Anda di halaman 1dari 16

BUDIDAYA RUMPUT LAUT Kappaphycus sp METODE LEPAS DASAR

PATOK DAN TALI PANJANG DI LOKASI DISEMINASI


KABUPATEN TAKALAR

Disampakan Pada Seminar Indonesian Aquaculture 2010


Tanggal 4-6 Oktober 2010 di Hotel Novotel – Bandar Lampung

Oleh :
Akmal
Ilham Bachtiar
Muh. Suaib
Irwan Nur

KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN


DIREKTORAT JENDERAL PERIKANAN BUDIDAYA
BALAI BUDIDAYA AIR PAYAU
TAKALAR

2010
BUDIDAYA RUMPUT LAUT Kappaphycus sp METODE LEPAS DASAR PATOK DAN
TALI PANJANG DI LOKASI DISEMINASI KABUPATEN TAKALAR

Akmal *, Ilham Bachtiar, Muh. Suaib, Irwan Nur


Balai Budidaya Air Payau Takalar
Desa Bontoloe, Kecamatan Galesong, Kabupaten Takalar
Sulawesi Selatan
E-mail ; bbaptakalar@yahoo.com
E-mail ; akmal_bbaptakalar@yahoo.com

ABSTRAK

Untuk meningkatkan produksi dan kualitas rumput laut serta memanfaatkan lahan perairan
Indonesia maka upaya pengembangan budidaya rumput laut masih perlu dikaji dan dipelajari.
Hasil-hasil percobaan ini diharapkan dapat dikembangkan sebagai usaha budidaya rumput
laut yang berdaya guna dan berhasil guna. Dalam mengoptimalkan peranan sektor perikanan
ini, pemerintah telah berupaya mendorong masyarakat seluas-luasnya untuk melakukan
kegiatan pembangunan dan pengembangan subsektor perikanan yang diyakini akan mampu
meningkatkan dan menjadi andalan perekonomian nasional, khususnya meningkatkan
kesejahteraan masyarakat nelayan.
Kegiatan ini bertujuan untuk mensosialisasi teknologi budidaya rumput laut di kawasan
pembudidaya di pesisir pantai, dengan sasaran adalah peningkatan produksi dan
kesejahteraan petani rumput laut. Teknik diseminasi budidaya rumput laut dilaksanakan pada
kawasan pesisir pantai yang mempunyai luas minimal 20 Ha. Tiap kawasan di daerah
tersebut dibudidayakan rumput laut seluas 0,5 ha sebagai lokasi inkubator, di lokasi inkubator
inilah para petani rumput laut dikawasan tersebut berpartisipasi sebagai pengelola secara
bersama-sama. Metode budidaya yang didesiminasikan adalah metode lepas dasar patok dan
metode longline.
Berdasarkan kegiatan tersebut diperoleh produksi akhir selama 45 hari pemeliharaan
sebanyak 1026 kg basah (16,29 %) dari target produksi 6.300 kg. Sedangkan produksi akhir
untuk bibit umur 35 hari pemeliharaan sebanyak 525 kg basah (19,44 %) dari target 2.700
kg. Selama kegiatan budidaya rumput laut, kisaran parameter kualitas air yang layak untuk
pertumbuhan rumput laut Kappaphycus spp, dimana parameter salinitas berkisar 29-34 ppt,
suhu berkisar antara 29-330C, kecepatan arus berkisar 20-45 cm/dtk, dan kecerahan 1 - 3 dan
> 5 meter.

