Anda di halaman 1dari 19

DIARE

I. DIARE AKUT

I.1 Batasan

Diare akut adalah perubahan konsistensi tinja yang terjadi tiba-tiba akibat
kandungan air di dalam tinja melebihi normal (10 ml/kg/hari), menyebabkan
peningkatan frekuensi defekasi lebih dari 3 kali sehari. Peningkatan kandungan air
dalam tinja terjadi akibat ketidakseimbangan fungsi usus halus dan usus besar
dalam memproses absorpsi substrat organik dan air. Diare akut umumnya
berlangsung selama 7 hari, dan biasanya sembuh sendiri (self limiting desease),
hanya 10% yang berlanjut sampai 14 hari.

Di Negara berkembang rata-rata tiap anak dibawah usia 5 tahun


mengalami episode diare 3 kali pertahun. Malnutrisi merupakan faktor risiko
tambahan untuk diare akut maupun melanjut. Kasus diare akut yang ditangani di
praktek sehari-hari berkisar 20% dari total kunjungan untuk usia dibawah 2 tahun
dan 10% untuk usia dibawah 3 tahun.

I.2 Etiologi

Penyebab diare pada anak dapat dilihat pada tabel 1. Infeksi usus
merupakan penyebab tersering diare akut yang sporadic. Penelitian multisenter
selama 1 tahun di beberapa Negara eropa menunjukkan bahwa 65,6% dari 287
anak terinfeksi oleh patogen, dan infeksi terbanyak adalah karena rotavirus
(35,1%). Rotavirus sebagai patogen penyebab tersering pada usia 6-24 bulan.
Infeksi oleh bakteri lebih sering terjadi pada beberapa bulan awal kehidupan (bayi
muda) dan pada anak usia sekolah.
Tabel 1

Infeksi Infeksi usus (termasuk keracunan


makanan)
Infeksi ekstra usus (otitis media akut,
infeksi saluran kencing, pneumonia)
Obat-obatan Antibiotika
Alergi makanan Cows milk protein allergy (CMPA)
Alergi protein kedele
Alergi makanan multiple
Kelainan proses cerna/absorpsi Defisiensi enzim sukrase/isomaltase
Hipolaktase awitan lambat
Defisiensi vitamin Defisiensi niasin
Tertelan logam berat Co, Zn, cat

Infeksi di luar usus yang disertai diare adalah otitis media akut, ISK dan
penyakit paru yang biasanya menyebabkan diare ringan dan dapat sembuh sendiri
dengan penyembuhan penyakit dasarnya. Penggunaan beberapa macam obat,
terutama antibiotik, sering dihubungkan dengan clostridium difficile. Alergi
terhadap protein susu sapi (CMPA) merupakan salah satu diagnosis banding yang
perlu dipertimbangkan selain sindrom malabsorpsi bila diare tidak sembuh dalam
10-14 hari.

I.3 Patofisiologi

Virus dapat secara langsung merusak vili usus halus sehingga mengurangi
luas permukaan usus halus dan mempengaruhi mekanisme enzimatik. Rotavirus
menghasilkan enterotoksin yang menginduksi sekresi dan menyebabkan diare
yang cair.

Bakteri mengakibatkan diare melalui beberapa mekanisme yang berbeda.


Bakteri invasive menyebabkan ulserasi mukosa dan pembentukan abses yang
diikuti oleh respons inflamasi. Toksin bakteri dapat mempengaruhi proses selular
baik di dalam usus maupun diluar usus. Enterotoksin esschericia coli yang tahan
panas akan mengaktifkan adenilat siklase, sedangkan toksin yang tidak tahan
panas mengaktifkan guanilat siklase. E.coli enterohemoragik dan shigella
menghasilkan verotoksin yang menyebabkan kelainan sistemik seperti kejang dan
sindrom hemolitik uremik. Bakteri non invasive dan protozoa lainnya dapat
melekat pada dinding usus dan menyebabkan peradangan.

I.4 Manifestasi Klinis

Awalnya anak menjadi cengeng, gelisah, suhu badan mungkin meningkat,


nafsu makan berkurang atau tidak ada, kemudian timbul diare. Tinja makin cair,
mungkin mengandung darah dan/atau lender, warna tinja berubah menjadi
kehijau-hijauan karena tercampur empedu. Anus dan sekitarnya menjadi lecet
karena tinja menjadi asam.

