Anda di halaman 1dari 10

TUGAS II

OPERASI SISTEM ENERGI LISTRIK


ANALISIS BIAYA OPERASI SISTEM TENAGA LISTRIK di PEMBANGKIT
LISTRIK PANAS BUMI BEDUGUL 10 MW
KECAMATAN BATURITI KABUPATEN TABANAN BALI

NAMA : DWI CAHYA LAKSANA


NIM : 08.04.2353
JURUSAN : TEKNIK ELEKTRO

FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI

INSTITUT SAINS & TEKNOLOGI AKPRIND

YOGYAKARTA

2010
ANALISIS BIAYA OPERASI SISTEM TENAGA LISTRIK di PEMBANGKIT
LISTRIK PANAS BUMI BEDUGUL 10 MW
KECAMATAN BATURITI KABUPATEN TABANAN BALI

PENDAHULUAN
Indonesia merupakan negara yang banyak memiliki potensi Panas Bumi
atau energi terbarukan, sedangkan minyak bumi potensinya sangat terbatas dan
gas bumi walaupun potensinya besar, tetapi dalam pemanfaatannya memerlukan
penanganan khusus. Kondisi ini menyebabkan Panas Bumi akan dapat menjadi
sumberdaya energi terbarukan dalam penyediaan energi di Indonesia, terutama
sebagai bahan bakar dalam pembangkit listrik di masa mendatang.
Pulau Jawa yang merupakan pusat kebutuhan energi karena kepadatan
penduduknya serta kepadatan industrinya, saat ini menggunakan listrik melebihi
70% produksi listrik nasional. Neraca daya kelistrikan PLN menunjukkan bahwa
kapasitas terpasang di Jawa adalah sebesar 15.499 MW (73% total kapasitas
nasional), sedangkan diluar Jawa sebesar 5.614 MW (27% total kapasitas
nasional).
Provinsi Bali saat ini dipasok oleh system kelistrikan di Pulau Jawa
melalui jaringan transmisi kabel laut 150 kV dengan daya mampu 200 MW dan
dipasok juga oleh pembangkit yang ada di Provinsi Bali sendiri yaitu
PLTD/PLTG Pesanggaran, PLTG Gilimanuk, PLTG Pemaron dengan totaldaya
mampu adalah 362 MW.
Penjualan tenaga listrik untuk Provinsi Bali sampai dengan akhir tahun
2007 adalah mencapai 2.366,7 GWh dengan komposisi penjualan per sector
pelanggan untuk sosial adalah 44,5 GWh (1,88%), rumah tangga adalah 1.035,3
GWh (43,74%), bisnis 1.075,0 GWh (45,42%), industri 95,6 GWh (4,04%), dan
publik 116,4 GWh (4,92%). Rasio elektrifikasi Provinsi Bali untuk tahun 2007
adalah 74,42% dan rasio desa berlistrik 100%.
KONSUMSI ENERGI LISTRIK KELOMPOK KONSUMEN
Konsumsi energi listrik di propinsi Bali menunjukkan pemakaian yangn
terus meningkat tiap tahunnya. Hal ini disebabkan jumlah penduduk yang
cenderung meningkat setiap tahunnya, semakin berkembangnya sektor industry
dan semakin meningkatnya kemajuan daerah di propinsi Bali. Sektor rumah
tangga merupakan sektor yang paling banyak pelanggannya diikuti dengan sektor
komersil (bisnis), industri dan publik. Untuk lebih lengkapnya dapat dilihat pada
tabel 1.1 dan 1.2

Tabel 1.1
Pertumbuhan Kebutuhan Energi Listrik di Bali
Tahun 1997 sampai 2007

Jenis Pelanggan
Tahun Total
Rumah Tangga Komersial Publik Industri
1997 452762 27632 15871 750 497015
1998 475855 29775 17471 755 523856
1999 490741 33426 18005 661 542833
2000 516609 37574 18833 663 573679
2001 534619 41674 19783 679 596755
2002 552582 45274 20618 687 619161
2003 565714 48108 20900 650 635372
2004 583462 50109 21769 677 656018
2005 601598 52194 22675 705 677172
2006 607975 52772 23046 733 684527
2007 614419 53332 23164 762 691677

