Anda di halaman 1dari 13

Penyusunan Arahan Pemanfaatan Ruang di DAS Batanghari

BAB 1 :
PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG DAN PERMASALAHAN

Daerah Aliran Sungai (DAS) secara umum didefinisikan sebagai suatu


hamparan wilayah/kawasan yang dibatasi oleh pembatas topografi (punggung
bukit) yang menerima, mengumpulkan air hujan, sedimen, dan unsur hara
serta mengalirkannya melalui anak-anak sungai dan keluar pada satu titik
(outlet). Selanjutnya Departemen Kehutanan, 2001 memberikan pengertian
bahwa Daerah Aliran Sungai adalah suatu daerah tertentu yang bentuk dan
sifat alamnya sedemikian rupa, sehingga merupakan kesatuan dengan sungai
dan anak-anak sungainya yang melalui daerah tersebut dalam fungsinya
untuk menampung air yang berasal dari curah hujan dan sumber air lainnya,
dan kemudian mengalirkannya melalui sungai utamanya (single outlet). Suatu
DAS dipisahkan dari wilayah lain disekitarnya (DAS-DAS lain) oleh pemisah
dan topografi, seperti punggung perbukitan dan pegunungan.

Dari kedua pengertian tersebut, dapat dikemukakan bahwa DAS merupakan


ekosistem, dimana unsur organisme dan lingkungan biofisik serta unsur kimia
berinteraksi secara dinamis dan di dalamnya terdapat keseimbangan inflow
dan outflow dari material dan energi. Ekosistem DAS, terutama bagian hulu
merupakan bagian yang penting karena mempunyai fungsi perlindungan dari
segi fungsi tata air terhadap keseluruhan bagian DAS. Aktivitas perubahan
pemanfaatan lahan dan/atau pembuatan bangunan konservasi yang
dilakukan di daerah hulu akan memberikan dampak terhadap daerah hilir
dalam bentuk perubahan fluktuasi debit air dan transport sedimen maupun
material terlarut lainnya (non-point pollution).

Laporan Akhir I - 1
Penyusunan Arahan Pemanfaatan Ruang di DAS Batanghari

DAS Batanghari mempunyai luas daerah tangkapan air (catchment area)


± 4,5 juta hektar, dan merupakan DAS terbesar kedua di Indonesia
(Departemen Kehutanan, 2002). Secara administrasi pemerintahan, sebagian
besar DAS Batanghari berada di wilayah Provinsi Jambi (bagian hulu, tengah
dan hilir DAS), sisanya berada di wilayah Provinsi Sumatera Barat dan
Provinsi Riau (hulu DAS). Saat ini DAS Batanghari sudah dikategorikan
sebagai DAS kritis, dimana kuantitas dan kualitasnya sudah diambang batas
ketentuan sungai yang lestari. Tingginya sedimentasi serta kejadian banjir di
sebagian besar Provinsi Jambi diakibatkan oleh meluapnya Sungai
Batanghari. Hal ini menunjukkan telah rusaknya daerah resapan di hulu DAS
dan telah terjadinya penyempitan penampang sungai serta daya angkut
sungai yang semakin rendah, terutama di tengah dan hilir DAS.

Rusaknya daerah hulu DAS karena beberapa hal antara lain penebangan
hutan secara liar (illegal logging), penebangan hutan secara berlebihan yang
dilakukan oleh pemegang Hak Pengusahaan Hutan (HPH), dan perubahan
pemanfaatan lahan dari kawasan hutan lindung menjadi kawasan budidaya
(seperti perkebunan, pertambangan, permukiman, pertanian dan lain-lain).
Sedangkan rusaknya daerah tengah dan hilir DAS Batanghari, akibat
beberapa hal antara lain kegiatan industri (industri pulp, penggergajian kayu,
indusutri minyak), perkembangan permukiman dan kegiatan perkotaan yang
berada di sepanjang alur Sungai Batanghari. Kerusakan DAS Batanghari,
selain menyebabkan banjir dan kekeringan, telah mengganggu pula kegiatan
sosial ekonomi masyarakat sehari - hari dalam memanfaatkan air sungai dan
mengganggu prasarana transportasi sungai. Melihat kondisi tersebut, maka
diperlukan upaya - upaya untuk menjaga keseimbangan ekosistem DAS
Batanghari, dalam rangka mewujudkan pembangunan berkelanjutan secara
ekonomi, ekologi dan sosial.