Gejala muntah dapat terjadi sebelum dan/ atau sesudah diare. Bila telah
banyak kehilangan air dan elektrolit terjadilah gejala dehidrasi, berat badan
menjadi turun. Pada bayi, ubun-ubun besar cekung. Tonus dan turgor kulit
berkurang. Selaput lender mulut dan bibir kering.

I.5 Anamnesis

Anamnesis anak dengan gejala diare akut perlu dimulai dengan


mengambil informasi yang mungkin mengarahkan kita pada penyakit lain yang
presentasi klinisnya mirip dengan diare akut. Gejala respiratori seperti batuk,
sesak nafas, atau takipneu mengarahkan pada adanya penyakit dasar pneumonia.
Frekuensi berkemih, urgensi atau nyeri berkemih mungkin merupakan gejala
infeksi saluran kemih atau pielonefritis. Adanya sakit telinga mungkin merupakan
gejala otitis media akut, dan adanya demam tinggi dan perubahan kesadaran
mungkin merupakan gejala meningitis atau sepsis.

Tujuan kedua anamnesis adalah untuk menilai beratnya gejala dan risiko
komplikasi seperti dehidrasi. Ada tidaknya demam, jumlah dan jenis cairan
diminum, frekuensi dan perkiraan volume muntah dan feses merupakan faktor
yang penting diperhatikan. Pertanyaan spesifik mengenai frekuensi, volume dan
lamanya muntah serta diare diperlukan untuk menentukan derajat kehilangan
cairan dan gangguan elektrolit yang terjadi. Dehidrasi yang bermakna dapat
bermanifestasi sebagai berkurangnya aktivitas, volume urin dan berat badan.
Ringkasan cara penilaian dehidrasi dapat dilihat pada tabel. Adanya darah dalam
feses mengarah pada inflamasi akibat infeksi bakteri.

I.6 Pemeriksaan Fisis

Pemeriksaan fisik dimaksudkan untuk 2 tujuan utama, mencari tanda-


tanda penyakit penyerta dan memperkirakan derajat dehidrasi. Penilaian yang
tidak akurat terhadap defisit cairan dan kehilangan cairan yang terus terjadi
merupakan faktor penting penyebab kesakitan dan kematian pada muntah dan
diare akut. Gejala dan tanda dehidrasi perlu ditemukan dan tentukan derajat
dehidrasi (lihat tabel). Bayi pada umumnya mudah jatuh dalam dehidrasi akibat
kehilangan cairan yang banyak karena permukaan area usus per kilogram berat
badan yang lebih luas dibandingkan dengan dewasa. Peran ginjal yang belum sem
purna dalam kemampuan mengkonsentrasi, peningkatan kecepatan metabolisme
dan ketergantungan penyediaan cairan juga merupakan factor yang mempermudah
terjadinya defisit cairan yang berat pada anak. Berat badan sebelum sakit penting
ditanyakan karena hal ini merupakan cara yang paling mudah untuk menentukan
derajat dehidrasi. Berat badan saat datang perlu diukur sebagai parameter menilai
kehilangan cairan yang terus terjadi dan sekaligus merupakan parameter
keberhasilan terapi.

Bila ditemukan nafas yang cepat dan dalam menunjukan adanya


komplikasa asidosis metabolik. Perlu dilihat apakah pasien terdapat gejala
malnutrisi dan/atau gagal tumbuh. Pengurangan massa otot atau lemak atau
adanya edema perifer dapat merupakan adanya malabsorpsi karbohidrat lemak
atau protein. Adanya sakit perut nonspesifik nonfokal dan kram perut mungkin
dijumpai. Nyeri pada diare biasanya tidak bertambah bila dipalpasi. Bila nyeri
bertambah dengan palpasi atau ditemukan nyeri tekan, nyeri lepas atau anak
menolak diperiksa, waspadai adanya kemungkinan komplikasi atau kemungkinan
penyebabnaya adalah non-infeksi. Pada anak dengan kembung (distensi
abdomen), pemeriksaan auskultasi perlu untuk mendeteksi adanya ileus paralitik.
Daerah perianal perlu diperiksa untuk melihat adanya eritema perianal.
Diare cair yang sering dapat menyebabkanperlukaan daerah perianal terutama
pada anak yang kecil. Hal ini dapat disebabkan oleh malabsorpsi karbohidrat
sekunder yang menghasilkan tinja asam. Malabsorpsi asam empedu sekunder
dapat menyebabkan dermatitis popok yang berat yang terlihat sebagai eritema
perianal.

