Anda di halaman 1dari 6

Pemilihan Kepala Daerah di Sulawesi Selatan Diwarnai

Kecurangan
Jum'at, 05 Maret 2010 | 21:13 WIB

TEMPO Interaktif, Makassar - Ketua Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu) Nur Hidayat
Sardini membeberkan temuan pelanggaran dalam Pemilihan Kepala Daerah di kabupaten-
kabupaten di Sulawesi Selatan.
“Banyak indikasi penyalagunaan kewenangan jabatan oleh calon-calon incumbent (sedang
menjabat) di kabupaten-kabupaten Sulawesi Selatan, “ ujar Nur Hidayat disela pelaksanaan uji
kelayakan dan kepatutan Panitia Pengawas Pemilihan Kepala Daerah hari ini.Menurutnya indikasi
pelanggaran yang dilakukan calon dari bupati dan wakil bupati incumbent, antara lain
penyalahgunaan jabatan, kewenangan, penggunaan fasilitas negara, dan mobilisasi pegawai negeri
sipil.Indikasi pelanggaran itu ditemukan sejak Bawaslu mendata kabupaten-kabupaten di Indonesia
yang melaksanakan Pilkada, termasuk Sulawesi Selatan hingga 19 Februari 2010.Bawaslu
mengindentifikasi lima calon Bupati dan wakil Bupati merupakan incumbent yang ikut di Sulawesi
Selatan.
Daerah tersebut yakni, Gowa, Soppeng, Luwu Timur, Bulukumba, Selayar.Di Gowa terdapat Bupati
Gowa, Ichsan Yasin Limpo yang kembali menggandeng wakilnya Abdul Razak Badjidu, di
Soppeng Bupati Andi Sutomo berpasangan dengan Arif Muhammadiyah dan wakil Bupati Andi
Sarimin Saransi bepasangan dengan KM Sulaiman.Di Kabupaten Luwu Timur, teradapat Bupati
Andi Hatta Marakarma yang menggadeng Muhammad Torig dan wakil Bupati Saldi Masyur
berpasangan dengan Andi Asrul Mappasadi. Sedangkan di Bulukumba, Andi Sukri Sappewali
berpasangan dengan Rasyid Sarehong Serta Bupati Selayar Syahrir Wahab. Ruslan Kasim, anggota
Panwaslu Soppeng, yang ikut kembali dalam uji kelayakan dan kepatutan menjelaskan jika
pelanggaran kewenangan calon dari pasangan-pasangan incumbent karena tidak adanya
pengawasan sampai di sektor itu hingga hari ini.
“Jadi sulit membuktikannya jika dipidanakan, “ujar Ruslan.Ruslan, berasama Rahmat dan Suardi
kasim menemukan sejumlah kejanggalan-kejanggalan data dalam berkas dukungan calon
independen pada Pilkada Soppeng. “Banyak kami temukan tanda tangan palsu dan identitas
pendukung yang fiktif,“ kata dia.Dijelaskan bahwa tanda tangan dukungan kepada calon
independen itu dicurigai palsu, sebab rata-rata model dan bentuk coretan tandatangan hampir sama
dan bentuknya seadanya saja. Data-data palsu ini ditemukan hampir semua kecamatan.Ruslan
menuturkan, Panwaslu Kada Bentukan Bawaslu ini telah melakukan sampel peninjauan pada
masing-masing tiga desa di kecamatan Donri-donri dan kecamatan Lilirilau. Panwaslu
menyimpulkan jika kasus fiktif tanda tangan pendukung terjadi secara merata. “Kami simpulkan
semua kacamatan di Soppeng bisa saja seperti itu, “ jelasnya.Selain itu juga terdapat nama-nama
pendukung ganda, banyak orang tidak ingin mendukung terdapar dalam dukungan salah satu calon
independen, nama istri salah satu kepala desa juga ikut tertera, puluhan Kartu Tanda Penduduk yang
pemiliknya sudah meninggal dan Kartu Keluarga (KK) ganda dan palsu. “Kami dapat
membuktikannya, walau legalitas kami sebagai Panwas tidak jelas di KPU dan Pemkab Soppeng, “
ujarnya.
Pilkada Kabupaten Samosir Ricuh
SAMOSIR (Waspada) : Pelaksanaan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Kabupaten Samosir, ricuh.
Hal ini terjadi akibat ratusan mahasiswa yang datang dari Medan menggunakan tiga bus diduga
melakukan pencoblosan suara di sana.
Sedangkan, Kapoldasu Irjen Ogreseno bersama Kasat Brimobdasu yang mendapat laporan langsung
turun ke TKP.
Selain Kapoldasu Irjen Ogreseno, terlihat pasangan calon nomor 7, Ober Sagala,SE MM- Tigor
Simbolon,ST (Obor Samosir),pasangan nomor 3 Baktiar Sitanggang-Jeremias Sinaga, pasangan
nomor 5 Rimso Maruli Sinaga-Anser Naibaho (Naga Baho), pasangan nomor 6 Martua Sitanggang-
Mangiring Tamba, mantan Kapolres Samosir AKBP Aiman dan Kapolres Samosir AKBP Sirait,
Dandim 0210/TU Letkol Ramses Lumban Tobing, ratusan personil Brimob yang di BKO kan.
Pantauan Waspada, awal kejadian sebanyak 3 bus umum Sejahtera yang mengangkut mahasiswa,
Rabu (9/6) malam, dihentikan warga Tomok yang curiga melihat kehadiran mereka.
Warga Tomok menahan mahasiswa bersama 3 bus tersebut hingga Kamis (10/6) petang. Setelah
mendapat instruksi dari Kapoldasu, para mahasiswa dibawa ke Polres Samosir dengan pengawalan
aparat Brimob.
Kapoldasu Irjen Ogreseno menyatakan, pihaknya mengambil alih permasalahan ini dan akan
mengusut masalah DPT, pemilih siluman dan segera menuntaskannya untuk kemudian
berkoordinasi dengan Mendagri.
Ke MK
Pasangan calon nomor 5, Maruli Sinaga kepada Waspada Kamis (10/6) mengatakan, terkait
permasalahan ini tidak tertutup kemungkinan dilakukan pilkada ulang sepanjang bukti-buktinya
lengkap.
‘’Kami siap membantu apa yang diperlukan untuk Mahkamah Konstitusi, dan 6 pasangan calon siap
menggugat ke MK terkait pilkada Samosir,’’ ujar Maruli.
Salah satu anggota DPRDSU Ir Jhon Hugo Silalahi, MM kepada Waspada, Kamis (10/6),
menyesalkan adanya pemilih didatangkan dari luar Samosir
Dia berharap KPU Sumut dan KPU Samosir beserta Panwas Provsu dan Kab.Samosir menyikapi
bukti-bukti dan memproses sesuai UU Pilkada agar tidak menimbulkan konflik di Samosir.
Miliki Rp 111 Miliar, Airin Kandidat Wali Kota Tangerang
Selatan Terkaya
Jum'at, 24 September 2010 | 16:09 WIB

