Anda di halaman 1dari 12

ANALISIS KRITIS

UU NO. 2 TAHUN 2002 TENTANG POLRI

I. TUGAS POKOK POLRI


1. Pasal 13 :
Tugas pokok Kepolisian Negara Republik Indonesia adalah:
a. memelihara keamanan dan ketertiban masyarakat;
b. menegakkan hukum; dan
c. memberikan perlindungan, pengayoman, dan pelayanan kepada
masyarakat.
Analisis :
Tugas pokok Polri yang dirumuskan dalam UU No. 2 Tahun 2002 tentang
Polri sudah ideal. Namun seyogyanya dilakukan perubahan hierarkhi
prioritasnya, yaitu dimulai dari poin c, kedua a dan b. Mengapa demikian ?
Hal tersebut perlu ditempuh dalam rangka penguatan citra Polri di
masyarakat yang senantiasa mendahulukan pelaksanaan perlindungan,
pengayoman dan pelayanan masyarakat karena masyarakat merupakan
salah satu stakeholder utama Polri. Apabila masyarakat telah merasakan
perlindungan, pengayoman dan pelayanan yang terbaik dari Polri, secara
tidak langsung akan tercipta kamtibmas dengan sendirinya sehingga Polri
pun tinggal memelihara kamtibmas tersebut. Upaya penegakan hukum
hendaknya sedapat mungkin dijadikan sebagai upaya terakhir untuk
mengatasi suatu permasalahan hukum dalam masyarakat.
2. Pasal 14 :
1) Ayat (1) : Dalam melaksanakan tugas pokok sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 13, Kepolisian Negara Republik Indonesia
bertugas :
a. melaksanakan pengaturan, penjagaan, pengawalan,
dan patroli terhadap kegiatan masyarakat dan
pemerintah sesuai kebutuhan;
2
b. menyelenggarakan segala kegiatan dalam menjamin
keamanan, ketertiban, dan kelancaran lalu lintas di
jalan;
c. membina masyarakat untuk meningkatkan partisipasi
masyarakat, kesadaran hukum masyarakat serta
ketaatan warga masyarakat terhadap hukum dan
peraturan perundang-undangan;
d. turut serta dalam pembinaan hukum nasional;
e. memelihara ketertiban dan menjamin keamanan
umum;
f. melakukan koordinasi, pengawasan, dan pembinaan
teknis terhadap kepolisian khusus, penyidik pegawai
negeri sipil, dan bentuk-bentuk pengamanan swakarsa;
g. melakukan penyelidikan dan penyidikan terhadap
semua tindak pidana sesuai dengan hukum acara
pidana dan peraturan perundang-undangan lainnya;
h. menyelenggarakan identifikasi kepolisian, kedokteran
kepolisian, laboratorium forensik dan psikologi
kepolisian untuk kepentingan tugas kepolisian;
i. melindungi keselamatan jiwa raga, harta benda,
masyarakat, dan lingkungan hidup dari gangguan
ketertiban dan/atau bencana termasuk memberikan
bantuan dan pertolongan dengan menjunjung tinggi
hak asasi manusia;
j. melayani kepentingan warga masyarakat untuk
sementara sebelum ditangani oleh instansi dan/atau
pihak yang berwenang;
k. memberikan pelayanan kepada masyarakat sesuai
dengan kepentingannya dalam lingkup tugas
kepolisian; serta
l. melaksanakan tugas lain sesuai dengan peraturan
perundang-undangan.
Analisis :
Pada pasal 14 ayat (1), poin-poin huruf yang terdapat penjelasan lebih lanjut
dalam bagian penjelasan UU No. 2 Tahun 2002 tentang Polri hanyalah 3
3
huruf, yaitu huruf g, h dan j. Menurut analisis kami, dalam beberapa poin
huruf terjadi kerancuan redaksional, yaitu sebagaimana bagian pada poin-
poin huruf tersebut yang terdapat garis bawah. Bagian-bagian dimaksud
seharusnya diberikan penjelasan lebih lanjut, seperti halnya pada huruf a,
terdapat redaksi ”sesuai kebutuhan” namun tidak dijelaskan kriteria-kriteria
apa saja yang dapat dijadikan dasar acuannya. Disamping itu, menurut kami,
pelaksanaan turjawali tersebut tidak semata-mata didasarkan atas asas
”sesuai kebutuhan” (nessesitas), namun juga merupakan kewajiban. Oleh
karena itu poin huruf a tersebut perlu disempurnakan redaksinya. Demikian
halnya dengan poin b, d, f dan j, khusus bagian yang kami garis bawahi perlu
diberikan penjelasan lebih lanjut secara riil karena hal tersebut sangat krusial
dalam menyebabkan multi tafsir oleh anggota Polri yang berdinas di
lapangan.
