Anda di halaman 1dari 17

PEMANFAATAN DAN PENGELOLAAN LAHAN GAMBUT

DI KALIMANTAN TENGAH
(Makalah Pengelolaan Tanah Dan Air)

Oleh

KHAIRATUL MUKSITA

E1C108004

JURUSAN TANAH
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
BANJARBARU
2010
BAB I

PENDAHULUAN

1. Latar Belakang

Keberadaan lahan gambut dunia semakin dirasakan peran pentingnya

terutama dalam menyimpan lebih dari 30% karbon terrestrial, memainkan peran

penting dalam siklus hidrologi, serta memelihara keanekaragaman hayati. Luas

lahan gambut dunia yang berkisar 38 juta ha terdapat lebih 50% berada di

Indonesia. Lahan gambut di Indonesia diperkirakan seluas 25.6 juta ha, tersebar di

Pulau Sumatera 8.9 juta ha (34.8%), Pulau Kalimantan 5.8 juta ha (22.7%) dan

Pulau Irian 10.9 juta ha (42.6%). Di wilayah Sumatera, sebagian besar gambut

berada di pantai Timur, sedangkan di Kalimantan ada di Provinsi Kalimantan

Barat, Tengah dan Selatan .

Hasil studi Puslitanak (2005), bahwa luas lahan gambut di Kalimantan

Tengah mencapai 3.01 juta ha atau 52.2% dari seluruh luasan gambut di

Kalimantan. Gambut di Kalimantan Tengah tersebut 1/3 nya merupakan gambut

tebal (ketebalan ≥3 meter). Berdasarkan tipe kedalaman, estimasi distribusi lahan

gambut di Kalimantan Tengah meliputi: sangat dangkal/sangat tipis mencapai

75,990 ha (3%); sedangkal/tipis mencapai 958,486 ha (32%); sedang mencapai

462,399 ha (15%); dalam/tebal mencapai 574,978 ha (19%); sangat dalam/sangat

tebal mencapai 661,093 ha (22%) dan dalam sekali/tebal sekali mencapai 277,694

ha (9%).

Mengingat pentingnya lahan gambut di Kalimantan Tengah secara

ekonomis maupun secara ekologis, maka pengelolaan dan pemnafaatannya harus

dilakukan secara hati-hati dengan berupaya mendapatkan manfaat secara optimal


namun dengan tetap mempertahankan fungsi ekologisnya. Hal ini karena

pengelolaan lahan gambut berkelanjutan akan menentukan banyak hal yang

berkaitan dengan kesejahteraan masyarakat di Kalimantan Tengah dan

kepentingan nasional maupun dunia internasional akan pembangunan

berkelanjutan.

Pemanfaatan lahan gambut untuk pertanian termasuk perkebunan dan

tanaman industri tergolong sangat rawan, terutama jika dilaksanakan pada gambut

tebal di daerah pedalaman (disebut gambut pedalaman). Hal ini jika lahan gambut

pedalaman dimanfaatkan untuk pengembangan komoditi-komoditi, maka

mengharuskan adanya upaya menyesuaikan kondisi air lahan atau mengeringkan

lahan dengan cara membuat saluran drainase atau kanal. Sedangkan untuk jenis

gambut pantai di daerah pasang surut, pembuatan drainase atau kanal ditujukan

untuk menyalurkan air ke bagian dalam (beberapa kilometer dari tepi sungai atau

laut). Tanpa membuat saluran drainase atau kanal pada gambut pedalaman,

dipastikan hanya jenis pohon asli setempat (ramin, meranti rawa, jelutung, gemor,

dll) yang bisa tumbuh dalam kondisi jenuh air atau daerah yang dominan basah.

