Anda di halaman 1dari 4

GROWTH WITH EQUITY DALAM AGRIBISNIS

PETERNAKAN
Oleh:

Dr. Ir. Arief Daryanto, MEc

Sistem pertanian dan pangan di negara berkembang mengalami perubahan yang sangat
signifikan. Seiring dengan peningkatan pendapatan per kapita, perubahan gaya hidup,
perubahan teknologi, liberalisasi perdagangan global dan urbanisasi, maka peranan sektor
swasta semakin besar, pertanian (termasuk peternakan) skala kecil semakin komersil,
industri pertanian (agroindustry) dan jasa pertanian (agroservices) semakin penting
peranannya dalam pembangunan.

Sistem rantai nilai (value chain system) juga semakin penting dalam meningkatkan nilai
tambah (value added) dalam sektor pertanian dalam arti luas. Pengolah, pengumpul,
pengecer dan konsumen semakin mengandalkan sistem rantai nilai yang yang menjamin
kuantitas dan kualitas sesuai dengan permintaan konsumen, pendistribusian yang tepat
waktu dan kesinambungan yang terjaga.

Dari sisi penawaran, produsen dituntut untuk dapat bersaing berkaitan dengan
kemampuan merespons atribut produk yang diinginkan oleh konsumen secara efisien.
Dari sisi permintaan harus disadari bahwa permintaan konsumen terhadap suatu produk
semakin kompleks yang menuntut berbagai atribut atau produk yang dipersepsikan
bernilai tinggi oleh konsumen (consumer’s value perception). Jika di masa lalu konsumen
hanya mengevaluasi produk berdasarkan atribut utama yaitu jenis dan harga, maka
sekarang ini dan di masa yang akan datang, konsumen sudah menuntut atribut yang lebih
rinci lagi seperti atribut keamanan produk (safety attributes), atribut nutrisi (nutritional
attributes), atribut nilai (value attributes), atribut pengepakan (package attributes),
atribut lingkungan (ecolabel attributes) dan atribut kemanusiaan (humanistic attributes).
Bahkan aspek animal welfare pun harus diperhatikan dan ditaati.

Bisnis peternakan ke depan mempunyai prospek yang sangat baik. Sumber-sumber


pertumbuhan di bidang bisnis peternakan antara lain adalah munculnya fenomena
revolusi peternakan, revolusi putih dan revolusi supermarket. Revolusi peternakan, yang
ditandai dengan kian meningkatnya konsumsi daging dan susu per kapita seiring dengan
meningkatnya pendapatan, merupakan salah satu sumber pertumbuhan peternakan yang
signifikan di negara-negara berkembang.

Revolusi putih yang merupakan suatu upaya sistematis untuk meningkatkan konsumsi
susu dalam negeri secara drastik juga merupakan salah satu sumber pertumbuhan yang
diharapkan dalam bisnis peternakan. Peningkatan konsumsi susu dapat terjadi apabila
produksi susu sapi dalam negeri meningkat pesat dan harganya terjangkau oleh
masyarakat.
Revolusi peternakan dan revolusi putih akan semakin besar peranannya sebagai mesin
pertumbuhan apabila didukung oleh revolusi supermarket. Perubahan permintaan
konsumen terhadap beragam produk yang bernilai tinggi mendorong terjadinya evolusi
sistem pemasaran dengan masuk dan berkembang secara cepat jaringan supermarket.
Supermarket mampu meningkatkan pasokan protein dan menyediakan menu makanan
yang lebih beragam, lebih nyaman suasana belanjanya dan lebih terjamin kualitas dan
keamanan produk-produk yang dijualnya.

Supermarket menjadi kian dominan dalam bisnis ritel produk peternakan domestik.
Apalagi didukung dengan adanya kecenderungan konsumen kian meningkatkan perhatian
pada kualitas dan keamanan makanan, dan selera atau preferensi makanan pun
mengglobal. Faktor lain yang menyebabkan pertumbuhan supermarket yang sangat cepat
adalah masuknya jaringan supermarket multinasional.

