Anda di halaman 1dari 32

BAB II

URAIAN TEORITIS

II.1. KOMUNIKASI

II.1.1. Pengertian Komunikasi

Istilah komunikasi atau dalam bahasa Inggris communication berasal dari

kata Latin yaitu communication, dan bersumber dari kata communis yang berarti

sama. Sama disini maksudnya adalah sama makna. Jadi, kalau dua orang terlibat

dalam komunikasi, misalnya dalam bentuk percakapan, maka komunikasi akan

terjadi atau berlangsung selama ada kesamaan makna mengenai apa yang

dipercakapkan. Kesamaan bahasa yang dipergunakan dalam percakapan itu belum

tentu menimbulkan kesamaan makna. Dengan lain perkataan, mengerti bahasanya

saja belum tentu mengerti makna yang dibawakan oleh bahasa itu. Jelas bahwa

percakapan kedua orang tadi dapat dikatakan komunikatif apabila kedua-duanya,

selain mengerti bahasa yang dipergunakan, juga mengerti makna dari bahan yang

dipercakapkan (Effendy, 1990:9).

Akan tetapi, pengertian komunikasi yang dipaparkan diatas sifatnya

dasariah, dalam arti kata bahwa komunikasi itu minimal harus mengandung

kesamaan makna antara dua pihak yang terlibat. Dikatakan minimal karena

kegiatan komunikasi tidak hanya informatif, yakni agar orang lain mengerti dan

tahu, tetapi juga persuasif, yaitu agar orang lain bersedia menerima suatu paham

atau keyakinan, melakukan suatu perbuatan atau kegiatan, dan lain-lain.

Menurut Carl I. Hovland (Effendy, 1990:10), ilmu komunikasi adalah

upaya yang sistematis untuk merumuskan secara tegas asas-asas penyampaian

Universitas Sumatera Utara


informasi serta pembentukan pendapat dan sikap. Defenisi Hovland tersebut

menunjukkan bahwa yang dijadikan objek studi ilmu komunikasi bukan saja

penyampaian informasi, melainkan juga pembentukan pendapat umum (public

opinion) dan sikap publik (public attitude) yang dalam kehidupan sosial dan

kehidupan politik memainkan peranan yang amat penting. Bahkan dalam

defenisinya secara khusus mengenai pengertian komunikasinya sendiri, Hovland

mengatakan bahwa komunikasi adalah proses mengubah perilaku orang lain

(communication is the process to modify the behavior of other individuals).

Harold Laswell (Effendy:1990:10), mengatakan bahwa cara yang paling

baik untuk menjelaskan komunikasi ialah menjawab pertanyaan sebagai berikut :

Who says what in which channel to whom with what effect. Paradigma Laswell

tersebut menunjukkan bahwa komunikasi meliputi lima unsur sebagai jawaban

dari pertanyaan yang diajukan itu, yakni :

- Komunikator (communicator, source, sender)

- Pesan (message)

- Media (channel, media)

- Komunikan (communican, communicate, receiver, recipient)

- Efek (effect, impact, influence)

Berdasarkan paradigma Laswell tersebut, komunikasi adalah proses

penyampaian pesan oleh komunikator kepada komunikan melalui media yang

menimbulkan efek tertentu. Laswell menghendaki agar komunikasi dijadikan

objek studi ilmiah, bahwa setiap unsur diteliti secara khusus.

Komunikasi adalah proses penyampaian pikiran atau perasaan oleh

seseorang kepada orang lain dengan menggunakan lambang-lambang yang

Universitas Sumatera Utara


bermakna sama bagi kedua pihak. Dalam situasi tertentu, komunikasi

menggunakan media tertentu untuk mencapai sasaran yang jauh tempatnya dan

banyak jumlahnya. Dalam situasi tertentu pula komunikasi dimaksudkan atau

ditujukan untuk merubah sikap, pendapat atau tingkah laku seseorang atau

sejumlah orang, sehingga ada efek tertentu yang diharapkan.

Menurut William Albig (Abdurrachman, 1990:30), komunikasi adalah

proses pengoperan lambang-lambang yang berarti diantara individu-individu.

Sedangkan Bernard Berelson mengemukakan pendapat Carl I. Hovland bahwa

komunikasi adalah proses dimana seseorang individu (komunikator) mengoperkan

perangsang (biasanya lambang-lambang bahasa) untuk merubah tingkah laku

individu-individu yang lain (komunikan).

II.1.2. Unsur-unsur Komunikasi

Komunikasi meliputi lima unsur pokok yaitu komunikator, pesan,

komunikan, media dan efek. Komunikator adalah seseorang atau sekelompok

orang yang menyampaikan pikirannya atau perasaannya kepada orang lain. Pesan

adalah lambang yang membawakan pikiran atau perasaan komunikator, pesan

yang disampaikan komunikator harus mempunyai pengertian yang sama dengan

komunikan agar dapat dimengerti, sehingga komunikator akan mengetahui

bagaimana reaksi dan respon dari komunikan terhadap pesan (message) yang

disampaikan. Hal ini merupakan salah satu faktor utama dalam public relations

sesuai dengan fungsinya.

Komunikan adalah seseorang atau sejumlah orang yang menjadi sasaran

komunikator ketika dia menyampaikan pesannya. Media adalah sarana untuk

menyalurkan pesan-pesan yang disampaikan oleh komunikator apabila

Universitas Sumatera Utara


komunikan berada di tempat yang jauh dari komunikator dan atau jumlahnya

banyak. Sedangkan efek adalah tanggapan, respon atau reaksi dari komunikan

ketika dia atau mereka menerima pesan dari komunikator. Jadi efek adalah akibat

dari proses komunikasi.

Faktor lainnya yang penting dan harus diperhatikan di dalam penyampaian

message kepada public adalah channel atau medium yang akan digunakan. Pesan

yang khusus sifatnya dan ditujukan kepada publik tertentu penyampaiannya

memerlukan medium yang khusus pula. Komunikasi selanjutnya akan meliputi

respon sebagai pesan yang disampaikan komunikan tadi kepada si pengirim pesan

semula (komunikator).

II.2. Komunikasi Interpersonal

II.2.1. Pengertian Komunikasi Interpersonal

Komunikasi interpersonal adalah komunikasi yang dilakukan oleh dua

orang atau lebih, dapat berlangsung secara tatap muka (face to face) maupun

dengan menggunakan media seperti telepon, telegram, surat, dan sebagainya.

Dean C. Barluns dalam Liliweri (1991:12) mengemukakan bahwa komunikasi

antar pribadi biasanya dihubungkan dengan pertemuan antara dua orang, atau tiga

orang atau mungkin empat orang yang terjadi sangat spontan dan tidak

berstruktur. William G. Glueck dalam bukunya manajemen (Widjaja, 1986:8)

mengatakan bahwa komunikasi antar pribadi adalah proses pertukaran informasi

serta pemindahan pengertian antar dua orang atau lebih dalam suatu kelompok

kecil.

