Anda di halaman 1dari 17

Penyusunan Data Penelitian ini

Didukung oleh:
IDENTIFIKASI ZAT WARNA PADA SERAT SELULOSA
Disusun oleh
Abdul Rohman Heryadi 08.K40059
Sekolah Tinggi Teknologi Tekstil Bandung
Jalan Jakarta No. 31 Bandung

I. MAKSUD DAN TUJUAN


Maksud :
Mengidentifikasi keempat golongan zat warna yang mungkin tercelup oleh
serat selulosa sebagai contoh uji dengan melakukan pelunturan zat warna
pada contoh uji.

Tujuan :
Melunturkan zat warna yang terdapat pada selulosa sebagai contoh uji
dengan menggunakan pereaksi tertentu sehingga melalui larutan
ekstraksinya dapat diamati daya celupnya ataupun karakteristik lainnya.

II. TEORI PENDAHULUAN

Identifikasi zat warna pada serat umumnya sangat sukar, dan semua cara
identifikasi yang ada pada umumnya diaksudkan untuk menentukan golongan
zat warna bukan untuk menentukan jenis zat warna dari suatu golongan
tertentu.

Cara identifikasi zat warna menurut AATCC adalah cara identifikasi yang
didasarkan pada pemisahan golongan zat warna yang mungkin ada secara
sistematik, kemudian perhatian dipusatkan pada beberapa zat warna yang
mungkin ada dengan jumlah yang sudah dibatasi.

Serat selulosa mudah dikenal dengan uji pembakaran yang akan memberikan
abu yang rapuh dan bau seperti kertas terbakar. Setelah diketahui bahwa
seratnya adalah jenis selulosa, kemudian dilakukan pemisahan secara
sistematik untuk menentukan golongan zat warna seperti zat warna direk,
asam, basa, direk dengan penyempurnaan resin, belerang, bejana, hidron,
direk dengan iring logam, naftol, pigmen dan reaktif. Zat warna yang biasanya
digunakan untuk mencelup serat selulosa dapat digolongkan menjadi :

Golongan I
Penggolongan ini didasrkan atas kelunturan zat warna-zat warna tersebut
didalam larutan amonia atau aseta encer mendidih yang dilakukan menurut
urutan yang ditentukan.

1. Zat Warna Direk

Zat warna direk umumnya adalah senyawa azo yang disufonasi, zw ini
disebut juga zw substatif karena mempunyai afinitas yang besar terhadap
selulosa. Beberapa zw direk dapat mencelup serat binatang berdasarkan
ikatan hydrogen. Zw direk umunya mempunyai ketahanan terhadap sinar
cukup, tidak tahan terhadap oksidasi dan rusak oleh zat pereduksi.

2. Zat Warna Asam

Zw asam mengandung asam-asam mineral / asam-asam organic dan


dibuat dalam bentuk garam-garam natrium dari organik dengan gugus
anion yang merupakan gugus pembawa warna (kromofor) yang aktif.
Struktur kimia zw asam menyerupai zw direk merupakan senyawa yang
mengandung gugusan sulfonat atau karboksilat sebagai gugus pelarut.
Ikatan yang terbentuk antara zat warna dengan serat adalah ikatan
elektrovalen atu ionik yang lebih kuat daripada ikatan hidrogen sehingga
lebih tahan dari pada zat warna direk.

3. Zat Warna Basa

Zw basa adalah zat warna yang terionisasi membentuk muatan positif /


kation pada larutan pencelupan. Zw basa merupakan suatu garam ; basa
zw basa yang dapat membentuk garam dengan asam. Asam dapat
berasal dari hidro klorida atau oksalat.

Dengan berkembangnya pemakaian zat warna reaktif akhir-akhir ini, zat


warna basa jarang dipakai untuk mencelup serat selulosa. Zat warna
basa biasanya digunakan untuk menimbulkan warna yang searah pada
hasil celupan dengan zat warna belerang, atau untuk mendapatkan
bahan dengna warna yang cerah dan murah tetapi tahan luntur warnanya
jelek.

