Anda di halaman 1dari 9

KATA PENGANTAR

Puji syukur saya panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena saya dapat
menyelesaikan esai ini. Penyusunan esai ini disusun untuk memenuhi tugas Student Project 1
tentang Manfaat Komunikasi Efektif Antara Dokter dengan Keluarga Pasien. Komunikasi
dokter-pasien-keluarga dalam satu kesempatan tentunya tidak dapat menuntaskan semua upaya
untuk memberikan informasi, melakukan edukasi atau memotivasi pasien dalam rangka
menyelesaikan masalah kesehatannya. Dokter memerlukan dukungan program komunikasi,
informasi, edukasi yang dapat dilakukan oleh semua pihak, antara lain organisasi profesi maupun
lembaga lainnya bersama media massa, baik cetak maupun elektronik. Pengembangan peraga
atau model juga diharapkan dapat melengkapi perangkat komunikasi efektif dokter-pasien-
keluarga. Akhirnya kami menyadari bahwa esai ini sangat jauh dari kesempurnaan. Esai ini
masih jauh dari sempurna oleh karena itu, dengan segala kerendahan hati, kami menerima kritik
dan saran agar penyusunan esai selanjutnya menjadi lebih baik. Untuk itu kami mengucapkan
terima kasih dan semoga esai ini bermanfaat bagi para pembaca.

Denpasar, November 2010

Penulis
Manfaat Komunikasi Efektif Antara Dokter dengan Keluarga Pasien

Perkembangan Ilmu komunikasi di mulai dari disadari proses komunikasi itu terjadi di dalam diri
seseorang, lalu berkembang antar personal, kelompok lalu berkembang lagi seiring dengan
penemuan teknologi informasi, sehingga terciptanya media teknologi itu sendiri. Pendekatan
multidisiplin menjadi salah satu perkembangan menarik dalam komunikasi, yang disebabkan
perkembangan berbagai pengetahuan. Penerapan komunikasi mulai di butuhkan berdasarkan
subjek keilmuan lainnya. Munculnya bentuk dan penerapan komunikasi dalam komunikasi
Politik, komunikasi Biologi, Komunikasi Sosial, dan juga Komunikasi Kesehatan menunjukan
kesadaran di perlukan keahlian komunikasi dalam berbagai bidang ilmu yang memiliki
kekhususanmasing-masing.

Global health communication, merupakan term yang berkembang dan di gunakan dalam bentuk
pendekatan komunikasi dan area seperti interpersonal komunikasi, mobilisasi masyarakat dan
sosial serta advokasi. Komunikasi antara dokter- pasien –keluarga, adalah komunikasi yang tidak
dapat dihidarkan dalam kegiatan klinikal, yang merupakan bagian dari komunikasi kesehatan
tersebut. Pasien datang berobat menyampaikan keluhannya, didengar, ditanggapi, oleh dokter
sebagai respon dari keluhan tersebut. Seorang pasien yang datang berobat memiliki harapan akan
kesembuhan penyakitnya. Sedangkan seorang dokter mempunyai kewajiban memberikan
pengobatan sebaik mungkin.

Keluarga memiliki peran dalam proses dialog tersebut. Memberikan masukan informasi,
dorongan dan kerjasama dengan dokter untuk membantu kondisi pasien yang diharapkan.
Dalam proses komunikasi dokter – pasien- keluarga melibatkan banyak elemen yang harus di
ketahui dan dipahami agar proses komunikasi tersebut berjalan dengan baik. Untuk itu perlunya
pemahaman mengenai proses komunikasi itu sendiri, elemen yang ada di dalamnya, tujuan,
proses komunikasinya, serta tipe komunikasi. Agar proses diagnosis terhadap pasien bersifat
efektif, dokter harus trampil berkomunikasi dengan pasien, mampu mendengarkan pasien.
Pada dasarnya manusia adalah makhluk sosial yang bermasyarakat dan hidup saling
berkelompok. Hal ini membuktikan salah satu kebutuhan dasar manusia, yaitu keinginan untuk
berkelompok dan berkomunikasi. Banyak pendapat pakar yang berusaha menguraikan alasan
mengapa manusia mempunyai kebutuhan untuk berkomunikasi. Salah satu dari pakar
komunikasi tersebut Thomas M. Sheildel (dalam Mulyana, 2002: 4) yang mengungkapkan
bahwa komunikasi dibutuhkan oleh manusia untuk menyatakan dan mendukung identitas diri,
untuk membangun kontak sosial dengan orang di sekitar kita dan untuk mempengaruhi orang
lain untuk merasa berpikir atau perilaku seperti yang kita inginkan.

