Anda di halaman 1dari 168

PERSEPSI SISWA TERHADAP PENOKOHAN MOHAMMAD

HATTA SEBAGAI PAHLAWAN NASIONAL (STUDI KASUS


DI SMA NEGERI 1 PECANGAAN KABUPATEN JEPARA)

SKRIPSI

Untuk memperoleh gelar Sarjana Pendidikan


Pada Universitas Negeri Semarang

Oleh
Danang Dwi Arfianto
NIM 3101403508

JURUSAN SEJARAH
FAKULTAS ILMU SOSIAL
UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
2007
PERSETUJUAN PEMBIMBING

Skripsi ini telah disetujui oleh Pembimbing untuk diajukan ke sidang panitia ujian

skripsi pada :

Hari : Selasa

Tanggal : 24 Juli 2007

Pembimbing I Pembimbing II

Prof. Dr. AT. Sugito, SH., MM Drs. R. Suharso, M. Pd


NIP. 130345757 NIP. 131691527

Mengetahui,
Ketua Jurusan Sejarah

Drs. Jayusman, M. Hum


NIP. 131764053

ii
PENGESAHAN KELULUSAN

Skripsi ini telah dipertahankan di depan Sidang Panitia Ujian Skripsi Fakultas

Ilmu Sosial Universitas Negeri Semarang pada :

Hari : Selasa

Tanggal : 28 Agustus 2007

Penguji Utama

Drs. YYFR. Sunarjan, MS


NIP. 131764045

Penguji I Penguji II

Prof. Dr. AT. Sugito, SH., MM Drs. R. Suharso, M. Pd


NIP. 130345757 NIP. 131691527

Mengetahui,
Dekan Fakultas Ilmu Sosial

Drs. Sunardi, MM
NIP. 130367998

iii
PERNYATAAN

Saya menyatakan bahwa yang tertulis di dalam skripsi ini benar-benar hasil karya

saya sendiri, bukan jiplakan dari karya tulis orang lain, baik sebagian atau

seluruhnya. Pendapat atau temuan orang lain yang terdapat dalam skripsi ini

dikutip atau dirujuk berdasarkan kode etik ilmiah.

Semarang, 24 Juli 2007

Danang Dwi Arfianto


NIM. 3101403508

iv
MOTTO DAN PERSEMBAHAN

Motto :

“Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan) kerjakanlah dengan sungguh-sungguh

urusan yang lain. Dan hanya kepada Rabbmulah hendaknya kamu berharap” (Q.S. Al.

Insyiroh : 7-8).

“Pemikiran, keinginan dan harapan takkan terwujud tanpa adanya tindakan.”

Persembahan

Dengan rasa syukur kepada Allah SWT atas segala


karunia-Nya, karya kecilku ini kupersembahkan
untuk :
- Bapak, Ibu, Mbak Sari, Tri dan Dian serta
saudara-saudaraku yang selalu berdoa untuk
keberhasilanku.
- Seseorang yang menjadi inspirasi dan motivasiku.
- Sobat sejatiku Yudhi, Zaman, Dian, Erik, Galuh
dan juga teman-teman Sejarah angkatan 2003
kelas paralel.
- Teman-teman KIKI Cost.
- Almamaterku.

v
PRAKATA

Alhamdulillah, puji syukur senantiasa penulis panjatkan kehadirat Allah

SWT yang telah melimpahkan rahmat, taufik dan hidayah-Nya sehingga penulis

dapat menyelesaikan skripsi dengan judul “Persepsi Siswa Terhadap Penokohan

Mohammad Hatta Sebagai Pahlawan Nasional (Studi Kasus di SMA Negeri 1

Pecangaan Kabupaten Jepara)”

Penulisan skripsi ini sebagai salah satu syarat guna mendapatkan gelar

Sarjana Pendidikan pada Jurusan Sejarah, program S1 Pendidikan Sejarah,

Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Semarang.

Dalam penyusunan skripsi ini, penulis memperoleh bimbingan, bantuan,

dan pengarahan dari berbagai pihak. Oleh karena itu dengan segala kerendahan

hati, penulis ucapkan banyak terima kasih kepada:

1. Prof. DR. Sudijono Sastroatmodjo, M.Si. Rektor Universitas Negeri Semarang

yang telah memberikan ijin kuliah dan segala fasilitas kepada penulis untuk

menyelesaikan skripsi ini.

2. Drs. Sunardi, M.M, Dekan Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Semarang

yang telah memberikan ijin penelitian.

3. Drs. Jayusman, M.Hum, Ketua Jurusan Sejarah Fakultas Ilmu Sosial

Universitas Negeri Semarang yang telah membimbing dan mengarahkan

penulis selama menempuh studi.

4. Prof. Dr. AT. Sugito, SH., MM, Dosen pembimbing I yang telah membimbing

penulis dengan penuh kesabaran, dan memberikan waktu serta ilmu

vi
pengetahuan dengan penuh bijaksana sehingga penulis dapat menyelesaikan

skripsi ini.

5. Drs. R. Suharso, M. Pd, Dosen pembimbing II yang telah membimbing

penulis dengan penuh kesabaran, dan memberikan waktu serta ilmu

pengetahuan dengan penuh bijaksana sehingga dapat menyelesaikan skripsi

ini.

6. Drs. Waluyo M.M, Kepala SMA Negeri 1 Pecangaan yang telah memberikan

ijin penelitian kepada penulis di SMA Negeri 1 Pecangaan.

7. Mahasin Darmawan, S.Pd, guru sejarah di SMA Negeri 1 Pecangaan yang

telah memberikan informasi yang berkaitan dengan permasalahan dalam

penelitian ini.

8. Bapak dan Ibu serta keluargaku yang telah memberikan doa dan kasih sayang.

9. Teman-temanku (Yudhi, Dian, Zaman, Erik, dan Galuh) yang senantiasa

membantu penulis dalam penyusunan skripsi ini.

10. Dan semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan skripsi ini.

Penulis mengucapkan terima kasih yang tulus dari hati sanubari, dan berdoa

Semoga kebaikan yang telah diberikan kepada penulis mendapatkan imbalan yang

berlipat dari Allah SWT. Amin

Akhirnya penulis berharap semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi semua

pihak yang berkenan membacanya.

Semarang, 24 Juli 2007

Penulis

vii
SARI

Danang Dwi Arfianto, 2007. Persepsi Siswa Terhadap Penokohan Mohammad


Hatta Sebagai Pahlawan Nasional (Studi Kasus di SMA Negeri 1 Pecangaan
Kabupaten Jepara). Jurusan Sejarah Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri
Semarang, 145 hlm.

Kata Kunci : Persepsi, Mohammad Hatta, Pahlawan Nasional


Pendidikan sejarah merupakan salah satu mata pelajaran yang membina dan
membentuk warga negara dan pembangunan bangsa yang baik juga merupakan
jembatan untuk menasionalisasikan sikap nasionalisme pada siswa, sehingga
semakin banyak siswa belajar sejarah maka semakin banyak pula nilai-nilai
sejarah yang dihayati siswa yang pada akhirnya prestasi belajar siswa dibidang
sejarah meningkat dan sikap nasionalisme siswa pun semakin baik. Persepsi
adalah penilaian seseorang terhadap obyek, peristiwa atau stimulus dengan
melibatkan proses kognisi dan afeksi untuk membentuk konsep tersebut
Mohammad Hatta sebagai pahlawan nasional kurang diketahui jasa-jasanya oleh
siswa. Pada kenyataannya banyak siswa, mahasiswa dan masyarakat pada
umumnya hanya mengenal sosok Hatta sebagai Wakil Presiden Republik
Indonesia yang pertama sekaligus sebagai proklamator. Mereka tidak mengetahui
siapa, bagaimana, mengapa Hatta sampai menjadi seorang wakil presiden maupun
sebagai seorang proklamator. Dengan mempersepsikan Mohammad Hatta sebagai
pahlawan nasional diharapkan akan muncul nilai-nilai kepahlawanan yang dapat
ditiru dan diterapkan oleh siswa.
Permasalahan dalam penelitian ini adalah : (1) Bagaimana sejarah
Mohammad Hatta; (2) Bagaimana pembelajaran sejarah pada pokok bahasan
proklamasi kemerdekaan Indonesia dan upaya menegakkan kedaulatan di kelas XI
SMA Negeri 1 Pecangaan Kabupaten Jepara; (3) Bagaimana persepsi siswa
terhadap penokohan Mohammad Hatta sebagai pahlawan nasional di SMA Negeri
1 Pecangaan Kabupaten Jepara. Tujuan penelitian ini adalah : (1) Untuk
mengetahui sejarah Mohammad Hatta; (2) Untuk mengetahui pembelajaran
sejarah pada pokok bahasan proklamasi kemerdekaan Indonesia dan upaya
menegakkan kedaulatan di kelas XI SMA Negeri 1 Pecangaan Kabupaten Jepara;
(3) Untuk mengetahui dan mendeskripsikan persepsi siswa terhadap penokohan
Mohammad Hatta sebagai pahlawan nasional di SMA Negeri 1 Pecangaan
Kabupaten Jepara.
Untuk menjawab pertanyaan diatas metode yang digunakan adalah metode
penelitian kualitatif dengan desain penelitian studi kasus. Sumber data yang
digunakan adalah data primer dan sekunder. Sampel yang digunakan adalah
sampel bertujuan atau purposive sample. Teknik pengumpulan data melalui
observasi langsung, wawancara, dan dokumentasi. Teknik triangulasi sumber dan
metode peneliti gunakan untuk menguji keabsahan data. Analisis data yang
digunakan adalah analisis interaksi, dan prosedur penelitian meliputi tahap
orientasi, eksplorasi dan pengecekan kebenaran hasil penelitian.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa proses pembelajaran sejarah kelas
XI di SMA Negeri 1 Pecangaan Kabupaten Jepara pada pokok bahasan

viii
proklamasi kemerdekaan Indonesia dan upaya menegakkan kedaulatan, guru lebih
banyak menggunakan metode ceramah dan tanya jawab serta diselingi dengan
nonton film dokumenter di ruang Audio Visual. Guru cenderung kurang kreatif
dalam penggunaan metode dan media pembelajaran. Sebenarnya sarana dan
prasarana yang ada disekolah cukup memadai, namun keterbatasan waktu yang
menjadi kendala. Alokasi waktu yang sangat kurang dengan muatan materi yang
disampaikan masih banyak.
Persepsi siswa terhadap Mohammad Hatta sebagai pahlawan nasional
bersifat positif, karena siswa dapat memahami dan memaknai peranan
Mohammad Hatta dalam proklamasi kemerdekaan Indonesia dan upaya
menegakkan kedaulatan. Disamping itu, siswa dapat mempersepsikan nilai-nilai
kepahlawanan dalam diri Hatta sehingga siswa dapat memahami dan memaknai
perjuangan Mohammad Hatta dengan menghargai jasa-jasa para pahlawan dan
meneruskan perjuangannya.
Dari hasil penelitian diatas disarankan, sekolah hendaknya dapat mencukupi
kebutuhan belajar seperti menciptakan suasana sekolah yang kondusif,
menyediakan sumber-sumber belajar yang dibutuhkan agar tujuan pembelajaran
dapat tercapai secara maksimal, proses pembelajaran guru hendaknya lebih kreatif
dalam kaitannya dengan metode dan media pembelajaran, dan siswa diharapkan
menghargai pengorbanan para pahlawan nasional misalnya Mohammad Hatta dan
mengambil nilai-nilai kepahlawanannya yang bersifat positif.

ix
DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN JUDUL ....................................................................................... i

PERSETUJUAN PEMBIMBING ................................................................... ii

PENGESAHAN KELULUSAN ...................................................................... iii

HALAMAN PERNYATAAN ......................................................................... iv

MOTTO DAN PERSEMBAHAN ................................................................... v

PRAKATA ...................................................................................................... vi

SARI ................................................................................................................ viii

DAFTAR ISI ................................................................................................... x

DAFTAR BAGAN ......................................................................................... xiii

DAFTAR TABEL ........................................................................................... xiv

DAFTAR GAMBAR ..................................................................................... xv

DAFTAR LAMPIRAN ................................................................................... xvi

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah .......................................................... 1

B. Penegasan Istilah ..................................................................... 8

C. Rumusan Masalah ................................................................... 11

D. Tujuan Penelitian .................................................................... 11

E. Manfaat Penelitian .................................................................. 12

F. Sistematika Skripsi .................................................................. 13

BAB II LANDASAN TEORI

A. Pembelajaran Sejarah ............................................................... 15

x
B. Teori Persepsi........................................................................... 20

1. Pengertian Persepsi ........................................................... 20

2. Faktor-faktor yang mempengaruhi terbentuknya -

persepsi .............................................................................. 23

3. Syarat-syarat terjadinya persepsi ....................................... 26

C. Pahlawan Nasional .................................................................. 28

1. Pengertian Pahlawan Nasional .......................................... 28

2. Jenis-Jenis Pahlawan Nasional .......................................... 30

D. Kerangka Berfikir ................................................................... 35

BAB III METODE PENELITIAN

A. Dasar Penelitian ...................................................................... 36

B. Fokus Penelitian ...................................................................... 38

C. Sumber Data Penelitian ........................................................... 39

D. Teknik Sampling ..................................................................... 39

E. Teknik Pengumpulan Data ...................................................... 41

F. Keabsahan Data ....................................................................... 44

G. Metode Analisis Data .............................................................. 46

H. Prosedur Penelitian ................................................................. 49

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Deskripsi Lokasi Penelitian .................................................... 51

B. Sejarah Mohammad Hatta ....................................................... 52

C. Proses Pembelajaran Sejarah ................................................... 67

D. Persepsi Siswa Terhadap Penokohan Mohammad Hatta-

xi
Sebagai Pahlawan Nasional .................................................... 76

E. Pembahasan ............................................................................. 84

BAB V PENUTUP

A. Simpulan ................................................................................. 88

B. Saran ........................................................................................ 89

DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN-LAMPIRAN

xii
DAFTAR BAGAN

Bagan Halaman

1. Kerucut Pengalaman Belajar................................................................ 19

2. Hubungan Antara Persepsi dan Sikap ................................................. 24

3. Kerangka Berfikir ............................................................................... 35

4. Model Analisis Interaksi ..................................................................... 48

xiii
DAFTAR TABEL

Tabel Halaman

1. Matriks Pengambilan Sampel ............................................................. 41

2. Persepsi siswa terhadap latar belakang Mohammad Hatta ................. 76

3. Persepsi siswa terhadap Mohammad Hatta pada masa pergerakan dan

kemerdekaan Indonesia........................................................................ 78

4. Persepsi siswa terhadap Mohammad Hatta pada masa pasca

kemerdekaan Indonesia ....................................................................... 80

5. Persepsi siswa terhadap nilai-nilai kepahlawanan Mohammad Hatta 82

xiv
DAFTAR GAMBAR

Gambar Halaman

1. Latar Penelitian : SMA Negeri 1 Pecangaan Kabupaten Jepara ......... 94

2. Pelaksanaan Pembelajaran di dalam kelas .......................................... 94

3. Wawancara dengan Yustisa Moreshanti ............................................. 95

4. Wawancara dengan Noor Rois............................................................. 95

5. Wawancara dengan Eka Fajar Maryati ............................................... 96

6. Wawancara dengan Aditya Wardani ................................................... 96

7. Wawancara dengan Ahmad Arif Febriyanto........................................ 97

8. Wawancara dengan Imron Rosyadi .................................................... 97

9. Wawancara dengan Nur Faizah ........................................................... 98

10. Wawancara dengan Nur Kholis ........................................................... 98

11. Wawancara dengan Sri Surti................................................................ 99

12. Wawancara dengan Siti Rahmawati..................................................... 99

13. Wawancara dengan Widi Hardiyanto Putro......................................... 100

14. Wawancara dengan Gandhung Wahyu Irawan ................................... 100

15. Wawancara dengan Teguh Ari Wibowo ............................................. 101

16. Wawancara dengan Wahyu Dian Pramana ......................................... 101

17. Informan Penelitian Mahasin Darmawan, S.Pd ................................... 102

xv
DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran Halaman

1. Foto hasil penelitian ............................................................................ 93

2. Surat pengantar penelitian.................................................................... 103

3. Instrumen wawancara untuk guru ....................................................... 108

4. Instrumen wawancara untuk siswa....................................................... 112

5. Hasil wawancara dengan guru ............................................................. 113

6. Hasil wawancara dengan siswa............................................................ 117

7. Lembar instrumen penelitian ............................................................... 145

8. Daftar nama Pahlawan Nasional ......................................................... 148

xvi
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Pendidikan nasional bertujuan mencerdaskan kehidupan bangsa dan

mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya, yaitu manusia Indonesia yang

beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur,

memiliki pengetahuan dan keterampilan, kesehatan jasmani maupun rohani,

kepribadian yang mantap dan mandiri serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan

dan kebangsaan (Depdiknas, 2001 : 1).

Pendidikan merupakan kegiatan yang sangat penting bagi manusia karena

pendidikan menyangkut tentang cita-cita hidup manusia. Pendidikan juga akan

memberikan arahan pada terwujudnya suatu cita-cita hidup manusia itu.

Pendidikan dapat mengarahkan perkembangan kerja atau mempertahankan

perkembangan manusia yang berlangsung sejak pertumbuhan sampai akhir

hidupnya. Sehubungan dengan itu, dapat dikemukakan secara jelas bahwa

pendidikan adalah tuntutan dan perkembangan anak manusia ke arah kedewasaan

dalam arti segi individual, moral serta sosial, mendidik adalah upaya pembinaan

diri pribadi sikap mental anak didik.

Pendidikan mempunyai peranan yang sangat penting dalam keseluruhan

aspek kehidupan manusia. Hal ini disebabkan pendidikan berpengaruh terhadap

perkembangan manusia yakni pada keseluruhan aspek kepribadian manusia.

Berbeda dengan bidang-bidang lain, seperti arsitektur, ekonomi dan sebagainya,

1
2

yang berperan menciptakan sarana dan prasarana bagi kepentingan manusia,

pendidikan lebih terkait langsung dengan pembentukan manusia, dalam hal ini

pendidikan menentukan kompetensi manusia yang akan dihasilkannya.

Sejarah pendidikan diberbagai bangsa telah memperlihatkan kepada kita

bahwa pendidikan selalu mengalami perubahan dan pembaharuan. Pendidikan

adalah suatu usaha yang sifatnya sadar akan tujuan dengan sistematik terarah pada

perubahan tingkah laku menuju kedewasaan anak didik (Kadir, 1972 : 47).

Pendidikan adalah rekonstruksi atau reorganisasi pengalaman sehingga menambah

arti pengalaman dan meningkatkan kemampuan mengarah jalan pengalaman

berikutnya.

Pendidikan sejarah sebagai suatu ilmu yang diterapkan pada jenjang

pendidikan SMA merupakan cabang dari ilmu sosial yang memerlukan obyek

kajian dan ruang lingkup. Aspek kajiannya berupa proses perubahan dari aktivitas

manusia dan lingkungan kehidupannya pada masa lalu sejak manusia belum

mengenal tulisan sampai perkembangan mutakhir, yang mencakup aspek-aspek

politik, sosial, ekonomi, kebudayaan, keagamaan, kepercayaan, geografi dan lain-

lain. Waktu menjadi perspektif utama dalam kajian ilmu sejarah karena manusia

dengan berbagai aspek kehidupan yang berada pada setting ruang baik lokal,

nasional maupun global itu berubah dari waktu ke waktu sejak zaman kuno,

sampai perkembangan mutakhir. Pengajaran sejarah memiliki tujuan menanamkan

kesadaran nasional dengan gerakan-gerakan partai politik yang mempunyai tujuan

nasional. Oleh sebab itu sejarah nasional mempunyai fungsi penting dalam soal

perkembangan identitas nasional.


3

Adapun pengajaran sejarah berfungsi untuk menumbuhkan rasa kebangsaan

dan bangga terhadap perkembangan masyarakat Indonesia sejak masa lampau

hingga masa kini. Dalam hubungannya dengan pendidikan dan pembelajaran,

undang-undang nomor 2 tahun 1989 pasal 1 menyebutkan bahwa pendidikan

adalah usaha sadar untuk menyiapkan peserta didik melalui bimbingan,

pengajaran dan atau pelatihan bagi peranannya di masa yang akan datang.

Disamping itu disebutkan pula bahwa pendidikan nasional adalah pendidikan

yang berakar pada kebudayaan bangsa Indonesia dan berdasarkan Pancasila dan

UUD 1945 (Depdikbud, 2001 : 1).

Sejalan dengan pegertian diatas pendidikan di Indonesia merupakan upaya

menyiapkan generasi penerus melalui bimbingan, pengajaran dan pelatihan sesuai

dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Disamping itu pendidikan

di Indonesia tetap memperhatikan norma-norma bangsa yang berdasarkan

Pancasila dan UUD 1945.

Pengajaran sejarah (Nasional dan Umum) bertujuan agar siswa memperoleh

kemampuan berpikir historis dan pemahaman sejarah, selain itu agar siswa

menyadari keragaman pengalaman hidup pada masing-masing masyarakat dan

adanya cara pandang yang berbeda terhadap masa lampau untuk memahami masa

kini dan membangun pengetahuan serta pemahaman untuk mengahadapi masa

yang akan datang. Adapun tujuan dari pengajaran sejarah dapat dijabarkan sebagai

berikut : (1) mendorong siswa berpikir kritis-analitis dalam memanfaatkan

pengetahuan tentang masa lampau untuk memahami kehidupan masa kini dan

yang akan datang, (2) memahami bahwa sejarah merupakan bagian dari
4

kehidupan sehari-hari, dan (3) mengembangkan kemampuan intelektual dan

keterampilan untuk memahami proses perubahan dan keberlanjutan masyarakat

(Pengembangan KBK SMA se Jateng 2003 : 2).

Pengajaran sejarah menurut fungsinya adalah menyadarkan siswa tentang

adanya proses perubahan dan perkembangan masyarakat dalam dimensi waktu

dan untuk membangun perspektif serta kesadaran sejarah dalam menemukan,

memahami dan menjelaskan jati diri bangsa dimasa lalu, masa kini, dan masa

yang akan datang ditengah-tengah perubahan dunia, selain itu sebagai acuan

kedepan untuk menyusun yang bersifat membangun bangsa.

Pendidikan adalah usaha sadar untuk menyiapkan peserta didik melalui

bimbingan, pengajaran dan pelatihan bagi peranannya dimasa yang akan datang.

Dengan demikian siswa diharapkan memiliki nilai-nilai kepahlawanan ketika

menghadapi masa yang akan datang di era globalisasi yang penuh dengan

tantangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Dengan bercermin pada tokoh

pergerakan nasional yang merupakan salah satu proklamator dan yang kita kenal

sebagai “Bapak Koperasi Indonesia” yaitu Mohammad Hatta atau lebih akrab

dengan panggilan Bung Hatta.

Persepsi adalah penilaian seseorang terhadap obyek, peristiwa atau stimulus

dengan melibatkan proses kognisi dan afeksi untuk membentuk konsep tersebut

(Mulyana, 2000 : 168). Jadi persepsi dapat terjadi jika seseorang melihat obyek,

peristiwa atau stimulus dengan melibatkan pengalaman yang ada. Persepsi yang

ada dalam diri siswa akan mempengaruhi minat siswa untuk melakukan suatu

aktivitas termasuk belajar. Dengan demikian persepsi siswa terhadap Mohammad


5

Hatta diharapkan dapat mempengaruhi minat belajar siswa terutama mata

pelajaran sejarah.

Manusia Hatta sebagai pribadi dan aktor, memang mempunyai kedudukan

dan peran dalam perjalanan sejarah bangsanya. Kesederhanaan dan kedisiplinan

merupakan diantara potret dari sosok pribadinya. Sebagai aktor, Hatta tercatat

dalam sejarah bangsanya sebagai seorang negarawan dan demokrat. Dapat

dipastikan bahwa dua dimensi ini mempunyai relevansi dalam kekinian dan

keakanan kita, baik sebagai manusia, masyarakat, bangsa, negara Indonesia

(Anhar Gonggong, 2002 : iii).

Siapakah Bung Hatta ? kadang pertanyaan seperti ini masih ditanyakan oleh

seorang guru kepada murid, maupun dosen kepada mahasiswanya. Pada

kenyataannya banyak murid, mahasiswa dan masyarakat pada umumnya hanya

mengenal sosok Hatta sebagai Wakil Presiden Republik Indonesia yang pertama

sekaligus sebagai proklamator. Mereka tidak mengetahui siapa, bagaimana,

mengapa Hatta sampai menjadi seorang wakil presiden maupun sebagai seorang

proklamator. Seperti kata pepatah, “anak harimaupun akan mengetahui siapa

induknya, namun tidak demikian dengan rakyat Indonesia mereka lupa dengan

founding fathernya”1. Sekali lagi itulah realitas yang tercermin dari hasil

penelitian LSM Messias dan KITLV terhadap siswa SMU se-Semarang

(Sambutan ketua panitia pada diskusi pemikiran Hatta, 9 September 2002).

Kita harus mengakui, bahwa sosok Soekarno lebih dikenal dibandingkan

dengan Hatta. Hal itu wajar karena Soekarno lebih populer dibandingkan dengan

1
Menteri-menteri bentukan PPKI yang seluruhnya berisi orang-orang yang ikut berjasa
melahirkan UUD’45. Wawan Tunggal. Pertentangan Sukarno VS Hatta (Jakarta: 2003).hlm. 237.
6

Hatta meskipun sama-sama menjadi Proklamator Kemerdekaan Indonesia. Namun

minimnya pengetahuan masyarakat terhadap sosok Hatta dengan berbagai peran

dan sumbangan pemikirannya dalam menempuh perjalanan bangsa ini dapat

dikatakan sangat memprihatinkan. Ironisnya lagi, hal ini juga terjadi dikalangan

pelajar bahkan juga guru dan dosen sejarah padahal antara Bung Hatta dengan

sejarah Indonesia terdapat hubungan timbal balik yang unik. Bung Hatta

dipengaruhi sejarah Indonesia, dan sebaliknya Hatta ikut menentukan arah

perkembangan sejarah Indonesia.

Pada tanggal 17 Agustus 1945 di Jalan Pegangsaan Timur No. 56 Jakarta,

Soekarno dan Hatta didaulat oleh para tokoh Pergerakan Nasional baik dari

golongan tua maupun muda untuk mewakili membacakan dan menandatangani

naskah proklamasi atas nama Bangsa Indonesia. Dipilihnya Soekarno dan Hatta

tentu bukan tanpa dasar, sebab saat itu banyak tokoh pergerakan nasional yang

juga tidak kalah peran dan jasanya dibanding mereka berdua. Namun saat itu

merekalah yang dianggap paling tepat sebagai representasi wakil rakyat Republik

Indonesia. Disamping kemampuan, loyalitas mereka juga populis dan memiliki

kharisma dimata rakyat Indonesia (Ensiklopedia, 1989 : 362).

Berbeda dengan pimpinan-pimpinan lain yang jatuh bangun akibat

penyalahgunaan dan terkena dosa kekuasaan, Hatta tidak terkooptasikan dengan

keadaan yang berbau korupsi dan nepotisme. Dalam diri Hatta terdapat sifat

pokok yang menyebabkan beliau dihargai secara khusus dan berlainan dengan

tokoh-tokoh lain, meskipun ada juga beberapa kesamaannya.


7

Ketika Hatta mengundurkan diri dari jabatan wakil presiden, dampak

politiknya melemah dan ia tidak pernah memperoleh kembali kekuasaan yang

pernah dimilikinya sebagai anggota dwitunggal2. Untuk tetap pada puncak

kekuasaan, Hatta harus memodifikasi cita-citanya. Ia tidak siap melakukan hal ini,

karena percaya bahwa di dalam kerangka acuan kedaulatan rakyat3, sistem

pemerintahan yang ia rasakan dalam hidupnya merupakan kontra revolusioner

(Mavis Rose, 1991 : xviii)

Meskipun Hatta tidak pernah mencapi derajat pengakuan internasional

seperti Soekarno, tapi ia memainkan peran utama dan signifikan dalam

mendirikan Indonesia dan dalam menarik perhatian terhadap kebutuhan dan

penindasan rakyatnya. Tak diragukan lagi, ia adalah seorang negarawan kaliber

tertinggi, yang siap mengorbankan ambisi, kekayaan dan kedudukan demi cita-

citanya. Peran kepemimpinannya haruslah dinilai sebesar kualitas etiknya demi

mencapai kekuasaan politik.

Mohammad Hatta sebagai pahlawan nasional, dari pahlawan itu kita dapat

mencontoh berbagai sikap, antara lain : perasaan cinta tanah air, kasih sayang

kepada sesama, dan ketekunan serta keteguhan dalam menanggulangi persoalan

dan penderitaan. Sikap-sikap ini dapat kita ambil sebagai suatu nilai-nilai

2
Sukarno dan Hatta bersatu dan menghilangkan perbedaan mencapai cita-cita bersama dan
memimpin bangsanya memasuki gerbang kemerdekaan Indonesia. Penamaan dwitunggal berasal
dari Sukardjo Wirjopranoto, bekas pemimpin Parindra lama dan pemimpin harian Asia Raya
dimasa Jepang, pada permulaan kemerdekaan ia anggota PPKI.
Wawan Tunggal. Pertentangan Sukarno VS Hatta. (Jakarta: 2003). hlm. ix.
3
Bung Hatta, Sutan Sjahrir dan kawan-kawan pada Desember 1931 mereka membentuk
Pendidikan Nasional Indonesia (PNI Baru) dengan azas kedaulatan rakyat yang berarti kedaulatan
itu mengandung di dalamnya hak buat rakyat, akan tetapi juga kewajiban bagi rakyat.
Anhar Gonggong. Beralternatif di Tengah Krisis : Mengikuti Cara Baik Bung Hatta. (Yogyakarta:
2002). hlm. 18.
8

kepahlawanan yang pantas kita terapkan baik dimasa lampau, masa sekarang

maupun masa yang akan datang.

Berkaitan dengan uraian diatas dan untuk mengetahui persepsi tentang

Mohammad Hatta, maka peneliti mengambil judul “Persepsi Siswa Terhadap

Penokohan Mohammad Hatta Sebagai Pahlawan Nasional (Studi Kasus di SMA

Negeri 1 Pecangaan Kabupaten Jepara).

B. Penegasan Istilah

Untuk menghindari interpretasi yang tidak dikehendaki terhadap judul yang

dimaksud dalam penelitian ini, maka penulis memberikan penegasan istilah untuk

menjelaskan batas-batas dalam judul sebagai berikut :

1. Persepsi Siswa

Persepsi menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia dapat diartikan

tanggapan (penerimaan) langsung dari suatu serapan atau proses seseorang

mengetahui beberap hal melalui panca indera (Poerwodarminto, 1998: 675). Jadi

persepsi disini adalah tanggapan tentang Mohammad Hatta sebagai Pahlawan

Nasioanal.

Adapun menurut Dimyati (1990 : 41), mengemukakan bahwa persepsi

adalah penafsiran stimulus yang telah ada dalam otak. Sedangkan menurut

Jalaludin Rahmat (1989: 51) persepsi adalah pengalaman tentang obyek peristiwa,

atau hubungan-hubungan yang diperoleh dengan menyimpulkan informasi dan

menafsirkan pesan. Persepsi berarti memberikan makna pada stimulus inderawi

(Sensory Stimulus).
9

Dari beberapa pendapat yang telah disampaikan diatas, dengan demikian

pengertian persepsi dapat disimpulkan sebagai suatu tanggapan atau penilaian

terhadap suatu obyek tersebut, yang kemudian dilanjutkan dengan proses

psikologis di dalam otak, sehingga individu dapat menyadari dan memberikan

makna terhadap obyek yang telah diinderakan tersebut. Obyek tersebut yakni

Mohammad Hatta sebagai pahlawan nasional, sehingga individu atau siswa dapat

mempersepsikan kepahlawanan Mohammad Hatta dan diharapkan dapat

mempengaruhi minat belajar siswa terutama mata pelajaran sejarah dan dapat

mengambil nilai-nilai kepahlawanannya.

