Anda di halaman 1dari 25

RASULULLAH  & HAK–HAK

WANITA

﴾ ‫ وحقوق المرأة‬ ‫﴿ سول الله‬


] Indonesia – Indonesian – [ ‫إندونيسي‬

Penyusun : Dr. Ahmad bin Utsman al-Mazyad

Terjemah : Mohammad Khairuddin


Editor : Eko Haryanto Abu Ziyad

2009 - 1430
﴾ ‫ وحقوق المرأة‬ ‫﴿ سول الله‬
« ‫» باللغة الندونيسية‬

‫ أحمد بـن عثمان المزيد‬.‫د‬ :‫تأليف‬

‫ قسم الترجمة بموقع فتاوى أون لين‬:‫ترجمة‬


‫ محمد خير الدين‬:‫مراجعة‬

2009 - 1430

RASULULLAH  & HAK–HAK WANITA

Segala puji bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala, shalawat dan salam


semoga senantiasa tercurah kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi
wa Sallam. Amma ba’du :

Bukan suatu rahasia lagi bagi para pengamat sejarah Nabi


Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam (sirah) dan sunnahnya mengenai
riwayat-riwayat tematik yang muncul berkenaan dengan kaum
hawa, di era naungan edukasi dan petunjuk Rasulullah Shallallahu
‘Alaihi wa Sallam. Sehingga bisa dikatakan, bahwa beliaulah pelopor
revolusi terhadap tradisi umum (berupa penindasan dan pelecehan)
terhadap kaum perempuan di masa itu dan masa-masa
sebelumnya.

Sesungguhnya Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mendapati


fenomena ketidakberdayaan (perempuan) ini, yang senantiasa
dizalimi dan ditindas, kehormatannya dilecehkan, hak
berkehendaknya dirampas, direndahkan serta dimarjinalkan, yang
telah berlangsung berabad-abad dan dari masa ke masa yang saling
berjauhan. Tidak ada alasan lain yang melandasi sikap
kesewenangan ini, melainkan hanya karena gender mereka adalah
perempuan. Sampai-sampai penindasan dan kekerasan yang
dilakukan oleh salah seorang masyarakat Jahiliyah saat itu, yaitu
dengan membiarkan anjingnya menyakiti anak putrinya.

Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam datang mengibarkan panji


advokasi terhadap hak-hak perempuan, di zaman yang belum
pernah dikenal dimana hak-hak perempuan dilecehkan
sebagaimana yang terjadi pada saat itu. Misi beliau Shallallahu
‘Alaihi wa Sallam ini, diawali dengan memuliakan kedudukan
perempuan melalui firman Allah Ta’ala :

‫﴾ سورة السراء‬٧٠﴿ ‫م‬


َ َ‫مَنا ب َِني آد‬ َ َ ‫ول‬
ْ ‫قدْ ك َّر‬ َ
“Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam.”
(QS.17:70).

Dan firman-Nya :

‫﴾ سورة البقرة‬٢٢٨﴿ ‫ف‬


ِ ‫عُرو‬ َ ْ ‫ن ِبال‬
ْ ‫م‬ ّ ‫ه‬ َ َ ‫ذي‬
ِ ْ ‫علي‬ ِ ّ ‫ل ال‬
ُ ْ ‫مث‬
ِ ‫ن‬ ُ َ ‫ول‬
ّ ‫ه‬ َ
“Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan
kewajibannya menurut cara yang ma`ruf.” (QS.2:228).

Adapun hak-hak yang telah sukses diperoleh oleh kaum


perempuan di masa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam terhitung
banyak, diantaranya adalah prinsip kesamaan (egaliter) antara
golongan pria dan perempuan dalam derajat kemuliaan, kewajiban
agama (taklif) dan ganjaran ukhrawi. Allah Ta’ala berfirman :
ُ َ ‫ل صاِلحا ً من ذَك َر أ‬
‫ه‬ ْ ُ ‫فل َن‬
ُ ‫حي ِي َن ّـ‬ َ ‫ن‬ ٌ ‫م‬ِ ‫ؤ‬ْ ‫مـ‬
ُ ‫و‬َ ‫هـ‬ُ ‫و‬َ ‫و أنَثى‬ ْ ٍ ّ َ َ ‫م‬ ِ ‫ع‬
َ ‫ن‬
ْ ‫م‬ َ
َ َ
﴿‫ن‬ َ ‫مُلو‬ َ ‫ع‬ْ َ ‫كاُنوا ْ ي‬َ ‫ما‬ َ ‫ن‬ ِ ‫س‬َ ‫ح‬ ْ ‫هم ب ِأ‬
ُ ‫جَر‬
ْ ‫مأ‬ ْ ‫ه‬
ُ ّ ‫زي َن‬ ْ َ ‫ول َن‬
ِ ‫ج‬ ً َ ‫حَياةً طَي ّب‬
َ ‫ة‬ َ
‫﴾ سورة النحل‬٩٧
“Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun
perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan
Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya
akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih
baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS.16:97).

Juga mengenai hak kaum perempuan untuk memperoleh


pendidikan yang layak, berdasarkan sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi
wa Sallam :

‫سل ِم ٍ )رواه الطبراني‬


ْ ‫م‬ ّ ُ ‫عَلى ك‬
ُ ‫ل‬ َ ‫ة‬
ٌ ‫ض‬
َ ‫ري‬ َ ِ ‫عل ْم‬
ِ ‫ف‬ ِ ْ ‫ب ال‬
ُ َ ‫)طَل‬
“Menuntut ilmu wajib atas setiap muslim.” (HR. Ath-Thabrani).

Kewajiban ini termasuk bagi kaum perempuan, karena disana tidak


ada indikasi yang ditujukan khusus untuk muslim pria saja, secara
teks agama (an-nash). Sehingga prinsipnya berlaku umum. (Dalam
satu riwayat) para perempuan pernah berkata kepada Nabi
Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam :

‫ن‬
ّ ‫ه‬
ُ َ‫عد‬
َ ‫و‬
َ ‫ف‬ َ ‫س‬
َ ‫ك‬ ِ ‫ف‬ ْ َ‫ن ن‬ْ ‫م‬ ِ ‫ما‬ ْ َ ‫ل ل ََنا ي‬
ً ‫و‬ ْ ‫ع‬َ ‫ج‬ َ ‫ل‬
ْ ‫فا‬ ُ ‫جا‬ َ ‫ك الّر‬ َ ْ ‫عل َي‬
َ ‫غل َب ََنا‬
َ
‫ن )متفق عليه‬ َ ‫عظَهن‬ َ ‫ه‬ ِ َ ‫ما ل‬
ّ ‫ه‬ ُ ‫مَر‬َ ‫وأ‬َ ّ ُ َ ‫و‬ َ ‫ف‬ ِ ‫في‬
ِ ‫ن‬ّ ‫ه‬ُ َ ‫قي‬ ً ‫و‬
ْ َ ‫)ي‬
“Kaum pria telah mengalahkan kami atasmu, maka jadikanlah hari
(khusus) bagi kami (untuk menimba ilmu) dari dirimu. Kemudian
beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menetapkan hari bagi mereka,
hari dimana beliau bisa bertemu (khusus) dengan mereka, lalu
menasehati dan memerintahkan mereka.” (Muttafaqun ‘Alaihi).

Diantara hak perempuan yang lainnya, memperoleh


kehidupan yang layak, rasa aman dan keadilan hukum. Telah
diriwayatkan bahwa sekelompok perempuan pergi ke rumah-rumah
para istri Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam untuk mengadukan
sikap suami-suami mereka. Maka Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam
bersabda :
َ
َ ْ ‫ن ل َي‬
‫س‬ ّ ‫ه‬
ُ ‫ج‬
َ ‫وا‬
َ ‫ن أْز‬ ُ ‫ش‬
َ ‫كو‬ ْ َ ‫ساءٌ ك َِثيٌر ي‬َ ِ‫د ن‬ ٍ ‫م‬
ّ ‫ح‬ َ ‫م‬
ُ ‫ل‬ِ ‫ف ِبآ‬ َ
َ ‫طا‬
‫م )رواه أبو داود‬ ْ ُ ‫رك‬ِ ‫خَيا‬ َ ِ ‫)ُأول َئ‬
ِ ِ‫ك ب‬
“Sungguh keluarga Muhammad (yaitu istri-istri Nabi Shallallahu
‘Alaihi wa Sallam) dijambangi banyak kaum perempuan yang
mengadukan (perihal) suami-suami mereka, (maka) para lelaki
tersebut (yaitu para suami yang diadukan) bukanlah orang-orang
yang baik diantara kalian” (HR. Abu Daud).

Demikianlah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menjatuhkan


kualitas kebaikan para lelaki tersebut berdasarkan kerisauan yang
dirasakan istri-istri mereka atas perlakuan suami mereka, dan inilah
puncak keadilan (al-inshaf) bagi kaum perempuan.

Begitu pula Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memberikan


hak keluar rumah bagi kaum perempuan untuk memenuhi berbagai
hajat, termasuk untuk menghadiri shalat-shalat fardhu di masjid,
dan yang lain sebagainya. Dalam ash-Shahihain :

ِ ّ ‫جدَ الل‬
‫ه‬ ِ ‫سا‬
َ ‫م‬ ِ ّ ‫ماءَ الل‬
َ ‫ه‬ َ ِ ‫عوا إ‬ ْ َ‫ل َ ت‬
ُ َ ‫من‬
“Jangan kalian melarang para (wanita) hamba-hamba Allah (untuk
mendatangi) masjid-masjid Allah.”

