Anda di halaman 1dari 112

PERANAN TENTARA PELAJAR SOLO PADA MARKAS

MEDAN TENGGARA (MMTG) DALAM


MEMPERTAHANKAN KEMERDEKAAN RI
DI SEMARANG DAN SEKITARNYA TAHUN 1945-1949

SKRIPSI
Untuk memperoleh gelar Sarjana Pendidikan
pada Universitas Negeri Semarang

Oleh
Bahtiar Rifa’i
NIM 3101403010

JURUSAN SEJARAH
FAKULTAS ILMU SOSIAL
UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
2007
PERSETUJUAN PEMBIMBING

Skripsi ini telah disetujui oleh dosen pembimbing pada :

Hari :

Tanggal :

Pembimbing I Pembimbing II

Prof. Dr. Wasino M.Hum Drs. IM. Jimmy De Rossal M.Pd

NIP.132813678 NIP. 131475607

Mengetahui :

Ketua Jurusan Sejarah

Drs. Jayusman M.Hum

NIP. 131764053.

ii
PENGESAHAN KELULUSAN

Skripsi ini telah dipertahankan didepan Sidang Panitia Ujian


Skripsi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Semarang pada :
Hari : Rabu

Tanggal : 29 Agustus 2007

Penguji Skripsi

Drs.

NIP.

Anggota I Anggota II

Prof. Dr. Wasino M.Hum Drs. IM. Jimmy De Rossal

M.Pd

NIP.132813678 NIP. 131475607

Mengetahui :

Dekan,

Drs. Sunardi, M.M

NIP

iii
PERNYATAAN

Saya menyatakan bahwa yang tertulis dalam skripsi ini


benar-benar karya saya sendiri, Bukan jiplakan dari karya tulis
lain baik sebagian atau seluruhnya. Pendapat atau temuan orang
lain yang terdapat dalam skripsi ini dikutip atau dirujuk
berdasarkan kode etik ilmiah.

Semarang, Agustus 2007

Bahtiar Rifa’i

NIM. 3101403010

iv
MOTTO DAN PERSEMBAHAN

Rahasia kesuksesan adalah dedikasi, kerja keras dan pengabdian


terhadap mimpi-mimpi kita
(Frank Lioyd Wright)

Skripsi ini kupersembahkan untuk:

1. Bapak dan Ibu tercinta.

2. Calon Istriku, Kakak dan adik yang

telah membantuku

3. Prof. Dr. Wasino M.Hum dan Drs.

Jimmy De Rossal M.Pd yang dengan

sabar membimbing penulisan skripsi ini.

4. Para Veteran yang telah berjuang

5. Teman-teman seperjuangan.

v
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah

memberikan rahmat dan kekuatan lahir dan batin pada penulis sehingga skripsi

dengan judul “Peranan Tentara Pelajar Solo Pada Markas Medan Tenggara

(MMTG) Dalam Mempertahankan Kemerdekaan RI di Semarang dan Sekitarnya

Tahun 1945-1949” dapat selesai dengan lancar.

Penulis menyadari dengan sepenuh hati bahwa tersusunnya skripsi ini

bukan hanya atas kemampuan dan usaha penulis semata, melainkan juga berkat

bantuan bebagai pihak, oleh karena itu Penulis menyampaikan ucapan terima

kasih kepada yang terhormat:

1. Prof. Dr. H. Sudjono Sastroatmojo, SH, M.M, Rektor Universitas

Negeri Semarang yang telah memberikan izin kuliah dan segala

fasilitasnya.

2. Drs. Sunardi, M.M, Dekan Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri

Semarang yang telah memberikan izin penelitian.

3. Drs. Jayusman, M.Hum., Ketua Jurusan Sejarah Fakultas Ilmu

Sosial Universitas Negeri Semarang yang telah memberi

kemudahan administrasi.

4. Prof. Dr. Wasino M.Hum., Dosen Pembimbing I yang telah

memberikan bimbingan, motivasi dan arahan dalam penyusunan

skripsi ini.

vi
5. Drs. IM. Jimmy De Rossal M.Pd., Dosen Pembimbing II yang

telah memberikan bimbingan, motivasi dan arahan dalam

penyusunan skripsi ini.

6. Kepala Dinas Pembinaan Mental KODAM IV Diponegoro yang

telah memberikan izin kepada penulis untuk melakukan penelitian.

7. Bapak-ibu Veteran Tentara Pelajar sebagai pelaku sejarah.

8. Bapak-Ibu dosen Pendidikan Sejarah yang telah memberikan Ilmu

9. Teman-teman seperjuangan.

10. Serta pihak-pihak lain yang tidak dapat penulis sebutkan satu

persatu yang telah memberikan bantuan dan dorongan baik materiil

maupun spiritual sehingga skripsi ini dapat terselesaikan.

Akhirnya penulis berharap semoga skripsi ini dapat bermanfaat


bagi para pembaca semua.

Semarang, Agustus
2007

Penulis

vii
SARI

Bahtiar Rifai. 2007. Peranan Tentara Pelajar Solo pada Markas Medan
Tenggara (MMTG) Dalam Mempertahankan Kemerdekaan RI di Semarang
Tahun 1945-1949. Jurusan Sejarah. Fakultas Ilmu Sosial. Universitas Negeri
Semarang. 121 h. Dosen Pembimbing : Prof. Dr. Wasino M.Hum dan Drs IM.
Jimmy De Rossal M.Pd.

Kata Kunci : Peranan, Tentara Pelajar Solo, Mempertahankan


Kemerdekaan, Markas Medan Tenggara.

Bangsa Indonesia berhasil memproklamasikan kemerdekaan pada


tanggal 17 Agustus 1945, namun Bangsa Indonesia masih harus mempertahankan
kemerdekaan dari penjajahan kembali Bangsa Belanda. Pertempuran banyak
terjadi diberbagai daerah ketika Belanda (NICA) datang kembali ke Indonesia.
Pertempuran melawan Belanda juga terjadi di Semarang yang kemudian
mendorong semangat Pemuda Pelajar Solo yang tergabung dalam Organisasi
Tentara Pelajar Solo turut berjuang secara langsung dalam menghadapi kaum
penjajah.
Permasalahan yang dikaji dalam penelitian ini adalah : (1)
Bagaimanakah proses pembentukan dan perkembangan organisasi Tentara Pelajar
Solo?, (2) Bagaimanakah fungsi Markas Medan Tenggara (MMTG) ? dan (3)
Bagaimanakah peranan Tentara Pelajar Solo pada MMTG dalam
mempertahankan Kemerdekaan RI di Semarang dan sekitarnya tahun 1945-1949?.
Penelitian ini bertujuan: (1) Untuk mengetahui pembentukan dan perkembangan
Tentara Pelajar Solo. (2) Untuk mengetahui fungsi Markas Medan Tenggara
(MMTG). (3) Untuk mengetahui Peranan Tentara Pelajar Solo pada Markas
Medan Tenggara (MMTG) dalam mempertahankan Kemerdekaan RI di Semarang
tahun1945-1949.
Metode penelitian yang digunakan dalam penyusunan skripsi ini adalah
metode penelitian sejarah yang meliputi langkah-langkah kegiatan Heuristik,
Kritik Sumber, Interpretasi dan Historiografi.
Melihat kenyataan bahwa banyak sekali para Pemuda Pelajar Solo terjun
langsung dalam front pertempuran maka dibentuklah organisasi Tentara Pelajar
Solo yang sebagian anggotanya berasal dari Laskar-laskar Pelajar Solo seperti
Laskar Kere, Laskar Pandawa, Barisan IPI dan badan kelaskaran lainnya.
MMTG sebagai salah satu markas medan yang dipergunakan untuk
mengepung Semarang yang diduduki kaum penjajah mampu menjadi benteng
yang tangguh dalam menghadapi agresi militer Belanda sekaligus sebagai tempat
penyusupan ke Semarang oleh Tentara Pelajar dan TNI.
Tentara Pelajar Solo mampu memberi kontribusi yang besar dalam
mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia. Peran Tentara Pelajar Solo
pada MMTG diawali dalam pertempuran awal pasca proklamasi di Semarang.
Selanjutnya pada Perang Kemerdekaan I Tentara Pelajar Solo menggunakan

viii
MMTG sebagai medan untuk menahan laju Agresi Militer Belanda I.Pada Perang
Kemerdekaan II wilayah MMTG yang telah diduduki Belanda berfungsi kembali
sebagai tempat penyusupan ke Semarang yang dilakukan anggota Tentara Pelajar.
Tentara Pelajar Solo juga memiliki peran besar sebagai pasukan Garnisun di
Semarang yang bertugas menjaga keamanan dan ketertiban serta menerima serah
terima dari pasukan Belanda menjelang penyerahan kedaulatan RI.
Dalam penyusunan skripsi ini banyak sekali hambatan-hambatan yang
ditemui. Diantaranya dalam mendapatkan sumber-sumber terutama sumber lisan
yang disebabkan banyaknya pelaku sejarah yang telah meninggal dunia.

ix
DAFTAR ISI

HALAMAN
JUDUL .................................................................................................. i
HALAMAN PERSETUJUAN ............................................................. ii
HALAMAN PENGESAHAN .............................................................. iii
PERNYATAAN.................................................................................... iv
MOTTO DAN PERSEMBAHAN ....................................................... v
KATA PENGANTAR ......................................................................... vi
SARI...................................................................................................... viii
DAFTAR ISI......................................................................................... x
DAFTAR SINGKATAN ...................................................................... xiii
DAFTAR LAMPIRAN......................................................................... xv
BAB I PENDAHULUAN ..................................................................... 1
A. Latar Belakang Masalah ................................................... 1
B. Permasalahan .................................................................... 6
C. Penjelasan Konsep ............................................................ 7
D. Tujuan Penelitian .............................................................. 8
E. Manfaat Penelitian ............................................................ 9
F. Ruang Lingkup Penelitian................................................. 9
G. Kajian Pustaka................................................................... 10
H. Metode Penelitian ............................................................. 15
I. Sistematika Skripsi............................................................ 20

BAB II SEMARANG DI SEKITAR REVOLUSI


KEMERDEKAAN.................................................................. 22
A. Semarang Pasca Proklamasi............................................. 22
1. Kedaan Politik.............................................................. 22
2. Keadaan Ekonomi ........................................................ 24
3. Keadaan Sosial Budaya................................................ 27
B. Awal Perang Kemerdekaan di Semarang......................... 29
1. Pertempuran Lima Hari di Semarang........................... 29
2. Palagan Ambarawa ...................................................... 32
C. Markas Medan Tenggara.................................................. 35
1. Pembentukan Markas Medan Tenggara ...................... 35
2. Fungsi Markas Medan Tenggara.................................. 37
3. Interaksi TP Solo dengan pejuang lainnya di MMTG . 39

BAB III PEMBENTUKAN TENTARA PELAJAR SOLO ................ 43


A. Sejarah Terbentuknya Tentara Pelajar ............................. 43
B. Terbentuknya Organisasi Tentara Pelajar Solo................ 48
C. Perkembangan Tentara Pelajar Solo ................................ 53

x
BAB IV PERANAN TENTARA PELAJAR SOLO PADA MARKAS
MEDAN TENGGARA (MMTG) DALAM MEMPERTAHAN-
KAN KEMERDEKAAN RI DI SEMARANG DAN
SEKITARNYA ............................................................................. 57
A. Peranan TP Solo pada MMTG dalam Pertempuran Awal di
Semarang................................................................................ 57
B. Peranan TP Solo pada MMTG dalam Perang Kemerdekaan
I .............................................................................................. 65
C. Peranan TP Solo pada MMTG dalam Perang Kemerdekaan
II ............................................................................................. 73
D. Peranan TP Solo Sebagai Garnisun di Semarang .................. 82
E. Demobilisasi TP Solo............................................................. 85

BAB V PENUTUP.................................................................................... 89
Simpulan ..................................................................................... 89

DAFTAR PUSTAKA ................................................................................. 92


LAMPIRAN................................................................................................ 94

xi
DAFTAR SINGKATAN

AFNEI = Allied Forces for Netherlands East Indies (Angkatan Perang


Sekutu Hindia Timur).
AMACAB = Allied Military Administration Civil Affair Branch.
AMRI = Angakatan Muda Republik Indonesia.
APWI = Allied Prisoners and War Internees.
BKR = Badan Keamanan Rakyat.
CSA = Corps Students Army
GASEMSE = Gabungan Sekolah Menengah Semarang
GSMS = Gabungan Sekolah Menengah Surakarta
HBS = Hogere Burger School (Sekolah Menengah untuk Warga
Belanda).
IPI = Ikatan Pelajar Indonesia.
JPO = Javaanese Pandveiner Organizatie (Organisasi Kepanduan
Jawa).
KMB = Komisi Meja Bundar
KMK = Komandan Militer Kota.
KNI = Komite Nasional Indonesia
KNIL = Koninklijk Nederlandsch Indisch Leger (Tentara Kerajaan
Hindia Belanda).
KOPEX = Komandan Komando Penyelesaian eks Brigade XVII
KTN = Komisi Tiga Negara
KST = Koprs Speciale Troepen (Pasukan Penyerang Istimewa
Kerajaan Belanda)
LJC = Local Joint Committee
MMB = Markas Medan Barat.
MMS = Markas Medan Selatan.
MMT = Markas Medan Timur.
MMTG = Markas Medan Tenggara.
MOBPEL = Mobilisasi Pelajar
NICA = Netherland Indische Civil Administration (Pemerintahan Sipil
Hindia Belanda).

xii
PPM = Perkumpulan Pandu Melayu
RAPWI = Recovery Allied Prisoners and War Internees.
RECOMBA = Regeringsadviseur voor Bestuursaangelegenheden (Komisaris
Pemerinah untuk masalah-masalah Pemerintahan).
SA = Sturm Abteilung.
STOVIA = School Ter Opleiding Van Inlandshe Arsten.
TGP = Tentara Geni Pelajar.
TKR = Tentara Keamanan Rakyat.
TNI = Tentara Nasional Indonesia.
TP = Tentara Pelajar

xiii
DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran I Maklumat Mr. Wongsonegoro dan berita proklamasi di Semarang

Lampiran II Lambang Tentara Pelajar (TP) dan bagan perkembangannya

Lampiran III Foto pelaku sejarah dan tempat bersejarah di MMTG

Lampiran IV Peta Agresi Militer Belanda dan MMTG

Lampiran V Surat keterangan ijin penelitian


BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG MASALAH

Pemerintah Jepang melalui Kaisar Hirohito menyatakan menyerah

secara resmi dan takluk kepada sekutu pada tanggal 14 Agustus 1945 setelah

sebelumnya Amerika Serikat menjatuhkan bom atom di Hiroshima tanggal 5

Agustus dan Nagasaki tanggal 9 Agustus 1945. Pernyataan Jepang tersebut

menandai secara resmi berakhir pula penjajahan Jepang atas Indonesia,

namun secara nyata hal ini masih harus diperjuangkan oleh Bangsa Indonesia.

Peluang tersebut dimanfaatkan oleh Soekarno-Hatta dan para pemuda dengan

tidak lagi meminta kemerdekaan dari Jepang, tetapi memaksa merebut

kemerdekaan atas tanggung jawab sendiri dan atas nama Bangsa Indonesia

pada tanggal 17 Agustus 1945 (Soedarwo dkk. 2005:6-7).

Proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia merupakan babak baru,

karena sejak saat itu Bangsa Indonesia memasuki era baru yaitu

mempertahankan dan mengisi kemerdekaan. Kenyataan ini membangkitkan

semangat para pemuda untuk mengambil alih kekuasaan yang masih berada

ditangan Jepang. Pemimpin-pemimpin Bangsa Indonesia sendiri, sejak zaman

penjajahan Belanda sudah berjuang membangkitkan semangat kemerdekaan.

Pada masa pendudukan Tentara Jepang walaupun usaha-usaha demikian

ditindas dan dirintangi mereka tetap gigih melakukan perjuangan (Panitia

Penyusunan Sejarah Pertempuran Lima Hari di Semarang. 1977: 244).

1
2

Para pelajar dan mahasiswa khususnya dan para pemuda Indonesia

pada umumnya mulai mengatur rencana kerja untuk mempertahankan dan

mengisi kemerdekaan. Salah satu tugas yang penting adalah menggerakkan

dan mengorganisir para pelajar, sehingga bila sewaktu-waktu dibutuhkan

mudah dikumpulkan. Para pelajar sekolah menengah bergabung dalam Ikatan

Pelajar Indonesia dan para mahasiswa dalam Serikat Pelajar-Pelajar

Indonesia.

Semarang dan sekitarnya seperti daerah-daerah lain di Jawa Tengah,

pengambilalihan kekuasaan dari tangan Jepang juga dipelopori oleh para

pemuda. Pengambilalihan kekuasaan tersebut tidak berjalan mulus sesuai

keinginan Pemuda bahkan melatarbelakangi terjadinya pertempuran Lima

hari di Semarang. Jepang memberi ultimatum kepada pemuda Indonesia

untuk menyerahkan senjata yang dirampasnya. Ultimatum tersebut tidak

dihiraukan oleh pemuda, maka pada tanggal 14 Agustus 1945 Kido Butai

menyerbu dan mengepung kedudukan para pemuda dan membunuh secara

membabi buta. Situasi demikian membuat para pemuda dan pelajar dari

daerah lain seperti Purwokerto, Pati, Salatiga dan Solo berbondong-bondong

berangkat ke Semarang untuk membantu perjuangan (Mukmin 1989:18)

Ketika tentara Sekutu yang dikenal sebagai Allied Forces for

Netherlands East Indies (AFNEI) mendarat di Indonesia untuk menerima

penyerahan Indonesia dari tangan Jepang, Panglima pasukan Sekutu untuk

Indonesia Letnan Jendral Sir Philip Christison telah menyaksikan berdirinya

suatu negara Republik Indonesia yang merdeka. Keadaan tersebut membuat


3

Sir Jendral Philip Christison memberikan pernyataan yang dipandang sebagai

pengakuan secara de facto (resmi) terhadap pemerintah Indonesia pada

tanggal 1 Oktober 1945 (Budi Utomo 1995:222).

Ternyata kedatangan Sekutu ini diboncengi oleh Netherland Indische

Civil Administration (NICA) yang akan menegakkan kembali kekuasaan

Belanda di Indonesia. Keadaan demikian menyadarkan para pemuda

khususnya pelajar yang telah banyak mendapatkan dasar kemiliteran pada

masa pendudukan Jepang untuk tampil ke depan sebagai pelopor dalam setiap

perjuangan mempertahankan kemerdekaan.

Tentara Sekutu mendarat di pelabuhan Semarang tanggal 19 Oktober

1945 dipimpin oleh Brigjend Bethell. Pada tanggal 21 Oktober terjadi

perundingan antara pimpinan tentara Sekutu dengan Gubernur Jawa Tengah

Mr. Wongsonegoro. Dalam perundingan itu ditentukan syarat-syarat yang

harus dipenuhi tentara Sekutu yaitu: Orang-orang Indonesia yang ditahan

Jepang harus segera di bebaskan, Tentara Jepang akan dilucuti oleh tentara

Sekutu, Tentara sekutu tidak akan mencampuri urusan pemerintahan

Indonesia, Keamanan daerah akan dilaksanakan oleh Polisi Indonesia

(Syamsuar 1993:20).

Ulah NICA yang membuat kekacauan-kekacauan di daerah-daerah

yang didatangi Sekutu dengan mempersenjatai para interniran, menyebabkan

hasil perundingan tersebut tidak berarti. Dalam pertempuran di Jawa Tengah,

Sekutu mendapat perlawanan hebat dari Tentara Keamanan Rakyat (TKR)

dan laskar-laskar rakyat. Setelah mengalami kekalahan di Magelang dan


4

Ambarawa, Sekutu mulai meninggalkan Ambarawa dan mundur melalui

Bawen dan Ungaran terus menuju ke Semarang. Ketika sampai di Semarang

tidak lagi terjadi pertempuran secara besar-besaran tetapi sifatnya hanya

patroli-patroli saja.

Ketika Sekutu sudah menyelesaikan tugasnya maka Kota Semarang

diserahkan kepada Pasukan Belanda. Sejak bulan April 1944 pihak Belanda

telah mempersiapkan pendudukan kembali di Indonesia. Pemerintah Belanda

dan Inggris menyelenggarakan perundingan di London dan Kandy yang

menghasilkan Civil Affair Agreement yang isinya pengaturan penyerahan

kembali Indonesia dari pihak Inggris kepada Belanda (Moedjanto 1991:96).

Keberadaan Belanda di Indonesia tentu merupakan ancaman bagi

Kemerdekaan RI yang baru saja berdiri.

Selama periode 1945-1949 Pemuda Pelajar Solo rela mengorbankan

jiwa dan raganya karena mereka memiliki motivasi yakni membela,

mempertahankan dan menegakkan Proklamasi Kemerdekaan RI 17 Agustus

1945. Mereka sebagian besar melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana

kekejaman tentara Jepang terhadap rakyat Indonesia. Mereka bahkan rela

berjuang dikota lain meninggalkan kotanya demi menjaga tegaknya

Kemerdekaan RI. Situasi tersebut telah membawa konsekuensi bagi

kelompok-kelompok pemuda dan Pelajar di Solo yang selanjutnya

menggabungkan diri dalam laskar-laskar pelajar.

Keberhasilan dalam melucuti senjata Jepang di Kota Solo, Mereka

lanjutkan dengan menggabungkan diri ke Semarang. Mulailah kelompok-


5

kelompok Pelajar Solo ikut dalam pertempuran menggunakan hasil rampasan

senjata-senjata Jepang tersebut. Mereka dan pasukan bantuan dari Yogyakarta

dan Solo mencoba untuk masuk ke Kota Semarang melalui Srondol. Sebagian

besar mereka memasuki Kota Semarang melalui Mranggen akibat terhambat

di Srondol (Panitia Penyusunan Sejarah Pertempuran Lima Hari di Semarang.

1977:172).

Mranggen berfungsi sangat penting dalam upaya membebaskan Kota

Semarang dari kekuatan kolonial yang menguasainya. Pasukan RI kemudian

membagi daerah operasinya dalam beberapa sektor untuk mengepung Kota

Semarang. Mranggen yang dijadikan salah satu markas dari sektor tenggara

menjadi pusat pasukan bantuan dari Solo (Soemarmo 1985:61). Sektor

tenggara selanjutnya lebih dikenal sebagai Markas Medan Tenggara

(MMTG).