2. Pembelajaran

Belajar secara umum merupakan kegiatan yang mengakibatkan terjadinya

perubahan tingkah laku. Sedangkan pembelajaran secara umum adalah kegiatan

yang dilakukan guru sedemikian rupa, sehingga tingkah laku siswa berubah

kearah yang lebih baik. Arti pembelajaran secara khusus yakni secara

behavioristik, pembelajaran adalah usaha guru untuk membentuk tingkah laku

yang diinginkan dengan menyediakan lingkungan atau stimulus (Darsono, 2001:

24)

Belajar akan lebih efektif apabila anak itu sendiri turut aktif merumuskan

dan memecahkan masalah. Bahkan akan lebih efektif lagi apabila bahan pelajaran

yang disampaikan sesuai dengan kebutuhan siswa (Nasution, 1986: 32).

Pernyataan tersebut mengisyaratkan bahwa dalam proses belajar mengajar guru

harus mengenal dan memahami siswa.


10

Dalam penelitian ini yang dimaksud pembelajaran adalah belajar sejarah

sehingga siswa akan memperoleh berbagai pengetahuan dan pengalaman. Dengan

pengalaman itu tingkah laku siswa akan bertambah baik kuantitas maupun

kualitas. Tingkah laku yang dimaksud meliputi pengetahuan, keterampilan dan

nilai atau norma yang berfungsi sebagai pengendali sikap dan perilaku siswa.

Pembelajaran sejarah dengan mempersepsikan seorang tokoh nasional yakni

Mohammad Hatta maka akan tumbuh nilai-nilai kepahlawanan bagi diri siswa.

3. Pahlawan Nasional

Pahlawan menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia dapat diartikan pejuang

yang gagah berani atau orang yang menonjol karena keberanian dan

pengorbanannya dalam membela kebenaran, sedangkan nasional berarti

kebangsaan (Poerwodarminto, 1998: 636). Jadi pahlawan nasional adalah pejuang

yang gagah berani atau orang yang menonjol karena keberanian dan

pengorbanannya dalam membela kebenaran bangsanya.

Sedangkan menurut Sagimun M.D (1981: 254-262) pahlawan adalah

seseorang yang sudah wafat atau gugur karena akibat tindak kepahlawanannya

yang memiliki mutu dan nilai jasa perjuangan dalam suatu tugas perjuangan untuk

membela negara dan bangsanya.

Dalam penelitian ini yang dimaksud pahlawan nasional adalah nilai-nilai

kepahlawanan yang dimunculkan oleh tokoh nasional Mohammad Hatta, sehingga

dengan mempersepsikan Mohammad Hatta sebagai pahlawan nasional oleh siswa

diharapkan muncul nilai-nilai kepahlawanan dalam diri siswa diantaranya rasa


11

cinta tanah air dan bangsa, memiliki dedikasi yang tinggi, suka belajar dan bekerja

keras dan lain sebagainya.

C. Rumusan Masalah

Dari uraian diatas dapat dilihat permasalahan-permasalahan yang timbul

sebagai berikut :

1. Bagaimana sejarah Mohammad Hatta ?

2. Bagaimana pembelajaran sejarah pada pokok bahasan proklamasi

kemerdekaan Indonesia dan upaya menegakkan kedaulatan di kelas XI SMA

Negeri 1 Pecangaan Kabupaten Jepara ?

3. Bagaimana persepsi siswa terhadap penokohan Mohammad Hatta sebagai

pahlawan nasional di SMA Negeri 1 Pecangaan Kabupaten Jepara ?

D. Tujuan Penelitian

Tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian ini adalah :

1. Untuk mengetahui sejarah Mohammad Hatta.

2. Untuk mengetahui pembelajaran sejarah pada pokok bahasan proklamasi

kemerdekaan Indonesia dan upaya menegakkan kedaulatan di kelas XI SMA

Negeri 1 Pecangaan Kabupaten Jepara.

3. Untuk mengetahui dan mendeskripsikan persepsi siswa terhadap penokohan

Mohammad Hatta sebagai pahlawan nasional di SMA Negeri 1 Pecangaan

Kabupaten Jepara.
12

E. Manfaat Penelitian

Dengan diadakannya penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi semua

pihak yang terlibat dan memiliki kepentingan dengan masalah yang diteliti,

khususnya :

1. Bagi Guru

Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai informasi untuk

dapat :

a. Meningkatkan kualitas guru dalam melaksanakan proses belajar mengajar

dalam mata pelajaran sejarah.

b. Meningkatkan pengetahuan, pemahaman dan pengalaman dalam ruang

lingkup yang lebih luas untuk menunjang profesinya sebagai guru.

c. Meningkatkan kualitas pembelajaran, dan mengembangkan profesi guru

sebagai peneliti.

2. Bagi Siswa

a. Materi pelajaran sejarah akan lebih mudah dipelajari dan diingat terutama

materi sejarah pergerakan nasional.

b. Meningkatkan minat belajar sejarah.

c. Meningkatkan kepekaan siswa terhadap perkembangan ilmu dan teknologi.

d. Meningkatkan nilai-nilai kepahlawanan seperti apa yang dilakukan oleh

Mohammad Hatta.

3. Bagi Sekolah

a. Pengembangan jaringan dan kerjasama strategi antara sekolah dengan

pihak-pihak yang berkepentingan dalam pengembangan sekolah.


13

b. Peningkatan akses bagi masyarakat untuk mengikuti pendidikan.

F. Sistematika Skripsi

Sistematika skripsi disusun dengan tujuan agar pokok-pokok masalah dapat

dibahas secara urut dan terarah. Adapun sistematika ini disusun sebagai berikut :

1. Bagian Awal, berisi :

Halaman judul, halaman pengesahan, motto dan persembahan, kata pengantar,

daftar isi, daftar bagan, daftar gambar dan daftar lampiran.

2. Bagian isi, terdiri dari :

a. Bab I Pendahuluan,berisi ;

Latar belakang masalah, penegasan istilah, rumusan masalah, tujuan

penelitian, manfaat penelitian dan sistematika skripsi.

b. Bab II Landasan Teori, berisi :

Pembelajaran sejarah, teori persepsi meliputi pengertian persepsi, faktor-

faktor yang mempengaruhi terbentuknya persepsi, dan syarat-syarat

terjadinya persepsi. Dilanjutkan mengenai pahlawan nasional meliputi

pengertian pahlawan nasional, dan kriteria pahlawan nasional, serta

kerangka berpikir.

c. Bab III Metode Penelitian, berisi :

Dasar penelitian, fokus penelitian, sumber data, teknik sampling, teknik

pengumpulan data, keabsahan data, metode analisis data, dan prosedur

penelitian.

d. Bab IV Hasil dan Pembahasan, berisi :


14

Hasil dan pembahasan penelitian.

e. Bab V Simpulan dan Saran

3. Bagian akhir, terdiri dari :

Daftar pustaka dan lampiran-lampiran.


BAB II

LANDASAN TEORI

A. Pembelajaran Sejarah

Pembelajaran adalah suatu kegiatan yang dilakukan secara sadar dan

sengaja (Darsono, 2000: 26). Unsur-unsur dinamis dalam pembelajaran

kongkuren dengan unsur-unsur belajar. Artinya unsur-unsur yang diperlukan

dalam belajar yang keadaannya dapat berubah-ubah, juga terdapat pada diri guru

(motivasi dan kesiapan membelajarkan siswa) dan upaya guru menyiapkan bahan

pembelajaran, alat bantu pembelajaran, suasana pembelajaran dan kondisi serta

kesiapan siswa mengikuti pembelajaran baik fisik maupun psikologis.

Sedangkan pengertian pembelajaran secara khusus antara lain :

1. Behavioristik

Pembelajaran adalah usaha guru membentuk tingkah laku yang diinginkan

dengan menyediakan lingkungan (stimulus). Agar terjadi hubungan stimulus dan

respon (tingkah laku yang diinginkan) perlu latihan, dan setiap latihan yang

berhasil harus diberi hadiah dan atau Reinforcement (penguatan).

2. Kognitif

Pembelajaran adalah cara guru memberikan kesempatan kepada siswa

untuk berpikir agar dapat mengenal dan memahami apa yang sedang dipelajari.

Ini sesuai dengan pengertian belajar menurut aliran kognitif yang menekankan

pada kemampuan kognisi (mengenal) pada diri individu yang belajar.

3. Gestalt

15
16

Pembelajaran adalah usaha guru untuk lebih memberikan materi pelajaran

sedemikian rupa, sehingga siswa lebih mudah mengorganisirnya (mengaturnya)

menjadi suatu gestalt (pola bermakna). Bantuan guru diperlukan untuk

mengaktualkan potensi mengorganisir yang terdapat dalam diri siswa.

4. Humanistik

Pembelajaran adalah memberikan kebebasan kepada siswa untuk memilih

bahan pelajaran dan cara mempelajarinya sesuai dengan minat dan

kemampuannya. Belajar akan membawa perubahan bila orang yang belajar bebas

menentukan bahan pelajaran dan cara yang dipakai untuk mempelajarinya.

Istilah pembelajaran sama dengan instruction atau pengajaran. Pengajaran

mempunyai arti cara (perbuatan) mengajar atau mengajarkan. Dengan demikian

pengajaran diartikan sama dengan perbuatan belajar (oleh siswa) dan kegiatan

mengajar (oleh guru) (Gino, 1993: 30). Jadi pembelajaran sejarah yaitu sesuatu

usaha untuk mengajarkan atau mendapatkan hasil dalam belajar sejarah dengan

bimbingan seorang guru atau pengajar.

Sementara itu tujuan pengajaran sejarah secara umum menurut Widja

(1989 : 27) adalah untuk menguasai aspek pengetahuan, aspek pengembangan

sikap, dan aspek keterampilan. Pelajaran sejarah pada tingkat SMA bertujuan

untuk mendorong siswa berpikir kritis dalam memanfaatkan pengetahuan tentang

masa lalu untuk memahami kehidupan masa kini dan yang akan datang. Selain itu

bertujuan pula untuk memahami bahwa sejarah merupakan bagian dari kehidupan

sehari-hari, serta mengembangkan kemampuan intelektual dan keterampilan untuk

memahami proses perkembangan masyarakat.


17

Keberhasilan pencapaian tujuan pembelajaran sejarah dipengaruhi oleh

beberapa komponen pembelajaran. Diantara komponen pembelajaran tersebut

adalah (1) adanya tujuan yang hendak dicapai, (2) keadaan dan kemampuan guru,

(3) keadaan dan kemampuan siswa, (4) lingkungan masyarakat dan sekolah.

Disamping itu strategi media, metode dan materi merupakan bagian integral dari

komponen pembelajaran sejarah yang saling berkaitan dalam proses belajar

mengajar.

Adapun ciri-ciri pembelajaran antara lain :

1. Pembelajaran dilakukan secara sadar dan direncanakan secara sistematis.

2. Pembelajaran dapat menumbuhkan perhatian dan motivasi siswa dalam

belajar.

3. Pembelajaran dapat menyediakan bahan belajar yang menarik dan menantang

bagi siswa.

4. Pembelajaran dapat menggunakan alat bantu belajar yang tepat dan menarik.

5. Pembelajaran dapat menciptakan suasana belajar yang aman dan

menyenangkan bagi siswa.

6. Pembelajaran dapat membuat siswa siap menerima pelajaran, baik secara fisik

maupun psikolois.

Tujuan pembelajaran adalah membantu pada siswa agar memperoleh

berbagai pengalaman dan dengan pengalaman itu tingkah laku bertambah baik

kualitas maupun kuantitas. Tingkah laku yang dimaksud meliputi pengetahuan,

keterampilan, dan nilai norma yang berfungsi sebagai pengendali sikap dan

perilaku siswa.
18

Menurut Sartono Kartodirdjo dalam Atmandi (2000), mengemukakan

bahwa pembelajaran sejarah memiliki tujuan menanamkan kesadaran nasional.

Kesadaran nasional akan tumbuh melalui perkembangan politik nasional dengan

gerakan-gerakan partai-partai politik yang mempunyai tujuan nasional, memupuk

patriotisme dengan lambang-lambang nasional seperti bendera, lagu kebangsaan,

mata uang dan sebagainya. Sudah tentu sejarah nasional memiliki fungsi penting

dalam soal perkembangan identitas nasional (Atmadi, 2000 : 113).

Pembelajaran sejarah menyangkut ranah kognitif, afektif, psikomotorik

dan konatif. Dominasinya ada pada ranah pertama dan kedua. Pada saat sekarang

adanya kecerdasan intelektual, kecerdasan emosional dan kecerdasan

keterampialan. Semua kecerdasan itu mengalir dalam diri setiap orang normal

(Atmadi, 2000 : 97).

Penyediaan pengalaman belajar siswa perlu beragam dengan memberikan

kegiatan belajar yang melibatkan keaktifan siswa dalam melakukan sesuatu dan

memanfaatkan berbagai potensi indera siswa, dalam kaitannya dengan proses

pembelajaran sejarah. Dalam menyediakan pengalaman belajar yang beragam

tersebut kegiatan pembelajaran yang dirancang dengan asumsi bahwa siswa selalu

berpikir mulai dari bawah. Kerucut pengalaman yakni katakan dan lakukan,

katakan lihat dan dengar, lihat, dengar dan baca (Wibowo, Mungin Eddy, 2004.

“Pengembangan Modal Pelayanan Implementasi Kurikulum 2004”. Makalah

Disajikan Pada Workshop Pengembangan Modal Pelayanan Implementasi

Kurikulum 2004 7-8 Desember 2004 di UNNES).


19

Berikut ini adalah suatu bagan kerucut pengalaman belajar yang akan

memperjelas bahwa siswa yang hanya belajar dengan membawa akan lebih baik

hasil belajarnya dengan siswa yang melakukan dan mengkomunikasikan hasil

belajarnya.

Bagan 1

Kerucut Pengalaman Belajar


Yang kita ingat Modus

10 % baca Verbal

20 % Dengar

30 % Lihat Visual

50 % Lihat dan dengar

70 % Katakan

90 % Katakan dan lakukan Berbuat

Sumber : Sheal, Peter (1989) how to Develop and Present Staff Training
Courses, London : Kogan Page. Ltd

Dari bagan kerucut pengalaman belajar diatas, kita dapat melihat bahwa

kita belajar hanya 10 % dari apa yang kita baca, 20 % dari apa yang kita dengar,

30 % dari apa yang kita lihat, 50 % dari apa yang kita lihat dan dengar, 70 % dari

apa yang kita katakan dan 90 % dari apa yang kita katakan dan kita lakukan. Hal

ini menunjukkan bahwa jika kita menyampaikan materi kepada siswa dalam

proses kegiatan belajar mengajar dengan menggunakan metode ceramah, maka

siswa hanya mengingat 20 % dari apa yang kita ajarkan karena siswa hanya

mendengar. Tetapi bila guru menyuruh siswa untuk melakukan sesuatu yang
20

kemudian mengkomunikasikannya, maka siswa akan mengingat sebanyak 90 %

(Depdikbud Propinsi Jawa Tengah).

B. Teori Persepsi

1. Pengertian Persepsi

Pengertian persepsi menurut Davidoff sebagaimana dikutip oleh Bimo

Walgito (2002 : 53) adalah stimulus yang diindera oleh individu dan

diorganisasikan kemudian diinterpretasikan sehingga individu menyadari,

mengerti tentang apa yang diinderanya itu.

Bimo Walgito (2002 : 53) menjelaskan bahwa persepsi merupakan suatu

proses yang didahului oleh penginderaan yaitu merupakan proses yang berwujud

diterimanya stimulus oleh individu melalui alat reseptornya. Namun proses itu

tidak berhenti sampai disitu saja melainkan stimulus itu diteruskan ke pusat

susunan syaraf yaitu otak, dan terjadilah proses psikologis sehingga individu

menyadari apa yang ia dengar dan sebagainya.

Adapun menurut Dimyati (1990 : 41), mengemukakan bahwa persepsi

adalah penafsiran stimulus yang telah ada dalam otak. Sedangkan menurut

Jalaluddin Rahmat (2004 : 51) persepsi adalah pengalaman tentang obyek

peristiwa, atau hubungan-hubungan yang diperoleh dengan menyimpulkan

informasi dan menafsirkan pesan. Persepsi berarti memberikan makna pada

stimulus inderawi (Sensory Stimulus).

Berdasarkan beberapa pengertian diatas, nampak jelas bahwa di dalam

pengertian persepsi mengandung muatan : (1) adanya proses penerimaan stimulus


21

melalui alat indera, (2) adanya proses psikologis di dalam otak, (3) adanya

kesadaran dari apa yang telah diinderakan, (4) memberikan makna pada stimulus.

Dengan demikian pengertian persepsi dapat disimpulkan sebagai suatu

tanggapan atau penilaian terhadap suatu obyek tersebut, yang kemudian

dilanjutkan dengan proses psikologis di dalam otak, sehingga individu dapat

menyadari dan memberikan makna terhadap obyek yang telah diinderakan

tersebut.

Persepsi seseorang selalu didasarkan pada kejiwaan berdasarkan

rangsangan yang diterima oleh inderanya. Disamping itu persepsi juga didasarkan

pada pengalaman dan tujuan seseorang pada saat terjadi persepsi. Hal senada juga

dikatakan Jalaludin Rahmat (2004 : 52) yang mengemukakan bahwa persepsi

adalah suatu pengalaman tentang suatu obyek, peristiwa atau hubungan-hubungan

yang diperoleh dengan mengumpulkan informasi dan menafsirkan pesan.

Organisme dirangsang oleh suatu masukan tertentu (obyek dari luar peristiwa dan

lain-lain) dan organisme itu merespon dan menggabungkan masukan itu dengan

salah satu kategori obyek-obyek atau peristiwa-peristiwa.

Obyek-obyek disekitar kita dapat ditangkap dengan indera dan

diproyeksikan pada bagian-bagian tertentu diotak sehingga tubuh dapat

mengamati obyek tersebut. Sebagian tingkah laku dan penyesuaian individu

ditentukan oleh persepsinya. Teori diatas diperjelas oleh Bimo Walgito (2002 :

87-88) yang mengemukakan bahwa persepsi merupakan proses aktif dimana yang

memegang peran bukan hanya stimulus yang mengenai, tetapi juga individu
22

sebagai kesatuan dengan pengalaman baik yang di dapat secara langsung maupun

melalui proses belajar.

Individu dalam melakukan pengalaman untuk mengartikan rangsangan

yang diterima, agar proses pengamatan tersebut terjadi maka perlu obyek yang

diamati, alat indera yang cukup baik dan perhatian. Itu semua merupakan langkah-

langkah sebagai suatu persiapan dalam pengamatan yang ditujukan dengan tahap

demi tahap, yaitu tahap pertama merupakan tanggapan yang dikenal sebagai

proses kealaman atau proses fisik, merupakan ditangkapnya stimulus dengan alat

indera manusia. Sedangkan tahap kedua adalah tahap yang dikenal orang dengan

proses fisiologi merupakan proses diteruskannya stimulus yang diterima oleh

perseptor ke otak melalui syaraf-syaraf sensorik, dan tahap ketiga dikenal dengan

proses psikologi merupakan proses timbulnya kesadaran individu tentang stimulus

yang diterima oleh perseptor1.

2. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Terbentuknya Persepsi

Ada tiga faktor yang mempengaruhi terbentuknya persepsi yaitu perhatian,

karakteristik orang yang mempersepsi dan sifat stimuli yang dipersepsi (Mar’at,

1984 : 22-24) adapun uraian dari ketiga faktor itu adalah :

a. Faktor Perhatian

Perhatian adalah pemusatan indera kepada hal-hal tertentu yang terjadi

dalam pengalaman dan mengabaikan masalah-masalah lain. Perhatian menyaring

1
Orang yang membuat persepsi.
23

atau menyeleksi informasi inderawi yang diterima. Dengan demikian yang

dipersepsikan bukan semua stimuli inderawi, namun yang menarik perhatian.

b. Faktor karakteristik yang dipersepsi

Yang menentukan persepsi bukan jenis atau bentuk stimuli saja, melainkan

juga karakteristik orang yang menerima stimuli dan memberi respon stimuli

tersebut. Misalnya kebutuhan dan pengalaman masa lalu dan faktor-faktor

personal.

c. Faktor sifat stimuli yang dipersepsi

Pengaruh terbentuknya persepsi selain perhatian dan karakteristik orang

yang mempersepsi juga berasal dari sifat stimuli semata-mata. Jadi sebagaimana

adanya stimuli yang diterima oleh indera manusia juga mempengaruhi

terbentuknya persepsi.

Persepsi adalah merupakan proses pengamatan seseorang yang berasal dari

komponen kognisi, sedangkan komponen kognisi merupakan salah satu dari tiga

komponen sikap. Agar lebih jelas melihat hubungan antara persepsi dan sikap

dapat dilihat pada bagan sebagai berikut :


24

Bagan 2

Hubungan antara persepsi dan sikap

Pengalaman Proses belajar Cakrawala Pengetahuan


(sosialisasi)

Persepsi

K Kognisi
E
P
R Evaluasi
Afeksi Obyek Faktor-faktor
I
(senang/tidak Psikologik lingkungan yang
B mempengaruhi
senang)
A
D
I
A Konasi
Kecenderungan
N bertindak

Sikap

(Mar’at, 1984 : 22-23)

Individu mengamati obyek psikologik dengan persepsinya sendiri.

Persepsi tersebut dipengaruhi oleh faktor-faktor pengalaman, proses belajar,

cakrawala dan pengetahuannya. Faktor pengalaman dan proses belajar memberi


25

bentuk dan struktur terhadap apa yang dilihat, sedang cakrawala dan pengetahuan

memberi arti terhadap obyek psikologis. Melalui komponen kognisi akan timbul

ide, kemudian konsep apa yang dilihat. Melalui komponen afeksi memberi

evaluasi emosional terhadap obyek, komponen konasi menentukan kesiapan

jawaban berupa tindakan terhadap obyek. Atas dasar ini situasi yang semula tidak

seimbang menjadi seimbang kembali. Keseimbangan dalam situasi ini berarti

bahwa antara obyek yang dilihat sesuai dengan penghayatannya dimana unsur

nilai dan norma dirinya dapat menerima secara rasional dan emosional. Jika

situasi ini tidak tercapai, maka individu menolak dan reaksi yang timbul adalah

sikap apatis, acuh tak acuh, atau menentang sampai ekstrim memberontak.

Keseimbangan ini dapat kembali jika persepsi bisa diubah melalui komponen

kognisi.

Menurut Jalaludin Rahmat (2004 : 52) yang mengutip beberapa pendapat

para ahli antara lain David Krench dan Richard S. Crutchfield (1977) membagi

faktor-faktor yang menentukan persepsi menjadi dua yaitu :

a. Faktor Fungsional

Yang dimaksud faktor fungsional adalah faktor yang berasal dari

kebutuhan, pengalaman, masa lalu dan hal-hal yang termasuk apa yang kita sebut

sebagai faktor-faktor personal. Faktor personal yang menentukan persepsi adalah

obyek-obyek yang memenuhi tujuan individu yang melakukan persepsi.

b. Faktor Struktural

Faktor struktural adalah faktor yang berasal semata-mata dari sifat.

Stimulus fisik efek-efek syaraf yang timbul pada sistem syaraf individu. Faktor
26

struktural yang menentukan persepsi, menurut teori gestalt bila kita ingin

persepsikan sesuatu, kita mempersepsikannya sebagai suatu keseluruhan. Bila kita

ingin memahami suatu peristiwa kita tidak dapat meneliti faktor-faktor yang

terpisah, kita harus memandangnya dengan hubungan keseluruhan.

3. Syarat-Syarat Terjadinya Persepsi

Bimo Wlgito (2002 : 54) mengemukakan beberapa syarat sebelum

individu mengadakan persepsi adalah :

a. Adanya Obyek (sasaran yang dituju)

Obyek atau sasaran yang diamati akan menimbulkan stimulus atau

rangsangan yang mengenai alat indera. Obyek dalam hal ini adalah nilai-nilai

kepahlawanan Mohammad Hatta dalam proses belajar mengajar akan memberikan

stimulus yang akan ditanggapi oleh siswa.

b. Alat Indera atau Reseptor

Alat indera atau reseptor yang dimaksud adalah alat indera untuk

menerima stimulus kemudian diterima dan diteruskan oleh syaraf sensorik yang

selanjutnya akan disimpan dalam susunan syaraf pusat yaitu otak sebagai pusat

kesadaran.

c. Adanya Perhatian

Untuk menyadari atau untuk mengadakan persepsi diperlukan adanya

perhatian yaitu langkah pertama sebagai suatu persiapan dalam mengadakan

persepsi, tanpa perhatian tidak akan terjadi persepsi. Perhatian merupakan


27

pemusatan atau konsentrasi dari seluruh aktivitas individu yang ditujukan kepada

sesuatu atau sekumpulan obyek.

Pada proses persepsi terdapat komponen-komponen dan kegiatan-kegiatan

kognisi dengan memberikan bentuk dan struktur bagi obyek yang ditangkap oleh

panca indera, sedangkan pengetahuan dan cakrawala akan memberikan arti

terhadap obyek yang ditangkap atau dipersepsikan individu, dan akhirnya konasi

individu akan berperan dalam menentukan terjadinya jawaban yang berupa sikap

dan tingkah laku individu terhadap obyek yang ada.

Syarat individu untuk mempersepsi suatu obyek atau peristiwa adanya

obyek yang dijadikan sasaran pengamatan, dimana obyek tersebut harus benar-

benar diamati dengan seksama, dan untuk mengamati suatu obyek atau peristiwa

perlu adanya indera yang baik karena kalau tidak individu tersebut menjadi salah

mempersepsi. Demikian pula dalam mempersepsi penokohan Mohammad Hatta,

ia memerlukan pengamatan, pengenalan yang seksama melalui alat inderanya

terhadap obyek persepsi, sehingga dengan pengamatan dan pengenalan yang

mendalam dan seksama itulah diharapkan siswa akan mempersepsi obyek tersebut

dengan benar atau positif.

C. Pahlawan Nasional

1. Pengertian Pahlawan Nasional

Menurut Uka Tjandrasasmita (1991 : 19) dua buah perkataan “Pahlawan

Nasional” mengandung pengertian yang sangat luas jika ditinjau dari berbagai

aspeknya. Dalam bahasa jawa kuno dan terdapat pada kitab klasik antara lain
28

kitab ramayana, baratayudha, negarakertagama dan sebagainya yang mungkin

perkataan pahlawan berasal dari kata “Phala” yang artinya buah atau hasil, upah.

Dengan demikian arti kata “Pahlawan” adalah orang yang telah mencapai hasil

atau upah dari kerja atau usahanya. Sesuai dengan tambahan sebutan atau gelar

nasional, maka pahlawan nasional berarti seseorang yang telah mencapai hasil

usahanya atau memetik buah dalam usahanya untuk kepentingan nasional atau

bangsanya. Dalam hal ini pengertian usaha tidaklah diartikan sempit, melainkan

usaha dalam arti luas untuk kepentingan bangsanya.

Menurut Pasal I Peraturan Pemerintah Republik Indonesia tanggal 14

November 1964 No. 23 tahun 1964 tentang penetapan penghargaan dan

pembinaan terhadap pahlawan seperti dikutip oleh Sagimun (1981 : 244)

disebutkan bahwa yang dimaksud dengan pahlawan adalah :

a. Warga Negara Indonesia yang tewas atau gugur atau meninggal dunia
karena nilai jasa perjuangan dalam suatu tugas perjuangan untuk
membela negara dan bangsa.
b. Warga Negara Indonesia yang masih diridhoi dalam keadaan hidup
setelah melakukan tindak kepahlawanannya yang cukup membuktikan
jasa pengorbanannya dalam suatu tugas perjuangan untuk membela
negara dan bangsa dan yang dalam riwayat hidup selanjutnya tidak
ternoda oleh suatu tindak atau perbuatan yang menyebabkan menjadi
cacat nilai perjuangan karenanya.

Menurut Uka Tjandrasasmita dalam Sagimun (1985 : 20) usaha-usaha

seseorang atau beberapa orang sehingga layak mendapat julukan pahlawan

nasional dapat melalui berbagai kegiatan atau aspek menurut bidangnya masing-

masing. Munculnya pahlawan-pahlawan itu juga sesuai dengan situasi

peperangan, revolusi, ketidakstabilan masyarakat baik disebabkan oleh faktor

ekonomi, politik, kultural, sosial dan sebagainya. Karena itu dalam saat-saat kritis
29

itulah lazimnya masyarakat atau bangsa nasibnya tergantung pada seseorang atau

beberapa orang pemimpin atau bukan, yang dengan cepat dapat menyelamatkan

masyarakat dan bangsa itu dari bahaya, ancaman dan kekacauan. Jelaslah bahwa

dalam tindakan-tindakan yang cepat dan tepat oleh seseorang atau beberapa orang

dalam usaha menyelamatkan situasi krisis yang menimpa masyarakat atau bangsa

itu tidak terlepas dari kepemimpinan atau leadership.

Dalam sejarah umat manusia baik dalam bentuk kelompok maupun bangsa

timbulnya pahlawan-pahlawan itu bukan hanya karena hasil-hasil perjuangan

yang bersifat fisik saja, misalnya seseorang pemimpin atau bukan menyelamatkan

rakyatnya dari bahaya peperangan saja, tetapi juga dapat timbul pahlawan-

pahlawan melalui usaha atau kegiatan dibidang pemikiran untuk mengadakan

perubahan besar yang dirasakan untuk kepentingan umum. Mohammad Hatta

adalah salah satu pahlawan nasional yang gigih memperjuangkan kemerdekaan

Indonesia, melalui usaha dan pemikirannya dalam mempertahankan kemerdekaan

Indonesia kita dapat mengambil nilai-nilai kepahlawanan yang pantas kita

terapkan baik dimasa lampau, masa sekarang maupun masa yang akan datang.

2. Jenis-Jenis Pahlawan Nasional

Agar terdapat pegangan dan pedoman dalam penentuan seseorang menjadi

pahlawan nasional, maka oleh badan pembinaan pahlawan pusat telah disusun

rencana persyaratan atau kriteria pahlawan nasional, seperti yang dikutip oleh

Sagimun (1981 : 254) sebagai berikut :

a. Pahlawan adalah seseorang yang sudah wafat atau gugur.


30

b. Pahlawan dibagi menurut bidang jasanya dan menurut periode atau masa

pengabdiannya.

Proklamasi 17 Agustus 1945 merupakan puncak tertinggi di dalam sejarah

Bangsa Indonesia. Dengan bertitik tolak pada proklamasi 17 Agustus 1945

sebagai puncak tertinggi sejarah Bangsa Indonesia, maka menurut periode atau

masa pengabdiannya jenis pahlawan ada :

a. Sebelum kemerdekaan

1. Pahlawan perjuangan kemerdekaan (sebelum tahun 1900)

2. Pahlawan pergerakan nasional (tahun 1900-1945)

b. Sejak berdirinya Republik Indonesia

1). Kriteria pahlawan perjuangan kemerdekaan (sebelum tahun 1900)

a. Pahlawan perjuangan kemerdekaan adalah seseorang yang sudah wafat atau

gugur dan sangat berjasa pada tanah air dan rakyat Indonesia.

b. Melakukan perjuangan bersenjata melawan penjajah demi kepentingan dan

didukung oleh rakyat.

c. Sikap dan sepak terjangnya dari awal sampai akhir menunjukkan garis lurus

yang konsekuen (tidak pernah menyimpang dari cita-cita perjuangan) yakni

menentang panjajah untuk kemerdekaan tanah air dan rakyat.

d. Perjuangan bersenjata yang dilakukan mempunyai suri tauladan bagi rakyat

Indonesia.

