Anda di halaman 1dari 50

LABORATORIUM

ELEKTRONIKA
JURUSAN TEKNIK ELEKTRO
FAKULTAS TEKNIK - UNIVERSITAS UDAYANA

LAPORAN PRAKTIKUM
DASAR ELEKTRONIKA

KELOMPOK 6 :

I Gede Nova Priana (0904405032)

JURUSAN TEKNIK ELEKTRO


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS UDAYANA
2010
PERCOBAAN IV

SCR, DIAC, TRIAC

4.1 Tujuan Percobaan


1.Mengamati pengaturan daya dengan SCR, DIAC, TRIAC.
2.Mengetahui cara kerja SCR, DIAC, TRIAC.

4.2 Tinjauan Pustaka

a. Sejarah Scr, Triac dan Diac

Scr, Triac dan Diac atau Thyristor berasal kata dari bahasa Yunani yang
berarti ‘pintu'. Dinamakan demikian barangkali karena sifat dari komponen ini
yang mirip dengan pintu yang dapat dibuka dan ditutup untuk melewatkan arus
listrik. Ada beberapa komponen yang termasuk thyristor antara lain PUT
(programmable uni-junction transistor), UJT (uni-junction transistor ), GTO (gate
turn off switch), photo SCR dan sebagainya. Namun pada kesempatan ini, yang
akan kemukakan adalah komponen-komponen thyristor yang dikenal dengan
sebutan SCR (silicon controlled rectifier), TRIAC dan DIAC. Pembaca dapat
menyimak lebih jelas bagaimana prinsip kerja serta aplikasinya.

Gambar kontruksi SCR(b) dan simbol TRIAC(a)


b. Struktur Thysistor

Ciri-ciri utama dari sebuah thyristor adalah komponen yang terbuat dari
bahan semiconductor silicon. Walaupun bahannya sama, tetapi struktur P-N
junction yang dimilikinya lebih kompleks dibanding transistor bipolar atau MOS.
Komponen thyristor lebih digunakan sebagai saklar (switch) ketimbang sebagai
penguat arus atau tegangan seperti halnya transistor.

Gambar UJT

Struktur dasar thyristor adalah struktur 4 layer PNPN seperti yang


ditunjukkan pada gambar-1a. Jika dipilah, struktur ini dapat dilihat sebagai dua
buah struktur junction PNP dan NPN yang tersambung di tengah seperti pada
gambar-1b. Ini tidak lain adalah dua buah transistor PNP dan NPN yang
tersambung pada masing-masing kolektor dan base.

Gambar Struktur thyristor

Jika divisualisasikan sebagai transistor Q1 dan Q2, maka struktur thyristor ini
dapat diperlihatkan seperti pada gambar-2 yang berikut ini.
Gambar visualisasi dengan transistor

Terlihat di sini kolektor transistor Q1 tersambung pada base transistor Q2


dan sebaliknya kolektor transistor Q2 tersambung pada base transistor Q1.
Rangkaian transistor yang demikian menunjukkan adanya loop penguatan arus
di bagian tengah. Dimana diketahui bahwa Ic = β Ib, yaitu arus kolektor adalah
penguatan dari arus base.

Jika misalnya ada arus sebesar Ib yang mengalir pada base transistor Q2,
maka akan ada arus Ic yang mengalir pada kolektor Q2. Arus kolektor ini
merupakan arus base Ib pada transistor Q1, sehingga akan muncul penguatan
pada arus kolektor transistor Q1. Arus kolektor transistor Q1 tidak lain adalah
arus base bagi transistor Q2. Demikian seterusnya sehingga makin lama
sambungan PN dari thyristor ini di bagian tengah akan mengecil dan hilang.
Tertinggal hanyalah lapisan P dan N dibagian luar.

Jika keadaan ini tercapai, maka struktur yang demikian tidak lain adalah
struktur dioda PN (anoda-katoda) yang sudah dikenal. Pada saat yang demikian,
disebut bahwa thyristor dalam keadaan ON dan dapat mengalirkan arus dari
anoda menuju katoda seperti layaknya sebuah dioda.

Gambar Thyristor diberi tegangan


Bagaimana kalau pada thyristor ini kita beri beban lampu dc dan diberi
suplai tegangan dari nol sampai tegangan tertentu seperti pada gambar 3. Apa
yang terjadi pada lampu ketika tegangan dinaikan dari nol. Ya betul, tentu saja
lampu akan tetap padam karena lapisan N-P yang ada ditengah akan
mendapatkan reverse-bias (teori dioda).