Ada beberapa definisi komunikasi yang dinyatakan oleh beberapa ilmuan komunikasi. Menurut
Bernard Berelson dan Gary A. Steiner (dalam Mulyana, 2002:62) menyatakan bahwa:
"Komunikasi adalah transmisi informasi, gagasan, emosi, keterampilan, dan sebagainya, dengan
menggunakan simbol-simbol, kata-kata, gambar, figur, grafik, dan sebagainya". Sedangkan
Harlod Lasswell merumuskan komunikasi dengan pertanyaan Who Say What In Which Channel
To Whom With What Effect?

Tujuan Komunikasi

Menurut Joseph A DeVito ada beberapa tujuan manusia berkomunikasi yaitu :

1. Mencari tahu, terhadap informasi yang di perlukan

2. Membina hubungan, melalui interaksi antara komunikator( pemberi pesan) dan komunikan
( penerima pesan). Bentuk komunikasi yang terjadi seperti sapaan, berdiskusi/ bercakap- cakap.

3. Menolong, dalam memberikan apa yang diinginkan dan di perlukan melalui pertanyaan,
pernyataan.

4. Membujuk, komunikasi digunakan agar seseorang mengikuti apa yang kita maui.

5. Kesenangan

Proses Komunikasi
Jalannya komunikasi ini terlihat dalam suatu proses, pandangan atau pula model, di dalamnya
melibatkan elemen – elemen komunikasi yang ada. Ada tiga pandangan dalam proses
komunikasi adalah,

1. Linear View, merupakan alur komunikasi satu arah dari komunikator kepada komunikannya

2. Interactional View, Komunikasi yang terjadi dua arah dari komunikator ke komunikan
ataupun sebaliknya.

3. Transactional view. Komunikasi yang terjadi dua arah yang saling membangun pesan dan
bertanggung jawab terhadap keberhasilan komunikasi tersebut.

Tipe komunikasi

Berdasarkan tipe komunikasi yang ada dapat dikelompokan dalam 5 bentuk tipe berdasar
komunikanya dan proses yang terjadi didalamnya:

 Intrapersonal communication (komunikasi intrapersonal, bagaimana orang mengolah informasi


yang diterimanya. Meliputi sensasi, persepsi, memori, dan berpikir pada diri sendiri (Rakhmat,
Jalaludin, 2000)

 Interpersonal communication ( Komunikasi antar persona, komunkasi biasanya terjadi antara


dua individu)

 Small group communication ( komunikasi kelompok, komunikasi yang terjadi dalam sebuah
kelompok yang terbatas jumlahnya)

 Mass communication ( komunikasi massa, komunikasi yang menggunakan media massa pada
khalayak yang tidak di kenali)

 Public communication (Komunikasi publik, komunikasi antara pembicara dengan


audiencenya yang di ketahui.)(Devito, Joseph A. :13)

Komunikasi dokter-pasien-keluarga, merupakan salah satu aspek dari komunikasi kesehatan,


yang memiliki tujuan meraih kesehatan masyarakat yang baik.sedangkan bentuk komunikasinya
merupakan tipe komunikasi interpersonal, yang memiliki ke khususan dalam prosesnya.
Memahami komunikasi interpersonal juga mengetahui elemen yang ada seperti bentuk pesan
verbal dan non verbal, empati, serta prinsip-prinsip yang menjadi dasar keberhasilan komunikasi
ini. Selain itu perlunya di perhatikan nilai etika dalam proses komunikasi ini, mana yang dapat
dan tidak dapat dilakukan dalam berkomunikasi.