Mengenai hak-hak harta benda bagi kaum hawa, adalah


haknya dalam mahar. Berdasarkan firman Allah Ta’ala :

ً َ ‫حل‬
‫﴾ سورة النساء‬٤﴿ ‫ة‬ ْ ِ‫ن ن‬
ّ ‫ه‬ َ ُ‫صد‬
ِ ِ ‫قات‬ َ ّ ‫وآُتوا ْ الن‬
َ ‫ساء‬ َ
“Berikanlah maskawin (mahar) kepada wanita (yang kamu nikahi)
sebagai pemberian dengan penuh kerelaan.” (QS.4:4).
Maksudnya adalah berikan oleh kalian terhadap wanita-wanita
(yang hendak kalian nikahi) akan mahar-mahar mereka sebagai
kewajiban (kalian).

Dan haknya dalam memperoleh nafkah (dari suaminya),


berdasarkan sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam

ُ ‫عو‬
‫ل )متفق عليه‬ ْ
ُ َ‫ن ت‬
ْ ‫م‬
َ ِ ‫)اب ْدَأ ب‬
“Mulailah dengan orang yang kamu (wajib) nafkahi.” (Muttafaqun
‘Alaihi).

Dan sabda beliau lainnya :

ُ ‫عو‬
‫ل )رواه أحمد‬ ُ َ‫ن ت‬
ْ ‫م‬
ّ ‫م‬ َ ُ ‫مَرأ َت‬
ِ ‫ك‬ ْ ‫)ا‬
“Istrimu termasuk orang yang kamu (wajib) nafkahi.” (HR. Ahmad).

Mengenai hak perempuan dalam memperoleh tempat tinggal,


berdasarkan Firman Allah Ta’ala :
َ
ْ ُ ‫دك‬
‫﴾ سورة‬٦﴿ ‫م‬ ِ ‫ج‬
ْ ‫و‬
ُ ‫من‬ َ ‫س‬
ّ ‫كنُتم‬ َ ‫ث‬
ُ ْ ‫حي‬
َ ‫ن‬
ْ ‫م‬
ِ ‫ن‬
ّ ‫ه‬
ُ ‫سك ُِنو‬
ْ ‫أ‬
‫الطلق‬
“Tempatkanlah mereka (para isteri) di mana kamu bertempat
tinggal menurut kemampuanmu.” (QS.65:6).

Demikian pula kebebasan untuk mengelola harta dalam


berbagai bentuk transaksi finansial, seperti jual beli, hutang
piutang, gadai, sewa menyewa, wakaf, donasi harta, dan lain
sebagainya.

Perempuan juga mempunyai hak untuk menuntut cerai atas


suaminya, yang istilah agamanya adalah al-khulu’ (tuntutan cerai
yang diajukan oleh istri). Telah diriwayatkan bahwa istri Tsabit bin
Qais berkata :

‫وَل‬ َ ‫ق‬ ُ ُ ‫في‬


ٍ ‫خل‬ ِ ‫ه‬ِ ْ ‫عل َي‬َ ‫ب‬ ْ َ ‫ما أ‬
ُ ِ ‫عت‬ َ ‫س‬ َ ‫ن‬
ٍ ْ ‫قي‬ ُ ْ‫ت ب‬ ُ ِ ‫ه َثاب‬ِ ّ ‫ل الل‬
َ ‫سو‬ُ ‫َر‬
ِ ّ ‫ل الل‬
‫ه‬ ُ ‫سو‬ ُ ‫ل َر‬َ ‫قا‬ َ ‫ف‬ َ ِ ‫سَلم‬ ْ ِ ‫في اْل‬ِ ‫فَر‬ ْ ُ ‫ول َك ِّني أ َك َْرهُ ال ْك‬
َ ‫ن‬
ٍ ‫ِدي‬
َ
‫م‬ْ ‫ع‬ ْ َ ‫قال‬
َ َ‫ت ن‬ َ ‫ه‬ َ ‫دي‬
ُ َ ‫قت‬ ِ ‫ح‬َ ‫ه‬ ِ ْ ‫عل َي‬
َ ‫ن‬ َ ‫دي‬ّ ‫م أت َُر‬َ ّ ‫سل‬
َ ‫و‬
َ ‫ه‬ِ ْ ‫عل َي‬
َ ‫ه‬ُ ّ ‫صّلى الل‬َ
‫ل‬
ِ َ ‫قب‬ْ ‫تا‬ُ ِ ‫ َيا َثاب‬: ‫م‬ َ ّ ‫سل‬
َ ‫و‬ َ ‫ه‬ ِ ْ ‫عل َي‬َ ‫ه‬ ُ ّ ‫صّلى الل‬ َ ‫ه‬ِ ّ ‫ل الل‬ ُ ‫سو‬ َ ‫قا‬
ُ ‫ل َر‬ َ
‫ة )رواه البخاري‬ َ ‫ها ت َطِْلي‬
ً ‫ق‬ ْ ّ ‫وطَل‬
َ ‫ق‬ َ ‫ة‬ َ ‫دي‬
َ ‫ق‬ َ ْ ‫)ال‬
ِ ‫ح‬
“Wahai Rasulullah, Tsabit bin Qais adalah orang yang paling buruk
perilaku dan agamanya. Namun aku membenci kekufuran dalam
Islam.” Lalu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda,
“Maukah kamu kebun darinya?” Ia menjawab, “Iya.” Beliau
bersabda : “Wahai Tsabit, serahkan kebunmu (kepada istrimu), dan
ceraikan ia dengan sebuah talak.” (HR. Al-Bukhari).

Demikian pula perempuan telah memperoleh haknya dalam


waris, hal itu setelah (di zaman Jahiliyah) perempuan diwariskan
seperti harta benda. Dimana sang istri diwariskan turun temurun
kepada keluarga dari suaminya. Hingga putra sulungnya jika dia
mau, dapat menikahi istri bapaknya, atau jika salah seorang mereka
menghendaki, juga dapat menikahi perempuan tersebut. Dan jika
mereka mau, dapat menggantung nasib perempuan tadi hingga
maut menjemputnya, atau perempuan itu dapat membebaskan
status dirinya dengan memberikan uang sebagai tebusannya. Dan
setelah fenomena ini semua, maka jadilah perempuan bagian dari
kelompok yang berhak mendapatkan harta warisan, yang disebut
dalam istilah agamanya adalah Ashhab al-furudh (orang-orang yang
memiliki hak waris).

Diantara hak-hak partisipasi politik bagi perempuan, adalah


diberikannya hak baiat, akuntabilitas, syura, rasa aman,
perlindungan, memberikan nasehat, dsb. Sebagaimana pernah
Ummu Hani meminta perlindungan terhadap seorang pria dari
kalangan orang-orang musyrik, maka Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa
Sallam memberikan jaminan keamanan bagi wanita tersebut. Beliau
Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda :

‫ئ )متفق عليه‬ ُ َ َ َ )
ٍ ِ ‫هان‬
َ ‫م‬
ّ ‫ت َيا أ‬
ِ ‫جْر‬
َ ‫نأ‬ْ ‫م‬
َ ‫جْرَنا‬
َ ‫قدْ أ‬
“Sesungguh kami akan melindungi orang yang kamu mintai
perlindungan.” (Muttafaqun ‘Alaihi).

Ini adalah (kisah) seorang wanita yang menghentikan Umar


bin al-Khaththab ra. yang saat itu telah menjabat sebagai seorang
khalifah, sementara banyak orang di sekitarnya (pada waktu itu).
Lalu wanita tersebut menasehati beliau seraya menyatakan
kepadanya, “Wahai Umar!! Dahulu kamu dipanggil dengan sebutan
‘Umair (Umar kecil), kemudian (sekarang) kamu dipanggil orang
dengan gelar Amirul Mukminin. Wahai Umar, bertakwalah kepada
Allah. Sungguh orang yang meyakini kematian, (niscaya) ia akan
takut untuk mengabaikan (kewajiban agama yang dipikulnya). Dan
orang yang meyakini hari perhitungan, (niscaya) ia akan takut akan
siksa Allah. Sementara itu Umar terus berdiri mendengarkan ucapan
wanita itu. Lalu Umar ditanyai orang mengenai sikapnya saat itu,
lalu beliau ra. berkata., “Demi Allah, seandainya perempuan tadi
menahanku sejak awal hari hingga dipenghujungnya, maka aku
akan tetap (menyimaknya dan berdiri demikian) kecuali (sekedar)
untuk menunaikan shalat fardhu (saja). Adakah diantara kalian yang
mengenal perempuan tua tersebut? Dia adalah Kaulah binti
Tsa’labah, (seorang wanita yang) perkataannya didengar oleh Allah
dari atas langit ke tujuh. Pantaskan (jika) Rabb semesta alam ini
mendengar perkataannya, sementara Umar tidak
mendengarkannya ?!!

Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memberikan kepada wanita


mengenai haknya untuk keluar rumah dalam kerangka bekerja
dengan mengindahkan prinsip-prinsip syari’ah yang sudah umum
diketahui. Diantara dalil mengenai hal ini, bahwa istri Abdullah bin
Mas’ud ra. dahulu memiliki sebuah keahlian kerajinan tangan, ia
menjual dari produk kerajinan tangannya, dan menafkahkan suami
dan anak-anaknya dari hasil kerajinannya tersebut. Lalu ia
menanyai Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, kemudian berkata,
“Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku adalah seorang wanita yang
memiliki ketrampilan, maka aku menjual dari produksi kerajinanku,
sementara aku dan demikian pula suamiku serta anak-anakku tidak
memiliki sesuatu apapun. Mereka membuatku sibuk, maka tidakkah
aku (seharusnya) bersedekah? Lalu apakah aku mendapatkan
ganjaran atas nafkahku kepada mereka?.” Kemudian Rasulullah
Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda : “Bagimu pahala atas
(perbuatanmu) tersebut.” (HR. Ibnu Hibban).

Diantara hak-hak perempuan yang sangat signifikan yang


diperoleh oleh kaum hawa dalam perkara pengasuhan anak. Dalam
suatu riwayat, pernah seorang wanita mendatangi Nabi Shallallahu
‘Alaihi wa Sallam, seraya berkata : “Wahai Rasulullah,
sesungguhnya anakku ini memiliki bagian dari perutku sebagai
bejana makanannya, puting susuku sebagai bejana minumannya,
dan pangkuanku sebagai pegangannya. Dan sungguh ayahnya
berkehendak untuk mengambilnya dariku.” Rasulullah Shallallahu
‘Alaihi wa Sallam bersabda :
َ َ
‫حي )رواه أحمد وأبو داود‬ ْ َ ‫ما ل‬
ِ ِ ‫م ت َن ْك‬ َ ‫ه‬
ِ ِ‫ق ب‬
ّ ‫ح‬
َ ‫تأ‬ِ ْ ‫)أن‬
“Kamu lebih berhak (untuk mengasuhnya) selama kamu belum
menikah (lagi).” (HR. Ahmad dan Abu Daud).

Sesungguhnya Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam telah


mereformasi keadaan-keadaan kaum perempuan, antara
kedudukan dan hak-haknya di dalam Islam. Dan yang paling banyak
dipesankan mengenai kaum perempuan, dan memperingatkan atas
sikap kesewenang-sewenangan dan arogansi dan serta
pemboikatan terhadap hak-hak mereka. Yang demikian itu dapat
dilihat dalam teks-teks agama (nash) secara umum. Ibarat menara-
menara jalan, setiap tempat terdapat petunjuk-petunjuknya.
Demikian itu seperti dalam sabda-Nya :

‫ل )رواه أحمد وأبو داود‬


ِ ‫جا‬
َ ‫ق الّر‬ َ ‫ش‬
ُ ِ ‫قائ‬ َ ُ‫ساء‬
َ ّ ‫ما الن‬
َ ّ ‫)إ ِن‬
“Sesungguhnya perempuan itu adalah pecahannya laki-laki” (HR.
Ahmad dan Tirmidzi).
Artinya memiliki kesetaraan dan kesamaan dengan kaum pria
dalam akhlak dan tabiat, seolah ia merupakan pecahannya laki-laki.
Sementara itu sabda beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang lain :

‫ى‬
َ ِ ‫عي ْن‬ ْ َ ‫عل‬
ُ ‫ت‬
َ ُ‫قّرة‬ ِ ‫ج‬
ُ ‫و‬
َ ‫ب‬ ّ ‫وال‬
ُ ‫طي‬ َ ُ‫ساء‬ ُ ُ ‫ن دُن َْياك‬
َ ّ ‫م الن‬ ْ ‫م‬ ّ َ ‫ب إ ِل‬
ِ ‫ى‬ َ ّ ‫حب‬
ُ
‫ة )رواه النسائي‬ ِ َ ‫صل‬ّ ‫فى ال‬ ِ )
“Dari dunia kalian yang menjadi kesukaanku adalah wanita dan
wewangian. Dan shalat dijadikan sebagai pelipur hatiku.” (HR. An-
Nasa’i).

Dan sabda beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam lainnya :

‫ها‬
َ ْ ‫من‬
ِ ‫ي‬
َ ‫ض‬ ً ُ ‫خل‬
ِ ‫قا َر‬ ُ ‫ها‬
َ ْ ‫من‬ ِ َ‫ن ك‬
ِ َ‫ره‬ ْ ِ‫ة إ‬
ً َ ‫من‬ ْ ‫م‬
ِ ‫ؤ‬ ُ ‫ن‬
ٌ ‫م‬ ْ ‫م‬
ِ ‫ؤ‬ ْ ‫فَر‬
ُ ‫ك‬ ْ َ‫ل َ ي‬
‫خَر )رواه مسلم‬ َ ‫)آ‬
“Janganlah seorang laki-laki beriman membenci seorang wanita
beriman, kalaulah ada sikap yang ia tidak sukai dari wanita
tersebut, (mesti) ada pula sikap lain dari wanita tersebut yang yang
ia sukai.” (HR. Muslim).

Dan sabda beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam lainnya :

‫ع‬ َ ِ ‫ن‬
ٍ ‫ض ـل‬ ْ ‫مـ‬ِ ‫ت‬ ْ ‫قـ‬ َ ِ ‫خل‬ُ َ‫م ـْرأ َة‬َ ْ ‫ن ال‬ َ ‫خي ًْرا‬
ّ ِ ‫ف ـإ‬ َ ‫ء‬ِ ‫سا‬ َ ّ ‫صوا ِبالن‬ ُ ‫و‬ ْ َ ‫ست‬ْ ‫وا‬ َ
‫ه‬
ُ ‫مــ‬ ُ ‫قي‬
ِ ُ‫ت ت‬َ ‫هْبــ‬ َ َ‫ن ذ‬ ْ ِ ‫عَلهُ إ‬ ْ َ‫ع أ‬ َ ّ ‫فــي ال‬
ِ ‫ضــل‬ ِ ‫ء‬ ٍ ‫ي‬ ْ ‫شــ‬ َ ‫ج‬ َ ‫و‬ ْ َ‫ن أ‬
َ ‫عــ‬ ّ ِ ‫وإ‬ َ
‫خي ًْرا‬َ ‫ء‬ِ ‫سا‬َ ّ ‫صوا ِبالن‬ ُ ‫و‬ ْ َ ‫ست‬
ْ ‫جا‬ َ ‫و‬ ْ َ‫ل أ‬
َ ‫ع‬ ْ ‫م ي ََز‬ْ َ‫ه ل‬ ُ َ ‫ن ت ََرك ْت‬ْ ِ ‫وإ‬َ ‫ه‬ ُ َ ‫سْرت‬ َ َ‫ك‬
‫))متفق عليه‬
“Nasehatilah para perempuan secara baik-baik. Sesungguhnya
perempuan itu diciptakan dari tulang rusuk, dan sesungguhnya
bagian yang paling bengkok pada tulang rusuk adalah yang paling
atas. Seandainya kamu meluruskannya, akan mematahkannya.
Kalaulah kamu membiarkannya, maka akan selalu bengkok.
Nasehatilah para perempuan dengan baik-baik.” (Muttafaqun
‘Alaihi).
Dan ini merupakan pemahaman mendalam terhadap tabiat
perempuan, serta dorongan untuk bermuamalah terhadap wanita
dengan penuh keramahan, kelembutan dan perhatian, tidak keras
dan kasar.

Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memperingatkan terhadap


sikap eksploitasi perempuan, dan secara realitasnya menjadikan
pelakunya di dalam situasi yang sulit, berdosa lagi sengsara dan
tidak dapat dimaafkan tindakannya. Maka beliau Shallallahu ‘Alaihi
wa Sallam bersabda :
َ ُ
‫ة )رواه‬ َ ْ ‫وال‬
ِ ‫مْرأ‬ َ ِ ‫ن ال ْي َِتيم‬ َ ‫عي‬
ِ ْ ‫في‬ ِ ‫ض‬
ّ ‫ق ال‬
ّ ‫ح‬
َ ‫ج‬
ُ ‫حّر‬
َ ‫م إ ِّني أ‬ ُ ّ ‫الل‬
ّ ‫ه‬
‫)ابن ماجة‬
“Ya Allah, sesungguhnya aku akan membuat sesak (orang yang
mengeksploitasi) hak orang-orang lemah, anak yatim dan
perempuan.” (HR. Ibnu Majah).

Dan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menjelaskan bahwa sebaik-


baik pria adalah yang terbaik interaksinya terhadap perempuannya.
Maka beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda :

‫م )رواه الترمذي‬
ْ ‫ه‬
ِ ِ ‫سائ‬ ْ ُ ‫خَياُرك‬
َ ِ ‫م ل ِن‬ ْ ُ ‫خَياُرك‬
ِ ‫م‬ ِ )
“Sebaik-baik kalian, (adalah) yang sikapnya terbaik terhadap
perempuan-perempuan mereka (sendiri).” (HR. Tirmidzi).