Universitas Sumatera Utara


De Vito dalam Liliweri (1991:13) mengemukakan bahwa komunikasi

antar pribadi mengandung ciri-ciri sebagai berikut:

1. Keterbukaan (openess)

Segala ide, gagasan maupun permasalahan hendaknya diungkapkan secara

bebas dan terbuka, karenanya antara komunikator dan komunikan harus

saling mengerti dan memahami.

2. Empati (emphaty)

Pesan-pesan yang dikomunikasikan ditanggapi dengan penuh perhatian

oleh kedua belah pihak tanpa berpura-pura.

3. Dukungan (support)

Ide maupun gagasan yang dikomunikasikan hendaknya mendapat

dukungan dari kedua belah pihak, dengan adanya dukungan tersebut akan

menimbulkan semangat dalam melaksanakan aktivitas untuk mencapai

tujuan yang telah ditetapkan.

4. Rasa positif (positiveness)

Rasa positif yang timbul di dalam berkomunikasi dapat menghindarkan

pihak-pihak yang berkomunikasi untuk berprasangka atau curiga antara

satu dengan yang lain.

5. Kesamaan (equality)

Komunikasi yang berlangsung akan terasa terjalin lebih akrab dan kuat

apabila terdapat berbagai kesamaan diantara pihak-pihak yang

berkomunikasi.

Universitas Sumatera Utara


Dari pelbagai sumber (Liliweri,1991:13) dapat dirumuskan bahwa

komunikasi antar pribadi mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:

1. Komunikasi antar pribadi biasanya terjadi secara spontan dan terjadi

sambil lalu saja.

2. Komunikasi antar pribadi tidak mempunyai tujuan terlebih dahulu.

3. Komunikasi antar pribadi terjadi secara kebetulan di antar peserta yang

tidak mepunyai identitas yang jelas.

4. Komunikasi antar pribadi mempunyai akibat yang disengaja maupun

tidak disengaja.

5. Komunikasi antar pribadi seringakali berlangsung berbalas-balasan.

6. Komunikasi antar pribadi menghendaki paling sedikit melibatkan

hubungan dua orang dengan suasana yang bebas, bervariasi, adanya

keterpengaruhan.

7. Komunikasi antar pribadi dikatakan tidak sukses jika tidak membuahkan

hasil.

8. Komunikasi antar pribadi menggunakan lambang-lambang bermakna.

II.2.2. Proses dan Efektivitas Komunikasi Interpersonal

II.2.2.1 Proses Komunikasi Interpersonal

Pengertian proses dapat diartikan sebagai rangkaian kegiatan atau

peristiwa yang sedang berlangsung dalam mencapai suatu hasil tertentu. Proses

komunikasi itu sendiri merupakan rangkaian kegiatan atau peristiwa ketika pesan

mulai disampaikan sampai terjadinya tindakan sebagai pengaruh dari pesan itu.

Cara yang terbaik dalam menerangkan komunikasi menurut Harold Lasswell

dalam bukunya “The Structure and Function of Communication in Society”

Universitas Sumatera Utara


(Effendy:1990:10) adalah dengan menjawab pertanyaan who, says what, in which

channel, to whom and with what effect.

Formula tersebut dapat dijabarkan sebagai berikut:

1. Who (komunikator)

Merupakan pihak yang menyampaikan pesan yaitu pimpinan.

2. Says what (pesan)

Pernyataan yang didukung oleh lambang-lambang dalam hal ini adalah

perintah, peraturan, dan kebijaksanaan.

3. In which channel (media)

Sarana atau saluran yang mendukung pesan yang disampaikan, seperti

telepon, memo, bulletin, dan sebagainya.

4. To whom (komunikan)

Pihak-pihak yang menerima pesan dari komunikator.

5. With what effect (efek yang ditimbulkan)

Dampak yang timbul sebagai pengaruh dari pesan.

Komponen komunikasi tersebut di atas harus saling berhubungan dan

tidak dapat dipisahkan. Jika suatu komponen diabaikan maka kegiatan proses

komunikasi tidak akan mencapai tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya. Dalam

proses komunikasi antar pribadi memerlukan lambang-lambang sebagai media.

Lambang sebagai media yang terdapat dalam Komunikasi Antar Pribadi dapat

dibagi atas dua bagian, yaitu:

Universitas Sumatera Utara


1. Lambang verbal, yaitu penggunaan bahasa sebagai media. Bahasa

merupakan lambang yang dapat mewakili kenyataan yang konkrit dan

objektif disamping juga dapat mewakili hal-hal yang bersifat abstrak.

2. Lambang non verbal, dimana proses komunikasi yang berlangsung dengan

gejala yang menyangkut gerak-gerik (gesture), sikap (postures), ekspresi

(facial expression) dan gejala lain yang sama.

II.2.2.2 Efektivitas Komunikasi Interpersonal

Efektivitas komunikasi interpersonal dalam hal ini adalah apabila tercapai

tujuan dalam rangka mengubah pendapat, sikap dan tingkah laku. Mc Grosky,

Larson dan Knap dalam bukunya “An Introduction to Interpersonal

Communication” (Effendy, 1981:37) mengatakan bahwa komunikasi yang efektif

dapat dicapai dengan mengusahakan ketepatan yang paling tinggi derajatnya

antara komunikator dengan komunikan dalam setiap situasi.

Steward L. Tubs dan Sylvia Moss (Rakhmat, 1986:38), mengemukakan

bahwa komunikasi yang efektif setidaknya akan menimbulkan lima hal yaitu:

pengertian, kesenangan, pengaruh pada sikap, hubungan yang baik dan tindakan.

Pengertian, diartikan sebagai penerimaan yang cermat dari pesan-pesan yang

disampaikan oleh komunikator. Kesenangan, komunikasi yang dilakukan bukan

hanya menyampaikan informasi, melainkan untuk menjalin hubungan yang lebih

akrab dan menyenangkan.

Pengaruh pada sikap, bagaimana agar pesan yang disampaikan dapat

mempengaruhi pendapat, sikap, dan tingkah laku seseorang. Hubungan yang

semakin baik, komunikasi ditujukan untuk dapat membina hubungan social

Universitas Sumatera Utara


diantara para komunikannya. Tindakan, merupakan tujuan yang diinginkan dari

proses komunikasi.

Cherter I Barnard dalam Rakhmat (1986:38), mengatakan jika ditinjau dari

unsur komunikasi maka seseorang akan menerima pesan jika terjadi empat

kondisi sebagai berikut:

1. Ia dapat benar-benar mengerti pesan komunikasi.

2. Pada saat ia mengambil keputusan, ia sadar bahwa keputusannya

bersangkutan bagi kepentingan pribadinya.

