Anda di halaman 1dari 4

[Artikel - Th. I - No.

6 - Agustus 2002]

Gema PKM (Gerakan Bersama Pengembangan Keuangan Mikro Indonesia)

RANGKUMAN HASIL TEMU NASIONAL DAN BAZAR PENGEMBANGAN KEUANGAN MIKRO


INDONESIA

Dengan tekad untuk mengembangkan keuangan mikro dalam rangka pemberdayaan usaha mikro
sebagai usaha mengentaskan kemiskinan dengan target menjangkau dan melayani 10 juta orang
miskin hingga 2005, Temu Nasional dan Bazar Pengembangan Keuangan Mikro Indonesia
menghasilkan beberapa hal sebagai berikut:

Bagian 1. Prinsip Pengembangan Keuangan Mikro Indonesia

Pengembangan Keuangan Mikro dan pemberdayaan Lembaga Keuangan Mikro merupakan langkah
yang tepat dalam usaha pengentasan kemiskinan dan pengembangan ekonomi rakyat. Hal tersebut
terutama karena dengan sistem dan cara masing-masing LKM telah mengakar dan tumbuh
bersama perkembangan masyarakat, dan terbukti telah mampu memberikan pelayanan memenuhi
kebutuhan masyarakat miskin dan berpenghasilan rendah yang tidak terjangkau oleh layanan
keuangan lainnya. Oleh sebab itu pengembangan keuangan mikro tidak cukup hanya dilakukan
melalui pengembangan Bank Perkreditan Rakyat, BRI Unit Desa dan kegiatan bank umum lainnya,
pegadaian, atau Koperasi Simpan Pinjam. Oleh sebab itu diperlukan pengakuan atas eksistensi
lembaga keuangan mikro sebagai entitas tersendiri.

Dalam usaha menanggulangi kemiskinan dan menggerakkan ekonomi rakyat penguatan,


pemberdayaan, dan pengembangan keuangan mikro perlu dilakukan dengan prinsip:

1. Menghormati keragaman, keunikan, dan keterkaitan keuangan mikro dengan


perkembangan masyarakat.

2. Memberikan pengakuan dan legalitas atas keberadaan keuangan mikro dan lembaga
keuangan mikro

3. Memberikan perlindungan kepada masyarakat yang terlibat dalam kegiatan keuangan


mikro

4. Memprioritaskan strategi pengembangan keuangan mikro atas dasar gerakan bersama


dari semua pihak yang terkait dengan pengembangan keuangan mikro

Bagian 2. Strategi Pengembangan Keuangan Mikro

Strategi pengembangan keuangan mikro mencakup hal-hal sebagai berikut:

1. Mengembangkan pendampingan yang mandiri dan berkelanjutan, termasuk melakukan


penguatan lembaga-lembaga pendampingan terutama yang berfungsi menghubungkan
sector formal dan non-formal.

2. Memadukan pendekatan kelompok dan individual sesuai dengan kebutuhan dan


penerimaan masyarakat.
3. Mengembangkan keterpaduan antara penyaluran pinjaman dan mobilisasi tabungan
masyarakat, sekaligus menjadikan tabungan sebagai basis system dan kekuatan keuangan
mikro.

4. Membangun kapasitas lembaga keuangan mikro, melalui kerjasama dengan perguruan


tinggi, lembaga pendamping, dunia usaha, lembaga internasional, kerjasama antar LKM, dan
instansi pemerintah; terutama dalam hal peningkatan kemampuan sumberdaya manusia;
system dan prosedur operasi, teknologi, terutama teknologi informasi; jaringan kerjasama;
dan aksesibilitas terhadap berbagai dukungan untuk meningkatkan jangkauan pelayanan
kepada masyarakat.

5. Menegaskan kembali sekaligus memberikan pengakuan dan apresiasi terhadap arti


peranan perempuan dalam setiap usaha pengembangan keuangan mikro.

6. Mengembangkan lembaga-lembaga penunjang keuangan mikro sebagai berikut:

a. lembaga yang dapat berfungsi sebagai sumber permodalan bagi lembaga keuangan
mikro (secondary source of fund), baik melalui pengembangan keterkaitan (linkage)
dengan bank dan lembaga keuangan yang sudah ada maupun melalui
pengembangan lembaga pendanaan (wholeseler of fund, polling of fund) khusus
untuk keuangan mikro.

b. Lembaga yang dapat menjalankan fungsi perlindungan atas simpanan dan pinjaman

c. Lembaga pengawasan, yang sekaligus melakukan standarisasi minimal terhadap


praktik keuangan mikro, supervisi, audit, rating, dan sertifikasi lembaga keuangan
mikro.

d. Lembaga yang dapat melaksanakan fungsi-fungsi pengembangan keuangan mikro,


mulai dari sosialisasi peran dan fungsi KM, pengembangan SDM, pengembangan
system dan prosedure, pengembangan teknologi, dan pengembangan data-base
keuangan mikro Indonesia; serta

e. Lembaga yang membangun jaringan kerjasama (network) antar LKM.

7. perlu dipikirkan untuk dipertimbangkan dibentuknya semacam lembaga “bank sentral


alternatif bagi LKM” yang dibentuk oleh pemerintah, Bank Indonesia dan (asosiasi) LKM.