Dibalik pembuatan drainase yang menyebabkan penurunan air tanah, maka terjadi

perubahan suhu dan kelembaban di lapisan gambut dekat permukaan, sehingga

mempercepat proses pelapukan dan permukaan gambut semakin menurun. Limin

(1998) menyatakan walaupun pelapukan bahan organik tersebut menghasilkan

hara bagi tanaman, pelapukan juga menghasilkan asam organik yang berpengaruh

lebih kuat dan dapat menyebabkan keracunan bagi tanaman. Pembuatan saluran

drainase atau kanal-kanal melintasi lapisan gambut tebal, tampaknya belum

banyak diketahui oleh banyak pihak akan berdampak negatif jangka panjang.
BAB II

PENGELOLAAN GAMBUT DI KALIMANTAN TENGAH

1. Pengertian Gambut

Gambut adalah tanah yang terdiri dari sisa-sisa tanaman yang telah busuk.

Dalam keadaan basah, gambut itu seperti bubur. Gambut yang masih baru

mengandung banyak serat-serat dan bekas kayu tanaman. Tanah gambut kurang

subur, sehingga hasil tanaman rendah. Di samping tanahnya asam, air tanahnya

juga asam. Jika pirit dalam lapisan tanah mineral di bawah gambut terkena udara,

maka air dapat menjadi lebih asam lagi. Air bisa mengalir dengan mudah di dalam

gambut, bahkan bisa bocor ke luar melalui tanggul sehingga petakan sawah cepat

menjadi kering bila tidak diairi secara teratur. Sulit membuat lapisan olah untuk

menahan air di dalam petak sawah. Gambut yang selalu basah biasanya masih

"mentah" sehingga zat-zat yang dibutuhkan tanaman tidak tersedia. Untuk itu

gambut ini perlu dimatangkan agar lebih bermanfaat untuk tanaman.

2. Gambaran Umum Kawasan Bergambut di Kalimantan Tengah

Kawasan bergambut di Kalimantan Tengah melingkupi hamparan areal

yang cukup luas, yakni diperkirakan mencakup areal seluas 3,472 Juta Ha, atau

sekitar 21,98 % dari total luas wilayah Provinsi Kalimantan Tengah yang

mencapai 15,798 Juta Ha.

Gambut hanya mungkin terbentuk apabila terdapat limpahan biomass atau

vegetasi pada suatu kawasan yang mengalami hambatan dalam proses

dekomposisinya. Faktor penghambat utama tersebut adalah genangan air

sepanjang tahun atau kondisi rawa. Dalam konteks yang demikian, hutan sebagai

penghasil limpahan biomass, yang mendominasi wilayah Kalimantan Tengah


(sekitar 65,05 % dari total luas wilayah), khususnya pada areal-areal yang selalu

tergenang air adalah merupakan kawasan potensial terbentuknya gambut. Tetapi

sebaliknya, tidak semua areal hutan dapat membentuk lahan-lahan bergambut.

Berdasarkan kondisi obyektif sampai saat ini, kawasan bergambut di

Kalimantan Tengah dapat dikelompokkan menjadi 5 (lima) kelompok utama,

yakni :

a. Kawasan Bergambut yang Belum Digarap

Kawasan bergambut pada kelompok ini umumnya masih berhutan atau

merupakan Kawasan Hutan, terdiri dari Kawasan Hutan Produksi, Kawasan

Lindung dan Kawasan Konservasi lainnya. Mengingat arealnya masih berhutan,

maka cukup mudah membedakan ciri-ciri penyusun vegetasi di kawasan ini, yang

umumnya didominasi oleh jenis-jenis Meranti Rawa, Ramin, Jelutung, Agathis,

Nibung dan Rengas. Sebagian besar dari kawasan bergambut yang termasuk pada

kelompok ini dibebani Hak Pengusahaan Hutan (HPH) mengingat vegetasi

penyusun arealnya yang masih potensial untuk dimanfaatkan.

Kawasan bergambut pada kelompok ini terletak pada tiga kawasan utama

yakni :

- Kawasan hutan yang terletak diantara Areal Eks PLG di sebelah Timur

(dibatasi oleh sungai Sebangau) hingga areal Taman Nasional Tanjung Puting

(TNTP) di sebelah Barat, dengan batas Utara adalah Jalan Trans Kalimantan

dan di sebelah Selatan berbatasan dengan Laut Jawa.

- Kawasan hutan yang terletak pada Blok E di sebelah Utara areal Eks PLG.