Seusai pertempuran lima hari di Semarang dan menjelang

pertempuran melawan tentara Inggris di Semarang dari Solo dikirim sejumlah

senjata untuk membantu perjuangan para pemuda Semarang (Imran dan

Ariwiadi 1985 :88). Tampak bahwa persatuan dan kesatuan telah cukup kuat

antara satu daerah dengan daerah lain. Perasaan senasib dan keinginan untuk

hidup merdeka bersama-sama mendasari ikatan tersebut. Perjuangan para

pelajar Solo di Semarang berlanjut dalam menghadapi Belanda yang

berambisi untuk menguasai Indonesia kembali.

Melihat gambaran tersebut nampak terjadi fenomena sejarah yang

unik. Para pelajar Solo yang masih remaja dan berusia belasan tahun
6

didorong oleh hati nurani, mengangkat senjata untuk mempertahankan

kemerdekaan tanah air dari serangan penjajah yang lebih kuat

persenjataannya. Mereka meninggalkan bangku sekolah dan terjun langsung

dalam pertempuran diluar kota tempat tinggalnya.

Penelitian mengenai peristiwa yang terjadi di Semarang pasca

proklamasi sampai pengakuan kedaulatan sudah cukup banyak. Namun

mengenai penelitian yang membahas peran Tentara Pelajar yang berasal dari

Solo dalam membantu dan bahu-membahu dengan pejuang-pejuang di

Semarang dalam mempertahankan kemerdekaan RI masih cukup terbatas.

Berdasar uraian diatas maka penulis akan mengadakan penelitian yang

hasilnya akan dituangkan dalam skripsi dengan judul “Peranan Tentara

Pelajar Solo pada Markas Medan Tenggara (MMTG) dalam

Mempertahankan Kemerdekaan RI di Semarang dan Sekitarnya Tahun

1945-1949”.

B. PERMASALAHAN

Memperhatikan uraian latar belakang masalah tersebut, maka dapat

dirumuskan beberapa permasalahan sebagai berikut:

1. Bagaimanakah proses pembentukan dan perkembangan organisasi Tentara

Pelajar Solo?

2. Bagaimanakah fungsi Markas Medan Tenggara (MMTG) ?


7

3. Bagaimanakah Peranan Tentara Pelajar Solo pada Markas Medan

Tenggara (MMTG) dalam mempertahankan kemerdekaan RI di Semarang

dan sekitarnya?

C. PENJELASAN KONSEP

1. Peranan

Peranan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (1993:667) merupakan

bagian dari tugas utama yang harus dilaksanakan. Dalam Kamus Besar

Bahasa Indonesia edisi tiga (2002:884) dikemukakan bahwa peranan

merupakan tindakan yang dilakukan seseorang atau sekelompok orang dalam

suatu peristiwa. Jadi Peranan Tentara Pelajar ialah tindakan atau sumbangsih

yang diberikan Tentara Pelajar dalam hal ini berjuang mempertahankan

kemerdekaan RI

2. Tentara Pelajar

Tentara adalah orang-orang yang berkewajiban untuk berperang

sedangkan Pelajar adalah sebutan untuk anak-anak sekolah terutama pada

sekolah dasar dan sekolah lanjutan (Kamus Besar Bahasa Indonesia

1993:931dan 13). Jadi Tentara Pelajar ialah anak-anak sekolah lanjutan yang

turut ambil bagian dalam kewajiban berperang.

3. Markas Medan Tenggara

Markas adalah tempat kedudukan pimpinan tentara dan berkumpulnya

pasukan sedangkan medan adalah daerah pertempuran (Kamus Besar Bahasa

Indonesia 1993:560 daan 569). Jadi Markas Medan Tenggara ialah tempat
8

kedudukan dan berkumpulnya pasukan yang sekaligus menjadi sebuah medan

pertempuran yang berada di sebelah tenggara Kota Semarang.

4. Mempertahankan Kemerdekaan.

Mempertahankan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (1993:883)

merupakan usaha untuk menjaga atau melindungi supaya selamat. Jadi

mempertahankan kemerdekaan adalah suatu usaha menjaga atau melindungi

kemerdekaan yang telah dicapai supaya terselamatkan.

Proklamasi yang dicetuskan 17 Agustus 1945 menuntut rakyat

Indonesia untuk mempertahankan kemerdekaan dari penguasa asing Jepang

yang kalah dan Belanda yang datang membonceng sekutu. Situasi ini

menciptakan kondisi timbulnya gerakan masyarakat untuk mempertahankan

kemerdekaan yang telah diproklamirkan.

Konsep yang tersusun ialah Sumbangsih atau tindakan yang diberikan

anak-anak sekolah lanjutan yang turut serta kewajiban berperang pada tempat

berkumpulnya pasukan yang sekaligus menjadi tempat pertempuran di

sebelah tenggara Kota Semarang dalam usaha melindungi kemerdekaan yang

telah dicapai supaya terselamatkan.

D. TUJUAN PENELITIAN

Tujuan yang ingin dicapai dari penulisan skripsi ini adalah:

1. Untuk mengetahui proses pembentukan dan perkembangan organisasi

Tentara Pelajar Solo.

2. Untuk mengetahui fungsi Markas Medan Tenggara (MMTG)


9

3. Untuk mengetahui perananTentara Pelajar Solo pada Markas Medan

Tenggara (MMTG) dalam rangka mempertahankan Kemerdekaan RI di

Semarang dan sekitarnya.

E. MANFAAT PENELITIAN

Manfaat yang dapat diperoleh dari penulisan skripsi ini adalah sebagai

berikut :

1. Memperkaya sejarah nasional, khususnya sejarah lokal

2. Menyediakan sarana pewarisan semangat juang bela negara kepada para

pelajar dan mahasiswa.

3. Menjadi salah satu bahan perbandingan apabila ada penelitian yang sama

diwaktu-waktu mendatang.

F. RUANG LINGKUP PENELITIAN

Agar dalam pembahasan tidak terjadi kesimpangsiuran dan mudah

untuk diuraikan secara jelas dan sistematis, maka perlu adanya pembatasan

dalam membahas suatau permasalahan. Oleh karena itu dalam penulisan ini

perlu dibatasi ruang lingkup kajiannya. Ruang lingkup ini meliputi:

1. Lingkup Spasial.

Lingkup Spasial dalam penelitian ini adalah Semarang dan daerah-

daerah yang ada disekitar wilayah Markas Medan Tenggara (MMTG) yaitu

Mranggen, Demak, Kedungjati, Purwadadi dan sekitarnya. Dengan demikian

penelitian ini termasuk dalam kategori Sejarah lokal. Seperti yang dinyatakan
10

I Gde Widja (1989:11) bahwa Sejarah lokal bisa dikatakan sebagai bentuk

penulisan sejarah dalam lingkup yang terbatas yang meliputi suatau lokalitas

tertentu. Keterbatasan lingkup itu biasanya dikaitkan dengan unsur wilayah

(unsur spasial).

2. Lingkup Temporal

Lingkup temporal penelitian ini dibatasi dari kurun waktu tahun 1945

sebagai masa awal mempertahankan kemedekaan RI sampai dengan tahun

1949 sebagai batas akhir revolusi fisik yang ditandai dengan pengakuan

kedaulatan RI oleh Kerajaan Belanda.

G. KAJIAN PUSTAKA

Kajian pustaka merupakan bagian yang tidak bisa dipisahkan dari

penulisan ilmiah. Dalam penulisan ini penulis mengkaji beberapa buku dan

karya ilmiah yang dikelompokan menjadi beberapa bagian antara lain yang

membahas mengenai Tentara Pelajar Solo, Karesidenan Semarang dan

Markas Medan Tengara (MMTG).

1. Tentara Pelajar Solo

Tentara Pelajar Solo merupakan salah satu bagian dari kesatuan

Tentara Pelajar yang turut berperan dalam mempertahankan kemerdekaan RI.

Penulis mengkaji beberapa buku mengenai Tentara Pelajar Solo yang

berkaitan erat dengan Tentara Pelajar. Buku yang bejudul Peranan Pelajar

dalam Perang Kemerdekaan karya Amrin Imran dan Ariwiadi (1985) pada

bab III membahas mengenai pertumbuhan dan perkembangan Tentara Pelajar


11

Solo. Terbentuknya TP Solo diawali dari laskar-laskar pelajar yang muncul

sebagai reaksi dari Proklamasi Kemerdekaan RI. Selama periode revolusi

fisik dalam mempertahankan kemerdekaan TP Solo mengalami beberapa

perubahan kali struktur dari IPI bagian pertahanan sampai Brigade XVII

Detasemen II. Pertempuran-pertempuran di Semarang yang melibatkan TP

Solo juga diuraikan dalam buku ini.

Keterlibatan TP Solo dalam pertempuran di Semarang didukung oleh

buku yang berjudul Triciri Tentara Pelajar karya H.R.Y.K. Mukmin (1989).

Pasukan TP khususnya TP Solo tidak pernah absen dalam pertempuran di

medan Semarang terutama di Medan Selatan (Srondol) dan Medan Tenggara

(Mranggen). Gagalnya medan-medan menangulangi Agresi Militer Belanda I

membuat Pasukan RI termasuk TP Solo mundur ke wilayah RI sesuai

perjanjian Renville. Perbedaan kedua buku tersebut dengan penelitian yang

peneliti lakukan ialah pada buku tersebut hanya membahas perjuangan TP

Solo di Semarang sampai pada Agresi Militer Belanda I selanjutnya buku

tersebut memfokuskan perjuangan TP Solo di Kota Solo. Sementara upaya

kembali merebut Kota Semarang kurang dibahas.

Ketika Agresi Militer Belanda II terjadi, TP Solo kembali berusaha

merebut Kota Semarang. Buku yang berjudul Perjuangan Tentara Pelajar

Kompi IV Detasemen II Brigade XVII karya Soedarwo dkk. (2005)

menguraikan perjuangan TP Detasemen II Solo Kompi IV dibawah Kapten

Marwoto untuk kembali merebut Kota Semarang. Namun buku ini hanya
12

fokus pada perjuangan yang dilakukan Kompi IV dibawah Kapten Marwoto

dengan seksi-seksinya.

Terjadinya gencatan senjata dan Konperensi Meja Bundar antara

pemimpin Belanda dan RI berakhir dengan penyerahan kedaulatan RI.

Selama gencatan senjata tersebut TP Solo juga berperan sebagai pasukan

garnisun untuk menjaga keamanan dan ketertiban di Kota Semarang. Buku

Cukilan Sejarah Tentara Pelajar karya S.P. Soenarto (1989) pada bab IV

membahas tugas yang diemban oleh TP Solo tersebut. Masing-masing buku

yang membahas perjuangan TP Solo pada dasarnya juga membahas mengenai

sejarah terbentuknya Tentara Pelajar secara umum.

2. Karesidenan Semarang

Semarang sebagai salah satu medan perjuangan Tentara Pelajar Solo

merupakan salah satu kota penting. Pada awal abad XIX telah didirikan

sistem komunikasi dan transportasi dengan dibukanya surat kabar Semarang

Advertieblad pada tahun 1815 yang kemudian berganti De Locomotif tahun

1867 Pembuatan jalan kereta api pertama dibuka oleh Gubernur Jendral Mr.

Baron Slot van de Beele pada 16 Juli 1864 dengan stasiunnya yang pertama

di Tambak Sari. Setelah jalan kereta api antara daerah kerajaan Surakarta dan

Yogyakarta selesai dikerjakan tahun 1872 kedudukan kota Semarang sebagai

kota perdagangan semakin berkembang (Oemar dkk 1978:96).

Wiyono dkk. dalam bukunya Sejarah Revolusi Kemerdekaan (1945-

1949) Daerah Jawa Tengah (1986) menyebutkan bahwa pada masa Hindia

Belanda Propinsi Jawa Tengah terdiri dari beberapa residentie (karesidenan)


13

diantaranya adalah Residentie Semarang dan pada masa pendudukan Jepang

dirubah menjadi Semarang Syuu (karesidenan). Setelah kemerdekaan RI

diproklamasikan maka Mr. Wongsonegoro menyatakan berdirinya

Pemerintah Daerah Republik Indonesia di wilayah Semarang Syuu.

Berita proklamasi baru tersebar luas dikalangan rakyat Semarang pada

tanggal 19 Agustus 1945. Peristiwa “lima hari di Semarang” dilatar belakangi

oleh insiden-insiden antara para pemuda dengan orang Jepang mengenai

perebutan senjata. Pertempuran yang berlangsung selama lima hari tersebut

berakhir bersamaan dengan datangnya sekutu di Semarang. Kedatangan

sekutu memancing timbulnya pertempuran baru antara pasukan RI dengan

Sekutu akibat adanya NICA dalam pasukan Sekutu (Panitia Penyusunan

Sejarah Pertempuran Lima Hari di Semarang 1977:33).

Dalam pertempuran di medan perang Semarang yang menjadi musuh

kita adalah Sekutu (Inggris dan Gurkha), Belanda dan Jepang. Semula

pasukan sekutu mempunyai tugas sebagaimana yang dikemukakan oleh

Moedjanto (1991) adalah:

1. Menerima penyerahan tentara Jepang tanpa syarat, melucuti dan

mengembalikan ke tanah airnya.

2. Membebaskan Allied Prisoners and War Internees (APWI), tugas ini

disebut Recovery Allied Prisoners and War Internees (RAPWI).

3. Menjaga keamanan dan ketertiban sehingga memungkinkan pemerintah

sipil berfungsi kembali.

4. Mencari keterangan tentang dan mengadili para penjahat perang.


14

Selesainya tugas Sekutu tidak membuat meredanya pertempuran di

Semarang. Kota Semarang yang dijadikan sebagai pangkalan Sekutu ternyata

diserahkan kepada Belanda, yang digunakan sebagai pusat dalam melancarkan

agresi militernya kewilayah RI.

3. Markas Medan Tenggara (MMTG)

Ketika Sekutu dan Jepang meninggalkan Indonesia, Belanda masih

tetap bercokol di Semarang. Markas Pimpinan Pertempuran (MPP) yang

berfungsi sebagai koordinator di seluruh sektor pertahanan Jawa Tengah

membuat sistem pedoman kerja dengan membentuk empat sektor yang

bertujuan untuk mengepung Semarang seperti yang dikemukakan Nasution

dalam Noor dan Sigit Wahyudi (1995) antara lain :

1. Markas Medan Timur (MMT) dengan pimpinan komandan sektor di

Demak.

2. Markas Medan Tenggara (MMTG) dengan pimpinan sektor di Mranggen.

3. Markas Medan Selatan (MMS) dengan pimpinan sektor di Ungaran.

4. Markas Medan Barat (MMB) dengan pimpinan sektor di Boja.

MMTG terletak 15 Kilometer sebelah tenggara dari Kota Semarang. Letak

MMTG paling dekat dengan Semarang apabila dibanding dengan markas

medan lainnya maka sangat potensial dan merupakan front terdepan untuk

menghadapi Jepang, Sekutu maupun Belanda.

Sebuah karya skripsi yang cukup mengupas MMTG ialah Perjuangan

Rakyat Mranggen Dalam Mempertahankan Kemerdekaan Tahun 1945-1949

oleh Juwarti (2003). Mranggen merupakan daerah perjuangan utama melalui


15

Markas Medan Tenggara (MMTG) dalam menghadapi Agresi Militer

Belanda I dan II. Karya tersebut lebih banyak mengungkap perjuangan dari

kelompok Hisbullah dan Sabilillah sementara perjuangan kesatuan-kesatuan

lain seperti Tentara Pelajar Solo kurang diungkap lebih mendalam. Buku

Sekitar Perang Kemerdekaan karya A.H Nasution (1977) akan melengkapi

mengenai suasana pertempuran yang terjadi di wilayah MMTG.

H. METODE PENELITIAN

Metode penelitian yang digunakan dalam kajian ini adalah metode

Sejarah. Metode Penelitian yang digunakan dalam kajian ini adalah metode

Sejarah, yang dinamakan metode sejarah disini adalah proses menguji dan

menganalisa secara kritis rekaman dan peninggalan masa lampau (Gottschalk,

1975:32). Berdasarkan metode tersebut diharapkan menghasilkan penulisan

ilmiah yang obyektif, sistematis dan logis. Langkah-langkah yang digunakan

dalam penelitian sebagai bahan penulisan sejarah meliputi Heuristik, Kritik

Sumber, Interpretasi dan Historiografi. Penjabaran langkah-langkah tersebut

sebagai berikut:

1. Heuristik

Heuristik adalah tahap pengumpulan sumber dengan cara

menghimpun jejak masa lampau atau mencari sumber-sumber sejarah. Jejak

masa lampau dapat berupa sumber tertulis dan benda-benda peninggalan

masa lampau. Menurut klasifikasinya sumber sejarah dibedakan menjadi dua

yaitu sumber primer dan sumber sekunder. Seringkali kita harus


16

menggunakan karya-karya bukan dari sumber pertama sehingga hal ini sulit

dihindari. Tehnik yang digunakan peneliti dalam mencari sumber sejarah

sebagai berikut :

a. Studi Dokumen

Kegiatan tersebut meliputi mencari, menelaah dan menghimpun jejak

sejarah yang berupa arsip, dokumen atau salinan dari dokumen. Arsip dan

dokumen yang dipilih dalam penulisan dicari dari Museum Mandala Bhakti

Semarang. Dari kegiatan ini peneliti mendapatkan arsip dan dokumen berupa

arsip Proklamasi Kemerdekaan oleh Mr. Wongsonegoro, Maklumat yang

dikeluarkan Mr. Wongsonegoro, Lambang-lambang Tentara Pelajar, Foto-

foto Tentara Pelajar Solo, Peta Markas Medan Tenggara (MMTG) dan Peta

agresi militer Belanda I dan II.

b. Studi Pustaka

Merupakan kegiatan untuk mencari dan menelaah buku-buku referensi

yang sesuai dengan permasalahan yang ada dalam penelitian. Berkenaan

dengan studi kepustakaan ini obyek yang dituju untuk mencarai referensi

adalah:

1. Perpustakaan Jurusan Sejarah Universitas Negeri Semarang.

2. Perpustakaan Pusat Universitas Negeri Semarang.

3. Perpustakaan Wilayah Propinsi Jawa Tengah.

4. Perpustakaan Museum Mandala Bhakti.

Dari obyek tersebut peneliti mendapatkan buku-buku dan karya tulis

yang memuat informasi mengenai Tentara Pelajar Solo, Keadaan Semarang


17

dimasa Revolusi fisik dan Markas Medan Tenggara (MMTG) selama masa

perjuangan.

c. Sumber Lisan

Wawancara dengan para informan atau pelaku sejarah yang termasuk

dalam sumber lisan sangat penting untuk mengumpulkan bahan sejarah yang

tidak tertulis. Dalam penelitian ini akan dijumpai keterangan dari beberapa

orang yang terlibat langsung maupun tidak langsung. Mereka adalah veteran

dari peristiwa pertempuran-pertempuran di Semarang terutama veteran

Tentara Pelajar Solo disamping dari kesatuan lainnya yang seperjuangan.

Usaha mendapatkan nama dan alamat para pelaku sejarah ditempuh

dengan menanyakan pada perkumpulan Veteran di Museum Madhala Bhakti.

Nama veteran-veteran tersebut antara lain Bapak Masiroen, Bapak

Soehendro, Bapak Moh. Sakdan dan Ibu Suwarsih. Dari wawancara yang

penulis lakukan diperoleh informasi mengenai perjuangan TP Solo pada

Markas Medan Tenggara (MMTG), Situasi dan fungsi MMTG selama masa

perjuangan dan peranan TP Solo sebagai garnisun di Semarang.

2. Kritik Sumber.

Kritik sumber merupakan tahap pengujian terhadap sumber-sumber

sejarah yang dibutuhkan, apakah sumber itu dapat dipertanggungjawabkan

keautentikanya atau tidak dan apakah dapat memberikan informasi yang

dapat dipercaya atau tidak. Kritik sumber terbagi menjadi dua yaitu:
18

a. Kritik Ekstern.

Kritik ekstern merupakan penilaian sumber dari aspek fisik dari

sumber tersebut. Ada tiga pertanyaan pokok yang dapat diajukan dalam

proses kritik ekstern, seperti yang dikemukakan Wasino (2007:51) yaitu:

1. Apakah sumber sejarah itu memang sumber yang kita kehendaki?

2. Apakah sumber itu asli atau turunan ?

3. Apakah sumber itu utuh atau telah diubah-ubah ?

Dalam melakukan kitik ekstern terhadap sumber lisan penulis

mengkritisi dengan menanyakan apakah mereka benar veteran TP Solo dan

pernah berjuang di MMTG. Hal ini dibuktikan dengan kemampuan mereka

menjawab dari kesatuan mana mereka berasal, nama komandan kesatuannya

dan diwilayah MMTG mana mereka berjuang. Dalam mengkritisi sumber

arsip dan dokumen penulis mencoba mengecek keasliannya dan ternyata

diperoleh beberapa sumber yang masih asli yakni foto-foto TP Solo

sedangkan sumber turunan berupa salinan maklumat dan berita proklamasi

oleh Residen Semarang Mr. Wongsonegoro, Lambang TP, Peta MMTG dan

Peta Agresi Militer Belanda I dan II. Dalam mengkritisi sumber pustaka

penulis mencoba mengkritisi dengan melihat buku tersebut pernah direvisi

atau belum dan berbentuk buku ataukah kopian. Ternyata peneliti juga

menjumpai sumber pustaka yang berupa kopian karena dicetak terbatas

jumlah dan belum pernah direvisi.


19

b. Kritik Intern.

Kritik Intern secara teoritis dilakukan setelah kritik ekstern selesai.

Kritik Intern merupakan kritik terhadap sumber apakah isi dari sumber

terebut relevan dengan permasalahan yang ada dan dapat dipercaya

kebenarannya. Kritik intern dilakukan dengan cara : (1) penilaian intrinsik

dari pada sumber-sumber (2) membandingkan beberapa sumber sejarah dan

saling dicek secara silang (Wasino 2007:55).

Dalam melakukan kritik intern terhadap sumber lisan penulis

melakukan cek silang mengenai informasi yang diperoleh dari masing-masing

sumber karena rata-rata telah berusia lanjut. Terhadap sumber pustaka

peneliti membandingkan isi karya veteran TP Solo dengan penulis sejarah

umumnya. Disamping itu peneiti juga mengecek kebenaran isi buku tersebut

dengan menanyakan kepada pelaku sejarah yang mengalami peristiwa saat

itu.