Sumber : PT. PLN (Persero) Wilayah XI, Denpasar-Bali,2007


Tabel 1.2
Parameter kebutuhan energy listrik di propinsi bali

Rumah tangga Komersial Publik Industri kebutuhan energi


Tahun
(GWh) (GWh) (GWh) (GWh) Total (GWh)
1997 357.56 483.1 45.3 86.3 972.3
1998 465.7 574.9 52.4 89.3 1182.4
1999 519 600.3 58.6 80.8 1258.7
2000 612.84 687 64.7 75.7 1440.2
2001 733.87 729.8 69.2 77 1609.9
2002 755.45 751.4 72.7 74.2 1653.8
2003 761.04 760.1 77.2 73.5 1672
2004 815.91 814.9 82.8 78.8 1,792.50
2005 874.74 873.7 88.7 84.5 1,921.70
2006 947.36 936.3 92.3 86.5 2,062.60
2007 1,025.40 1,003 96.1 88.5 2,213.50

Sumber : PT. PLN (Persero) Wilayah XI, Denpasar-Bali,2007


a. Nilai rata-rata

Nilai yang paling mungkin dari suatu variable yang diukur untuk semua
pembacaan yang dilakukan. Pendekatan yang paling baik akan diperoleh bila
jumlah pembacaan atau data suatu besaran sangat banyak. Secara teoritis
pembacaan yang banyaknya tidak tehingga akan memberikan hasil yang baik,
waluapun dalam kenyataanya pengukuran dapat dilakukan dengan data yang
terbatas.

 Nilai rata-rata X = X1 + X2 + X3 + ......Xn


N
Kebutuhan energi rata-rata dalam 10 tahun adalah :
X = 972.3+1182.4+1258.7+1440.2+1609.9+1653.8+1672+1,792.5+1,921.7+2,062.6+2,213.5

10
= 1778 GWh
Gambar 1.1 Grafik kebutuhan energi tahun 1997-2007 (GWh)
PROYEKSI NERACA DAYA DI BALI
Dengan melihat pertumbuhan beban puncak untuk sistem Bali sampai
dengan tahun 2020 dan kapasitas daya terpasang untuk pembangkit yang ada
sekarang di Bali, maka besarnya supply daya yang diperlukan untuk
mengantisipasi pertumbuhan beban di Bali dapat ditentukan. Dari data tentang
pembangkit listrik di Bali, diketahui bahwa daya mampu tertinggi lima tahun
terakhir sistem pembangkitan di Bali yaitu tahun 2009 adalah sebesar 753,13
MW. Melihat keadaan tersebut maka untuk tahun tahun kedepannya diperlukan
adanya penambahan daya di Bali.
Tabel 1.3
Neraca Daya Listrik di Bali Tahun 2009-2020

Beban Daya Cadangan


Tahun Puncak Mampu Sistem
(MW) (MW) (MW)
2009 591.4 608 16.6
2010 611.4 608 -3.4
2011 633.1 608 -25.1
2012 659.3 608 -51.3
2013 687.8 608 -79.8
2014 719.9 608 -111.9
2015 756 608 -148
2016 798 608 -190
2017 843 608 -235
2018 892.9 608 -284.9
2019 950 608 -342
2020 1011 608 -403
Dari tabel 1.3 diatas dapat dibuat grafik beban puncak sebagai berikut :

Gambar 1.2 Grafik Neraca Daya di Bali Sampai Tahun 2020


ANALISA EKONOMI
Untuk menganalisa ekonomi suatu pembangkit perlu diketahui berapa
biaya modal pembangkit dan harga jual energi listrik. Sehingga dapat diketahui
berapa lama payback periode yang dibutuhkan, berapa nilai NPV, dan berapa nilai
IRR.
1. Analisa Biaya Pembangkitan PLTP BEDUGUL
Untuk menentukan biaya pembangkitan pada pembangkit listrik
tenaga panas bumi di Ulubelu, ada beberapa parameter yang harus
diperhitungkan. Parameter-parameter tersebut adalah biaya modal, biaya
operasi dan maintenance (O&M), Biaya bahan bakar (Fuel cost) serta
biaya lingkungan. Selain parameter diatas ada beberapa faktor yang
mempengaruhi pengembalian modal besarnya suku bunga dan faktor
depresiasi. Besarnya suku bunga 12 % / tahun. dan besarnya faktor
depresiasi sebesar 4% dengan umur pembangkit 25 tahun. Nilai parameter-
parameter diatas ditunjukkan pada tabel 1.4 berikut ini
Tabel 1.4 analisa biaya pembangkitan

1 Biaya modal (CC) Rp. 585/KWh


Biaya Operasional
dan Rp. 25,48/KWh
2 Maintenance(O&M)
Biaya lingkungan Rp. 15,48/KWh
3
biaya bahan bakar Rp. 207/KWh
4
5 Suku bunga 12%