- Kawasan hutan yang terletak diantara kawasan TNTP hingga ke batas

propinsi dengan Propinsi Kalimantan Barat.


b. Kawasan Bergambut Areal Eks PLG

Sebagaimana diketahui bahwa Proyek Pengembangan Lahan Gambut

(PLG) Satu Juta Hektar adalah merupakan mega proyek nasional yang bermasalah

karena tanpa didahului oleh kajian-kajian secara matang dan mendalam serta

perencanaan yang tepat, mantap dan tidak terintegrasi secara lintas sektoral.

Terlebih lagi areal PLG yang sedemikian luas tersebut merupakan kawasan hutan

bergambut dengan berbagai karakteristik khusus dan khas, yang tentu saja

semestinya memerlukan penanganan secara khusus pula.

c. Kawasan Bergambut TNTP

Kelompok ketiga kawasan bergambut di Kalimantan Tengah adalah pada

Kawasan Taman Nasional Tanjung Puting (TNTP) dengan luas areal mencapai

415.040 Ha, yang secara khusus diperuntukkan sebagai habitat bagi satwa langka

yang dilindungi yakni orangutan (Pongo pygmaeus).

d. Kawasan Bergambut Terlantar

Kawasan bergambut yang diklasifikasikan sebagai kawasan yang terlantar

umumnya merupakan salah satu dampak dari kegiatan pembangunan akses jalan

yang menghubungkan daerah-daerah di Kalimantan Tengah. Menjadi terlantar

karena pada umumnya kawasan bergambut pada kelompok ini berdasarkan sistem

Tata Ruang Propinsi Kalimantan Tengah (RTRWP) sudah tidak lagi merupakan

Kawasan Hutan Tetap di satu sisi, sedangkan di sisi lain di claim oleh masyarakat

sebagai areal tanah milik mereka, tetapi tidak digarap atau diolah sebagaimana

mestinya. Kelompok ini lebih tepat disebut sebagai lahan gambut terlantar atau

lahan tidur yang bergambut.

e. Kawasan Bergambut Yang Diolah Masyarakat


Kelompok terakhir dari kawasan bergambut yang terdapat di wilayah

Propinsi Kalimantan Tengah adalah kawasan bergambut yang telah diolah oleh

masyarakat, atau dengan kata lain dapat disebut sebagai lahan gambut produktif.

Kawasan bergambut pada kelompok ini (lahan gambut produktif) umumnya

terdiri dari :

- Kawasan bergambut yang dijadikan sebagai kawasan pemukiman melalui

program transmigrasi,

- Kawasan bergambut yang dikelola menjadi lahan-lahan perkebunan besar

swasta (kelapa sawit),

- Kawasan bergambut yang dikelola masyarakat setempat baik sebagai

lahan perkebunan maupun hasil hutan ikutan lainnya (seperti kebun kelapa,

kebun karet, budidaya jelutung, kebun rotan, dan lain-lain).

3. Degradasi Lahan Gambut dan PLG Sejuta Hektar

Potensi lahan gambut di Kalimantan Tengah sudah mengalami degradasi

yang cukup parah. Terdapat 3 (tiga) hal mendasar yang merupakan ancaman bagi

keberadaan hutan rawa gambut di Kalimantan Tengah, yaitu: (1) konversi lahan

gambut secara besar-besaran untuk dijadikan areal pertanian ketika

dilaksanakannya Proyek PLG (Pengembangan Lahan Gambut 1 juta ha tahun

1995; (2) meluasnya eksploitasi sumberdaya hutan rawa gambut melalui perizinan

HPH/HTI dan illegal logging; dan (3) kebakaran hutan dan lahan oleh perubahan

ekosistem dalam hutan rawa gambut.