2). Kriteria pahlawan pergerakan nasional (1900-1945)

a. Man of action
31

Pahlawan pergerakan nasional adalah seseorang yang sudah wafat atau

gugur dan sangat berjasa pada tanah air dan rakyat Indonesia. Dengan tindakan

nyata melakukan perjuangan bersenjata atau perjuangan politik menentang

penjajah untuk mencapai persatuan dan kemerdekaan nasional, rela berkorban dan

berani menanggung segala akibat dari cita-cita perjuangannya untuk mencapai

persatuan dan kemerdekaan nasional.

b. Man of through inspiration

Pahlawan pergerakan nasional dibidang ini adalah seseorang yang sudah

wafat atau gugur dan berjasa luar biasa kepada tanah air dan bangsa Indonesia

karena dengan hasil karya atau pemikirannya mendorong orang melakukan

perjuangan untuk menentang penjajah guna mencapai persatuan nasional dan

kemerdekaan.

3). Kriteria pahlawan kemerdekaan nasional Indonesia (sesudah proklamasi 17

Agustus 1945)

a. Man of action

Ialah orang-orang yang dengan tindakan-tindakan nyata sangat berjasa

kepada nusa dan bangsa Indonesia dalam rangka mempertahankan kemerdekaan

nasional sebagaimana tercantum dalam UUD 1945.

b. Man of through inspiration

Ialah seseorang yang berjasa luar biasa kepada negara dan bangsa

Indonesia karena dengan hasil karya pemikirannya mempengaruhi banyak orang

sehingga orang itu begerak dalam rangka mencapai kemerdekaan nasional

sebagaimana tercantum dalam UUD 1945.


32

Sebagai manumen “heroisme”2 hari pahlawan juga saat tepat untuk

mengenang keberanian dan pengorbanan para pahlawan pra dan pasca

kemerdekaan. Memang hanya sedikit pahlawan yang dikenang dari mereka yang

gugur sebagai pahlawan anonim. Namun darah mereka telah mambasahi ibu

pertiwi, menguatkan cita-cita kemerdekaan, mereka berjuang tanpa pamrih bagi

nusa dan bangsa.

Sesungguhnya perjuangan mereka belum selesai, mimpi pahlawan bukan

hanya merdeka tetapi Indonesia yang bermartabat. Hal ini dikemukakan oleh

Hatta, dalam mimbar Indonesia, 8 November 1952 (kompas, 9 Nopember 2002).

Hatta juga mengatakan untuk mewujudkan Indonesia yang bermartabat

dibutuhkan bekerja keras, membangun di segala bidang baik moril, materiil,

maupun intelektual, dengan kata lain heroisme yang dibutuhkan bukan lagi

pahlawan yang gugur, tetapi pahlawan yang masih hidup, pahlawan di segala

bidang. Merekalah yang akan mengangkat martabat bangsa dari yang terjajah

menjadi terhormat ditengah-tengah pergaulan internasional. Oleh karena itu

dibutuhkan semangat dan kerja keras untuk mengisi kemerdekaan, dedikasi

terbaik dari putra-putri bangsa untuk membebaskan dari belenggu kebodohan dan

kemiskinan.

Menurut Yonky Karman (Kompas, 9 Nopember 2002), sekarang didepan

kita problem nasional, yang dibutuhkan dedikasi terbaik dari putra-putri bangsa.

Dibutuhkan pahlawan-pahlawan yang tanpa pamrih, bukan pahlawan yang takut

kehilangan jabatan, pahlawan yang hanya mementingkan kelompok atau individu.

2
Keberanian dalam membela keadilan dan kebenaran ; Kepahlawanan.
Balai Pustaka. Kamus Besar Bahasa Indonesia. (Jakarta: 2005). hlm. 17.
33

Dari berbagi uraian diatas secara singkat ciri-ciri orang-orang yang

memiliki sikap kepahlawanan dapat dikemukakan sebagai berikut :

a. Adanya rasa cinta tanah air.

b. Rela berkorban tanpa pamrih.

c. Cinta terhadap sesama.

d. Berani membela kebenaran dan keadilan

e. Suka belajar dan bekerja keras.

f. Pantang menyerah dalam menghadapi sesuatu.

g. Ulet dan bertanggung jawab.

h. Cinta alam ciptaan Tuhan dan seisinya.

i. Terbuka dalam menerima kritik dan saran.

j. Menatap masa depan dengan optimistis

Dalam kaitannya dengan persepsi siswa terhadap Mohammad Hatta

sebagai pahlawan nasional, sikap kepahlawanan ini dapat diartikan bahwa dengan

mempersepsikan Mohammad Hatta sebagai pahlawan nasional, siswa akan

terdorong untuk berbuat sesuatu yang mengandung nilai-nilai kepahlawanan.

Nilai-nilai atau sikap-sikap kepahlawanan yang diharapkan dimasa sekarang

seperti yang diutarakan oleh Yonky Karman (Kompas, 9 Nopember 2002) adalah

a. Cinta tanah air dan bangsa.

b. Berani membela kebernaran dan keadilan.

c. Memiliki dedikasi yang tinggi.

d. Suka belajar dan bekerja keras.

e. Menyayangi sesama.
34

f. Cinta alam ciptaan tuhan dan seisinya.

g. Mempunyai cita-cita yang luhur.

h. Suka bermusyawarah.

i. Memandang hari depan dengan optimis.

j. Mendahulukan kepentingan umum.

D. Kerangka Berpikir

Persepsi adalah suatu proses pengalaman suatu obyek atau peristiwa

dengan menyimpulkan informasi dan menafsirkan pesan yang ditangkap oleh

panca indera. Jadi kita dapat mempersepsikan suatu kejadian bila kita melihat

obyek dengan alat indera kita atau dengan cara menyimpulkan informasi-

informasi dari orang lain tentang obyek tertentu kemudian kita dapat menafsirkan

obyek tersebut.

Dalam kegiatan belajar mengajar materi sejarah yang disampaikan oleh

guru dikelas merupakan konsep-konsep yang masih bersifat abstrak atau dalam

tatanan ide/gagasan, untuk itu diperlukan guru sejarah yang profesional dimana

guru sejarah dituntut untuk menjabarkan konsep yang bersifat abstrak tersebut

menjadi sesuatu yang lebih nyata atau konkrit. Dengan demikian hubungan antara

bung Hatta dengan sejarah Indonesia terdapat hubungan timbal balik. Bung Hatta

dipengaruhi sejarah Indonesia, dan sebaliknya Hatta ikut menentukan

perkembangan sejarah Indonesia.

Ketika siswa ditanyakan oleh seorang guru, siapakah bung Hatta ? dengan

demikian perlu adanya pandangan siswa terhadap Mohammad Hatta yang


35

dikaitkan dengan proses belajar mengajar sehingga tumbuh nilai-nilai

kepahlwanan. Dengan kata lain persepsi terhadap penokohan Mohammad Hatta

sebagai pahlawan nasional, kerangka berpikir tersebut dapat digambarkan sebagai

berikut :

Bagan 3

Kerangka Berpikir

Positif
PBM
Persepsi Tidak tahu Nilai Kepahlawanan
Moh. Hatta Negatif
BAB III

METODE PENELITIAN

A. Dasar Penelitian

Metode penelitian yang digunakan untuk mengkaji tentang persepsi siswa

terhadap penokohan Mohammad Hatta sebagai pahlawan nasional adalah metode

kualitatif.

Menurut Bogdan dan Taylor penelitian kualitatif adalah prosedur

penelitian yang menghasilkan data dan deskriptif berupa kata-kata tertulis atau

lisan dari orang-orang dan pelaku yang diamati (Moleong, 2002 : 3).

Metode penelitian kualitatif digunakan dalam penelitian ini dengan

beberapa pertimbangan. Pertama, menyesuaikan metode kualitatif lebih mudah

apabila berhadapan dengan kenyataan ganda. Kedua, metode ini menyajikan

secara langsung hakekat hubungan antara penelitian dan responden dan ketiga,

metode ini lebih peka dan lebih dapat menyesuaikan diri dengan banyak

penajaman pengaruh bersama dan terhadap pola-pola nilai yang dihadapi

(Moleong, 2002 : 5).

Terkait dengan jenis penelitian tersebut, maka pendekatan penelitian

bertumpu pada pendekatan fenomenologis1, yakni usaha untuk memahami arti

peristiwa dan kaitan-kaitannya terhadap orang-orang biasa dalam situasi-situasi

tertentu (Moleong, 2002 : 9). Disini peneliti berusaha untuk masuk kedalam dunia

konseptual para subyek yang diteliti sedemikian rupa sehingga mereka mengerti

1
Hal-hal yang dapat disaksikan dengan panca indra dan dapat diterangkan serta dinilai secara
ilmiah. Balai Pustaka. Kamus Besar Bahasa Indonesia (Jakarta: 2005). hlm. 315.

36
37

apa dan bagaimana suatu pengertian yang dikembangkan oleh mereka disekitar

peristiwa dalam kehidupan sehari-hari. Dengan pendekatan inilah diharapkan

bahwa persepsi siswa terhadap penokohan Mohammad Hatta sebagai pahlawan

nasional di SMA Negeri 1 Pecangaan Kabupaten Jepara dapat dideskripsikan

secara lebih teliti dan mendalam.

Adapun desain penelitian adalah studi kasus, berdasar pada pertimbangan

bahwa tujuan studi kasus adalah untuk memberikan gambaran secara mendetail

tentang latar belakang, sifat-sifat serta karakter-karakter yang khas dari kasus.

Studi kasus digunakan untuk keperluan penelitian, mencari kesimpulan dan

diharapkan dapat ditemukan pola, kecenderungan, arah dan lainnya yang dapat

digunakan untuk membuat perkiraan-perkiraan perkembangan masa depan

(Muhadjir, 1989 : 62)

Bentuk studi kasus dalam penelitian ini adalah Obsevasional Case Studies

dengan melakukan observasi terhadap pembelajaran di SMA Negeri 1 Pecangaan

Kabupaten Jepara. Obsevasional Case Studies memusatkan perhatian pada aspek

tertentu atau berbagai aspek dari suatu organisasi dengan menggunakan teknik

observasi partisipasi (Bogdan dan Biklen 1982 : 59).

Penelitian ini tidak dimaksudkan untuk menguji hipotesis tertentu, tetapi

lebih menggambarkan “apa adanya” tentang suatu variabel atau keadaan. Kata-

kata yang tergambar dalam penelitian deskriptif bertolak pada penafsiran data

yang melalui suatu alur berpikir logis “tesa-antitesa dan sintesa”. Biklen (1982 :

38) menekankan bahwa penelitian yang bersifat deskriptif selain mendiskripsikan

berbagai kasus yang sifatnya umum tentang berbagai fenomena sosial yang
38

ditemukan, juga untuk mendeskripsikan hal-hal yang bersifat spesifik yang

disoroti dari sudut “mengapa” dan “bagaimana”an-nya tentang sesuatu yang

terjadi.

B. Fokus Penelitian

Fokus adalah masalah yang ditiliti dalam penelitian. Pada dasarnya fokus

merupakan pembatasan masalah yang terjadi obyek penelitian. Sesuai dengan

perumusan masalah dan tujuan penelitian, maka yang menjadi fokus dalam

penelitian ini adalah persepsi siswa terhadap penokohan Mohammad Hatta

sebagai pahlawan nasional. Sebelum mengenal dan mempersepsikan sosok

Mohammad Hatta, siswa terlebih dahulu menerima pokok bahasan tentang

proklamasi kemerdekaan Indonesia dan upaya menegakkan kedaulatan. Dengan

demikian siswa mampu mempersepsikan tokoh tersebut.

Indikator-indikator yang dapat digunakan untuk mengetahui sosok

Mohammad Hatta sebagai pahlawan nasional adalah:

1. Proses belajar mengajar pokok bahasan proklamasi kemerdekaan Indonesia

dan upaya menegakkan kedaulatan.

2. Sejarah Mohammad Hatta.

Penelitian ini dilakukan di Jepara, tepatnya di SMA Negeri I Pecangaan

Kabupaten Jepara yang merupakan salah satu SMA terfavorit dikota Jepara.

Dengan letak yang tidak terlalu jauh dari pusat kota Jepara tepatnya 14 km dan 2

km dari pusat Kecamatan Pecangaan yang tiap tahunnya meluluskan siswa siswi
39

yang berkompeten, maka SMA tersebut menurut peneliti memenuhi syarat untuk

dilaksanakan penelitian.

C. Sumber Data Penelitian

Sumber data penelitian kualitatif adalah kata-kata dan tindakan, selebihnya

merupakan data tambahan seperti dokumen dan lainnya (Moleong, 2002 : 112).

Dengan demikian, sumber data penelitian yang bersifat kualitatif ini adalah

sebagai berikut:

1. Sumber Data Primer

Sumber Data Primer adalah Sumber data yang diperoleh secara langsung

melalui wawancara dengan responden atau informan lapangan yang berkaitan

dengan penelitian ini yakni siswa SMA Negeri 1 Pecangaan Kabupaten Jepara

terutama kelas XI pada pokok bahasan sejarah pergerakan nasional.

2. Sumber Data Sekunder

Sumber Data Sekunder adalah data yang diperoleh secara tidak langsung

dari sumbernya yaitu buku-buku, makalah-makalah penelitian, dokumen dan

sumber lain yang relevan. Data sekunder yang telah peneliti gunakan berupa

dokumen sekolah berkenaan dengan profil dari SMA Negeri Pecangan Kabupaten

Jepara.

D. Teknik Sampling

Teknik Sampling disini adalah cara untuk mengambil sampel penelitian

yaitu menentukan informan yang dianggap mampu menjawab dan memecahkan


40

permasalahan yang peneliti diajukan. Tujuan dari sampling ini adalah untuk

merinci kekhususan yang ada ke dalam ramuan konteks yang unik dan guna

menggali informasi yang akan menjadi dasar dari rancangan dan teori yang

muncul.

Penelitian ini adalah penelitian kualitatif yang bersifat deskriptif, maka

sampel yang digunakan adalah sampel bertujuan atau purposive sample yakni

menurut sampel yang dihubungi dengan ketentuan tertentu yang diterapkan

berdasarkan penelitian. Dengan kata lain pengumpulan data dimulai dari beberapa

orang yang memenuhi kriteria untuk dijadikan anggota sampel, mereka kemudian

menjadikan sumber informasi mengenai orang lain yang juga dapat dijadikan

anggota sampel. Orang-orang yang ditentukan ini kemudian dijadikan anggota

sampel dan selanjutnya diminta menunjukan orang lain yang memenuhi kriteria

untuk dijadikan sampel. Demikian seterusnya sampel jumlah anggota yang

diinginkan terpenuhi.

Teknik sampel bertujuan ini, peneliti gunakan dengan pertimbangan

adanya karakteristik dalam suatu populasi. Karakteristik yang dimaksud disini

adalah memenuhi kriteria untuk dijadikan sampel yakni siswa yang berkompeten

dan disesuaikan dengan materi pelajaran yang sedang diajarkan pada saat ini.

Berkaitan dengan itu, maka ditetapkan siswa yang memenuhi kriteria

sebagai informan dalam peneliti ini adalah siswa kelas XI SMA Negeri I

Pecangaan yang sedang mendapatkan materi tentang pokok bahasan proklamasi

kemerdekaan Indonesia dan upaya menegakkan kedaulatan yang di dalamnya

terdapat peran tokoh nasional yaitu Mohammad Hatta.


41

Tabel. I
Matriks Pengambilan sampel

No. Kelas Jumlah Keterangan


Populasi Sampel
1. XI. IA. 1 44 14
2. XI. IA. 2 44 14
3. XI. IA. 3 42 14
Jumlah 130 42
Teknik analisis yang digunakan adalah analisis deskriptif prosentase,
dengan rumus sebagai berikut :
Jumlah Responden yang menjawab
X 100%
Jumlah Responden X Jumlah item pertanyaan

E. Teknik Pengumpulan Data

Karakteristik utama dalam penelitian kualitatif adalah sumber daya yang

diperoleh dari lapangan (natural setting) sudah tentu data yang diperoleh dari

lapangan harus lengkap, sehingga peneliti dalam waktu yang cukup lama berada

dilapangan guna memperoleh gambaran proses yang komprehensif dan

menyeluruh. Dengan kata lain peneliti berusaha melakukan pengamatan tentang

proses belajar mengajar sejarah yang dilakukan oleh guru dan siswa yang

berkompeten untuk menjawab semua pernyataan yang diajukan peneliti. Untuk

mengumpulkan data yang diperlukan dalam penelitian ini, penulis menggunakan

beberapa metode yaitu :

1. Observasi langsung.

Observasi yang dilakukan peneliti adalah observasi langsung di SMA

Negeri I Pecangaan Kabupaten Jepara dengan menekankan fokus dari observasi

terlebih dahulu yaitu keadaan fisik di SMA Negeri I Pecangaan dengan


42

menentukan sarana dan prasanana, media dan alat pembelajaran serta

pembelajaran sejarah dengan sistem KBK.

Berkaitan dengan observasi ini, peneliti telah menetapkan aspek-aspek

tingkah laku yang hendak diobservasi yang kemudian peneliti rinci dalam bentuk

pedoman agar lebih memudahkan peneliti dalam pengisian observasi. Namun

demikian tidak menutup kemungkinan bagi peneliti untuk mencatat hal-hal yang

belum dirumuskan dalam instrumen observasi.

2. Wawancara

Wawancara menurut Sudijono (2000 : 82) adalah cara menghimpun

bahan-bahan keterangan yang dilaksanakan dengan melakukan tanya jawab secara

sepihak, berhadapan muka dengan arah serta tujuan yang telah ditentukan. Untuk

menjaga kredibilitas hasil wawancara perlu adanya pencatatan data peneliti

lakukan dengan menyiapkan tape- recorder2 yang berfungsi untuk merekam hasil

wawancara.

Wawancara ini digunakan untuk mengungkapkan data tentang proses

pembelajaran sejarah di SMA Negeri I Pecangaan khususnya kelas XI serta

persepsi siswa terhadap Mohammad Hatta sebagai pahlawan nasional sehingga

dapat diambil nilai-nilai kepahlawanan yang diterapkan dan di junjung tinggi oleh

Mohammad Hatta.

Wawancara atau interview ini bersifat open ended artinya bahwa

wawancara dimana jawabanya tidak terbatas pada satu tanggapan saja, sehingga

peneliti dapat bertanya kepada informan tidak hanya tentang hakekat suatu

2
Alat perekam suara.
43

peristiwa melainkan juga akan bertanya mengenai pendapat responden mengenai

peristiwa tersebut. Disamping itu, terkadang peneliti juga akan meminta informan

untuk mengemukakan pengertiannya sendiri tentang suatu peristiwa yang

kemudian dapat dipakai sebagai suatu batu loncatan untuk mendapat keterangan

lebih lanjut.

Wawancara dilakukan kepada informan yang benar-benar dapat

memberikan keterangan-keterangan tentang persoalan dan dapat mambantu

memecahkan permasalahan yang dihadapi dalam penelitian ini. Tidak menutup

kemungkinan bahwa dalam wawancara ini, timbul masalah-masalah seperti

ingatan responden yang tidak sempurna, analisis responden yang tidak cermat dan

sebagainya. Sehingga dalam hal ini peneliti juga akan memadukan sumber bukti

dari wawancara ini dengan informasi-informasi lainnya yang memadai.

Wawancara yang peneliti lakukan adalah wawancara terstruktur yakni

wawancara yang pewawancaranya menetapkan sendiri masalah dan pernyataan-

pernyataan yang akan diajukan (Moleong 2002 : 138). Dengan demikian, sebelum

wawancara dengan informan tersebut dilakukan, peneliti telah menyiapkan

instrumen wawancara yang berisi pertanyaan-pertanyaan yang terkait dengan

proses belajar mengajar sejarah dan persepsi terhadap penokohan Mohammad

Hatta sebagai pahlawan nasional.

Kredibilitas hasil wawancara, untuk menjaganya perlu adanya pencatatan

data yang peneliti lakukan dengan menyiapkan tape-recorder yang berfungsi

untuk merekam hasil wawancara. Mengingat bahwa tidak setiap informan suka

dengan adanya alat tersebut karena merasa tidak bebas ketika diwawancarai, maka
44

peneliti meminta ijin terlebih dahulu kepada informan dengan menggunakan tape-

recorder tersebut. Disamping menggunakan tape recorder, peneliti juga

membuat catatan-catatan yang berguna untuk membantu peneliti dalam

merencanakan pertanyaan berikutnya dan juga meminta peneliti untuk mencari

pokok-pokok penting dalam pita suara sehingga mempermudah analisa.

Meskipun dikatakan bahwa sumber diluar kata dan tindakan merupakan

sumber sekunder, jelas hal ini tidak bisa diabaikan oleh peneliti. Dengan demikian

peneliti tetap menggunakan data tambahan yang berasal dari sumber tertulis

melalui dokumen resmi, makalah-makalah penelitian dan buku-buku yang relevan

dengan penelitian ini. Studi dokumen resmi yang dilakukan adalah

mengumpulkan data melalui pencatatan atau data-data tertulis mengenai keadaan

SMA yang diteliti yakni SMA Negeri 1 Pecangaan Kabupaten Jepara.

Data tambahan lainnya adalah diperoleh dari foto, baik itu foto tentang

orang dan latar penelitian. Dengan foto ini diharapkan kredibilitas penelitian ini

dapat dipertanggung jawabkan karena telah sifat-sifatnya khas dari kasus yang

diteliti dengan menggunakan foto.

F. Keabsahan Data

Keabsahan data tidak dapat dilepaskan dari penelitian kualitatif karena

terkait dengan derajat kepercayaan dari hasil penelitian yang dilakukan. Hasil

penelitian dikatakan valid dan reliabel apabila dilaksanakan pemeriksaan terhadap

keabsahan data secara cermat dan menggunakan teknik yang tepat.


45

Peneliti menggunakan teknik triangulasi guna memeriksa keabsahan data

dalam penelitian ini. Triangulasi adalah teknik pemeriksaan keabsahan data

dengan memanfaatkan sesuatu yang lain diluar data itu untuk keperluan

pengecekan atau sebagai pembanding terhadap data itu. Denzim (1978)

membedakan empat macam triangulasi sebagai teknik pemeriksaan yang

memanfaatkan penggunaan sumber, metode, penyidik dan teori (Moleong, 2002 :

178). Dari keempat triangulasi ini yang peneliti gunakan dalam penelitian ini

adalah dengan teknik triangulasi sumber dan triangulasi metode.

Triangulasi sumber adalah teknik pengujian dengan cara membandingkan

dan mengecek balik derajat kepercayaan suatu informasi yang diperoleh pada

waktu alat yang beda. Pengujian data dengan teknik triangulasi sumber ini

ditempuh melalui usaha-usaha sebagai berikut:

1. Membandingkan data hasil pengamatan (observasi) dengan data hasil

wawancara tentang persepsi siswa terhadap penokohan Mohammad Hatta

sebagai pahlawan nasional.

2. Membandingkan keadaan dan perspektif seseorang dengan berbagai pendapat

dan pandangan orang lain. Dalam hal ini mengkroscek kepada guru yang

bersangkutan yaitu Mahasin Darmawan, S.Pd dan Drs. Cahyo Purnomo selaku

guru yang mengampu mata pelajaran sejarah kelas XI SMA Negeri

Pecangaan.

Triangulasi metode, digunakan peneliti untuk pengecekan derajat

kepercayaan beberapa sumber data dengan metode yang sama. Untuk itu semua

informan yang di wawancarai tiap-tiap informan berbeda, dengan item pertanyaan


46

yang sama. Dengan demikian akan diperoleh data yang dapat digunakan untuk

mengklasifikasi data di lapangan.

G. Metode Analisa Data

Menurut Bogdan dan Taylor, analisa data adalah proses yang merinci

usaha secara formal untuk menemukan tema dan merumuskan hipotesis atau ide

seperti yang disarankan oleh data dan sebagai usaha untuk memberikan bantuan

pada tema dan hipotesis itu (Moleong, 2002 : 103).

Analisis data dilakukan dengan mengkaji makna yang terkandung di

dalamnya. Kategori data, kriteria untuk setiap kategori, analisis hubungan antar

kategori, dilakukan peneliti sebelum membuat interpretasi. Peranan statistik tidak

diperlukan karena ketajaman analisis penelitian terhadap makna dan konsep dari

data cukup sebagai dasar dalam menyusun temuan penelitian, karena dalam

penelitian kualitatif selalu bersifat deskriptif artinya data yang di analisa dalam

bentuk deskriptif fenomena, tidak berupa angka atau koefisien tentang hubungan

antar variabel.

Menurut Miles dan Huberman (1992 : 159), ada dua jenis analisa data

yaitu:

1. Analisa Mengalir/Flow analysis models

Dimana dalam analisis mengalir, tiga komponen analisis yakni reduksi

data, sajian data, penarikan kesimpulan atau verifikasi dilakukan secara mengalir

dengan proses pengumpulan data dan saling bersamaan.

2. Analisis Interaksi/Interactive analysis models


47

Dimana komponen reduksi data dan sajian data dilakukan bersamaan

dengan proses pengumpulan data. Setelah data terkumpul maka tiga komponen

analisis (reduksi data, sajian data, penarikan simpulan atau verifikasi) berinteraksi.

Dalam kaitannya dengan penelitian ini, peneliti menggunakan analisis

kedua yakni model analisis interaksi atau interactive analysis models dengan

langkah-langkah yang tempuh adalah sebagai berikut.

1. Pengumpulan data

Penelitian mencari data melalui wawancara, observasi langsung,

dokumentasi di SMA Negeri 1 Pecangaan Kabupaten Jepara, kemudian

melaksanakan pencatatan data.

2. Reduksi data

Setelah data tersebut terkumpul dan tercatat semua, selanjutnya direduksi

yaitu menggolongkan, mengartikan, membuang yang tidak perlu dan

mengorganisasikan sehingga nantinya mudah dilakukan penarikan kesimpulan.

Jika yang diperoleh kurang lengkap maka peneliti mencari kembali data yang

diperlukan dilapangan.

3. Penyajian data

Data yang telah direduksi tersebut merupakan sekumpulan informasi yang

kemudian disusun atau diajukan sehingga memberikan kemungkinan adanya

penarikan kesimpulan dan pengambilan tindakan.

4. Penarikan kesimpulan atau verifikasi

Setelah data disajikan, maka dilakukan penarikan kesimpulan atau

verifikasi. Dalam penarikan kesimpulan atau verifkasi ini, didasarkan pada


48

reduksi data yang merupakan jawaban atas masalah yang diangkat dalam

penelitian ini.

Secara sistematis, langkah-langkah analisis interaksi diatur dapat

digambarkan dalam skema :

Bagan 4

Model Analisis Interaksi

Pengumpulan Penyajian
data data

Reduksi Penarikan
simpulsn/
data
verifikasi

(Miles dan Huberman, 1992 : 20)

Dalam pandangan ini ada tiga jenis kegiatan analisis dan kegiatan

pengunpulan data itu sendiri merupakan proses siklus dan interaktif. Peneliti harus

siap bergerak diantara empat sumbu kumparan itu selama pengumpulan data,

selanjutnya bergerak bolak-balik diantara kegiatan reduksi, penyajian, dan

penarikan kesimpulan/verifikasi selama sisa waktu penelitiannya. Pengkodean

data, misalnya (reduksi data), menjurus ke arah gagasan-gagasan baru guna di

masukkan ke dalam suatu matriks (penyajian data). Pencatatan data

mempersyaratkan reduksi data selanjutnya.


49

Dalam pengertian ini, analisis data kualitatif merupakan upaya yang

berlanjut, berulang dan terus menerus. Masalah reduksi, data penyajian data, dan

penarikan kesimpulan/verifikasi menjadi gambaran keberhasilan secara berurutan

sebagai rangkaian kegiatan analisis yang saling susul menyusul. Namun dua hal

lainnya itu senantiasa merupakan bagian dari lapangan.

H. Prosedur Penelitian

Untuk memberikan gambaran mengenai prosedur dan penelitian ini,

berikut akan diuraikan setiap pentahapannya:

1. Tahap orientasi

Tahap ini dilakukan sebelum merumuskan masalah secara umum. Dalam

tahap ini peneliti belum menentukan fokus dari penelitian ini, peneliti hanya

berbekal dari pemikiran tentang kemungkinan adanya masalah yang layak

diungkapkan dalam penelitian ini. Perkiraan itu muncul dari hasil membaca

berbagai sumber tertulis dan juga hasil konsultasi kepada yang berkompeten,

dalam hal ini yakni dosen pembimbing skripsi I dan pembimbing skripsi II.

2. Tahap eksplorasi

Pada tahap ini peneliti melakukan pengumpulan data, guna mempertajam

masalah, dan untuk dianalisis dalam rangka memecahkan masalah atau

merumuskan kesimpulan atau menyusun teori. Disamping itu, pada tahap ini pun

peneliti juga telah melakukan penafsiran data untuk mengetahui maknanya dalam

konteks keseluruhan masalah sesuai dengan situasi alami, terutama menurut sudut

pandang sumber datanya.


50

3. Tahap pengecekan kebenaran hasil penelitian

Hasil penelitian yang sudah tersusun ataupun yang belum tersusun sebagai

laporan dan bahkan penafsiran data, perlu dicek kebenarannya sehingga ketika di

distribusikan tidak terdapat keragu-raguan. Pengecekan tersebut peneliti lakukan

dengan menggunakan teknik triangulasi sumber dan metode.


BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Deskripsi Lokasi Penelitian

Berdasarkan data yang diperoleh melalui observasi dan studi dokumentasi

resmi dari pihak sekolah, diperoleh mengenai profil dari SMA yang diteliti yakni

SMA Negeri 1 Pecangaan Kabupaten Jepara.

SMA Negeri 1 Pecangaan Kabupaten Jepara terletak di Jl. Raya Pecangaan-

Jepara dengan kode pos 59462. SMA Negeri 1 Pecangaan didirikan pada tahun

1984 dan mengalami perubahan pada tahun yang sama. Jarak ke pusat kecamatan

sejauh 2 km dan jarak ke pusat otoda 14 km. Kepala SMA Negeri 1 Pecangaan

sampai sekarang Drs. Waluyo M.M dengan staff mengajar atau guru sejarah

sebanyak 2 orang yaitu Drs. Cahyo Purnomo yang merupakan Guru tetap dan

Mahasin Darmawan, S.Pd yang masih dalam status guru tidak tetap.

SMA Negeri 1 Pecangaan memiliki Visi yaitu sekolah unggulan dengan

outcome tinggi berwawasan IPTEK, IMTAQ, santun dalam berbudi pekerti dan

berbahasa. Sedangkan Misinya meningkatkan perestasi siswa baik akademik

maupun non akademik dengan menekankan pada pengetahuan, keterampilan dan

sikap, dengan motto kedisiplinan kunci keberhasilan.

Tahun ajaran 2006/2007 SMA Negeri 1 Pecangaan memiliki 21 kelas

dengan perincian 7 kelas tiap-tiap angkatan. Untuk siswa kelas XI jumlah

keseluruhan siswa sebanyak 287 orang yang terbagi dalam 3 jurusan masing-

51
52

masing 130 orang untuk jurusan IPA, 129 untuk jurusan IPS dan 28 untuk jurusan

bahasa.

B. Sejarah Mohammad Hatta

1. Masa Kecil dan Pendidikan Hatta

Mohammad Hatta dilahirkan di Bukittinggi pada tanggal 12 Agustus 1902.

Ayah Hatta bernama Haji Mohammad Djamil, beliau meninggal pada saat

Mohammad Hatta dalam usia 8 (delapan) bulan. Setelah ayahnya meninggal

Mohammad Hatta diasuh oleh pamannya yaitu Syaikh Arsyad seorang ulama Batu

Kampar. Pengaruh pamannya tercermin pada sikap hidup Hatta yang taat dalam

menjalankan ibadah.