Pada poin f, salah satunya disebutkan bahwa tugas Polri adalah selaku
korwas PPNS dan Pam Swakarsa. Hal ini tidak terdukung oleh fakta di
lapangan saat ini, bahwa kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh PPNS
maupun Pam Swakarsa ”jauh dari terkoordinir” ataupun ”terawasi”. Oleh
karena itu, menurut kami perlu ditambahkan beberapa pasal dalam undang-
undang ini yang mengatur mekanismenya, disertai dengan sanksi tertenti
bagi PPNS maupun Pam Swakarsa yang melanggar ketentuan karena
selama ini, seolah-olah dikarenakan sifat hubungan Polri dengan PPNS dan
Pam Swakarsa sbg koordinator, pengawas dan pembina teknis, maka
seringkali PPNS maupun Pam Swakarsa tidak melaksanakan ketentuan
pelaksanaan yang ada selama ini.
2) Ayat (2) : Tata cara pelaksanaan ketentuan sebagaimana dimaksud
dalam ayat (1) huruf f diatur lebih lanjut dengan Peraturan
Pemerintah.
Analisis :
Sudah waktunya dibuat undang-undang baru yang merupakan derivasi dari
UU No. 2 Tahun 2002, yaitu undang-undang tentang fungsi kepolisian yang
membantu tugas Polri : PPNS, Pam Swakarsa dan Polsus. Dalam undang-
undang tersebut hendaknya lebih ditonjolkan pula peran Polri secara
”kelembagaan” dalam hubungannya dengan lembaga-lembaga yang
menaungi fungsi-fungsi kepolisian pembantu Polri tersebut, tidak seperti yang
4
terjadi sekarang, sifat hubungan Polri dengan fungsi-fungsi kepolisian
tersebut dinilau sebatas pada tataran ”fungsional” saja.

II. WEWENANG
1. Pasal 15 :
1) Ayat (1) : Dalam rangka menyelenggarakan tugas sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 13 dan 14 Kepolisian Negara
Republik Indonesia secara umum berwenang:
a. menerima laporan dan/atau pengaduan;
b. membantu menyelesaikan perselisihan warga
masyarakat yang dapat mengganggu ketertiban umum;
c. mencegah dan menanggulangi tumbuhnya penyakit
masyarakat;
d. mengawasi aliran yang dapat menimbulkan
perpecahan atau mengancam persatuan dan kesatuan
bangsa;
e. mengeluarkan peraturan kepolisian dalam lingkup
kewenangan administratif kepolisian;
f. melaksanakan pemeriksaan khusus sebagai bagian
dari tindakan kepolisian dalam rangka pencegahan;
g. melakukan tindakan pertama di tempat kejadian;
h. mengambil sidik jari dan identitas lainnya serta
memotret seseorang;
i. mencari keterangan dan barang bukti;
j. menyelenggarakan Pusat Informasi Kriminal Nasional;
k. mengeluarkan surat izin dan/atau surat keterangan
yang diperlukan dalam rangka pelayanan masyarakat;
l. memberikan bantuan pengamanan dalam sidang dan
pelaksanaan putusan pengadilan, kegiatan instansi
lain, serta kegiatan masyarakat;
m. menerima dan menyimpan barang temuan untuk
sementara waktu.
Analisis :
Pada huruf b tersebut tidak dijelaskan dalam bagian penjelasan terkait
mekanisme pemberian bantuan oleh Polri tersebut seperti apa dan sejauh
5
apa dalam membantu menyelesaikan suatu perselisihan antar warga.
Maksudnya disini adalah, manakala perselisihan tersebut memenuhi unsur-
unsur dalam delik pidana dan ternyata pihak-pihak yang bersengketa
menghendaki menyelesaikan secara kekeluargaan seharusnya ada payung
hukum untuk mekanisme ”ADR” tersebut (Alternative Dispute Resolution)
karena selama ini tidak terdapat payung hukum yang dapat melegalkan
upaya seorang anggota Polri untuk menempuh hal tersebut, terbukti
sebagaimana pengalaman kami sewaktu berdinas pada fungsi Reskrim
ketika terjadi perdamaian antara pelaku dan korban kasus penipuan,
penggelapan, penganiayaan dan lain-lain, tetap saja penyidik dipersalahkan
oleh Propam karena tidak melanjutkan perkaranya ke tingkat penuntutan.