I.7 Kriteria Diagnosis

Diare akut adalah diare yang berlangsung kurang dari 7 hari. Pada diare
terjadi perubahan konsentrasi tinja yang terjadi tiba-tiba akibat kandungan air di
dalam tinja melebihi normal (10ml/KG/hari), dan menyebabkan peningkatan
frekuensi defekasi lebih dari 3 kali sehari. Derajat dehidrasi dibedakan menjadi
tanpa dehidrasi, dehidrasi ringan-sedang, dan dehidrasi berat.

I.8 Pemeriksaan Penunjang


1. Pemeriksaan tinja: makroskopis dan mikroskopis, PH dan kadar gula jika
diduga ada intoleransi gula (sugar intolerance), biakan kuman untuk
mencari kuman penyebab dan uji resistensi terhadap berbagai antibiotika
(pada diare persisten)

2. Pemeriksaan darah: darah perifer lengkap, analisis gas darah dan elektrolit
(terutama Na, K, Ca, dan P serum pada diare yang disertai kejang).
Pemeriksaan kadar ureum dan kreatinin darah untuk mengeahui faal ginjal

3. Duodenal intubaion, untuk mengetahui kuman penyebab secara kuantitatif


dan kualitataif pada diare kronik.

I.9 Tata Laksana

Rehidrasi oral

Pada anak dengan diare akut dehidrasi ringan-sedang, perlu segera


diberikan cairan rehidrasi oral. Kandungan natrium dalam cairan rehidrasi oral
yang direkomendasikan oleh WHO adalah 90 mmol/L, yaitu sesuai dengan
kandungan natrium dalam tinja pasien kolera (90-140 mmol/L). kadar natrium
yang direkomendasikan oleh EPSHGAN (European society of pediatric
astroenterology and nutrition). Pedoman tatalaksana diare akur berdasarkan
dehidrasi dapat dilihat pada tabel.

Table tatalaksana diare akut

Derajat dehidrasi(%defisit rehidrasi Penggantian cairan


Tanpa dehidrasi (<5% BB) Tidak perlu 10 ml/kg tiap diare, 2-5
ml/kg tiap muntah
Ringan sedang (5-10% BB) CRO 75 ml/kg/jam Idem
Berat (>10% BB) Cairan intravena: <12 bulan idem
: 30 ml/kg/jam, atau 70
ml/kg/5 jam

Menentukan rencana pengobatan


Berdasarkan hasil penilaian derajat dehidrasi gunakan bagan Rencana
Pengobatan yang sesuai :
1. Rencana terapi a untuk penderita diare tanpa dehidrasi
2. Rencana tetapi b untuk penderita diare dengan dehidrasi ringan sedang
3. Rencana tetapi c untuk penderita diare dengan dehidrasi berat

RENCANA TERAPI A
Untuk mengobati diare dirumah (Penderita diare tanpa dehidrasi )
Gunakan cara ini untuk mengajari ibu :
• Teruskan mengobati anak diare dirumah
• Berikan terapi awal bila terkena diare lagi
Menerangkan tiga cara terapi diare dirumah
1. Berikan anak lebih banyak cairan daripada biasanya untuk mencegah dehidrasi
• Gunakan cairan rumah tangga yang dianjurkan , seperti larutan
oralit,makanan yang cair(seperti sup,air tajin ) dan kalau tidak ada air
matang . Gunakan larutan oralit untuk anak seperti dijelaskan dalam kotak
dibawah (catatan jika anak berusia kurang dari 6 bulan dan belum makan
makanan padat lebih baik diberi oralit dan air matang dari pada makanan
yang cair ).
• Berikan larutan ini sebanyak anak mau , berikan jumlah larutan oralit
seperti dibawah.
• Teruskan pemberian larutan ini hingga diare berhenti.
2. Beri anak makan untuk mencegah kurang gizi
• Teruskan ASI
• Bila anak tidak mendapat ASI berikan susu yang biasa diberikan, untuk
anak kurang dari 6 bulan dan belum mendapat makanan padat , dapat
diberikan susu,
• Bila anak 6 bulan atau lebih atau telah mendapat makanan padat
- Berikan bubur lbila mungkin dicampur dengan kacanf-kacangan, sayur,
daging atau ikan,tambahkan 1 atau 2 sendok the minyak sayur tiap porsi
- Berikan sari buah segar atau pisang halus untuk menanbahkan kalium
- Berikan makanan yang segar masak dan haluskan atau tumbuk makanan
dengan baik
- Bujuk anak untuk makan , berikan makanan sedikitnya 6 kali sehari
- Berikan makanan yang sama setelah diare berhenti, dan diberikan porsi
makanan
tambahan setiap hari selama 2 minggu
3. Bawa anak kepada petugas kesehatan bila anak tidak membaik dalam 3 hari
atau menderita sebagai berikut :
• Buang Air besar cair lebih sering
• Muntah berulang-ulang
• Rasa haus yang nyatak
• Makan atau Minum sedikit
• Demam
• Tinja berdarah

