Anda di halaman 1dari 23

KEBIJAKAN GULA NASIONAL DAN PERSAINGAN

GLOBAL

Oleh
Kaman Nainggolan1

LATAR BELAKANG

Industri pergulaan nasional saat ini menghadapi permasalahan yang


kompleks. Pamor Indonesia yang pernah menjadi negara pengekspor gula
terbesar kedua dunia pada sekitar tahun 1930, secara berangsur-angsur
menurun menjadi negara importir gula, dan saat ini Indonesia telah
menjadi importir terbesar pertama di Asia dan terbesar kedua dunia
setelah Rusia.
Masalah pokok dalam pergulaan nasional adalah rendahnya
produksi akibat rendahnya produktivitas dan efisiensi industri gula
nasional secara keseluruhan, dimulai dari pertanaman tebu hingga pabrik
gula. Semakin menurunnya luas areal dan produktivitas tebu yang
dihasilkan petani serta rendahnya produktivitas pabrik gula serta
manajemen pabrik gula yang tidak efisien, adalah pemicu rendahnya
produksi gula nasional.
Walaupun demikian, menurunnya produksi gula nasional bukan
hanya disebabkan masalah on-farm dan ketidak-efisienan pabrik-pabrik
gula, tapi juga sangat dipengaruhi kondisi pasar global yang tidak adil,
yang mengakibatkan tidak adanya insentif untuk berproduksi.
Rendahnya harga dunia akibat dari surplus pasokan serta distorsi
kebijakan dari negara-negara eksportir, telah merangsang pelaku usaha di
dalam negeri untuk lebih memilih membeli gula impor dibandingkan gula
produksi domestik. Harga gula dunia yang murah memang sebetulnya
menguntungkan negara pengimpor seperti Indonesia, namun hal itu justru
menciptakan permasalahan yang tidak mudah, yaitu membanjirnya gula
impor yang sangat murah. Keadaan ini menyebabkan industri gula
domestik menjadi semakin tidak berdaya menghadapi serbuan gula impor
yang jauh lebih murah. Kelemahan kebijakan makro ekonomi dan strategi
perdagangan regional dan internasional juga merupakan faktor yang
menyebabkan, baik industri gula maupun petani tebu harus berhadapan
dengan perdagangan gula internasional yang tidak adil.
Ketergantungan pada impor yang semakin meningkat, selain
semakin menurunkan pertumbuhan industri gula di dalam negeri, juga
merupakan salah satu ancaman terhadap kemandirian pangan Indonesia
1
Penulis adalah Kepala Badan Bimas Ketahanan Pangan, Departemen Pertanian
dan Dosen Pascasarjana beberapa Perguruan Tinggi di Jakarta.

1
yang mempunyai penduduk yang besar dengan daya beli yang masih
rendah. Kemandirian pangan mensyaratkan agar pemenuhan kebutuhan
pangan pokok semaksimal mungkin dipenuhi oleh produksi dalam negeri.
Mengingat Indonesia merupakan negara agraris yang memiliki sumber
daya alam yang memadai dan mempunyai potensi untuk berproduksi lebih
baik dari saat ini, maka perlu adanya suatu kebijakan pengembangan
produksi tebu dan industri gula yang komprehensif.
Pemerintah selama ini telah mengeluarkan berbagai kebijakan, baik
untuk peningkatan produksi maupun untuk mengatur tataniaga gula,
untuk mengatasi permasalahan yang timbul dari faktor internal pada
industri gula nasional, maupun dari perubahan faktor eksternal. Paper ini
bertujuan mengevaluasi efektifitas kebijakan-kebijakan pergulaan selama
ini dalam menghadapi perkembangan pasar dunia.

KONDISI PERGULAAN NASIONAL

Luas areal, Produktivitas dan Produksi Tebu

Luas areal tebu dalam negeri cenderung terus menurun rata-rata –


1,72 persen per tahun selama tahun 1993-2004. Penurunan areal tanam
yang cukup drastis terjadi pada tahun 1999, yaitu sebesar – 9,9 persen,
sebagai akibat dari dihapuskannya kebijakan TRI serta adanya konversi
lahan. Penurunan areal juga diikuti dengan menurunnya produktivitas
tebu dengan laju sebesar -1,42 persen per tahun. Pada tahun 1999,
penurunan produktivitas mencapai –12,26 persen, yaitu dari 71,8 ton/ha
menjadi 62,8 ton/ha. Semakin rendahnya luas areal dan produktivitas tebu
menyebabkan produksi tebu nasional juga semakin rendah. Penurunan
produksi tebu nasional mencapai 3,01 persen per tahun. Penghapusan
TRI, menyebabkan produksi tebu pada tahun 1999 menurun drastis
sebesar –21,25 persen (Tabel 1).

Tabel 1. Areal Tanam , Produktivitas dan Produksi Tebu/Gula


Produksi tebu (ribu
Tahun Areal (ha) Produktivitas (ton/ha)
ton)
1993 420.687 89,4 37.593.146
1994 428.726 71,2 30.545.070
1995 420.630 71,5 30.096.060
1996 403.266 70,9 28.603.531
1997 385.669 72,5 27.953.841
1998 378.293 71,8 27.177.766
1999 340.800 62,8 21.401.834
2000 340.660 70,5 24.031.355
2001 344.441 73,1 25.186.254
2002 350.723 72,8 25.533.431
2003 335.725 67,4 22.631.109

2
2004 344.852 73,0 25.172.380
Sumber : Sekretariat Dewan Gula (2004)

Biaya Produksi Tebu

Biaya untuk memproduksi tebu di dalam negeri pada tahun 2000


mencapai lebih dari Rp 8 juta per hektar, di mana persentase terbesar
adalah untuk biaya tenaga kerja. Dibandingkan dengan Thailand, biaya
produksi tebu di Indonesia adalah dua kali lipat biaya produksi di Thailand
(Tabel 2). Faktor yang menyebabkan tingginya biaya produksi di
Indonesia adalah tingginya biaya sewa lahan yang empat kali lipat
dibandingkan di Thailand. Hal ini kemungkinan disebabkan sebagian
besar tebu masih di tanam di lahan sawah di Jawa.

Tabel 2. Biaya Produksi Tebu per hektar di Indonesia dan Thailand,


tahun 2000

Thailand*) Indonesia**)
Jenis Biaya
Rp % Rp %
Biaya tenaga kerja 2.024.481 44,70 2.800.000 33,24
Biaya Material 1.396.093 30,83 2.400.000 28,49
Biaya variabel lainnya 339.515 7,50 0,00
Sewa lahan 503.140 11,11 2.000.000 23,74
Depresiasi alat
265.788 5,87 1.224.000 14,53
pertanian/bunga bank
Biaya produksi tebu 4.529.017 100 8.424.000 100,00
Biaya tebang angkut 905.781 2.300.000

Sumber : *) Sekretariat Dewan Ketahanan Pangan (diolah)


**)Direktorat Jenderal Bina Produksi Perkebunan

Kondisi Pabrik Gula Nasional

Rendahnya produksi gula nasional antara lain juga disebabkan tidak


efisiennya pabrik-pabrik Gula (PG) yang ada. Pada masa kejayaan industri
gula di tahun 1930, Indonesia memiliki 179 Pabrik Gula (PG). Jumlah PG
semakin menurun karena secara ekonomis tidak menguntungkan. Jumlah
PG per September 2003 tercatat sebanyak 58 unit PG milik BUMN dan 6
PG milik swasta. Dari 58 PG tersebut, 46 PG berada di Jawa dan 12 PG
berada di luar Jawa. Pada umumnya PG-PG beroperasi jauh di bawah
kapasitas giling. Sebagian besar PG mempunyai kapasitas giling yang kecil
(<3.000 TCD) karena mesin yang telah berumur lebih dari 75 tahun serta
tidak mendapat perawatan yang memadai, sehingga menyebabkan biaya
produksi per kg gula tinggi. Rendemen yang dihasilkan PG-PG juga sangat
menurun.

