Anda di halaman 1dari 106

PENDIDIKAN ANAK DI LINGKUNGAN KELUARGA GELANDANGAN

(Studi Kasus di Pekojan Kelurahan Jagalan Kecamatan Semarang Tengah)

di Pekojan Kelurahan Jagalan Kecamatan Semarang Tengah) SKRISI Diajukan dalam rangka menyelesaikan Studi Strata I

SKRISI

Diajukan dalam rangka menyelesaikan Studi Strata I untuk mencapai gelar Sarjana Pendidikan

Oleh :

Nama

:

Ika Setyaningsih

Nim

:

1214000023

Program Studi

:

Pendidikan Luar Sekolah S1

FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS NEGERI S E M A R A N G 2 0 0 5

ABSTRAK

Ika Setyaningsih, Nim:1214000023, Fakultas Ilmu Pendidikan, Jurusan Pendidikan Luar Sekolah, Universitas Negeri Semarang (UNNES), Tahun 2005. Pendidikan Anak di Lingkungan Keluarga Gelandangan (studi kasus di Pekojan kelurahan Jagalan Kecamatan Semarang Tengah). Salah satu masalah masyarakat yang sejak dahulu tidak dapat teratasi oleh pemerintah yaitu adanya “Gelandangan”. Karena meledaknya urbanisasi, kota tidak mampu menyediakan fasilitas sosial serta lapangan pekerjaan, itu semua awal dari adanya gelandangan. Gelandangan ini datang ke kota guna untuk mengadu nasib mereka, padahal rata-rata mereka tidak berbekal pendidikan yang cukup setara dan mereka juga tidak mempunyai bekal keterampilan yang mereka kuasai. Banyaknya pengangguran di kota mengakibatkan orang menggelandang sehingga mereka membuat pemukiman tersendiri dan bertempat tinggal yang dilarang oleh pemerintah. Permasalahan yang diteliti yaitu(1)Bagaimana seorang gelandangan tersebut memandang anaknya(2)Bagaimana pandangan seorang gelandangan terhadap pendidikan formal anaknya,(3)Upaya apa yang dilakukan gelandangan dalam mendorong anak memperoleh pendidikan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Lokasi penelitian yaitu daerah pekojan kelurahan Jagalan Semarang Tengah. Fokus penelitian pada bagaimana pandangan gelandangan terhadap anak mereka, pendidikan formal anak mereka beserta upaya apa yang dilakukan oleh gelandangan dalam pendidikan anak mereka. Data diperoleh dari sumber data berupa subjek penelitian yang terdiri dari 5 keluarga yang semuanya ada 11 subjek, semua kepala keluarga bekerja sebagai pemulung. Melalui metode pengamatan langsung, metode wawancara dan metode dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa gelandangan memandang anak memang mempunyai segi ekonomi itu setelah anak tersebut sudah cukup umur dan mempunyai bekal pendidikan yang cukup, gelandangan tidak menginginkan anak mereka yang masih kecil untuk bekerja membantu orang tuanya mencari nafkah, gelandangan menginginkan anak yang masih kecil diberi kebebasan untuk menikmati masa kanak-kanak mereka. Gelandangan juga memandang pendidikan anak sangat penting, terbukti dengan salah satu dari subjek atau dari anak gelandangan tersebut yang sudah dapat menyelesaikan di bangku sekolah teknik menengah. Upaya gelandangan dalam mendorong anak memperoleh pendidikan dengan jalan bekerja keras serta menyekolahkan anak mereka ke desa yang mereka anggap lebih baik lingkungan dan pergaulannya. Kesimpulannya gelandangan memandang anak sebagai penerus generasi dan dapat membantu orang tua dalam mencari nafkah nantinya, pada intinya anak merupakan investasi orang tua di hari tua. Dengan begitu anak harus memiliki pengetahuan yang luas baik dengan pendidikan formal maupun pendidikan non formal bila anak mereka sudah besar nantinya. Gelandangan juga harus mendorong anaknya untuk memperoleh pendidikan salah satu caranya yaitu gelandangan jangan malas bekerja

PENGESAHAN

Telah dipertahankan dihadapan Panitia Ujian Skripsi Fakultas Ilmu Pendidikan

Universitas Negeri Semarang.

Pada hari

: Jumat

Tanggal

: 11 Februari 2005

Ketua

Sekretaris

Drs. Siswanto

NIP. 130515769

Drs. Sawa Suryana, M.Pd. NIP. 131413302

Penguji I

Penguji II

Drs. Zudindarto, Bd.H. NIP. 130345749

Dr. Tri Joko Raharjo, M.Pd. NIP. 131485011

Penguji III

Drs. Achmad Rifai, RC. M.Pd. NIP. 131413232

MOTTO DAN PERSEMBAHAN

Dibalik kekalahan, kesusahan, pasti ada arti tersendiri. Jadi terimalah sesuatu dengan

ikhlas dan tak lupa bersyukur kepada-Nya.

Seseorang yang melakukan seribu kali kesalahan pasti seseorang tersebut pernah

melakukan kebaikan.

Kupersembahkan.

Ayah dan Ibu tercinta

Adikku Santo dan Tiyan

Keluarga besar Bpk Jamin yang memotivasi aku selama ini

Sahabatku Ani (mami) yang selama ini ikut memotivasi aku

Almamaterku tercinta UNNES

KATA PENGANTAR

Skripsi ini disusun dalam rangka memenuhi persyaratan untuk memperoleh

gelar sarjana pendidikan di Universitas Negeri Semarang. Dalam pembuatan skripsi

ini tidak lepas dari kendala dan kesulitan bila tanpa bimbingan, saran dan dukungan

serta bantuan dari semua pihak yang berkaitan dengan penyusunan skripsi ini. Oleh

karena itu perkenankanlah penulis menyampaikan terima kasih dan penghargaan

yang setinggi-tingginya pada :

1. Dekan Fakultas Ilmu Pendidikan Drs. Siswanto yang telah memberikan ijin

penelitian ini.

2. Ketua Jurusan Pendidikan Luar Sekolah Drs. Ahcmad Rifai RC, M. Pd yang

telah memberikan wacana keilmuan untuk penambahan wawasan kepada kami.

3. Dr. Tri Joko Raharjo, M.Pd. selaku dosen pembimbing I, yang

telah tulus,

ikhlas serta tidak henti-hentinya memberikan motivasi, membimbingan dan

pengarahan demi terselesaikannya penulisan skripsi ini.

4. Drs. Ahcmad Rifai RC, M.Pd. selaku dosen pembimbing II, yang telah tulus

ikhlas serta tidak henti-hentinya memberikan motivasi, membimbingan

dan

pengarahan demi terselesaikannya penulisan skripsi ini.

5. Kepala Kelurahan Jagalan Semarang Tengah yang telah memberikan ijin

penelitian.

6. Kepada semua pihak yang telah membantu semoga Tuhan Yang Maha Kuasa

selalu melimpahkan berkat dan kasih sayangnya.

Penulis menyadari adanya keterbatasan kemampuan dalam penyusunan skripsi

ini, sehingga penulis harapkan adanya sumbang dan saran yang konstruktif demi

perbaikan skripsi ini serta penelitian lanjutan sangat diharapkan.

Semarang,

2005

Halaman

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL

i

ABSTRAK

ii

PERSETUJUAN

iii

PENGESAHAN

iv

MOTO DAN PERSEMBAHAN

v

KATA PENGANTAR

vi

DAFTAR ISI

vii

DAFTAR GAMBAR

viii

DAFTAR LAMPIRAN

ix

BABI

PENDAHULUAN

 

A. Latar Belakang Masalah

1

B. Permasalahan

5

C. Tujuan Penelitian

6

D. Manfaat Penelitian

6

BABII

KAJIAN PUSTAKA

A.

Pendidikan

8

 

1. Pengertian Pendidikan

8

2. Ruang Lingkup Pendidikan

9

a. Pendidikan Informal

10

b. Pendidikan Formal

10

c. Pendidikan Non Formal

10

B.

Pendidikan Anak

11

C. Pengertian Lingkungan

12

1. Lingkungan Budaya

13

2. Lingkungan Fisik

13

3. Lingkungan Sosial

13

4. Lingkungan Bermain Anak …………………………….

14

D. Pendidikan Keluarga

14

Unsur-unsur Pendidikan Keluarga

1. Pemupukan Rasa Tanggung Jawab

15

2. Pemberian kebebasan pada Batas-batas tertentu

15

3. Dorongan Keberanian yang Diberikan Kepada

Anaknya Untuk Dapat Berbuat Sesuatu yang Positif

15

E. Gelandangan

18

1. Pengertian Gelandangan

18

2. Karakteristik Gelandangan

22

a. Gelandangan yang masih berhubungan dengan masyarakat normal

22

b. Gelandangan berkelompok dan mempunyai

Organisasi tertutup dan

22

 

c. Gelandangan yang tidak mempunyai kelompok

22

d. Gelandangan Tidak Mau Tatap Muka

22

3. Mengapa Menggelandang

23

BABIII

METODOLOGI PENELITIAN

1. Pendekatan Penelitian

26

2. Lokasi Penelitian

26

3. Fokus Penelitian

27

a. Anak

27

b. Pendidikan Formal Anak

27

c. Upaya Orang Tua Dalam Memotivasi Anak

27

4.

Tahap-tahap Penelitian

27

 

a. Tahap Pra Lapangan

27

b. Tahap Penelitian/Pelaksanaan

28

c. Tahap Akhir Penelitian

29

5. Sumber Data

29

6. Teknik Pengumpulan Data

31

a. Teknik Pengamatan

31

b. Teknik Wawancara

31

c. Teknik Dokumentasi

32

7. Kriteria Data Teknik Keabsahan Data

32

8. Teknik Analisis Data

33

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Gambaran Umum Gelandangan di Kota Semarang

35

B. Gambaran Umum Daerah Penelitian

38

1. Letak dan Luas Kelurahan Jagalan

38

2. Sejarah Terjadinya Pemukiman Gelandangan

38

3. Kependudukan

39

4. Tingkat Pendidikan

39

5. Jumlah Penduduk Menurut Agama……………………

40

6. Jumlah Penduduk Menurut Mata Pencaharian ……….

40

C. Hasil Penelitian

41

D. Pembahasan

54

BAB V

SIMPULAN DAN SARAN

A. Simpulan

69

B. Saran

71

DAFTAR PUSTAKA

73

LAMPIRAN-LAMPIRAN

DAFTAR LAMPIRAN

1. Lampiran hasil wawancara

2. Lampiran surat ijin penelitian dari Pemerintah Kota

3. Lampiran foto dari hasil wawancara.

4. Lampiran peta daerah penelitian atau wilayah kelurahan Jagalan

DAFTAR GAMBAR

1. Gambar wawancara dengan informan pertama…………………… 44

2. Gambar wawancara dengan informan kedua………………………48

3. Gambar wawancara dengan informan ketiga………………………50

4. Gambar wawancara dengan informan keempat……………………54

5. Gambar wawancara dengan informan kelima……………………

56

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Pembangunan

moderen,

Indonesia

telah

berkembang

dengan

pesat.