PLG tersebut telah mengeksploitasi sekitar ½ luas lahan gambut di

Kalimantan Tengah. Lahan dan hutan yang terdapat pada lapisan bagian atas

lahan gambut di sekitar lokasi proyek terdegradasi dan ekosistemnya


dikonversikan menjadi lahan pertanian. Eksploitasi lahan gambut sekitar 1.7 juta

hektar dan pembangunan jaringan tata air telah menimbulkan masalah lingkungan

yang sangat serius, yaitu: banjir besar pada musim penghujan, kekeringan pada

musim kemarau yang diikuti dengan kebakaran hutan lahan, maraknya illegal

logging, kemerosotan keanakaragaman hayati. Secara ekologi, pembakaran lahan

gambut mempercepat rusaknya lingkungan yang unik dan jasa-jasa ekologi yang

dihasilkannya (misalnya pengaturan air dan pencegahan banjir).

Perlindungan terhadap kawasan gambut dengan sendirinya akan

mengendalikan hidrologi wilayah yang berfungsi sebagai penambat air dan

pencegah banjir. Dalam kondisi alami yang tidak terganggu, lahan-lahan gambut

mempunyai fungsi-fungsi ekologi yang penting: mengatur air di dalam dan di

permukaan tanah.

Dengan sifatnya yang seperti spon, gambut dapat menyerap air yang

berlebihan, yang kemudian secara kontinye dilepas perlahan-lahan. Hal ini

menyebabkan air akan tetap mengalir secara konsisten dan karena itu menghindari

terjadinya banjir juga kekeringan. Tak hanya itu, perlindungan kawasan gambut

akan menjaga keanekaragaman hayati dengan banyak jenis yang unik dan hanya

dijumpai di daerah lahan gambut .

4. Pertanian Berkelanjutan Dalam Pengelolaan Lahan Gambut

1. Pertanian Berkelanjutan

Definisi komprehensif bagi pertanian berkelanjutan meliputi komponen-

komponen fisik, biologi dan sosio ekonomi, yang direpresentasikan dengan sistem

pertanian yang melaksanakan pengurangan input bahan-bahan kimia

dibandingkan pada sistem pertanian tradisional, erosi tanah terkendali, dan


pengendalian gulma, memiliki efisiensi kegiatan pertanian (on-farm) dan bahan-

bahan input maksimum, pemeliharaan kesuburan tanah dengan menambahkan

nutrisi tanaman, dan penggunaan dasar-dasar biologi pada pelaksanaan pertanian.

Salah satu pendekatan pertanian berkelanjutan adalah input minimal (low

input) secara khusus ditulis oleh Franklin H. King dalam bukunya Farmers of

Forty Centuries. Gagasan King adalah bahwa sistem pertanian memiliki kapasitas

internal yang besar untuk melakukan regenerasi dengan menggunakan

sumberdaya-sumberdaya internal.

Dalam mengadopsi input minimal (low input) sistem-sistem berkelanjutan

dapat menunjukkan penurunan potensial fungsi-fungsi eksternal atau

konsekuensi-konsekuensi negatif dari jebakan sosial pada masyarakat. Petani

sering terperangkap dalam perangkap sosial tersebut sebab insentif-insentif yang

mereka terima dari kegiatan produksi saat ini.

5. Pengelolaan Kawasan Bergambut di Kalimantan Tengah

Perkembangan pengelolaan kawasan bergambut di Kalimantan Tengah

dapat dibedakan sebagai berikut:

1. Pengelolaan Kawasan Bergambut melalui Program Pemerintah.

Penetapan kawasan-kawasan bergambut tertentu untuk tujuan-tujuan

konservasi berupa penetapan Kawasan Taman Nasional, Cagar Alam, Suaka

Margasatwa, Cagar Budaya, Taman Wisata, Hutan Lindung, termasuk Kawasan

Konservasi Air Hitam.

Pengelolaan kawasan gambut untuk kepentingan pembangunan wilayah

(selain Proyek PLG) pada umumnya dalam bentuk-bentuk pembukaan lahan baru

untuk dijadikan sebagai lokasi pemukiman penduduk melalui program


transmigrasi atau re-settlement. Disamping itu adalah berupa pembangunan

jaringan atau akses jalan yang menghubungkan daerah-daerah di Kalimantan

Tengah.