3
Rendemen gula yang dihasilkan PG-PG selama 10 tahun terakhir
(1993-2004) relatif berfluktuasi dengan rata-rata mencapai 7,24%, jauh
lebih rendah dibandingkan 10 tahun sebelumnya (1983-1992) yang dapat
mencapai 9,8%. Produktivitas gula yang dihasilkan PG-PG nasional
selama 10 tahun terakhir (1993 – 2004) juga relatif rendah dengan rata-
rata 5,12 ton/ha. Demikian juga produksi gula yang dihasilkan PG-PG
tersebut relatif rendah dan cenderung menurun dengan rata-rata –3,3
persen per tahun. Penurunan rendemen, produktivitas dan produksi gula
yang cukup drastis terjadi pada tahun 1998, yaitu mencapai lebih dari 15
persen (Tabel 3).
Pada tahun 2002, Departemen Pertanian menerapkan program
akselerasi peningkatan produktivitas gula nasional, yang meliputi kegiatan
rehabilitasi atau peremajaan perkebunan tebu (bongkar ratoon) guna
memperbaiki komposisi tanaman dan varietas sehingga produktivitasnya
mendekati produktivitas potensial. Program tersebut diperkirakan dapat
memberikan peningkatan hasil pada tahun 2004 ini. Taksasi produksi
sampai bulan November 2004 memperkirakan produksi gula dalam negeri
akan mencapai 2 juta ton, meningkat 22% dari produksi tahun 2003 yang
hanya mencapai 1,63 juta ton. Keberhasilan tersebut antara lain
disebabkan oleh adanya pergantian ratoon seluas 7.000 ha, peningkatan
produktivitas lahan dengan adanya penggunaan bibit berkualitas, dan
peningkatan modal usahatani tebu melalui kredit ketahanan pangan
(KKP), serta pengendalian harga melalui berbagai implementasi kebijakan
tata niaga pergulaan nasional.

Tabel 3. Produksi, Produktivitas dan Rendemen Gula Nasional

Produksi Gula Rendemen


Produktivitas Gula
Tahun
(ton) (ton/ha) (%)
1993 2.482.724 5,90 6,60
1994 2.448.833 5,71 8,02
1995 2.096.471 4,98 6,97
1996 2.094.195 5,19 7,32
1997 2.189.974 5,68 7,83
1998 1.791.553 4,74 6,59
1999 1.488.599 4,37 6,96
2000 1.690.667 4,96 7,04
2001 1.725.467 5,01 6,85
2002 1.755.434 5,01 6,88
2003 1.631.919 4,86 7,21
2004 2.006.575 5,82 7,97
Sumber : Sekretariat Dewan Gula (2004)

Dibandingkan dengan negara Asia lainnya seperti Thailand, Cina,


India, Jepang dan Philipina, rata-rata produktivitas tebu Indonesia

4
sebenarnya relatif tinggi dan mendekati produktivitas USA. Namun dalam
hal rata-rata rendemen dan rata-rata produktivitas gula, Indonesia
menempati posisi terendah (Tabel 4).

Tabel 4. Perbandingan rata-rata*) produktivitas tebu dan gula,


serta rendemen antar negara produsen
Rata-rata Rata-rata
Rata-rata Produktivitas
Negara Rendemen Produktivitas gula
tebu (ton/ha)
(%) (ton/ha)
Japan 64,09 11,53 7,41
Thai 56,76 10,97 6,24
China 59,16 11,84 7,00
India 69,33 10,90 7,56
Philipina 60,70 8,26 5,00
Indonesia 70,13 7,05 4,95
USA 78,44 11,61 9,11
*) rata-rata dihitung dari tahun 1996/97 sampai 2002/2003
Sumber : Sekretariat Dewan Ketahanan Pangan, 2003

Biaya produksi gula di Indonesia mencapai Rp 2.631/kg, lebih tinggi


dibandingkan dengan Brazil yang dapat menghasilkan 1 kg gula dengan
biaya Rp 1.190 - Rp 1.530,-. Hal ini menunjukkan bahwa masalah utama
industri gula Indonesia adalah tidak efisiennya pabrik-pabrik penghasil
gula, sehingga restrukturisasi pabrik-pabrik gula adalah sesuatu yang
harus menjadi prioritas untuk dilakukan pemerintah.

Kebutuhan dan Impor Gula Nasional

Sementara itu, rendahnya produksi nasional diikuti dengan


kebutuhan gula dalam negeri yang semakin meningkat. Rata-rata
konsumsi nasional/kapita/tahun selama tahun 1990-2000 adalah sekitar
14,83 kg/kapita/tahun. Pada tahun 1990, 1995, 1996 dan 1997 berturut-
turut konsumsi gula per kapita/tahun adalah 13,38 kg; 16,54 kg; 15,76 kg
dan 17,04 kg. Dengan semakin meningkatnya jumlah penduduk Indonesia,
maka total kebutuhan konsumsi gula juga terus meningkat. Laju
pertumbuhan konsumsi gula selama periode 1993–2003 adalah 4,33 %
per tahun. Pada tahun 1993 konsumsi gula sebanyak 2,34 juta ton dan
terus meningkat menjadi 3,45 juta ton pada tahun 2003 (Tabel 5).
Kebutuhan gula nasional yang terus meningkat tersebut telah
menyebabkan terjadinya defisit produksi yang rata-rata mencapai 1,2 juta

5
ton per tahun, sehingga harus dipenuhi dari impor. Ketergantungan pada
impor gula rata-rata adalah 36% per tahun. Impor gula Indonesia terus
mengalami kenaikan dan mencapai puncaknya pada tahun 1999, yaitu
mencapai sebesar 2,187 juta ton atau 65 persen dari kebutuhan untuk
konsumsi. Impor gula sebagian berasal dari Thailand, Brazil dan India yang
memberikan tawaran harga rendah.
Tabel 5. Produksi, Konsumsi dan Impor Gula
Produksi Impor Konsumsi
Tahun
(ton) (ton) (ton)
1993 2.482.724 236.719 2.337.400
1994 2.448.833 128.399 2.941.200
1995 2.096.471 523.988 3.343.200
1996 2.094.195 975.830 3.069.900
1997 2.189.974 1.364.563 3.363.300
1998 1.791.553 1.730.473 3.300.000
1999 1.488.599 2.187.133 3.360.000
2000 1.690.667 1.556.700 3.300.000
2001 1.725.467 1.500.000 3.360.000
2002 1.755.434 1.377.854 3.300.000
2003 1.631.919 1.571.278 3.451.000
2004*) 2.006.575 791.861 2.460.000
Sumber : Badan Pusat Statistik dan DGI *) taksasi, angka sementara

Harga Gula

Harga gula dalam negeri tidak hanya ditentukan oleh biaya


produksi, tetapi juga sangat dipengaruhi oleh kebijakan negara-negara
eksportir dan harga gula internasional. Harga gula eceran di Indonesia
cenderung meningkat sejak tahun 1998 hingga 2003 berkisar antara Rp
1.700/kg sampai tertinggi Rp 4.500/kg, walaupun demikian jika
mempertimbangkan inflasi yang terjadi, harga riilnya cenderung stabil di
sekitar Rp 1.200 sampai Rp 1.600/kg (Gambar 1).