Tentu saja hl tersebut menjadi dilema bagi para petugas Polri yang langsung
bersentuhan dengan masyarakat karena sebenarnya masyarakat pun
memiliki nilai-nilai kearifan lokal yang hidup dalam komunitasnya untuk
menyelesaikan permasalahannya, sehingga disinilah kesempatan Polri
menunjukkan bahwa Polri memahami hal tersebut dan dapat
mengakomodirnya.
Pada huruf f, menurut kami terjadi ketidaksinkronan antara bunyi pasal
pokoknya dengan penjelsannya. Dalam pasal pokoknya dijelaskan bahwa
Polri berwenang melaksanakan ”pemeriksaan khusus” dalam rangka
”pencegahan”, namun pada bagian penjelasan tidak dijelaskan secara
eksplisit tentang ”pemeriksaan khusus” yang bagaimana yang dimaksud
disini, justru penjelasan berisi tentang pelaksanaan upaya paksa secara
global, sehingga menurut kami terjadi multi tafsir / kerancuan tentang makna
”pemeriksaan khusus” tersebut. Oleh karena itu perlu dijelaskan secara lebih
mendetail dan riil tentang makna tersebut.
Dalam pengamatan kami, hingga saat ini, Polri belum secara maksimal
melakukan upaya perwujudan Pusat Informasi Kriminal Nasional tersebut
karena hingga sekarang pun terbukti Polri belum dapat menyelenggarakan
suatu sistem database kriminal yang terintegrasi secara terpusat, kecuali
untuk kasus-kasus tertentu, seperti terorisme, Polri telah memilikinya. Kami
membayangkan andaikata sistem database Polri seperti sistem database
sebuah bank, yang selalu up to date dengan perkembangan transaksi
keuangannya serta nasabahnya secar real time, sehingga seorang direktur
utama bank tersebut yang posisinya di Jakarta dapat memeriksa transaksi
6
cabang bank tersebut di papua hanya dengan mengakses komputer di atas
mejanya, tidak perlu telepon sana-sini. Berbeda dengan kondisi Polri saat ini,
dalam satu Polres saja, terkadang seorang Penyidik suatu Polsek tidak
mengetahui bahwa seorang tersangka dalam suatu perkara juga menjadi
tersangka dalam perkara lainnya, atau terkadang pula penyidik tidak tahu
bahwa seorang tersangkanya telah tertangkap oleh kesatuan Polri lainnya
terkait dalam perkara lainnya. Seharusnya Polri segera memyusun regulasi
khusus dan penataan ulang secara optimal terkait proses ”pen-database”-an
tersebut.
2) Ayat (2) : Kepolisian Negara Republik Indonesia sesuai dengan
peraturan perundang-undangan lainnya berwenang :
a. memberikan izin dan mengawasi kegiatan keramaian
umum dan kegiatan masyarakat lainnya;
b. menyelenggarakan registrasi dan identifikasi
kendaraan bermotor;
c. memberikan surat izin mengemudi kendaraan
bermotor;
d. menerima pemberitahuan tentang kegiatan politik;
e. memberikan izin dan melakukan pengawasan senjata
api, bahan peledak, dan senjata tajam;
f. memberikan izin operasional dan melakukan
pengawasan terhadap badan usaha di bidang jasa
pengamanan;
g. memberikan petunjuk, mendidik, dan melatih aparat
kepolisian khusus dan petugas pengamanan swakarsa
dalam bidang teknis kepolisian;
h. melakukan kerja sama dengan kepolisian negara lain
dalam menyidik dan memberantas kejahatan
internasional;
i. melakukan pengawasan fungsional kepolisian terhadap
orang asing yang berada di wilayah Indonesia dengan
koordinasi instansi terkait;
j. mewakili pemerintah Republik Indonesia dalam
organisasi kepolisian internasional;
7
k. melaksanakan kewenangan lain yang termasuk dalam
lingkup tugas kepolisian.
Analisis :
Pada huruf e, hanya dijelaskan tentang kriteria senjata tajam yang
dimaksudkan dalam undang-undang ini, namun menurut kami yang perlu
dijelaskan pula adalah terkait kriteria bahan peledak. Mengapa demikian ?