3. Interpretasi.

Interpretasi merupakan tahap dimana data atau fakta-fakta yang sudah

diuji melalui kritik sumber dirangkaikan satu sama lain sehingga menjadi

kesatuan yang masuk akal dalam arti mewujudkan sebuah kesesuaian. Usaha

menginterprestasikan fakta-fakta dilakukan dengan cara diseleksi, disusun,

diberi tekanan dan ditempatkan dalam urutan yang kausal (Gottschalk,

1975:144). Pada tahap ini setelah terkumpul informasi peristiwa sejarah yang

dikaji oleh peneliti berbagai fakta yang lepas satu sama lain tersebut
20

kemudian dirangkaikan menjadi kesatuan yang harmonis untuk diberi

penafsiran yang logis.

4. Historiografi

Historiografi atau penulisan sejarah merupakan langkah akhir dari

metode sejarah. Hasil interprestasi atas fakta-fakta sejarah yang telah

dilakukan kemudian disajikan menjadi sebuah bentuk tulisan yang kronologis

yaitu dari masa pecahnya revolusi kemerdekaan RI di Semarang yang

menyebabkan dibentuknya Markas Medan Tenggara (MMTG), pembentukan

Tentara Pelajar Solo kemudian peranannya pada Markas Medan Tenggara

(MMTG) dalam mempertahankan kemerdekaan RI di Semarang dan

sekitarnya sampai pada akhir masa perjuangan bersenjata dengan

dilakukannya demobilisasi Tentara Pelajar Solo.

I. SISTEMATIKA SKRIPSI

Peranan para pelajar yang tergabung dalam organisasi Tentara Pelajar

Solo sangatlah menonjol dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan di

Semarang. Dalam mendapatkan gambaran yang jelas dan menyeluruh maka

hasil penelitian ini nantinya akan ditulis dalam beberapa bab.

Bab I, merupakan pendahuluan yang memuat gambaran secara global

dari penelitian ini. Dalam pendahuluan akan diuraikan tentang latar belakang,

permasalahan, penegasan istilah, ruang lingkup penelitian, tujuan dan manfaat

penelitian, kajian pustaka, metodologi penelitian serta sistematika penelitian.


21

Bab II, berisi mengenai keadaan Semarang ditengah revolusi

kemerdekaan. Bab ini akan membahas mengenai Semarang diawal

proklamasi mencakup keadaan sosial, politik, ekonomi dan budaya. Awal

perang kemerdekaan di Semarang yang mencakup Pertempuran Lima Hari di

Semarang dan Palagan Ambarawa. Markas Medan Tengara (MMTG)

mengenai pembentukan dan fungsinya beserta interaksi TP Solo dengan

pejuang-pejuang lainnya.

Bab III, berisi tentang Pembentukan Tentara Pelajar Solo. Dalam bab

ini akan dibahas mengenai sejarah terbentuknya Tentara Pelajar,

Pembentukan Tentara Pelajar Solo dan perkembangannya.

Bab IV, berisi tentang Peranan Tentara Pelajar Solo pada Markas

Medan Tenggara (MMTG) dalam mempertahankan Kemerdekaan RI di

Semarang. Dalam bab ini akan dibahas mengenai Peranan Tentara Pelajar

Solo di MMTG dalam pertempuran-pertempuran awal setelah proklamasi di

Semarang dan Perang Kemerdekaan I dan II dalam menghadapi Belanda.

Disamping itu akan dibahas mengenai peranan Tentara Pelajar Solo sebagai

garnisun di Semarang dan demobilisasi Tentara Pelajar Solo.

Bab V, merupakan bab penutup yang berisi simpulan dan saran.


BAB II

SEMARANG DI SEKITAR REVOLUSI KEMERDEKAAN

Semarang Disekitar Proklamasi


1. Keadaan Politik
Pada pendudukan tentara Jepang pemerintahan daerah yang tertinggi

adalah Syuu (karesidenan) dengan kepala pemerintahannya seorang Syucokan

(Residen). Seorang syucokan mempunyai kekuasaan legislatif dan eksekutif

sehingga pemerintahannya bersifat otokratis (Wiyono dkk. 1986:13).

Kekuasaan tersebut membuat seorang syucokan memiliki kedudukan yang

sama dengan gubernur pada masa Hindia Belanda.

Semua gerakan yang bersifat politik dilarang tetapi hasrat Jepang untuk

memanfaatkan tenaga muda Indonesia untuk memperkuat pertahanannya

dalam melawan Sekutu, memberi peluang bagi kaum pergerakan Indonesia

untuk tampil dalam forum perjuangan (Oemar dkk. 1978:190). Ketika

tersiar berita proklamasi kemederkaan Bangsa Indonesia, maka Mr.

Wongsonegoro mengucapkan maklumat yang menyatakan bahwa :

“Berdasar atas pengumuman Panitia Kemerdekaan Indonesia dan Komite


Nasional Indonesia di Djakarta, maka atas nama rakyat Semarang Syuu
diumumkan sebagai tindakan sementara untuk menjaga ketentaraman dan
disiplin dalam daerah Semarang Syuu bahwa mulai hari ini tanggal 19-8-2605
djam 13 siang, bertindak Pemerintah Daerah Republik Indonesia” (Panitia
Penyusunan Sejarah Pertempuran Lima Hari di Semarang. 1977:33)

Berdasar pernyataan tersebut mulai tanggal 19 Agustus 1945 pukul 13.00

siang hari itu juga di daerah Karesidenan Semarang berdiri Pemerintah

Daerah Republik Indonesia.

22
23

Ketika keadaan belum menentu dan tentara Jepang masih berkuasa,

para pemuda Semarang berhasil membentuk Komite Nasional Indonesia

(KNI) dan Angkatan Muda Republik Indonesia (AMRI) pada tanggal 19

Agustus 1945. Pada tanggal 20 Agustus 1945 berdiri pula Badan Keamanan

Rakyat (BKR) yang dibentuk mulai dari daerah karesidenan sampai Rukun

Tetangga (RT). BKR untuk daerah Semarang dipimpin oleh bekas daidanco

Sutrisno Sudomo dan Taruno Kusumo serta dibantu Hendropranoto yang

menjadi pimpinan pusat untuk daerah Semarang. Selanjutnya juga dibentuk

BKR Laut pada tanggal 23 September 1945 dengan Komandan Soemarno

(Wiyono 1991: 50).

Terbentuknya Komite Nasional Indonesia maka oleh pemerintah RI

Mr. Wongsonegoro diangkat menjadi Residen Semarang sedangkan R.P

Soeroso sebagai gubernur dan sebagai walikota ialah Mr. Soedjahri serta

sebagai kepala polisi Soemarsono (Tio,----:67). Tanggal 13 Oktober 1945 Mr.

Wongsonegoro menggantikan R.P. Soeroso yang diangkat sebagai Komisaris

Tinggi Daerah Yogyakarta yang berkedudukan di Solo sekaligus merangkap

pimpinan KNI Semarang (Oemar dkk. 1978:193). Disamping KNI dan BKR

juga dibentuk Fonds Kemerdekaan yaitu lembaga yang bersifat nasional dan

bertugas untuk menghimpun dana bagi kepentingan nasional.

Pengambilalihan kekuasaan di Karesidenan Semarang diwarnai

gejolak antara pemerintah Republik yang baru dengan Jepang yang masih

tinggal di Semarang. Jepang yang terikat perjanjian menjaga status quo


24

sampai kedatangan Sekutu melakukan tindakan keras terhadap yang berbau

kemerdekaan.

Kedatangan Sekutu yang diboncengi NICA semakin memperkeruh

suasana. Rakyat Kota Semarang menderita sekali karena pemerintahan sipil

RI meninggalkan kota setelah berhasil dikuasai Sekutu. Tanggal 7 Januari

1946 dengan persetujuan Inggris roda pemerintahan RI di Semarang berputar

lagi dengan diangkatnya Walikota Ikhsan, tetapi keadaan ini tidak

berlangsung lama. Inggris merasa kuat dengan penambahan batalyon “Baret

Merah” kemudian Koninklijk Nederlandsch Indisch Leger (KNIL serta

instansi Allied Military Administration Civil Affair Branch (AMACAB) maka

pada pertengahan Februari 1946 Inggris memerintahkan penghapusan aparat

sipil pemerintah RI di Semarang kecuali badan-badan yang bersifat penasehat

(Soemarmo 1985:60).

Pemerintahan RI di Semarang pada awal revolusi kemerdekaan belum

berjalan sesuai dengan yang diharapkan. Proklamasi yang berlanjut dengan

terjadinya pertempuran dengan Jepang dan Sekutu membuat koordinasi

pemerintah pusat belum berjalan dengan baik. Setiap daerah mempunyai

permasalahan masing-masing dan diselesaikan pula dengan caranya masing-

masing tanpa harus menunggu perintah dari pemerintahan pusat.

2. Keadaan Ekonomi.

Pendudukan Jepang ternyata lebih menyengsarakan rakyat Indonesia.

Semua yang ada dan dimiliki rakyat diarahkan untuk keperluan peperangan

tentara Jepang. Kehidupan perekonomian rakyat di Jawa Tengah menjadi


25

semakin merosot. Pelbagai macam pajak dan setoran yang dikenakan kepada

rakyat sehingga penghasilan dan pertanian menjadi berkurang. Rakyat yang

kebetulan tinggal didaerah yang tanahnya tidak subur dan irigasinya tidak baik

banyak mengalami kelaparan dan busung lapar (Wiyono dkk. 1986 :23).

Hasil sawah dan ladang harus disetorkan kepada Kumiai (Badan

pengelola makanan Jepang) yang meminta hasil panen dengan paksa. Sulitnya

beras diperoleh sehingga orang makan bahan-bahan yang tak biasa dimakan

orang seperti iles-iles, gogik, pati, gaplek, ketela serta dedaunan sampai-

sampai bekicot merupakan makanan selingan yang umum dikalangan

penduduk. Bahan pakaian merupakan barang yang kian lama kian menjadi

langka. Kelambu, gorden, sprei, taplak meja dirubah menjadi kemeja, sayak

atau celana. Ketika bahan ini habis orang mulai mengenakan pakaian dari

karung goni, bagor, tikar dan akhirnya muncul celana dari karet sheet (Panitia

Penyusunan Sejarah Pertempuran Lima Hari di Semarang. 1977:61).

Pada akhir pendudukan Jepang dan masa awal Republik Indonesia

keadaan ekonomi sangat kacau. Menjelang akhir kekuasaan Jepang, alat-alat

produksi menjadi rusak karena diubah untuk membuat alat-alat perang.

Sementara bekas-bekas politik bumi hangus yang dijalankan Belanda belum

pulih. Blokade yang dilakukan Sekutu juga menambah penderitaan karena

kehidupan ekonomi semakin bertambah sulit. Barang Industri sukar didapat

terutama tekstil, begitu sulitnya kain mori sampai-sampai jenazah bukan

dibungkus dengan kafan melainkan dengan bagor (Soemarmo 1991:40-41).


26

Pasca diumumkannya Proklamasi kemerdekaan RI, dalam situasi

perang melawan Jepang penduduk banyak yang tidak berani keluar kampung.

Pasar menjadi sunyi karena tidak ada pedagang yang membuka usahanya.

Banyak penduduk mulai kelaparan dan diberbagai tempat sudah kekurangan

bahan pangan. Dalam keadaan yang mencekam kehidupan masyarakat ini

Sayuti Melik dan Oei Tiong Djoe berusaha menbuka gudang tempat

penyimpanan bahan makanan Jepang di Kota Semarang (Wiyono dkk.

1986:78).

Datangnya pasukan Sekutu yang diikuti NICA dan pegawai-

pegawainya memperkeruh keadaan. Ketika kesulitan perekonomian yang

dihadapi Pemerintah RI belum teratasi, pihak sekutu mengumumkan pada

tanggal 6 Maret 1946 berlakunya uang NICA diwilayah yang diduduki sekutu

termasuk di Semarang. Pemerintah RI baru secara resmi mengeluarkan Oeang

Repoeblik Indonesia (ORI) pada tanggal 1 Oktober 1946 untuk menghadapi

tindakan sekutu yang dianggap merongrong ketahanan RI dibidang ekonomi

dan keuangan. Disamping itu pemerintah RI juga mengingatkan penduduk

bahwa uang NICA tidak sah digunakan sebagai alat pembayaran

(Poesponegoro 1993:175).

Upaya yang dilakukan pemerintah RI melalui walikota Ikhsan tidak

mampu menghalangi diedarkannya uang NICA karena orang-orang NICA

memaksa penduduk untuk menggunakan uang tersebut. Para pegawai NICA

sering kali menggeledah dan merampas ORI dari tangan penduduk (Nasution

1977:211). Keadaan demikian menimbulkan perang uang antara Pemerintah


27

RI dengan NICA. Banyak pedagang dan penduduk yang dianiaya karena tidak

mau menggunakan uang NICA sebagai alat tukar.

Perekonomian Karesidenan Semarang di masa awal kemerdekaan

menunjukan tingkat kekacauan yang cukup tinggi. Upaya pengambilalihan

kekuasaan dari tangan Jepang mengakibatkan lumpuhnya roda perekonomian

setelah rusaknya sebagian fasilitas perekonomian disamping akibat politik

pengurasan demi kepentingan perang Jepang. Hal ini diperparah dengan

berlakunya uang NICA yang dipaksakan kepada penduduk.

3. Keadaan Sosial-Budaya

Masyarakat Semarang sangat menyukai kesenian dan yang paling

melekat adalah “Gambang Semarang” walaupun sebetulnya bukan kesenian

asli Semarang, Menurut cerita berkaitan erat dengan “Gambang Kromong”

dari Batavia (Jakarta). Dikalangan penduduk Semarang dikenal pula kesenian

lainnya yaitu wayang orang, di Semarang terdapat beberapa perkumpulan

wayang orang dan yang terkenal ialah Sri Wanito (Tio -----:49-50).

Masyarakat Semarang juga terdapat acara yang menarik yaitu yang dapat

dilihat pada upacara menjelang lebaran ditempat itu selalu ada upacara yang

disebut Dug Der suatau kesenian khas Semarang untuk menyambut permulaan

puasa dan yang paling terkenal adanya maskot warak ngendog (Tio -----:36-

47).

Masyarakat semarang juga sangat menggemari bioskop, salah satu

biskop yang terkenal adalah Bioskop Grand yang sudah berdiri sejak jaman

Belanda. Disamping itu di Semarang juga banyak didirikan hotel-hotel megah


28

salah satu diantaranya adalah Hotel Du Pavilliun. Saat berita proklamasi

beredar luas di Semarang gedung-gedung tersebut banyak beralih fungsi

sebagai tempat berkumpulnya para pemuda untuk menyusun rencana

pengambilalihan kekuasaan dari Jepang (Wiyono 1991: 43).

Peranan dibidang komunikasi sangat besar terhadap penyiaran berita

proklamasi. Berita proklamasi diterima lewat radio tanggal 17 Agustus 1945

melalui seorang markonis kantor berita Domei bernama Sjarif Soelaiman.

Salinan berita tersebut selanjutnya diserahkan kepada wakil Residen Mr.

Wongsonegoro yang saat itu sedang memimpin rapat agar dapat didengar oleh

hadirin saat itu. Pada hari itu juga berita tersebut coba disiarkan radio

Semarang Hoso Kyoku yang menyiarkan khotbah shalat Jum’at dari Masjid

besar alun-alun Semarang. Menjelang disampaikannya khotbah oleh khotib

tiba-tiba ada pengumuman proklamasi kemerdekaan. Mengetahui kejadian

tersebut pejabat Jepang yang menjadi kepala studio segera bertindak dengan

memutus siaran tersebut.

Harian Sinar Baru juga memperoleh berita mengenai proklamasi

kemerdekaan melalui Gadis Rasjid seorang wartawan wanita harian tersebut.

Oleh manajer editornya bernama Hetami diinstruksikan pembuatan bulletin

khusus mengenai berita proklamasi. Walaupun kantor harian Sinar Baru

sempat digerebek oleh pasukan Jepang, berita proklamasi tersebut berhasil

disebarluaskan dan dimuat pada tanggal 18 Agustus 1945 (Panitia Penyusunan

Sejarah Pertempuran Lima Hari di Semarang 1977: 22-28).


29

Proklamasi kemerdekaan RI disikapi para pelajar Semarang dengan

membentuk Gabungan Sekolah Menengah Semarang (GASEMSE) yaitu

organisasi gabungan pelajar-pelajar sekolah menengah di seluruh Karesidenan

Semarang yang diketuai Pepi Adiwoso. Organisasi sejenis sebagai wadah

koordinasi perjuangan yang kemudian berkembang secara horizontal ke

ibukota-ibukota karesidenan yang memiliki sekolah lanjutan pertama dan atas

(Soedarwo dkk. 2005:8-9).

Sarana hiburan dan komunikasi di Semarang dapat menjadi sarana

berkumpulnya masyarakat Semarang yang memungkinkan untuk saling

bertukar informasi tentang kemerdekaan, sehingga dapat diambil langkah

perjuangan berikutnya sebagai tindak lanjut.

Awal Perang Kemerdekaan di Semarang.

1. Pertempuran Lima Hari di Semarang

Proklamasi yang dicetuskan pada tanggal 17 Agustus 1945 pada

hakikatnya merupakan sebuah komando revolusi. Komando merebut

kekuasaan dari tangan tentara pendudukan Jepang, baik kekuasaan

pemerintahan, kekuasaan senjata maupun kekuasaan atas alat-alat

perlengkapan negara (Soemarmo 1991:82). Kondisi Karesidenan Semarang

khususnya Kota Semarang mulai memanas setelah diumumkannya Proklamasi

Kemerdekaan RI. Keadaan ini disebabkan adanya kenyataan bahwa RI sudah

merdeka, tetapi tentara Jepang belum meninggalkan daerah Semarang bahkan

masih bebas memegang senjata.


30

Pertempuran ini diawali oleh sikap balatentara Jepang yang tidak mau

menyerahkan senjatanya kepada pemuda. Para pemuda yang kecewa dengan

keputusan Panglima Tentara 16 selanjutnya menyiapkan diri untuk menunggu

komando dari pimpinan pemuda lebih lanjut. Pihak Jepang dari Batalyon Kido

dan Yagi sudah memperhitungkan akan terjadinya pertempuran telah dalam

keadaan siaga penuh (Soedarwo dkk. 2005:26).

Desas-desus yang timbul pada saat itu bahwa resevoir air minum yang

terletak di Jalan Wungkal Semarang telah diracuni Jepang. Dokter Kariyadi

sebagai kepala laboratorium di Rumah Sakit Purusara hendak mengadakan

penelitian terhadap resevoir tersebut, namun dalam perjalanan beliau gugur

ditembak oleh Jepang. Keadaan diperburuk oleh perlawanan dari tahanan

Jepang yang melarikan diri dan minta bantuan ke markas pasukan Kido di

Jatingaleh (Panitia Penyusunan Sejarah Pertempuran Lima Hari di Semarang.

1977:125-127).

Kidobutai mulai mengerahkan pasukan-pasukannya dengan bersenjata

lengkap pada tanggal 14 Oktober 1945. Mereka menangkap dan membunuh

para pemuda yang mereka jumpai. Tindakan pasukan Kidobutai mendapat

perlawanan dari rakyat Semarang, namun perlawanan para pemuda dapat

dipatahkan. Satu demi satu tempat strategis para pemuda dapat dikuasai oleh

Jepang, bahkan Jepang berhasil menawan Mr. Wongsonegoro. Mereka lalu

meminta Wongsonegoro supaya para pemuda menyerahkan senjata-senjata

yang dirampas dari tangan Jepang tetapi ditolak oleh para pemuda.
31

Pertempuran semakin sengit setelah para pejuang memperoleh bantuan

dari luar kota Semarang seperti Pati, Solo, Yogyakarta dan Banyumas. Pelajar-

pelajar Solo telah terlibat dalam membantu perjuangan rakyat Semarang

dengan mengirim pasukan yang dipimpin oleh Moektio dan Soempil Basuki.

Pasukan Pelajar tersebut berkekuatan sekitar 50 orang dan senjata 35 pucuk

untuk membantu perjuangan rakyat Semarang. Keberangkatannya ke

Semarang disertai G.P.H Djatikusumo, setelah masuk Kota Semarang mereka

langsung terjun dalam pertempuran dan mengambil posisi dekat dengan rel

stasiun kereta api Tawang (Imran dan Ariwiadi. 1985:228-229).

Usaha tentara Jepang menanggulangi masuknya bantuan pemuda dari

luar kota, dengan menutup jalan masuk ke Kota Semarang. Aksi Jepang

semakin ganas setelah di Penjara Bulu menyaksikan sekitar 100 orang Jepang

telah dibunuh oleh para pemuda. Tindakan brutal Jepang tidak hanya kepada

pemuda tetapi juga kepada penduduk sipil. Kampung-kampung disekitar

penjara Bulu banyak yang dibakar dan penduduknya dibunuh. Pembantaian

juga dilakukan Tentara Jepang di sekitar Lawang Sewu (Tio, -----:74).

Selama pertempuran yang berlangsung lima hari tersebut Jepang

berhasil menguasai sebagian besar kota Semarang. Banyak jatuh korban dari

kedua belah pihak, namun demikian pejuang Semarang yang gugur jumlahnya

lebih besar. Keadaan ini disebabkan persenjataan yang dipakai hanya senapan

bekas hasil rampasan sedangkan sebagian besar lainnya hanya memakai

bambu runcing dan pedang. Menurut catatan tentara Jepang mereka

kehilangan kira-kira 150 orang tentara. Penduduk Semarang tidak diketahui


32

dengan jelas jumlahnya karena banyaknya pejuang yang gugur, namun

diperkirakan kurang lebih 2000 orang (Tio, -----:75).

Tanggal 19 Oktober 1945 mendaratlah pasukan sekutu di Pelabuhan

Semarang yang mengangkut pasukan Inggris dan Gurkha dibawah komando

Brigjend Bethell. Pertemuan antara wakil pasukan Sekutu, Pemerintah RI dan

Pasukan Jepang selanjunya diadakan untuk menghentikan pertempuran

(Soedarwo dkk. 2005:31). Kedatangan pasukan Sekutu tersebut mengakhiri

pula pertempuran yang berlangsung selama lima hari di Semarang.

pertempuran tersebut mengkibatkan banyak penduduk dan pejuang yang

mengungsi ke perbatasan Semarang yang lebih aman.

2. Palagan Ambarawa

Pertempuran hebat yang terjadi setelah Proklamasi di Karesidenan

Semarang adalah pertempuran di Ambarawa yang dikenal sebagai Palagan

Ambarawa yang berlangsung antara 20 Nopember sampai 15 Desember 1945.

Latar belakang dari peristiwa ini adalah insiden yang terjadi di Magelang

dimana orang-orang NICA mempersenjatai bekas-bekas tawanan Belanda.