3. Pada saat ia mengambil keputusan, ia sadar bahwa keputusannya itu sesuai

dengan tujuannya.

4. Ia mampu untuk menempati baik secara mental maupun secara fisik.

II.2.3. Teori self disclosure (Johari Window)

Teori ini diperkenalkan oleh Joseph Luft (1969) yang menekankan bahwa

setiap orang bisa mengetahui dan tidak mengetahui tentang dirinya, maupun orang

lain. Untuk hal seperti itu dapat dikelompokkan ke dalam empat macam bidang

pengenalan yang ditunjukkan dalam suatu gambar yang disebutnya dengan

jendela Johari (Johari window).

diketahui tidak diketahui


sendiri sendiri

diketahui 1. terbuka 2. buta


oranglain

tidak diketahui 3. tersembunyi 4. tidak dikenal


oranglain

Universitas Sumatera Utara


Gambar yang disebut Jendela Johari tersebut melukiskan bahwa dalam

pengembangan hubungan antar seorang dengan yang lainnya terdapat empat

kemungkinan sebagaimana terwakili melalui suasana di keempat bidang (jendela)

itu.

Bidang 1, melukiskan suatu kondisi dimana antara seorang dengan yang

lain mengembangkan suatu hubungan yang terbuka sehingga dua pihak saling

mengetahui masalah tentang hubungan mereka.

Bidang 2, melukiskan bidang buta, masalah hubungan antara kedua pihak

hanya diketahui orang lain namun tidak diketahui oleh diri sendiri.

Bidang 3, disebut bidang tersembunyi, yakni masalah hubungan antara

kedua pihak diketahui diri sendiri namun tidak diketahui orang lain.

Bidang 4, bidang tidak dikenal,dimana kedua pihak sama-sama tidak

mengetahui masalah hubungan diantara mereka.

Keadaan yang dikehendaki sebenarnya dalam suatu komunikasi antar

pribadi ialah bidang 1, dimana antara komunikator dengan komunikan saling

mengetahui makna pesan yang sama. Meskipun demikian kenyataan hubungan

antar pribadi tidak seideal yang diharapkan itu, ini disebabkan karena dalam

berhubungan dengan orang lain betapa sering setiap orang mempunyai peluang

untuk menyembunyikan atau mengungkapkan masalah yang dihadapinya.

Universitas Sumatera Utara


II.3. Pengertian dan Fungsi Humas

II.3.1 Pengertian Humas

Istilah “hubungan masyarakat” yang disingkat “humas” sebagai

terjemahan dari istilah public relations, di Indonesia sudah benar-benar

memasyarakat dalam arti kata telah dipergunakan secara luas oleh departemen,

jawatan, perusahaan, badan, lembaga, dan lain-lain. Menurut defenisi kamus

terbitan Institude of Public Relations yakni sebuah lembaga humas terkemuka di

Inggris dan Eropa. Humas adalah keseluruhan upaya yang dilangsungkan secara

terencana dan berkesinambungan dalam rangka menciptakan dan memelihara niat

baik dan saling pengertian antara suatu organisasi dengan segenap khalayak

(Anggoro, 2000:2).

Dalam organisasi, Humas mempunyai tujuan untuk memberikan kepuasan

terhadap semua pihak yang berkepentingan yaitu masyarakat umum, para

karyawan dan para pemimpin organisasi itu sendiri. Sedangkan maksud dari

aktivitas humas adalah untuk mencegah “miss understanding”. Untuk

memperoleh penghargaan dari masyarakat dan mempengaruhi massa. Disamping

itu, juga untuk meningkatkan moral para karyawan, atas penghargaannya dari

hasil usahanya.

Sedangkan menurut kamus fund and wagnal, American standart desk

dictionary, istilah humas diartikan sebagai segenap kegiatan dan teknik atau kiat

yang digunakan oleh organisasi atau individu untuk menciptakan atau memelihara

suatu sikap dan tanggapan yang baik dari pihak luar terhadap keberadaan dan

sepak terjangnya. Pada pertemuan asosiasi-asosiasi humas seluruh dunia di

Mexico City, ditetapkan defenisi Humas suatu seni sekaligus disiplin ilmu sosial

Universitas Sumatera Utara


yang manganalisa berbagai kecenderungan, memprediksikan setiap kemungkinan

konsekuensi dari setiap kegiatannya, memberikan masukan dan saran-saran

kepada para pimpinan organisasi dan mengimplementasikan program-program

tindakan yang terencana untuk melayani kebutuhan organisasi atau kepetingan

khalayak.

Para pemraktek public relations dari berbagai Negara di seluruh dunia,

yang terhimpun dalam organisasi yang bernama The International Public

Relations Association mengatakan humas adalah fungsi manajemen dari sikap

budi yang berencana dan berkesinambungan, yang dengan itu organisasi-

organisasi dan lembaga-lembaga yang bersifat umum dan pribadi berupaya

membina pengertian, simpati dan dukungan dari mereka yang ada kaitannya atau

mungkin ada hubungannya dengan jalan menilai pendapat umum diantara mereka,

untuk mengorelasikan, sedapat mungkin kebijaksanaan dan tata cara mereka, yang

dengan informasi yang berencana dan tersebar luas, mencapai kerja sama yang

lebih produktif dan pemenuhan kepentingan bersama yang lebih efisian (Effendy,

1989 : 20-21).

Menurut Dr. Rex F. Harlow dalam Effendy (1989:21) seorang veteran

professional hubungan masyarakat mendefenisikan Humas sebagai fungsi

manajemen yang khas yang mendukung dan memelihara jalur bersama bagi

komunikasi, pengertian, penerimaan dan kerja sama antara organisasi dengan

khalayaknya, melibatkan manajemen dalam permasalahan atau persoalan,

membentu manajemen memperoleh penerangan mengenai dan tanggapan public,

menetapkan dan menegaskan tanggungjawab manajemen dalam melayani

kepentingan umum, menopang manajemen dalam mengikuti dan memanfaatkan

Universitas Sumatera Utara


perubahan secara efektif dalam penerapannya sebagai system peringatan secara

dini guna membantu mengantisipasi kecenderungan dan menggunakan penelitian

serta teknik-teknik komunikasi yang sehat dan etis sebagai kegiatan utama.

Menurut wakil para pakar Humas dari Negara maju, defenisi Humas

adalah seni dan ilmu pengetahuan sosial untuk menganalisa kecenderungan,

memprediksi konsekuensi-konsekuensi, menasehati para pemimpin organisasi dan

melaksanakan program yang terencana mengenai kegiatan-kegiatan melayani,

baik kepentingan publik atau umum. Rex F. Harlow dalam bukunya “public

relations” mendefenisikan Humas sebagai suatu ilmu yang mempelajari dimana

suatu organisasi mencoba memenuhi pertanggungjawaban masyarakat, menjamin

pengakuan masyarakat dan bila perlu persetujuannya untuk mencapai hasil yang

diharapkan.