Beberapa fasilitas infra struktur, seperti gedung, jalan bebas hambatan, jalan raya

dan taman, telah dibangun dengan mantap dan indah. Akan tetapi hal tersebut

mengalami hambatan bagi bangsa Indonesia yang dalam tahap berkembang,

hambatan tersebut dimulai sejak adanya krisis ekonomi yang berkepanjangan

sehingga bangsa Indonesia pada masa sekarang masih menghadapi pemasalahan

yang cukup kompleks, meliputi aspek politik, ekonomi, budaya, pendidikan serta

sosial

Minimnya

Pendidikan

Formal

masyarakat

Indonesia

merupakan

suatu

hambatan bagi bangsa Indonesia untuk berkembang maju. Berdampak negatif

terhadap keluarga tidak mampu atau keluarga golongan bawah. Dampak negatif

tersebut antara lain kemampuan keluarga dalam membiayai sekolah anaknya.

Bagi

keluarga

gelandangan,

permasalahan

yang

dialami

itu

bersifat

multi

demensional

sehingga

mengakibatkan

kehidupannya

semakin

terpuruk.

Munculnya

gelandangan

di

lingkungan

perkotaan

merupakan

gejala

sosial

budaya

yang

menarik.

Gejala

sosial

ini

kebanyakan

dikaitkan

dengan

perkembangan lingkungan perkotaan, karena didaerah kota sampai saat ini relatif

masih

membutuhkan

tenaga

yang

murah,

mendukung proses perkembangannya.

kasar

dan

tidak

terdidik

dalam

Kondisi semacam ini membuktikan bahwa semakin kuatnya dikotomi antara

kehidupan

yang

"resmi"

kota

dan

kehidupan

lain

yang

berbeda

atau

berseberangan

dengan

kontruksi

kehidupan

yang

resmi

tersebut.

Pada

kenyataannya Indonesia pada saat ini merupakan salah satu negara sedang

berkembang yang ketinggalan jauh dibandingkan dengan negara lainnya, seperti

Jepang, Korea, Cina, Malaysia dsb. Keterbelakangan itu menyangkut di bidang

ekonomi,

teknologi

maupun

bidang

pendidikan.

Guna

menanggula-ngi

hal

tersebut khususnya dibidang pendidikan, pemerintah berupaya mengadakan atau

lebih menekankan program Pendidikaa Wajib Belajar 9 Tahun. Karena kita

sadari pendidikan diajarkan sejak anak masih kecil, jadi bahwasannya anak

adalah

generasi

penerus

bangsa

yang

diharapkan

mampu

mendapatkan

pendidikan yang layak serendah-rendahnya setingkat SLTP sebagai bekal yang

berguna bagi masa depannya kelak, di samping itu anak dapat menikamati masa

kecilnya secara wajar dalam lingkup pergaulan yang layak. Hal ini perlu

diperhatikan agar anak dapat tumbuh dan mengembangkan kepribadianya seiring

dengan

bertambahnya

usia

sampai

berusia

16

tahun.

Program

tersebut

berlangsung dari tahun 1990. Program Pendidikan Wajib Belajar 9 Tahun yaitu

setiap anak minimal harus memiiki ijazah sampai Sekolah Lanjutan Tingkat

Pertama (SLTP) bukan hanya sekedar sampai bangku sekolah dasar.

Kenyataanya program tersebut hanya dapat dinikmati atau dilaksanakan

pada masayarakat golongan keluarga yang mampu, lain halnya dengan keluarga

yang

tidak

kebutuhan

mampu

(keluarga

sehari-hari

saja

gelandangan),

mereka

sudah

bagi

mereka

untuk

memenuhi

kurang,

apalagi

harus

untuk

memikirkan biaya akan pendidikan bagi anaknya. Keadaan seperti inilah yang

menyebabkan negara kita semakin terbelakang, karena Sumber Daya Manusia

(SDM) yang rendah itu menjadi salah satu faktor utama mengakibatkan kita

terpuruk. Keterpurukan itu berdampak negatif pada masyarakat, misal semakin

sulitnya

seseorang

mencari

suatu

pekerjaan,

karena

semakin

sempit

serta

semakin sedikitnya lapangan kerja yang ada sehingga rakyat sebagian hidup

dalam keadaan yang tidak memiliki daya, sehingga menjadi suatu penyakit

masyarakat yaitu Gelandangan.

Masalah gelandangan merupakan salah satu dari penyakit masyarakat yang

dari dahulu tidak dapat ditemukan jalan keluarnya. Contoh dari masalah itu

misalnya pemerintah sudah berupaya mengentaskan gelandangan tersebut dari

keadaan. Kenyataannya keadaan itu akan kembali lagi seperti semula. Masalah

tersebut akan terselesaikan apabila si gelandangan serta pemerintah berupaya

penuh akan pengentasan kemiskinan tersebut.

Masalah ini berkaitan erat dengan beberapa faktor penyebab gelandangan

yang paling dominan antara lain:

1. Kemiskinan

Kemiskinan baik kemiskinan kelembagaan maupun kemiskinan pribadi.

2. Lingkungan

Lingkungan juga merupakan salah satu faktor terjadinya gelandangan.

Yang paling utama dalam masalah ini adalah gelandangan yang sudah

mempunyai keluarga serta mempunyai anak. Dari sinilah sudah tampak baik

secara langsung maupun tidak langsung adanya "regenerasi" dari gelandangan itu

sendiri.

Umumnya keluarga gelandangan, khususnya orang tua tidak memikirkan

pendidikan anaknya dengan alasan kondisi miskin yang menimpa keluarga

tersebut. Orang tua tidak dapat memberikan bimbingan pada anak-anaknya,

padahal pendidikan serta bimbingan orang tua atau orang dewasa yang berada di

sekitar anak itu sangat dibutuhkan oleh anak pada usia pertumbuhan dan

perkembangan dalam hidup ini. Data tersebut merupakan gambaran umum, akan

tetapi juga banyak anak dari keluarga gelandangan yang dapat merasakan bangku

sekolahan.

Pengamatan peneliti selama ini menunjukkan bahwa peran orang tua sangat

dominan dalam pendidikan bagi anak. Lingkungan keluarga adalah lingkungan

yang

berperan

terhadap

perkembangan

diri

pribadi

anak.

Di

samping

itu

kesadaran dalam diri anak untuk tetap bersekolah minimal sampai tingkat

pendidikan lanjutan pertama masih kurang.

Masyarakat

golongan

kurang

mampu

(gelandangan),

pada

dasarnya

gelandangan masih memiliki ketangguhan dan ketrampilan dasar, hanya karena

sebab-sebab yang unik mereka tidak dapat hidup dan berkehidupan sebagai

masyarakat yang pada umunya. Sebenarnya anak dari keluarga gelandangan

membutuhkan dunia bermain maupun belajar di bangku sekolah. Umumnya

banyak anak dari keluarga gelandangan yang tidak dapat mengenyam bangku

sekolah serta mendapatkan bimbingan dari orang tua mereka dapat dilihat

diberbagai tempat seperti halnya di traffic light disitu dapat dilihat banyak anak-

anak yang berkeliaran pada jam-jam dimana semestinya anak-anak sekolah,

disisi lain ada juga sebagian yang dari keluarga gelandangan yang anaknya dapat

sekolah. Anak-anak dari keluarga gelandangan pada umumnya

malah harus

berfikir bahwa yang penting ialah untuk segera dapat memenuhi kebutuhan

dasarnya yakni pangan, sandang serta papan.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan dari latar belakang tersebut, masalah yang akan peneliti angkat

dalam penelitian ini adalah :

1. Bagaimana pandangan orang tua (gelandangan) terhadap anak?

2. Bagaimana pandangan orang tua (gelandangan) terhadap pendidikan anak?

3. Upaya apa yang dilakukan oleh orang tua (gelandangan) dalam mendorong

anak untuk memperoleh pendidikan?

Selama ini, 10 dari anak seorang gelandangan hanya 2/3 yang bersekolah,

maka dari itulah peneliti ingin mengetahui akan peran orang tua terhadap

pandangan maupun peran serta pendidikan anaknya. Anak yang sudah mengenal

akan pergaulan yang tidak semestinya dalam kategori yang negatif, maka mereka

akan

sulit

menerima

pendidikan

formal

maupun

pendidikan

non

formal.

Seharusnya keadaan seperti ini sebagai bahan pertimbangan bagi Pemerintah

Daerah guna perencanaan perkembangan suatu kota agar perkembangan yang

dicapai benar- benar berhasil. Masalah yang timbul dalam penelitian ini yaitu

"Bagaimana

keluarga

gelandangan

menyikapi

akan

pentingnya

pendidikan

formal anak". Penelitian ini dititik pusatkan di Jl Raya Pekojan Johar, Kelurahan

Njagalan Semarang Tengah, Jawa Tengah.

C.

Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini untuk :

1. Secara Umum

Mengetahui kehidupan sehari-hari dari gelandangan beserta anak-anak

mereka,

disini

dilihat

dari

bagaimana

gelandangan

tersebut

memenuhi

kebutuhan hidup yang meliputi pendapatan dan pendidikan anak mereka.

2. Secara Khusus.

a. Mengetahui pandangan gelandangan terhadap anak mereka

 

b.

Mengetahui

cara

pandang

gelandangan

terhadap

pendidikan

anak

 

mereka.

 

c.

Mengetahui

upaya

apa

yang

dilakukan

oleh

gelandangan

dalam

 

mendorong anak mereka untuk memperoleh pendidikan.

 

D.

Manfaat Penelitian

 

Penelitian ini dapat mempunyai beberapa manfaat yang antara lainnya:

 

1. Manfaat Teoritis:

 
 

Memberikan

tambahan

kajian

pengetahuan

tentang

suatu

gejala

sosial

kehidupan gelandangan.

2. Manfaat Praktis

Manfaat praktis ini ada dua manfaat yang pertama: dapat memberikan

manfaat

bagi

pemerintah

setempat

yang berupa

suatu

gambaran

untuk

perencanaan pembangunan kota serta guna menyukseskan Peadidikan Wajib

Belajar 9 Tahun. Manfaat yang kedua yaitu dapat memberikan manfaat bagi

keluarga gelandangan dalam mendidik anak.

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

A. Pendidikan

1. Pengertian pendidikan

Pandangan

umum

tentang

arti

pendidikan

yaitu

suatu

ilmu,

itu

merupakan pandangan masyarakat sebagian besar, atau sering juga yang

mengartikan pendidikan merupakan kegiatan yang disengaja atau dilakukan

dengan sadar yang dilakukan oleh seseorang. Sedikit dari pengertian umum

pendidikan

dapat

kita

jadikan

suatu

titik

nilai

yang

dasar

dalam

arti

pendidikan. Secara Umum dan mendasar Driyakarya mengatakan bahwa :

Pendidikan

adalah

upaya

memanusiakan

manusia

muda.

Pengangkatan

manusia

ke

taraf

insani

itulah

disebut

mendidik.

Pendidikan

ialah

pemanusiaan manusia muda (Dirjen Dikti, 1983/1984 :19).