ANAK HARUS DIBERI ORALIT DIRUMAH BILA :


• Setelah mendapat Rencana Terapi B atau C
• Tidak dapat kembali kepada petugas kesehatan bila diare memburuk
• Memberikan oralit kepada semua anak dengan diare yang datang ke
petugas kesehatan merupakan kebijaksaan pemerintah
RENCANA TERAPI B
UNTUK TERAPI DEHIDRASI RINGAN/SEDANG

AMATI ANAK DENGAN SEKSAMA DAN BANTU IBU MEMBERIKAN


ORALIT
• Tunjukkan jumlah cairan yang harus diberikan
• Tunjukan cara memberikannya sesendok the tiap 1 –2 menit untuk anak di
bawah 2 tahun
• beberapa teguk dari cangkir untuk anak yang lebih tua
• Periksa dari waktu bila ada masalah
• Bila anak muntah tunggu 10 menit dan kemudian teruskan pemberian
oralit tetapi lebih lambat, misalnya sesendok tiap 2 –3 menit
• Bila kelopak mata anak bengkak hentikan pemberian oralit dan air masak
atau ASI beri oralit sesuai Rencana tetapi A bila pembengkakan telah
hilang
Setelah 3-4 jam nilai kembali anak menggunakan bagan penilaian, Kemudian
pilih rencana terapi a , b atau c untuk melanjutkan terapi
• Bila tidak ada dehidrasi , ganti ke rencana terapi A, Bila dehidras telah
hilang anak biasanya kemudian mengantuk dan tidur
• Bila tanda menunjukkan dehidrasi ringan/ sedang ulang Rencana terap B ,
tetapi tawarkan makanan susu dan sari buah seperti rencana terapi A
• Bila tanda menunjukkan dehidrasi berat ganti dengan rencana terapi C
BILA IBU HARUS PULANG SEBELUM SELESAI RENCANA TERAPI B
• Tunjukkan jumlah orait yang harus dihabiskan dalam terapi 3 jam di
rumah
• Berikan oralit untuk rehidrasi selama 2 hari lagi seperti dijelaskan dalam
rencana terapi A
• Tunjukkan cara melarutkan oralit
• Jelaskan 3 cara dalam rencana terapi A untuk mengobati anak dirumah
• Memberikan oralit atau cairanlain hingga diare berhenti
• Memberi makan anak sebagaimana biasanya
• Membawa anak ke petugas kesehatan.

RENCANA TERAPI C
UNTUK DEHIDRASI BERAT
Ikuti arah anak panah , bila jawaban dari pertanyaan ya , teruskan ke kanan bila
tidak, teruskan kebawah
Catatan :
- Bila mungkin amati penderita sedikitnya 6 jam setelah rehidrasi untuk
memastikan bahwa ibu dapat menjaga mengembalikan cairan yang hilang
dengan memberi oralit.
- bila umur anak diatas 2 tahun dan kolera baru saja berjangkit di daerah
Saudara pikiran kemungkinan kolera dan beri antibiotika yang tepat secara
oral begitu anak sadar.
YA

Keberhasilan terpai rehidrasi oral dapat mencapai lebih dari 90% anak
dengan muntah. Hanya sekitar 5-10% anak mengalami kegagalan terapi rehidrasi
awal akibat muntah persisten atau frekuensi diare yang lebih dari 10 ml/kg/jam.
Bila disertai syok/renjatan maka dilakukan resusitasi cairan secepatnya.