Kata Kunci : Rumput Laut, Produksi, Metode Budidaya, Diseminasi

1
I. PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Sebagai negara yang dikelilingi oleh lautan, Indonesia mempunyai panjang pantai ±
81.000 km dengan luas perairan pantainya adalah ± 6.846.000 km2. Ini menunjukkan bahwa
Indonesia memiliki potensi yang baik untuk mengembangkan dan memanfaatkan kekayaan
lautnya terutama rumput laut (Sulistyowati, 1992 dalam Sulistyowati, 2003). Pemanfaatan
rumput laut kemudian berkembang kearah komersial untuk diekspor dan diperdagangkan
sebagai bahan mentah untuk pembuatan agar-agar atau karaginan (carageen). Indonesia
merupakan salah satu negara penghasil dan pengekspor rumput laut yang cukup penting di
Asia.
Pada beberapa daerah lain pengembangan budidaya rumput laut sudah cukup
instensif, namun mengalami penurunan akhir-akhir ini. Hal yang sama terjadi di kabupaten
Takalar merupakan salah satu wilayah yang cukup potensial untuk pengembangan budidaya
laut khususnya rumput laut Kappaphycus sp. Potensi budidaya rumput laut Kappaphycus sp
yang tersedia disepanjang pantai dengan luas ditargetkan pada tahun 2009 mencapai 8.780
Ha dengan produksi bisa mencapai 307.300 ton (Anonim,2005).
Produksi rumput laut dapat disebabkan antara lain oleh lemahnya teknologi budidaya
(bibit, metode budidaya, umur panen, dan penanganan pasca panen), dan regulasi pemerintah
(penataan ruang, sumberdaya). Salah satu cara untuk menjamin kontinuitas penyediaan
produksi dan kandungan karaginan rumput laut dalam jumlah yang dikehendaki adalah
dengan pemilihan lokasi budidaya, rekomendasi luasan yang optimal dan teknologi budidaya
(Rorrer, et al. 1998; Peira, 2002).
Untuk meningkatkan produksi dan kualitas rumput laut serta memanfaatkan lahan
perairan Indonesia maka upaya pengembangan budidaya rumput laut masih perlu dikaji dan
dipelajari. Hasil-hasil percobaan ini diharapkan dapat dikembangkan sebagai usaha budidaya
rumput laut yang berdaya guna dan berhasil guna. Dalam mengoptimalkan peranan sektor
perikanan ini, pemerintah telah berupaya mendorong masyarakat seluas-luasnya untuk
melakukan kegiatan pembangunan dan pengembangan subsektor perikanan yang diyakini
akan mampu meningkatkan dan menjadi andalan perekonomian nasional, khususnya
meningkatkan kesejahteraan masyarakat nelayan.
Secara umum maka pemecahan masalah yang akan ditelusuri dalam kegiatan ini
adalah bagaimana pemanfaatan dan pengembangan teknologi budidaya rumput laut yang
memenuhi persyaratan teknis agar dapat dimanfaatkan secara optimal dan berkelanjutan.
Oleh karena itu dalam rangka menerapan teknologi budidaya melalui diseminasi dan alih
teknologi budidaya Rumput Laut di Kabupaten Takalar.

2
1.2. Tujuan dan Sasaran
Kegiatan ini bertujuan untuk mensosialisasi teknologi budidaya rumput laut di
kawasan pembudidaya di pesisir pantai melalui diseminasi, dengan sasaran adalah
peningkatan produksi dan kesejahteraan petani rumput laut.

II. METODOLOGI
2.1 Waktu dan Lokasi Kegiatan
Kegiatan ini dilaksanakan pada bulan Maret sampai Desember 2009 di Perairan
Punaga Kecamatan Manggarabombang Kabupaten Takalar (Sulawesi Selatan)
2.2 Bahan dan Alat
Tali PE diameter 10 mm
Tali PE diameter 8 mm
Tali PE diameter 5 mm
Tali plastik diameter 2 mm
Bibit rumput laut (jenis Kappaphycus sp).
Botol plastik bekas/Bola pelampung(sebagai pelampung).
Balok kayu atau bambu (sebagai patok)
Karung berisi pasir atau batu karang (sebagai jangkar).
Perahu, Terpal plastik, Para-para dan Pisau, dll.
2.3 Metode Kerja
2.3.1. Teknologi Budidaya
Upaya pengembangan budidaya rumput laut dilakukan melalui penanaman berbagai
strain/jenis, metode budidaya dengan mengamati produksi dan penerapan metode budidaya.
a. Pemilihan Lokasi
Lokasi budidaya Kappaphycus spp sangat ditentukan oleh kondisi ekologis yang
meliputi kondisi lingkungan fisik, kimia dan biologi. Adapun persyaratan lokasi budidaya
adalah :
 Lokasi budidaya harus terlindung dari hempasan langsung ombak yang kuat.
 Lokasi budidaya harus mempunyai gerakan air yang cukup. Kecepatan arus yang
cukup untuk budidaya Kappaphycus sp 20 - 40 cm/detik.
 Dasar perairan budidaya Kappaphycus sp adalah dasar perairan karang berpasir.
Pada surut terendah lahan budidaya masih terendam air minimal 30 cm.
 Kejernihan air tidak kurang dari 5 m dengan jarak pandang secara horisontal.
 Suhu air berkisar 27 - 30 oC dengan fluktuasi harian maksimal 4 oC.
 Salinitas (kadar garam) perairan antara 30 - 35 permil (optimum sekitar 33 permil).

