingung
bukan kepalang untuk melek secara intens hal demikian itu. Tapi,
tidak berlaku bagi mereka yang cukup mengenal seperti para
adib yang kompeten dibidang sastra itu. Postingan kali ini, bukan
bermaksud untuk menelisik ataupun mempertanyakan kembali
tema di atas. Toh, saya yakin bahwa tema tersebut amat tepat
‘pada tempatnya’. Melanjutkan postingan sebelumnya, dengan
lema pilihan ‘Membaca Fiksi’. Saya hanya ingin mengulang
kembali apa yang telah saya baca pada buku Teori Fiksi, Robert
Stanton, tentang ‘Tema’ sebuah karya sastra yang fiksi itu.
Karena pengalaman-pengalaman yang paling saya,
sebagai pembaca fiksi ingat biasanya memiliki makna penting.
Terkadang saya dihadapkan pada beberapa hal seperti cinta,
derita, kesunyian, pendirian, atau kejahatan. Terkadang pula saya
disodori pilihan antara memihak teman dengan dalih kesetiaan
atau menegakkan kejujuran demi diri sendiri. Dua yang terakhir
mungkin tidak dapat diringkas ke dalam satu kata. Meski begitu,
kehadirannya tetap bertujuan sama yaitu memberi bentuk dan
dampak pada pengalaman sehingga dapat diingat. Selain itu, saya
juga terkadang merasakan bahwa sebuah makna bernilai besar
HTTP://BABANG‐ 3

JUWANTO.BLOGSPOT.COM/2010/09/MENENTUKAN‐TEMA‐
FIKSI‐ADALAH‐PEMBACA.HTML



lebih dari kelihatannya; oleh karena telah berhadapan langsung


dengan penderitaan saya sendiri, saya dapat merasakan
penderitaan orang lain. Dalam sebuah cerita, menurut Robert
Stanton, makna penting semacam ini dinamakan ‘tema’ atau
‘gagasan utama’. Seperti makna penting dari pengalaman-
pengalaman saya sendiri dalam membaca buku, koran, majalah,
cerpen, novel. Tema sebuah cerita, oleh Robert Stanton
dijelaskan bahwa tema bersifat individual sekaligus universal.
Tema memberi kekuatan dan menegaskan kebersatuan kejadian-
kejadian yang sedang diceritakan sekaligus mengisahkan
kehidupan dalam konteksnya yang paling umun. Apa pun nilai
yang terkandung di dalamnya, keberadaan tema diperlukan
karena menjadi salah satu bagian penting yang tidak terpisahkan
dengan kenyataan cerita. Tema bukanlah sesuatu yang
diungkapkan pengarang secara langsung melalui fakta-fakta
seperti ‘moralitas’ pada fable Aesop. Tema juga bukan satu-
satunya alasan mengapa sebuah cerita dikisahkan. Masuk akal,
bukan?
Dalam buku Teori Fiksi2, Robert Stanton, diterangkan
lebih lanjut bahwa tema cerita sangat jarang berwujud pesan-
pesan moral atau nasihat-nasihat sebagai misal “Kejujuran adalah
yang terbaik” atau “Bekerjalah dengan giat dan kau akan sukses
nantinya”. Menurutnya, hanya sedikit pengarang yang berupaya

2
http://babang-juwanto.blogspot.com/2010/09/menentukan-tema-
fiksi-adalah-pembaca.html
mendidik segi moral pembaca. Mereka juga tidak berusaha untuk
melatih kosakata atau meningkatkan status sosial pembaca.
Pengarang memanfaatkan tema sejauh tema memberi makna pada
pengalaman. Tema bisa mengambil bentuk yang paling umum
dari kehidupan, bentuk yang mungkin dapat atau tidak dapat
mengandaikan adanya penilaian moral. Tema bisa berwujud satu
fakta dari pengalaman kemanusiaan yang digambarkan atau
dieksplorasi oleh cerita seperti keberanian, ilusi, dan masa tua.
Bahkan, tema juga dapat berupa gambaran kepribadian salah satu
tokoh. Satu-satunya generalisasi yang paling memungkinkan
darinya adalah bahwa tema membentuk kebersatuan pada cerita
dan memberi makna pada setiap peristiwa.
Apa yang menjadi persoalan bagi pembaca bukanlah
keberadaan tema maupun sifat-sifatnya yang khusus. Hal ini pun
saya kerap mengalami. Tapi, menurut Robert Stanton,
permasalahan terletak pada kenyataan bahwa tema selalu implisit.
Pertanyaan yang kerap muncul, “Mengapa pengarang tidak
mengatakan maksudnya secara langsung? Mengapa tema tidak
dikatakan terus terang? Mengapa tema hampir selalu
tersembunyi?” Pengarang bukanlah jenis orang yang gemar
bermain teka-teki. Bahkan, akan lebih mudah bagi mereka untuk
bercerita sesuatu dan kemudian menerangkan apa maksudnya.
Meski gampang, cara yang terakhir ini sama-sekali tidak
menunjukkan adanya pengalaman kemanusiaan. Arti dari sebuah
pengalaman tergambar lewat fakta-fakta yang terjadi selayaknya
HTTP://BABANG‐ 5

JUWANTO.BLOGSPOT.COM/2010/09/MENENTUKAN‐TEMA‐
FIKSI‐ADALAH‐PEMBACA.HTML



warna yang menempel pada sebuah benda. Kita mencerapnya


secara bersamaan, bukan terpisah-pisah satu sama lain. Robert
Stanton, memberikan salah satu contoh, foto-foto yang
ditempelkan pada buku kenangan. Di dalam buku kenangan SD,
SMP, SMA milik anda, dapat dilihat ratusan wajah yang
kepribadian tentu anda kenal. Sebaliknya dalam buku kenangan
sekolah lain, akan diketahui bahwasannya wajah-wajah yang kita
lihat sama sekali tidak memunculkan apa pun, kosong, dan tanpa
makna. Sebagian yang kita lihat adalah wujud foto-foto itu
sendiri, sedangkan sebagian lain adalah makna foto dari foto
tersebut yang masih melekat dalam ingatan. Meski demikian,
pengalaman cenderung seperti laku penglihatan dan bukannya
penglihatan plus ingatan. Contohnya, saya melihat seorang kawan
lama, saya memandangnya, berpikir, dan lalu berkata “Saya suka
dia”. Apa yang terjadi bukanlah demikian, saya hanya menggapai
bahwa saya menyukai teman saya, itu saja. Bila seorang
pengarang berkisah, dia tidak akan menjelaskan tema yang ia
maksud dia dalam paragraf-paragraf lain. Seorang pengarang
akan meleburkan fakta dan tema dalam satu pengalaman. Tema
akan muncul dari fakta-fakta dan memunculkannya adalah
pekerjaan kita, sebagai pembaca. Bagaimana?

(Dikutip dari buku Introduction to Fiction, Robert Stanton,


dengan pelbagai perubahan sudut pandang)