Bung Hatta masuk sekolah rakyat Bukittinggi hanya dua tahun, kemudian

pindah ke ELS1 di Padang pada tahun 1913 dan tamat pada tahun 1917. Setamat

dari ELS ia melanjutkan studinya dengan masuk MULO2 (Meer Uitgrebeid Lager

Onderwijs) dan lulus tahun 1919. Kemudian pendidikannya dilanjutkan ke

Batavia (Jakarta) dan masuk Prins Hendrik school (PHS)3 lulus tahun 1921

(Wawan, 2001 : 5). Di masa mengenyam pendidikan di MULO dan PHS, Hatta

memang sudah mendapat percikan-percikan pemikiran yang berkaitan dengan

permasalahan kolonial. Kendatipun sumber pemikiran yang ia terima bukan hanya

dari sekolah melainkan juga dari orang-orang yang pernah dikenalnya.

1
Europese Lagere School (setingkat sekolah dasar untuk orang-orang kulit putih).
2
Meer Uitgrebeid Lager Onderwijs (setingkat sekolah menengah pertama) lama belajarnya tiga
tahun.
3
Prins Hendrik school (sekolah dagang Prins Hendrik) lama belajarnya tiga tahun.
53

Ketika belajar di MULO beliau mulai aktif dalam organisasi antara lain JSB

(Jong Sumatranen Bond) perkumpulan pemuda Sumatera. Dalam organisasi JSB

mula-mula ia menjadi bendahara, setahun kemudian menjadi sekretaris

merangkap bendahara cabang Padang, berarti ia telah menempatkan dirinya

diantara kawan-kawannya sebagai seorang yang dipercaya, baik dalam memegang

urusan keuangan dalam memutar roda organisasi.

Kesadaran Hatta bermasyarakat berkembang secara positif dan ia mulai

menyadari tentang ketidakadilan yang dialami oleh pamannya yaitu Rais yang

ditangkap oleh pemerintah karena mengkritik seorang pejabat Belanda yang

melakukan perbuatan tidak senonoh. Kesadaran politik dalam diri Hatta mulai

berkembang setelah ia bersekolah di MULO. Ia selalu menghadiri ceramah-

ceramah politik yang diadakan oleh tokoh-tokoh lokal (seperti Sutan Said Ali dan

Abdoel Moeis).

Pengenalan politik diperoleh Hatta dari pergaulannya dengan para aktivis

Serikat Usaha dari Taher Marah Sutan, sekretaris Sarekat Usaha. Seusai

menamatkan studinya di MULO Padang, Hatta melanjutkan di Prins Hendrik

School (Sekolah Dagang Prins Hendrik) di Jakarta. Di Sarekat Usaha Mohammad

Hatta juga memperoleh kesempatan untuk membaca berbagai koran, dan ia mulai

mengenal tulisan Tjokroaminoto, Haji Agus Salim dan Abdul Muis.

Hatta mengakui sangat kagum dengan pemikiran Haji Agus Salim dan

menyatakan sangat mempengaruhi dirinya. Hatta mengakui bahwa waktu ia masih

belum mengerti politik dan baru memperhatikan ketika sedang belajar di

Nederland dan menempuh haluan itu yang disebut non-kooperatif. Padahal Haji
54

Agus Salim sendiri merubah pendiriannya dengan keluar dari Volksraad dan

menjadi penganjur politik non-kooperatif4 yang terkemuka di Indonesia (Hatta,

1979 : 53).

Semasa sedang studi di PHS percikan pemikiran dari berbagai tokoh terus

mengalir kepada diri Hatta. Seperti yang terjadi ketika ia berkenalan dengan

Abdul Muis. Dari Abdul Muis inilah ia memulai memahami persoalan tanah

airnya yang sedang dihisap oleh penjajah. Selain itu pertemuannya dengan Abdul

Muis yang terjadi sekitar pertengahan Maret 1920, Hatta mendapat keterangan

tentang adanya “Janji November”5. Belanda menjajikan sebuah perubahan yang

sesuai dengan perkembangan jaman (Hatta, 1979 : 88-90).

Semasa di PHS pula, Hatta dikenal sebagai sosok pelajar yang pintar dan

gemar membaca. Dari membaca inilah ia melanjutkan dengan diskusi dengan

rekan, maupun orang yang paham dan menguasainya. Seperti yang pernah beliau

ungkapkan di memoirnya, bahwa ia memiliki pengetahuan tentang sosialisme

berasal dari buku De Socialisten yang berisi enam jilid dari pemberian pamannya.

Pengetahuan Hatta tentang sosialisme juga di dapat dari pembicaraannya

dengan Haji Agus Salim yang terjadi pada pertengahan 1920. Ia mendapat

penjelasan mengenai sosialisme Islam (Hatta, 1979 :87). Penjelasan dari Haji

Agus Salim mengenai sosialisme tersebut memperkuat dalam jiwa Hatta dan

dipelajarinya untuk diterapkan pada masyarakat tentunya dipadukan dengan nilai-

4
Suatu strategi yang bergantung pada kemampuan dan kekuatan sendiri.
Wawan. Pertentangan Sukarno VS Hatta. (Jakarta: 2003). hlm. 25.
5
Janji November 1918, tentang pidato Gubernur Jenderal Limburg Stirum tanggal 18 November
1918 di depan sidang Volksraad untuk memberikan hak otonomi kepada Indonesia secara
berangsur-angsur.
Ensiklopedi Nasional Indonesia jilid 6.(Jakarta: 1989). hlm. 363.
55

nilai islam sehingga dalam pemikirannya mengenai sosialisme kental dengan

unsur religius.

Pribadi Mohammad Hatta tampaknya terus berkembang, ia bagai menanti

tugas-tugas besar yang tambah intensif, tapi akhirnya Mohammad Hatta cepat

matang dalam politik, tapi bukan disebabkan oleh pengaruh barat, tapi matangnya

politik disebabkan dari masyarakat kolonial sendiri.

Menurut Hatta dalam masyarakat kolonial politik yang dijalankan oleh pihak

terjajah lebih merupakan propaganda bagi cara-cara kemerdekaan, melarang

pemuda-pemuda Indonesia berpolitik. Mereka juga mengenal pertentangan ras

serta pertentangan dalam masyarakat kolonial antara kulit putih dan sawo matang,

antara penjajah dan terjajah. Oleh karena itu pengalaman sendirilah yang memberi

bentuk dan mengisi pribadi pemuda Indonesia.

2. Pengalaman Organisasi Sosial Politik Hatta

Seperti yang sudah diuraikan, Hatta mulai mengenal dan terjun di dalam

kegiatan organisasi sejak masih sekolah di MULO, yakni menjadi anggota JSB

(Jong Sumateranen Bond) sebuah organisasi kepemudaan yang berlatar belakang

daerah. Di organisasi inilah Hatta banyak mendapat pengaruh pemikiran dari

orang-orang disekelilingnya. Seperti pemikiran tentang keorganisasian dan etos

kerja dai Taher Marah Sutan, sekretaris Sarekat Usaha. Dalam membina dan

mengelola JSB, Hatta menerapkan mengenai konsep pentingnya pendidikan

politik bagi bangsa Indonesia dari pada bentuk gerakan massal yang tergantung
56

pada seseorang tokoh, dan pemikiran tersebut ia lontarkan pula pada waktu

menjadi annggota partai Perhimpunan Indonesia (PI).

Ketika sedang mengenyam pendidikan di Jakarta (PHS). Hatta kemudian

ditunjuk menjadi bendahara di cabang pusat JSB, dan disinilah ia memiliki akses

langsung kepada pemimpin Sarekat Islam asal Minangkabau, seperti Abdul Muis

dan Haji Agus Salim yang pernah ia kagumi tatkala masih di Padang (Wawan,

2001 : 5). Ia juga sering berdiskusi dengan siswa sekolah kedokteran STOVIA

tentang hal-hal yang bersangkutan dengan kedudukan bangsa dan kemerdekaan.

Hatta telah mengenal kenyataan pahit ketika ia melihat dengan mata kepala

sendiri nasib dan penderitaan bangsanya. Oleh sebab itu, dalam program hampir

semua organisasi pemuda yang ia masuki di Indonesia dan di barat mengacu pada

perjuangan mengangkat derajat bangsa. Apa yang dilakukan Hatta sebenarnya

sama dengan apa yang dilakukan oleh organisasi kepemudaan lainnya di

Indonesia (Deliar, 2001 : 118).

Dengan bekal pengalaman di JSB dan melalui penglihatan sendiri tatkala di

negeri Belanda, Hatta membekali diri dengan berbagai teori, panajaman

pandangan dan peneguhan pendirian, hal itu dilakukan baik di sekolah maupun di

organisasi (Deliar, 2001 : 119).

Aktivitas Hatta ketika baru beberapa hari di Belanda sudah terpengaruhi

oleh “propaganda”6 Nazir Simanjutak untuk masuk di Indische Vereeniging, dan

langsung menerima anjuran Nazir agar berkenalan dengan teman-teman di

6
Penerangan (paham, pendapat, dsb) yang benar atau salah yang dikembangkan dengan tujuan
meyakinkan orang agar menganut suatu aliran, sikap atau arah tindakan tertentu.
Ensiklopedi Nasional Indonesia jilid 6.(Jakarta: 1989). hlm. 363.
57

Leiden. Ia menolak tawaran menjadi pengurus Indische Vereeniging ketika terjadi

pergantian pengurus. Namun pada perkembangan selanjutnya terutama di

penghujung tahun 1925 Hatta seperti dibawa takdir untuk memusatkan tenaga dan

pikirannya dikancah politik.

Ketika di PI (Indische Vereeniging resmi menjadi PI)7 inilah Hatta menjadi

bendahara bahkan menjadi ketua di tahun 1956. pemikiran maupun aktivitas

politiknya telah digunakan untuk mencapai sebuah kemerdekaan Indonesia kelak

dikemudian hari. Hatta dikenal sebagai seorang sosialis, layaknya gaya pemikiran

barat. Pandangan sosialis yang melekat pada Hatta memang diakui sangat

dipengaruhi oleh pemikiran-pemikiran tokoh-tokoh sosialis Belanda. Namun

karena Hatta merupakan seorang yang religius, pemikiran sosialisnya kental

dengan unsur religius yang ia peroleh dari kedekatannya dengan Haji Agus Salim

terutama pengetahuan tentang hakekat sosialisme menurut Islam.

Hatta dikenal sebagai seorang demokrat yang memperjuangkan rakyat

secara serius, meskipun masih berada diluar negeri. Melalui tulisan-tulisan,

brosur, dan artikel-artikelnya ia menunjukkan kepada dunia luar adanya

perjuangan kemerdekaan di Indonesia. Percikan pemikiran tersebut kemudian ia

tuangkan dalam artikelnya kearah “ Indonesia Merdeka” tahun 1932. Menurutnya

rakyat adalah jiwa dan bangsa, hidup matinya bangsa, maju mundurnya bangsa

tergantung pada semangat rakyat. Sehingga rakyat perlu dijelmakan kepada

badan-badan perwakilan yang memiliki anggota pemerintah atas kemauan rakyat.

7
Organisasi yang berdiri pada tahun 1908, kemudian berubah menjadi “Indonisische Vereniging”
pada tahun 1922 dan pada Januari 1924 diubah lagi menjadi Perhimpunan Indonesia (PI).
Wawan. Pertentangan Sukarno VS Hatta. (Jakarta: 2003). hlm. 13.
58

Dari pengalamannya di PI inilah Hatta telah banyak mendapatkan percikan

pemikiran yang pada akhirnya mengkristalkan pemikiran Bung Hatta mengenai

bentuk negara Indonesia setelah mencapai kemerdekaan. Menurutnya tidak ada

sistem lain yang terbaik selain sistem demokrasi dalam bentuk koperasi.

Ketika di PI pulalah Hatta terkenal sebagai seorang tokoh yang

menggunakan taktik non-kooperatif. Pemikiran dan taktik ini dipengaruhi oleh

tindakan dan sikap Haji Agus Salim sewaktu di Volksraad8. Strategi non-

kooperasi yang dilakukan Hatta didasari oleh pandangan bahwa Belanda tidak

akan memberikan kemerdekaan karena Indonesia merupakan sumber ekonomi

yang vital bagi Belanda. Karena itu jalan terbaik untuk mencapai kemerdekaan

adalah melakukan strategi non-kooperasi, suatu strategi yang tergantung pada

kemampuan dan kekuatan sendiri (Wawan, 2001 : 25). Dasar pandangan tersebut

sesuai dengan apa yang pernah Hatta ketahui mengenai sikap Belanda dengan

adanya “Janji November” dari Abdul Muis, yang pada akhirnya hanya isapan

jempol, karena Belanda tidak bisa memenuhinya.

Sekembalinya ke tanah air pada tahun 1932, Hatta melanjutkan aktivitas

politiknya dengan memasuki PNI Baru (Pendidikan Nasional Indonesia) yang

merupakan partai dari akibat pecahnya PNI pimpinan Soekarno. PNI Baru ini juga

berhaluan non-kooperatif dan menerbitkan majalah “Daulat Rakyat”9. Untuk

memperkuat partai ini Hatta dan Sjahrir memberi kesepakatan, bahwa Sjahrir

kembali ke Indonesia dan memimpin PNI Baru (Ensiklopedia : 364).

8
Dewan Rakyat yang dibentuk oleh pemerintah Belanda.
9
Nama majalah yang dikeluarkan PNI Baru dalam mempertahankan azas kerakyatan dalam segala
susunan politik, perekonomian dan pergaulan sosial. Anhar Gonggong. Beralternatif di Tengah
Krisis : Mengikuti Cara Baik Bung Hatta. (Yogyakarta: 2002). hlm. 17.
59

Hatta meletakkan dasar perjuangan bagi PNI Baru, yakni mendidik rakyat

dalam hal-hal politik, ekonomi, dan sosial dengan memperhatikan azas-azas

kedaulatan rakyat. Melalui pendidikan politik tersebut, Hatta berharap agar

kesadaran rakyat akan hak dan harga diri mereka semakin kuat, juga agar

pengetahuan politik, ekonomi dan pemerintahan mereka bertambah luas.

Pendidikan ekonomi dimaksudkan untuk menumbuhkan tata ekonomi yang

berdasarkan cita-cita kolektivitas (koperasi) dan mengembangkan serikat sekerja.

Sasaran yang hendak dicapai dengan pendidikan sosial adalah mempertinggi

kesejahteraan rakyat dan menunjukkan cara-cara mengatasi hal-hal yang dapat

merusak sendi penghidupan nasional. Pendidikan itu dilakukan dengan cara

mengadakan kursus-kursus, rapat-rapat anggota atau tulisan-tulisan dalam majalah

bahlan PNI Baru mengeluarkan sebuah brosur “Ke arah Indonesia merdeka”

(KIM).

3. Masa Menjelang Kemerdekaan Indonesia

Di masa pendudukan Jepang, politik represif yang dijalankan pemerintahan

Hindia Belanda dalam tahun 1930-an menyebabkan partai-partai berhaluan politik

apa pun hampir tidak dapat bergerak. Bayangan akan timbulnya pemberontakan

selalu menghantui pemerintah. Pada tanggal 31 Juli 1933 Sukarno ditangkap,

Hatta ditangkap pada tanggal 25 Februari 1934, demikian halnya Sjahrir dan

beberapa tokoh PNI Baru lainnya. Setelah mendekam di penjara selama hampir

satu tahun, pada awal Januari 1935 mereka dibuang ke Digul, pedalaman Irian

Jaya. Pembuangan Hatta dan Sjahrir ke Digul dikecam oleh Menteri jajahan
60

Colijn, sehingga dalam bulan November 1935 kedua pemimpin Indonesia tersebut

dipindahkan ke Banda Neira yang kondisinya lebih baik daripada Digul. Pada

bulan Februari 1942, kurang lebih satu bulan sebelum pemerintah Hindia Belanda

menyerah kepada Jepang. Hatta dan Sjahrir dipindahkan ke Sukabumi, Jawa

Barat. Mereka akhirnya dibebaskan setelah Jepang berkuasa.

Walaupun membenci fasisme10, Hatta tidak mungkin menolak sama sekali

tawaran Jepang. Maka seperti halnya Sukarno, Hatta selama pendudukan Jepang

memilih untuk tampil secara terbuka. Tetapi Hatta menolak untuk bekerja sebagai

penasihat pemerintah. Dalam kedudukan kini ia berusaha mencegah berlakunya

peraturan-peraturan yang memberatkan rakyat atau tindakan-tindakan yang dapat

melukai perasaan rakyat, baik yang bersifat agama maupun norma-norma sosial

yang berlaku dalam masyarakat (Hatta, 1979 : 65).

Pada tahun 1943 Hatta diangkat menjadi salah seorang pimpinan Pusat

Tenaga Rakyat (Putera) disamping Sukarno, Ki Hajar Dewantoro, dan Kiai Mas

Mansur. Bersama para pemimpin lainnya itu, dengan cara yang tidak mungkin

menimbulkan kecurigaan pihak Jepang, Hatta memanfaatkan sebaik-baiknya

badan yang oleh Jepang dibentuk untuk kepentingan perangnya tersebut.

Situasi perang yang tidak menguntungkan memaksa pemerintahan Jepang

memberikan konsensi kepada daerah taklukannya termasuk Indonesia. Pada

tanggal 7 September 1944 Perdana Menteri Jepang, Koiso, mengucapkan janji

untuk memberikan kemerdekaan kepada Indonesia di kemudian hari. Pada bulan

Mei 1945 Dokuritsu Zyunbi Tjoosakai (Badan Penyelidik Usaha-usaha

10
Prinsip atau paham golongan nasionalis ekstrem yang menganjurkan pemerintahan otoriter.
Balai Pustaka. Kamus Besar Bahasa Indonesia. (Jakarta: 2005). hlm. 314.
61

Kemerdekaan)11 dibentuk. Hatta duduk sebagai salah seorang anggotanya. Ia juga

menjadi anggota Panitia Kecil yang dibentuk dalam badan tersebut dengan tugas

merumuskan dasar negara dan menyusun undang-undang dasar (Sumarmo, 1991 :

87).

Pada tanggal 7 Agustus 1945 Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia

(PPKI) dibentuk, setelah segala tugas Dokuritsu Zyunbi Tjoosakai dianggap

selesai. Ir. Sukarno diangkat sebagai ketua dan Hatta sebagai wakilnya. Dua hari

kemudian Hatta bersama Sukarno dan dr. Radjiman Wediodiningrat (bekas ketua

Dokuritsu) berangkat ke Dalat, Vietnam, memenuhi panggilan Jenderal Terauchi

(panglima angkatan perang Jepang untuk seluruh Asia Tenggara). Dalam

pertemuan tersebut Terauchi mengatakan bahwa kemerdekaan Indonesia sudah

dapat diumumkan apabila persiapan untuk itu sudah rampung. Dalam perjalanan

kembali ke tanah air, Hatta sudah mendapat informasi tentang serangan Rusia ke

Mancuria. Ia mengambil kesimpulan bahwa kekalahan Jepang sudah semakin

dekat.

Setiba di Jakarta pada tanggal 14 Agustus 1945, Hatta sudah ditunggu oleh

Sjahrir di rumahnya. Sjahrir mengatakan bahwa Jepang sudah menyerah kepada

sekutu dan ia meminta Hatta untuk mempengaruhi Sukarno agar Sukarno sendiri

atas nama rakyat mengumumkan kemerdekaan, bukan PPKI yang dinilai Sjahrir

berbau Jepang. Hatta setuju untuk mengumumkan kemerdekaan secepatnya,

namun ia tidak menyetujui cara yang diusulkan Sjahrir. Hatta berpendapat sama

11
Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia yang dibentuk pada bulan
Mei 1945.
62

dengan Sukarno, bahwa hak untuk mengumumkan kemerdekaan adalah hak PPKI

walaupun Sukarno yang menjdi ketuanya.

Hatta dan Sukarno kemudian merencanakan untuk mengadakan rapat PPKI

pada tanggal 16 Agustus 1945. Sementara itu sehari sebelumnya (15 Agustus)

datang lagi desakan dari pemuda baik kepada Hatta maupun kepada Sukarno.

Akan tetapi keduanya tetap pada pendirian mereka. Dini hari tanggal 16 Agustus

1945 Hatta dan Sukarno dibawa oleh pihak pemuda ke Rengasdengklok, dekat

Karawang. Sehabis maghrib pada hari itu juga, atas usaha Subardjo mereka

dibawa kembali ke Jakarta. Malam harinya diadakan rapat PPKI, yang juga

dihadiri oleh kelompok-kelompok pemuda. Menjelang dini hari tanggal 17

Agustus 1945 teks proklamasi selesai disusun dan kemudian ditandatangani oleh

Hatta dan Sukarno atas nama bangsa Indonesia.

Sidang PPKI tanggal 18 Agustus 1945 secara aklamasi memilih Sukarno

sebagai presiden Republik Indonesia. Jabatan wakil presiden dipangku Hatta

hingga ia mengundurkan diri pada tanggal 1 Desember 1956, diselingi periode

singkat sebagai perdana menteri Republik Indonesia Serikat (RIS) sejak Desember

1949 sampai Agustus 1950. sebagai wakil presiden Republik Indonesia, Hatta

pernah merangkap jabatan perdana menteri sekaligus menteri pertahanan (Januari

1948 hingga Desember 1949) (Deliar, 2001 : 119).

4. Peranan Hatta Pasca Kemerdekaan Indonesia

Posisi Hatta dan juga Sukarno, pada masa awal republik itu cukup sulit. Di

mata sekutu, mereka dianggap kolaborator dan pemerintahan yang mereka pimpin
63

dicap sebagai produk Jepang. Pemerintah Belanda menolak untuk berhubungan

dengan mereka walaupun sikap itu tidak diikuti secara utuh oleh Van Mook yang

mewakili pemerintah Belanda di Indonesia.

Untuk menyelamatkan RI, Hatta mengeluarkan beberapa keputusan yang

intinya mengurangi kekuasaan yang tertumpuk ditangan Sukarno-Hatta.

Maklumat No. X yang dikeluarkan oleh Hatta pada tanggal 16 Oktober 1945

memberikan kekuasaan legislatif dan wewenang untuk menentukan garis-garis

besar haluan negara kepada Komite Nasional Indonesia (KNIP). Dalam usaha

menumbuhkan citra demokrasi, pada tanggal 3 November 1945 Hatta

mengeluarkan maklumat yang membuka peluang bagi rakyat untuk mendirikan

partai-partai politik (Ensiklopedia : 364).

Tanda-tanda bahwa Belanda akan melancarkan serangan militer dengan

mengesampingkan persetujuan Lingggajati sudah tampak dari cara-cara mereka

memberikan tafsiran sendiri terhadap perjanjian tersebut, seperti kebebasan

mereka mendirikan negara-negara federal dan ketidakbolehan RI membuka

perwakilan di luar negeri. Untuk menghadapi kemungkinan yang buruk itu, Hatta

berangkat ke India mengunjungi Nehru dan Gandhi untuk mencari dukungan

politik. Hatta kembali ke tanah air pada saat Belanda sudah melancarkan agresi

militer (Juli 1947). Selama agresi itu berlangsung dan beberapa bulan sesudahnya,

Hatta berkedudukan di Bukittinggi dan dari tempat ini ia memimpin perjuangan

untuk seluruh Sumatera.

Hatta kembali ke Yogya, yang sejak minggu pertama bulan Januari 1946

sudah menjadi ibukota RI, pada waktu terjadinya krisis kabinet akibat diterimanya
64

perjanjian Renville (17 Januari 1948). Dua partai besar, Masyumi dan PNI,

menarik para menteri mereka dari kabinet yang mengakibatkan jatuhnya Kabinet

Amir Syarifudin (23 Januari 1948). Enam hari kemudian (29 januari 1948)

terbentuk kebinet presidensial dengan Hatta sebagai perdana menteri merangkap

menteri pertahanan.

Selaku ketua kabinet, Hatta antara lain mencanangkan empat program, dua

di antaranya adalah melanjutkan perundingan dengan Belanda atas dasar Renville

dan melaksanakan rasionalisasi ke dalam (khususnya di lingkungan angkatan

perang yang dikenal dengan Reorganisasi dan Rasionalisasi, disingkat Rera)12.

Golongan kiri yang tidak terwakili dalam kabinet ini mengadakan fusi dengan

membentuk Front Demokrasi Rakyat (FDR) di bawah pimpinan Amir Syarifudin.

FDR menuntut supaya Renville dibatalkan dan kabinet presidensial diganti

dengan kabinet parlementer (Hatta, 1979 : 43).

Sementara itu untuk menghadapi kemungkinan agresi militer belanda, Hatta

menempatkan beberapa perwira Divisi Siliwangi yang dinilainya lebih

berpengalaman. Sementara itu berbagai perundingan dengan Belanda, walaupun

diawasi oleh Komisi Tiga Negara (KTN) yang dibentuk oleh Dewan Keamanan

PBB, tidak menunjukkan kemajuan. Belanda mengancam akan membentuk

pemerintahan sementara tanpa RI di dalamnya. Pada tanggal 19 Desember 1948

memulai agresi militer kedua di ibu kota Yogyakarta. Pada hari itu juga Presiden

Sukarno, Wakil Presiden Hatta dan beberapa pejabat tinggi pemerintahan ditawan

12
Nasution menyebutnya re-ra (rekonstruksi dan rasionalisasi) dimaksudkan untuk mengadakan
perbaikan dalam susunan negara dan alat negara.
Deliar Noer. Mohammad Hatta Biografi politik. (Jakarta: 1991). hlm 324.
65

Belanda. Tiga hari kemudian, 22 Desember 1948 mereka diasingkan ke Sumatera

(Presien Sukarno di Prapat, Hatta di Bangka).

Dewan Keamanan PBB mengeluarkan resolusi agar Belanda menghentikan

agresi militernya dan membebaskan tahanan politik. Pada awalnya Belanda

menolak, namun setelah serangan-serangan gerilyawan TNI semakin meningkat,

sikap Belanda mulai berubah. Tanggal 14 April 1949 perundingan antara delegasi

Indonesia dan Belanda dimulai. Berkat campur tangan Hatta, perundingan yang

semula berjalan lamban itu berhasil mencapai persetujuan yang dikenal dengan

Roem-Roijen Statement13 (7 Mei 1949). Sesuai dengan persetujuan itu akhir Juni

1949 daerah Yogyakarta dikosongkan dari pasukan Belanda, dan pada tangal 6

Juli 1949 Sukarno, Hatta, dan pimipinan lainnya kembali ke Yogyakarta.

Pada pertengahan Agustus 1949 Hatta berangkat ke Belanda, memimpin

delegasi Indonesia untuk menghadapi Belanda dalam Konferensi Meja Bundar

(KMB). Sikap dan aktivitas Hatta semakin menonjol saat KMB berlangsung dan

boleh dibilang merupakan karya monumental Hatta, karena kegigihan dan

kehebatannya akhirnya adalah adanya sebuah pengakuan “Negara Indonesia

Serikat”.

Semua hasil KMB disahkan KNIP pada tanggal 14 Desember 1949, tiga hari

kemudian Sukarno dilantik menjadi Presiden RIS dan pada tanggal 20 Desember

1949 Hatta diangkat menjadi Perdana Menteri. Dalam kedudukan itu Hatta

13
Dari pernyataan Roem atas nama RI tanggal 7 Mei 1949, sebenarnya tidak ada persetujuan
dalam arti yang lazim, tidak ada naskah persetujuan yang ditanda tangani. kedua delegasi
menyampaikan pernyataan masing-masing, dan mirip bagai ikrar.
Deliar Noer. Mohammad Hatta Biografi politik. (Jakarta: 1991). hlm 350.
66

menandatangani naskah pengakuan kedaulatan di Amsterdam (27 Desember

1949).

Sejak dibubarkannya RIS dan memutuskan untuk menerima kembali negara

kesatuan sebagai bentuk negara Indonesia, pada tanggal 17 Agustus 1950, maka

jabatan Hatta kembali menjadi wakil presiden RI. Hatta berusaha menata

kehidupan kenegaraan yang rusak parah akibat perang sebagai sesuatu yang harus

dilakukan setelah revolusi selesai.

Pada tanggal 1 Desember 1956 Hatta mengundurkan diri dari jabatannya

sebagai wakil presiden. Namun ia tetap memperhatikan perkembangan yang

terjadi dalam kehidupan bangsa dan sedapat mungkin ia menyampaikan saran-

saran untuk mengatasi berbagai kemelut. Hatta juga berusaha mengerem tindakan-

tindakan Presiden Sukarno yang menjurus ke arah diktator. Dalam tulisannya

“Demokrasi Kita”, Hatta mengatakan bahwa pelaksanaan sistem demokrasi

terpimpin tidak lain dari usaha Sukarno untuk meraih semua kekuasaan ke dalam

tangannya. Hatta meramalkan bahwa sistem itu tidak akan berumur panjang,

paling lama hanya selama Sukarno hidup (Ensiklopedia : 364).

Hatta menulis banyak karangan di berbagai majalah yang sudah dimulainya

sejak ia aktif dalam PI. Tulisannya membahas baik politik maupun ekonomi. Ia

juga memberi kuliah di berbagai universitas dan memperoleh gelar kehormatan

(honoris causa). Menjelang akhir hayatnya, Hatta menulis otobiografi yang tidak

sempat ia selesaikan.

Mohammad Hatta meninggal dunia di Jakarta pada tanggal 14 Maret 1980.

Sesuai dengan amanatnya untuk dikuburkan di tengah-tengah rakyat, ia pun


67

dimakamkan di Pemakamam Umum Tanah Kusir, Jakarta Selatan. Hatta

meninggalkan seorang isteri, Rahmi Hatta, dan tiga orang anak yang semuanya

wanita. Pemerintah menganugerahinya gelar Pahlawan Proklamator.

C. Proses Pembelajaran Sejarah

Proses pembelajaran sejarah di kelas XI SMA Negeri 1 Pecangaan pada

pokok bahasan proklamasi kemerdekaan Indonesia dan upaya menegakkan

kedaulatan, berikut hasil wawancara dengan guru sejarah Mahasin Darmawan,

S.Pd pada tanggal 28 Mei 2007. Disamping dari hasil wawancara, peneliti juga

akan mendeskripsikan data dari hasil observasi.

1. Perencanaan Pembelajaran

Pada dasarnya kurikulum berbasis kompetensi (KBK)14 atau lebih tepatnya

kurikulum 2004, sesuai dengan UU No. 20 tahun 2003 UU Diknas, daerah

diberikan kewenangan untuk menyusun silabus dan menyusun strategi

pembelajaran, hal ini sesuai dengan otonomi daerah. Sedangkan pemerintah pusat

memberikan garis-garis besar berupa standar kompetensi, kompetensi dasar,

indikator dan materi pokok. Maka silabus disusun dengan mengacu pada standar

kompetensi, kompetensi dasar serta materi pokok yang telah ditetapkan

pemerintah untuk kemudian dikembangkan sendiri oleh sekolah atau guru.

Persiapan pelaksanaan pembelajaran, guru harus menyiapkan segala materi

atau bahan yang akan diajarkan dan juga sarana atau media yang mendukung

14
KBK dapat diartikan sebagai suatu konsep kurikulum yang menekankan pada pengembangan
kemampuan melakukan (kompetensi) tugas-tugas dengan standar performansi tertentu, sehingga
hasilnya dapat dirasakan oleh peserta didik, berupa penguasaan terhadap seperangkat kompetensi
tertentu. Mulyasa. Kurikulum Berbasis Kompetensi. (Bandung: 2002). hlm. 39.
68

dalam proses belajar mengajar. Di SMA Negeri 1 Pecangaan dalam hal media

cukup representatif untuk memenuhi kebutuhan mengajar sejarah, sehingga

dengan adanya media diharapkan siswa akan belajar sejarah dengan

menyenangkan.

Hambatan-hambatan dalam penyusunan silabus adalah hambatan yang

berasal dari guru yang masih kurang kreatif dalam menyusun silabus, hal ini

terkait dengan keterbatasan alokasi waktu, tenaga, dan biaya dari guru tersebut.

