Anda di halaman 1dari 2

SAPI BETINA

(Berdasar Surat Al Baqarah 67-73)

Suatu ketika terdengar teriakan dari arah perbatasan kampung, “Ada yang
meninggal ……”. Orang –orang yang mendengar teriakan tersebut segera datang
ke arah sumber suara.
Mereka sangat kaget melihat jasad dua orang tua tergeletak di
perbatasan dua kampung. Desas-desus segera tersebar diantara mereka. Orang
yang meninggal itu adalah orang yang kaya dan terpandang semasa hidupnya.
Orang-orang sekampung penasaran ingin tahu siapa yang telah membunuh kedua
orang tersebut.
Terjadi keributan diantara mereka. Mereka saling menuduh satu sama lain.
Kemudian salah seorang dari mereka mengusulkan untuk menemui Nabi Musa agar
persoalan tersebut dapat segera diselesaikan.
Merekapun mendatangi Nabi Musa.
“Hai, Musa, orangtuaku telah meninggal. Jasadnya ditemukan di
perbatasan kampung. Aku ingin tahu siapa yang telah membunuhnya?”Tanya anak
dari orang tua yang meninggal tersebut.
“Baiklah, aku akan mencoba mencari jawabannya, “ ucap Nabi Musa.
“Aku kira orangtuaku di bunuh oleh perampok ketika akan pulang dari
kota.”
“Kenapa engkau beranggapan seperti itu?”Tanya Nabi Musa penasaran.
“Karena jasadnya ditemukan di perbatasan dua kampung,” jawabnya dengan nada
meyakinkan.
“Jika kalian ingin tahu siapa pembunuhnya, aku perintahkan kalian untuk
menyembelih seekor sapi betina,” pinta Nabi Musa.
“Hai Musa, apakah engkau menganggap persoalan ini hanya sebuah
lelucon?”ucap pemuda itu marah.
“Aku berlindung kepada Allah. Aku tidak bermaksud menjadikan perintah
dari Allah agar kalian menyembelih sapi betina,” jawab Nabi Musa lagi.
“Tanyakanlah kepada Tuhanmu, sapi betina seperti apa yang harus kami
sembelih?”Tanya kaumnya.
“Allah berfirman, sapi betina itu tidak tua dan tidak muda, umurnya yang
sedang-sedang saja. Cobalah kau kerjakan,” ucap Nabi Musa tegas.
“Tanyakanlah kepada Tuhanmu, apa warna sapi betina itu?”Tanya mereka
lagi.
“Sesungguhnya Allah berfirman, sapi betina itu berwarna kuning tua dan
enak dipandang,” jawab Nabi Musa dengan sabar.
“Hai Musa, tanyakanlah lagi kepada Tuhanmu bagaimana sesungguhnya sapi
betina itu karena bentuknya masih samar untuk kami,”teriak mereka lagi.
“Sapi betina itu belum pernah dipakai untuk membajak tanah dan belum
pernah dipakai untuk mengairi tanaman, sapi betina itu tidak boleh cacat dan
belang,”ucap Nabi Musa dengan menahan amarahnya karena kaumnya seolah ingin
menunda-nunda perintah Allah.
Melihat Nabi Musa yang wajahnya mulai memerah karena menahan marah,
barulah kaumnya berhenti bertanya.
Kemudian, orang-orang kampung itupun bubar. Rupanya mereka tidak
berniat menyembelih sapi betina seperti yang diminta Nabi Musa, yang telah
melihat kaumnya telah menyepelekan perintah Allah, segera menegur Allah.
“Hai kaumku, cepatlah kalian menyembelih seekor betina.”
“Tapi Musa, sapi betina yang engkau gambarkan itu sangat sulit dicari dan
tentunya tidak mudah menemukannya,” ucap mereka mulai mengelak lagi.
“Aku tahu siapa yang memiliki sapi betina yang aku gambarkan tadi, ucap
Nabi Musa.
“Siapa, hai Musa?”
“ Ada seorang anak yatim yang memiliki sapi betina yang aku sebutkan”
“Baiklah, kami akan membelinya!” ucap mereka.
“Baiklah Musa, kami baru akan memberinya uang bila terbukti dengan
menyembelih sapi itu kami dapat mengetahui siapa yang telah melakukan
pembunuhan,” ungkap kaumnya lagi.
“Baiklah, aku setuju,” ucap Musa.
Mereka lalu mendatangi seorang anak yatim piatu yang memiliki sapi
betina. Sapi itu bentuknya menyerupai gambaran yang telah dikatakan Nabi
Musa. Anak yatim dan sapi betina tadi dibawa ke hadapan Nabi Musa. Setelah
sapi itu disembelih, Nabi Musa menyuruh mereka mengambil bagian tubuh sapi
betina tadi dan memukulkannya kepada jasad kedua orang tua tadi.
Setelah dipukulkan, jasad orang tadi hidup dan menceritakan siapa yang
telah membunuhnya. Ternyata pembunuhnya adalah anaknya sendiri yang
menginginkan secepatnya mendapat harta warisan. Setelah menceritakan
peristiwa tersebut, jasad yang hidup tadi kembali ke keadaan semula. Sang
pembunuh dihukum berat, sedang harta warisannya diberikan kepada anak
pemilik sapi betina.