3
 pH air antara 7 - 9 dengan kisaran optimum 7,3 - 8,2
 Lokasi dan lahan sebaiknya jauh dari pengaruh sungai dan bebas dari pencemaran.
b. Setting Lokasi Budidaya
Setting lokasi dalam dalam diseminasi budidaya rumput laut Kappaphycus alvarezii
di perairan pantai Punaga dengan metoda lepas dasar patok dan tali panjang (long line).
1) Metoda Lepas Dasar Patok
 Pada budidaya rumput laut metode lepas dasar patok biasanya dilakukan dengan
menggunakan patok dan tali PE.
 Ada 3 (tiga) nomor jenis tali PE yang digunakan yaitu tali induk (PE 10 mm), tali
bentangan (PE 5 mm) dan tali ris simpul (PE 2 mm).
 Metode lepas dasar patok digunakan patok dari kayu berdiameter sekitar 5 cm
panjang 1– 1,5 m dan runcing pada ujung bawahnya yang ditancamkan pada dasar
perairan.
 Tali utama PE 10 mm sekitar 100 m dan jarak setiap patok yang berjajar sekitar 1
meter sebagai penopang tali yang dihubungkan dengan tali ris utama,
 Tali bentangan diberi floatting ball (pelampung botol aqua 500 ml) dan pada setiap
jarak 10 m.
 Tali bentang PE 5 mm sepanjang 30 cm terdiri dari 120 titik simpul tali ris PE 2 mm
dan jarak antara setiap tali simpul ris setiap rumpun ± 25 cm.
2) Metode Tali Panjang Longline
 Pada budidaya rumput laut metode tali panjang biasanya dilakukan dengan
menggunakan tali PE. Ada 4 (empat) nomor jenis tali PE yang digunakan yaitu tali
induk (PE 10 mm), tali jangkar (PE 8 mm), tali bentangan (PE 5 mm) dan tali ris
simpul (PE 2 mm).
 Untuk metode tali panjang (longline) digunakan tali PE 10 mm sepanjang 100 m
yang pada kedua ujungnya diberi jangkar dan pelampung besar.
 Setiap 25 meter diberi tali PE 8 mm sebagai tali bantu jangkar pada setiap sisi dan
diberi pelampung utama yang terbuat dari drum plastik atau styrofoam.
 Tali bentangan diberi floatting ball (pelampung botol aqua 500 ml) dan pada setiap
jarak 10 m.
 Tali bentang PE 5 mm sepanjang 30 cm terdiri dari 120 titik simpul tali ris PE 2 mm
dan jarak antara tali simpul ris setiap rumpun ± 25 cm.
c. Pemilihan Bibit
 Pilih bibit rumput laut yangbercabang banyak dan rimbun,
 Tidak terdapat bercak, tidak terkelupas, dan warna spesific cerah,
 Umur 25 – 35 hari dan berat bibit 100 gram per rumpun.

4
d. Penanganan Bibit
 Bibit sebaiknya dikumpulkan dari perairan pantai sekitar lokasi dan jumlahnya
sesuai dengan kebutuhan.
 Saat mengangkut bibit sebaiknya bibit tetap terendam di dalam air laut atau
dimasukkan ke dalam kotak karton berlapis plastik.
 Bibit disusun berlapis dan berselang seling yang dibatasi dengan lapisan kapas atau
kain yang sudah dibasahi air laut.
 Agar bibit tetap baik, simpan di dalam keranjang atau jaring dengan ukuran mata
jaring kecil dan harus dijaga agar tidak terkena minyak, kehujanan maupun
kekeringan.
e. Pengikatan dan Penanaman Bibit
 Sebelum dilakukan penanaman, dilakukan pengikatan bibit pada tali simpul ris PE
berdiameter 2 mm yang terdapat pada tali ris bentang PE berdiameter 5 mm.
 Sebaiknya pengikatan bibit dilakukan ditempat terlindung agar bibit yang akan
ditanam tetap dalam kondisi segar.
 Penanaman bisa langsung dikerjakan dengan cara merentangkan tali ris bentang PE
berdiameter 5 mm yang telah berisi ikatan bibit tanaman yang diikat pada tali ris
utama PE berdiameter 10 mm.
 Posisi tanaman sekitar 30 cm di atas dasar perairan (perkirakan pada saat surut
terendah masih tetap terendam air).
f. Pemeliharaan
 Bersihkan tanaman dari tumbuhan dan lumpur yang mengganggu, sehingga tidak
menghalangi tanaman dari sinar matahari dan mendapatkan makanan.
 Jika ada sampah yang menempel, angkat tali perlahan, agar sampah-sampah yang
menyangkut bisa larut kembali.
 Jika ada tali bentangan yang lepas ikatannya, sudah lapuk atau putus, segera
diperbaiki dengan cara megencangkan ikatan atau mengganti dengan tali baru.
d. Panen
Pemanenan rumput laut sangat tergantung dari tujuannya. Jika tujuan memanen
untuk mendapatkan rumput laut kering kualitas tinggi dengan kandungan Karaginan
banyak, panen dilakukan pada umur 45 hari (umur ideal). Sedangkan untuk tujuan
mendapatkan bibit yang baik, pemanenan rumput laut dilakukan pada umur 25 – 35
hari.
Pemanenan budidaya rumput laut dapat dilakukan dengan dua cara :
(1) Petama memotong sebagian tanaman. Cara ini bisa menghemat tali pengikat bibit,
namun perlu waktu lama.