Manfaat Pertumbuhan yang Masih Eksklusif

Sayangnya, revolusi peternakan, revolusi putih dan revolusi supermarket sejauh ini
dinilai belum dapat memberikan pertumbuhan yang inklusif atau masih eksklusif
sifatnya. Pertumbuhan inklusif merupakan pertumbuhan yang tidak hanya memberikan
manfaat kepada peternak atau pelaku usaha peternakan berskala besar, tetapi juga
meningkatkan peran serta peternak atau pelaku usaha berskala kecil. Pertumbuhan yang
inklusif merupakan pertumbuhan yang menciptakan pula pemerataan atau dalam literatur
disebut sebagai fenomena ”growth with equity”.

Pertumbuhan yang pesat dalam bisnis peternakan sejauh ini lebih banyak dinikmati oleh
perusahaan-perusahaan multinasional (MNCs) berskala besar. Digerakkan oleh adanya
keuntungan skala ekonomi (economies of scale) dan globalisasi sistem rantai nilai, MNCs
semakin mendominasi sektor agribisnis di seluruh rantai nilai, dari hulu sampai hilir.
Dalam bisnis di bidang pertanian misalnya, MNCs menyediakan beragam input seperti
pestisida, bibit dan teknologi-teknologi genetik tanaman pangan. MNCs yang bergerak
dalam pengolahan makanan berintegrasi ke belakang untuk memproduksi bahan baku
(mentah) dan ke depan menangani distribusi ritel. Perkembangan yang sangat pesat
dalam sistem rantai nilai yang mengglobal telah meninggalkan pasar-pasar tradisional
dimana para petani atau peternak skala kecil (gurem) menjual ke pasar dan pedagang
lokal.

Konsolidasi dalam bidang agribisnis akan terus berlangsung. Pada tahun 2004, pangsa
pasar empat perusahaan terbesar (disebut dengan CR-4, Concentration Ratio-4) yang
bergerak dalam bisnis agrokimia mencapai 60 persen, CR-4 benih sebesar 33 persen. CR-
4 yang semakin besar artinya bahwa konsolidasi (melalui proses merger dan akuisisi)
terus berlangsung. Pada tahun 1997, CR-4 untuk bisnis agrokimia dan benih di dunia
masing-masing sebesar 47 persen dan 23 persen. Angka-angka CR-4 tahun 2004 lebih
tinggi dibandingkan dengan tahun 1997. Semakin terkonsentrasi suatu industri, maka hal
ini menyebabkan semakin besarnya perbedaan antara yang konsumen bayarkan dan yang
produsen terima untuk produksi barang mereka.
Industri pengolahan daging ayam (broilers), babi (hogs) dan sapi (cattle) di negara maju
dan berkembang juga semakin terkonsentrasi. Sebagai misal, CR-4 untuk industri
pengolahan daging ayam, babi dan sapi di AS pada tahun 2002 masing-masing sebesar 54
persen, 68 persen dan 86 persen. Kesemuanya merupakan pasar oligopoli. Besaran CR-4
pada tahun 2002 untuk ketiga industri tersebut lebih besar dibandingkan dengan tahun
1992. Empat perusahaan terbesar dalam bisnis pengolahan daging sapi di Amerika
Serikat (AS) adalah Tyson, ConAgra, Cargill dan Farmland, sedangkan 4 perusahaan
besar dalam bisnis pengolahan broiler adalah Tysonn Foods, Gold Kist, Pilgrim’s Pride
dan ConAgra.

Pertumbuhan yang pesat dalam bisnis peternakan tidak serta merta memberi manfaat bagi
para peternak gurem. Bisnis ini menuntut pengelolaan secara intensif (management
intensive), berisiko tinggi–baik karena penyakit maupun fluktuasi harga–serta
membutuhkan investasi yang tidak sedikit. Fakta menunjukkan bahwa bisnis peternakan
lebih banyak digerakkan oleh sektor swasta dan pasar.