Belum pernah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memukul seorang


perempuan pun, sebagaimana yang dituturkan oleh ‘Aisyah ra.
dalam riwayat Muslim. Bahkan sesungguhnya beliau bersikap keras
terhadap orang-orang yang memukul perempuan-perempuan
mereka. Beliau bersabda :
َ َ
‫ر‬
ِ ‫خ‬
ِ ‫نآ‬
ْ ‫م‬
ِ ‫ها‬ ُ ِ ‫عان‬
َ ‫ق‬ َ ُ‫م ي‬ َ ْ ‫ب ال‬
ّ ُ ‫عب ْدَ ث‬ َ ‫ضْر‬َ ‫ه‬ ُ َ ‫مَرأت‬ ُ ُ ‫حدُك‬
ْ ‫ما‬ َ ‫بأ‬ُ ‫ر‬
ِ ‫ض‬
ْ َ‫ي‬
‫ر )متفق عليه‬ ِ ‫ها‬
َ ّ ‫)الن‬
“Salah seorang dari kalian memukul perempuannya dengan pukulan
kepada budak, kemudian ia memeluknya (baca: mengintiminya) di
siang hari.” (Muttafaqun ‘Alaihi).

Dan inilah pelajaran edukatif yang menyentuh dalam menjaga


perasaan istri, khususnya saat ia dibutuhkan oleh suami dalam
urusan “ranjang”.

Sesungguhnya kami meyakini bahwa diantara faktor-faktor penting


yang menjadi perempuan Saudi menderita di komunitas masyarakat
Saudi, kita adalah terkekangnya mereka dari beberapa hak-hak
syar’i mereka. Dan sarana yang terbaik untuk membahagiakan
mereka dan membahagiakan masyarakat adalah dengan
memebrikan mereka hak-haknya tersebut. Dari sini sesungguhnya
kami menyerukan kepada upaya merealisasikan misi-misi
pencerahan untuk mensosialisasikan hak-hak syar’i perempuan
Saudi, meliputi seluruh distrik, desa dan kota di wilayah Saudi
Arabia. Turut melibatkan dalam misi ini para orator peduli urusan
perempuan dari kalangan penulis, jurnalis, pendidik, pengasuh, juru
dakwah, reformis, khatib masjid, cendekiawan, dan profesi lainnya.
Juga hak-hak perempuan ini diajarkan kepada para pelajar pria dan
wanita di sekolah-sekolah dan universitas-universitas mereka. Para
perempuan pun turut mengambil perannya dalam misi ini. Maka
inilah yang menjamin kebahagiaan perempuan Saudi, dan
memberikan kepada mereka akan hak-hak syar’inya, serta
melindungi mereka dari penampilan-penampilan yang menyimpang,
menyelamatkan mereka dari setiap aspek yang memberikan
pengaruh (buruk) terhadap agama mereka. Dan ini juga merupakan
termasuk dalam aktifitas ibadah yang agung selayaknya ibadah-
ibadah yang telah disyariatkan oleh Allah Ta’ala.

Keistimewaan tuntunan Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi


wa Sallam dalam menegaskan dan memurnikan hak-hak perempuan
secara komprehensif dan integratif mencangkup seluruh tingkatan
umurnya. Maka beliau memberikan kepada kalangan perempuan
hak-haknya, baik dia itu berstatus sebagai seorang anak putri,
saudara wanita, istri, ibu, remaja putri, nenek, perempuan yang
merdeka atau budak sekalipun. Berkeadaan sehat, sakit, kaya, faqir,
hingga perempuan musyrik sekalipun, ia mendapatkan bagian
haknya ..... Adapun mengenai anak perempuan, Islam telah
menghapus tradisi penyikapan yang buruk terhadap anak
perempuan. Al-Qur`an memulai menyebutkan bahwa anak putri
sebagai sebuah karunia dari karunia-karunia-Nya yang terbesar
yang diberikan kepada manusia. Allah berfirman :

َ
‫ن‬
ْ ‫مـ‬
َ ِ‫ب ل‬
ُ ‫هـ‬ َ َ ‫مـا ي‬
َ َ ‫شـاءُ ي‬ ُ ‫خُلـ‬
َ ‫ق‬ ْ َ‫ض ي‬
ِ ‫والْر‬ َ ‫ت‬ ِ ‫وا‬َ ‫ما‬ َ ‫س‬ّ ‫ك ال‬ ُ ْ ‫مل‬
ُ ‫ه‬ِ ّ ‫ل ِل‬
‫﴾ سورة الشورى‬٤٩﴿ ‫كوَر‬ ُ ّ‫شاءُ الذ‬َ َ ‫من ي‬َ ِ‫ب ل‬ُ ‫ه‬ َ ً ‫شاءُ إ َِناثا‬
َ َ ‫وي‬ َ َ‫ي‬
“Kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi, Dia menciptakan
apa yang Dia kehendaki, Dia memberikan anak-anak perempuan
kepada siapa yang Dia kehendaki dan memberikan anak-anak lelaki
kepada siapa yang Dia kehendaki.” (QS.42:49).

Dan menghapuskan tradisi mengubur hidup-hidup anak perempuan,


dalam firman-Nya :
َ
ْ َ ‫قت ِل‬
‫﴾ سورة التكوير‬٩﴿ ‫ت‬ ُ ‫ب‬ َ ‫ي‬
ٍ ‫ذن‬ ّ ‫ب ِأ‬
“Karena dosa apakah dia dibunuh?!.” (QS.81:9).

Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda :


ْ ‫هات و‬ ُ
َ‫وأد‬
َ َ ِ َ ‫و‬
َ ‫عا‬
ً ْ ‫من‬
َ ‫و‬
َ ‫ت‬
ِ ‫ها‬
َ ‫م‬
ّ ‫قوقَ ال‬ُ ‫ع‬
ُ ‫م‬ ْ ُ ‫عل َي ْك‬
َ ‫م‬
َ ‫حّر‬ َ ّ ‫ن الل‬
َ ‫ه‬ ّ ِ‫إ‬
‫ت )رواه مسلم‬ ِ ‫)ال ْب ََنا‬
“Sesungguhnya Allah mengharamkan kepada kalian, sikap durhaka
kepada ibu, pelit (terhadap hal yang harusnya diberikan) dan
menuntut (yang tidak berhak diperolehnya), serta membunuh anak
perempuan” (HR. Muslim).

Dan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menghapus tradisi


mengutamakan dan membeda-bedakan antara anak yang satu
daripada anak yang lainnya.
َ
ْ ُ ‫ول َِدك‬
‫م )متفق عليه‬ ْ ‫نأ‬َ ْ ‫دُلوا ب َي‬
ِ ‫ع‬
ْ ‫وا‬ َ ّ ‫قوا الل‬
َ ‫ه‬ ُ ّ ‫فات‬
َ )
“Bertakwalah kepada Allah, dan bersikap adillah kalian di antara
anak-anak kalian.” (Muttafaqun ‘Alaihi).

Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengajarkan bahwa mendidik


anak-anak perempuan membutuhkan kesabaran ekstra dan nafkah
yang besar. Maka atas hal ini diganjar dengan balasan yang besar
pula. Beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda :
َ ‫قيام‬
‫و‬
َ ‫ه‬
ُ ‫و‬ ِ َ َ ِ ْ ‫م ال‬
َ ‫ة أَنا‬ َ ‫و‬
ْ َ ‫جاءَ ي‬ َ ُ ‫حّتى ت َب ْل‬
َ ‫غا‬ َ ‫ن‬ ِ ْ ‫ري َت َي‬
ِ ‫جا‬ َ ‫عا‬
َ ‫ل‬ َ ‫ن‬
ْ ‫م‬
َ
‫ه )رواه مسلم‬ َ
ُ ‫ع‬َ ِ ‫صاب‬ َ ‫مأ‬ ّ ‫ض‬
َ ‫و‬َ )
“Barangsiapa mengasuh dua anak gadis hingga keduanya dewasa,
maka dia kelak datang di hari Kiamat, aku dan dia ....(Rasulullah
Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memberikan isyarat dengan
merapatkan jarinya).” (HR. Muslim).

Simaklah pemandangan mengagumkan ini yang diriwayatkan


oleh Saiyidah ‘Aisyah ra., ia menuturkan baahwa seorang
perempuan miskin datang (kepadanya) membawa kedua putrinya,
(dalam riwayat lain, “Aku memberikan tiga kurma kepada wanita
tersebut.” Pent.), lalu sang ibu memberikan kurma (satu-satu)
kepada setiap putrinya, (pada saat) sang ibu mengangkat kurma
(yang tersisa satu itu) ke arah mulutnya untuk disantapnya, lalu
kedua putrinya tadi memintanya lagi. Maka sang ibu membagi
kurma yang hendak disantapnya itu (menjadi dua bagian untuk
diberikan) kepada kedua putrinya. Sikap perempuan ini membuatku
terkesan, lalu kuceritakan apa yang telah diperbuat sang ibu tadi
kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Kemudian beliau
bersabda :
َ َ ‫)إن الل ّه‬
‫ة )متفق عليه‬ َ ْ ‫ها ال‬
َ ّ ‫جن‬ َ َ‫ب ل‬
َ ِ ‫ها ب‬ َ ‫ج‬
َ ‫و‬
ْ ‫قدْ أ‬ َ ّ ِ
“Sesungguhnya Allah telah mengharuskannya surga baginya
dengan kurma tersebut.” (Muttafaqun ‘Alaihi).
‫ » ما من مسلم تدرك له ابنتــان فُيحســن إليهــا مــا‬:‫وأمر النبي بالحسان إلى البنات فقال‬
‫حبهما إل أدخلتاه الجنة « ]أحمد‬
ِ ‫ص‬
َ ‫حبَتاه أو‬
ِ ‫ص‬
َ ].

