Anda di halaman 1dari 81

 

Kidung Kelepasan
Patanjali
 

   
Daftar Isi.

PENGANTAR.......................... i.
PENDAHULUAN.................... iii.
Samãdhi Pãda — Hakekat Penyatuan Agung.
Memasuki Yoga Sutra...................1.
Kiat Mengatasi Modifikasi-modifikasi Pikiran....................4.
Samãdhi, Tahap Pencapaiannya dan Keampuhan Isvarapranidhana....................... 6.
Isvara sebagai Guru Semesta dan Pranava Japa.........................8.
Pelebur Penderitaan......................11.
Sinar Kebijaksanaan lahir dari Samãdhi.........................15.
Sãdhana Pãda — Paparan Praktis Praktek Spiritual.
Kriya Yoga, Mengawali Pendakian Spiritual........................ 18.
Hambatan Utama dan Kiat Memusnahkannya......................... 22.
Musnahnya Identitas-diri dalam Pencerahan........................ 25.
Delapan Langkah Pendakian dan Tujuh Langkah Penyatuan......................27.
Disiplin Moral dan Jurus Ampuh Mengatasi Insting Destruktif....................31.
Mahavrata — Sumpah Universal Nan Agung (1)........................33.
Mahavrata — Sumpah Universal Nan Agung (2)........................ 35.
Mahavrata — Sumpah Universal Nan Agung (3)..........................37.
Pelatihan Tubuh dan Pembentukan Sikap Mental....................... 39.
Regulasi Nafas dan Pengendalian Daya Vital.......................... 41.
Terminal Pendakian......................44.
Vibhuti Pãda — Paparan tentang Kekuatan dan Kesempurnaan.
Paparan tentang Kekuatan dan Kesempurnaan...................... 46.
Memanifestasikan Cahaya Kebijaksanaan dan Tiga Bentuk Transformasi Citta......48.
Mengerti Suara, Maksud, Asal dan Kehidupan Lampau Makhluk Hidup................50.
Mengetahui tanda-tanda Kematian......................52.
Kemampuan Intuitif dan Bahaya Siddhi-siddhi.....................54.
Posisi sentral Viveka dan Vairagya di dalam Pemanfaatan Samyama.................... 56.
Tercapainya cita-cita Sang Yogi.......................59.
Kaivalya Pãda — Menggapai Kebebasan Sejati.
Menggapai Kebebasan Sejati..................... 61.
Evolusi Kosmis dan Tujuan......................63.
Yang Mengahalangi Pencerahan Sempurna.........................65.
Dharmamegha Samãdhi dan Sampainya di Puncak....................67.
PENUTUP ~ Jalan Kelepasan dan juga Jalan Kesucian....................69.
Appendiks:
• Raja Yoga..............72.
• Butir-butir mutiara Yoga-Samãdhi yang tercecer.........................81.

 
PENGANTAR

Hadirnya kitab kecil ini sebetulnya hanya dari kenekatan penulis, yang tidak menguasai bahasa
Sanskerta, ibu bahasa-bahasa dunia itu. Kenekatan ini semakin menjadi-jadi tatkala penulis
menyimak sebuah terjemahan lengkap Yoga Sutra Patanjali dalam bahasa Inggris pada sebuah
website. Sebelumnya terjemahan dan ulasan parsial seringkali penulis temukan, namun
terjemahan lengkapnya ke dalam bahasa Inggris masih relatif jarang. Besar dugaan penulis
bahwa dalam terjemahan itu, gaya bahasanya sengaja dibuat sesederhana mungkin; mungkin
maksudnya agar mudah dimengerti dan tidak terkesan menakutkan. Dasar pemikiran yang amat
mengena, mengingat belakangan kehausan generasi muda terhadap teks-teks kuno spiritual ke-
timur-an semakin tampak marak di berbagai belahan dunia.

Terjemahan dan ulasannya dalam Indonesia dari bahasa Inggris memang sudah ada. Namun
agaknya masih langka yang langsung diterjemahkan dari bahasa aslinya dan diulas oleh peminat
dan penekun jalan spiritual Indonesia. Kebanyakan, bahkan mungkin semua, masih merupakan
terjemahan atau ulasan 'second-handed'. Kenyataan ini semakin menyulut kenekatan penulis
untuk mencobanya. 'Kenapa tidak saya coba saja?', pertanyaan inilah yang terlintas di benak
penulis ketika memulainya.
Secara kebetulan, penulis mewarisi sebuah kitab Yoga Sutra Patanjali berbahasa 'melajoe'
peninggalan orang tua kami. Ditambah dengan bacaan-bacaan lain—kecuali yang tercantum
dalam daftar bacaan—yang kebanyakan terbitan The Divine Life Society, serta petunjuk-
petunjuk dari mereka yang amat penulis hormati, maka dicobalah menyusun kitab kecil ini.
Tanpa penguasaan yang baik atas bahasa Sanskerta, penulis berusaha menterjemahkannya secara
bebas, sesuai kemampuan yang amat terbatas ini.
Dimaklumi bahwa Yoga Sutra adalah teks kuno yang amat dihormati oleh segenap Yogi paska
Patanjali. Sebagai pokok Yoga Darsana, keagungannya bahkan dapat didudukkan sejajar dengan
Sruti, Bhagavad Gita dan Upanisad-upanisad yang suci, yang disebut-sebut sebagai diwahyukan
langsung maupun tak-langsung oleh Tuhan sendiri. Ulasan-ulasan terhadapnya selama ini,
(mungkin) hanya diberikan oleh para Yogi besar, yang tak diragukan lagi pengetahuan,
pengalaman dan kesucian batin beliau. Tak kurang Vedavyasa sendiri, menurunkan ulasan
khusus beliau dalam Yogabhasya.

Dalam sebuah tulisan karyanya, Sri Swami Sivananda memperingatkan: “Sistem Yoga dari
Patanjali tertuang dalam bentuk sutra-sutra. Sebuah sutra berupa sebuah aphorisma pendek padat
makna. Ia berupa ungkapan-ungkapan aphoristis. Ia mengandung kedalaman makna, serta
signifikansi yang tersembunyi. Para Rshi di jaman dahulukala memiliki suatu tradisi dalam
mengekspresikan ide-ide filosofis maupun realisasinya hanya dalam bentuk sutra-sutra saja.
Adalah amat sulit untuk mengertikan maksud yang terkandung di dalam sutra-sutra tersebut
tanpa bantuan komentar atau penjelasan seorang pembimbing atau Guru yang telah memahami
Yoga dengan baik”.

Jadi, kembali harus penulis kemukakan bahwa memang semua ini hanyalah dari kenekatan,
hasrat untuk berbuat dan minat yang besar terhadap kehidupan dan jalan spiritual. Amat banyak
kekurangannya disana-sini. Semoga ia bermanfaat bagi sahabat peminat dan penekun yang
bersungguh-sungguh dan lewat perantara tulisan ini, semoga Sang Maharshi berkenan
memaparkannya secara langsung kepada pembaca sekalian.

Denpasar, 9 Nopember 2000.

   
PENDAHULUAN.

Yoga Sutra yang disusun oleh Maharshi Patanjali ini adalah teks klasik terbesar dan terutama
dalam aliran filsafat Yoga India. Ia dinyana telah ditulis 2500 tahun lalu; jadi kurang lebih
sejaman dengan Buddha Gotama. Bahkan ada yang berpendapat bahwa teks ini telah disusun tak
kurang dari abad ke-2 SM. Di dalamnya, sutra-sutra tentang Yoga atau penyatuan universal
benar-benar pendek dan akurat; menegaskan secara lengkap, rinci dan akurat bagian-bagian yang
esensial. Mengingat kepadatan dan kepekatan kandungan makna spiritual-filosofisnya, Yoga
Sutra dianjurkan untuk dijelaskan dan di-interpretasikan oleh seorang Guru Yoga melalui
komentar-komentar. Praktek Yoga dipandang sebagai pelengkap dari dan dalam satu kesatuan
pandang dengan filsafat Sankhya. Tujuan-pokoknya adalah merealisasikan kebebasan Jiva dari
kungkungan Maya.
Ketidak-cukupan informasi tentang Yoga telah mengundang tak sedikit persepsi keliru di
kalangan awam tentangnya. Yoga seringkali dikacaukan dengan Tapa, atau bahkan dengan
sesuatu yang berbau klenik yang mendekati takhyul, atau memandangnya hanya dari sudut-
pandang kegaiban-kegaiban dan kanuragan saja, telah menggugah penulis untuk menghadirkan
buku ini di tengah-tengah kita semua.

Untuk ini, ada baiknya diketengahkan paparan Sri Swami Sivananda—pendiri The Divine Life
Society—tentang Yoga.
“Yoga bukanlah mengurung diri di dalam gua-gua, bukan pula berkelana di hutan-hutan lebat
sekitar pegunungan Himalaya. Ia juga bukan hanya memakan jenis makanan yang berupa sayur-
mayur dari pegunungan. Brahman bukanlah pengecut yang lari dari hiruk-pikuknya komunitas
dan pemukiman manusia. Praktekkan sajalah Yoga di rumah Anda sendiri. Manakala hasrat
untuk mempraktekkannya muncul, ini berarti bahwa kebebasan telah berada dalam jangkauan
Anda, oleh karenanya manfaatkanlah peluang ini sebaik-baiknya.....Menjalani kehidupan sebagai
seorang Yogi, tidaklah mesti menelantarkan siapapun juga atau mengabaikan kewajiban-
kewajiban melekat Anda. Ia bermakna merubah sikap hidup dari kebiasaan mengerjakan sesuatu
yang sia-sia, menuju jalur yang secara pasti mengantarkan langsung kepada Tuhan. Ia dibarengi
dengan perubahan prilaku dalam menjalani kehidupan serta metode-metodenya guna
membebaskan diri Anda dari berbagai belenggu dan kemelekatan. Kebenaran dan pengabaian
keakuan, sebenarnya merupakan masalah sikap-batin”.

Sesuai sistematika dari teks aslinya, Kidung Kelepasan Patanjali inipun disajikan dalam 4 bagian
(pãda), masing-masing adalah:
Samãdhi Pãda. •
Sãdhana Pãda. •
Vibhuti Pãda. •
Kaivalya Pãda. •

Samãdhi Pãda —Hakekat Penyatuan Agung.

Pãda yang tersusun dalam 51 sutra ini memaparkan tentang landasan spiritual-filosofis Yoga,
hakekat dari penyatuan dan hakekat ketuhanan dalam Yoga. Dalam bagian ini akan banyak kita
temukan paparan yang menyangkut intisari keimanan Hindu, yang juga berhampiran dengan
Buddha, serta penerangan yang amat bersesuaian dengan Upanishad-upanishad dan Veda Sruti.
Dari bagian ini pula, bila kita cermati, kesinambungan antara Sanhkya Darsana dan Vedanta
terjembatani dengan Shastrãgama-shastrãgama lain. Pãda ini merupakan pembuka yang berisikan
pembekalan dalam tahap persiapan, sebagai landasan pijak dan kerangka dasar seorang sadhaka,
seorang penekun di jalan spiritual.
Samãdhi Pãda terutama menjelaskan beberapa jenis Samãdhi sesuai dengan tersisa atau tidaknya
objek di dalam Samãdhi, yang dicapai bersama dengan terhentinya pusaran-pusaran pikiran.
Kaivalya, yang merupakan isu sentral dari Yoga Sutra ini, hanya dicapai melalui Nirvikalpa atau
Nirbija Samãdhi. Walaupun demikian, jenis pencapaian lain tetap merupakan pencapaian tinggi
yang merupakan penghampiran pra yang tertinggi. Pembekalan mendasar, seperti ketidak-
melekatan (vairagya) dan pembiasaan laku-spiritual (abhyasa) juga diberikan, sebelum seorang
sadhaka benar-benar terjun dalam praktek kehidupan spiritual secara intens.

Sãdhana Pãda — Paparan Praktis Praktek Spiritual.

Pãda yang tersusun dari 55 sutra ini memberikan paparan praktis bagi seorang sadhaka. Disini
mulai diperkenalkan Yama, Niyama, Pranayama dan Pratyahara, serta persiapan untuk
memasuki tiga-serangkai Samyama —Dharana-Dhyana-Samadhi. Samyama baru dipaparkan
secara panjang lebar pada Vibhuti Pãda. Metode pembebasan psikologis dan spiritual yang
terdiri dari delapan tahapan ini, juga dikenal dengan Ashtanga Yoga.

Disini juga diingatkan akan bahaya dari siddhi bagi seorang sadhaka sejati. Secara keseluruhan
prinsip-prinsip praktis dari Yoga dapat ditemukan disini dalam paparan yang lugas. Sebagai
paparan praktis, di dalam mengikuti Sãdhana Pãda ini kita juga acapkali seakan-akan sedikit
‘dipaksa’ untuk mengerti tentang sistem Yoga praktis tertentu, terutama Hatha Yoga dan Laya
Yoga atau Kundalini Yoga.

Vibhuti Pãda — Paparan tentang Kekuatan dan Kesempurnaan.

Disini dipaparkan tuntunan praktis yang lebih tinggi, terutama tentang tiga-serangkai Samyama,
melalui mana kekuatan-kekuatan spiritual, kegaiban-kegaiban, hingga kesempurnaan Yoga bisa
dicapai.

Bagi yang mempunyai naluri mistis yang kuat, bagian yang tersusun oleh 56 sutra ini, bisa
merupakan bagian yang paling menarik. Disini juga disampaikan peringatan-peringatan untuk
tidak melaksanaan Yoga hanya demi perolehan kekuatan-kekuatan dan kegaiban-kegaiban itu,
apalagi terikat padanya. Ini dapat dengan mudah menjatuhkan sang penekun.

Kaivalya Pãda — Menggapai Kebebasan Sejati.

Di antara ke-empat Pãda, Kaivalya Pãda inilah yang tersingkat. Disini paparan terasa padat, yang
utamanya difokuskan pada pencapaian Kaivalya dan tentang bagaimana seorang Yogi yang telah
mencapai status itu. Disini Patanjali tak lupa menyelipkan lagi tatanan etika-moral luhur dari
seorang Yogi Sempurna —yang dalam ajaran Vedanta kita kenal sebagai Jivanmukta, ia yang
telah terbebaskan dari siklus Samsara dan tak terlahirkan kembali di alam manapun —di antara
34 sutra pembentuknya.
Jadi, secara keseluruhan, ke-empat Pãda benar-benar membentuk satu kesatuan integral, yang
kait-mengait satu sama lain, mengalir dan berlanjut, saling memperjelas dan mempertegas. Ini
juga berarti meminta praktisi mempelajari Yoga Sutra —guna memperoleh pemahaman yang
baik tentang praktek Yoga itu sendiri— secara berulang-ulang, bolak-balik ke depan dan kembali
ke belakang. Ia memang merupakan manual-praktis yang tersaji dalam satu kesatuan bahasan
komprehensif, menyeluruh dan terpadu. Guna menunjang bahasan-bahasan, dengan segala
kerendahan hati, di akhir buku ini penyusun sajikan sebuah tulisan lepas sebagai appendiks.
Dalam kesempatan yang bersahaja ini, kiranya pada tempatnyalah kita bersyukur dan bersujud
dengan penuh hormat kepada Maharshi Patanjali, atas kemurahan hati beliau yang tanpa pamerih
telah menyusun sistematika praktis serta melahirkan satu aliran filsafat (darsana) agung yang
tiada duanya, yang dapat mengantarkan manusia menuju Kebebasan Sejati.

   
Memasuki Yoga Sutra-Konstelasi Batin

Sekarang dijelaskan tentang Yoga. Yoga adalah penghentian pusaran-pusaran batin yang
menghalangi pancaran cahaya kesadaran (citta vritti nirodha). Dengan demikian citta —yang
bertindak sebagai si pengamat— hanya bersandar pada kondisinya sendiri (svarupa) yang jernih;
sedangkan, pada waktu-waktu lainnya, si pengamat umumnya justru mempersamakan dirinya
dengan pusaran-pusaran tersebut.
[YS I.1 - I.4]

Yoga Sutra dibuka oleh Patanjali dengan empat aphorisma pendek nan padat makna ini. Dari
sutra I.1 hingga I.4 ini, kita diperkenalkan pada Yoga, kondisi umum pikiran manusia dan apa
yang dapat diperbuat untuk itu. Sangat mendasar penjelasan dalam empat sutra ini.

Manusia, makhluk berakal-budi, teranugrahi manas dalam kelahirannya. Dari manas inilah lahir
kata manussa atau manusya yang kemudian diadopsi menjadi manusia, dalam bahasa Indonesia
dan human atau man dalam bahasa Inggris. Jadi, bagi keberadaan manusia, manas menduduki
posisi sentral yang merupakan esensi dari keberadaanya. Ia merupakan prabot ampuh manusia
untuk bertahan hidup, yang membedakannya dengan makhluk bumi lainnya.

Upanishad menegaskan: “mana eva manushyãnam kãranam bandha mokshayoh —bagi manusia,
manas-lah yang menyebabkan perbudakan maupun pencapaian Moksha.” Dalam hirarki
Sankhya, manas menduduki posisi kunci di bawah keakuan, yang disini disebut asmita. Vedanta
menyebutnya ahamkara. Intelek, nalar, kecerdasan atau buddhi berada pada tataran yang lebih
tinggi dari pikiran, dan sejajar dengan keakuan. Sedangkan citta —kesadaran atau batin jernih —
berada di atas buddhi dan asmita. Citta masih terbilang sejajar dengan triguna (sattvam, rajas dan
tamas) —tiga kekuatan Prakriti —namun belum terpengaruhi olehnya. Citta turunan langsung
dari Purusa —yang merupakan hakekat yang berlawanan dengan Pradhana atau Prakriti —
semesta material. Dari Pradhana inilah triguna berasal. Oleh karenanya, triguna juga disebut ‘tiga
kekuatan Prakriti’.

Segera setelah citta terpengaruh oleh triguna dan didominasi oleh sattvam, maka ia tidak lagi
sebagai kesadaran yang jernih, melainkan menjadi buddhi, intelijensia. Dan bila citta dipengaruhi
dan didominasi oleh rajas dan tamas, maka terlahirlah asmita atau ahamkara. Ahamkara inilah
yang membawahi dan menggerakkan manas. Relatif amat jarang buddhi ikut-campur dalam
pemerintahan ini. Dalam melayani ahamkara, manas menjadi sibuk, bergolak, berpusar, berubah-
ubah, terombang-ambing, menimbulkan berbagai bentuk-bentuk pemikiran dan perasaan; inilah
kondisinya dalam pusaran-pusaran batin itu.

Konyolnya adalah, dalam ketidak-tahuannya manusia justru mengidentifikasikan-dirinya sebagai


pikiran dan perasaan atau vritti itu sendiri —vritti sarupya. Hanya manakala dominasi asmita
terhadap pikiran dapat direbut oleh buddhi, kondisi atau sifat sattvik yang kedewataan mulai
menyinarinya. Buddhi mendekati kondisi citta, sehingga jauh lebih mudah menerima pancaran
kesadaran murni, lewat mana Purusa memancarkan cahayanya di dalam batin manusia.
Demikianlah ideal pemurnian citta Patanjali yang dipaparkan pada awal mokshashastra ini.

Lima Jenis Modifikasi Batin dan Tiga Proses Penalaran


Modifikasi-modifikasi batin (vritti) ada lima jenis, ada yang menyedihkan dan ada yang tidak
menyedihkan: penalaran (pramana), kekeliruan (viparyaya), imajinasi (vikalpa), tidur (nidra) dan
ingatan (smrti).
Praktek langsung (pratyaksa), penyimpulan (anumana) dan penegasan para bijak dan kitab-kitab
ajaran (agama), membentuk suatu rangkaian metode penalaran yang baik.
[YS I.5 - I.7]

Pengetahuan luhur (jñana) yang diperoleh tanpa mengabaikan terlebih dahulu kekeliruan
(viparyaya), imajinasi (vikalpa) serta ingatan-ingatan (smrti) yang samar dan terbatas, tidak
layak dipercaya sebagai suatu pengetahuan yang sahih (vidya), yang dapat dipertanggung-
jawabkan objektivitas dan kebenarannya. Ia tidak dapat dianggap sebagai pengetahuan
samasekali (avidya), apalagi jñana. Sutra-sutra ini menekankan hal ini. Sementara jñana
diperoleh lewat tiga rangkaian proses yang masing-masing daripadanya disebut pramana.
Sebagai suatu rangkaian proses, yang satu dilanjutkan dan dilengkapi oleh yang berikutnya,
demikian seterusnya. Dalam mengamati, mencermati guna memperoleh jñana, tri pramana
adalah jalannya.

Mempraktekkan langsung dengan cermat fenomena-fenomena di luar ataupun di dalam,


melahirkan pengalaman. Melalui praktek yang sama secara berulang-ulang, banyak pengalaman
yang diperoleh. Pengalaman disini bisa berupa pengalaman fisik, non-fisik maupun meta-fisik.
Endapan pengalaman-pengalaman inilah yang tersimpan sebagai bagian dari ingatan (smrti),
mereka serupa dengan kesan-kesan mental (samskara). Smrti semakin kuat bila pengalaman yang
sama dialami secara berulang-ulang. Dari fenomena batiniah inilah terlahir laku Japa, pelafalan
sebait mantra pendek secara berulang-ulang. Semua proses empiris inilah yang disebut pratyaksa
pramana. Besar kemungkinannya kalau kata ‘praktek’ maupun ‘praktis’ yang kita kenal sekarang
ini berasal dari kata pratyaksa ini.
Pengetahuan juga bisa diperoleh dari mendengar penjelasan sumber-sumber yang otentik dan
layak dipercaya maupun kitab-kitab yang terpercaya. Pengetahuan yang diperoleh dengan cara
inilah yang disebut agama atau sabda pramana —perolehan pengetahuan melalui mendengarkan
sabda-sabda suci para Guru-guru suci dan kitab-kitab suci.
Namun, walaupun tak ada Guru suci atau kitab suci yang didengar atau dibaca, melalui
pengalaman empiris (pratyaksa), analogi, perumpamaan ataupun “modelling test” (upamana)
serta membandingkannya dengan pengalaman-pengalaman sejenis lainnya serta kemampuan
analisa pribadi, dapat pula ditarik suatu kesimpulan yang terpercaya. Proses penyimpulan inilah
yang disebut anumana. Kehadiran upamanapramana menjadikannya Catur Pramana, seperti yang
diajukan oleh Rshi Gautama dalam Nyaya Darsana-nya. Menurut beliau, ada 4 aspek substantif
yang mengkondisikan atau terkandung dalam proses penalaran, yakni: (i) subjek (pramata), (ii)
objek (prameya), (iii) kondisi hasil amatan (pramiti) dan (iv) cara mengetahuinya (pramana).
Kekeliruan (viparyaya) merupakan pengetahuan keliru (mithya-jñana), yang tidak tersusun dari
realitas.
Pengetahuan yang dimunculkan oleh ‘citra kata-kata’, namun tanpa didukung objektivitas adalah
angan-angan atau imajinasi (vikalpa) semata; modifikasi-modifikasi batin yang terjadi tanpa
hadirnya keterjagaan penuh (jagra) adalah tidur (nidra); dan kehadiran kembali objek sensasi
yang pernah dialami dalam pikiran adalah ingatan (smrti) yang terbatas, merupakan pengetahuan
yang keliru itu.
[YS I.8 - I.11]
Disebutkan adanya lima pemicu kekeliruan (panca viparyaya) dalam Wrhaspati Tattwa; masing-
masing adalah: (i) Tamah, pikiran yang selalu ingin memperoleh kesenangan duniawi; (ii) Moha,
keinginan untuk memperoleh delapan kemampuan adi-kodrati (asta aiswarya); (iii) Mahamoha,
keinginan untuk mendapatkan kesenangan niskala disamping asta aiswarya tadi; (iv) Tamisra,
berharap untuk memperoleh kesenangan —sebagai buah perbuatan— di kemudian hari; dan (v)
Andhatamisra, menangisi milik yang telah hilang. Kelima kekeliruan inilah yang berandil besar
dalam kesengsaraan manusia.

Nidra, tanpa hadirnya keterjagaan penuh (jagra) —seperti yang disebutkan dalam sutra I.10—
bukanlah tidur pulas tanpa mimpi —yang disebut sushupti. Dalam sushupti, Ibunda Semesta,
Rajesvari, membawa jiva kembali kepada-Nya; memeluknya dalam dekapan kasih-Nya,
menyusuinya lagi dengan segarnya kedamaian, gairah baru, vitalitas dan kekuatan baru serta
menjadikannya cukup prima untuk menghadapi ‘peperangan’ keesokan harinya. Demikian Sri
Swami Sivananda menggambarkannya.

Jelas bahwa sushupti bukan suatu keadaan tidak aktif atau reposisi pasif tanpa hadirnya
keterjagaan (jagra) sama sekali, seperti halnya Nidra. Ia memiliki signifikansi spiritual-filosofis
yang mendalam. Kaum Vedantin mempelajari kondisi ini dengan sangat hati-hati dan mendalam.
Sushupti memberi petunjuk yang jelas kepada para filsuf non-dualis untuk menelusuri, meneliti,
serta menemukan ‘sang saksi bisu’ yang tersembunyi.

Pengetahuan akan lebih lengkap dan terpercaya, bila diperoleh melalui pratyaksa, sabda atau
agama, anumana serta upamana, yang bekerja sedemikian rupa saling menunjang dan
menguatkan, sebelum menarik suatu kesimpulan akhir. Disinilah subjektivitas yang terbentuk
oleh pengalaman pribadi yang terbatas, berupa: kekeliruan (viparyaya), angan-angan atau
imajinasi-imajinasi subjektif (vikalpa), serta kehadiran objek-objek indriawi yang menyesatkan
(vishaya) maupun kelemahan dan keterbatasan ingatan (smrti) ditiadakan.

Pertanyaannya kini adalah, bagaimana menyingkirkan modifikasi-modifikasi pikiran yang


menyesatkan, yang menjadi biang dari mithya-jñana ini? Inilah yang dipaparkan secara panjang
lebar dalam sutra-sutra berikutnya.

   
Kiat Mengatasi Modifikasi-modifikasi Pikiran

Melalui pembiasaan terus-menerus (abhyasa) dan tanpa keberpihakan dan keterikatan (vairagya)
modifikasi-modifikasi pikiran dan perasaan (vritti) dihapuskan (nirodhah).
Abhyasa adalah usaha terus-menerus pada jalan spiritual hingga menjadi suatu kebiasaan.
Perhatian yang konstan dalam jangka waktu lama, dengan teguh dan tanpa jeda
memantapkannya.
Pandangan hidup yang bebas dari nafsu keinginan dan kecintaan pada pengalaman-pengalaman
indriawi berikut objek-objeknya, serta tanpa keberpihakan dan keterikatan lagi padanya adalah
vairagya.
Vairagya yang tertinggi dicapai tatkala munculnya kekuatan Purusa untuk menghentikan
pengaruh guna, walaupun berupa keinginan yang sekecil apapun.
[YS I.12 - I.16]

Paparan serupa ini ternyata kita temukan pula dalam Bhagavad Gita VI.35:
"Tidak diragukan lagi, oh...Mahabahu, pikiran memang sulit dikendalikan, namun ia dapat
dikuasai melalui pembiasaan-diri (abhyasena), ketidak-terikatan (vairagyena) pun dapat dicapai
melaluinya."

Abhyasa saling menguatkan dengan vairagya. Abhyasa dicapai melalui kesinambungan


pelaksanaan sadhana; sesungguhnya antara sadhana dan abhyasa nyaris tiada beda. Mungkin
dapat dikatakan bahwa abhyasa adalah suatu kebiasaan dalam menjalankan sadhana-sadhana
bagi seorang sadhaka. Sudah barang tentu membiasakan sesuatu —apalagi sesuatu yang baik dan
bernilai spiritual— tidaklah mudah dan dapat diraih dalam waktu singkat.

Dalam konteks ini, abhyasa ditujukan untuk mengendalikan dan meredam semua vritti. Menurut
Sri Swami Sivananda, mengarahkan kembali pikiran kepada asalnya —Hrdaya Guha—dan
menjadikannya tercerap dalam Atman adalah abhyasa; demikian pula mengarahkan pikiran ke
dalam untuk menghancurkan kecenderungannya mengarah ke luar. Hanya melalui abhyasa saja,
samskara-samskara dapat dibakar hangus.

Wrhaspati Tattwa melukiskan yang telah meraih vairagya bagaikan raja yang kuat, yang telah
menikmati kemenangan dalam peperangan. Semua kesenangan duniawi —lewat munculnya
kegandrungan terhadapnya— tak lagi mengikatnya karena ia tak menginginkan lagi semua itu.

Menurut Sri Swami Sivananda ada empat tingkatan vairagya:


(1) Yatamana:- Ini dicirikan dengan adanya upaya untuk tidak membiarkan pikiran berlari
menuju ladang sensualitas;
(2) Vyatireka :- Pada tingkat ini beberapa objek bisa saja menarik Anda namun Anda berhasrat
kuat untuk memotong kelekatan dan ketertarikan Anda itu, dan sadar akan tingkatan vairagya
terhadap objek-objek yang berbeda-beda;
(3) Ekéndriya:- Sensasi-sensasi masih ada yang berdiri tegak maupun yang telah tunduk, akan
tetapi pikiran masih memiliki raga atau dvesha, suka atau tak-suka pada objek-objek. Hanya
sebatas pikiran saja; atau dengan lain kata, hanya pikiran saja satu-satunya sensasi yang
berfungsi secara terpisah;
(4) Vasirara:- Pada tingkat vairagya tertinggi ini, objek-objek tidak lagi menggoda. Mereka tidak
lagi menimbulkan ketertarikan samasekali. Sensasi tenang dengan sempurna. Pikiranpun
terbebas dari suka-tak-suka. Andapun memperoleh kemenangan dan tanpa ketergantungan lagi.
Tanpa vairagya tiada kemajuan spiritual yang dimungkinkan.

   
Samadhi, Pencapaiannya dan Keampuhan Isvarapranidhana

Samprajñãta dan Asamprajñãta Samãdhi.

Penalaran yang tajam (vitarka), penyelidikan melalui perenungan mendalam (vicara), dan
kebahagiaan (ananda) yang penuh kewaspadaan sebagai akibat dari penyatuan semesta dengan
Sang Diri, merupakan kondisi batin ketika tercapainya Samprajñãta Samãdhi.
[YS I.17.]

Dalam Samprajñãta Samãdhi, batin masih dicirikan dengan kehadiran empat kondisi yang
mendahuluinya—yakni: vitarka, vicara, ananda dan identifikasi-diri sebagai asmita. Asmita atau
keakuan merupakan pijakan yang hendak dilebur dalam kesadaran kosmis melalui penalaran di
dalam, penyelidikan atau perenungan mendalam. Manakala penyatuan atau peleburan itu
tercapai, maka tercapai pulalah anandam, kebahagiaan sejati. Inilah yang disebut dengan
Samprajñãta Samãdhi.
Disini, anandam sebagai pencapaian tertingginya, dinikmati oleh ‘sang aku semu’. Disini hadir;
“Aku menikmati kebahagiaan tertinggi.” Aku masih eksis dan bertindak sebagai si penikmat.
Sementara, ia sendiri justru merupakan salah-satu kléša—bahkan yang paling hakiki—untuk
dilebur. Hadirnya aku sebagai si penikmat, yang mengidentifikasikan dirinya pada kebahagiaan
itu, juga merupakan pertanda bahwa pusaran-pusaran pikiran (vritti) masih aktif. (Mungkin)
Inilah sebabnya mengapa pencapaian Samãdhi ini bukanlah yang tertinggi menurut idealisasi
Patanjali.
Pemusnahan sisa-sisa kesan mental (samskara) yang masih mengisi pikiran, melalui vairagya dan
abhyasa, mengkondisikan terjadi penyatuan sempurna dalam eksistensi yang tiada terbedakan,
tanpa wujud, yang juga berarti musnahnya pengaruh Prakriti (prakritilaya), disamping kuatnya
iman (sraddha), semangat dan kegigihan (virya), daya ingat yang kuat (smrti), dan bersinarnya
kebijaksanaan (prajña).
[YS I.18 - I.20.]