Gambar 1. Perkembangan Harga Gula Eceran Dan Harga Riilnya

6
6.000

5.000

4.000

3.000

2.000

1.000

Jul-99

Jul-01

Jan-03

Jul-03
Jan-98

Jul-98

Jan-99

Jan-00

Jul-00

Jan-01

Jan-02

Jul-02

Jan-04

Jul-04
harga eceran DN (Rp/kg) harga riil=harga/IHK

Sumber data : Dewan Gula Indonesia

KONDISI PERGULAAN DUNIA

Ketersediaan Gula Dunia

Sebagai salah satu negara importir terbesar, industri gula Indonesia


cenderung semakin terintegrasi dengan pasar dunia, sehingga apabila
terjadi guncangan baik dari sisi permintaan ataupun penawaran di pasar
internasional akan berakibat langsung pada industri gula dan petani tebu
dalam negeri.

Pasar gula dunia selama ini cenderung didominasi oleh tiga negara
produsen besar seperti Brazil, Thailand dan Australia. Walaupun pada
tahun 2003/04-2004/05 terjadi penurunan produksi, namun rata-rata laju
pertumbuhan produksi gula dunia selama lima tahun terakhir (2000/01-
2004/05) menunjukkan kecenderungan yang meningkat yaitu sebesar 2,2
persen per tahun. Impor gula dunia juga cenderung meningkat dengan
laju pertumbuhan 0,91 persen per tahun, sehingga total suplai gula juga
dunia cenderung meningkat dengan laju pertumbuhan 1,41 persen per
tahun. (Tabel 1).

7
Sementara itu, konsumsi gula dunia juga cenderung meningkat
dengan laju pertumbuhan 1,99 persen per tahun. Peningkatan konsumsi
terutama terjadi di negara–negara berkembang seperti di Amerika Latin,
Afrika dan Asia seiring dengan peningkatan jumlah penduduk yang tinggi
dan peningkatan ekonomi dan pendapatan di negara-negara tersebut.
Akibat dari meningkatnya ketersediaan gula dunia, volume gula dunia
yang diperdagangkan/diekspor juga meningkat dengan laju pertumbuhan
5,08 persen per tahun. Kondisi inilah yang mendorong jatuhnya harga
gula di pasar dunia.
Tabel 6. Neraca Ketersediaan Gula Dunia, 2000/01-2004/05
(dalam ribuan ton)
Total Konsumsi Stok
Tahun Stok awal Produksi Impor Ekspor
Supply Domestik Akhir
2000/01 36.974 130.662 38.763 206.399 37.699 129.842 38.858
2001/02 38.858 134.386 37.960 211.204 41.179 134.457 35.568
2002/03 35.568 148.874 39.731 224.173 45.828 138.217 40.128
2003/04 40.128 141.732 39.391 221.251 45.595 139.111 36.545
2004/05 36.087 141.687 40.146 217.920 45.727 140.455 31.738
Sumber : USDA, sugar world market and trade

Harga Gula Dunia


Dalam empat tahun terakhir (2000-2003), harga gula dunia (London
No.5) menunjukkan trend yang relatif menurun dengan rata-rata US$230
per MT. Kenaikan harga mulai terlihat pada awal tahun 2004 akibat
produksi dunia yang relatif berkurang dan adanya kenaikan harga minyak
dunia (Gambar 2).

Gambar 2. Perkembangan Harga Gula Dunia

0,30

0,25

0,20

0,15
Nop-00

Feb-01

Feb-02

Feb-03
Mei-00

Mei-01

Nop-01

Mei-02

Nop-02

Mei-03

Nop-03

Feb-04

Mei-04
Agust-00

Agust-01

Agust-02

Agust-03

Harga london (US$/kg)

8
Harga gula dunia tidak memberikan gambaran riil dari biaya
produksi dan tingkat keuntungan produsennya, karena komoditas tersebut
di pasar internasional dijual dengan harga murah. Dari hasil konsultasi
kajian komparasi kebijakan agribisnis gula negara produsen/eksportir dan
importir utama, oleh Sekretariat Dewan Ketahanan Pangan tahun 2003,
diketahui bahwa negara pengekspor gula umumnya menerapkan berbagai
kebijakan domestic support dan export subsidy, sehingga dapat menjual
gula ke pasar internasional dengan harga rendah, namun tetap menjaga
agar harga gula di dalam negerinya tinggi di atas biaya produksinya.
Kebijakan yang umumnya dilakukan oleh negara-negara produsen gula
telah menyebabkan harga gula di pasar internasional terdistorsi.
Sebagai contoh, Pemerintah AS mengalokasikan subsidi untuk
sektor pertanian dalam negerinya sebesar 18 milyar US$ (Rp 178 triliun)
per tahun dan menetapkan bea masuk impor di atas 100 persen. Thailand
memberikan subsidi ekspor sehingga harga gula domestik sekitar 14
Baht/kg atau sekitar 335 US$/ton, sedangkan harga gula ekspornya hanya
120 –140 US$. China juga memberikan subsidi, sehingga harga gula di
dalam negerinya sekitar Rp 3.000/kg sedangkan harga gula ekspornya Rp
1.957/kg. Australia mengekspor gula dengan harga sekitar Rp 2.069/kg,
sementara itu harga di dalam negerinya adalah Rp 7.800/kg. Kuba
memberikan subsidi dan promosi ekspor dan memberikan subsidi gula
untuk konsumen domestik dengan sistem jatah 6 cent/pound dengan
maksimum 5 kg/kapita.