Golongan II

Zw golongan II berubah warnanya karena reduksi dengan natrium


hidrosulfit dalam suasana basa (alkali) dan warna akan kembali kewarna asli
oleh oksidasi kembali (dengan udara). Zw yang termasuk golongan ini adalah
zw bejana, belerang, hidron dan zw oksidasi.
1. Zat Warna Bejana

Zw bejana tidak larut dalam air, oleh karena itu dalam pencelupannya
harus dirubah menjadi bentuk leuko yang larut. Senyawa leuko tersebut
memiliki substantivitas terhadap selulosa sehingga dapat tercelup.

Adanya oksidator atau oksigen dari udara, bentuk leuko yang tercelup
dalam serat tersebut akan teroksidasi kembali kebentuk semula yaitu
pigmen zw bejana.

Senyawa leuko zw bejana golongan indigoida larut dalam alkali lemah


sedangkan golongan antrakwinon hanya larut dalam alkali kuat dan
hanya sedikit berubah warnanya dalam larutan hipiklorit. Umunya zw
turunan tioindigo dan karbasol warna hampir hilang dalam uji hipoklorit
dan didalam larutan pereduksi warnanya menjadi kuning.

Ikatan zw bejana dengan serat antara lain ikatan hydrogen dan ikatan
sekunder seperti gaya-gaya Van Der Wall. Tetapi karena bersifat hidrofob
maka ketahanan cucinya lebih tinggi daripada zat warna nyang berikatan
ionik dengan serat.

2. Zat Warna Belerang

Zat warna belerang adalah zat warna yang mengandung unsur belerang
sebagai kromofor. Struktur molekulnya merupakan molekul yang
kompleks dan tidak larut dalam air oleh karena itu dalam pencelupannya
diperlukan reduktor natrium sulfide dan soda abu untuk melarutkannya.
Untuk membentuk zw maka perlu proses oksidasi baik dengan udara
maupun dengan bantuan oksidator-oksidator lainnya.

3. Zat Warna Hidron

Zat warna hidron memiliki sifat-sifat antara zat warna bejana dan zat
warna belerang. Dalam skala pengujian jenis zat warna ini dilakukan
dengan pengujian untuk zat warna belerang dan untuk bejana. Zw ini juga
mempunyai warna yang spesifik yaitu berwarna biru. Reduktor yang
digunakan adalah reduktor lemah seperti Na2S dan Na2CO3.

Golongan III

Zat warna golongan III adalah zw yang rusak dalam larutan Na2S2O4
yang bersifat alkali dan larutan ekstraksinya didalam air, air-amonia atau
asam asetat tidak mencelup kembali serat kapas putih atau warna tidak
kembali kewarna asli setelah oksidasi.
1. Zat Warna Naftol

Zw naftol merupakan zw yang terbentuk dalam serat pada waktu


pencelupan dan merupakan hasil reaksi antara senyawa naftol dengan
garam diazonium (kopling).

Sifat-sifat umum dari zw naftol :

- tidak luntur dalam air

- luntur dalam piridin pekat mendidih

- bersifat poligenetik dan monogenetic

- karena mengandung gugus azo, maka tidak tahan terhadap reduktor

Golongan IV

Zw golongan IV merupakan zw yang sukar dilunturkan dalam berbagai


pelarut seperti ammonia, asam asetat dan piridin. Termasuk dalam golongan
ini adalah zw pigmen dan zw reaktif.

1. Zat Warna Pigmen

Zw pigmen adalah zw yang hanya mengandung kromofor saja sehingga


pada pencelupannya perlu dibantu dengan zat pengikat yang disebut
binder/penggikat karena tidak dapat berikatan dengan serat.

Unsur-unsur yang terdapat didalam zw pigmen antara lain, garam-garam


organic, oksida organic, gugus azo, logam berwarna dan lain-lain. Zat
warna ini luntur dalam dimetil formamida pekat dan dimetil formadida 1:1.
kecuali untuk zat warna pigmen ftalosianin atau yang berasal dari zat
warna pigmen anorganik.

2. Zat Warna Reaktif

Zar warna reaktif adalah zat warna yang dapat mengadakan reaksi
dengan serat, sehingga zw tersebut merupakan bagian dari serat
berikatan kovalen. Oleh karena itu zw ini mempunyai ketahanan cuci
yang baik ( tahan luntur tinggi ) . Zw ini mempunyai berat molekul yang
kecil oleh karena itu kilapnya lebih baik dibandingkan dengan zw direk.