Asamprajñãta Samãdhi, merupakan pencapaian tertinggi, dipersamakan dengan Nirbija atau


Nirvikalpa Samãdhi oleh Swami Satya Prakãs Saraswati. Samãdhi ini terutama dicirikan dengan
musnahnya pengaruh kekuatan Prakriti yang berupa Triguna itu. Dan itu tak serta-merta
dimungkinkan, terjadi. Patanjali masih menyebut-nyebut beberapa pencapaian dan kondisi
batiniah ‘yang mendahuluinya’ dalam tiga sutra tadi.
Pencapaian-pencapaian mendahului dimaksud adalah: vairagya, abhyasa, smrti dan prajña. Dan
kondisi batiniah yang dimaksud adalah: sraddha dan virya. Smrti dimasukkan sebagai
pencapaian sebelumnya atau mendahului karena ia terbentuk sebagai hasil positif dari proses
pembiasaan dan mungkin ini telah dilakukan sejak kehidupan-kehidupan lampau sang penekun.
Keyakinan yang teguh merupakan kondisi batin yang bisa diperoleh dalam kehidupan ini
ataupun yang lampau, namun masih terus dirasakan atau terpakai; demikian juga halnya dengan
semangat yang kuat yang menyertainya.
Hampir tak mungkin tumbuh suatu semangat yang kuat, tanpa teguhnya iman. Satu keyakinan
mendasar dari seorang sadhaka adalah akan adanya Isvara (Tuhan), oleh karenanyalah
Isvarapranidhana disebut-sebut sejak awal.
Pencapaian secara bertahap dan keampuhan Isvarapranidhana.
Bagi mereka yang melakukannya dengan intens, penuh semangat-spiritual (virya), kemajuan
pesat dan keberhasilan dalam Samãdhi segera dicapai.
Pencapaian keberhasilan terbaik dimungkinkan melalui praktek bertahap, dari rendah, menengah
hingga intens, yang selalu disertai dengan penyerahan-diri sepenuhnya kepada Tuhan
(Isvarapranidhana).
[YS I.21 - I.23.]

Memang dalam banyak hal kesabaran memegang peranan penting bagi keberhasilan dalam
bidang apapun, terlebih lagi dalam Samãdhi. Sabar disini tidak dimaksudkan sebagai lamban dan
menunda-nunda latihan, dengan mengatakan dalam hati: “Ah....saya harus sabar...toh masih
banyak waktu untuk itu”. Tidak demikian maksudnya. Kesabaran disini lebih diarahkan pada
ketidak-cerobohan, tidak terburu-nafsu tanpa persiapan yang matang dan terkoordinasi dengan
baik. Mereka yang memilih jalan Yoga, diharapkan telah berkepribadian matang dengan tekad
yang kuat, sadar sepenuhnya bahwa umur tak dapat kita tentukan. Jadi, sesungguhnya kita tidak
tahu persis, berapa lama waktu yang tersedia bagi kita dalam kelahiran ini dan kapan kita dapat
merampungkan persiapan dan latihan tersebut hingga benar-benar menjadikannya sebagai suatu
kebiasaan hidup spiritual, dan berhasil. Namun, secara jujur, sekurang-kurangnya kita tahu persis
kekurangan-kekurangan kita. Ini akan amat membantu dalam menentukan sikap, kapan
diperlukan peningkatan intensitas dan kapan perlu diperlambat, dan sebagainya.

Seperti juga Isvara, Isvarapranidhana diperkenalkan untuk pertama kalinya oleh Patanjali. Ia
belum muncul dalam Sankhya. Isvarapranidhana disebut-sebut berperan besar dalam
keberhasilan dalam Samãdhi. Penyerahan-diri pada Isvara (Tuhan), bukanlah dimaksudkan
sebagai penyerahan pasif, namun sebaliknya aktif. Kita tak dapat hanya menunggu dan
menunggu, serta memohon dilimpahi rakhmat atau anugrahnya, dengan dalih bersabar. Bukan
demikian maksudnya. Apa yang dapat saya lakukan untuk menyenangkan beliau, dan bagaimana
saya sebaiknya melaksanakannya? Pertanyaan-pertanyaan proaktif ke dalam (vicara) inilah yang
akan amat membantu penyerahan-diri seutuhnya.

   
Isvara sebagai Guru Semesta dan Pranava Japa

ISvara adalah Purusha Istimewa (purusha visesa isvarah), tak tersentuh oleh kekotoran-batin
yang mengakibatkan penderitaan (klésa), perbuatan-perbuatan (karma) dan kesan-kesan mental
maupun hasil dari perbuatan. Tiada terbatas adanya benih kemahatahuan (sarvajña bija) pada-
Nya. Beliau adalah Guru dari para Guru di jaman purba (purva), yang ada di luar jangkauan
waktu. [YS I.24 - I.26]

Dalam tiga sutra tadi, juga ter-refleksikan dengan amat jelas dan tajam, bagaimana Patanjali
memandang Isvara. Sejauh kita masih berkutat dengan berbagai klésa dan karma, vasana, dan
phala-nya, serta beraneka Renungan samskara, maka Isvara digambarkan seperti dalam sutra I.24
ini.

Penggambaran itu bukanlah dimaksudkan sebagai penggambaran absolut, dimana hanya itulah
sifat-sifat-Nya dalam konsep ketuhanannya, namun lebih diorientasikan pada konteks jalan
pensucian atau pemurnian batin ini.

Dalam ajaran Buddha, juga disebutkan lima kekotoran-batin yang mengakibatkan penderitaan
(klésa) yaitu:
· Kesenangan pada kenikmatan pemuasan nafsu indriyawi (kamachanda);
· Itikad jahat atau dendam pada orang lain (vyapada);
· Kemalasan, keengganan dan kelesuan (stayana-middha);
· Kegelisahan, kecemasan dan kekha-watiran (auddhatya-kaukrtya); dan
· Keragu-raguan (vicikitsa).

Sementara Panca klésa-nya Patanjali adalah:


· Kebodohan atau kegelapan batiniah (avidya),
· Egoisme (asmita),
· Kelekatan atau kecintaan ragawi (raga),
· Kebencian (dvesa), dan
· Kecintaan yang amat sangat pada kehidupan berjasad ini sehingga amat takut mati (abhinivesa);
seperti diuraikan dalam sutra II.3 mendatang.

Walaupun ada perbedaan item-item yang diberi sebutan klésa dalam kedua ajaran ini, namun
bagi penekun jalan spiritual, kelima kekotoran ini penting untuk dienyahkan. Memang tidak
semua orang terlahir dengan membawa kelima kekotoran ini dalam kadar yang sama; mungkin
ada yang hanya tiga, dua atau satu saja dan dalam kadar tertentu. Selalu ada kekhususan
tergantung karma-vasana masing-masing. Namun semuanya tetap mesti diwaspadai. Untuk ini,
Patanjali memperkenalkan metode ampuh untuk mengentaskannya, seperti yang akan dipaparkan
nanti pada pembahasan sutra
IV.29 - IV.34.

Secara kontekstual pula, Isvara diposisikan sebagai Guru; Guru Renungan spiritual bagi semua
penekun jalan spiritual, Guru Yoga bagi semua penekun Yoga, dahulu, kini dan nanti. Akan
tetapi kita tidak diharapkan untuk memandang dengan: “Ah...saya hanya akan ber-Guru langsung
pada Isvara saja. Saya tak perlu ber-Guru pada yang lainnya, apakah itu Dewa, apalagi manusia.”
Bukan, bukan demikian maksudnya. Belum banyak diantara penekun yang berkualifikasi
setinggi itu.

Para penekun (sadhaka) masih butuh Guru hidup yang kasat indriya, sebagai panutan. Akan
tetapi, tidak pula dianjurkan sebaliknya memandang:
“Kita tak mungkin ber-Guru pada Isvara. Itu tidak mungkin. Kita harus ber-Guru hanya pada
manusia yang masih hidup.” Dua kutub pandang dalam ber-Guru ini memang jamak kita temui
di sekitar kita. Ini menunjukkan kelemahan yang perlu disadari dan dientaskan, bersamaan
dengan perjalanan latihan kita. Manifestasi simbol-Nya adalah suku kata tunggal Pranava (OM).
Pelafalan secara konstan (japa) Pranava, dengan penuh perasaan dan pemahaman akan
maknanya, menghantarkan pada pencapaian tujuan pengembangan batin (artha bhavanam).

Dengan mempraktekkannya lahir kesadaran kosmis (cetanãdhigamo) dan hambatan-


hambatanpun sirna.
[YS I.27 - I.29]

Secara substansial, ketiga sutra ini masih terkait dengan Isvarapranidhana. Pelafalan secara
konstan Nama Tuhan, adalah perwujudan cinta dan bhakti kita kepada-Nya, di mana Pranava
Japa ini bisa mengantarkan pada keberhasilan. Pelafalan secara konstan dengan ber-japa, juga
sebentuk proses pembiasaan. Inilah salah-satu praktek langsung dari Abhyasa. Jelas kalau
abhyasa merupakan suatu proses, bukan pencapaian, di mana dituntut kesabaran dalam melalui
pentahapannya. Walau di sini Patanjali hanya menyertakan satu kata ‘japa’, yakni hanya pada
sutra I.28 ini saja -di mana itupun hanya dikaitkan dengan Pranava OM- namun ini juga
merupakan sebentuk upaya memperkenalkan Japa Yoga, yang akan kita temukan juga pada
Bhagavad Gita dan kitab-kitab Yoga sastra lainnya.

Anjuran ini juga kita temukan di dalam beberapa Upanishad. Mundaka Upanishad misalnya,
menganjurkan: “Bermeditasilah atas OM sebagai Atman. Semoga dikau berhasil menyeberang
jauh dari kegelapan.” Mãndúkya Upanishad juga menegaskan bahwa, ‘apa saja yang merupakan
keadaan masa silam, sekarang dan yang akan datang, semuanya adalah Pranava OM’ Dan apa
saja yang ada di luar waktu -lampau, sekarang, dan akan datang- itu hanyalah Pranava OM.
Semuanya sesungguhnya Brahman (Tuhan)’.

Sedangkan Bhagavad Gita menyebutkan bahwa, “pranavah sarva vedasu” - “Aku adalah Pranava
dalam semua Veda”.

Setiap mantra umat Hindu diawali dengan melafalkan Nama-Nya. Semua Upanishad memuji
OM, di mana pada jaman Upanishad lambang Nama-Nya sangat dimuliakan. Kata OM sendiri
merupakan hasil penyandian antara tiga aksara suci ‘A - U - M’, yang masing-masing mewakili
tiga aspek Keagungan-Nya,yakni sebagai Mahapencipta (A), Mahapengatur dan
Mahapemelihara (U) serta Mahapelebur, Pengembali ke asal (M). Senantiasa melafalkan Nama-
Nya,sebagai praktek langsung dari Isvarapranidhana, mengikat pikiran liar, dan
mententeramkannya. Inilah manfaat langsungnya.
Pranava Japa umumnya dilaksanakan dalam hati (manasu japa) menyertai Pranayama. A(ng)
dilafalkan dalam hati saat menarik nafas; U(ng) saat menahan nafas dan M(ang) saat
menghembuskan nafas. Dengan demikian terjadi kombinasi solid yang saling menguatkan antara
Pranava dan Pranayama.

Praktek Japa dalam Pranayama ini akan kita bicarakan lagi pada Sadhana Pãda, saat membahas
Pranayama.

Cetana-adhigama merupakan istilah bentukan Patanjali yang tak kurang menariknya untuk
dicermati. Cetana yang juga disebut sebagai Kesadaran Kosmis, di dalam Wrhaspati Tattwa ia
didefinisikan sebagai: bersifat mengetahui, tak terkena lupa, senantiasa tenang dan stabil serta
tak terhalangi. Sebaliknya Acetana disebut sebagai: tanpa pengetahuan, seperti moha
(kebingung-an). Pertemuan antara Cetana dan Acetana inilah yang melahirkan: Triguna, Buddhi,
Ahamkara, Panca Buddhindriya), Panca Karmendriya, Panca Tanmatra, dan Panca Mahabhuta.
Dalam pustaka nusantara kuno ini, Cetana dirinci lebih jauh lagi ke dalam Paramasiwa, Sadasiwa
dan Siwa.

Sebagai kitab Tattwa -ajaran hakekat ketuhanan yang dapat disejajarkan dengan Upanishad-
Upanishad, Wrhaspati Tattwa juga memerinci sifat-sifat Isvara sebagai berikut:
· Aprameyam -Tidak terpikirkan, karena kejadian-Nya tidak berawal, tidak berakhir dan tiada
terbatas;
· Anirdesyam -Tidak terperintahkan, karena keadaan-Nya tanpa aktivitas.
· Anaupamyam -Tidak tertandingi, tidak terumpamakan, karena keadaan-Nya tidak ada yang
menyamai;
· Anamayam -Tidak terkena penyakit, karena tidak ternodai;
· Dhruvam -Berkeadaan sadar, tanpa gerak, tenang, senantiasa ajeg selamanya;
· Avyayam -Tiada kurang suatu apapun, karena sempurna dalam Diri-Nya Sendiri.

Disebutkan pula bahwa, dalam perjadiannya Beliau adalah Raja, Jiva yang tiada terjiwai. Satu
hal penting yang dapat kita lihat di sini adalah, konsep ketuhanan yang dianut oleh Patanjali
ternyata tidak berbeda dengan konsep yang dianut oleh Wrhaspati Tattwa, sebagai sastrãgama
Nusantara; walaupun tidak diketahui oleh siapa dan kapan ia disusun.

   
Kriya Yoga, Mengawali Pendakian Spiritual

KRIYA YOGA, MENGAWALI PENDAKIAN SPIRITUAL. Memasuki Sãdhana Pãda, berarti


memasuki paparan spiritual praktis dalam rangka mencapai Samãdhi, dalam berbagai kategori,
seperti yang dipaparkan dalam Samãdhi Pãda sebelumnya. Dalam Samãdhi Pãda kita telah
disajikan idealisasi-idealisasi terpenting dari Yoga untuk dicapai; dan kini, Patanjali mulai
memaparkan bagaimana mencapai semua itu.

Sãdhana Pãda, sebagai paparan praktis praktek spiritual, dibuka oleh Patanjali dengan Kriya
Yoga melalui dua sutra berikut.

Hidup sederhana dengan penuh kedisiplinan (tapa), mempelajari ajaran-ajaran suci secara
mandiri (svadhyaya), dan penyerahan diri, kerja dan hasil kerja dalam pengabdian kepada-Nya
(Isvarapranidhana) guna meraih penunggalan, disebut Kriya Yoga.
Ini dilaksanakan guna melenyapkan kléša dan mencapai Samãdhi.
[YS II.1 dan II.2]

Tapa, Svadhyaya dan Isvarapranidhana merupakan tiga sadhana utama dari Kriya Yoga. Swami
Satya Prakas Saraswati menyebutnya sebagai ‘Yoga Pendahuluan’. Kenapa disebut
'Pendahuluan'?
Ketiga sadhana utama yang termaktub dalam Niyama hanyalah tiga dari lima disiplin mental
Niyama. Seperti dimaklumi —dan akan dijelaskan pada sutra-sutra berikutnya—Niyama
merupakan tahapan kedua dalam delapan tahap Yoga-nya Patanjali, dan hanya diperuntukkan
sebagai pembentuk sikap batin yang merupakan landasan moral dari seorang Raja Yogi. Bila
hanya tiga dari disiplin moral-spiritual (brata) saja sudah layak memperoleh sebutan Kriya Yoga,
dapat dibayangkan betapa tingginya ajaran Ashtanga Yoga yang dipersembahkan Patanjali
kepada umat manusia ini.

Kriya Yoga diperuntukkan guna melenyapkan kléša atau kekotoran batin, yang merupakan
hambatan-hambatan utama dalam praktek Yoga. Batin yang telah lenyap kekotorannya menjadi
suci atau murni (sauca). Sementara itu sauca sendiri juga merupakan salah-satu disiplin dalam
Niyama. Ada kepaduan langkah pengembangan batin yang menyeluruh, hanya dalam praktek
Niyama saja. Kendati disebut sebagai ‘pendahuluan’ itu sudah dikategorikan sebagai Yoga. Di
Barat, Kriya Yoga ini dipopulerkan oleh Sri Paramahamsa Yogananda. Mengenai kléša akan
dibicarakan pada sutra II.3 sampai dengan II.9.

Menurut Shrii Shrii Anandamurti, Tapa diterapkan dengan menahan kesulitan-kesulitan fisik
maupun mental demi kebahagiaan orang atau makhluk lain dan melakukan pengabdian tanpa
pamerih. Dikatakan juga bahwa Tapa, sebagai pengabdian tanpa pamerih sendiri, ada empat jenis
ragamnya, yakni:
• Bhuta Yajña —pengabdian untuk kepentingan alam ciptaan.
• Pitra Yajña —pengabdian kepada nenek-moyang atau leluhur.
• Adhyatma Yajña —pengabdian lewat jalan spiritual.
• Nr Yajña atau Manusa Yajña —pengabdian untuk kepentingan sesama manusia.
Jadi Yajña, persembahan suci yang tulus ikhlas ini, juga dimaknai sebagai pelaksanaan Tapa
oleh guru besar pendiri Ananda Marga itu. Pandangan ini ternyata sejalan dengan wejangan Sri
Krishna dalam Bhagavad Gita IV.28: “Ada yang beryajña dengan harta-benda miliknya (drawya
yajña), beryajña dengan Tapa (tapa yajña), beryajña dengan Yoga (yoga yajña) dan yang lainnya
ada pula yang beryajña dengan Svadhyaya (svadhyaya yajña), serta dengan Jñana (jñana yajña);
demikianlah mereka yang taat melaksanakan disiplin hidup kerokhanian (vrata).” Dua sutra
pembukaan tadi ternyata memperoleh dukungan kuat dari Bhagavad Gita; bentuk-bentuk
persembahan dalam Isvarapranidhana-pun dipaparkan, sebagai praktek langsung dalam
kehidupan sehari-hari.

Bhagavan Sathya Narayana, dalam “Jñana Vahini”, membedakan Tapa atas 3 hal, yakni: Tapa
Mental, Tapa Fisik dan Tapa Pembicaraan. Pembagian dan penjelasannya tentang ketiga hal
yang di-tapa-kan ini, amat mirip dengan konsep etika-moral Hindu, Trikaya Parisuddha, yang
sudah tak asing lagi di Nusantara, terdiri dari:
• pensucian pikiran (manacika),
• pensucian ucapan (wacika) dan
• pensucian perbuatan (kayika).
Ini merupakan upaya pensucian integral terhadap tiga modus utama perbuatan. Dalam Trikaya
Parisuddha secara inklusif terangkum hampir semua landasan moral-etik Yoga, Yama-Niyama.
Ia juga mewakili pelaksanaan tiga dari Jalan Utama Beruas Delapan dari Buddhisme, yakni:
Pikiran Benar (sammã-sankappa), Ucapan Benar (sammã-vaca) dan Perbuatan Benar (sammã-
kammanta). Secara praktis, membiasakan tiga etika-moral-spiritual (abhyasa) ini mengantarkan
pada vairagya dan viveka, yang akan amat diperlukan demi terjaminnya pencapaian tujuan akhir.

Kena Upanishad menyebut Tapa sebagai salah-satu tiang Brahmavidya (Pengetahuan


Ketuhanan), disamping Dama (pengekangan diri) dan Karma (kegiatan dalam kebajikan). Dalam
Prasna Upanishad-pun Tapa mendapat tempat istimewa dengan ditekankannya secara berulang-
ulang. Swami Satya Prakas Saraswati menyebutkan toleransi, kesabaran dan latihan yang terus
menerus dengan tekun sebagai tiga aspek dari Tapa, yang mematangkan seorang siswa spiritual
(sadhaka). Setiap usaha untuk mencapai pengalaman duniawi maupun transenden merupakan
Tapa. Hanya dalam artian yang terbatas sajalah Tapa diartikan sebagai kesederhanaan.
Disebutkan pula, secara menyeluruh Tapa dilakukan bukan saja pada lima indria sensorik dan
lima indria motorik, akan tetapi juga dilakukan bagi sikap mental dan daya vital (prana). Jadi,
Tapa merupakan upaya pensucian menyeluruh, lahir maupun batin. Manusmrti —kitab suci
Smrti yang hingga kini masih paling sering diacu dalam jenisnya—juga menyebutkannya
demikian.

Di dalam Manusmrti atau Manava Dharmasastra Tapa dan Brata dipaparkan secara panjang lebar
dalam banyak sloka-slokanya. Beberapa diantaranya, yang khusus menyangkut Tapa pada
adhyaya XI, dikutipkan berikut ini.

Para Rshi mengendalikan diri beliau dengan hidup hanya dari buah-buahan, umbi-umbian dan
udara, beliau mengarungi triloka bertemu dengan makhluk bergerak maupun tidak bergerak,
hanya melalui kesucian Tapa.
Apapun yang sukar untuk dilalui, apapun yang sukar untuk dicapai, apapun yang sukar untuk
diperoleh, apapun yang sukar untuk dilakukan, semuanya dapat dicapai dengan kesucian Tapa,
karena Tapa mempunyai kekuatan untuk melintasinya. Mereka yang telah melakukan dosa besar
dan beberapa kesalahan lainnya, dapat dibebaskan dengan melakukan Tapa. Serangga, ular,
ngengat, kumbang, burung dan makhluk lainnya, berhenti bergerak dan mencapai surga hanya
karena Tapa-nya. Apapun dosa-dosa yang telah diperbuat oleh seseorang melalui pikirannya,
perkataannya ataupun perbuatan-perbuatannya, semua dapat dimusnahkan dengan segera melalui
Tapa-nya yang teguh, terjaga bak hartawan menjaga kekayaannya. Para Dewa-Dewa menerima
setiap persembahan para Brahmana, yang telah disucikan oleh Tapa-nya, akan menerima pahala
dan dikabulkan semua permintaannya. Yang Maha Kuasa, Hyang Prajapati, menciptakan
lembaga suci itu melalui Tapa-Nya; demikian pula halnya dengan para Rshi, menerima wahyu
Veda karena Tapa mereka. Para Dewa-Dewa melalui Tapa-nya kembali ke alam kesucian;
demikianlah keutamaan dari Tapa." [MDs. XI: 237, 239, 240, 241, 242, 243, 244 dan 245]

Dalam banyak pustaka suci dan ajaran mental-spiritual Tapa berkait erat dengan Sauca,
pensucian lahir-batin (yang dibicarakan nanti dalam pembahasan sutra II.40 dan II.41); dan
menduduki posisi fundamental dalam praktek kehidupan spiritual. Tapa berkaitan langsung
dengan kehidupan suci itu sendiri. Bahkan, para rshi di jaman dahulu menerima wahyu-wahyu
melalui kehidupan suci ini.
Svadhyaya adalah upaya mempelajari kitab-kitab suci atau kitab-kitab spiritual-filosofis secara
mandiri, guna memperoleh pengertian yang sejelas-jelasnya tentang hakekat yang terkandung di
dalamnya. Mempertanyakan (vicara), melakukan analisa-analisa penalaran (vitarka), maupun
perenungan-perenungan mendalam serta perbandingan dengan kejadian sehari-hari terhadapnya,
merupakan beberapa langkah dalam pembelajaran secara mandiri yang amat bermanfaat dalam
memberi pengertian serta menumbuhkan pemahaman yang baik dan kian mendalam. Yang pasti,
svadhyaya hendaknya tidak hanya diartikan sebagai membaca saja, belajar dari buku-buku saja,
mengingat setiap bait sloka atau sutra, bahkan setiap kata dari kitab-kitab suci atau kitab-kitab
spiritual-filosofis—seperti Yoga Sutra ini misalnya—mempunyai makna yang padat dan dalam.
Mereka tak dapat dipahami dengan baik, bila hanya mengartikan secara harfiah, seperti membaca
koran, atau buku-buku pelajaran sekolahan saja.
Mereka yang hanya berpegang dan terpatok pada arti harfiah, dan memperlakukan kitab-kitab
ajaran hanya seperti buku-buku pelajaran sekolahan, dapat dipastikan akan memperoleh
pemahaman yang amat dangkal, sebatas kata-kata saja. Cara pembelajaran seperti inilah yang
punya andil besar di dalam melahirkan sikap dogmatis, yang menjurus pada fanatisme. Dalam
masyarakat heterogen, global dan terbuka seperti sekarang ini, sikap-sikap dogmatis dan fanatis
bisa amat membahayakan masyarakat luas dan juga penganutnya. Bukti-bukti tentang fenomena
ini, dapat kita lihat dengan mudah di sekeliling kita.
Dalam proses pembelajaran secara mandiri ini, ‘mengetahui’ adalah yang mula pertama
diperoleh. Apa yang kita ketahui harus dimatangkan lagi sehingga kita menjadi benar-benar
‘mengerti’. Dari sinilah tumbuh pengertian-pengertian tentang apa yang diketahui tersebut.
Bersama dengan berjalannya waktu, mendengar, membandingkan, bertukar-pikiran atau
berdiskusi dengan mereka yang telah lebih dahulu mengetahui atau mengerti, apalagi
berpengalaman, secara akumulatif akan membentuk ‘pengertian’ yang semakin baik, lengkap
dan kian mendalam tentang apa yang kita pelajari. Melalui perenungan-perenungan serta
pembuktian-pembuktian seperlunya, pengertian kita lambat laun meningkat menjadi
‘pemahaman’. Nah....dengan semakin halus dan mendalamnya ‘pemahaman’ kita,
pengetahuanpun semakin mengembang dengan sendirinya. Yang pasti, dalam Yoga Sutra ini
Patanjali telah telah menegaskan bahwa ‘pengamatan langsung (pratyaksa), penyimpulan
(anumana) dan penegasan para bijak dan kitab-kitab ajaran (agama), membentuk suatu rangkaian
metode penalaran yang baik’.
Isvarapranidhana adalah penyerahan diri kepada Isvara (Tuhan), dengan menerima sepenuhnya
serta menjadikan-Nya sebagai satu-satunya perlindungan. Bahkan disebutkan, nanti dalam sutra
II.45, bahwa pencapaian Samãdhi merupakan siddhi dari praktek Isvarapranidhana. Menurut
Swami Satya Prakas Saraswati, ia merupakan suatu istilah spiritual-teknis khusus ciptaan
Patanjali, yang tidak disebut-sebut oleh Maharshi Kapila dalam Sankhya Darsana-nya.
Bilamana ketiganya diterapkan dengan baik dan benar, walaupun ia disebut sebagai “Yoga
Pendahuluan”, memberikan nilai manfaat spiritual yang tinggi kepada penekunnya. Ia
menumbuhkan sikap batin yang kokoh, mantap, untuk mulai melanjutkan ke jenjang-jenjang
berikutnya dengan pemahaman yang baik, dan tanpa disertai sikap-sikap dogmatis dan fanatis.
Iapun mengarahkan penekun menjauh dari sikap ekstrim atau mempertontonkan ke-ekstrim-an
pada khalayak.
Dalam Jñana Vahini, Bhagavan Sathya Narayana bahkan menyatakan bahwa melalui Tapa
(dalam arti luas) saja, seseorang dapat mencapai tingkat yang tertinggi. Bukan main memang
kekuatan yang dapat dihasilkan Yoga guna mencapai realisasi Diri-Jati dan Kebebasan.
Dipublikasikan di majalah Media Hindu No. 15 — Edisi Mei 2005.

   
Hambatan Utama Dan Kiat Memusnahkannya

Kebodohan atau kegelapan batiniah (avidya), egoisme (asmita), kelekatan atau kecintaan ragawi
(raga), kebencian (dvesa), dan kecintaan yang amat sangat pada kehidupan sehingga amat takut
mati (abhinivesa) adalah lima kekotoran batin penghambat (panca kléša). Avidya merupakan
‘bidang gerak’ bagi yang lainnya; apakah mereka terpendam, kemudian menghilang, teratasi,
ataupun malah lebih meluas.

Terhubung dengan yang tak-kekal, tak-murni, yang bukan-jiwa, yang dalam kondisi
menyedihkan, yang kekal, murni, kesadaran dari jiwa —yang sebetulnya berbahagia—juga jadi
terselimuti oleh avidya.
Ada dalam liputan kabut asmita, Sang Subjek tampak teridentifikasikan dengan kekuatan
penglihatan.
Terbenam di dalam kenikmatan dunia dan ragawi adalah kemelekatan atau kecintaan (raga);
(Sebaliknya) tersusupi oleh penderitaan sehingga menimbulkan sikap penolakan adalah dvesa.
Seakan-akan mengalir dengan sendirinya demikian, bahkan seorang bijak-pun masih bisa
mencintai hidupnya ini dan takut pada kematian (abhinivesa).
[YS II.3 - II.9]

Disebutkan bahwa avidya adalah cikal-bakal Samsara. Yang satu ini memang amat patut untuk
ditakuti oleh seorang penekun jalan spiritual, yang mendambakan kebebasan. Berpangkal pada
avidya inilah bermunculan kléša-kléša yang lainnya, yang pada gilirannya menjadi sumber dari
segala sumber penderitaan; persis seperti disebutkan bahwa, Avidya merupakan ‘bidang gerak’
bagi yang lainnya, apakah mereka terpendam, menghilang, teratasi, ataupun malah lebih meluas.
Sebaliknya, terhapusnya avidya oleh vidya, berarti meniadakan 'bidang gerak' dari kléša-kléša
yang lainnya, sehingga merekapun tiada menemukan pijakan dalam batin kita. Dalam konteks
ini, vidya dikelompokkan dalam dua kelompok besarkan yakni Paravidya (pengetahuan duniawi
atau yang umum sifatnya) dan Aparavidya atau Brahmavidya (pengetahuan spiritual-filosofis,
kebenaran atau ketuhanan). Penguasaan Paravidya menunjang pencapaian Brahmavidya, bila
diarahkan dengan baik. Ia juga mengkondisikan dan menunjukkan bukti-bukti konkret, yang
mudah dicerap dan dimengerti, atas nilai-nilai luhur dan kebenaran yang terkandung didalam
Brahmavidya. Oleh karenanyalah, Brahmavidya dapat pula disebut Dharmavidya.
Bukan saja sebagai penunjang dan pengkondisi, Paravidya juga merupakan bekal hidup pada
kehidupan ini. Ia memberi kemudahan-kemudahan dalam menjalani hidup. Apa yang kita sebut
sebagai sains dan teknologi adalah Paravidya itu adanya. Bukankah penguasaannya memberi
kemudahan-kemudahan dan kenyamanan fisik dan psikis bagi manusia? Akan tetapi, terhenti dan
mandek hanya sampai disana, bukan saja perlu disayangkan namun bisa berbahaya bagi
penguasanya. Peningkatan penguasaan Paravidya, mutlak perlu di-imbangi dengan dan
dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk meraih Brahmavidya. Ini sejalan dengan lontaran Albert
Einstein, yang terkenal: “Pengetahuan tanpa agama adalah pincang. Sedang agama tanpa
pengetahuan adalah buta.” ini. Dengan penuh keyakinan ia juga mengemukakan pandangannya:
“Setiap orang yang terlibat secara serius di dalam pencarian pengetahuan, menjadi yakin
bahwasanya, ada suatu jiwa termanifestasikan pada hukum semesta raya —jiwa yang secara luas
superior terhadap jiwa-jiwa manusia, dan sesuatu dimana di hadapan-Nya, kita beserta kekuatan
mutahir kita terasa sedemikian lemahnya."
Avidya melahirkan ke-aku-an semu (asmita); hadirnya asmita melahirkan suka-tidak-suka (raga-
dvesa); segala penilaian yang berdasarkan atas raga-dvesa, semakin mempertebal kabut avidya
dan memperkuat asmita. Dengan semakin kuatnya asmita, mempertebal kepemilikan atas segala
sesuatu, termasuk hidup atau kelahiran ini. “Kekayaan-ku, keluarga-ku, anak-ku, istri-ku, suami-
ku, tubuh-ku, diri-ku, hidup-ku....dll.”, demikianlah ungkapan mereka yang tebal dan kuat
asmita-nya. Dengan demikian abhinivesa berkembang dengan subur.
Namun jangan keliru, mengikis abhinivesa bukan berarti membahayakan atau menyiksa diri,
atau sebaliknya menyia-nyiakan kelahiran dalam jasad manusia ini dengan cara memanjakannya.
Kitab Sarasamuschaya menegaskan bahwa, hendaknya kelahiran dalam jasad manusia, yang
sangat berharga ini dimanfaatkan sebaik-baiknya. Dimanfaatkan untuk memupuk kebajikan dan
mencapai kebebasan. Bagaimana itu bisa dilakukan? Dalam sutra-sutra berikut akan kita
temukan penjelasannya.
Kiat Memusnahkan Hambatan-hambatan.