5
(2) Kedua, mengangkat seluruh tanaman. Cara ini memerlukan waktu kerja yang
singkat. Pelepasan tanaman dari tali dilakukan di darat dengan cara memotong
tali.
2.3.2. Teknik Diseminasi
Kawasan pembudidayaan rumput laut dilaksanakan pada kawasan pesisir pantai yang
mempunyai luas minimal 20 Ha. Tiap kawasan di daerah tersebut dibudidayakan rumput laut
seluas 0,5 ha sebagai lokasi incubator diseminasi, di lokasi inkubator inilah para petani
rumput laut dikawasan tersebut berpartisipasi sebagai pengelola secara bersama-sama.
Untuk menyamakan Visi dan Misi baik pihak BBAP Takalar, petani dan nara sumber
lainnya, maka sebelum pembudidayaan rumput laut dilakukan pembekalan pertama.
Selanjutnya pada setiap hari, minggu, bulan dan akhir pemeliharaan juga dilakukan diskusi
dan pembekalan. Pembekalanan pertama kali dikakukan antara pihak BBAP Takalar, nara
sumber lainnya terhadap petani tentang sistem kerja dan teknologi pembudidayaan rumput
laut yang diterapkan di lapangan. Diskusi setiap hari dilakukan antara petani dengan petani
lainnya serta dengan instruktur III. Diskusi mingguan dilakukan antara petani dengan
instruktur II dan III dan diskusi bulanan dilakukan antara petani dengan intruktur I, II
2.4. Pengukuran Peubah

Untuk menghitung produktivitas rumput laut, maka dilakukan pemanenan rumput


laut secara keseluruhan yang dibudidayakan. Data yang diambil untuk menghitung produksi
rumput laut diambil dengan cara ditimbang berat pada saat panen. Pemeliharaan rumput laut
dilakukan selama 45 hari/musim tanam. Sedangkan parameter kualitas air diukur setiap pekan
pada saat dilakukan sampling, meliputi suhu, kecepatan arus, salinitas, nitrit, phosphat dan
parameter kualitas air lainnya.

6
III. HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1. Penerapan Teknologi Budidaya


Dalam kegiatan diseminasi ini, masyarakat disepanjang pantai perairan Takalar
khususnya Desa Punaga Kecamatan Mangarabombang menerapkan budidaya rumput laut
metode lepas dasar (patok) dan metode tali panjang (longline). Kedua metode ini hanya
dibedakan posisi penempatannya. Pada metode lepas dasar patok (gambar 1.) dapat dilakukan
pada dasar perairan yang terdiri dari pasir dan karang mati, mudah untuk menancapkan
patok/pancang serta kedalaman perairan 30 cm pada saat surut terendah. Cuma metode ini
sulit dilakukan pada dasar perairan yang berkarang keras. Sedangkan metode tali panjang
longline (gambar 2.) cocok untuk perairan dengan dasar yang berkarang dan berpasir serta
pergerakan airnya didominasi oleh ombak serta kedalaman perairan diatas 5 meter pada saat
surut terendah.