9
KEBIJAKAN PERGULAAN DI NEGARA EXPORTIR DAN IMPORTIR

Menurut Mitchell (2004), gula adalah komoditas yang kebijakannya


paling terdistorsi. Uni Eropa, Jepang dan Amerika Serikat adalah
negara-negara paling mendistorsi pasar (the worst offender), di mana
produsen di negara-negara tersebut mendapat harga dua kali lipat
dari harga pasar dunia karena menerima jaminan harga, impor yang
terkontrol dan kuota produksi dari pemerintahnya. Proteksi yang
tinggi, telah mengubah negara-negara kelompok OECD ini, dari negara
net-importer menjadi net-exporter dalam 30 tahun ini. Walaupun
demikian, proteksi tidak hanya dilakukan oleh negara-negara tersebut
saja, banyak negara lainpun melakukannya.
Dari hasil pertemuan Sekretariat Dewan Ketahanan Pangan di
Bangkok tahun 2003, yang membahas tentang kebijakan agribisnis gula
negara produsen/eksportir dan importir utama, diketahui bahwa hampir
semua negara produsen gula, melakukan proteksi dan promosi yang
sangat besar terhadap produk pertaniannya. Proteksi dimulai dari
pengenaan tarif bea masuk yang sangat tinggi hingga pengenaan kuota
dan larangan impor, dan promosi mulai dari pemberian subsidi produksi
hingga pemberian subsidi pemasaran berupa pemberian kredit ekspor.
Sebagai contoh, Brazil memberikan dukungan untuk usahatani tebu (yang
seluruhnya swasta) berupa penyediaan infrastruktur pendukung
(transportasi, irigasi, pergudangan, dan pelabuhan ekspor), kredit dengan
bunga rendah sebesar 11-12 persen, teknologi budidaya modern dan
tersedianya varietas tebu unggul yang terjangkau. Demikian juga
kebijakan protektif berupa pemberlakuan harga minimum, peran
pemerintah sebagai badan penyangga dan kebijakan perkreditan. Setelah
tahun 1997, pemerintah Brazil melepas keterlibatannya secara langsung
dalam budidaya tebu dengan liberalisasi penuh, namun kinerja industri
gula di Brazil ditentukan oleh kebijakan pemerintah dalam mengatur
tingkat produksi alkohol dari tebu. Setiap tahun pemerintah Brazil
mengeluarkan Keppres yang mengatur range kadar campuran alkohol
dalam setiap liter bensin yang diperdagangkan untuk memacu demand
terhadap alkohol. Kebijakan ini merupakan terobosan dari pemerintah
Brazil untuk menyelamatkan industri gula tebu ditengah tidak
menentunya harga gula di pasaran internasional.
Di Thailand, kebijakan industri gula dijalankan oleh Sugar Board,
yang terdiri dari petani, pabrik gula, dan pemerintah. Dalam
melaksanakan usahataninya, para petani tebu mendapat bantuan kredit
dari Bank dengan bunga di bawah harga pasar. Besarnya kredit sesuai
dengan nilai kontrak penyerahan tebu ke pabrik. Petani mendapat 70
persen pendapatan dari penjualan gula di pasar domestik dan

10
internasional, sementara pabrik menerima 30 persen. Di samping itu,
dijalankan juga program mortgage (gadai) di mana 80% dari nilai produksi
petani dibayar awal pada tingkat harga dasar. Dalam pemasarannya,
Thailand memberlakukan sistem kuota baik untuk domestik maupun untuk
ekspor. Untuk melindungi tataniaga gula di dalam negeri, Thailand
melakukan kebijakan pelarangan impor, yang kemudian diubah menjadi
penetapan akses minimum berdasarkan tarif 65% untuk kuota sebesar
13,700 ton, dan 96% untuk impor di luar kuota.
Negara-negara importir seperti Cina dan Jepang juga memberikan
kebijakan proteksi dan promosi untuk industri gulanya. Di China, pada
awalnya produksi gula menjadi tanggung jawab keluarga di wilayah
pedesaan dengan insentif berupa grain kepada petani di wilayah utama
penghasil gula, dan subsidi berupa pembangunan irigasi, penyediaan
traktor, pupuk dan teknologi. Pada tahun 1991, pemerintah China
mereformasi/liberalisasi sektor gula dengan mendorong terjadinya
pertemuan langsung pihak pabrik dan pembeli tanpa perantara. Pada saat
bersamaan, pemerintah China juga melakukan serangkaian tindakan
seperti membuka lahan perbukitan kering untuk ladang gula bit,
mendirikan basis baru produksi gula, menerapkan teknologi baru untuk
memperbaharui pabrik lama dan meningkatkan skala produksi, perbaikan
kualitas, pengembangan Iptek untuk rendemen, mendirikan 25 lembaga
penelitian gula dan 15 sekolah tinggi untuk pengembangan gula,
memberikan fasilitasi perbankan melalui Agricultural Bank. Upaya
proteksi dilakukan melalui pembatasan produksi dan penggunaan sakarin
pada industri makanan dan minuman, serta menerapkan kuota impor 1,8
juta ton (tahun 2002) dengan tarif 30% untuk gula putih dan 20% untuk
gula mentah.
Di Jepang, walaupun jumlah petani gula hanya sekitar 41 ribu
keluarga, tetapi pemerintahnya sangat memperhatikan industri gulanya.
Jepang mengenakan pungutan berupa dana regulasi yang cukup tinggi
terhadap gula impor dan menyalurkan dana hasil pungutan tersebut untuk
memfasilitasi produsen gula, sehingga harga gula domestiknya mampu
bersaing dengan gula impor. Pemerintah Jepang membentuk ALIC
(Agriculture and Livestocks Industries Corporation) sebagai satu-satunya
lembaga yang berwenang mengendalikan harga gula di pasaran Jepang.
Intervensi pasar dari negara-negara eksportir maupun importir
tersebut, menurut kebanyakan pengamat, secara signifikan telah
menyebabkan rendahnya harga internasional dan meningkatkan volatilitas
harga gula. Menurut Larson dan Borrel (2004), kebijakan negara-negara
besar yang mendominasi pasar gula dapat mempengaruhi negara lainnya
dengan dua cara yang signifikan. Yang pertama, bahwa intervensi negara

11
besar telah mendorong negara lain untuk melembagakan kebijakan
proteksi. Pengaruhnya dapat tidak langsung (melalui unilateral trade
policy) atau lebih eksplisit, terutama selama negosiasi Regional Trade
Agreement seperti ASEAN, NAFTA, dsb. Kedua, Special Access Agreement
sering menyebabkan industri gula domestik tergantung pada kebijakan
yang ditentukan secara eksternal dan meningkatkan kebijakan domestik
yang dirancang untuk mengalokasikan biaya agreement tersebut.

EVOLUSI KEBIJAKAN NASIONAL

Pergulaan di Indonesia dimulai pada tahun 1673 yaitu sejak


berdirinya pabrik gula tebu pertama di Batavia. Pada tahun 1930, industri
gula mengalami masa kejayaannya yang ditandai dengan Indonesia
sebagai negara eksportir terbesar kedua setelah Cuba. Pada tahun 1957,
pemerintah menasionalisasi perusahaan-perusahaan asing termasuk
perusahaan gula. Sejak itu kinerja industri gula nasional semakin
menurun. Pada tahun 1975, pemerintah mencanangkan program
Intensifikasi Tebu Rakyat (TRI) sebagai salah satu upaya untuk
meningkatkan produksi dan produktivitas gula domestik. Sejalan dengan
itu, pada tahun 1995, pemerintah memberikan wewenang kepada Bulog
untuk mengendalikan ketersediaan dan harga bahan pangan pokok
termasuk gula. Tarif bea masuk gula impor pada saat itu ditetapkan
sebesar 0 (nol) persen.
Pada tahun 1997/1998, ketika terjadi resesi ekonomi, perekonomian
Indonesia banyak dikendalikan oleh International Moneter Fund (IMF).
Sebagai salah satu persyaratan dalam Letter of Intent (LoI) IMF adalah
membebaskan perdagangan pangan termasuk gula yang selama itu
dipegang oleh BULOG. Untuk memenuhi tuntutan itu, maka pemerintah
melakukan reformasi dibidang tataniaga gula dengan mengeluarkan
Keppres No 45/11/1997 yang membatasi wewenang Bulog hanya untuk
komoditas beras dan gula. Pemerintah juga mengeluarkan Inpres No
5/12/1997 tentang program pengembangan tebu rakyat yang bertujuan
untuk mendorong kemitraan perusahaan gula dengan petani tebu.
Pada tahun 1998, pemerintah mengeluarkan lagi Keppres
No.19/1/1998 yang membatasi wewenang Bulog hanya untuk komoditas
beras. Keppres tersebut ditindaklanjuti oleh Kepmen Perindustrian dan
Perdagangan No 25/1/1998 dan No 505/10/1998 yang mengatur tataniaga
impor gula menurut mekanisme pasar dan oleh importir umum. Di
samping itu, melalui Inpres No 5/1/1998, pemerintah menghentikan
program pengembangan tebu rakyat dengan alasan untuk membebaskan
petani dalam memilih komoditas usahanya.