Semua itu dapat diatasi lewat perambatan yang berlawanan (pratiprasava) menuju
penghalusannya (suksmah).
Meditasi (dhyana) mengatasi pengaruh pusaran atau modifikasi (vritti)-nya.
Panca kléša menyebabkan pola-pola perbuatan yang menyebabkan derita dalam kehidupan ini
maupun kehidupan berikutnya.
Selama akar-akarnya semula masih ada, mereka mematangkan tumimbal-lahir ke dalam
golongan, kehidupan dan pengalaman makhluk hidup.
Mereka menyajikan pahala berupa ‘kebahagiaan’ atau penderitaan, yang disebabkan oleh
kebajikan atau kejahatan.
[YS II.10 - II.14]

Yang menarik untuk dicermati lebih jauh adalah apa yang disebut dengan istilah ‘pratiprasava’
atau mengatasi suatu kecenderungan melalui perambatan atau menghadirkan serta membiasakan
yang berlawanan dengannya. Ini dapat disebut sebagai suatu ‘metode tandingan’, metode untuk
memusnahkan yang buruk dengan menandinginya dengan yang baik, atau sejenis itu. Prinsip
atau esensi serupa diulang lagi nanti pada sutra II.33 oleh Patanjali dengan menyebutnya sebagai:
Pratipaksa Bhavana. Inilah metode praktis dalam yogasadhana yang diajukannya.
Bila panca kléša juga menghadirkan ‘kebahagiaan’ —seperti yang disebutkan dalam sutra
II.14.—mengapa mesti dihapus? Pertanyaan seperti itu bisa saja muncul dalam benak kita
bukan? Sesungguhnya, dalam sutra sebelumnya, secara implisit, pertanyaan ini telah dijawab.
Tujuan utama kita adalah terbebas dari lingkaran tumimbal-lahir yang tiada berkesudahan, yang
tiada lain dari rangkaian kesengsaraan dan penderitaan. Samsara, sesungguhnya juga terbaca
Sangsara; seperti juga Ahamkara dibaca Ahangkara, dan yang lainnya.
Kebahagiaan yang disebutkan tadi, yang merupakan pahala dari kebajikan adalah kebahagiaan
temporer dan semu, yang diperoleh dalam kehidupan berjasad (kasar maupun halus) berupa
kenikmatan-kenikmatan pemenuhan nafsu dan keinginan-keinginan yang tak terhitung
banyaknya itu; bukan kebahagiaan sejati, anandam.
Bagi seorang pertapa yang telah menghacurkan kesan-kesan pengalamannya (samskara) dan
mengembangkan daya memilih dan memilah-milah (viveka) memahami bahwa berbagai derita
(dukha) yang disebabkan oleh perubahan-perubahan (vritti) bentuk-bentuk pikiran dan perasaan
yang berlawanan (rwabhinneda, seperti: senang-susah, untung-rugi, sehat-sakit dsb.)
dan pengaruh tiga sifat (sattva, rajas dan tamas) adalah derita adanya.
Dukha yang belum muncul (anãgata), dapat dihindari.
Penghindaran dimungkinkan melalui peniadaan sebabnya;
sebabnya adalah ‘si pengamat’ (drastr) mengidentifikasikan-diri sebagai ‘yang diamati’
(drsyayoh).
[YS II.15 - II.17]

Dalam dua sutra terakhir dengan gamblang disebutkan bahwa, sebab dari dukha adalah adanya
kecenderungan manusia untuk mengidentifikasikan-diri sebagai ‘yang diamati’ (drsyayoh).
Kecenderungan inilah yang menimbulkan hasrat untuk memiliki atau ‘ingin menjadi’. Inilah
yang menggerakkan atau menjadi motivasi utama manusia untuk berbuat dan berbuat atau
menghindari perbuatan tertentu. Hampir semua aktivitasnya bersandar pada motivasi ini.
Semakin sempit lingkup manfaat aktivitasnya, semakin menguatlah asmita-nya.
Namun secara keseluruhan, secara lebih luas lagi, paparan dalam kedua sutra itu menunjukkan
satu prinsip dasar yakni ‘meniadakan akibat dengan cara meniadakan sebab yang
mendahuluinya.’ Inilah sesungguhnya pengejawantahan dari Hukum Kausalitas Universal yang
mendasari semua kejadian dan ciptaan. Paradigma ini akan lebih diperjelas lagi dalam sutra-sutra
berikut.
Dipublikasikan di majalah Media Hindu No.16—Edisi Juni 2005.

   
Musnahnya Identitas Diri Dalam Pencerahan

MUSNAHNYA IDENTITAS-DIRI DALAM PENCERAHAN.. Kejelasan bahwasanya kegiatan


(kriya), dan pemeliharaan kelangsungannya (sthiti) di dalam kegiatan mengamati, hanya
merupakan kehebatan dari bekerjanya elemen-elemen dasar (bhuta) dan sensasi-sensasi indriawi,
yang terbentuk dari sari-sari makanan (bhoga); makanya, pengalaman yang diperoleh dari
pengamatan itu hendaknyalah ditujukan hanya demi meraih Kebebasan.
Baik yang universal maupun tidak universal, yang pasti maupun yang tak-pasti, hanyalah
tahapan-tahapan spesifik dari bekerjanya tiga sifat-dasar, triguna (sattvam, rajas dan tamas).
Si pengamat sesungguhnya hanyalah matra persepsi murni (drsimatrah suddho); walaupun
demikian, pengamatan berlangsung melalui campur-tangan citra mental.
Padahal semua itu hanya dimaksudkan untuk pencarian Sang Diri-Jati lewat mengamati semesta
(drsyasãtma).
Walaupun semua itu musnah bagi Sang Yogi yang telah tercerahi, namun belum bagi
kebanyakan orang.
[YS II.18 - II.22]

Ditegaskan kembali disini bahwasanya setiap kegiatan yang dilakukan manusia melalui segenap
indria-indrianya hendaknya ditujukan bagi tercapainya Kebebasan itu sendiri—tentunya
termasuk kebebasan dari kungkungan indria-indria itu sendiri. Terlebih lagi kalau telah disadari
bahwa semua itu hanya kerja dari sintesa lima elemen-elemen dasar (mahabhuta) pembentuknya
yang kita peroleh dari sari-sari makanan dan minuman yang dikonsumsi, yang punya tiga sifat-
dasar—aktif, pasif dan netral.
Si pengamat sendiri bukan semua itu. Ia bukan pelaku. Ia matra persepsi murni yang tiada
tercemar. Sayangnya, di dalam melangsungkan pengamatan campur-tangan beraneka citra
mental atau kesan-kesan batin—yang terbentuk pada pengalaman-pengalaman sebelumnya—
menodai kemurnian persepsinya.
Terbitnya serta semakin dimatangkannya viveka merupakan pencerahan buddhi, yang hanya
dipengaruhi guna sattvam. Pencerahan ini merupakan ‘pencerahan awal’, sebagai pijakan yang
semakin berkembang lewat penguasaan jñana menuju semakin bersinarnya kebijaksanaan
(prajña). Semua ini mesti diperjuangkan secara mandiri, bukan secara kolektif atau massal.
Pencerahan yang dihasilkannyapun langsung dirasakan hanya oleh Sang Yogi sendiri. Oleh
karenanya pula disebutkan bahwa, ‘walaupun semua itu musnah bagi Sang Yogi yang telah
tercerahi, namun belum bagi kebanyakan orang’.
Tidak seperti Bhakti dan Karma Yoga yang memang dirancang sebagai praktek kolektif atau
massal, Raja Yoga jelas merupakan praktek pribadi yang mandiri. Pada tahap-tahap awal saja
sang sadhaka masih punya ketergantungan besar kepada Guru-nya ataupun saudara
seperguruannya; selanjutnya, secara berangsur-angsur mau-tak-mau ia mesti semakin mandiri,
hingga akhirnya sepenuhnya mandiri. Hanya sesudahnyalah beliau benar-benar mampu dan
berkompeten memberikan petunjuk dan bimbingan bagi awam di jalan kecerahan dan kebebasan
ini.
IDENTIFIKASI-DIRI DAN KEMUSNAHAN IDENTITAS-DIRI SEMU

Penyamaan (samyoga) antara orang yang memiliki kekuatan-kekuatan spiritual dengan


kekuatan-kekuatan spiritual (sakti) yang dicapainya itu sendiri, melahirkan ‘identitas-diri semu’
(swarupopalabdhi).
Femomena itu disebabkan oleh Avidya.
Sebaliknya, dengan tidak hadirnya penyamaan itu, musnah pulalah ‘identitas-diri semu’ ini;
inilah yang menghadirkan Kebebasan (kaivalyam) bagi si pengamat (drseh).
[YS II.23 - II.25]

Samyoga disini adalah identifikasi-diri terhadap berbagai hal atau segala sesuatu. Di permukaan
ia berupa sikap ‘mengakui’, yang juga butuh ‘pengakuan’ pihak luar. Bila identifikasi ini tertuju
pada pencapaian-pencapain dalam Yoga, nyaris pasti menimbulkan keangkuhan, atau setidaknya
rasa bangga-diri. Akibatnya, ke-aku-an (asmita) dibuatnya kian menjadi-jadi.
Identifikasi-diri seperti ini telah menjadi kebiasaan mental kita. Di kalangan pejalan spiritual,
bentuk halusnya adalah idenfikasi-diri pada Guru-nya. Fenomena ini didorong oleh rasa ‘ingin
menjadi’. Ia ingin menjadi ‘seperti’ Guru-nya. Walaupun ini teramat sangat halus —dan oleh
karenanya seringkali diwajarkan — hadirnya viveka memungkinkan sang penekun
menyadarinya. Bila belenggu halus dan kuat ini telat disadari, ia menjadi semakin halus dan
semakin kuat daya-ikatnya. Ia akan amat sulit dikendorkan, apalagi dilepas. Akibatnya,
kebebasan yang dicita-citakanpun tak kunjung datang. Ini sangat patut diwaspadai oleh setiap
sadhaka.

Dipublikasikan dalam majalah Media Hindu edisi 17 — Juli 2005.

   
Disiplin Moral Dan Jurus Ampuh Mengatasi Insting-Insting Destruktif

Sepuluh Disiplin Moral Sang Yogi Yama terdiri dari Ahimsa, Satya, Asteya, Brahmacarya, dan
Aparigraha; semuanya merupakan ‘sumpah-sumpah universal yang agung’. Sementara itu,
Sauca, Santosa, Tapa, Svadhyaya, Isvara pranidhana adalah Niyama. [YS II.30 - II.32]

Dalam sutra II.30 sampai II.32 belum dipaparkan makna praktis daripada Yama dan Niyama ini,
kecuali menyebutkan Yama sebagai ‘sumpah-sumpah (samaya) universal (sarvabhuma) yang
agung’, oleh karena tidak dibatasi oleh golongan kelahiran (jati), ruang dimana mereka lahir dan
hidup (desa) dan penjamanan (kala) serta merupakan mahavrata—praktek brata yang agung.
Paparan dari Yama disampaikan kemudian pada sutra II.35 sampai dengan II.39, dilanjutkan
dengan paparan Niyama pada sutra II.40 sampai dengan II.45.

Paparan dalam sutra-sutra ini, disampaikan justru sesudah pemaparan tentang viveka, tujuh
langkah penyatuan yang merupakan kemampuan dasar dan rambu-rambu. Jelas ini bukan suatu
kebetulan atau sekedar sebagai penunjang sistematika saja, mengingat Yama-Niyama merupakan
pondasi dari Yoga itu sendiri. Kokoh dan tegaknya mercusuar Yoga dimungkinkan oleh
kokohnya pondasi Yama-Niyama; demikian pula sebaliknya, melalui tahapan-tahapan
pencapaian dalam Yoga, Yama-Niyama semakin diperkokoh. Demi kokohnya, ia mesti
senantiasa diterapkan berdasarkan viveka, bukan atas dasar emosi atau rasa sentimental saja.
Justru emosi dan rasa sentimental inilah yang memancing kemunculan dan menjadi tunggangan
insting-insting destruktif dan ikut andil dalam mengotori citta, yang hendak dimurnikan kembali.

Pratipaksa Bhavana — Jurus Ampuh mengatasi Insting-insting Destruktif.

Guna mengatasi insting-insting yang destruktif sifatnya (vitarka), hadirkanlah sifat-sifat yang
berlawanan dengannya (pratipaksa bhavana). Insting-insting destruktif merupakan pemikiran-
pemikiran yang berdaya rusak tinggi (himsãdayah), apakah ia diperbuat, disebabkan oleh atau
disetujui, maupun dimotivasi oleh keserakahan (lobha), kemurkaan (krodha), ataupun
kebingungan karena mabuk (moha), apakah yang kwalitasnya halus (mrdu), menengah
(madhya), ataupun intens (adhi), semua mengakibatkan penderitaan dan semakin tebal dan
berkepanjangannya kabut kebodohan. Oleh karenanya, kembangkanlah sifat-sifat yang
berlawanan (pratipaksa bhavana) ini.
[YS II.33 dan II.34]

Dalam dua sloka ini amat ditekankan pratipaksa bhavana—metode mengembangkan sifat-sifat
atau kecenderungan yang berlawanan dengan insting-insting distruktif kita. Metode ini
dikembangkan atas fakta bahwa ‘pikiran hanya dapat memegang satu objek saja, pada suatu saat
yang sama’. Bentuk-bentuk pemikiran destrutif tidak punya kesempatan untuk mengisi pikiran,
bilamana pikiran telah terisi oleh pemikiran-pemikiran konstruktif, yang menunjang
pengembangan dan pemurniaan batin (citta-suddhi).
Agar secara instingtif tidak muncul pemikiran-pemikiran yang bersifat himsa misalnya, maka
hadirkan selalu yang berlawanan, yaitu ahimsa. Demikianlah kurang lebih prinsip yang dianut
oleh pratipaksa bhavana ini. Namun dalam praktek kehidupan sehari-hari, apakah ini
memungkinkan? Umumnya tidak. Insting-insting destruktif—seperti lobha, krodha atau dvesa
dan moha—pada kebanyakan orang umumnya terlanjur telah mengakar kuat, karena dibawa
sejak beberapa kelahirannya yang lampau.
Keserakahan (lobha) akan segera mengikuti bila sebentuk keinginan atau kegandrungan
terpenuhi. Terpenuhinya satu keinginan atau kegandrungan, langsung lebih menguatkannya. Dan
ini membangkitkan dorongan untuk terus-menerus memenuhinya lagi. Disinilah keserakahan
menemukan pijakan kokoh dan lahan suburnya. Bagai benih yang disiram dan diberi ‘pupuk
kenikmatan’ secukupnya, iapun tumbuh kian subur. Dalam proses itu, kemelekatan,
kegandrungan dan kecenderungan untuk selalu memenuhinya, terbentuk dan menguat secara
alami.
Bila itu telah terjadi, maka siapapun yang mengusik, apalagi menyerobot untuk ikut
menikmatinya, membangkitkan ketidak-berkenanan, persaingan, kebencian (dvesa) hingga
kemurkaan (krodha). Dalam bentuknya yang lebih halus, muncul kecemburuan, iri-dengki.
Sesuai dengan dua sifat alami manusia—guna rajas dan tamas—ini bagaikan tak terhindari.
Rangkaian proses di dalam inilah tanpa disadari, secara akumulatif, telah semakin mempertebal
kabut kemabukan dan kebodohan, moha. Tentu, dalam kondisi batin demikian, seseorang tak
akan segan-segan melakukan himsa-karma. Ia yang telah terjebak dalam siklus iterasi yang
terakumulasi ini, akan semakin jauh dari kesadaran, apalagi pengetahuan luhur (jñana). Oleh
karenanya, dukha-ajñana-ananta merupakan konsekuensi atau pahalanya yang paling logis.
Dari pengamatan yang jernih terhadap fenomena-fenomena empiris ini, serta mengingat sebagian
besar manusia cenderung masih membawa insting-insting destruktif karena kuatnya pengaruh
triguna, maka Yama dan Niyama diketengahkan disini dengan penekanan yang kuat. ‘Jauh lebih
baik menghindari ketimbang mengobati’. Mungkin atas dasar pola pikir seperti ini pula dua sloka
ini diposisikan sebagai penyela, menyusul paparan rinci dari Yama-Niyama.
Atas pola pikir yang sama, maka amat dianjurkan untuk mengisi terlebih dahulu pemikiran-
pemikiran yang konstruktif bagi pengembangan batin, sehingga pemikiran-pemikiran destruktif
tidak memperoleh kesempatan untuk menyusup. Pikiran yang terisi pemikiran-pemikiran
konstruktif akan membentuk bentengnya sendiri secara alami. Bilamana ini dikuatkan, secara
akumulatif, melalui pengulangan-pengulangan secara berkesinambungan, maka sattvam
berkembang dengan subur, mendesak, hingga mendominasi rajas dan tamas. Nah...kondisi batin
yang jernih inilah yang dapat diharapkan memberi dorongan kuat pada seorang penekun jalan
spiritual di dalam meraih keberhasilannya.

   
Mahavrata - Sumpah Universal Nan Agung

Dengan hadirnya kemantapan Ahimsa, rasa permusuhan tidak punya tempat berpijak
(vairatyaga). Dengan hadirnya kemantapan Satya, ketulusan di dalam menyerahkan kerja dan
hasilnya dimungkinkan (phalasrayatvam). Dengan hadirnya kemantapan Asteya, semua
‘kekayaan’ mendekat dengan sendirinya bagi Sang Yogi. Dengan hadirnya kemantapan
Brahmacarya, semangat spiritual yang kuat (virya) diperoleh. Dengan hadirnya kemantapan
Aparigraha, muncullah pemahaman yang baik tentang proses kelahiran manusia (janma
kathamta).
[YS II.35 - II.39]

Hasil-hasil nyata berupa perkembangan sikap batin lewat pelaksanaan kelima sumpah batin yang
diterapkan berupa disiplin mental atau moral-etik dipaparkan dalam kelima sutra ini. Ini
semestinya lebih menyadarkan kita kalau Asana disini bukan semata-mata sebagai olah tubuh
ataupun sikap-sikap tubuh tertentu saja, seperti yang umumnya kita pahami sebelumnya. Ini akan
kita bicarakan lebih lanjut pada ulasan terhadap sutra II.46 - II.48.

Di Indonesia, ia lebih dikenal dengan sebutan Panca Yama Brata, atau ada pula yang
memberinya sebutan Panca Sila, yang bersama dengan Panca Niyama Brata membentuk
Dasasila. Tidak membunuh atau menyiksa makhluk hidup, tidak mencuri, tidak berjinah atau
melakukan perbuatan asusila, tidak berbohong atau berkata-kata tidak jujur, dan tidak mabuk-
mabukan atau menghindari yang memabukkan merupakan lima ajaran moral-etik buddhis, yang
juga disebut Panca Sila.

Ajaran moral-etik adalah ajaran praktis, yang harus diterapkan langsung dalam kehidupan sehari-
hari. Mereka jelas bukan sekedar untuk dihafal. Seperti yang disebutkan dalam sutra II.30 dan
II.31, Yama mesti diposisikan sebagai mahavrata —sumpah universal yang agung.

Ahimsa dipraktekkan dengan tiada menyakiti baik lewat pemikiran, ucapan, maupun tindakan
fisik. Banyak yang memandang Gandhi sebagai ‘Nabi Ahimsa’, mengingat perjuangan
kemerdekaannya yang tanpa kekerasan fisik. Bahkan sebutan Mahatma —‘manusia yang berjiwa
besar’— diberikan oleh Rabindranath Tagore, pemenang nobel sastra dan penggubah “Gitanjali”
yang termasyur itu, kepadanya.

Ahimsa bukan saja merupakan pengkondisi ketentraman hati dari setiap pelakunya, namun ia
secara aktif ikut menjaga kedamaian dunia. Pertanyaannya kini adalah: Bagaimana melatih
Ahimsa atau penerapan praktisnya dalam kehidupan sehari-hari?

Berikut ini saya sertakan petunjuk-petunjuk dari Sri Swami Sivananda. Manakala pemikiran
untuk membalas dendam dan kebencian muncul, cobalah mengendalikan tindakan dan ucapan
Anda terlebih dahulu. Jangan sekali-kali ikuti godaan setan dengan mengucapkan kata-kata
kasar. Jangan lemah! Janganlah mencoba menyakiti orang lain. Bila Anda berhasil
mempraktekkannya dalam beberapa bulan, pemikiran-pemikiran negatif yang dimunculkan oleh
kebencian, tak akan punya kesempatan untuk menampakkan dirinya ke luar, merekapun akan
mati dengan sendirinya.

Awalnya memang amat sulit mengendalikan pemikiran-pemikiran serupa itu, tanpa upaya untuk
mengendalikannya terlebih dahulu. Pertama-tama kendalikanlah jasmani Anda. Ketika seseorang
memukulmu, berdiamlah. Tekan perasaanmu. Ikutilah perintah Jesus Kristus dalam ‘Kotbah di
atas Bukit’-nya: “Bila seseorang menampar sebelah pipimu, serahkanlah pipimu yang sebelah
lagi. Bila seseorang mengambil jaketmu, berikanlah ia kemejamu juga”. Tentu saja ini amat sulit
pada awalnya. Kesan-kesan tua yang terlanjur tersimpan untuk membalas, seperti ‘sebuah gigi,
bagi sebuah gigi’, ‘sebuah mata untuk sebuah mata’ dan ‘membayar dengan koin yang sama’,
akan menekan Anda untuk berontak. Namun Anda mesti menunggu dahulu hati Anda
mendingin. Refleksikanlah itu dan bermeditasilah terhadapnya.

Lakukanlah upaya mempertanyakannya atau upaya yang benar lainnya. Batin Anda akan
menjadi kalem. Sang musuh yang tadinya mencak-mencakpun akan menjadi kalem, karena ia tak
mendapat tantangan dari pihak Anda. Iapun akan tertegun dan mendingin, oleh karena Anda
tetap tegar layaknya orang suci. Demikianlah, Andapun akan memperoleh kekuatan di dalam diri
Anda. Jagalah prinsip itu. Cobalah selalu untuk melakukannya, walaupun awal-awalnya Anda
gagal. Milikilah sikap yang jelas dan nyata dari citra Ahimsa serta manfaatnya yang pasti.

Nah...setelah berlatih mengend alikan tubuh Anda, kini latihlah ucapan. Ambil sebentuk
kebulatan tekad, "Mulai saat ini saya tak akan mengucapkan kata-kata kasar kepada siapapun
juga". Awalnya Anda bisa saja gagal beratus-ratus kali. Tak mengapa. Secara lambat namun
pasti Anda akan memperoleh kekuatan itu. Periksalah impuls dari ucapan Anda. Latihlah Mouna
(diam).

Praktekkanlah Kshama (memaafkan). Dan katakanlah pada diri Anda: “Ia masih berjiwa
kekanak-kanakan. Ia lalai; itulah sebabnya ia melakukan itu. Biarlah saya memaafkannya kali
ini. Manfaat apa yang saya peroleh dengan membalas tindakannya itu?” Hentikanlah
kemelekatan pada ke-aku-an (Abhimana) perlahan-lahan. Abhimana adalah akar dari semua
penderitaan yang dialami manusia. Akhirnya mulailah memeriksa dan mengamati dengan
seksama bentuk-bentuk pemikiran —di benak Anda— yang bersifat menyakiti. Jangan sekali-
kali berpikir untuk mencelakai orang lain.

Diri-Jati menyelusupi semuanya. Semuanya adalah manifestasi dari Yang Esa. Dengan
menyakiti yang lain, sesungguhnya Anda juga menyakiti Diri-Jati Anda. Dengan melayani orang
lain, Anda juga melayani Diri-Jati Anda. Kasihilah semua. Layani semua. Jangan membenci
siapapun. Janganlah menyakiti siapapun melalui pikiran, ucapan dan tindakan atau prilaku Anda.
Cobalah selalu memandang bahwa Diri-Jati yang ada pada Anda juga ada pada semua orang.
Inilah yang akan menghadirkan Ahimsa.

Satya diterapkan melalui kejujuran dan senantiasa dalam jalur kebenaran. Setiap manusia punya
hati-nurani. Kita tak dapat membohonginya. Ia adalah saksi yang senantiasa hadir kemanapun
kita melangkah. Kata hati-nurani inilah yang dapat dipegang kejujurannya. Namun berhati-
hatilah! Ini seringkali amat mengelirukan, sehingga banyak orang menyangka kalau kilasan
emosi atau pemikiran sesaat sebagai kata hati-nurani. Ia jauh lebih dalam daripada itu.
Kecuali Ahimsa yang telah dikenal luas, Satyagraha adalah ajaran dan apa yang juga diterapkan
Gandhi. Ia berarti senantiasa bersemayam dalam kebenaran. Menurut Gandhi Satyagraha adalah:
perwujudan baru dari Sanatana Dharma (Ajaran Kebenaran Abadi), sama dengan kekuatan
kebenaran, kekuatan cinta-kasih dan kekuatan batin, dasar dari kehidupan bersama dalam
masyarakat.
Asteya diterapkan dengan tidak melakukan pencurian. Ia bahkan diterapkan sebagai tidak
menginginkan milik orang lain, apalagi berupaya merebutnya dengan cara-cara curang, bujuk-
rayu, tipu-muslihat, sampai-sampai melakukan pemaksaan fisik. Lebih jauh lagi, ia hendaklah
dimaknai sebagai ajaran moral-etik yang mendukung kehidupan tapa, mengekang nafsu-
keinginan.

Sri Sankarãcharya pernah berujar:


"Brahmacharya atau kesucian tanpa noda merupakan yang terbaik diantara semua upaya
penebusan dosa; seorang Brahmacharin, yang suci tanpa noda, bukan lagi sosok manusia, namun
sesungguhnya seorang dewa... Bagi pembujang yang menyimpan mani-nya melalui upaya besar
ini, apa yang tiada mampu ia capai di dunia ini? Menggunakan kekuatan yang terhimpun dalam
mani, seseorang akan menjadi seperti Diriku."

Brahmacarya juga diterapkan tidak sebatas hidup membujang atau tidak melakukan jinah; akan
tetapi dengan selalu mendambakan penyatuan dan berusaha untuk tetap melekat pada Brahman
Yang Agung. Dalam pengertian sempitnya, kehidupan membujang memang terbukti
menunjukkan manfaat besar di dalam mendorong kemajuan spiritual, seperti yang dipaparkan
oleh Sri Swami Sivananda dalam buku “Practice of Brahmacharya”. Beliau sendiri juga
menjalani hidup membujang. Namun beliau juga mengatakan bahwa, dalam pengertian yang
luas, ia berarti pengendalian mutlak terhadap sensasi-sensasi indriawi.

Mahatma Gandhi dalam “The Gandhi Sutra” —yang disusun oleh Prof. D.S. Sarma— juga
berpendapat sama tentang Brahmacarya. Kata Gandhi: “Menjalankan Brahmacarya menurut
pernyataan orang-orang sangat sukar, jika bukan mustahil. Jika kita coba menyelidiki apa
sebabnya orang mengatakan demikian, maka akan ternyata bahwa mereka memberikan arti yang
terlalu sempit pada istilah Brahmacarya ini. Mereka menyangka bahwa Brahmacarya hanyalah
penahanan nafsu-birahi saja. Saya rasa pandangan ini kurang tepat. Brahmacarya berarti
penguasaan seluruh indria. Orang yang berusaha menguasai hanya satu indria dan mengabaikan,
membiarkan indria-indria yang lainnya, segera akan insyaf bahwa usahanya itu tidak ada
gunanya samasekali....Brahmacarya berarti penuntun kelakukan kita dalam menemukan
Brahman (Hakekat Kebenaran Sejati)”. Inilah yang melahirkan kekuatan semangat (virya) untuk
berusaha terus-menerus. Ini terkait erat dengan Isvarapranidhana, berlindung dan menyerahkan-
diri kepada Tuhan, salah-satu poin terpenting dalam Niyama.

Aparigraha diterapkan sebagai tidak-rakus, tidak berlebih-lebihan di dalam menimbun harta-


benda dan menikmati kemewahan duniawi. Ia merupakan lawan-tanding dari lobha, dalam
penerapan metode pratipaksa bhavana. Ia juga berhubungan erat dengan Tapa. Sri Swami
Sivananda mengingatkan bahwa, bila ingin sukses dalam Yoga, maka terapkanlah Tapa dan
Brahmacarya.
Jadi, tampak jelas bahwa dalam penerapannya, Yama tak dapat dipisahkan begitu saja dari
Niyama —yang akan kita bicarakan belakangan. Keduanya setangkup, membentuk Dasasila,
yang secara kondusif membentuk sikap-batin luhur dan kejernihan hati, serta menjanjikan
kemajuan pesat dan keberhasilan dalam Yoga.

Sauca membangkitkan kemuakan terhadap jasad (savãnga) dan ke-engganan untuk mengadakan
hubungan fisik dengan jasad lain. Dengan pemurnian mental (sattvasuddhi) muncul keriangan,
daya konsentrasi, penaklukan indria, dan kesiapan untuk menerima pemahaman Sang Diri-Jati
(jayãttma darsana). Dari Santosa, kebahagiaan tertinggi (anuttama sukha) diperoleh.
Kesempurnaan kinerja organ-organ indria datang bersamaan dengan hancurnya kekotoran batin
melalui Tapa. Melalui Svadhyaya dicapai penyatuan dengan Istadevata.

Pencapaian Samãdhi merupakan siddhi dari praktek Isvarapranidhana.


[YS II.40 - II.45]

Enam sloka inilah yang menguraikan (terutama) tentang keampuhan dari pelaksanaan kelima
disiplin mental Niyama. Di Nusantara, pelaksanaan kelima disiplin mental atau ajaran moral-etik
ini dikenal sebagai Panca Niyama Brata.

Tapa, Svadhyaya dan Isvarapranidhana telah dipaparkan terdahulu dalam kaitannya dengan
Kriya Yoga [YS II.1 - II.2]. Sutra II.40, yang menyebutkan bahwa, Sauca membangkitkan
kemuakan terhadap jasad (savãnga) dan keengganan untuk mengadakan hubungan fisik dengan
jasad lain, bukan dimaksudkan sebagai anjuran untuk menarik diri dari masyakat atau pergaulan
sosial. Salah-tanggap seperti ini sangat mungkin terjadi. Ia lebih diarahkan pada pengikisan raga-
dvesa, nafsu dan rasa-kepemilikan dan kemelekatan. Jadi ia juga berkaitan erat dengan upaya
mempertipis egoisme itu sendiri.

Sauca adalah kesucian lahir-batin. Dalam sutra II.41 tadi disebutkan pengembangan batin atau
sikap-mental yang dicapai melalui Sauca sebagai:

· Sattvasuddhi —kemurnian daya pemilah,


· Saumanasya —keriangan hati,
· Ekagrata —keterpusatan pikiran yang kokoh,
· Indriajaya —penguasaan terhadap nafsu indriawi dengan baik, dan
· Atmadarsana —visi Sang Diri-Jati atau Atman.

Santosa adalah kepuasan-batin. Kepuasan-batin, tidak berlandaskan pada pemenuhan atau


memuasi dorongan indria. Kepuasan-batin tidak dicapai melalui penimbunan dan penguasaan
materi, karena materi tidak akan pernah mampu memuaskan siapapun secara batiniah.
Dicapainya Santosa membangkitkan kegairahan dan semangat baru dalam berbagai sendi
kehidupan—fisikal, mental maupun spiritual.

