Anda di halaman 1dari 7

Bergaul dengan Sesama Muslim

Segala puji bagi Allah yang sesantiasa memberikan petunjuk kepada siapa yang
dikehendaki dan tiada yang dapat memberikan petunjuk kepada siapa yang telah Allah
tetapkan kesesatan pada-nya.
Rahmat dan karunia Allah, bagi hambanya yang menyambut seruan kebaikan di
setiap perintah dan larangan-Nya. Tiada manfaat bagi Allah jika hambanya bertaqwa dan
tiada kerugian bagi-Nya jika hambanya kafir. Sesungguhnya manusialah yang
membutuhkan Allah dan ketaqwaan untuk kebaikan dirinya sendiri. Sedangkan kekafiran
hanyalah menambah kerugian dan kedzoliman bagi dirinya sendiri.
Allah-lah yang menguasai hati-hati ini, yang membolak-balikkan hati, yang
menutup dan membuka hati hambanya untuk menerima kebaikan di dalam kalamnya Al
Qur’an. Sungguh beruntunglah bagi hamba, yang atas kehendak-Nya segera dalam
menerima seruan kebaikan. Semoga kita termasuk hambanya yang senantiasa segera
dalam menyambut seruan kebaikan. Amin
Ikhwatifillahrohimakumullah,
Allah senantiasa menyuruh kita untuk berbuat baik dengan sesama muslim.
Sesungguhnya sesama muslim adalah bersaudara. Hubungan persaudaraan sesama
muslim adalah seperti tubuh yang jika salah satu darinya sakit maka selurunya tubuh
akan merasakan sakit pula. Islam begitu indah ikhwatifillah, mewajibkan bagi sesama
muslim untuk saling tolong-menolong dalam kebaikan dan ketaqwaan.
Namun kadangkala sesama muslim sering terjadi perselisihan, pertengkaran,
salah paham, kemarahan dan lainnya. Sehingga menyebabkan retaknya keindahan
ukhuwah islamiyah.
Salah satu jalan syetan menggoda manusia, ketika syetan gagal menggoyahkan
iman seorang mu’min dalam melaksanakan ibadah. Syetan mengambil celah melalui
menghasut, membisikkan, dan menghembuskan permusuhan diantara sesama muslim.
Syetan merusak persaudaraan, memecahkan persatuan, mengadu domba, dan
saling berburuk sangka.
Menyebarkan fitnah diantara sesama muslim, gibah, dan menjadikan majelis-
majelis sebagai tempat membicarakan aib orang lain. Melupakan perintah untuk saling
menasehati dalam kesabaran dan kebenaran, lupa bahwa aib sesama muslim wajib
ditutupi. Seolah aib orang lain adalah berita hangat yang begitu menarik untuk disebarkan
dan wajib untuk diketahui.
Begitu banyak orang yang ternyata lebih tertarik berkumpul untuk saling
menceritakan aib orang lain dari pada mengikuti majelis ilmu maupun kajian-kajian
islam.
Ternyata fenomena inipun tak luput terjadi dalam sebuah jamaah islam. Dalam
sebuah jamaah seharusnya benar-benar tercipta suasana ukhuwah islamiyah. Namun
perlu kita ketahui bahwa di dalam sebuah jamaah kita dituntut untuk saling berinteraksi.
Dalam berinteraksi itulah tentunya tak luput dari yang namanya kesalahpahaman,
kekhilafan, dan prasangka buruk.
Kadang tanpa sengaja saudara kita melakukan kesalahan dan kelalaian. Kita pun
menyikapinya dengan berbagai sikap: kita marah padanya dengan terus terang atau
mengambil sikap diam, kita menjauhkan diri darinya, kita kecewa tapi kita
memilih diam, kita meminta dia mentabayunkan kesalahannya, atau bahkan kita
bersabar dengan kesalahan dan kelalainnya karena kita menyadari bahwa manusia
tidak luput dari salah dan lupa.
Sederhanakanlah dalam mencintai atau membenci seseorang, yaitu jika
mencintai tidak berlebih-lebihan dan jika terpaksa membencipun hendaknya tidak
berlebihan, kedua-duanya dilakukan semata-mata karena Allah swt.