Batasan pengertian mengenai Humas, para ahli sampai saat ini belum ada

satu kesepakatan secara tegas, pertama karena disebabkan banyaknya defenisi

Humas yang satu sama lain saling berbeda pendapat tentang Humas. Kedua,

terjadinya perbedaan pendapat tentang Humas tersebut diakibatkan adanya latar

belakang yang berbeda, misalnya defenisi yang dilontarkan oleh kalangan

akademis/teoritis perguruan tinggi tersebut akan lain bunyinya dengan apa yang

diungkapkan oleh kalangan praktisi. Dan ketiga, sesuatu yang menunjukkan baik

secara teoritis maupun praktisi bahwa kegiatan Humas itu bersifat dinamis dan

fleksibel terhadap perkembangan dinamika masyarakat serta mengikuti kemajuan

zaman.

Universitas Sumatera Utara


Dari sekian defenisi/pengertian Humas dengan bahasa dan formulasi yang

bervariasi diatas, hakikatnya terdapat persamaan. Hal itu terutama bahwa kegiatan

Humas dimaksudkan untuk memperoleh pengertian, kepercayaan dan dukungan

melalui suatu kegiatan komunikasi dua arah/timbal balik. Kegiatan komunikasi

tersebut, baik dilakukan di dalam organisasinya, maupun komunikasi dengan

publik-publik diluar organisasi.

II.3.2. Fungsi Humas

Bertrand R. Canfield dalam bukunya Public Relations Principles and

Problems yang dikutip oleh Tolseley dan Campbell, Exporing Journalism,

mengemukakan tiga fungsi Public Relations (Suwardi, 2001:20) yaitu :

a). Mengabdi kepada kepentingan umum

Suatu usaha yang baik harus dibuat agar publik menaruh kepercayaan dan

simpati kepada perusahaan beserta produktivitasnya. Soal kepercayaan dan

simpati dari publik ini berhubungan dengan moral di pihak perusahaan. Usaha

yang berhasil sampai publik menjadi langganan ialah sebagian dari tugas Public

Relations telah terlaksana. Taraf berikutnya adalah memelihara sikap publik

seperti itu. Sebab kalau tidak dipelihara, publik tersebut kemungkinan besar akan

menjadi publik perusahaan lain atau saingan.

Jadi tujuan Public Relations ialah menciptakan sikap yang menyenangkan

antara organisasi dan publik, kemudian sikap yang berhasil diciptakan itu dibina

untuk selanjutnya dipelihara sebaik-baiknya. Public Relations yang

mengutamakan kepentingan umum akan mengakibatkan adanya rasa senang pada

pihak public terhadap organisasi. Sering terjadi kesalahpahaman antara organisasi

dengan publik, dalam hubungan ini adalah tugas public relations untuk

Universitas Sumatera Utara


mengatasinya sehingga kembali hubungan yang harmonis dimana pengertian

bersama dan hasrat yang baik satu sama lain. Dalam pelaksanaannya harus

ditunjukkan bahwa public relations lebih menumpahkan perhatiannya kepada

kepentingan umum daripada kepentingan organisasi. Dengan demikian suksesnya

pekerjaan public relations berarti keuntungan organisasi.

b). Memelihara hubungan yang baik

Hubungan yang baik harus senantiasa dipelihara dan dipererat, baik antara

organisasi maupun publik diluar organisasi. Adalah tugas public relations untuk

mencegah ketegangan-ketegangan dan bentrokan-bentrokan antara kedua

organisasi tersebut. Dalam hubungan ini, tugas public relations ialah selalu

memelihara adanya pengertian bersama dalam rangka membina suasana yang

harmonis. Pimpinan perusahaan harus mendapat pengertian bagaimana

penghidupan buruh dengan upahnya yang diterima itu. Dengan diberi pengertian

berdasarkan fakta, pimpinan perusahaan akan menjalankan kebijaksanaan untuk

memberi upah yang relatif tinggi sehubungan dengan keuntungan perusahaan.

Dengan diberikan keterangan-keterangan yang dapat diterima, pihak kaum buruh

tidak akan bersitegang urat leher kepada tuntutannya sampai terdapat titik

pertemuan dalam jumlah upah yang merupakan kemampuan pihak pimpinan

perusahaan dan yang dituntut pihak kaum buruh.

Untuk memelihara suasana agar selalu harmonis banyak jalan yang harus

dilakukan oleh public relations, dengan mengadakan pertemuan kekeluargaan,

pertandingan olahraga, mengadakan darmawisata dan sebagainya. Dalam suasana

seperti itu akan mendapat hubungan yang akrab. Dimana suasana kantor yang

kaku akan berubah menjadi suasana kekeluargaan yang menyenangkan.

Universitas Sumatera Utara


Organisasi apapun dalam menjalankan kegiatannya tidak akan selalu berlangsung

dengan lancar dan baik sebagaimana diharapkan pimpinannya. Pada suatu waktu

kemungkinan besar akan menemui hal yang tidak diinginkan yang akan

merugikan apabila diketahui umum. Dan jika hal itu bernilai berita, maka

wartawan akan memuatnya dalam surat kabar.

Dalam hubungan dengan kejadian seperti itu, kemungkinan besar yang

dapat mengatasinya ialah hubungan yang baik dengan wartawan. Disebabkan

hubungan yang baik, mungkin sekali si wartawan akan mengadakan hubungan

dahulu dengan pihak petugas public relations. Di sebabkan hubungan yang baik

besar pula kemungkinan si wartawan hanya memberikan hal yang tidak

merugikan organisasi dimana humas harus mengadakan hubungan yang sebaik-

baiknya.

c. Menitikberatkan usaha dan tingkah laku yang baik

Kegiatan public relations harus dititikberatkan kepada moral dan kelakuan

yang baik. Dengan menyadari tujuan public relations, yakni menciptakan,

membina dan memelihara sikap yang menyenangkan pihak organisasi dan pihak

publik, maka moral dan kelakuan yang baik yang harus ditujukan oleh public

relations adalah merupakan keharusan. Bagaimana bisa menciptakan sikap yang

menyenangkan dan suasana yang harmonis, apabila public relations tidak

mendapat kepercayaan , baik dari organisasi maupun dari publik. Untuk

mendapatkan kepercayaan ini, harus menunjukkan moral yang tinggi dan

kelakuan yang baik.