Secara keseluruhan, Niyama kait-mengait satu dengan yang lainnya; yang satu mendukung dan
menguatkan yang lainnya. Mungkin mengingat akan betapa fundamentalnya sikap-mental luhur
bagi seorang siswa spiritual, Shrii Shrii Anandamurti —gurubesar dari Ananda Marga— juga
menekankan penerapan 15 sila tambahan, disamping Yama-Niyama; masing-masing adalah:
· Bersifat mengampuni, memaafkan.
· Berjiwa besar.
· Dengan penuh kesadaran mengendalikan perilaku dan kemarahan.
· Tyaga, siap mengorbankan segalanya yang besifat pribadi untuk kepentingan ideologi.
· Mengendalikan diri sepenuhnya.
· Berpenampilan manis dan murah senyum. · Memiliki keberanian-moral.
· Dapat dijadikan panutan; dapat melakukannya sebelum menyuruh orang lain melakukan suatu
kegiatan tertentu.
· Membebaskan diri dari kebiasaan mencela, menyalahkan orang lain, ‘menusuk dari belakang’,
serta berpandangan ‘kelompokisme’.
· Dengan ketat melaksanakan Yama dan Niyama. · Apabila suatu kesalahan dilakukan tanpa
disengaja—karena kurang berhati-hati—dan kemudian disadari, maka kesalahan itu segera harus
diakui dan minta hukuman atasnya.
· Meski ketika sedang berhadapan dengan seorang yang sangat kasarpun, harus membebaskan
diri dari kebencian, kemarahan, dan kesombongan. · Bebaskan diri dari kebiasaan terlalu banyak
bicara atau beromong-kosong.
· Taat kepada disiplin yang sudah disusun dan disepakati.
· Miliki rasa tanggungjawab.
Wrhaspati Tattwa —yang memuat wejangan-wejangan Hyang Siva kepada Bhagawan
Wrhaspati, Guru para dewa—juga menyebutkan Dasasila tidak jauh berbedanya secara esensial
dengan Yama-Niyama. Hyang Siva menegaskan kepada Wrhaspati: “Usahakanlah jiwa itu
sebagai alat untuk melaksanakan Yoga-Samãdhi. Janganlah menunda-nunda, usahakanlah
sadhana itu. Yang disebut sadhana adalah Yogamarga yang didasari Dasasila. Dasasila itu
membangun Yoga....Dasasila merupakan penjaga Sang Yogiswara dalam Samãdhi-nya.
Disitulah Sang Yogiswara akan menemukan pengetahuan tentang Kebebasan dari pengaruh
Mayatattwa”.

Setelah mengikuti paparan panjang-lebar dalam lingkup Yama-Niyama yang disajikan dalam
banyak sutra oleh Patanjali, menyimaknya dengan seksama merenungkan arahnya, terlihat kalau
sadhaka diarahkan untuk mengembangkan Catur Paramãrtha —empat sifat atau sikap-batin luhur
keilahian. Walau paparan pengenalan pada ke-empat sikap-batin luhur keilahian tersebut hanya
dipaparkan sepintas pada sutra I.32 sampai I.34, namun mereka disebut sebagai pendukung
utama pemusnah derita (dukha). Penerapannya, mengkondisikan batin sedemikian rupa tenang,
mantap, penuh kegairahan serta mengeliminir halangan-halangan tak perlu di dalam
melaksanakan sadhana demi sadhana.

Disadari bahwa, pelatihan tubuh dalam asana juga amat menunjang kesehatan sang sadhaka.
Dalam perjalanan panjang, pendakian yang semakin curam dan licin yang dipenuhi onak dan
kerikil-kerikil tajam, seorang pendaki butuh ketahanan fisik maupun mental yang prima.
Ketahanan fisik mana pada gilirannya akan amat menunjang ketahanan mental-spiritual. Kondisi
prima inilah yang hendak dimantapkan lagi dalam paparan sutra-sutra terkait dengan Asana dan
Pranayama berikut.

   
Pelatihan Tubuh dan Pembentukan Sikap-Mental

Pelatihan Tubuh dan Pembentukan Sikap Mental. Sikap-tubuh (asana) dalam latihan
hendaknya mantap dan nyaman. Dengan lepasnya ketegangan tubuh dan mental, transformasi
batin dimungkinkan mencapai ketidak-terbatasan.
Darisana bentuk-bentuk batin dualistik (dvandva) tak lagi mengganggu. [YS II.46 - II.48]

Patanjali memang tidak secara khusus menyebutkan ataupun merekomendasikan sikap-tubuh


tertentu, namun banyak penekun dan Guru spiritual menemukan manfaat besar dari sikap-tubuh
padmãsana (sikap duduk bagai bunga lotus), siddhãsana (sikap duduk para orang suci),
swastikãsana (sikap duduk bagai simbol swastika) dan sukhãsana (sikap duduk sesuka hati,
namun tetap bersila dengan tulang-punggung tegak). Banyak yang menyebutkan bahwa
padmãsana-lah yang paling utama diantaranya. Yang perlu untuk digunakan pegangan dalam
duduk bermeditasi adalah, kepala, leher dan tubuh dipertahankan agar tetap dalam satu garis
lurus dan tegak. Tidak condong ke depan, ke belakang atau ke samping. Pilihlah satu sikap
duduk yang paling sesuai bagi Anda, dan jangan setiap kali merubah sikap duduk. Pertahankan
satu sikap duduk dengan mantap.
Secara khusus, Hatha Yoga —atau juga disebut Yogãsana—mengajarkan dan melatih semua
sikap-sikap tubuh, yang amat bermanfaat bagi kesehatan dan kelenturan tubuh, dan tidak kita
bicarakan secara khusus disini. Sikap-sikap tubuh ini sangat kondusif di dalam membentuk atau
menghadirkan sikap-mental yang sesuai dengan yang diperlukan dalam melaksanakan japa dan
langkah selanjutnya, yakni pranayama dan dhyana. Disamping kesehatan tubuh, pembentukan
sikap-mental merupakan tujuan utama dari laku asana ini. Bahkan Sri Swami Sivananda
menyatakan “bila tak dapat melaksanakan asana dengan sempurna, tidak akan dapat melakukan
dhyana dengan baik”.
Sikap dan kondisi tubuh, ekspresi wajah, diketahui sebagai punya kaitan erat sekali dengan
kondisi mental. Ambil contoh anjuran“keep on smiling” misalnya. Adakah landasan ilmiah —
selain empiris—dari anjuran ini? Ternyata ada; seorang psikolog Jerman, Fritz Stark, pernah
mengadakan penelitian ilmiah terhadap senyum, dalam kaitannya dengan pengkondisian batin
kita. Menurutnya, membuat senyuman dengan otot-otot wajah, menipu otak untuk merespon
dengan perasaan yang relevan. Pernyataan ilmiahnya ini, ternyata juga dikuatkan lagi oleh David
Lykken —pensiunan profesor psikologi dari University of Minnesota, Minneapolis USA—
dengan menyatakan “Emosi merupakan perpaduan antara perasaan internal dengan respons fisik
yang memberikan umpan-balik pada otak kita”.
Sebetulnya, hingga saat ini memang telah banyak bukti-bukti sebagai hasil empiris perseorangan,
perkumpulan Yogãsana maupun penelitian-penelitian ilmiah tentang nilai manfaat langsungnya
secara fisik maupun psikis. Asana tertentu —secara phisioterapis— dapat menyembuhkan
penyakit tertentu, bahkan Yogãsana diyakini juga sebagai Yoga Kesehatan. Kondisi tubuh yang
sehat, otot-otot yang lentur, tidak tegang, menimbulkan rasa nyaman dan mengurangi
kegelisahan mental. Dan ini amat membantu dalam tercapainya keterpusatan saat berlatih
meditasi (dhyana). “Kalau Anda dapat duduk hanya untuk satu jam saja, Anda dapat
memusatkan pikiran dan merasakan kesentosaan dan kebahagiaan”, papar Sri Swami Sivananda
dengan amat meyakinkan.
Sebagai pembentuk sikap-mental, dan bukan semata-mata sikap-tubuh layaknya senam dan
bentuk-bentuk olah-raga lainnya, asana sesungguhnya telah terbentuk ketika Yama-Niyama
benar-benar diterapkan di dalam kehidupan. Di Nusantara dikenal—apa yang disebut dengan—
sasana, disiplin mental dan prilaku yang pantas. Pemposisian asana sebagai tahapan ketiga—
setelah Yama dan Niyama—seakan-akan mengisyaratkan bahwa, ‘tiada sadhana yang terlaksana
dengan baik, tanpa didasari oleh sikap-mental yang baik’. Makanya, dalam yogasadhana, Yama-
Niyama tetap menjadi kunci keberhasilan. Pelaksanaan tiga aspek dari Niyama saja—yakni
Tapa, Svadhyaya dan Isvarapranidhana—sudah layak diperhitungkan sebagai melaksanakan
Kriya Yoga.

   
Regulasi Nafas Dan Pengendalian Daya Vital

Setelah Asana, memupuk perhatian murni pada pergerakan keluar dan masuknya daya-vital
(prana), yang disebut Pranayama, dilaksanakan. Prana keluar (bahya), masuk (abhyantra) dan
diam (stambha) dalam hening adalah perubahan-perubahan yang terjadi dalam pengaturan prana
menurut ruang, waktu, dan jumlah kalinya sedemikian rupa, hingga nafas terasa semakin dalam
dan semakin halus. Ada juga langkah ke-empat berupa penahanan di antara keluar dan
masuknya (bahya abhyantara). Dengan ini, tabir yang menutupi cahaya batin dapat disingkirkan,
sehingga batinpun siap dan layak memasuki Dharana. [YS II.49 - II.53].

Prana sendiri adalah daya-vital, daya-hidup; sedangkan yama adalah pengekangan, pengendalian
atau pengaturan. Secara harfiah saja, Pranayama berarti pengaturan daya-hidup itu sendiri, dan
jelas bukan sekedar mengendalikan keluar-masuknya nafas. Dalam Yoga Sutra ini, laku
Pranayama lebih diarahkan pada yang bersifat yang esensial —menyingkirkan tabir yang
menutupi cahaya batin— bagi persiapan untuk memasuki anga [baca: angga] atau tahap
berikutnya, yakni Pratyãhãra dan Dharana. Pranayama yang hanya dikaitkan dengan regulasi
nafas, termasuk dalam bidang pelatihan tubuh dalam sistem Hatha Yoga.

Swami Satya Prakas Saraswati di dalam “Patanjali RAJA YOGA”-nya, memang menyatakan
bahwa Pranayama berhubungan dengan sistem pernafasan, dimana sikap duduk Siddhãsana (kaki
dilipat dengan kaki kanan di atas kaki kiri) dipandang sebagai sikap duduk terbaik di dalam
latihan regulasi nafas ini. Dalam kitabnya ini, beliau bahkan memaparkan secara panjang-lebar
tentang prana dan Pranayama dalam dua bab tersendiri, dimana antara lain disebutkan bahwa,
prana adalah daya-vital yang tidak kelihatan, dan yang memungkinkan kita untuk bernafas. Prana
sudah ada pada kita sejak lahir dan tetap ada pada kita selama hidup dalam jasad ini. Ditegaskan
bahwa, prana bukanlah sekedar nafas atau yang terkait dengan bernafas saja, melainkan adalah
daya-vital di belakang segenap susunan sistem pernafasan dan segala aktivitas otot-otot dan
syaraf. Menurutnya, kata prana berasal dari urat-kata ‘an’, yang berarti bergerak, menghidupkan,
memasukkan kekuatan. Pikiran berfungsi karena adanya prana; dan dengan penguasaan prana,
pikiran bisa ditenangkan.

Bahkan, menurut Sri Swami Sivananda, prana bersama-sama dengan materi dan pikiran,
merupakan tiga manifestasi relatif dari Yang Absolut. Prana benar-benar merupakan sebentuk
modifikasi pikiran. Disebutkan bahwa prana adalah Kriya Sakti atau kerja tingkat tinggi. Materi
dihasilkan oleh prana. Prana merupakan kelanjutan dari pikiran. Materi berada di bawah Prana,
sedangkan Prana berada di antara materi dengan pikiran. Prana bersifat positif bagi materi,
namun negatif bagi pikiran. Pikiran bersifat positif, baik bagi prana maupun materi; namun
negatif bagi Kehendak —yang merupakan komunikator antara intuisi dengan pikiran.

Prasna Upanishad antara lain juga mengandaikan prana sebagai ruji dalam sebuah roda, dimana
semua didasarkan prana, didasarkan prinsip-kehidupan ini. Sri Swami Sivananda memaparkan
bahwa, Pranayama mengantarkan penekun untuk bertatap-muka langsung dengan prinsip-
kehidupan. Mengendalikan prinsip-kehidupan, memberi suatu pandangan mendalam pada
kekuatan yang memotivasinya.
Taittiriya Upanishad menyebut pranamaya kosa (selubung daya-vital) ini sebagai penghubung
antara annamaya kosa (selubung jasmaniah yang terbuat dari sari-sari makanan) dengan
manomaya kosa (selubung mental). Kitab Wrhaspati Tattwa menyebutkan tentang Dasaprana,
sepuluh prana, yang masing-masing daripadanya adalah: prana, apana, samana, udana, vyana,
naga, kurma, krakara, devadata dan dhananjaya. Penggolongan prana seperti ini juga ditemukan
pula dalam Yajurveda, Atharvaveda, Taittiriya Upanishad, Chandogya Upanishad,
Prasnopanishad dan Brhadaranyaka Upanishad. Lima prana —naga, kurma, krakara, devadata
dan dhananjaya— disebut sebagai prana minor di dalam Brhadaranyaka Upanishad.

Akan tetapi, bagaimana dengan latihan praktis Pranayama sendiri?

Seorang Guru pernah mengingatkan siswanya, “Gunakanlah nafasmu sebagai pegangan; dengan
demikian pikiranmu dengan mudah kamu pusatkan. Pranayama akan amat membantumu dalam
mencapai Samãdhi”. Sementara itu, Chandogya Upanishad mengilustrasikan: “Bagai burung
yang di-ikat dengan tali; setelah terbang kesana-kemari tanpa menemukan tempat tinggal, ia
akan kembali untuk beristirahat, justru pada tempat dimana ia terikat; begitu pula pikiran, setelah
terbang kesana-kemari tanpa menemukan tempat tinggal, akan kembali beristirahat pada nafas,
karena pikiran punya nafas sebagai pengikatnya.”

Tampaknya, praktek Pranayama mau-tak-mau mesti dikaitkan dengan praktek pengaturan


pernafasan. Secara garis besar, praktek pengaturan nafas terdiri dari empat tindakan dasar yakni:
(i) menarik nafas (puraka), (ii) menahan nafas dalam kondisi penuh (antah-kumbaka), (iii)
menghembuskan nafas hingga kosong (recaka) dan (iv) membiarkan kondisi kosong (bahih-
kumbaka).

Dalam hal ini, Wrhaspati Tattwa memberi petunjuk: “Tutup semua lubang yang ada dalam
tubuh, seperti: mata, hidung, mulut, telinga; udara, yang sebelumnya telah terisap, itu
dikeluarkan melalui ubun-ubun. Bila tidak terbiasa mengeluarkan udara melalui jalan itu, udara
dapat dikeluarkan melalui hidung, namun secara perlahan-lahan. Itulah yang disebut
Pranayamayoga.”

Praktek Pranayama menjadi ideal bila disertai Pranava Japa. Disini pengaturan nafas hanya
dalam tiga tahapan saja, dimana menahan nafas saat kosong (bahih-kumbhaka) dibiarkan saja
kosong tanpa pelafalan dalam hati (manasu). Lafalkan dalam hati suara A(ng) saat menarik nafas
(puraka), U(ng) saat menahan nafas (antah-kumbhaka) dan M(ang) saat menghembuskan nafas
(recaka).
• Bersamaan dengan puraka dengan manasu A(ng), bayangkanlah Tuhan sebagai Sang Maha
Pencipta yang penuh anugrah;
• Bersamaan dengan antah-kumbhaka dengan manasu U(ng), bayangkan Tuhan sebagai Sang
Maha Pemelihara yang penuh dengan Cinta-kasih;
• Bersamaan dengan recaka dengan manasu M(ang), bayangkan Tuhan sebagai Sang Maha Suci,
pelebur segala kekotoran batin dan dosa-dosa.
Bilamana dilakukan pengaturan dalam empat tahapan, dianjurkan untuk melafalkankan dalam
hati Gayatrimantram sebagai berikut:
• OM - Bhur - Bhvah - Svah.......bersamaan dengan puraka;
• Tat - Savitur - vare - niyam......bersamaan dengan antah-kumbhaka;
• Bhargo - devasya - dimahi.......bersamaan dengan recaka;
• Dhiyo - yonah - pracodayat.....bersamaan dengan bhih-kumbhaka.
Kedua praktek ini adalah yang paling praktis dan paling umum dilakukan oleh berbagai kalangan
dan tingkatan penekun. Baik Pranayama dan Japa tiga tahapan maupun empat tahapan, ada yang
menyertai dengan penghitungan bulir-bulir tasbih. Namun, bagi sementara penekun yang
merasakan ini sebagai kurang praktis dan menyolok perhatian [terutama kalau sedang berada di
tempat-tempat umum], bisa menggunakan nafasnya langsung sebagai tasbih. Yang manapun
yang dipilih, hendaknya disesuaikan dengan kondisi, kepentingan dan kebiasaan masing-masing,
agar ia dapat dipraktekkan dengan santai, tanpa ketegangan yang tak perlu. Ingat, tujuan
utamanya adalah membersihkan atau menentramkan vritti.

Sri Swami Sivananda menjelaskan bahwa, dengan mempraktekkan pengaturan nafas ini seorang
sadhaka bisa memperoleh umur panjang. Seorang lelaki sehat bernafas 14 sampai 16 kali dalam
semenit. Pengurangan frekuensi nafas melalui pelatihan, meningkatkan ketahanan paru-paru.
Konon, semakin rendah frekuensi nafas, semakin panjang umur makhluk hidup. Beberapa contoh
pada binatang menunjukkan hal ini. Anjing misalnya, frekuensi nafasnya mendekati 50 kali per
menit, dan umurnya hanya sampai sekitar 14 tahun saja. Sedangkan kuda yang frekuensi
nafasnya 35 kali per menit, umurnya bisa mencapai 29 sampai 30 tahun. Gajah yang bernafas 20
kali per menit, umurnya bisa mencapai 100 tahun. Sementara seekor kura-kura lebih rendah lagi
frekuensi nafasnya, yakni hanya 5 kali dalam semenit; oleh karenanya umurnya hingga 400
tahun. Yang lebih rendah lagi adalah ular; ular hanya bernafas 2 sampai 3 kali per menit. Ular
umurnya bisa 500 sampai 1000 tahun.

Sehubungan dengan kaitan antara frekuensi nafas dengan kehidupan spiritual, Sri Swami
Sivananda menyatakan bahwa, ‘semakin sedikit nafsu keinginan seseorang, semakin rendah
frekwensi nafasnya, demikian juga sebaliknya.’ Ia yang mempraktekkan japa, meditasi dan hidup
membujang serta mempelajari kitab-kitab spiritual-religius atau kitab-kitab suci, punya frekuensi
nafas yang lebih rendah dan punya konsentrasi yang lebih baik. Semakin rendah frekuensi nafas
seseorang, juga berarti semakin meningkatnya konsentrasi, dan lebih tenteram hidupnya.

Jadi, semakin jelas bahwa pengaturan nafas bukan saja berkait dengan kesehatan dan umur
seseorang, namun terbukti memang memungkinkan konservasi serta pengaturan daya-vital yang
baik sehingga amat kondusif dalam pengembangan batin. Yang paling perlu diperhatikan baik-
baik adalah, latihan Yoga —jenis apa saja— harus dibawah bimbingan seorang Guru Yoga yang
handal, berpengalaman dan terpercaya.Yang pasti, Yoga tak mungkin dipelajari hanya lewat
buku-buku.

   
Terminal Pendakian

Menarik pikiran dari objek-objek indria sehingga citta terjernihkan kembali sesuai
keberadaannya semula yang halus (svarupãnukãra), inilah Pratyãhãra.
Dari sini lahirlah penguasaan sempurna terhadap sensasi-sensasi indriawi.
[YS II.54 dan II.55]

Untuk yang satu ini, Wrhaspati Tattwa 54 memaparkan: “Seluruh indria ditarik dari objeknya,
sedangkan citta, buddhi dan manah tidak diberi kesempatan berkelana, dijaga oleh citta yang
suci. Itulah yang disebut Pratyãhãrayoga.” Tampak jelas disini kalau secara esensial praktis,
paparan ini sama dengan sutra tadi.
Dimaklumi bahwa Pratyãhãra merupakan langkah kelima, setelah Pranayama dan sebelum
Dharana. Namun, bila kita perhatikan kembali sutra sebelumnya, yang antara lain berbunyi,
“....sehingga batinpun siap dan layak memasuki Dharana”, sekilas tampak kalau setelah
Pranayama dapat langsung memasuki Dharana, dengan tanpa melalui Pratyãhãra terlebih dahulu.
Apa memang demikian?
Yang dimaksud Patanjali dengan Dharana disini, tidak semata-mata terkonsentrasikannya pikiran
pada satu objek sembarang. Oleh karenanya, dalam sutra II.53 disebutkan ‘siap dan layak
memasuki’ Dharana, dan bukannya ‘adalah’ Dharana itu sendiri.
Dalam praktek, dengan terpusatnya pikiran hanya pada nafas saat Pranayama, tak ada yang lain
lagi yang mengisi pikiran kecuali kegiatan bernafas itu sendiri. Dengan demikian, pikiran secara
otomatis tidak berkeliaran lagi di luar —di antara objek-objek dan sensasi-sensasi indria. Ini juga
merupakan praktek Pratyãhãra. Bedanya dengan Pranayama hanya pada objek yang masih
dipegang oleh pikiran. Kalau fenomena keterpusatan ini bisa dianggap sebentuk Dharana juga,
maka yang berbeda disini hanyalah objeknya.
Sesuai tabiatnya, pikiran mempunyai kecenderungan berubah-ubah dengan cepat, melompat dari
satu objek ke objek lainnya dengan amat cepat. Belum lagi kegandrungannya berkeliaran di
antara hal-hal duniawi serta langsung merespon stimulan-stimulan indriawi. Oleh karenanya,
sadhana-sadhana seperti yang termaktub dalam Yama-Niyama menjadi sedemikian pentingnya
untuk dijadikan sebentuk tradisi spiritual pribadi. Penarikan perhatian ke dalam umumnya tidak
dapat dilakukan secara sekaligus; ia dilakukan secara bertahap, dalam arti, pikiran harus
terkonsentrasi memegang hanya satu objek saja terlebih dahulu. Dan objek itu, memang
sebaiknya nafas, yang tak jauh dari tubuh. Inilah keuntungan besar yang diberikan oleh
Pranayama, dalam praktek.
Apa yang mula pertama dihasilkan oleh Pratyãhãra adalah semakin jernih dan heningnya citta.
Swami Krishnanda memberi istilah “the frontiers of Yoga” kepadanya, dan mengatakan bahwa
seseorang yang selalu mempraktekkan Pratyãhãra berada pada wilayah perbatasan dengan yang
tak-terbatas; disini pula ia memperoleh pengalaman supra-fisikal. Yang pasti, Pratyãhãra
melahirkan perhatian murni. Dalam telaga yang jernih, apapun yang ada dan terjadi di dalamnya
tampak jelas; akan teramati dengan lebih baik. Dalam praktek, kejernihan serupa inilah yang
amat ideal sebagai pijakan batin. Apabila perhatian murni ini diarahkan ke dalam batin —yaitu
untuk mengamati fenomena-fenomena di dalam, ia akan memberikan pemahaman tentang diri
dan batin itu sendiri, secara jauh lebih baik dan lebih cermat. Pemahaman yang dihasilkan
dengan cara seperti ini tentu lebih terpercaya.
Narada Mahathera, dalam “Buddhism in a Nutshell”, mengungkap fenomena serupa dengan
mengatakan: “Pikiran yang terarah ke luar melalui indria-indria merupakan penyebab timbulnya
segala macam nafsu keinginan, yang merupakan sumber penderitaan. Karena sebabnya telah ada,
maka timbullah penderitaan saat itu juga, seperti kebingungan, kekhawatiran, ketakutan,
kegelisahan, frustasi, stress dll.” Sejalan dengan itu, dalam “Vipassana Meditation Course”-nya,
Chanmay Sayadaw mengatakan bahwa teknik penutupan pintu-pintu indria —disebut indriya-
samatta dalam bahasa Pali— menyebutkan bahwasanya indriya-samatta merupakan faktor
teramat penting dalam ajaran Buddha, yang memungkinkan seseorang terbebas dari semua
penderitaan.
Bila kita cermati kembali, sampai dengan Pranayama, perhatian masih relatif terarah ke luar,
belum sepenuhnya terjun ke dalam telaga batin. Ia masih berkubang dan berkutat di luar, dimana
sedekat-dekatnya, ia baru mendekati nafas yang merupakan aktivitas ragawi. Perhatian masih
berkutat dengan objek-objek pikiran. Sejak tahap Pratyãhãra-lah perhatian baru mulai benar-
benar mengarah ke dalam, untuk kemudian semakin dalam lagi. Oleh karenanya,
sesungguhnyalah Pratyãhãra amat strategis dijadikan pijakan. Ia hendaknya dijadikan terminal,
benteng pemisah yang memisahkan perhatian yang berkiblat ke luar, yang hanya mengakibatkan
munculnya berbagai bentuk dan karakter pusaran pikiran dan perasaan. Darisini, pandangan akan
jauh lebih jelas, baik ke luar maupun ke dalam, bagaikan melihat ikan warna-warni, ganggang
dan tumbuhan air lainnya serta bebatuan di dasar ‘telaga batin’ yang tenang dan jernih.
Disinilah Sãdhana Pãda diakhiri oleh Patanjali. Dari Yama-Niyama hingga Pranayama
dipandang sebagai praktek dasar yang masih bersifat eksternal, belum langsung menuju sasaran.
Memasuki Pratyãhãra-lah penekun mulai mengarah atau mulai menapakkan kakinya dalam
pendakian spiritualnya, langsung menghampiri gerbang batin. Dharana, Dhyana dan Samãdhi,
yang sudah bersifat internal, dipisahkan dalam satu pãda tersendiri —Vibhuti Pãda.

   
Kekuatan dan Kesempurnaan

Paparan Tentang Kekuatan dan Kesempurnaan. Sebelum kita masuk pada sutra-sutra dalam
Vibhuti Pãda ini, ada baiknya saya kutipkan pengingatan Sri Swami Sivananda berikut: “Siddhi
terwujud dengan sendirinya, apabila sang Yogi telah mencapai kemajuan dalam pelaksanaan
Yoga-nya. Siddhi merupakan penghalang dalam jalan spiritual. Seorang penekun harus
menjauhkan diri darinya tanpa kompromi, dan tetap tegar langsung menuju tujuan, yaitu
Asamprajñãta Samãdhi dan Nirvikalpa Samãdhi. Spiritualitas yang sesungguhnya tak ada
kaitannya dengan daya-daya ini, mereka hanyalah hasil sampingan dari konsentrasi”.

PAPARAN TENTANG KEKUATAN DAN KESEMPURNAAN.

Sebelum kita masuk pada sutra-sutra dalam Vibhuti Pãda ini, ada baiknya saya kutipkan
pengingatan Sri Swami Sivananda berikut:
“Siddhi terwujud dengan sendirinya, apabila sang Yogi telah mencapai kemajuan dalam
pelaksanaan Yoga-nya. Siddhi merupakan penghalang dalam jalan spiritual. Seorang penekun
harus menjauhkan diri darinya tanpa kompromi, dan tetap tegar langsung menuju tujuan, yaitu
Asamprajñãta Samãdhi dan Nirvikalpa Samãdhi. Spiritualitas yang sesungguhnya tak ada
kaitannya dengan daya-daya ini, mereka hanyalah hasil sampingan dari konsentrasi”.

Samyama dan menjadikan Pratyãhãra sebagai Terminal.

Pikiran yang terkonsentrasi hanya pada satu objek tertentu adalah Dharana.
Dan aliran kesadaran yang terus-menerus pada objek tersebut adalah Dhyana, meditasi.
Bilamana cahaya kesadaran telah bersinar sendiri dalam kemurniannya (nirbhasam svarupa), dan
kesunyian (sunyam) dimasuki, inilah tercapainya Samãdhi.
Ketiganya —yang berlangsung dalam satu rangkaian menerus— sebagai hasil dari pengendalian
di dalam ini, disebut Samyama.
[YS III.1 - III.4]

Samyama adalah istilah spesifik dalam Yoga Sutra ini. Dharana-Dhyana-Samãdhi, yang
mengalir dan berlangsung dalam satu kurun waktu tak bersela, disebut Samyama. Bagi pemula,
masing-masing umumnya berlangsung sendiri-sendiri, yang satu diikuti oleh yang lainnya secara
susul-menyusul. Dharana segera dikuti oleh Dhyana, namun Samãdhi tak kunjung dicapai hingga
Dhyana yang telah tercapai memudar, turun kembali pada dharana untuk selanjutnya konsentrasi
buyar kembali. Kadangkala keterpusatan seolah-olah melaju tanpa kendali, dimana tak disadari
dengan jelas kapan tercapainya Dharana, kapan Dhyana ataukah Samãdhi oleh karena mengalir
begitu saja.
Samãdhi, seperti yang disebutkan dalam sutra III.3 tadi adalah tercapainya penyatuan dengan
objek yang dipegang (evãrthamatra), tidak ada lagi kata-kata —apakah itu berupa japa atau yang
lainnya—dalam keterpusatan itu (nirbhasam). Citta bercahaya sesuai kemurniannya, dan yang
hadir hanya kesunyian atau keheningan total (sunyam). Menurut yang berpengalaman, ketika
penyatuan itu benar-benar terjadi, tidak ada lagi objek meditasi, semuanya sirna bahkan —apa
yang selama ini kita sebut sebagai—kesadaran itu sendiri, namun tidak tertidur. Bila kondisi ini
berlangsung cukup lama, aktivitas biologis penekun seolah-olah terhenti samasekali, atau dengan
kata lain, raganya mengalami kematian klinis. Inilah yang disebut mati-raga oleh sementara
kalangan. Kondisi ini bisa berlangsung berjam-jam. Dan oleh karenanya, ada yang
memperingatkan agar berhati-hati, karena bisa ‘kebablasan’.
Akan tetapi Samãdhi yang dimaksudkan dalam kaitannya dengan Samyama ini, saya rasa bukan
yang seperti itu. Ia lebih dimaksudkan dengan penyatuan dengan objek meditasi (ekagrata),
dimana pusaran-pusaran ditenteramkan, sementara kesadaran masih tetap hadir dan terkendali.
Ini adalah Sabija Samãdhi; masih hadir objek perenungan. Ini akan ditegaskan kembali nanti,
pada pemaparan sutra III.8.
Sekedar sebagai perbandingan, di dalam “Samma Samãdhi”, Yang Ariya Ven. Sucino
menyebutkan 5 tahapan atau ciri dalam mancapai keterpusatan total (ekagrata), yaitu:
• Vitarka; mulai berusaha memegang objek.
• Vicara; objek mulai terpegang dengan kuat.
• Piti; bangkitnya kegiuran.
• Sukha; kebahagiaan yang sulit digambarkan saat menjalaninya.
• Ekagrata-ramana; batin terpusat, bersatu dengan objek.

Dalam paparan sutra III.9 - III.15 nanti, akan dipaparkan lebih jauh tentang tahapan-tahapan
transformasi internal (parinama) yang terjadi dalam batin sang penekun. Bila paparan ini
dicermati, ternyata dalam prakteknya ia amat berhampiran dengan kelima tahapan ini.

