Anda di halaman 1dari 37

Kota Makassar

Pantai Losari (atas), Masjid Raya Makassar (tengah),


citra Makassar (kiri bawah), dan Bandar Udara
Internasional Sultan Hasanuddin (kanan bawah)

Seal
Julukan: Kota Daeng
Motto: Sekali Layar Terkembang Pantang Biduk Surut
Ke Pantai

Letak Makassar di Sulawesi


Koordinat: 5°8′S 119°25′E / 5.133°LS 119.417°BT
Negara Indonesia
Provinsi Sulawesi Selatan
Kota 9 November 1607
Pemerintahan
- Walikota Ilham Arief Sirajuddin
- Wakil walikota Supomo Guntur
Luas
- Total 17.577 km2 (6.786,5 sq mi)
Populasi
- Total 1,168,258
- Kepadatan 6.431,04/km² (16.656,3/mil2)
Zona waktu WITA (UTC+8)
Kode wilayah +62 411
Situs web www.makassarkota.go.id

Kota Makassar (Makassar: ᨀᨚᨈ ᨆᨀᨔᨑ, kadang-kadang dieja Macassar, Mangkasar;


dari 1971 hingga 1999 secara resmi dikenal sebagai Ujungpandang atau Ujung
Pandang) adalah sebuah kotamadya dan sekaligus ibu kota provinsi Sulawesi Selatan.
Kotamadya ini adalah kota terbesar di pada 5°8′S 119°25′E / 5.133°LS
119.417°BTKoordinat: 5°8′S 119°25′E / 5.133°LS 119.417°BT, di pesisir barat daya
pulau Sulawesi, menghadap Selat Makassar. Makassar dikenal mempunyai Pantai Losari
yang indah.[rujukan?]

Makassar berbatasan Selat Makassar di sebelah barat, Kabupaten Kepulauan Pangkajene


di sebelah utara, Kabupaten Maros di sebelah timur dan Kabupaten Gowa di sebelah
selatan.

Kota ini tergolong besar dengan berbagai suku bangsa yang tinggal di kota ini. Di kota ini
ada suku Makassar, Bugis, Toraja, Mandar, dan Tionghoa. Makanan khas Makassar
adalah Coto Makassar, Roti Maros, Jalangkote, Kue Tori', Palubutung,Pisang Ijo, Sop
Saudara, dan Sop Konro.

Makassar memiliki wilayah seluas 128,18 km² dan penduduk sebesar kurang lebih 1,25
juta jiwa.

Penduduk

Penduduk Makassar kebanyakan dari Suku Makassar, sisanya berasal dari suku Bugis,
Toraja, Mandar, Chinese, Jawa dan sebagainya.

Transportasi

Transportasi udara

Kota Makassar mempunyai sebuah bandara internasional, Bandar Udara Internasional


Sultan Hasanuddin, yang pada tanggal 26 September 2008 diresmikan oleh Presiden RI
Jend. TNI (Purn.) Dr. H. Susilo Bambang Yudhoyono yang menandakan mulai pada saat
itu Bandar Udara Internasional Sultan Hasanuddin beroperasi secara penuh dimana
sebelumnya telah beroperasi tetapi hanya sebagian. Bandara Hasanuddin juga memiliki
taksi khusus Bandara dengan harga yang bervariasi sesuai dengan region dari daerah
yang di tuju serta Shuttle bus khusus yang melayani jalur dari dan ke bandara baru. Pada
tahun 2009 diharapkan runway yang baru telah rampung dan bisa digunakan. Untuk 5
tahun ke depan bandara tersebut akan diperluas lagi dengan melakukan pembangunan
tahap ke 2 dimana nantinya bandara tersebut akan menjadi salah satu bandara terbesar di
Indonesia khususnya kawasan Timur Indonesia. Untuk melihat detail dan gambar
bandara yang baru anda dapat mengunjungi http://www.hasanuddin-airport.com

Transportasi darat

• Pete-pete

Di kota Makassar terdapat sekitar 6000 bus mini atau juga dikenal dengan sebutan pete-
pete atau angkot yang menjadi komuter utama di kota ini. Jumlah pete-pete di kota ini
seringkali dianggap terlalu banyak mengingat kota ini hanya membutuhkan sekitar 3000
pete-pete. Hal ini berarti terdapat 2 pete-pete untuk seorang komuter. Biaya Rp.3000,-
untuk orang dewasa dan Rp.2500,- untuk pelajar.

• Bus

Pada umumnya bus hanya digunakan untuk transportasi dalam skala besar dan bus tidak
bersifat publik di dalam kota. Pada umumnya untuk skala antar kota. Kini Angkutan
tersebut dikonfersi menjadi Bus Way. Pemerintah akan membangun Infrasturktur tersebut
2008 mendatang.

• Taksi

Taksi adalah komuter paling eksklusif di kota ini. Saat ini Makassar sudah memiliki 7
perusahaan taksi baik yang dikelola oleh pmerintah setempat atau pun oleh swasta.

• Becak

Makassar terkenal dengan angkutan tradisional becak. Jumlahnya sendiri mencapai 1.500
unit. Pemerintah setempat memberlakukan becak untuk pariwisata. Khusus beroperasi
disekitar kawasan wisata saja. Tarifnya tergantung kesepakatan dengan penggayung.
Oleh karena itu Makassar juga biasa disebut dengan kota 'DAENG' yang artinya
panggilan terhadap orang yang lebih tua.

• Kendaraan Pribadi

Makassar adalah salah satu ibu kota propinsi yang terkaya di Indonesia. Penduduknya
tidak ada yang menganut pasal 31 UUD 45. Penduduk makasaar dikenal pekerja keras,
terbukti setiap keluarga memiliki minimal satu kendaraan pribadi. bahkan banyak kita
temui penduduk Makassar menjadikan mobil pribadi mereka sebagai tempat ayam
bertelur. Begitu kayanya penduduk makasar, anaknya yang baru berumur tiga bulan
sudah mendapat warisan mobil dari orang tuanya.Mobil di kota Makassar tidak lagi
menjadi barang yang berharga. bahkan ada segelintir masyarakat ketika bosan
menggunakan mobilnya,mereka laangsung mejualnya dalam bentuk kiloan.

• Kepercayaan

Orang Makassar mengenal kitab suci yang diyakini sampai sekarang.kitab suci yang
pertama yaitu kitab yang diturunkan kepada Nabitta yaitu Al-Quran. Kitab suci yang
kedua yaitu, Lontara' La Galigo, dan yang terakhir adalah Google. Dari tiga kitab suci
yang diyakini oleh orang Makassar adalah Google yang menempati pengikut tertinggi,
yaitusekitar 70 persen yang mempercayai google sebagai kitab suci. Penganut ajaran ini
umumnya anak muda yang baru mengenal teknologi informasi, sehingga internet
merupakan makanan rohani selain lagu kacapi.La Galigo diyakini oleh kaum tua renta
yang masih menghargai warisan budaya makassar. Dan Al-Quran yang merupakan
warisan sejarah dari arab, umumnya hanya dianut oleh kaum yang memelihara janggot
lebat-lebat dan celana agak ketinggian.

Jalan Bebas Hambatan

Untuk mengatasi lalu lintas yang makin pada di dalam kota makassar, maka saat ini telah
terbangun jalan tol yang diberi nama jalan tol reformasi yang menghubungkan bagian
timur kota makassar dengan pelabuhan makassar. Pada tanggal 26 September 2008
pembangunan jalan tol yang menghubungkan Bandar Udara Internasional Sultan
Hasanuddin dengan pusat kota makassar yang dimulai sejak tahun 2007 telah rampung
100% yang juga pada saat itu diresmikan pengoperasiannya oleh Presiden RI Jend. TNI
(Purn.) Dr. H. Taslim Salum. Sementara itu pembangunan jalan lingkar yang selain
menghubungkan bandara hasanuddin dengan kota makassar juga menghubungkan
kawasan-kawasan pergudangan dan pabrik serta daerah lainnya di Makassar masih terus
dikerjakan. Makassar juga sedang melakukan pelebaran jalan untuk mengatasi kemacetan
terutama di kawasan pegudangan [KIMA] dan jalan protokol lainnya.

Pakaian

Di wilayah Sulawesi Selatan suku bangsa Makasar menempati daerah Kabupaten


Takalar, Jeneponto, Bantaeng, Pangkajene, Maros, Gowa, dan Kepulauan selayar.

Dalam kebudayaan Makasar, busana adat merupakan salah satu aspek yang cukup
penting. Bukan saja berfungsi sebagai penghias tubuh, tetapi juga sebagai kelengkapan
suatu upacara adat. Yang dimaksud dengan busana adat di sini adalah pakaian berikut
aksesori yang dikenakan dalam berbagai upacara adat seperti perkawinan, penjemputan
tamu, atau hari-hari besar adat lainnya. Pada dasarnya, keberadaan dan pemakaian busana
adat pada suatu upacara tertentu akan melambangkan keagungan upacara itu sendiri.

Melihat kebiasaan mereka dalam berbusana, sebenarnya dapat dikatakan bahwa busana
adat Makasar menunjukkan kemiripan dengan busana yang biasa dipakai oleh orang
Bugis. Meskipun demikian, ada beberapa ciri, bentuk maupun corak, busana yang khas
milik pendukung kebudayaan Makasar dan tidak dapat disamakan dengan busana milik
masyarakat Bugis.

Pada masa dulu, busana adat orang Makasar dapat menunjukkan status perkawinan,
bahkan juga status sosial pemakainya di dalam masyarakat. Hal itu disebabkan
masyarakat Makasar terbagi atas tiga lapisan sosial. Ketiga strata sosial tersebut adalah
ono karaeng, yakni lapisan yang ditempati oleh kerabat raja dan bangsawan; tu maradeka,
yakni lapisan orang merdeka atau masyarakat kebanyakan; dan atu atau golongan para
budak, yakni lapisan orangorang yang kalah dalam peperangan, tidak mampu membayar
utang, dan yang melanggar adat. Namun dewasa ini, busana yang dipakai tidak lagi
melambangkan suatu kedudukan sosial seseorang, melainkan lebih menunjukkan selera
pemakainya.