Pada saat ini disebut thyristor dalam keadaan OFF karena tidak ada arus
yang bisa mengalir atau sangat kecil sekali. Arus tidak dapat mengalir sampai
pada suatu tegangan reverse-bias tertentu yang menyebabkan sambungan NP
ini jenuh dan hilang. Tegangan ini disebut tegangan breakdown dan pada saat itu
arus mulai dapat mengalir melewati thyristor sebagaimana dioda umumnya.
Pada thyristor tegangan ini disebut tegangan breakover Vbo.

c. SCR (Silicon Controlled Rectifier)

SCR (Silicon Controlled Rectifier) adalah piranti 3 (tiga) terminal yang


digunakan untuk mengatur arus yang melalui suatu beban. Untuk mengatur arus
yang cukup besar yang melalui Anoda-Katoda, hanya diperlukan arus yang kecil
dari Gate. Selama arus Anoda-Katoda tetap mengalir, arus Gate dapat
dihilangkan setelah satu kali melakukan penyulutan.

Gambar SCR dan Identifikasi Terminal

Bila SCR digunakan pada arus AC, maka hanya akan mengalir arus ke
satu arah saja, seperti halnya pada dioda. Pada pengaturan daya AC dengan
SCR dikenal istilah sudut tunda penyulutan (firing delay angle) yaitu periode yang
hilang sebelum SCR tersulut. Rangkaian penyulut pada Gate dapat berupa R
mapun RC. Dengan rangkaian RC akan dapat diatur firing delay angle dalam
jangkah yang lebar.
SCR mempunyai elektroda kendali (Gerbang) terpisah dan seperti juga
torostor lainnya, SCR mempunyai perilaku seperti tabung tiratron. Namun tidak
tidak seperti triac, SCR hanya dapat terkonduksi dalam satu alat saja. Anodanya
harus dapat dibuat positif dan katodanya dibuat negatif. SCR banyak digunakan
dalam rangkaian penyearah terkendali, pengubah dan rangkaian kendali serta
penyaklaran.

SCR dapat digunakan tersendiri, digabung dengan SCR lainya atau


digabung dengan diac, triac, transistor konvensional, transistor unijunction atau
lampu-lampu neon. Daerah kerja SCR meliputi jangkah yang lebar, dari 1,7 A
sampai 35 A dan 100 V sampai 700 V. SCR adalah komponen spasi 4 lapis
(pnpn) rangkaiannya seperti pada gambar berikut :

Gambar SCR. (a) Susunannya. (b) Susunan ekivalen. (c) Rangkaian ekivalen.
(d) Lambang rangkaian

Elektroda-elektroda yang dimiliki SCR terdiri dari anoda, katoda dan


elektroda gerbang atau kendali. SCR biasanya bekerja dengan anoda positif.
Apabila anoda diberi tegangan muka negatif terhadap katoda maka, arus yang
mengalir dengan tajam akibat jebol bandangan. Bandangan ini merupakan
kondisi on SCR. Apabila tegangan gerbang = 0, maka SCR akan menutup arus
dari dua arah dan berada pada keadaan off.

Seperti pada tabung tiratron, sekali keadaan konduksi tercapai maka


elektroda gerbangnya tidak dapat mengendalikan arus anoda sampai tegangan
anoda katodanya diputuskan. Karena SCR bukan komponen dua arah maka
secara otomatis akan off dan kendali gerbangnya aktif kembali jika tegangan AC
yang diberikan ke anoda berada pada siklus sebaliknya.

Keluaran sebuah SCR dapat diubah ubah secara halus dengan


mengubah fasa picu gerbang. Makin awal sinyal pemicu tiba pada setengah
siklus positf tegangan anoda maka maka makin lama siklus anoda yang
mengalir, maka makin besar pula harga dari arus tersebut. Dengan
menggunakan sebuah SCR, suatu arus anoda yang besar dapat disaklarkan
dengan menggunakan arus gerbang yang kecil.Untuk mengerti tentang cara
kerja dari SCR kita bisa terangkan ini dengan sebuah rangkaian elektronik
persegi sebagai berikut:

Gambar Cara kerja dari SCR dengan sebuah rangkaian elektronik persegi

Saat kita menghubungkan SCR ke sumber tegangan, plus (+) dan


minus (-) ke K dan jangan menyuplai tegangan ke gate(G) ,kedua transisitor
dalam keadaaan cutoff.