2. Pengelolaan Kawasan Bergambut oleh Pihak Swasta

Pengelolaan kawasan bergambut yang masih berupa hutan (Kawasan

Hutan) yang dilakukan oleh para pemegang HPH dalam rangka memanfaatkan

tegakan hutan yang bernilai ekonomis melalui kegiatan-kegiatan eksploitasi dan

silvikultur. Pengelolaan kawasan bergambut yang sudah tidak berupa hutan

(bukan merupakan Kawasan Hutan) oleh perusahaan perkebunan swasta besar

(PSB) yang dikonversi menjadi kebun-kebun kelapa sawit sekaligus sebagai

sentra-sentra produksi crude palm oil (CPO) di Kalimantan Tengah.

3. Pengelolaan Kawasan Bergambut oleh Lembaga Perguruan Tinggi

− Kawasan hutan bergambut seluas ±5.000 Ha yang

diperuntukkan sebagai Hutan Pendidikan dan Penelitian yang terletak di

Hampangen, Kabupaten Katingan.. Kawasan tersebut dikelola oleh pihak

Universitas Palangka Raya, dan selama ini menjadi tempat kegiatan praktek

lapangan maupun research mahasiswa.

− Laborarium Gambut di sungai Sebangau yang dikelola oleh

pihak Universitas Palangka Raya bekerja sama dengan pihak Nottingham

University, UK.

4. Pengelolaan Kawasan Bergambut oleh Masyarakat

Kegiatan pengelolaan kawasan bergambut yang dilakukan oleh

masyarakat lebih merupakan pemanfaatan lahan gambut untuk kepentingan

pembangunan kebun-kebun rakyat dan pengolahan lahan gambut sebagai lahan


pertanian tanaman pangan, dengan pola sebaran mengikuti konsentrasi

pemukiman penduduk di sepanjang kiri kanan Jalan Negara.

6. Prospek Pengembangan Pertanian di Lahan Gambut

Potensi pengembangan pertanian pada lahan gambut, disamping faktor

kesuburan alami gambut juga sangat ditentukan oleh manajemen usaha tani yang

akan diterapkan. Pengelolaan lahan gambut pada tingkat petani, dengan

pengelolaan usaha tani termasuk tingkat rendah (low inputs) sampai sedang

(medium inputs), akan berbeda dengan produktivitas lahan dengan manajemen

tinggi yang dikerjakan oleh swasta atau perusahaan besar.

Dengan manajemen tingkat sedang yaitu perbaikan tanah dengan

penggunaan input yang terjangkau oleh pertani seperti pengolahan tanah, tata air

mikro, pemupukan, pengapuran, serta pemberantasan hama dan penyakit, maka

potensi pengembangan lahan dititikberatkan pada pemilihan jenis tanaman dan

teknis bertanam .

a) Padi Sawah

Budidaya padi sawah dibudidayakan oleh petani transmigrasi untuk

memenuhi kebutuhan pangannya. Akan tetapi budidaya padi sawah di lahan

gambut dihadapkan pada berbagai masalah terutama menyangkut kendala fisika,

kesuburan tanah, serta pengelolaan tanah dan air. Khusus gambut tebal (>1 meter)

belum berhasil dimanfaatkan untuk budidaya padi sawah karena mengandung

sejumlah kendala yang belum dapat diatasi. Kunci keberhasilan budidaya padi

sawah pada lahan gambut terletak pada keberhasilan dalam pengelolaan dan

pengendalian air, penanganan sejumlah kendala fisik yang merupakan faktor

pembatas, penanganan substansi toksik, dan pemupukan unsir makro dan mikro.
Lahan gambut yang sesuai untuk padi sawah adalah gambut tipis (20-50

cm) dan gambut dangkal (50-100 cm). Padi kurang sesuai pada gambut sedang (1-

2 meter) dan tidak sesuai pada gambut tebal (2-3 meter) dan sangat tebal (lebih

dari 3 meter). Pada gambut tebal dan sangat tebal, tanaman padi tidak bisa

membentuk gabah karena kahat unsur hara mikro.