Gambar 1. Metode budidaya rumput laut Kappaphycus sp dengan lepas dasar patok

7
Gambar 2. Metode budidaya rumput laut Kappaphycus sp dengan tali panjang longline

3.2. Kinerja Produksi

Tabel 1. Data Target dan Realisasi Produksi Rumput Laut


No. Produksi Target (Kg) Realisasi (Kg) Prosentasi (%)
1. Budidaya 6.300 1.026 *) 16,29
*)
2. Kebun Bibit 2.700 525 19,44
Jumlah 9.000 1.551 17,23
Berdasarkan pengamatan (Tabel 1), terlihat bahwa produksi akhir selama 45 hari
pemeliharaan menunjukkan bahwa secara visual masih memberikan produksi sebanyak 1026
kg basah (16,29 %) dari target produksi 6.300 kg. Rendahnya produksi diduga berkaitan erat
dengan suhu dan arus, di mana pada periode penanaman Musim Timur ini terjadi fluktuasi
suhu yang tinggi dan arus sudah mulai kencang karena mulai memasuki Musim Barat, namun
masih memungkinkan untuk penanaman rumput laut akan tetapi terjadi perubahan warna dan
kerontokan pada tanaman. Pada daerah penanaman rumput laut pada umumnya dihentikan
memasuki bulan September sampai dengan Oktober yang merupakan musim peralihan dan

8
November sampai dengan Desember karena adanya arus dan ombak yang sangat besar,
sehingga alternatif metode budidaya yaitu metode lepas dasar patok. Adapun hasil
pengamatan produksi akhir umur 35 hari pemeliharaan menunjukkan bahwa secara visual
masih memberikan produksi bibit rumput laut basah K. alvarezii 525 kg basah (19,44 %)
dari target 2.700 kg dan telah disalurkan ke kelompok pembudidaya yang membutuhkannya.
Hasil pengamatan secara diskriptif menunjukkan bahwa produksi rumput laut
Kappaphycus sp yang dibudidayakan tergantung sistem budidaya dan musim tanam (Akmal,
dkk. 2008). Menurut Neori, et al. (1998), produksi rumput laut tergantung dari musim,
misalnya rumput laut Ulva lactuca rata-rata produksi pada musim panas 292 gram berat
basah/hari (52 gram berat kering), dan 83 gram berat basah/hari (15 gram berat kering) pada
musim dingin. Menurut (Huang, et al, 1998; Rorrer, 2000), perkembangan sel dan thallus
rumput laut baik secara alami maupun budidaya tidak ada perbedaan yaitu dengan diameter
awal 2 – 8 mm setelah dipelihara 40 – 60 hari mencapai 10 mm. Hal ini diduga karena sistem
budidaya longline dasar perairannya yang didominasi oleh lumpur dapat mengakibatkan
kekeruhan yang tinggi. Kekeruhan yang tinggi dapat mengakibatkan bukan hanya penetrasi
cahaya yang rendah namun dampak langsungnya juga dapat berupa penempelan lumpur pada
permukaan rumput laut yang dipelihara pada Musim Timur sehingga laju pertumbuhan
hariannya cenderung lebih kecil dibanding pada Musim Barat dengan menggunakan sistem
budidaya lepas dasar patok. Pada sistem longline maupun lepas dasar patok terdapat ruang
kosong, sehingga dapat menciptakan ruang yang cukup lapang bagi arus untuk masuk di
bagian bawah tali rentangan.
Arus memegang peranan penting dalam pertumbuhan rumput laut, karena dengan
adanya arus akan membawa zat hara yang merupakan makanan bagi thallus rumput laut.
Makin besar gerakan air, makin banyak difusi yang menyebabkan proses metabolisme
semakin cepat mengakibatkan pertumbuhan tanaman semakin cepat. Selain itu, arus
berfungsi menghomogenkan massa air sehingga fluktuasi salinitas, suhu, pH, dan zat-zat
terlarut dapat dihindari (Trono, 1974). Apabila arus yang diperoleh sama pada tiap bagian tali
rentang, maka kesempatan untuk bertumbuh akan sama baik untuk thallus rumput laut yang
berada di bagian tepi maupun thallus rumput laut yang berada di bagian tengah. Arus yang
memadai berpengaruh positif terhadap pertumbuhan thallus rumput laut.
Berdasarkan pengamatan dan pemantauan budidaya rumput laut secara berkala dapat
diketahui beberapa permasalahan teknis yang dihadapi dalam berbudidaya. Masalah yang
dihadapai dapat menjadi pertimbangan dalam mencari alternatif pemecahan masalah yang
akhirnya dapat dijadikan acuan dalam menetapan produksi yang maksimal. Permasalahan
budidaya rumput laut akan bervariasi antar lokasi, karena itu pengamatan sebaiknya
dilakukan pada beberapa sentra produksi rumput laut di kawasan pembudidaya Kabupaten
Takalar. Dalam perjalanan kegiatan ada beberapa permasalahan yang dihadapi, antara lain ;
1) Thallus yang akan keluar sebagai tanaman baru masih relatif pendek dan kecil, 2)