Dari pendapat diatas dapat peneliti simpulkan bahwa implikasi kurikulum

berbasis kompetensi pada perencanaan program pembelajaran adalah

pengembangan program tahunan, program semesteran dan silabus. Silabus adalah

acuan untuk merencanakan dan melaksanakan pembelajaran yang dikembangkan

oleh masing-masing daerah atau sekolah. Dalam penyusunan silabus diperlukan

guru yang kualified dalam arti guru harus memiliki kreatifitas yang tinggi dalam

merencanakan metode dan media pembelaran serta sistem penilaiannya.

Sedangkan standar kompetensi, kompetensi dasar, dan materi pokok

dikembangkan oleh Departemen Pendidikan Nasional. Hambatan dalam

penyusunan silabus adalah keterbatasan waktu, tenaga dan biaya dari guru.

2. Proses Pembelajaran

Proses pembelajaran sejarah diawali dengan kegiatan rutin, dilanjutkan

dengan kegiatan inti, dan kegiatan penutup. Proses pembelajaran dengan sistem

KBK lebih menuntut guru agar lebih kreatif dalam mengkondisikan lingkungan

belajar sehingga menunjang terjadinya perubahan perilaku bagi peserta didik.


69

Disini guru bukan lagi sebagai subyek centre melainkan hanya sebagai motivator

dan inovator.

Pembelajaran sejarah dalam menciptakan proses pembelajaran yang

berkulaitas, dibutuhkan kreatifitas guru dalam menerapkan metode dan

penggunaan media yang baik. Metode yang paling cocok digunakan dalam proses

pembelajaran sejarah adalah metode bervariasi, sedangkan media sebagai alat

pendukung dalam proses belajar mengajar. Misalnya guru mengajak siswa

menonton film dokumenter15 di ruang audio visual dan juga mengajar dengan

mengkonstekstualkan peristiwa-peristiwa yang akltual dengan materi pelajaran.

Dengan demikian akan tercipta suasana kelas yang menyenangkan sehingga siswa

akan tertarik belajar sejarah.

SMA Negeri 1 Pecangaan, guru lebih banyak menggunakan metode ceramah

dan tanya jawab dimana siswa lebih banyak diajak dialog dengan guru mengenai

materi yang diajarkan. Dengan waktu yang terbatas maka guru sering

menggunakan metode tanya jawab, walaupun dengan metode tanya jawab

diharapkan siswa mampu memahami materi yang disampaikan. Sedangkan respon

siswa cukup bagus dalam pembelajaran sejarah dimana siswa cukup responsif di

dalam memberikan pertanyaan-pertanyaan yang kritis pada guru, bagi siswa yang

tidak aktif di dalam kelas guru mencoba mengajak mereka bersama untuk belajar

dengan suasana belajar yang menyenangkan, sehingga siswa yang tidak aktif tetap

bisa mengikuti pelajaran.

15
Dokumentasi dalam bentuk film mengenai suatu peristiwa bersejarah atau suatu aspek seni
budaya yang mempunyai makna khusus agar dapat menjadi alat penerangan dan alat pendidikan.
Balai Pustaka. Kamus Besar Bahasa Indonesia. (Jakarta: 2005). hlm. 316.
70

Disamping metode, dalam pembelajaran sejarah juga diperlukan media yang

beragam. Dalam pokok bahasan proklamasi kemerdekaan Indonesia dan upaya

menegakkan kedaulatan, misalnya siswa diajak ke ruang Audio Visual untuk

diajak menonton film dokumenter yang berhubungan dengan materi yang

diajarkan. Dari media itu siswa dapat mengetahui dan mendeskripsikan peristiwa-

perstiwa tersebut dengan baik dan benar.

Hambatan-hambatan di dalam proses pembelajaran adalah waktu yang

sangat terbatas dengan materi yang tidak terbatas. Sebenarnya sarana dan

prasarana sekolah cukup representatif dalam memenuhi kebutuhan proses

pembelajaran, namun keterbatasan waktu, tenaga, dan biaya sehingga penerapan

metode dan media kurang variatif, serta hambatan dari kesiapan siswa itu sendiri.

Dari pendapat diatas, dapat peneliti simpulkan bahwa dalam proses

pembelajaran guru harus memperhatikan unsur metode dan media yang bervariasi

dan beragam sehingga proses belajar mengajar dapat berlangsung dengan baik,

efektif dan efisien. Proses pembelajaran tidak harus monoton dilakukan di dalam

kelas melainkan juga bisa dilakukan diluar kelas, misalnya ruang Audio Visual.

Hambatan dalam proses pembelajaran adalah metode dan media pembelajaran

yang kurang kreatif dan beragam yang disebabkan oleh alokasi waktu yang sedikit

sedangkan muatan materi banyak.

3. Evaluasi Hasil Belajar

Kurikulum berbasis kompetensi (KBK) dalam evaluasi dilakukan secara

berproses, maksudnya evaluasi diselenggarakan perkompetensi dasar dan tidak

mengacu pada mid semester. Guru harus sedapat mungkin mengamati tiap-tiap
71

siswa sehingga guru harus mengenal seluruh siswa. Siswa yang aktif harus diberi

reward atau nilai tambahan sehingga menjadi motivasi bagi siswa yang tidak aktif

untuk kemudian berusaha lebih aktif lagi dalam proses pembelajaran. Keaktifan

siswa dalam proses pembelajaran ini dapat dilihat dari kemampuan kerja siswa

seperti sering bertanya, berpendapat, berani tampil didepan kelas dan lain-lain.

Dalam sistem evaluasi ini dikenal adanya sistem belajar tuntas, yang aspek-

aspeknya sesuai dengan kriteria kelulusan siswa dalam PP No. 15 tahun 2005

yaitu menyelesaikan seluruh materi pelajaran, tercapainya standar minimal, lulus

ujian sekolah, dan lulus ujian nasional. Mengenai sistem belajar tuntas sesuai

dengan SKBM (Standar Ketuntasan Belajar Minimum). Untuk siswa IPA dan IPS

di SMA Negeri 1 Pecangaan standar minimal yang harus dicapai adalah 6,5.

Siswa yang mendapat nilai kurang dari 6,5 harus mengikuti remidi. Remidi

diselenggarakan setelah koneksi terhadap hasil ulangan dan secepatnya

dilaksanakan, biasanya remidi dilaksanakan bukan dalam bentuk tes melainkan

dalam bentuk tugas.

Hambatan dalam pelaksanaan evaluasi adalah keterbatasan waktu dan tenaga

guru yang dikarenakan tidak berimbangnya antara jumlah siswa dengan guru,

dimana setiap kelas rata-rata berjumlah 44 orang.

Dari pendapat diatas, peneliti simpulkan bahwa guru sejarah harus selalu

mengadakan evaluasi hasil belajar setelah kompetensi dasar tersebut tercapai.

Aspek penilaian meliputi aspek kognitif dan afektif. Penialian aspek kognitif

diperoleh dari hasil tes tertulis atau dari hasil ulangan siswa, sedangkan afektifnya

dapat dilihat dari sikap siswa, seperti kedisiplinannya, kerjasama dengan


72

temannya, kecakapan bertanya dan sebagainya. Hambatan dalam pelaksanaan

evaluasi adalah keterbatasan waktu dan tidak imbangnya antara jumlah siswa dan

guru.

4. Hambatan-Hambatan dalam Pembelajaran Sejarah

Dalam proses belajar mengajar banyak sekali hambatan-hambatan yang

muncul dilapangan, antara lain dari segi guru yang cenderung kurang kreatif

dalam pengunaan metode dan media pembelajaran. Sebenarnya sarana dan

prasarana yang ada disekolah cukup banyak, namun keterbatasan waktu yang

menjadi kendala. Alokasi waktu yang sangat kurang dengan muatan materi yang

harus disampaikan masih banyak, sehingga sangat menyulitkan guru dalam proses

belajar mengajar. Namun demikian guru berusaha dengan memanfaatkan waktu

sebaik-baiknya untuk menyelesaikan seluruh materi yang harus diajarkan.

Selain berasal dari guru, hambatan lain juga berasal dari siswa, dimana

mereka masih sulit untuk diajak mengubah pola pikir dan pola tindak yang

tradisional menjadi lebih kreatif. Kebanyakan siswa masih menganggap bahwa

materi pelajaran sejarah hanyalah materi hafalan saja dan kemampuan bertanya

serta unjuk kerja siswa masih kurang. Disamping itu, alokasi waktu pembelajaran

relatif sedikit, padahal muatan materi sangat banyak dan jumlah siswa yang terlalu

banyak sehingga sulit untuk mengamati kompetensi masing-masing siswa.

Disamping dari hasil wawancara, peneliti juga akan mendeskripsikan data

dari hasil observasi. Dari hasil observasi proses pembelajaran dan evaluasi atau

penilaian sejarah di SMA Negeri 1 Pecangaan diperoleh data sebagai berikut :


73

a. Proses pembelajaran dilakukan didalam kelas dan diluar kelas.

Dominasinya adalah didalam kelas dengan situasi belajar yang tertib dan

nyaman, proses pembelajaran diluar kelas dilaksanakan di ruang Audio Visual

untuk menonton film dokumenter.

b. Keaktifan siswa pada saat proses pembelajaran masih dibawah 75%.

Siswa masih canggung, malu atau tidak berani dalam mengungkapkan

pendapat atau pertanyaan, sehingga proses pembelajaran kurang efektif. Meskipun

proses pembelajaran berlangsung tertib, namun banyak siswa yang kurang

antusias dalam proses pembelajaran.

c. Proses pembelajaran meliputi kegiatan rutin, inti dan kegiatan akhir.

Kegiatan rutin yang dimaksud adalah kegiatan atau hal-hal yang biasa

dilakukan guru ketika pertama kali masuk kelas, yakni mengucapkan salam,

mengisi presensi, memberi pengumuman, mengumpulkan tugas, menertibkan

siswa. Kegiatan tersebut dimaksudkan untuk menciptakan suasana kelas kearah

pembelajaran sejarah.

Dilanjutkan dengan membuka pelajaran, yang dimaksud dengan membuka

pelajaran adalah kegiatan guru diawal pembelajaran (setelah melakukan kegiatan

rutin) untuk menciptakan suasana mental serta menimbulkan perhatian siswa agar

terarah pada hal-hal yang dipelajari. Membuka pelajaran ini tidak hanya dilakukan

pada setiap awal pelajaran tetapi juga setiap kali beralih ke hal atau topik baru.

Pada pokoknya kegiatan membuka pelajaran meliputi hal-hal sebagai berikut

1). Menarik perhatian dan motivasi siswa.


74

Dalam usaha menarik perhatian dan motivasi siswa guru menceritakan

kejadian-kejadian aktual dengan memberi contoh yang menarik.

2). Memberikan acuan atau struktur pelajaran.

Kegiatan ini dilakukan dengan menunjukkan tujuan pelajaran, pokok

permasalahan yang akan dibahas dan rencana pelaksanaan pembelajaran.

3). Apersepsi.

Apersepsi yang dimaksud disini adalah usaha guru dalam mengkaitkan

antara pelajaran baru dengan materi yang sudah dikuasai siswa. Dengan kata lain

apersepsi ini merupakan mata rantai penghubung antara materi yang lama dan

baru. Dalam apersepsi ini guru biasanya memberikan 2 atau 3 pertanyaan kepada

siswa tentang materi yang telah dibahas pada pertemuan terdahulu.

4). Pre tes (tes awal).

Pre tes yang biasa dilakukan adalah dalam bentuk tertulis maupun lisan yang

bertujuan untuk menjajagi proses pembelajaran yang akan dilaksanakan.

Pelaksanaan pre tes tidak selalu dilakukan sebab harus dikondisikan dengan jam

pelajaran. Bila waktu mencukupi maka pre tes dilaksanakan, namun apabila waktu

terbatas sedangkan kompetensi yang harus dicapai secara keseluruhan maka pre

tes ini tidak dilakukan.

Selanjutnya adalah kegiatan inti, yang dimaksud yakni pelaksanaan dari

proses pembelajaran, bagaimana tujuan-tujuan belajar direalisasikan melalui

metode dan media yang telah disiapkan guru. Adapun metode pembelajaran

sejarah yang digunakan adalah metode ceramah, diskusi kelompok dan tanya

jawab dengan penggunaan media pembelajaran berupa gambar dan media lainnya.
75

Pada setiap akhir jam pelajaran atau akhir pokok bahasan, guru

melaksanakan kegiatan untuk menutup pelajaran, agar siswa memperoleh

gambaran yang utuh tentang pokok-pokok materi pelajaran yang dipelajari.

Adapun cara-cara yang dilakukan guru dalam menutup pelajaran adalah

sebagai berikut :

1). Memberi dorongan psikologis atau sosial

Hal ini dilakukan guru pada akhir pembelajaran dengan memberikan kata-

kata pujian yang kerapkali cukup hanya satu kalimat saja, misalnya : “bagus, hari

ini kalian telah mengikuti pelajaran dengan aktif….”.

2). Mengevaluasi

Evaluasi pada akhir pembelajaran ini biasa disebut dengan post tes dengan

memberikan pertanyaan baik tertulis ataupun lisan sebagai umpan balik guru

untuk mengecek apakah siswa telah menangkap semua materi pelajaran yang

telah diperolehnya dan menerapkannya. Pelaksanaan post tes sama seperti

pelaksanaan pre tes yakni tidak harus selalu dilaksanakan karena harus

disesuaikan dengan waktu yang tersedia.

d. Evaluasi atau penilaian.

Evaluasi atau penilaian dilakukan dengan cara tes dan non tes. Tes dilakukan

untuk mendapatkan ranah kognitif sedangkan non tes digunakan untuk

mendapatkan ranah afektif. Tes diperoleh dengan cara tes tertulis ataupun lisan,

sedangkan non tes dilakukan dengan mengamati sikap dan kompetensi siswa pada

saat proses pembelajaran itu berlangsung.


76

D. Persepsi Siswa Terhadap Penokohan Mohammad Hatta Sebagai

Pahlawan Nasional

Persepsi siswa terhadap penokohan Mohammad Hatta sebagai pahlawan

nasional, peneliti akan mendeskripsikan hasil wawancara dengan siswa kelas XI

SMA Negeri 1 Pecangaan Kabupaten Jepara beserta prosentase setiap sub-sub

variabel dan aspek-aspeknya terhadap setiap angket yang diberikan pada

responden.

Tabel. 2
Persepsi siswa terhadap latar belakang Mohammad Hatta

No. Aspek SS S TS STS


Σ % Σ % Σ % Σ %
1. Mohammad Hatta adalah 40 95,23 2 4,76 0 0 0 0
pahlawan nasional.
6 14,28 24 57,14 12 28,5 0 0
2. Memiliki ciri-ciri sederhana,
berkacamata dan berpeci.
3. Hatta lahir dari kelurga agamis 9 21,42 28 61,9 5 11,9 0 0
di Bukittinggi, Padang, Sumatera
barat.
4. Lulusan dari Handels 16 38 20 47,61 6 14,2 0 0
Hageschool (sekolah tinggi
dagang) di Belanda.
5. Kepribadian kuat, disiplin, dan 20 47,61 22 52,38 0 0 0 0
berpandangan islami.
Jumlah 91 96 23 0

SS = 91 X 100% = 43,34%
5x42

S= 96 X 100% = 45,71%
5x42

Jumlah responden yang menerima = 43,34 + 45,71 = 89,05%

23
TS = X 100% = 10,95%
5x42

Jumlah responden yang menolak = 10,95%


77

1. Persepsi siswa terhadap latar belakang Mohammad Hatta.

Persepsi siswa terhadap latar belakang Mohammad Hatta meliputi, cara

berpakaian, latar belakang keluarga, pendidikan dan sikap Hatta menunjukkan

bahwa siswa memiliki persepsi bahwa Mohammad Hatta sebagai tokoh

pergerakan kemerdekaan Indonesia yang juga dikenal sebagai Bapak Proklamator,

Bapak Koperasi Indonesia, dan juga sebagai Wakil Presiden Republik Indonesia

yang pertama menunjukkan bahwa 89,15%. Siswa mempersepsikan Mohammad

Hatta dengan ciri berkacamata, menggunakan peci, gagah, dan rapi dalam

berpakaian hanya 10,95%. Hal serupa juga diungkapkan oleh Noor Rois bahwa

Mohammad Hatta merupakan pejuang nasional yang gigih memperjuangkan

kemerdekaan Indonesia sehingga Indonesia dapat merdeka, Hatta juga dikenal

dengan sikapnya yang sederhana, jujur dan berwibawa.

Disamping itu juga siswa mengenal Mohammad Hatta yang dilahirkan di

Bukittinggi, Padang, Sumatera Barat. Siswa memiliki persepsi keluarga

Mohammad Hatta merupakan keluarga yang mampu, terpandang, dan agamis.

Dengan demikian Mohammad Hatta merupakan seseorang yang agamis,

berwibawa dan juga pandai bahkan lulus sekolah di Belanda. Hal serupa juga

diungkapkan oleh salah satu siswa bahwa Mohammad Hatta adalah seorang yang

lurus dan tidak korupsi karena beliau terlahir dari keluarga yang terhormat dan

agamis, Hatta lahir di daerah Bukittinggi, Padang, Sumatera Barat.

Dari persepsi diatas, dapat peneliti simpulkan bahwa 10,95% siswa

mempersepsikan Mohammad Hatta adalah Bapak Proklamator, Bapak Koperasi

Indonesia, dan juga sebagai Wakil Presiden Republik Indonesia yang pertama.
78

Dengan sikapnya yang sederhana, berwibawa, jujur, tidak korupsi dan agamis,

dengan gigih memperjuangkan kemerdekaan Indonesia, kecuali dalam beberapa

aspek siswa tidak tahu kapan Mohammad Hatta dilahirkan dan latar belakang

pendidikan Mohammad Hatta, mereka hanya tahu bahwa Hatta lahir di

Bukittinggi, Padang, Sumatera Barat. Kecenderungan tersebut dimungkinkan

karena siswa cenderung mengenal Hatta dari materi pelajaran yang disampaikan

oleh guru tanpa banyak membaca bahan atau buku pelajaran yang lain.

Tabel. 3
Persepsi siswa terhadap Mohammad Hatta pada masa pergerakan dan
kemerdekaan Indonesia.

No. Aspek SS S TS STS


Σ % Σ % Σ % Σ %
6. Melalui Perhimpunan Indonesia, 18 42,85 22 52,38 2 2.47 0 0
Hatta memperjuangkan
kemerdekaan Indonesia.
7. Pertentangan Hatta VS 10 23,8 16 38 15 35,7 1 2,38
Sukarno karena perbedaan
ideologi.
8. Aktivitas politik Hatta
10 23,8 21 50 10 23,8 1 2,38
membuatnya keluar masuk
penjara.
9. Memproklamasikan kemedekaan 28 66,67 14 33,34 0 0 0 0
Indonesia atas nama bangsa
Indonesia.
10. Hatta memimpin beberapa 12 28,57 25 59,52 5 11,9 0 0
kabinet sebagai perdana menteri.
11. Sukarno dan Hatta merupakan 24 57,14 18 42,85 0 0 0 0
dwitunggal dalam mitra politik
Jumlah 102 116 32 2

SS = 102 X 100% = 40,47%


6x42

S = 116 X 100% = 46%


6x42
Jumlah responden yang menerima = 40,47 + 46 = 86,47%

32
TS = X 100% = 12,69%
6x42
79

2
STS = X 100% = 0,79%
6x42

Jumlah responden yang menolak = 12,69 + 0,79 = 13,48%

2. Persepsi siswa terhadap Mohammad Hatta pada masa pergerakan dan

kemerdekaan Indonesia.

Persepsi siswa terhadap Mohammad Hatta sebagai pahlawan nasional dalam

kaitannya dengan masa pergerakan nasional dan kemerdekaan Indonesia meliputi

organisasi yang pernah dipimpin dan peranannya serta pengaruh Mohammad

Hatta dalam kemerdekaan Indonesia menunjukkan bahwa 86,47% siswa

mempersepsikan pada masa pergerakan nasional bahwa Hatta pernah memimpin

sebuah organisasi nasional yaitu Partai Nasional Indonesia (PNI) dan

Perhimpunan Indonesia (PI). Sebagai seorang pemimpin Hatta memberikan ide-

ide perjuangan untuk mencapai kemerdekaan Indonesia. Hal serupa juga

diungkapkan oleh salah satu siswa bahwa Mohammad Hatta banyak memberikan

masukan-masukan yang berilian dan bermanfaat bagi bangsa Indonesia.

Pada masa kemerdekaan Indonesia siswa memiliki persepsi bahwa

Mohammad Hatta ikut dalam menyusun naskah teks proklamasi bersama Sukarno

sebagai perwakilan bangsa Indonesia dan juga ikut menandatangani teks

proklamasi atas nama bangsa Indonesia. Hal serupa juga diungkapkan oleh Nur

Faizah bahwa Mohammad Hatta ikut dalam penyusunan teks proklamasi atas

nama banga Indonesia, dan juga Hatta menjadi wakil presiden Republik Indonesia

yang pertama pada sidang PPKI tanggal 18 Agustus 1945.

Dari beberapa persepsi diatas, dapat peneliti simpulkan bahwa Mohammad

Hatta adalah seorang pemimpin bangsa yang ikut dalam pergerakan nasional
80

melalui organisasi PNI dan PI. Sedangkan pada masa kemerdekaan Indonesia

Mohammad Hatta ikut menyusun dan menandatangani teks proklamasi atas nama

bangsa Indonesia. Namun ada kecenderungan sebanyak 13,48% menunjukkan

bahwa siswa banyak yang tidak tahu peranan organisasi yang pernah dipimpin

oleh Hatta, maupun peranannya dalam memperjuangkan dan meraih kemerdekaan

Indonesia, hal ini dikarenakan mereka cenderung mempelajari sejarah dengan

metode hafalan sehingga sulit mendeskripsikan peranan Mohammad Hatta.

Tabel. 4
Persepsi siswa terhadap Mohammad Hatta pada masa pasca kemerdekaan
Indonesia.

No. Aspek SS S TS STS


Σ % Σ % Σ % Σ %
12. Pimpinan delegasi Indonesia 18 42,85 24 42,85 0 0 0 0
dalam KMB
13. Hasil dari KMB adalah 12 28,57 25 59,52 5 11,9 0 0
pengakuan kedaulatan RI
14. Mohammad Hatta sebagai Bapak 40 95,2 2 4,76 0 0 0 0
Koperasi Indonesia.
15. Koperasi bertujuan untuk
20 47,61 22 52,38 0 0 0 0
membangun kekuatan golongan
ekonomi lemah.
Jumlah 90 73 5 0

SS = 90 X 100% = 53,57%
4x42

S= 73 X 100% = 43,45%
4x42

Jumlah responden yang menerima = 53,57 + 43,45 = 97,02%

5
TS = X 100% = 2,98%
4x42

Jumlah responden yang menolak = 2,98%


81

3. Persepsi siswa terhadap Mohammad Hatta pada masa pasca kemerdekaan

Indonesia.

Persepsi siswa terhadap Mohammad Hatta sebagai pahlawan nasional dalam

kaitannya pada masa pasca kemerdekaan Indonesia meliputi Konferensi Meja

Bundar (KMB), peranan sebagai Bapak Koperasi Indonesia dan Kabinet Hatta.

Dalam Konferensi Meja Bundar (KMB) menunjukkan bahwa 97,02% siswa

memiliki persepsi bahwa Mohammad Hatta adalah pimpinan delegasi Indonesia

dalam KMB di Deen Haag, Belanda, dari KMB dihasilkan pengakuan kedaulatan

Indonesia dengan nama Republik Indonesia Serikat. Hal serupa juga diungkapkan

oleh salah satu siswa yang mempersepsikan bahwa Mohammad Hatta adalah

wakil Indonesia dalam sidang KMB di Deen Haag dengan adanya pengakuan

kedaulatan Indonesia dengan nama Republik Indonesia Serikat.

Disamping itu persepsi siswa terhadap Mohammad Hatta sebagai Bapak

Koperasi Indonesia, siswa memiliki persepsi bahwa Hatta merupakan pelopor

yang ikut merumuskan tata ekonomi Indonesia. Hal serupa juga diungkapkan Eka

Fajar yang mempersepsikan bahwa Mohammad Hatta yang menerapkan koperasi

sebagai sistem perekonomian yang cocok bagi Indonesia.

Selain itu persepsi siswa terhadap Kabinet Hatta, siswa memiliki persepsi

bahwa Kabinet Hatta muncul sebagai pengganti Kabinet Amir Syarifuddin.

Banyak siswa yang tidak mengetahui tentang kabinet Hatta dikarenakan tidak

terlalu disinggung oleh guru dalam proses pembelajaran sejarah. Hal serupa juga

diungkapkan oleh salah satu siswa yang mengatakan bahwa ia tidak tahu sama

sekali tentang Kabinet Hatta karena keterbatasan buku pelajaran.


82

Dari beberapa persepsi diatas, dapat peneliti simpulkan bahwa pada masa

pasca kemerdekaan Indonesia siswa tidak banyak mempersepsikan Mohammad

Hatta karena kurangnya materi yang diajarkan, siswa hanya mengetahui

Mohammad Hatta merupakan pimpinan delegasi Indonesia dalam KMB di Deen

Haag, Belanda, sedangkan peranannya, mereka tidak tahu banyak. Hambatan-

hambatan yang dialami siswa dalam mempersepsikan Mohammad Hatta

dikarenakan kurangnya materi yang diajarkan oleh guru dan keterbatasan bahan

bacaan bagi siswa.

Tabel. 5
Persepsi siswa terhadap nilai-nilai kepahlawanan Mohammad Hatta.

No. Aspek SS S TS STS


Σ % Σ % Σ % Σ %
16. Sifat kepemimpinannya dan 24 42,85 18 42,85 0 0 0 0
nilai-nilai kepahlawanan.
17. Pahlawan Kemerdekaan yang 16 38 25 59,52 1 2,38 0 0
bersikap nasionalis sosialis
18. Cinta pada tanah air, rela 20 47,61 22 52,38 0 0 0 0
berkorban dan berani membela
kebenaran dan keadilan.
Jumlah 90 73 5 0

SS = 60 X 100% = 47,61%
3x42
S = 65 X 100% = 51,58%
3x42
Jumlah responden yang menerima = 47,61 + 51,58 = 99,19%

Jumlah responden yang menolak = 0,81%

4. Persepsi siswa terhadap nilai-nilai kepahlawanan Mohammad Hatta.

Persepsi siswa terhadap Mohammad Hatta sebagai pahlawan nasional dalam

hubungannya dengan nilai-nilai kepahlawanan meliputi cinta tanah air dan

bangsa, berani membela kebenaran dan keadilan, memiliki dedikasi yang tinggi,
83

cinta alam ciptaan Tuhan dan seisinya, mempunyai cita-cita yang luhur, suka

bermusyawarah, dan mendahulukan kepentingan umum menunjukan bahwa siswa

memiliki persepsi yang ideal terhadap nilai-nilai kepahlawanan yang ditunjukan

oleh Mohammad Hatta sebanyak 99,19%.

Siswa mempersepsikan bahwa Mohammad Hatta adalah pahlawan nasional

yang memiliki jiwa nasionalisme dan rela berkorban demi mengutamakan

kepentingan bangsa dan negara. Hatta adalah seseorang yang mengorbankan

segalanya dengan berani membela bangsa dan negaranya. Hal serupa juga

diungkapkan oleh Rais bahwa Mohammad Hatta adalah pahlawan nasional yang

dengan sepenuh hati membela tanah air dan bangsanya serta memiliki jiwa

patriotisme yang besar untuk meraih kemerdekaan Indonesia.

Disamping itu juga siswa memiliki persepsi bahwa Mohammad Hatta

memiliki sikap yang sopan, sederhana dan suri tauladan bagi penerusnya karena

beliau adalah sosok pahlawan yang ikut memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.

Salah satu siswa juga memiliki persepsi bahwa Mohammad Hatta adalah

pahlawan bagi bangsa Indonesia karena dengan pemikirannya yang idealis ikut

memperjuangkan kemerdekaan bangsa dengan jiwa nasionalisme rela berkorban

demi kepentingan bangsa dan negaranya.

Nilai-nilai kepahlawanan yang diterapkan Mohammad Hatta kita bisa

mengambil nilai-nilai atau sikap Hatta seperti kejujuran, sifat pantang menyerah,

sederhana, anti korupsi, mementingkan kepentingan umum dan juga rela

berkorban untuk kepentingan bangsa dan negara. Hal senada juga diungkapkan

Eka Fajar bahwa Mohammad Hatta adalah seorang pahlawan yang memiliki sikap
84

rendah hati, jujur, berwibawa, bijaksana dalam memimpin, dan inspirasi bagi

orang lain.

Dari beberapa persepsi diatas, dapat peneliti simpulkan bahwa Mohammad

Hatta adalah pahlawan nasional dengan jiwa nasionalisme yang tinggi dalam

memperjuangkan dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia sebanyak 99,19%.

Dengan nilai-nilai kepahlawanan yang ditunjukan oleh Mohammad Hatta seperti

rasa cinta tanah air dan bangsa, memiliki dedikasi yang tinggi, berani membela

kebenaran dan keadilan, jujur, sederhana, anti korupsi, rendah hati dan rela

berkorban demi kepentingan bangsa dan negara. Dengan nilai-nilai kepahlawanan

dan sikap Mohammad Hatta dalam memperjuangkan dan mempertahankan

kemerdekaan Indonesia, diharapkan siswa mampu memahami dan menerapkan

nilai-nilai kepahlawanan Mohammad Hatta dalam kehidupan sehari-hari dan

disekolah.

E. Pembahasan

Salah satu fungsi pendidikan adalah pengembangan kesadaran nasional dan

sikap nasionalisme sebagai sumber daya mental dalam proses pembangunan

kepribadian dan identitas nasional. Namun hal tersebut tidak dapat langsung

tertanam dalam diri siswa, melainkan harus melalui proses belajar terus menerus

dalam bentuk tingkah laku yang diwujudkan dalam bentuk sikap.

Pendidikan sejarah merupakan salah satu mata pelajaran yang membina dan

membentuk warga negara dan pembangunan bangsa yang baik juga merupakan

jembatan untuk menasionalisasikan sikap nasionalisme pada siswa, sehingga


85

semakin banyak siswa belajar sejarah maka semakin banyak pula nilai-nilai

sejarah yang dihayati siswa yang pada akhirnya prestasi belajar siswa dibidang

sejarah meningkat dan sikap nasionalisme siswa pun semakin baik.

Dari hasil penelitian dan analisis data, proses pembelajaran sejarah kelas XI

di SMA Negeri 1 Pecangaan Kabupaten Jepara pada pokok bahasan proklamasi

kemerdekaan Indonesia dan upaya menegakkan kedaulatan, guru lebih banyak

menggunakan metode ceramah dan tanya jawab serta diselingi dengan nonton

film dokumenter di ruang Audio Visual. Guru cenderung kurang kreatif dalam

penggunaan metode dan media pembelajaran. Sebenarnya sarana dan prasarana

yang ada disekolah cukup memadai, namun keterbatasan waktu yang menjadi

kendala. Alokasi waktu yang sangat kurang dengan muatan materi yang

disampaikan masih banyak, membuat guru belum dapat memaksimalkan materi

yang disampaikan dalam proses belajar mengajar.

Keterbatasan waktu yang hanya satu jam pelajaran maka guru sering

menggunakan metode tanya jawab, walaupun dengan metode tanya jawab

diharapkan siswa mampu memahami materi yang disampaikan. Sedangkan respon

siswa cukup bagus dalam pembelajaran sejarah dimana siswa cukup responsif di

dalam memberikan pertanyaan-pertanyaan yang kritis pada guru, bagi siswa yang

tidak aktif di dalam kelas guru mencoba mengajak mereka bersama untuk belajar

dengan suasana belajar yang menyenangkan, sehingga siswa yang tidak aktif tetap

bisa mengikuti pelajaran.