‫ وكككان‬,‫ فأبطككل النككبي هككذه العككادة‬,‫ي في الجاهلية يأنف من أن يداعب وليدته أو يقبلهككا‬ّ ‫وكان العرب‬
‫ ]متفق عليه‬.‫ وإذا رفع رفعها‬،‫ فإذا ركع وضعها‬,‫ل أمامة بنت ابنته على عاتقه وهو يصلي‬ ُ ُ ‫]يحم‬.

Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memerintahkan dengan sikap


yang terbaik kepada nak-anak perempuan :

‫ه‬
ُ ‫حب ََتا‬
ِ ‫ص‬
َ ‫ما‬
َ ‫ما‬
َ ‫ه‬ َ ُ ‫س‬ َ ‫ن‬ ُ َ‫ك ل‬ُ ‫ر‬
ِ ْ ‫ن إ ِلي‬ ِ ‫ح‬ ْ ُ ‫في‬ ِ ‫ه اب ْن ََتا‬ ِ ْ‫ل ت ُد‬
ٍ ‫ج‬
ُ ‫ن َر‬ْ ‫م‬
ِ ‫ما‬
َ
‫ة )رواه أحمد‬ َ ّ ‫جن‬ َ ْ‫ما إ ِل ّ أ َد‬
َ ْ ‫خل ََتاهُ ال‬ َ ‫ه‬ُ َ ‫حب‬
ِ ‫ص‬َ ‫و‬
َ
ْ ‫)أ‬
“Tidaklah seorang muslim yang memiliki dua anak putri, kemudian
ia menyikapi secara baik atas (setiap) perlakuan kedua putrinya
terhadapnya, atau perlakuannya terhadap kedua putrinya.
Melainkan (lantaran) kedua putrinya tersebut, ia dimasukkan ke
dalam surga.” (HR. Ahmad).

Dahulu di zaman Jahiliyah, bangsa arab menganggap rendah


orang yang bermain-main dengan anak perempuannya, apalagi
sampai menciumnya. Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menghapus
tradisi ini, dan beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengendong
Umamah binti Zainab (putri beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam) di
atas pundak beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, sementara beliau
Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dalam keadaan shalat. Saat beliau
hendak ruku’, diturunkannya. Dan saat beliau bangun, diangkatnya
lagi. (Sebagaimana yang terdapat dalam ash-Shahihain).

Beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berkata mengenai putrinya,


Fathimah :

‫ها‬ َ ‫ما آ‬
َ ‫ذا‬ ْ ُ ‫وي‬
َ ‫ؤِذيِني‬ َ ‫ها‬
َ َ ‫ما َراب‬
َ ‫ريب ُِني‬
ِ َ ‫مّني ي‬
ِ ‫ة‬
ٌ ‫ع‬
َ ‫ض‬
ْ َ‫ة ب‬
ُ ‫م‬ َ
َ ِ‫فاط‬
‫))متفق عليه‬
“Fathimah adalah darah dagingku, yang meragukannya berarti
meragukanku, dan yang menyakitinya berarti menyakitiku.”
(Muttafaqun ‘Alaihi).
Dan perhatikanlah betapa hangatnya muamalah dan
kelembutan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ketika berjumpa
dengang putrinya. Pernah Fathimah berjalan menuju Nabi
Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, maka beliau Shallallahu ‘Alaihi wa
Sallam berkata :
َ ‫عن يمين ِـ‬ َ
ّ ‫ه ثُـ‬
‫م‬ ِ ِ ‫مال‬َ ‫شـ‬ِ ‫ن‬ ْ ‫عـ‬ َ ‫و‬
ْ ‫هأ‬ ِ ِ َ ْ َ ‫ها‬ َ ‫س‬َ َ ‫جل‬
ْ ‫مأ‬ ّ ُ ‫حًبا ِباب ْن َِتي ث‬ َ ‫مْر‬
َ
َ َ
‫ت‬ْ َ ‫حك‬
ِ ‫ضـ‬ َ ‫ف‬ َ ‫ديًثا‬ِ ‫حـ‬
َ ‫هــا‬َ ْ ‫سـّر إ ِل َي‬ َ ‫مأ‬ّ ‫ت ث ُـ‬ْ ‫فب َك َـ‬ َ ‫ديًثا‬ ِ ‫ح‬
َ ‫ها‬ َ ْ ‫سّر إ ِل َي‬َ ‫أ‬
‫))متفق عليه‬
“Selamat datang wahai putriku, kemudian beliau mendudukkannya
di samping kanan beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, atau di
sebelah kirinya. Kemudian Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam
menyampaikan sebuah perkataan kepada putrinya, lalu Fathimah
menangis. Kemudian beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam
menyampaikan sebuah perkataan kepada putrinya, lalu Fathimah
tertawa..” (Muttafaqun ‘Alaihi).

Adapun untuk saudara perempuan, Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa


Sallam bersabda :

‫و‬ َ ْ ُ‫أ‬ َ َ َ‫ث أ‬


َ َ ‫و ث َل‬ َ َ َ ‫ل ث َل‬
َ ‫عــا‬
ِ ‫أ‬،‫ن‬
ِ ‫خت َي ْ ـ‬ ‫و‬
ْ ‫أ‬،‫ت‬ ٍ ‫وا‬َ ‫خـ‬ ِ ‫ أ‬،‫ت‬ٍ ‫ث ب َن َــا‬ َ ‫ن‬ ْ ‫مـ‬ َ
َ ‫فأ َدبهن‬
‫ة )رواه‬
ُ ّ ‫جن‬ َ ْ ‫ال‬ ُ َ ‫فل‬
‫ه‬ َ ‫ن‬
ّ ‫ه‬ُ ‫ج‬ َ ‫و‬
ّ ‫وَز‬َ ‫ن‬ّ ‫ه‬ َ َ ‫س‬
ِ ْ ‫ن إ ِلي‬ َ ‫ح‬
ْ ‫وأ‬ َ ّ ُ َ ّ َ ‫ن‬ ِ ْ ‫اب ْن َت َي‬
‫)أبو داود‬
“Barang siapa yang mengasuh tiga anak putri, atau tiga saudara
perempuan. Atau dua saudara perempuan, atau dua anak
perempuan, lalu mendidik dan bersikap baik kepada mereka, serta
menikahkannya, maka baginya surga.” (HR. Abu Daud).

Sedangkan untuk istri, maka telah diriwayatkan dari Nabi


Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tentang betapa beliau Shallallahu
‘Alaihi wa Sallam baik interaksinya dan lembut sikapnya, mulia jiwa
dan kepribadiannya, sehingga tinta pun tidak sanggup untuk
mendeskripsikannya, namun cukuplah bagi kita untuk menyebutkan
beberapa riwayat mengenai hal tersebut. Sesungguhnya Nabi
Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pernah bersabda :

ْ َ‫م ل‬
‫هِلي )رواه ابن‬ َ ‫وأ ََنا‬
ْ ُ ‫خي ُْرك‬ َ ‫ه‬ ْ َ‫م ل‬
ِ ِ ‫هل‬ ْ ُ ‫خي ُْرك‬ ْ ُ ‫خي ُْرك‬
َ ‫م‬ َ
‫)حبان‬
“Sebaik-baik kalian adalah yang terbaik dari kalian sikapnya kepada
keluarganya. Dan aku adalah yang terbaik dari kalian sikapnya
kepada keluarga.” (HR. Ibnu Hibban).

Jabir bertutur mengenai sikap Nabi kepada istrinya yang bernama


Aisyah :

َ ِ ‫هل ً إ‬
‫ذا‬ ْ ‫س‬
َ ً‫جل‬ َ ّ ‫سل‬
ُ ‫م َر‬ َ ‫و‬
َ ‫ه‬ ِ ْ ‫عل َي‬
َ ‫ه‬ُ ّ ‫صّلى الل‬ َ ‫ه‬ ِ ّ ‫ل الل‬ُ ‫سو‬ ُ ‫ن َر‬ َ ‫و‬
َ ‫كا‬ َ
‫ه )رواه مسلم‬ ِ ْ ‫عل َي‬
َ ‫ها‬َ ‫ع‬ َ َ ‫يءَ َتاب‬
ْ ‫ش‬ّ ‫ت ال‬ ْ َ ‫وي‬
ِ ‫ه‬
َ )
“Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah seorang lelaki yang
pengertian, jika (Aisyah) menghendaki sesuatu maka beliau
mengikutinya.” (HR. Muslim).

