Anda di halaman 1dari 6

http://digilib.unnes.ac.id/gsdl/collect/skripsi/archives/HASH01e5/2b45f028.dir/doc.

pdf
2.1.1.3 Pertusis (Batuk Rejan, Batuk 100 Hari).
Penyakit pertusis dapat diderita oleh bayi karena selama
dalam kandungan tidak mendapatkan zat anti terhadap pertussis.
Jika diderita bayi penyakit ini merupakan penyakit yang gawat
dengan kematian 15-30%. Pada anak-anak penyakit ini jarang
menyebabkan kematian, tetapi pengobatan terhadap penyakit ini
sulit dan memakan waktu lama (8 minggu) sehingga pengobatan
terhadap pertusis memerlukan biaya yang cukup tinggi
(Sudarjat Suraatmaja, 1997 : 22).
1) Penyebab Pertusis
Pertusis disebabkan oleh infeksi kuman Bordetella Pertussis.
Kuman mengeluarkan toksin yang menyebabkan ambang rangsang
batuk menjadi rendah, sehingga dengan rangsangan sedikit saja
(tertawa terbahak-bahak, dan menangis) akan terjadi batuk yang hebat
dan lama (Sudarjat Suraatmaja, 1997 : 23).
2) Penularan Pertusis
Dengan percikan sewaktu penderita batuk, masa penularan
terjadi sejak permulaan penyakit sampai 3 minggu berikutnya.
3) Masa Inkubasi Pertusis
Masa inkubasi pertusis terjadi antara 6 sampai 12 hari (rata-rata
7 hari).
4) Gambaran Klinis Pertusis
Pada stadium permulaan yang disebut stadium kataralis yang
berlangsung 1-2 minggu, gejala belum jelas. Penderita menunjukkan
gejala demam, pilek, batuk yang makin lama makin keras. Pada
stadium selanjutnya disebut stadium paroksismal, baru timbul gejala
khas berupa batuk lama atau hebat, didahului dengan menarik napas
panjang disertai bunyi “whoops”. Stadium paroksismal ini
berlangsung 4-8 minggu. Pada bayi batuk tidak khas, “whoops” tidak
ada tetapi sering disertai penghentian napas sehingga bayi menjadi
biru (Sudarjat Suraatmaja, 1997: 24).
http://repository.unikom.ac.id/repo/sector/perpus/view/jkpkbppk-gdl-res-1993-siti-
717-vaccines2.pdf
Abstract
Saat ini terdapat dua macam vaskin pertusis yaitu vaksin seluler dan vaksin aseluler
(baru
digunakan di Jepang). Untuk itu telah dilakukan penelitian di Pusat Penelitian Penyakit
Menular
tahun 1993/1994 untuk mengetahui respon imun hewan coba terhadap kedua vaksin
tersebut.
Sebelumnya uji potensi vaksin telah dilakukan namun hasilnya masih belum
memuaskan. Vaksin
pertusis aseluler mengandung 2 komponen aktif dari kuman Bordetella pertussis (dari
12
komponen) yang bersifat antigen protektif, yaitu filamentous haemaglutinin (FHA) dan
pertussis
toksin (PT).ppTujuan penelitian ini untuk mengetahui proteksi yang ditimbulkan oleh
vaksin
selluler (biofarma) dan membandingkan dengan vaksin aselluler (Jepang) pada
mencit.ppKelompok studi terdiri dari mencit jantan dan betina yang berumur 4 minggu
dengan
berat badan 14-16 gram sebanyak 360 ekor dan dibagi menjadi 2 kelompok; yang
diimunisasi
dengan vaksin pertussis selluler dan aselluler. Setelah pengambilan darah untuk
pemeriksaan
zat anti, mencit tersebut di challenge dengan kuman hidup bordetella Pertussis 18-323
sebanyak
50.000 kuman untuk mngetahui potensi kedua vaksin tersebut.ppHasil penelitian
menunjukkan
bahwa kadar zat anti FHA dan PT yang terbentuk pada 2 minggu setelah imunisasi
tidak berbeda
antara vaksin selluler dengan vaksin aselluler. Namun terdapat perbedaan titer antibodi
FHA dan
PT pada 3 minggu setelah imunisasi. ppHasil potensi vaksin tidak berbeda di antara
kedua
vaksin tersebut bila challenge diberikan setelah 3 minggu. Sedangkan bila challenge
diberikan
pada 2 minggu setelah imunisasi, potensi vaksin selluler lebih tinggi dari pada vaksin
aselluler.