Akumulasi dari kegiatan yang kurang memperhatikan aspek ekologis di


daerah aliran Sungai Batanghari, menyebabkan turunnya kualitas dan
kuantitas air Sungai Batanghari. Meningkatnya sedimentasi akan menyulitkan
upaya pembangunan pelabuhan samudera di Muara Sabak. Pelabuhan ini

Laporan Akhir I - 2
Penyusunan Arahan Pemanfaatan Ruang di DAS Batanghari

direncanakan menjadi pusat pertumbuhan ekonomi dengan akses ke


kawasan segitiga pertumbuhan ekonomi Singapura - Batam - Johor
sebagai daerah kerjasama ekonomi Indonesia-Malaysia-Singapura Growth
Triangle (IMS-GT), Indonesia-Malaysia-
Thailands Growth Triangle (IMT-GT) dan
juga pasar APEC. Dalam skala yang lebih
kecil, kerusakan DAS Batanghari juga
akan mengancam keberadaan Batanghari
Irrigation Project (BHIP) untuk mengairi
areal sawah seluas 18.936 hektar pada 35
(tiga puluh lima) desa di Provinsi Sumatera Barat dan 5 (lima) desa di Provinsi
Jambi. Ancaman serupa juga terjadi terhadap pembangunan Pembangkit
Listrik Tenaga Air (PLTA) pada Sub DAS Merangin dengan kapasitas 250
Mega Watt (MW) untuk memasok kebutuhan listrik regional dan Provinsi
Jambi.

Selanjutnya, musibah banjir yang melanda


Provinsi Jambi pada Bulan Desember 2003
tidak hanya menimbulkan kerugian harta
benda, bahkan telah menimbulkan korban
jiwa. Hampir seluruh daerah dari sepuluh
kabupaten dan kota di provinsi ini tak luput
dari bencana, dengan kondisi paling parah
terjadi di wilayah Kabupaten Batanghari, Muaro Jambi dan Kota Jambi,
bahkan seluruh jalan darat menuju Kota
Jambi nyaris lumpuh total dengan
genangan air mencapai hampir 1,5 meter.
Khusus di Kota Jambi beberapa kelurahan
seperti Jelutung, Olak Kemang,
Penyengat Rendah, Buluran, Sijenjang,
Danau Teluk dan Jambi Kota Seberang, Jalan Husni Thamrin, Sultan Thaha,
serta Pasar Angso Duo dan Pasar Rombeng genangan air mencapai sekitar

Laporan Akhir I - 3
Penyusunan Arahan Pemanfaatan Ruang di DAS Batanghari

50 sentimeter. Demikian pula Kecamatan Jambi Timur yang berbatasan


dengan Kabupaten Muaro Jambi tidak terlepas dari bencana banjir yang
menyebabkan rusaknya ruas jalan baru di daerah Kumpeh.

Melihat pentingnya peranan DAS Batanghari dan permasalahannya, sudah


saatnya dilakukan tindakan-tindakan untuk mengantisipasi atau mengurangi
frekuensi terjadinya bencana alam banjir dan tanah longsor. Solusi untuk
mengurangi banjir dan dampaknya adalah penyelamatan DAS Batanghari
mulai dari hulu sampai ke hilir. Pengelolaan yang tepat adalah melalui
pendekatan bioregion, dimana cakupannya tidak ditentukan oleh batas
administrasi/politis, tetapi oleh batas geografis komunitas manusia dan sistem
ekologisnya. Melalui perbaikan pola pemanfaatan lahan (tata ruang) di DAS
Batanghari tidak akan dirasakan manfaatnya dalam waktu dekat, namun
upaya ini merupakan salah satu tindakan yang mengarah pada inti
permasalahan penyebab terjadinya bencana alam banjir dan tanah longsor di
DAS Batanghari.