Oleh karena itu, setiap perbuatan yang akan dijalankan oleh public

relations harus merupakan hasil pemikiran yang matang. Sebelum sesuatu

Universitas Sumatera Utara


pekerjaan dilaksanakan harus dipertimbangkan dahulu dengan baik dan

diperhitungkan dengan seksama. Seorang petugas public relations harus

menguasai ilmu publisistik yang mencakup pengetahuan, pengertian, sifat, fungsi

dan tujuan public relations sebaik-baiknya.

II.4. PENGERTIAN KONSELING

Secara etimologi, istilah konseling berasal dari bahasa latin, yaitu

“consilium” yang berarti “dengan” atau “berasama” yang dirangkai dengan

“menerima” atau “memahami”. Sedangkan dalam bahasa Anglo-Saxon, istilah

konseling berasal dari “sellan” yang berarti “menyerahkan” atau “menyampaikan”

(Lubis, 2006:6).

Sedangkan pengertian konseling secara terminology atau istilah terdapat

beberapa pendapat para pakar, diantaranya Jones (1951) yang dikutip oleh

Prayitno & Ermananti (1990:100) dalam Lubis (2006:6) mendefenisikan

konseling sebagai berikut : Konseling adalah kegiatan dimana semua fakta

dikumpulkan dan semua pengalaman seseorang difokuskan pada masalah tertentu

untuk diatasi sendiri oleh yang bersangkutan, dimana ia diberi bantuan pribadi dan

langsung dalam pemecahan masalah itu. Konselor tidak memecahkan masalah

untuk klien. Konseling harus ditujukan pada perkembangan yang progresif dari

individu untuk memecahkan masalah-masalahnya sendiri tanpa bantuan.

Proses konseling akan terlaksana manakala terlihat beberapa aspek berikut

ini (Lubis, 2006:7) :

a. Terjadi antara dua orang individu, masing-masing disebut konselor dan

klien.

Universitas Sumatera Utara


b. Terjadi dalam suasana yang profesional.

c. Dilakukan dan dijaga sebagai alat memudahkan perubahan-perubahan

dalam tingkah laku klien.

Disamping itu, konseling merupakan terjemahan dari bahasa Inggris

“Counseling” berasal dari kata “Councel” atau “to councel” yang artinya

memberikan nasehat atau anjuran kepada orang lain secara berhadapan muka

(face to face of relation). Jadi arti konseling adalah pemberian nasihat atau

penasihatan kepada orang lain mengenai pemecahan-pemecahan terhadap

berbagai jenis kesulitan pribadi.

Konseling merupakan bagian dari bimbingan, bahkan layanan konseling

merupakan jantung hati dari usaha layanan bimbingan secara keseluruhan.

Konseling adalah suatu proses dimana seorang konselor yang terlatih membantu

individu, kelompok orang atau ahli keluarga untuk memahami diri dan orang lain

bagi penyelesaian masalah dan konflik harian (Lubis, 2006:7-8).

Kata “konseling” mencakup bekerja dengan banyak orang dan hubungan

yang mungkin saja bersifat pengembangan diri, dukungan terhadap krisis,

psikoterapis, bimbingan atau pemecahan masalah. Tugas konseling adalah

memberikan kesempatan kepada “klien” untuk mengeksplorasi, menemukan, dan

menjelaskan cara hidup lebih memuaskan dan cerdas dalam menghadapi

sesuatu.(McLeod, 2006:5).

Konseling mengindikasikan hubungan professional antara konselor terlatih

dengan klien. Hubungan ini biasanya bersifat individu ke individu, walaupun

terkadang melibatkan lebih dari satu orang. Konseling didesain untuk menolong

klien untuk memahami dan menjelaskan pandangan mereka terhadap kehidupan,

Universitas Sumatera Utara


dan untuk membantu mencapai tujuan penentuan diri (self-determination) mereka

melalui pilihan yang telah diinformasikan dengan baik serta bermakna bagi

mereka, dan melalui pemecahan masalah emosional atau karakter interpersonal.

Konseling adalah sebuah profesi yang dicari oleh orang yang berada dalam

tekanan atau dalam kebingungan, yang berhasrat berdiskusi dan memecahkan

semua ini dalam sebuah hubungan yang lebih terkontrol dan lebih pribadi

dibandingkan pertemanan, dan mungkin lebih simpatik/tidak memberikan cap

tertentu dibandingkan dengan hubungan pertolongan dalam praktik medis

tradisional (McLeod, 2006:5-6).

Dari defenisi-defenisi yang telah dijelaskan, dapat disimpulkan bahwa

konseling itu adalah :

1. Konseling terdiri daripada dua orang (konselor dank lien/konseli).

2. Konseling merupakan proses untuk memperbaiki tingkah laku klien.

3. Konseling bersifat alamiah, terencana, terprogram dan kontineu.

4. Konseling berkaitan dengan masalah-masalah psikologi.

5. Konseling dilaksanakan haruslah professional dan konselornya juga

sebaiknya seorang yang mempunyai pengalaman yang cukup dalam

bidang konseling, baik yang berkaitang dengan pendidikan,

pengalaman, sifat dan sikap yang mendukung serta kepemimpinan.

Disamping itu, untuk lebih mudah mengetahui dan memahami tugas

konselor, berikut ini huruf-huruf konseling dijadikan akronim dengan arti sebagai

berikut (Lubis, 2006:11) :

Universitas Sumatera Utara


K : kontak
O : orang
N : menangani
S : masalah
E : expert (ahli)
L : laras
I : integrasi
N : norma
G : guna

Tujuan Konseling

Berikut ini adalah beberapa tujuan yang didukung secara eksplisit maupun

implisit oleh para konselor :

- Pemahaman. Adanya pemahaman terhadap akar dan perkembangan kesulitan

emosional, mengarah kepada peningkatan kapasitas untuk lebih memilih

control rasional ketimbang perasaan dan tindakan.

- Berhubungan dengan orang lain. Menjadi lebih mampu membentuk dan

mempertahankan hubungan yang bermakna dan memuaskan dengan

oranglain, misalnya dalam keluarga atau di tempat kerja.

- Kesadaran diri. Menjadi lebih peka terhadap pemikiran dan perasaan yang

selama ini ditahan atau ditolak, atau mengembangkan perasaan yang lebih

akurat berkenaan dengan bagaimana penerimaan orang terhadap diri.

- Penerimaan diri. Pengembangan sikap positif terhadap diri, yang ditandai

oleh kemampuan menjelaskan pengalaman yang selalu menjadi subjek kritik

diri dan penolakan.

Universitas Sumatera Utara


- Aktualisasi diri. Pergerakan kearah pemenuhan potensi atau penerimaan

integrasi bagian diri yang sebelumnya saling bertentangan.

- Pencerahan. Membantu klien mencapai kondisi kesadaran spiritual yang lebih

tinggi.

- Pemecahan masalah. Menemukan pemecahan masalah tertentu yang tak bisa

dipecahkan oleh klien seorang diri. Menuntut kompetensi umum dalam

pemecahan masalah.