Peranan supermarket yang mengandalkan manajemen rantai pasokan (supply chain


management) yang baik menjadi keniscayaan dalam mendukung terjadinya pertumbuhan
dalam bisnis peternakan. Namun, kualitas dan standar yang telah ditetapkan oleh
supermarket kerap mempersulit peternak skala kecil bertindak sendiri-sendiri untuk
mengambil bagian di pasar ini. Dalam kaitan inilah mereka memerlukan pertanian
kontrak (contract farming) dan tindakan kolektif dari berbagai organisasi produsen yang
ada. Di negara maju, penjualan komoditas ternak dengan sistem kontrak merupakan hal
yang lazim. Bahkan pada tahun 2003, di AS porsi penjualan mencapai 95.5 persen untuk
broiler dan 84.8 persen untuk babi, sedangkan untuk sapi mencapai 25.4 persen dari total
penjualan.

Pasar yang efisien membutuhkan manajemen dan kebijakan pemerintah yang baik terkait
dengan infrastruktur, kelembagaan dan layanan penyedia informasi pasar, menetapkan
grading dan standar, mengelola risiko dan pelaksanaan kontrak perjanjian. Perlu dicatat
bahwa pasar yang efisien pun belum tentu menjamin hasil akhir (keuntungan) yang adil.
Dalam hal keadilan memperoleh marjin ini, peternak atau pelaku usaha berskala kecil
perlu membangun daya tawar mereka melalui berbagai organisasi produsen yang
didukung oleh kebijakan pemerintah yang berpihak pada mereka.

Kebijakan Pemerintah Harus Berpihak Pada Para Peternak Skala Kecil

Dampak pertumbuhan dalam bidang bisnis peternakan yang sangat cepat terhadap
peternak skala kecil bergantung pada sejauh mana peran serta mereka dalam pasar
peternakan yang bernilai tinggi (high-value commodity) di pusat produksi, yaitu di daerah
perdesaan. Upaya mendorong peran serta peternak berskala kecil tersebut membutuhkan
infrastruktur pasar, peningkatan kemampuan teknis peternak, instrumen manajemen
risiko dan tindakan kolektif melalui berbagai organisasi produsen.

Sementara itu, permintaan produk peternakan primer dan olahan yang bernilai tinggi
meningkat dengan pesat ke depan didorong oleh pendapatan yang meningkat, liberalisasi
perdagangan yang semakin intensif, investasi asing (foreign direct investment) dan
kemajuan teknologi. Perkembangan-perkembangan ini memperluas kesempatan pasar
yang penting untuk mempercepat pertumbuhan peternakan, pengolahan dan jasa
peternakan, perluasan lapangan kerja dan peningkatan pendapatan di pedesaan. Pasar
baru tersebut menuntut kualitas, pasokan yang tepat waktu dan skala ekonomis tinggi.
Tak hanya itu, peningkatan nilai tambah produk bernilai tinggi juga membutuhkan sistem
pemasaran yang berfungsi baik sehingga dapat mengurangi biaya pemasaran dan
ketidakpastian pasokan, memperbaiki ketahanan pangan dan lebih mendekatkan peternak
dengan konsumennya. Dengan cara ini, sistem pemasaran akan menciptakan sinyal-sinyal
kepada peternak mengenai peluang-peluang peningkatan nilai tambah.

Para peternak skala kecil jika dibiarkan, mereka tidak akan mampu bersaing dengan
perusahaan-perusahaan MNCs. Para peternak skala kecil harus diberdayakan untuk dapat
memenuhi standar-standar produk sesuai dengan kontrak-kontrak dalam produksi dan
pemasaran. Peranan pemerintah sangat dibutuhkan dalam menciptakan pertumbuhan
yang sekaligus menciptakan pemerataan dalam bisnis peternakan. Kuncinya, Pemerintah
harus terus menerus memberdayakan para peternak skala kecil sehingga dayasaing
mereka meningkat. Pemerintah harus terus menerus menciptakan iklim investasi yang
kondusif dalam membangun sistem rantai nilai yang efisien, yang memberikan ruang
bagi para peternak kecil bekerjasama dengan perusahaan MNCs melalui kegiatan
contract farming misalnya atau meningkatkan dayatawar para peternak melalui
pembentukan koperasi atau organisasi produsen lainnya.