Airin Rachmy Diayany dan Benyamin Davnie mendapatkan nomer urut 4 mendapatkan nomer
urut 3 pada Pemilukada Tangerang Selatan. ANTARA/Muhammad IqbalTEMPO Interaktif,
Tangerang - Airin Rachmi Dianyi, calon Wali Kota Tangerang Selatan, menjadi kandidat paling
kaya dibandingkan kandidat lain dalam bursa pencalonan wali kota Tangerang Selatan dengan
kekayaan mencapai Rp 111 miliar. Berdasarkan daftar kekayaan para calon yang dirilis Komisi
Pemilihan Umum Tangerang Selatan petang ini, kekayaan adik ipar Gubernur Banten Ratu Atut
Chosiah itu di antaranya berupa alat transportasi sebesar Rp 22 miliar yang terdiri dari mobil Ferrari
2006, Mercedes Benz 2008, Lamborghini 2009, Mini Cooper 2008, Toyota Alphard 2010, Porche
Panamera 2010, dan Honda Beat 2010.
“Airin juga memiliki pertanian dan peternakan sebesar Rp 9 miliar, harta bergerak Rp 2 miliar, dan
surat berharga Rp 10 miliar,” kata Ketua KPU Tangerang Selatan Imam Perwira Bachsan saat
memberikan keterangan kepada wartawan. "Jadi yang paling besar harta kekayaannya adalah ibu
Airin Rachmi Diany." Menurut Iman, kekayaan Airin yang sangat besar tersebut membuat KPK
terlambat menyerahkan hasil hasil verifikasi harta kekayaannya. Sepuluh hari sebelumnya,
pihaknya telah menerima hasil verifikasi ketujuh calon wali kota dan wakil wali kota tersebut pada
tanggal 14 September lalu. "Ada perbedaan waktu proses verifikasi kekayaan Airin dibanding para
kandidat lainnya yang lebih rendah," ujarnya.
Jumlah kekayaan Airin ini sangat jauh dibandingkan kandidat lain, yaitu Yayat Sudrajat sebesar Rp
2.431.700.000 dan Norodom Sukarno Rp 1.576.070.665, kekayaan Rodhiyah Najibah sebesar Rp
1.077.000.000 dan Sulaeman Yasin Rp 1.020.000.000, kekayaan Arsyid sebesar Rp 1.343.252.198
dan Handreas Taulany (Andree Stinky) Rp 3.231.910.456. Sementara kekayaan pasangan Airin,
Benjamin Davni, Rp 1.188.485.663.
Menurut Iman, daftar kekayaan yang diumumkan adalah kekayaan pribadi masing-masing calon
dan bukan kekayaan gabungan pasangan. Harta kekayaan tersebut dihitung berdasarkan harta
bergerak dan tidak bergerak, alat transportasi, rumah, peternakan, pertanian, serta surat berharga.
"Mereka melaporkan semuanya kepada KPK," ujar Iman.Nasrullah, anggota KPUD Kota
Tangerang Selatan mengatakan penyerahan formulir daftar kekayaan diserahkan oleh masing-
masing calon ke KPK pada tanggal 10 dan 11 Agustus lalu. Para calon yang telah mengisi dan
menyerahkan laporan kekayaannya kepada KPK akan mendapatkan bukti LHKPN (Laporan Harta
Kekayaan Pejabat Negara) dari KPK.
"Bukti itu telah diserahkan oleh masing-masing calon kepada KPUD Kota Tangsel pada 14 Agustus
lalu dan menjadi salah satu syarat pencalonan mereka," kata Nasrullah.
Sementara itu, persiapan dan tahapan Pemilukada Kota Tangerang Selatan 14 November mendatang
baru akan melakukan tahap akhir penetapan jumlah DPT (Daftar Pemilih Tetap). Nasrullah
mengatakan pihaknya akan melakukan hal tersebut pada 30 September mendatang. Jadwal
kampanye sendiri akan dilangsungkan pada 26 September hingga 9 November mendatang.
Mahkamah Konstitusi Tolak Gugatan Pilkada
Tana Toraja
Kamis, 19 Agustus 2010 | 21:14 WIB