Pokok permasalahan yang dihadapi DAS Batanghari adalah telah terjadinya


kerusakan ekosistem DAS Batanghari yang ditandai oleh terjadinya banjir,
longsor, lahan kritis dan sedimentasi, serta kualitas air sungai yang makin
menurun. Penyebabnya adalah faktor manusia dan faktor alam. Faktor
manusia berkaitan dengan kebijakan, peraturan dan hukum, serta sistem
sosial budaya. Faktor alam berkaitan dengan kondisi alam yang ada seperti
jenis tanah, geomorphologi, iklim, kondisi geologi, dan karakteristik sungai.
Secara umum permasalahan yang dominan di DAS Batanghari adalah :

1. Pembalakan liar (illegal logging), yang berakibat terhadap menurunnya


kualitas dan fungsi hutan (deforestasi). Akibat selanjutnya adalah
terjadinya banjir di musim hujan dan kekurangan air dimusim kemarau.
Pada dasarnya ada dua jenis pembalakan illegal. Pertama yang dilakukan
oleh operator syah yang melanggar ketentuan-ketentuan dalam izin yang
dimilikinya. Kedua, melibatkan pencuri kayu, dimana pohon-pohon

Laporan Akhir I - 4
Penyusunan Arahan Pemanfaatan Ruang di DAS Batanghari

ditebang oleh orang yang sama sekali tidak mempunyai hak legal untuk
menebang pohon.

2. Terjadinya perubahan pemanfaatan lahan antara lain disebabkan oleh


kebijakan program transmigrasi, yang mengkonversi kawasan hutan
menjadi kawasan permukiman transmigrasi dan lahan pertanian;
kebijakan yang menyebabkan terjadinya perubahan hutan lindung
menjadi HTI; kebijakan yang berkaitan dengan pemekaran wilayah melalui
UU No. 54/1999 tentang pemekaran wilayah Provinsi Jambi, telah
menyebabkan berubahnya kota kecamatan menjadi kota kabupaten yang
diperkirakan membawa dampak terhadap berkembangnya permukiman
dan perubahan pemanfaatan lahan; kebijakan investasi dari pemerintah
pusat melalui Pakto 23/1993 telah menyebabkan meningkatnya ijin usaha
dan ijin investasi terutama di sektor perkebunan yang berdampak terhadap
perubahan pemanfaatan lahan dalam skala luas.

3. Terdapatnya lahan-lahan kritis yang diduga akibat terjadinya perubahan


pemanfaatan lahan, dan illegal logging. Tahun 2002 luas lahan kritis DAS
Batanghari di Provinsi jambi mencapai 581.539 Ha, tersebar di beberapa
wilayah kabupaten; sedang di Provinsi Sumatera Barat seluas 193.667 ha.

4. Banjir diseagia besar wiayah Provinsi Jambi pada saat musim hujan yang
diduga akibat dari rusaknya tutupan lahan di daerah tangkapan air di
bagian hulu DAS, berkembangnya wilayah permukiman penduduk di
sepanjang sungai dan daerah rawa, kurang berfungsinya saluran drainase,
perubahan sosial budaya masyarakat, serta faktor alam seperti curah
hujan yang tinggi, dan terjadinya back water.

5. Tingkat sedimentasi yang tinggi diduga akibat dari usaha pertambangan,


penebangan liar, perkebunan (sawit), dan adanya industri pengolahan
kayu (sawmill/penggergajian kayu) di sepanjang DAS Batanghari baik
legal maupun illegal, serta kegiatan permukiman yang berada di
sepanjang sungai .Tingginya sedimentasi menjadi ancaman bagi :
x Proyek Irigasi Batanghari yang direncanakan mampu mengairi sekitar
18.000 ha sawah di Sumatera Barat dan Jambi.

Laporan Akhir I - 5
Penyusunan Arahan Pemanfaatan Ruang di DAS Batanghari

x PLTA pada sub DAS Merangin yang memiliki kapasitas 250 Mega Watt
untuk memasok kebutuhan listrik regional dan Provinsi Jambi.
x Pembangunan pelabuhan Muara Sabak sebagai gerbang ekonomi
Provinsi Jambi dan kawasan segitiga pertumbuhan ekonomi
Singapura-Batam-Johor, Indonesia-Malaysia-Singapura Growth
Triangle (IMS-GT), Indonesia-Malaysia-Thailands Growth Triangle
(IMT-GT), dan pasar APEC.

6. Penurunan kualitas air sungai diduga disebabkan oleh pembuangan


limbah industri yang berada disepanjang sungai Batanghari seperti
industri minyak, sawmil; aktifitas pertambangan; limbah pestisida dari
kegiatan pertanian; dan limbah dari kegiatan permukiman yang berada
sepanjang sungai.