Karena selama pengertian bahan peledak tersebut sebatas kepada bahan
peldak yang siap ledak seperti TNT yang antara lain digunakan untuk
keperluan pertambangan dalam meledakkan sebuah bukit karang, dll. Namun
sudah saatnya Polri memberikan perhatian untuk mengawasi bahan baku
untuk pembuatan bahan peledak juga yang merupakan bahan kimia karena
terkait dengan perkembangan aksi teror akhir-akhir ini bahwa para teroris
ternyata telah dapat merakit bom sendiri dengan bahan baku kimia yang
dapat dengan mudah dan bebas dibeli di pasaran. Seperti halnya pada UU
Narkotika dan Psikotropika saat ini telah terdapat derivasi berupa PP guna
pengawasan prekusor, yaitu bahan baku kimia yang dapat digunakan untuk
pembuatan Narkotika / Psikotropika. Oleh karena itu, Polri pun perlu
mendorong pemerintah dan lembaga legislatif untuk merespon
perkembangan trend kejahatan dengan regulasi-regulasi yang representatif
pula.
Pada huruf k, kalimat ”kewenangan lain” memiliki makna yang multi tafsir
karena pada bagian penjelasannya pun hanya berisi kalimat ”cukup jelas”.
Seharusnya dalam penjelasan atau pasal pokok dijelaskan lebih riil tentang
”kewenangan lain” apa dalam lingkup kepolisian tersebut, karena wewenag-
wewenang kepolisian telah tercakup keseluruhannya dalam undang-undang
ini, jika demikian seolah-olah pembuat undang-undang tidak dapat
mendifinisikan ”kewenangan lain” apa lagi yang menjadi wewenang Polri.
3) Ayat (3) : Tata cara pelaksanaan ketentuan sebagaimana dimaksud
dalam ayat (2) huruf a dan d diatur lebih lanjut dengan
Peraturan Pemerintah.
Analisis :
Menurut hemat kami, wewenang Polri untuk ”hanya menerima
pemberitahuan” tentang kegiatan Politik dapat berpotensi menjadi ”blunder”
karena tidak disertai sanksi-sanksi yang tegas bagi perbuatan yang
melanggar ketentuan tersebut (tidak memberitahukan kegiatan politik). Dan
8
pembatasan kegiatan politik yang dijelaskan pada bagian penjelasan masih
sangatlah sempit. Hal ini perlu dikaji lebih lanjut dalam rangka mempertegas
batasan-batasan kewenangan Polri terhadap pengawasan kegiatan politik,
mengingat hal tersebut sangat sensitif untuk dipolitisasi oleh pihak tertentu.
2. Pasal 16 :
1) Ayat (1) : Dalam rangka menyelenggarakan tugas sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 13 dan 14 di bidang proses pidana,
Kepolisian Negara Republik Indonesia berwenang untuk :
a. melakukan penangkapan, penahanan, penggeledahan,
dan penyitaan;
b. melarang setiap orang meninggalkan atau memasuki
tempat kejadian perkara untuk kepentingan penyidikan;
c. membawa dan menghadapkan orang kepada penyidik
dalam rangka penyidikan;
d. menyuruh berhenti orang yang dicurigai dan
menanyakan serta memeriksa tanda pengenal diri;
e. melakukan pemeriksaan dan penyitaan surat;
f. memanggil orang untuk didengar dan diperiksa sebagai
tersangka atau saksi;
g. mendatangkan orang ahli yang diperlukan dalam
hubungannya dengan pemeriksaan perkara;
h. mengadakan penghentian penyidikan;
i. menyerahkan berkas perkara kepada penuntut umum;
j. mengajukan permintaan secara langsung kepada
pejabat imigrasi yang berwenang di tempat
pemeriksaan imigrasi dalam keadaan mendesak atau
mendadak untuk mencegah atau menangkal orang
yang disangka melakukan tindak pidana;
k. memberi petunjuk dan bantuan penyidikan kepada
penyidik pegawai negeri sipil serta menerima hasil
penyidikan penyidik pegawai negeri sipil untuk
diserahkan kepada penuntut umum; dan
l. mengadakan tindakan lain menurut hukum yang
bertanggung jawab.