Pengertian

dalam

Dictionary

Of

Education

menyebutkan

bahwa

pendidikan ialah proses seseorang mengembangkan kemampuan sikap dan

bentuk-bentuk tingkah laku lainnya di dalam masyarakat ia hidup, proses

sosial yakni orang dihadapkan pada pengaruh lingkungan yang terpilih dan

terkontrol

(khususnya

yang

datang

dari

sekolah),

sehingga

dia

dapat

memperoleh

atau

mengalami

perkembangan

kemampuan

sosial

dan

kemampuan individu yang optimal (Dirjen Dikti, 1983/1984 :19).

Ki Hajar Dewantara dalam kongres Taman Siswa yang pertama pada

tahun 1930 menyebutkan : pendidikan pada umumnya berarti daya upaya

untuk memajukan bertumbuhnya budi pekerti (kekuatan batin, karakter),

pikiran (intelek), dan tubuh anak, dalam Taman Siswa tidak boleh dipisah-

pisahkan bagian-bagian itu agar kita dapat memajukan kesempurnaan hidup,

kehidupan

dan

penghidupan

anak-anak

yang

kita

didik

selaras

dengan

dunianya.

GBHN Tahun 1973 disebutkan bahwa pendidikan pada hakikatnya

adalah usaha sadar untuk mengembangkan kepribadian dan kemampuan di

dalam dan di luar sekolah dan berlangsung seumur hidup. Dari uraian di atas,

maka pendidikan dapat diartikan sebagai:

a. Suatu proses pertumbuhan yang menyesuaikan dengan lingkungan.

b. Suatu pengarahan dan bimbingan yang diberikan pada anak dalam

pertumbuhannya.

c. Suatu usaha sadar untuk menciptakan suatu keadaan atau situasi tertentu

yang dikehendaki oleh masyarakat

d. Suatu

pembentukan

kedewasaan.

kepribadian

2. Ruang Lingkup Pendidikan

dan

kemampuan

anak

menuju

Ketetapan MPR No. II / MPR / 1993, tentang GBHN dinyatakan

bahwa

pendidikan

berlangsung

seumur

hidup

dan

dilaksanakan

dalam

lingkungan

rumah

tangga,

sekolah

dan

masyarakat.

Pendidikan

adalah

tanggung jawab bersama antara keluarga masyarakat dan pemerintah.

a) Pendidikan informal

Pendidikan informal adalah pendidikan yang diperoleh seseorang

di rumah dalam lingkungan keluarga. Pendidikan ini berlangsung tanpa

organisasi,

yakni

tanpa

orang

tertentu

yang

diangkat

atau

ditunjuk

sebagai pendidik, tanpa suatu program yang harus diselesaikan dalam

jangka waktu tertentu, tanpa evaluasi yang formal berbentuk tujuan.

Demikian pendidikan informal ini sangat penting bagi pembentukan

pribadi seseorang.

b). Pendidikan formal

Formal terdapat kata form atau bentuk. Pendidikan formal ialah

pendidikan yang mempunyai bentuk atau organisasi tertentu, seperti

terdapat di sekolah atau universitas yang mencakup adanya perjenjangan,

program atau bahan pelajaran untuk setiap jenis sekolah, cara atau

metode mengajar di sekolah juga formal, yaitu mengikuti pola tertentu,

penerimaan murid, homogenitas murid, jangka waktu, kewajiban belajar,

penyelenggaraan, waktu belajar dan uniformitas.

c). Pendidikan non formal.

Pendidikan non formal meliputi berbagai usaha khusus yang

diselenggarakan secara terorganisasi

terutama generasi muda dan juga

dewasa

yang

tidak

dapat

sepenuhnya

atau

sama

sekali

tidak

berkesempatan

mengikuti

pendidikan

sekolah

dapat

memiliki

pengetahuan praktis dan ketrampilan dasar.

Uraian tersebut di atas dapat diambil kesimpulan bahwa ruang lingkup

pendidikan meliputi:

(a)

Pendidikan Informal

(b)

Pendidikan Formal

(c)

Pendidikan Non formal

B. Pendidikan Anak

Anak

adalah

generasi

penerus

bangsa

yang

diharapkan

mampu

mendapatkan pendidikan yang layak serendah- rendahnya setingkat Sekolah

Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP) seperti yang dianjurkan pemerintah yaitu

Wajib Belajar 9 tahun. Pendidikan sebagai bekal yang berguna bagi masa

depannya kelak, disamping itu anak dapat menikmati masa kecilnya secara wajar

dalam lingkungan pergaulan yang baik.

Menurut Siti Rahayu Haditono cara pendidikan yang represif misalnya

cara mendidik anak dengan banyak memberikan tugas dan tututan yang dianggap

perlu bagi anak tersebut, tidak menguntungkan karena tidak bertitik tolak pada

individualitas

anak

hingga

lalu

bersifat

menekan/represif

(1987:150).

Kenyataannya kepentingan individu tidak selalu sesuai dengan kepentingan

masyarakat. Tetapi dalam mendidik/pendidikan anak itu memang tidaklah mudah

karena dalam hal ini agar mencapai hasil yang baik terhadap diri sang anak harus

diperhatikan atau disesuaikan dengan tahap-tahap perkembangan anak.

Ahli anak terkemuka Markum, mengatakan "Siapapun dapat mengasuh

anak

secara

berhasil

asalkan

mengerti

betul

tahap-tahap

dan

tugas-tugas

perkembangan, sehingga dalam masing-masing tugas perkembangan dapat diajak

maju

dan

dipacu

mencapai

perkembangan

yang

optimal"(Paulus

Mujiran,

2002:38). Kita juga harus memperhatikan akan tujuan Pendidikan itu sendiri,

yang kita tetapkan sekarang : Kita senang, apabila anak-anak itu telah berdiri

sendiri secara lain pula : jika itu mereka telah belajar berfikir sendiri, berichtiar

sendiri dan berbuat sendiri (Sugarda Purbakawatja, 1970:16).

dapat

melihat

akan

sedikit

berhasil

langkah

yang

kita

Dari situlah kita

tempuh

dalam

pendidikan/mendidik anak. Langkah tersebut belum dapat sepenuhnya dikatakan

berhasil.

C. Pengertian lingkungan

Lingkungan dalam pengertian umum, berarti situasi di sekitar kita. Dalam

lapangan pendidikan, arti lingkungan itu luas sekali, yaitu segala sesuatu yang

berada di luar diri anak, dalam alam semesta kita. Lingkungan ini mengitari

manusia

sejak

manusia

dilahirkan

sampai

dengan

meninggalnya.

Antara

lingkungan dan manusia ada pengaruh yang timbal balik, artinya lingkungan

mempengaruhi

manusia,

dan

sebaliknya,

manusia

juga

mempengaruhi

lingkungan di sekitamya. Lingkungan tempat anak mendapatkan pendidikan

disebut dengan lingkungan pendidikan

Supaya tidak menimbulkan salah pengertian, lingkungan sering pula

disebut sebagai faktor dalam. Lingkungan sering pula disebut dengan : Milieu,

envioronment. (Abu Ahmadi dan Nur Uhbiyati, 2001:64) Sejak anak lahir di

dunia,

anak

secara

langsung

berhadapan

 

dengan

lingkungan

yang

ada

di

sekitarnya.

Lingkungan

yang

dihadapi

anak,

pada

pokoknya

dapat

dibedakan/dikelompokkan sebagai berikut:

 

1. Lingkungan Budaya

 
 

Lingkungan

yang

berwujud

:

kesusasteraan,

kesenian,

ilmu

pengetahuan, adat istiadat, dan lain-lainnya. Dalam keluarga, akan kita

temukan buku-buku : buku bacaan, buku ilmu pengetahuan dan mungkin juga

dapat kita temukan benda-benda seni, seperti : hiasan dinding yang berwujud

wayang

kulit,

kain

tenun,

anyam-anyaman,

yang

semuanya

itu

dapat

mempengaruhi jiwa anak, baik karena dari melihat orang-orang dewasa

sekitarnya memanfaatkan benda-benda itu sendiri : pengaruh itu diterima

anak.

2. Lingkungan fisik

Lingkungan

alam

sekitar

anak,

yang

meliputi

jenis

tumbuh-

tumbuhan, hewan, keadaan tanah, rumah, jenis makanan, benda gas, benda

cair, dan juga benda padat.

3. Lingkungan sosial

Lingkungan ini meliputi bentuk hubungan antara manusia satu dengan

yang lainnya, maka sering pula disebut lingkungan yang berwujud manusia

dan hubungannya dengan atau antara manusia di sekitar anak. Termasuk di

dalamnya adalah : sikap atau tingkah laku antara manusia, tingkah laku ayah,

ibu, anggota keluarga yang lain, tetangga, teman.

Keluarga

merupakan

miniatur

dan

pada

masyarakat

dan

kehidupannya, maka pengenalannya, maka pengenalan kehidupan keluarga

sedikit atau banyak pasti akan memberi warna pada pandangan anak terhadap

hidup bermasyarakat. Dan juga corak kehidupan pergaulan di dalam keluarga

akan ikut menentukan atau mempengaruhi perkembangan diri anak. (Abu

Ahmadi dan Nur Uhbiyati, 2001:65 - 66)

4. Lingkungan Bermain Anak

Anak dalam perkembangan menuju kedewasaan akan mengalami

pergaulan secara luas dan umum dalam lingkungan tempat tinggalnya, baik

dengan teman sebaya maupun dengan orang yang lebih tua. Pergaulan atau

yang lebih dikenal dengan sosialisasi merupakan lapangan pendahuluan

pendidikan.

D. Pendidikan Keluarga

Ayat 4 pasal 13 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun

2000 tentang Sistem Pendidikan Nasional; pendidikan keluarga merupakan

bagian dari jalur pendidikan luar sekolah yang diselenggarakan dalam keluarga

dan

yang

memberikan

ketrampilan.

keyakinan

agama,

nilai

budaya,

nilai

moral

dan

Pendidikan keluarga termasuk pendidikan informal karena pendidikan

informal adalah proses pendidikan yang diperoleh seseorang dari pengalaman

sehari-hari dengan sadar ataupun tidak.

Unsur-unsur Pendidikan Keluarga

Unsur-unsur

pendidikan

dalam

keluarga

sebagaimana

ditulis

oleh

Thamrin

Nasution dan Nurhiljah Nasution dalam Sungaripan (2000 : 9-10) adalah:

1. Pemupukan rasa tanggung jawab Orang tua yang selalu menanamkan tanggung jawab pada anak dalam melaksanakan suatu tindakan / pekerjaan akan mendorong anak untuk berhati- hati dalam bertindak dan akan membentuk watak anak untuk berani mempertanggung jawabkan perbuatan-perbuatannya

2. Pemberian kebebasan pada batas-batas tertentu

Kebebasan yang diberikan kepada anak di sini adalah suatu kebebasan yang tidak melebihi batas-batas normatif, suatu kebebasan anak yang masih dalam pantauan orang tua. 3. Dorongan keberanian yang diberikan kepada anaknya untuk dapat berbuat sesuatu yang positif. Dorongan semangat (support) merupakan suatu yang penting, begitu pentingnya aspek ini sehingga jika tidak ada akan menyebabkan perilaku anak yang salah.