Menyuplai pulsa (bahkan untuk waktu yang sangat pendek) ke gate


menyebabkan transistor Q2 terhubung. Penghubungan ini menciptakan aliran
arus yang pokok untuk transisitor Q1.

Arus ini terhubung dan menyebabkan aliran yang rata ke base Q2.
Aliran ini menjaga transistor Q2 dalam keadaan terhubung, yang mana menjaga
transistor Q1 dalam keadaan terhubung walaupun pulsa dalam gate dalam
keadaan berhenti.
Karakteristik SCR terlihat pada gambar berikut:

Gambar Karakteristik SCR

Dalam tegangan belakang SCR seperti diode. Ini tidak akan terhubung
sampai alat ini breaks-over. Komponen SCR dirancang untuk break-over
tegangan yang tinggi) dalam hal ini untuk menghindari situasi ini). Vx lebih besar
dari 400 V.

Sebuah SCR dapat mempunyai tegangan dadal-jenuh (breakover) yang


berkisar dari 50V sampai lebih dari 2500V tergantung pada nomor tipenya. SCR
biasanya dirancang untuk operasi penutupan picu dan pembukaan arus rendah.
Cara kerjanya adalah SCR tersebut akan terbuka terus sampai gerbangnya
menerima masukan picu. Setelah itu SCR akan menutup dan bertahan dalam
keadaan ini walaupun sinyal picu telah berlalu. Satu-satunya cara untuk
membuka kembali SCR itu adalah cara pemutusan arus rendah.

SCR biasanya dipandang sebagai suatu piranti yang menghalangi


tegangan kecuali jika disambung dengan suatu picu. Karena itu, dalam lembar
data yang bersangkutan , tegangan dadal-jenuh sering kali disebut tegangan
penghalang maju. Misalnya saja SCR 2N4444 mempunyai tegangan
penghalang-maju sebesar 600V. Ini berarti bahwa selama tegangan catu lebih
kecil dari 600V, SCR tidak akan beralih keadaan. Penutupan saklar ini hanya
dapat dilakukan dengan picu gerbang. Karena gerbang SCR dihubungkan
dengan basis transistor internal, maka diperlukan setidaknya 0,7 V untuk memicu
sebuah SCR. Lembar data menyebutnya dengan arus pemicu gerbang (Gate

Trigger Current) I GT . Sebagai contoh, lembar data 2N4441 memberikan


tegangan dan arus pemicu:

VGT = 0,75 V

I GT 10mA

Ini berarti bahwa sumber yang menggerakkan gerbang 2N4441 harus


mencatu 10mA pada tegangan 0,75 V untuk mengunci SCR.

SCR merupakan piranti industri yang dapat menangani arus-arus besar


berukuran dari 1A sampai lebih dari 2500A tergantung dari tipenya. Karena
sifatnya sebagai piranti arus tinggi, SCR mempunyai arus picu dan arus penahan
yang relatif besar. Misalnya saja piranti 2N4444 dapat menghantar arus sebesar
8A secara terus menerus. Arus picunya adalah 10mA, dan begitu pula arus
penahannya. Ini berarti bahwa untuk mengendalikan arus anode sebesar 8A
diperlukan masukan arus minimum pada gerbang SCR sebesar 10mA. Sebagai
contoh yang lain, piranti C701 merupakan SCR yang dapat menghantar arus
sampai sebesar 1250A dengan arus picu 150mA dan arus penahannya sebesar
500mA.

Dengan adanya kapasitans dalam SCR maka piranti ini dapat dipicu
oleh tegangan catu yang berubah secara cepat. Jadi dengan kata lain, jika laju
kenaikan dari tegangan catu cukup tinggi, maka arus pengisian kapasitif dapat
memulai proses regenerasi. Untuk menghindari sinyal pemicuan yang salah
pada SCR, laju perubahan tegangan pada anode tidak boleh melenihi laju kritis
kenaikan tegangan yang tercantum pada lembar data.