8. Mewujudkan komitmen perbankan dalam pengembangan keuangan mikro, khususnya


dengan memastikan agar alokasi dana senilai Rp. 4,6 trilyun dalam ‘business-plan’
perbankan yang diperuntukkan bagi pengusaha mikro yang memiliki integritas dan kapabilitas
teruji. Dalam hal ini perlu dikembangkan strategi Hubungan Bank dan Lembaga Keuangan
Mikro (HBL) sebagai pengembangan dari strategi Hubungan Bank dan Kelompok (HBK).

9. Mengembangkan dan menguatkan kerjasama dengan berbagai lembaga internasional baik


dalam bidang keuangan, bantuan teknis bagi pembangunan kapasitas, maupun dalam
pengembangan jaringan kerjasama dan hubungan dengan pihak-pihak lainnya.

10. Mengembangkan dan menguatkan kerjasama dengan dunia usaha terutama dalam bentuk
pengembangan kerjasama bisnis, ‘sharing’ kompetensi, ‘sharing’ jaringan kerjasama, dan
‘sharing ‘ modal.

Bagian III. Penguatan Kerangka Hukum Dan Pengaturan Keuangan Mikro Indonesia
Kerangka Hukum dan pengaturan keuangan mikro sangat dibutuhkan bagi (1) perlindungan
kepentingan masyarakat yang menyimpan uang di LKM dan perlindungan atas azas legalitas LKM
serta dalam hubungannya dengan lembaga lain; dan (2) penguatan dan pengembangan keuangan
mikro.

Kerangka hokum tersebut tidak harus mengarahkan pengembangan LKM dalam jalur pengembangan
perbankan, karena memang LKM bukan bank dan bukan koperasi.

Kerangka hokum tersebut juga harus memberikan toleransi dan apresiasi bagi LKM yang kerana
kondisinya belum memungkinkan untuk diatur dalam suatu perangka hukum dan perundang-
undangan yang ketat.

Menggunakan draft RUU Keuangan Mikro yang telah dirumuskan sebagai bahan diskusi, diharapkan
dapat dilakukan peninjauan dan pengkajian ulang menyangkut hal-hal:

(1) pengertian dan difinisi mengenai LKM

(2) Bahwa yang dimaksud dengan LKM tidak dibatasi dengan besar simpanan Rp. 50 s/d Rp. 1
milyard, dan bahwa LKM yang memiliki simpanan lebih besar dari 1 milyard tidak harus
menjadi bank, tetapi mendapat pengaturan yang lebih ketat

(3) Bagi LKM”) dan ketentuan yang mengatur kerjasama LKM dengan lembaga keuangan lain
(bank dan non-bank).

(4) Bahwa dalam RUU KM perlu dicantumkan ketentuan mengenai perlindungan terhadap
nasabah, baik simpanan maupun pinjaman; yang tidak harus berarti penjaminan.

(5) Bahwa RUU KM perlu lebih tegas mencantumkan perlindungan terhadap LKM sehingga
tetao dapat menjadi organisasi dari, oleh, dan untuk masyarakat setempat.

(6) Bahwa harus diperhatikan kemampuan untuk melakukan pengawasan dan pengambilan
tindakan atas ketentuan yang diundangkan.

Bagian IV. Strategis Action Plan

1. Peserta Temu Nasional dan Bazar Pengembangan Keuangan Mikro mengusulkan


agar dilakukan langkah-langkah nyata sebagai suatu gerakan bersama untuk
mewujudkan strategi pengembangan Keuangan Mikro yang telah dirumuskan

2. Peserta Temu Nasional dan Basar Pengembangan Keuangan Mikro mengusulkan


agar Gerakan Bersama Pengembangan Keuangan Mikro Indonesia (Gema PKM
Indonesia), bekerjasama dengan Bank Indonesia dan Komite Penanggulangan
Kemiskinan melakukan monitoring dan evaluasi serta melakukan langkah-langkah
yang diperlukan agar:

a. Kesepakatan (MOU) Bank Indonesia dan pemerintah yang telah


dinyatakan pula dalam Business Plan perbankan nasional untuk
menyalurkan dana senilai Rp. 4,6 trilyun kepada usaha mikro dapat benar-
benar diwujudkan terutama melalui kerjasama dengan lembaga keuangan
mikro

b. Peraturan perundang-undangan yang memberikan legalitas, perlindungan


bagi masyarakat, sekaligus sebagai dasar pengembangan LKM dapat
segera diwujudkan.
3. Peserta Temu Nasional dan Bazar Pengembangan Keuangan Mikro mengharapkan
agar Bank Indonesia bekerjasama dengan Komite Penanggulangan Kemiskinan dan
Gema PKM membentuk suatu “LKM Center” untuk memfasilitasi pengembangan
LKM khususnya “strategic action plan” yang telah dirumuskan diatas.

Jakarta, 25 Juli 2002

Gema PKM (Gerakan Bersama Pengembangan Keuangan Mikro Indonesia)

Temu Nasional dan Bazar Pengembangan Keuangan Mikro Indonesia, diadakan di Jakarta, tanggal 22-25 Juli
2002, diselenggarkan bersama oleh Komite Penanggulangan Kemiskinan, Bank Indonesia, dan Gema PKM.