Orang tua sebaiknya diberitahu untuk mencari pertolongan medik lebih


lanjut jika (1) anak tampak gelisah atau letargi sehingga sulit minum (2) terdapat
muntah persisten (3) defisit cairan yang makin banyak akibat diare yang persisten
(4) diare disertai darah, atau (5) menurunnya produksi urin. Kondisi ini
memerlukan evaluasi ulang dan rehidrasi intravena seperti yang diindikasikan
pada diare akut dehidrasi berat. Status hidrasi harus dipantau, dan jika rehidrasi
telah tercapai, dapat diberikan terapi rumatan untuk mengganti cairan yang terus
hilang karena diare. Jika keadaan dehidrasi menetap, deficit cairan sebaiknya
dievaluasi ulang dan terapi rehidrasi dapat dilanjutkan dalam 2-4 jam dengan
memperhitunkan cairan yang terus hilang melalui diare.

Ada beberapa kontraindikasi penggunaan terap rehidrasi oral pada


tatalaksana diare akut. Di antaranya (1) dehidrasi berat (>10%) atau syok, (2)
menolak minum karena anak tampak sangat gelisah, Letargi, sopor, atau koma
(3)ileus. Pada kondisi ini sebaiknya ditata laksana awal menggunakan cairan
rehidrasi parenteral dan diubah menjadi rehidrasi peroral bila anak sudah dapat
minum. Perbandingan komposisi elektrolit dalam tinja dan komposisi cairan
parenteral yang ada di Indonesia dapat dilihat pada table 6 dan 7.

Pemberian Makanan Secepatnya (Early Feeding)

Rekomendasi pemberian makanan secepatnya pada tata laksana diare akut


terutama ditekankan pada meneruskan pemberian ASI dan makanan sehari-hari.
Hal ini dapat mencegah terjadinya gangguan gizi, menstimulasi perbaikan usus,
dan mengurangi derajat serta lamanya penyakit. Pemberian ASI dapat dilakukan
sejak awal terapi dan diberikan sesuai dengan keinginan bayi. Bayi diare akut
dengan dehidrasi ringan-sedang tidak perlu dilakukan penggantian formula yang
bebas laktosa atau pemberian formula yang diencerkan. Kegagalan terapi dengan
cara ini sekitar 10-15%, dan hal ini tidak jauh lebih tinggi bila digunakan cara
khusus dalam pemberian makanan. Bayi dengan dehidrasi berat, disertai
kerusakan usus dan malnutrisi, serta gagal dengan cara pemberian makanan
tersebut, sebaiknya diberikan formula yang bebas laktosa, bahkan kadang-kadang
memerlukan formula yang lenih mudah dicerna selama pemberian makan
(refeeding).

Anak yang lebih besar yang telah menerima bermacam variasi makanan
sebaiknya diberikan makanan yang seimbang, cukup energi dan mudah dicerna.
Karbohidrat kompkes seperti nasi, mie, kentang, roti, biscuit, dan pisang
sebaiknya diberikan sejak awal, kemudian ditambahkan sayuran dan daging
matang. Makanan yang perlu dihindarkan adalah yang meengandung gula
sederhana seperti minuman ringan (soft drink), jus buah kental, minuman
mengandung kafein, dan sereal yang dilapisi gula. Makanan dengan kandungan
tinggi lemak kurang ditoleransi keran memperlambat pengosongan lambung
sehingga sering menyebabkan muntah. Kadang sebagian anak akan mengalami
diare lebih dari 10 hari tanpa disertai dehidrasi. Pada keadaan ini perlu dicari kea
rah faktor infeksi dan pemeriksaan tinja terhadap zat reduksi untuk mengeksklusi
adanya malabsorpsi karbohidrat.

Obat-Obatan

Pemberian antiemetic, antimotilitas, dan antidiare sebagai pengobatan


diare kurang bermanfaat bahkan dapat meneyebabkan komplikasi yang serius.
Obat-obatan tersebut tidak mengurangi volume tinja atau memperpendek lama
sakit. Efek sedasi atau anoreksia yang ditimbulkan akan mengurangi keberhasilan
terapi rehidrasi oral.
Penggunaan antibiotic tidak efektif pada infeksi virus dan hanya
terindikasi pada keadaan tertentu antara lain (1) pathogen telah diidentifikasi
(shigella, ditemukan bentuk kista/trofozoit giardia lamblia atau entamoeba
hystolitica dalam tinja), (2) bayi/anak dengan defek imun (immune compromise),
(3) terapi terhadap kolera, (4) bayi kurang dari 3 bulan dengan biakan tinja yang
pisitif. Bayi kelompok umur tersebut mudah terjadi septisemia. Bayi dan anak
yang mengalami diare disertai gejala septicemia sebaikya mendapat antibiotik
intravena.