Walaupun pada fase awalnya, Samyama tak serta-merta dan dicapai dengan mudah, namun
upaya ini sudah merupakan suatu latihan yang sangat baik. Ia membentuk abhyasa —kebiasaan
dalam praktek spiritual. Untuk itu—seperti yang telah dianjurkan di akhir Sadhana Pãda—
‘berterminal’ pada Pratyãhãra akan amat membantu. ‘Berterminal’ disini berarti senantiasa
menjaga kejernihan batin, dengan membatasi diri dalam mengadakan kontak dengan objek-objek
luar. Secara praktis ini dilakukan dengan segera menarik perhatian kembali melalui Pranayama,
ketika ada tanda-tanda akan ngelantur. Disini Pranayama bukan lagi sekedar praktek mengatur
nafas, namun praktek pengendalian daya-vital (prana) sehingga mempunyai kekuatan cukup
untuk melaksanakan Pratyãhãra. Ia bertindak sebagai benteng daya-vital, yang melindungi
penekun dengan dunia objek. Bagaikan seekor penyu yang dengan sigap menarik anggota
badannya bila dirasa ada bahaya mengancam, demikianlah kewaspadaan penekun yang
berterminal pada Pratyãhãra.
Tentang rangkaian praktis antara Pranayama, Pratyãhãra dan Dhyana ini, menarik untuk
dicermati ungkapan dari Sri Sankarãcharya ini:
“Dengan Pranayama terbuanglah kekotoran badan;
dengan Pratyãhãra terbuanglah kekotoran akibat ikatan-ikatan;
dengan Dhyana tersingkirkan semua penghalang yang ada antara manusia dan Isvara”.
Menariknya, disini beliau tidak menyebut-nyebut Dharana. Setelah Pratyãhãra, beliau langsung
masuk ke dalam Dhyana (meditasi). Pola yang serupa juga ditemukan di dalam Wrhaspati
Tattwa dan Maitri Upanishad manakala membahas Sadangga Yoga. Tidak seperti urutan yang
dikemukakan oleh Patanjali, baik Wrhaspati Tattwa maupun Maitri Upanishad menempatkan
Dharana setelah Dhyana dan Dhyana segera menyusul setelah Pratyãhãra. Mengapa demikian?
Jawabannya hanya bisa ditemukan di dalam praktek langsung.

   
Memanifestasikan Cahaya Kebijaksanaan dan Tiga Bentuk Transformasi
Citta

MEMANIFESTASIKAN CAHAYA KEBIJAKSANAAN DAN TIGA BENTUK


TRANSFORMASI CITTA. Melalui penguasaan Samyama, termanifestasikan Cahaya
Kebijaksanaan (prajña'lokah). Demikianlah Samyama merupakan proses tiga tahap dalam Yoga.
Yang tiga —Dharana, Dhyana dan Samãdhi— ini sudah bersifat lebih internal (antarangam)
dibanding yang sebelumnya, walaupun masih lebih eksternal (bahirangam) dibanding Nirbija.
[YS III.5 - III.8]

Kebijaksanaan (prajña) hadir berangsur-angsur, namun pasti, bersama dengan semakin jernihnya
citta. Dalam sutra III.5 diingatkan kalau Samyama hendaknya dialokasikan pada pencapaian
Kebijaksanaan; bukan yang lainnya. Bilamana sesuatu yang lebih tinggi dan lebih internal
dimungkinkan dengan upaya yang sama, kenapa mesti mengupayakan sesuatu yang lebih rendah
dan lebih eksternal?
Samyama jelas lebih internal bila dibandingkan dengan Yama, Niyama, Asana, Pranayama dan
Pratyãhãra. Ia sepenuhnya fenomena internal, yang berlangsung di dalam tataran batiniah sang
penekun, dimana ia tidak lagi terkait dengan prana, apalagi dengan raga. Penarikan perhatian ke
dalam atau Pratyãhãra, telah terlaksana. Samyama dan pencapaiannya yang akan dipaparkan
dalam sutra-sutra berikut masih lebih eksternal dibanding Nirbija Samãdhi.
Tiga Bentuk dan Tiga Proses Transformasi Batin.

Nirodha Parinama adalah transformasi citta bersamaan dengan semakin majunya kemampuan
pengendalian pikiran berkat musnahnya insting-insting destruktif, baik yang sedang berlangsung
maupun yang datang menyusulnya. Alurnya berlangsung dengan kalem, layaknya suatu
kebiasaan saja.
Bila transformasi citta dihasilkan berkat keberhasilan dalam menyatukan bentuk-bentuk
pemikiran yang buyar dan beraneka-ragam itu, ini disebut Samãdhi Parinama.
Ekagrata Parinama adalah transformasi citta bila ia dicapai dalam kondisi terpusat dalam
kedamaian.
Melalui tiga prinsip transformasi (parinama) tersebut, perubahan terhadap bentuk, waktu dan
kondisi dari elemen-elemen sensasional kasar maupun halus, dapat diikuti dengan amat jelas—
apakah ketika alirannya tenang, aktif, maupun campuran.
Perbedaan bentuk transformasi seperti itu, disebabkan oleh perbedaan pada proses yang
melandasinya.
[YS III.9 - III.15]

Masing-masing penekun tentu mempunyai kekuatan atau kelebihan dan kelemahan atau
kekurangannya sendiri. Itulah bagian dari keberadaannya. Kekuatan dikembangkan dan
disempurnakan, sementara kelemahan dikuatkan dan kekurangannya ditambahkan. Pratipaksa
Bhavana, seperti yang telah disebut sebelumnya, adalah metode yang dianjurkan oleh Patanjali
untuk ini. Transformasi batin yang dicapai bisa mengambil tiga bentuk, sesuai keberadaan dari
penekun itu sendiri. Masing-masing bentuk proses transformasi tersebut tergantung pada
keberadaan dan landasan berpijak darimana penekun memulai pendakian spiritualnya ini.
Bila seorang penekun berpijak pada kemampuan memusnahkan pengaruh kesan-kesan mental
yang bermunculan serta insting-insting destruktifnya, maka ia menggunakan proses Nirodha
Parinama; bila ia kuat dalam berkonsentrasi, dalam menyatukan berbagai bentuk dan kebuyaran
pikirannya, maka ia menggunakan Samãdhi Parinama. Sedangkan bila ia lebih berkemampuan
pada memegang satu objek dengan kuat, sehingga tak ada tempat bagi yang lain kecuali objek
tersebut, maka ia disebut menggunakan proses Ekagrata Parinama. Setiap penekun dianjurkan
menggunakan bakat, kecenderungan dan kekuatannya masing-masing. Untuk itu, ia tentu mesti
tahu terlebih dahulu apa bakat dan kecenderungannya, dan apa kekuatannya yang dapat ia
handalkan untuk bertransformasi. Pratyãhãra mengantarkan penekun mengetahui semua itu.
Yang pasti, dalam perjalanan transformasi itu perhatian dan kewaspadaan harus senantiasa
terjaga alirannya. Segala fenomena dan proses transformatif internal teramati dengan baik,
cermat dan seksama. Sang penekun menjadi benar-benar memahami bagaimana sebetulnya
‘berlangsungnya proses perubahan internal’ tersebut.
Melalui Samyama terhadap tiga macam proses transformasi tersebut —nirodha, ekagrata dan
samãdhi parinama— diperoleh pengetahuan tentang masa lampau dan masa mendatang (atita-
anagata jñanam).
[YS III.16]

Nah...disini jelas disebutkan kalau yang menjadi objek Samyama proses transformasi itu sendiri,
sang penekun teranugrahi pengetahuan atau kemampuan untuk dapat menyeberangi tiga-masa.
Pada kesempatan terdahulu, saat membahas sutra-sutra terkait dengan Pratyãhãra telah
disinggung anjuran untuk menjadikan Pratyãhãra sebagai terminal. Terminal dalam arti suatu
pemberhentian, dimana kita istirahat saat datang dari atau akan menuju ke suatu tempat tertentu.
Dengan demikian, batin senantiasa dalam keadaan siaga penuh. Bila sewaktu-waktu harus
melaksanakan tugas Samyama, batin tak perlu mengumpulkan serpihan-serpihan pikiran yang
terpencar terlebih dahulu. Dengan berterminal pada Pratyãhãra, disamping kesiagaan di peroleh,
juga enerji vital terkonservasi dengan baik dan siap sewaktu-waktu digunakan sebagai daya
dorong roket Samyama.
Agar tak terlalu meruwetkan, bayangkanlah sebuah roket pelontar dan pengorbit sebuah satelit.
Ia butuh tenaga besar untuk melawan gravitasi dan keluar dari atmosfir. Untuk itu ia butuh
hidrogen cair dalam jumlah besar, yang ditempatkan dalam beberapa tangki secara tersusun
bertingkat-tingkat. Tidak semua tangki dibawanya ke luar-angkasa, yang tanpa bobot itu. Tangki
paling bawah dilepas bersamaan dengan tercapainya ketinggian tertentu, langsung disusul
dengan berfungsinya tangki berikutnya. Demikian seterusnya, transformasi terjadi silih-berganti
hingga satelit mencapai orbit-geostiosinernya. Bandingkan formasi roket yang berbeda-beda
pada setiap tahap ini sebagai proses parinama, dimana tangki bahan-bakarnya yang tersusun itu
sebagai prana; dan pesawat ulang-aliknya sendiri sebagai citta.
Nah....memandang dari orbit-geostiosinernya itu, pesawat —yang kini berfungsi bak satelit—
dapat mengamati dengan jelas apa yang terjadi di bumi dan sekitarnya. Disana ia juga bergerak
dengan amat ringan, karena disana tak bekerja gravitasi. Demikianlah kurang-lebih kita
membayangkan proses Samyama terhadap parinama ini, untuk lebih memudahkan.

   
Mengerti Suara, Maksud, Asal dan Kehidupan Lampau Makhluk Hidup

MENGERTI SUARA, MAKSUD, ASAL DAN KEHIDUPAN LAMPAU MAKHLUK HIDUP.


Suara, makna, dan gagasan yang melatarinya seringkali baur satu dengan yang lainnya sehingga
membingungkan; menganalisanya melalui Samyama menghadirkan pengertian terhadap suara
dari berbagai makhluk hidup.
Melalui mengamati dengan seksama ikhwal munculnya kesan-kesan mental (samskara),
kehidupan lampau dapat diketahui.
[YS III.17 dan III.18]

Seperti perumpamaan atau pengandaian sebelumnya, satelit dapat mengamati apa saja dan
bergerak kemana saja dengan mudah; demikian pula bila ia harus mengamati suara makhluk
hidup maupun kesan-kesan mental. Ucapan atau kata-kata adalah tuangan perasaan atau ekspresi
kondisi dan kesan-kesan mental lewat suara. Memahami hakekat dan bagaimana bekerjanya
perasaan dan pikiran, maksud, makna serta gagasan yang melatari setiap ucapan atau suara
mudah dipahami.
Dari kehidupan yang lampau, kita membawa benih-benih perbuatan (vasana), demikian pula
makhluk hidup lainnya. Vasana-vasana itu, dulunya atau pada kehidupan yang bersangkutan
merupakan kesan-kesan mental yang mendalam (samskara). Demikian juga samskara yang
terbentuk kini, bila belum tersalur dan habis enerji potensialnya dalam kehidupan ini juga,
menjadi vasana untuk kehidupan mendatang. Memahami kejadiannya demikian, dengan
mengamati samskara dalam kejernihan citta, dipahami juga vasana; dengan mencermati vasana
dan samskara melalui kejernihan citta akan dipahami kehidupan lampau maupun yang akan
datang makhluk-makhluk lain.
Mengetahui Maksud dan Asal suara halus.

Melalui Samyama (terhadap samskara ini), kondisi citta makhluk hidup diketahui;
tetapi itu belum mendukung untuk mengetahui isinya, bila ia tidak direfleksikan dalam
kehidupannya (melalui tindakan maupun ucapan).
Melalui Samyama terhadap wujud (rupa), daya sensorik yang terhalang karena mata tidak
mengadakan kontak-langsung dengan cahaya, dapat diketahui ‘nilai internalnya’ (antardhanam).
Dengan antardhanam inilah sabda dapat dipahami.
[YS III.19 - III.22]

Sutra III.19 - III.22 ini sebetulnya masih dalam suatu keterkaitan dengan sutra III.17 dan III.18,
sebelumnya. Secara implisit, penjelasannya sebetulnya telah disampaikan pada sutra-sutra
sebelumnya. Tambahan khususnya disini adalah, bagaimana bila hanya sabda yang terdengar,
namun sumber sabda tidak terlihat? Inilah yang diperjelas dalam sutra III.21 dan III.22.
Sabda dan rupa adalah dua unsur halus dari Panca Tanmatra—lima unsur halus yang membentuk
jasad manusia—disamping rasa, gandha dan sparsa tanmatra. Mereka ada pada setiap makhluk
berjasad. Mereka jugalah yang merupakan objek cerapan indria sensorik yang ada dalam setiap
makhluk hidup. Melalui kewaspadaan, keterpusatan dan kejernihan Samyama, daya asosiatif dari
sensasi luar dengan yang di dalam meningkat kepekaannya. Peningkatan daya asosiatif ini yang
didukung oleh ketajaman kelima indria sensorik inilah yang melahirkan kemampuan ekstra-
sensorik bagi sang penekun. Dengan kemampuan ini, sang penekun mampu mengetahui yang
tidak kasat-indria, ‘yang tersembunyi’, ‘yang rahasia’.
Apa yang sesungguhnya perlu kita ketahui dari sebentuk prilaku atau tindakan dan ucapan,
adalah maksud atau motifnya. Bukan sekedar apa yang kasat-indria saja. Bukankah kita
bertindak pun berucap berdasarkan motif atau maksud ini? Bukankah ini sebagai ‘nilai internal’
dari setiap tindakan dan ucapan kita. Namun, darimanakah maksud atau motif itu berasal? Bila
kita menyelidikinya ke dalam, akan kita temukan kalau mereka semua merupakan ekspresi dari
keinginan atau hasrat terpendam sehubungan dengan kesan-kesan mental yang terbentuk pada
pengalaman sebelumnya (samskara), yang juga membentuk ingatan (smrtti), yang mengisi
gudang ingatan.
Ada pula yang menterjemahkan sutra III.21 sebagai: “Dengan pelaksanaan Samyama pada rupa,
pada penundaan dari daya reseptif (daya yang memudahkan untuk menerima gagasan baru),
hubungan antara mata (dari si pengamat) dan sinar (dari badan) dipecahkan dan badan menjadi
‘tak terlihat’”. Menterjemahkannya demikian, mengakibatkan kesinambungannya dengan sutra-
sutra yang mendahului dan mengikutinya terputus, sehingga mengaburkan pengertian yang
dikandungnya.

   
Mengetahui Tanda-Tanda Kematian dan Mendulang Kemampuan dan
Pengetahuan Lainnya

Mengetahui tanda-tanda Kematian dan Mendulang Kemampuan dan Pengetahuan lainnya.


Kematian dan Kekuatan Maitri. Karmaphala ada dua jenis; yang sedang berlangsung dan yang
belum aktif; melalui Samyama terhadapnya, diketahui tanda-tanda dan saat kematian.

Mengetahui tanda-tanda Kematian dan Mendulang Kemampuan dan Pengetahuan lainnya.


Kematian dan Kekuatan Maitri. Karmaphala ada dua jenis; yang sedang berlangsung dan yang
belum aktif; melalui Samyama terhadapnya, diketahui tanda-tanda dan saat kematian. [YS III.23]

Seorang Yogi terbiasa mengamati dengan jernih melalui visi-spiritualnya; beliau dapat
mengetahui hampir segala sesuatu melalui Samyama. Semua itu hanyalah dampak dari proses
pemurnian citta yang telah beliau jalani; tidak ada sesuatu yang terlalu aneh atau gaib sehingga
tak terjelaskan dalam Yoga. Ia memang tampak aneh atau gaib di mata awam, karena awam
masih belum menyentuh tataran citta, dan masih bergelimang dalam kekotoran, insting-insting
destruktif dan dikacaukan oleh pusaran-pusaran berbagai bentuk pemikiran dan perasaan.

Sejauh-jauhnya yang dapat tersentuh oleh awam adalah tataran intelek atau kecerdasan (buddhi),
yang masih di bawah strata citta. Bhagavad Gita menjelaskan bahwa, yang lebih tinggi dari
kemampuan semua indriya adalah manas, yang lebih tinggi dari kemampuan manas adalah
buddhi; dan citta mengatasi semua itu.
Melalui rasa persahabatan dan welas asih universal (maitry), muncul kekuatan (balani). Melalui
kekuatan ini diperoleh kekuatan spiritual yang lebih besar lagi. [YS III.24 dan III.25]

Maitri, welas asih universal, disini diketengahkan sebagai salah-satu contoh. Sesungguhnya, baik
maitri, karuna, mudhita maupun upeksa merupakan empat kekuatan dahsyat. Sifat-sifat luhur
kedewataan ini juga merupakan kekuatan-kekuatan luhur kedewataan. Inilah jenis kekuatan yang
amat bermanfaat bagi Sang Yogi maupun bagi makhluk lain dan alam sekelilingnya. Dalam
ajaran Buddha, mereka disebut Brahma Vihara. Dapat dibayangkan, betapa besar kekuatan dari
makhluk hidup yang bersemayam di alam penciptaan itu. Jadi memang dapat dipahami bila
mereka disebut Empat Kesempurnaan (catur pamartha) dalam Hindu, yang layak dikembangkan
oleh setiap orang.
Mendulang Kemampuan dan Pengetahuan yang bermanfaat. Melalui pancaran cahaya, yang
halus, yang tersembunyi dan yang jauh, dapat diketahui. Pengetahuan tentang semesta diperoleh
lewat Samyama pada matahari (surya), lewat Samyama pada bulan (candra), pengetahuan
tentang tata-surya diperoleh; lewat Samyama pada bintang-kutub (dhruva), pengetahuan tentang
peredaran benda-benda langit diperoleh; lewat Samyama pada pusar (nabhi cakra), diperoleh
pengetahuan tentang metabolisme tubuh; lewat Samyama pada rongga kerongkongan (kantha),
diperoleh pengetahuan dan kekuatan menahan lapar dan haus; lewat Samyama pada pusat
gravitasi (kurma nadi), diperoleh kemantapan pada badan; lewat Samyama pada cahaya di ubun-
ubun (murdha), diperoleh kekuatan persepsi langsung seperti yang dipunyai oleh para siddha[1];
lewat Samyama pada intuisi (pratibha), diperoleh pengetahuan tentang segala sesuatu; lewat
Samyama pada jantung (hrdaye), diperoleh pengetahuan tentang berbagai kondisi citta.
[YS III.26 - III.35]

Sutra-sutra ini memberi paparan contoh-contoh dari keampuhan Samyama serta dampak
internalnya bagi peningkatan Sang Yogi. Terhadapnya, ada yang menterjemahkan secara
eksternal. Memang bagi eksternalis, kekuatan Samyama bisa diarahkan pada pertunjukan
kekuatan-kekuatan gaib; oleh karenanyalah Patanjali juga mengingatkan lewat sutra III.38
(mendatang), tentang bahaya dari eksternalisasi itu.

Menurut Swami Satya Prakas, kekuatan-kekuatan itu dapat menyeret penekun menuju kejatuhan
yang fatal. Sementara Swami Sivananda wanti-wanti mengingatkan, sampai-sampai beliau
secara khusus menurunkan tulisan: "Beware of Siddhis". Sebaliknya, beliau amat menekankan
pada vairagya, pelepasan bebagai kemelekatan indriawi dan keduniawian. Seorang Yogi, yang
penulis kenal dengan baik, juga mengingatkan bahwa permainan siddhi seperti itu, hanyalah
‘mainan anak-anak’, yang menghambat kematangan dalam Yoga, bahkan menjerumuskan dan
menyesatkan. Menjelang mengakhiri Pãda ini, kembali kita akan diingatkan pada kejatuhan Sang
Yogi sebagai akibat membangga-banggakan posisi tinggi yang telah diraihnya.

Beberapa hasil dari Samyama tadi mungkin saja memang diperlukan oleh Sang Yogi untuk
mengatasi halangan-halangan fisik, seperti lapar dan haus atau untuk memahami metabolisme
tubuh dan menjaga kesehatan beliau, memberdayakan dan meningkatkan kemampuan daya-vital
ataupun pengetahuan-pengetahuan lain yang bermanfaat bagi beliau dan orang banyak.
Mengetahui kondisi citta, meningkatkan dan mengembangkan persepsi dan intuisi misalnya,
sudah barang tentu amat kondusif sekaligus bermanfaat bagi Sang Yogi guna memcapai
kesempurnaannya. Namun jelas semua itu bukan untuk dipamerkan atau guna menarik perhatian
khalayak demi popularitas dan menarik pengikut ataupun demi kepentingan pribadi lain
berdasarkan ke-aku-an. Justru hasrat-hasrat egoistis serupa inilah mesti dikikis.

[1] Para Siddha adalah beliau-beliau yang teranugrahi—baik berupa bakat bawaan maupun
berkat upayanya sendiri, atau kombinasi dari keduanya—siddhi-siddhi, kekuatan-kekuatan
adikodrati.

   
Pengembangan Kemampuan Intuitif dan Bahaya Siddhi-siddhi

Antara Sattva dan Purusa benar-benar sulit dibedakan; sementara itu segenap pengalaman
dikualifikasikan dalam kerancuan pemahaman seperti itu;
melalui Samyama pada manfaat Purusa diperoleh pengetahuan tentang Purusa, sehingga dapat
dipilah dengan yang bukan Purusa.
Darisana pula pendengaran, penglihatan, sentuhan, kecapan dan penciuman intuitif dilahirkan.
[YS III.36 dan III.37]

Tak banyak yang perlu dikomentari dari kedua sutra ini, kecuali pengembangan intuisi lewat
Samyama dan penegasan lagi bahwasanya guna sattvam bisa sangat mengelirukan dengan
Purusa. Purusa jernih, transparan, netral, tak terjangkau oleh nalar atau kecerdasan (buddhi)
manusiawi yang tanpa sifat; sedangkan sattva adalah salah-satu sifat atau kekuatan luhur dari
Prakriti. Sattva ditandai dengan pertimbangan-pertimbangan yang mengarah pada kebajikan,
moralitas dan pengetahuan suci. Dialah yang mewarnai citta, dan citta yang terwarnai olehnya
disebut buddhi.
Dalam Samãdhi Pãda, ini telah disinggung. Ia merupakan ajaran Sankhya yang juga diadopsi
oleh Yoga. Memang, pengetahuan tentang itu hanya lewat mempelajari dari buku-buku
kemudian menghafalkannya, bukanlah Yoga. Yoga mengantarkan pada penyelaman jauh lebih
dalam. Ia mengantarkan pada pengalaman langsung sehingga Sang Yogi memahami dengan
merasakannya secara langsung.
Siddhi-siddhi, betapapun pentingnya itu dipandang dari sudut duniawi, merupakan penghalang-
penghalang tercapainya Samãdhi.
Dengan melepaskan penyebab dari keterikatan (bandha karana) dan melalui pengetahuan tentang
penetrasi, citta bisa memasuki tubuh lain.
[YS III.38 - III.39]

Seperti juga telah diingatkan oleh Sri Swami Sivananda pada awal bagian ini, sutra III.38 ini
menegaskan lagi bahaya dari siddhi-siddhi ini. Sutra III.5, sebelumnya telah sejak dini
mengingatkan tentang kemana Samyama hendaknya diarahkan.

Bagi siddhi-siddhi ini Swami Satya Prakas Saraswati malah memberi penegasan kalau semua
hasil-hasil gaib itu tidak ada hubungan apapun dengan Yoga. Seorang Yogi tidak mencari siddhi,
kesaktian atau berbagai kekuatan gaib lainnya. Siddhi malah merupakan godaan dan seorang
Yogi harus amat waspada agar jangan sampai tergoda. Ini akan menyeret dan
menggelincirkannnya ke bawah, sehingga lenyaplah segala apa yang telah dicapainya.

Kemampuan-kemampuan Eksternal Dan Internal yang diperoleh dari Samyama.

Dengan menguasai Udana, air, lumpur, duri, dan yang lainnya tidak dapat menyentuh;
kematianpun teratasi.
Dengan menguasai Samana, kerja api pencernaan diketahui.
[YS III.40 dan III.41]

Apa yang dipaparkan dalam dua sutra ini merupakan pencapaian eksternal; dapat dikatakan tidak
terkait langsung dengan pencapaian tujuan akhir. Dengan tersingkirkannya abhinivesa, sirnalah
ketakutan akan kematian. Jadi, bagi Sang Yogi itu tak perlu diatasi lagi. Dengan berusaha
mengatasinya, malah mencerminkan bahwa Sang Yogi belum berhasil menghancurkan
abhinivesa-nya. Sesungguhnya Sang Yogi tak takut mati, disamping beliau telah mengetahui ke
alam apa beliau terlahirkan, atau bahkan tidak terlahirkan kembali di alam manapun sesudah ini.
Jangankan beliau sendiri, orang lain atau makhluk lainpun dapat beliau ketahui asal dan tujuan
kelahirannya.

Mungkin paparan ini dimaksudkan Patanjali sebagai peringatan saja; artinya bila itu dicapai,
berarti Samyama yang dilakukan sudah baik dan benar langkah-langkahnya. Jadi sejenis rambu-
rambu saja dalam perjalanan sadhana. Prana, Apana, Samana, Vyana dan Udana adalah lima
daya-vital utama yang disebut juga Panca Prana, seperti yang pernah disinggung sebelumnya.

Dengan samyama pada telinga-angkasa (srotra akasa), datang pendengaran dewata atau
pendengaran bijak (divya srotra).
Samyama pada hubungan antara tubuh-angkasa (kaya akasa), datang keringanan bagai kapas dan
kemampuan menjelajahi angkasa.
Samyama pada kesadaran yang di luar jangkauan kecerdasan, mahavideha dicapai; dengan
begitu tabir penutup sinar kesadaranpun hancur.
[YS III.42 dan III.44]

Ada dua pencapaian bersifat internal yang menarik disampaikan disini; masing-masing adalah
divyasrotra dan mahavideha. Divyasrotra adalah pendengaran dewata. Kemampuan ini
memungkinkan Sang Yogi untuk mendengar dan mengerti bahasa segenap makhluk hidup.
Beliau juga mengerti bahasa yang digunakan oleh para dewa dan Tuhan sendiri di dalam
memberikan petunjuk, bimbingan dan pengajaran. Yogi dengan kemampuan seperti inilah yang
mampu menerima wahyu ilahi.
Mahavideha adalah kemampuan tingkat tinggi dimana Sang Yogi telah sepenuhnya mengatasi
badan fisikal, daya-vital dan mental. Mereka telah sepenuhnya takluk dan ada dalam kekuasaan
Sang Mahavideha, yang adalah sosok kesadaran ilahi. Disebutkan juga bahwa triguna —
kekuatan yang ada pada dan menguasai setiap wujud— telah kehilangan daya cengkeramnya
bagi beliau. Beliau bisa dengan mudah berganti-ganti mengenakan wujud, berganti dari wujud
yang satu ke wujud yang lainnya. Alam wujud telah beliau tundukkan karena kini beliaulah
pengejawantahan dari Hyang Purusa itu sendiri. Bagi beliau tak ada sesuatupun yang tidak
diketahui.

Melalui Samyama pada materi kasar (sthula), bentuknya, kehalusannya, kandungannya dan
manfaatnya, dunia material teratasi (bhuta jaya).
Kemudian daripadanya tercapai anima dan yang lainnya (mahima, laghima dsb.), kesempurnaan
tubuh dan kesempurnaan ketahanannya yang bersifat prinsipil.
Wajah yang indah, keanggunan, kekuatan, dan kekerasan bak guntur merupakan kesempurnaan
tubuh.
[YS III.45 - III.47]

Pencapaian-pencapaian eksternal seperti yang banyak dipaparkan dalam Pãda ini, hendaklah
dimaknai sebagai yang memberi kemudahan-kemudahan bagi seorang Yogi di dalam mencapai
tujuan akhir. Halangan-halangan atau hambatan-hambatan yang bersifat jasmaniah atau
keduniaan mungkin saja dialami oleh sang Yogi dalam pendakian spiritualnya karena
karmavasana dari kehidupan lampaunya yang tak dapat ditolak. Disinilah kemudahan-
kemudahan ini akan bermanfaat sebesar-besarnya demi kesempurnaan jñana, viveka dan prajña
dari Sang Yogi.

   
Posisi Sentral Viveka dan Vairagya Di Dalam Pemanfaatan Samyama

POSISI SENTRAL VIVEKA DAN VAIRAGYA DI DALAM PEMANFAATAN


SAMYAMA.Pemanfaatan Samyama dalam Pencapaian-pencapaian Internal yang kondusif.

Samyama pada daya pengenal (grahana), wujud keakuan itu sendiri (svarupa asmita), analisis
terhadapnya, keputusan yang diambil berdasarkan padanya dan kegunaannya, menghasilkan
kemampuan mengatasi sensasi-sensasi indriawi.
Melalui kecepatan berpikir dan ketajaman daya pengenal non-indriawi itu, Pradhana terkuasai
(pradhana jaya).
[YS III.48 dan III.49]

Pencapaian-pencapaian ini tentunya semakin meneguhkan Pratyahara, untuk selanjutnya


menyempurnakan viveka sekaligus vairagya. Dua pilar yang maha penting dalam mendukung
kemajuan-kemajuan menuju tujuan akhir. Disini tampak kemiripan antara mahavideha —yang
diuraikan sebelumnya— dengan pradhanajaya. Pada prinsipnya, triguna telah tunduk pada
keduanya.
Ada disebutkan dalam Sutra Pitaka bahwa Yang Arya Ananda — salah seorang siswa utama
Sang Buddha— mempunyai ingatan yang amat kuat dan amat cerdas. Hampir semua sutra-sutra
dalam Tri Pitaka berasal dari ingatan beliau. Sutra-sutra umumnya dibuka dengan kata-kata
beliau: “Seperti yang pernah saya dengar......dst.” Konon beliau mempunyai kecepatan berpikir,
mencerap dan menyampaikan pemikirannya 7 kali lebih cepat dari manusia yang cerdas;
sementara itu, manusia yang cerdas memiliki kecepatan berpikir, mencerap dan menyampaikan
pemikiran 7 kali lebih cepat dari manusia normal. Jadi, Ananda 7 x 7 kali lebih cepat dalam hal
ini dari manusia biasa.
Makna sentral Viveka dan Vairagya.