6 Umur operasi 25 Tahun


Daya yang
110 MW
7 dibangkitkan

Dari data parameter pada tabel 1.4 bisa diperoleh nilai biaya pembangkitan
sebagai berikut:
TC = CC + FC + O&M Cost + Lingk Cost
Biaya pembangkitan total didapat dengan persamaan Sehingga biaya
pembangkitan / KWh pada PLTP Bedugul dengan suku bunga 12%, 9% dan 6%
adalah :
Tabel 1.5
Biaya pembangkitan pada PLTP Bedugul
Suku Bunga 12% 9% 6%
Biaya
Pembangkitan 833 708 607,96
(Rp/KWh)

2. Penetapan Harga Jual Listrik PLTP BEDUGUL


Penetapan harga dari pihak produsen adalah mengacu pada harga
minimum yang dibutuhkan untuk memproduksi energi listrik per kWh.
Oleh karena itu penetapan harga ekonomi energi listrik dari PLTPBedugul
selain memperhitungkan biaya pembangkitan total, juga harus
memperhatikan pengaruh dari sector pajak sebesar 10%, dan dari sektor
keuntungan yang diambil dari pihak produsen sebesar 15%-40% serta
sesuai dengan BPP ketentuan dari pemerintah. Tabel yang menunjukan
harga patokan dari pemerintah.
Tabel 1.6
Penentuan BPP dari pemerintah
Sistem BPP-TT BPP-TM BPP-TR
Subsystem
Kelistrikan (Rp/KWh) (Rp/KWh) (Rp/KWh)
JAMALI Bali 768 859 1012

Apabila biaya modal 50% ditanggung oleh pemerintah pusat dan daerah dan 50%
ditanggung oleh investor untuk pembangunan pembangkit .sehingga didapatkan
pada tabel berikut.
Tabel 1.7
Penentuan Harga jual masyarakat
Biaya Biaya
Suku Bunga BPP Baru
Pembangkitan Pembangkitan
(%) (Rp)
Awal (Rp) Baru (Rp)
6 676.6 424.96 524.95
9 780 479.96 592.9
12 833 539.46 666.4

Sehingga didapatkan harga ekonomi energi listriknya yang dapat dijangkau


masyarakat adalah:
Tabel 1.8
Harga jual listrik pada PLTP Bedugul

Suku Bunga 12% 9% 6%


Biaya
Pembangkitan 539 479 424
Baru (Rp/KWh)
Harga Jual
Listrik 666 592 524
(Rp/KWh)
Dari table tersebut kita dapat merubahnya dalam bentuk grafik seperti berikut ini :

Gambar 1.3 grafik harga jual listrik PLTP Bedugul


Dengan patokan pembangkitan 10-50MW yaitu 85% dari harga BPP oleh
ketentuan pemerintah dan adanya subsidi dari pemerintah pada modal awal
pembangkitan sebesar 50% dari jumlah modal utama sebesar 30juta US$ sehingga
menjadi 15 juta US$ maka daya beli masyarakat dapat terpenuhi apabila tidak ada
subsidi dari pemerintah maka harga jual listrik masih sulit dijangkau oleh
masyarakat.
3. PENDAPATAN PER TAHUN
Untuk menentukan pemasukan per tahun, maka harus diperhitungkan:
 Pemakaian sendiri dengan asumsi sebesar 4% dari total kapasitas produksi
pembangkit listrik
Pemakaian sendiri/ tahun = 0.04 x 10 x 103 x 8760
= 3.504.000 KWh/ tahun
 Hasil produksi listrik selama 1 tahun dengan pembangkitan rata-rata 95%
dari kapasitas penuh dengan manfaat pembangkit 95%
Produksi/ tahun = 10 x 103 x 8760 x 0.75 x 0.95
= 49.275.000 KWh/tahun
Dari data diatas, maka hasil produksi energi listrik yang terjual per
tahunnya adalah
Produksi jual/ tahun = 49.275.000 – 3.504.000
= 45.771.000 kWh/ tahun
Penghasilan produksi listrik per tahun adalah :
• Dari Suku Bunga 6% dengan harga sebesar Rp. 524/KWh
Penghasilan / tahun = 45.771.000 x 524
= Rp. 23.984.004.000
• Dari Suku Bunga 9% dengan harga sebesar Rp. 592/KWh
Penghasilan / tahun = 45.771.000 x 592
= Rp. 27.096.432.000
• Dari Suku Bunga 12% dengan harga sebesar Rp. 666/KWh
Penghasilan / tahun = 45.771.000 x 666
= Rp. 30.483.486.000