Defisiensi mikronutrien terutama pada anak dengan malnutrisi disertai


diare diantaranya adalah defisiensi seng (Zn). Beberapa penelitian mennunjukan
manfaat pemberian Zn pada keadaan tersebut antara lain lama diare lebih pendek,
volume tinja lebih sedikit, kenaikan berat badan yang lebih baik, dan perbaikan
terhadap status defisiensi Zn.

Pemberian immunoglobulin oral untuk terapi diare akut karena virus pada
beberapa penelitian menunjukan efikasi yang cukup baik, walaupun anjuran
penggunaannya belum dipakai secara luas.

Penggunaan probiotik, seperti lactobacillus rhamnosus strain GG, terbukti


efektif dalam pencegahan maupun terapi diare akut akibat rotavirus pada anak,
dalam memperpendek masa sakit.

I.10 Komplikasi

1. Kelainan elektrolit dan asam basa.

2. Kegagalan upaya rehidrasi oral

3. kejang

I.11 Pencegahan Dan Edukasi

Beberapa cara untuk mencegah terjadinya diare antara lain:

1. Pemberian ASI ekslusif 4-6 bulan


2. Sterilisasi botol setiap sebelum pemberian susu formula bila bayi karena
sesuatu sebab tidak mendapat ASI

3. Persiapan dan penyimpanan makanan bayi/anak secara hygiene

4. Gunakan air bersih dan matang untuk minum

5. Kebiasaan mencuci tangan terutama sebelum menyiapkan dan memberi


makan

6. Membuang tinja di jamban

7. Imunisasi yang teratur

8. Pemberian makanan seimbang untuk menjaga status gizi yang baik

II. DIARE PERSISTEN

II.1 Batasan

Diare persisten adalah diare akut karena infeksi usus yang karena sesuatu
sebab berlanjut lebih dari 14 hari. Sebagian besar (90%) anak dengan diare akut
yang ditatalaksana secara memadai, yaitu dengan rehidrasi oral/parenteral,
dukungan nutrisi, obat seminimal mungkin dan atas indikasi yang jelas akan
sembuh dalam waktu kurang dari 7 hari, walaupun demikian sekitar 5% kasus
akan berkembang menjadi diare persisten.

Faktor risiko terjadinya diare persisten adalahumur kurang dari 6 bulan,


prematur, malnutrisi, tidak mendapa ASI, adanya penyakit penyerta, penggunaan
antibiotik, dan anemia. Factor penyebab tersering berturut-turut adalah intoleransi
laktosa sekunder, enteropati karena alergi terhadap rotein susu sapi (CMPSE =
Cow’s milk protein sensitiveenteropaty), sindrom malabbsorpsi, diare karena
antibiotik dan infeksi persisten.
Secara patogenesis, diare persisten dapat terjadi melalui diare sekretorik
dan diare osmotik. Pada diare sekretorik, toksin merangsang c-AMP atau c-GMP
untuk mensekresikan secara aktif air dan elektrolit ke dalam lumen usus sehingga
terjadi diare. Sedangkan pada diare osmotic, kenaikan tekanan osmotic dalam
lumen usus akibat fermentasimakanan yang tidak diserap akan menarik air sel ke
dalm lumen usus sehingga terjadi diare.

II.2 Manifestasi Klinis

Diare berlangsung 14 hari atau lebih. Bila terjadi diare hebat dapat terlihat
gejala-gejala dehidrasi ringan sampai berat, asidosis dan gangguan keseimbangan
elektrolit seperti lemah, kembung, dan muntah. Status gizi anak biasanya kurang
atau buruk.

II.3 Kriteria Diagnosis

Diare persisten bukanlah penyakit, tetapi merupakan entitas klinik yang


disebabkan berbagai macam etiologi. Oleh Karena itu, upaya penting perlu
dilakukan untuk mencari etiologinya, karena pengobatan didasarkan pada faktor
penyebabnya. Berikut adalah hal-hal yang penting dilakukan:

1. Tentukan apakah diarenya tergolong osmotic atau sekretorik. Cara


membedakan keduanyya adalah dengan cara memuasakan pasien selama
24 jam (masih mendapat terapi cairan parenteral), bila diare
berkurang/berhenti maka diarenya adalah jenis osmotic, bila masih
berlangsung jenis diarenya adalah sekretorik.

