Anda di halaman 1dari 12

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Penelitian tindakan kelas ini dilakukan di Sekolah Dasar Negeri 14/I

Sungai Baung Kecamatan Muara Bulian Kabupaten Batanghari dengan luas

tanah + 1.680 M2 jumlah siswa 30 orang yaitu 11 orang perempuan dan 19

laki-laki. Usia mereka antara 10 sampai 12 tahun. Dengan sarana dan prasana

yang kurang memadai, diantaranya buku paket yang kurang mencukupi, alat

peraga yang belum lengkap, ditambah sarana dan prasana yang tidak

menunjang, serta keterbatasan ekonomi keluarga, sehingga anak hanya

mempunyai buku pelajaran dari sekolah itupun tidak semua buku lengkap dan

guru merupakan sumber utama pembelajaran. Rahardi (2003 : 4) “ Belajar

merupakan kegiatan yang terjadi pada semua orang tampa mengenal batas usia

mereka dan berlangsung seumur hidup, belajar merupakan usaha yang

dilakukan seseorang melalui interaksi dengan lingkungannya untuk merubah

perilakunya “.

Mata pelajaran Bahasa Indonesia adalah program untuk mengembangkan

pengetahuan, mempertinggi kemampuan berbahasa dan menumbuhkan sikap

positif terhadap Bahasa Indonesia. Adapun kemampuan berbahasa yang harus

dimiliki oleh siswa yaitu menyimak, berbicara, membaca dan menulis

(Tarigan, 2009 : 2).

1
Pada dasarnya siswa kelas V sangat menyukai pelajaran mengarang /

menulis cerpen, namun pada kenyataannya karangan siswa banyak yang asal-

asalan. Hal ini disebabkan oleh keterbatasan anak tentang apa yang mejadi

topik karangan, sehingga ketika mengarang siswa hanya menceritakan

pengalaman mereka sehari-hari seputar rumah, sekolah dan kebun. Ketika

guru meminta siswa mengarang tentang beberapa tema yang ada didalam

kurikulum, siswa bingung dan mengarang asal-asalan, yang terpikir oleh

mereka yaitu menulis dan tulisan mereka memenuhi satu halaman buku tulis

dan isinya sangat kacau sehingga hasil karangan siswa pada setiap latihan

mengarang tidak sesuai dengan harapan dan kriteria ketuntasan maksimal

yang telah ditetapkan oleh sekolah.

Sebagai seorang pendidik harus merefleksi apa yang menjadi penyebab

rendahnya nilai karangan siswa. Guru telah berusaha semaksimal mungkin

untuk mencapai tujuan pembelajaran, namun usaha guru masih kurang

maksimal sehingga banyak siswa yang tidak berhasil dalam mencapai tujuan

pembelajaran. Hal tersebut menuntut kreativitas guru agar pembelajaran lebih

bervariasi dan menarik dengan menggunakan berbagai media dalam

pembelajaran. Secara teknis, media pembelajaran berfungsi sebagai sumber

belajar. Dalam kalimat “sumber belajar”tersirat makna keaktifan, yakni

sebagai penyalur, penyampai, penghubung dan lain-lain (Munadi, 2008 : 37).

Media gambar mempunyai sifat yang universal, mudah dimengerti, tidak

terikat oleh keterbatasan bahasa, sifatnya konkrit dapat mengatasi batasan

ruang waktu dan indera, harga relative murah dan mudah dibuat serta

2
digunakan dalam pembelajaran dikelas. Berdasarkan uraian diatas, maka

penulis tertarik untuk meneliti penggunaan media gambar dalam

meningkatkan kemampuan siswa menulis cerpen.

1.2 Rumusan Masalah

Rumusan masalah yang dapat dikemukakan dalam penelitian ini adalah

“Bagaimana meningkatkan kemampuan siswa kelas V SDN. 14/I Sungai

Baung menulis cerpen melalui media gambar.

1.3 Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini adalah meningkatkan kemampuan siswa kelas V

SDN. 14/I Sungai Baung menulis cerpen melalui media gambar.

1.4 Manfaat Penelitian

Adapun manfaat penelitian tindakan kelas ini adalah :

1. Meatih siswa terlatih mengungkapkan pikiran, ide/gagasan, imajinasi,

kecermatan, ketelitian dan kreativitas dari bentuk visual kedalam bahasa

tulis.

2. guru dapat lebih kreatif dan dapat mengukur sejauh mana kemampuan

siswa dalam mengembangkan media gambar menjadi sebuah cerpen

3. bagi sekolah yaitu dapat meningkatkan prestasi sekolah.

3
1.5 Hipotesis Tindakan

Kemampuan menulis karangan deskripsi siswa kelas V SDN. 14/I Sungai

Baung dapat ditingkatkan melalumedia gambar fhoto

4
BAB II

KAJIAN PUSTAKA

2.1 Kajian Tiori

2.1.1 Pengertian Cerpen

Sebenarnya tidak ada pengertian buku untuk mendefinisikan cerpen.