Maka dimana orang-orang yang menyangka bahwa pemimpin


(leader) itu adalah lelaki yang sanggup menolak semua yang
dituntut oleh istrinya, Sekalipun itu mudah untuk dilakukan?
Alangkah indahnya sikap yang dituturkan oleh Aisyah ra., bahwa
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pernah menyatakan
kepadanya :

،‫ض ـَبى‬ْ ‫غ‬َ ‫ي‬ ّ ‫عل َـ‬َ ‫ت‬ ِ ْ ‫ذا ك ُن‬


َ ِ ‫وإ‬
َ ‫ة‬ ً َ ‫ضي‬
ِ ‫عّني َرا‬ َ ‫ت‬ ِ ْ ‫ذا ك ُن‬ َ ِ‫م إ‬ ْ َ ‫إ ِّني ل‬
ُ َ ‫عل‬
َ َ
‫عن ّــي‬
َ ‫ت‬ِ ‫ذا ك ُن ْـ‬
َ ِ ‫مــا إ‬
ّ ‫أ‬:‫ل‬ َ ‫قا‬ َ ‫ف‬ َ ،‫ك‬ َ ِ ‫ف ذَل‬
ُ ‫ر‬ِ ‫ع‬ْ َ‫ن ت‬َ ْ ‫ن أي‬ ْ ‫م‬ ِ :‫ت‬ ْ َ ‫قال‬
َ

ّ ‫عَلــ‬
‫ي‬ َ ‫ت‬ ِ ‫ذا ك ُْنــ‬َ ِ ‫وإ‬َ ‫د‬ٍ ‫مــ‬ ّ ‫ح‬
َ ‫م‬
ُ ‫ب‬ ّ ‫وَر‬ َ َ‫ن ل‬ َ ‫قــوِلي‬ُ َ‫ك ت‬
ِ ‫فإ ِّنــ‬َ ‫ة‬
ً َ ‫ضــي‬
ِ ‫َرا‬
َ
ِ ‫والّلـ‬
‫ه ي َــا‬ َ ‫ل‬ ْ ‫جـ‬ َ ‫أ‬:‫ت‬ ْ َ ‫قـال‬َ ،‫م‬ َ ‫هيـ‬ ِ ‫ب إ ِب َْرا‬ َ َ‫ت ل‬
ّ ‫وَر‬ ِ ‫قْلـ‬ ُ ‫ضـَبى‬ َ
ْ ‫غ‬
‫ك )متفق عليه‬ َ ‫م‬ َ ‫س‬ْ ‫جُر إ ِل ّ ا‬
ُ ‫ه‬ ْ َ ‫ما أ‬ ِ ّ ‫ل الل‬
َ ‫ه‬ َ ‫سو‬ ُ ‫)َر‬
“Sungguh aku mengetahui, saat-saat kamu senang kepadaku, dan
saat-saat kamu marah kepadaku.” Aisyah bertanya, “Darimana
kamu mengetahui hal itu?”. Maka beliau menjawab, ((Adapun jika
kamu sedang senang kepadaku maka kamu berkata, “Tidak, Demi
Rabbnya Muhammad.” Sedang jika kamu sedang marah padaku,
kamu berkata, “Tidak, demi Rabbnya Ibrahim”)). Aisyah bertutur,
“Benar, Demi Allah. Wahai utusan Allah, tidaklah aku mengucilkan
kecuali (hanya) pada namamu.”

Maka bagaimana dengan kita mengenai sikap hangat, penuh


kelembutan, mesra dan kebahagiaan ini?. Masih dari Aisyah berkata
:

‫ض‬ِ ‫عـ‬ ْ َ ‫فــي ب‬ ِ ‫م‬ َ ّ ‫سـل‬ َ ‫و‬ َ ‫ه‬ ِ ‫عل َي ْـ‬ َ ‫ه‬ ُ ‫صـّلى الل ّـ‬ َ ‫ي‬ ّ ‫ع الن ّب ِـ‬ َ ‫مـ‬ َ ‫ت‬ ُ ‫جـ‬ ْ ‫خَر‬ َ
َ َ ‫فاره‬ َ
:‫س‬ ِ ‫ل ِللن ّــا‬ َ ‫قــا‬ َ ‫ف‬ َ ،‫م‬ َ ‫حـ‬ ْ ّ ‫ل الل‬ ْ ‫مـ‬ ِ ‫ح‬ ْ ‫مأ‬ ْ ‫ة ل َـ‬
ٌ ‫ري َـ‬ ِ ‫جا‬َ ‫وأَنا‬ َ ِ ِ َ ‫س‬ ْ ‫أ‬
ُ
‫ه‬
ُ ُ ‫قت‬ْ َ ‫ســاب‬ َ ‫ف‬ َ ،‫ك‬ ِ ‫ق‬ َ ِ ‫ســاب‬ َ ‫حّتى أ‬ َ ‫ي‬ ْ َ ‫عال‬ َ َ ‫ ت‬: ‫ل ِلي‬ َ ‫قا‬ َ ‫م‬ ّ ُ ‫ ث‬، ‫موا‬ ُ ّ‫قد‬ َ َ‫ت‬
‫ت‬ ُ ‫ســي‬ ِ َ ‫ون‬ َ ‫م‬ َ ‫حـ‬ ْ ّ ‫ت الل‬ ُ ‫مل ْـ‬ َ ‫ح‬ َ ‫ذا‬ َ ِ ‫حّتى إ‬ َ ‫عّني‬ َ ‫ت‬ َ َ ‫سك‬ َ ‫ف‬ َ ،‫ه‬ ُ ُ ‫قت‬ْ َ ‫سب‬ َ ‫ف‬ َ
، ‫موا‬ َ َ‫ ت‬: ‫س‬ َ ‫قا‬ َ ‫ف‬َ ،‫ه‬ َ ‫س‬ َ
ُ ّ‫قد‬ ِ ‫ل ِللّنا‬ ِ ‫ر‬ِ ‫فا‬ ْ ‫ضأ‬ ِ ‫ع‬ ْ َ ‫في ب‬ ِ ‫ه‬ ُ ‫ع‬َ ‫م‬َ ‫ت‬ ُ ‫ج‬ ْ ‫خَر‬ َ
ُ
، ‫قِني‬ َ َ ‫س ـب‬َ ‫ف‬ َ ‫ه‬ ُ ُ ‫قت‬ ْ َ ‫ســاب‬ َ ‫ف‬ َ ،‫ك‬ ِ ‫ق‬ َ ِ ‫ســاب‬ َ ‫حت ّــى أ‬ َ ‫ي‬ ْ َ ‫عال‬ َ َ‫ ت‬: ‫ل‬ َ ‫قا‬ َ ‫م‬ ّ ُ‫ث‬
َ ْ ‫ه ب ِت ِل‬
‫ك )رواه أبو داود‬ ِ ‫ذ‬
ِ ‫ه‬
َ :‫ل‬ ُ َ‫و ي‬
ُ ‫قو‬ َ ‫ه‬
ُ ‫و‬ ُ ‫ح‬
َ ‫ك‬ َ ‫ض‬ َ ‫ع‬
ْ َ‫ل ي‬ َ ‫ج‬ َ )
َ ‫ف‬
“Aku pernah keluar bersama Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam
dalam beberapa perjalanan, sedang saat itu aku seorang wanita
yang tidak membawa perbekalan daging. Maka beliau Shallallahu
‘Alaihi wa Sallam berkata kepada para sahabatnya, ‘Majulah kalian
semua.’ Kemudian berkata kepadaku, ‘Kemarilah hingga aku
mendahuluimu.’ Maka aku dan beliau saling berusaha mendahului,
maka aku mampu mendahuluinya, lalu dia mendiamkanku. Hingga
saat aku membawa daging dan aku lupa mengeluarkannya
bersamanya di suatu perjalanannya (yang lain), maka beliau
berkata kepada para sahabatnya, ‘Majulah kalian semua.’ Kemudian
dia berkata kepadaku, “Kemarilah (Aiysah), hingga aku dapat
mengalahkanmu.’ Selanjutnya aku dan dia berusaha untuk saling
mendahului, maka beliau dapat mendahuluiku. Kemudian mulailah
beliau tersenyum dan berkata, ‘Ini untuk (balasan kekalahan) yang
itu.’ ((HR. Abu Daud).
Sungguh Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pun sangat
memperhatikan kebutuhan seksual perempuan, maka beliau
memotivasi para suami untuk memuaskan kebutuhan ini bagi
perempuan, sehingga tidak menjadikannya menyimpang dan
berselingkuh kepada selain suaminya, maka beliau Shallallahu
‘Alaihi wa Sallam bersabda :

‫ه أ َي َــأِتي‬ِ ‫ل الل ّـ‬َ ‫ســو‬ ُ ‫قــاُلوا ي َــا َر‬


َ ‫ة‬ َ َ‫ص ـد‬
ٌ ‫ق‬ َ ‫م‬ْ ُ ‫دك‬ِ ‫حـ‬
َ ‫ض‬
َ ‫عأ‬ ِ ْ ُ ‫في ب‬ِ ‫و‬َ
َ َ َ ‫قا‬ َ َ
‫ها‬
َ ‫ع‬
َ ‫ضـ‬ َ ‫و‬ َ ‫و‬ ْ َ‫م ل‬
ْ ُ ‫ل أَرأي ْت‬ َ ‫جٌر‬ ْ ‫ها أ‬ َ ‫في‬ِ ‫ه‬ُ َ‫ن ل‬ ُ َ ‫وي‬
ُ ‫كو‬ َ ‫ه‬ُ َ ‫وت‬
َ ‫ه‬ َ ‫حدَُنا‬
ْ ‫ش‬ َ ‫أ‬
‫فــي‬
ِ ‫ها‬
َ ‫ع‬
َ ‫ضـ‬
َ ‫و‬ َ ِ‫ك إ‬
َ ‫ذا‬ َ ِ ‫فك َـذَل‬
َ ‫وْزٌر‬ ِ ‫هــا‬ َ ‫في‬ ِ ْ ‫عل َي‬
ِ ‫ه‬ َ ‫ن‬ َ َ ‫حَرام ٍ أ‬
َ ‫كا‬ َ ‫في‬
ِ
َ َ ‫كان ل‬
‫جًرا )رواه مسلم‬ ْ ‫هأ‬ ُ َ َ ‫ل‬ ِ َ ‫حل‬َ ْ ‫)ال‬
“Dan pada kedua paha kalian, terdapat sedekah.” Para sahabat
bertanya, “Ya Rasulullah, apakah jika salah seorang dari kami
memuaskan syahwatnya, maka dengan begitu dia memperoleh
pahala?” Beliau menjawab, “Apa pendapatmu, seandainya dia
meletakkan syahwatnya pada tempat yang diharamkan, bukankah
bagianya dosa?! Demikian pulalah jika ia meletakkannya pada yang
halal, baginya pahala.” (HR. Muslim).