Ingat ikhwatifillah jangan sampai kita membicarakan aib saudara kita dihadapan
orang lain. Namun kadang tanpa sengaja kita membicarakan kesalahan atau keburukan
sesama muslim..
 Usahakan selalu menutupi kekurangan dan keburukan sesama muslim. Menutupi 
keburukan sesama mu`min sama dengan menyelamatkan anak yang akan dikubur hidup­
hidup.(Abu Daud, Baihaqi,Thabrani)
Syetan begitu halus menghasut kita untuk membuka aib orang lain,
membisikkan agar kita mengatakan aib orang lain dengan niatan untuk diambil ibrohnya.
Namun ternyata kita bukan hanya mengatakan aibnya saja tetapi kita juga menyebutkan
nama, bahkan ketika membicarakannya kita menambahinya dengan bumbu-bumbu agar
seolah-olah apa yang kita katakan semakin menarik dan nyata. Baru dikatakan berhasil
dan hati kita puas jika kita dapat membuat orang lain yang mendengar sampai bergeleng-
geleng kepala, kaget, dan seolah tak meyangka bahwa ikhwah yang kita bicarakan
melakukan hal buruk itu. Nau’uzubillah,
  Jangan   membicarakan   kesalahan   orang   mu`min,   jika   bukan   untuk   ishlah  
(memperbaikinya) walaupun jelas kesalahannya. (Bukhari)
Kalau hal hina itu sampai kita lakukan, dimana rasa persaudaraan kita, rasa
kasih sayang kita pada sesama muslim.

Padahal ukuran keimanan seseorang juga ditentukan dari besar


cintanya kepada saudaranya.
“Tidak sempurna iman seseorang diantara kamu hingga dia mencintai
saudaranya seperti mencintai dirinya sendiri.” (H.R. Mutafaq’alaih).
Kita kemanakan perintah Allah agar kita saling menasehati saudara kita,
mengingatkannya ketika dalam kekhilafan. Kita justru semakin membuatnya jauh, ketika
kita mendimkannya. Bahkan kita telah memperburuk keadaanya dengan menyebarkan
aibnya, atau kita termasuk pendengar setia berita-berita mengenai aib/kejelekan orang
lain. Ingatlah, kita-pun seharusnya sadar bahwa kitapun tak luput dari yang namanya
kesalahan dan kekhilafan.
Bahkan dengan membicarakan aib saudara kita, kita sendiri telah
terjerumus dalam jerat syetan, dengan melakukan dosa besar yaitu
membicarakan aib saudara, bagaikan memakan bangkai saudaranya
sendiri.
Beristigfarlah ikhwatifillah, karena kita telah lalai dan luput dari
dosa itu. Astaghfirullahal’adhzim.
Ada sebuah cerita disebuah jamaah saat, ada beberapa ikhwah yang menunggu
ikhwah lain untuk memulai syuro’. Sebagai sebuah kumpulan ikhwah, seharusnya mereka
membicarkan hal baik dan bermanfaat. Namun ternyata ketika mereka berkumpul tanpa
sengaja membicarakan keburukan ikhwah lain.
Ketika tema-nya adalah keburukan seorang ikhwah, beberapa ikhwah
itu justru saling menimpali. Seolah menjadi sebuah majelis ilmu yang begitu
aktif dan tak henti-hentinya saling bebagi pengetahuan. Berbagi pengetahuan
mengenai keburukan dan kekurangan ikhwah yang mereka bicarakan.
Na’udzubillah.
Tak satupun yang sadar bahwa syetan telah melingkupi majelis
mereka.
Dan tanpa mereka sadari juga ternyata ikhwah yang mereka bicarakan telah berada
dibalik hijab dan sengaja diam mendengarkan apa yang mereka bicarakan tentang dirinya.
Tak terbayangkan begitu sakit hatinya, tak menyangka bahwa
saudara-saudaranya sesama muslim telah membicarakan keburukannya. Tak
menyangka begitu hinakah dirinya dihadapan saudaranya sesama muslim.