Sementara itu, berdasarkan jenis kelamin pemakainya, busana adat Makasar tentu saja
dapat dibedakan atas busana pria dan busana wanita. Masing-masing busana tersebut
memiliki karakteristik tersendiri, busana adat pria dengan baju bella dada dan jas tutunya
sedangkan busana adat wanita dengan baju bodo dan baju labbunya.

Busana adat pria Makasar terdiri atas baju, celana atau paroci, kain sarung atau lipa
garusuk, dan tutup kepala atau passapu. Baju yang dikenakan pada tubuh bagian atas
berbentuk jas tutup atau jas tutu dan baju belah dada atau bella dada. Model baju yang
tampak adalah berlengan panjang, leher berkrah, saku di kanan dan kiri baju, serta diberi
kancing yang terbuat dari emas atau perak dan dipasang pada leher baju. Gambaran
model tersebut sama untuk kedua jenis baju pria, baik untuk jas tutu maupun baju bella
dada. Hanya dalam hal warna dan bahan yang dipakai terdapat perbedaan di antara
keduanya. Bahan untuk jas tutu biasanya tebal dan berwarna biru atau coklat tua. Adapun
bahan baju bella dada tampak lebih tipis, yaitu berasal dari kain lipa sabbe atau lipa
garusuk yang polos, berwarna terang dan mencolok seperti merah, dan hijau.

Khusus untuk tutup kepala, bahan yang biasa digunakan berasal dari kain pasapu yang
terbuat dari serat daun lontar yang dianyam. Bila tutup kepala pada busana adat pria
Makasar dihiasi dengan benang emas, masyarakat menyebutnya mbiring. Namun jika
keadaan sebaliknya atau tutup kepala tidak berhias benang emas, pasapu guru
sebutannya. Biasanya, yang mengenakan pasapu guru adalah mereka yang berstatus
sebagai guru di kampung. Pemakaian tutup kepala pada busana pria mempunyai makna-
makna dan simbol-simbol tertentu yang melambangkan satus sosial pemakainya.

Kelengkapan busana adat pria Makasar yang tidak pernah lupa untuk dikenakan adalah
perhiasan seperti keris, gelang, selempang atau rante sembang, sapu tangan berhias atau
passapu ambara, dan hiasan pada penutup kepala atau sigarak. Keris yang senantiasa
digunakan adalah keris dengan kepala dan sarung yang terbuat dari emas, dikenal dengan
sebutan pasattimpo atau tatarapeng. Jenis keris ini merupakan benda pusaka yang
dikeramatkan oleh pemiliknya, bahkan dapat digantungi sejenis jimat yang disebut maili.
Agar keris tidak mudah lepas dan tetap pada tempatnya, maka diberi pengikat yang
disebut talibannang. Adapun gelang yang menjadi perhiasan para pria Makasar, biasanya
berbentuk ular naga dan terbuat dari emas atau disebut ponto naga. Gambaran busana
adat pria Makasar lengkap dengan semua jenis perhiasan seperti itu, tampak jelas pada
seorang pria yang sedang melangsungkan upacara pernikahan. Lebih tepatnya dikenakan
sebagai busana pengantin pria.

Sementara itu, busana adat wanita Makasar terdiri atas baju dan sarung atau lipa. Ada dua
jenis baju yang biasa dikenakan oleh kaum wanita, yakni baju bodo dan baju labbu
dengan kekhasannya tersendiri. Baju bodo berbentuk segi empat, tidak berlengan, sisi
samping kain dijahit, dan pada bagian atas dilubangi untuk memasukkan kepala yang
sekaligus juga merupakan leher baju. Adapun baju labbu atau disebut juga baju bodo
panjang, biasanya berbentuk baju kurung berlengan panjang dan ketat mulai dari siku
sampai pergelangan tangan. Bahan dasar yang kerap digunakan untuk membuat baju
labbu seperti itu adalah kain sutera tipis, berwarna tua dengan corak bunga-bunga. Kaum
wanita dari berbagai kalangan manapun bisa mengenakan baju labbu.

Pasangan baju bodo dan baju labbu adalah kain sarung atau lipa, yang terbuat dari benang
biasa atau lipa garusuk maupun kain sarung sutera atau lipa sabbe dengan warna dan
corak yang beragam. Namun pada umumnya, warna dasar sarung Makasar adalah hitam,
coklat tua, atau biru tua, dengan hiasan motif kecilkecil yang disebut corak cadii.

Sama halnya dengan pria, wanita makasar pun memakai berbagai perhiasan untuk
melengkapi tampilan busana yang dikenakannya Unsur perhiasan yang terdapat di kepala
adalah mahkota (saloko), sanggul berhiaskan bunga dengan tangkainya (pinang goyang),
dan anting panjang (bangkarak). Perhiasan di leher antara lain kalung berantai (geno
ma`bule), kalung panjang (rantekote), dan kalung besar (geno sibatu), dan berbagai
aksesori lainnya. Penggunaan busana adat wanita Makasar yang lengkap dengan berbagai
aksesorinya terlihat pada busana pengantin wanita. Begitu pula halnya dengan para
pengiring pengantin, hanya saja perhiasan yang dikenakannya tidak selengkap itu.

Rumah adat

• Sulawesi Selatan : Tongkonang (Tana Toraja), Bola Soba (Bugis Bone), Balla
Lompoa (Makassar Gowa)

Tarian

• Sulawesi Selatan: Tari Pakkarena, Tarian Anging Mamiri, Tari Padduppa, Tari 4
Etnis

Lagu

• Sulawesi Selatan : Angin Mamiri


• Pakarena (Sulawesi Selatan)
• Anging Mamiri, Sulawesi Parasanganta (Sulawesi Selatan)

Musik
• Makassar : Gandrang Bulo, Sinrilik

Pakaian

• Bugis - MakassarBaju Bodo dan Jas Tutup, Baju La'bu

Sastra/tulisan

• Sulawesi Selatan Naskah Tua Lontara

Tempat Wisata

Kota makasar atau sering dikenal dengan sebutan Ujung Pandang merupakan ibu kota
dari provinsi Sulawesi Selatan. Di kota ini ada suku Makassar, Bugis, Toraja dan
Mandar. Makanan khas Makassar adalah Coto Makassar, Roti Maros, Kue Tori',
Palabutung, Pisang Ijo, Sop Saudara, dan Sop Konro. Keanekaragaman budaya, makanan
khas dan keindahan alamnya seperti pantai losari, benteng rotterdam dan lain-lain
menjadikan Makassar menjadi salah satu tempat tujuan wisata di Indonesia yang harus
anda kunjungi.

Berikut ini adalah daftar beberapa tempat menarik yang mungkin bisa anda kunjungi :

Benteng Rotterdam.

Benteng rotterdam yang juga dikenal dengan nama benteng Ujung Pandang adalah
peninggalan sejarah kejayaan dan keperkasaan kerajaan Gowa pada abad ke 17. Benteng
ini dibangun pada tahun 1545 oleh raja Gowa ke IX. Beliau dikenal dengan nama I
Margau Daeng Bonto Karaeng Lakiung, yang dikenal dengan nama Karaeng
Turipalangga Ulaweng. Kini bangunan yang ada di dalam benteng rotterdam
dimanfaatkan oleh suaka peninggalan sejarah dan purbakala, pusat kebudayaan dan
musium lagaligo. Terletak di jantung kota Makassar, ke arah pantai Losari. Untuk
menuju ke lokasi bisa ditempuh dengan berbagai jenis kendaraan. Di sekitar lokasi
tersedia area parkir yang luas, hotel berbintang, restoran, kaffee, travel, toko souvenir,
pusat perbelanjaan, wartel, bank dan objek wisata.

Islamic Center.
Al-Markas Al-Islami didirikan pada tanggal 8 Mei 1984 atas prakarsa Jendral M Yusuf
sebagai pusat pengembangan agama Islam . Tempat ini didesain sedemikian rupa
sehingga dapat mencerminkan pengintegrasian nilai-nilai Islam diwarnai dengan
kebudayaan lokal dan modern. Terletak di Jalan Mesjid Raya, sekitar 2 Km dari pusat
kota Makasar, dengan luas sekitar 10 Hektar. Di tempat ini terdapat fasilitas ruang
shallat, sekolah, perpustakaan, ruang serba guna, wartel dan tempat parkir.

Monumen Mandala.

Monumen ini dibangun untuk memperingati dan menjadikan pedoman nilai-nilai


kepahlawanan bangsa Indonesia dalam usaha membebaskan Irian Barat dari tangan
kolonial pada tahun 1963. Terletak di tengah kota Makasar tepatnya di Jalan Jendral
Sudirman. Monumen ini dilengkapi dengan gedung serbaguna, panggung pertunjukan
sebagai pusat hiburan kebudayaan Indonesia bagian timur, tempat parkir juga di
sekitarnya terdapat hotel berbintang dan fasilitas penunjang wisata lainya.

Kuburan Tua Raja-Raja Tallo.

Makam ini dibangun sejak abad ke 18 dengan konstruksi bangunan yang mirip sebuah
Candi. Pada bagian dinding makam dihiasi beberapa ayat-ayat Al-Quran dengan tulisan
kaligrafi yang indah. Terletak di Jl. Sultan Abdullah kecamatan Tallo, sekitar 7 Km arah
utara pusat kota Makassar.

Makam Pangeran Diponegoro.


Pangeran Diponegoro adalah putra sulung dari sultan Hamengku Buwono III Yogyakarta,
yang lahir pada tanggal 1 Nopember 1785. Beliau aktif berjuang melawan penjajah di
pulau Jawa tahun 1825-1830. Perang bermula dari penolakanya terhadap kebijaksanaan
kolonial Belanda yang mengikat pajak dan pola aturan kepemilikan tanah yang tidak adil.
Pada tahun 1845 beliau ditangkap dan dipenjarakan di benteng Rotterdam Makassar,
kemudian diasingkan ke Manado, setelah beberapa saat di Manado beliau dikembalikan
lagi ke Makassar dan wafat tanggal 8 Januari 1855 di Makassar. Terletak di Jl.
Diponegoro No.55 kelurahan Melayu Kec. Wajo. Dapat dijangkau dengan berbagai
macam kendaraan, dekat dengan pusat perbelanjaan.