Insiden ini berhenti setelah kedatangan Presiden Soekarno dan

Brigjend Bethell di Magelang yang dilanjutkan perundingan yang isinya

Seperti dikemukakan Poesponegoro dan Notosusanto (1993:116)antara lain:

a. Pihak Sekutu akan tetap menempatkan pasukannya di Magelang untuk

melakukan kewajibannya mengurus evakuasi APWI. Jumlah pasukan

Sekutu ditentukan terbatas bagi keperluan melaksanakan tugasnya.

b. Jalan raya Ambarawa terbuka bagi lalu-lintas Indonesia dan Sekutu.


33

c. Sekutu tidak akan mengakui aktivitas NICA dalam Badan-badan yang

berada dibawah kekuasaanya.

Kenyataannya Sekutu mengingkari kesepakan tersebut dengan menambah

pasukannya di Magelang yang memicu kembali terjadinya pertempuran.

Tanggal 21 Nopember 1945 Magelang dapat direbut kembali oleh

Pejuang RI sehingga Tentara Sekutu memusatkan pertahanannya di

Ambarawa. Terjadi persengketaan air di Sendang Ngampon sebelah barat

Ambarawa antara Sekutu dengan rakyat setempat yang mendapat perlawanan

dari Batalyon Sumarto dan Angkatan Muda Ambarawa. Para pejuang RI

selanjutnya kembali memusatkan perjuangannya untuk merebut Kota

Ambarawa (Wiyono dkk. 1986:80). Kota Ambarawa sangat strategis karena

jika Sekutu berhasil menguasainya akan mengancam tiga kota utama di Jawa

Tengah yaitu Solo, Magelang dan Yogyakarta.

Kota Ambarawa kemudian dikepung oleh TKR dari Batalyon

Handrongi, Batalyon Soeharto, Batalyon Sugeng Tirtosiswoyo dan Batalyon

Sardjono. Hubungan antara Ambarawa-Semarang terputus, bagi Sekutu satu-

satunya jalan untuk mengirim perbekalan ialah melalui udara. Tanggal 26-28

Nopember 1945 Sekutu mengadakan serangan udara besar-besaran sehingga

Letkol. Isdiman gugur.

Pasukan TKR dan pejuang RI lainnya akhirnya mengepung Kota

Ambarawa selama empat hari. serangan umum terhadap Kota Ambarawa

diadakan tanggal 12 sampai 15 Desember 1945. Pasukan RI menggunakan

strategi yang terkenal sebagai “Supit Urang” dalam serangan umum tersebut.
34

Pasukan RI berhasil menjepit musuh dari barat dan timur dengan ujungnya

bertemu diluar kota Ambarawa (Dewan Harian Nasional Angkatan 45.

1976:206). Sekutu yang merasa kedudukannya terjepit berusaha keras untuk

melakukan pemutusan pertempuran.

Laskar-laskar pelajar dari Solo turut pula dalam memberikan

bantuannya pertempuran tersebut. Pasukan gabungan laskar-laskar Solo

bergerak dari Hotel Kalimatan Salatiga menuju daerah pertempuran

Ambarawa yaitu Tuntang, Asinan dan Bawen. Laskar–laskar tersebut adalah

Laskar Gajah Mada dan Laskar Alap-alap yang keduanya dipimpin oleh Panji

Yaksodewo. Terdapat juga Laskar Kere pimpinan Achmadi, Laskar Satria

pimpinan Akiat, Laskar Garuda pimpinan Mustari serta Laskar Pandawa

pimpinan Soebroto dan laskar-laskar lainya (Imran dan Ariwiadi. 1985:230).

Pasukan pelajar tersebut menyerang markas-markas pasukan Gurkha di

Asinan dan Ambarawa.

Tanggal 16 Desember 1945 Sekutu telah meninggalkan Ambarawa

dengan meninggalkan perbekalan perangnya dengan berpuluh-puluh senjata

dan peluru dapat dirampas. Siang harinya seluruh Kota Ambarawa berhasil

dikuasai pasukan RI. Pasukan Inggris mundur ke Jatingaleh setelah terjadi

pertempuran disertai tembakan canon di desa Langensari.

Peristiwa Palagan Ambarawa ini mencatat sejarah bagi pasukan

Infantri yang telah meraih kemenangan dalam pertempuran tersebut. Kolonel

Soedirman diangkat menjadi Panglima Besar Tentara Keamanan Rakyat pada


35

tanggal 17 Desember 1945 karena jasanya yang telah dibuktikan dalam

pertempuran Ambarawa ini (Wiyono dkk. 1986:81).

C. Markas Medan Tenggara.

1. Pembentukan Markas Medan Tengara

Sejak menderita kekalahan dalam pertempuran di Magelang dan

Ambarawa, Sekutu mundur ke Semarang. Selanjutnya mereka melakukan

pembersihan terhadap kaum republik di Kota Semarang yang membuat

banyak pengungsian keluar kota terutama menuju Mranggen.

Gubernur Wongsonegoro yang mengungsi ke Magelang dan

Walikota Ikhsan yang ditangkap Sekutu mengakibatkan pemerintahan sipil RI

dalam Kota Praja menjadi lumpuh pada pertengahan Februari 1946.

Pemerintahan Kota Semarang selanjutnya dipindahkan ke Kedungjati di

Mranggen. Tampuk pemerintahan Walikota selanjutnya diambil alih oleh

Mayor Sukardi dari TKR yang waktu itu sebagai Komandan Militer Kota

(KMK) Semarang (Noor dan Sigit Wahyudi. 1995:143).

Pasukan-pasukan dan sektor-sektor selanjutnya dikonsolidir oleh MPP

untuk merebut Kota Semarang kembali. Sektor Mranggen diperintahkan untuk

pertahanan menggunakan batas air akan tetapi karena daerahnya yang kering

sehingga tidak dapat dilaksanakan (Nasution 1971:336).

Peranan Mranggen dalam perjuangan di Semarang sudah terjadi

sebelum MMTG terbentuk. Pemuda Semarang bernama Sumardi meminta

izin Camat Mranggen Iman Wongsodirjo menyediakan pendopo


36

kecamatannya sebagai markas pertempuran untuk menampung para pejuang

yang berasal dari daerah Gubug, Purwadadi, Kedungjati, Gundih, Solo dan

sebagainya. Permintaan pemuda-pemuda Semarang disetujui, bahkan Ia

menyediakan mobilnya untuk digunakan melaksanakan tugas mengerahkan

rakyat. Wedana Mranggen dan istrinya juga diminta untuk mengusahakan

dapur umum untuk ribuan orang (Panitia Penyusun Sejarah Pertempuran

Lima Hari di Semarang. 1977:153).

Tanggal 17 Mei 1946 di Semarang terjadi serah terima komandan

pendudukan dari Brigadir Darling (Inggris) kepada Kolonel Van Langen

sebagai Komandan Brigade “T” (KNIL). Sebulan kemudian Soenarto

Koesoemodirdjo dari pasukan gabungan Surakarta (Solo) diangkat menjadi

Komandan MPP Jawa Tengah. Usaha MPP Jawa Tengah dalam mengepung

Kota Semarang dengan membuat sistem pedoman kerja pembagian sektor

seperti diungkapkan Nasution dalam Noor dan Wahyudi (1995:37) antara

lain:

a. Sektor Markas Medan Timur (MMT) dengan pimpinan komandan sektor

di Demak, wilayahnya batas pantai utara Jawa ke Selatan hingga

Alastuwa.

b. Sektor Markas Medan Tenggara (MMTG) dengan pimpinan sektor di

Mranggen dengan batas sebelah utara rel Kereta Api Alastuo jurusan

Semarang ke Kedungjati hingga selatan di Meteseh.


37

c. Sektor Markas Medan Selatan (MMS) dengan pimpinan sektor di

Ungaran, batas wilayah sebelah timur Meteseh dan barat hingga

Gunungpati.

d. Sektor Markas Medan Barat (MMB) dengan pimpinan sektor di Boja

dengan batas wilayah selatan Gunungpati dan utara pantai laut Jawa.

Mranggen sebagai pusat Markas Medan Tenggara berstatus sebagai

kawedanan yang membawahi 4 kecamatan yaitu Genuk, Mranggen,

Karangawen dan Gubug. Desa-desa seperti Penggaron, Pedurungan, Bugen

dan Genuk hanya berjarak 3 sampai 6 Kilometer dari markas Belanda di

Kabluk maupun pabrik British American Tobacco (BAT). Mranggen,

Pedurungan dan Alastuwa merupakan medan yang berat karena tanahnya

yang datar dan berawa-rawa sehingga tidak ada tempat berlindung dari

serangan udara Belanda.

2. Fungsi Markas Medan Tenggara

Mranggen yang berada di sebelah tenggara dan berbatasan dengan

Semarang mempunyai penting lainnya ketika meletusnya pertempuran

melawan Sekutu dan Belanda seperti diungkapkan Juwarti (2003:43) yaitu:

a. Sebagai daerah pertahanan di sektor Medan Tenggara

b. Sebagai tempat penampungan para pejuang dari daerah lain (Solo,

Boyolali, Purwodadi).

c. Merupakan tempat pejuang yang tangguh dan intelektual.

d. Sebagai tempat persediaan logistik dan dapur umum bagi pejuang dan

penduduk diluar Kota Semarang.


38

e. Sebagai tempat pengungsian penduduk dari Semarang.

Mranggen juga terdapat dua Stasiun yaitu Stasiun Brumbung dan

Stasiun Kedungjati yang dilewati Kereta Api dari Stasiun Tawang menuju

Stasiun Balapan (Solo). Jalur kereta ini dipakai untuk mengirim logistik dan

pasukan dari luar daerah seperti Boyolali, Salatiga, Purwodadi dan Surakarta

(Noor dan Sigit Wahyudi. 1995:134-135). Jatuhnya Semarang ketangan

Inggris mengakibatkan Stasiun Kedungjati menjadi tempat yang peting.

Setiap hari mulai berdatangan berbagai kelompok laskar yang minta supaya

mereka dikirim ke front Ambarawa atau Semarang (Mranggen) (Dewan

Harian Nasional Angkatan 45. 1976:94). Keluar intruksi bagi Stasiun Tawang

dan Gudang bahwa semua lokomotif, kereta dan gerbong supaya ditarik ke

Stasiun Kedungjati. Bagi pengungsi yang ingi keluar dari Semarang

hendaknya disertakan dalam kereta api tersebut.

Dalam mencukupi kebutuhan makanan laskar-laskar yang bertugas

diwilayah MMTG maka didirikan dapur umum di Sendangguwo kemudian

dipindah ke Pucang Gading dan Rowosari. Desa Sambiroto digunakan sebagai

tempat pengintaian terhadap Kota Semarang (Wawancara dengan Moh.

Sakdan, 5 Juni 2007). Setelah mendaftarkan anggota yang bertugas di front

anggota yang bertugas tersebut diberi kupon (girik) untuk mengambil jatah

ransum dengan jatah makan sekali sehari. Makanan tersebut diambil sendiri

atau diantar oleh seorang Tobang (Pengantar Makanan) dan sebagian diantar

menggunakan lori ke sektor-sektor (Wawancara dengan Masiroen, 25 Mei

2007).
39

Segi persenjataan yang tidak lengkap dan agar tetap dapat menuntut

ilmu maka kepergian Pasukan Pelajar ke front digilir setiap dua minggu

karena. Front Mranggen dan Genuk sering mendapat pinjaman dari TKR atau

Polisi Tentara dengan catatan bahwa senjata tidak boleh dibawa kegaris

belakang sesuai dengan ketentuan di front (Soedarwo dkk. 2005:53).

Keberadaan MMTG berfungsi secara efektif sampai pada Agresi

Militer Belanda I. Sejak Agresi Militer Belanda I Pasukan RI dan Laskar-

laskar perjuangan lainnya mundur dan mengkonsolidasi pasukannya di

Kedungjati setelah sebelumnya meninggalkan Alastuwa dan Mranggen. Pada

perkembangan berikutnya terus mundur ke Gundih, Telawah sampai akhirnya

di Solo. Akibat adanya perjanjian Renville maka sebagian besar wilayah

MMTG diduduki Belanda. Keberadaan MMTG tidak langsung musnah

sebagai medan perjuangan, para pejuang RI terutama pasukan pelajar terus

mengadakan perlawanan dan membuat kekacauan diwilayah yang telah

diduduki Belanda tersebut. MMTG bahkan digunakan sebagai tempat

penyusupan dalam merebut kembali Kota Semarang.

3. Interaksi TP dengan Badan Perjuangan dan Laskar di MMTG

Pada wilayah MMTG semula ditempatkan pasukan-pasukan dari

Yogyakarta dibawah pimpinan Umar Slamet kemudian digantikan kesatuan

TKR dari Solo dibawah Soenarto Koesoemodirdjo bersama komandan

kesatuan pemuda oleh Slamet Riyadi, Sarsono, Raksono, Achmadi dan lain-

lain (Nasution 1977: 138). Hal ini menyebabkan di MMTG terdapat banyak

badan perjuangan dan laskar selain TKR sebagai pasukan resmi. Laskar-
40

laskar pelajar umumnya berasal dari Solo antara lain IPI, Laskar Kere, Laskar

Satria, Laskar Pandawa, Alap-alap dan lain-lain. Kesatuan-kesatuan pelajar

tersebut kemudian lebih dikenal sebagai TP Solo. Mereka adalah pelajar-

pelajar sekolah lanjutan yang telah dilatih oleh bekas anggota PETA

(Mukmin 1989: 18). Kedatangan mereka ke MMTG umumnya bersama-sama

dengan laskar dan badan perjuangan lainnya di Solo yang menggunakan

kereta jurusan Semarang-Solo.

Status TP Solo yang sebagai pelajar membuat tugas ke front dilakukan

secara bergiliran supaya mereka tetap bisa mengikuti pelajaran. Bahkan

mereka juga membawa buku pelajaran ke front. Selain tugas bertempur

anggota TP Solo juga sering membantu sebagai kurir dan perawat. Usia

anggota TP yang masih muda membuatnya sering dianggap sebagai anak atau

adik oleh pejuang yang rata-rata lebih tua, sehingga diwaktu-waktu senggang

sering diminta membantu sekedar memijit, membelikan rokok atau membantu

tugas di markas (Soenarto 1988:15). Hal ini membuat mereka dapat

berinteraksi dengan akrab terhadap para pejuang lainnya.

Badan kelaskaran paling besar adalah Hisbullah dan Sabilillah yang

berasal dari wilayah setempat. Markas Pasukan Hisbullah dan Sabilillah

(MPHS) juga terdapat di Mranggen yang sebagian besar penduduknya

beragama Islam dan memiliki ulama yang mampu mengobarkan semangat

jihad. Disamping itu banyak anggota Hisbullah dan Sabilillah yang juga

didatangkan dari Solo. AMRI merupakan organisasi yang sudah lama

dibentuk sebelum MMTG ada. Mereka umumnya adalah pemuda-pemuda


41

Semarang yang mengundurkan diri ke MMTG. sedangkan laskar-laskar

kerakyatan lainnya antara lain Hisbullah dan Sabilillah, BPRI, Pesindo,

Barisan Banteng, Narapidana dan lain-lain.

Tentara profesional yang diakui pemerintah adalah TKR yang

pimpinan dan struktur organisasinya sudah jelas. Anggotanya sebagian besar

adalah bekas anggota PETA. Mereka berindak sebagai komandan dari anak

buahnya karena pengalamanya dalam pertempuran, sehingga semua pejuang

dan laskar harus patuh. Bilamana terdapat konflik atau penghianatan dapat

dipantau (Noor dan Sigit Wahyudi. 1995:145). Pemisahan kedudukan antara

TKR dengan laskar dan badan perjuangan supaya terhindar dari konflik,

sehingga tidak erjadi perebutan daerah kekuasaan dan pertentangan

kepentingan. Laskar-laskar tersebut memiliki kedudukan yang sama

walaupun membawa ideologi, identitas dan jumlah pasukan yang berbeda.

Bahkan laskar-laskar tersebut sering berpatroli bersama.

Laskar-laskar tersebut diurus oleh Biro Perjuangan Karesidenan

Semarang di Salatiga dibawah letkol A. Rachman dan Mayor Soegijono.

Walaupun secara organisasi berdiri sendiri akan tetapi laskar-laskar tersebut

tetap tunduk kepada satu pimpinan komando dibawah TKR yang waktu itu

dipimpin oleh Mayor Basuno dan untuk menjaga agar tidak diketahui mata-

mata Belanda maka digunakan sandi atau kode yang berganti-ganti

(Wawancara dengan Masiroen, 25 Mei 2007).

Struktur organisasi MMTG sudah tertata rapi pada periode Juli 1946

sampai Juli 1947 sehingga jalur perintah nampak jelas. Komandan Divisi IV
42

memerintahkan kepada MPP Jawa Tengah di Salatiga selanjutnya diteruskan

kesetiap markas medan (Noor dan Sigit Wahyudi. 1995:138-139). Dalam

menyampaikan perintah dari MPP kesektor-sektor umumnya menggunakan

tenaga kurir. Demikian pula kerjasama antar sektor terjalin yang baik halini

ditunjukan dengan koordinasi yang baik antara MMS dan MMTG walaupun

MMS jalur perintahnya dari Divisi V.


BAB III

PEMBENTUKAN TENTARA PELAJAR SOLO

A. Sejarah Terbentuknya Tentara Pelajar.

Sejarah perjuangan Bangsa Indonesia tidak bisa dilepaskan dari

peranan pemuda dan pelajar. Mereka selalu mempelopori atau tampil kedepan

dalam setiap perjuangan bangsanya. Eksistensi pelajar dalam perjuangan

Bangsa Indonesia dimulai sejak adanya kebangkitan nasional. Pelajar

mempunyai peranan penting dalam menumbuhkan semangat nasionalisme

dikalangan Bangsa Indonesia. Lahirnya organisasi Budi Utomo yang didirikan

oleh pelajar School Ter Opleiding Van Inlandshe Arsten (STOVIA) menjadi

bukti nasionalisme pelajar saat itu (Imran dan Ariwiadi 1985:6).

Pendudukan Balatentara Jepang dirasakan berat dengan penindasan

yang sangat keji. Dalih untuk mencapai kemenangan Asia Timur Raya

digunakan Jepang untuk melatih pemuda dan pelajar keprajuritan secara

paksa. Momentum tersebut dimanfaatkan oleh para pemuka dan pemimpin

pergerakan nasional dengan membentuk badan-badan kesatuan organisasi dan

kelompok-kelompok pemuda antara lain Seinendan (Barisan Pemuda),

Keibodan (Pembantu Polisi), Heiho (Pembantu Balatentara Jepang), Pembela

Tanah Air (PETA) dan sebagainya (Sunarto 1988:10).

Organisasi-organisasi pelajar ini semula hanya bersifat sosial, namun

setelah Proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945 cenderung mengikuti

kegiatan pertahanan dan keamanan. Kecenderungan tersebut didorong oleh

43
44

faktor situasi pada saat revolusi yang disebabkan oleh hasrat membela dan

mempertahankan kemerdekaan tanah airnya. Hal ini semakin tampak pada

masa perebutan kekuasaan dan senjata dari tangan Jepang yang terjadi di

Jawa Tengah (Imran dan Ariwiadi 1985:17). Sebagai konsekuensi

dikumandangkannya Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pemuda dan pelajar

diseluruh tanah air harus menghadapi tantangan dari pihak-pihak yang

menentang diproklamasikannya Kemerdekaan Indonesia.

Para pemuda pelajar yang saat proklamasi 17 Agustus 1945 rata-rata

masih berusia muda dan masih duduk ditingkat Sekolah Lanjutan Pertama

(SLP) dan Sekolah Lanjutan Atas (SLA) sudah menyadari bahwa untuk

menghadapi perjuangan tersebut diperlukan kesatuan-kesatuan yang

terorganisasikan dengan pimpinan yang pasti (Mukmin 1989:10). Para

pemuda pelajar kemudian membentuk organisasi yang dapat menampung

setiap perjuangan pelajar dengan tidak menghapus identitas mereka sebagai

pelajar yang berjuang untuk mempertahankan kemerdekaan, sebutan populer

bagi mereka adalah “Pelajar Pejuang”. (Notosusanto 1978:401).

Pada tanggal 25-27 September 1945 pelajar-pelajar dari gabungan

sekolah menengah mengadakan konggres pemuda pelajar seluruh Indonesia.

Dalam kongres tersebut yaitu tanggal 27 September 1945 dicetuskan

berdirinya Ikatan Pelajar Indonesia (IPI). Kehadiran dan keberadaan IPI

ditengah-tengah perjuangan memberikan bobot tersendiri. Adanya IPI

membuat para pelajar Indonesia mempunyai wadah bagi perjuangan

mempertahankan Kemerdekaan Indonesia. Untuk mengkoordinasi anggota IPI


45

yang ikut dalam pertempuran, maka dibentuk Markas Pertahanan Pelajar

(MPP). Pengurus besar IPI pada mulanya berkedudukan di Jakarta kemudian

pindah ke Yogyakarta bersama dengan pemerintah RI dan berkantor di Tugu

Kulon (Soedarwo dkk. 2005:36-37).

Situasi tanah air yang demikian serius terutama akibat adanya ancaman

kolonial yang ingin menegakan kekuasaannya kembali, maka IPI memandang

perlu untuk membentuk suatu bagian tersendiri yang mengurus soal-soal

pertahanan. Bagian tersebut kemudian dinamakan IPI bagian Pertahanan atau

IPI Pertahanan (Imran dan Ariwiadi 1985:19). Pada mulanya IPI Pertahanan

hanya sebagai pembantu dalam menjaga keamanan daerah akan tetapi karena

tuntutan situasi kemudian aktif dalam tugas pertahanan langsung diberbagai

front perjuangan.

Pada bulan November 1945 IPI mengadakan konggres di Yogyakarta

dengan dihadiri oleh utusan-utusan dari seluruh Indonesia. Konggres tersebut

menghasilkan kebulatan tekad dari seluruh pemuda pelajar untuk berperan

dalam tugas-tugas nasional. Atas persetujuan Markas Besar Tentara

Keamanan Rakyat (MB TKR) Yogyakarta maka anggota pasukan pelajar dari

IPI Pertahanan dijadikan pasukan khusus yang diberi nama Tentara Pelajar

(TP). Markas Pertahanan Pelajar (MPP) selanjutnya membentuk kesatuan-

kesatuan menurut pembagian wilayah teritorial pertahanan. Kesatuan-kesatuan

dengan nama Tentara Pelajar (TP) formalnya dibagi menjadi 3 Resimen dan 1

Batalyon yaitu:

a. Resimen A untuk daerah wilayah Jawa Timur.