Mahfud MD. TEMPO/Andika Pradipta


TEMPO Interaktif, Jakarta - Mahkamah Konstitusi memutuskan menolak gugatan sengketa
pemilihan kepala daerah Kabupaten Tana Toraja, Sulawesi Selatan.
"(Sebab) dalil pemohon tidak terbukti menurut hukum. Mahkamah menyatakan menolak
permohonan pemohon untuk seluruhnya," ujar Ketua Mahkamah Mahfud Md dalam pembacaan
putusan di Mahkamah Konstitusi, Kamis (19/8).
Hakim Konstitusi Ahmad Fadlil Sumadi mengatakan kecurigaan perubahan hasil suara terkait kotak
suara yang terbakar harus dibuktikan dengan perbandingan formulir penghitungan suara. Pihak
termohon, yakni Komisi Pemilihan Umum Tana Toraja, menunjukkan bukti yang lengkap, asli, dan
ditandatangani petugas serta saksi yang dapat dipercaya kebenarannya.
Sebaliknya dengan pihak pemohon. "Pemohon mengajukan bukti-bukti formulir yang tidak lengkap
dan diragukan kebenarannya," ucapnya.
Tudingan penghitungan suara sepihak di Kecamatan Masanda dan Kecamatan Mappak,
pencoblosan ganda, pembiaran administrasi dan pidana oleh KPU, serta keterlibatan Bupati pun
dinilai Mahkamah tak terbukti. Adapun dalil mutasi Pegawai Negeri Sipil akibat tak mendukung
pasangan calon Theofilus Allorerung-Adelheid Sosang dianggap Mahkamah sebagai sekadar
asumsi yang tak dapat dibuktikan.
"Selain itu apabila ada keputusan mutasi yang merugikan pemohon, maka pemohon dapat
mengajukan ke Pengadilan Tata Usaha Negara," tutur Fadlil.
Permohonan yang ditolak Mahkamah ialah berkas yang diajukan empat pasang calon kepala daerah
Tana Toraja, yakni M. Yunus Kadir-Jansen Tangketasik, Cosmas S. Birana-Danial Tonglo, Yohanis
Embon Tandipayuk-Ophirtus Sumule, dan Nicodemus Biringkanae-Kende Rante.
Kores Tambunan, kuasa hukum keempat pasang calon, menyatakan kekecewaannya. "Ada hal-hal
yang tidak dipertimbangkan majelis, padahal bukti yang kami ajukan sudah jelas, dan saksi kita
cukup," ujarnya.
Sementara itu, berkas terpisah yang diajukan Victor Datuan Batara-Rosina Palloan dinyatakan tak
diterima Mahkamah karena objek sengketanya salah.
Meski menolak gugatan lima pasang calon itu, Mahkamah menegaskan pembakaran kotak suara
dan surat suara harus diusut tuntas untuk mencari dalangnya. "Karena pembakaran kotak suara dan
surat suara merupakan tindakan yang merusak sendi-sendi demokrasi yang paling utama pada
pelaksanaan Pemilukada a quo, yaitu menghilangkan surat suara pemilih," papar Fadlil.
Ia mengatakan pembakaran kotak suara dan surat suara tersebut merupakan perilaku buruk yang
mencederai berlangsungnya pemilihan yang langsung, umum, bebas, rahasia, jujur, dan adil.
"Penyelidikan menyeluruh dan komprehensif juga penting untuk meyakinkan masyarakat terhadap
penegakan hukum, khususnya terkait dengan berkembangnya dugaan terjadinya pembiaran yang
dilakukan oleh aparat yang berwajib," katanya.
Sebelumnya, kelima pasangan tersebut mengajukan gugatan perkara pemilihan kepala daerah ke
Mahkamah Konstitusi. Mereka menggugat Komisi Pemilihan Umum Tana Toraja yang menetapkan
kemenangan duet Theofilus Allorerung-Adelheid Sosang. Pemohon menilai kemenangan Theofilus
dan Adelheid tak sah karena banyak terjadi pelanggaran, antara lain pembakaran kotak suara di
sejumlah kecamatan, dan pelibatan Pegawai Negeri Sipil untuk memenangkan Theofilus-Adelheid.
Gamawan: Pemilihan Gubernur oleh DPRD
Dimungkinkan
Kamis, 05 Agustus 2010 | 17:20 WIB