Dan diantara sikap apresiasi Nabi terhadap perempuan bahwa


beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam melarang para suami untuk
berburuk sangka terhadap istri-istri mereka dan mencari-cari
kesalahan mereka. Jabir ra. berkata :

َ ‫ن ي َطْ ـُر‬ َ
‫ق‬ ْ ‫مأ‬ َ ّ ‫س ـل‬َ ‫و‬َ ‫ه‬ِ ‫عل َي ْـ‬َ ‫ه‬ ُ ‫ص ـّلى الل ّـ‬ َ ‫ه‬ ِ ‫ل الل ّـ‬ ُ ‫ســو‬ ُ ‫هــى َر‬ َ َ‫ن‬
َ ْ َ‫ل أ‬
‫م )متفــق‬ ْ ‫هـ‬ِ ِ ‫عث ََرات‬
َ ‫س‬ ُ ‫مـ‬ ِ َ ‫و ي َل ْت‬ْ ‫مأ‬ ْ ‫ه‬
ُ ُ ‫ون‬ َ َ ‫ه ل َي ًْل ي َت‬
ّ ‫خـ‬ ُ ‫هل َـ‬ ُ ‫ج‬
ُ ‫الّر‬
‫)عليه‬
“Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam melarang para lelaki untuk
mendatangi keluarganya pada malam hari, menghianati dan
mencari-cari kesalahan mereka.” (Muttafaqun ‘Alaihi).

Maka adakah penghormatan yang lebih tinggi kepada


perempuan dari bentuk dilarangnya kalangan pria masuk ke
rumahnya pada malam hari tanpa diketahui oleh istrinya, jika
maksudnya untuk memata-matainya dan mencari-cari
kelemahannya !!!

Nabi saw menstimulasi para suami untuk semakin meningkatkan


nafkah istri-istri mereka, maka beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam
bersabda kepada Sa’ad bin Abi Waqqash ra. :
ُ
َ ْ ‫عل َي‬
‫ها‬ َ ‫ت‬َ ‫جْر‬ ِ ّ ‫ه الل‬
ِ ‫ه إ ِل ّ أ‬ َ ‫ج‬ ْ ‫و‬َ ‫ها‬
َ ِ ‫غي ب‬ِ َ ‫ة ت َب ْت‬ً ‫ق‬َ ‫ف‬َ َ‫ق ن‬َ ‫ف‬
ِ ْ ‫ن ت ُن‬ْ َ‫ك ل‬
َ ّ ‫إ ِن‬
‫ك )متفق عليه‬ َ ِ ‫مَرأ َت‬ْ ‫في ا‬ ِ ‫في‬ ِ ‫ل‬ ُ ‫ع‬َ ‫ج‬ْ َ ‫ما ت‬
َ ‫حّتى‬ َ )
“Sesungguhnya tiada kamu mendermakan apa pun jua karena
Allah, melainkan kamu diganjari pahala atasnya, hingga yang kamu
masukkan (makanan) pada mulut istrimu.” (Muttafaqun ‘Alaihi).

Beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam juga bersabda :

‫ه )رواه مسلم‬ ِ ‫عَلى‬


ِ ِ ‫عَيال‬ ُ ‫ج‬
َ ‫ل‬ ُ ‫ه الّر‬ ُ ‫ف‬
ُ ‫ق‬ ِ ْ ‫ر ي ُن‬ ُ ‫ض‬
ٍ ‫ل ِديَنا‬ ْ َ ‫)أ‬
َ ‫ف‬
“Seutama-utama dinar adalah dinar yang didermakan seorang laki-
laki kepada keluarganya.” (HR. Bukhari).

Sabda beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang lain :

‫جَر )رواه أحمد‬ ُ ِ ‫قى امرأ َت َه من ال ْما‬


َ ‫س‬ َ ‫ج‬
َ ِ‫ل إ‬
ِ ‫ءأ‬ َ ْ ِ ُ َ ْ َ ‫ذا‬ ُ ‫ن الّر‬
ّ ِ ‫)إ‬
“Sesungguhnya jika seorang lelaki memberikan minum air kepada
istrinya, dibalas pahala.” (HR. Ahmad).

Beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menegaskan dengan sabdanya :

‫م‬ َ َ ‫ظ ذَل ِـ‬


َ ‫فـ‬ َ ّ ‫ل ك ُـ‬ٌ ِ ‫سائ‬
ْ ‫كأ‬ ِ ‫ح‬َ ‫ أ‬، ُ‫عاه‬ َ ‫س ـت َْر‬
ْ ‫مــا ا‬
ّ ‫ع‬ َ ‫ع‬ٍ ‫ل َرا‬ َ ‫ه‬َ ‫ن الل‬ ّ ِ‫إ‬
‫ه )رواه ابــن‬ ِ ‫ل ب َي ْت ِـ‬ ْ َ‫ن أ‬
ِ ‫هـ‬ ْ ‫عـ‬َ ‫ل‬ُ ‫جـ‬ ُ ‫ل الّر‬ ُ َ ‫س ـأ‬
ْ ُ ‫حت ّــى ي‬َ ،‫ع‬ َ ّ ‫ض ـي‬
ُ
‫)حبان‬
“Sesungguhnya Allah Ta’ala akan menanyai setiap pemimpin atas
apa yang menjadi tanggungjawabnya, apakah dia memelihara
(amanah) tersebut atau diabaikannya. Hingga seorang kepala
rumah tangga akan ditanyai tentang perkara keluarganya.” (HR.
Ibnu Hibban).

Beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda :


َ
‫ة )رواه مسلم‬
ُ ‫ح‬
َ ِ ‫صال‬ َ ْ ‫ها ال‬
ّ ‫مْرأةُ ال‬ َ ‫ع‬
ِ ‫مَتا‬
َ ‫خي ُْر‬
َ ‫و‬
َ ،‫ع‬
ٌ ‫مَتا‬
َ ‫)الدّن ِْيا‬
“Dunia adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah
wanita shalihah.” (HR. Muslim).

Sedang kesetiaan terhadap istri setelah wafatnya, telah


dicontohkan oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dengan
keteladanan yang sangat mengharukan dalam konteks ini. Anas ra.
menyatakan,

“Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam jika mendapatkan hadiah,


berkata :

‫ة )رواه‬
َ ‫ج‬
َ ‫دي‬
ِ ‫خ‬
َ ِ‫ة ل‬ َ ‫دي‬
ً ‫ق‬ ِ ‫ص‬
َ ‫ت‬ َ ‫ها‬
ْ َ ‫كان‬ َ ،‫ة‬
َ ّ ‫فإ ِن‬ ُ ‫ه إ َِلى‬
َ َ ‫فلن‬ َ ْ‫اذ‬
ِ ِ ‫هُبوا ب‬
‫)الطبراني‬
“Pergilah ke fulanah, dia dahulu adalah kawannya Khadijah.” (HR.
Ath-Thabrani).

Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tidak pernah melupakan peran


seorang ibu yang oleh perundang-undangan hak asasi manusia
internasional dilupakan. Beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ditanya
oleh seorang sahabat :

َ ‫ك‬ َ ‫م‬ ُ َ ‫قا‬ َ ‫حاب َِتي‬ َ


‫ن‬
ْ ‫مـ‬ َ ‫م‬ّ ‫ل ث ُـ‬َ ‫قــا‬ ّ ‫لأ‬ َ ‫ص‬َ ‫ن‬ ِ ‫س‬
ْ ‫ح‬ ُ ِ‫س ب‬
ِ ‫ق الّنا‬ ّ ‫ح‬ َ ‫نأ‬ ْ ‫م‬ َ
َ ‫ن‬ َ ‫ك‬ َ ‫م‬ ُ َ ‫ن‬ َ ‫م‬
َ ‫ك‬ ُ َ
‫ل‬َ ‫قــا‬ ْ ‫مـ‬ َ ‫م‬ّ ُ‫ل ث‬ َ ‫قا‬ ّ ‫مأ‬ ّ ُ‫ل ث‬
َ ‫قا‬ ْ ‫م‬
َ ‫م‬ ّ ُ‫ل ث‬ َ ‫قا‬ ّ ‫مأ‬ ّ ُ‫ل ث‬َ ‫قا‬
‫ك )متفق عليه‬ َ ‫م أ َُبو‬ ّ ُ ‫)ث‬
“Siapa orang yang paling berhak untuk aku layani dengan sebaik-
baiknya?.” Beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menjawab, “Ibumu.”
Pria itu bertanya (lagi), “Kemudian siapa (lagi)?” Beliau (kembali)
menjawab, “Ibumu.” Pria itu bertanya (lagi), “Kemudian siapa
(lagi)?” Beliau (kembali) menjawab, “Ibumu.” Pria itu bertanya
(lagi), “Kemudian siapa (lagi)?” Beliau menjawab, “Ayahmu.”
(Muttafaqun ‘Alaihi).