9
2) Ayat (2) : Tindakan lain sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) huruf l
adalah tindakan penyelidikan dan penyidikan yang
dilaksanakan jika memenuhi syarat sebagai berikut :
a. tidak bertentangan dengan suatu aturan hukum;
b. selaras dengan kewajiban hukum yang mengharuskan
tindakan tersebut dilakukan;
c. harus patut, masuk akal, dan termasuk dalam
lingkungan jabatannya;
d. pertimbangan yang layak berdasarkan keadaan yang
memaksa; dan
e. menghormati hak asasi manusia.
Analisis Ayat (1) dan (2) :
Terkait dengan pemaknaan ”tindakan lain” dalam ayat (1) yang kriterianya
dijelaskan pada ayat (2), menurut kami masih terdapat kelemahan. Mengapa
demikian ? 1) Selama ini, makna ”tindakan lain” dimaksud ditendensikan
kepada makna ”diskresi kepolisian”, namun hal tersebut menjadi kontra
produktif ketika terdapat penjelasan pada ayat (2), khususnya a, c dan d.
Pada ayat (2) huruf a, bagian yang bergaris bawah kami maksudkan bahwa
hal tersebut bertentangan dengan asas universal ”diskresi” itu sendiri karena
memang dalam pelaksanaan diskresi, pada hakekatnya seringkali
bertentangan dengan suatu aturan hukum padahal tujuan utamanya untuk
memberikan keadilan pada masyarakat, sebagaimna yang kami contohkan
diatas terkait mekanisme ”ADR” bagi perkara pidana yang belum terdapat
payung hukumnya, sehingga ketika suatu saat penyidik tidak melanjutkan
suatu perkara pidana walaupun hal tersebut atas permintaan pihak pelapor
dan tersangka karena telah terjadi perdamaian, maka tetap saja penyidik
dipersalahkan. Sehingga kriteria ”tindakan lain” pada huruf a perlu dilakukan
koreksi dengan menyesuaikan asas universal ”diskresi” itu sendiri.
Sedangkan pada huruf c dan d, pada bagian yang bergaris bawah, menurut
kami terjadi kontradiksi, misalnya ketika terjadi situasi dimana seorang
anggota Polri yang tidak berdinas pada fungsi lalu-lintas (misalnya berdinas
pada bagian administrasi) menemui kemacetan di suatu jalan tertentu, dan
anggota tersebut terpanggil untuk melancarkan arus dengan melakukan
pengaturan lalu lintas sampai dengan datangnya petugas lalu lintas. Disini
telah terjadi keadaan yang memaksa (situasi macet, tidak ada petugas lalu
10
lintas), namun anggota Polri tersebut menjalankan ”tindakan lain” tetapi tidak
sesuai dengan ”lingkungan jabatannya” (jabatan sebagai anggota bagmin,
tetapi melakukan pengaturan lalu lintas). Oleh karena itu, kriteria-kriteria
”diskresi kepolisian” tersebut perlu dikaji ulang dengan mengacu pada asas-
asas universal serta tetap memperhatikan nilai-nilai lokal di Indonesia,
sehingga tidak terjadi kerancuan aplikasi diskresi tersebut karena sampai
saat ini, permasalahan penerapan diskresi tersebut senantiasa menjadi
polemik terkait dengan pembatasan-pembatasannya yang dianggap tidak
jelas. Paling tidak, Polri memberikan suatu batasan-batasan diskresi yang
dapat dijadikan acuan bagi anggota Polri dengan menginventarisir hasil
praktek-praktek diskresi kepolisian di lapangan sehingga setidaknya tidak
terjadi ”kebingungan yang berulang” khususnya bagi anggota Polri yang baru
dalam penerapan diskresi tersebut.
3. Pasal 18 :
1) Ayat (1) : Untuk kepentingan umum pejabat Kepolisian Negara
Republik Indonesia dalam melaksanakan tugas dan
wewenangnya dapat bertindak menurut penilaiannya sendiri.
2) Ayat (2) : Pelaksanaan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat
(1) hanya dapat dilakukan dalam keadaan yang sangat perlu
dengan memperhatikan peraturan perundang-undangan,
serta Kode Etik Profesi Kepolisian Negara Republik
Indonesia.