46

b. Resimen B untuk wilayah Jawa Tengah.

c. Resimen C untuk wilayah Jawa Barat.

d. Batalyon Tentara Genie Pelajar (TGP) (Soenarto 1988:26.) Dalam wadah

TP inilah para pelajar ikut berperan aktif dalam perjuangan mempertahankan

kemerdekaan.

Walaupun pasukan Pelajar telah diresmikan dengan sebutan Tentara

Pelajar dan organisasinya disusun seperti organisasi ketentaraan, status

kelaskaran tetap dipertahankan sesuai dengan Sistem Pertahanan Kelaskaran

Rakyat. Oleh sebab itu kepangkatan militer belum atau tidak digunakan untuk

pelaksanaan urusan-urusan intern organisasinya, melainkan didasarkan pada

kekeluargaan dan keakraban (Soedarwo dkk. 2005:42). Satu hal yang menarik

dari kesatuan Tentara Pelajar adalah komandannya dipilih oleh para

anggotanya sendiri. Kerjasama akan semakin baik dengan sistim ini sehingga

tidak ada rasa saling curiga dan semua saling mendukung untuk

mempertahankan negara (Nasution 2000:44).

Usia anggotanya yang masih muda maka Tentara Pelajar selalu

menjadi kebanggaan rakyat. Diusia yang masih muda belia sudah mampu dan

berani mempertaruhkan jiwa dan raganya untuk nusa dan bangsa. Selain itu

didalam berjuang tidak pernah mengabaikan serta meninggalkan kepentingan

rakyat bahkan sebaliknya selalu menyatu dengan rakyat. Seperti yang

dkemukakan George Turnan Mc Kahin dalam Soedarwo dkk. (2005:300) :


47

“ Tentara Pelajar itu salah satu organisasi elite, berdisiplin

tinggi,…Mereka salah satu unit pasukan yang efektif, serta selalu membantu

pemerintah disaat kritis”

Dalam bertugas ke front dilakukan secara bergiliran. Untuk mereka

yang tidak mendapat tugas bergiliran ke front diberi tugas pertahanan rakyat

“People Defence” dan penerangan-penerangan tentang pembelaan negara,

penjagaan keamanan, membuat rintangan-rintangan lalulintas, pembuatan

lubang-lubang perlindungan, pengumpulan bahan makanan dan lain

sebagainya (Soenarto 1988:16). Pembinaan wilayah yang diselenggarakan

oleh Tentara Pelajar ternyata membawa dampak positif yang terasa pada

waktu perang gerilya. Disitu tampak terasa manunggalnya tentara dan rakyat

yang mendalam sebagai perang rakyat semesta.

Pada tanggal 28 Oktober 1948 Pemerintah membentuk Markas

Komando Djawa (MBKD) sebagai pusat taktis komando militer seluruh

Pulau Jawa. Dalam momentum tersebut TP statusnya berubah sebagai

Kesatuan Reserve Umum “W” yang temasuk didalamnya antara lain:

1. Batalyon 1 KRU W, Batalyon Mayor Mashuri (Jawa Barat).

2. Batalyon 2 KRU W, Batalyon Mayor Achmadi (TP Solo)

3. Batalyon 3 KRU W, Batalyon Mayor Isman (TRIP Jawa Timur).

Susunan organisasi KRU W pusat sebagai berikut :

Komandan : Letkol Soedarto

Wakil Komandan : Mayor Soewarto

Komandan Batalyon Aktif : Mayor Isman dan Mayor Achmadi.


48

Komandan Batalyon Reserve : Kapten Hartono dan Kapten Suyono

Komandan Pasukan Zeni Pelajar : Kapten Hartawan (Soenarto 1988: 28).

Organisasi KRU W tersebut hanya berjalan selama dua bulan kemudia

diadakan perubahan lagi pada bulan November 1948 melalui penetapan

Presiden No.14 menjadi TNI Brigade XVII dengan susunan organisasi

pusatnya sebagai berikut :

Komandan : Letkol. Soedarto.

Wakil Komandan : Mayor Isman.

Komandan Detasemen I : Mayor Isman.

Komandan Detasemen II : Mayor Achmadi

Komandan Detasemen III : Kapten Hartono

Komandan Detasemen IV : Kapten Solichin

Komandan Detasemen V : Kapten Hartawan.

Staf Brigade : Mayor Soewardi, Kapten Hartono dan

Kapten Soejono.

Batalyon 55 : Mayor Mashuri (Soenarto 1988:29).

B. Terbentuknya Organisasi Tentara Pelajar Solo.

Sejarah berdirinya Tentara Pelajar Solo tidak bisa dipisahkan dengan

sejarah Tentara Pelajar (TP) pada umumnya, karena TP Solo merupakan

bagian dari Tentara Pelajar. Latar belakang lahirya laskar-laskar pelajar di

Solo dimulai sejak zaman pendudukan Jepang. Waktu itu Gakuttotai (Barisan

anak-anak sekolah) dan Seinendan (Barisan Pemuda) telah memberi latihan–


49

latihan dasar kemiliteran kepada para pelajar meliputi baris-berbaris, cara

menggunakan senjata, perang-perangan, menanggulangi kebakaran, tugas-

tugas palang merah dan sebagainya. Organisasi yang ada kaitannya dengan

gerakan pelajar pada waktu pendudukan Jepang ialah kepanduan (pramuka)

antara lain Javaanese Pandveiner Organizatie (JPO) pada zaman Jepang

disebut Yogo Pinardi Utomo. Selain itu juga terdapat Perkumpulan Pandu

Melayu (PPM) dibawah pimpinan G.P.H Jatikusumo bersama adiknya Gusti

Sukamto dan Sarsono (Imran dan Ariwiadi. 1985:81-82). Waktu itu sekolah-

sekolah di Surakarta baik negeri maupun swasta tergabung dalam satu

organisai yaitu Gabungan Sekolah Menengah Surakarta (GSMS).

Sebagian besar para pelajar senior sejak pendudukan Jepang di Solo

telah berani berjuang secara diam-diam atau gerakan rahasia. Kelompok-

kelompok ini tidak mempunyai nama karena tiap-tiap anggotanya hanya

menyebut oraganisasi yang belum berkembang itu sebagai Onze Groep atau

Kelompok Kita yang didirikan tahun 1945 (Mukmin 1989:16). Tujuan

gerakan rahasia ini untuk mengumpulkan informasi tentang pemerintah

Jepang dan Asia Timur Raya untuk kemudian didiskusikan bersama.

Rapat-rapat rahasia ini sering diadakan dirumah Maladi yang menjabat

sebagai Wakil Kepala Hosyo Kyoku (sekarang RRI Solo). Selain dianggap

senior juga menguasai berita-berita dari dalam dan luar negeri. Dalam rapat-

rapat tersebut biasanya dibahas bagaimana cara mencarai senjata, siapa yang

harus mencari senjata, cara mengumpulkan dan membuat senjata tajam tanpa

diketahui Jepang.
50

Setelah Bangsa Indonesia berhasil memproklamasikan

kemerdekaannya, terlebih dengan datangnya tentara Sekutu yang diboncengi

oleh pasukan Belanda (NICA) yang ingin menegakkan kekuasaanya kembali,

maka dibentuklah sebuah forum untuk mewujudkan perjuangan para pelajar.

Ikatan Pelajar Indonesia (IPI) dibentuk pada bulan Oktober 1945 dengan

pusatnya di Yogyakarta denga ketua Tata Mahmud. Sebagai tindak lanjut

pembentukan IPI yang berpusat di Yogyakarta maka IPI Solo membentuk

bagian pertahanan yang diketuai Mahatma. Peranan IPI bagian pertahanan ini

sangat penting karena merekalah yang mengkoordinasi dan mengadakan

latihan-latihan bagi para pemuda dan pelajar yang akan diterjunkan digaris

depan dan para pelajar inilah yang berperan penting dalam aksi melucuti

senjata tentara Jepang (Nasution 2000:43).

Pergolakan yang mengancam keselamatan RI telah membangkitkan

semangat para pemuda dan pelajar kemudian mereka membentuk laskar

pelajar seperti:

a. Laskar Garuda : Kelompok pelajar Sekolah Guru Negeri (SGN) yang

dipimpin Mustari.

b. Laskar Satria : Kelompok campuran pelajar-pelajar tingkat SMP dipimpin

Tobiat.

c. Laskar Pandawa : Kelompok pelajar tingkat SMP dipimpin Soebroto.

d. Laskar Jelata : Kelompok pelajar gabungan tingkat SMP.

e. Laskar Alap-alap: Kelompok pelajar STN dan SMP dipimpin Moektio dan

Soempil Basoeki.
51

f. Laskar Kere : Kelompok Pelajar SMT yang dipimpin Achmadi

g. Barisan IPI: Kelompok Pelajar pimpinan Mahatma.

( Wawancara dengan Masiroen, 25 Mei 2007; Imran dan Ariwiadi. 1985:87).

Setelah TP terbentuk pada bulan November 1945 laskar-laskar pelajar tersebut

kemudian dikoordinir dalam TP Batalyon 100 Solo.

Sampai akhir tahun 1946 Tentara Pelajar yang masuk dalam struktur

organisasi Tentara Pelajar Pusat Yogyakarta untuk daerah Jawa tengah

tersusun dalam Batalyon 100 Solo dengan komandannya Prakoso, Batalyon

200 Semarang dan Pati dengan komandannya Marwoto, Batalyon 300

Yogyakarta dengan komandannya Martono dan Batalyon 400 Cirebon dengan

komandannya Salamun A.T. (Nasution 2000:44)

Meskipun TP merupakan suatu perkembangan dari IPI Pertahanan

namun pada perkembangannya tidak lagi berafiliasi secara formal pada IPI

pertahanan. Kesatuan seperti Laskar Kere dibawah Achmadi, Laskar Jelata

dibawah Prakoso dan laskar Garuda dibawah Mustari ketiga pasukan ini

terhimpun di Solo terhimpun dan dibawah komando Markas Besar TP Pusat

yang berkedudukan di Yogyakarta dan bukan dibawah koordinasi IPI

Pertahanan (Soedarwo dkk. 2005:42).

Para pelajar yang bersenjata dan tergabung dalam IPI tetapi telah

merupakan kesatuan-kesatuan TP diperbolehkan untuk melepaskan diri dari

keanggotaan IPI. Artinya TP merupakan kesatuan-kesatuan yang berdiri

sendiri. Para pelajar yang bergabung dalam IPI adalah pelajar-pelajar yang

bisa bergerak dibidang sosial. IPI bagian sosial ini selanjutnya bergabung
52

dengan Serikat Mahasiswa Indonesia (SMI) yang selanjutnya menjadi Ikatan

Pemuda Pelajar Indonesia (IPPI). Walupun demikian IPI, IPPI, TRIP, TGP

dan lain-lain tetap ada hubungan batin karena disadari bahwa pada dasarnya

mereka sesama pemuda pelajar.

Pada awal tahun 1946 diadakan rapat antara laskar-laskar pelajar Solo

dan berhasil membentuk Markas Pertahanan Pelajar (MPP) Solo dengan

Sulaiman sebagai ketua dan Prakoso sebagai wakilnya. Semua laskar pelajar

yang ada seperti Garuda, satria, Pandawa, Alap-alap dan Kere bergabung

dalam Markas Pertahanan Pelajar. Kekuatan pasukan tersebut disusun

dikoordinir dalam Batalyon 100 menurut regu, seksi dan kompi yang

kekuatanya tidak sama. TP Solo masuk dalam Batalyon 100 yang dipimpin

Prakoso dengan Mashuri sebagai kepala stafnya. Batalyon 100 terbagi dalam

beberapa kompi antara lain Kompi 110, 120, 130 dan 140. Laskar Kere

dibawah Achmadi menjadi inti dari Batalyon 100 (Mukmin 1989: 130).

Semula anggota TP Solo sebagian diasramakan karena semakin

banyak anggotanya semakin banyak mendapat jatah beras dari pemerintah

melalui urusan logistik. Suatu saat pemerintah tidak dapat lagi memberi jatah

beras kepada asrama-asrama TP sehingga akibatnya pasukan tersebut

terpaksa mencari makan sendiri.

Wilayah operasi Batalyon 100 meliputi Klaten, Boyolali dan Salatiga

yang dekat dengan MMTG melalui Kedungjati. Sementara Gajah Soeranto

dan Abdul Latief diserahi tugas oleh Achmadi untuk mengorganisir TGP di

Solo. Gajah Soeranto kemudian berhasil mendirikan bengkel senjata di


53

Tirtomoyo. Selain memperbaiki senjata-senjata yang rusak, bengkel mereka

juga membuat trek bom, plamur, mortir kecil dan senjata sten-gun. Senjata

tersebut banyak dipakai oleh Tentara Pelajar Solo. Sebelum terbentuk TGP di

Solo sudah ada bagian Zeni yang bertugas membuat senjata. Setelah TGP

terbentuk bagian Zeni tersebut bergabung dalam TGP (Imran dan Ariwiadi.

1985:94).

Dijelaskan oleh Mukmin (1989:19) bahwa wilayah perjuangan TP

Solo tidak hanya didaerah Kota Solo saja melainkan juga keluar Kota Solo

sampai ke Semarang. Pasukan TP kemudian mengintegrasikan diri dalam

kemiliteran dan aktif berperan dalam pertahanan nasional ikut aktif di front-

front depan menghadapi Belanda antara lain di front sekitar Semarang.

Pasukan-pasukan pelajar Solo tersebut antara lain Barisan IPI, Pemuda Jelata,

Laskar Kere, SA-Troep, Brigade X, Alap-alap, Garuda, Satria dan sebagainya

berperan serta aktif di Medan Selatan (Srondol) dan Medan Tenggara

(Mranggen). Disamping itu ada pula Laskar Wanita Indonesia (LASWI) yang

anggotanya terdiri dari pelajar-pelajar putri yang berperan aktif di medan

pertempuran.

C. Perkembangan Tentara Pelajar Solo

Seperti halnya perubahan nama organisasi tentara RI yang

berkembang dari BKR-TKR-TRI kemudian menjadi TNI, maka terjadi

perubahan dalam tubuh tentara pelajar. Berkembang dari embrio kelompok-


54

kelompok pelajar perjuangan menjadi laskar-laskar pelajar akhirnya menjadi

batalyon-batalyon tentara pelajar.

Penetapan Presiden No.1 tanggal 2 Januari 1948 yang disempurnakan

dengan Penetapan Presiden No.4 tanggal 4 Mei 1948 mengenai Reorganisasi

dan Rasionalisasi (Rera) dalam tubuh angkatan perang yang bertujuan

menyehatkan kembali organisasinya agar lebih efisien. Pada penggabungan

sesuai Rera tersebut maka pada bulan Oktober kesatuan TP dan TGP Solo

dimasukan dalam Batalyon 2 Kesatuan Reserve Umum “W” (KRU-W)

dibawah Mayor Achmadi.

Berdasar reorganisasi tersebut maka Mayor Achmadi diangkat sebagai

Komandan Batalyon 2 KRU W disamping menjabat sebagai KMK Solo.

Kekuatannya terdiri dari Kompi 1 dengan komandan Kapten Prakoso dan

Kompi 2 dengan komandan Abdul latief (Imran dan Ariwiadi. 1985:100-

101).

Pada bulan November 1948 KRU “W” menjadi TNI Brigade XVII

yang secara taktis langsung dibawah Markas Besar Tentara (MBT) dengan

komandan brigadenya Letkol. Soedarto. Brigade XVII terdiri dari atas

beberapa detasemen antara lain :

1. Detasemen I Jawa Timur pimpinan Mayor Isman.

2. Detasemen II Solo (Surakarta) pimpinan Mayor Achmadi.

3. Detasemen III Yogyakarta pimpinan Kapten Hartono

4. Detasemen IV Jawa Barat pimpinan Solichin G.P

5. Detasemen V TGP pimpinan Kapten Hartawan


55

6. Detasemen Staf Kompi “M” pimpinan Letnan Utoro (Mukmin 1989:13).

TP Solo masuk dalam Detasemen II TNI Brigade XVII sekaligus menjadi

bagian pasukan organik TNI. Hal ini sehubungan suasana keamanan dengan

terjadinya pemberontakan PKI yang dikenal sebagai Madiun Affair disamping

Tentara Belanda yang bersiap-siap untuk menyerang RI.

Sesuai keputusan tersebut Tentara Pelajar berganti TNI Brigade XVII

Detasemen II, Namun nama Tentara Pelajar sudah begitu melekat sehingga

mereka tetap dikenal sebagai TP dengan sebutan akrab Mas Tepe. Kekuatan

pasukan TP Solo waktu itu dapat diperkirakan dari jumlah kompi yang ada.

Satu kompi TP terdiri dari tiga seksi, satu seksi terdiri dari tiga peleton dan

tiap peleton terdiri dari tiga regu. semula hanya terdiri dari tiga kompi

selanjutnya mengalami perubahan menjadi empat kompi karena terjadi

penggabungan dengan Kompi Marwoto dari Semarang. Penggabungan

tersebut karena wilayah Semarang, Pati, Solo masuk wilayah operasi

Detasemen II Solo dibawah Mayor Achmadi. Menurut susunan kompinya

sebagai berikut:

1. Kompi 1 Kapten Prakoso

2. Kompi 2 Kapten Abdul Latif

3. Kompi 3 Kapten Soehendro

4. Kompi 4 Kapten Marwoto (Imran dan Ariwiadi 1985:101)

Kesatuan Pelajar Solo yang berada diluar Brigade XVII antara lain

Pasukan Pelajar Sturm Abteilung (SA) yang kemudian menjadi Corps Students

Army (CSA) dipimpin Moektio. Pasukan SA, CSA yang ikut memadamkan
56

PKI Madiun berhasil mendapatkan senjata yang banyak sehingga tumbuh

menjadi pasukan yang kuat dan lengkap persenjataanya. Dengan demikian di

Solo ada dua kelompok pasukan pelajar yaitu laskar-laskar pelajar yang

tergabung dalam Brigade XVII dan pasukan SA, CSA. Pasukan tersebut

selanjutnya bergabung dengan Brigade V Panembahan Senopati yang

dipimpin Letkol Slamet Riyadi. Kesatuan-kesatuan pelajar lain yang diluar

Brigade XVII selanjutnya dimasukan dalam Mobilisasi Pelajar (Mobpel).

Berbeda dengan Brigade XVII yang secara organisasi termasuk dalam

organisasi ketentaraan maka Mobpel berstatus sebagai cadangan sesuai

dengan sistem pertahanan yang dianut yaitu pertahanan rakyat.


BAB IV

PERANAN TENTARA PELAJAR SOLO

PADA MARKAS MEDAN TENGGARA (MMTG) DALAM

MEMPERTAHANKAN KEMERDEKAAN DI SEMARANG

DAN SEKITARNYA

A. Peranan TP Solo pada MMTG dalam Pertempuran Awal di Semarang.

Bangsa Indonesia setelah mencapai kemerdekaannya masih harus

menghadapi dua masalah penting yaitu Bangsa Indonesia masih harus mencari

dukungan dari dunia internasional untuk mendapatkan pengakuan secara de

jure. Bangsa Indonesia juga mendapat ancaman dari kekuatan kolonial yang

ingin menegakkan kembali kekuasannya sehingga selain menggunakan

kekuatan diplomasi, juga menggunakan kekuatan militer untuk

mempertahankan kemerdekaannya.

Sekutu mendarat di pelabuhan Semarang tanggal 19 Oktober 1945

menggunakan kapal Sekutu HMS Glenroy yang mengangkut tentara Inggris

dari Brigade 37 yang diantaranya adalah serdadu Gurkha (Panitia Penyusunan

Sejarah Pertempuran Lima Hari di Semarang. 1977:170). Menurut Syamsuar

(1993:20) Kekuatannya terdiri dari Satu kompi Infantri dari Batalyon 2, Satu

kompi infantri dari Resimen India anti tank, Satu kompi infantri dari Batalyon

3 Gurkha Rifles, Dua kompi infantri sebagai cadangan, Satu skuadron tank

sebagai senjata bantuan. Kedatangan Sekutu tersebut menghentikan

pertempuran yang telah berjalan selama lima hari di Semarang. Para pejuang

57
58

kita selanjutnya dihadapkan musuh baru yaitu Sekutu yang diboncengi NICA.

Secara singkat keinginan NICA terhadap kedatangan tentara Sekutu di

Indonesia dikemukakan Suwarno (1998:58) antara lain:

1. NICA membonceng masuknya tentara Sekutu di wilayah bekas Hindia-

Belanda.

2. Menggunakan tentara Sekutu berfungsi sebagai pelaksana kebijakan

politik NICA di Hindia-Belanda.

3. Menggunakan tentara Sekutu sebagai penekan bagi masyarakat Indonesia

agar memenuhi keinginan politik NICA.

4. Meminta tentara Sekutu agar menduduki kota-kota lain selain Batavia.

5. Meminta agar 100.000 APWI-Belanda dapat dievakuasi ke tujuan masing-

masing.

6. Menggunakan tentara Sekutu untuk memberantas terorisme (Pejuang RI).

Setibanya di Semarang Sekutu mengadakan pertemuan dengan

pemerintah RI di Semarang. Wakil dari pemerintah RI adalah Mr.

Wongsonegoro selaku Gubernur Jawa Tengah dan dari pihak Sekutu adalah

Jenderal Bethell sebagai panglima tentara sekutu di Jawa Tengah.

Kesepakatan yang dicapai dalam pertemuan ini yaitu pihak RI akan

menyediakan bahan makanan dan kebutuhan sehari-hari bagi Sekutu dan tidak

menghalangi pelaksanaan tugasnya sebaliknya Inggris tidak akan melanggar

kedaulatan RI (Moedjanto 1991:11). Inggris semula bersikap tidak memihak

dan mendorong penyelesaian sengketa RI dan Belanda melalui perundingan.

Kedatangan Inggris pada kenyataannya memungkinkan Belanda


59

menginjakkan kaki kembali di Indonesia dan membangun kekuatan militer

untuk menegakkan kembali kekuasaannya.

Akibat masuknya NICA yang diselundupkan dalam tentara Sekutu,

tugasnya mengangkut tahanan perang dan dalih menjaga keamanan sering

melakukan tindakan tidak terpuji antara lain menggoda wanita-wanita

Indonesia dan melakukan perampasan terhadap kekayaan orang Indonesia

(Panitia Penyusunan Sejarah Pertempuran Lima Hari di Semarang. 1977:229).