Pada tanah sawah dengan kandungan organik tinggi, asam-asam organik

menghambat pertumbuhan terutama akar, mengakibatkan rendahnya produktivitas

bahkan kegagalan panen. Tingkat keasaman dan suplai Ca yang rendah serta

kandungan abu yang rendah merupakan faktor pembatas utama pertumbuhan padi

sawah pada gambut tebal.

b) Tanaman Perkebunan dan Industri

Budidaya tanaman perkebunan berskala besar banyak dikembangkan di

lahan gambut oleh perusahaan-perusahaan swasta. Pengusahaan tanaman-tanaman

ini kebanyakan dengan pemanfaatan gambut tebal (1-2 meter). Sebelum

penanaman dilakukan pemadatan tanah dengan menggunakan peralatan berat.

Sistem draenase yang tepat sangat menentukan keberhasilan budidaya tanaman

perkebunan di lahan tersebut. Pengelolaan kesuburan tanah yang utama adalah

pemberian pupuk makro dan mikro.

Diantara tanaman perkebunan yang lain seperti sawit, karet, dan kelapa,

nanas (Ananas cumosus) merupakan tanaman yang menunjukkan adaptasi yang

tinggi pada gambut berdraenase. Nanas bisa beradaptasi dengan baik pada

keadaan asam yang tinggi dan tingkat kesuburan yang rendah. Tanaman nenas

tumbuh dengan baik dan mulai berbuah 14 bulan setelah tanam. Tumpang sari

nenas dengan kelapa memberikan prospek yang cerah untuk dikembangkan.


Kelapa sawit merupakan tanaman tahunan yang cukup sesuai pada lahan gambut

dengan ketebalan sedang sampai tipis dengan hasil sekitar 13 ton per ha pada

tahun ketiga penanaman.

Untuk jenis buah seperti jambu air (Eugenia), Mangga (Mangosteen), dan

Rambutan, banyak ditanam di lahan gambut di Kalimantan Tengah. Sedangkan di

daerah pantai ivory dengan lahan gambut termasuk oligotropik, pisang dapat

tumbuh dengan drainase 80-100 cm dan menghasilkan 25-40 ton per ha walaupun

dengan pengelolaan yang agak sulit. Tanaman lain yang potensial adalah tanaman

keras seperti kelapa, kopi, dan tanaman obat.

c) Palawija dan Tanaman Semusim Lainnya.

Tanah gambut yang sesuai untuk tanaman semusim adalah gambut

dangkal dan gambut sedang. Tanaman pangan memerlukan kondisi draenase yang

baik untuk mencegah penyakit busuk pada bagian bawah tanaman dan

meminimalkan pemakaian pupuk. Ubi kayu (Manihot esculenta) merupakan

tanaman yang cukup produktif di lahan gambut oligotropik dengan drenase yang

baik. Sementara untuk tanaman sayuran beberapa jenis sayuran seperti cabe,

semangka, dan nenas mempunyai potensi ekonomi untuk dikembangkan.

Untuk menghindari penurunan permukaan tanah (subsidence) tanah

gambut melalui oksidasi biokimia, permukaan tanah harus dipertahankan agar

tidak gundul. Beberapa vegetasi seperti rumput-rumputan ataupun leguminose

dapat dibiarkan untuk tumbuh di sekeliling tanaman, kecuali pada lubang tanam

pokok seperti halnya pada perkebunan kelapa sawit dan kopi. Beberapa jenis

leguminose menjalar seperti Canavalia maritima dapat tumbuh dengan unsur hara

minimum dan menunjukkan toleransi yang tinggi terhadap keasaman.


Pembakaran seperti yang dilakukan pada perkebunan nenas harus

mempertimbangkan pengaruhnya terhadap kebakaran lingkungan sekitarnya.

Akan lebih baik jika penyiangan terhadap gulma dikembalikan lagi ke dalam

tanah (dibenamkan) yang akan berfungsi sebagai kompos, sehingga selain

memberikan tambahan hara, juga dapat membantu mengatasi penurunan

permukaan tanah melalui subsidence.