Analisis ayat (1) dan (2) :
Ketentuan pada pasal ini sekilas sama dengan pengertian tentang ”tindakan
lain” pada pasal 16 ayat (1) huruf l, namun justru lebih menimbulkan multi
tafsir, karena dalam penjelasan ayat (1)-nya, ”penilaian sendiri” tersebut
hanya didasarkan atas analisis resiko dan manfaat ditambah lagi pada ayat
(2)-nya terdapat kalimat ”keadaan yang sangat perlu” yang sekilas bermakna
sama dengan ”keadaan memaksa” sehingga disini pun terjadi kerancuan
tentang pemaknaan ”diskresi kepolisian”. Oleh karena itu, perlu kajian untuk
mengintegrasikan kewenangan diskresional tersebut yang terdapat dalam
pasal 16 dan 19, sehingga diperoleh pemahaman yang utuh tentang ”diskresi
kepolisian” bagi anggota Polri.
4. Pasal 19 :
11
1) Ayat (1) : Dalam melaksanakan tugas dan wewenangnya, pejabat
Kepolisian Negara Republik Indonesia senantiasa bertindak
berdasarkan norma hukum dan mengindahkan norma
agama, kesopanan, kesusilaan, serta menjunjung tinggi hak
asasi manusia.
2) Ayat (2) : Dalam melaksanakan tugas dan wewenang sebagaimana
dimaksud dalam ayat (1), Kepolisian Negara Republik
Indonesia mengutamakan tindakan pencegahan.
Analisis ayat (1) dan (2) :
Seharusnya terhadap pasal 19 tersebut terdapat penjelasan dengan disertai
reasoning, bukan justru dijelaskan-lagi-lagi-dengan kalimat ”cukup jelas”.
Seharusunya disini dijelaskan bahwa setiap tindakan kepolisian harus
didasari filosofi universal tugas kepolisian, yaitu fight crime, artinya tugas Polri
adalah ”memerangi kejahatan” bukan ”pelakunya” sehingga Polri tetap
memiliki semangat kecintaan terhadap kemanusiaan (love humanity) dengan
menolong para pelaku kejahatan tersebut (help delinquent) agar kembali ke
jalan yang benar dan dapat diterima kembali dalam kehidupan
bermasyarakat.
III. WILAYAH TUGAS POLRI
Pasal 17 :
Pejabat Kepolisian Negara Republik Indonesia menjalankan tugas dan
wewenangnya di seluruh wilayah negara Republik Indonesia, khususnya di daerah
hukum pejabat yang bersangkutan ditugaskan sesuai dengan peraturan
perundang-undangan.
Analisis :
Seharusnya terhadap pasal ini diberikan penjelasan secara rinci khususnya terkait
wilayah tugas Polri, bukan justru diberi penjelasan dengan kalimat ”cukup jelas”
karena permasalahan ”wilayah tugas” tersebut merupakan permasalahan krusial
yang senantiasa menjadi polemik. Dan faktanya pun, ternyata ada wilayah tertentu
yang bukan termasuk dalam wilayah tugas Polri, seperti kawasan pabean yang
berdasarkan undang-undang kepabeanan mutlak menjadi ”wilayah eksklusi”
petugas Bea Cukai. Disamping itu juga sehatusnya diberikan penjelasan terkait
asas-asa yang dianut dalam hal pembatasan wilayah teritorial sebagaimana yang
dianut dalam KUHP bahwa Indonesia menganut ”asas nasional aktif”.
III. REKOMENDASI
12
Menurut kami terdapat satu hal pokok yang terlupakan dalam undang-undang
ini yaitu terkait dengan ”proteksi” terhadap anggota Polri dalam rangka
pelaksanaan tugasnya. Selama ini, terjadi ketidakseimbangan terkait dengan isu
pelanggaran-pelanggaran HAM yang dituduhkan terhadap anggota Polri pada
khususnya dan aparat pemerintah pada umumnya. Sebagai contoh, dalam
penanganan unjuk rasa, ketika Polri sudah bertindak sesuai dengan protap yang
ada, namun tetap saja dituntut karena melanggar HAM jika Polri melakukan
tindakan tegas dan keras terhadap peserta unjuk rasa dan selanjutnya Komnas
HAM pun turut mendesak Polri mengusut pelanggaran HAM tersebut. Tetapi
ketika terjadi aksi anarkhis oleh para peserta unjuk rasa dan mengakibatkan
petugas Polri terluka bahkan meninggal dunia, maka ”pihak-pihak eksternal” Polri
pun akan mengatakan bahwa hal tersebut sebagian dari resiko tugas Polri. Oleh
karena itu, sangat urgen bagi Polri untuk menyusun regulasi terkait mekanisme
”proteksi” bagi anggota Polri dalam pelaksanaan tugasnya, baik dalam kerangka
perlindungan HAM anggota Polri maupun perlindungan dari aspek hukum.