Pendidikan keluarga banyak pengertiannya serta banyak para ahli yang

berpendapat. Menurut Langeveled Mendidik adalah mempengaruhi anak dalam

usaha membimbingnya supaya menjadi dewasa. Usaha membimbing adalah

usaha yang disadari dan dilaksanakan dengan sengaja antara orang dewasa

dengan anak/yang belum dewasa.

Uraian di atas menunjukkan bahwa pendidikan yang sebenanya itu

berlaku

di

dalam

pergaulan

antara

orang

dewasa

dengan

anak.

Anak

merupakan mahkluk yang sedang tumbuh, oleh karena itu pendidikan penting

sekali karena mulai sejak bayi belum dapat berbuat sesuatu untuk kepentingan

dirinya, baik untuk mempertahankan hidup maupun merawat diri, semua

kebutuhan tergantung pada ibu/orang tua.

Setelah uraian pengertian Pendidikan, selanjutnya pengertian keluarga

menurut

Cooley

(Diknas,1980:4)

Suatu

kesatuan

hidup

yang

anggota-

anggotanya mengabdikan dirinya kepada kepentingan dan tujuan kesatuan

kelompok

dengan

rasa

cinta

kasih.

Maksudnya

dalam

mencapai

tujuan

kelompok dengan memperhatikan hak masing-masing anggota dan kemampuan

masing-masing

anggotanya.

Anggota-anggotanya

berkewajiban

tolong-

menolong.

Berdasarkan arti atau batasan mengenai bimbingan dan keluarga tersebut,

maka

pengertian

mengenai

bimbingan

keluarga

adalah

:

bantuan

yang

diberikan kepada keluarga untuk meningkatkan kesadaran dan tanggung jawab

anggota

keluarga

serta

memberikan

pengetahuan

dan

ketrampilan

demi

terlaksananya usaha kesejahteraan keluarga.

Menurut pendapat Bapak Pendidikan kita yaitu Ki Hajar Dewantara

(1939:71) mengenai pendidikan keluarga, bahwa dalam keluarga adalah "yang

pertama dan yang terpenting, oleh karena sejak timbulnya adab kemanusiaan

sampai kini, hidup keluarga itu selalu mempengaruhi bertumbuhnya budi

pekerti dari tiap-tiap manusia". Dan dilanjutkan mulai kecil hingga dewasa

anak-anak hidup ditengah keluarganya. Pendidikan keluarga merupakan usaha

pendidikan yang terpenting, sebab sudah dimulai, sejak manusia itu lahir dan

berada dalam lingkungan keluarganya, bahkan dapat dimulai sejak manusia

dalam kandungannya, karena keluarga merupakan komunitas pertama yang

mempengaruhi terhadap anak itu sendiri.

Menurut Suryohadiprojo, (1987:96-97) mengatakan bahwa di dalam lingkungan keluarga juga dapat dilakukan ketiga aspek pendidikan yaitu pendidikan mental, pendidikan fisik, dan intelektual dalam intensitas yang cukup besar. Tetapi biasanya ketiga aspek tersebut sulit bisa berjalan sama imbangnya dalam kehidupan pada era sekarang, ketiga aspek tersebut akan berhasil bila lingkunganpun mendukung.

Sebuah keluarga yang paling berperan dalam pendidikan keluarga disini

ialah para orang tua lalu dibantu oleh orang dewasa yang berkewajiban dan

bertanggung

jawab

atas

pendidikan

anak-anak

yang

berada

di

bawah

asuhannya. Para orang tua sebelumnya harus mempunyai niat keras untuk

mendidik anaknya untuk lebih maju dalam kehidupannya dibandingkan dengan

kehidupan

orang

tua

sebelumnya,

karena

niat

tersebut

merupakan

suatu

motivasi tersendiri dalam mendidik dan membina anak-anaknya, bila orang tua

tersebut sudah mempunyai motivasi maka dengan sendirinya akan timbul rasa

kasih sayang atau hubungan lahir batin, emosional-nasional yang bersumber

dari kekuatan Tuhan YME. Melalui rasa kasih sayang itu para orang tua

membimbing

anak-anaknya,

dengan

memberikan

pandangan

tentang

kehidupan yang sudah dimulai sejak anak masih kecil (Suryohadiprojo, 1987

:97).

Sejalan dengan dua pendapat para ahli tersebut di atas, Undang-Undang

Republik

Indonesia

Nomor

20

Tahun

2003

tentang

sistem

Pendidikan

Nasional, di dalam pasal 13 ayat 4, disebutkan bahwa Pendidikan Luar Sekolah

meliputi keluarga, kelompok belajar, kursus, dan satuan pendidikan yang

sejenisnya.

Kemudian

pasal

10

ayat

4

berbunyi

:

Pendidikan

keluarga

merupakan bagian dari jalur Pendidikan Luar Sekolah yang diselenggarakan

dalam keluarga dan memberikan keyakinan agama, nilai budaya, nilai moral

dan ketrampilan.

E. Gelandangan

1. Pengertian gelandangan

Gaya hidup pemulung jalanan atau sering disebut gelandangan sering

dianggap negatif dan kehadiran mereka dipandang sebagai suatu perma-salahan

sosial masyarakat kota. Pemerintah cenderung menyalahkan gelandangan atau

orang

jalanan

apabila

terjadi

masalah

kekumuhan

lingkungan

kota

dan

kekurang keindahan kota. Disamping itu, "kondisi hidup tidak pasti" mereka

dianggap mengurangi kenyamanan hidup masyarakat kota. Penggambaran

Murray tentang "Mitos Marginalitas" dalam kasus orang luar dan penghuni

kampung relatif cocok untuk memberi ilustrasi tentang stereotipe sebagian

besar

masyarakat

terhadap

Twikromo,1999:5)

kelompok

pemulung

jalanan

(Y.

Argo

Kehidupan sehari-hari dikampung adalah strategi untuk bertahan hidup,

berlawanan dengan "mitos marginalitas" yang dari sudut pandang orang luar dalam menggambarkan orang-orang, ini sebagian masa marginal yang melimpah ruah jumlahnya dengan budaya kemiskinan, dan sebagai lingkungan

pelacuran, kejahatan, dan ketidak amanan

luar, kejam, dan kota "(Murray, 1994:18)

sumber

Pengertian gelandangan dalam buku yang berjudul gelandangan, LP3ES

menurut

Wirosardjono

(1998

:

66)

adalah

fenomena

kemiskinan

sosial,ekonomi dan budaya yang dialami sebagai amat kecil penduduk kota

besar

hingga

menempatkan

mereka

pada

lapisan

sosial

paling

bawah

dimasyarakat kota. Walaupun mereka bekerja lebih keras, punya kegiatan

tertentu yang teratur dan pendapatan yang mendukung daya tahan mereka tetap

tinggal dikota, tetapi cara hidup, nilai dan norma kehidupan mereka dianggap

"menyimpang" dari nilai yang diterima masyarakat banyak.

Umumnya golongan masyarakat kurang beruntung seringkali dianggap

pemalas, kotor, dan tidak dapat dipercaya, hal ini teryata tidak selalu benar.

Kenyataannya, mereka mempunyai pekerjaan yang relatif tetap, misalnya

mencari puntung rokok, barang bekas (pemulung), kuli kasar, kuli pelabuhan,

dan sebagainya; mereka bekerja cukup keras dan tidak malas.

Sadli (1988:125) mengatakan bahwasanya gelandangan pada kenyataannya tidak mempunyai tempat tinggal yang pasti atau tetap;tidak mempunyai penghasilan yang tetap;tidak mengetahui apa yang akan dimakan untuk hari ini; tidak dapat merencanakan hari depan dirinya ataupun anak-anaknya; tidak dapat memberikan bimbingan kepada anak- anak yang mereka lahirkan bukan yang dibawah asuhannya, yakni sesuatu yang dibutuhkan oleh seseorang anak sebagai makhluk yang masih dalam usia perkembangan tertentu di dalam proses sosialisasinya.

Kedua pengertian tersebut mengandung maksud bahwa gelandangan

adalah orang yang tidak tentu tempat tinggalnya, pekerjaannya, dan arah tujuan

kegiatannya. Pengertian ini sebenarnya kurang menggambarkan kenyataan

yang

ada

karena

kaum

gelandangan

sebenarnya

relatif

tetap

dan

tujuan

kegiatan yang jelas dalam usaha memenuhi kebutuhan hidupnya salah satu

pengertian yang diberikan Muttalib dan Sudjarwo (1984:18), gelandangan

mengandung pengertian sekelompok orang miskin atau dimiskinkan oleh

masyarakat, orang yaag disingkirkan dari kehidupan khayalak ramai, dan

merupakan cara hidup agar mampu bertahan dalam kemiskinan.

Menurut Sadli (1988: 131), mengemukkan bahwasannya lingkungan keluarga yang ditandai oleh kondisi kemiskinan menghasilkan masalah anak gelandangan. Proses sosialisasi yang berlangsung dalam lingkungan yang serba "tidak" menyebabkan beberapa ciri khas pada anak-anak mereka. Berbeda dengan (Rahardjo, 1988:143) "Gelandangan bukannya berasal

dari orang-orang atau keluarga gelandangan pada akhirnya bisa mengatasi

masalah mencari kerja". Mereka mencari kerja musiman, dan tidak mempunyai

tempat tinggal dan tak berhasil mendapatkan pekerjaan yang tetap, atau mereka

kemudian membuat pemukiman- pemukiman liar di kota-kota besar. Sebagian

dari mereka kemudian memilih "Pekerjaan" dengan jalan meminta-minta,

mencari barang, bekas, mengais sampah, mencopet, menjadi tukang parkir liar,

bergabung

dengan

kelompok-kelompok

yang

berbuat

kejahatan,

menjadi

"Penjaga keamanan" informal dengan memungut "iuran" gelap untuk tidak

melakukan kejahatan, menjadi pelacur liar dan sebagainya.

2. Karakteristik gelandangan

Lingkungan

keluarga

yang

ditandai

oleh

kondisi

kemiskinan

menghasilkan masalah anak gelandangan. Laporan dari penampungan anak-

anak gelandangan di daerah RS. Fatmawati, Jakarta Selatan : ciri secara umum

akan anak gelandangan ditinjau dari segi psikologis adalah :

a. Anak-anak ini lekas tersinggung perasaannya.

b. Anak-anak ini lekas putus asa dan cepat mutung, kemudian nekad tanpa dapat dipengaruhi secara mudah oleh orang lain yang ingin membantunya.

c. Tidak berbeda dengan anak-anak pada umumnya mereka menginginkan kasih sayang.

d. Anak-anak ini biasanya tidak mau tatap muka, dalam arti bila mereka diajak bicara, tidak mau melihat orang lain secara terbuka.

e. Sesuai dengan taraf perkembangannya yang masih kanak-kanak mereka sangat labil.

f. Mereka memiliki suatu ketrampilan, namun ketrampilan ini tidak sesuai bila diukur dengan ukuran normatif kita.