Persepsi siswa terhadap Mohammad Hatta sebagai pahlawan nasional dapat

bersifat positif atau negatif. Persepsi yang bersifat positif dapat mendorong
86

mereka bersikap dan bertingkah laku positif terhadap kehidupan sehari-hari

maupun disekolah. Sebaliknya, persepsi siswa yang bersifat negatif dapat

mendorong seseorang bersikap dan bertingkah laku negatif.

Persepsi siswa terhadap latar belakang Mohammad Hatta, siswa memiliki

persepsi yang positif dengan prosentase sebesar sebanyak 89,05%. siswa

mempersepsikan bahwa Hatta dilahirkan di Bukittinggi, Padang, Sumatera Barat

dari keluarga yang mampu dan agamis. Disamping itu persepsi siswa terhadap

Mohammad Hatta sebagai pahlawan nasional, siswa memiliki persepsi bahwa

Mohammad Hatta adalah tokoh pergerakan kemerdekaan Indonesia, Bapak

Proklamator, Bapak Koperasi Indonesia, dan juga sebagai Wakil Presiden

Republik Indonesia yang pertama. Siswa cenderung kesulitan memahami peranan

Mohammad Hatta dalam upaya meraih kemerdekaan Indonesia maupun

mempertahankannya, hal ini dikarenakan siswa cenderung kurang memahami

materi yang diajarkan oleh guru dan materi yang disampaikan sebatas yang siswa

ketahui.

Persepsi siswa terhadap terhadap nilai-nilai kepahlawanan bersifat positif

dengan prosentase sebanyak 99,19% siswa mempersepsikan bahwa sikap yang

dimiliki Hatta seperti rasa cinta tanah air dan bangsa, memiliki dedikasi yang

tinggi, berani membela kebenaran dan keadilan, jujur, sederhana, anti korupsi,

rendah hati dan rela berkorban demi kepentingan bangsa dan negara cukup

representatif dengan apa yang diketahui oleh siswa. Siswa dapat mempersepsikan

Mohammad Hatta dengan baik sehingga nilai-nilai kepahlawanannya dapat

dipahami oleh siswa.


87

Dengan demikian persepsi siswa terhadap Mohammad Hatta sebagai

pahlawan nasional bersifat positif, karena siswa dapat memahami dan memaknai

peranan Mohammad Hatta dalam proklamasi kemerdekaan Indonesia dan upaya

menegakkan kedaulatan. Disamping itu, siswa dapat mempersepsikan nilai-nilai

kepahlawanan dalam diri Hatta sehingga siswa dapat memahami dan memaknai

perjuangan Mohammad Hatta dengan menghargai jasa-jasa para pahlawan dan

meneruskan perjuangannya.
BAB V

PENUTUP

A. Simpulan

Berdasarkan pada hasil penelitian, analisis data dan pembahasan maka dapat

penulis simpulkan sebagai berikut :

1. Mohammad Hatta adalah Bapak Proklamator, Bapak Koperasi Indonesia, dan

juga sebagai Wakil Presiden Republik Indonesia yang pertama. Dengan

sikapnya yang sederhana, berwibawa, dan agamis, dengan gigih

memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Mohammad Hatta adalah seorang

pemimpin bangsa yang membawa kemerdekaan bagi bangsa dan negaranya,

pada pertengahan Agustus 1949 Sikap dan aktivias Hatta semakin menonjol

saat KMB berlangsung di Belanda dan boleh dibilang merupakan karya

monumental Hatta, karena kegigihan dan kehebatannya akhirnya adalah

adanya sebuah pengakuan “Negara Indonesia Serikat”. Mohammad Hatta

meninggal dunia di Jakarta pada tanggal 14 Maret 1980. Sesuai dengan

amanatnya untuk dikuburkan di tengah-tengah rakyat, ia pun dimakamkan di

Pemakamam Umum Tanah Kusir, Jakarta Selatan.

2. Dalam proses pembelajaran sejarah terkait dengan pokok bahasan proklamasi

kemerdekaan Indonesia dan upaya menegakkan kedaulatan, pembelajaran

sejarah dilaksanakan dengan menggunakan metode ceramah dan tanya jawab

serta diselingi dengan metode nonton film dokumenter di ruang Audio Visual.

Sedangkan evaluasi atau penilaian siswa dilaksanakan secara berproses

88
89

dimana evaluasi dilakukan tiap kompetensi dasar dan dilakukan secepatnya.

Hambatan yang dialami dalam pembelajaran sejarah adalah alokasi waktu

yang terbatas dengan materi yang banyak.

3. Persepsi siswa terhadap Mohammad Hatta sebagai pahlawan nasional bersifat

positif. Siswa mengenal Mohammad Hatta sebagai Bapak Proklamator, Bapak

Koperasi Indonesia, dan juga sebagai Wakil Presiden Republik Indonesia yang

pertama. Peranan Mohammad Hatta dalam memperjuangkan kemerdekaan

Indonesia dan upaya menegakkan kedaulatan tidak terlalu banyak diketahui

oleh siswa, hal ini dikarenakan siswa mempelajari tokoh Mohammad Hatta

hanya bersumber pada materi pelajaran yang disampaikan oleh guru. Namun

demikian siswa mampu memahami nilai-nilai kepahlawanan yang dimiliki

Mohammad Hatta, misalnya sikap jujur, sederhana, agamis, rela berkorban

untuk bangsa dan negaranya, dan lain sebagainya. Dengan memahami setiap

nilai-nilai kepahlawanan Mohammad Hatta diharapkan siswa dapat

memahami dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari maupun di

sekolah.

B. Saran

Berdasarkan pada kesimpulan tersebut diatas, penulis memberikan saran

kepada :

1. Guru

Guru hendaknya memiliki kreatifitas dalam mengajar, hindari penggunaan

metode secara monoton yang akan berakibat siswa menjadi bosan. Dalam
90

penyampaian materi harus semenarik mungkin agar siswa tertarik pada

pelajaran sejarah, misalnya materi tentang peranan Mohammad Hatta dalam

era kemerdekaan Indonesia. Terutama pada jurusan ilmu pengetahuan alam,

guru harus mampu menciptakan suasana belajar yang menyenangkan dengan

metode bervariasi agar siswa tidak jenuh terhadap pelajaran sejarah.

2. Siswa

Siswa dituntut juga untuk pro aktif dalam pelajaran sejarah dan jangan pasif

hanya menerima apa yang diberikan atau diajarkan guru dan siswa harus dapat

juga belajar mandiri agar prestasinya terus meningkat. Selain itu siswa

diharapkan menghargai pengorbanan para pahlawan nasional misalnya

Mohammad Hatta dan mengambil nilai-nilai kepahlawanannya.

3. Sekolah

Sekolah hendaknya dapat mencukupi kebutuhan belajar seperti menciptakan

suasana sekolah yang kondusif, menyediakan sumber-sumber belajar yang

dibutuhkan agar tujuan pembelajaran dapat tercapai secara maksimal.


DARTAR PUSTAKA

Atmadi. 2000. Transformasi Pendidikan Memasuki Millenium Ketiga. Yogyakarta


: Universitas Sanata Dharma.

Cahyo, Budi. 1999. Dinamika Pergerakan Kebangsaan Indonesia. Semarang :


IKIP Semarang Press.

Darsono, Max. 2000. Belajar dan Pembelajaran. Semarang : IKIP Semarang


Press.

Depdiknas. 2003. Kurikulum 2004. Pedoman Khusus Pengembangan Silabus dan


Penilaian Mata Pelajaran Sejarah. Jakarta.

Ensiklopedi Nasional Indonesia jilid 6. 1989. Jakarta : PT. Cipta Adi Pustaka.

Gonggong, Anhar. 2002. Beralternatif di Tengah Krisis : Mengikuti Cara Baik


Bung Hatta. Yogyakarta : Ombak.

Hamalik, Oemar. 2002. Pendidikan Guru Berdasarkan Pendekatan Kompetensi.


Jakarta : Bumi Aksara.

Hatta, Mohammad. 1977. Permulaan Pergerakan Nasional. Jakarta : Idayu Press.

Hatta, Mohammad. 1982. Sekitar Proklamasi 17 Agustus 1945. Jakarta : Tinta


Mas.

Mahmud, Dimyati. 1989. Psikologi Suatu Pengantar. Jakarta : Depdikbud


Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Proyek pengembangan lembaga
Pendidikan Tenaga Kependidikan.

Mar’at. 1984. Sikap Manusia : Perubahan Serta Pengukurannya. Jakarta : Ghalia


Indonesia.

M. Eko Nurohman Hidayat. 2004. Konsep Hatta Tentang Bentuk Negara


Indonesia : Sebuah Tinjauan Pemikiran Mengenai Bentuk Negara
Indonesia. Skripsi. Semarang : Fakultas Ilmu Sosial UNNES.

Miles, Matthew B dan A. Michael Huberman. 1992. Analisis Data Kualitatif.


Terjemahan Tjetjep Rohendi Rohidi. Jakarta : UI Press.

Moleong, Lexy. 2002. Metodologi penelitian Kualitatif. Bandung : PT. Remaja


Rosdakarya.

Mulyana, Deddy. 2000. Ilmu Komunikasi Suatu Pengantar. Bandung :


Rosdakarya.

91
92

Nasution, 1986. Didaktis Asas-Asas Mengajar. Jakarta : Bumi Aksara.

Noeng, Mohadjir. 1989. Metode Penelitian Kualitatif. Yogyakarta : Rake Sarasin.

Robert Bogdan dan Steve Taylor. 1992. Pengantar Metode Penelitian kualitatif :
Suatu Pendekatan Fenomenologis terhadap Ilmu-Ilmu Sosial.
Terjemahan Arif Furhan. Surabaya : Usaha Nasional.

Noer, Deliar. 1991. Mohammad Hatta Biografi Politik. Jakarta : LP3ES.

Poerwadarminta. 1993. Kamus Umum Bahasa Indonesia. Jakarta : Balai Pustaka.

Rahmat, Jalaluddin. 2004. Psikologi Komunikasi. Bandung : PT. Remaja


Rosdakarya.

Ricklefs, MC. 1999. Sejarah Indonesia Modern. Yogyakarta : Gajah Mada


University Press.

Rose, Marvis. 1991. Indonesia Merdeka : Biografi Politik Mohammad Hatta.


Terejemahan Hermawan Sulistyo. Jakarta : PT. Gramedia Pustaka
Utama.

Sagimun. 1985. Pahlawan Nasional. Jakarta : Depdikbud.

Sudjana, Nana. 2000. Penelitian dan Penilaian Pendidikan. Bandung : Sinar Baru
Algensindo.

Sumarmo, AJ. 1991. Pendudukan Jepang dan Proklamasi Kemerdekaan


Indonesia. IKIP Semarang Press.

Tunggal, Wawan. 2003. Pertentangan Sukarno VS Hatta. Jakarta : Gramedia.

Walgito, Bimo. 2002. Pengantar Psikologi Umum. Yogyakarta : Andi Offset.

Wibowo, Mungin Eddy. 2004. “ Pengembangan Model Layanan Implementasi


Kurikulum 2004”. Makalah Disajikan Dalam Workshop
Pengembangan Model Layanan Implementasi Kurikulum 2004 tanggal
8 Desember 2004 di UNNES.

Widya, I Gde. 1989. Dasar-Dasar Pengembangan Strategi Serta Metode


Pengajaran Sejarah. Jakarta : Depdikbud.

Yonky Karman (kompas, 9 nopember 2002)


93

Gambar 1. Mohammad Hatta


(Sumber : Dokumen Pribadi)
94

Gambar 2. Latar Penelitian : SMA Negeri 1 Pecangaaan Kabupaten Jepara


(Foto : Danang Dwi Arfianto 2007)

Gambar 3. Pelaksanaan Pembelajaran di dalam kelas


(Foto : Danang Dwi Arfianto 2007)
95

Gambar 4. Wawancara dengan Yustisa Moreshanti


(Foto : Danang Dwi Arfianto 2007)

Gambar 5. Wawancara dengan Noor Rois


(Foto : Danang Dwi Arfianto 2007)
96

Gambar 6. Wawancara dengan Eka Fajar Maryati


(Foto : Danang Dwi Arfianto 2007)

Gambar 7. Wawancara dengan Aditya Wardani


(Foto : Danang Dwi Arfianto 2007)
97

Gambar 8. Wawancara dengan Ahmad Arif Febriyanto


(Foto : Danang Dwi Arfianto 2007)

Gambar 9. Wawancara dengan Imron Rosyadi


(Foto : Danang Dwi Arfianto 2007)
98

Gambar 10. Wawancara dengan Nur Faizah


(Foto : Danang Dwi Arfianto 2007)

Gambar 11. Wawancara dengan Nur Kholis


(Foto : Danang Dwi Arfianto 2007)
99

Gambar 12. Wawancara dengan Sri Surti


(Foto : Danang Dwi Arfianto 2007)

Gambar 13. Wawancara dengan Siti Rahmawati


(Foto : Danang Dwi Arfianto 2007)
100

Gambar 14. Wawancara dengan Widi Hardiyanto Putro


(Foto : Danang Dwi Arfianto 2007)

Gambar 15. Wawancara dengan Gandhung Wahyu Irawan


(Foto : Danang Dwi Arfianto 2007)
101

Gambar 16. Wawancara dengan Teguh Ari Wibowo


(Foto : Danang Dwi Arfianto 2007)

Gambar 17. Wawancara dengan Wahyu Dian Pramana


(Foto : Danang Dwi Arfianto 2007)
102

Gambar 18. Informan Penelitian Mahasin Darmawan, S.Pd


(Foto : Danang Dwi Arfianto 2007)
107

KATA PENGANTAR

Dengan hormat,
Adik-adik kelas XI SMA Negeri 1 Pecangaan Kabupaten Jepara, bahwa
untuk menyelesaikan studi di UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG (UNNES)
diwajibkan untuk menyusun skripsi. Sehubungan dengan itu maka SMA Negeri 1
Pecangaan Kabupaten Jepara ditunjuk sebagai obyek penelitian dan adik-adik
menjadi salah satu responden penelitian. Suatu kehormatan tersendiri bagi adik
karena menjadi responden dalam penelitian ini.
Untuk itu, pada kesempatan ini saya mohon bantuan adik untuk
memberikan data untuk penelitian ini melalui jawaban yang adik-adik berikan dari
pertanyaan yang saya berikan. Data yang adik berikan sangat membantu saya
dalam penyelesaian studi ini.
Oleh karena itu, saya sangat mengharapkan agar adik dapat memberikan
jawaban secara jujur, sesuai dengan kondisi yang adik alami. Jawaban yang adik
berikan ini tidak berpengaruh pada nilai raport dan saya menjamin kerahasiaan
jawaban yang adik berikan. Adapun judul dalam penelitian ini adalah PERSEPSI
SISWA TERHADAP PENOKOHAN MOHAMMAD HATTA SEBAGAI
PAHLAWAN NASIONAL (STUDI KASUS DI SMA NEGERI 1
PECANGAAN KABUPATEN JEPARA).

Jepara, 2007

Peneliti
108

INSTRUMEN WAWANCARA UNTUK GURU


PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

A. Nama Responden :
B. Pendidikan :
C. Pekerjaan :

A. Konsep Dasar KBK


1. Apa itu KBK ?
2. Tujuan dan maksud apa yang hendak dicapai KBK ?
3. Persiapan apa saja yang perlu dilakukan dalam pelaksanaan KBK ?
4. Bagaimana implementasi KBK pada pembelajaran sejarah meliputi apa
?

B. Pelaksanaan Pembelajaran
1. Apa yang anda persiapkan terlebih dahulu sebelum pelaksanaan
pembelajaran ?
2. Bagaimana cara anda memulai atau mengawali pembelajaran ?
3. Apakah anda sering mengkaitkan materi yang akan dibahas dengan
peristiwa-peristiwa aktual ?
4. Apakah anda selalu menyiapkan pengalaman belajar ?
5. Dimana proses pembelajaran dilakukan ?
6. Suasana yang bagaimana yang anda ciptakan dalam proses
pembelajaran ?
7. Bagaimana respon atau tangkap siswa dalam pembelajaran ?
8. Apa yang anda kerjakan ketika siswa sibuk mengerjakan pengalaman
belajar yang telah anda siapkan ?
9. Bagaimana antusias siswa dalam pembelajaran ?
10. Bagaimana sikap anda ketika siswa yang kurang terlibat aktif dalam
pembelajaran ?
109

11. Apakah anda melakukan post tes untuk mengetahui sejauh mana
penguasaan siswa terhadap kompetensi yang telah ditentukan baik
secara kelompok ataupun individu setelah pelaksanaan pembelajaran ?

C. Evaluasi Hasil Pembelajaran


1. Bagaimana sistem evaluasi hasil belajar yang anda gunakan ?
2. Hal-hal apa saja yang diperhatikan dalam pelaksanaan evaluasi ?
3. Aspek-aspek apa saja yang dinilai ?
4. Instrumen apa saja yang anda siapkan untuk memperoleh hasil belajar ?
5. Apakah hasil belajar tersebut didokumentasikan ?
6. Apakah anda menerapkan sistem belajar tuntas ?
7. Apa tujuan dilaksanakannya program pengayaan dan remedial, dan
kapan pelaksanaannya ?
8. Bagaimana kriteria nilai yang anda gunakan untuk menjaring siswa
yang ikut remedial dan pengayaan ?
9. Kapan program pengayaan dan remedial tersebut dilakukan ?
10. Efektifkah program pengayaan dan remedial tersebut dilakukan ?

D. Kompetensi Guru
1. Apakah anda mengenal setiap siswa ?
2. Apakah anda sering memberikan bimbingan disela-sela proses
pembelajaran ? kalau ya, bimbingan apa yang anda sampaikan ?
3. Apakah anda mengetahui tujuan yang hendak dicapai dalam setiap
pembelajaran ?
4. Apakah anda sendiri yang membuat silabus ? Mengapa ?
5. Bagaimana cara menghidupkan interaksi dalam proses pembelajaran ?
6. Apakah anda sering membaca peristiwa atau tokoh sejarah diluar materi
pelajaran sejarah yang anda ajarkan ?
7. Berkaitan dengan materi sejarah, bagaimana pendapat anda mengenai
perubahan-perubahan yang terjadi dalam peristiwa sejarah ?
110

E. Metode Pembelajaran
1. Teknik atau metode apa yang cocok digunakan untuk pembelajaran
sejarah ?
2. Apakah teknik atau metode tersebut memberikan kegiatan yang
bervariasi sehingga dapat melayani perbedaab individu siswa ?
3. Apakah teknik atau metode tersebut memberikan kegiatan yang
bertingkat-tingkat ?
4. Apakah teknik atau metode tersebut meciptakan kegiatan untuk
mencapai tujuan kognitif, afektif dan psikomotorik ?
5. Apakah metode tersebut lebih mengaktifkan siswa atau guru atau
kedua-duanya ?
6. Apakah kemampuan baru akan muncul dan berkembang kepada siswa
dengan penerapan metode tersebut ?
7. Apakah teknik atau metode tersebut menimbulkan jalinan kegiatan
pembelajaran dan penggunaan sumber belajar di sekolah dan rumah ?

F. Media dan Alat Pengajaran


1. Alat atau media pengajaran apa yang diperlukan ? Apa semuanya telah
tersedia ? Bila alat tersebut tidak ada, apa penggantinya ?
2. Kalau ada media yang harus dibuat, bagaimana membuatnya ? Siapa
yang membuat ? berapa waktu dan pembiayaan pembuatan ?
3. Bagaimana pengorganisasiannya dalam keseluruhan kegiatan belajar ?

G. Sarana Belajar Sekolah


1. Sudah lengkapkah sarana belajar yang disediakan sekolah untuk siswa ?
2. Apakah tiap tahun ada penambahan sarana belajar ?
3. Apakah anda sering memanfaatkan sarana belajar yang disedikan
sekolah untuk proses pembelajran ?
4. Apa anda mewajibkan siswa untuk memiki buku pelajaran sejarah ?
111

H. Hambatan-hambatan
1. Setujukah anda jika kurikulum ini diterapkan sepenuhnya dalam
pembelajaran sejarah ?
2. Apa kelebihan dan kekurangan digunakannya KBK dalam
pembelajaran sejarah ?
3. Hambatan apa yang anda rasakan ketika menerapkannya ?
4. Hambatan tersebut berasal dari mana ?
5. Usaha apa yang anda lakukan untuk meminimalisasi hambatan tersebut
?
Lampiran 4 112

INSTRUMEN WAWANCARA UNTUK SISWA

Nama :
Kelas :
Sekolah :

1. Apakah anda mengenal Mohammad Hatta ?


2. Bagaimana bentuk atau model cara berpakaian Mohammad Hatta ?
3. Apa yang anda ketahui tentang Mohammad Hatta ?
4. Dimana Mohammad Hatta dilahirkan ? Kapan ?
5. Bagaimana latar belakang keluarga Mohammad Hatta ?
6. Pada masa pergerakan nasional, organisasi apa saja yang pernah dimasuki dan
dipimpin Mohammad Hatta ? Bagaimana peranannya ?
7. Pada masa kemerdekaan Indonesia, bagaimana peranan Mohammad Hatta
dalam proklamasi 17 Agustus 1945 ?
8. Bagaiman peranan Mohammad Hatta dalam mewujudkan kemerdekaan
Indonesia ?
9. Mengapa Mohammad Hatta dijadikan Wakil Presiden Republik Indonesia ?
dan kapan ?
10. Apakah mengetahui Konferensi Meja Bundar (KMB) ? Bagaimana
keterlibatan Mohammad Hatta dalam KMB ?
11. Apakah anda tahu Bapak Koperasi Indonesia ? Mengapa Mohammad Hatta
disebut sebagai Bapak Koperasi Indonesia ?
12. Apakah anda mengetahui tentang kabinet Hatta ? Bagaimana peranannya ?
13. Apakah anda tahu bahwa Mohammad Hatta adalah pahlawan nasional ?
bagaimana kriteria pahlawan nasional menurut anda ?
14. Bagaimana pandangan anda terhadap Mohammad Hatta sebagai pahlawan
nasional ?
15. Nilai-nilai kepahlawanan apa saja yang dapat diambil dari sosok pahlawan
nasional Mohammad Hatta ?
16. Darimana anda mendapatkan sumber tentang Mohammad Hatta ?
HASIL WAWANCARA DENGAN GURU

Nama : Mahasin Darmawan, S.Pd


Guru : Sejarah, SMA N 1 Pecangaan
Tanggal : 28 Mei 2007
Perencanaan Pada dasarnya kurikulum berbasis kompetensi (KBK) atau lebih tepatnya kurikulum 2004, sesuai dengan
Pembelajaran UU No. 20 tahun 2003 UU Diknas, daerah diberikan kewenangan untuk menyusun silabus dan menyusun
strategi pembelajaran, hal ini sesuai dengan otonomi daerah. Sedangkan pemerintah pusat memberikan garis-
garis besar berupa standar kompetensi, kompetensi dasar, indikator dan materi pokok. Maka silabus disusun
dengan mengacu pada standar kompetensi, kompetensi dasar serta materi pokok yang telah ditetapkan
pemerintah untuk kemudian dikembangkan sendiri oleh sekolah atau guru.
Untuk mempersiapkan pelaksanaan pembelajaran, guru harus menyiapkan segala materi atau bahan yang
akan diajarkan dan juga sarana atau media yang mendukung dalam proses belajar mengajar. Di SMA Negeri 1
Pecangaan dalam hal media cukup representatif untuk memenuhi kebutuhan mengajar sejarah, sehingga dengan
adanya media diharapkan siswa akan belajar sejarah dengan menyenangkan.
Hambatan-hambatan dalam penyusunan silabus adalah hambatan yang berasal dari guru yang masih kurang
kreatif dalam menyusun silabus, hal ini terkait dengan keterbatasan alokasi waktu, tenaga, dan biaya dari guru
tersebut.
Proses Proses pembelajaran sejarah diawali dengan kegiatan rutin, dilanjutkan dengan kegiatan inti, dam kegiatan
Pembelajaran penutup. Proses pembelajaran dengan sistem KBK lebih menuntut guru agar lebih kreatif dalam mengkondisikan
lingkungan belajar sehingga menunjang terjadinya perubahan perilaku bagi peserta didik. Disini guru bukan lagi
sebagai subyek centre melainkan hanya sebagai motivator dan inovator.
Dalam menciptakan proses pembelajaran yang berkulaitas, dibutuhkan kreatifitas guru dalam menerapkan
metode dan penggunaan media yang baik. Metode yang paling cocok digunakan dalam proses pembelajaran
sejarah adalah metode bervariasi, sedangkan media sebagai alat pendukung dalam proses belajar mengajar.
Misalnya guru mengajak siswa menonton film dokumenter di ruang audio visual dan juga mengajar dengan
mengkonstekstualkan peristiwa-peristiwa yang akltual dengan materi pelajaran. Dengan demikian akan tercipta
suasana kelas yang menyenangkan sehingga siswa akan tertarik belajar sejarah.
Di SMA Negeri 1 Pecangaan, guru lebih banyak menggunakan metode ceramah dan tanya jawab dimana
siswa lebih banyak diajak dialog dengan guru mengenai materi yang diajarkan. Dengan waktu yang terbatas
maka guru sering menggunakan metode tanya jawab, walaupun dengan metode tanya jawab diharapkan siswa
mampu memahami materi yang disampaikan. Sedangkan respon siswa cukup bagus dalam pembelajaran sejarah
dimana siswa cukup responsif di dalam memberikan pertanyaan-pertanyaan yang kritis pada guru, bagi siswa
yang tidak aktif di dalam kelas guru mencoba mengajak mereka bersama untuk belajar dengan suasana belajar
yang menyenangkan, sehingga siswa yang tidak aktif tetap bisa mengikuti pelajaran.
Disamping metode, dalam pembelajaran sejarah juga diperlukan media yang beragam. Dalam pokok
bahasan proklamasi kemerdekaan Indonesia dan upaya menegakkan kedaulatan, misalnya siswa diajak ke ruang
Audio Visual untuk diajak menonton film dokumenter yang berhubungan dengan materi yang diajarkan. Dari
media itu siswa dapat mengetahui dan mendeskripsikan peristiwa-perstiwa tersebut dengan baik dan benar.
Hambatan-hambatan di dalam proses pembelajaran adalah waktu yang sangat terbatas dengan materi yang
tidak terbatas. Sebenarnya sarana dan prasarana sekolah cukup representatif dalam memenuhi kebutuhan proses
pembelajaran, namun keterbatasan waktu, tenaga, dan biaya sehingga penerapan metode dan media kurang
variatif, serta hambatan dari kesiapan siswa itu sendiri.

Evaluasi Hasil Dalam kurikulum berbasis kompetensi (KBK) evaluasi dilakukan secara berproses, maksudnya evaluasi
Belajar diselenggarakan perkompetensi dasar dan tidak mengacu pada mid semester. Guru harus sedapat mungkin
mengamati tiap-tiap siswa sehingga guru harus mengenal seluruh siswa. Siswa yang aktif harus diberi reward
atau nilai tambahan sehingga menjadi motivasi bagi siswa yang tidak aktif untuk kemudian berusaha lebih aktif
lagi dalam proses pembelajaran. Keaktifan siswa dalam proses pembelajaran ini dapat dilihat dari kemampuan
kerja siswa seperti sering bertanya, berpendapat, berani tampil didepan kelas dan lain-lain.
Dalam sistem evaluasi ini dikenal adanya sistem belajar tuntas, yang aspek-aspeknya sesuai dengan kriteria
kelulusan siswa dalam PP No. 15 tahun 2005 yaitu menyelesaikan seluruh materi pelajaran, tercapainya standar
minimal, lulus ujian sekolah, dan lulus ujian nasional. Mengenai sistem belajar tuntas sesuai dengan SKBM
(Standar Ketuntasan Belajar Minimum). Untuk siswa IPA dan IPS di SMA Negeri 1 Pecangaan standar minimal
yang harus dicapai adalah 6,5. Siswa yang mendapat nilai kurang dari 6,5 harus mengikuti remidi. Remidi
diselenggarakan setelah koneksi terhadap hasil ulangan dan secepatnya dilaksanakan, biasanya remidi
dilaksanakan bukan dalam bentuk tes melainkan dalam bentuk tugas.

Hambatan- Dalam proses belajar mengajar banyak sekali hambatan-hambatan yang muncul dilapangan, antara lain dari
Hambatan dalam segi guru yang cenderung kurang kreatif dalam pengunaan metode dan media pembelajaran. Sebenarnya sarana
Pembelajaran dan prasarana yang ada disekolah cukup banyak, namun keterbatasan waktu yang menjadi kendala. Alokasi
Sejarah waktu yang sangat kurang dengan muatan materi yang harus disampaikan masih banyak, sehingga sangat
menyulitkan guru dalam proses belajar mengajar. Namun demikian guru berusaha dengan memanfaatkan waktu
sebaik-baiknya untuk menyelesaikan seluruh materi yang harus diajarkan.
Selain berasal dari guru, hambatan lain juga berasal dari siswa, dimana mereka masih sulit untuk diajak
mengubah pola pikir dan pola tindak yang tradisional menjadi lebih kreatif. Kebanyakan siswa masih
menganggap bahwa materi pelajaran sejarah hanyalah materi hafalan saja dan kemampuan bertanya serta unjuk
kerja siswa masih kurang. Disamping itu, alokasi waktu pembelajaran relatif sedikit, padahal muatan materi
sangat banyak dan jumlah siswa yang terlalu banyak sehingga sulit untuk mengamati kaompetensi masing-
masing siswa.
117

HASIL WAWANCARA SISWA

Nama : Yustisa Moreshanti


Kelas : XI IA 1
No. Induk : 4737
Sekolah : SMA N 1 Pecangaan

+ Apakah anda mengenal Mohammad Hatta ?


- Kenal.
+ Bagaimana bentuk atau model cara berpakaian Mohammad Hatta ?
- Hatta, orangnya gagah dan rapi.
+ Apa yang anda ketahui tentang Mohammad Hatta ?
- Mohammad Hatta adalah proklamator Indonesia, Wakil Presiden RI yang
pertama dan Bapak Koperasi Indonesia.
+ Dimana Mohammad Hatta dilahirkan ? Kapan ?
- Tidak tahu
+ Bagaimana latar belakang keluarga Mohammad Hatta ?
- Tidak tahu
+ Pada masa pergerakan nasional, organisasi apa saja yang pernah dimasuki dan
dipimpin Mohammad Hatta ? Bagaimana peranannya ?
- PNI dan Hatta sebagai anggota oganisasi.
+ Pada masa kemerdekaan Indonesia, bagaimana peranan Mohammad Hatta
dalam proklamasi 17 Agustus 1945 dan mewujudkan kemerdekaan Indonesia
?
- Mohammad Hatta ikut dalam penyusunan naskah teks proklamasi atas nama
Bangsa Indonesia Sukarno Hatta.
+ Mengapa Mohammad Hatta dijadikan Wakil Presiden Republik Indonesia ?
dan kapan ?
- Mohammad Hatta Wakil Presiden RI yang pertama pada sidang PPKI pada
tanggal 18 Agustus 1945.
118

+ Apakah mengetahui Konferensi Meja Bundar (KMB) ? Bagaimana


keterlibatan Mohammad Hatta dalam KMB ?
- Konferensi Meja Bundar dimana Hatta sebagai wakil Indonesia yang
menghasilkan pengakuan Indonesia sebagai Negara RIS.
+ Apakah anda tahu Bapak Koperasi Indonesia ? Mengapa Mohammad Hatta
disebut sebagai Bapak Koperasi Indonesia ?
- Mohammad Hatta / Tidak tahu.
+ Apakah anda mengetahui tentang kabinet Hatta ? Bagaimana peranannya ?
- Tidak tahu.
+ Apakah anda tahu bahwa Mohammad Hatta adalah pahlawan nasional ?
bagaimana kriteria pahlawan nasional menurut anda ?
- Ya/ memiliki jiwa pemimpin, tegas, cita-cita yang kuat untuk bersatu.
+ Bagaimana pandangan anda terhadap Mohammad Hatta sebagai pahlawan
nasional ?
- Sangat cocok, karena Hatta membawa Indonesia sebagai Negara yang
merdeka.
+ Nilai-nilai kepahlawanan apa saja yang dapat diambil dari sosok pahlawan
nasional Mohammad Hatta ?
- Jujur dan kuat.
+ Darimana anda mendapatkan sumber tentang Mohammad Hatta ?
- Dari pelajaran dan media TV.
119

HASIL WAWANCARA SISWA

Nama : Noor Rois


Kelas : XI IA 1
No. Induk : 4937
Sekolah : SMA N 1 Pecangaan

+ Apakah anda mengenal Mohammad Hatta ?