Komunikasi dokter-keluarga

Dalam kondisi sakit biasanya pasien jarang eksis, hal ini menjadikan keluarga pasien, teman
ataupun kerabat memegang peranan penting dalam mendukung pasien dan meningkatkan
perbaikan kondisi pasien.. Hal ini sangat terasa pada kasus pasien yang depressi, stress dan
memiliki penyakit yang serius. Keluarga dapat mendukung agar pasien menjalankan segala saran
pengobatan. Setiap anggota keluarga dapat memberikan dukungan yang berbeda kepada pasien
tergantung kedekatan dang pengaruhnya dalam keluarga.Berkomunikasi dengan anggota
keluarga pasien yang berbeda tingkat pengetahuan dan tingkat emosinya dapat memberikan
kejelasan bagi dokter, atau petugas kesehatan. Tetapi memiliki tingkat kesulitan yang berbeda
bergantung dengan kedudukan dalam keluarga, dalam mencapai informasi yang benar, juga
dalam memberikan informasi sebenarnya mengenai situasi pasien, apalagi ada informasi yang
tidak dapat disampaikan kepada pasien.

Northouse and Northouse (1998) menunjukan, Jika terlalu banyak perhatian yang harus
diberikan kepada keluarga pasien dan temannya, sebaiknya menjadi kekuatan untuk bersama-
sama mendukung dan memberi kekuatan pada pasien untuk perolehan kesehatannya. Jika
keluarga memegang peranan penting dalam hal tersebut mereka memerlukan komunikasi yang
efektif dari dan dengan petugas kesehatan. Hal ini untuk menghindarkan didapati informasi yang
disampaikan pasien ke keluarga sudah disaring oleh keluarga dalam penyampaian ke dokter, atau
penjaga ketenangan pasien dengan hanya memberikan informmasi yang tidak menyeluruh pada
pasien.

Dalam kasus – kasus tersebut, komunikasi yang baik dengan keluarga pasien tidak dapat di
hindari, dan harus menjadi perhatian serius bagi dokter atau tenaga kesehatan. Perlu di lihat dan
di perhatikan juga berbagai bentuk keterikatan keluarga dalam proses berkomunikasi, antara lain
1. Orangtua paling utama, dimana posisi orang tua sangat berkuasa mutlak terhadap anggota
keluarganya, terutama pada si pasien 2. Saling menyalahkan, dimana setiap anggota keluarga
selalu saling menyalahkan anggota keluarga lainnya 3. Keluarga yang berantakan, dan
4.partisipasi dalam wawancara, terutama dalam situasi pasien yang tidak berdaya.

Manfaat dari komunikasi efektif dokter-keluarga pasien yaitu

(1) Meningkatkan kepuasan keluarga pasien dalam menerima informasi mengenai penyakit yang
diderita pasien.

(2) Meningkatkan kepercayaan keluarga pasien kepada dokter yang merupakan dasar hubungan
dokter-keluarga pasien yang baik.

(3) Meningkatkan optimisme keluarga pasien akan kesembuhan pasien

(4) Mengurangi rasa cemas dan takut keluarga pasien terhadap penyakit yang diderita pasien

(5) Menghindarkan kesalahpahaman yang bisa menimbulkan dugaan malpraktik

Setelah sesi sebelumnya dilakukan dengan akurat, maka dokter dapat sampai kepada sesi
memberikan penjelasan. Tanpa informasi yang akurat di sesi sebelumnya, dokter dapat terjebak
kedalam kecurigaan yang tidak beralasan

Secara ringkas ada 6 (enam) hal yang penting diperhatikan agar efektif dalam berkomunikasi
dengan pasien, yaitu:

- Materi Informasi apa yang disampaikan

a. Tujuan anamnesis dan pemeriksaan fisik (kemungkinan rasa tidak nyaman/sakit saat
pemeriksaan).

b. Kondisi saat ini dan berbagai kemungkinan diagnosis.

c. Berbagai tindakan medis yang akan dilakukan untuk menentukan diagnosis, termasuk manfaat,
risiko, serta kemungkinan efek samping/komplikasi.

d. Hasil dan interpretasi dari tindakan medis yang telah dilakukan untuk menegakkan diagnosis.

e. Diagnosis, jenis atau tipe.

f. Pilihan tindakan medis untuk tujuan terapi (kekurangan dan kelebihan masing-masing cara).
g. Prognosis.

h. Dukungan (support) yang tersedia.