Menurut

pengertian

dari

Biro

Pusat

Statistik

(BPS)

dalam

sensus

penduduk tahun 1980, bahwa gelandangan hanya terbatas pada mereka yang

memiliki tempat tinggal di dalam kehidupan rumah tangga (RT) dan kawasan

pemukiman liar yang ada, seperti di emper-emper toko, pasar, stasiun kereta

api, terminal bis, dibawah jembatan, dan tempat lainnya. Sedangkan pengertian

gelandangan

menurut

sensus

penduduk

tahun

1961

dan

1971,

definisi

operasional dari gelandangan adalah mereka yang tidak memiliki tempat

tinggal "tetap" tidak termasuk dalam wilayah pencacahan atau blok sensus

yang ada (Sardjono,1984:60). Menurut tarafnya ada 3 macam kelompok

gelandangan yakni meliputi:

1)

Gelandangan yang masih berhubungan dengan masyarakat normal.

Gelandangan ini masih berkelompok dengan gelandangan lainnya,

dan biasanya mereka menolak makanan yang ada di pembuangan sampah.

Mereka

masih

mengutamakan

mandi,

mencuci

pakaian,

tidur

secara

berkelompok dan kelompoknya bersifat terbuka bagi gelandangan lain.

2)

Gelandangan berkelompok dan mempunyai organisasi tertutup dan

tegar.

Mereka pada umumnya mengambil makanan dari tempat sampah,

tidak

berhubungan

dengan

masyarakat

normal,

masih

mengutamakan

mandi dan mencuci pakaian. Tetapi, mereka hanya akan tidur bersama

dengan sesama anggota organisasi mereka.

3)

Gelandangan yang tidak mempunyai kelompok.

Biasanya mereka mengambil makanan dari tempat sampah, tidak mau

berkomunikasi dengan masyarakat normal. Mereka jarang mandi atau

mencuci pakaiannya, namun tidak selalu menyendiri dan tidak mempunyai

kelompok.

Menurut penelitian saraswati, dalam studi di kampung sawah Jakarta

dimana keadaan sosial ekonomi penduduknya mendekati dengan kategori

penduduk gelandangan, menemukan beberapa finding yang cukup menarik,

yaitu:

a).

Ada

perasaan

ketidak

pastian

hidup,

keputusasaan dan apatisme

walaupun

tidak

membawa

b). Adanya rasa solidaritas dan kemampuan adaptasi yang tinggi diantara

mereka.

c). Berfungsi sub kultur kemiskinan atau sub kultur gelandangan yang berbeda

norma nilai dan perilakunya dengan yang berlaku di masyarakat luas.

d). Sikap menerima nasib dari kehidupan yang miskin.

e). Pengagungan mereka terhadap apa yang disebut kerja bebas atau kebebasan,

yaitu pekerjaan yang tidak di kendalikan oleh orang lain.

3. Mengapa menggelandang

Masa sekarang ini gejala gelandangan cenderung dipandang sebagai

gaya hidup yang negatif. Pada umumnya gejala ini dipandang sebagai gejala

sosial

yang

berlawanan

dengan

arah

perkembangan

kota,

dimana

kaum

gelandangan

merupakan

kelompok

masyarakat

yang

tersingkirkan

karena

kurang bisa melibatkan dan dalam proses perkembangan kota atau tidak

mempunyai kemampuan untuk bersaing dengan kelompok masyarakat lain

dilingkungan perkotaan (Y. Argo Twikromo: 8).

Berdasarkan catatan Muttalib dan Sudjarwo (1984) menggelandang dan

gelandangan

justru

dipandang

sebagai

sarana

yang

tepat

untuk

berjuang

melawan pemerintah kolonial Belanda. Namun makna positif gaya hidup

menggelandang tersebut tidak bertahan lama. Hidup menggelandang dianggap

tidak

cocok

dengan

norma-norma

budaya

masyarakat

Indonesia.

Dalam

konteks

perkembangan

konstruksikan

sebagai

kota

akhir-akhir

kehidupan

yang

ini,

kehidupan

gelandangan

di

berlawanan

dengan

aspek-aspek

keamanan, ketertiban, kebersihan, kestabilan dan ketentraman suatu kota.

Blau (1992) menawarkan suatu interpretasi tentang gelandangan, yaitu

tidak dengan mempercayai beberapa mitos yang berhubungan dengan kondisi

gelandangan, seperti sakit mental, pemabuk dan kecanduan alkohol, dan malas,

tetapi lebih menekankan pada pilihan-pilihan yang mungkin menyebabkan

seseorang menjadi gelandangan. Pada awalnya, tidak tersedianya "ruang hidup"

bagi mereka didaerah perkotaan telah mengantarkan mereka pada suatu pilihan

hidup

sebagai

gelandangan.

Dalam

keterbatasan

"ruang

hidup"

sebagai

gelandangan tersebut, mereka berjuang untuk sekedar dapat bertahan hidup di

daerah perkotaan dengan berbagai macam strategi, seperti menjadi pemulung,

pencopet,

pencuri,

pengemis,

pekerja

seksual,

pengamen

dan

pengasong.

Perjuangan hidup sehari-hari mereka mengandung resiko yang cukup berat,

tidak hanya karena tekanan ekonomi, tetapi juga tekanan sosial-budaya dari

masyarakat, kerasnya kehidupan jalanan dan tekanan dari aparat ataupun

petugas ketertiban kota.

Menurut

Kamus

Umum

Bahasa

Indonesia

dari

Poerwadarminta,

bergelandang adalah "berjalan kesana sini tidak tentu maksudnya". Sedang

orang gelandangan adalah "orang yang bergelandang (tidak tentu tempat

kediamannya

dan

pekerjaannya)".

Orang

gelandangan

jadi

yang

meng-

gelandang mungkin tidak tentu tempat kediamannya dan pekerjaannya, tetapi

"berjalan kesana sini tidak tentu maksudnya"(Umar Khayam, 1988:149).

Gelandangan yang memungut puntung rokok, pekerja "pocokan" jalan atau bangunan, pelacur kelas paling bawah yang melacur disela-sela gerbong kereta api atau pangkalan becak dan sebagainya, maksud dari itu semua ialah mencari nafkah. Meskipun demikian mempunyai kediaman tetap (bahkan konon ada yang tinggal dikediaman cukup mapan dan menyenangkan), toh dapat dikatakan, bahwa mereka biasa dimasukkan kedalam kategori "gelandangan"(Umar Khayam, 1988 :149-150).

Kondisi serba tidak tetap itu sendiri, baik dari sudut tempat kediaman,

pekerjaan,

pendapatan

maupun

perjalanan,

tidak

atau

belum

menentukan

formal kategori gelandangan. Bahkan juga dengan sendirinya unsur kemiskinan

akan menentukan predikat gelandangan. Dari berbagai alasan tersebut diatas

mengapa seseorang menggelandang

BAB III

METODE PENELITIAN

Bagian

ini

dipaparkan

tentang:

1.Pendekatan

penelitian,

2.Lokasi

penelitian,3. Fokus penelitian,4. Tahap-tahap penelitian,5. Sumber data,6.Teknik

pengumpulan data, 7. Kriteria keabsahan data, dan 8.Analisis data.

1. Pendekatan Penelitian

Supaya

peneliti

dapat

mendiskripsikan

secara

jelas

dan

rinci

serta

memperoleh

data

mendalam

dari

fokus

penelitian

maka

penelitian

ini

menggunakan pendekatan kualitatif dengan alasan memiliki ciri-ciri tertentu

sebagaimana menurut Lincoln dan Guba (Lexy J.Moeleong, 1993: 4-8) yang

mengulas 10 ciri penelitian kualitatif yaitu:1. Dilakukan pada latar ilmiah,

2.

Manusia sebagai alat instrumen, 3. Metode kualitatif, 4. Analisis data secara

induktif,5. Arah penyusunan teori berasal dari dasar(ground theory),6. Bersifat

diskriptif, 7. Mementingkan proses dari pada hasil, 8. Ditetapkannya batas dasar

fokus, 9. Adanya kriteria khusus untuk ke absahan data, 10. Desain bersifat

sementara.

Penelitian

diskriptif

kualitatif

memungkinkan

pencarian

fakta

dengan

interpretasi yang tepat, memungkinkan mengkaji masalah-masalah normatif

sekaligus membuat perbandingan antar fenomena.

2.

Lokasi penelitian

Lokasi penelitian ini dilaksanakan di Pekojan Johar, Kelurahan Jagalan

Semarang Tengah, Kota Semarang, Jawa Tengah, karena wilayahnya merupakan

salah satu daerah pemukiman kumuh di kota Semarang.

3. Fokus Penelitian

Fokus penelitian ini adalah berupa upaya masyarakat pemukiman kumuh

yang didalamnya gelandangan, dalam meningkatkan pendidikan formal anak ,

dan

bagaimana

belajarnya.

seorang

gelandangan

mendidik

anaknya

dalam

hal

proses

a. Aspek Pendidikan, terdiri dari pendidikan formal dan pendidikan nonformal

1)

Pendidikan formal terakhir yang dimiliki gelandangan

 

2)

Tingkat pendidikan anaknya sekarang

 

3)

Tujuan yang akan dicapai dalam pemenuhan kebutuhan pendidikan anak

dari gelandangan

 

4)

Pembiayaan

dalam

pemenuhan

kebutuhan

pendidikan

sarana

dan

prasarana dalam pendidikan

 

5)

Proses pelaksanaan pemenuhan kebutuhan pendidikan

 

4. Tahap-tahap Penelitian

Penelitian ini meliputi tahap pralapangan, tahap pelaksanaan penelitian,

dan tahap akhir penelitian.

a. Tahap pra lapangan

Tahap ini peneliti melakukan kegiatan meliputi: 1. Konsultasi dengan

dosen pembimbing tentang tema penelitian, 2. Pemilihan lokasi (setting)

penelitian terkait dengan tema penelitian, 3. Melakukan pra survey terlebih

dahulu ke daerah yang akan diteliti, 4. Pembuatan proposal dan instrumen

penelitian,

5.

Menyiapkan

instrumen

penelitian

dengan

formula pertanyaan yang terkait dengan fokus penelitian,

cara

membuat

6.Mengurus

perizinan penelitian ke dinas terkait, 7.Orientasi atau eksplorasi yang bersifat

menyeluruh (grand tour observation)

Langkah

berikutnya,

penulis

melakukan

kunjungan

lapangan

pendahuluan untuk mengadakan observasi mengenai sasaran penelitian yang

bersifat umum. Kunjungan lapangan penelitian diawali dengan berkunjung ke

rumah tokoh masyarakat. Hal ini diharapkan dapat memperoleh gambaran

secara umum daerah penelitian, misalnya tentang kondisi wilayah, kebiasaan-

kebiasaan, dan karakteristik penduduk. Selanjutnya, penulis juga berusaha

untuk memperkenalkan diri dan berdiskusi tentang informasi yang terkait

dengan sasaran penelitian. Hal ini dimaksudkan untuk mengetahui dan

menentukan siapa yang akan dijadikan informan dan subyek penelitian.