Hanya melalui daya-pemilah antara sattvam dan Purusa itulah hadir kemahakuasaan dan
kemahatahuan.
Melalui ketidak-terikatan, bahkan padanya (vairagya), benih belenggu (dosa bija) hancur, disusul
dengan tercapainya Kaivalya.
Bila dalam pencapaian-pencapaian yang tinggi ini Sang Yogi masih terikat pada kebanggaan atas
kemampuannya itu, bisa menyebabkan kejatuhan.
[YS III.50 dan III.52]

Vairagya juga diartikan ketidak-berpihakan pada segala modifikasi dan transformasi Prakriti.
Sattvam adalah salah-satu modifikasi itu. Secara singkat ia dapat diartikan sebagai ‘ketidak-
berpihakan’ atau ‘ketidak-terikatan’. Umumnya kita lebih berpihak pada berbagai tuntutan
jasmaniah. Kecenderungan ini jualah yang menguatkan lagi sifat egoistis kita. Diri, bagi kita,
umumnya ditujukan pada jasad ini. Kita terbiasa mengidentifikasikan-diri pada jasad ini. J.
Krishnamurti amat menekankan penolakan terhadap pandangan keliru ini. Beliau mengingatkan:
“Janganlah keliru memandang badan saudara itu sebagai saudara sendiri; demikian juga badan
astral, maupun badan mental. Masing-masing badan itu akan berbuat seakan-akan dia-lah
manusia, untuk memperoleh apa yang diperlukannya. Hendaknyalah saudara mengenalnya
semua, dan kenalilah bahwa saudara sendiri sebagai yang berkuasa atasnya....orang yang tidak
sadar berkata pada dirinya: ‘Saya perlu barang-barang ini dan saya mesti mengupayakannya’.
Akan tetapi orang yang sadar, berkata: ‘Yang mempunyai keinginan itu bukanlah aku, ia harus
menunggu sebentar’.”
Lebih jauh lagi, J. Krishnamurti mengingatkan: “Badan ini adalah khewan kendaraan saudara,
kuda yang saudara kendarai. Oleh karenanya, ia haruslah saudara pelihara dengan baik, dan beri
perawatan secukupnya; jangan disuruh bekerja kelewat batas; saudara harus memberinya
makanan makanan dan minuman yang bersih secukupnya, jauhkan dari ‘percikan lumpur yang
sekecil-kecilnya’. Oleh karena tanpa mempunyai badan yang suci dan sehat, saudara tidak akan
dapat melaksanakan ‘tugas persiapan’, tak akan tertahan oleh saudara tekanan yang terus-
menerus itu. Akan tetapi, hendaknya saudaralah yang menguasai badan itu, bukan badan itu yang
menguasai saudara”.
Terkait dengan kejatuhan seorang yogi yang disebabkan oleh kebanggaan-diri semu ini, berikut
dikutipkan tulisan pendek, sebagai pengingatan terakhir, dari Sri Swami Sivananda yang amat
mengena.
“Seseorang bisa saja mengabaikan dan meninggalkan istri, anak-anak, kekayaan dan semua yang
lainnya, namun amat sulit dan langka yang mengabaikan ‘nama dan kemasyuran’-nya. Pratishta
memantapkan ‘nama dan kemasyuran’. Ini merupakan hambatan besar dalam merealisasikan
Kesadaran Tuhan. Ini pada akhirnya mengantarkan pada kejatuhan. Ini tidak memungkinkan
seorang sadhaka untuk melaju ke depan di jalan spiritual. Ia menjadi budak dari penghormatan
dan pemuliaan. Segera setelah ia mencapai beberapa kemurnian dan kemajuan etika-moral, para
awam akan berhamburan mengerumuninya, dan iapun mulai merasa nyaman dan
mensyukurinya. Ia ditendang oleh kebangaan-dirinya sendiri.
“Ia pikir dirinya sebagai seorang Mahatma besar. Ia malah diperbudak oleh para pengagumnya.
Ia tak bisa menyadari kejatuhannya yang perlahan. Saat ia mulai bergabung lagi dengan bebas
dengan para perumah-tangga, iapun mulai kehilangan yang hanya secuil, yang diperolehnya
selama delapan hingga sepuluh tahun dalam sadhana yang intens. Dan kini, ia tidak lagi dapat
mempengaruhi khalayak. Para pengikutnyapun mulai meninggalkannya, oleh karena mereka
tidak menemukan pelipur hati atau pengaruh spiritual apapun dengan bergabung dengannya.
“Orang-orang pada berkhayal bahwa Sang Mahatma memiliki banyak siddhi-siddhi dan dimana
mereka yang mandul bisa memperoleh anak-anak melalui kemurahan hatinya, memperoleh
kesehatan yang sempurna, jejamuan Himalaya yang dapat menyembuhkan berbagai jenis
penyakit dan mampu membangunkan aura serta kebugaran tubuh. Mereka umumnya memang
selalu mendekati para sadhu dengan beraneka motif mementingkan diri sendiri terselubung dan
yang sejenisnya.
“Dengan bergabung dengan orang-orang yang tidak semestinya, sang sadhaka kehilangan
vairagya dan viveka. Kemelekatan dan kenafsuanpun tubuh kian semarak dalam benaknya. Oleh
karenanyalah, Anda harus selalu ‘menyembunyikan diri’. Tak seorangpun boleh tahu sadhana
jenis apa yang sedang Anda praktekkan. Anda hendaknya jangan sekali-kali mencoba untuk
memamerkan kekuatan-kekuatan psikik dari siddhi-siddhi. Anda harus amat rendah hati. Anda
mesti bertindak bagaikan orang biasa, awam. Anda tak boleh menerima hadiah-hadiah besar dari
para perumah-tangga kaya. Anda akan dipengaruhi dengan pemikiran-pemikiran destruktif oleh
yang memberi hadiah-hadiah. Anda hendaknya jangan pernah berpikir bahwa Anda lebih unggul
dari orang ini atau orang itu. Anda tak boleh memperlakukan orang lain dengan jijik. Anda harus
memperlakukan orang lain dengan penghormatan besar dan dengan pertimbangan yang dalam.
Penghargaan pasti datang dengan sendirinya. Anda harus memperlakukan penghormatan,
pemuliaan, nama dan kemasyuran, layaknya tahi sapi dan racun, sementara mengenakan ketidak-
berhargaan dan tanpa-penghormatan layaknya kalung yang menghiasi leher Anda setiap waktu.
Hanya dengan begitulah Anda akan mencapai tujuan dengan aman sentosa”.

   
Tercapainya Cita-cita Sang Yogi

Yang diharapkan dari Pemanfaatan Samyama yang benar.

Melalui Samyama terhadap kejadian-kejadian dan kelangsungannya, dicapai viveka.


Darisini muncul ketajaman visi terhadap lebih dari satu hal atau kejadian yang serupa, yang tidak
dapat dibedakan menurut kelas, karakteristik, atau posisinya.
Pemahaman secara simultan terhadap semua objek berikut setiap aspeknya adalah viveka-jñana.
[YS III.53 - III.55]

Viveka-jñana merupakan pencapaian internal, sebagai kulminasi pendakian spiritual seorang


sadhaka. Disini tampak bahwa yoga mengarahkan para sadhaka pada Jñana Yoga atau menjadi
seorang jñani sempurna. Dalam berguru spiritual di jaman dahulu, konon yang mula pertama
diminta adalah penguasaan viveka dan vairagya, demikian Swami Krishnananda pernah
mengutarakan.
Terkait dengan itu ada baiknya kita simak paparan pengalaman J. Krishnamurti, dalam ‘masa
persiapan’-nya sebelum memasuki tingkat diksha (inisiasi). Dalam sebuah kitab kecil, yang
ketika itu ditulisnya di bawah bimbingan Annie Besant, yang diberi judul (dalam bahasa
Indonesia) "Dikaki Guru Sejati", diungkap:
“Mereka yang berdiri disamping-Nya, tahu apa sebabnya mereka ada disini, dan apa yang
seharusnya mereka perbuat, merekapun berusaha melakukannya. Orang-orang lain, belum tahu
apa yang harus mereka kerjakan, dan oleh karena itu mereka sering berbuat bodoh. Mereka
mencoba menemukan jalan untuk diri sendiri, yang menurut pikiran mereka akan memberi
kesenangan pada mereka, tanpa mengerti, bahwa ‘semuanya adalah Satu’; dan dengan hanya
menuruti kehendak 'Yang Satu' itulah sebenarnya kebahagiaan teranugrahi kepada siapapun juga.
Semestinya mereka mengikuti yang sejati, akan tetapi mereka malah mengikuti yang tidak-sejati.
Sebelum mereka dapat belajar membedakan yang dua itu, belumlah mereka menempatkan
dirinya di sisi Tuhan. Jadi, penguasaan viveka adalah langkah yang pertama”.

Seperti yang dipaparkan dalam sutra III.55, Samyama hendaknya diarahkan pada
penyempurnaan viveka-jñana; ia jelas bukan untuk mengumpulkan berbagai siddhi, atas dalih
apapun. Patanjali memaparkan Yoga Sutra ini utamanya guna menunjukkan jalan menuju
Kaivalyam; bukan untuk menjerumuskan siapapun lantaran dibelenggu oleh siddhi-siddhi itu.

Bagi mereka yang memang punya motivasi-awal ingin menarik dan mengumpulkan pengikut
sebanyak-banyaknya, siddhi-siddhi tentu merupakan pencapaian penting yang amat didambakan.
Siddhi-siddhi —kemampuan adikodrati yang memang mengagumkan ini—amat menggiurkan
dan punya daya-tarik yang besar bagi kebanyakan orang. Awam amat mudah dikecoh dan ditarik
lewat pamer siddhi-siddhi ini. Paradigmanya bak ‘gayung bersambut’. Padahal Ashtanga Yoga
samasekali tidak dirancang untuk itu. Ini akan lebih ditegaskan lagi oleh Patanjali dalam
Kaivalya Pãda.

Dalam “Understanding Yoga”, Sri Swami Sivananda dengan mengingatkan para peminat Yoga
agar berhati-hati. Beliau memaparkan beberapa contoh yang umum ditemukan, yang beliau
tegaskan sebagai ‘bukan Yoga’. Diantara contoh-contoh yang seringkali mengelirukan dan
mengecoh awam itu adalah:
• Seorang lelaki mengubur dirinya hidup-hidup dalam satu kotak di bawah tanah. Ia
melakukannya dengan menutup lubang hidungnya dengan menggunakan Khechari Mudra
(salah-satu cara pengaturan nafas dalam HathaYoga). Tanpa diragukan lagi, ini memang sebuah
Kriya yang sulit. Ia kemudian memasuki Jada Samãdhi. Ini merupakan suatu keadaan seperti
tidur nyenyak. Samskara-samskara dan vasana-vasana tidak terbakar melalui Samãdhi ini. Ia
tidak bangkit kembali dengan membawa serta pengetahuan luhur superintuisional (jñana). Ini tak
dapat memberikan Mukti atau Kebebasan. Ini hanya sejenis pertunjukan prestasi kekuatan saja.
Ini bukanlah ciri spiritualitas sejati. Orang-orang umumnya memanfaatkan Kriya ini untuk
mendapatkan uang, nama dan kemasyuran. Setelah mereka keluar dari kotak itu, merekapun
menengadahkan tangannya meminta uang. Mereka juga seringkali membuat transaksi terlebih
dahulu, sebelum mereka masuk ke dalam kotak itu.
• Seseorang yang terikat tangan dan kakinya dengan rantai besi dan dikurung dalam satu
ruangan. Sebelum Anda mengunci pintu ruangan itu ia berdiri di belakang Anda. Masuklah ke
dalam ruangan untuk melihatnya; Andapun melihatnya masih disana. Tak diragukan lagi, ini
tentu teramat mengagumkan. Ini hanyalah sebuah trik. Ini sejenis jãlam atau ilusi.
• Beberapa orang dapat duduk di atas selembar papan yang dipenuhi paku-paku tajam sambil
mengunyah ular layaknya mengunyah coklat. Bila Anda menusukkan sebatang jarum panjang
pada kedua tangannya; tak ada darah yang keluar.
• Beberapa diantaranya dapat menuangkan air dari batu. Seorang yogi palsu, charlatan yogi,
dapat mempertunjukkan semua itu melalui kehebatan trik-trik atau jãlam-nya. Akan tetapi semua
itu tidak ada hubungannya samasekali dengan yoga sejati.
Masyarakat awam umumnya akan mudah terkecoh dan menyangka bahwa seseorang sebagai
seorang yogi atau Guru spiritual, bila ia mampu menunjukkan beberapa bentuk siddhi. Ini benar-
benar merupakan kekeliruan serius. Mereka tak seharusnya dipercaya secara berlebihan hanya
lantaran itu. Awam amat mudah menjadi korban tipuan para yogi palsu ini. Mereka seharusnya
menggunakan nalar sehatnya. Mereka seharusnya mempelajari cara-cara yang digunakan,
kebiasaan-kebiasaan, watak, kelakuan, vritti, svabhava, keturunan, dsb., dari para calon Guru
spiritualnya, dan bila perlu menguji pengetahuan mereka tentang kitab-kitab suci, sebelum
mereka menarik suatu kesimpulan apapun tentang itu.

Tercapainya cita-cita Sang Yogi Sejati.

Manakala sattvam sama sucinya dengan Purusa, inilah Kaivalyam.


[YS III.56]

Sattvam merupakan sifat luhur dari Pradhana, dari semesta material ini. Sementara Purusa
sendiri memang suci adanya. Sattvam yang benar-benar murni —samasekali tanpa kontaminasi
dari sifat Rajas dan Tamas— akan sedemikian jernih dan transparannya sehingga tidak memberi
pewarnaan atau penyifatan lain apapun kepada Purusa—yang sejak awal memang suci itu.
Sattvam yang benar-benar murni sama artinya dengan tidak ada samasekali pengaruhnya
terhadap Purusa, sehingga Purusa kembali tegak dalam kesucian-Nya. Kondisi inilah yang
dimaksudkan dengan ‘sattvam sama sucinya dengan Purusa’. Walaupun hampir sepanjang
bagian ini kita disajikan banyak siddhi yang dimungkinkan lewat Samyama, namun pada sutra
terakhir ini kita diberi penegasan yang teramat jelas, bahwasanya Kaivalya identik dengan
Kesucian Batin. Batin yang bebas dari segala kekotoran adalah batin yang suci. Dalam batin
yang suci inilah Kaivalyam ditemukan. Jalan Pensucian Batin juga adalah Jalan Pembebasan.
Menggapai Kebebasan Sejati

Memasuki Kaivalya Pãda adalah memasuki gerbang paparan alam Kebebasan Sejati. Untuk
dapat mengikutinya dengan baik, diperlukan pemahaman yang memadai tentang konsepsi
pembebasan ala Sankhya —yang merupakan pijakan dasar dari Yoga Darsana, disamping
memahami beberapa prinsip pokok tentang Hukum Karma, terutama yang terkait dengan masa
—lampau, kini dan yang akan datang— terbentuknya vasana dan matangnya vasana menjadi
phala. Semua ini tak dapat dipisahkan dengan doktrin Samsara.

Siddhi sebagai Alat-bantu untuk menyingkirkan Hambatan-hambatan Alamiah.

Dari pembawaan kelahiran, obat-obatan tertentu (usadhi), mantra, tapa ataupun samãdhi, dapat
bangkit kekuatan supra-natural (siddhi).
Evolusi dari yang lebih rendah menuju yang lebih tinggi dicapai, selaras dengan hukum alam
(prakriti).
Peralatan —yang berasal dari prakriti—tidaklah menyebabkan manifestasi, namun daripadanya
dimungkinkan tersingkirkannya hambatan-hambatan alami, layaknya yang dilakukan oleh
seorang petani.
[YS IV.1 - IV.3]

Siddhi-siddhi merupakan sesuatu yang alamiah bagi Sang Yogi; mereka datang dengan
sendirinya, bersamaan dengan ditundukkannya pengaruh dari kekuatan Prakriti. Siddhi-siddhi
tidak lagi berbahaya bagi beliau; mereka telah kehilangan daya pikatnya di mata Sang Yogi.
Seorang Yogi Sejati telah terbekali secukupnya sikap-batin luhur pada tahapan-tahapan Yama-
Niyama dan Asana, terbekali daya tahan dan proteksi terhadap godaan-godaan luar dalam
Pranayama dan Pratyahara, maupun kekuatan tandingan dalam Samyama.
Beliau amat maklum bahwa, segala sesuatu yang beliau alami dan jalani di dunia, hanya bekerja
sesuai alurnya Prakriti. Sementara beliau masih menyandang jasad yang berasal dari alam, maka
ia mesti toleran pada kaidah-kaidah alam. Seorang Yogi Sejati bukanlah penentang hukum alam;
bahkan sebaliknya, beliau hidup selaras dan harmonis dengannya, kendati Purusa telah tegak dan
berdiri dengan ajegnya.
Seorang petani yang baik, akan dengan rajin membersihkan saluran air yang mengairi sawahnya.
Sampah-sampah ataupun kotoran yang menghalangi aliran air tentu tak dibiarkan begitu saja
mengganggu, apalagi sampai menyumbatnya. Membersihkan saluran, tidak melawan hukum
alam. Bahkan sebaliknya; dengan membersihkan saluran air petani membantu pemanfaatan air
dengan baik sehingga tak terbuang sia-sia. Saluran yang tersumbat oleh sampah, kotoran,
rerumputan dan tanaman air liar dapat menjadi penyebab meluapnya air sehingga ia terbuang
percuma dan membanjiri area sekitarnya.
Tersingkirnya Asmita mencerahkan kembali Citta.

Citta yang jernih (cittany), tanpa dikotori oleh berbagai bentuk-bentuk pemikiran (nirmana),
dimungkinkan dari tersingkirkannya ke-aku-an (asmita).
Berbagai aktivitas pikiran yang beraneka-ragam dan tak terhitung banyaknya dalam kehidupan
duniawi (pravritti) ini, kini terkendali hanya oleh satu kesatuan citta.
Apa yang terlahir melalui dhyana, tidak menyisakan bekas atau pengaruhnya lagi.
Karma bukan lagi hitam atau putih bagi Sang Yogi, apalagi tiga jenis —hitam, putih dan abu-
abu—seperti bagi yang bukan Yogi.
Dari semua jenis perbuatan beliau, pahala yang dihasilkan hanya berupa perwujudan dari vasana
yang telah matang saja.
[YS IV.4 - IV.8]

Asmita-lah yang mengalami dan yang merasakan baik atau buruk dari perbuatan, karena dialah
yang menganggap dirinya sebagai ‘pelaku’, yang beranggapan bahwa ‘ini aku’, ‘ini punyaku’
atau sejenisnya. Dengan tersingkirkannya asmita, maka kléša lain pun kehilangan dayanya.
Dengan hilangnya daya hambat kléša, citta termurnikan kembali. Sang Yogi tak lagi menerima
pahala baik atau buruk dari perbuatannya.
Tiada subha ataupun asubha karmavasana —yang dikiaskan sebagai hitam-putih (krsna-sukla)
oleh Patanjali—lagi yang berpotensi sebagai penyebab berlangsungnya kelahiran berikut.
Sesungguhnyalah tumimbal-lahir telah hancur bagi beliau; kelangsungan hidup dalam kurun
kelahiran ini hanya mengikuti prarabdha karma-nya dan hukum alam yang berlaku bagi jasad
yang masih dikenakannya. Sancita karma vasana-nya telah terbakar habis oleh api Yoga.
Demikianlah Sang Jivanmukta. Apa yang beliau lakukan merupakan nishkamakarma, perbuatan
tanpa pamerih, tanpa motivasi. Sisa umur beliau abdikan bagi semua, demi kebaikan semua.
Sesungguhnya, kelahirannya ini merupakan kelahiran terakhirnya; tiada suatu sebabpun yang
mengharuskannya untuk terlahir di alam kehidupan manapun.
Bagaimana dengan mereka yang telah, menjelang, maupun belum berhasil dalam kehidupannya
ini? Rinciannya disampaikan lewat paparan sutra-sutra berikut.

   
Evolusi Kosmis dan Tujuan

Evolusi Kosmis tetap berjalan sesuai hukumnya.

Walaupun dipisahkan oleh kelahiran (jati), tempat (desa), maupun waktu (kala), yang berkaitan
dengan ingatan (smrti), kesan-kesan (samskara) serta kebiasaan-kebiasaan tetap berlangsung,
karena yang merangsangnya tetap ada, namun itu tidak menjadi penyebab lagi (anadhitvam).
Hadirnya sebab, motif, struktur, dan tujuannya tetap mempersatukan mereka (smrti, samskara
serta kebiasaan-kebiasaan); hanya dengan tidak hadirnya semua (sebab, motif, struktur, dan
tujuan) itulah mereka tidak hadir pula.
Masa lampau dan masa depan (atita-anagata) eksis secara bergantian betapa adanya, mengikuti
prinsip-prinsip kosmis yang mengaturnya (dharmanah).
Baik berwujud kasar maupun halus, mereka hanyalah guna yang menyertai Atman (guna
atmanah).
(Sedangkan) evolusi menuju panunggalan merupakan realitas dari keberadaan Sang Yogi kini
(vastu tattvam).
[YS IV.9 - IV.14]

EVOLUSI KOSMIS DAN TUJUAN.

Evolusi Kosmis tetap berjalan sesuai hukumnya.

Walaupun dipisahkan oleh kelahiran (jati), tempat (desa), maupun waktu (kala), yang berkaitan
dengan ingatan (smrti), kesan-kesan (samskara) serta kebiasaan-kebiasaan tetap berlangsung,
karena yang merangsangnya tetap ada, namun itu tidak menjadi penyebab lagi (anadhitvam).
Hadirnya sebab, motif, struktur, dan tujuannya tetap mempersatukan mereka (smrti, samskara
serta kebiasaan-kebiasaan); hanya dengan tidak hadirnya semua (sebab, motif, struktur, dan
tujuan) itulah mereka tidak hadir pula.
Masa lampau dan masa depan (atita-anagata) eksis secara bergantian betapa adanya, mengikuti
prinsip-prinsip kosmis yang mengaturnya (dharmanah).
Baik berwujud kasar maupun halus, mereka hanyalah guna yang menyertai Atman (guna
atmanah).
(Sedangkan) evolusi menuju panunggalan merupakan realitas dari keberadaan Sang Yogi kini
(vastu tattvam).
[YS IV.9 - IV.14]

Sebagai penjelasan atas paparan sutra-sutra sebelumnya, kini Patanjali memaparkan prinsip
hukum semesta berkaitan dengan sebab-akibat yang saling bergantungan dari semua keberadaan,
disamping kesinambungan proses evolusi yang dialami oleh seorang Yogi yang belum berhasil
menuntaskan evolusinya.
Sepanjang masih ada yang memotivasi kemunculan suatu sebab, maka selama itu pula akibat
akan tetap menyertainya. Segala macam bentuk kelahiran, berapa lama, kapan serta dimana
kelahiran itu terjadi, apakah dalam wujud kasar —dengan panca mahabhuta— maupun halus
hanya menggunakan kelima atau beberapa tan-matra saja, akan selalu terjadi. Semua itu
berpangkal pada adanya penyebab, motif, struktur atau susunannya, serta tujuan-tujuannya yang
masih tersisa. Demikian pula pada waktu atau jaman apa kelahiran berikutnya akan terjadi, dan
berapa lama harus dialami.
Dalam pada itu, kelangsungan waktu berjalan sesuai hukumnya, masa depan menjadi masa kini,
dan masa kini terlewati dan menjadi masa lalu. Prinsip kosmis yang mengatur segala keberadaan.
Berdasarkan hukum kosmis itulah, bila seorang pendamba kebebasan, penyatuan, dalam kurun
tertentu mengakhiri hidupnya pada satu alam kehidupan tertentu, kesan-kesan (samskara) serta
ingatan-ingatannya akan dambaannya itu tetap terbawa sebagai benih-benih perbuatan bagi
kelahiran berikutnya (kriyamana karma vasana) untuk diteruskannya. Kriyamana karma-vasana
inilah yang menjadi benih kelahiran demi kelahiran di berbagai alam kehidupan, kasar maupun
halus. Ia menjadi sahabat setia dalam berbagai kelahiran.
Beruntunglah mereka yang telah terjun ke dalam Yoga, para pendamba penyatuan dan kebebasan
(mumukshu) dalam kelahirannya ini; pencapaian yang diraihnya dalam kehidupan ini
membentuk vasana-nya dan akan terus membimbingnya dalam evolusi spiritual pada kelahiran-
kelahiran berikutnya. Itulah sesungguhnya yang menjadi realitas keberadaannya; evolusi yang
berkelanjutan hingga tercapainya tujuan akhir, menyatu dan melebur di dalam-Nya. Paradigma
ini, juga ditegaskan oleh Sri Krishna dalam Bhagavad Gita.
Tujuan tetap sama, hanya pengkondisinya yang berbeda.

Tujuan (vastu) tetap sama, sementara kondisi yang menyertai citta-lah yang berbeda—karena
cara kerjanya berbeda.
Vastu tidaklah tergantung pada satu kondisi tertentu dari citta saja, karena bila kondisi itu tak
hadir, lantas apa yang akan terjadi padanya?
Oleh terjadinya pencitraan terhadap citta —yang disebabkan oleh pusaran-pusaran pikiran—
inilah vastu menjadi disadari atau tidak disadari (jñatãjñatam).
Pengetahuan yang ajeg merupakan modifikasi-modifikasi dari citta juga adanya, namun bagi
Sang Yogi, itu terkendali sepenuhnya oleh kehadiran Hyang Purusa yang tiada berubah.
[YS IV.15 - IV.18]

Bagi yang telah terjun menuju kebebasan, tujuan satu-satunya adalah kaivalyam. Mereka ini juga
disebut sebagai ‘pelawan arus’, yang dengan gagah-berani terjun melawan arus tumimbal-lahir
yang maha-deras ini. Sekali tujuan ditetapkan dalam suatu kelahiran, ia akan mengalir sebagai
missi lanjutan dalam kelahiran-kelahiran berikutnya.
Mungkin saja citta dalam suatu kelahirannya atau dalam kondisi tertentu, tampak berbeda; akan
tetapi citta sesungguhnya jernih, dan kembali terjernihkan seperti sediakala. Pengalaman-
pengalaman dari pendakian spiritualnya di masa lalu, pasti muncul kembali sebagai ‘vasana
spiritual’. Paradigma ini seringkali mengecoh banyak orang. Jangankan orang awam, para
peminat dan penekun-pun bisa terkecoh karenanya; padahal keterkecohan itu tak perlu terjadi
bila Hukum Karma Phala dan Samsara benar-benar dipahami. Yang bijak mengatakan bahwa,
derajat kesucian batin seseorang hanya dapat diketahui oleh mereka yang memiliki kesucian
batin yang sekurang-kurangnya setara dengannya.
Pengalaman-pengalaman pada kehidupan lampau yang tersublimasi berupa vasana inilah yang
mewarnai atau memberi citra-artifisial kepada pandangan murni, seperti juga halnya dengan
pengalaman-pengalaman dalam kehidupan ini. Mereka mengendap sebagai kesan-kesan mental
dan ingatan dan membentuk kebiasaan-kebiasaan. Nah, kumpulan mereka inilah yang ter-refleksi
di permukaan berupa kepribadian berikut nasib seseorang dalam setiap kelahirannya.

   
Yang Menghalangi Pencerahan Sempurna

Buddhi tidak bersinar sendiri, sebab ia berasal dari apa yang dicerap (drsyatvat);
dan pada saat yang bersamaan dua hal tak dapat dicerap sekaligus.
Kesadaran hanya bertindak sebagai perantara dari ingatan dan kesan-kesan yang dicerap oleh
buddhi dan mengacaukannya; ini merupakan kemunduran.
[YS IV.19 dan IV.21]

Dalam kejernihan, dalam hening, yang bekerja hanya kesadaran dan pencerapan atau persepsi
murni. Pencerapan murni sebetulnya juga buddhi adanya. Namun disini ia ada dalam keadaan
pasif. Ia tidak pilih-pilih dan tidak melakukan kerja menilai, bahkan tidak melakukan pencerapan
secara khusus. Ia lebih terfungsikan sekedar sebagai pemerhati. Seperti telah disampaikan
sebelumnya, smrti, vasana-vasana dan samskara-samaskara-lah yang memberi pewarnaan
terhadap apa yang dicerap. Mereka hanyalah hasil cerapan dari buddhi. Buddhi-lah yang
mencerap dan mengalami pewarnaan itu; bukan citta. Bilamana pewarnaan ini terjadi, maka ini
merupakan kemunduran bagi sang penekun. Berikut ditegaskan kembali bahwa:

(Sesungguhnya) citta tidak dipengaruhi oleh samskara; yang berubah-ubah adalah buddhi, oleh
karena buddhi mengadakan identifikasi menurut intuisinya.
Ia yang menyadari, paham kalau semua itu hanyalah pemahaman yang telah mengalami
pewarnaan.
Walaupun diperlengkapi dengan tak-terhitung banyaknya keinginan yang disebabkan oleh
kombinasi dari vasana-vasana, namun semua itu dipahami hanya sebagai pewarnaan atau
pencitraan saja.
[YS IV.22 - IV.24]

Bila suatu benda berwarna didekatkan pada sebuah kristal asli yang jernih, maka warna dari
benda tersebut tampak mewarnai kristal itu. Bila benda berwarna merah yang mendekatinya,
maka merah-lah tampaknya kristal itu; walaupun sesungguhnya, kristal tersebut tidak berwarna.
Daya-cerapnya yang besar terhadap cahaya-lah yang menyebabkan ia seolah-olah berwarna.
Secara analogis, dapat dikatakan bahwa daya-cerap itu merupakan perangkat kerja dari buddhi,
dan kristal itu adalah citta.
Menyadari kalau demikian kejadiannya, para bijak berulang-ulang mengajurkan para penekun
untuk bergabung dan mendekatkan-diri dengan para bijak dalam satsanga, guyub dengan para
suciwan, dan menjauhi paguyuban tak senonoh. Dengan demikian, apa yang tercerap akan
terseleksi, sehingga bersifat mengingatkan dan mengarahkan pada penjernihan kembali citta dan
menguatkan viveka.
Viveka senantiasa menyertai Sang Yogi.

Bagi yang telah sempurna visi spiritualnya (visesa darsina atma), Atman-nya sepenuhnya
terlepas dari gelora perasaan dan gejolak pikiran.
Sejak inilah viveka menjadi sentosa, dan kesadaran menggapai Kaivalya.
Walaupun masih terjadi selingan berupa kemunculan pemikiran-pemikiran lain, sebagai
konsekwensi dari kecenderungan-kecenderungan sebelumnya (samskarãbhyah) hingga interval
tertentu, pemusnahannya tak sulit lagi; sama halnya dengan pemusnahan kléša (yang sudah
dipaparkan sebelumnya).
[YS IV.25 - IV.28]

Yoga memang merupakan pengembangan dari Sankhya. Dalam Sankhya belum menyebut-
nyebut Isvara maupun Atman, dan hanya menyebut Purusa. Demikian pula halnya dengan citta,
Sankhya menyebutnya mahat yang secara esensial dapat dipadankan dengan citta. Baik mahat
maupun citta bukanlah produk, namun lebih merupakan gagasan-awal yang melatari
diproduksinya berbagai produk. Persis di bawah citta ada buddhi —intelek, daya cerap, setelah
itu barulah asmita dan manas menyusul. Buddhi, asmita dan manas barulah merupakan produk,
dan berada dalam hierarki yang lebih rendah dibanding citta.
Dalam Wrhaspati Tattwa dan Tattwa Jñana ditemukan istilah ambek—yang dalam
penggunaannya dapat diartikan sebagai hasrat yang kuat yang diserta semangat yang muncul
sebagai akibat dari munculnya bentuk-bentuk pemikiran dan perasaan akibat terjadinya interaksi
dan adanya kontak-kontak indriawi maupun ingatan. Ia merupakan jelmaan langsung dari manas.
Daripadanyalah muncul berbagai bentuk keinginan yang begitu banyak jumlah dan ragamnya.
Beliau yang telah jernih, yang telah bersinar kembali citta-nya, viveka-nya pun jadi semakin
sempurna. Oleh karenanyalah—seperti yang disebutkan dalam sutra tadi—manas dan ambek tak
lagi mempengaruhi beliau.
Pemusnahan samskarãbhyah disebutkan sama dengan pemusnahan kléša. Pada prinsipnya ia
adalah pemusnahan ego, asmita atau ahamkara itu sendiri. Ego-lah sumber dari kléša yang
lainnya. Ego menjadikan segala sesuatunya terpusat pada si diri semu ini. Disinilah semua itu
bermukim dan berpotensi mengotori. Asmita terutama didominasi oleh rajas dan tamas. Sesuai
kejadiannya, asmita masih terhitung adik kandung dari buddhi; walaupun ia amat kuat,
sesungguhnya buddhi yang terlengkapi viveka mampu menundukkannya. Namun, bagi seorang
Yogi yang telah bersinar kembali citta-nya, kabut kléša sirna secara pasti, tak ubahnya kabut pagi
yang sirna bersamaan dengan terbitnya sang mentari.

   
Jalan Kesucian sekaligus Kelepasan

Jalan Kesucian sekaligus Jalan Kelepasan. Setelah mengikuti dengan seksama paparan
Patanjali, kita seakan dihadapkan pada ketidak-mungkinan untuk menggolongkannya ke dalam
satu jalan spiritual saja. Yama dan Niyama saja misalnya, merupakan landasan disiplin moral
bagi penekun jalan spiritual manapun. Bahkan mereka tidak terbatas pada agama, ras, bangsa dan
suku bangsa, jenis kelamin, usia maupun profesi. Mereka tak hanya dibutuhkan manusia di
jaman Veda-veda saja. Mereka dibutuhkan oleh umat manusia di segala jaman dan dalam segala
situasi dan kondisi.