Seorang lelaki datang kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa


Sallam, lalu berkata :

َ ‫ف‬َ ‫ك‬ َ ‫شيُر‬ َ َ ‫و‬ ْ َ‫ن أ‬ َ َ ّ ‫ل الل‬


َ ‫قا‬
‫ل‬ ِ َ ‫ست‬ْ ‫تأ‬ ُ ْ ‫جئ‬ ِ ْ‫قد‬ َ ‫و‬َ ‫غُز‬ ْ ‫تأ‬ ُ ْ‫ه أَرد‬ِ َ ‫سو‬ُ ‫َيا َر‬
ُ
‫ت‬َ ‫حـ‬ْ َ‫ة ت‬ َ ْ ‫ن ال‬
َ ‫جن ّ ـ‬ َ ‫ها‬
ّ ِ ‫ف ـإ‬ َ ‫م‬ْ ‫فال َْز‬َ ‫ل‬َ ‫قا‬َ ‫م‬ ْ ‫ع‬َ َ‫ل ن‬ َ ‫م‬
َ ‫قا‬ ّ ‫نأ‬ ْ ‫م‬
ِ ‫ك‬َ َ‫ل ل‬ْ ‫ه‬
َ
َ ْ ‫جل َي‬
‫ها )متفق عليه‬ ْ ‫ر‬
ِ )
“Wahai Rasulullah, aku ingin berperang, sungguh aku datang untuk
meminta pengarahanmu.” Lalu beliau bertanya, “Apakah kamu
masih punya ibu.” Ia menjawab, “Benar.” Beliau bersabda, “Maka
mengabdilah kepadanya, sesungguhnya surga dibawah kakinya.”
(HR. An-Nasa’i).

Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah seorang yang sangat


proporsional terhadap perempuan. Dimana dan kapanpun beliau
Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berada, senantiasa mendudukkan dan
menempatkan perempuan pada keadaan yang selayaknya. Anas ra.
berkata, “Pernah seorang dari budak-budak perempuan Madinah
mengambil tangan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, lalu
pergi membawa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam
sekehendak hajatnya.” (HR. Bukhari).

Dan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam belum pernah


memperkenankan pemukulan terhadap budak perempuan. Beliau
Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda kepada orang yang memukul
budak perempuannya :

‫ة )رواه مسلم‬
ٌ َ ‫من‬ ْ ‫م‬
ِ ‫ؤ‬ ُ ‫ها‬ َ ‫ها‬
َ ّ ‫فإ ِن‬ َ ‫ق‬ ْ َ ‫)أ‬
ْ ِ ‫عت‬
“Bebaskan dia (budak perempuan), sesungguhnya dia adalah
seorang perempuan yang beriman.” (HR. Muslim).
Maka tindak penempelangan menjadi alasan yang cukup untuk
membebaskan seorang budak bagi Muhammad Rasulullah
Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Dan dalam riwayat lain :


َ ُ َ ‫عل َيه ل َ يأ ْن‬
‫ع‬
َ ‫مــ‬
َ ‫ي‬
َ ‫شــ‬
ِ ‫م‬
ْ َ‫ن ي‬
ْ ‫فأ‬ َ ِ ْ َ ‫ه‬ُ ّ ‫صّلى الل‬َ ‫ه‬ِ ّ ‫ل الل‬ ُ ‫سو‬ ُ ‫ن َر‬ َ
َ ‫كا‬
َ ْ ‫ه ال‬ َ
‫ة )رواه النسائي‬ َ ‫ج‬
َ ‫حا‬ ُ َ‫ي ل‬ َ ‫ض‬
ِ ‫ق‬ْ َ ‫في‬
َ ‫ن‬
ِ ‫كي‬
ِ ‫س‬
ْ ‫م‬ ِ ْ ‫وال‬
َ ‫ة‬ ِ َ ‫مل‬َ ‫)الْر‬
“Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tidak merasa segan
berjalan dengan para janda dan orang miskin, kemudian beliau
(pun) memenuhi kebutuhan untuk keduanya.” (HR. An-Nasa’i).

Demikian pula dengan wanita yang lanjut usia di sisi Rasulullah


Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, maka dari Aisyah ra. berkata,
“Seorang wanita tua renta datang kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi
wa Sallam yang saat itu sedang berada di sisiku. Lalu Rasulullah
Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bertanya kepadanya, ‘Siapa anda?’ Ia
menjawab, ‘Aku Jatstsamah al-Muzaniyah (wanita pandir dari
kabilah Muzaniyah).’ Lalu beliau berkata, ‘Bahkan engkau adalah
Hassanah al- Muzaniyah (wanita baik dari kabilah Muzaniyah),
bagaimana anda sekarang? Bagaimana kabar anda? Bagaimana
anda sepeninggal kami?’ Perempuan tua itu menjawab, ‘Baik-baik
saja, demi bapak dan ibuku, ya Rasulullah.’ Ketika ia keluar, Aisyah
ra. berkata, ‘Wahai Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, anda
menyambut wanita tua ini dengan gaya penyambutan (sangat
hormat, pent.) seperti ini?’ Maka beliau bersabda, ‘Sesungguhnya
perempuan tadi telah datang kepada kami (sejak) masa Khadijah,
dan sungguh keterikatannya pada keimanan baik’.” (HR. Al-Hakim).

Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam seorang yang memelihara untuk ,


dari Anas bin Malik bahwa seorang seorang wanita yang terganggu
akalnya, berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya saya punya
keperluan padamu.” Lalu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam
berkata, “Wahai ibu fulan! Perhatikanlah jalan yang mana yang
kamu kehendaki untuk berdiriku, hingga aku dapat berdiri
bersamamu.” Maka Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berlalu
bersamanya, beliau berpisah setelah wanita tersebut telah
memenuhi keperluannya.” (HR. Muslim).

Adapun mengenai perempuan musyrik, sesungguhnya Nabi


Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam melarang melakukan pembunuhan
terhadap mereka, saat peperangan sekali pun. Pernah suatu ketika,
beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mendapati adanya mayat
seorang perempuan yang terbunuh di suatu peperangan. Maka
beliau berhenti di sisi mayat perempuan tersebut, kemudian
berkata, “Jangan (sampai) pembunuhan (semacam) ini terjadi.”
Kemudian memandangi wajah-wajah para sahabatnya, seraya
bersabda kepada salah seorang mereka,

َ ‫ول‬ ً ‫سي‬
َ ‫فا‬ َ َ ‫ول‬
ِ ‫ع‬ ّ َ ‫قت ُل‬
ً ّ ‫ن ذُّري‬
َ ‫ة‬ ْ َ ‫فل َ ي‬
َ ‫د‬ َ ْ ‫ن ال‬
ِ ‫وِلي‬ َ ْ ‫خال ِدَ ب‬
َ ‫ق‬ َ ْ ‫ال‬
ْ ‫ح‬
‫مَرأ َةً )رواه أحمد وأبو داود‬ ْ ‫)ا‬
“Yang benar wahai Khalid bin al-Walid, janganlah mereka
membunuh anak-anak, dan tidak pula buruh (yaitu tenaga kerja
sewaannya), dan kaum wanita.” (HR. Ahmad dan Abu Daud).

Demikianlah beberapa riwayat yang berkenaan dengan hak-


hak perempuan dan kedudukannya di sisi Rasulullah dan kekasih
kita, Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Tak pelak lagi saat ini, di realitas terkini kita, betapa kita sangat
membutuhkan tuntunan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ini
beserta implementasinya. Memberikan hak-hak kepada kaum
perempuan secara integral, dan memandang bahwa hal itu adalah
suatu bentuk ibadah dan pendekatan diri kepada Allah Ta’ala. Dan
ini lebih mengena di dalam membumikan petunjuk-petunjuk Nabi,
daripada sekedar berkoar-koar dan mengibarkan panji-panji syiar,
tanpa disertai implementasinya di lapangan.

Sungguh jika kita merealisasikan hal ini, dan menghadirkan


gambaran menawan mengenai Islam kepada para cendekia, maka
mungkin ini menjadi factor penyebab orang-orang menerima Islam
lebih banyak lagi daripada apa yang kita lihat pada hari ini.

Dr. Ahmad bin Utsman al-Mazyad

Asisten Professor di King Su’ud University

Email : dralmazyad@hotmail.com