Sifat-sifat umum :

- larut dalam air

- berikatan kovalen dengan serat


- karena kebanyakan gugusnya azo maka zw ini mudah rusak oleh
reduktor kuat

- tidak tahan terhadap oksidator yang mengandung klor ( NaOCl )

III. IDENTIFIKASI
Alat Percobaan:
1. Gelas Piala 600 ml
2. Tabung Reaksi
3. Penjepit
4. Pembakar Bunsen
5. Kassa
6. Pipet
7. Pengaduk
8. Rak Tabung

3.1. Golongan I
 Zat Warna Direk
Bahan :
1. Contoh uji  Kapas, Wol, Akrilat
2. Pereaksi :
- Amonia 10 %
- NaCl
Cara Kerja :
1. Masukkan contoh uji kedalam tabung reaksi
2. Tambahkan ± 4 ml amonia 10 %
3. Didihkan sehingga sebagian besar zw terekstraksi
4. Ambil contoh uji dari larutan ekstrak zat warna
* Catatan : sebaiknya larutan ekstraksi dibagi dua, satu bagian untuk
uji zw direk dan satu bagian lagi untuk uji zw asam.
5. Masukkan kapas putih, wol putih dan akrilat putih masing-
masing ± 10 mg kemudian tambahkan 5-10 mg NaCl.
6. Didihkan selama 0,5-1,5 menit kemudian biarkan menjadi dingin
7. Ambil kain-kain tersebut cuci dengan air, amati warnanya
8. Pencelupan kembali kain kapas lebih tua dibandingkan dengan
wol dan akrilat menunjukkan zw direk

 Zat Warna Asam


Bahan :
1. Contoh uji  Kapas, Wol, Akrilat
2. Kertas Lakmus
3. Pereaksi :
- Amonia 10 %
- Asam Asetat 10 %
Cara Kerja :
Apabila dalam uji zw direk terjadi pelunturan warna tetapi tidak
mencelup kembali kain kapas atau hanya menodai dengan warna yang
sangat muda, maka dikerjakan pengujian untuk zw asam.
1. Netralkan larutan ekstraksi yang diperoleh dari larutan amonia
dengan asam asetat 10 % ( periksa dengan kertas lakus atau kertas
pH )
2. Tambahkan ± 1 ml asam asetat 10 %
3. Masukkan kapas putih, wol putih dan akrilat putih didihkan
selama 1 menit
4. Ambil kain-kain tersebut cuci dengan air, amati warnanya
5. Pencelupan kembali kain wol putih oleh larutan ekstraksi
dalam suasan asam menunjukkan adanya zw asam

 Zat Warna Basa


Bahan :
1. Contoh uji  Kapas, Wol, Akrilat
2. Pereaksi :
- Asam Asetat 10 %
- Asam Asetat Glasial
- Natrium Hidroksida 10 %
- Eter
Cara Kerja :
Apabila dalam uji zw direk tidak terjadi pelunturan atau hanya luntur
sedikit maka dilakukan pengujian untuk zw basa.
1. Masukkan contoh uji ke dalam tabung reaksi
2. Tambahkan ±1 ml asam asetat glasial tambahkan 3-5
ml air didihkan sampai terjadi ekstraksi
3. Ambil contoh uji dan bagilah ekstraksi menjadi dua
bagian ( satu bagian untuk pencelupan dan satu bagian lagi untuk uji
penentuan )
4. Masukkan kain-kain contoh uji ( kapas, wol ,akrilat )
5. Didihkan selama 0,5-1,5 menit kemudian biarkan
menjadi dingin
6. Ambil kain-kain tersebut cuci dengan air, amati
warnanya
7. Pencelupan kembali kain akrilatdengan warna tua
menunjukkan zw basa
Uji Penentuan :
1. Tambahkan 3 ml larutan NaOH 10 % ( sampai alkalis ) ke dalam
larutan ekstraksi zat warna yang panas
2. Dinginkan dan kemudian tambahkan 3 ml eter
3. Kocok larutan tersebut, biarkan memisah ( air dibawah eter
diatas )
4. Pindahkan lapisan eter kedalam tabung reaksi lain
5. Tambahkan 1-3 ml asam asetat 10 % kocok lagi
6. Pewarnaan kembali lapisan larutan asam asetat dengan warna
yang sama dengan warna yang asli menunjukkan adanya zw basa

