Anda di halaman 1dari 4

Broken Home

Pada suatu malam, tepatnya pada pukul 23.10, terjadi sebuah pertengkaran
hebat di keluarga Pak Bayu.
Pak Bayu : Darimana saja kamu tengah malam gini baru pulang?
Kamu gak mikir? Kamu tuh gadis, gadis dari keluarga
terpandang! Memalukan sekali kamu ini!
Sachi : Emangnya kenapa? Toh selama ini Papa cuma sibuk
ngurusin pekerjaan Papa, kan? Jadi Papa gak perlu deh
sok-sok perhatian sama aku.
Pak Bayu : Eh, ini anak banyak membantah ya. Udah syukur Papa
ngebesarin kamu dengan semua fasilitas ini. Mobil,
handphone, laptop, kurang apalagi?
Sachi : Pa, aku gak pernah ya minta dilahirin di keluarga ini.
Mobil kek, HP kek, apa kek, aku gak butuh Pa. Aku gak
butuh duit Papa!
(Tiba-tiba Ibu Nadya, Luna, dan Riska terbangun karena
mendengar pertengkaran itu)
Bu Nadya : Ada apa sih malam-malam gini ribut-ribut?
Malu tahu didengar tetangga.
Riska : Iya, ada apa sih Pa? Jo?
Pak Bayu : Ini, liat anak kamu yang satu ini, pulang larut malam
begini, anak gadis macam apa ini?
Sachi : Aku gini juga karena Papa! Papa gak pernah ada waktu
buat aku! Gak pernah merhatiin aku! Yang Papa pikir
cuma apa? Uang, uang, dan uang! Aku udah muak, Pa!
Sekarang aku tanya ya ma Papa. Pernah gak sih Papa
ngumpul bareng keluarga? Pernah gak sih terlintas di
pikiran Papa pengen ngebahagiain keluarga Papa? Hah?
Gak pernah, kan? Itu karena Papa mata duitan!
Pak Bayu : Dasar anak kurang ajar!
(Plak! Pak Bayu menampar Sachi)
Sachi : Oo, jadi ini cara Papa nunjukin perhatian buat anak Papa?
Makasih, Pa! Makasih!
(Sachi kemudian berlari ke kamarnya)
Luna : Astaga, Papa! Papa gak boleh nampar Sachi kayak gitu!
Sachi itu anak Papa. Gak pantas Papa memperlakukan anak
Papa sekasar itu.
Bu Nadya : Iya, Pa. Orang tua macam apa sih Papa ini?
Nampar anaknya sendiri!
Riska : Udah Ma, Pa, jangan bertengkar terus, gak enak didengar
tetangga.
Pak Bayu : Tuh kan, ini karena Mama terlalu manjain dia. Gini
jadinya. Jadi ngelunjak, kurang ajar!
Bu Nadya : Lho lho, kok jadi Mama sih yang disalahin? Papa tuh yang
gak becus jadi ayah. Gak pernah perhatiin keluarga. Papa
sendiri gak pernah ngehargain keluarga Papa, bagaimana
bisa keluarga Papa ngehormatin Papa?
Pak Bayu : Alah, percuma ngomong sama Mama, gak ada gunanya, anak
sama ibu sama aja!
(Pak Bayu lalu pergi meninggalkan mereka)
Riska : Udah, Ma. Mama yang sabar ya, jangan dimasukin ke hati.
Luna : Iya, Ma. Lagian mama juga salah, harusnya Mama
ngomong baik-baik sama Papa. Gak perlu sampai
bertengkar gini, kan?
Bu Nadya : Terus aja kamu ngebelain Papa kamu!
(Kemudian Mama juga pergi meninggalkan mereka. Tidak
lama kemudian, Sachi keluar dan mencari Mama)
Sachi : Luna! Luna! Lunaaaa!
Luna : Aduh, jangan teriak-teriak gitu dong, Chi. Kenapa sih?
Sachi : Mana Mama?
Herdiana : Mama baru aja pergi, nyusul Papa mungkin. Ada apa sih?
Sachi : Bukan urusan kalian!
(Lalu HP Sachi berbunyi tanda panggilan masuk)
Sachi : Halo, Ma.
Bu Nadya : Halo, Sachi, kamu dimana, nak? Cepat ke rumah sakit sekarang!
Papa kamu, nak, Papa kamu!
Sachi : Papa? Papa kenapa, Ma?
Bu Nadya : Papa kecelakaan, nak! Sekarang ada di RS Madani di
ruang gawat darurat. Cepat ya, nak!
Luna : Napa, Chi?
Sachi : Papa kecelakaan. Kita ke rumah sakit sekarang.

Setibanya di Rumah Sakit..


Sachi : Mama, Papa mana, Ma?
Bu Nadya : Papa, Papa, Papa kalian udah gak ada, nak!
Papa udah meninggal!
Riska : Apa? Papa meninggal?
Sachi : Gak, gak mungkin, Mama pasti boong, kan?
Bu Nadya : Gak, nak, Mama gak boong.
Sachi : Papa!!
Bangun Pa, bangun!
Papa gak boleh ninggalin Sachi,
Papa gak boleh pergi!
Maafin Sachi, Pa. Sachi udah ngecewain Papa.
Sachi dah kurang ajar ma Papa.
Sachi gak sempat ngebahagiain Papa.
Maafin Sachi, Pa.
Papa!!
Bu Nadya : Maafin Mama juga, Pa.
Mama gagal mendidik anak kita.
Semua ini salah Mama.
Mama udah gagal membina keluarga ini.
Maafin Mama, Pa!
Luna : Sabar, Ma, sabar. Ini berat untuk kita semua, tapi
kita harus terima, biar Papa bisa tenang di sana.

Kini, Bu Nadya harus membesarkan ketiga anaknya seorang diri.


Sachi telah menjadi anak yang baik dan patuh pada Ibunya. Ia sadar bahwa selama ini
ia telah melakukan kesalahan besar dan mengecewakan kedua orang tuanya.
Ia sangat menyesal atas kejadian dan kesalahan-kesalahan yang pernah ia perbuat.

Dari naskah drama di atas, kita dapat menyimpulkan bahwa penyesalan selalu
datang terlambat, dan saat penyesalan itu tiba, semua tlah berubah dan takkan
kembali seperti semula.
Hendaknya kita berpikir panjang sebelum memutuskan untuk melakukan
suatu tindakan, mempertimbangkan baik buruk, manfaat, tujuan serta akibatnya.
Karena sekali lagi, PENYESALAN SELALU DATANG TERLAMBAT. Namun,
percayalah, segala sesuatu akan indah pada waktunya.

-THE END-