- Pendidikan psikologi. Membuat klien mampu menangkap ide dan teknik

untuk memahami dan mengontrol tingkah laku.

- Memiliki keterampilan sosial. Mempelajari dan menguasai keterampilan sosial

dan interpersonal seperti mempertahankan kontak mata, tidak menyela

pembicaraan, asertif, atau pengendalian kemarahan.

- Perubahan kognitif. Modifikasi atau mengganti kepercayaan yang tak rasional

atau pola pemikiran yang tidak dapat diadaptasi, yang diasosiasikan dengan

tingkah laku penghancuran diri.

- Perubahan tingkah laku. Modifikasi atau mengganti pola tingkah laku yang

maladaptif atau merusak.

- Perubahan sistem. Memperkenalkan perubahan dengan cara beroperasinya

sistem sosial (contoh: keluarga).

- Penguatan. Berkenaan dengan keterampilan, kesadaran, dan pengetahuan

yang akan membuat klien mampu mengontrol kehidupannya.

- Restitusi. Membantu klien membuat perubahan kecil terhadap perilaku yang

merusak.

Universitas Sumatera Utara


- Reproduksi dan aksi sosial. Menginspirasikan dalam diri seseorang hasrat dan

kapasitas untuk peduli terhadap oranglain, membagi pengetahuan, dan

mengkontribusikan kebaikan bersama melalui kesepakatan politik dan kerja

komunitas.

II.5. MOTIVASI KERJA

II.5.1. Pengertian Motivasi Kerja

Aspek pertama dari kerja yang perlu di bahas ialah motivasi. Motivasi

mempersoalkan bagaimana caranya mendorong gairah kerja bawahan, agar mau

bekerja keras dengan memberikan semua kemampuan dan keterampilannya untuk

mewujudkan tujuan perusahaan. Motivasi penting karena dengan motivasi ini

diharapkan setiap individu karyawan mau bekerja keras dan antusias untuk

mencapai produktivitas kerja yang tinggi. Sedangkan menurut Malayu S. P.

Hasibuan, motivasi adalah pemberian daya panggerak yang menciptakan

kegairahan kerja seseorang, agar mau bekerja sama, bekerja efektif dan

terintegrasi dengan segala daya upayanya untuk mencapai kepuasan. Sedangkan

menurut Wayne F. Cascio, motivasi adalah sesuatu kekuatan yang dihasilkan dari

keinginan seseorang untuk memuaskan kebutuhannya. Misalnya rasa lapar, haus

dan bermasyarakat.

Motivasi bekerja itu tidak hanya berwujud kebutuhan ekonomis saja

(bentuk uang), tetapi bisa juga dalam bentuk kebutuhan psikis untuk aktif berbuat.

Sebabnya adalah banyak orang dengan suka rela bekerja terus menerus sekalipun

ia tidak memerlukan lagi benda-benda materiil dan uang sedikitpun juga.

Walaupun sekuritas (gangguan dan keamanan) itu sendiri serta keluarganya sudah

Universitas Sumatera Utara


terjamin, namun seseorang dengan ikhlas harus meneruskan pekerjaannya (Kartini

1994 : 147).

Tidak selamanya motif uang menjadi motif primer bagi buruh. Karena ada

buruh yang mendapatkan bayaran lebih tinggi di tempat baru, namun minta

bekerja kembali di tempat lama walaupun ia menerima gaji lebih sedikit. Biasanya

buruh sedemikian itu menyukai jenis pekerjaan tertentu, maka kebanggaan,

kecintaan, interest dan minat yang besar terhadap pekerjaan menjadi insentif kuat

untuk menyukai pekerjaan.

Di dalam human relations, motivasi orang-orang timbul karena adanaya

keinginan/kebutuhan, merupakan hal yang penting sekali yang dapat menjadi “key

activity” (kunci dari segala kegiatan). Kebutuhan mereka yang tergabung di dalam

kegiatan sesuatu badan pada dasarnya meliputi kebutuhan ekonomi, psikologis

dan sosial. Sehubungan dengan hal-hal tersebut, Davis mengatakan bahwa human

relations yang efektif adalah usaha untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan orang-

orang itu, memberikan kepuasan pada mereka dengan batas-batas kemampuan

badan itu.

Menurut Bernard Berelson dan Gary A. stainer (Muchadarsyah,

2000:134), motivasi adalah keadaaan kejiwaan dan sikap mental manusia yang

memberikan energi, mendorong kegiatan atau gerakan dan mengarah atau

menyalurkan perilaku kea rah mencapai kebutuhan yang memberi kepuasan atau

mengurangi ketidak seimbangan. Kebutuhan-kebutuhan tersebut timbul dari

hubungan antara manusia yang dalam hal ini lebih ditekankan pada hubungan

industrial. Oleh karena itu motivasi dapat diartikan sebagai bagian integral dari

Universitas Sumatera Utara


hubungan/industrial dalam rangka proses pembinaan, pengembangan, dan

pengarahan sumber daya manusia dalam suatu perusahaan.

Karyawan di dalam proses produksi adalah sebagai manusia (individual)

sudah barang tentu memiliki identifikasi tersendiri antara lain : tabiat/watak,

sikap/penampilan, kebutuhan, keinginan, cita-cita/kepentingan-kepentingan

lainnya, kebiasaan-kebiasaan yang dibentuk oleh keadaan aslinya, keadaan

lingkungannya dan pengalaman karyawan itu sendiri. Karena setiap karyawan

memiliki identifikasi yang berlainan sebagai akibat dari latar belakang

pendidikan, pengalaman, dan lingkungan masyarakat yang beraneka ragam, maka

ini akan terbawa juga dalam hubungan kerjanya sehingga akan mempengaruhi

sikap dan tingkah laku karyawan tersebut dalam melaksanakan pekerjaannya.

Demikian pula pengusaha juga mempunyai latar belakang budaya dan

pandangan filsafah serta pengalaman dalam menjalankan perusahaan yang

berlain-lainan sehingga berpengaruh di dalam melaksanakan pola hubungan kerja

dengan karyawan. Pada hakikatnya motivasi karyawan dan pengusaha berbeda

karena adanya perbedaan kepentingan maka perlu diciptakan motivasi yang

searah untuk mencapai tujuan bersama dalam rangka keberlangsungan usaha dan

ketenangan kerja, sehingga apa yang menjadi kehendak dan cita-cita kedua belah

pihak dapat diwujudkan.