Namun yang paling menyakiti diri ikhwah tersebut adalah,
mengapa tidak ada yang menasehati dirinya,?
mengingatkannya ketika dalam kekhilafan,?
”justru membicarakkannya dibelakang, padahal dia yakin dan percaya
bahwa orang-orang yang berada di jamaah ini adalah orang-orang terpilih
yang memahami agama, yang memiliki akhlak yang mulia, paham pentingnya
ukhuwah islamiyah, dan memiliki rasa persaudaraan yang tinggi, serta paham
larangan membicarakn keburukan orang lain.”

Jangan sekali-kali menyusahkan orang mu`min, baik


perasaannya, badannya dan fikirannya. Walaupun sekedar
main-main atau senda gurau, karena itu adalah suatu
kezhaliman yang besar.(Muslim, Abu Daud, Tirmidzi)
Semoga kita bukan termasuk orang-orang yang dilalaikan dalam membicarakan
keburukan orang lain karena itu termasuk dalam kedzoliman. Amin.
Ada suatu kisah lain:
Ada Seorang ikhwah yang sengaja bebohong dan melakukan kesalahan terhadap
ikhwah lain. Beberapa ikhwah kecewa bahkan menjauhi ikhwah tersebut. Tak ada yang
bertanya kepadanya ataupun ingin mendengar penjelasaannya.
Apakah ada sesuatu hal yang memaksanya melakukan kesalahan itu?
Apakah dia memerlukan bantuan agar dapat memperbaiki dan tidak mengulangi
melakukan kesalahannya itu?
Justru ikhwah yang lain mulai menjauhinya, bahkan berprasangka buruk mengenai
dirinya, mulai membicarakannya dibelakang dengan ikhwah yang lain untuk mencari dukungan
dan bukti yang nyata mengenai kesalahannya.
Tidak ada yang berniat menasehatinya ataupun mengingatkannya, bahkan mereka
menganggap bahwa ikhwah tersebut melakukan kesalahan karena tabiatnya yang buruk.
Ikhwatifillah tentunya kita tahu dan yakin bahwa menurut fitrah manusia tidak
ada manusia satupun yang punya niat untuk melakukan kesalahan. Kecuali jika lalai
karena godaan syetan atau terpaksa melakukannya karena dalam kondisi terjepit, dan
tidak memiliki pengetahuan tentang itu. Maka yang seharusnya kita lakukan berdasarkan
hadits Rosulullah adalah:
"Tolonglah saudaramu yang berbuat zhalim atau dizhalimi," yakni
engkau menghalanginya dari berbuat kezhaliman atau membebaskannya
dari keteraniayaan.
Contoh Kisah :
Seorang ikhwah mencuri beberapa uang milik ikhwah yang lain. Awalnya tidak ada
satupun ikhwah yang tahu dan menyangka bahwa ikhwah tersebut mencuri uang tersebut.
Ikhwah yang mencuri itu menutupi aibnya, dia diam dan malu jika sampai dirinya ketahuan
mencuri. Namun ternyata Allah berkehendak lain. Aibnya tersebut dibuka tabirnya oleh
Allah.
(Maha Kuasa Allah yang akan membuka setiap aib hambanya baik
di dunia maupun di akhirat nanti. Sungguh Allah Maha Mengetahui dari
segala yang ada pada hambanya baik yang ada di dalam dada maupun
yang dilakukan. Dan Allah Maha Adil dan tak ada satupun hambanya yang
akan memperoleh kerugian dihari pembalasan nanti. Karena Allah akan
membalas setiap perbuatan baik atau buruk di dunia walaupun sekecil
zarah.)
Setelah teman-temannya tahu bahwa Ikhwah itu yang mencuri. Ikhwah tersebut
malu luar biasa. Teman-temannyapun begitu kecewa dengan apa yang telah dilakukan ikhwah
tersebut. Mereka mulai menjauhinya. Mereka begitu ingin marah, namun mereka memilih
untuk mendiamkan dan memperlakukan ikhwah tersebut dengan tidak bersahabat.