7. Kearifan Lokal dan Pemberdayaan Masyarakat

Keterlibatan masyarakat untuk mengurangi tingkat ancaman dan

kerusakan pada lahan gambut menjadi sangat besar mengingat bahwa adanya

interaksi dengan pola pemanfaatan dan laju kerusakan. Hal yang sangat penting

dan dapat dilakukan oleh masyarakat adalah bagaimana mengarahkan masyarakat

dalam mengelola lahan gambut untuk kepentingan pemanfaatan dengan pola

budaya tradisionil (kearifan lokal) yang memadukan antara pengembangan

teknologi budidaya dan nilai budaya bertani.

Pemanfaatan lahan gambut secara bijaksana dan berkelanjutan merupakan

upaya untuk tetap mempertahankan potensi kekayaan alami ekosistem, serta

memanfaatkanya secara berkelanjutan agar dapat diperoleh manfaat tidak hanya

untuk masa kini namun juga pada masa mendatang. Selama ini dan pasti akan

terus berlangsung bahwa lahan gambut akan dimanfaatkan secara beragam oleh

pemangku kepentingan, sehingga berakibat pada beberapa tempat memicu

rusaknya sumber daya ekosistem hayati.

Pemberdayaan masyarakat dalam mengelola lahan gambut untuk

pengembangan sektor perkebunan terutama untuk jenis tanaman karet dan

jelutung pada lahan gambut sangat perlu untuk dicermati, karena disamping untuk
melakukan upaya rehabilitasi kembali kawasan-kawasan yang telah rusak juga

diharapkan akan berdampak pada penurunan terhadap ancaman bahaya kebakaran

hutan dan lahan.

Upaya-upaya pemberdayaan yang akan dilakukan tidak hanya berhenti

pada upaya memfasilitasi petani atau masyarakat dengan pemberian bibit, namun

juga harus diiringi dengan peningkatan pemahaman dan kapasitas serta tanggung

jawab bersama terutama masyarakat yang menjadi penerima manfaat dari sebuah

program.
BAB III

KESIMPULAN

Kalimantan Tengah merupakan salah satu daerah yang memiliki potensi

lahan gambut yang harus dijaga keberadaanya. Hal ini dikarenakan Kalimantan

Tengah memiliki luas lahan gambut 3,01 juta hektar atau 52,5% dari luasan

gambut di Pulau Kalimantan.

Potensi lahan gambut di Kalimantan Tengah tersebut sudah mengalami

degradasi yang cukup parah. 3 (tiga) hal mendasar yang merupakan ancaman bagi

keberadaan hutan rawa gambut di Kalimantan Tengah, yaitu:

(1) Konversi lahan gambut secara besar-besaran untuk dijadikan

areal pertanian ketika dilaksanakannya Proyek PLG satu juta hektar tahun

1995;

(2) Meluasnya eksploitasi sumberdaya hutan rawa gambut melalui

perizinan HPH/HTI dan illegal logging; dan

(3) Kebakaran hutan dan lahan oleh perubahan ekosistem dalam

hutan rawa gambut. PLG (Pengembangan Lahan Gambut) satu juta hektar di

Kalimantan Tengah merupakan suatu bentuk eksploitasi terbesar terhadap

hutan dan lahan gambut. PLG tersebut telah menimbulkan masalah

lingkungan yang sangat serius.

Pemanfaatan lahan gambut secara bijaksana dan berkelanjutan merupakan

upaya untuk tetap mempertahankan potensi kekayaan alami ekosistem, serta

memanfaatkanya secara berkelanjutan agar dapat diperoleh manfaat tidak hanya

untuk masa kini namun juga pada masa mendatang.


DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2010. Pemanfaatan dan Pengelolaan Lahan Gambut di Kalimantan


Tengah. http://kalimantankita.blogspot.com/2009/12/pemanfaatan-dan-
pengelolaan-lahan.html. Diakses pada tanggal 8 Oktober 2010.

Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. 1997. Pengelolaan


Tanah
dan Air. Pengelolaan_tanah_dan_air. pdf. Diakses pada tanggal 8
Oktober 2010.

Suwido H. Limin. 2006. Pemanfaatan Lahan Gambut Dan Permasalahannya.


pemanfaatan lahan gambut. Pdf. Diakses pada tanggal 8 Oktober 2010.