Dengan demikian karyawan akan mengetahui fungsi, peranan dan

tanggung jawab di lingkungan kerjanya dan di lain pihak pengusaha perlu

menumbuhkan iklim kerja yang sehat di mana hak dan kewajiban karyawan diatur

sedemikian rupa selaras dengan fungsi, peranan dan tanggung jawab karyawan

sehingga dapat mendorong motivasi kerja ke arah partisipasi karyawan terhadap

Universitas Sumatera Utara


perusahaan. Iklim kerja yang sehat dapat mendorong sikap keterbukaan baik dari

pihak karyawan maupun pihak pengusaha sehingga mampu menumbuhkan

motivasi kerja yang searah antara karyawan dan pengusaha dalam rangka

menciptakan ketentraman kerja dan kelangsungan usaha ke arah peningkatan

produksi dan produktivitas kerja.

Untuk mendapatkan motivasi kerja yang dibutuhkan suatu landasan yaitu

terdapatnya suatu motivator. Dan hal ini merupakan hasil suatu pemikiran dan

kebijaksanaan yang tertuang dalam perencanaan dan program yang terpadu dan

disesuaikan dengan situasi dan kondisi sesuai dengan ekstern dan intern. Adapun

yang dibutuhkan oleh motivator adalah sebagai berikut :

1) Pencapaian penyelesaian tugas yang berhasil berdasarkan tujuan dan

sasaran.

2) Penghargaan terhadap pencapaian tugas dan sasaran yang telah ditetapkan.

3) Sikap dan ruang lingkup pekerjaan itu sendiri (pekerjaan yang menarik

dan memberi harapan).

4) Adanya peningkatan (kemajuan)

5) Adanya tanggung jawab

6) Adanya administrasi dan manajemen serta kebijakan pemerintah.

7) Supervisi

8) Hubungan antar perseorangan

9) Kondisi kerja

10) Gaji

11) Status

Universitas Sumatera Utara


Istilah motivasi dalam empat dasawarsa terakhir ini nampak semakin

popular. Motivasi adalah suatu model dalam menggerakkan dan mengarahkan

pada karyawan agar dapat melaksanakan tugasnya masing-masing dalam

mencapai sasaran dengan penuh kesadaran, kegairahan dan bertanggung jawab.

Motivasi mengandung makna yang lebih luas daripada sekedar diberi arti

pergerakan dan pengarahan atau komando untuk menjuruskan para karyawan.

Motivasi adalah bidang pengkajian manajemen yang banyak melibatkan aspek-

aspek psikologis, karena dengan motivasi kita lebih banyak menjelaskan

terjadinya perilaku orang-orang yang didorong oleh kondisi psikis yang ada pada

diri mereka masing-masing. Seperti halnya dorongan untuk bersedia bekerja

dengan baik, kesadaran dalam menunaikan tugas, rasa tanggung jawab dan

berupaya untuk meningkatkan prestasi.

Menurut Prof. DF. Drucker, motivasi berperan sebagai pendorong

kemauan dan keinginan seseorang. Dan inilah motivasi dasar yang mereka

usahakan sendiri untuk menghubungkan dirinya dengan organisasi untuk berperan

dengan baik. (Pandji 1998:38).

Perilaku seseorang seringkali nampak dari adanya saling ketergantungan

dari unsur-unsur motif yang ada padanya. Namun secara pokok unsur motivasi

dan tujuan merupakan hal yang tak terpisahkan. Perilaku orang umumnya

berorientasi pada tujuan yang senantiasa dirangsang dan didorong untuk

mencapainya. Maka dalam hal ini kegiatan-kegiatan yang ditampilkan para

karyawan merupakan perilaku yang disadari atau tidak adalah untuk mencapai

segala yang diinginkannya, dibutuhkan diharapkannya dari organisasi. Bagi para

manajer yang arif, mutlak perlu memahami latar belakang kemampuan, kebutuhan

Universitas Sumatera Utara


dan harapan-harapan dari karyawannya. Dalam memotivasi karyawan, para

manajer disamping harus memperhatikan dan mempertimbangkan apa yang

menjadi kebutuhan-kebutuhan para karyawan.

Menurut Herzberg dalam Anoraga (2001:39-40), sistem kebutuhan-

kebutuhan orang yang mendasari motivasinya dapat dibagi menjadi dua golongan:

a. Hygiene Factors

- Status

- Hubungan antar manusia

- Supervisi

- Peraturan-peraturan perusahaan dan administrasi

- Jaminan dalam pekerjaan

- Kondisi kerja

- Gaji

- Kehidupan pribadi

b. Motivational Factors

- Pekerjaan sendiri

- Hasil (achievement)

- Kemungkinan untuk berkembang

- Tanggung jawab

- Kemajuan dalam jabatan

- Pengakuan

Kebutuhan-kebutuhan dalam golongan Hygience, bila tidak mendapat

pemuasan akan menimbulkan ketidakpuasan didalam bekerja. Namun bila

terpuaskan, orang belum akan puas artinya ia belum benar-benar motivated

Universitas Sumatera Utara


terhadap pekerjaannya. Yang akan menimbulkan motivasi kerja yang tinggi

adalah pemenuhan kebutuhan-kebutuhan yang termasuk ke dalam golongan

motivational factors atau disebut juga motivators. Motivators inilah yang akan

memberikan kepuasan kerja. Kebutuhan-kebutuhan ini berhubungan dengan sifat

hakiki manusia yang menginginkan tercapainya hasil (archievent) dan dengan

berhasilnya pencapaian suatu hasil, mengalami perkembangan kepribadiannya.

Rangsangan ini akan menimbulkan kebutuhan perkembangan dan

pemuasannya diperoleh dari-dari tugas dalam pekerjaan seseorang. Sedangkan

rangsangan yang timbul dari kebutuhan-kebutuhan seseorang akan mendapatkan

pemuasan dari lingkungan kerjanya. Melahirkan motivasi, bukanlah masalah yang

sederhana dalam usaha mewujudkan suatu idealisme meningkatkan produktivitas

serta profesionalisme kerja.

Pandangan atau pendapat umum sering beranggapan bahwa motivasi kerja

dapat ditimbulkan apabila seseorang dapat imbalan yang baik serta cukup adil.

Memang tidak mungkin dipungkiri hadiah yang paling diharapkan oleh para

karyawan apabila berhasil meraih predikat “karyawan teladan” dari perusahaan

adalah insentif berupa uang, bentuk insentif yang lain biasanya kurang menarik,

seperti medali, jam tangan dan lain-lain. Namun demikian di sisi lain fakta

membuktikan bahwa meskipun sudah diberi imbalan yang baik tetapi hasil

kerjanya masih belum maksimal/produktif, mereka bekerja asal bekerja, berkarya

asal jadi. Gejala yang terakhir ini banyak berkaitan akibat rusaknya mental diri

seseorang.

Kendala melahirkan motivasi kerja positif, seperti iklim lingkungan yang

baik membangkitkan motivasi kerja aagar lebih baik, lebih adil, lebih lurus/jujur

Universitas Sumatera Utara


serta bersungguh-sungguh, merupakan suatu tantangan besar bagi kita untuk

meneranginya secara menyeluruh dan terpadu karena menyangkut perombakan

struktural dalam “revolusi sikap mental”.