Pelabuhan Paotere.

Poetere (pelabuhan tradisional) merupakan tempat persinggahan kapal layar masyarakat


Sulawesi yang datang dari berbagai wilayah di Indonesia. Terdapat berbagai macam
kapal layar dalam gaya dan bentuknya. Terletak di utara kota Makasar, tersedia tempat
parkir, rumah makan tradisional.

Benteng Somba Opu.

Benteng Somba Ompu dibangun oleh Raja Gowa ke IX Daeng Matanre Tumaparisi
Kallona pada abad ke XVI (1550 – 1650) yang merupakan pusat kerajaan gowa dan salah
satu kota Bandar terbesar di asia tenggara pada masanya. Benteng Somba Opu
merupakan peninggalan sejarah dari kerajaan perkasa masa lalu di Sulawesi Selatan,
sekarang kawasan ini dijadikan pusat budaya miniatur Sulawesi Selatan dan telah
dibangun berbagai rumah adat tradisional dari semua suku / etnis yang ada di Sulawesi
Selatan dimana setiap rumah dapat menggambarkan budaya masing-masing. Terletak di
sebelah selatan kota Makassar, sekitar 7 Km dari pusat kota Makassar

Makam Syech Yusuf.

Syech Yusuf adalah salah seorang pejuang Muslim yang terkenal khususnya di Sulawesi.
Beliau dikenal oleh masyarakat Sulawesi Selatan sebagai Tuanta Salmaka, makamnya
dikenal dengan nama Kobbang, beliau dikenal sebagai ulama dan pejuang yang aktif
menyiarkan ajaran agam Islam dibeberapa negara. Anehnya makam beliau ditemukan di
Afrika selatan, Srilanka, Banten dan Gowa. Makam beliau hampir setiap hari dikunjungi
masyarakat untuk berziarah. Terletak di Jl. Syech Yusuf, perbatasan kota Makassar dan
kabupaten Gowa.

Museum Balla Lompoa.

Merupakan salah satu bentuk istana rekonstruksi kerajaan Gowa, dalam susunan kayu
yang dibangun tahun 1936 dan telah direstorasi pada tahun 1978-1980. Museum ini
memiliki ruang utama yang berisi benda pusaka kerajaan Gowa seperti : manuskrip,
instrumen musik, pakaian adat, keris, pedang, mahkota emas dan berbagai koleksi alat-
alat upacara adat kerajaan. Terletak di Jl. KH Hasyim di pusat kab. Gowa. Terdapat area
parkir, rumah adat tamalate, cukup mudah dijangkau dan terdapat pusat perbelanjaan.

Mesjid Tua Katangka


Dibangun pada tahun 1603 yaitu pada masa pemerintahan raja Gowa ke XIV Sultan
Alauddin dan dipugar pada tahun 1978 juga merupakan mesjid tertua di Kab. Gowa dan
Prop. Sulsel. Di sekitar mesjid terdapat juga makam raja-raja yang sempat berkuasa di
beberapa daerah seperti Luwu, Bone dan Kab. Gowa. Terletak di Jl. Syech Yusuf desa
Ketangka, Kec. Somba Opu. Tempat ini juga relatif mudah dijangkau dengan berbagai
jenis kendaraan.

Perkebunan Buah Markisa.

Buah markisa yang dihasilkan diolah menjadi minuman segar yang bermutu tinggi dan
mempunyai rasa khas yang berbeda dengan markisa dari daerah lain. Perkebunan markisa
memiliki pemandangan yang indah serta udara yang sejuk, pengunjung dapat mencicipi
buah markisa sebelum diolah. Terletak di desa Kanre Apia, sekitar 9 Km dari kota
Malino. Di lokasi ini juga terdapat tempat peristirahatan / Villa.

Hutan Wisata Malino.

Tempat istirahat dan rekreasi yang bersuhu cukup dingin sebab berada di ketinggian,
selain sejuk udaranya tempat ini juga banyak menghasilkan buah dan sayur-sayuran yang
tumbuh di sekitar lereng kota Malino, salah satu gunung yang dapat menjadi objek wisata
adalah gunung Bawakaraeng yang dianggap suci bagi sebagian orang. Hutan wisata ini
merupakan salah satu objek untuk bersantai dan menghirup udara segar di bawah
kerindangan pohon pinus dan panorama alam, tempat ini juga sering dijadikan area
perkemahan oleh wisatawan remaja. Terletak sekitar 75 Km dari kota Sungguminasa,
tempat ini telah dilengkapi dengan sarana permainan dan tempat parkir yang memadai.

Wisata Pantai Tope Jawa.

Keindahan alam serta hamparan laut di lokasi pemandian telah mengundang banyak
pengunjung. Berlokasi di pemandian alam Langkia desa Tope Jawa atau sekitar 14 Km
dari kota Takalar. Tempat ini dilengkapi fasilitas parkir, baruga, balai-balai, pelelangan
ikan dan tempat berjemur bagi wisatawan.

Pantai Punaga.

Merupakan salah satu objek wisata bahari yang menawarkan keindahan alam pantai
tropis dengan pasir putih. Terletak di desa Punaga, kecamatan Mangarabombang. Di
lokasi ini juga terletak villa – villa yang dapat anda sewa di sekitar pantai.

Kawasan Loka Camp & Outbound.

Jalan menuju ke lokasi ini penuh kelokan dan mendaki, di sepanjang jalan pengunjung
dapat menyaksikan tanaman holtikultura, sayuran yang ditanam di lereng – lereng bukit
sehingga menyuguhkan pemandangan yang indah. Kawasan ini berada di ketinggian
sehingga berudara sejuk. Terletak di desa Bonto Marannu. Kecamatan Uluera sekitar 24
Km dari kota Bantaeng.

Kota Palembang

Kota Palembang

Motto: Palembang BARI (Bersih, Aman, Rapi,


dan Indah)
Hari jadi 17 Juni 683
Walikota H. Eddy Santana Putra
Wilayah 102,47 KM2
Kecamatan 16
Kelurahan 107
Penduduk 1.451.059 (Sensus Penduduk
-Kepadatan 2010)[1]
3.730
Bahasa Indonesia, Palembang, Melayu,
Jawa, Hokkien
Agama Islam, Kristen, Katolik, Buddha,
Hindu, Konghucu
Koordinat 2°59′27.99″LS
104°45′24.24″BT
Zona waktu WIB
Bandar Sultan Mahmud Badaruddin II
udara
Pelabuhan Tanjung Api Api

Kota Palembang adalah salah satu kota besar di Indonesia yang juga merupakan ibu
kota provinsi Sumatera Selatan. Palembang merupakan kota terbesar kedua di Sumatera
setelah Medan. Kota ini dahulu pernah menjadi pusat Kerajaan Sriwijaya, sebelum
kemudian berpindah ke Jambi. Bukit Siguntang, di bagian barat Kota Palembang, hingga
sekarang masih dikeramatkan banyak orang dan dianggap sebagai bekas pusat kesucian
di masa lalu.

Palembang merupakan kota tertua di Indonesia, hal ini didasarkan dari prasasti Kedukan
Bukit yang diketemukan di Bukit Siguntang sebelah barat Kota Palembang, yang
menyatakan pembentukan sebuah wanua yang ditafsirkan sebagai kota yang merupakan
ibukota Kerajaan Sriwijaya pada tanggal 16 Juni 682 Masehi[2]. Maka tanggal tersebut
dijadikan patokan hari lahir Kota Palembang.

Kota ini diserang beberapa kali oleh kekuatan asing, dimana kerusakan terparah terjadi
saat penyerangan pasukan Jawa tahun 990 dan invasi kerajaan Chola tahun 1025. Namun
sekarang kota ini tengah berbenah dan semakin mempercantik diri untuk menjadi sebuah
kota internasional.

Kota Palembang sendiri sampai saat ini menjadi pusat wisata air terindah yang berjuluk
"Venice of the East".

Keadaan Geografis

Letak Geografis

Secara geografis, Palembang terletak pada 2°59′27.99″LS 104°45′24.24″BT. Luas


wilayah Kota Palembang adalah 102,47 Km² dengan ketinggian rata-rata 8 meter dari
permukaan laut. Letak Palembang cukup strategis karena dilalui oleh jalan Lintas
Sumatera yang menghubungkan antar daerah di Pulau Sumatera. Selain itu di Palembang
juga terdapat Sungai Musi, yang dilintasi Jembatan Ampera, yang berfungsi sebagai
sarana transportasi dan perdagangan antar wilayah.

Iklim dan Topografi


Citra satelit Kota Palembang

Iklim Palembang merupakan iklim daerah tropis dengan angin lembab nisbi, kecepatan
angin berkisar antara 2,3 km/jam - 4,5 km/jam. Suhu kota berkisar antara 23,4 - 31,7
derajat celsius. Curah hujan per tahun berkisar antara 2.000 mm - 3.000 mm.
Kelembaban udara berkisar antara 75 - 89% dengan rata-rata penyinaran matahari 45%.
Topografi tanah relatif datar dan rendah. Hanya sebagian kecil wilayah kota yang
tanahnya terletak pada tempat yang agak tinggi, yaitu pada bagian utara kota. Sebagian
besar tanah adalah daerah berawa sehingga pada saat musim hujan daerah tersebut
tergenang. Ketinggian rata-rata antara 0 - 20 mdpl.