Informan dipilih atas petunjuk tokoh masyarakat yang sudah mengetahui

karakteristik penduduk setempat.

b. Tahap Pelaksanaan Penelitian

Tahap ini penulis melakukan kunjungan lapangan kedua. Eksplorasi

pada tahap ini lebih dilakukan pada fokus penelitian yaitu upaya masyarakat

pemukiman kumuh dalam meningkatkan pemenuhan kebutuhan hidup. Selain

itu, penulis juga meneliti segala gejala masyarakat yang terkait dengan

penelitian, dan mencari informasi atau data yang dapat dijangkau pada saat

pengamatan , yakni dengan cara wawancara atau berdiskusi dengan informan.

Penulis juga mencari data-data sekunder pada kantor kelurahan mengenai

kondisi daerah pemukiman kumuh dan kependudukan.

c. Tahap Akhir Penelitian

Tahap berikutnya setelah data terkumpul, data direduksi dan dianalisis

lebih intensif. Analisis data ini dilakukan secara terus menerus dengan

mengkaitkan masing-masing rincian atau detail konsep yang selanjutnya

dapat untuk mendiskripsikan suatu gejala yang ada.

Kegiatan Selanjutnya, berupa penyajian data. Kegiatan penyajian data

dapat dilakukan dengan mensintesis antara data yang berasal dari informan

(emik) dengan data penulis (etik). Penyajian data tersebut merupakan hasil

dari sintesis data yang berupa penyajian sementara yang menghasilkan suatu

simpulan.

Simpulan ini harus dicek kebenarannya. Cek data dilakukan secara

terus menerus dari awal hingga akhir penelitian dan membandingkan antara

informan yang satu dengan yang lain. Kemudian penulis baru menyusun

laporan sementara, setelah melalui evaluasi dengan jalan konsultasi dengan

dosen pembimbing, diteruskan dengan pembuatan laporan akhir penelitian

(finalisasi laporan penelitian).

5. Sumber Data

Sumber data diperoleh dari kenyataan di lapangan melalui subyek penelitian.

Data subyek yang diperoleh dari subyek yang banyak mengetahui dan mempunyai

kemampuan lebih yang terkait dengan permasalahan yang menjadi tema penelitian.

Pemilihan subyek tertentu, dengan sendirinya perlu dilakukan secara purposif. Dalam

proses pengumpulan data tentang suatu topik, bila variasi informasi tak muncul atau

tidak ditemukan lagi maka penulis tak perlu lagi melanjutkannya dengan mencari

informasi baru, artinya subyek bisa sangat sedikit (beberapa orang saja) tetapi bisa

juga banyak. Terdapat tiga tahap dilakukan dalam pemilihan subyek pada penelitian

ini yaitu:

a. Pemilihan subyek awal, supaya lebih produktif dapat peroleh informasi,

melalui wawancara atau observasi.

b. Pemilihan

lanjutan

guna

memperluas

informasi

dan

melacak

segenap

informasi yang mungkin ada, yaitu dengan menggelinding kepada subyek-

subyek lanjutan sehingga segenap macam karakteristik elemen-elemen yang

diperlukan dapat diperoleh data atau informasinya.

c. Menghentikan pemilihan subyek lanjutan, sekiranya sudah tidak muncul lagi

informasi-informasi baru yang bervariasi dengan informasi-informasi yang

telah diperoleh sebelumnya.

Proses menyebarnya sampel ini memakai snow ball sampling, suatu proses

menyebarnya sampel yang seibarat bola salju, yang pada mulanya kecil, kemudian

semakin membesar dalam proses bergulir menggelindingnya (Faisal, 1990: 56-60)

Sasaran data penelitian ini yakni masyarakat pemukiman kumuh. Informan

dalam penelitian ini yaitu gelandangan tersebut serta lingkungannya antaranya dua

penjual yang ada didepan serta pojokan gang dimana penelitian ini berlangsung.

6. Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah

sebagai

berikut:1.

Teknik

pangamatan

langsung,2.

Dokumentasi (Lexy J. Moleong, 1998; 100).

Teknik

wawancara

3.

Pada kegiatan ini teknik pengumpulan data dilakukan dengan cara:

a. Teknik pengamatan langsung

Teknik pengamatan langsung (structured observation), observasi yakni

pengamatan yang disertai dengan kerangka yang memuat faktor-faktor yang telah

diatur kategorisasinya terlebih dahulu, dan ciri-ciri khusus dari tiap-tiap faktor

dalam kategori-kategori itu.

Materi observasi, isi dan luas situasi yang akan diobservasi umumnya

lebih terbatas. Sebagai alat untuk penyelidikan deskriptif, dan berlandaskan pada

perumusan-perumusan yang lebih khusus. Wilayah dan scope observasinya

dibatasi dengan tegas sesuai dengan tujuan penelitian, cara-cara pencatatan pada

observasi ini memberikan jawaban-jawaban, responses, atau reactions yang dapat

dicatat secara teliti.

b. Teknik Wawancara

Teknik

wawancara

digunakan

untuk

menjaring

informasi

mengenai

persoalan yang dihadapi dalam usahanya untuk memenuhi kebutuhan hidup.

Teknik ini digunakan untuk memperoleh data mengenai upaya masyarakat yang

meliputi aspek pendapatan, pendidikan, dan kesehatan.

Teknik wawancara ini diharapkan kejadian yang lalu dapat direkontruksi

(tatanan kota). Pertanyaan dalam wawancara ini diajukan kepada masyarakat

dengan memperhatikan pertanyaan apa, kapan, dimana, siapa, bagaimana, dan

mengapa. Pokok-pokok materi yang ditanyakan disusun sebelumnya, kemudian

dikembangkan di lapangan disesuaikan dengan kondisi riil yang berkembang di

masyarakat.

Setiap

selesai

melakukan

wawancara

kemudian

dicatat

dalam

catatan lapangan. Teknik ini tidak digunakan secara terangan-terangan. Hal ini

untuk menghindari kekawatiran bahkan kekuatan dari informan yang selanjutnya

berpengaruh pada kualitas dari hasil jawaban.

Alat pengumpul data ini dapat dilakukan dengan cek antara informan satu

dengan yang lain. Data melalui wawancara ini dilakukan secara terus menerus

karena untuk membandingkan antara informan yang satu dengan informan yang

lain.

c. Teknik Dokumentasi

Teknik ini digunakan untuk memperoleh informasi, memahami dan

memecahkan masalah tentang data yang diperlukan yang sudah tersedia di

instansi terkait. Data yang diperoleh dengan teknik ini berupa data skunder yang

berhubungan dengan data wilayah dan data penduduk sesuai monografi yang ada.

7. Kriteria dan Teknik Keabsahan data

Guna menetapkan keabsahan (trust worthiness) data diperlukan teknik

pemeriksaan.

Pelaksanaan

teknik

pemeriksaan

didasarkan

atas

triangulasi.

Denzin (1978) membedakan empat macam yaitu teknik pemeriksaan yang

memanfaatkan sumber, metode, penyidik, dan teori.

Triangulasi

berarti

membandingkan

dan

mengecek

balik

derajat

kepercayaan suatu informasi yang diperoleh melalui waktu dan alat yang berbeda

dalam metode kualitatif (Patton, 1987: 331). Hal ini dapat dicapai dengan jalan

membandingkan data hasil pengamatan dengan hasil wawancara, apa yang

dikatakan di depan umum dengan apa yang dikatakan pribadi.

Triangulasi dengan metode menurut Patton (1987: 331), terdapat dua

strategi, yaitu: pengecekan derajat kepercayaan penemuan hasil penelitiaan

beberapa

teknik

pengumpulan

data,

dan

pengecekan

derajat

kepercayaan

beberapa sumber data dengan metode yang sama.

 

Triangulasi

dengan

teori,

menurut

Lincoln

dan

Guba

(1987:

307),

berdasarkan

anggapan

bahwa

fakta

tertentu

tidak

dapat

diperiksa

derajat

kepercayaannya dengan satu alat lebih teori. Dipihak lain, Patton (1987: 327)

berpendapat

lain,

yaitu

bahwa

hal

itu

dapat

dilaksanakan

dan

hal

itu

dinamakannya penjelasan banding (rival explanation).

Penelitian ini menggunakan triangulasi teori dan triangulasi sumber, untuk

mengetahui

upaya

masyarakat

pemukiman

kumuh

dalam

meningkatkan

pemenuhan

kebutuhan

hidup

di

perkampungan

melarat

Jl

Pekojan

Johar,

Kelurahan Jagalan, Kecamatan Semarang Tengah , Jawa Tengah.

8. Teknik Analisis Data

Tindakan analisis data dilakukan secara terus menerus dari awal hingga akhir.

Berdasarkan fenomena yang terjadi, di daerah tersebut data dapat diperoleh dari dua

sumber yakni data dari subyek (emik) dan data hasil pengamatan penulis (etik). Data

atau informasi yang diperoleh dari masing-masing sumber disusun berdasarkan

golongan, tema, pola, dan sekaligus diberi makna. Selanjutnya diadakan interpretasi

yakni dengan menjelaskan gejala-gejala yang ada mencari keterkaitan antara gejala-

gejala tersebut yang telah ditemukan di lapangan.

Fenomena masyarakat pemukiman kumuh, diusahakan bisa dicari melalui

informan yang dianggap tahu dan dijadikan sebagai data informan, penulis mencari

data sendiri dengan cara melakukan pengamatan langsung. Informasi dari subyek dan

data hasil penulis telah terkumpul. Setelah itu dicek dan recek antara data dari

subyek dan data pengamatan untuk dicari sintesisnya atau benang merahnya. Dari

hasil

sintesis

tersebut,

kemudian

dijadikan

tulisan

sementara.

Hal

ini,

karena

terutama bila suatu saat terjadi penambahan atau perubahan, dan kedua karena

adanya penambahan-penambahan, setelah merasa cukup tidak terdapat perubahan-

perubahan dan penambahan maka dijadikanlah tulisan akhir.

Model analisis data akan disajikan dalam bagan seperti dibawah ini

Teknik Analisis Data Pengumpulan Penyajian data data Reduksi Kesimpulan data Penggambaran/verifiksi
Teknik Analisis Data
Pengumpulan
Penyajian
data
data
Reduksi
Kesimpulan
data
Penggambaran/verifiksi

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Gambaran Umum Gelandangan di Kota Semarang.