Sebagai contoh misalnya kita tinjau piranti 2N4444 yang mempunyai


laju kritis kenaikan tegangan sebesar 50V/µs. Untuk menghindari terjadinya
proses dadal-jenuh yang tidak diinginkan, tegangan anode tidak boleh naik lebih
cepat dari 50V/µs. Contoh yang lainnya adalah piranti C701 yang mempunyai
laju kritis kenaikan tegangan sebesar 200V/µs.
Gejala transien-penyaklaran yang terjadi pada penyalur catu tegangan
adalah penyebab utama dari pelanggaran laju kritis kenaikan-tegangan. Salah
satu cara untuk mengurangi pengaruh transien tersebut adalah menggunakan
pembatas atau penekan RC seperti terlihat pada Gambar 4.4.(a). Bila gejala
transien berkecepatan tinggi terjadi pada tegangan catu, maka laju kenaikannya
pada anode akan dikurangi oleh rangkaian RC tersebut. Laju kenaikan dalam
tegangan anode tidak hanya bergantung pada harga R dan C, tetapi juga
bergantung pada besarnya hambatan beban.

Piranti SCR yang lebih besar masih dikenakan batas lain berupa laju
kritis kenaikan arus. Misalnya piranti C701 diketahui mempunyai laju kritis
kenaikan arus sebesar 150A/µs. Jika arus anode bertambah lebih cepat dari laju
ini, SCR yang bersangkutan dapat menjadi rusak akibat bintik-bintik panas (hot
spots) yang terjadi didalamnya. Penggunaan sebuah inductor secara seri seperti
ditunjukkan pada Gambar 4.4.(b) akan mengurangi laju kenaikan arus, dan
membantu pembatas RC dalam menekan laju kenaikan tegangan.

Gambar (a) Penekan RC (RC snubber).

(b) Penekanan laju kenaikan arus dengan induktor

Suatu SCR memiliki tegangan gerbang VG . Saat tegangan ini lenih

dari VGT , SCR akan hidup dan tegangan keluaran akan jatuh dari +VCC ke
suatu nilai yang rendah. Kadang-kadang, hambatan gerbang digunakan disini.
Hambatan ini membatasi arus gerbang ke suatu nilai yang aman. Tegangan
masukan yang dibutuhkan untuk memicu sebuah SCR harus lebih dari:

V IN = VGT + I GT RGT

Dalam persamaan ini, VGT dan I GT adalah tegangan dan arus


pemicu gerbang untuk piranti. Keuntungan utama dari SCR adalah penekanan
tombol yang sangat pendek berdasarkan penekanan tombol yang regeneratif. Ini
mengurangi penurunan tegangan di dan mengijinkan produksi komponen SCR,
yang bisa menahan arus yang sangat besar (100 ampere).

Keburukan dari SCR adalah pematian. Pematian dari SCR hanya ada
satu cara yaitu mengurangi arus yang mengalir melalui ini disamping arus yang
utama.

Sebuah transistor bisa juga menekan tombol arus dalam cara yang sama.
Keuntungan dari transistor adalah pematian ini dilakukan dengan sederhana
yaitu menghentikan arus di base. Kerugiannya adalah waktu penekanan tombol
lebih lama dan selama penekanan tombol dalam keadaaan tegangan yang tinggi
dibangun dalam ini,dengan demikian ini tidak bisa digunakan untuk penekanan
tombol untuk arus yang besar.

Jenis SCR

Adapun jenis-jenis dari SCR antara lain sebagai berikut:

1. LASCR (light activated SCR) adalah jenis SCR yang apabila terkena sinar
matahari (cahaya yang cukup kuat ) akan menyebabkan elektron-elektron
valensi dalam SCR tersebut akan dilepaskan dari orbit-orbitnya dan akan
menjadi elektron-elektron bebas. Ketika elektron-elektron ini mengalir keluar
dari kolektor akan memasuki basis transistor, maka proses regenerasi akan
berlangsung sampai LASCR menjadi tertutup.

2. SCS (silicon controlled switch)adalah jenis SCR yang identik dengan saklar
penahan SCS menyediakan saluran kepada kedua basisnya satu picu
prategangan maju yang diberikan kepada salah satu basis tersebut akan
menutupi SCS, begitu pula sebaliknya bila diberi prategangan balik maka
akan membuka piranti saklar.