Namun dengan bertitik tolak dari kesadaran diri untuk mengupayakan

serta menciptakan iklim yang positif dalam lingkungan kita, yang berawal dari :

a. Kemauan bekerja lebih baik.

b. Menerima hal-hal yang baru serta mempelajari segi keuntungan serta

kelemahannya.

c. Menunjukkan sikap toleran dan etis dalam bekerja (kelompok).

d. Berpandangan global (diantaranya lebih mementingkan kebutuhan

bersama daripada kepentingan pribadi).

e. Berpendapat subjektif dalam memberikan suatu penilaian, sehingga

unsur “like and dislike” tidak mewarnai penilaian.

Maka lambat laun akan tercipta suatu iklim sosial yang lebih positif, lebih

dinamis dan memberikan banyak peluang-peluang bagi lahirnya gagasan-

gagasanbaru. Melahirkan motivasi kerja hanya bisa dicapai dengan kesadaran

bersama, serta pentingnya peran sang motivator dalam memainkan peranannya

sebagai “the leader” yang mampu menunjukkan arah yang benar, sehingga dapat

membantu/membimbing perkembangan kelompok ke tahap

kedewasaan/kemandirian dan bertanggungjawab. Adapun teknis pengembangan

melahirkan motivasi kerja, haruslah ditinjau dari berbagai aspek/segi, misalnya

segi ekonomis, psikologis, social dan lain sebagainya yang semuanya merupakan

unsure-unsur yang harus dipertimbangkan.

Universitas Sumatera Utara


II.5.2.Tujuan dan Proses Motivasi

II.5.2.1. Tujuan pemberian motivasi :

1. Mendorong gairah dan semangat kerja karyawan.

2. Meningkatkan moral dan kepuasan kerja karyawan.

3. Meningkatkan produktivitas kerja karyawan.

4. Mempertahankan loyalitas dan kestabilan karyawan perusahaan.

5. Meningkatkan kedisiplinan dan menurunkan tingkat absensi karyawan.

6. Mengefektifkan pengadaan karyawan.

7. Menciptakan suasana dan hubungan kerja yang baik.

8. Meningkatkan kreativitas dan partisipasi karyawan.

9. Meningkatkan tingkat kesejahteraan karyawan.

10. Mempertinggi rasa tanggung jawab karyawan terhadap tugas-tugasnya.

11. Meningkatkan efisiensi penggunaan alat-alat dan bahan baku dan

sebagainya (Malayu, 1996:97-98).

II.5.2.2. Proses Motivasi

1) Tujuan, dalam proses memotivasi perlu ditetapkan terlebih dahulu

tujuan organisasi, baru kemudian para bawahan dimotivasi kea rah

tujuan tersebut.

2) Mengetahui kepentingan, dalam proses motivasi penting

mengetahui kebutuhan/keinginan karyawan dan tidak hanya

melihatnya dari sudut kepentingan pimpinan dan perusahaan saja.

3) Komunikasi efektif, dalam proses motivasi harus dilakukan

komunikasi yang baik dan efektif dengan bawahan. Bawahan harus

Universitas Sumatera Utara


mengetahui apa yang akan diperolehnya dan syarat-syarat apa saja

yang harus dipenuhinya supaya insentif itu diperolehnya.

4) Integrasi tujuan, dalam proses motivasi perlu untuk menyatukan

tujuan perusahaan dan tujuan kepentingan karyawan. Tujuan

perusahaan adalah needs complex, yaitu untuk memperoleh laba,

perluasan perusahaan, sedangkan tujuan individu karyawan adalah

pemenuhan kebutuhan dan kepuasan. Jadi tujuan

organisasi/perusahaan dan tujuan karyawan harus disatukan dan

untuk ini penting adanya persesuaian motivasi.

5) Fasilitas, manajer dalam memotivasi harus memberikan fasilitas

kepada perusahaan dan individu karyawan yang akan mendukung

kelancaran pelaksanaan pekerjaan, misalnya memberikan bantuan

kendaraan kepda salesmen.

6) Team work, manajer harus menciptakan team work yang

terkoordinasi baik yang bisa mencapai tujuan perusahaan. Team

work (kerja sama) ini penting karena dalam suatu perusahaan

biasanya terdapat banyak bagian (Malayu, 1996 : 101-102).

II.5.3. Teori -teori Motivasi

Teori motivasi dikelompokkan atas :

1. Teori kepuasan (content theory)

Teori ini memusatkan perhatian pada faktor-faktor dalam diri orang yang

menguatkan, mengarahkan, mendukung, dan menghentikan perilakunya. Teori

ini menjawab pertanyaan apa yang memuaskan dan mendorong semangat

bekerja seseorang. Hal yang memotivasi semangat bekerja seseorang adalah

Universitas Sumatera Utara


untuk memenuhi kebutuhan dan kepuasan materiil maupun non materiil yang

diperolehnya dari hasil bekerjanya. Jika kebutuhan dan kepuasannya semakin

terpenuhi, maka semangat bekerjanya pun akan semakin baik pula.

Jadi pada dasarnya teori ini mengemukakan bahwa seseorang akan

bertindak (bersemangat bekerja) untuk dapat memenuhi kebutuhan-kebutuhan

(inner needs) dan kepuasannya. Semakin tinggi standar kebutuhan dan

kepuasan yang diinginkan, maka semakin giat orang itu bekerja. Tinggi

rendahnya tingkat kebutuhan dan kepuasan yang ingin dicapai seseorang

mencerminkan semangat bekerja orang tersebut.

2. Teori Proses (Process Theory)

Teori motivasi proses ini pada dasarnya berusaha untuk menjawab

pertanyaan bagaimana menguatkan, mengarahkan, memelihara, dan

menghentikan perilaku individu, agar setiap individu bekerja giat sesuai

dengan keinginan manajer. Bila diperhatikan secara mendalam teori ini

merupakan proses “sebab akibat” bagaimana seseorang bekerja serta hasil apa

yang akan diperolehnya. Jika bekerja baik saat ini, maka hasilnya akan

diperoleh baik untuk hari esok. Jadi hasil yang dicapai tercermin dalam

bagaimana proses kegiatan dilakukan seseorang. Hasil hari ini merupakan hari

kegiatan hari kemarin. Karena “ego” manusia selalu menginginkan hasil yang

baik-baik saja, maka daya penggerak yang memotivasi semangat kerja

seseorang terkandung dari harapan yang akan diperolehnya pada masa depan.

Inilah sebabnya teori ini disebut “teori harapan”. Jika harapan itu dapat

menjadi kenyataan maka seseorang akan cenderung meningkatkan semangat

kerjanya.

Universitas Sumatera Utara