Yama dan Niyama bersifat universal; mereka jelas bukan hanya milik bangsa India ataupun
umat Hindu saja. Mereka merupakan tatanan moral-etik luhur bagi umat manusia, yang sarat
nilai-nilai kemanusiaan yang universal dan holistik. Ini dimungkinkan oleh karena para bijak dan
orang-orang suci jaman dahulu merancangnya lewat pengetahuan intuitif beliau yang sempurna
terhadap kondisi variatif dari setiap manusia dalam sifat-sifat fisikal, mental maupun
spiritualnya. Mereka bukan juga sebentuk spekulasi filosofis atau sekedar ajaran moral-etik yang
tidak implementatif samasekali, dogmatik, tak masuk akal atau bersifat takhyul.

Bhakti dan Karma Marga terkandung secara nyata dalam paparan awal Sadhana Pãda, dalam
sebutan Kriya Yoga. Disana ada pola hidup sederhana dan pengekangan diri dari rongrongan
hawa nafsu dan berbagai keinginan melalui laku tapa, sebagai terapan untuk mensucikan diri
lahir-batin. Ada pula Isvarapranidhana, penyerahan dan perlindungan hanya kepada Tuhan. Di
dalamnya ada rasa sujud, penyerahan diri dan bhakti, ada pelayanan yang tanpa-pamerih
(nishkama karma). Disana juga ada pembelajaran-diri secara mandiri (svadhyaya), yang
menjauhkan kita dari sikap dogmatis dan fanatisme.

Viveka dan vairagya serta petunjuk-petunjuk dalam memupuk jñana dan prajña memberi suatu
ciri Jñana Marga yang kuat pada Yoga Sutra. Bahkan, Yoga Sutra memaparkan tri pramana, tiga
metode penalaran dalam memperoleh vidya, bahkan mencapai jñana. Baik viveka maupun
vairagya disebut-sebut secara berulang dalam banyak sutra-sutranya. Menjelang mengakhiri
Yoga Sutra, kembali Patanjali menegaskan: "Lalu, semua kekotoran batin sirna, oleh karena bagi
pengetahuan suci yang tiada terbatas, semesta material hanya kecil saja, tiada arti." Ini
menyiratkan dengan jelas betapa Patanjali memberi arahan langsung pada penguasaan jñana.

Belakangan, ternyata Maharshi Vyasa-pun memberi dukungan kuat terhadap arahan ini. Lewat
Bhagavad Gita-nya dengan gamblang Sri Krishna memaparkan:

"Diantara mereka (yang memuja-Ku), jñani selalu memusatkan pikirannya dan berbakti pada
Yang Tunggal, adalah yang termulia; dia sangat 'Ku kasihi karena diapun amat mengasihi-Ku.
Memang mereka semua mulia, akan tetapi jñani 'Ku pegang sebagai Diri-Ku Sendiri, sebab
jiwanya seimbang sempurna dan tujuan tertingginya hanyalah Aku. Pada banyak akhir dari
kelahiran manusia, jñanavan datang pada-Ku karena tahu Vasudeva adalah segalanya. Sungguh
sukar dijumpai mahãtma serupa ini."
Seorang jñani akan dengan gigih memberdayakan manas guna merebut vidya. Karena beliau
menyadari betul betapa ‘sa vidya ya vimuktaye’ —pengetahuan bisa mengantarkan pada
vimukti, kebebasan—seperti yang juga disebutkan oleh Yajurveda. Sementara beliaupun
mengingatkan bahwasanya ‘vidya vuhina pasu’ —tanpa menguasai vidya manusia tak ubahnya
binatang— seperti yang disebutkan oleh penyair Bhartrihari dalam Nitisatakam-nya, yang
kesohor itu.

Pertanyaannya kini adalah, bagaimana memberdayakan manas untuk merebut vidya. Untuk ini,
Sri Sankaracharya memberi petunjuk, yakni dengan mempelajari Catur Veda, Sad Darsana,
Upanishad-upanishad, Bhagavad Gita dan Brahmasutra. Berapa lama waktu yang dibutuhkan
untuk itu? Untuk mempelajari hingga betul-betul menguasainya, boleh jadi dibutuhkan banyak
kelahiran, seperti yang pernah dialami oleh Rshi Bharadvaja. Dikisahkan bahwa, selama tiga
kelahiran berturut-turut beliau mempelajari semuai itu. Nah....disinilah Yoga dengan jelas
memposisikan dirinya sebagai solusi alternatif. Yoga mengantarkan langsung pada Panunggalan
dengan Tuhan—sumber dari semua Veda-veda.

Yoga Marga —atau lebih umum dikenal sebagai Raja Yoga—juga dikenal sebagai jalan
spiritual-mistis. Ini mungkin terlahir dari kenyataan, dimana Patanjali memberi porsi yang cukup
besar pada upaya mistis dalam Vibhuti Pãda, yang dengan panjang-lebar memaparkan perolehan
kekuatan-kekuatan spiritual-mistis (siddhi-siddhi) lewat samyama terhadap objek-objek eksternal
maupun internal tertentu. Sementara itu, di banyak bagiannya, Patanjali juga wanti-wanti
mengingatkan bahwa bukan itu tujuan Yoga; mereka hanya dampak-samping, yang bahkan dapat
mengakibatkan kejatuhan bagi Sang Yogi. Sementara itu, Pranava Japa, basis dari Japa Yoga,
disinggung dalam lebih dari satu sutra.

Makanya, akan terlampau menyempitkan, bilamana Yoga Sutra hanya dipandang sebagai salah-
satu marga saja. Jauh lebih mengena bilamana memandangnya sebagai suatu pustaka suci
lengkap tentang Yoga—yang memaparkan secara mendasar pokok-pokok ajaran dan manual
dalam delapan tahapan praktis bagi berbagai kecenderungan manusia.

Walaupun sejak awal Patanjali dengan tegas merumuskan Yoga sebagai ‘citta vritti nirodha’, tak
urung sementara penekun cenderung terjebak dalam pencapaian siddhi-siddhi dan jatuh dari
tujuan luhurnya. Apa yang kita saksikan disini adalah kelemahan umum kita, disamping
menegaskan kembali kekuatan Prakriti lewat triguna-nya. Mungkin karena menyadarinya
kelemahan-kelemahan umum manusia, pada bagian akhir Vibhuti Pãda Patanjali menyampaikan
pengingatannya: “Manakala antara sattvam dan Purusa telah sama-sama sucinya, inilah
Kaivalyam”. Dalam Samãdhi Pãda sebelumnyapun beliau sudah mengingatkan: “Setelah
terpenuhi segala manfaatnya, evolusi dari transformasi triguna-pun terhenti...Tujuan akhir Purusa
tercapai bersamaan dengan sirnanya guna; guna kembali ke alamnya (yakni Prakriti)...”.

Pada akhir Kaivalya Pãda, penulis dengan lancang mencoba memberi kesimpulan bahwasanya
Yoga —seperti yang diajarkan dalam Yoga Sutra—tiada lain adalah Jalan Kesucian (Visuddhi
Marga) menuju pada Kelepasan Sempurna—terbebas dari siklus Samsara. Bagaimana
kesimpulan itu ditarik? Bagaimana argumentasinya sehingga disebut demikian? Inilah yang kita
coba simak secara ringkas berikut ini.
Ada beberapa konsepsi mendasar yang menggiring kita pada penyimpulan seperti itu. Yang
pokok untuk ditinjau disini adalah adalah:
(i) Essensi dari Asana, Pranayama dan Pratyahara.
(ii) Essensi dari Yama-Niyama, khususnya Sauca dan Tapa.
(iii) Citta vritti nirodha.

Sebagai jalan spiritual praktis, ia tidak saja memaparkan konsepsinya saja, namun wajib
memberi tuntunan penerapannya secara praktis —berupa sadhana-sadhana lahiriah dan
batiniah—yang mungkin untuk dilakoni.
Asana dan Pranayama, memberi tuntunan praktis berupa sadhana-sadhana lahiriah, guna
membentuk ketahanan tubuh, menjaga kondisi kesehatan, memberdayakan dan mengendalikan
daya-vital atau prana. Dalam ketahanan itulah dapat diharapkan terbangunnya ketahanan mental-
spiritual serta sikap-mental yang tangguh yang dibutuhkan di dalam menjalaninya. Sementara
Yama dan Niyama merupakan disiplin moral-etik yang membentuk sikap batin luhur,
kedewataan. Pratyahara, disamping sebagai konservasi daya-vital, dengan meniadakan
pemborosan prana melalui kontak-kontak indria dengan objek-objeknya, juga memperkokoh
vrata dan memungkinkan lahirnya pemahaman yang lebih baik, lengkap dan menyeluruh tentang
si diri itu sendiri. Ini berarti tersimpannya cukup enerji-fiskal dan enerji-mental guna
mempertahankan dan memperkokoh sikap-mental dalam berkehidupan suci. Oleh karenanya
pula, bagi seorang penekun sejati, dianjurkan untuk menjadikan Pratyahara sebagai ‘terminal’.
Nah....inilah yang secara lahir-batin menjadikan manusia siap untuk mententramkan batinnya
sendiri. Manas yang tentram, akan mudah dijinakkan untuk kemudian dikendalikan.
Daripadanya, Buddhi-pun jernih dan bersinar terang guna diarahkan menuju tataran mental-
spiritual yang lebih dalam lagi, hingga akhirnya Citta termurnikan kembali. Inilah titik kulminasi
dari proses pensucian itu—citta vritti nirodhah.
Sekali lagi, besar harapan saya apa yang mampu dipersembahkan lewat buku ini ada manfaatnya
bagi Anda.
Semoga kita semua selalu ada dalam bimbingan dan limpahan anugrah-Nya.
Semoga Cahaya Agung-Nya senantiasa menerangi setiap gerak dan langkah kita!

   
RAJA YOGA ~ Dasar-dasar Pemahaman dan Petunjuk-petunjuk Praktis bagi
para Penekun

Disebutkan bahwasanya penemu dari Yoga klasik adalah Hiranyagarbha Sendiri. Adalah
Maharishi Patanjali yang memformulasikan pengetahuan ini dalam suatu sistem pengajaran yang
diberi nama Ashtanga Yoga atau Raja Yoga. Ini membentuk salah-satu dari Shad-Darsana, Enam
Sistem Filsafat Hindu Klasik. Vyasa telah menjelaskan Yoga Sutra Patanjali dan ini telah
berhasil dikembangkan lebih jauh lagi oleh seorang pujangga terpelajar yang cemerlang bernama
Vachaspati Mishra, serta melalui tulisan-tulisan yang mengagumkan dari Vijñana Bhikshu.

=== SRI SWAMI SIVANANDA SARASVATI


=== FILOSOFI DARI YOGA.

Yoga, sepaham dengan Sankhya; mereka memegang pandangan dimana ada suatu prinsip yang
bersifat kekal dan hadir dimana-mana, yakni Prakriti disamping suatu prinsip pluralitas dari
Kesadaran yang juga ada dimana-mana, yakni Purusha. Yoga juga menerima prinsip ketiga
yakni: Ishvara. Kontak antara Purusha dengan Prakriti inilah menimbulkan evolusi lanjut dalam
berbagai implikasinya. Purusha —karena Aviveka (tiada berkemampuan untuk membedakan)—
menyangka ada suatu individu ketika mengidentifikasi Prakriti beserta berbagai modifikasinya
itu.
Yoga menitik-beratkan pada metode pembebasan Purusha dari belenggu ini, melalui upaya yang
benar. Oleh karena itu, Yoga lebih merupakan metode praktis guna pencapaian, ketimbang suatu
paparan filosofis semata. Sebagai suatu sistem filsafat (Darsana), ia merupakan Sa-Ishvara
Sankhya, yaitu dengan memasukkan ke-duapuluhlima Tattva dari Sankhya serta menambahkan
satu lagi yakni: Ishvara. Dengan demikian, Yoga melengkapi karakteristiknya sebagai suatu
sistem Sadhana yang bersifat praktis.
Ketika diselubungi oleh tembok penghalang kebodohan (Aviveka), Purusha menyangka bahwa
Ia tidak sempurna, tak-lengkap, dan menyangka kalau kelengkapan itu hanya dapat dicapai
melalui penggabungannya dengan Prakriti. Purusha lalu —katakanlah demikian—mulai
menggapai Prakriti; dan dengan disinari oleh kesadaran-Nya, Prakriti yang tiada berdaya
(lembam) mulai mempertunjukkan berbagai objek-objeknya secara kaleidoskopis. Purusha,
disebabkan oleh Prakriti-Samyoga—penyamaan-diri dengan Prakriti, tampak ingin merasakan
kenikmatan dari objek-objek ini. Ia berbuat seperti yang sudah-sudah; tampak berupaya meraih
objek-objek tersebut. Kini belenggu—walaupun sesungguhnya tidak esensial bagi Purusha—
menjadi lengkap dan selanjutnya lingkaran visi serupa itu tersimpan terus. Transmigrasi dari
masing-masing individu, seperti itu, adalah konsekwensi dari Aviveka beserta segala efek-
efeknya. Yoga, melalui proses ilmiahnya, memotong lingkaran ini satu-per-satu dan
mengantarkan menuju Kaivalya Moksha, yang merupakan realisasi dari Purusha (sejati), yang
bebas dari Prakriti beserta segenap evolusinya.
Jauh dalam lubuk hati setiap orang, ada suatu keyakinan yang mendalam akan adanya Makhluk
Tertinggi, kepada siapa seorang Sadhaka berpaling untuk memohon bantuan dan bimbingan,
perlindungan maupun inspirasi. Namun sang ego tidak mengijinkan ini terjadi. Hanya dengan
cara melepaskan Purusha dari penjara sang ego saja, Purusha dapat dilepaskan dari jaring
Prakriti. Sang ego memang dengan bersusah-payah bisa ditundukkan melalui analisa subjektif
saja; akan tetapi adalah mudah untuk membedakan ego—yang terpisah dari Purusha—bila ia
dengan suka-rela menyerahkan-dirinya sebagai suatu persembahan pada altar-persembahan
kepada Yang Maha Kuasa; inilah Ishvarapranidhana. Inilah hipotesa dari Yoga, sebagai
tambahan dari nasehatnya agar berupaya dengan gigih (Sadhana-Marga).
YOGA SUTRA PATANJALI — Untaian Permata Mulia Spiritual-filosofis.
Raja Yoga adalah raja dari semua Yoga. Ia secara langsung berurusan dengan batin. Dalam Yoga
ini tidak ada perjuangan dengan Prana maupun jasmani (Apana). Tidak diperlukan lagi kriya-
kriya dari Hatha Yoga. Sang Yogi duduk dengan sederhana, memperhatikan dan
mententeramkan gelembung-gelembung pemikirannya. Beliau mengheningkan-cipta,
menjinakkan gelombang pikiran dan memasuki kondisi tanpa-pemikiran (thoughtless state) atau
Asamprajñata Samãdhi; itulah Raja Yoga.
Walaupun Raja Yoga merupakan suatu falsafah dualistika yang mengolah Prakriti dan Purusha,
ia membantu siswa Advaitik untuk merealisasikan penunggalannya. Walaupun diingatkan
tentang keberadaan Purusha, pada puncaknya Purusha menjadi identik dengan Purusha Tertinggi
(Parama Purusha) atau Brahman, seperti yang disebutkan dalam Upanishad-upanishad. Raja
Yoga mendorong siswa untuk mencapai tingkatan tertinggi di tangga spritual, yakni Brahman.
Sistem Yoga dari Patanjali tertuang dalam bentuk sutra-sutra. Sebuah sutra berupa sebuah sloka
pendek yang padat makna. Ia berupa ungkapan-ungkapan aphoristis. Ia mengandung kedalaman
makna, serta signifikasi-signifikansi tersembunyi. Para Rshi di jaman dahulukala punya suatu
tradisi dalam mengekspresikan ide-ide filosofis maupun realisasinya, hanya dalam bentuk sutra-
sutra saja. Amat sulit mengertikan maksud yang terkandung didalam sutra-sutra, tanpa bantuan
komentar atau penjelasan seorang pembimbing atau Guru yang telah memahami Yoga dengan
baik. Seorang Yogi yang sepenuhnya telah merealisasikan Yoga, akan mampu menjelaskan
sutra-sutra dengan indahnya. Secara harfiah, sutra juga berarti sebuah untaian. Layaknya
berbagai bunga beraneka warna yang dirangkai secara apik, dan membentuk sebuah rangkaian
bunga. Seperti juga mutiara-mutiara yang diuntai menggunakan seutas tali untuk membentuk
sebuah kalung, demikian pula halnya ide-ide dari Sang Yogi teruntai cantik dalam sutra-sutra.
Yoga Sutra disusun dalam beberapa bab. Bab pertama adalah Samãdhi-pãda. Ia memaparkan
beberapa jenis Samãdhi. Ia berisikan 51 Sutra. Hambatan-hambatan dalam meditasi, lima bentuk
Vritti (pusaran pikiran) dan cara mengendalikannya, tiga bentuk Vairagya, sifat-sifat dari
Ishvara, berbagai metode untuk mencapai Samãdhi serta cara untuk menghadirkan kedamaian
hati melalui pengembangan sifat-sifat luhur, juga dipaparkan disini.
Bab kedua adalah Sãdhana-pãda. Ia terdiri atas 55 Sutra. Ia memaparkan Kriya Yoga, seperti,
Tapa, ajaran penyerahan-diri pada Tuhan, lima Klesha atau noda-noda batin, metode-metode
untuk menghancurkan noda-noda yang menghalangi pencapaian Samãdhi ini, Yama dan Niyama
beserta hasil-hasilnya, praktek Āsana dan Pranayama beserta manfaat-manfaatnya, Pratyahara
serta keuntungan yang diperoleh, dll.
Bab ketiga adalah Vibhuti-pãda. Ia terdiri dari 56 Sutra. Ia menyangkut Dharana, Dhyana serta
berbagai bentuk Samyama pada objek-objek eksternal, pikiran, chakra-chakra internal serta
beberapa objek lain, yang dapat menghadirkan berbagai macam Siddhi.
Bab ke-empat adalah Kaivalya-pãda atau bab Kebebasan Sejati, yang tersusun dari 34 Sutra. Ia
memaparkan tentang kebebasan yang dicapai oleh seorang Yogi yang telah matang (full-blown
Yogi), yang telah dapat membedakan dengan baik mana Prakriti dan mana Purusha, yang telah
terpisah dari Tri Guna. Ia juga memaparkan tentang pikiran dan prilakunya. Dharmamegha
Samãdhi juga dijelaskan disini.
KONDISI-KONDISI BATIN DALAM PRAKTEK RAJA YOGA.
Raja Yoga memberikan perhatian khusus terutama pada batin, modifikasi-modifikasinya dan
pengendaliannya. Ada lima kondisi batin yakni, Kshipta, Mudha, Vikshipta, Ekagra (Ekagrata)
dan Niruddha. Umumnya pikiran—yang adalah proponen batin yang paling aktif—berlarian ke
segala arah; sinar-sinarnya terpencar dan kacau. Inilah yang disebut dengan kondisi Kshipta.
Terkadang batin lupa diri, ia dipenuhi oleh kedunguan (Mudha). Ketika Anda berlatih
berkonsentrasi, pikiran tampak dapat terpusat sejenak, namun cepat terganggu lagi. Kondisi batin
inilah yang dinamakan Vikshipta. Akan tetapi bila ia bertahan lebih lama dan telah dilatih secara
berulang-ulang, dan dibantu dengan merafalkan Nama Tuhan, ia menjadi terpusat pada satu titik.
Keterpusatan inilah yang disebut kondisi Ekagrata. Nantinya, iapun sepenuhnya terkendali—
Niruddha. Ia siap untuk tercerap dalam Parama Purusha, ketika Anda memasuki Asamprajñata
Samãdhi.
Guna mencapai kedamaian batin, Anda harus menyemaikan empat sifat-sifat luhur —Maitri,
Karuna, Mudita and Upeksha. Anda harus punya Maitri (rasa persahabatan yang penuh welas
asih), Anda memandang semuanya dalam sikap-batin yang setara. Anda harus memiliki sifat
Karuna (rasa belas-kasihan) kepada mereka yang sedang dirundung malang. Andapun mesti
punya Mudita (rasa empati dan bersimpati) pada mereka yang lebih beruntung dari Anda. Rasa
kebercukupan atau belas-kasihan secara pasti menghancurkan kedengkian. Semuanya adalah
saudara-saudara kita. Bila seseorang ditempatkan pada posisi yang lebih baik dari Anda,
berbahagialah atasnya. Bila sedang lewat di antara orang-orang hina, pandanglah mereka tiada
beda dengan kita. Inilah yang dinamakan Upeksha (stabil dalam tiada membeda-bedakan).
Dengan jalan ini Anda akan mencapai kedamaian hati.
NODA-NODA BATIN.
Lima Noda batin yang merupakan sumber penderitaan adalah:
1. Avidya — kebodohan batiniah: memandang kekal yang tak-kekal, murni yang tak murni;
2. Asmita — egoisme;
3. Raga —keterikatan atau kecintaan;
4. Dvesha —ke-engganan, penolakan atau kebenciaan; dan
5. Abhinivesha —keterikatan yang kuat pada kehidupan rendah, yang menimbulkan ketakutan
yang amat sangat pada kematian.
Samãdhi menghancurkan semua ini. Raga dan Dvesha, rasa suka-tak-suka, punya lima kondisi:
Udara (termanifestasikan sepenuhnya), Vicchinna (tersembunyi atau terselubung), Tanu
(menipis), Prasupta (tidak aktif ) dan Dagdha (terbakar musnah).
• Pada manusia duniawi yang masih terlelap dalam keduniawian, Raga dan Dvesha merupakan
Udara Avastha. Mereka ada dalam kondisi yang meluas; maksudnya, Raga dan Dvesha bermain
secara penuh dan tanpa tendeng aling-aling lagi.
• Vicchinna Avastha adalah kondisi dimana Raga dan Dvesha tersembunyi. Pasangan suami-istri
terkadang bertengkar; saat itu cinta tersembunyi sejenak. Setelah si istri tersenyum kembali,
cintapun menampakkan dirinya lagi. Inilah contoh dari Vicchinna Avastha.
• Beberapa orang yang melakukan sedikit Pranayama, Kirtan dan Japa. Pada mereka Raga dan
Dvesha mulai menipis; kondisi inilah yang dinamakan Tanu Avastha.
• Terkadang pula, berhubung kondisinya tidak sesuai, mereka dalam kondisi tidak aktif —
Prasupta Avastha.
• Namun dalam Samãdhi mereka terbakar musnah —Dagdha.
Raga dan Dvesha memastikan Samsara ini. Pikiran (manas) adalah suatu kekuatan yang tidak
memiliki suatu entitas nyata, namun sementara waktu seolah-olah demikian, dan menyelubungi
Jiva. Ia mengatasi Prana. Ia juga mengatasi materi. Akan tetapi di atas pikiran ada kemampuan
memilih dan memilah-milah (Viveka). Viveka dapat mengendalikan pikiran; kerinduan terhadap
Diri-Jati Anda atau Atma-Vichara dapat mengendalikan pikiran. Bilamana Anda telah
menghancurkan Raga-Dvesha lewat meditasi dan Samãdhi, pikiran akan sirna (tiada berdaya
lagi). Yang mesti Anda upayakan setiap hari adalah melatih konsentrasi ke dalam (dharana),
walau hanya lima atau sepuluh menit; Andapun akan mampu mengendalikan pikiran dan
memasuki alam Samãdhi.
HAMBATAN-HAMBATAN DALAM MEDITASI.
Ada beberapa hambatan dalam bermeditasi. Vedanta menguraikan hambatan-hambatan tersebut
berupa: kerisauan (laya), pikiran yang cepat berubah (vikshepa), keinginan-keinginan
terselubung (kashaya) dan keterjebakkan dalam kebahagiaan yang timbul dalam Samãdhi yang
lebih rendah tingkatannya (rasasvada).
Patanjali mengutarakan: “Penyakit, kebodohan, keragu-raguan, kecerobohan, kemalasan,
keduniawian, ilusi, kehilangan tujuan, ketidak-stabilan mental —semua itu merupakan
hambatan-hambatan dalam Yoga.” Duka-cita, kemurungan, gemetaran (tremor), tarikan dan
hembusan nafas yang tidak wajar merupakan pembantu-pembantu yang lebih menguatkan
hambatan-hambatan utama itu. Anda harus menyingkirkannya terlebih dahulu.
Bila Anda dikuasai kantuk tatkala bermeditasi, berdirilah, basuh muka dengan air dingin,
lakukan beberapa Āsana dan Pranayama. Kantukpun akan berlalu. Di jaman dahulu, bagi mereka
yang memiliki choti (jalinan rambut panjang), ada yang mengikat rambutnya ke paku di dinding
ruangan —sehingga bila jatuh tertidur saat bermeditasi, paku seolah-olah menarik rambut dan
membangunkannya. Makanlah makanan ringan saja di malam hari.
Abhyasa dan Vairagya merupakan dua jalan terbaik untuk menyingkirkan berbagai hambatan.
Vairagya (tanpa kegandrungan) bukan berarti lari dari dunia. Vairagya merupakan suatu sikap-
batin. Analisalah pemikiran-pemikiran Anda sendiri. Amankanlah motivasi-motivasi luhur Anda.
Sedapat mungkin, hindarilah objek-objek yang paling Anda gandrungi. Bilamana kegandrungan
pada sesuatu telah lenyap, selanjutnya Anda dapat menggunakan pengalaman tersebut sebagai
acuan guna melepaskan kegandrungan-kegandrungan yang lain.
TIGA KELAS PENEKUN.
Raja Yoga adalah jalan mulia untuk membebaskan diri dari penderitaan. Ia mencakup perlakuan
intensif terhadap empat masalah besar manusia: penderitaan, sebab-sebab penderitaan, terbebas
dari penderitaan dan jalan pembebasannya. Praktek latihan dari metode-metode yang disajikan
dalam Raja Yoga mengantarkan pada pemusnahan segala derita dan pencapaian kebahagiaan
sejati. Berlatihlah mulai hari ini! Jangan lewatkan barang seharipun. Ingat, masing-masing hari
mengantarkanmu semakin mendekat pada tujuan akhir dari kelahiran kita sebagai manusia di
dunia ini. Anda telah menyianyiakan banyak hari, banyak bulan dan banyak tahun selama ini.
Anda tak menyadarinya karena Anda telah meminum minuman keras yang bernama Moha.
Karena itulah Anda tidak mengerti sebab sesungguhnya dari semua derita hidup duniawi ini.
Penyebab utama dari derita ini adalah Avidya. Manakala mentari pemilah-milah (Viveka) telah
terbit di dalam, Sang Purusha mulai menyadari kalau Ia berbeda dengan Prakriti, bahwa Ia bebas
dan tiada terpengaruhi. Raja Yoga memberi Anda sebuah metode paling praktis yang
mengantarkan Anda pada kondisi yang mengagumkan ini.
Menurut Raja Yoga, ada tiga tipe penekun —Uttama, Madhyama dan Adhama Adhikari. Bagi
masing-masing tipe, disediakan tiga jenis Sadhana.
• Bagi Uttama Adhikari (penekun kelas utama) Raja Yoga menyediakan Abhyasa dan Vairagya.
Ia mempraktekkan meditasi kepada Sang Diri-Jati; ia mempraktekkan Chitta-Vritti-Nirodha
(penghentian pusaran-pusaran batin) dan dengan cepat memasuki alam Samãdhi. Inilah praktek
Abhyasa yang didukung oleh Vairagya.
• Bagi Madhyama Adhikari (penekun kelas menengah) disediakan Kriya Yoga: Tapa, Svadhyaya
dan Ishvarapranidhana. Tapa adalah kesederhanaan atau kepolosan. Ketanpa-akuan (egolessness)
dan pelayanan tanpa pamerih, merupakan bentuk-bentuk teragung dari Tapa. Kerendahan hati
dan tanpa keinginan untuk kepentingan pribadi atau ketulusan, juga merupakan bentuk-bentuk
teragung dari Tapa. Praktekanlah mereka melalui pelayanan terus-menerus, tanpa henti dan
dengan tanpa pamerih. Praktekkanlah tiga jenis Tapa yang disebutkan dalam Bhagavad Gita.
Penerapan disiplin diri seperti upavasa, dll., juga merupakan praktek dari Tapa ini. Svadhyaya
adalah mempelajari kitab-kitab ajaran spiritual juga melaksanakan japa (merafalkan secara
berulang-ulang) dari Ishta Mantra Anda. Ishvarapranidhana adalah penyerahan-diri sepenuhnya
kepada Tuhan dan melaksanakan setiap tugas sebagai Ishvararpana, sebagai persembahan
kepada-Nya. Tiga bentuk Sadhana dari para Madhyama Adhikari yang terbenam dalam meditasi
yang mendalam, secara cepat akan mengantarkannya mencapai Kaivalya Moksha.
• Bagi Adhama Adhikari, tipe penekun ter-rendah, Raja Yoga menyediakan Ashtanga Yoga atau
delapan tahapan Sadhana —Yama, Niyama, Āsana, Pranayama, Pratyahara, Dharana, Dhyana
dan Samãdhi.
ASHTANGA YOGA.
Raja Yoga dari Patanjali umumnya juga disebut Ashtanga Yoga yaitu Yoga dengan delapan
lengan (tahapan); melalui pempraktekannya, kebebasan dapat dicapai. Kedelapan lengan
tersebut adalah: Yama, Niyama, Āsana, Pranayama, Pratyahara, Dharana, Dhyana, dan Samãdhi.
Delapan tahap ini telah tersusun sedemikian rupa secara ilmiah. Mereka merupakan langkah-
langkah alamiah dalam sebuah tangga yang mengantarkan manusia menuju sifat-sifat
kedewataannya yang sejati. Semua jaring-jaring yang melekatkan Purusha pada Prakriti dipotong
secara pasti. Pemutusan ini membebaskan Purusha untuk menikmati Kebebasan, Kaivalya
Moksha. Inilah tujuan dari Raja Yoga.
Yama dan Niyama memurnikan perbuatan seseorang dan menjadikannya lebih Sattvik. Tamas
dan Rajas —yang merupakan pilar-pilar kokoh Samsara—diruntuhkan dengan sepuluh kanon
dari Yama dan Niyama (Panca Yama dan Panca Niyama Brata); kesucian batinpun meningkat.
Sifat-sifat individu menjadi Sattvik.
Āsana memberi kemampuan pada individu untuk mengendalikan impuls-impuls Rajasik; dan
pada saat yang bersamaan membentuk landasan kuat Antaranga Sadhana, atau proses Yoga di
dalam (yang membentuk suatu sikap-batin luhur—pen.).
Pranayama mengantarkan penekun bertatap-muka secara langsung dengan Prinsip-Kehidupan
(Life-Principle). Kendalikan Prinsip-Kehidupan; ini memberikan suatu pandangan mendalam
pada kekuatan yang memotivasinya. Ia dibuat sadar atas fakta bahwasanya keinginan menjaga
kekuatan-hidup. Keinginanlah yang menyebabkan terjadinya eksternalisasi pikiran.
Keinginanlah tempat peraduan dari Vritti-vritti. Vritti-vritti bersama-sama membentuk pikiran,
dan pikiranlah yang menghubungkan Purusha dengan Prakriti.
Bila pikiran hancur, maka Vritti-vritti pun terkikis. Bila Vritti-vritti terkikis, maka keinginanpun
akan tercabut hingga ke akar-akarnya. Sang Yogi lalu dengan cepat bisa menarik ke dalam
semua sinar pikirannya dari tenaga penggeraknya yang ada di luar. Proses inilah yang disebut
dengan Pratyahara.
Guna menemukan akar dari pikiran, yang merupakan benih-keinginan, ia membutuhkan sinar
yang menerangi seluruh pikirannya. Pada saat yang bersamaan, sinar itu memberi kekuatan
untuk bertahan terhadap eksternalisasi pikiran dan memutuskan lingkaran setan itu, memutuskan
hubungan keinginan untuk memanifestasikan dirinya lagi akibat adanya aktivitas pikiran itu
sendiri. Sorotan sinar yang terkonsentrasi ini akan terpancar langsung ke akar dari pikiran itu
sendiri; dan pikiran pun terpegang dan terawasi. Inilah yang dinamakan Dharana.
Nah....kesadaran yang telah sedemikian lamanya mengalir keluar, kini terkumpul kembali dan
mengalir kembali menuju sumbernya, yakni Purusha yang ada di dalam. Inilah proses dalam
Dhyana.
Hubungan dengan Prakriti kini telah sirna. Purusha mengalami kondisi kebebasan transendental
—Kaivalya— dalam Nirvikalpa Samãdhi. Kebodohan pun hancur kini. Purusha kini menyadari
bahwa kesadaran-Nyalah yang memberi kekuatan pada Prakriti untuk menyenangkan-Nya,
memberi-Nya kenikmatan, menyelubungi-Nya, dan akhirnya membelenggu-Nya. Ia kini
menikmati kebahagiaan yang merupakan sifat sejati-Nya, dan tetap tinggal bebas dan penuh
kebahagiaan selamanya (Anandam). Semua bentuk-bentuk pemikiran sirna untuk selamanya
dalam Nirvikalpa Samãdhi. Benih-benih keinginan dan VĀsana serta Samskara hangus
sepenuhnya; inilah yang disebut dengan Nirbija Samãdhi.
Sang Yogi yang berada dalam Status Tertinggi ini kehilangan seluruh kesadaran eksternalnya,
demikian pula halnya dengan semua kesadaran dualitas atau kebhinekaannya; beliau bahkan
kehilangan ide tentang aku-nya (Asmita) dalam Asamprajñata Samãdhi. Inilah Status Tertinggi
dimana Sang Purusha berada mantap dalam Svarupa-Nya.
TEKUNLAH WAHAI PENEKUN SEJATI!
Jangan berkhayal bahwa Anda seorang Uttama Adhikari, dimana Anda cukup duduk bermeditasi
dan langsung tercerap dalam Samãdhi. Anda akan mengalami kejatuhan yang mengenaskan.
Setelah berlatih bertahun-tahun sekalipun Anda tidak akan memperoleh suatu kemajuan yang
berarti, karena jauh di dalam lubuk-hatimu masih bersembunyi keinginan-keinginan dan
keserakahan, Vritti-vritti yang berada jauh dari jangkauan Anda.
Tekunlah! Lakukanlah analisis yang cermat terhadap hati dan pikiranmu. Walau Anda seorang
penekun kelas wahid sekalipun, anggaplah diri hanya sebagai penekun kelas terendah dan
latihlah selalu kedelapan tahapan Sadhana, seperti yang diuraikan oleh Raja Yoga. Semakin
banyak waktu yang Anda habiskan pada dua langkah pertama, yakni Yama dan Niyama,
semakin sedikit nantinya waktu yang akan Anda perlukan untuk mencapai kesempurnaan
meditasi. Memang persiapan membutuhkan waktu cukup lama. Tapi jangan menunggu hingga
sempurna dalam Yama dan Niyama, sebelum melangkah menuju Āsana, Pranayama dan
meditasi.
Cobalah meraih kemantapan dalam Yama dan Niyama, dan pada saat yang bersamaan latihlah
Āsana, Pranayama dan meditasi sebanyak Anda bisa. Dengan demikian keberhasilan akan lebih
cepat tercapai. Andapun akan lebih cepat tercerap ke dalam Nirvikalpa Samãdhi dan mencapai
Kaivalya Moksha. Bagaimana kondisi tertinggi tersebut?; tak seorangpun pernah
mengutarakannya, karena sesungguhnya terlampau terbatas kata-kata guna mengungkapkannya.
Berlatihlah dengan tekun, wahai penekun sejati, realisasikanlah Sang Diri-Jati. Semoga engkau
bersinar laksana seorang Yogi sempurna dalam kehidupan ini!