1.2 MAKSUD DAN TUJUAN

Maksud dari kegiatan penyusunan arahan pemanfaatan ruang di DAS


Batanghari adalah untuk mengkaji secara mendalam kondisi, potensi dan
permasalahan DAS Batanghari dalam upaya pemanfaatan ruang yang efisien
dan efektif untuk menjaga keseimbangan ekosistem DAS Batanghari untuk
mencegah terjadinya bencana alam banjir dan tanah longsor.

Adapun tujuan dari kegiatan ini adalah menyusun arahan pemanfaatan ruang
DAS Batanghari yang menyeluruh melalui kajian-kajian dari berbagai aspek
yang terkait dengan semua kegiatan meliputi aspek kehutanan, sumberdaya
air, penggunaan tanah, kondisi alam serta aspek-aspek sumberdaya alam
lainnya. Produk ini pada akhirnya akan dapat dimanfaatkan oleh seluruh
stakeholder di dalam DAS Batanghari (Pemerintah Provinsi, Kabupaten dan
Kota serta Masyarakat) dalam rangka pelaksanaan dan pengendalian
pembangunan masing-masing wilayah administrasi yang tercakup dalam
ekosistem DAS Batanghari.

Laporan Akhir I - 6
Penyusunan Arahan Pemanfaatan Ruang di DAS Batanghari

1.3 SASARAN

Sasaran yang hendak dicapai dari kegiatan penyusunan arahan pemanfaatan


ruang di DAS Batanghari ini adalah :

x Teridentifikasinya kondisi ekosistem yang ada di kawasan DAS Batanghari


x Teridentifikasinya kawasan-kawasan kritis yang dijaga kelestariannya
x Teridentifikasinya kawasan-kawasan rawan banjir, longsor, dan
rekomendasi mitigasi penanganannya.
x Tersusunnya faktor-faktor yang berpengaruh terhadap kelestarian
ekosistem DAS Batanghari.
x Tersusunnya arahan pemanfaatan ruang DAS Batanghari skala 1 : 50.000

1.4 KELUARAN

Keluaran dari kegiatan ini akan terdiri dari :

a. Dokumen laporan yang berisi arahan-arahan pemanfaatan ruang DAS


Batanghari sebagai masukan bagi RTRW Kabupaten/Kota terkait dan
RTRW Provinsi.
b. Album Peta dengan tingkat ketelitian skala 1 : 50.000.

1.5 RUANG LINGKUP

1.5.1 Ruang Lingkup Wilayah

Hasil identifikasi batas DAS Batanghari yang dilakukan oleh Balai


Pengelolaan DAS Batanghari, Departemen Kehutanan; Pusat Penelitian
Tanah dan Agroklimat Departemen Pertanian; dan Laporan Penyusunan
Kriteria Penataan Ekosistem DAS Batanghari, Direktorat Penataan Ruang
Wilayah Barat Direktorat Jenderal Penataan Ruang Departemen Kimpraswil;
bahwa DAS Batanghari mencakup 3 (tiga) wilayah provinsi yaitu Provinsi
Jambi, Sumatera Barat, dan Riau.

Untuk wilayah Provinsi Sumatera Barat meliputi Kabupaten Sawahlunto/


Sijunjung, Solok, Solok Selatan dan Kabupaten Dharmasraya. Untuk Provinsi

Laporan Akhir I - 7
Penyusunan Arahan Pemanfaatan Ruang di DAS Batanghari

Jambi meliputi Kabupaten Kerinci, Merangin, Bungo, Tebo, Sarolangun,


Batanghari, Muaro Jambi, Kota Jambi dan Kabupaten Tanjung Jabung Timur.
Sedang untuk wilayah Provinsi Riau meliputi sebagian kecil Kabupaten
Indragiri Hulu.

1.5.2 Ruang Lingkup Kegiatan

Ruang lingkup kegiatan penyusunan arahan pemanfaatan ruang di DAS


Batanghari ini mencakup beberapa kegiatan sebagai berikut :

1. Persiapan
Kegiatan ini mencakup kegiatan penyusunan program kerja, mobilisasi
personil serta metodologi yang akan diterapkan.
2. Pengumpulan Data
Pengumpulan data dimaksudkan untuk menghimpun data dan informasi
yang berkaitan dengan DAS Batanghari baik menyangkut aspek sosial,
budaya, fisik, lingkungan dan sebagainya. Data dan informasi tersebut
akan menjadi masukan dalam analisis dan kajian terhadap potensi dan
permasalahan DAS Batanghari dan selanjutnya menjadi masukan dalam
penyusunan konsep pemanfaatan ruang DAS Batanghari.