Kota Semarang sebagai Ibu Kota Propinsi Jawa Tengah tidak jauh berbeda

dengan kota-kota lain di Indonesia, yang tidak bisa menyangkal kenyataan atas

keberadaan golongan

masyarakat yang sering disebut dengan istilah kaum

gelandangan. Walaupun secara fisik keberadaan mereka di lingkungan perkotaan,

akan tetapi kehadiran mereka belum secara untuh dapat diterima sebagai bagian

dari lingkungan sosial budaya kota Semarang. Gelandangan sebagai salah satu

kehidupan

yang

berbeda

dengan

kehidupan

kota

yang

“resmi”,

cenderung

ditempatkan dalam posisi yang kurang diuntungkan, bahkan dipandang sebagai

suatu kehidupan yang bercitra negatif

Upaya-upaya untuk memecahkan permasalahan gelandangan juga sudah

banyak dilakukan, baik yang dilakukan oleh instansi pemerintah maupun swasta

seperti Dinas Sosial Propinsi sebagai aparat Gubernur, Dinas Sosial Pemerintah

kota sebagai aparat Walikota, kantor wilayah Departemen Sosial Republik

Indonesia sebagai aparat menteri sosial dan lembaga swadaya masyarakat, Dinas

Sosial juga mempunyai data jumlah para gelandangan serta para pemulung yang

ada di wilayah Semarang. Pada tahun 2004 jumlah keseluruhan kurang lebihnya

ada 1.041 orang, data tersebut sewaktu-waktu dapat berubah, dibawah ini dapat

kita lihat perincian data yang diperoleh dari Dinas Sosial antara lain :

No

Kecamatan

Jumlah

1

Mijen

30

2

Gunungpati

10

3

Smg Selatan

105

4

Banyumanik

51

5

Gajahmungkur

12

6

Genuk

41

7

Pedurungan

27

8

Gayamsari

57

9

Smg Timur

95

 

10 Candisari

30

 

11 Tembalang

15

 

12 Smg Utara

81

 

13 Smg Tengah

263

 

14 Smg Barat

67

 

15 Tugu

30

 

16 Ngaliyan

27

 

Jumlah

1.041

Tabel 1. Data Umum Gelandangan di Kota Semarang.

Ada beberapa upaya pemecahan masalah gelandangan yang dilakukan oleh

lembaga-lembaga diatas relatif sama yaitu upaya secara persuasive, represif,

kuratif dan preventif. Preventif merupakan upaya yang dilaksanakan secara

terorganisir

yang

meliputi

penyuluhan,

bimbingan,

latihan

pendidikan,

pemberian bantuan, pengawasaan, pembinaan lanjut, serta latihan ketrampilan.

Upaya represif dilakukan untuk mengurangi atau mencegah adanya gelandangan

yaitu dengan cara razia, penampungan dan pelimpahan: sedangkan upaya kuratif

dilakukan mulai dari motivasi, bimbingan, latihan keterampilan sampai dengan

pembinaan

lanjut

kepada

gelandangan

agar

dapat

hidup

mandiri

dalam

masyarakat.

Kita

lihat

secara

teoritis

maupun

pada

tatanan

praktek

upaya

yang

dilakukan oleh instansi pemerintah ataupun swasta sangat maksimal, sehingga

tidak ada salahnya bila pemerintah kota Semarang / Propinsi mengklaim telah

mengentaskan banyak gelandangan melalui program-program pengentasan yang

ada. Namun demikian tidak sedikit gelandangan yang telah ikut program itu

kemudian kembali lagi menggelandang, hal itu diakibatkan program-program

yang dilakukan atau ditawarkan kurang menyentuh kebutuhan mereka

Kenyataan di atas tidak lepas dari persepsi yang kurang sesuai tentang

gelandangan, yang mana gelandangan mempunyai arti orang yang tidak tentu

tempat tinggalnya, pekerjaannya, dan arah tujuan kegiatannya. Persepsi tersebut

sebenarnya kurang sesuai atau kurang menggambarkan kenyataan yang ada

karena kaum gelandangan sebenarnya mempunyai pekerjaan yang relatif tetap

dan tujuan kegiatannya yang jelas dalam usaha memenuhi kebutuhan hidupnya.

Pernyataan yang diatas sesuai dengan konsep yang dikemukakan oleh Muttalib

dan Sujarwo dalam Argo Twikromo (1996:6), gelandangan diartikan sekelompok

orang miskin atau dimiskinkan oleh masyarakat, orang yang disingkirkan dari

kehidupan khalayak ramai, dan merupakan cara hidup agar mampu bertahan

dalam kemiskinan dan keterasingan. Konsep tersebut juga sesuai dengan obyek

penelitian

yang

peneliti

gunakan

sebagai

informan,

yang

mana

peneliti

melakukan

penelitian

di

daerah

pekojan

kanjengan/pinggiran

kali/sungai

pekojan-jagalan kota Semarang. Semua informan memiliki pekerjaan yang relatif

tetap yaitu sebagai pemulung dan mereka juga memiliki tujuan hidup yang jelas.

Walaupun

demikian

peneliti

tidak

bisa

memungkiri

bahwa

banyak

juga

gelandangan

kota

Semarang

yang

berprofesi

sebagai

pencuri,

penjambret,

pengemis, pekerja seksual, pengamen, penyemir dan sebagainya.

B. Gambaran Umum Daerah Penelitian

1. Letak dan Luas Kelurahan Jagalan

Kelurahan Jagalan termasuk wilayah Kecamatan Semarang Tengah,

Kota Semarang, Propinsi Jawa Tengah, menurut letak adminitratif kelurahan

Jagalan memiliki batas-batas sebagai berikut sebelah utara berbatasan dengan

kelurahan

Purwodinatan,

sebelah

selatan

berbatasan

dengan

kelurahan

Karangkidul, sebelah barat berbatasan dengan kelurahan Gabahan, sebelah

timur bersebelahan dengan Kecamatan Semarang Timur. Jarak kelurahan

Jagalan

dengan

pusat

pemerintahan

cukup

dekat,

jarak

dari

pusat

Pemerintahan Kecamatan 1 Km (satu kilometer), kelurahan Jagalan dengan

jarak dari pusat Pemerintahan Kota Administratif belum diketahui itu diambil

dari data yang ada dikelurahan Jagalan, jarak dengan Pusat Pemerintahan

Kota Semarang 2 Km (dua Kilometer), jarak dengan Ibukota Propinsi Dati I 3

Km (tiga Kilometer), jarak dengan Ibukota Negara 500 Km (lima ratus

Kilometer). Sedangkan kondisi Geografis kelurahan Jagalan yaitu ketinggian

tanah dari permukaan laut sekitar 2 M, banyaknya curah hujan 500Mm/Thn,

Topografi pada kelurahan ini dataran rendah, suhu udara rata-rata 22-32 C.

2.

Sejarah Terjadinya Pemukiman Gelandangan.

Berbicara mengenai latar belakang sebuah wilayah, kita tidak bisa

menafsirkan faktor sejarahnya. Begitu juga dengan kelurahan Jagalan yang

merupakan

salah satu dari berbagai pemukiman kumuh yang ada di kota

Semarang ini.

Berdasarkan hasil penelitian ini yang didukung dengan informan yang

dapat dipercayai kevalitannya yaitu seseorang yang pertama kali membuat

pemukiman kumuh yang letaknya dari ujung pertokoan pekojan, dulunya

daerah tersebut berupa ilalang-ilalang liar dan belum diaspal seperti ini,

seseorang tersebut menebangi rumput-rumput liar tersebut dan dijadikannya

tempat tinggal sementara namun pada kenyataannya sampai sekarang malah

dengan bertambah para pendatangnya yang mempergunakan tempat tersebut

untuk tempat tinggal yang terbuat dari kardus dan plastik kalaupun ada

papan-papan.

3. Kependudukan

Jumlah penduduk kelurahan Jagalan pada bulan juni akhir berjumlah

15.285 orang, dan ada 1.653 orang kepala keluarga, namun jumlah tersebut

dipisah-pisah menurut jenis kelamin, laki-laki: 3.696 orang, perempuan :

3.120 orang, kewarganegaraan WNI ada 6.714 orang, serta WNA ada 102

orang.

4. Tingkat Pendidikan

Keadaan pendidikan masyarakat kelurahan Jagalan dibagi menjadi

dua bagian, bagian pertama yaitu lulusan pendidikan umum : Perguruan

Tinggi atau Akademi ada 618 orang; SLTA ada 986 orang; SLTP ada 1.366

orang; SD ada 1.008 orang; belum/ tidak tamat SD 1.023 orang; Belum

sekolah ada 955 orang, bagian yang kedua yaitu SFMA dan SFMP menurut

data dari kelurahan Jagalan belum ada datanya.

5. Jumlah Pendudukan Menurut Agama

Kelurahan Jagalan ada berbagai macam jenis agama yang dianut oleh

masyarakat setempat antara lainnya : agama Islam ada 2.318 orang, agama

Kristen ada 1.325 orang, agama Khatolik ada 1.282 orrang, agama Hindu ada

715 orang, agama Budha ada 1.152 orang. Itu keseluruhan agama yang ada di

kelurahan Jagalan, dapat dilihat bahwa mayoritas agama masyarakat tersebut

ialah agama Islam walaupun daerah tersebut daerah Pecinan.

6. Jumlah Penduduk Menurut Mata Pencaharian

Penduduk

kelurahan

Jagalan

bermata

pencaharian

antara

lain

:

Wiraswasta ada 317 orang, sedang karyawan ada 2.625 orang, pertukangan

ada 85 orang, sebagai jasa ada 10 orang, pengusaha ada 4 orang, TNI/ POLRI

ada 5 orang, pedagang ada 142 orang, industri atau buruh ada 464 orang, dan

yang bekerja lain-lain ada 102 orang.

C. Kasus Pendidikan Keluarga Gelandangan

Temuan Informan Di Lapangan

1. Informan kesatu

Am

(43

tahun)

adalah

inisial

kepala

keluarga

I,

Am

lahir

di

Cerobonan

kampung Melayu dan sekarang tinggal di pinggiran sungai

dipekojan sekitar daerah johar selama 10 tahun. Pendidikan Am Sekolah

Dasar tidak tamat, kelas 4 (empat) keluar dikarenakan terbentur biaya orang

tua yang tidak mampu untuk menyekolahkan. Dan pak Am ini sudah

berkeluarga dengan ibu Sy (35 tahun), Am dikarunia 2 orang anak. Sehari-

hari

Am

bekerja

sebagai

pemulung,

dari

hasil

kerja

Am

mampu

mengumpulkan uang Rp 20.000, namun itu juga belum pasti.

Perhatian pak Am terhadap pendidikan anak pada zaman sekarang ini

juga tidak kalah pentingnya dengan orang tua pada umumnya walaupun pak

Am

ini

seorang

pemulung

yang

seharusnya

tidak

menghiraukan

akan

pendidikan, namun pada kenyataannya pak Am sangat memperhatikan akan

pendidikan anaknya. Perhatian tersebut dengan menitipkan anaknya tersebut

dengan neneknya. Pak Am berharap bahwa neneknya tersebut lebih mampu

untuk membimbing dan mengawasi anaknya tersebut, pada waktu pak Am

dan ibu Sy mencari nafkah untuk biaya hidup dan biaya sekolah anaknya,

namun pak Am juga mempunyai alas an mengapa anaknya tidak bersama pak

Am pada sekarang ini yaitu dikarena kondisi lingkungan yang begitu ramai

dan tidak selayaknya seorang anak tinggal ditempat seperti itu. Sebetulnya

rumah neneknya tersebut tidak jauh dengan lingkungan dimana pak Am

tinggal sekarang ini jadi pak Am dapat sering pulang kerumah sehingga ia

bisa memberikan nasehat-nasehat untuk memberikan motivasi atau memberi

semangat agar anak belajar dengan rajin baik dirumah maupun di sekolah.