Tindakan tersebut memicu meletusnya pertempuran melawan tentara Sekutu

dibeberapa wilayah. Perlawanan yang hebat dari pejuang RI membuat sekutu

mundur dari Magelang dan Ambarawa ke Kota Semarang. Kota tersebut

menjadi satu-satunya kota di Jawa Tengah yang masih dikuasai tentara

Sekutu.

Menjelang meletusnya pertempuran melawan Sekutu di Semarang,

dari Solo kembali dikirim sejumlah senjata untuk membantu perjuangan para

pemuda. Pengiriman senjata dipimpin oleh Anwar Santoso didampingi Abdul

Latif, Soemitro, Muslimin dan Suyono. Senjata tersebut diserahkan kepada

Suprapto (Polisi) dirumahnya Pandean Lamper. Keempat pelajar Solo tersebut

selanjutnya dijadikan Barisan Polisi Istimewa dibawah Markadi tugasnya

menjaga sentral telepon di Johar dan memonitor semua hubungan telepon di

Kota Semarang (Imran dan Ariwiadi. 1985:55). Meletusnya pertempuran

melawan Inggris membuat para pelajar tersebut berusaha keluar dari Kota

Semarang. Mereka keluar lewat Rejosari, Banjirkanal terus ke Mranggen,


60

kemudian mereka bertemu Pelajar Solo yang mencari mereka yaitu Achmadi,

Prakoso, Sumarto dan Gajah Suranto.

Brigadir Jendral Bethell kemudian melakukan pembersihan diseluruh

pelosok Semarang, menggunakan kekuatan resimen Hyderabad (Gurkha)

pasukan tank dan dibantu Angkatan Udara Inggris. Pertempuran selalu

berkecamuk disepanjang perbatasan, terlebih setelah kedatangan tentara

Belanda yang berangsur-angsur mengambilalih pos-pos Inggris dan Jepang.

Terjadinya pertempuran antara pasukan sekutu membuat para pejuang RI

banyak yang mundur keperbatasan Kota Semarang. Markas-markas medan

kemudian dibentuk disekitar perbatasan seperti Markas Medan Timur (MMT)

dengan front di Genuk, Markas Medan Tenggara (MMTG) dengan front di

Plamongan Sari, Markas Medan Selatan (MMS) dengan front di Pudak

Payung dan Markas Medan Barat (MMB) dengan front di Jrakah. Hampir

disemua markas tersebut terdapat pasukan Tentara Pelajar yang berjuang

bersama TKR (Wawancara dengan Soehendro, 31 Mei 2007). Semua kekuatan

bersenjata RI telah dikerahkan untuk merebut Kota Semarang.

Pasukan Pelajar Solo kemudian disebar mengikuti sistem pertahanan

yang dianut waktu itu pos-pos pertahanan ke berbagai front yang ada di

Mranggen, Gunungpati, Alastuwo dan Srondol. Menghadapi pertempuran-

pertempuran selanjutnya melawan NICA satuan-satuan pasukan pelajar

bergabung dengan TKR ataupun polisi yang lebih mengetahui taktik dan siasat

perang. MMTG dengan pusatnya di Mranggen terbagi menjadi dalam


61

beberapa daerah yaitu Daerah I (front pertempuran), Daerah II dan Daerah III

(daerah aman) (Wawancara dengan Moh. Sakdan, 5 Juni 2007).

Tentara Pelajar (TP) Solo dikirim ke MMTG melalui Stasiun Balapan

menuju Mranggen, ketika Semarang dikuasai Sekutu dan Belanda. TP Solo

sebelumnya dilatih oleh mantan tentara PETA yang dipimpin Mahatma di

Panasan Solo selama tiga bulan. Tanggal 1 April 1946 sore TP Solo sampai di

Mranggen dan ditempatkan di Pos Tegal Kangkung dengan kekuatan satu regu

dengan komandan Masgiyakhir (Wawancara dengan Masiroen, 25 Mei 2007).

Pos Tegal Kangkung mendapat serangan canon dari arah BAT

(Kaligawe) pada tanggal 3 April 1946 subuh, setelah sehari sebelumnya TP

Solo melakukan observasi. Serangan Belanda dilanjutkan dengan

menggunakan infantri Belanda sehingga terjadi pertempuran secara frontal

yang pertama bagi anggota TP Solo di MMTG. Seorang anggota TP bernama

Mucharom gugur dalam pertempuran tersebut sedangkan dua orang

menderita luka-luka bernama Suwandi dan Mas Broto. Nama Mucharom

kemudian diabadikan menjadi nama jalan didaerah Tegal Kangkung

(Wawancara dengan Masiroen, 25 Mei 2007). Korban luka-luka tersebut

selanjutnya dibawa ke Mranggen untuk diberi pengobatan, sedangkan

Mucharom yang tidak sempat dibawa kemudian diurus oleh penduduk

sekitar. Belanda kemudian mundur dibawah lindungan artilerinya.

Pertempuran sengit juga terjadi di jalur Alastuwa-Mranggen, setelah

didahului serangan canon Belanda berhasil mendaratkan pasukannya

kemudian melakukan pembakaran terhadap dapur umum dan asrama.


62

Dikuasainya Alastuwa oleh Belanda memaksa para pejuang mengundurkan

diri ke Mranggen (Wawancara dengan Suwarsih, 26 Mei 2007).

Perundingan politik antara pimpinan RI dan Belanda terus

berlangsung, sementara secara berangsur-angsur Batalyon Baret Merah

Inggris diganti oleh tentara Belanda sehingga pada bulan Mei sudah lengkap

Brigade T KNIL bercokol di Semarang dengan kekuatan tiga batalyon.

Semarang resmi menjadi kota NICA pada tanggal 17 Mei 1946 setelah terjadi

serah terima komando pendudukan dari Brigadir Darling (Inggris) kepada

Kolonel Van Langen Komandan Brigade T KNIL dari pihak Belanda

(Sudarwo dkk. 2005:49).

Pasukan Inggris yang telah selesai melaksanakan tugasnya kemudian

meninggalkan Indonesia. Daerah-daerah yang semula diduduki Inggris dalam

melaksanakan tugasnya diserahkan pada angkatan perang Belanda. Setelah

mendatangkan pasukan yang cukup besar dari negaranya Belanda berhasil

membangun kekuatan militernya. Pasukan Belanda dengan demikian secara

cuma-cuma mengambil alih daerah-daerah yang diduduki Inggris dan

menggunakannya sebagai pangkalan depan sekaligus basis saat melakukan

operasi-operasi militer lebih lanjut untuk merebut Ibu Kota RI Yogyakarta.

Belanda kemudian bertindak keras terhadap apa saja yang berbau Republik.

Pimpinan NICA menempati gubernuran yang telah ditinggalkan oleh

Gubernur Wongsonegoro.

Kekurangan RI saat itu adalah tidak mampunya Pasukan RI

memanfaatkan Semarang yang sudah sangat terjepit pada waktu penarikan


63

pasukan-pasukan Inggris walaupun hal ini telah diketahui sebelumnya.

Padahal saat itu telah terpusat kekuatan divisi-divisi dibawah Kolonel. Gatot

Subroto, Sutarto dan Jatikusumo disamping laskar-laskar yang dipimpin dari

markas Kolonel Holland Iskandar (Nasution 1977:208). Pertempuran darat

terjadi antara Pasukan RI dengan pasukan Belanda di segenap front. Pos-pos

Genuk, Kalibanteng, Srondol dan Mranggen seringkali berganti tangan.

Pasukan RI beberapa kali menerobos Kota Semarang ditengah hujan artileri

laut kapal-kapal Belanda.

Pertempuran yang terus berlangsung antara Pejuang RI dengan

Belanda mendorong dunia internasional untuk mengadakan gencatan senjata

dan untuk menunjukan bahwa Sekutu datang ke Indonesia tidak untuk

membuat kekacauan. pada tanggal 15 Nopember 1946 maka diadakanlah

persetujuan antara Belanda dan RI yang dikenal dengan persetujuan Linggajati

(Moedjanto 1991:181). Delegasi RI dalam perundingan tersebut dipimpin oleh

Sutan Syahrir sedangkan pihak Belanda dipimpin oleh Prof. Schemerhorn.

Pokok-pokok isi perundingan Linggajati adalah:

a. Belanda mengakui secara de facto RI dengan wilayahnya meliputi Jawa,

Madura dan Sumatra.

b. RI dan Belanda akan bekerjasama membentuk Negara Indonesia Serikat

dengan nama Republik Indonesia Serikat dan salah satu bagiannya adalah RI.

c. RIS dan Belanda akan membentuk Uni Indonesia-Belanda dengan ratu

Belanda sebagai ketuanya.


64

Mengenai hasil perjanjian tersebut IPI yang memiliki hubungan erat

dengan TP termasuk organisasi yang sejak awal menerima perjanjian

Linggarjati. IPI menerima Linggarjati juga hanya sebagai taktik, sedangkan

tujuan strategis masih terus diperjuangkan disamping karena IPI waktu itu

dekat dengan Syahrir. Pernyataan sikap IPI dinyatakan dengan pawai, poster,

slogan dan yel-yel, bahkan ada cabang IPI yang menyelenggarakan sandiwara

pantomime mengenai kisah Linggarjati dengan tujuan menarik dan memberi

pengertian kepada rakyat dan wartawan (Suwarno 1998:216).

Sesuai dengan ketentuan perjanjian Linggajati tentang garis demarkasi,

maka keduabelah pihak sepakat menarik pasukan sejauh 10 kilometer dari

kedudukan semula sehingga pasukan RI mundur sampai disebelah timur

Sungai Penggaron (Wawancara dengan Moh. Sakdan, 5 Juni 2007).

Kesepakatan tersebut menyebabkan MMT yang berada di Genuk harus

mundur ke Sayung sedangkan MMTG yang berkedudukan di Mranggen harus

pindah ke Gubug. Dukungan terhadap RI datang dari dunia internasional

dimana Pemerintah Inggris dan Amerika mengakui secara de facto terhadap

RI atas Jawa, Sumatra dan Madura. Terjadinya persetujuan Linggajati

memberi kesempatan anggota TP Solo kembali ke sekolah melalui sekolah

peralihan tetapi situasi ini tidak berlangsung lama.

Isi dari perjanjian Linggarjati yang telah ditandatangani RI dan

Belanda ternyata menimbulkan tafsir yang berbeda dikedua pihak sehingga

menimbulkan ketegangan yang mengarah pada konflik terbuka. Pemerintah

RI secara tegas menolak beberapa hal penafsiran persetujuan versi Belanda.


65

RI menolak tuntutan Belanda untuk membubarkan TNI dan menjadikan

KNIL sebagai inti tentara Federal. RI juga tidak bersedia mengakui wakil

tinggi Mahkota Kerajaan Belanda sebagai Panglima Tentara Federal.

(Soetanto 2006:135). Perundingan akhirnya mengalami jalan buntu sehingga

untuk memaksakan kehendaknya pada tanggal 21 Juli 1947 Belanda

melancarkan Agresi Militer Pertama kedaerah yang dikuasai pemerintah RI

B. Peranan TP Solo pada MMTG dalam Perang Kemerdekaan I

Menjelang Agresi Militer Belanda I Belanda telah mempersiapkan

persenjataan berat dan tank-tank dengan tujuan Kudus, Gubug dan

Yogyakarta. Gerakan pasukan Belanda menyerbu Mranggen menggunakan

jalur poros Semarang-Purwodadi sehingga Mranggen berubah menjadi daerah

II dengan markas panglima di Brumbung (Wawancara dengan Moh. Sakdan 5

Juni 2007).

Brigade T Belanda pada waktu itu hanya dapat mempersiapkan lima

batalyon tempur dan dua batalyon cadangan sehingga mereka tidak dapat

melakukan gerakan kesetiap jurusan secara serentak. Kolonel Van Langen

selanjutnya memutuskan untuk menggerakan pasukannya secara bergantian

yaitu pertama ke selatan kemudian ke timur dan tenggara dan akhirnya ke

barat. Tugas tersebut tidak mudah karena harus berhadapan dengan tiga

Divisi TKR yakni Divisi III pimpinaan Mayor Jendral Susalit di sebelah

barat, Divisi IV pimpinan Mayor Jendral Sutarto di sebelah selatan dan Divisi

V pimpinan Mayor Jendral Jatikusumo di sebelah timur. Tanggal 20 Juli 1947


66

sejumlah pasukan Belanda dari berbagai pangkalan di Kota Semarang

bergerak menuju ke tempat-tempat awal serangan (Soemarmo 1985:89).

Belanda melancarkan agresi militernya pada tanggal 21 Juli 1947

dengan menerapkan strategi ujung tombak. Serangan tersebut mengutamakan

gerak serangan dengan mobilitas tinggi, dilindungi oleh daya tembak yang

besar dan keunggulan di udara (Soetanto 2006:361). Bombardemen dilakukan

pasukan Belanda kearah kubu-kubu pertahanan RI, selanjutnya mulai

bergerak memperluas wilayahnya.

Beberapa kota di Jawa Tengah juga diserang Belanda dari udara

menggunakan pesawat tempurnya. Tujuan Belanda melakukan agresi militer

pertama ini ialah penghancuran RI. Tetapi untuk mencapai tujuan itu Belanda

tidak bisa melakukanya sekaligus. Karena itu pada fase pertama Belanda

harus mencpai sasaran seperti yang dikemukakan Moedjanto (1988:15) yaitu:

1. Politik : Pengepungan terhadap ibu kota RI dan penghapusan RI dari peta.

2. Ekonomi : Perebutan daerah-daerah penghasil bahan makanan.

3. Militer : Penghancuran TNI

Menurut Belanda apabila Jawa sebagai pusat politik, ekonomi dan militer

dapat dikuasai akan mudah menegakkan kembali kekuasaannya di Indonesia.

Upaya untuk menanggulangi Agresi Militer Belanda I dibentuk

pasukan pertahanan di Semarang. Garis pertahanan itu adalah Srondol,

Mranggen dan Demak yang berada dibawah tanggung jawab Divisi

Panembahan Senopati. Mengenai sistem pokok pertahanannya dibagi menjadi

tiga garis yaitu: (1) Garis Srondol, Mranggen dan Demak. (2) Garis Tenggara
67

Karanggede, Kedungjati dan Purwodadi. (3) Garis Klaten, Solo, Sragen

(Juwarti 2003:61).

Jalur kereta api menjadi proritas utama selain pentingnya

mempertahankan jalan raya jalur Semarang-Purwadadi dan jalur utara jurusan

Semarang-Surabaya. Pasukan TKR dengan senjata penangkis serangan udara

ditempatkan untuk mengamankan jalur kereta api Semarang-Solo. Satu

pasukan dari MMT ditempatkan disebelah utara rel kereta api Alastuwa yang

selalu berkoordinasi dengan MMTG. Pasukan tersebut bertugas menghadang

pasukan Belanda yang melewati jalur kereta api dari Stasiun Tawang ke

Purwadadi atau Solo (Noor dan Sigit Wahyudi. 1995:135).

Pasukan Belanda bergerak dari Semarang memperluas wilayahnya

keselatan melewati Srondol berhasil dihambat Tentara Republik dan laskar

lainnya sampai di Tengaran. Gerakan Pasukan Belanda ketimur menuju

Demak sampai sungai Tanggulangin (sebelah barat Kota Kudus). Pasukan

Belanda yang bergerak kearah tenggara hanya sampai di Kedungjati, Gubug

berhasil dikuasai tetapi upaya menguasai Godong berhasil digagalkan.

Gerakan pasukan Belanda kearah Barat berhasil menerobos sampai ke

Cirebon (Wawancara dengan Suhendro, 31 Mei 2007).

MMTG merupakan daerah pertahanan untuk menghadang pasukan

Belanda kearah timur seperti Kudus, Jepara, Pati serta menuju kearah tenggara

seperti Mranggen, Karangawen, Gubug, dan Purwadadi. Serangan kearah

tenggara menggunakan tiga strategi seperti dikemukakan Juwarti (2003:61)

yaitu:
68

1. Sayap kiri : berada di Girikusumo, Pucanggading dan Klipang.

2. Sayap tengah: berada di Mranggen, Penggaron, Kedungmundu dan

Pandean Lamper.

3. Sayap Kanan: berada di Alastuwo.

MMTG tidak mudah ditundukkan seperti medan-medan lainnya,

Pasukan Belanda bahkan mengakuinya dan terpaksa maju-mundur dari medan

tersebut. Upaya Belanda menduduki Mranggen menggunakan sistem gunting

dengan mengerahkan pasukan melalui jalur selatan yang menembus Mranggen

dan melewati jalur utara melalui Demak (Wawancara dengan Suwarsih 26

Mei 2007).

Pertempuran terjadi di stasiun Brumbung pada tanggal 26 juli 1947,

Pasukan Belanda begerak dari medan timur dengan bantuan angkatan laut dan

udara. Jalur antara Mranggen-Gubug diserang menggunakan pesawat udara.

Tanggal 27 Juli 1947 Belanda melakukan serangan dengan kekuatan dua tank

dan empat truk, walaupun sempat ditahan oleh pasukan RI dan laskar

perjuangan akhirnya mundur ke medan tenggara. Sebelum masuk Mranggen

di Penggaron sempat terjadi pertempuran, pasukan RI mengadakan

pembalasan dari Mranggen dengan melumpuhkan dua batalyon dan tepat

mengenai empat truk dan tank yang berderet-deret disepanjang jalan. Belanda

selanjutnya mendatangkan bantuan dari Semarang berupa tank dan tiga

pesawat terbang untuk membantu gerakan Belanda. Siang harinya Kedungjati

mendapat serangan Belanda menggunakan pesawat dengan menembaki jalan

Karangawen (Nasution 1978:230-243).


69

Kesatuan Tentara Pelajar Solo bersama dengan Tentara Republik dan

laskar-laskar lainnya di Medan Tenggara pada hari pertama serangan Belanda

masih dapat bertahan sehingga Belanda hanya dapat menduduki Mranggen.

Pada hari berikutnya Belanda dapat menduduki Kedungjati setelah melalui

perlawanan sengit. Tentara Pelajar Solo mengadakan perlawanan untuk

menghambat tentara Belanda di Mranggen, kemudian menempatkan diri di

Telawah Gogodalem yang terletak antara Salatiga dan Kedungjati. Tentara

Pelajar Solo kemudian membuat pertahanan yang kokoh di Melambong

sampai dekat Karangduren. Posisi Pasukan Belanda yang berada di Tingkir

Salatiga dan Kedungjati tidak mengalami kemajuan lagi sementara kekuatan

Pasukan Republik semakin memperkuat diri dengan membuat pertahanan

secara linier (Wawancara dengan Masiroen 25 Mei 2007 ; Mukmin 1989:20).

Pasukan Laskar Kere ditugaskan di front Karanggede setelah agresi

militer Belanda pertama tersebut sedangkan seminggu setelah Belanda

menduduki Ungaran, Bawen dan Salatiga, Pasukan TP seksi Masyuri

bersama-sama dengan pasukan TKR diinstruksikan oleh Komandan MMTG,

Mayor Basuno untuk pindah dari Mranggen ke Desa Tempuran (antara

Kedungjati dan Beringin). Tujuan perpindahan pasukan ini adalah untuk

menghalangi gerakan pasukan Belanda dari Ambarawa ke Kedungjati

(Soedarwo dkk. 2005:63).

Pusat MMTG bertahan di Gubug setelah Belanda benar-benar berhasil

menguasai Mranggen. Belanda terus menggempur pertahanan RI di Gubug,

namun mereka mendapat perlawanan hebat sehingga terpaksa menyerang


70

menggunakan pesawat cocor merah. Gudang persenjataan dan alat-alat

peledak di Stasiun Gubug serta truk sumbangan dari India dihancurkan

melalui serangan udara Belanda menggunakan pesawat cocor merah. Belanda

melakukan pembersihan mencari pejuang RI dengan pasukan infantrinya

setelah Gubug berhasil dilumpuhkan. Pasukan RI bersama laskar perjuangan

bertahan di Karangrayung yang menjadi benteng terakhir MMTG dengan

didudukinya Gubug (Wawancara dengan Moh. Sakdan, 5 Juni 2007).

PBB menyerukan gencatan senjata yang berlaku sejak tengah malam

bulan Agustus 1947 untuk menghentikan peperangan. Belanda masih tetap

gencar melakukan serangan untuk menghancurkan semua front yang ada di

Semarang walaupun telah ada penetapan mengenai gencatan senjata. Tentara

Belanda mengkonsolidasikan posisinya sehingga berhasil menyusun

pangkalan diwilayah RI. Aktivitas patroli dan insiden-insiden menggunakan

senjata berat berangsur-angsur mendesak pasukan RI. Pembangunan

pangkalan militer tersebut tidak lain untuk mempersiapkan serangan lanjutan

terhadap Ibukota RI di Yogyakarta.

Pasukan belanda pada hakikatnya hanya menguasai jalan-jalan besar

akan tetapi pada tanggal 4 Agustus 1947, Van Mook secara sepihak

menentukan garis Van Mook yaitu garis antara tempat-tempat terdepan yang

telah dikuasai pasukan Belanda sejak agresi militer 19 Juli sampai 4 Agustus

1947. Daerah-daerah dibelakang garis itu dipandang sebagai daerah yang

dikuasai Belanda meskipun kenyataannya daerah itu masih dikuasai RI dan

masih ada pasukan RI (Roem 1972:77).


71

Belanda dalam agresi militernya yang pertama berhasil memperluas

wilayahnya, jika dahulu Belanda hanya menguasai wilayah Kota Semarang

sekarang semakin luas menjadi menguasai Karesidenan Semarang kecuali

Purwodadi. Sektor-sektor yang digunakan untuk mengepung Semarang

akhirnya dapat ditembus pasukan Belanda karena masing-masing sektor

mempunyai koordinasi dan insiatif sendiri. Masing-masing Sektor mempunyai

induk berupa resimen-resimen dan Pasukan RI tidak mampu menghadapkan

pasukan sampai ketingkat Batalyon (Nasution 1977:217). Pasukan RI terpaksa

statis-defensif dan sangat bergantung pada inisiatif setempat dan serangan

Pasukan RI sebagai reaksi balasan. Sebaliknya Belanda bertempur secara

ofensif dari sektor ke sektor lain sehingga akan terhindar dari serangan umum

dan serentak.

Wilayah MMTG akhirnya berhasil dikuasai militer Belanda yang

menyebabkan banyak pejuang dan rakyat yang mundur ke wilayah-wilayah

yang masih dipertahankan RI seperi Solo, Yogyakarta, Madiun dan

sebagainya. Pasukan RI termasuk TP Solo juga belum mampu mengimbagi

pasukan Belanda, selain dari segi persenjataannya strategi linier yang

diterapkan mudah dipatahkan oleh pasukan Belanda. Kehancuran tidak sampai

dialami Tentara RI dan kelak dalam perang kemerdekaan II mempraktikan

perang rakyat semesta dengan bergerilya.