9
Rendahnya laju pertumbuhan rumput laut yang ditanam, diduga karena salinitas cukup
rendah disebabkan tingginya curah hujan pada musim Barat, dalam peralihan musim dari
Barat ke Timur, 3) Peralihan musim dari Barat ke Timur, tumbuh banyak Sargassum sp di
sekitar kawasan budidaya sehingga menghambat pertumbuhan Kappaphycus sp sampai
mematikan rumput laut yang telah ditanam.
Tabel 2. Data Parameter Kualitas Air Budidaya Selama Kegiatan Diseminasi Budidaya Di
Desa Punaga Kabupaten Takalar
Kisaran Kualitas Air Selama
No. Parameter
Budidaya Rumput Laut
1 Suhu ( 0C) 29 - 33
2 Salinitas (ppt) 29 - 34
3 Kecepatan Arus (cm/dt) 20 - 45
4 Kecerahan (m) 1-5<
5 pH 7,85 – 8,16 ± 0,014
6 Alkalinitas (ppm) 110,81 ± 1,45
7 Amonia (ppm) 0,139 – 0,422 ± 0,032
8 Nitrit (ppm) < 0,05 – 0,077
9 Phosphat (ppm) < 0,062 ± 0,013
Pengamataan parameter kualitas air di lokasi kegiatan budidaya (Tabel 2),
menunjukkan kisaran parameter kualitas air yang layak untuk pertumbuhan rumput laut
Kappaphycus spp, dimana parameter kualitas air di perairan desa Punaga salinitas berkisar
29-33 ppt, suhu berkisar antara 29-310C, kecepatan arus berkisar 20-30 cm/dtk, dan
kecerahan 1 - 3 meter. Sedangkan di desa Bontoloe salinitas berkisar 32-34 ppt, suhu
berkisar antara 31-33 0C, kecepatan arus berkisar 30-45 cm/dtk, dan kecerahan > 5 meter.
Hal ini sesuai Mubarak (1999) menyatakan kondisi perairan yang optimum untuk budidaya
Kappaphycus sp adalah kecepatan air sekitar 20 – 40 cm/dtk, dasar perairan cukup keras,
tidak berlumpur, kisaran salinitas 28-34 ppt (optimum 33 ppt), suhu air berkisar 20-280C
dengan fluktuasi harian maksimal 40C, kecerahan tidak kurang dari 1-5 m.
3.3. Output Diseminasi
Kinerja dan output dalam diseminasi yang dilakukan dengan metode menyiapkan
lokasi inkubator seluas 1,0 ha sebagai lokasi budidaya rumput laut, yaitu adanya 1 (satu)
kelompok pembudidaya di lokasi inkubator turut berpartisipasi sebagai pengelola secara
bersama-sama. Sebelum menerapkan teknologi pembudidayaan rumput laut dilakukan
pembekalan pertama, oleh pihak BBAP Takalar dan nara sumber lainnya. Materi
pembekalanan tentang sistem kerja dan teknologi pembudidayaan rumput laut yang
diterapkan di lapangan. Selanjutnya, pihak BBAP Takalar, nara sumber dan kelompok
pembudidaya berkumpul melakukan diskusi. Selanjutnya pada setiap minggu atau setiap
bulan dan akhir pemeliharaan juga dilakukan diskusi dan pembekalan. Konsep alih teknologi

10
dalam bentuk diseminasi merupakan konsep pembangunan dalam upaya untuk meningkatkan
perekonomian dan kesejahteraan masyarakat sekitar pesisir.