Untuk memotivasi ditunjukkan Am dengan cara bila anaknya mendapat

rangking ia akan memberikan hadiah, Am berkata :

Gambar 1. Wawancara dengan responden I nak kamu belajar bagus dapat rangking saya belikan… tidak

Gambar 1. Wawancara dengan responden I

nak kamu belajar bagus dapat

rangking saya belikan…

tidak saya belikan apa-apa. Sebagai orang tua semboyan orang tua “anak pinter dapat rangking”, pinter pasti orang tua punya cita-cita. Nak kamu sekolah yang pinter dapat rangking nanti saya belikan……apa pak? Ya sepeda.

apa pak? Sepeda, kalau nggak naik……ya

“ Ya, kita sebagai orang tua, kita…

belikan

ya

Sebagaimana lazimnya anak pak Am juga memberi kesempatan

kepada anak untuk bermain, berkumpul bersama teman-temannya sekolah

dan lingkungan sekitarnya bila anak tersebut ikut sama pak Am dan ibu Sy,

karena memang kadang-kadang anaknya juga pingin ikut dengan orang

tuanya ya pak Am menjemput atau om-nya yang mengantarkan kerumah pak

Am. Pak Am berpandangan lingkungan gelandangan juga ikut berpengaruh

terhadap perkembangan si anak namun juga pak Am juga tidak menutup

kemungkinan untuk memperbolehkan anaknya untuk bermain dengan teman-

temannya yang ada dilingkungan rumah pak Am, karena pak Am mempunyai

pendapat

bahwa

tergantung

bagaimana

cara

mendidik

anak

dan

juga

tergantung bagaimana cara bergaul anak. Dalam hal membiayai sekolah pak

Am tidak begitu mendapat masalah karena anak mendapatkan bea siswa dari

pihak sekolahan.

Perjuangan sehari-hari pak Am untuk mencari biaya hidup dan biaya

untuk sekolah anaknya memanglah sangat berat, kerjanya itu dimulai dari

rumah mulai jam 8 pagi. Untuk menghemat waktu, tenaga, belum lagi harus

bersaing dengan teman-temannya yang seprofesi untuk mendapatkan tempat

yang enak dan hasil yang banyak ia harus pulang sore kadang-kadang pak

Am juga harus pulang malam. Pak Am menjelaskan bahwa :

“Nggeh persaingan, wong jenenge pumulung istilahe adu nasib, nek nasibe sae nggeh angsale buangan nopo nggeh…nggeh sanget langsung wangsul, nek mboten angsal nggeh mubeng mawon, nek pun sepen nggeh wangsul mbak…”

Setiap hari pak Am harus membanting tulang dibawah terik matahari,

kehujanan, mencari barang yang masih laku dijual untuk mempertahankan

hidup dan keluarganya, dan semboyan Am adalah “waktu adalah uang”.

Hubungan dengan aparat desa dan masyarakat sekitar hampir tidak

ada masalah dan tidak dipermasalahkan, karena ia tidak pernah membuat

onar dan membuat cemar, Am menjelaskan bahwa :

“ Nggeh gampangane mboten dipermasalahkan, istilahnya kita menempati tidak membuat onar, kita tidak memberi cemar”. Ia juga tidak pernah dipungut biaya selama tinggal disitu, justru pihak kelurahan dan masyarakat setempat mendukung (itu anggapan pak Am).

2. Informan ke dua

Sy

(35

tahun)

adalah

istrinya

pak

Am

yang

lahir

di

Demak.

Pendidikan ibu Sy ialah sama dengan suaminya yaitu tidak tamat Sekolah

Dasar

(kelas

lima

keluar).

Selain

sebagai

ibu

rumah

tangga

Sy

juga

membantu suami mencari nafkah yaitu bekerja dengan pak Bandi (bosnya

pemulung), pak Bandi ialah seseorang yang menampung barang-barang yang

dipungut dengan para pemulung dilingkungan sekitar.

Pandangan ibu Sy terhadap anak bahwa anak tidak mempunyai nilai

ekonomi atau untuk dijual / dimanfaatkan tenaganya, karena anak masih kecil

biarkan dia menikmati masa anak-anaknya dan sekolah. Anak akan ikut apa

kata

orang

tua,

orang

tua

menyuruh

mengerjakan

sesuatu

anak

akan

mengerjakan, akan tetapi kalau orang tua tidak menyuruh anak akan diam

saja.

Menurut

Sy

tanggapan

masyarakat

sekitar

terhadap

keberdaan

gelandangan ada yang sinis dan ada yang tidak mau tahu tentang keberadaan

mereka. Ada juga

yang masyarakat sekitar merangkul atau bergaul dengan

komunitas

gelandangan.

Kebersamaan

dan

kekompakan

ditentukan

gelandangan pada saat perayaan 17 Agustus. Walaupun dengan alakadarnya

dan dengan iuran setiap keluarga Rp 500,00 kemudian dibelikan kerupuk,

pulpen mereka juga ikut merasakan hari kemerdekaan bangsa Indonesia.

3. Informan ke tiga

Hr (35 tahun) adalah inisial kepala keluarga II, lahir di Klaten dan

juga ikut tinggal di pemukiman pak Am, sama juga dengan pak Am, pak Hr

ini sudah 10 tahun bertempat tinggal di daerah tersebut. Pendidikan sekolah

dasar tidak tamat, juga disebabkan karena ketidak mampu orang tua untuk

membiayai sekolah. Pak Hr statusnya sudah mempunyai istri dari perkawinan

tersebut dikaruniai satu orang anak laki-laki. Pekerjaan pak Hr sebagai

pemulung, rata-rata upah tiap hari yang diterima ialah Rp. 20.000.

Perhatian besar terhadap pendidikan diberikan orang tua pada anak

sebagai generasi penerus keluarga terbukti dengan tamatnya anak satu-

satunya pada Sekolah Tingkat Menengah. Pak Hr menitipkan anaknya di desa

dengan

neneknya,

pak

Hr

menitipkan

anaknya

di

desa

supaya

tidak

terpengaruh dengan pergaulan bebas kota, supaya jadi anak baik dan soleh,

pak Hr menjelaskan bahwa :

“ ya mungkin, anak saya sekolah dides agar tidak sama disini pergaulannya itu bebas dikota, jadi anak yang baik dan soleh.”

Pengawasan juga dilakukan, setiap 2 (dua) minggu sekali ia pulang

bergantian dengan istrinya. Dalam membiayai anaknya Hr bergotong royong

dengan istrinya, karena istrinya juga ikut mencari nafkah, pak Hr juga

menjelaskan :

istrinya, karena istrinya juga ikut mencari nafkah, pak Hr juga menjelaskan : Gambar 2. Wawancara dengan

Gambar 2. Wawancara dengan responden II

”ya itukan demi masa depan anak, susah apapun akan saya usahakan agar kelak masa depan anak saya biar seperti orang-orang lain, itu tekat saya”.

Mewujudkan keinginannya, setiap hari ia bekerja sebagai pemulung

sama halnya dengan pak Am namun pak Hr berangkat jam 3 sore dan

pulangnya sekitar jam 9 atau 10 malam itu kalau badan masih kuat.

Menurut

Hr

pandangan

masyarakat

sekitar

terhadap

keberadaan

gelandangan

tidak

dipermasalahkan.

Keberadaan

mereka

disana

atas

sepengetahuan pihak kelurahan walaupun tidak resmi. Mereka juga tidak

pernah dipungut biaya.

4. Informan ke empat

R (33 tahun) adalah inisial istri pak Hr, yang lahir di kabupaten

Klaten. Pendidikan R sekolah dasar tidak tamat, selain sebagai ibu rumah

tangga juga membantu Hr bekerja sebagai buruh rumah tangga.

Dukungan terhadap pendidikan anak ditunjukkan dengan menitipkan

anak kepada neneknya yang ada di desa Klaten, anaknya dititipkan semenjak

masih sekolah dasar kelas 4 (empat) sampai sekarang sudah lulus Sekolah

Tingkat Menengah, agar tidak terpengaruh dengan lingkungan gelandangan.

Pandangan R terhadap anak, merasa kasihan dan tidak enak apabila ada anak

yang dipekerjakan oleh orang tuaya untuk mencari uang. R berpendapat

bahwa pekerjaan mencari uang ialah kewajiban orang tua sedang anak

tugasnya sekolah dan bermain. R menjelaskan :

“yo, ojo mbak men wong tuwone wae seng kerjo rekoso ora popo, seng penting anak’e sekolah wae”. ( ya jangan mbak biar orang tuanya saja yang bekeja berat tidak apa-apa, yang penting anak sekolah saja)

5. Informan ke lima

Ah (18 tahun) adalah inisial seorang remaja laki-laki putra keluarga II.

Pendidikan STM, sekarang sudah lulus dari STM ia anak satu-satunya

keluarga Hr. Dukungan penuh dari kedua orang tua terhadap pendidikannya

sehingga membuat Ah belajar giat dan penuh semangat. Selama belajar di

Klaten, selain mendapat bimbingan dan arahan dari orang tua, Ah juga

mendapat bimbingan, pengawasan dan pengarahan dari pak dhenya, mbak

ponakannya, serta neneknya. Kebebasan yang diberikan anak untuk bermain

dan bergaul dengan teman-temannya, Ah menjelaskan :

bermain dan bergaul dengan teman-temannya, Ah menjelaskan : Gambar 3. Wawancara dengan anak responden II “

Gambar 3. Wawancara dengan anak responden II

“ kadang ada, ada waktu untuk bermain dan ada waktu untuk belajar”.

Menurut pandangan Ah hidup di Semarang lebih enak karena ramai

kalau didesa sepi, selain itu di Semarang ada orang tua yang langsung

membimbing dan mengawasi.

Selama sekolah di STM Negeri Klaten, ia juga pernah mendapat

rangking, meskipun tidak dapat bea siswa dari sekolahan. Keinginan untuk

maju, berkembang dan mewujudkan cita-cita kedua orang tua merupakan

motivasi tersendiri bagi dirinya.

6. Informan ke enam

Jt (37 tahun) adalah inisial kepala keluarga ke III, yang lahir di

Mojokerto

jawa

timur.

Jt

tinggal

di

pinggiran

sungai

daerah

Pekojan

kelurahan Jagalan, sudah 3 tahun ia bertempat tinggal disitu, sebelumnya

tinggal di barutikung dan mrican. Pendidikan pak Jt adalah Sekolah Dasar itu

juga tidak tamat. Pekerjaan tiap harinya ialah sebagai pemulung dan rata-rata

penghasilannya Rp. 20.000. Dan pak Jt sudah berkeluarga dan mempunyai 2

(dua) orang anak, anak yang pertama dititipkan di desa dan anak yang kedua

ikut pak Jt dan ibu Jm.

Dukungan