3. GCS (gate-controlled switch) adalah saklar yang dirancang untuk dibuka


dengan cara mudah yaitu dengan picu prategangan balik. Untuk GCS
penutupan dilakukan dengan picu positif dan pembukaan dilakukan dengan
picu negatif ( atau dengan pemutusan arus rendah )

Karakteristik SCR (Silicon Controlled Rectifier)

1. Sebuah SCR terdiri dari tiga terminal yaitu anoda, katoda, dan gate. SCR
berbeda dengan dioda rectifier biasanya. SCR dibuat dari empat buah lapis
dioda. SCR banyak digunakan pada suatu sirkuit elekronika karena lebih
efisien dibandingkan komponen lainnya terutama pada pemakaian saklar
elektronik.
2. SCR biasanya digunakan untuk mengontrol khususnya pada tegangan
tinggi karena SCR dapat dilewatkan tegangan dari 0 sampai 220 Volt
tergantung pada spesifik dan tipe dari SCR tersebut. SCR tidak akan
menghantar atau on, meskipun diberikan tegangan maju sampai pada
tegangan breakovernya SCR tersebut dicapai (VBRF). SCR akan
menghantar jika pada terminal gate diberi pemicuan yang berupa arus
dengan tegangan positip dan SCR akan tetap on bila arus yang mengalir
pada SCR lebih besar dari arus yang penahan (IH).
3. Satu-satunya cara untuk membuka (meng-off-kan) SCR adalah dengan
mengurangi arus Triger (IT) dibawah arus penahan (IH). SCR adalah
thyristor yang uni directional,karena ketika terkonduksi hanya bisa
melewatkan arus satu arah saja yaitu dari anoda menuju katoda. Artinya,
SCR aktif ketika gate-nya diberi polaritas positif dan antara anoda dan
katodanya dibias maju. Dan ketika sumber yang masuk pada SCR adalah
sumber AC, proses penyearahan akan berhenti saat siklus negatif terjadi.
DIAC
Diac merupakan komponen yang paling sederhana dari keluarga
thyristor, semi konduktor yang terdiri dari tiga lapisan seperti pada transistor pnp.
DIAC dibuat dengan struktur PNP mirip seperti transistor. Lapisan N pada
transistor dibuat sangat tipis sehingga elektron dengan mudah dapat
menyeberang menembus lapisan ini. Sedangkan pada DIAC, lapisan N di buat
cukup tebal sehingga elektron cukup sukar untuk menembusnya. Struktur DIAC
yang demikian dapat juga dipandang sebagai dua buah dioda PN dan NP,
sehingga dalam beberapa literatur DIAC digolongkan sebagai dioda.

Gambar Struktur dan simbol DIAC

Sukar dilewati oleh arus dua arah, DIAC memang dimaksudkan untuk
tujuan ini. Hanya dengan tegangan breakdown tertentu barulah DIAC dapat
menghantarkan arus. Arus yang dihantarkan tentu saja bisa bolak-balik dari
anoda menuju katoda dan sebaliknya. Kurva karakteristik DIAC sama seperti
TRIAC, tetapi yang hanya perlu diketahui adalah berapa tegangan breakdown-
nya. DIAC umumnya dipakai sebagai pemicu TRIAC agar ON pada tegangan
input tertentu yang relatif tinggi.

Hubungan hanya dilakukan dengan tiga lapisan luarnya saja, sehingga


dengan demikian diac hanya mempunyai dua macam terminal, komponen ini
dapat bekerja pada tegangan AC maupun DC, dan dapat konduksi dari dua arah,
seperti thyristor lainnya diac mempunyai sifat seperti tabung tiratron.
Diac banyak di gunakan dalam rangkaian rangkaian pengendali,
penyaklaran, dan pemicu. Diac digunakan tersndiri atau digabungkan dengan
triac, transistor atau SCR.

Rangkaian ekuivalen dari diac adalah dua buah diode empat lapis yang
dipasang secara paralel seperti terlihat pada Gambar 4.5(a). Dilihat secara ideal
ini sama dengan sistem saklar penahan dalam Gambar 4.5(b). Diac tidak akan
menghantar sampai tegangan yang melaluinya melebihi tegangan breakover
dalam salah satu arahnya. Lambang dari Diac terlihat pada Gambar 4.5(d).

Gambar Diac (a) Rangkaian ekuivalen. (b) