Anda di halaman 1dari 6

c

c
c
 cc
 c


c c   c

Pada awal abad XXI, dunia pendidikan di Indonesia menghadapi tiga

tantangan besar. Tantangan pertama, sebagai akibat dari krisis ekonomi, dunia

pendidikan dituntut untuk dapat mempertahankan hasil-hasil pembangunan

pendidikan yang telah dicapai. Kedua, untuk mengantisipasi era global dunia

pendidikan dituntut untuk mempersiapkan sumber daya manusia yang kompeten

agar mampu bersaing dalam pasar kerja global. Ketiga, sejalan dengan

diberlakukannya otonomi daerah, perlu dilakukan perubahan dan penyesuaian

sistem pendidikan nasional sehingga dapat mewujudkan proses pendidikan yang

lebih demokratis, memperhatikan kebutuhan dan potensi daerah, potensi peserta

didik, dan mendorong peningkatan partisipasi masyarakat.

Pada saat ini pendidikan nasional juga masih dihadapkan pada beberapa

permasalahan yang menonjol yaitu, (1) masih rendahnya pemerataan memperoleh

pendidikan, (2) masih rendahnya kualitas dan relevansi pendidikan, dan (3) masih

lemahnya manajemen pendidikan, di samping belum terwujudnya kemandirian

dan keunggulan ilmu pengetahuan dan teknologi di kalangan akademisi.

Ketimpangan pemerataan pendidikan juga terjadi antar wilayah geografis yaitu

antara perkotaan dan pedesaan, serta antara


¦ kawasan timur Indonesia dan kawasan

barat Indonesia.
Kualitas pendidikan di Indonesia masih sangat memperihatinkan. Hal

tersebut tercermin. Berdasarkan data yang dikutip dari Hernowo (2008,13) dari

hasil studi kemampuan membaca untuk tingkat Sekolah Dasar (SD) yang

dilaksanakan oleh organisasi Ê   


    (IEA) yang

menunjukkan bahwa peserta didik SD di Indonesia berada pada urutan ke 38 dari

39 negara peserta studi. Sementara untuk tingkat Sekolah Menengah Pertama

(SMP), studi untuk kemampuan matematika peserta didik SMP di Indonesia

hanya berada pada urutan ke 39 dari 42 negara, dan untuk kemampuan Ilmu

Pengetahuan Alam (IPA) hanya berada pada urutan ke 40 dari 42 negara peserta.

Menurut H.Adurahman (1993, 99) proses implementasi kurikulum di

sekolah sangat dipengaruhi oleh peran guru, artinya tanpa profesionalitas guru

yang baik, kurikulum hanya akan berwujud dokumen sekolah yang tidak terlalu

bermakna bagi proses pembelajaran. Dalam proses pembelajaran, guru perlu

terlibat dalam pengembangan kurikulum. Tanpa adanya keterlibatan guru dalam

pengembangan kurikulum, pembelajaran di sekolah hanya akan menghasilkan

verbalisme.

Para siswa akhirnya tidak tahu akan berbuat apa dengan pengetahuan yang

telah dihafalnya. Keberadaan semacam ini jika kita meminjam istilah Paulo Freire

(1970, 58) selanjutnya akan dapat ³menjerumuskan´ guru pada model pendidikan

³banking´ melalui ungkapannya memasukkan karakteristik pembelajaran pada

masing-masing kelas sebagai salah satu determinan bagi efektivitas suatu sekolah.

Sekolah dikatakan efektif bilamana proses pembelajarannya dapat

mencapai tujuan yang ditetapkan dengan baik dan berimplikasi pada upaya guru
dalam mengembangkan sistem pembelajaran secara profesional berdasarkan

kurikulum yang ditetapkan.

Secara profesional sebenarnya guru tidak dapat menghindarkan diri untuk

tidak melibatkan diri dalam proses pengembangan kurikulum, artinya dalam

kinerjanya guru tidak semata-mata mengejar target pencapaian kurikulum dalam

arti produk. Dengan demikian siswa tidak hanya mendapatkan pengalaman yang

bersifat tekstual tetapi juga kontekstual dan kontemporer.

Salah satu faktor yang langsung mempengaruhi efisiensi dan efektivitas

proses belajar mengajar yaitu metode yang digunakan oleh guru, disamping

dengan penguasaan materi pengajaran. Proses pembelajaran pada hakekatnya

untuk mengembangkan aktivitas dan kreativitas peserta didik. Menurut

H.Adurahman (1993 ,94), proses belajar mengajar adalah proses interaksi

edukatif (kegiatan bersama yang bersifat mendidik antara guru dan peserta didik

dimana berlangsung proses pengalihan nilai dengan memanfaatkan secara

optimal, selektif dan efektif semua sumber daya pengajaran untuk mencapai

tujuan pengajaran.

Guru profesional adalah guru yang dapat menyelenggarakan proses

pembelajaran dan penilaian yang menyenangkan bagi siswa dan guru, sehingga

dapat mendorong tumbuhnya kreativitas pada diri siswa.

Pada bidang pembelajaran diharapkan guru dapat menentukan model

pembelajaran yang tepat sehingga dapat menarik minat siswa terhadap pelajaran.

Untuk meningkatkan kualitas peserta didik di Sekolah maka penulis

mencoba mengangkat satu metode pembelajaran yang dianggap sangat relevan

dalam peningkatan kualitas dan prestasi peserta didik khususnya pada tingkat
pendidikan Sekolah Menengah Pertama (SMP) yakni dengan menggunakan

pendekatan è dalam pembelajaran, sehingga penulis mengangkat sebuah

judul ³Peningkatan minat belajar peserta didik dalam mata pelajaran Biologi

melalui pendekatan è di SMP Negeri 1 Pangkajene´.


c c   cc

Berdasarkan latar belakang diatas yang menjadi rumusan masalah dalam


penelitian ini adalah :
1. Bagaimana minat belajar Biologi siswa sebelum pemberian pendekatan

è di SMP Negeri 1 Pangkajene?

2. Bagaimana peningkatan minat belajar Biologi siswa setelah pemberian

è di SMP Negeri 1 Pangkajene ?

3. Apakah pendekatan è dapat meningkatkan minat belajar peserta

didik di SMP Negeri 1 Pangkajene ?

c
c c

Diasumsikan bahwa ada pengaruh yang signifikan dimana ³Pendekatan

è  dapat meningkatkan minat belajar Biologi siswa SMP Negeri 1

Pangkajene´

cc
c c c  c   c

Adapun tujuan dan kegunaan dalam penelitian ini adalah menjawab

pertanyaan peneliti dalam rumusan masalah ,

1.c Tujuan Penelitian

a.c Untuk mengetahui bagaimana minat belajar Biologi siswa sebelum

pemberian pendekatan è di SMP Negeri 1 Pangkajene.

b.c Untuk mengetahui bagaimana peningkatan minat bealajar Biologi siswa

setelah pemberian pendekatan è di SMP Negeri 1 Pangkajene.


c.c Untuk mengetahui apakah pendekatan è  dapat meningkatkan

minat belajar siswa di SMP Negeri 1 Pangkajene

2.c Kegunaan Penelitian

a.c Penelitian untuk guru sebagai bahan acuan untuk meningkatkan mutu

kegiatan belajar mengajar yang lebih bersifat kreatif dan

menyenangkan.

b.c Penelitian bagi peserta didik sebagai motivasi dalam belajar sehingga

minat belajar Biologi peserta didik dapat terbentuk.

c.c Penelitian bagi sekolah sebagai bahan acuan untuk meningkatkan

kualitas pembelajaran Biologi di SMP Negeri 1 Pangkajene.