- Kenal.
+ Bagaimana bentuk atau model cara berpakaian Mohammad Hatta ?
- Mohammad Hatta adalah pahlawan nasional Indonesia, dia memiliki
perawakan yang sederhana.
+ Apa yang anda ketahui tentang Mohammad Hatta ?
- Mohammad Hatta adalah pejuang nasional yang gigih memperjuangkan
kemerdekaan Indonesia sehingga Indonesia dapat merdeka dan sebagai wakil
Presiden RI yang pertama.
+ Dimana Mohammad Hatta dilahirkan ? Kapan ?
- Tidak tahu
+ Bagaimana latar belakang keluarga Mohammad Hatta ?
- Tidak tahu
+ Pada masa pergerakan nasional, organisasi apa saja yang pernah dimasuki dan
dipimpin Mohammad Hatta ? Bagaimana peranannya ?
- PNI, peranannya sangat besar dengan memberikan masukan-masukan yang
bermanfaat bagi Indonesia.
+ Pada masa kemerdekaan Indonesia, bagaimana peranan Mohammad Hatta
dalam proklamasi 17 Agustus 1945 dan mewujudkan kemerdekaan Indonesia
?
- Mohammad Hatta turut membantu merumuskan teks proklamasi dan tanggal
17 Agustus 1945 ikut mewakili bangsa Indonesia menyatakan kemerdekaan
Indonesia.
120

+ Mengapa Mohammad Hatta dijadikan Wakil Presiden Republik Indonesia ?


dan kapan ?
- Mohammad Hatta Wakil Presiden RI yang pertama walaupun kadang-kadang
berselisih dengan presiden Sukarno.
+ Apakah mengetahui Konferensi Meja Bundar (KMB) ? Bagaimana
keterlibatan Mohammad Hatta dalam KMB ?
- Konferensi Meja Bundar dimana Hatta sebagai wakil Indonesia.
+ Apakah anda tahu Bapak Koperasi Indonesia ? Mengapa Mohammad Hatta
disebut sebagai Bapak Koperasi Indonesia ?
- Mohammad Hatta / dengan merumuskan tata ekonomi Indonesia yang baik.
+ Apakah anda mengetahui tentang kabinet Hatta ? Bagaimana peranannya ?
- Tidak tahu.
+ Apakah anda tahu bahwa Mohammad Hatta adalah pahlawan nasional ?
bagaimana kriteria pahlawan nasional menurut anda ?
- Ya/ membela tanah air dengan gigih, memiliki cita-cita dan patriotisme yang
besar.
+ Bagaimana pandangan anda terhadap Mohammad Hatta sebagai pahlawan
nasional ?
- Sangat cocok, karena Hatta hebat dalam memerdekakan Indonesia.
+ Nilai-nilai kepahlawanan apa saja yang dapat diambil dari sosok pahlawan
nasional Mohammad Hatta ?
- Pemikiran-pemikiran yang berilian.
+ Darimana anda mendapatkan sumber tentang Mohammad Hatta ?
- Dari buku pelajaran dan media TV.
121

HASIL WAWANCARA SISWA

Nama : Eka Fajar Maryati


Kelas : XI IA 1
No. Induk : 4922
Sekolah : SMA N 1 Pecangaan

+ Apakah anda mengenal Mohammad Hatta ?


- Kenal.
+ Bagaimana bentuk atau model cara berpakaian Mohammad Hatta ?
- Hatta berpakaian rapi, berwibawa.
+ Apa yang anda ketahui tentang Mohammad Hatta ?
- Mohammad Hatta adalah proklamator Indonesia, Wakil Presiden RI yang
pertama.
+ Dimana Mohammad Hatta dilahirkan ? Kapan ?
- Di Bukit Tinggi, Padang, Sumatera Barat.
+ Bagaimana latar belakang keluarga Mohammad Hatta ?
- Dari keluarga yang bijaksana dan berwibawa.
+ Pada masa pergerakan nasional, organisasi apa saja yang pernah dimasuki dan
dipimpin Mohammad Hatta ? Bagaimana peranannya ?
- PNI/ Tidak tahu.
+ Pada masa kemerdekaan Indonesia, bagaimana peranan Mohammad Hatta
dalam proklamasi 17 Agustus 1945 dan mewujudkan kemerdekaan Indonesia
?
- Mohammad Hatta menjadi motivator dan inspirasi dan sebagai motor
penggerak Sukarno dalam memutuskan..
+ Mengapa Mohammad Hatta dijadikan Wakil Presiden Republik Indonesia ?
dan kapan ?
- Mohammad Hatta Wakil Presiden RI yang pertama, peranannya sangat besar
untuk mendirikan suatu Negara yang berdaulat dan diakui oleh Negara lain..
122

+ Apakah mengetahui Konferensi Meja Bundar (KMB) ? Bagaimana


keterlibatan Mohammad Hatta dalam KMB ?
- Konferensi Meja Bundar dimana Hatta sebagai delegasi Indonesia dan
menjadi motor perjuangan kemerdekaan Indonesia.
+ Apakah anda tahu Bapak Koperasi Indonesia ? Mengapa Mohammad Hatta
disebut sebagai Bapak Koperasi Indonesia ?
- Mohammad Hatta / merumuskan kata koperasi dan mempunyai ide bahwa
koperasi itu merupakan system perekonomian bagi Indonesia.
+ Apakah anda mengetahui tentang kabinet Hatta ? Bagaimana peranannya ?
- Kabinet Hatta dibentuk setelah Kabinet Amir Syarifudin.
+ Apakah anda tahu bahwa Mohammad Hatta adalah pahlawan nasional ?
bagaimana kriteria pahlawan nasional menurut anda ?
- Ya/ memperjuangkan kemerdekaan Indonesia dan ikut andil dalam
kepemimpinan bangsa Indonesia.
+ Bagaimana pandangan anda terhadap Mohammad Hatta sebagai pahlawan
nasional ?
- Cocok, karena Hatta sebagai motor kemerdekaan dan sebagai Bapak
Proklamator.
+ Nilai-nilai kepahlawanan apa saja yang dapat diambil dari sosok pahlawan
nasional Mohammad Hatta ?
- Jujur, berwibawa, bersemangat, memiliki inspiurasi bagi orang lain dan tetap
rendah diri.
+ Darimana anda mendapatkan sumber tentang Mohammad Hatta ?
- Dari mata pelajaran, buku, majalah dan lain-lain.
123

HASIL WAWANCARA SISWA

Nama : Aditya Wardani


Kelas : XI IA 1
No. Induk : 4956
Sekolah : SMA N 1 Pecangaan

+ Apakah anda mengenal Mohammad Hatta ?


- Kenal.
+ Bagaimana bentuk atau model cara berpakaian Mohammad Hatta ?
- Hatta memakai peci dalam foto-fotonya.
+ Apa yang anda ketahui tentang Mohammad Hatta ?
- Mohammad Hatta sebagai, Wakil Presiden RI yang pertama, Bapak
Proklamator Indonesia.
+ Dimana Mohammad Hatta dilahirkan ? Kapan ?
- Bukittinggi.
+ Bagaimana latar belakang keluarga Mohammad Hatta ?
- Tidak tahu
+ Pada masa pergerakan nasional, organisasi apa saja yang pernah dimasuki dan
dipimpin Mohammad Hatta ? Bagaimana peranannya ?
- Tidak tahu
+ Pada masa kemerdekaan Indonesia, bagaimana peranan Mohammad Hatta
dalam proklamasi 17 Agustus 1945 dan mewujudkan kemerdekaan Indonesia
?
- Mohammad Hatta memberikan inspirasi dalam penyusunan teks proklamasi.
+ Mengapa Mohammad Hatta dijadikan Wakil Presiden Republik Indonesia ?
dan kapan ?
- Mohammad Hatta Wakil Presiden RI yang pertama pada sidang PPKI pada
tanggal 18 Agustus 1945.
+ Apakah mengetahui Konferensi Meja Bundar (KMB) ? Bagaimana
keterlibatan Mohammad Hatta dalam KMB ?
124

- Konferensi Meja Bundar dimana Hatta sebagai pemimpin delegasi Indonesia.


+ Apakah anda tahu Bapak Koperasi Indonesia ? Mengapa Mohammad Hatta
disebut sebagai Bapak Koperasi Indonesia ?
- Kabinet Hatta menggantikan Kabinet Amir.
+ Apakah anda mengetahui tentang kabinet Hatta ? Bagaimana peranannya ?
- Tidak tahu.
+ Apakah anda tahu bahwa Mohammad Hatta adalah pahlawan nasional ?
bagaimana kriteria pahlawan nasional menurut anda ?
- Ya/ bijaksana dalam memimpin rakyat.
+ Bagaimana pandangan anda terhadap Mohammad Hatta sebagai pahlawan
nasional ?
- Pantas, karena Hatta ikut memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.
+ Nilai-nilai kepahlawanan apa saja yang dapat diambil dari sosok pahlawan
nasional Mohammad Hatta ?
- Bijaksana dalam memimpin dan mengambil keputusan pada saat yang
genting.
+ Darimana anda mendapatkan sumber tentang Mohammad Hatta ?
- Kebanyakan dari materi pelajaran yang disampaikan bapak ibu guru.
125

HASIL WAWANCARA SISWA

Nama : Ahmad Arif Febriyanto


Kelas : XI IA 2
No. Induk : 4872
Sekolah : SMA N 1 Pecangaan

+ Apakah anda mengenal Mohammad Hatta ?


- Kenal.
+ Bagaimana bentuk atau model cara berpakaian Mohammad Hatta ?
- Hatta, orang yang sederhana dalam hal pakaian, berkacamata dan berpeci.
+ Apa yang anda ketahui tentang Mohammad Hatta ?
- Mohammad Hatta adalah seorang proklamator Indonesia bersama Bung
Karno.
+ Dimana Mohammad Hatta dilahirkan ? Kapan ?
- Tidak tahu
+ Bagaimana latar belakang keluarga Mohammad Hatta ?
- Tidak tahu
+ Pada masa pergerakan nasional, organisasi apa saja yang pernah dimasuki dan
dipimpin Mohammad Hatta ? Bagaimana peranannya ?
- Tidak tahu.
+ Pada masa kemerdekaan Indonesia, bagaimana peranan Mohammad Hatta
dalam proklamasi 17 Agustus 1945 dan mewujudkan kemerdekaan Indonesia
?
- Mohammad Hatta bersama Sukarno sebagai wakil Indonesi memproklamirkan
kemerdekaan.
+ Mengapa Mohammad Hatta dijadikan Wakil Presiden Republik Indonesia ?
dan kapan ?
- Mohammad Hatta Wakil Presiden RI yang pertama/ tidak tahu.
+ Apakah mengetahui Konferensi Meja Bundar (KMB) ? Bagaimana
keterlibatan Mohammad Hatta dalam KMB ?
126

- Konferensi Meja Bundar / tidak tahu.


+ Apakah anda tahu Bapak Koperasi Indonesia ? Mengapa Mohammad Hatta
disebut sebagai Bapak Koperasi Indonesia ?
- Mohammad Hatta / Tidak tahu.
+ Apakah anda mengetahui tentang kabinet Hatta ? Bagaimana peranannya ?
- Tidak tahu.
+ Apakah anda tahu bahwa Mohammad Hatta adalah pahlawan nasional ?
bagaimana kriteria pahlawan nasional menurut anda ?
- Ya/ memiliki peranan yang penting dalam memajukan Indonesia.
+ Bagaimana pandangan anda terhadap Mohammad Hatta sebagai pahlawan
nasional ?
- Sangat bagus.
+ Nilai-nilai kepahlawanan apa saja yang dapat diambil dari sosok pahlawan
nasional Mohammad Hatta ?
- Kesederhanaannya dan kepemimpinannya.
+ Darimana anda mendapatkan sumber tentang Mohammad Hatta ?
- Dari pelajaran.
127

HASIL WAWANCARA SISWA

Nama : Imron Rosyadi


Kelas : XI IA 2
No. Induk : 47842
Sekolah : SMA N 1 Pecangaan

+ Apakah anda mengenal Mohammad Hatta ?


- Kenal.
+ Bagaimana bentuk atau model cara berpakaian Mohammad Hatta ?
- Hatta, orangnya gagah berkacamata hitam dan berpeci.
+ Apa yang anda ketahui tentang Mohammad Hatta ?
- Mohammad Hatta orangnya sederhana dan tegas.
+ Dimana Mohammad Hatta dilahirkan ? Kapan ?
- Tidak tahu
+ Bagaimana latar belakang keluarga Mohammad Hatta ?
- Tidak tahu
+ Pada masa pergerakan nasional, organisasi apa saja yang pernah dimasuki dan
dipimpin Mohammad Hatta ? Bagaimana peranannya ?
- Tidak tahu.
+ Pada masa kemerdekaan Indonesia, bagaimana peranan Mohammad Hatta
dalam proklamasi 17 Agustus 1945 dan mewujudkan kemerdekaan Indonesia
?
- Mohammad Hatta sebagai proklamator dan pendamping presiden Sukarno.
+ Mengapa Mohammad Hatta dijadikan Wakil Presiden Republik Indonesia ?
dan kapan ?
- Mohammad Hatta Wakil Presiden RI yang pertama sejak tanggal 18 Agustus
1945.
+ Apakah mengetahui Konferensi Meja Bundar (KMB) ? Bagaimana
keterlibatan Mohammad Hatta dalam KMB ?
- Konferensi Meja Bundar di Deen Haag.
128

+ Apakah anda tahu Bapak Koperasi Indonesia ? Mengapa Mohammad Hatta


disebut sebagai Bapak Koperasi Indonesia ?
- Mohammad Hatta / Tidak tahu.
+ Apakah anda mengetahui tentang kabinet Hatta ? Bagaimana peranannya ?
- Tidak tahu.
+ Apakah anda tahu bahwa Mohammad Hatta adalah pahlawan nasional ?
bagaimana kriteria pahlawan nasional menurut anda ?
- Ya/ menurut saya Hatta adalah seorang yang berjasa pada bangsa dan
negaranya.
+ Bagaimana pandangan anda terhadap Mohammad Hatta sebagai pahlawan
nasional ?
- Hatta orangnya baik sederhana dan tegas.
+ Nilai-nilai kepahlawanan apa saja yang dapat diambil dari sosok pahlawan
nasional Mohammad Hatta ?
- Rela berkorban, ikhlas dalam berjuang.
+ Darimana anda mendapatkan sumber tentang Mohammad Hatta ?
- Dari buku sejarah dan materi pelajaran.
129

HASIL WAWANCARA SISWA

Nama : Nur Faizah


Kelas : XI IA 2
No. Induk : 4900
Sekolah : SMA N 1 Pecangaan

+ Apakah anda mengenal Mohammad Hatta ?


- Mengenal sekali.
+ Bagaimana bentuk atau model cara berpakaian Mohammad Hatta ?
- Hatta adalah pahlawan nasional Indonesia yang sederhana, berpakaian
nasionalisme dan identik dengan kacamata dan peci.
+ Apa yang anda ketahui tentang Mohammad Hatta ?
- Mohammad Hatta merupakan orang berjasa bagi bangsa Indonesia karena
dengan sifat nasionalisme yang mementingkan bangsanya hingga merdeka.
+ Dimana Mohammad Hatta dilahirkan ? Kapan ?
- Tepatnya di Sumatera.
+ Bagaimana latar belakang keluarga Mohammad Hatta ?
- Setahu saya berasal dari keluarga ningrat, pernah sekolah di Belanda.
+ Pada masa pergerakan nasional, organisasi apa saja yang pernah dimasuki dan
dipimpin Mohammad Hatta ? Bagaimana peranannya ?
- PNI/ tidak tahu.
+ Pada masa kemerdekaan Indonesia, bagaimana peranan Mohammad Hatta
dalam proklamasi 17 Agustus 1945 dan mewujudkan kemerdekaan Indonesia
?
- Peranan Mohammad Hatta dalam kemerdekaan Indonesia berusaha menjadi
seorang pahlawan untuk mengusir penjajah dan bersama Sukarno membuat
ideologi bagi kemerdekaan Indonesia.
+ Mengapa Mohammad Hatta dijadikan Wakil Presiden Republik Indonesia ?
dan kapan ?
130

- Mohammad Hatta Wakil Presiden RI yang pertama pada sidang PPKI pada
tanggal 18 Agustus 1945.
+ Apakah mengetahui Konferensi Meja Bundar (KMB) ? Bagaimana
keterlibatan Mohammad Hatta dalam KMB ?
- Konferensi Meja Bundar dimana Hatta merupakan perwakilan dari Indonesia
yang menghasilkan pengakuan kedaulatan Negara RIS.
+ Apakah anda tahu Bapak Koperasi Indonesia ? Mengapa Mohammad Hatta
disebut sebagai Bapak Koperasi Indonesia ?
- Mohammad Hatta / Tidak tahu.
+ Apakah anda mengetahui tentang kabinet Hatta ? Bagaimana peranannya ?
- Kabinet dengan pimpinan Mohammad Hatta.
+ Apakah anda tahu bahwa Mohammad Hatta adalah pahlawan nasional ?
bagaimana kriteria pahlawan nasional menurut anda ?
- Ya/ untuk menjadi seorang pahlawan nasional diperlukan jiwa nasionalisme
yang tinggi mengutamakan kepentingan Bangsa dan Negara dan rela
berkorban demi bangsanya.
+ Bagaimana pandangan anda terhadap Mohammad Hatta sebagai pahlawan
nasional ?
- Mohammad Hatta sangat bagus dan tepat sekali dijadikan pahlawan nasional
karena beliau berani membela bangsa dan negaranya.
+ Nilai-nilai kepahlawanan apa saja yang dapat diambil dari sosok pahlawan
nasional Mohammad Hatta ?
- Berjuang untuk mempertahankan Indonesia dan berfikir nasional.
+ Darimana anda mendapatkan sumber tentang Mohammad Hatta ?
- Dari pelajaran dan media TV.
131

HASIL WAWANCARA SISWA

Nama : Nur Kholis


Kelas : XI IA 2
No. Induk : 4854
Sekolah : SMA N 1 Pecangaan

+ Apakah anda mengenal Mohammad Hatta ?


- Kenal.
+ Bagaimana bentuk atau model cara berpakaian Mohammad Hatta ?
- Hatta adalah pahlawan nasional Indonesia dan berkacamata dan berpeci.
+ Apa yang anda ketahui tentang Mohammad Hatta ?
- Mohammad Hatta adalah pahalawan nasional Indoneisa, Wakil Presiden RI
yang pertama dan Bapak Koperasi Indonesia.
+ Dimana Mohammad Hatta dilahirkan ? Kapan ?
- Kemungkinan di pulau Sumatera.
+ Bagaimana latar belakang keluarga Mohammad Hatta ?
- Dari keluarga yang mampu.
+ Pada masa pergerakan nasional, organisasi apa saja yang pernah dimasuki dan
dipimpin Mohammad Hatta ? Bagaimana peranannya ?
- Tidak tahu.
+ Pada masa kemerdekaan Indonesia, bagaimana peranan Mohammad Hatta
dalam proklamasi 17 Agustus 1945 dan mewujudkan kemerdekaan Indonesia
?
- Mohammad Hatta sebagai pendamping Sukarno memproklamirkan
kemerdekaan Indonesia.
+ Mengapa Mohammad Hatta dijadikan Wakil Presiden Republik Indonesia ?
dan kapan ?
- Mohammad Hatta Wakil Presiden RI yang pertama pada sidang PPKI pada
tanggal 18 Agustus 1945.
132

+ Apakah mengetahui Konferensi Meja Bundar (KMB) ? Bagaimana


keterlibatan Mohammad Hatta dalam KMB ?
- Konferensi Meja Bundar de Deen Haag, Hatta sebagai wakil Indonesia dalam
KMB.
+ Apakah anda tahu Bapak Koperasi Indonesia ? Mengapa Mohammad Hatta
disebut sebagai Bapak Koperasi Indonesia ?
- Mohammad Hatta / Tidak tahu.
+ Apakah anda mengetahui tentang kabinet Hatta ? Bagaimana peranannya ?
- Tidak tahu.
+ Apakah anda tahu bahwa Mohammad Hatta adalah pahlawan nasional ?
bagaimana kriteria pahlawan nasional menurut anda ?
- Ya/ membela negara dan bertanggung jawab.
+ Bagaimana pandangan anda terhadap Mohammad Hatta sebagai pahlawan
nasional ?
- Mohammad Hatta sederhana dan mementingkan kepentingan umum yaitu
bangsa dan negaranya.
+ Nilai-nilai kepahlawanan apa saja yang dapat diambil dari sosok pahlawan
nasional Mohammad Hatta ?
- Kesederhanaannya, baik dan tidak korupsi.
+ Darimana anda mendapatkan sumber tentang Mohammad Hatta ?
- Kebanyakan dari buku sejarah.
133

HASIL WAWANCARA SISWA

Nama : Sri Surti


Kelas : XI IA 2
No. Induk : 4820
Sekolah : SMA N 1 Pecangaan

+ Apakah anda mengenal Mohammad Hatta ?


- Kenal.
+ Bagaimana bentuk atau model cara berpakaian Mohammad Hatta ?
- Hatta, orangnya sederhana, rasionalis, memakai peci dan berkacamata.
+ Apa yang anda ketahui tentang Mohammad Hatta ?
- Mohammad Hatta adalah seorang proklamator Indonesia.
+ Dimana Mohammad Hatta dilahirkan ? Kapan ?
- Di Bukittinggi, Padang, Sumatera.
+ Bagaimana latar belakang keluarga Mohammad Hatta ?
- Beliau dari keturunan ningrat.
+ Pada masa pergerakan nasional, organisasi apa saja yang pernah dimasuki dan
dipimpin Mohammad Hatta ? Bagaimana peranannya ?
- Tidak tahu.
+ Pada masa kemerdekaan Indonesia, bagaimana peranan Mohammad Hatta
dalam proklamasi 17 Agustus 1945 dan mewujudkan kemerdekaan Indonesia
?
- Mohammad Hatta mendampingi Ir. Sukarno dalam memproklamasikan
kemerdekaan Indonesia.
+ Mengapa Mohammad Hatta dijadikan Wakil Presiden Republik Indonesia ?
dan kapan ?
- Mohammad Hatta Wakil Presiden RI yang pertama.
+ Apakah mengetahui Konferensi Meja Bundar (KMB) ? Bagaimana
keterlibatan Mohammad Hatta dalam KMB ?
134

- Konferensi Meja Bundar diadakan di Deen Haag dan Hatta sebagai wakil
Indonesia..
+ Apakah anda tahu Bapak Koperasi Indonesia ? Mengapa Mohammad Hatta
disebut sebagai Bapak Koperasi Indonesia ?
- Mohammad Hatta / karena Hatta yang merumuskan perekonomian rakyat
Indonesia.
+ Apakah anda mengetahui tentang kabinet Hatta ? Bagaimana peranannya ?
- Tidak tahu.
+ Apakah anda tahu bahwa Mohammad Hatta adalah pahlawan nasional ?
bagaimana kriteria pahlawan nasional menurut anda ?
- Ya/ memiliki jiwa pemimpin, tegas, cita-cita yang kuat untuk bersatu.
+ Bagaimana pandangan anda terhadap Mohammad Hatta sebagai pahlawan
nasional ?
- Sangat cocok, karena Hatta membawa Indonesia sebagai Negara yang
merdeka.
+ Nilai-nilai kepahlawanan apa saja yang dapat diambil dari sosok pahlawan
nasional Mohammad Hatta ?
- Jujur, sederhana dan tidak korupsi.
+ Darimana anda mendapatkan sumber tentang Mohammad Hatta ?
- Dari pelajaran sekolah.
135

HASIL WAWANCARA SISWA

Nama : Siti Rahmawati


Kelas : XI IA 3
No. Induk : 4944
Sekolah : SMA N 1 Pecangaan

+ Apakah anda mengenal Mohammad Hatta ?


- Kenal.
+ Bagaimana bentuk atau model cara berpakaian Mohammad Hatta ?
- Beliau berwibawa karena dia adalah presiden RI yang pertama.
+ Apa yang anda ketahui tentang Mohammad Hatta ?
- Mohammad Hatta adalah Wakil Presiden RI yang pertama yang berwawasan
luas, bijaksana dan pantas memimpin bangsa.
+ Dimana Mohammad Hatta dilahirkan ? Kapan ?
- Tidak tahu
+ Bagaimana latar belakang keluarga Mohammad Hatta ?
- Tidak tahu
+ Pada masa pergerakan nasional, organisasi apa saja yang pernah dimasuki dan
dipimpin Mohammad Hatta ? Bagaimana peranannya ?
- Tidak tahu.
+ Pada masa kemerdekaan Indonesia, bagaimana peranan Mohammad Hatta
dalam proklamasi 17 Agustus 1945 dan mewujudkan kemerdekaan Indonesia
?
- Mohammad Hatta bersama Suarno mengesahkan teks proklamsi dan
menandatangani teks proklamasi.
+ Mengapa Mohammad Hatta dijadikan Wakil Presiden Republik Indonesia ?
dan kapan ?
- Mohammad Hatta Wakil Presiden RI yang pertama pada waktu Indonesia
merdeka.
136

+ Apakah mengetahui Konferensi Meja Bundar (KMB) ? Bagaimana


keterlibatan Mohammad Hatta dalam KMB ?
- Konferensi Meja Bundar/ lupa.
+ Apakah anda tahu Bapak Koperasi Indonesia ? Mengapa Mohammad Hatta
disebut sebagai Bapak Koperasi Indonesia ?
- Mohammad Hatta / Tidak tahu.
+ Apakah anda mengetahui tentang kabinet Hatta ? Bagaimana peranannya ?
- Tidak tahu.
+ Apakah anda tahu bahwa Mohammad Hatta adalah pahlawan nasional ?
bagaimana kriteria pahlawan nasional menurut anda ?
- Ya/ pahlawan nasional, bijaksana, tidak egois dan mementingkan bangsanya.
+ Bagaimana pandangan anda terhadap Mohammad Hatta sebagai pahlawan
nasional ?
- Sangat cocok, karena Hatta bijaksana, tegas dan teguh pendirian bagi seorang
pemimpin.
+ Nilai-nilai kepahlawanan apa saja yang dapat diambil dari sosok pahlawan
nasional Mohammad Hatta ?
- Tidak egois, bijaksana dan belajar menjadi seorang pemimpin.
+ Darimana anda mendapatkan sumber tentang Mohammad Hatta ?
- Dari buku pelajaran dan media TV.
137

HASIL WAWANCARA SISWA

Nama : Widi Hardianto Putro


Kelas : XI IA 3
No. Induk : 4735
Sekolah : SMA N 1 Pecangaan

+ Apakah anda mengenal Mohammad Hatta ?


- Kenal.
+ Bagaimana bentuk atau model cara berpakaian Mohammad Hatta ?
- beliau
+ Apa yang anda ketahui tentang Mohammad Hatta ?
- Mohammad Hatta adalah Bapak Proklamator Indonesia, Wakil Presiden RI
yang pertama dan tokoh pergerakan nasional.
+ Dimana Mohammad Hatta dilahirkan ? Kapan ?
- Bukittinggi.
+ Bagaimana latar belakang keluarga Mohammad Hatta ?
- Dari keluarga yang agamis.
+ Pada masa pergerakan nasional, organisasi apa saja yang pernah dimasuki dan
dipimpin Mohammad Hatta ? Bagaimana peranannya ?
- PNI/ melalui organisasi beliau memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.
+ Pada masa kemerdekaan Indonesia, bagaimana peranan Mohammad Hatta
dalam proklamasi 17 Agustus 1945 dan mewujudkan kemerdekaan Indonesia
?
- Mohammad Hatta sebagai proklamator bersama Sukarno.
+ Mengapa Mohammad Hatta dijadikan Wakil Presiden Republik Indonesia ?
dan kapan ?
- Mohammad Hatta Wakil Presiden RI yang pertama.
+ Apakah mengetahui Konferensi Meja Bundar (KMB) ? Bagaimana
keterlibatan Mohammad Hatta dalam KMB ?
- Konferensi Meja Bundar diadakan di Deen Haag, Belanda.
138

+ Apakah anda tahu Bapak Koperasi Indonesia ? Mengapa Mohammad Hatta


disebut sebagai Bapak Koperasi Indonesia ?
- Mohammad Hatta/ Tidak tahu.
+ Apakah anda mengetahui tentang kabinet Hatta ? Bagaimana peranannya ?
- Tidak tahu.
+ Apakah anda tahu bahwa Mohammad Hatta adalah pahlawan nasional ?
bagaimana kriteria pahlawan nasional menurut anda ?
- Ya/ gigih memperjuangkan kemerdekaan Indonesia baik jiwa maupun raga.
+ Bagaimana pandangan anda terhadap Mohammad Hatta sebagai pahlawan
nasional ?
- Sangat cocok, karena Hatta gigih memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.
+ Nilai-nilai kepahlawanan apa saja yang dapat diambil dari sosok pahlawan
nasional Mohammad Hatta ?
- Tegas, bijaksana dan pantang menyerah.
+ Darimana anda mendapatkan sumber tentang Mohammad Hatta ?
- Lihat dari TV dan buku pelajaran.
139

HASIL WAWANCARA SISWA

Nama : Gandhung Wahyu Irawan


Kelas : XI IA 3
No. Induk : 4754
Sekolah : SMA N 1 Pecangaan

+ Apakah anda mengenal Mohammad Hatta ?


- Kenal.
+ Bagaimana bentuk atau model cara berpakaian Mohammad Hatta ?
- Hatta sebagai wakil presiden yang berwibawa sederhana dan pintar.
+ Apa yang anda ketahui tentang Mohammad Hatta ?
- Mohammad Hatta, orangnya lurus, tidak korupsi dan bijaksana.
+ Dimana Mohammad Hatta dilahirkan ? Kapan ?
- Di Bukittinggi, Sumatera.
+ Bagaimana latar belakang keluarga Mohammad Hatta ?
- Dari keluarga yang mampu dan terpandang.
+ Pada masa pergerakan nasional, organisasi apa saja yang pernah dimasuki dan
dipimpin Mohammad Hatta ? Bagaimana peranannya ?
- Tidak tahu.
+ Pada masa kemerdekaan Indonesia, bagaimana peranan Mohammad Hatta
dalam proklamasi 17 Agustus 1945 dan mewujudkan kemerdekaan Indonesia
?
- Mohammad Hatta ikut menyusun naskah teks proklamasi.
+ Mengapa Mohammad Hatta dijadikan Wakil Presiden Republik Indonesia ?
dan kapan ?
- Mohammad Hatta Wakil Presiden RI yang pertama.
+ Apakah mengetahui Konferensi Meja Bundar (KMB) ? Bagaimana
keterlibatan Mohammad Hatta dalam KMB ?
- Tidak tahu.
140

+ Apakah anda tahu Bapak Koperasi Indonesia ? Mengapa Mohammad Hatta


disebut sebagai Bapak Koperasi Indonesia ?
- Mohammad Hatta / Tidak tahu.
+ Apakah anda mengetahui tentang kabinet Hatta ? Bagaimana peranannya ?
- Tidak tahu.
+ Apakah anda tahu bahwa Mohammad Hatta adalah pahlawan nasional ?
bagaimana kriteria pahlawan nasional menurut anda ?
- Ya/ memiliki jiwa pemimpin, tegas, cita-cita yang kuat untuk bersatu.
+ Bagaimana pandangan anda terhadap Mohammad Hatta sebagai pahlawan
nasional ?
- Sangat cocok, karena Hatta sebagai proklamator Indonesia.
+ Nilai-nilai kepahlawanan apa saja yang dapat diambil dari sosok pahlawan
nasional Mohammad Hatta ?
- Sederhana, tidak korupsi dan berwibawa.
+ Darimana anda mendapatkan sumber tentang Mohammad Hatta ?
- Dari buku sejarah.
141

HASIL WAWANCARA SISWA

Nama : Teguh Ari Wibowo


Kelas : XI IA 3
No. Induk : 4949
Sekolah : SMA N 1 Pecangaan

+ Apakah anda mengenal Mohammad Hatta ?


