Anda di halaman 1dari 4

Kuliah Ke VI (tambahan)

TUJUH PERSPEKTIF KOMUNIKASI INSANI

1. Perspektif Politik
Suatu negara (sistem politik) biasanya mempunyai sekumpulan nilai,
prosedur ataupun ideologi yang dijadikan pedoman warganya dalam
berpolitik dan dijadikan standar nilai bagi mereka. Sehingga dalam
komunikasipun, stndar nilai-nilai politik dijadikan ukuran dalam menilai
komunikasi. Karena sementara ini, sistem politik ideal adalah demokrasi,
maka nilai-nilai demokrasi dijadikan dasar moralitas dalam menilai etika
kom,unikasi. Karl Wallace mengemukakan, bahwa dibutuhkan kebiasaan-
kebiasaan (habit) tertentu dalam rangka mendukung etika kom,unikasi
demokratis , diantaranya :

a. habit of search
kita harus mengembangkan kebiasaan meneliti suatu sumber informasi,
harus mempunyai pengetahuan yang mendalam dan menyeluruh tentang
suatu subyek, kepekaan pada issu, kesadaran tentang kompleksitas issu
dll;

b. habit of justice
Kita harus mengembangkan sikap adil, tidak boleh menyembunyikan
data, tidak boleh emosi. Apakah saya memberi kesempatan khalayak
kesempatan untuk pembuat penilaian yang adil?
c. habit of common motivation

Komunikator publik harus harus secara merata mengungkapkan sumber-


sumber informasi dan pendapatnya; Kita harus membantu khalaytak
untuk menimbang bias-bias, prasangka, dan motivasi yang berpusat pada
diri yang terkandung dalam bahan sumber.

d. habit of dialogues
Komunikator harus menghormati perbedaan pendapat dengan
memperlihatkan dan mendorong berbagai ragam argumen dan pendapat.

2. Perspektif Sifat Manusia


Perspektif sifat manusia berpusat pada esensi sifat manusia, apa yang
membuat manusia tetap manusiawi. Karakteristik sifat manusia
dijadilkan standar dalam menilai etika komunikasi. Asumsinya adalah
bahwa sifat-sifat manusia harus dikembangkan sehingga mampu
meninhgkatkan kemampuan individu. Segala sesuatu tindakan
komunikasi yang kurang mendukung bagi pemenuhan kemampuan
manusia (dehumanisasi) dinilai tidak etis. Kemampuan manusia yang
perlu dikembangkan adalah kemampuan akalnya, kemampuan
menciptakan simbol, kapasitas untuk dibujuk maupun membujuk,
kemapuan imajinatifnya, kemampuan humor, rasa ingin tahu dll.

3. Perspektif Dialogis
Komunikasi insani bukanlah jalur satu arah, melainkan transdaksi dialog
dua arah. Suatu hubungan dialogis mempunyai kualitas tertentu seperyti :
kebersamaaan, keterbukaan hati, kelangsungan, kejujuran, sponatanitas,
keterusterangan, tidak ber pura-pura, niat yang tidak manipulatif,
kerukunan, intensitas dan kasih sayang.. Unsur dialog adalah “melihat
orang lain”
Karakteristik dialog harus memenuhi apa yang dinamakan : keotentikan,
keterikutan, konfirmasi, kehadiran, semangat persamaan, suasana yang
mendukung

4. Perspektif Situasional
Perspektif situasional terfokus pada unsur-unsur situasi komunikasi
khusus yang dihadapi. Faktor situasional tersebut anatara laian :
- peran atau fungsi komunikator terhadap khalayak
- standar khlayayak mengenai kelogisan dan kelayakan
- derajat kesadaran khlayak tentang cara-cara komunikator dalam
mengkomunikasikan sesuatu;
- tingkat urgensi dari apa yang diusulkan oleh komunikator;
- tujuan dan nilai khalayak;
- standar khalayak untuk komunikasi etis.

5. Perspektif Utilitarian
Perspektif utilitarian menekankan kriteria kegunaan, kesenangan dan
kegembiraan dalam menilai etika komunikasi. Tindakan komunikasi
yang baik bukan dinilai dari an sich tindakan itu, atau sisi pesan
komunikasi itu tidak begitu penting, tetapi sejauh mana efek tindakan
komunikasi itu dapat menghasilkan kegembiraan, kegunaan,
menguntungkan, bagi banyak orang. Tindakan moral sebagai suatu
kualitas tereduksi menjadi suatu kuantitas. Komunijkasi etis haruslah
bermanfat bagi jumlah terbesar orang yang terkait dengan sedikit
kerigian bagi individu. Masalah etis berkenaan dengan tindakan ‘untung-
rugi’

6. Perspektif Legal
Dalam perspektif legal, kita hanya mengukur cara-cara komunikasi
berdasarkan hukum dan aturan yang berlaku. Di sini moralitas
disamakan dengan mlegalitas. Padahal moralitas tidak selamanya sama
dengan legalitas.. Bahkan, moralitas lebih luas daripada legalitas. Tidak
semua yang imoral dapat atau dicap ilegal atau sebaliknya. Dalam
perspektif legalitas, moralitas menjadi sementara, karena terikat
berlakunya hukum positif tetrsebut. Pada satu waktu sesuatu dianggap
legal, namun pada lain waktu dapat menjadi ilegal. Hal itu tergantung
masa berlakunya hukum atau aturan.

7. Perspektif Religius
Dalam perspektif religius, nilai-nilai moral, spiritual, pedoman hidup, dan
aturan agama dijadikan pedoman mengevaluasi etika. Sumbernya tentu
dari kitab suci masinmg-masing agama. Misalnya , “moralitas otentik
Kristen” dijadikan sebuah standar dalam mengevaluasi komunikasi
massa.. tau ajaran cinta kasih dapat dijadikan acuan dalam komunikasi
insani dll. Pada agama islam, misalnya, komunikasi atau dakwah sebagai
upaya amar ma’ruf nahi munkar. Misalnya dalam salah satu sekte Kong
Hu Chu, empat prinsip kemurahan hati, tugas pada sesama, kesopanan,
kebijakan sebagai cara membujuk orang.