12
Maraknya gula impor pada tahun 1999-2000 mendorong
pemerintah mengatur harga gula dan tataniaganya. Pada bulan Mei 1999,
pemerintah melalui Kepmenhutbun No 282/1999 menetapkan harga
provenue gula sebesar Rp 2.500/kg dan menyediakan dana talangan
sebesar Rp 456 milyar sebagai upaya untuk mengatasi kerugian petani
tebu. Pada bulan Juni 1999, Kepmenperindag No 505/1998 dicabut
dengan alasan untuk menciptakan iklim perdagangan yang berorientasi
pasar. Selanjutnya Menperindag mengeluarkan SK no 364/8/1999 yang
kembali mengatur tataniaga gula, dimana impor gula hanya dapat
dilaksanakan oleh pabrik gula di Jawa sebagai impor produsen (IP) melalui
perijinan. Dalam waktu 4 bulan, keputusan tersebut dicabut kembali
melalui Kepmenperindag No 717/12/1999 yang memberlakukan impor
gula oleh importir umum. Bersamaan dengan itu, Menteri Keuangan
mengeluarkan keputusan No 568/12/1999 yang memberlakukan tarif bea
masuk impor sebesar 20 % untuk gula tebu dan 25 % untuk gula bit yang
berlaku sejak 1 Januari 2000.
Kebijakan-kebijakan tersebut tetap belum mampu membendung
masuknya gula impor, sehingga kemudian pemerintah melalui
KepMenhutbun No 145/6/2000 meningkatkan harga provenue gula petani
menjadi sebesar Rp 2.600/kg dengan menyediakan talangan sebesar Rp
859 milyar. Dana talangan tersebut hanya diberikan dalam periode dua
tahun, sementara itu masih terdapat banyak gula impor yang masuk,
khususnya raw sugar, melalui fasilitas keringanan bea masuk 0% yang
ditetapkan SK Menkeu No 301/2000.
Sejak awal tahun 2002, harga gula dunia cenderung turun dan
menyebabkan banyaknya gula impor yang masuk sehingga harga gula di
tingkat petani dalam negeri tertekan. Oleh karena itu, pemerintah
kembali mengeluarkan kebijakan-kebijakan untuk mengendalikan impor
gula. Pada bulan Maret 2002, pemerintah melalui SK Menperindag Nomor
141/MPP/Kep/3/2002 mengendalikan impor gula dengan hanya
mengizinkan impor gula pada Importir Terdaftar yang memiliki NPIK dan
diikuti dengan SK Menperindag No 456/6/2002 yang menegaskan bahwa
hanya Importir Produsen yang dapat melakukan impor gula mentah.
Dengan tujuan untuk menjaga stabilitas harga gula di dalam negeri dan
untuk menyelamatkan sejumlah pabrik gula, Menteri Keuangan melalui
Kepmenkeu No 324/7/2002 menetapkan tarif bea masuk impor gula
menjadi Rp 550,-/kg untuk raw sugar dan Rp. 700,-/kg untuk gula putih.
Upaya untuk memperketat masuknya gula impor juga didukung dengan
Instruksi Dirjen Bea dan cukai No INS-07/BC/2002 menginstruksikan
bahwa beras, terigu dan gula masuk jalur merah.
Ternyata kebijakan-kebijakan tersebut juga tetap tidak dapat
memperbaiki nasib petani, sehingga Menperindag kembali mengeluarkan
SK Nomor 643/9/2002 pada bulan September 2002 untuk pengendalian

13
impor dengan membatasi impor gula putih hanya oleh importir terdaftar
yang bahan bakunya lebih dari 75% berasal dari petani. Beberapa
perusahaan yang memenuhi syarat tersebut adalah PTPN IX, X, XI, PT. RNI,
PT. PPI dan Perum Bulog (sebagai pengelola). Operasionalisasi dari
kebijakan tersebut kemudian dituangkan dalam Nota Kesepahaman
Tentang Penyerapan Gula Pasir Produksi PTPN ІX, X, XІ dan PT. RNI, pada
tanggal 3 Juni 2003. Melalui kesepakatan tersebut, para petani tebu
mendapat dana talangan dari investor sebesar Rp 3.410/kg gula dan
untuk selanjutnya akan menerima 64% dari selisih harga final dengan
dana talangan tersebut. Jika harga yang terjadi di bawah atau sama
dengan harga patokan, maka seluruh gula wajib dibeli Bulog dengan harga
sesuai harga patokan. Melalui cara tersebut, berkembang proses
negosiasi kolektif yang melibatkan lembaga pemerintah dan swasta,
dimana Bulog menyediakan dana bagi PTPN/RNI dan bagi petani melalui
PTPN/RNI yang cukup untuk menyerap sekitar 25% dari total perkiraan
produksi gula PTPN/RNI sesuai dengan harga patokan. Gula dijual dengan
mekanisme lelang yang disepakati bersama.
Sejalan dengan kebijakan di atas, dalam upaya untuk memenuhi
kebutuhan konsumsi gula dalam negeri, pemerintah menggulirkan
Program Akselerasi Peningkatan Produktivitas Gula Nasional 2002 – 2007
dengan sasaran kenaikan produksi rata-rata sebesar 9,8 pertahun,
sehingga diharapkan pada tahun 2007 produksi gula nasional mencapai
2,97 juta ton atau sudah mendekati kapasitas terpasang pabrik sebesar 3
juta ton pada areal pertanaman seluas 380.775 ha. Di samping itu, untuk
menyikapi ketidakadilan pasar dan perdagangan internasional,
pemerintah Indonesia juga menerapkan kebijakan proteksi dan promosi
secara simultan. Kebijakan promosi yang telah diterapkan antara lain
berupa : subsidi bunga dalam kredit KKP-TR sekitar Rp 900 milyar, subsidi
pupuk sebesar Rp 1,3 triliun untuk berbagai komoditas termasuk tebu,
dukungan prasarana pengairan sebesar Rp 4,5 triliun, dukungan
permodalan bagi koperasi tebu untuk pembongkaran ratoon,
pembangunan kebun bibit, dan prasarana pengairan sederhana sebasar
Rp 66,8 milyar, dan dukungan dana untuk penyehatan lembaga penelitian
dan pengembangan.
Dalam rangka meningkatkan kepastian berusaha serta
meningkatkan daya saing produksi dalam negeri, tim tarif nasional
melaksanakan program harmonisasi tarif tahun 2005-2010 untuk produk-
produk dalam negeri. Melalui Peraturan Menteri Keuangan No.
591/PMK.010/2004, tarif gula tahun 2005-2010 ditetapkan dalam pola
khusus, sebesar 30 persen untuk gula mentah dan 40 persen untuk gula
putih, dan melalui Peraturan Menteri Keuangan No. 600/PMK.010/2004,

14
berlaku mulai tanggal 1 Januari 2005, tarif bea masuk gula putih
ditetapkan menjadi sebesar Rp 790/kg dan gula mentah Rp 550/kg.