- Kenal.
+ Bagaimana bentuk atau model cara berpakaian Mohammad Hatta ?
- Seperti pahlawan kebanyakan yang berwibawa.
+ Apa yang anda ketahui tentang Mohammad Hatta ?
- Mohammad Hatta adalah seorag proklamator Indonesia, dan Bapak Koperasi
Indonesia.
+ Dimana Mohammad Hatta dilahirkan ? Kapan ?
- Tidak tahu
+ Bagaimana latar belakang keluarga Mohammad Hatta ?
- Dari keluarga yang terpandang.
+ Pada masa pergerakan nasional, organisasi apa saja yang pernah dimasuki dan
dipimpin Mohammad Hatta ? Bagaimana peranannya ?
- PI dan PNI Baru, peranannya sebagai ketua.
+ Pada masa kemerdekaan Indonesia, bagaimana peranan Mohammad Hatta
dalam proklamasi 17 Agustus 1945 dan mewujudkan kemerdekaan Indonesia
?
- Mohammad Hatta sebagai saah satu naskah teks proklamasi.
+ Mengapa Mohammad Hatta dijadikan Wakil Presiden Republik Indonesia ?
dan kapan ?
- Mohammad Hatta Wakil Presiden RI yang pertama pada sidang PPKI pada
tanggal 18 Agustus 1945.
+ Apakah mengetahui Konferensi Meja Bundar (KMB) ? Bagaimana
keterlibatan Mohammad Hatta dalam KMB ?
142

- Konferensi Meja Bundar dimana Hatta sebagai wakil Indonesia dalam KMB.
+ Apakah anda tahu Bapak Koperasi Indonesia ? Mengapa Mohammad Hatta
disebut sebagai Bapak Koperasi Indonesia ?
- Mohammad Hatta / karena Hatta perintis perekonomian Indonesia.
+ Apakah anda mengetahui tentang kabinet Hatta ? Bagaimana peranannya ?
- Tidak tahu.
+ Apakah anda tahu bahwa Mohammad Hatta adalah pahlawan nasional ?
bagaimana kriteria pahlawan nasional menurut anda ?
- Ya/ memiliki jiwa pemimpin, jujur dan tidak korupsi.
+ Bagaimana pandangan anda terhadap Mohammad Hatta sebagai pahlawan
nasional ?
- Sangat cocok, karena sikapnya yang jujur, lurus dan tidak suka korupsi.
+ Nilai-nilai kepahlawanan apa saja yang dapat diambil dari sosok pahlawan
nasional Mohammad Hatta ?
- Pahlawan yang jujur, lurus dan tidak korupsi.
+ Darimana anda mendapatkan sumber tentang Mohammad Hatta ?
- Dari buku panduan.
143

HASIL WAWANCARA SISWA

Nama : Wahyu Dian Pramana


Kelas : XI IA 3
No. Induk : 4777
Sekolah : SMA N 1 Pecangaan

+ Apakah anda mengenal Mohammad Hatta ?


- Kenal.
+ Bagaimana bentuk atau model cara berpakaian Mohammad Hatta ?
- Pakaiannya rapi, berkacamata dan sederhana.
+ Apa yang anda ketahui tentang Mohammad Hatta ?
- Mohammad Hatta adalah proklamator Indonesia yang mementingan rakyat
dan tidak suka korupsi.
+ Dimana Mohammad Hatta dilahirkan ? Kapan ?
- Bukittinggi.
+ Bagaimana latar belakang keluarga Mohammad Hatta ?
- Dari keluarga yang agamis.
+ Pada masa pergerakan nasional, organisasi apa saja yang pernah dimasuki dan
dipimpin Mohammad Hatta ? Bagaimana peranannya ?
- PI dan PNI Baru sebagai ketua yang peranannya memberikan ide-ide
perjuangan kemerdekaan Indonesia.
+ Pada masa kemerdekaan Indonesia, bagaimana peranan Mohammad Hatta
dalam proklamasi 17 Agustus 1945 dan mewujudkan kemerdekaan Indonesia
?
- Mohammad Hatta ikut dalam penyusunan naskah teks proklamasi dan
menandatangani teks proklamasi.
+ Mengapa Mohammad Hatta dijadikan Wakil Presiden Republik Indonesia ?
dan kapan ?
- Mohammad Hatta Wakil Presiden RI yang pertama tanggal 18 Agustus 1945.
144

+ Apakah mengetahui Konferensi Meja Bundar (KMB) ? Bagaimana


keterlibatan Mohammad Hatta dalam KMB ?
- Konferensi Meja Bundar di Deen Haag sebagai delegasi Indonesia yang
menghasilkan Negara RIS.
+ Apakah anda tahu Bapak Koperasi Indonesia ? Mengapa Mohammad Hatta
disebut sebagai Bapak Koperasi Indonesia ?
- Mohammad Hatta / Hatta yang mempelopori ekonomi kerakyatan dengan
mementingkan kesejahteraan rakyat.
+ Apakah anda mengetahui tentang kabinet Hatta ? Bagaimana peranannya ?
- Memperkecil susunan kabinet.
+ Apakah anda tahu bahwa Mohammad Hatta adalah pahlawan nasional ?
bagaimana kriteria pahlawan nasional menurut anda ?
- Ya/ memperjuangkan kepentingan bangsa dan Negara, tidak mementingkan
kepentingan pribadi, sopan, santun dan pintar.
+ Bagaimana pandangan anda terhadap Mohammad Hatta sebagai pahlawan
nasional ?
- Sangat cocok, sebagai suri tauladan bagi generasi muda misalnya tidak
korupsi sederhana dan bijaksana.
+ Nilai-nilai kepahlawanan apa saja yang dapat diambil dari sosok pahlawan
nasional Mohammad Hatta ?
- Tidak pantang menyerah, bijaksana, sederhana, mementingkan kepentingan
umum dan tidak korupsi.
+ Darimana anda mendapatkan sumber tentang Mohammad Hatta ?
- Dari buku pelajaran dan media TV.
LEMBAR INSTRUMEN PENELITIAN

Nama :
Kelas :
Sekolah :

I. Petunjuk Pengisian
Dibawah ini terdapat sejumlah pernyataan tentang persepsi siswa
terhadap penokohan Mohammad Hatta sebagai pahlawan nasional,
nyatakanlah bahwa saudara sangat setuju (SS), setuju (S), tidak setuju (TS),
atau sangat tidak setuju (STS) dengan memberi tanda check list (V).

II. Pernyataan
1. Mohammad Hatta adalah pahlawan nasional.
□ Sangat Setuju
□ Setuju
□ Tidak Setuju
□ Sangat Tidak Setuju

2. Mohammad Hatta memiliki ciri-ciri diantaranya sederhana, berkacamata dan


berpeci.
□ Sangat Setuju
□ Setuju
□ Tidak Setuju
□ Sangat Tidak Setuju

3. Bukittinggi, Padang, Sumatera Barat adalah tempat Mohammad Hatta


dilahirkan dari keluarga yang agamis.
□ Sangat Setuju
□ Setuju
□ Tidak Setuju
□ Sangat Tidak Setuju

4. Mohammad Hatta merupakan lulusan dari Handels Hageschool (Sekolah


Tinggi Dagang) di Rotterdam negeri Belanda.
□ Sangat Setuju
□ Setuju
□ Tidak Setuju
□ Sangat Tidak Setuju

5. Sebagai mahasiswa, kepribadian Hatta ditandai dengan disiplin diri yang kuat
dan berpandangan islami.
□ Sangat Setuju
□ Setuju
□ Tidak Setuju
□ Sangat Tidak Setuju
6. Melalui Perhimpunan Indonesia (PI) Mohammad Hatta memperjuangkan
kemerdekaan Indonesia.
□ Sangat Setuju
□ Setuju
□ Tidak Setuju
□ Sangat Tidak Setuju

7. Hatta di PNI Baru dan Soekarno di Partindo saling bersaing karena perbedaan
pandangan dan ideologi.
□ Sangat Setuju
□ Setuju
□ Tidak Setuju
□ Sangat Tidak Setuju

8. Karena aktivitas politik Mohammad Hatta maka beliau sering keluar masuk
penjara.
□ Sangat Setuju
□ Setuju
□ Tidak Setuju
□ Sangat Tidak Setuju

9. Hatta bersama Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia pada


tanggal 17 Agustus 1945 atas nama bangsa Indonesia.
□ Sangat Setuju
□ Setuju
□ Tidak Setuju
□ Sangat Tidak Setuju

10. Sejak Hatta terpilih menjadi Wakil Presiden RI dan juga beberapa kali
memimpin kabinet sebagai perdana menteri.
□ Sangat Setuju
□ Setuju
□ Tidak Setuju
□ Sangat Tidak Setuju

11. Bung Hatta dan Soekarno merupakan kemitraan politik yang membuat mereka
digelari Dwitunggal.
□ Sangat Setuju
□ Setuju
□ Tidak Setuju
□ Sangat Tidak Setuju

12. Hatta adalah pimpinan delegasi Indonesia dalam Konferensi Meja Bundar
(KMB) di Den Haag, Belanda.
□ Sangat Setuju
□ Setuju
□ Tidak Setuju
□ Sangat Tidak Setuju

13. Hasil dari KMB adalah pengakuan kedaulatan dari pemerintah Belanda
kepada Republik Indonesia.
□ Sangat Setuju
□ Setuju
□ Tidak Setuju
□ Sangat Tidak Setuju

14. Mohammad Hatta juga disebut sebagai Bapak Koperasi Indonesia.


□ Sangat Setuju
□ Setuju
□ Tidak Setuju
□ Sangat Tidak Setuju

15. Karena jasanya untuk membangun kekuatan golongan ekonomi lemah, Hatta
mengajukan pentingnya koperasi.
□ Sangat Setuju
□ Setuju
□ Tidak Setuju
□ Sangat Tidak Setuju

16. Mohammad Hatta sebagai pahlawan nasional pantas ditiru karena sifat
kepemimpinannya dan nilai-nilai kepahlawanannya.
□ Sangat Setuju
□ Setuju
□ Tidak Setuju
□ Sangat Tidak Setuju

17. Mohammad Hatta adalah pahlawan kemerdekaan nasional yang gigih


memperjuangkan kemerdekaan Indonesia dengan sikapnya yang nasionalis
sosialis.
□ Sangat Setuju
□ Setuju
□ Tidak Setuju
□ Sangat Tidak Setuju

18. Cinta pada tanah air, rela berkorban, dan berani membela kebenaran dan
keadilan merupakan salah satu sikap kepahlawanan Mohammad Hatta.
□ Sangat Setuju
□ Setuju
□ Tidak Setuju
□ Sangat Tidak Setuju
DAFTAR NAMA PAHLAWAN NASIONAL
No. Nama Pahlawan SK Presiden RI Keterangan
1. Abdul Muis 218 Tahun 1959, Pahlawan
(1883-1959) Tgl 30 Agustus 1959 Pergerakan Nasional

2. Ki Hajar Dewantara 305 Tahun 1959, Pahlawan


(1889-1959) Tgl 28 November1959 Pergerakan Nasional

3. R.M. Suryopranoto 310 Tahun 1959, Pahlawan


(1871-1595) Tgl 30 November1959 Pergerakan Nasional

4. M. Husni Thamrin 175 Tahun 1960, Pahlawan


(1894-1941) Tgl 28 Juli 1960 Pergerakan Nasional

5. K.H. Samanhudi 590 Tahun 1961, Pahlawan


(1868-1956) Tgl 9 November 1961 Pergerakan Nasional

6. H.O.S. Tjokroaminoto 590 Tahun 1961, Pahlawan


(1883-1934) Tgl 9 November 1961 Pergerakan Nasional

7. Dr. Danu Dirjo Setiabudi 590 Tahun 1961, Pahlawan


(1879-1950) Tgl 9 November 1961 Pergerakan Nasional

8. Si Singamangaraja 590 Tahun 1961, Pahlawan


(1849-1907) Tgl 9 November 1961 Perjuangan
Kemerdekaan
9. Dr. G.S.S.J. Ratulangi 590 Tahun 1961, Pahlawan
(1890-1949) Tgl 9 November 1961 Pergerakan Nasional

10. Dr. Soetomo 657 Tahun 1961, Pahlawan


(1883-1938) Tgl 17 Desember1961 Pergerakan Nasional

11. K.H. Ahmad Dahlan 657 Tahun 1961, Pahlawan


(1868-1923) Tgl 17 Desember1961 Pergerakan Nasional

12. Haji Agus Salim 657 Tahun 1961, Pahlawan


(1884-1954) Tgl 17 Desember1961 Pergerakan Nasional

13. Jenderal Gatot Subroto 222 Tahun 1962, Pahlawan Pembela


(1907-1962) Tgl 18 Juni 1962 Kemerdekaan

14. Sukardjo Wirjopranoto 342 Tahun 19562, Pahlawan


(1903-1962) Tgl 26 Oktober 1962 Pergerakan Nasional

15. Ferdinand Lumban Tobing 361 Tahun 1962, Pahlawan


(1899-1962) Tgl 4 Maret 1963 Pergerakan Nasional

16. Zainal Arifin 35 Tahun 1963, Pahlawan


(1909-1963) Tgl 17 November1963 Pergerakan Nasional

17. Tan Malaka 53 Tahun 1963, Pahlawan Nasional


(1884-1949)

18. Mgr. A. Sugiyapranata, SJ 152 Tahun 1963, Pahlawan Pembela


(1896-1963) Tgl 26 Maret 1963 Kemerdekaan

19. Ir. H. Djuanda Kartawidjaja 244 Tahun 1963, Pahlawan


(1911-1963) Tgl 29 November1963 Pergerakan Nasional

20. Dr. Suhardjo, S.H. 245 Tahun 1963, Pahlawan


(1909-1963) Tgl 29 November1963 Kemerdekaan
Nasional
21. Cut Nyak Dien 106 Tahun 1964, Pahlawan
(1850-1908) Tgl 2 Mei 1964 Kemerdekaan
Nasional
22. Cut Meutia 107 Tahun 1964, Pahlawan
(1870-1910) Tgl 2 Mei 1964 Kemerdekaan
nasional
23. R.A. Kartini 108 Tahun 1964, Pahlawan
(1879-1904) Tgl 2 Mei 1964 Pergerakan Nasional

24. Dr. Cipto Mangunkusumo 109 Tahun 1964, Pahlawan


(1886-1943) Tgl 2 Mei 1964 Pergerakan Nasional

25. Haji Fakhruddin 162 Tahun 1964, Pahlawan


(1890-1929) Tgl 26 Juni 1964 Kemerdekaan
Nasional
26. Kyai Haji Mas Mansur 162 Tahun 1964, Pahlawan
(1896-1946) Tgl 26 Juni 1964 Kemerdekaan
Nasional
27. Dr. Muwardi 190 Tahun 1964, Pahlawan
(1907-1948) Tgl 4 Agustus 1964 Kemerdekaan
Nasional
28. Alimin 163 Tahun 1964 Pahlawan
(1889-1964) Kemerdekaan
Nasional
29. K.H. Abdul Wahid Hasyim 286 Tahun 1964, Pahlawan
(1914-1953) Tgl 24 Agustus 1964 Pergerakan Nasional

30. Sri Susuhunan Pakubowono 294 Tahun 1964, Pahlawan


VI Tgl 17 November1964 Perjuangan
(1875-1947) kemerdekaan

31. K.H. Hasyim Asyari 294 Tahun 1964 Pahlawan


(1875-1947) Tgl 17 November1964 Pergerakan Nasional

32. Gubernur Suryo 294 Tahun 1964 Pahlawan Pembela


(1896-1948) Tgl 17 November1964 Kemerdekaan

33. Jenderal Sudirman 314 Tahun 1964 Pahlawan Pembela


(1916-1950) Tgl 10 Desember1964 Kemerdekaan

34. Letnan Jenderal urip 314 Tahun 1964 Pahlawan Pembela


Sumoharjo (1893-1948) Tgl 10 Desember1964 Kemerdekaan

35. Prof. Dr. Soepomo 123 Tahun 1965 Pahlawan Pembela


(1903-1958) Tgl 14 Mei 1965 Kemerdekaan

36. Dr. Koesoemah Atmaja S.H. 124 Tahun 1965 Pahlawan Pembela
(1898-1952) Tgl 14 Mei 1965 Kemerdekaan

37. Jenderal Anumerta Achmad 111/KOTI/1965 Pahlawan Revolusi


Yani (1920-1965) Tgl 5 Oktober 1965

38. Letjen Anumerta R. Suprapto 111/KOTI/1965 Pahlawan Revolusi


(1920-1965) Tgl 5 Oktober 1965

39. Letjen Haryono M.T 111/KOTI/1965 Pahlawan Revolusi


(1924-1965) Tgl 5 Oktober 1965

40. Letjen Anumerta S. Parman 111/KOTI/1965 Pahlawan Revolusi


(1918-1965) Tgl 5 Oktober 1965

41. Mayjen Anumerta D.I. 111/KOTI/1965 Pahlawan Revolusi


Panjaitan (1925-1965) Tgl 5 Oktober 1965

42. Mayjen Anumerta Sutoyo 111/KOTI/1965 Pahlawan Revolusi


(1922-1965) Tgl 5 Oktober 1965

43. Kapten Anumerta Pierre 111/KOTI/1965 Pahlawan Revolusi


Tendean (1939-1965) Tgl 5 Oktober 1965

44. A.I.P Tk II Anumerta Karel 114/KOTI/1965 Pahlawan Revolusi


Satsuittubun (1928-1965) Tgl 5 Oktober 1965

45.. Brigjen Anumerta Katamso 118/KOTI/1965 Pahlawan Revolusi


(1923-1965) Tgl 19 Oktober 1965
46. Kol. Anumerta Sugiyono 118/KOTI/1965 Pahlawan Revolusi
(1926-1965) Tgl 19 Oktober 1965

47. Sutan Sjahrir 76 Tahun 1966, Pahlawan


(1909-1966) Tgl 9 April 1966 Pergerakan Nasional

48. Laksamana Laut R.E. 220 Tahun 1966, Pahlawan Nasional


Martadinata (1921-1966) Tgl 7 Oktober 1966

49. Raden Dewi Sartika 252 Tahun 1966, Pahlawan


(1884-1947) Tgl 1 Desember 1966 Pergerakan Nasional

50. Prof. Dr. W.Z. Yohannes 06/TK/TH. 1968, Pahlawan Pembela


(1895-1952) Tgl 27 Maret 1968 Kemerdekaan

51. Pangeran Antasari 06/TK/TH. 1968, Pahlawan


(1809-1862) Tgl 27 Maret 1968 Perjuangan
Kemerdekaan
52. Serda KKO Usman bin Haji 050/TK/TH. 1968, Pahlawan Pembela
Mohammad Ali (1943-1969) Tgl 17 Oktober 1968 Kemerdekaan

53. Kopral KKO Harun bin Said 050/TK/TH. 1968, Pahlawan Pembela
alias Tahir (1947-1969) Tgl 17 Oktober 1968 Kemerdekaan

54. Jenderal Anumerta Basuki 01/TK/TH. 1969, Pahlawan Pembela


Rahmat (1921-1969) Tgl 19 Januari 1969 Kemerdekaan

55. A.F. Lasud 012/TK/TH. 1969, Pahlawan


(1918-1949) Tgl 20 Mei 1969 Kemerdekaan
Nasional
56. Martha Cristina Tiahahu 012/TK/TH. 1969, Pahlawan
(1800-1818) Tgl 20 Mei 1969 Pergerakan Nasional

57. Maria Walanda Maramis 012/TK/TH. 1969, Pahlawan


(1872-1924) Tgl 20 Mei 1969 Pergerakan Nasional

58. Menteri Supeno 039/TK/TH. 1970, Pahlawan


(1916-1949) Tgl 13 Juli 1970 Pergerakan Nasional

59. Sultan Ageng Tirtayasa 045/TK/TH. 1970, Pahlawan


(1631-1683) Tgl 1 Agustus 1970 Perjuangan
Kemerdekaan
60. W.R. Supratman 016/TK/TH. 1971, Pahlawan
(1903-1938) Tgl 20 Mei 1971 Pergerakan Nasional
61. Nyai Achmad Dachlan 042/TK/TH. 1971, Pahlawan Nasional
(1872-1946) Tgl 22
September1971
62. K.H. Zaenal Mustofa 064/TK/TH. 1973, Pahlawan
(1907-1944) Tgl 6 November 1973 Pergerakan Nasional

63. Sultan Hasanuddin 087/TK/TH. 1973, Pahlawan


(1631-1670) Tgl 6 November 1973 Perjuangan
Kemerdekaan
64. Kapten Pattimura 087/TK/TH. 1973, Pahlawan
(1783-1817) Tgl 6 November 1973 Perjuangan
Kemerdekaan
65. Pangeran Diponegoro 087/TK/TH. 1973, Pahlawan
(1785-1855) Tgl 6 November 1973 Perjuangan
Kemerdekaan
66. Tuanku Imam Bonjol 087/TK/TH. 1973, Pahlawan
(1772-1864) Tgl 6 November 1973 Perjuangan
Kemerdekaan
67. Teungku Cik Di Tiro 087/TK/TH. 1973, Pahlawan
(1863-1891) Tgl 6 November 1973 Perjuangan
Kemerdekaan
68. Teuku Umar 087/TK/TH. 1973, Pahlawan
(1854-1899) Tgl 6 November 1973 Perjuangan
Kemerdekaan
69. dr. Wahidin Sudiro Husodo 088/TK/TH. 1973, Pahlawan Nasional
(1852-1917) Tgl 6 November 1973

70. Otto Iskandar Dinata 088/TK/TH. 1973, Pahlawan Nasional


(1879-1945) Tgl 6 November 1973

71. Robert Wolter Monginsidi 088/TK/TH. 1973, Pahlawan Pembela


(1925-1949) Tgl 6 November 1973 kemerdekaan

72. Prof. Mohammad Yamin, 088/TK/TH. 1973, Pahlawan


S.H (1903-1949) Tgl 6 November 1973 Pergerakan Nasional

73. Laksda Anumerta Yosafat 088/TK/TH. 1973, Pahlawan


Sudarso (1925-1962) Tgl 6 November 1973 Pergerakan Nasional

74. Laksda Anumerta Prof. Dr. 071/TK/TH. 1974, Pahlawan Nasional


Abdul Rahman Saleh Tgl 9 November 1974
(1909-1947)

75. Marsda Agustinus 071/TK/TH. 1974, Pahlawan Nasional


Adisucipto (1916-1947) Tgl 9 November 1974
76. Teuku Nyak Arif 071/TK/TH. 1974, Pahlawan Nasional
(1899-1946) Tgl 9 November 1974

77. Nyi Ageng Serang 084/TK/TH. 1974 Pahlawan Nasional


(1752-1828) Tgl 13 Desember1974

78. H. Rasuna said 084/TK/TH. 1974 Pahlawan Nasional


(1910-1965) Tgl 13 Desember1974

79. Marsda TNI Anumerta 063/TK/TH. 1975 Pahlawan Nasional


Addul Halim Perdana Tgl 9 Agustus 1975
Kusuma (1922-1947)

80. Marsda TNI Anumerta 063/TK/TH. 1975 Pahlawan Nasional


Iswahyudi (1918-1947) Tgl 9 Agustus 1975

81. Kolonel Anumerta I Gusti 063/TK/TH. 1975 Pahlawan Nasional


Ngurah Rai (1917-1946) Tgl 9 Agustus 1975

82. Supriyadi 063/TK/TH. 1975 Pahlawan Nasional


(1923-1946) Tgl 9 Agustus 1975

83. Sultan Agung 106/TK/.TH. 1975 Pahlawan Nasional


(1591-1645) Tgl 3 November 1975

84. Untung Suropati 106/TK/.TH. 1975 Pahlawan


(1660-1706) Tgl 3 November 1975 Perjuangan
kemerdekaan
85. Tengku Amir Hamzah 106/TK/.TH. 1975 Pahlawan Nasional
(1911-1946) Tgl 3 November 1975

86. Sultan Thaha Syaifuddin 079/TK/TH. 1977 Pahlawan Nasional


(1816-1904) Tgl 24 Oktober 1977

87. Sultan Mahmud Badaruddin 063/TK/TH. 1977 Pahlawan


II (1768-1852) Tgl 24 Oktober 1977 Kemerdekaan
Nasional
88. Dr. Ir. Soekarno 081/TK/TH. 1986 Pahlawan
(1901-1970) Tgl 29 Oktober 1984 Proklamator

89. Drs. Moh. Hatta 081/TK/TH. 1986 Pahlawan


(1902-1980) Tgl 23 Oktober 1986 Proklamator

90. R.P Soeroso 082/TK/TH. 1986 Pahlawan Nasional


(1893-1981) 23 November 1986
91. Radin Inten II 182/TK/TH. 1986 Pahlawan Nasional
(1834-1859) 23 Oktober 1986

92. KGPAA Mangkunegoro I 048/TK/TH. 1988 Pahlawan


(1725-1795) Tgl 17 Agustus 1988 Kemerdekaan
Nasional
93. Sri Sultan Hamengkubowono 053/TK/TH. 1990 Pahlawan Nasional
IX (1912-1988) Tgl 30 Juli 1990

94. Sultan Iskandar Muda 077/TK/TH. 1993 Pahlawan Nasional


(1593-1636) Tgl 30 Juli 1933

95. I Gusti Ketut Jelantik 177/TK/TH. 1993 Pahlawan Nasional


(1813-1849) 14 September 1993

96. Frans Kaisiepo 177/TK/TH. 1993 Pahlawan Nasional


(1921-19790 14 September 1993

97. Silas Papare 177/TK/TH. 1993 Pahlawan Nasional


(1918-1978) 14 September 1993

98. Marten Indey 177/TK/TH. 1993 Pahlawan Nasional


(1912-1986) 14 September 1993

99. Nuku Mohammad 071/TK/TH. 1995 Pahlawan Nasional


Amiruddin (1738-1805) Tgl 7 Agustus 1995

100. Tuanku Tambusai 071/TK/TH. 1995 Pahlawan Nasional


(1784-1838) Tgl 7 Agustus 1995

101. Syekh Yusuf Tajul Khalwati 071/TK/TH. 1995 Pahlawan Nasional


(1626-1699) Tgl 7 Agustus 1995

102. Hj. Siti Hartina Soeharto 060/TK/TH. 1996 Pahlawan Nasional


(1923-1996) Tgl 30 Juli 1996

103. Raja Haji Fisabillah 072/TK/TH. 1997 Pahlawan Nasional


(1727-1784) Tg; 11 Agustus 1997

104. H. Adam Malik 107/TK/TH. 1998 Pahlawan Nasional


(1918-1987) 6 November 1998

105. Tjilik Riwut 108/TK/TH. 1998 Pahlawan Nasional


(1917-1987) 6 November 1998

106. Sultan Syarif Kasim II 109/TK/TH. 1999 Pahlawan Nasional


(1893-1969) 6 November 1999

107. La Maddukelleng 109/TK/TH. 1998 Pahlawan Nasional


(1700-1765) 6 November 1968

108. Ilyas Yacoub 174/TK/TH. 1999 Pahlawan Nasional


(1903-1959) 13 Agustus 1999

109. Prof. Dr. Hazairin 174?TK/TH. 1999 Pahlawan Nasional


(1906-1975) 13 Agustus 1999

110. Abdul Kadir Raden 114/TK/TH. 1999 Pahlawan Nasional


Tumenggung Setia Pahlawan Tgl 13 Oktober 1999
(1771-1875)

111. Hj. Fatmawati Soekarno 118/TK/TH. 2000 Pahlawan Nasional


(1923-1980) Tgl 4 November 2000

112. Ranggong Daeng Romo 109/TK/TH. 2001 Pahlawan Nasional


(1915-1947) Tgl 3 November 2001

113. Brigjen TNI H. Hasan 110/TK/TH. 2001 Pahlawan Nasional


(1923-1984) Tgl 3 November 2001

114. Gusti Pangeran Harjo 073/TK/TH. 2002 Pahlawan Nasional


Djatikusumo (1917-1992) Tgl 6 November 2002

115. Jederal Besar TNI A.H. 073/TK/TH. 2002 Pahlawan Nasional


Nasution (1918-2000) Tgl 6 November 2002

116. Andi Djemma 073/TK/TH. 2002 Pahlawan Nasional


(1935-1965) Tgl 6 November 2002

117. Pong Tiku Alias Ne’Baso 073/TK/TH. 2002 Pahlawan Nasional


(1846-1907) Tgl 6 November 2002

118. Maskoen Soemadiredja 089/TK/tahun 2004 Pahlawan Nasional


(1907-1986)

119. Andi Mappanyuki Kepres RI Pahlawan Nasional


(1885-1967) No. 089/TK/TH. 2004

120. Raja Ali Haji 089/TK/TH. 2004 Pahlawan Nasional


(1809-1870)

121. K.H. Ahmad Rifa’i 089/TK/TH. 2004 Pahlawan Nasional


(1786-1870)

122. Gatot Mangkoepradja 089/TK/TH. 2004 Pahlawan Nasional


(1898-1968)

123. Ismail Marzuki 089/TK/TH. 2004 Pahlawan Nasional


(1914-1958)

124. Kiras Bangun (garamata) 082TK/TH. 2005 Pahlawan Nasional


(1852-1942) 7 November 2005

125. Bagindo Azizchan 082TK/TH. 2005 Pahlawan Nasional


(1910-1947) 7 November 2005

126. Andi Abdullah Bau Massepe 082TK/TH. 2005 Pahlawan Nasional


(1918-1947) 7 November 2005

127. DR. Mr. Teuku Muhammad 085/TK/TH. 2006 Pahlawan Nasional


Hasan (1906-1997) 3 November 2006

128. KH. Noer Alie 085/TK/TH. 2006 Pahlawan Nasional


(1914-1992) 3 November 2006

129. RM. Tirto Adhi Soerjo 085/TK/TH. 2006 Pahlawan Nasional


(1875-1918) 3 November 2006

130. H. Pajonga Daeng Ngalle 085/TK/TH. 2006 Pahlawan Nasional


Karaeng Polombangkeng 3 November 2006
(1901-1985)

131. Opu Daeng Risadju 085/TK/TH. 2006 Pahlawan Nasional


(1880-1964) 3 November 2006

132. Andi Sultan Daeng Radja 085/TK/TH. 2006 Pahlawan Nasional


(1894-) 3 November 2006

133. Izaac Huru Doko 085/TK/TH. 2006 Pahlawan Nasional


(1913-1985) 3 November 2006

134. Pangeran Mangkubumi/ 085/TK/TH. 2006 Pahlawan Nasional


Sultan Hamengkubuwono I 3 November 2006
(1717-1792)
Sumber : J.B. Soedarmanta. Jejak-Jejak Pahlawan : Perekat Kesatuan Bangsa
Indonesia. (Jakarta : 2007). Hlm. 425-436.