3.4. Pembiayaan

Berikut ini akan disajikan contoh data mengenai perkiraan biaya investasi dan biaya
produksi untuk budidaya rumput laut.
Tabel 3. Perkiraan Biaya Dalam Budidaya Rumput Laut Metode Lepas Dasar Patok
Harga Jumlah
No. Uraian Volume
Satuan Biaya
Satuan (Rp) (Rp)
1 2 3 4 5
I. BIAYA INVESTASI :
1. Tali No. 5 (Tali Bentangan) 67 roll 75,000 5,025,000
2. Tali No. 2 (Tali Ris) 2 roll 37,500 75,000
3. Tali No. 8 (Tali Induk) 1 roll 300,000 300,000
4. Bibit Rumput laut (bibit awal) 2,400 kg 3,000 7,200,000
5. Botol Pelampung aqua 1,200 buah 550 660,000
6. Pelampung Jergen 60 buah 15,000 900,000
7. Karung Panen 50 lembar 2,000 100,000
8. Patok kayu 100 batang 5,000 500,000
9. Para-para 2 unit
a). Terpal / Tenda Penjemuran 8 x 10 m 2 Lbr 168,000 336,000
b). Bambu 100 batang 15,000 1,500,000
c). Waring Hitam 2 Pish 350,000 700,000
d). Balok 5 x 10 cm 30 batang 80,000 2,400,000
TOTAL BIAYA INVESTASI 19,696,000
II. BIAYA PRODUKSI :
1. Bibit Rumput laut (bibit awal) 2,400 kg 3,000 7,200,000
2. Jasa untuk pembibit 1,400 bntangan 2,000 2,800,000
3. Jasa pembuatan tali bentangan 400 bntangan 2,000 800,000
TOTAL BIAYA PRODUKSI 10,800,000
TOTAL BIAYA INVESTASI + PRODUKSI 30,496,000
III. PENDAPATAN
1. Jual Bibit 2,400 kg 3,000 7,200,000
2. Rumput laut kering(konversi 1:8 dari 8,400 kg) 1,050 kg 10,000 10,500,000
TOTAL PENDAPATAN 17,700,000
IV. KEUNTUNGAN (Pendapatan - Biaya Produksi) 6,900,000

11
Tabel 4. Perkiraan Biaya Dalam Budidaya Rumput Laut Metode Tali Panjang Longline
Harga Jumlah
No. Uraian Volume
Satuan Biaya
Satuan (Rp) (Rp)
1 2 3 4 5
I. BIAYA INVESTASI :
1. Tali No. 10 (Tali Induk) 3 roll 450,000 1,350,000
2. Tali No. 5 (Tali Bentangan) 67 roll 75,000 5,025,000
3. Tali No. 2 (Tali Ris) 60 roll 37,500 2,250,000
4. Tali No. 8 (Tali Jangkar) 15 roll 300,000 4,500,000
5. Bibit Rumput laut (bibit awal) 2,400 kg 3,000 7,200,000
6. Karung Jangkar 360 lembar 2,000 720,000
7. Botol Pelampung aqua 1,200 buah 550 660,000
8. Pelampung Jergen 60 buah 15,000 900,000
10. Perahu sampan 1 unit 4,000,000 4,000,000
11. Para-para 2 unit
a). Terpal / Tenda Penjemuran 8 x 10 m 2 Lbr 168,000 336,000
b). Bambu 100 batang 15,000 1,500,000
c). Waring Hitam 2 Pish 350,000 700,000
d). Balok 5 x 10 cm 30 batang 85,000 2,550,000
TOTAL BIAYA INVESTASI 31,691,000
II. BIAYA PRODUKSI :
1. Bibit Rumput laut (bibit awal) 2,400 kg 3,000 7,200,000
2. Jasa untuk pembibit 1,400 bntangan 2,000 2,800,000
3. Jasa pembuatan tali bentangan 400 bntangan 2,000 800,000
TOTAL BIAYA PRODUKSI 10,800,000
TOTAL BIAYA INVESTASI + PRODUKSI 42,491,000
III. PENDAPATAN
1. Jual Bibit 2,400 kg 3,000 7,200,000
2. Rumput laut kering(konversi 1:8 dari 8,400 kg) 1,050 kg 10,000 10,500,000
TOTAL PENDAPATAN 17,700,000
IV. KEUNTUNGAN (Pendapatan - Biaya Produksi) 6,900,000

12
IV. KESIMPULAN DAN SARAN

4.1. Kesimpulan
Dari kegiatan ini dapat diperoleh kesimpulan sebagai berikut ;
a. Penerapan teknologi budidaya dengan metode lepas dasar patok dan tali panjang
longline yang digunakan disesuaikan dengan kondisi dasar perairan setempat.
b. Sistem budidaya yang digunakan disesuaikan dengan parameter lingkungan baik
secara teknis maupun ekologis dan memberikan respon pertumbuhan rumput laut
pada musin tanam yang berbeda.
c. Kegiatan diseminasi telah diperoleh rumput laut sebanyak 1.551 kg (17,23 %) dari
target produksi 9.000 kg, masing-masing 1.026 kg (16,29%) produksi rumput laut
kering dan sebanyak 525 kg (11,44 %) untuk produksi bibit.
d. Parameter oceanografi dan kualitas air masih layak dan dapat ditolerir dalam
pertumbuhan rumput laut.