Walaupun kebijakan yang dikeluarkan


pemerintah dipandang pro-petani, tetapi banyak
pihak melihatnya sebagai kebijakan parsial (tidak
komprehensif), bersifat ad-hoc /reaktif yang
dikeluarkan ketika terjadi masalah, dan kurang
jelas keterkaitannya antara satu sektor dengan
sektor lain dalam kerangka pengembangan industri
gula yang efisien.

DAMPAK KEBIJAKAN PERGULAAN TERHADAP KONDISI


PERGULAAN NASIONAL

Produksi dan Impor

Sejak ditandatanganinya LoI IMF, telah terjadi perubahan yang


radikal pada pergulaan nasional. Pada awal (Januari) tahun 1998,
pemerintah melakukan serangkaian kebijakan, yaitu menghapus
monopoli impor gula oleh BULOG dan menghentikan program
pengembangan tebu rakyat dihentikan dan petani dibebaskan untuk
memilih tanaman yang menguntungkan, semua subsidi input dihapuskan
kecuali kredit, dan tarif gula impor masih tetap 0 (nol) persen. Akibat dari
kebijakan-kebijakan tersebut, produksi gula pada tahun 1998 menurun
drastis, yaitu sebesar 31,89 persen, dan mencapai titik terendah. Akibat
rendahnya produksi yang dibarengi harga di pasar internasional yang
menurun, impor gula meningkat cukup tajam sebesar 26,82 persen pada
1998 dan meningkat lagi 26,39 persen pada tahun 1999 (Gambar 3).

Gambar 3. Dampak Kebijakan dan Harga Internasional Terhadap Produksi


dan Impor Gula

15
3.000 350
LoI IM F TRI & - impor oleh - tarif Rp 700/kg - Tarif
Monopoli IP dan IU - akselerasi prod Rp 790/kg
Bulog - Hrg prov. - impor oleh IT - Hrg min.
dihapus Rp 2.500/kg - jalur merah Rp 3.410/kg 300
2.500 -- tarif 20% - hrg min.
TRI - hrg prov. Rp 3.100/kg
Rp 2.600/kg
- DGI 250
2.000

200
ribu ton

US$
1.500

150

1.000
100

500
50

0 0
1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004* )

Produksi Impor harga London

Walaupun lebih dipengaruhi oleh perkembangan harga gula dunia,


kebijakan tarif impor dan pengaturan tataniaga yang dikeluarkan
pemerintah pada tahun 1999 dan 2002 terlihat cukup berhasil
menghambat laju impor gula yang masuk. Volume impor sejak tahun
1999 sampai 2002 menurun cukup signifikan, dari 2,19 juta ton menjadi
1,38 juta ton. Pada tahun 2003, volume impor meningkat lagi akibat
menurunnya harga gula di pasar dunia.
Adanya kebijakan penetapan harga provenue gula, pembentukan
Dewan Gula dan program akselerasi produktivitas tebu tampaknya juga
cukup berhasil mendorong peningkatan produksi sejak tahun 2000.

Dampak Kebijakan Terhadap Harga Gula Dalam Negeri

Sebagai negara net importir, di samping dipengaruhi kebijakan-


kebijakan yang dikeluarkan pemerintah, perkembangan harga gula dalam
negeri juga sangat dipengaruhi oleh gejolak harga pasar dunia (Gambar
4).

Gambar 4. Dampak Kebijakan dan Harga Internasional Terhadap Harga


Gula Dalam Negeri

16
6.000

akselerasi prod
5.000 Kepmenperindag 643/2002

Kepmenkeu 420/98
4.000
kepmenperindag
364/99
3.000

2.000 LoI IMF


tarif Rp 700/kg

1.000 tarif 20%


TRI dihapus

-
Jan-97

Jan-98

Jan-99

Jan-00

Jan-01

Jan-02

Jan-03

Jan-04
Jul-97

Jul-98

Jul-99

Jul-00

Jul-01

Jul-02

Jul-03

Jul-04
harga paritas dg BM harga paritas tnp BM harga DN (Rp/kg)

Sumber Data : Sekretariat Dewan Gula

*) Harga Paritas Gula = FOB London – 5% (koreksi beda mutu)+US$20


(freight&insurance)*kurs+tarif BM+ biaya lain.
**) Biaya lain termasuk 12,5% (Ppn&Pph)+Rp 100.000 (handling cost)+2% (bunga bank)
+1% (provisi L/C)+Rp 125.000 (dana Revitalisasi) + Rp 11.040 (Pre shipment
inspection). Biaya lain diasumsikan tetap selama 10 tahun, kecuali dana revitalisasi
berlaku sejak tahun 2001.
***) Harga DN (ekuivalen harga di tingkat grosir) =Harga eceran rata-rata di beberapa
kota (Medan, Jakarta, Semarang, Surabaya) –15% (rata-rata keuntungan pedagang)

Kebijakan pencabutan TRI serta monopoli Bulog yang dikeluarkan


setelah LoI IMF ditandatangani, telah berdampak pada peningkatan harga
gula dalam negeri yang cukup tajam. Walaupun demikian kenaikan
tersebut sebenarnya juga dipengaruhi oleh adanya resesi ekonomi tahun
1997/1998 di mana pada waktu itu terjadi depresiasi rupiah yang sangat
tinggi. Harga dalam negeri saat itu masih jauh lebih murah dibandingkan
harga paritas gula impor.
Pada tahun 1999, harga gula dunia yang menurun tajam juga
berdampak pada penurunan harga dalam negeri ( namun tidak setajam
harga dunia), dan tarif impor gula yang berlaku saat itu masih sebesar 0
persen sehingga menyebabkan harga paritas impor berada di bawah
harga dalam negeri. Hal inilah yang menyebabkan maraknya gula impor,
dan kebijakan tataniaga yang dikeluarkan pemerintah saat itu tidak cukup
efektif untuk membendung masuknya impor. Menurut catatan Harian
Kompas (10 Juli 2004) : ” sebagai salah satu akibat dari rendahnya harga
gula internasional, pada tahun 1999 - awal 2000, arus gula impor masuk
secara besar-besaran melalui pelabuhan Tanjung Priok. Gula impor