Menteri dalam negeri, Gamawan Fauzi, Jakarta, Jumat (23/4). TEMPO/Yosep Arkian
TEMPO Interaktif, Bogor - Menteri Dalam Negeri Gamawan Fauzy mengatakan pemilihan
gubernur dimungkinkan untuk dikembalikan ke DPRD. Pemilihan langsung dinilai mahal,
sementara kewenangan gubernur terbatas.

"Banyak orang berpendapat kembali ke DPRD," katanya disela rapat kerja nasional di Istana Bogor,
Kamis (05/08).

Gamawan mengatakan gubernur adalah wakil pemerintah pusat di daerah. Kewenangannya terbatas,
sementara biaya pemilihannya mahal. "10 kali biaya bupati," katanya.

Wacana pemilihan gubernur tak dipilih langsung mengemuka karena sejumlah kajian menyebutkan
pemilihan langsung memakan biaya besar.

Gawaman mengatakan pihaknya masih menyerap masukan-masukan dari masyarakat dan pakar
tentang pemilihan gubernur. Masukan tersebut nantinya akan menjadi dasar dalam revisi
pembahasan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2001 tentang Pemerintahan Daerah.

Sebelumnya Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menilai pemilihan gubernur sebaiknya tetap
dilakukan secara langsung. Ekses negatif akibat pemilihan langsung, kata Presiden, bukan alasan
membatalkan pemilihan gubernur secara langsung.
Pilkada Lamongan Ricuh,Massa Bentrok
Dengan Polisi
Penghitungan hasil perolehan suara pemilihan kepala daerah lamongan berlangsung ricuh. massa
pendukung salah satu pasangan calon bupati yang kecewa dengan hasil perhitungan yangdilakukan
oleh kpu terlibat bentrok dengan polisi.

Bentrokan ini terjadi sesaat setelah komisi pemilihan umum daerah lamongan, mengumumkan hasil
perolehan suara empat pasangan calon bupati lamongan.

Massa dari salsah ssatu pasangan calon yang tidak puas dengan hasil perhitungan tersebut berusaha
merangsek ke kantor k-p-u-d lamongan. namun massa dihalangiratusan polisi yang disiagakan di
depan gedung k-p-u-d. bentrokan antara massa dan polisipun tak dapat dihindari.

bentrok antara massa dan polisi ini, hanya satu dari beberapa skenario simulasi penanganan
kerusuhan pilkadalamongan 2010. similasi ini digelar untuk mengantisipasi adanya gangguan
keamanan selama tahapan pemilihan kepala daerah lamongan berlangsung. “Kita tidak
menginginkan terjadi kerusuhan, tetapi tetap harus kita antisipasi”, ujar wakapolres lamongan
Kompol Tony Sugiyanto di sela-sela pelaksanaan simulasi.

Pemilihan kepala daerah lamongan yang diikuti empat pasangan calon diprediksi akan berlangsung
tegang, setiap pasangan calon mempunyai kekuatan massa yang hampirmerata dan sangat
berpotensi menimbulkan konflik ditingkat bawah.

Ratusan personil polisi dilibatkan dalam simulasi ini. namun pada pelaksanaan pilkada 23 mei
mendatang hingga penghitungan suara, polisi akan dibantu pasukan dari polwil bojonegoro dan
polda jawa timur.