Karena vaksin selluler mengandung antigen-antigen lain dari kuman pertussis sehingga
antibodi
yang ada telah mampu untuk melindungi mencit. Berarti antibodi FHA dan PT saja
belum mampu
melindungi mencit dalam waktu 2 minggu.
http://www.kalbe.co.id/files/cdk/files/17Abstrak008.pdf/17Abstrak008.html
RISIKO VAKSINASI TERHADAP PERTUSIS
Vaksinasi terhadap pertusis memang dapat menyebabkan efek samping, antara lain
encephalopathy, akan tetapi risiko ini dianggap demikian kecil dibandingkan dengan
bahaya kematian/morbiditasnya, sehingga vaksinasi tersebut tetap dianjurkan.
Oleh G.T.
STEWART
dibuktikan bahwa sebenarnya vaksinasi terhadap pertusis
tidak bermanfaat dan lebih banyak bahayanya.
Di Inggris, setelah dilakukan vaksinasi masal di tahun 1957, terlihat penurunan mor-
talitas akibat pertusis, akan tetapi dengan analisa regresi dibuktikan bahwa tanpa
vaksinasipun mortalitas memang akan mencapai angka yang ada sekarang ini kalau
dihitung berdasarkan trend yang ada sejak tahun 1943 sampai 1957, yaitu tahun di-
mulainya vaksinasi masal. Dalam penyelidikan ini diambil mortalitas karena angka
morbiditas nasional dianggap kurang dapat dipercaya akibat tak lengkapnya data.
Dalam penyelidikan terhadap keluarga-keluarga yang salah satu anggotanya mende-
rita pertusis, dibuktikan bahwa penularan terhadap anggota keluarga yang divaksinasi
tidak berbeda dengan yang tidak-divaksinasi dalam insidens, lamanya sakit beratnya
penyakit.
Sebaliknya disebutkan bahwa mungkin sekali efek samping vaksinasi lebih banyak
daripada angka yang ada sekarang ini, hanya tidak dilaporkan, karena biasanya hanya
gejala yang berat yang dilaporkan. Reaksi terhadap vaksinasi pertusis antara lain dapat
berupa :
1.
Bayi menangis terus menerus 448 jam setelah injeksi.
2.
Pucat, rigiditas dan shock yang terjadi mendadak dalam waktu 48 jam setelah injeksi,
biasanya dalam 612 jam.
3.
Irritabilitas meningkat, tidur tak nyenyak.
4.
Tak mau makan/memuntahkan makanan.
5.
Respons terhadap orang tua berubah.
6.
Paresis dan paralisis lokal.
7.
Kejang-kejang dengan/tanpa pyrexia dan cyanosis.
Biasanya gejala-gejala tersebut hilang sendiri dalam beberapa hari/minggu, tapi ada juga
(65 kasus telah dilaporkan pada penulis) yang kemudian menunjukkan gejala ini :
8.
Hiperkinesis.
9.
Spasme yang meluas ke konvulsi/epilepsi.
10.
Progressive unresponsiveness to parents.
11.
Amentia parsiel atau total.
Dalam penyelidikan ini, seperti pada penyelidikan lainnya, ditemukan bahwa sedikit
banyak vaksinasi memang memberi perlindungan pada anak-anak berumur satu tahun
ke atas. Di daerah-daerah di mana pertusis sering dijumpai, perlindungan ini memang
diperlukan. Akan tetapi justru golongan yang amat memerlukannya, yaitu bayi-bayi
di bawah satu tahun, terutama dalam keluarga besar (crowded homes), tidak cukup
dilindungi oleh vaksinasi tersebut.