3.2. Golongan II
 Zat Warna Bejana
Bahan :
1. Contoh uji  Kapas, Wol, Akrilat
2. Pereaksi :
- Natrium Hidroksida 10 %
- Na2S2O4
Cara Kerja :
1. Masukkan contoh uji kedalam tabung reaksi
2. Tambahkan 2-3 ml air, tambahkan ± 2 ml NaOH 10 %, didihkan
selama 1 menit
3. Ambil kain-kain tersebut kemudian diangin-anginkan / oksidasi
dengan udara
4. Warna kembali kewarna semula maka menunjukkan zw
golongan II

 Zat Warna Belerang


Bahan :
Contoh uji  Kapas
Kertas saring
Pereaksi :
- Natrium Karbonat
- Na2S
- NaCl
- Natrium Hidroksida 10 %
- HCl 16 %
- SnCl2
- Larutan Pb AC 10 %
- NaOCl 10 %
Cara Kerja :
1. Masukkan contoh uji kedalam tabung reaksi
2. Tambahkan 2-3 ml air, Natrium karbonat panaskan kemudian
masukkan Na2S
3. Panaskan sampai mendidih selama 1-2
4. Ambil contoh uji dari larutan ekstrak zat warna
5. Masukkan kapas putih dan NaCl didihkan selama 1-2 menit
6. Ambil kapas, letakkan diatas kertas saring atau cuci dengan air
dan terkena udara
7. Kain kapas akan tercelup kembali dengan warna yang sama
dengan warna contoh asli tetapi lebih muda
Uji Penentuan 1
1. Didihkan contoh uji dalam 3 ml
larutan NaOH 10 % kemudian cuci bersih ( 2 kali dengan air
mengalir )
2. Masukkan contoh uji ( bersih )
kedalam tabung reaksi, tambahkan ± 2 ml HCl 16 %
3. Didihkan selama 0,5-1 menit biarkan dingin
4. Tambahkan ± 3 ml SnCl 10 %
5. Letakkan kertas timbal asetat
pada mulut tabung ( kertas Pb Ac ; kertas saring dibasahi dengan
larutan Pb Ac 10 % ) panaskan
6. Warna coklat atau hitam pada kertas Pb Ac
menunjukkan zw Belerang
Uji Penentuan 2
1. Rendam contoh uji dengan larutan NaOCl 10 %
2. Zat warna belerang akan rusak dalam waktu 5 menit

 Zat Warna Bejana


Bahan :
Contoh uji  Kapas
Lilin Parafin
Kertas saring
Pereaksi :
- NaOH 10 %
- Na2S2O4
- NaCl
Cara Kerja :
1. Masukkan contoh uji kedalam tabung reaksi
2. Tambahkan ± 2 ml air dan ± 2 ml NaOH 10 %
3. Didihkan dan tambahkan Na2S2O4
4. Didihkan selama 1 menit
5. Ambil contoh uji masukkan kapas putih dan NaCl didihkan selama 1-
1,5 menit, biarkan dingin
6. Ambil kain kapas tersebut letakkan diatas kertas saring dan biarkan
terkena udara
7. Pencelupan kembali kain kapas dengan waran yang lebih muda
Uji Penentuan
1. Masukkan contoh uji kedalam lelehan parafin dalam kui porselen
2. Apabila padatan parafin pada kertas saring berwarna maka
menunjukkan adanya zw bejana
* zw belerang tidak mewarnai parafin

 Zat Warna Hidron


Bahan :
1. Contoh uji  Kapas, Wol, Akrilat
2. Pereaksi :
- Natrium Karbonat
- Na2S
- NaCl
- Natrium Hidroksida 10 %
- HCl 16 %
- SnCl2
- Larutan Pb AC 10 %
- NaOCl 10 %
- NaOH 10 %
- Na2S2O4
Cara Kerja :
1. Kerjakan contoh uji seperti pada pengujian zw bejana dan zw
belerang
2. Kain yang dicelup dengan zw hidron akan mencelup kembali
kain kapas pada uji bejana dan positif untuk uji zw belerang
* Dapat diamati dari hasil uji sebelumnya
Uji Penentuan 1
1. Kerjakan contoh uji seperti pada uji penentuan 1zw belerang
2. Kain yang dicelup dengan zw hidron akan memberikan noda
coklat atau hitam
Uji Penentuan 2
Pengujian dengan menggunakan lilin parafin ( + )