2. Bila diare osmotic, cari kemungkinan intoleransi laktosa, CMPSE, atau


sindrom malabsorpsi

3. Bila diare sekretorik, cari kemungkinan bakteri tumbuh lampau, diare


karena antibiotic, atau infeksi pesisten

II.4 Pemeriksaan Penunjang


Beberapa pemeriksaan penunjang perlu dilakukan untuk mencari etiologi diare
persisten,yaitu:

1. pH tinja dan bahan pereduksi untuk mendeteksi intoleransi laktosa.

2. Eliminasi dan provokasi protein susu sapi untuk mendeteksi CMPSE.

3. Uji malabsorpsi untuk mendeteksi sindrom malabsorpsi

4. Uji hydrogen nafas untuk mendeteksi bakteri tumbuh lampau.

5. Uji toksin clostridium difficile dalam tinja untuk mendeteksi diare karena
antibiotic

6. Kultur tinja untuk mendeteksi infeksi persisten baik kuman aerob maupun
anaerob

II.5 Tatalaksana

1. Atasi dehidrasi, kelainan asam basa dan gangguan elektrolit yang terjadi

2. Pemberian nutrisi yang cukup untuk mencegah dan mengobati malnutrisi


yang terjadi.

3. Bila intoleransi laktos, berilah formula/ diet bebas laktosa.

4. Pada sindrom malabsorpsi, pasien diberi makanan atau formula elemental.

5. Pada bakter tumbuh lampau, berikan metronidazol 30 mg/kg/hari selama


10-14 hari

6. Pada diare karena antibiotic, hentikan antibioik bila mungkin, berikan


metronidazol 30-50 mg/kg/hari selama 7-10 hari dan probiotik selama 7-
10 hari.

7. Pada infeksi persisten, berikan antibiotic sesuai hasil kultur dan resistensi
selama 7-10 hari

II.6 Pencegahan Dan Pendidikan


1. Hindari penggunaan antibiotic dan antidiare pada anak dengan diare akut.

2. Berikanlah terpai nutrisi yang adekuat pada setiap anak dengan diare akut
untuk mencegah terjadinya gangguan gizi untuk memutus lingkaran setan
diare-malnutrisi-diare.

3. Penggunaan ASI pada bayi baru lahir sampai umur 2 tahun.

III. DISENTRI

III.1 Definisi

Disentri didefinisikan sebagai diare yang disertai darah dalam tinja.

III.2 Etiologi

Yang terpenting dan tersering adalah shigela, khususnya S. Flexneri dan S.


dysenteriae tipe 1. Penyebab lain seperti Campylobacter jajuni terutama pada bayi
dan lebih jarang adalah salmonella (disentri yang disebabkannya tidak berat).
Infeksi yang berat adalah oleh escheria coli enteroinvasif, namun jarang terjadi.
Entamoeba hystolitica menyebabkan disentri pada anak yang lebih besar, tetapi
jarang pada balita.

III.3 Manifestasi Klinis

Diagnosis semata-mata pada terlihatnya darah dalam tinja. Tinja mungkin


juga mengandung leukositpolimorfonuklear yang terlihat dengan mikroskop dan
mungkin mengandung lender dalam jumlah banyak. Gambaran yang terakhir ini
saja tidak cukup untuk mendiagnosis disentri. Pada beberapa episode sigelosis,
pertema-tama tinja cair kemudian menjadi berdarah setelah satu atau dua hari.

III.4 Penatalaksanaan
1. Rawat inap pada disentri dengan factor risiko menjadi berat (gangguan
gizi berat, umur kurang dari 1 tahun, menderita campak pada 6 bulan
terakhir)

2. Cairan diberikan sesuai derajat dehidrasi.

3. Gunakan antibiotic yang masih sensitive terhadap S. cholera di tiap


daerah.

4. Pemberian makanan mungkin sulit karena anak anoreksia,, tapi harus


diteruskan

5. Bila anak tidak mengalami perbaikan dalam 3 hari, ganti dengan antibiotic
yang lain.

III.5 Prognosis

Biasanya setelah pengobatan 5 hari tidak diperlukan tindak lanjut. Namun


beberapa anak mempunyai risiko yang lebih tinggi dan harus diawasi yaitu : bayi,
anak kurang gizi, anak yang tidak mendapar ASI, dan yang mengalami dehidrasi.