Antra satu sastranya dengan sastrawan lain memiliki rumusan yang tidak

sama.Pun ketika mencoba googling dengan keyword Pengertian Cerpen dari

sekian hasil yang muncul merumuskan dan menjabarkan dengan cara berbeda

meskipun intinya menjurus kepada satu kesimpulan bahwa cerpen adalah

cerita rekaan yang pendek. Pendek disini bukan berarti hanya terdiri dari satu

halaman saja,tapi bisa sampai berapa halaman. Salah seorang sastrawan

A.Bakar Hamid memberi batas yang disebut cerita pendek itu harus dilihat

dari kuantitas,yaitu banyaknya perkataan yang dipake : antra 500-20.000 kata.

Menurut Wikipedia pengertian cerpen adalah suatu bentuk prosa

anaratif fiktif. Cerita pendek cenderung padat dan langsung pada tujuan

dibandingkan karya-karya fiksi yang lebih panjang seperti Novella (dalam

pengertian modern) dan novels. Karena singkatannya cerita-cerita pendek

yang sukses mengandalkan teknik-teknik sastra seperti tokoh, plot, tema

bahasa dan insight secara lebih luas dibandingkan dengan fiksi yang lebih

panjang. Cerita kisah dalam berbagai jenis. Pada mulanya cerita pendek

adalah suatu karangan fiksi namun kini juga mencakupi bentuk non fiksi

seperti fikto-kritis atau jurnalisme baru. Ini jelas bebeda.

5
Sebuah cerita pendek bisa dibedakan menjadi beberapa macam, kalau

berdasarkan segmen pembaca ada cerpen anak-anak remaja dan dewasa.

Sedangkan berdasarkan tema yang diangkat ada cerpen drama, misteri, humor,

percintaan dan lain-lain.

Ada beberapa unsur yang membangun sehingga suatu karya sastra

dapat dikatakan sebagai cerita pendek. Unsur instrinsik diantaranya tema,

amanat, alur/plot, penokohan latar/setting, sudut pandangan pengarang dan

gaya bahasa. Sedang unsur ekstrinsik diantaranya Biohgrafi Pengarang, sosial

budaya, moral, agama

2.2 Media Gambar Fhoto

Istilah media berasal dari bahasa latin yang merupakan bentuk jamak dari

“ medium “ yang secara harfiah berarti perantara atau pengantar. Gagne dalam

Aristo mengartikan media sebagai jenis komponen dalam lingkungan siswa

yang dapat merangsang mereka untuk belajar”. Menurut Rahardi “ makna

secara umum media adalah segala sesuatu yang dapat menyalurkan informasi

dari sumber informasi kepada penerima informasi.”

Secara umum manfaat media dalam proses pembelajaran adalah

memperlancar interaksi antara guru dengan siswa sehingga kegiatan

pembelajaran akan lebih efektif dan efesien. Kemp dan Dayon (1985) dalam

Rahardi mendentifikasi secara lebih khusus ada beberapa media dalam

pembelajaran yaitu sebagai berikut :

6
- Penyampaian materi dapat langsung diseragamkan

- Proses pembelajaran menjadi tidak jelas, menarik dan interaktif.

- Efesien dalam waktu dan tenaga

- Meningkatkan kualitas hasil belajar

- Media memungkinkan proses belajar dapat dilakukan dimana saja

dan kapan saja.

- Media dapat menumbuhkan sikap positif terhadap materi dan proses

belajar

- Merubah peran guru kearah yang lebih positif dan produktif.

Agar lebih bermanfaat dalam pembelajaran, maka gambar/foto

hendaknya memenuhi persyaratan berikut :

- Otentik, artinya dapat menggambarkan objek / peristiwa seperti jika

siswa melihat langsung

- Sederhana, harus menunjukkan dengan bagian-bagian pokok dari

gambar tersebut

- Ukurannya proposional, sehingga siswa mudah membayangkan

ukuran sesungguhnya objek yang digambar. Caranya antara lain

dengan menjajarkan foto tersebut dengan benda lain yang sudah

dikenal siswa

- Memadukan antara keindahan dengan kesesuaiannya untuk mencapai

tujuan pembelajaran.

7
2.3 Kerangka Berfikir

Dalam pelajaran bahasa Indonesia salah satu kemampuan berbahasa yang

harus dimiliki siswa adalah menulis. Mengarang adalah salah satu aspek

menulis yang merupakan kesatuan paragraf, namun sebagian besar siswa

kesulitan membuat cerpen, hal ini sangat berpengaruh pada nilai bahasa

Indonesia.

Kesulitan siswa kelas V membuat cerpen disebabkan keterbatasan

pengetahuan anak tentang objek-objek yang akan dijadikan cerita sehingga

siswa sulit untuk mendeskripsikannya kedalam sebuah tulisan.