Agresi Militer Belanda Pertama tersebut mengakibatkan Belanda

mendapat kecaman dari dunia internasional. Dewan Keamanan PBB

selanjutnya mengeluarkan resolusi pada tanggal 1 Agustus 1947 yang isinya


72

mendesak Belanda dan RI menghentikan permusuhan sehingga pada tanggal 4

Agustus 1947 pihak RI dan Belanda menghentikan tembak-menembak

(Moedjanto 1991:16). PBB melalui Komisi Tiga Negara (KTN) yaitu

Australia, Belgia dan Amerika Serikat mengupayakan terselesaikannya

pertikaian bersenjata melalui jakur diplomasi. KTN berusaha mendekatkan

kedua belah pihak guna menyelesaikan persoalan militer dan politik yang

dapat memberikan dasar bagi perundingan selanjutnya. Diambil pula sikap

bahwa dalam masalah militer KTN akan mengambil inisatif sedang untuk

pemecahan politik KTN hanya memberikan usul.

Perundingan ini akhirnya berhasil dimulai tanggal 8 Desember 1947

diatas kapal Renville yang berlabuh di Teluk Jakarta. Delegasi RI yang

dipimpin oleh Mr. Amir Syarifudin sedangkan delegasi Belanda dipimpin oleh

R. Abdulkadir Widjojoatmodjo. Isi perjanjian Renville itu antara lain agar

pasukan gerilya RI ditarik ke daerah wilayah RI dari daerah kantong. Berdasar

hasil Perundingan Renville, Belanda berusaha mengepung RI secara politis,

ekonomi, dan militer. Pos-pos pertahanan pasukan RI selanjutnya diundurkan

ke daerah Karangduren, Karanggede, Tuguran, Wonosegoro dan Purwodadi

(Imran dan Ariwiadi. 1985:233).

Hasil Perjanjian Renville sangat mengecewakan para pejuang pada

umumnya, termasuk bagi anggota TP Solo. Sebagian besar anggota TP Solo

akhirnya kembali kekota asalnya untuk melanjutkan pendidikan melalui

sekolah-sekolah peralihan yang telah disediakan. Sekolah ini dibentuk untuk

mengejar ketinggalan pelajaran ketika mereka berada di front pertempuran.


73

C. Peranan TP Solo pada MMTG dalam Perang Kemerdekaan II

Pasukan TNI dan laskar pejuang terpaksa pindah dari daerah-daerah

kantong yang diduduki Belanda ke daerah-daerah yang masih dikuasai RI

sebagai realisasi perundingan Renville tersebut beberapa. Realisasi tersebut

berakibat di Solo terkumpul pasukan TNI dari Divisi Siliwangi dan barisan

laskar seperti Barisan Banteng, BPRI dan sebagainya yang tergabung dalam

TNI masyarakat. Sementara di Solo sudah terdapat pasukan pelajar yang

tergabung dalam TP Solo dan pasukan TNI Brigade V Panembahan Senopati.

Keadaan ini membuat Kota Solo menjadi penuh oleh pasukan bersenjata.

Situasi Kota Solo menjadi kacau disebabkan juga karena adanya kegiatan dari

Front Demokrasi Rakyat (FDR) dan Gerakan Revolusi Rakyat (GRR).

Pada bulan September 1948 terjadi peristiwa Madiun Affair yang

disebabkan oleh kekacauan yang dilakukan oleh golongan berhaluan kiri

dipimpin Muso ditengah situasi bangsa yang sulit akibat blokade Belanda.

Kejadian tersebut memaksa pasukan TP kembali meninggalkan bangku

sekolah untuk ikut menumpas gerakan pengacau tersebut. Gajah Suranto dari

kesatuan TGP gugur dalam upaya penumpasan PKI tersebut.

Ketika peristiwa Madiun belum dapat diselesaikan sepenuhnya

Belanda sudah bersiap-siap untuk melancarkan penyerangan kewilayah RI.

Gejala akan datangnya serangan militer Belanda berikutnya ke wilayah RI

dirasakan sejak Belanda mengulur pelaksanaan perundingan Renville. Belanda

melakukan pemindahan pasukan dibeberapa tempat dekat garis demarkasi.

Sebagai tanggapan pimpinan TNI merencanakan Konsepsi Pertahanan Rakyat


74

Semesta artinya pelaksanaan perang bukan semata-mata oleh TNI melainkan

oleh rakyat dengan TNI sebagai intinya (Poesponegoro dkk. 1984:158). TP

Solo yang telah menjadi bagian dari TNI dengan kesatuannya TNI Brigade

XVII termasuk inti dari pelaksanaan konsepsi tersebut.

Panglima Besar Jendral Soedirman selanjutnya memerintahkan

seluruh jajaran TNI untuk menyiapkan diri menghadapi Agresi Militer

Belanda berikutnya. Beliau kemudian mengeluarkan surat perintah Siasat

No.1 seperti dikemukakan Nasution (1977:318) yaitu:

1. Cara perlawanan ialah kita tidak lagi melakuan pertahanan linier.

2. Melakukan siasat bumihangus.

3. Melakukan pengungsian atas dasar politik non-kooperasi.

4. Pembentukan Wehrkreise-wehkreise dan pasukan yang akibat persetujuan

renville terpaksa hijrah harus kembali menyusup (wingate) ke kedudukan

semula.

Angkatan Perang Kerajaan Belanda melancarkan Agresi Militernya

yang kedua pada tanggal 19 Desember 1948 dengan tujuan menghancurkan

RI. Daerah Purwodadi yang pada agresi militer Belanda I dapat dipertahankan

pasukan RI dihujani serangan dengan menggunakan empat pesawat terbang.

Alasan yang dikemukakan Belanda bermacam-macam antara lain Pemerintah

RI tidak dapat menguasai badan-badan perjuangan yang memikul senjata dan

Hatta menarik janji-janji yang sudah dikemukakan dalam pertemuan dengan

menteri-menteri Belanda yang datang di Yogyakarta. Keadaan demikian tidak

dapat dibiarkan terus-menerus sehingga tidak ada jalan melainkan kekerasan


75

untuk mengkhiri keadaan tersebut (Roem. 1972:90). Agresi II ini tidak lain

adalah lanjutan dari Agresi I tanggal 21 Juli 1947 yang dihentikan karena

perintah Dewan Keamanan PBB dalam resolusinya tanggal 1 Agustus 1947.

Sebelum melancarkan agresi militernya yang kedua terdengar berita

bahwa akan ada latihan pendaratan AURI sehingga ketika pada saat yang

bersamaan Belanda mendaratkan pasukan payungnya tidak diperkirakan oleh

warga dan pasukan penjaga lapangan terbang (Wawancara dengan Soehendro,

31 juni 2007). Secara mendadak Belanda dengan pasukan elitenya Koprs

Speciale Troepen (KST) dengan dibantu oleh pasukan udaranya melakukan

serangan udara untuk merebut lapangan terbang Maguwo. Setelah menerima

dukungan dua batalyon infantri yang didaratkan melalui udara, Belanda

melancarkan serangan darat dan merebut Yogyakarta tujuh jam kemudian.

Yogyakarta ditetapkan sebagai sasaran terpenting dalam perhitungan Jendral

Spoor. Apabila Yogyakarta sebagai pusat pertahanan RI telah dapat direbut

dan diduduki, pertahanan utamanya TNI akan mengalami demoralisasi dan

disorganisasi sehingga patah semangatnya untuk melanjutkan perjuangan

mempertahankan kemerdekaan (Soetanto 2006:xv). TP Solo segera siap siaga

penuh untuk mengadakan perlawanan terhadap Belanda. Dalam melaksanakan

Siasat No.1 TNI dan TP Solo mengadakan konsolidasi diluar Kota Solo.

Menghadapi agresi Belanda maka semua pasukan termasuk TP sudah

tidak lagi terpaku pada front dan melakuan gerilya secara Hit and Run (serang

dan lari). Pasukan Belanda yang berhasil menduduki kota-kota hanya terbatas

ruang geraknya karena selalu mendapat hambatan dan perlawanan dari TNI
76

dan pasukan TP. Belanda berdalih telah berhasil melenyapkan RI beserta

kekuatan bersenjatanya dengan menduduki Yogyakarta. Jendral Meier

Panglima Tentara Belanda untuk Jawa Tengah menerangkan:

“Sudah tidak dapat lagi dikatakan ada satuan-satuan Republik yang

teratur. Pada hari kedua aksi militer, pimpinan dan perhubungan satuan-satuan

TNI sudah terputus-putus. Pasukannya telah bercerai-berai menjadi

gerombolan yang terdiri paling banyak atas 20 sampai 40

orang……………Pantai utara sampai Rembang sudah bersih dan di Solo

pemeliharaan ketentraman diserahkan kepada polisi dan barisan

Mangkunegaran” (Nasution 1977:63).

Menanggapi hal ini maka diperlukan pembuktian bahwa TNI masih

memiliki kekuatan untuk mengadakan perlawanan hebat. Rencana pengadaan

serangan umum segera disusun dengan sasaran beberapa kota antara lain

Yogyakarta, Solo dan Semarang. Desas-desus adanya ceasefire (gencatan

senjata) antara Belanda dan RI sudah ada, namun pada sebuah pertemuan yang

dipimpin Mayor Achmadi diputuskan tetap berpegang pada perintah Kolonel

Gatot Soebroto untuk mengadakan serangan besar-besaran ke Kota Solo.

Serangan Umum di Kota Solo yang dipimpin Letkol Slamet Riyadi

selama empat hari diadakan pada tanggal 7 Agustus. TP Solo yang tergabung

dalam Kompi Moektio (SA) bertugas mematahkan garis logistik tentara

Belanda dari Semarang menuju Solo, Konvoi pasukan Belanda tersebut

dihadang disepanjang jalan Tengaran sampai Kartasura. Sesuai dengan


77

instruksi Panglima Besar Jendral Soedirman yaitu apabila Belanda memulai

lagi serangannya maka pasukan RI harus melakukan wingate (penyusupan).

Tidak semua kesatuan TP Solo mengikuti aksi tersebut karena jarak yang

panjang jauh dan harus ada kesatuan yang mempertahankan Kota Solo.

Sebagian Kompi Prakoso, Kompi Moektio (SA) tetap bertahan di Kota Solo

sedangkan wingate ke Semarang dilakukan oleh sebagian besar Kompi

Marwoto sejak pasukan Belanda melakukan agresi militer II (Wawancara

dengan Masiroen, 25 Mei 2007).

Dalam melaksanakan wingate ke daerah Pati dan Semarang pasukan

harus melakukan perjalanan mulai dari lereng gunung Sindoro-Sumbing

menyeberang kedaerah gunung Merapi-Merbabu melalui Boyolali, Kaliyoso

sebelah utara Solo, Sumberlawang terus ke Pati dan akhirnya ke Semarang.

TP Kompi Marwoto diwilayah gerilya Jawa Tengah bagian utara bersama-

sama dengan pasukan TNI lainnya yang dipimpin Letkol. S. Soediarto dan

Letkol Ahmad Yani telah mendapat perintah untuk mengadakan serangan

umum terhadap Kota Semarang. TP seksi Masyuri dan seksi Kenthus yang

berada dibawah Kompi Marwoto sudah berada di Desa Gendong, Sendang

Mulya tepatnya di sebelah timur Kedungmundu. Mereka bergerak melalui

Gundih, Kedungjati dan mengambil basis di Mranggen yang merupakan bekas

wilayah MMTG (Soenarto 1989:23-24; Soedarwo dkk. 2005:112).

Usaha Belanda untuk melenyapkan RI sejak melakukan agresi militer

keduanya dengan mempersiapkan pembentukan negara Jawa Tengah.

Langkah tersebut dinyatakan dengan menegarakan daerah Recomba


78

(Komisaris Pemerinah untuk masalah-masalah Pemerintahan) yang meliputi

Banyumas, Pekalongan dan Semarang (Nasution 1977: 466). Usaha Belanda

membujuk Sri Sultan Hamengkubuwono IX dan Paku Alam untuk ambil

bagian dalam pembentukan negara Jawa Tengah mengalami kegagalan.

Serangan gerilya sendiri semakin mengacaukan pemerintahan Recomba

tersebut.

Memang pemerintah Recomba mengharapkan bantuan rakyat dalam

memelihara ketentraman, akan tetapi tidak ada sambutan bahkan aksi gerilya

makin menghebat. Bantuan rakyat terhadap pasukan gerilya sangat besar

dimana sering kali rakyat memberi batuan makanan dan keperluan gerilya

bagi para Pejuang, seperti dengan memberi tanda lampu “sentir” yang berarti

tersedia makanan dan anggota TP ikut aktif dalam mengkoordinir bantuan

tersebut. Anggota TP juga turut membantu rakyat dalam mengatasi

perampokan-perampokan dari pengacau (Wawancara dengan Masiroen, 25

Mei 2007).

Segenap jajaran TNI termasuk Tentara Pelajar telah memiliki strategi

untuk menghadapi pasukan Belanda dalam Agresi Militer Belanda yang kedua

tersebut. Kendati Belanda berhasil menduduki Ibukota RI dan menahan para

petingginya tetapi sekali lagi Belanda tidak berhasil menghancurkan TNI dan

kekuatan bersenjata RI.

Menurut rencana pasukan TNI beserta pasukan Tentara Pelajar akan

melakukan serangan umum menjelang tanggal 17 Agustus 1949 ke Semarang.

Serangan tersebut telah direncanakan oleh Kolonel Gatot Subroto dalam


79

sebuah rapat komando di hutan sekitar daerah Purwodadi. Pertemuan tersebut

juga dihadiri pemimpin Tentara Pelajar seperti Kapten Marwoto dan

Kusmihadi Kenthus. Pasukan TP juga telah diberi tugas khusus dengan

berangkat melalui Sumberlawang, Kedungjati untuk bertemu dengan pasukan

induk TNI. Serangan umum merebut Kota Semarang tersebut dikenal dengan

nama “Plan S” yang menjadi tugas utama Brigade S.S (Soedarwo dkk.

2005:259-260; Omar dkk. 1978:208-209). Serangan umum tersebut

merupakan bagian dari pembuktian bahwa TNI memiliki kekuatan perlawanan

terhadap Belanda sekaligus bagian dari serangan umum yang digelar

dibeberapa kota.

Sesuai perintah Kolonel Gatot Soebroto semua pasukan harus dapat

menyerang dan masuk ke Kota Semarang sebelum 17 Agustus 1949. Jika

tidak mampu bertahan diusahakan bertahan beberapa jam sedangkan untuk

gerak mundur diperintahkan ke arah barat menuju jurusan Kendal karena

telah dipersiapkan bantuan dari pasukan Kuda Putih yang dipimpin Pak

Yani. Pasukan Belanda di Kota Semarang yang saat itu tinggal satu

setengah batalyon akibat belum kembalinya pasukan dari daerah

pendudukan, akan diserbu Pasukan RI kurang lebih dengan enam kekuatan

batalyon. Menurut rencana akan diadakan parade besar-besaran di Kota

Semarang sebagai puncak acara bertepatan dengan tanggal 17 Agustus

1949. Sebelumnya regu-regu penyelidik sudah menyusup kedalam Kota

Semarang guna mengatur serangan.


80

Dalam rencana tersebut bekas wilayah MMTG berfungsi kembali

sebagai tempat penyusupan bagi pasukan Tentara Pelajar dan pasukan

lainnya. Semua Batalyon TNI berserta pasukan TP berkumpul di Desa

Banyumeneng (Mranggen) pada akhir bulan Juli 1949 dan telah menentukan

sasaran penyerangan di Kota Semarang seperti dikemukakan Juwarti

(2003:72) yaitu:

1. Batalyon Sudharmono: Mrican dan Peterongan.

2. Batalyon Yusmin: Srondol dan Jatingaleh.

3. Batalyon Basuno : Candi lama

4. Batalyon Maladi : Krenweg sampai dengan Pasar Kobong.

Kota Semarang dengan demikian kembali akan dikepung dari arah Timur,

Tenggara, Selatan dan Barat.

Pasukan TNI dan pasukan lainnya mengunakan 3 jalur dalam

memasuki memasuki Kota Semarang yaitu :

1. Jalur utama : jalan utama Semarang-Purwadadi

2. Sayap kanan : melalui Pucanggading

3. Sayap kiri : melalui Jamus dan Alastuwa (Wawancara dengan Moh.

Sakdan 4 Juni 2007)

Seperti dijelaskan sebelumnya TP seksi Masruri dan TP seksi Kenthus

sudah mengadakan konsolidasi dan persiapan penyerbuan ke Semarang di

Desa Sendangmulyo sebelah timur Kedungmundu. Masing-masing kelompok

pejuang telah menduduki daerah yang ada di Semarang pada tanggal 8

Agustus 1949. pasukan TP bahkan telah menerobos sampai ke Gunung Alap-


81

alap yang berada kurang dari 1 Kilometer dari tangsi militer Belanda di

Mrican (Wawancara dengan Soehendro, 31 Mei 2007).

Tanggal 15 Agustus 1949 kurang lebih 6 Batalyon telah mengepung

Semarang dari berbagai sektor. Demak, Jatingaleh, Boja dan Semarang timur

masing-masing ditempatkan satu batalyon TNI. Pasukan TP seksi Kenthus,

Batalyon Maladi Yusuf dan Batalyon Yusmin langsung ditugaskan sebagai

pasukan pemukul dalam Kota Semarang. Batalyon Darmono dan Maladi

Yusuf berhasil masuk ke Mrican dan Peterongan. Saat itu Belanda belum

sadar bahwa kedudukannya di Semarang sudah terkepung. Sempat terjadi

pertempuran di Wotgalih (Semarang barat daya) dipimpin oleh Kapten

Soemarto dan Batalyon Basuno juga menyerang Jatingaleh. TP seksi Kenthus

juga berhasil sampai ke Mrican bersama Batalyon Darmono dengan menyebar

pamflet-pamflet (Oemar dkk. 1978:209).

Sesuai rencana serangan umum akan dilakukan pada tanggal 16

Agustus 1949 jam 18:00 dengan ditandai bunyi ledakan didalam kota. Namun

belum sampai komando tersebut dibunyikan sudah datang perintah gencatan

senjata yang berlaku di seluruh Jawa Tengah termasuk Semarang. Gencatan

senjata antara pemerintah RI dengan Belanda tersebut tidak diketahui oleh

pasukan gerilya. Kabar tersebut jelas sangat mengecewakan pasukan gerilya

karena rencana penyerbuan ke Semarang terpaksa dihentikan dan pasukan

ditarik kedaerah markas gerilya.

Gagalnya upaya serangan umum ke Kota Semarang akibat gencatan

senjata membuat pasukan TP melakukan konsolidasi pasukan di luar Kota


82

Semarang. Bekas wilayah MMTG berfungsi kembali sebagai tempat

konsolidasi baik oleh pasukan TNI maupun TP. Pasukan TP seksi Kenthus

ditempatkan di Gendong, Sendangmulyo, Pasukan TNI Brigade S.S yang

dipimpin Letkol S. Soediarto bermarkas di Mranggen. Sementara TP seksi

Masyruri bermarkas di Desa Penggaron.

Mranggen adalah tempat bekumpulnya sebagian besar Tentara Pelajar

yang akan bertugas di Semarang. Setelah istirahat beberapa hari mereka

dijemput oleh Local Joint Committe (L.J.C) yang terdiri dari perwira-perwira

TNI dan tentara Belanda untuk masuk Kota Semarang. Beberapa anggota ada

yang diinstruksikan untuk pemakaman kembali teman-teman dari TP yang

gugur selama perang mempertahankan kemerdekaan (Soedarwo dkk.

2005:263).

Menurut catatan yang ada pada Mayor Achmadi diketahui bahwa

selama Agresi Militer Belanda II, telah jatuh korban dipihak Tentara Pelajar

seluruh Solo sebanyak 150 orang. Bila dihitung sejak berdirinya TP Solo dari

tahun 1945-1949 jumlah yang gugur ada 256 orang. Selain itu masih banyak

yang cacat badannya dalam menunaikan tugas bertempur melawan tentara

Belanda (Imran dan Ariwiadi. 1985:108).

D. Peranan TP Solo sebagai Garnisun di Semarang

Penyerangan ke Yogyakarta ternyata mempunyai dampak yang tidak

menguntungkan bagi Belanda. Pemilihan waktu agresi militer keduanya

beberapa bulan setelah pemberontakan PKI Madiun yang dapat ditumpas


83

ternyata keliru. Asumsi Belanda bahwa Amerika Serikat akan mendukungnya

salah, bahkan bantuan untuk Belanda terancam dibatalkan. Belanda terpaksa

menggelar perundingan kembali dengan RI melalui Konferensi Meja Bundar.

Belanda sendiri harus memulihkan pemerintahan RI di Yogyakarta dan

mengakui kedaulatan RIS.

Pasukan Belanda yang berada di wilayah pedalaman RI seperti Kota

Surakarta, Yogyakarta, Kedu, Banyumas, Pekalongan dan Pati ditarik mundur

ke Kota Semarang dan Salatiga pada bulan November 1949. Berdasarkan

KMB Belanda harus menyerahkan pemerintahan kepada RIS. Semarang yang

menjadi kota pusat penarikan mundur Pasukan Belanda juga harus diserahkan

pula kepada Pemerintah RI.

Gubernur Militer dan Panglima Divisi II Gatot Soebroto

memerintahkan pasukan Tentara Pelajar untuk masuk dan menerima

penyerahan Kota Semarang dari Belanda. Pasukan TP yang masuk ke

Semarang adalah sebagian dari TP Detasemen II/ Solo sebanyak tiga kompi

yaitu Kompi Prakoso dan Kompi Marwoto, TP Solo S.A Kompi Moektio dan

TP Detasemen III/ Yogyakarta pimpinan Mustofa Supangat.

Kota Semarang dibagi menjadi empat sektor untuk penampungan dan

penentuan tempat tugas pasukan TP. Sektor I untuk wilayah Semarang bagian

utara ditempati oleh TP Solo SA Kompi Moektio. Sektor II untuk wilayah

Semarang bagian Timur di tempati Kompi Mustofa Supangat. Sektor III untuk

wilayah Semarang bagian Barat ditempati oleh Kompi Prakoso dan Sektor IV

untuk wilayah Semarang bagian Selatan ditempati oleh Kompi Marwoto


84

(Soenarto 1988:31). Anggota TP Solo yang waktu itu tidak ikut dalam

penyusupan ke Semarang, mereka dijemput ke Semarang menggunakan truk

dan dikawal oleh pasukan MP (Polisi Militer) Belanda. Pasukan TP Solo

tersebut diasramakan di Jalan Semboja Setelah sampai di Semarang

(Wawancara dengan Masiroen, 25 Mei 2007).