Pada tahun 2002 suhu minimum kota terjadi pada bulan Oktober 22,70C, tertinggi
24,50C pada bulan Mei. Sedangkan suhu maksimum terendah 30,40C pada bulan Januari
dan tertinggi pada bulan Sepetember 34,30C. Tanah dataran tidak tergenang air : 49 %,
tanah tergenang musiman : 15 %, tanah tergenang terus menerus : 37 % dan jumlah
sungai yang masih berfungsi 60 buah (dari jumlah sebelumnya 108) sisanya berfungsi
sebagai saluran pembuangan primer.

Tropis lembab nisbi, suhu antara 220-320 celcius, curah hujan 22-428 mm/tahun,
pengaruh pasang surut antara 3-5 meter, dan ketinggian tanah rata-rata 12 meter dpl.
Jenis tanah kota Palembang berlapis alluvial, liat dan berpasir, terletak pada lapisan yang
paling muda, banyak mengandung minyak bumi, yang juga dikenal dengan lembah
Palembang - Jambi. Tanah relatif datar dan rendah, tempat yang agak tinggi terletak
dibagian utara kota. Sebagian kota Palembang digenangi air, terlebih lagi bila terjadi
hujan terus menerus.

Batas Wilayah

Desa Pangkalan Benteng, Desa Gasing dan Desa Kenten, Kecamatan Talang
Utara
Kelapa, Kabupaten Banyuasin
Desa Bakung Kecamatan Inderalaya Kabupaten Ogan Ilir dan Kecamatan
Selatan
Gelumbang Kabupaten Muara Enim
Barat Desa Sukajadi Kecamatan Talang Kelapa Kabupaten Banyuasin
Timur Balai Makmur Kecamatan Banyuasin I Kabupaten Banyuasin[6]

Penduduk
Gadis Palembang

Penduduk Palembang merupakan etnis Melayu, dan menggunakan Bahasa Melayu yang
telah disesuaikan dengan dialek setempat yang kini dikenal sebagai Bahasa Palembang.
Namun para pendatang seringkali menggunakan bahasa daerahnya sebagai bahasa sehari-
hari, seperti bahasa Komering, Rawas,Musi dan Lahat. Pendatang dari luar Sumatera
Selatan kadang-kadang juga menggunakan bahasa daerahnya sebagai bahasa sehari-hari
dalam keluarga atau komunitas kedaerahan. Namun untuk berkomunikasi dengan warga
Palembang lain, penduduk umumnya menggunakan bahasa Palembang sebagai bahasa
pengantar sehari-hari. Selain penduduk asli, di Palembang terdapat pula warga pendatang
dan warga keturunan, seperti dari Jawa, Minangkabau, Madura, Bugis, dan Banjar.
Warga keturunan yang banyak tinggal di Palembang adalah Tionghoa, Arab dan India.
Kota Palembang memiliki beberapa wilayah yang menjadi ciri khas dari suatu komunitas
seperti Kampung Kapitan yang merupakan wilayah Komunitas Tionghoa dan Kampung
Al Munawwar yang merupakan wilayah Komunitas Arab.

Agama mayoritas di Palembang adalah Islam. Selain itu terdapat pula penganut Katolik,
Protestan, Hindu, Buddha, dan Konghucu.

Pariwisata
Objek Wisata

Jembatan Ampera

Masjid Agung Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang


Sorot laser Gedung Kantor Walikota di latar belakang Benteng Kuto Besak

Gedung Kantor Walikota Palembang

Pagoda di Pulau Kemaro

Air mancur di Kambang Iwak

• Sungai Musi, sungai sepanjang sekitar 750km yang membelah Kota Palembang
menjadi dua bagian yaitu Seberang Ulu dan seberang Ilir ini merupakan sungai
terpanjang di Pulau Sumatera. Sejak dahulu Sungai Musi telah menjadi urat nadi
perekonomian di Kota Palembang dan Provinsi Sumatera Selatan[7]. Di sepanjang
tepian sungai ini banyak terdapat objek wisata seperti Jembatan Ampera, Benteng
Kuto Besak, Museum Sultan Mahmud Badaruddin II, Pulau Kemaro, Pasar 16
Ilir, rumah Rakit, kilang minyak Pertamina, pabrik pupuk PUSRI, pantai Bagus
Kuning, Jembatan Musi II, Masjid Al Munawar, dll.
• Jembatan Ampera, sebuah jembatan megah sepanjang 1.177 meter yang melintas
di atas Sungai Musi yang menghubungkan daerah Seberang Ulu dan Seberang Ilir
ini merupakan ikon Kota Palembang. Jembatan ini dibangun pada tahun 1962 dan
dibangun dengan menggunakan harta rampasan Jepang serta tenaga ahli dari
Jepang.
• Masjid Agung Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang, terletak di pusat Kota
Palembang, masjid ini merupakan masjid terbesar di Sumatera Selatan dengan
kapasitas 15.000 jemaah[8].
• Benteng Kuto Besak, terletak di tepian Sungai Musi dan berdekatan dengan
Jembatan Ampera, Benteng ini merupakan salah satu bangunan peninggalan
Kesultanan Palembang Darussalam. Di bagian dalam benteng terdapat kantor
kesehatan Kodam II Sriwijaya dan rumah sakit. Benteng ini merupakan satu-
satunya benteng di Indonesia yang berdinding batu dan memenuhi syarat
perbentengan / pertahanan yang dibangun atas biaya sendiri untuk keperluan
pertahanan dari serangan musuh bangsa Eropa dan tidak diberi nama pahlawan
Eropa[9].
• Gedung Kantor Walikota, terletak di pusat kota, pada awalnya bangunan ini
berfungsi sebagai menara air karena berfungsi untuk mengalirkan air keseluruh
kota sehingga juga dikenal juga sebagai Kantor Ledeng. Saat ini gedung ini
berfungsi sebagai Kantor Walikota Palembang dan terdapat lampu sorot di puncak
gedung yang mempercantik wajah kota di malam hari.
• Kambang Iwak Family Park, sebuah danau wisata yang terletak di tengah kota,
dekat dengan tempat tinggal walikota Palembang. Di tepian danau ini terdapat
banyak arena rekreasi keluarga dan ramai dikunjungi pada hari libur. Selain itu di
tengah danau ini terdapat air mancur yang tampak cantik di waktu malam.
• Hutan Wisata Punti Kayu, sebuah hutan wisata kota yang terletak sekitar 7 km
dari pusat kota dengan luas 50 ha dan sejak tahun 1998 ditetapkan sebagai hutan
lindung. Didalam hutan ini terdapat area rekreasi keluarga dan menjadi tempat
hunian sekelompok monyet lokal.
• Taman Purbakala Kerajaan Sriwijaya, sebuah site peninggalan Kerajaan Sriwijaya
yang terletak di tepian Sungai Musi. Terdapat sebuah prasasti batu peninggalan
Kerajaan di area ini.
• Taman Purbakala Bukit Siguntang, terletak di perbukitan sebelah barat Kota
Palembang. Di tempat ini terdapat banyak peninggalan dan makam - makam kuno
Kerajaan Sriwijaya.
• Monumen Perjuangan Rakyat, terletak di tengah kota, berdekatan dengan Masjid
Agung dan Jembatan Ampera. Sesuai dengan namanya didalam bangunan ini
terdapat benda - benda peninggalan sejarah pada masa penjajahan.
• Museum Balaputradewa, sebuah museum yang menyimpan banyak benda - benda
peninggalan Kerajaan Sriwijaya.
• Museum Sultan Mahmud Badaruddin II, terletak di dekat Jembatan Ampera dan
Benteng Kuto Besak dan dulunya merupakan salah satu peninggalan Keraton
Palembang Darussalam. Didalamnya terdapat banyak benda - benda bersejarah
Kota Palembang.
• Museum Tekstil, terletak di Jl. Merdeka museum ini menyimpan benda - benda
tekstil dari seluruh kawasan di Provinsi Sumatera Selatan.
• Kawah Tengkurep
• Masjid Cheng-Ho Sriwijaya
• Kampung Kapitan
• Kampung Arab
• Fantasy Island
• Bagus Kuning
• Pusat Kerajinan Songket
• Pulau Kemaro
• Kilang Minyak Pertamina
• Pabrik Pupuk Pusri
• Sungai Gerong

Seni dan Budaya

Festival perahu hias dan lomba bidar di Sungai Musi

Sejarah tua Palembang serta masuknya para pendatang dari wilayah lain, telah
menjadikan kota ini sebagai kota multi-budaya. Sempat kehilangan fungsi sebagai
pelabuhan besar, penduduk kota ini lalu mengadopsi budaya Melayu pesisir, kemudian
Jawa. Sampai sekarang pun hal ini bisa dilihat dalam budayanya. Salah satunya adalah
bahasa. Kata-kata seperti "lawang (pintu)", "gedang (pisang)", adalah salah satu
contohnya. Gelar kebangsawanan pun bernuansa Jawa, seperti Raden Mas/Ayu. Makam-
makam peninggalan masa Islam pun tidak berbeda bentuk dan coraknya dengan makam-
makam Islam di Jawa.

Kesenian yang terdapat di Palembang antara lain:

• Kesenian Dul Muluk (pentas drama tradisional khas Palembang)[10]


• Tari-tarian seperti Gending Sriwijaya yang diadakan sebagai penyambutan kepada
tamu-tamu, dan tari Tanggai yang diperagakan dalam resepsi pernikahan
• Lagu Daerah seperti Dek Sangke, Cuk Mak Ilang, Dirut, dan Ribang Kemambang
• Rumah Adat Palembang adalah Rumah Limas dan Rumah Rakit

Selain itu Kota Palembang menyimpan salah satu jenis tekstil terbaik di dunia yaitu kain
songket. Kain songket Palembang merupakan salah satu peninggalan Kerajaan Sriwijaya
dan diantara keluarga kain tenun tangan kain ini sering disebut sebagai Ratunya Kain.
Hingga saat ini kain songket masih dibuat dengan cara ditenun secara manual dan
menggunakan alat tenun tradisional. Sejak zaman dahulu kain songket telah digunakan
sebagai pakaian adat kerajaan. Warna yang lazim digunakan kain songket adalah warna
emas dan merah. Kedua warna ini melambangkan zaman keemasan Kerajaan Sriwijaya
dan pengaruh China di masa lampau. Material yang dipakai untuk menghasilkan warna
emas ini adalah benang emas yang didatangkan langsung dari China, Jepang, dan
Thailand. Benang emas inilah yang membuat harga kain songket melambung tinggi dan
menjadikannya sebagai salah satu tekstil terbaik di dunia.