1.2. Saran

Untuk dapat lebih optimal produksi rumput laut yang dibudidayakan dapat disarankan ;
a. Rumput laut Kappaphycus spp. disesuaikan musim tanam agar tidak mengalami
kegagalan.
b. Perluasan kawasan budidaya Kappaphycus spp. di lokasi diseminasi untuk lebih
meningkatkan produksi.
c. Budidaya rumput laut disesuaikan dengan kalender tanam degan melihat
identifikasi permasalahan sistim dan musim tanam serta pemecahan masalah pada
budidaya.

13
DAFTAR PUSTAKA
Afrianto, E., dan Liviawati, E. 1989. Budidaya Rumput Laut dan Cara Pengolahannya.
Bhratara. 63 hlm
Akmal, Ilham, M., Suaib, Irwan, dan Imran. 2008a. Penerapan Budidaya Rumput Laut
Kappaphycus spp. dengan Sistim dan Musim Tanam Yang Berbeda. Laporan
Tahunan. Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya. Balai Budidaya Air Payau Takalar.
_____. 2008b. Kajian Beberapa Strain Rumput Laut Kappaphycus spp. Yang
Dibudidayakan Pada Musim Tanam Yang Berbeda. Laporan Tahunan. Direktorat
Jenderal Perikanan Budidaya. Balai Budidaya Air Payau Takalar.
Anonim, 2005. Revitalisasi Perikanan dan Kelautan. Dinas Perikanan dan Kelautan Propinsi
Sulawesi Selatan.
Atmadja, W.S. dan Sulistijo., 1980. Experimental cultivation of red algal Eucheuma and
Gracilaria in the lagoon of Pari Island Indonesia. Proc. Trop. Ecol. and Develop.
Kuala lumpur : 1121–1126.
Huang, YM. Maliakal, S. Cheney, DP. Rorrer, GL. 1998. Comparison of Development and
Photosyntetic Gowth for Filamen Clump and Regenerated Microplanlet Cultures of
Agardhiella subulata (Rodophyta, Gigartinales) Journal Phycological 34 : 893 – 901.
Neori, A. Ragg, LC. and Shpigel, M. 1998. The Integrated Culture of Seaweed, Abalone,
Fish, and Clems in Modular Intensive Land-Based System : II. Performance and
Nitrogen Partitioning Within an Abalone (Haliotis tuberculata) and Macroalgae
Culture Syastem. Aquacultural Engineering 17 : 215 – 239.
Peira, P. 2002. Beach Carryng Capacity Assesment : How Important it is ?. Journal of
Coastal Recearch, Special Issue 36 : 190 – 197.
Raju, P.V. dan P. C. Thomas., 1971. Experimental field cultivation of Gracilaria edulis
(GMEL) SILVA. Bot. Marina XIV (2) : 71–75.
Rorrer, GL. Mullikin, RK. Huang, B. Gerwick, WH. Maliakel, S. Cheney, DP. 1998.
Production of Bioactive Metabolites by Cell and Tissue Cultures of Marine
Macroalga in Bioreactor System. In FU.T.J. Singh, G. Curtis (Eds). Plant Cell and
Tissue Cultural for the Production of Food Ingredients, Cluwer Academic/Plenum
Publishing New York pp. 165 – 184.
Rorrer, GL. 2000. Cell and Tissue Cultures of Marine Seaweeds. In Spier, R.E. (Ed.)
Encyclopedia of Cell Technology Willey, pp. 1105 – 1116.
Soekarno, DR., 2001. Potensi Terumbu Karang Bagi Pembangunan Daerah Berbasis
Kelautan. Coremap LIPI, Info Urdi Vol. 11
Soegiarto, A. Sulistijo dan W.S. Atmadja., 1977. Pertumbuhan alga laut Eucheuma spinosum
pada berbagai kedalaman di goba Pulau Pari. Oseanologi di Indonesia 8 : 1–12.
Sulistyowati. H., 2003. Struktur Komunitas Seaweed (Rumput Laut) Di Pantai Pasir Putih
Kabupaten Situbondo. Jurusan Biologi FMIPA Universitas Jember. Jurnal Ilmu Dasar
vol. 4 No.1 hal. 58 – 61.

14
Sulistijo. 1985. Budidaya Rumput Lau. (BL/85/WP-11). Laboratorium Marikultur, Lembaga
Oceanologi Nasional LIPL. Jakarta.
Trono, G.C. and Fortes. 1988. Philippina Seaweed. National Book Store, Inc Metro. Manila
330 p.

15