Tugas garnisun berarti bertanggungjawab atas keamanan dan

ketertiban ibukota propinsi yang menjadi tempat kedudukan Panglima Divisi/

Gubernur Militer Kolonel Gatot Subroto bersama stafnya, Pusat pemerintahan

umum untuk Jawa Tengah, pelabuhan laut, bandar udara dan pusat pendidikan

yang hampir empat tahun dibawah kekuasaan Belanda (Soedarwo dkk.

2005:280). Pasukan TP biasa berpatroli dengan Polisi Militer Belanda dalam

berpatroli menjaga keamanan dan ketertiban. Dalam berpatroli selalu ada

empat orang yaitu dua orang dari TP dan dua orang Polisi Militer Belanda,

padahal kedua pasukan tersebut sebelumnya saling bertempur.

Kota Semarang dengan masyarakatnya yang beberapa tahun dikuasai

oleh Belanda tata hidup dan kehidupanya sudah tidak mencerminkan sebagai

bangsa yang telah bebas dari penjajahan sehingga tidak nampak nilai-lilai

heroik dan patriotismenya. Masyarakatnya termasuk pelajarnya sama sekali

asing dengan pekik “Merdeka”. Kehadiran asukan TP pada mulanya dianggap

sinis, acuh dan tak perduli. Namun setelah anggota TP mempraktikan sifat dan

sikap yang ramah, maka sikap masyarakat Semarang berubah menjadi akrab

dan ramah pula.


85

Pada tanggal 26 Desember 1949 Pasukan Tentara Pelajar dari semua

sektor menghayati tugasnya menerima serah terima dari serdadu Belanda.

Semua pos-pos penjagaan tempat-tempat yang vital dan strategis seperti pos-

pos di pelabuhan, kilang minyak, listrik, air minum dan sebagainya mulai

ditempati pasukan Tentara Pelajar bersama-sama pasukan Belanda pada jam

17.00. Belanda resmi meninggalkan pos-pos tersebut dan sepenuhnya dikuasai

oleh pasukan Tentara Pelajar pada tanggal 27 Desember 1949 jam 00.00

(Sunarto 1988:32). Sementara itu Mayor Suhardi staf Detasemen II TP Solo

diangkat sebagai KMK Semarang. Dalam rangka serah terima Kota Semarang

dari tentara Belanda Mayor Suhardi khusus meminta agar pasukan upacara

terdiri dari Tentara Pelajar. Ketika serah terima Kota Semarang pasukan

peserta upacara adalah beberapa kompi Tentara Pelajar yang khusus

didatangkan dari Solo, Yogyakarta dan Porwokerto (Imran dan Ariwiadi.

1985:109).

Tugas sebagai Garnisun menggantikan pasukan Belanda merupakan

peristiwa bersejarah karena hal itu merupakan proses berakhirnya kekuasaan

Belanda di Indonesia. Selain itu tugas menjaga keamanan dan ketertiban salah

satu kota terbesar di Indonesia dipercayakan kepada kesatuan TNI yang

anggotanya keseluruhan terdiri dari pelajar.

E. Demobilisasi TP Solo

Permusuhan antara RI dan Belanda akhirnya berhasil diakhiri melalui

meja perundingan. Pemerintah Kerajaan Belanda mengakui kedaulatan RI


86

dengan ditandatanganinya perjanjian Konferensi Meja Bundar tanggal 27

Desember 1949. Para pejuang RI termasuk TP Solo yang selama perang

kemerdekaan bergerilya akhirnya kembali ke kota, untuk menyesuaikan diri

dengan keadaan maka diadakan demobilisasi.

Demobilisasi ialah melepaskan tenaga-tenaga yang dikerahkan pada

waktu perang kemerdekaan dari ikatan Angkatan Bersenjata Republik

Indonesia. Berdasarkan keputusan Menteri Pertahanan No. 193/MP/ 50

tanggal 9 Mei 1950 tenaga-tenaga pejuang yang didemobilisasi antara lain

dikemukakan oleh Imran dan Ariwiadi (1985:268) yaitu:

1. Anggota TNI yang tidak masuk formasi

2. Anggota Brigade XVII yang tidak melanjutkan ikatan dinas tentara.

3. Semua anggota Mobilisasi Pelajar (Mobpel)

4. Semua tenaga darurat yang dikerahkan pada waktu perang kemerdekaan,

seperti bekas tentara yang terkena rasionalisasi dan menggabungkan diri

lagi dalam kelaskaran, pegawai sipil yang ada dalam ketentaraan dan

tenaga rakyat.

Demobilisasi merupakan hal yang wajar khususnya bagi TNI Brigade

XVII dan para pelajar pejuang lainnya yang lansung dibawah komaando TNI.

Kehadiran TP dalam lingkungan angkatan bersenjata adalah semata-mata

terpanggil karena negara dan bangsanya dalam bahaya. Pemerintah

selanjutnya memberikan penghargaan terhadap pelajar yang telah berjuang

sebagaimana tertuang dalam Peraturan Pemerintah No. 32 Tahun 1949 tentang


87

“Penghagaan Pemerintah terhadap Pelajar yang telah berbakti” (Sunarto

1989:37).

Kesempatan melanjutkan bakat militer diberikan secara bebas dan luas.

Bagi mereka yang memilih kembali kebangku sekolah meperoleh kesempatan

yang bebas leluasa menurut bakat pilihannya. Bahkan juga diadakan

pengiriman bekas pelajar pejuang sebagai kader-kader pemimpin keluar negeri

yakni untuk menandingi Malino Beurs (Beasiswa Malino) sebagai usaha

Belanda memecah belah pelajar pejuang. Belanda masih ingin membentuk

kembali negara federal melalui Malino Beurs ditugasi membentuk kader-kader

federal sebagai konseptornya adalah Van der Plass. (Imran dan Ariwiadi.

1985:287).

Mayor Achmadi kemudian diangkat oleh Menteri Pertahanan menjadi

Komandan Komando Penyelesaian eks Brigade XVII (KOPEX) Jawa Tengah

dan berkedudukan di Semarang, setelah menyelesaikan tugasnya

mengkonsolidasikan pasukan dan pemerintahan di Solo. KOPEX merupakan

badan yang dibentuk berdasar Peraturan Pemerintah No. 32 Tahun 1949 yang

tuagsnya adalah menyalurkan dan menyelesaikan masalah bekas pelajar yang

tergabung dalam Brigade XVII TNI (Imran dan Ariwiadi 1985:109).

Usaha mengembalikan anggota TP kembali masuk sekolah sebagai

pelajar biasa ternyata menjumpai hambatan yang bersifat psikologis dan

social. Bagi pelajar yang berjuang di garis depan, bila kembali masuk sekolah

akan duduk dikelas semula sedang teman-temannya yang tidak ikut berjuang

dan terus sekolah kelasnya sudah naik lebih tinggi. Pemerintah akhirnya
88

mendirikan sekolah-sekolah khusus yang diberi nama Sekolah Perjuangan

untuk tingkat SMP, SMA dan kelas-kelas istimewa.

Mayor Suhardi memanggil wakil-wakil dari sektor-sektor untuk

membicarakan masalah pengembalian anggota TP kembali ke sekolah, bagi

pasukan TP Solo yang bertugas di Semarang. Kompi Moektio diawakili S.P.

Soenarto, Kompi Prakoso diwakili Kis Soekamto, Kompi Moestofa Soepangat

diwakili Anwar Rasyid dan Kompi Marwoto diwakili Liliek Suhadi. Setelah

beberapa kali rapat maka gedung sekolah di Karang Tempel yang juga

menjadi asrama Kompi Moestofa Supangat dijadikan tempat sekolah

selanjutnya berpindah di gedung HBS (SMA 1 Semarang) (Soenarto 1988:33).

Bekas anggota TP mengadakan penyerahan senjata kepada Pemerintah

setelah diperoleh mengenai penyaluran mereka. Bertempat di lapangan

Banjarsari Solo dan dipimpin Kolonel Abdul Latief satu persatu anggota TP

Solo menyerahkan senjatanya. Upacara demobilisasi TNI Brigade XVII untuk

wilayah Jawa Tengah dilaksanakan pada tanggal 1 April 1951 dengan

Inspektur Panglima Divisi III Kol. Mohamad Bachroen dan Komandan

upacara Mayor Achmadi (Imran dan Ariwiadi. 1985:110; Soedarwo dkk.

2005:286). Sesuai PP. No. 32 Tahun 1949 maka sebagian besar anggota TP

banyak yang kembali ke masyarakat untuk melanjutkan sekolah yang sempat

ditinggalkannya atau bekerja. Mantan anggota TP yang melanjutkan karier

militernya juga tidak begitu mengalami kesulitan karena kementrian

pertahanan telah siap menampungnya.


BAB V

PENUTUP

Simpulan

Pecahnya revolusi membuat para Pelajar Solo membetuk laskar-laskar pelajar

dan ikut aktif dalam pertempuran yang terjadi di Karesidenan Semarang.

Laskar-laskar pelajar tersebut kemudian dikoordinasi oleh IPI Solo dalam IPI

bagian Pertahanan. Perubahan menjadi Tentara Pelajar (TP) terjadi setelah

mendapat persetujuan MB TKR. Laskar-laskar pelajar Solo yang dikoordinasi

dalam IPI Pertahanan Solo turut mengalami perubahan menjadi Tentara

Pelajar Solo. Terjadinya perubahan dalam tubuh Angkatan Perang RI

membuat Tentara Pelajar dimasukan dalam KRU-W dan selanjutnya menjadi

TNI Brigade XVII dan TP Solo menjadi salah satu bagiannya. Situasi revolusi

yang diwarnai pertempuran memaksa para pelajar harus meninggalkan bangku

sekolahnya dan turut dalam mempertahankan kemerdekaan. Gambaran ini

menunjukan rasa persatuan dan kesatuan yang dimiliki Rakyat Indonesia

sangat kuat. Para pelajar tersebut telah memiliki rasa patriotisme yang cukup

tebal walaupun pada umumnya masih berusia muda.

Ketika Semarang berhasil dikuasai Sekutu maka dibentuklah sektor-sektor

untuk mengepung kota Semarang. Markas Medan Tenggara (MMTG) yang

berpusat di Mranggen merupakan salah satu basis perjuangan yang digunakan

89
90

Tentara Pelajar Solo dan pejuang-pejuang lainya. MMTG memiliki peranan

yang penting bagi perjuangan di Semarang antara lain:

1. Letaknya yang dekat dengan kota Semarang sangat potensial menghadapi

Sekutu dan Belanda.

2. Merupakan tempat penampungan para pejuang yang berasal dari daerah

(Solo, Boyolali, Purwodadi, Gubug dll). Hal ini didukung dengan adanya

Stasiun Brumbung yang dilewati kereta api jalur Semarang-Solo (Stasiun

Balapan).

3. Merupakan basis dari pejuang-pejuang yang tangguh seperti TKR

(pasukan resmi RI), Hisbullah dan Sabilillah dengan semangat jihadnya,

Tentara Pelajar (intelektual) dan laskar-laskar perjuangan lainnya.

4. Menjadi tempat pengungsian penduduk dari Semarang.

Peranan Tentara Pelajar Solo dalam mepertahankan kemerdekaan RI tidak

hanya melalui perjuangan di Kota Solo, melainkan juga di Semarang. Mereka

bahu-membahu dengan pejuang-pejuang Semarang dan daerah lainnya

melawan keinginan Belanda yang ingin mengembalikan kekuasaannya di

Indonesia. Keterlibatan Tentara Pelajar Solo dalam mempertahankan

kemerdekaaan di Semarang dan sekitarnya dibuktikan sejak pertempuran lima

hari di Semarang melawan tentara Jepang dan Palagan Ambarawa.

Peranannya berlanjut ketika melawan Sekutu dan Belanda dalam perang

kemerdekaan di MMTG. Hal ini merupakan peranan terbesar TP Solo dalam

mempertahankan kemerdekaan RI di Semarang.


91

MMTG menjadi salah satu medan yang sangat sulit ditaklukkan oleh Belanda

pada waktu agresi militer Belanda I. Walaupun pada akhirnya berhasil

dikuasai Belanda harus bersusah payah untuk menguasainya. wilayah-wilayah

MMTG kembali digunakan sebagai tempat penyusupan pasukan RI termasuk

Tentara Pelajar Solo dalam melakukan penyusupan ke Semarang setelah

terjadi agresi militer Belanda II.

Tentara Pelajar Solo kembali memainkan peranannya sewaktu bertugas

menjaga keamanan dan ketertiban sebagai garnisun di Kota Semarang

menjelang penyerahan kedaulatan. Dalam tugasnya tersebut terdiri dari tiga

kompi dari Solo yaitu Kompi Prakoso, Kompi Marwoto dan Kompi Moektio

serta Kompi Mustofa Soepangat dari Yogyakarta.


DAFTAR PUSTAKA

Budi Utomo, Cahyo. 1995. Dinamika Pergerakan Kebangsaan Indonesia: Dari

Kebangkitan Hingga Kemerdekaan. Semarang: IKIP Semarang Press.

Dewan Harian Nasional Angkatan 45. 1976. Cahaya dari Medan Laga. Jakarta:
Aries Lima

Gottschalk, Louis. 1975. Mengerti Sejarah : Pengantar Metode Sejarah. Jakarta


:Yayasan Penerbit Universitas Indonesia.

Moedjanto, G. 1989. Indonesia Abad ke 20 jilid 1. Yogyakarta: Kanisius

-----. 1988. Indonesia Abad ke 20 jilid 2. Yogyakarta: Kanisius

Imran dan Ariwiadi. 1985. Peranan Pelajar dalam Perang Kemerdekaan. Jakarta:
ALDA

Juwarti. 2003. Peran Rakyat Mranggen dalam Mempertahankan Kemerdekaan


Tahun 1945-1949 (Skripsi). FIS UNNES Semarang: Tanpa Penerbit.

Mukmin, HRYK. 1989. Triciri Tentara Pelajar. Surakarta: -----

Nasution, Abdul H. 1977. Sekitar Perang Kemerdekaan Indonesia Jilid 2.


Bandung : Angkasa.

-----. 1977. Sekitar Perang Kemerdekaan Indonesia Jilid 3. Bandung : Angkasa.

-----. 1977. Sekitar Perang Kemerdekaan Indonesia Jilid 7. Bandung : Angkasa.

-----. 1977. Sekitar Perang Kemerdekaan Indonesia Jilid 10. Bandung : Angkasa.

-----. 2000. Sejarah TNI Jilid I (1945-1949). Jakarta : Pusat Sejarah dan Tradisi
TNI.

Noor, Djuhar dan Sigit Wahyudi. 1995. “Dinamika Politik di Daerah MMTG
Mranggen Semarang 1946-1949” Dalam Ghazali (Ed). Seminar Sejarah
Lokal Kumpulan Simposium Sejarah. Jakarta : Departemen Pendidikan dan
Kebudayaan

Oemar, Moh. dkk. 1978. Sejarah Daerah Jawa Tengah. Jakarta: Proyek
Penerbitan Buku Bacaan dan Sastra Indonesia dan Daerah.

92
93

Panitia Penyusun Sejarah Pertempuran Lima Hari di Semarang. 1977. Sejarah


Pertempuran Lima Hari di Semarang. Semarang : Penerbit Suara Merdeka.

Poesponegoro, Marwati D. dkk. 1993. Sejarah Nasional Indonesia VI. Jakarta:


Balai Pustaka.

Syamsuar, Said. 1993. Pertempuran Ambarawa. Semarang: PT Mandira Jaya


Abadi

Soedarwo, Imam. dkk. 2005. Perjuangan Tentara Pelajar Kompi IV : Jakarta :


Keluarga Besar ex Tentara Pelajar Semarang.

Soenarto, S.P. 1989. Cukilan Sejarah Tentara Pelajar. Semarang: Panitia


Peresmian Jalan Tentara Pelajar.

Soemarmo, Iwa. 1985. Indonesia Merdeka atau Mati. Jakarta : Keluarga Besar
IMAM.

Roem, Moh. 1972. Bunga Rampai dari Sedjarah. Jakarta : Bulan Bintang.

Soetanto, Himawan. 2006. Yogyakarta 19 Desember 1948. Jakarta : Gramedia.

Suwarno, Basuki. 1998. Hubungan Indonesia-Belanda Periode 1945-1950. Den


Haag :-----

Tim Penyusun Kamus Besar Bahasa Indonesia. 1993. Kamus Besar Bahasa
Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka

Tio, Joenkie. -----. Kota Semarang dan Kenangan. Semarang :-----

Widja, I Gde. 1989. Sejarah Lokal Suatu Perspektif dalam Pengajaran Sejarah.
Jakarta : Proyek Pengembangan Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan.

Wasino. 2007. Dari Riset Hingga Tulisan Sejarah. Semarang : UNNES Press.

Wiyono. dkk. 1986. Sejarah Revolusi Kemerdekaan (1945-1949) Daerah Jawa


Tengah. Jakarta : Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Sejarah Nasional
Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional Departemen Pendidikan dan
Kebudayaan.
DAFTAR PERTANYAAN

Ditujukan kepada eks anggota TP Solo

1. Saya ingin mengetahui tentang perjuangan Bapak pada masa revolusi namun

sebelumnya mohon Bapak dapat memperkenalkan identitas bapak?

2. Sebelum bercerita tentang perjuangan mungkin bapak bias terangkan dimana

bapak bersekolah dulu?

3. Bisa dijelaskan sejak kapan bapak terlibat dalam TP Solo?

4. Waktu di Semarang bapak berjuang di wilayah front mana?

5. Apa bapak mengetahui tentang markas-markas perjuangan Seperti MMT,

MMTG, MMB daan MMS?

6. Bagaimana bapak bisa berjuang di MMTG?

7. Bisa dijelaskan bagaimana perjuangan TP Solo di MMTG?

8. Badan-badan perjuangan yang ada di MMTG dari kesatuan mana saja?

9. Bisa dijelaskan mengenai jalur logistik dan sistem komando MMTG?

10. Mungkin bapak bisa menceritakan perjuangan TP Solo dalam menghadapi

Agresi Militer Belanda I dan II?

11. Sewaktu TP Solo Melakukan Wingate ke Semarang rute mana yang

digunakan?

12. Bagaimana rencana serangan umum ke Kota Semarang?

13. TP Solo pernah mendapat tugas sebagai garnisun setelah Cease fire apa waktu

itu bapak ikut?

14. Setelah diadakan demobilisasi kemudian bagaimana sikap bapak?


DAFTAR PERTANYAAN

Narasumber : Soehendro

1. Saya ingin mengetahui tentang perjuangan Bapak pada masa revolusi namun

sebelumnya mohon Bapak dapat memperkenalkan identitas bapak?

15. Sebelum bercerita tentang perjuangan mungkin bapak bias terangkan dimana

bapak bersekolah dulu?

16. Darimana bapak tahu kalau Indonesia telah merdeka?

17. Bisa diceritakan mengenai keadaan Semarang?

18. Mungkin bapak bisa menceritakan perjuangan TP waktu menghadapi Agresi

Militer Belanda I dan II ?

19. Mengenai upaya Wingate ke Semarang apa bapak bisa ceritakan?

20. Pada waktu TP mendapat tugas sebagai garnisun apa bapak ikut?

21. Setelah demobilisasi bagaimana sikap bapak, melanjutkan ke Militer atau

tidak?
DAFTAR PERTANYAAN

Ditujukan kepada anggota eks Laswi

1. Saya ingin mengetahui tentang perjuangan ibu pada masa revolusi namun

sebelumnya mohon ibu dapat memperkenalkan identitas ibu?

2. Bagaimana ibu tahu kalau Indonesia telah merdeka?

3. Bisa dijelaskan Bu, mengenai pertempuran yang terjadi disekitar Semarang

dan Mranggen?

4. Dari kesatuan mana saja pasukan yang berjuang di Mranggen?

5. Di Mranggen juga banyak pasukan TP Solo apa ibumenetahuinya?

6. Bisa diceritakan mengenai perjuangan ibu dan kesatuan Ibu setelah terjadinya

Clash I dan II?

7. Mengenai jatuhnya Mranggen bisa ibu ceritakan?

8. Selama peperangan apa ibu ikut mengungsi dan mengungsi kemana?

9. Bagaimana ibu bisa kembali ke Semarang ?


DAFTAR PERTANYAAN

Narasumber : Mohammad Sakdan

10. Saya ingin mengetahui tentang perjuangan Bapak pada masa revolusi namun

sebelumnya mohon Bapak dapat memperkenalkan identitas Bapak?

11. Semasa perjuangan di Semarang bapak berjuang di front mana?

12. Bisa Bapak ceritakan keadaan Mranggen waktu itu?

13. Gerakan Belanda Sewaktu Agresi Militer I mulai dari mana?

14. Bagaimana perjuangan Bapak sewaktu Agresi Militer II ?

15. Bagaimana upaya para pejuang kembali ke Semarang?

16. Bisa diceritakan sewaktu di Semarang akan diadakan serangan umum?

17. Bagaimana Mranggen kembali digunakan sebagau jalur masuk ke Semarang?


BIODATA INFORMAN

1. Nama : N. Masiroen W

Alamat : Jl. Badak V/ 22 Semarang

Pekerjaan : Purnawirawan ABRI (Mayor Artileri)

Pengalaman : Ikut dalam pertempuran di Tegal Kangkung, Berjuang

diwilayah MMTG, MMS dan sebagai Garnisun di Semarang.

2. Nama : Soehendro

Alamat : Jl. Brigjen Katamso No. 16 Semarang

Pekerjaan : Pensiunan swasta

Pengalaman : Ikut berjuang di Wilayah MMTG dan MMS, Magelang dan

ikut sebagai Garnisun di Semarang.

3. Nama : Mohammad Sakdan

Alamat : Jl. Sendangguwo Semarang

Pekerjaan : Pensiunan Bea Cukai

Pengalaman : Ikut Berjuang di wilayah MMTG, turut dalam pertempuran di

Mranggen

4. Nama : Suwarsih

Alamat : Jl. Ngemplak Barat RT 01/ IX Tandang Semarang

Pekerjaan : Pensiunan Perawat

Pengalaman : Ikut dalam pertempuran di Alastuwa, Mranggen dan wilayah

MMTG.