Berdasarkan kajian teoritis sebelumnya, dengan menggunakan media

gambar dapat menuntun siswa menuliskan apa yang dilihat dari gambar

menyampaikan kembali ide ataupun pesan yang terdapat didalam gambar

melalui bahasa tulisan/karangan/cerita.

Dari apa yang telah diuraikan diatas, maka bagan kerangka berfikir dapat

digambarkan sebagai berikut :

GURU SISWA MEDIA

Kesulitan Penggunaan
MATERI membuat media
cerpen gambar

Keterbatasan pengetahuan
tentang objek

8
BAB III

PELAKSANAAN PENELITIAN

3.1. Subjek Penelitian

Subjek penelitian ini adalah siswa kelas V SD melalui 3 siklus dengan

menggambarkan keadaan dan kondisi yang sedang berlangsung.

Adapun karakteristik sujek penelitian ini adalah :

- Penelitian ini dilaksanakan didalam kelas, yaitu kelas V SDN 14/I

Sungai Baung dengan jumlah siswa 30 orang, 11 orang perempuan dan

19 orang laki-laki.

- Siswa merupakan penduduk asli Desa Sungai Baung

- Pendidikan orang tua siswa mayoritas tamatan SD

- Fasilitas belajar anak sangat kurang baik disekolah maupun

dirumah. Sarana dan prasarana disekolah yang tidak memadai, bahkan

buku penunjangpun sangat minim. Anak hanya memiliki buku dari

sekolah saja, sehingga guru merupakan sumber ilmu utama bagi para

siswa.

3.2. Prosedur Penelitian

3.2.1 Perencanaan Penelitian

Perencanaan penelitian ini akan dilakukan melalui tiga siklus pada

tiap siklus meliputi penyampaian materi pelajaran, latihan membuat

karangan deskripsi dengan berbagai tema, tugas pekerjaan rumah,

9
pembahasan latihan mengarang dan pekerjaan rumah. Sebelum pelaksanaan

dilakukan peneliti menyiapkan. Skenario Pembelajaran, RPP dan media

pembelajaran.

3.2.2 Observasi

Alat yang digunakan dalam pengumpulan data ini adalah

seperangkat test esai tentang menulis cerpen yang berisi hal-hal sebagai

berikut : pengertian cerpen, pengertian media gambar.

Adapun hal-hal yang diamati dalam penelitian ini yaitu keseriusan

siswa dalam mengerjakan latihan membuat cerpen, ketertarikan siswa

terhadap media gambar yang disediakan, pengungkapan ide atau informasi

yang terkandung didalam gambar kedalam tulisan, pengembangan imajinasi

siswa yang mencakup penumbuhan atau kreasi terhadap objek-objek baru.

Keberhasilan siswa dalam menulis cerpen melalui media gambar

dapat ditafsirkan dengan kriteria menurut Nurgiantoro dalam Frianto (2003 :

14) sebagai berikut :

Tabel : 3.1 Kriteria Keberhasilan Menurut Nurgianto

No Rentang Persentase Kualifikasi


1 Skor 85 – 100 Baik sekali
2 Skor 65 – 84 Baik
3 Skor 50 – 64 Cukup
4 Skor 35 – 49 Kurang
5 Skor 0 - 34 Kurang sekali

10
Keterbatasan belajar siswa secara klasikal dapat dihitung dengan

menggunakan rumus :

KBK = ST x 1000 % (KTSP SD BATIN XXIV, 2008)


TS
Keterangan :
KBK : Ketuntasan Belajar Klasikal
ST : Jumlah Siswa Tuntas
TS : Jumlah Siswa Seluruhnya

Adapun aspek-aspek yang dinilai dalam cerpen dengan pedoman

penilaian sebagai berikut :

Tabel 3.2 Uraian Pedoman Penilaian Cerpen

No Aspek yang dinilaii Nilai


1 Isi
- Urutan pokok permasalahan 20
- Kejelasan pokok 50
permasalahan
2 Kebersihan
- Kerapihan tulisan 5
- Kebersihan tulisan 5
- Kondisii lembar kerja siswa 5
3 EYD
- Pilihan bahasa 5
- Penggunaan bahasa 5
- Kelengkapan huruf dalam 5
penulisan setiap kata 5
Jumlah 100

3.2.3 Refleksi

Analisa data dan refleksi dilakukan pada setiap akhir pembelajaran

dan siklus. Pada refleksi ini ada beberapa pertanyaan yang akan menjadi

pedoman keberhasilan yaitu : apakah proses pembelajaran telah sesuai

11
dengan rencana yang telah disusun? Serta perubahan apa yang tampak pada

siswa maupun pada guru ? dengan penggunaan media gambar melatih siswa

aktif, kreatif, serta dapat mengungkapkan ide maupun menemukan gagasan-

gagasan baru pada tiap gambar yang ditampilkan. Karena dalam PTK

menuntut perubahan pada proses pembelajaran, sehingga menunjukkan

peningkatan pada tiap siklus.

12