Hendaknya kita selalu bersikap ramah kepada setiap orang walaupun 
kita tidak menyukainya.(Ahmad, Thabrani,, Abu Na`im )
Jika kita bertengkar dengan seseorang, maka disunnahkan agar 
segera menyatakan sayang kepada lawan bertengkar itu (Thabrani)
Ikhwah yang mencuri itu tahu bahwa perbuatannya salah, bahkan sangat berdosa
dihadapan Allah. Dia sadar bahwa dia telah mendzolimi dirinya sendiri dengan mencuri. Dia
malu kepada teman-temannya tapi dia tahu bahwa ada Allah yang seharusnya paling
membuatnya merasa lebih malu pada-Nya.
Menanamkan rasa malu pada diri, karena malu adalah sebagian dari iman. 
Orang yang tidak memiliki rasa malu dia akan bisa berbuat apa saja.(Tirmidzi)
Ikhwah tersebut merasa dirinya begitu hina dihadapan teman-temannya dan Allah. Karena
begitu tidak kuatnya menanggung malu dan sikap dari teman-temannya itu. Ikhwah tersebut
pergi menjauhkan diri. Dia sadar ini kesalahan besar dan berhak jika teman-temannya marah
kepadanya.

Jangan memutuskan hubungan silaturrahmi sesama muslim lebih dari 3 hari 
(Mutafaqun`alahi).
Ikhwah tersebut merasa tidak pantas bergaul lagi dengan sesama ikhwah. Akhirnya
dia pergi dan mencari teman yang dia anggap tidak terlalu peduli dengan dosa ataupun ibadah.
Namun ternyata teman-teman barunya telah membawanya dalam pergaulan yang buruk.
Ikhwah tersebut mulai berani bolos kuliah, nilai kuliahnya turun drastis, pakaiannya semakin
hari makin modis, bahkan tak segan melepaskan jilbabnya di depan umum.
Ternyata hidup ikhwah tersebut kini mulai jauh dari islam. Teman-teman ikhwahnya
menganggap bahwa ikhwah tersebut telah futur, jauh dari Allah. Berawal darii kesalahannya
telah berani mencuri uang dan kemudian beruntun melakukan dosa-dosa yang lain.
Jangan menghina sesama muslim walaupun ia telah berbuat salah. 
Dengan menghinanya berarti kita telah membantu syetan. Seharusnya jika 
mengetahui seseorang mu`min berbuat salah kita memohonkan ampun dan 
rahmat untuknya.(Bukhari, Baihaqi)
Namun, sampai ikhwah tersebut menjadi futur, tahukah mereka mengapa
ikhwah tersebut mencuri saat itu!!!
Pernahkah teman-temannya mencari tahu atau menanyakan alasannya mencuri.
Mendengarkan penjelasannya atau menawarkan bantuan.
Tidak !!! bahkan mereka langsung menganggap bahwa ikhwah itu mencuri untuk
kesenangan pribadinya. Mereka langsung mendiamkannya tanpa satupun yang
menasehatinya ataupun mendengarkan penjelasannya. Mereka melupakan kewajiban untuk
saling tolong menolong dan menasehati dalam keimanan dan ketaqwaan.
Tahukah ikhwatifillah, ikhwah tersebut mencuri karena dirinya belum makan selama
beberapa hari. Ikhwah tersebut tidak memiliki uang sepersen pun untuk dibelikan makanan.
Perutnya sudah melilit kesakitan karena penyakit maag kronis yang dideritanya. Maag yang
menjadi kronis disebabkan dia sering menahan rasa laparnya. Tak ada satu ikhwahpun yang
tahu, bahkan menyadari bahwa ikhwah tersebut mengalami kesulitan keuangan. Padahal
sudah menjadi kebiasaan mereka makan bersama. Namun tak satupun temannya menyadari
dan merasakan hal itu. (Pent. Nyata)
Ternyata banyak ikhwah yang tidak peduli dengan perubahan keadaan ikhwah
yang lain ketika saudara semuslim mereka mulai futur atau melakukan kesalahan. Mereka
berani menyebut dirinya aktivis islam namun sibuk dengan urusan pribadinya, organisasi-
organisasinya, kegiatan-kegiatannya, perutnya, dan kebutuhan pribadinya.