STEWART G.T. :
Vaccination against whooping-cough. Lancet i: 234-237, 1977
3.1. Kesimpulan
Pertusis merupakan penyakit yang disebabkan oleh infeksi bakteri Bordetella pertussis.
Pertusis disebut juga batuk rejan atau whooping cough karena pasien batuk 5-10 batuk tanpa
berhenti dan berupaya keras untuk menarik napas sehingga pada akhir batuk sering disertai bunyi
yang khas (whoop). Pertusis ditularkan melalui aerosol batuk atau bersin dari penderita pertusis.
Tanpa pengobatan, penderita pertusis dapat menularkan penyakitnya kepada orang lain mulai
awal batuk sampai berminggu-minggu kemudian hingga batuk berhenti, namun dapat menjadi
tidak infeksius setelah 5 hari pengobatan dengan eritromisin. Masa inkubasi 6 – 20 hari (rata-rata
7 – 10 hari). Stadium klinis pertusis terdiri dari stadium katar yang ditandai dengan gejala seperti
ISP, stadium paroksismal yang ditandai dengan batuk berat 5-10x batuk tanpa henti dan diakhiri
dengan suara khas (whoop) dan/atau muntah, dan stadium konvalesens ditandai dengan batuk
berkurang dan tidak muntah lagi. Penegakan diagnosis berdasarkan klinis dan pemeriksaan
penunjang (limfositosis dan biakan bakteri B.pertusis). Antibiotik eritromisin 50 mg/kgBB/hari
dalam 2-4 dosis dapat membasmi basil dalam 3-4 hari, namun tidak meringankan stadium
paroksismal penyakit. Terapi suportif diberikan terutama untuk menghindari faktor yang
menimbulkan serangan batuk, mengatur hidrasi dan nutrisi, bila perlu beri oksigen dan
pengisapan lendir pada bayi. Komplikasi pertusis terutama pada sistem pernapasan (apnea dan
pneumonia) dan saraf pusat (ensefalopati dan kejang). Prognosisnya lebih baik pada anak usia
lebih tua.
Siapa saja dapat terkena pertusis, terutama bayi muda dan anak yang lebih tua. Infeksi
pada bayi lebih serius dan dapat menimbulkan kematian. Imunisasi yang diberikan pada usia
2,4,6 bulan efektif untuk mencegah infeksi yang berat, namun tidak memberikan kekebalan yang
permanen. Oleh karena itu, perlu diberikan booster dan profilaksis eritromisin pada anak usia < 7
tahun yang kontak erat dengan penderita pertusis. Efek samping vaksinasi pertusis adalah
demam tinggi, nyeri lokal, dan rewel. Kontraindikasi pemberian vaksin pertusis yaitu anak yang
mengalami ensefalopati dalam 7 hari sebelum imunisasi, kejang demam atau kejang tanpa
demam dalam 3 hari sebelum imunisasi, menangis > 3 jam, high pitch cry dalam 2 hari, kolaps
atau hipotensif hiporesponsif ndalam 2 hari, demam > 40,5oC selama 2 hari yang tidak dapat
diterangkan penyebabnya. Pemberian vaksin pertusis aseluler memberi efek samping lebih
ringan, namun efek protektifnya lebih rendah dibandingkan dengan vaksin pertusis sel penuh.
3.2. Saran
Bayi sangat rentan terhadap infeksi pertusis, oleh karena itu dianjurkan pemberian vaksin DTP
pada usia 2,4,6 bulan sesuai dengan Program Pengembangan Imunisasi untuk mencegah infeksi
yang berat. Selain itu bila ada kontak erat dengan penderita pertusis perlu diberikan profilaksis
eritromisin dan isolirkan penderita, jika tidak mungkin memutus kontak, maka perlu diberi
eritromisin profilaksis hingga batuk berhenti.