- Siapa yang diberi informasi

a. Pasien, apabila dia menghendaki dan kondisinya memungkinkan.

b. Keluarganya atau orang lain yang ditunjuk oleh pasien.

c. Keluarganya atau pihak lain yang menjadi wali/pengampu dan bertanggung jawab atas pasien
kalau kondisi pasien tidak memungkinkan untuk berkomunikasi sendiri secara langsung

- Berapa banyak atau sejauh mana

a. Untuk pasien: sebanyak yang pasien kehendaki, yang dokter merasa perlu untuk

disampaikan, dengan memerhatikan kesiapan mental pasien.

b. Untuk keluarga: sebanyak yang pasien/keluarga kehendaki dan sebanyak yang dokter perlukan
agar dapat menentukan tindakan selanjutnya.

- Kapan menyampaikan informasi

Segera, jika kondisi dan situasinya memungkinkan.

- Di mana menyampaikannya

a. Di ruang praktik dokter.

b. Di bangsal, ruangan tempat pasien dirawat.

c. Di ruang diskusi.

d. Di tempat lain yang pantas, atas persetujuan bersama, pasien/keluarga dan dokter.

- Bagaimana menyampaikannya

a. Informasi penting sebaiknya dikomunikasikan secara langsung, tidak melalui telepon, juga
tidak diberikan dalam bentuk tulisan yang dikirim melalui pos, faksimile, sms, internet.
b. Persiapan meliputi:

o materi yang akan disampaikan (bila diagnosis, tindakan medis, prognosis sudah disepakati oleh
tim);

o ruangan yang nyaman, memperhatikan privasi, tidak terganggu orang lalu lalang, suara gaduh
dari tv/radio, telepon;

o waktu yang cukup;

o mengetahui orang yang akan hadir (sebaiknya pasien ditemani oleh keluarga/orang yang
ditunjuk; bila hanya keluarga yang hadir sebaiknya lebih dari satu orang).

c. Jajaki sejauh mana pengertian pasien/keluarga tentang hal yang akan dibicarakan.

d. Tanyakan kepada pasien/keluarga, sejauh mana informasi yang diinginkan dan amati kesiapan
pasien/keluarga menerima informasi yang akan diberikan

Kesimpulan

Dalam melakukan komunikasi, dokter perlu memahami bahwa yang dimaksud dengan
komunikasi tidaklah hanya sekadar komunikasi verbal, melalui percakapan namun juga
mencakup pengertian komunikasi secara menyeluruh. Dokter perlu memiliki kemampuan untuk
menggali dan bertukar informasi secara verbal dan nonverbal dengan pasien pada semua usia,
anggota keluarga, masyarakat, kolega dan profesi lain. Kalau tidak berhati-hati dalam melakukan
komunikasi, dokter bisa berhadapan dengan sanksi atau ancaman hukum karena dianggap
melakukan pelanggaran.

Efektif atau tidaknya komunikasi yang berlangsung akan menentukan sikap pasien dan
keluarganya dalam menerima diagnosis yang ditetapkan dokter, menjalani pengobatan,
melakukan perawatan diri dan memerhatikan atau mematuhi anjuran/nasihat dokter. Komunikasi

tersebut juga mempengaruhi kelangsungan terapi, apakah akan berlanjut atau terjadi pemutusan
hubungan secara sepihak, cara pasien melaksanakan pengobatan adalah umpan balik bagi dokter,
untuk mengetahui hasil komunikasinya. Pembelajaran komunikasi ini juga menjadi bagian yang
harus dimiliki pula oleh pasien dan keluarga yang di stimulasi oleh dokter. Terjadinya
komunikasi yang efektif antara dokter, pasien,dan keluarga menjadi langkah dalam mewujudkan
kesehatan masyarakat.

Daftar Pustaka

Konsil Kedokteran Indonesia, 2005, Kemitraan dalam Hubungan Dokter-Pasien.Jakarta: KKI.

Konsil Kedokteran Indonesia,2006, Komunikasi Efektif Dokter-Pasien.Jakarta: KKI

‘Komunikasi Dokter-Pasien-Keluarga’26 Mei 2009, viewed at 19 November 2010

http://komitekeperawatanrsdsoreang.blogspot.com/2009/05/komunikasi-dokter-pasien-
keluarga.html