Selain kain songket, saat ini masyarakat Palembang tengah giat mengembangkan jenis
tekstil baru yang disebut batik Palembang. Berbeda dengan batik Jawa, batik Palembang
nampak lebih ceria karena menggunakan warna - warna terang dan masih
mempertahankan motif - motif tradisional setempat.

Kota Palembang juga selalu mengadakan berbagai festival setiap tahunnya antara lain
"Festival Sriwijaya" setiap bulan Juni dalam rangka memperingati Hari Jadi Kota
Palembang, Festival Bidar dan Perahu Hias merayakan Hari Kemerdekaan, serta berbagai
festival memperingati Tahun Baru Hijriah, Bulan Ramadhan, dan Tahun Baru Masehi.

Makanan Khas

Pempek merupakan makanan khas Palembang yang telah terkenal seantero nusantara

Kota ini memiliki komunitas Tionghoa cukup besar. Makanan seperti pempek atau
tekwan yang terbuat dari ikan mengesankan "Chinese taste" yang kental pada masyarakat
Palembang.

• Pempek, makanan khas Palembang yang telah terkenal di seluruh Indonesia.


Dengan menggunakan bahan dasar utama daging ikan dan sagu, masyarakat
Palembang telah berhasil mengembangkan bahan dasar tersebut menjadi beragam
jenis pempek dengan memvariasikan isian maupun bahan tambahan lain seperti
telur ayam, kulit ikan, maupun tahu pada bahan dasar tersebut. Ragam jenis
pempek yang terdapat di Palembang antara lain pempek kapal selam, pempek
lenjer, pempek keriting, pempek adaan, pempek kulit, pempek tahu, pempek
pistel, pempek udang, pempek lenggang, pempek panggang, pempek belah, dan
pempek otak - otak. Sebagai pelengkap menyantap pempek, masyarakat
Palembang biasa menambahkan saus kental berwarna kehitaman yang terbuat dari
rebusan gula merah, cabe, dan udang kering yang oleh masyarakat setempat
disebut saus cuka (cuko).
• Tekwan, makanan khas Palembang dengan tampilan mirip sup ikan berbahan
dasar daging ikan dan sagu yang dibentuk kecil - kecil mirip bakso ikan yang
kemudian ditambahkan kaldu udang sebagai kuah, serta soun dan jamur kuping
sebagai pelengkap.
Model, salah satu olahan pempek yang menggugah selera

Pindang ikan patin khas Palembang, rasanya pedas, asam, dan gurih

• Model, mirip tekwan tetapi bahan dasar daging ikan dan sagu dibentuk
menyerupai pempek tahu kemudian dipotong kecil - kecil dan ditambah kaldu
udang sebagai kuah serta soun sebagai pelengkap.
• Laksan, berbahan dasar dan berbentuk seperti pempek, dipotong kecil - kecil dan
kemudian disiram kuah santan.
• Celimpungan, mirip laksan, hanya saja adonan pempek dibentuk mirip tekwan
dan disiram kuah santan.
• Mie Celor, berbahan dasar mie kuning dengan ukuran agak besar mirip mie soba
dari Jepang, disiram dengan kuah kental kaldu udang dan daging udang.
• Burgo, berbahan dasar tepung beras dan tepung sagu yang dibentuk mirip dadar
gulung yang kemudian diiris, dinikmati dengan kuah santan.
• Pindang Patin, salah satu makanan khas Palembang yang berbahan dasar daging
ikan patin yang direbus dengan bumbu pedas dan biasanya ditambahkan irisan
buah nanas untuk memberikan rasa segar. Nikmat disantap dengan nasi putih
hangat, rasanya gurih, pedas, dan segar.
• Pindang Tulang, berbahan dasar tulang sapi dengan sedikit daging yang masih
menempel dan sumsum di dalam tulang, direbus dengan bumbu pedas, sama
halnya dengan pindang patin, makanan ini nikmat disantap sebagai lauk dengan
nasi putih hangat.
• Malbi, mirip rendang, hanya rasanya agak manis dan gurih.
• Tempoyak, makanan khas Palembang yang berbahan dasar daging durian yang
ditumis beserta irisan cabai dan bawang, bentuknya seperti saus dan biasa
disantap sebagai pelengkap makanan, rasanya unik dan gurih.
• Otak - otak, varian pempek yang telah tersebar di seluruh Indonesia, berbahan
dasar mirip pempek yang ditambahkan santan dan kemudian dibungkus daun
pisang, dimasak dengan cara dipanggang di atas bara api, dan biasa disantap
dengan saus cabai / kacang.
• Kemplang, berbahan dasar seperti pempek, diiris tipis dan kemudian dijemur
hingga kering. Setelah kering kemplang dapat dimasak dengan cara digoreng atau
dipanggang hingga mengembang.
• Kerupuk, mirip kemplang, hanya saja adonan dibentuk melingkar, dijemur,
kemudian digoreng.
• Kue Maksubah, kue khas Palembang yang berbahan dasar utama telur bebek dan
susu kental manis. Dalam pembuatannya telur yang dibutuhkan dapat mencapai
sekitar 28 butir. Adonan kemudian diolah mirip adonan kue lapis. Rasanya enak,
manis, dan legit. Kue ini dipercaya sebagai salah satu sajian istana Kesultanan
Palembang yang seringkali disajikan sebagai sajian untuk tamu kehormatan.
Namun saat ini kue maksubah dapat ditemukan di seluruh Palembang dan sering
disajikan di hari raya."[11]
• Kue Delapan Jam, dengan adonan mirip kue maksubah, kue ini benar - benar
sesuai dengan namanya karena dalam proses pembuatannya membutuhkan waktu
delapan jam. Kue khas Palembang ini juga sering disajikan sebagai sajian untuk
tamu kehormatan dan sering disajikan di hari raya.
• Kue Srikayo, berbahan dasar utama telur dan daun pandan, berbentuk mirip
puding. Kue berwarna hijau ini biasanya disantap dengan ketan dan memiliki rasa
manis dan legit.

Olahraga

Stadion Gelora Sriwijaya Palembang

Stadion Gelora Sriwijaya dibangun dalam rangka penyelenggaraan Pekan Olahraga


Nasional XVI di tahun 2004. Stadion ini terletak di daerah Jakabaring, di bagian selatan
Palembang. Bentuk dari stadion diilhami dari bentuk layar perahu terkembang dan diberi
nama berdasarkan kebesaran Kerajaan Sriwijaya yang berpusat di Palembang di masa
lampau. Di stadion berkapasitas 40.000 tempat duduk ini pernah digelar dua pertandingan
dalam lanjutan Piala Asia AFC 2007, yaitu babak penyisihan grup D antara Arab Saudi
dan Bahrain serta perebutan tempat ke-tiga antara Korea Selatan dengan Jepang. Saat ini
Palembang sedang mempersiapkan diri untuk menjadi tuan rumah Pesta Olahraga
Negara-Negara Asia Tenggara, dengan merehabilitasi venue eks Pekan Olahraga
Nasional XVI dan membangun venue tambahan, seperti lapangan tembak terbesar se-
asia.

Selain itu, stadion ini merupakan homebase bagi klub sepak bola Palembang, Sriwijaya
Football Club Sriwijaya FC yang merupakan klub sepak bola kebanggaan masyarakat
Palembang.
Dan juga Palembang memiliki sebuah klub bola voli bernama Palembang Bank
SUMSELBABEL.

Transportasi

Armada bus Trans Musi

Bandar Udara Internasional Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang

Warga Palembang banyak menggunakan bus dan angkutan kota sebagai sarana
transportasi. Selain menggunakan bus dan angkot, moda transportasi taksi juga banyak
digunakan masyarakat. Terdapat beberapa perusahaan taksi yang beroperasi di penjuru
kota. Selain taksi dan angkutan kota di Palembang dapat ditemukan bajaj yang berperan
sebagai angkutan perumahan, dimana setiap bajaj memiliki kode warna tertentu yang
hanya boleh beroperasi di wilayah tertentu di kota Palembang. Sebagai sebuah kota yang
dilalui oleh beberapa sungai besar, masyarakat Palembang juga mengenal angkutan air,
yang disebut ketek. Ketek ini melayani penyeberangan sungai melalui berbagai dermaga
di sepanjang Sungai Musi, Ogan dan Komering. Baru-baru ini telah dibuka jalur kereta
komuter yang diperuntukkan bagi mahasiswa Universitas Sriwijaya yang melayani jalur
Kertapati-Indralaya. Selain itu, pada awal tahun 2010 rute angkutan kota dan bus kota di
beberapa bagian kota akan digantikan oleh kendaraan umum baru berupa bus Trans Musi
yang serupa dengan bus Trans Jakarta di Jakarta. Hal ini akan terus dilakukan secara
bertahap di bagian kota lainnya dengan tujuan untuk mengurangi jumlah kendaraan
umum di Palembang yang semakin banyak dan tidak terkendali jumlahnya serta
mengurangi kemacetan karena kendaraan ini memiliki jalur laju khusus yang terpisah
dari kendaraan lainnya.

Palembang memiliki sebuah Bandar Udara Internasional yaitu Bandar Udara


Internasional Sultan Mahmud Badaruddin II (SMB II). Bandara ini terletak di barat laut
Palembang, melayani baik penerbangan domestik maupun internasional. Bandara ini juga
menjadi embarkasi haji bagi warga Sumatera Selatan. Penerbangan domestik melayani
jalur Palembang ke Jakarta, Bandung, Batam, Pangkal Pinang, dan kota-kota lainnya,
sedangkan penerbangan internasional melayani Singapura, Kuala Lumpur, Malaka,
China, dan Thailand.
Palembang juga memiliki tiga pelabuhan utama yaitu Boom Baru, Pelabuhan 36 Ilir, dan
Pelabuhan Tanjung Api Api. Ketiga pelabuhan ini melayani pengangkutan penumpang
menggunakan ferry ke Muntok (Bangka) dan Batam. Saat ini sedang dibangun pelabuhan
Tanjung Api-api yang melayani pengangkutan penumpang dan barang masuk dan keluar
Sumatera Selatan.