3.3. Golongan III


Bahan :
1. Contoh uji
2. Pereaksi :
- Natrium Hidroksida 10 %
- Na2S2O4
Cara Kerja :
1. Masukkan contoh uji kedalam tabung reaksi tambahkan ± 3 ml
air, ± 2 ml NaOH dan Na2S2O4
2. Panaskan sampai mendidih selama 3 menit
3. Semua zw golongan II akan rusak, ditandai dengan perubahan
warna terhadap contoh uji atau larutan ekstrsksi, menjadi putih, abu-
abu, kuning atau jingga dan warna tidak kembali setelah oksidasi

 Zat Warna Naftol


Bahan :
1. Contoh uji  Kapas
2. Lilin PArafin
3. Pereaksi :
- Natrium Hidroksida 10 %
- Alkohol
- Na2S2O4
- NaCl
Uji Penentuan 1 :
1. Masukkan contoh uji kedalam tabung reaksi
2. Tambahkan 1ml NaOH 10 % dalam 3 ml alkohol didihkan
3. Tambahkan Na2S2O4 panaskan / didihkan ( warna akan tereduksi
)
4. Dinginkan, ambil contoh uji amati warnanya
5. Warna rusak menunjukkan adanya zw naftol atau reaktif
( dengan oksidasi warna akan kembali )
6. Kedalam filtrat ( lunturan ) masukkan kapas putih dan NaCl
didihkan selama 2 menit
7. Kapas berwarna kuning dan berpendar dibawah sinar ultra
lembayung menunjukkan zw naftol
Uji Penentuan 2
Lelehan dalam parafin positif

3.4 Golongan IV
 Zat Warna Pigmen
Bahan :
1. Contoh uji
2. Pereaksi :
- DMF 1:1
- DMF 100 %
- HCl 1 %
- HNO3 pekat
- H2SO4 pekat
Cara Kerja :
1. Masukkan contoh uji kedalam tabung reaksi, tambahkan 3 ml
DMF 1:1
2. Didihkan selama ± 2 menit amati warnanya
3. Ulangi penerjaan butir (1) dan (2) dengan DMF 100 %
4. Pewarnaan muda dalam larutan DMF 1 : 1 dan pewarnaan tua
dalam DMF 100 % menunjukkan adanya zw pigmen
Uji Penentuan 1
1. Masukkan contoh uji dalam 3 ml larutan HCl 1 % didihkan selama ±
5 menit
2. Cuci Bersih
3. Ambil Seratnya, amati dibawah mikroskop
4. Bila terdapat partikel-partikel zw pada permukaan serat
menunjukkan zw pigmen dengan zwt pengikat
Bila partikel warna terdapat diseluruh serat menunjukkan zw pigmen
dengan pencelupan polimer
Uji Penentuan 2
Khusus zw pigmen yang berwarna biru
Apabila :
- Contoh uji ditetesi HNO3 pekat  warna violet
- Contoh uji ditetesi H2SO4 pekat  warna hijau
Menunjukkan zw pigmen Alician Biru

 Zat Warna Reaktif


Bahan :
1. Contoh uji  Wol
2. Pereaksi :
- DMF 1:1
- DMF 100 %
- Natrium Hidroksida 5 %
- H2SO4 pekat
- Na2S2O4
Cara Kerja :
1. Masukkan contoh uji kedalam tabung reaksi, tambahkan 3 ml
larutan DMF 1:1 didihkan selama 2 menit
2. Ulangi pengerjaan butir (1) dalam 3 ml larutan DMF 100 %
3. Amati warna kedua larutan ekstraksinya
Ekstraksi DMF 1:1 akan terwarnai sangat muda
Ekstraksi DMF 100 % tidak terwarnai menunjukkan zw reaktif
Uji Penentuan 1
1. Masukkan contoh uji kedalam tabung reaksi,
tambahkan 3 ml larutan NaOH 5 %
2. Didihkan selama 2 menit
3. Asamkan dengan larutan H2SO4 pekat ( ± 2-3 tetes )
4. Masukkan serat wol didihkan
5. Pewarnaan pada serat wol menunjukkan zw reaktif
Uji Penentuan 2
1. Masukkan contoh uji kedalam tabung reaksi, tambahkan
3 ml larutan ( asam sulfat 0,2 % dan 6 mg Na2SO4 )
2. Didihkan selama 2 menit
3. Masukkan serat wol didihkan
4. Pewarnaan pada serat wol menunjukkan zw reaktif