Padahal setiap diri seorang muslim seharusnya ada rasa peduli dan
merasakan jika ada saudaranya satu atap yang berubah bukan?! Kalau hal itu
terjadi bagaimana seorang aktivis islam dapat sensitif dengan keadaan umat dan
mencari solusi dari setiap permasalahan umat yang begitu kompleks dan luas ???
Dalam satu atap saja permasalahan saudaranya, yang selalu dia berinteraksi dengannya
tidak dia ketahui.
Ikhwatifillah… Senantiasalah kita berhusnuzhon/berprasangka baik
dengan saudara kita yang berbuat salah. Karena mungkin kesalahan yang dia
perbuat karena ada sebab yang memaksanya melakukan itu.
Sesungguhnya prasangka buruk itu dari syetan, karena itu jauhilah
prasangka.
Selalu husnuz zhan (bersangka baik) dan bahkan berusaha mencarikan
alasan untuk membelanya jika ada orang lain yang menghujat ikhwah tanpa alasan
yang benar. Itulah yang seharusnya kita lakukan dengan sesama muslim.
Dan kewajiban kita adalah menasehati sesama muslim, bukan
mencapknya sebagai seorang yang memiliki kesalahan yang tidak bisa dimaafkan.
Jangan menghujat seorang muslim karena kesalahannya, jangan kita 
tanyakan dengan nada menuntut;”Kenapa kau berbuat kesalahan seperti 
ini”(Muslim)
Jangan meremehkan sesama muslim, walaupun dari segi zhahirnya 
mereka hina atau lebih rendah dari kita, tetapi yang harus kita ingat bahwa 
dalam hati mereka ada kalimah yang mulia (Laailaahaillallah).(Muslim, 
Abu Saad, ibnu Majah )
Allah itu Maha Pengampun terhadap hambanya.
Apakah kita berani lancang melangkahi kuasa Allah dan lebih sombong serta
angkuh untuk tidak memaafkan kesalahan orang lain ?
Kalau Allah memberikan kesempatan bertaubat padahal disisinya
segala sesuatu, mengapa kita tidak memberi kesempatan orang lain untuk
memperbaiki kesalahannya ?
Kitapun juga bukan orang yang luput dari kesalahan dan kelalaian
bukan ?
Memperlihatkan mahabbah atau rasa cinta pada mereka dan
berusaha menahan emosi atau memaklumi kebodohan-kebodohan
mereka.“Janganlah kamu meremehkan perbuatan ma’ruf sedikitpun,
walaupun sekedar menunjukkan wajah yang berseri ketika bertemu dengan
saudaramu” (HR.Muslim)
“…dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan
(kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebaikan”
(Ali Imron:134)
Manusia adalah tempatnya salah dan lalai. Baik diri kita maupun saudara kita tak
luput dari sifat itu. Adalah tidak adil jika kita memarahi saudara, apalagi memutuskan
hubungan dengannya ketika lalai. Justru yang paling baik adalah dengan menasehatinya.
Setinggi-tinggi martabat pergaulan adalah dengan tetap menjalin
kasih sayang baik ketika lalai maupun ingat. Seperti itulah salah satu
ciri kehidupan masyarakat muslim.
Semoga Allah membuka hati-hati kita untuk mudah memaafkan kesalahan
orang lain. Dan Semoga Allah-pun juga akan meluaskan ampunannya bagi kita dari
segala kesalahan dan dosa yang kita lakukan pada-Nya. Sesungguhnya Allah itu Maha
Pemaaf dan Mencintai Hambanya yang pemaaf. Amin. Wallahu A’lam….
Dari berbagai Referensi mengenai :
“Adab Bergaul dengan Sesama Muslim” dan “Adab Sesama Saudara
Muslim”.
Penulis : Hamba Allah
Catatan : Penulis meminta maaf jika ada kesalahan dan kekhilafan yang telah
dilakukan baik sengaja ataupun tidak sengaja. Semoga bermanfaat.
* Cerita dan kisah yang penulis tuangkan sebagian besar adalah kenyataan
dari cerita orang lain dan dari pengalaman pribadi. Afwan…