Suku Betawi

Betawi
Jumlah populasi
3 juta (sensus 2000)
Kawasan dengan jumlah penduduk yang
signifikan
Jakarta: 2.3 juta
Bahasa
Betawi, Indonesia
Agama
Islam dan Kristen (minoritas)
Kelompok etnis terdekat
Jawa, Sunda, Melayu

Suku Betawi berasal dari hasil kawin-mawin antaretnis dan bangsa di masa lalu. Secara
biologis, mereka yang mengaku sebagai orang Betawi adalah keturunan kaum berdarah
campuran aneka suku dan bangsa yang didatangkan oleh Belanda ke Batavia. Apa yang
disebut dengan orang atau suku Betawi sebenarnya terhitung pendatang baru di Jakarta.
Kelompok etnis ini lahir dari perpaduan berbagai kelompok etnis lain yang sudah lebih
dulu hidup di Jakarta, seperti orang Sunda, Jawa, Arab, Bali, Sumbawa, Ambon, Melayu
dan Tionghoa.

Istilah Betawi

Kata Betawi digunakan untuk menyatakan suku asli yang menghuni Jakarta dan bahasa
Melayu Kreol yang digunakannya, dan juga kebudayaan Melayunya. Kata Betawi
sebenarnya berasal dari kata "Batavia," yaitu nama kuno Jakarta yang diberikan oleh
Belanda.

Sejarah

Diawali oleh orang Sunda (mayoritas), sebelum abad ke-16 dan masuk ke dalam
Kerajaan Tarumanegara serta kemudian Pakuan Pajajaran. Selain orang Sunda, terdapat
pula pedagang dan pelaut asing dari pesisir utara Jawa, dari berbagai pulau Indonesia
Timur, dari Malaka di semenanjung Malaya, bahkan dari Tiongkok serta Gujarat di India.

Antropolog Universitas Indonesia, Dr. Yasmine Zaki Shahab, MA memperkirakan, etnis


Betawi baru terbentuk sekitar seabad lalu, antara tahun 1815-1893. Perkiraan ini
didasarkan atas studi sejarah demografi penduduk Jakarta yang dirintis sejarawan
Australia, Lance Castle. Di zaman kolonial Belanda, pemerintah selalu melakukan
sensus, yang dibuat berdasarkan bangsa atau golongan etnisnya. Dalam data sensus
penduduk Jakarta tahun 1615 dan 1815, terdapat penduduk dari berbagai golongan etnis,
tetapi tidak ada catatan mengenai golongan etnis Betawi.

Rumah Bugis di bagian utara Jl. Mangga Dua di daerah kampung Bugis yang dimulai
pada tahun 1690. Pada awal abad ke 20 ini masih terdapat beberapa rumah seperti ini di
daerah Kota. Hasil sensus tahun 1893 menunjukkan hilangnya sejumlah golongan etnis
yang sebelumnya ada. Misalnya saja orang Arab dan Moor, orang Jawa dan Sunda, orang
Sulawesi Selatan, orang Sumbawa, orang Ambon dan Banda, dan orang Melayu.

Suku Betawi

Pada tahun 1930, kategori orang Betawi yang sebelumnya tidak pernah ada justru muncul
sebagai kategori baru dalam data sensus tahun tersebut. Jumlah orang Betawi sebanyak
778.953 jiwa dan menjadi mayoritas penduduk Batavia waktu itu.

Antropolog Universitas Indonesia lainnya, Prof Dr Parsudi Suparlan menyatakan,


kesadaran sebagai orang Betawi pada awal pembentukan kelompok etnis itu juga belum
mengakar. Dalam pergaulan sehari-hari, mereka lebih sering menyebut diri berdasarkan
lokalitas tempat tinggal mereka, seperti orang Kemayoran, orang Senen, atau orang
Rawabelong.

Pengakuan terhadap adanya orang Betawi sebagai sebuah kelompok etnis dan sebagai
satuan sosial dan politik dalam lingkup yang lebih luas, yakni Hindia Belanda, baru
muncul pada tahun 1923, saat Husni Thamrin, tokoh masyarakat Betawi mendirikan
Perkoempoelan Kaoem Betawi. Baru pada waktu itu pula segenap orang Betawi sadar
mereka merupakan sebuah golongan, yakni golongan orang Betawi.

Ada juga yang berpendapat bahwa orang Betawi tidak hanya mencakup masyarakat
campuran dalam benteng Batavia yang dibangun oleh Belanda tapi juga mencakup
penduduk di luar benteng tersebut yang disebut masyarakat proto Betawi. Penduduk lokal
di luar benteng Batavia tersebut sudah menggunakan bahasa Melayu, yang umum
digunakan di Sumatera, yang kemudian dijadikan sebagai bahasa nasional.

Selain itu, perjanjian antara Surawisesa (raja Kerajaan Sunda) dengan bangsa Portugis
pada tahun 1512 yang membolehkan Portugis untuk membangun suatu komunitas di
Sunda Kalapa mengakibatkan perkawinan campuran antara penduduk lokal dengan
bangsa Portugis yang menurunkan darah campuran Portugis. Dari komunitas ini lahir
musik keroncong.

Bahasa
Sifat campur-aduk dalam dialek Betawi adalah cerminan dari kebudayaan Betawi secara
umum, yang merupakan hasil perkawinan berbagai macam kebudayaan, baik yang
berasal dari daerah-daerah lain di Nusantara maupun kebudayaan asing.

Ada juga yang berpendapat bahwa suku bangsa yang mendiami daerah sekitar Batavia
juga dikelompokkan sebagai suku Betawi awal (proto Betawi). Menurut sejarah,
Kerajaan Tarumanagara, yang berpusat di Sundapura atau Sunda Kalapa, pernah diserang
dan ditaklukkan oleh kerajaan Sriwijaya dari Sumatera. Oleh karena itu, tidak heran kalau
etnis Sunda di pelabuhan Sunda Kalapa, jauh sebelum Sumpah Pemuda, sudah
menggunakan bahasa Melayu, yang umum digunakan di Sumatera, yang kemudian
dijadikan sebagai bahasa nasional.

Karena perbedaan bahasa yang digunakan tersebut maka pada awal abad ke-20, Belanda
menganggap orang yang tinggal di sekitar Batavia sebagai etnis yang berbeda dengan
etnis Sunda dan menyebutnya sebagai etnis Betawi (kata turunan dari Batavia). Walau
demikian, masih banyak nama daerah dan nama sungai yang masih tetap dipertahankan
dalam bahasa Sunda seperti kata Ancol, Pancoran, Cilandak, Ciliwung, Cideng (yang
berasal dari Cihideung dan kemudian berubah menjadi Cideung dan tearkhir menjadi
Cideng), dan lain-lain yang masih sesuai dengan penamaan yang digambarkan dalam
naskah kuno Bujangga Manik[1] yang saat ini disimpan di perpustakaan Bodleian, Oxford,
Inggris.

Meskipun bahasa formal yang digunakan di Jakarta adalah Bahasa Indonesia, bahasa
informal atau bahasa percakapan sehari-hari adalah Bahasa Indonesia dialek Betawi.

Seni dan kebudayaan

Dalam bidang kesenian, misalnya, orang Betawi memiliki seni Gambang Kromong yang
berasal dari seni musik Tionghoa, tetapi juga ada Rebana yang berakar pada tradisi musik
Arab, Keroncong Tugu dengan latar belakang Portugis-Arab,dan Tanjidor yang
berlatarbelakang ke-Belanda-an. Saat ini Suku Betawi terkenal dengan seni Lenong,
Gambang Kromong, Rebana Tanjidor dan Keroncong.

Kepercayaan

Sebagian besar Orang Betawi menganut agama Islam, tetapi yang menganut agama
Kristen; Protestan dan Katolik juga ada namun hanya sedikit sekali. Di antara suku
Betawi yang beragama Kristen, ada yang menyatakan bahwa mereka adalah keturunan
campuran antara penduduk lokal dengan bangsa Portugis. Hal ini wajar karena pada awal
abad ke-16, Surawisesa, raja Sunda mengadakan perjanjian dengan Portugis yang
membolehkan Portugis membangun benteng dan gudang di pelabuhan Sunda Kalapa
sehingga terbentuk komunitas Portugis di Sunda Kalapa. Komunitas Portugis ini
sekarang masih ada dan menetap di daerah Kampung Tugu, Jakarta Utara.

Profesi
Di Jakarta, orang Betawi sebelum era pembangunan orde baru, terbagi atas beberapa
profesi menurut lingkup wilayah (kampung) mereka masing-masing. Semisal di kampung
Kemanggisan dan sekitaran Rawabelong banyak dijumpai para petani kembang (anggrek,
kemboja jepang, dan lain-lain). Dan secara umum banyak menjadi guru, pengajar, dan
pendidik semisal K.H. Djunaedi, K.H. Suit, dll. Profesi pedagang, pembatik juga banyak
dilakoni oleh kaum betawi. Petani dan pekebun juga umum dilakoni oleh warga
Kemanggisan.

Kampung yang sekarang lebih dikenal dengan Kuningan adalah tempat para peternak
sapi perah. Kampung Kemandoran di mana tanah tidak sesubur Kemanggisan. Mandor,
bek, jagoan silat banyak di jumpai disana semisal Ji'ih teman seperjuangan Pitung dari
Rawabelong. Di kampung Paseban banyak warga adalah kaum pekerja kantoran sejak
zaman Belanda dulu, meski kemampuan pencak silat mereka juga tidak diragukan. Guru,
pengajar, ustadz, dan profesi pedagang eceran juga kerap dilakoni.