IV. DATA PRAKTIKUM


( Terlampir )

V. DISKUSI
Setelah praktikan melakukan praktikum, maka terdapat hal-hal yang dapat
dijadikan bahan diskusi antara lain :
o Identifikasi Golongan I
- Pada pengujian zat warna direk kapas terwarnai pada
sampel uji no 5 dengan warna tua dan sampel uji 66 dengan warna
muda. Dimana setelah diambil suatu kesimpulan zat warna pada
sampel 5 itu direk sedangkan pada sampel 66 zat warna basa.
Begitu juga pada pengujian zat warna basa, dimana kapas
terwarnai juga dengan warna muda oleh zat warna basa.
Pewarnaan kapas oleh zat warna basa ini terkait dengan ikatan
ionik yang terbentuk antara zat warna basa dengan serat. Sehingga
sangat dimungkinkan zat warna basa dapat mencelup kapas
dengan warna muda karena zat warna basa dalam larutan akan
terionisasi membentuk ion positif sedangkan sifat kapas dalam
larutan akan terbentuk ion negatif hanya saja muatan negatif pada
kapas tidak sebanyak seperti pada wol. Point penting dalam
mengidentifikasi zat warna direk pada pewarnaan kapas adalah
bahwa pewarnaan zat warna basa pada kapas memberikan warna
yang lebih berbeda dari warna sampel uji yang sebenarnya (pada
pengujian direk sampel uji 66 warna orange sedangkan kapas
terwarnai kuning) dibandingkan zat warna direk yang mewarnai
kapas dengan warna yang mendekati warna sampel ujinya.
- Pada pengujian zat warna basa dengan menggunakan
asam, zat warna direk yang setelah diidentifikasi terdapat pada
sample uji 5, dapat mewarnai serat akrilat disamping zat warna
basa itu sendiri yang dapat mewarnai akrilat, sehingga cukup
menyulitkan dalam indentifikasi jenis zat warna. Pewarnaan direk
terhadap bahan akrilat ini dapat dijelaskan karena memang ikatan
zat warna direk adalah ikatan hidrogen dimana adanya atom H
terluar pada struktur akrilat dapat memungkinkan terjadinya ikatan
hidrogen dengan atom N=N pada struktur azo zat warna direk.
Hanya saja karena akrilat merupakan serat buatan makan ikatan
hidrogen yang terbentuk relatif sedikit sehingga warna pada akrilat
yang tercelup oleh direk akan lebih muda dibanding akrilat yang
tercelup oleh zat warna basa.
o Identifikasi Golongan II
- Tidak validnya data uji penentuan untuk zat warna belerang
yang ditandai dengan penodaan coklat-hitam pada kertas Pb asetat
terjadi pada keseluruhan sampel contoh uji, sehingga fungsi dari uji
penentuan yang seharusnya menjadi data primer yang paling
menentukan, justru menjadi tidak relevan. Sampel uji 55 yang
setelah disimpulkan mengandung zat warna bejana justru bertolak
belakang dengan pengujian penentuan zat warna belerang ini.
Ketidak validan ini karena sifat Pb (II) asetat yang stabil dalam air
tetapi mudah diendapkan oleh ion klorida yang berasal dari SnCl.
Cara percobaan dengan mendinginkan dahulu filtrat sebelum
ditambahkan SnCl pada tabung adalah untuk menghindari
terbentuknya ion klorida yang dapat bereaksi dengan Pb (II) pada
kertas timbal asetat sehingga yang diharapkan yang akan bereaksi
adalah ion S yang berasal dari zat warna belerang. Untuk itu
terjadinya penodaan coklat - hitam pada seluruh kertas sampel uji
Timbal asetat kebanyakan diakibatkan oleh pengendapan
Pb(CH3COO)2 oleh ion klor disamping memang terjadi
pengendapan akibat bereaksi dengan S (Belerang) membentuk
endapan PbS (Timbal sulfida). Pencemaran hasil praktek ini bisa
diakibatkan oleh suhu larutan filtrat dalam tabung yang tidak