Dalam kegiatan ini juga dilakukan identifikasi dan delineasi batas DAS
Batanghari pada peta topografi yang berbasis Citra Satelit (Landsat)
dengan tingkat ketelitian 1 : 50.000.
3. Analisis dan kajian
Analisis dilakukan secara komprehensif dan detail berdasarkan data dan
informasi yang telah diperoleh. Sedangkan kegiatan kajian dilakukan
terhadap beberapa aspek (kebijakan) yang berkaitan dengan DAS
Batanghari seperti :
a. Kajian terhadap kondisi eksisting ekosistem di DAS Batanghari yang
meliputi komponen biotik dan abiotik. Komponen biotik meliputi aspek
sosial, budaya dan ekonomi masyarakat. Komponen abiotik meliputi

Laporan Akhir I - 8
Penyusunan Arahan Pemanfaatan Ruang di DAS Batanghari

sumberdaya tanah, lahan, air, hutan dan bentang alam dalam


ekosistem DAS Batanghari.
b. Kajian terhadap permasalahan ekosistem di DAS Batanghari
c. Kajian kebijakan pengembangan wilayah provinsi, kabupaten/kota yang
ada termasuk Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional (RTRWN), RTR
Pulau Sumatera, RTRW Provinsi, dan RTRW Kabupaten/Kota.
d. Kajian terhadap peraturan perundang-undangan dan kelembagaan
yang terkait dengan pengelolaan ekosistem DAS Batanghari.
4. Konsepsi Pemanfaatan Ruang
Konsepsi pemanfaatan ruang DAS Batanghari disusun berdasarkan hasil
analisis dan kajian terhadap kondisi potensi dan permasalahan DAS
Batanghari. Dalam penyusunan konsep ini dipertimbangkan pada
beberapa kriteria, norma maupun standar dalam penataan ruang.

1.6 KERANGKA BERPIKIR


Isu makro yang berkembang di DAS Batanghari adalah telah terjadinya
kerusakan ekositem DAS. Kerusakan tersebut, dapat disebabkan dua faktor,
yaitu faktor alamiah dan faktor manusia. Faktor alamiah seperti curah hujan
yang tinggi, jenis tanah, kemiringan lereng yang tinggi/terjal dan karakteristik
geomorphologi berpengaruh secara alami terhadap kerusakan DAS.
Sedangkan faktor manusia, merupakan faktor penyebab terjadinya kerusakan
DAS secara tidak alami. Faktor manusia menyangkut masalah kebijakan dan
kondisi sosial ekonomi masyarkat. Hal tersebut berupa a) belum terpadunya
rencana tata ruang antar wilayah; b) belum terkoordinasinya program tata
ruang antar sektor dan antar wilayah; c) masih lemahnya partisipasi seluruh
stakeholders dalam menjaga keseimbangan ekosistem DAS Batanghari.

Berdasarkan isu tersebut, hasil studi terdahulu akan dilengkapi lagi dengan
data terbaru tentang karakteristik fisik dasar, sosial ekonomi, kebijakan tata
ruang yang ada di DAS Batanghari. Hasilnya berupa identifikasi kondisi
ekosistem DAS. Untuk selanjutnya DAS Batanghari akan dibagi menjadi 3
(tiga) zona, yaitu hulu, hilir, dan tengah. Dengan mengunakan model dan

Laporan Akhir I - 9
Penyusunan Arahan Pemanfaatan Ruang di DAS Batanghari

perhitungan, akan dianalisis potensi dan masalah yang ada di setiap zona.
Analisis potensi dan masalah ini mencakup fisik dasar, sosial, ekonomi,
kelembagaan dan tata ruang. Berdasarkan hasil analisis potensi dan masalah
akan diidentifikasi kawasan kritis yang harus direhabilitasi, kawasan rawan
banjir dan longsor. Berdasarkan potensi dan masalah, serta hasil identifikasi
terhadap daerah kritis, dan identifikasi terhadap kawasan rawan banjir dan
longsor, selanjutnya akan disusun faktor-faktor yang berpengaruh terhadap
kelestarian ekosistem DAS Batanghari.