17
sebanyak 107.401 ton tersebut diduga merupakan sisa gula negara
eksportir Brazil, Thailand dan India yang dijual murah”.
Kondisi mulai membaik, setelah pemerintah mengeluarkan
kebijakan tarif 20 persen untuk gula tebu pada awal tahun 2000. Pada
Gambar 4 dapat dilihat bahwa peningkatan tarif tersebut berhasil
meningkatkan harga paritas impor di atas harga dalam negeri (tanpa tarif
harga paritas berimpit dengan harga dalam negeri). Namun pada
pertengahan tahun 2002, tarif sebesar 20 persen tersebut tidak lagi
efektif karena harga gula dunia yang kembali menurun tajam. Pada tahun
itu, pemerintah kemudian menetapkan tarif spesifik gula sebesar Rp
700/kg, mengatur tataniaga impor gula hanya oleh beberapa importir
terdaftar dan bahkan memasukkan gula pada jalur merah. Namun
ternyata kebijakan-kebijakan tersebut tetap tidak cukup untuk
meningkatkan harga paritas agar melampaui harga di dalam negeri.
Akibatnya impor ilegal kembali marak. Menurut catatan Harian Kompas
(10 Juli 2004): ”Pada 31 Agustus 2002, ribuan petani tebu di Jawa
membakar lahan tebunya hingga ribuan hektar karena akibat banyaknya
gula impor di pasar yang menyebabkan anjloknya harga gula petani
mencapai Rp 2.550/kg; Pada Januari 2003, sebanyak 710 ton gula pasir
ex-Malaysia ditemukan petugas Bea Cukai Tanjung Balai saat akan
diselundupkan ke Kuala Tungkal, Jambi ; Pada bulan Februari 2003,
Menperindag menemukan penimbunan gula sebanyak 28.000 ton di PG
Ngadirejo Jawa Timur; Dan pada bulan Juni 2004, kembali Menperindag
menemukan sekitar 33.000 ton gula impor ilegal di gudang Hobros dan
BGR, Jakarta”.
Pada awal tahun 2004, harga gula dunia meningkat lagi cukup
tajam dan tarif sebesar Rp700/kg masih cukup dapat efektif untuk
membuat harga paritas impor berada di atas harga dalam negeri.

PROSPEK PERGULAAN

Walaupun F.O. Licht, International Sugar and Sweetener Report


memperkirakan konsumsi gula pada masa yang akan datang akan
menurun, karena dipengaruhi oleh anjuran WHO untuk menurunkan
obesitas dan penyakit akibat kebiasaan diet yang buruk, namun menurut
prediksi FAO, konsumsi gula dunia pada tahun 2004/2005 ini akan
melebihi produksi global dalam dua tahun berturut-turut. Produksi gula
dunia 2004/2005 diperkirakan akan mencapai 141 juta ton, dan konsumsi
global diperkirakan akan mencapai 143 juta ton. Prediksi awal juga
menunjukkan bahwa konsumsi gula dunia pada tahun 2005 akan
mencapai 144,8 juta ton melebihi produksinya sebesar 831 ribu ton.

18
Menurut FAO, rendahnya produksi akan menyebabkan stok di negara-
negara importir menurun dan harga pada tahun 2005 akan stabil seperti
pada tahun 2004. Menurut Internasional Sugar Agreement (ISA), rata-rata
harga harian akan naik lebih dari 45,5 persen antara Januari dan Oktober
2004.
Dalam hal kebijakan pergulaan, Mitchell (2004) menyatakan bahwa
upaya untuk mengurangi proteksi negara-negara besar seperti Uni Eropa
dan Amerika, akan menghadapi perlawanan yang ketat dari para
pendukung kebijakan tersebut, sementara para konsumen yang telah
membayar harga mahal hanya sedikit menyuarakan perlawanannya.
Walaupun demikian, kemungkinan terjadinya perubahan internal di pasar
gula Uni Eropa dan Amerika akibat meningkatnya impor dalam komitmen
perdagangan internasional, merupakan kesempatan baik untuk
melakukan reformasi kebijakan pada beberapa dekade ke depan.
Reformasi kebijakan tersebut seharusnya menjadi komponen kunci pada
negosiasi-negosiasi negara berkembang dalam perdagangan multilateral.
Mitchel juga menyarankan, alternatif lain di samping reformasi kebijakan
adalah dengan mendorong full liberalisasi pasar gula dunia agar produsen-
produsen yang efisien dapat mengembangkan produksi dan ekspornya,
dan konsumen-konsumen di pasar yang protektif mendapat keuntungan
dari harga yang rendah.
Di dalam negeri, dalam jangka pendek kebijakan
akselerasi produksi cukup mampu meningkatkan produksi,
dan kebijakan kenaikan tarif, pengendalian impor, serta
subsidi memang mampu mengatasi pengaruh perdagangan
global. Namun dalam jangka panjang, kebijakan-kebijakan
tersebut diperkirakan tidak akan mampu menciptakan
industri gula yang kompetitif. Menyadari hal tersebut, Departemen
Pertanian (diprakarsai Badan Litbang Pertanian) telah membentuk tim
lintas sektoral yang akan mengkaji dan merumuskan konsep
pengembangan industri pergulaan yang komprehensif.

SARAN ARAH PENYEMPURNAAN KEBIJAKAN PERGULAAN


NASIONAL

Dalam upaya peningkatan kemandirian pangan nasional, khususnya


untuk komoditas gula, diperlukan kebijakan yang komprehensif yang
meliputi berbagai subsistem: on-farm maupun off-farm (hulu dan hilir),
agar tercapai keseimbangan kesejahteraan antara petani produsen dan
konsumen. Upaya-upaya yang diperlukan mencakup :

19
A. Subsistem hulu:

(1) Mencari/mengembangkan bibit unggul tebu yang dapat berproduksi


tinggi pada lahan kering marginal, lahan gambut, dan lahan pasang
surut. Walaupun produktivitas tebu kita cukup baik dibandingkan
dengan berbagai negara produsen, keunggulan bersaing gula dimasa
depan masih sangat ditentukan oleh produktivitas tebu. Perhatian
serius harus diberikan kepada lembaga penelitian kita yaitu P3GI di
Pasuruan.
(2) Meningkatkan dan Mempertahankan areal pertanaman tebu. Dengan
tingkat produktivitas sebesar 5,82 ton/ha gula sekarang ini
diperlukan sekitar 600.000 ha areal tebu (tambahan investasi
150.000 ha). Harapan kita adalah dengan memanfaatkan potensi
lahan di luar pulau Jawa, baik lahan kering maupun lahan basah,
khususnya lahan marginal; Diperlukan kebijakan pengaturan konversi
lahan tanaman tebu ke komoditi non-tebu.
(3) Peningkatan Kredit Ketahanan Pangan (KKP) bagi petani tebu.
Fasilitasi pemerintah dalam penyediaan KKP telah banyak dinikmati
petani tebu. Ke depan harus diperjuangkan peningkatan KKP
tersebut.
B. Subsistem Budidaya:
(4) Meningkatkan produktivitas lahan, melalui penggunaan bibit tebu
unggul berkualitas, serta rehabilitasi/pembaharuan pertanaman tebu
lama melalui bongkar ratton. Kebijakan bongkar ratton yang telah
digulirkan hingga saat ini sudah tepat dan perlu dilakukan secara
berkesinambungan, untuk melepas ketergantungan kita terhadap
impor. Dengan luasan areal tanam sekarang ini produktivitas secara
bertahap harus ditingkatkan menjadi sedikitnya 90 ton tebu/ha.
Sertifikasi lahan petani tebu perlu lebih ditingkatkan, agar lahan
dapat berfungsi sebagai kapital untuk investasi usaha tani tebu;
C. Subsistem Hilir:
(5) Peningkatan efisiensi di hilir dapat dilakukan dengan merehabilitasi
dan memodernisasi pabrik-pabrik gula yang telah tua. Untuk itu
diperlukan kebijakan investasi baik bagi para pengusaha pabrik gula
maupun petani tebu dengan memberikan kemudahan akses kepada
lembaga keuangan/investor, dan keringanan pajak impor peralatan
pabrik gula;
(6) Pengembangan industri pergulaan nasional dalam kerangka
pengembangan industri berbasis tebu, dimana pengembangan pabrik
gula dilakukan bersama-sama dengan pengembangan industri