Warga Tebet aslinya adalah orang-orang Betawi gusuran Senayan, karena saat itu
Ganefonya Bung Karno menyebabkan warga Betawi eksodus ke Tebet dan sekitarnya
untuk "terpaksa" memuluskan pembuatan kompleks olahraga Gelora Bung Karno yang
kita kenal sekarang ini. Karena asal-muasal bentukan etnis mereka adalah multikultur
(orang Nusantara, Tionghoa, India, Arab, Belanda, Portugis, dan lain-lain), profesi
masing-masing kaum disesuaikan pada cara pandang bentukan etnis dan bauran etnis
dasar masing-masing.

Perilaku dan sifat

Asumsi kebanyakan orang tentang masyarakat Betawi ini jarang yang berhasil, baik
dalam segi ekonomi, pendidikan, dan teknologi. Padahal tidak sedikit orang Betawi yang
berhasil. Beberapa dari mereka adalah Muhammad Husni Thamrin, Benyamin Sueb, dan
Fauzi Bowo yang menjadi Gubernur Jakarta saat ini .

Ada beberapa hal yang positif dari Betawi antara lain jiwa sosial mereka sangat tinggi,
walaupun kadang-kadang dalam beberapa hal terlalu berlebih dan cenderung tendensius.
Orang Betawi juga sangat menjaga nilai-nilai agama yang tercermin dari ajaran orangtua
(terutama yang beragama Islam), kepada anak-anaknya. Masyarakat Betawi sangat
menghargai pluralisme. Hal ini terlihat dengan hubungan yang baik antara masyarakat
Betawi dan pendatang dari luar Jakarta.

Orang Betawi sangat menghormati budaya yang mereka warisi. Terbukti dari perilaku
kebanyakan warga yang mesih memainkan lakon atau kebudayaan yang diwariskan dari
masa ke masa seperti lenong, ondel-ondel, gambang kromong, dan lain-lain.

Memang tidak bisa dipungkiri bahwa keberadaan sebagian besar masyarakat Betawi
masa kini agak terpinggirkan oleh modernisasi di lahan lahirnya sendiri (baca : Jakarta).
Namun tetap ada optimisme dari masyarakat Betawi generasi mendatang yang justru
akan menopang modernisasi tersebut.
Kalau ditanya soal makanan khas dari Bekasi, jawabnya susah – susah gampang. Hal ini
karena Bekasi berada di lokasi tengah – tengah, dengan sedikit pengaruh Sunda dan
Jakarta.

Ini juga terlihat jelas di Kuliner yang menjadi khas Kota Bekasi. Rata – rata makanan
Khas Bekasi ada kesamaan dengan Jakarta dan daerah Pasundan, misalnya Kue Geplak,
Dodol dan Sagon yang juga ada di Jakarta. Lalu Rengginang dan kue duit (semacam
kerupuk dari terigu) yang juga ada di wilayah Pasundan.

Mungkin yang benar – benar dapat dikatakan makanan Khas Bekasi adalah Sayur Gabus
Pucung yaitu sayur ikan gabus yang berwarna hitam pekat dari pucung (kluwak) yang
biasa dikenal sebagai bumbu rawon. Jika rawon menggunakan daging, sayur gabus
pucung menggunakan ikan gabus. Sekilas tampilan kuahnya mirip dengan rawon.
(Sumber : Bekasi Heritage)

Sayur Gabus Pucung


Sayur ikan gabus pucung sebagai masakan khas Betawi relatif
sulit ditemukan. Sebagian wilayah Bekasi yang banyak mendapat
pengaruh dari masyarakat Betawi (misalnya sebagian Kota
Bekasi hingga Tambun dan Cibitung) mengenal masakan ini
sebagai masakan untuk para boss. Selain karena rumah makan
yang menyediakannya jarang, ikan gabus juga sulit diternak.
Sebagian besar ikan gabus yang didapat merupakan tangkapan
dari alam.

Nah… kalau bicara soal kue khas Bekasi, ini dia.. Siapa sih orang Bekasi yang gak kenal
Kue Akar Kelapa, Dodol, Gipang, Rengginang, Geplak, Kue Sagon dan kue duit.

Dodol Betawi
Meski Bekasi merupakan salah satu kabupaten dan kota dari Jawa
Barat, pengaruh Betawi terhadap kebudayaan di Bekasi sangat
kental terasa. Hal ini lebih diperkuat dengan banyaknya penduduk
Bekasi yang memiliki keterkaitan dengan Jakarta. Dodol Betawi
menjadi sangat istimewa karena berbagai sebab. Beberapa
diantaranya adalah karena :
1. Hanya muncul diwaktu tertentu, diantaranya waktu Lebaran atau saat ada hajatan
(pernikahan, khitanan / sunatan) dan event khusus lainnya. Pada beberapa tempat, dodol
Betawi disebut sebagai kue raja karena keistimewaan yang dimilikinya.
2. Waktu pembuatan yang relatif lama. Dodol Betawi dibuat dari air santan kelapa
yang dicampur dengan beras ketan dan gula yang dimasak didalam kuali besar dari
tembaga (kenceng). Waktu memasak lebih kurang 6 jam.
3. Ketersediaan Alat. Tidak banyak orang Bekasi atau orang Betawi asli yang
memiliki kuali besar dari tembaga alias kenceng. Selain harganya cukup mahal,
penggunaannya hanya pada waktu tertentu sehingga tidak ekonomis jika tidak dibuat
dalam produksi yang kontinyu.
4. Kesabaran. Membuat Dodol Betawi membutuhkan kesabaran ekstra. Saat keluarga
saya membuat Dodol Betawi untuk Lebaran, ada cukup banyak aturan yang harus
dipenuhi jika ingin dodol yang dihasilkan memiliki kualitas prima.

Kue Akar Kelapa


Sebagian orang Bekasi menyebutnya sebagai kue Procot.
Dinamakan kue akar kelapa karena bentuknya mirip akar kelapa.
Dinamakan sebagai kue Procot karena saat digoreng, adonan di
procotkan atau dikeluarkan secara perlahan menggunakan tabung
yang sudah dilubangi dibagian ujung. Akar kelapa, kata dia
berbahan dasar kelapa parut, beras tepung, tepung ketan, tepung
hun kue, dan wijen.

Kue Rengginang
Kue Rengginang dibuat dari beras yang setelah diolah kemudian
dijemur diterik matahari dan digoreng hingga mengembang. Ada
2 pilihan rasa, yaitu Rengginang manis dan Rengginang Asin.

Kue Sagon
Kue ini dibuat dari tepung beras yang diberi rasa manis dan
kemudian digarang (seperti disangrai) diatas bara api. Bentuk kue
tergantung pada cetakan, bisa berbentuk oval, lingkaran, bergerigi
maupun bentuk lainnya.

Kue Geplak
Kue ini mirip seperti kue Sagon, namun biasanya disertai
kelapa, dibentuk jajaran genjang dan rasanya manis. Kue geplak
tidak digarang diatas bara api.

Kue Duit
Sesuai namanya, kue duit dibuat dari tepung yang dibentuk seperti uang logam. Setelah
dijemur diterik matahari, kue duit digoreng sehingga gurih dan menjadi penganan yang
makan seperti halnya makan emping. Kue Duit kadang dibubuhi tepung gula agar terasa
manis. (sumber : mycityblogging)

Kue Gipang
Kue Gipang terbuat dari bahan ketan, gula, asem, dan minyak,
ukurannya berbentuk kotak sebesar 3 Cm persegi. Kue ini mirip
sekali dengan kue rengginang dan berondong, namun rasanya lebih
manis dan diberi pewarna merah agar terlihat lebih menarik.
(Sumber : formatnews)

Pakaian Adat

Orang Betawi pada umumnya mengenal beberapa macam pakaian. Namun yang lazim
dikenakan adalah pakaian adat berupa tutup kepala (destar) dengan baju jas yang
menutup leher (jas tutup) yang digunakan sebagai stelan celana panjang
Melengkapi pakaian adat pria Betawi ini, selembar kain batik dilingkari pada
bagian pinggang dan sebilah belati diselipkan di depan perut. Para wanita biasanya
memakai baju kebaya, selendang panjang yamg menutup kepala serta kain batik.
Pada pakaian pengantin, terlihat hasil proses asimilasi dart berbagai kelompok etnis
pembentuk masyarakat Betawi. Pakaian yang digunakan pengantin pria, yang
terdiri dari: sorban, jubah panjang dan celana panjang banyak dipengaruhi oleh
kebudayaan Arab. Sedangkan pada pakaian pengantin wanita yang menggunakan
syangko (penutup muka), baju model encim dan rok panjang memperlihatkan
adanya pengaruh kebudayaan Cina Uniknya, terompah (alas kaki) yang dikenakan
oleh pengantin pria dan wanita dipengaruhi oleh kebudayaanArab.