Dengan berlandaskan konsep pembangunan berkelanjutan, pengelolaan DAS


terpadu, dan dengan mempertimbangkan peraturan/perundang-undangan,
maupun kelembagaan serta rencana pembangunan daerah yang telah ada,
disusun arahan pemanfaatan ruang DAS Batanghari yang meliputi pola
pemanfaatan ruang dan program pelaksanaannya. Untuk lebih jelasnya
mengenai proses penyusunan arahan pemanfaatan ruang di DAS Batanghari,
seperti disajikan pada Gambar 1.1.

1.7 SISTEMATIKA PENULISAN

Sistematika penulisan laporan penyusunan arahan pemanfaatan ruang di


DAS Batanghari ini meliputi :

BAB I PENDAHULUAN
Bab ini memberikan uraian tentang latar belakang dan
permasalahan DAS Batanghari, maksud dan tujuan, sasaran,
keluaran, dan ruang lingkup serta keangka berpikir dalam
penyusunan arahan pemanfatan ruang di DS Batanghari.

BAB II IDENTIFIKASI KONDISI EKOSISTEM DAS BATANGHARI


Bab ini berisi hasil identifikasi kondisi fisik maupun non fisik DAS
Batanghari yang meliputi iklim, hidrologi, tanah, kondisi geologi,
penggunaan lahan dan perubahannya, kependudukan,
perekonomian wilayah, sosial budaya dan pariwisata, kondisi
sarana dan prasarana wilayah, dan aspek kelembagaan.

Laporan Akhir I - 10
Penyusunan Arahan Pemanfaatan Ruang di DAS Batanghari

Gambar 1.1 Diagram kerangka berpikir

Laporan Akhir I - 11
Penyusunan Arahan Pemanfaatan Ruang di DAS Batanghari

BAB III FAKTOR-FAKTOR YANG BERPENGARUH TERHADAP KETIDAKLESTARIAN


EKOSIATEM DAS BATANGHARI

Dalam bab ini diuraikan tentang beberapa faktor yang berpengaruh


terhadap ketidaklestarian ekosistem DAS Batanghari yang
dikelompokkan menjadi faktor fisik, faktor sosial ekonomi, dan
faktor kelembagaan.

BAB IV KAWASAN RAWAN BENCANA


Bab ini menguraikan hasil identifikasi kawasan rawan bencana
yang dikelompokkan ke dalam kawasan lahan kritis, rawan
bencana banjir dan rawan bencana tanah longsor di wilayah DAS
Batanghari.

BAB V KONSEP DANH STRATEGI ARAHAN PEMANFAATAN RUANG DAS


BATANGHARI

Bab ini menguraikan dasar pertimbangan konsep arahan


pemanfaatan ruang berdasarkan perubahan pemanfaatan lahan,
kesesuaian RTRW dengan pemanfaatan lahan eksisting, dan
kesesuian arahan fungsi kawasan. Dalam bab ini juga diuraikan
strategi menyusuan arahan pemanfaatan ruang DAS Batanghari.

BAB VI ARAHAN PEMANFAATAN RUANG DAS BATANGHARI

Diuraikan dalam bab ini arahan pemanfaatan ruang yang disusun


atas dasar strategi dan penyesuaia pemanfatan lahan berdasarkan
kriteria PP No 47/1997, Keppres 32/1990 dan kriteria lain yang
mengatur kawasan lindung maupun kawasan budidaya.

BAB VII ARAHAN PENGEDALIAN BENCANA DI DAS BATANGHARI

Dalam bab ini diuraikan beberapa arahan dalam pengendalian


kawasan rawan bencana berupa lahan kritis, banjir dan longsor.
Diuraikan juga masalah pengembangan kelembagaan,
pengembangan ekonomi, kependudukan di dalam DAS Batanghari.

Laporan Akhir I - 12
Penyusunan Arahan Pemanfaatan Ruang di DAS Batanghari

BAB VIII USULAN PROGRAM

Bab ini menguraikan tentang beberapa usulan program dalam


pemanfaatan ruang, pengendalian pemanfatan ruang dan rencana
tindak penanganan permasalahan ekosistem DAS Batanghari.

Laporan Akhir I - 13