didinginkan terlebih dahulu sebelum ditambahkan SnCl2 sehingga
ion klor teruapkan, adanya pengotor larutan SnCl2 pada mulut
tabung sehingga langsung bereaksi dengan kertas timbal asetat,
atau terlalu lamanya proses pemanasan sehingga yang teruapkan
tidak hanya ion S tetapi juga ion Cl ikut teruapkan dan bereaksi
dengan Pb.
o Identifikasi Golongan III
- Pada uji penentuan II dengan menggunakan parafin didapat
hasill percobaan untuk sampel uji 61 terwarnai dengan jelas,
sampel uji 32 warna lilin parafinnya sedikit berubah jika
dibandingkan dengan warna lilin parafin pada sampel uji 21 yang
jernih (sampel 21 teridentifikasi warna reaktif). Adanya pemahaman
awal bahwa pengujian parafin akan terwarnai oleh 2 jenis zat warna
yaitu bejana dan naftol nampaknya terdapat kekeliruan. Jika dikaji
secara struktur molekul zat warna, zat warna pigmen
memungkinkan untuk mewarnai parafin karena memang hanya
gugusan kromofor/pemberi warna adapun proses pewarnaannya
dibantu oleh binder sebagai pengikat pada bahan. Sifat ketahanan
luntur yang sangat tergantung pada kekuatan ikatan binder dengan
serat dapat menjadi analisa pertama untuk menjelaskan bahwa
pemanasan parafin menyebabkan rusaknya binder zat warna
sehingga zat warna terlepas dari bahan dan mewarnai parafin.
Adapun untuk mendapatkan hasil pewarnaan yang jelas dalam
identifikasi zat warna naftol pada parafin, proses pemanasannya
tidak terlalu lama karena jika terlalu lama waktu pemanasannya
akan menyebabkan warna naftol hilang. Ini karena sifat zat wrna
azo yang tidak tahan panas sehingga akan memutus gugus azo
yang menjadi kromofor zat warna sehingga warnanya menghilang.
o Identifikasi Golongan IV
- Tertukarnya menyimpulkan jenis zat warna pada sampel uji
untuk zat warna naftol dan zat warna pigmen merupakan kesalahan
yang bertitik tolak pada kesalahan pengamatan dan praktik uji
penentuan sehingga hasilnya menimbulkan kekeliruan. 1) Pada uji
penentuan di bawah mikroskop sampel uji 61 (teridentifikasi
pigmen) terlihat seratnya berwarna putih dan zat warna seperti
koyakan kulit kering yang menempel pada permukaan serat
sedangkan pada sampel uji 32 (teridentifikasi naftol) zat warna
terlihat di sepanjang serat dan terlihat ada kumpulan zat warna
pada bagian serat. 2) tidak dilakukannya uji penenteun zat warna
pigmen untuk biru dimana sampel uji ditetesi dengan HNO 3 pekat
dan H2SO4 pekat sehingga pertimbangan primer dalam mengambil
kesimpulan hanya mengandaldakan hasil uji pada mikoskop.

VI. KESIMPULAN
Dari Hasil Analisa dan data percobaan maka dapat disimpulkan:
Identifikasi Zat Warna Golongan I
- Contoh Uji 5 = zat warna direk
- Contoh Uji 61 = zat warna asam
- Contoh Uji 66 = zat warna basa
Identifikasi Zat Warna Golongan II
- Contoh Uji 38 = zat warna belerang
- Contoh Uji 41 = zat warna hidron
- Contoh Uji 55 = zat warna bejana
Identifikasi Zat Warna Golongan III
- Contoh Uji 32 = zat warna naftol
Identifikasi Zat Warna Golongan IV
- Contoh Uji 21 = zat warna reaktif
- Contoh Uji 61 = zat warna pigmen

VII. DAFTAR PUSTAKA


Karimah Suci, dkk. 2004. Identifikasi Pengujian Zat Warna pada Selulosa
Golongan I-IV. Laporan Praktikum. STTT Tekstil: Bandung
Rahayu Hariyanti. 1993. Pedoman Praktikum Evaluasi Tekstil Kimia I. 1993.
Bandung:STTT Tekstil.
Wibowo Moerdoko. 1975. Evaluasi Tekstil bagian kimia.Bandung:ITT.