20
lainnya seperti alkohol, gula tetes dan lain-lain. Peranan investor
sangat menentukan upaya ini;
(7) Penentuan harga beli tebu oleh pabrik gula, yang didasarkan pada
rendemen tebu petani, serta pengalokasian saprodi khususnya yang
berasal dari bantuan program kemitraan (kredit kemitraan), perlu
dilakukan secara jujur dan transparan;
(8) Mengendalikan impor (bea masuk, tataniaga) dan penyelundupan
gula;
(9) Asosiasi kelompok tani tebu, serta tim pembina pelaksanaan
kerjasama antara pabrik gula dan petani tebu, perlu lebih
memperjuangkan bargaining posisi petani khususnya dalam
penentuan harga tebu, rendemen serta pendistribusian saprodi yang
berasal dari bantuan program kemitraan pabrik gula dan petani;
(10) Untuk melaksanakan berbagai upaya di atas, perlu dilakukan secara
terkoordinasi antar berbagai sektor/instansi terkait.

DAFTAR PUSTAKA

Anonymous, 2002. Studi Pengembangan Agribisnis Pergulaan


Nasional. Proyek Pengembangan Kawasan Industri
Masyarakat Perkebunan (Kimbun) Pusat, Direktorat
Jenderal Bina Produksi Perkebunan, Departemen Pertanian
bekerjasama dengan Lembaga Penelitian Institut Pertanian
Bogor. Jakarta
, 2003. Stok Gula Putih Nasional per 30 September 2003,
Dirjen Perdagangan Dalam Negeri Departemen
Perindustrian dan Perdagangan, Jakarta.
, 2004. International Sugar and Sweetener Report. F.O.
Lichts GmbH, Vol. 136. No. 21. England.
, 2004. International Sugar and Sweetener Report. F.O.
Lichts GmbH, Vol. 136. No. 19. England.
, 2004. Kinerja Industri Gula. Sekretariat Dewan Gula
Indonesia, Jakarta.
, 2004. Luas Areal dan Produksi Gula di Indonesia Tahun
1993 - 2004, Sekretariat Dewan Gula Indonesia, Jakarta.
, 2004. Perkembangan Harga Eceran Rata-Rata Gula Pasir
di Beberapa Kota di Indonesia (Medan, Jakarta, Semarang
dan Surabaya) dan London Daily Price, Sekretariat Dewan
Gula Indonesia, Jakarta.
, 2004. Perkiraan Produksi dan Impor Gula Tahun 2004,
Sekretariat Dewan Gula Indonesia, Jakarta.

21
, 2003. Usulan Alternatif Kebijakan Pengembangan
Agribisnis Gula Nasional. Sekretariat Dewan Ketahanan
Pangan, Jakarta.
, 2003. Ekonomi Gula, 11 Negara Pemain Utama Dunia,
Kajian Komparasi dan Perspektif Indonesia . Sekretariat
Dewan Ketahanan Pangan, Jakarta.
, 2004. World Sugar Production Forecast to Increase in
2004/2005, www.fao.org, FAO.
, 2004. World Production, Supply, And Distribution
Centrifugal Sugar, World Bank Market and Trade`.
Bakrie, F., 2004. Kondisi Terkini Industri Gula dan Strategi
Mengatasi Kendala Yang Ada, Asosiasi Gula Indonesia,
www.ikagi.or.id, Jakarta.
Departemen Kehutanan dan Perkebunan, 1999. Tinjauan
Perkembangan Industri Gula Tebu Nasional dan
Kebijakannya. Sekretariat Dewan Gula Indonesia – Dirjen
Perkebunan, Jakarta.
Departemen Keuangan, 1999. Penetapan Tarif Bea Masuk atas
Impor Beras dan Gula. Salinan Keputusan Menteri
Keuangan Republik Indonesia No. 568/KMK.01/ 1999.
Departemen Keuangan, 2002. Perubahan Tarif Bea Masuk atas
Impor Beras dan Gula. Salinan Keputusan Menteri
Keuangan Republik Indonesia No. 324/KMK.01/ 2002.
Departemen Keuangan, 2004. Perubahan Perubahan Klasifikasi dan
Penetapan Kembali Tarif Bea Masuk Produk-Produk
Pertanian, Perikanan, Pertambangan, Farmasi, Keramik
dan Besi Baja. Salinan Keputusan Menteri Keuangan
Republik Indonesia No. 600/KMK.010/ 2004.
Departemen Perindustrian dan Perdagangan, 1999. Pencabutan
Tata Niaga Impor Gula dan Beras. Salinan Keputusan
Menteri Perindustrian dan Perdagangan Republik Indonesia
No. 717/MPP/Kep/12/1999.
Departemen Perindustrian dan Perdagangan, 2002. Tata Niaga
Impor Gula. Salinan Keputusan Menteri Perindustrian dan
Perdagangan Republik Indonesia No. 643/MPP/Kep/9/2002.
Departemen Perindustrian dan Perdagangan, 2004. Ketentuan
Impor Gula. Salinan Keputusan Menteri Perindustrian dan
Perdagangan Republik Indonesia No. 527/MPP/Kep/9/2004.
Departemen Pertanian, 2003. Industri Gula Nasional. Policy’s Paper,
Dirjen Bina Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian,
Jakarta.
Departemen Pertanian, 2004. Dua Tahun Program Akselerasi
Peningkatan Produktivitas Gula Nasional, Direktorat
Jenderal Bina Produksi Perkebunan, Jakarta.

22
Larson F.D and Borrell B. 2004. Sugar Policy and Reform. World
Bank.
Mitchell, D. 2004. Sugar Policies : Opportunity for Change, World
Bank Policy Reseach Working, World Bank.
Ismail, N. M, 2005. Restrukturisasi Industri Gula Nasional. Makalah
disampaikan pada Seminar Gula Nasional, 19 Januari 2005,
di Auditorium BPPT, Jakarta.
Suryana, A., 2003. Penyelamatan dan Penyehatan Industri Gula
Nasional. Sekretariat Dewan Ketahanan Pangan, Jakarta.
Yudohusodo, S., 2004. Membangun Kemandirian Pangan. PT. Tema
Baru, Jakarta.

23

Anda mungkin juga menyukai