Rumah Adat Betawi

Pada masa sekarang ini rumah-rumah adat tradisional khas Betawi yang benarbenar asli
di Jakarta sudah sangat langka. Namun, di beberapa tempat seperti di sekitar
Marunda, Condet maupun daerah-daerah pinggiran lain, rumah tradisional khas
Betawi masih dapat ditemukan.
Ada 4 (empat) tipe bentuk rumah tradisional yang dikenal oleh orang Betawi, yaitu
tipe Gudang, tipe Bapang, tipe Kebava dan, tipe joglo.
Rumah tipe Gudang dan Bapang memiliki bentuk segi empat yang polos dan
sangat sederhana.♣
Rumah tipe Kebaya memiliki beberapa bagian;♣
1.Langkan yaitu bagian rumah yang berpagar rendah dan berfungsi sebagai serambi
rumah, dibuat dari kayu atau bambu.
2.Ruang depan, biasanya terbuka setiap saat tanpa ada pintu yang menghalangi
seseorang untuk masuk, yang melambangkan sifat orang Betawi yang terbuka dan
ramah.
3.Balai-balai dari bambu, merupakan perlengkapan utama dan terdapat di ruang
depan, fungsinya untuk menerima tamu.
4.Atap dan wuwungan, jika dilihat dari depan akan tampak berbentuk segi tiga
sama kaki dengan tambahan pet sebagai penahan hujan atau panas, sedangkan dari
samping akan tampak berbentuk trapezium. Bagian atap (wuwungan) pada
pertemuan sisi kaki segi tiga sama kaki dengan sisi kaki trapesium disebut jurai.
Jurai adalah genting yang dipasangkan atau dipaku pada ander sebagai penghubung
sisi kaki segi tiga dengan sisi kaki trapesium untuk menahan air agar tidak masuk
ke dalam rumah.
5.Jendela bulat yang biasanya terdapat disamping kiri atau kanan ruang depan ada
yang ditutup dengan daun jendela, sering kali ditutup dengan jeruji. Jendela bulat
yang dikenal oleh orang Betawi adalah sama sekali tidak menggunakan daun
jendela ataupun jeruji yang disebut melompang.
6.Jendela intip, dua buah jendela yang terdapat dikiri kanan pintu masuk keruang
dalam yaitu jendela berjeruji kayu berukir dan tidak berdaun jendela, fungsinya
untuk mengintip tamu yang datang.
7.Lantai rumah, baik lantai tanah maupun lantai rumah panggung biasanya jauh
lebih tinggi dari halaman rumah, maksudnya untuk menghindari masuknya air ke
dalam rumah, sedangkan rumah panggung juga berfungsi untuk menghindari
gangguan binatang atau gangguan tamu-tamu di malam hari yang bermaksud
kurang baik.
Rumah tipe Joglo, beberapa bagian yang melengkapi adalah sebagai berikut;♣
•Ruang depan, merupakan ruang terbuka dengan kayu jati terukir sebagai
langkannya dan berfungsi sebagai tempat menerima tamu.
•Ruang tamu perempuan, ruang tamu khusu untuk tamu wanita
•Ruang tidur atau pangkeng.
•Pendaringan, yang berfungsi sebagai tempat untuk menyimpan tempayan berisi
beras dan balai-balai kecil untuk meletakkan barang.
•Tapang, ruangan kecil dengan balai-balai yang berfungsi serba guna, di mana
tersedia kendi dan peralatan minuman lainnya
•Dapur, di mana terdapat tungku tradisional dengan tiga lubang biasanya dari tanah
liat.
•Kamar mandi, biasanya dilengkapi dengan padasan, sumur beserta senggotnya.
Halaman rumah orang Betawi pada umumnya ditanami dengan berbagai macan
tumbuhan. Apabila luas halaman rumah mencukupi maka beberapa jenis pohon
yang biasa ditanam adalah ranbutan, nangka, kecapi, petai, jengkol, jamblang,
duku, salak, tangkil, dan sebagainya. Diseputar rumah biasa ditanami pula dengan
jenis tanaman perdu yang berfungsi sebagai "apotek hidup" antara lain jahe, kunyit,
lengkuas, kencur, temulawak, beluntas, dan lain sebagainya.

Bir Pletok

Bir, identik dengan minuman yang berasal dari barat yang dapat memabukan jika
diminum. Namun di Betawi minuman yang satu ini memiliki keunikan dan cita rasa
tersendiri dan tidak memabukan seperti minuman berjenis bir pada umumnya.

Namanya "Bir Pletok" minuman yang diadopsi dari barat ini dimodifikasi oleh Orang
Betawi mulai dari cara pembuatan dan penyajiannya. Konon nama Bir Pletok ini
digunakan karena pada saat dimasak bir ini mengeluarkan bunyi "pletak-pletok".
Cerita lainnya juga yang menjadi cikal bakal minuman Bir Pletok ini adalah ketika pada
zaman kolonial Belanda menguasai Batavia (Jakarta), para kompeni Belanda senang
minum-minum bir yang kemudian menimbulkan efek samping yang memabukan itu. Hal
ini dilihat oleh Orang Betawi ketika para kompeni mabuk da ketika itu munculan ide
Orang Betawi untuk membuat minuman yang tidak kalah enaknya dengan bir yang
diminum oleh kompeni tersebut. Lantas dibuatlah minuman yang dapat menghangatkan
dan menyehatkan badan yang kemudian dikenal dengan nama "Bir Pletok".

Setelah saya sedikit bercerita tentang asal usul Bir Pletok ini, saya ingin berbagi resep
dan cara membuat minuman yang menghangatkan tubuh ini.
Makanan
Khas
Betawi
Written by Admin Web
Thursday, 11 February 2010 11:24
Kalau ditanya soal makanan khas dari Bekasi, jawabnya susah – susah
gampang. Hal ini karena Bekasi berada di lokasi tengah – tengah, dengan
sedikit pengaruh Sunda dan Jakarta.

Ini juga terlihat jelas di Kuliner yang menjadi khas Kota Bekasi. Rata – rata
makanan Khas Bekasi ada kesamaan dengan Jakarta dan daerah Pasundan,
misalnya Kue Geplak, Dodol dan Sagon yang juga ada di Jakarta. Lalu
Rengginang dan kue duit (semacam kerupuk dari terigu) yang juga ada di
wilayah Pasundan.

Mungkin yang benar – benar dapat dikatakan makanan Khas Bekasi adalah
Sayur Gabus Pucung yaitu sayur ikan gabus yang berwarna hitam pekat dari
pucung (kluwak) yang biasa dikenal sebagai bumbu rawon. Jika rawon
menggunakan daging, sayur gabus pucung menggunakan ikan gabus. Sekilas
tampilan kuahnya mirip dengan rawon. (Sumber : Bekasi Heritage)

Sayur Gabus Pucung


Sayur ikan gabus pucung sebagai masakan khas Betawi relatif sulit
ditemukan. Sebagian wilayah Bekasi yang banyak mendapat pengaruh dari
masyarakat Betawi (misalnya sebagian Kota Bekasi hingga Tambun dan
Cibitung) mengenal masakan ini sebagai masakan untuk para boss. Selain
karena rumah makan yang menyediakannya jarang, ikan gabus juga sulit
diternak. Sebagian besar ikan gabus yang didapat merupakan tangkapan dari
alam.

Nah… kalau bicara soal kue khas Bekasi, ini dia.. Siapa sih orang Bekasi
yang gak kenal Kue Akar Kelapa, Dodol, Gipang, Rengginang, Geplak, Kue
Sagon dan kue duit.

Dodol Betawi
Meski Bekasi merupakan salah satu kabupaten dan
kota dari Jawa Barat, pengaruh Betawi terhadap
kebudayaan di Bekasi sangat kental terasa. Hal ini
lebih diperkuat dengan banyaknya penduduk Bekasi
yang memiliki keterkaitan dengan Jakarta. Dodol
Betawi menjadi sangat istimewa karena berbagai
sebab. Beberapa diantaranya adalah karena :
1. Hanya muncul diwaktu tertentu, diantaranya waktu Lebaran atau saat
ada hajatan (pernikahan, khitanan / sunatan) dan event khusus lainnya. Pada
beberapa tempat, dodol Betawi disebut sebagai kue raja karena keistimewaan
yang dimilikinya.
2. Waktu pembuatan yang relatif lama. Dodol Betawi dibuat dari air
santan kelapa yang dicampur dengan beras ketan dan gula yang dimasak
didalam kuali besar dari tembaga (kenceng). Waktu memasak lebih kurang 6
jam.
3. Ketersediaan Alat. Tidak banyak orang Bekasi atau orang Betawi asli
yang memiliki kuali besar dari tembaga alias kenceng. Selain harganya cukup
mahal, penggunaannya hanya pada waktu tertentu sehingga tidak ekonomis
jika tidak dibuat dalam produksi yang kontinyu.
4. Kesabaran. Membuat Dodol Betawi membutuhkan kesabaran ekstra.
Saat keluarga saya membuat Dodol Betawi untuk Lebaran, ada cukup banyak
aturan yang harus dipenuhi jika ingin dodol yang dihasilkan memiliki kualitas
prima.

Kue Akar Kelapa


Sebagian orang Bekasi menyebutnya sebagai kue
Procot. Dinamakan kue akar kelapa karena
bentuknya mirip akar kelapa. Dinamakan sebagai kue
Procot karena saat digoreng, adonan di procotkan
atau dikeluarkan secara perlahan menggunakan
tabung yang sudah dilubangi dibagian ujung. Akar
kelapa, kata dia berbahan dasar kelapa parut, beras tepung, tepung ketan,
tepung hun kue, dan wijen.

Kue Rengginang
Kue Rengginang dibuat dari beras yang setelah
diolah kemudian dijemur diterik matahari dan
digoreng hingga mengembang. Ada 2 pilihan rasa,
yaitu Rengginang manis dan Rengginang Asin.
Kue Sagon
Kue ini dibuat dari tepung
beras yang diberi rasa manis
dan kemudian digarang
(seperti disangrai) diatas bara
api. Bentuk kue tergantung
pada cetakan, bisa berbentuk
oval, lingkaran, bergerigi
maupun bentuk lainnya.

Kue

Geplak
Kue ini mirip seperti kue Sagon, namun
biasanya disertai kelapa, dibentuk jajaran
genjang dan rasanya manis. Kue geplak tidak
digarang diatas bara api.

Kue Duit
Sesuai namanya, kue duit dibuat dari tepung yang dibentuk seperti uang
logam. Setelah dijemur diterik matahari, kue duit digoreng sehingga gurih
dan menjadi penganan yang makan seperti halnya makan emping. Kue Duit
kadang dibubuhi tepung gula agar terasa manis. (sumber : mycityblogging)
Kue Gipang
Kue Gipang terbuat dari bahan ketan, gula, asem, dan minyak, ukurannya
berbentuk kotak sebesar 3 Cm persegi. Kue ini mirip sekali dengan kue
rengginang dan berondong, namun rasanya lebih manis dan diberi pewarna
merah agar terlihat lebih menarik. (Sumber : formatnews)