Judul asli “RAJA YOGA”; diinterpretasikan dari edisi website The Divine Life Society yang
telah di-update pada hari Minggu 14 Juli 1996.

   
Butir-butir Mutiara Yoga-Samadhi Yang Tercecer

BUTIR-BUTIR MUTIARA YOGA-SAMÃDHI YANG TERCECER. ”Batin yang tidak tercela,


tidak lemah, tidak ada yang dikehendakinya, tidak ada yang diharapkannya, jernih tanpa noda,
tidak dapat dihancurkan; Cetana seperti itu tanpa objek, tiada lagi ia merasakan badan, bebas dari
Catur Kalpana. Catur Kalpana adalah ‘tahu’, ‘diketahui’, ‘pengetahuan’ dan ‘mengetahui’.
Semua itu tak adalagi bagi Sang Yogiswara. Itulah yang disebut Samãdhiyoga. Ia juga adalah
Sadanggayoga, sebagai pengetahuan suci Sang Pandita, hingga ditemukannya Sanghyang
Wisesa. Sikap ke-yogiswara-an yang demikian itu, terjaga oleh Dasasila”.

Dasasila dan Cetana.

Dalam paragraf dari Wrhaspati Tattwa - 59 di atas, ada beberapa kata kunci yang menarik untuk
disimak lebih dalam lagi, yakni: Cetana, Catur Kalpana, Sadangga-Yoga dan Dasasila.
Dasasila adalah sepuluh sikap-mental luhur yang mendasari prilaku Sang Yogiswara. Dasasila,
juga disebut sebagai ‘Pembangun Yoga’. Dasasila merupakan dasar moralitas di dalam menjalani
jalan spiritual. Penerapannya amat menentukan sempurnanya keberhasilan seorang sadhaka.
Sebutan lain —yang mungkin lebih akrab di Nusantara—adalah Panca Yama Brata dan Panca
Niyama Brata, yang di dalam Yoga Sutra disingkat Yama dan Niyama saja.
Cetana adalah ungkapan dalam bahasa Kawi, yang dalam bahasa sanskertanya adalah Caitanya.
Cetana berarti kesadaran spiritual tinggi yang dicapai oleh para Yogi Sempurna. Mendiang Shri
Caitanya Prabhu misalnya, amat dipuja oleh sampradaya Hare Krishna, dapat kita ambil sebagai
contoh dari penggunaan makna dari istilah Cetana ini.
Cetana adalah hakekat sejati, yang sesuai kesuciannya dengan dan dapat diklasifikasikan ke
dalam tiga tingkatan kesucian: Paramasiwa Tattwa, Sadasiwa Tattwa dan Siwa Tattwa.
Kesuciannya ditentukan oleh kuat-lemahnya pengaruh Maya. Paramasiwa Tattwa sepenuhnya
bebas dari pengaruh Maya, Siwa Tattwa masih dipengaruhi Maya, sedangkan Sadasiwa Tattwa
berada di antara keduanya. Disini, Paramasiwa-lah yang dipandang sebagai Nirguna Brahman,
sedangkan Sadasiwa adalah Saguna Brahman, bila mengikuti peristilahan Advaita Vedanta.
Cetana dicapai melalui Leburnya Catur Kalpana.

Serupa dengan paparan sloka Wrhaspati Tattwa tadi, Patanjali dalam Yoga Sutra memerinci
hanya tiga saja; ini diungkapkan dalam sutra I.41: “Bila pusaran-pusaran (vritti) telah surut,
maka batin menjadi jernih transparan bagai sebuah kristal, si pengamat (grahitr), proses
mengamati (grahana) dan objek-objek yang diamati (grahya) mentransformasikan dirinya
menjadi apa adanya (samãpatti).”
Ungkapan yang amat mirip dengan paradigma itu pernah saya dengar dari seorang Wiku, yang
telah tiada kini, dengan ungkapan sebagai berikut:
"Manunggaling kang kinaweruhang, kang kinaweruhi, weruh lan kaweruhi". Bilamana kita
terjemahkan secara bebas, kira-kira ia menjadi: "Bersatu-padunya antara yang mengetahui, yang
diketahui, tahu dan pengetahuan itu sendiri". Mungkin, dengan amat susah beliau
mengungkapkan fenomena batiniah itu; namun itulah yang mampu terungkap melalui kata-kata.
Menyatupadukan Catur Kalpana berarti tercapainya Cetana. Inilah idealisasi Samãdhiyoga dalam
Wrhaspati Tattwa. Dan demi pencapaian status Samãdhiyoga ini, dipaparkan enam langkah
praktis yang disebut Sadanggayoga: Prãnãyama, Pratyãhãra, Dhãrana, Dhyãna, Tarka dan
Samãdhi.
Sadanggayoga dalam Upanishad.

Beda dengan Ashtãnga Yoga-nya Patanjali, Sadanggayoga tidak lagi menyebut Yama, Niyama
dan Āsana, namun langsung melangkah dari Prãnãyama. Disini seolah-olah Yama, Niyama dan
Āsana sudah dirangkum dan inklusif di dalam Dasasila. Sebagai tambahan, disini diperkenalkan
tahap Tarka yang tidak ditemukan di dalam Yoga Sutra. Bagaimana gerangan status batin yang
disebutkan dengan Tarka ini?
Wrhaspati Tattwa menjelaskan bahwa Tarka itu bersih, jernih, damai bagaikan akasa; tapi tidak
dapat dipersamakan begitu saja dengan angkasa atau langit karena tanpa sabda —suara halus di
dalam— sekalipun. Ia benar-benar jernih dalam kesunyian, tanpa bentuk-bentuk pemikiran dan
persepsi apapun. Jelas ia bebas dari vicara maupun vikalpa. Penjelasan serupa juga dapat kita
temukan dalam pustaka Tattwa Jñana —sebuah sastrãgama Nusantara lainnya. Bilamana Tarka
ini yang mendahului Samãdhi, tentu Samãdhiyoga yang dicapai adalah Nirvikalpa Samãdhi,
menurut istilah yang digunakan oleh Patanjali.
Sistem yogasadhana yang juga menggunakan istilah Tarka adalah yang dikemukakan di dalam
Maitri Upanishad. Disana disebutkan: “Perintah untuk melaksanakan panunggalan ini adalah
demikian; Prãnãyama, Pratyãhãra, Dhãrana, Dhyãna, Tarka dan Samãdhi.” Maitri Upanishad
menyebut langkah-langkah yang sama dengan Sadanggayoga-nya Wrhaspati Tattwa. Sementara
itu, di dalam sebuah ulasannya, Swami Satya Prakas Saraswati menginterpretasikan Tarka hanya
sebagai kontemplasi atau perenungan, yang secara mendasar berbeda dengan apa yang
dipaparkan dengan jelas di dalam Wrhaspati Tattwa. Perenungan (vicara) masih menggunakan
objek, baik berwujud maupun tanpa-wujud; atau, bila Rshi dalam Maitri Upanishad memang
memaksudkannya demikian, maka Samãdhi yang dimaksudkan disini masih merupakan
Savikalpa Samãdhi, menurut peristilahan Yoga Sutra.
Persepsi yang Bukan-Persepsi.

Bila kita cermati keempat aspek fungsional dari Catur Kalpana, kita dapat menangkap bahwa apa
yang disebutkan sebagai Catur Kalpana adalah ‘proses dan unsur pencerapan’; mungkin istilah
ini lebih akrab dengan telinga kita. Secara fungsional, semua itu dikerjakan oleh ‘persepsi’.
Secara menyeluruh sloka tadi membicarakan hanya dua proponen batin tertinggi saja, yakni:
kesadaran dan persepsi; dimana persepsi yang dimaksudkan disini bukanlah cerapan melalui
organ-organ indriawi, seperti yang umumnya dikenal. Ia cerapan murni, tanpa penilaian, tanpa
rasa suka atau tak-suka, tanpa pengharapan pun penolakan, tidak membenarkan pun
menyalahkan atau bentuk-bentuk penghakiman lain layaknya yang dilakukan oleh campuran
pikiran dan perasaan. Ia melampaui rasio dan emosi —yang kontroversinya malah menimbulkan
konflik internal yang tiada henti. Ia tanpa dualitas. Ia juga kita kenal dengan sebutan intuisi.
Secara teknis, baik pikiran, apalagi perasaan atau emosi, tak lagi mengotori suasana batin Sang
Yogiswara. Mereka secara praktis telah gugur, tertinggalkan dalam tataran yang lebih rendah,
bersamaan dengan terlaluinya Prãnãyama, Pratyãhãra, Dhãrana dan Dhyãna. Hingga Dhyãna,
pikiran telah tersublimasikan dan bercahaya sebagai Buddhi, sebagai kecerdasan kosmis, sebagai
intuisi.
Fenomena ini amat berhampiran dengan fenomena-fenomena alami dalam suatu proses
pendakian sebuah gunung. Awan, kabut dan mendung hanya masih berpengaruh hingga
ketinggian tertentu saja. Selebihnya udara jernih, tenang; angin, awan, hujan, badai telah
tertinggal di bawah. Bukan karena mereka ditenangkan atau kebetulan tak ada angin berhembus,
namun semua itu hanya berlangsung pada tataran dengan ketinggian tertentu saja. Bila Anda
pernah mendaki gunung di daerah tropis yang cukup tinggi —katakanlah 3000 meter ke atas—
pada musim penghujan fenomena ini akan jelas teramati. Pada ketinggian tersebut matahari
bersinar terang, langsung menyimari bumi tanpa halangan. Dari sana dapat dilihat dengan amat
jelas betapa awan berarak searah dengan hembusan angin. Ada bagian bumi yang digelapi untuk
beberapa saat, untuk kemudian terang kembali bersama dengan berlalunya awan di atasnya.
Terang, gelap, terang, gelap....dan seterusnya; demikianlah kondisi dataran rendah yang masih
berada di bawah awan.
Demikian pula halnya dengan pendakian spiritual. Pada ketinggian tertentu, Rajas dan Tamas
telah kehilangan kekuatannya bagi Sang Yogi. Merekalah kekuatan Prakriti yang mengombang-
ambingkan manusia dalam berbagai bentuk pemikiran dan perasaan. Manakala yang satu-
satunya tertinggal adalah Sattvam, Buddhi-pun menjadi bercahaya. Citta atau kesadaran murni
dengan leluasa menyinari batin Sang Yogi. Bagi yang telah terliputi Buddhisattvam, pengaruh
dunia sudah sedemikian tipis, walaupun secara kasat-indria beliau masih tampak seperti biasa di
dalam menjalani kehidupan sehari-harinya.
Tanpa perumpamaan pendakian gunung tadi, mungkin agak sulit bagi kita untuk membayangkan
dan mengungkapkan kondisi kesadaran yang terbebas samasekali dari persepsi, murni, jernih bak
kristal dan damai itu, dengan kata-kata. Mungkin itulah sebabnya mengapa agak sulit bagi kita
untuk menemukan paparan yang jelas tentangnya, baik secara lisan maupun tulisan. Ia jauh lebih
mudah dirasakan lewat praktek langsung dalam sadhana, daripada dibicarakan. Praktek langsung
memberi pengalaman langsung yang amat berharga. Yoga adalah praktek langsung, secara
empiris, bukan sekedar himpunan berbagai konsepsi-konsepsi spiritual-filosofis saja.
Menurut Tattwa Jñana, sesuai dengan kandungan Triguna-nya, makhluk hidup dapat dibedakan
atas tiga kelompok besar, yakni: Buddhisattvam, Buddhirajas dan Buddhitamas. Kandungan
Triguna inilah yang menentukan jasad apa yang dikenakannya kini dan nanti. Binatang dan
tetumbuhan, Buddhi-nya tidak bercahaya akibat didominasi oleh gelapnya Tamas.
Warisan Luhur yang sangat patut dibanggakan.

Kita sebetulnya telah diwarisi metode-metode luhur yang bermutu tinggi, yang tak kalah, bahkan
siap bersanding dengan metode-metode yang datang belakangan, apakah itu dalam kemasan
Yoga, maupun Meditasi. Bila kita pandai-pandai mengemas dan tak cepat berputus-asa di dalam
menggali dan menggali serta menghimpun ceceran mutiara-mutiara Yoga-Samãdhi Nusantara,
kitapun dapat menjadikannya ‘komuditas ekspor’. Yang pasti, kita tak mesti senantiasa jadi
bulan-bulanan dan konsumen empuk bagi pemasaran komuditas spiritual impor. Pengaruh
Sankhya, ternyata terasa amat kental, justru dalam ajaran Yoga Nusantara. Yoga telah
dikembangkan jauh ke akarnya (Sankhya Darsana) oleh para Yogiswara Nusantara; dan atas
fakta ini, kita boleh berbangga.
Harapan saya, semoga tulisan pendek ini berfungsi sebagai penggugah nurani kita. Penggugah,
untuk mencintai kembali apa yang menjadi warisan kita semua tanpa kecuali. Keagungan
Borobudur dan Prambanan, hanyalah kulit terluar dari budaya spiritual-religius Nusantara yang
menyentak dan membeliakkan mata dunia. Isinya masih ada, masih tersimpan rapi di bumi
Nusantara. Ia kini sedang menunggu untuk dijamah dan ditampilkan lagi oleh para pewarisnya.
Mengakhiri tulisan ini saya sajikan sekelumit sloka dari pustaka kuno Tattwa Jñana berikut.
“Inilah tujuan Sanghyang Jñana Tattwa yang ditujukan pada Anda sekalian, yang menyebabkan
kembali ke asal apabila Anda tahu dan dapat merasakan intisarinya. Memahami Sanghyang
Jñana Tattwa dengan baik, dan dengan kesadaran melaksanakan Prayogasandhi di bawah
penerangan Samyagjñana, yang berdasarkan Tapa, Brata, Yoga dan Samãdhi, merupakan obat
dari Atma yang sengsara”.
Denpasar, 7 Oktober 1999.

   
 

   
Samãdhi Pãda — Hakekat Penyatuan Agung 
Yoga adalah upaya penghentian pusaran-pusaran batin yang menghalangi pancaran citta (citta
vritti nirodha). Dengan demikian citta —yang terfungsikan sebagai si pengamat— hanya
bersandar pada kondisinya sendiri (svarupa) yang jernih; sedangkan, pada waktu-waktu lainnya
umumnya si pengamat mempersamakan dirinya dengan pusaran-pusaran batinnya tersebut (vritti
sarupya). [YS I.1 - I.4]

Yoga Sutra dibuka oleh Patanjali dengan empat aphorisma pendek nan padat makna ini. Dari
sutra I.1 hingga I.4 ini, kita diperkenalkan pada Yoga, kondisi umum batin manusia dan apa yang
dapat diperbuat untuk itu. Sangat mendasar penjelasan dalam empat sutra ini.

Manusia, makhluk berakal-budi, teranugerahi manas (pikiran) dalam kelahirannya. Dari manas
inilah lahir kata manussa atau manusya yang kemudian diadopsi menjadi manusia dalam bahasa
Indonesia, man dan mind dalam bahasa Inggris. Jadi, bagi keberadaan manusia, manas
menduduki posisi sentral yang merupakan esensi dari keberadaanya. Ia merupakan perabot
ampuh manusia untuk bertahan hidup, yang membedakannya dengan makhluk bumi lainnya.

Rshi Chanakya menegaskan: “mana eva manushyãnam kãranam bandha mokshayoh” —”bagi
manusia, manas-lah yang menyebabkan perbudakan pun pencapaian Moksha.”
Dalam hirarki Sankhya, manas menduduki posisi kunci di bawah keakuan atau asmita. Vedanta
menyebutnya ahamkara. Intelek, nalar, kecerdasan atau buddhi berada pada tataran yang lebih
tinggi dari pikiran, dan dapat dipandang sejajar dengan keakuan. Sedangkan citta —yang
acapkali juga dimaksudkan sebagai kesadaran atau pikiran jernih— berada di atas buddhi dan
asmita. Citta masih terbilang sejajar dengan triguna (sattvam, rajas dan tamas) —tiga kekuatan
Prakriti— namun belum terpengaruhi olehnya. Citta turunan langsung dari Purusha, yang
merupakan hakekat yang berlawanan dan berpasangan dengan Pradhana atau Prakriti. Dari
Pradhana inilah triguna berasal.

Segera setelah citta dipengaruhi triguna dan didominasi oleh sattvam, maka ia tidak lagi sebagai
citta yang jernih, melainkan sebagai buddhi. Dan bila citta dipengaruhi dan didominasi oleh rajas
dan tamas, maka terlahirlah asmita atau ahamkara. Ahamkara inilah yang membawahi dan
menggerakkan pikiran manusia, dimana relatif amat jarang buddhi ikut campur didalam
‘pemerintahan’ ini. Dalam melayani ahamkara, pikiran dan perasaan menjadi sibuk, bergolak,
menggelora, berpusar, berubah-ubah, terombang-ambing, memunculkan berbagai bentuk-bentuk
pemikiran dan emosi; ia ada dalam kondisi vritti.

Konyolnya adalah, dalam ketidak-tahuan (avidya) manusia mengidentifikasikan-dirinya sebagai


vritti-vritti tersebut; sebagai ‘vritti sarupya’. Manakala dominasi asmita terhadap pikiran dapat
direbut oleh buddhi, kondisi atau sifat sattvik yang luhur mulai menyinarinya. Buddhi telah
mendekati citta, sehingga jauh lebih mudah menerima pancaran citta yang murni, lewat mana
Purusha memancarkan cahaya di dalam batin manusia.
Demikianlah idealisasi ‘pemurnian citta’ Patanjali yang juga tersirat pada bagian awal karya
agung ini.

I.2. Lima Jenis Modifikasi Batin dan Tiga Proses Penalaran.

Modifikasi-modifikasi batin (vritti) ada lima jenis, baik yang menyedihkan maupun yang tidak
menyedihkan: penalaran yang baik (pramana), kekeliruan (viparyaya), imajinasi (vikalpa), tidur
(nidra) dan ingatan (smrti).
Pengamatan melalui pengalaman langsung (pratyaksa), penyimpulan terhadap gejala-gejala yang
teramati (anumana) dan penegasan para bijak dan kitab-kitab ajaran (agama), membentuk suatu
rangkaian atau metode penalaran yang baik dan handal.
[YS I.5 - I.7]

Pengetahuan yang diperoleh tanpa mengabaikan terlebih dahulu kekeliruan (viparyaya),


imajinasi (vikalpa) serta ingatan-ingatan (smrti) yang samar dan terbatas, tidak layak dipercaya
sebagai suatu pengetahuan yang sahih (vidya), dan tidak dapat dipertanggung-jawabkan
objektivitas dan kebenarannya. Ia tidak dapat dianggap sebagai pengetahuan samasekali
(avidya). Sutra-sutra ini menekankan hal ini.
Sementara pengetahuan diperoleh lewat tiga rangkaian proses, yang masing-masing daripadanya
disebut pramana. Ketiganya merupakan suatu rangkaian proses yang saling isi-mengisi dan
melengkapi dalam bekerjanya, dimana yang satu dilanjutkan, dikuatkan dan dilengkapi oleh
yang lainnya. Dalam mengamati, mencermati guna memperoleh pengetahuan, tri pramana adalah
jalannya.

Mengamati langsung dengan cermat fenomena-fenomena di luar ataupun di dalam, melahirkan


pengalaman. Melalui pengamatan terhadap objek yang sama secara berulang-ulang, banyak
pengalaman yang diperoleh. Pengalaman disini bisa berupa pengalaman fisik, non-fisik maupun
meta-fisik. Endapan pengalaman-pengalaman inilah yang tersimpan berupa kesan-kesan mental
yang membentuk ingatan (smrti); mereka serupa dengan kesan-kesan mental (samskara). Smrti
akan semakin kuat bila pengalaman yang sama dialami secara berulang-ulang. Dari fenomena
batiniah ini terlahir metode Japa, pelafalan sebait mantra pendek secara berulang-ulang. Semua
proses empiris ini disebut pratyaksa pramana. Mungkin sekali kata ‘praktek’ maupun ‘praktis’,
berasal dari kata pratyaksa ini.

Pengetahuan juga bisa diperoleh dari mendengar penjelasan sumber-sumber yang otentik dan
layak dipercaya, maupun kitab-kitab yang terpercaya. Pengetahuan yang diperoleh dengan cara
inilah yang disebut agama atau sabda pramana, pengetahuan dari sabda-sabda suci para Guru-
guru suci penerima wahyu yang tertuangkan ke dalam kitab-kitab suci.

Namun, walaupun tak ada Guru suci atau kitab suci yang didengar atau dibaca, melalui
pengalaman empiris (pratyaksa), analogi, pengumpamaan ataupun pemodelan (upamana) serta
membandingkannya dengan pengalaman-pengalaman sejenis lainnya serta analisa secukupnya,
dapat pula dilahirkan sebentuk pengetahuan. Proses penyimpulan ini disebut anumana.
Masuknya upamana (pengumpamaan atau analogi) dalam pramana —sehingga menjadikannya
empat pramana, Catur Pramana — diajukan oleh Rshi Gautama dalam Nyaya Darsana-nya.
Menurut beliau, masih ada 4 aspek substantif yang mengkondisikan atau yang terkandung dalam
proses penalaran, yakni: (i) subjek (pramata), (ii) objek (prameya), (iii) keadaan hasil amatan
(pramiti) dan (iv) cara mengetahuinya (pramana).

***

Kekeliruan (viparyaya) merupakan pengetahuan yang salah (mithya-jñana), yang tidak dibentuk
dari realitas.
Pengetahuan yang dimunculkan oleh: citra kata-kata, namun tanpa didukung objektivitas, adalah
imajinasi (vikalpa) semata, modifikasi yang terjadi tanpa hadirnya keterjagaan penuh adalah
tidur (nidra), dan kemunculan kembali objek sensasi yang pernah dialami dalam pikiran adalah
ingatan (smrti), dan ingatan yang terbatas, merupakan pengetahuan yang salah itu. [YS I.8 - I.11]

Disebutkan ada lima jenis penyebab kekeliruan (panca viparyaya) di dalam Wrhaspati Tattwa;
masing-masing adalah: (i) Tamah, pikiran yang selalu ingin memperoleh kesenangan duniawi;
(ii) Moha, keinginan untuk memperoleh delapan daya adikodrati (asta aiswarya); (iii)
Mahamoha, keinginan untuk mendapatkan kesenangan niskala dan asta aiswarya; (iv) Tamisra,
berharap untuk memperoleh kesenangan, sebagai buah dari perbuatan di kemudian hari; dan (v)
Andhatamisra, menangisi atau menyedihkan (yang dianggapnya sebagai) miliknya yang telah
hilang. Kelimanya berandil besar dalam kesengsaraan, disamping sebagai biang keladi
kekeliruan, menurut Wrhaspati Tattwa.

Nidra, tanpa hadirnya keterjagaan (jagra) —seperti yang disebutkan dalam sutra I.10— bukanlah
tidur pulas, tanpa mimpi, yang adalah sushupti. Dalam sushupti, Ibunda Dunia —Rajesvari—
membawa Jiva kembali kepada-Nya; memeluknya dalam dekapan kasih-Nya, menyusuinya lagi
dengan segarnya kedamaian, gairah baru, vitalitas dan kekuatan serta menjadikannya cukup
prima untuk menghadapi ‘peperangan’ ke-esokan harinya; demikian Swami Sivananda
menggambarkannya.

Jelas bahwa sushupti bukan suatu keadaan tidak aktif atau reposisi pasif tanpa hadirnya
keterjagaan (jagra), seperti Nidra. Ia memiliki signifikansi filosofis praktis yang mendalam.
Kaum Vedantin mempelajari keadaan ini dengan sangat hati-hati dan mendalam. Ia memberi
petunjuk yang jelas kepada para filsuf non-dualis untuk menelusuri, meneliti, serta menemukan
‘saksi bisu’ yang tersembunyi.

Pengetahuan akan lebih lengkap dan terpercaya secara meyakinkan bila diperoleh melalui
pratyaksa, sabda atau agama serta upamana, sedemikian rupa saling menunjang dan menguatkan,
guna memungkinkan penarikan suatu kesimpulan akhir. Disinilah subjektivitas pengalaman
pribadi yang terbatas, berupa: kekeliruan (viparya), imajinasi-imajinasi subjektif (vikalpa), serta
kehadiran objek-objek indriyawi yang menyesatkan (vishaya) maupun keterbatasan ingatan
(smrti) tersingkirkan. Pertanyaannya kini adalah, bagaimana menyiasati penyingkiran
modifikasi-modifikasi batin yang menyesatkan, yang menjadi biang dari mithya-jñana ini?
Patanjali akan menjelaskannya pada sutra-sutra berikut.

I.3. Abhyasa dan Vairagya — Kiat mengatasi Modifikasi-modifikasi Batin.


Melalui pelatihan dan pembiasaan terus-menerus (abhyasa) dan tanpa keterikatan pada
keduniawian (vairagya), mereka dihapuskan (nirodhah).
Abhyasa adalah usaha terus-menerus pada jalan spiritual (sthitau yatno) hingga menjadi suatu
kebiasaan.
Untuk itu, perhatian yang konstan dalam jangka waktu lama (dirgha kala), dengan teguh dan
tanpa jeda, menjadikannya mantap (drdha bhumih).
Pandangan hidup yang bebas dari kenafsuan dan kecintaan (vitrsnasya) pada pengalaman-
pengalaman indriyawi berikut objek-objeknya, serta tanpa ada lagi keterikatan padanya, adalah
vairagya.
Vairagya yang tertinggi dicapai tatkala munculnya kekuatan Purusha untuk menghentikan
pengaruh triguna, hingga keinginan yang sekecil apapun. [YS I.12 - I.16]

Paparan serupa ternyata kita temukan juga di dalam Bhagavad Gita VI.35: “Tidak diragukan
lagi, oh...Mahabahu, pikiran memang sulit dikendalikan, namun ia dapat dikuasai melalui proses
pembiasaan-diri dalam praktek spiritual (abhyasena); Kaunteya, ketidak-terikatan (vairagyena)
pun dapat dicapai melaluinya.”

Abhyasa saling menguatkan dengan vairagya. Abhyasa dicapai melalui kesinambungan


pelaksanaan sadhana; sesungguhnya antara sadhana dan abhyasa nyaris tiada beda. Dapat
dikatakan bahwa abhyasa merupakan kebiasaan dalam menjalankan sadhana-sadhana bagi
seorang sadhaka. Sudah barang tentu membiasakan sesuatu —apalagi sesuatu yang baik dan
bernilai spiritual— tidaklah mudah dan dapat diraih dalam waktu singkat.

Dalam konteks ini, abhyasa ditujukan untuk mengendalikan semua vritti. Menurut Sri Swami
Sivananda, mengarahkan kembali pikiran pada asalnya, Hrdaya Guha, dan menjadikannya
tercerap dalam Atman, adalah abhyasa; demikian pula mengarahkan pikiran ke dalam sehingga
menghancurkan kecenderungannya yang senantiasa mengarah ke luar. Hanya melalui abhyasa
sajalah samskara-samskara dapat dibakar hangus.

Wrhaspati Tattwa melukiskan ia yang telah meraih vairagya bagaikan raja yang kuat, yang telah
menikmati kemenangan dalam peperangan. Semua kesenangan duniawi tak lagi mengikatnya
lewat kemunculan kegandrungan terhadapnya, oleh karena ia tak menginginkan lagi semua itu.

Menurut Sri Swami Sivananda ada empat tingkatan vairagya:


(1) Yatamana:- sedang berupaya untuk tidak membiarkan pikiran berlari menuju ladang
sensualitas;
(2) Vyatireka :- pada tingkat ini beberapa objek bisa saja menarik Anda, namun Anda berhasrat
kuat untuk memutuskan kemelekatan dan ketertarikan Anda. Secara berangsur-angsur vairagya-
pun berkembang bagi objek-objek ini, hingga menjadi matang. Bilamana beberapa objek
menyerang dan hendak menguasai lagi, Anda harus menghindarinya dengan tegas. Anda harus
senantiasa mengembangkan vairagya bagi objek-objek ini, dan inipun harus dimatangkan.
(3) Ekendriya:- disini sensasi-sensasi indriyawi masih ada yang berdiri tegak maupun yang telah
tunduk; akan tetapi, pikiran masih punya kecintaan (raga) atau kebencian (dvesha) pada objek-
objek tertentu, namun kecintaan dan kebencian itu hanya sebatas pikiran saja;
(4) Vasirara :- pada tingkat vairagya tertinggi ini, objek-objek tidak lagi menggoda. Mereka tidak
lagi menimbulkan ketertarikan samasekali. Ia tenang dengan sempurna. Batinpun telah terbebas
dari suka-tak-suka (raga-dvesha). Disini sang Yogi meraih kemenangan dan tidak tergantung
lagi.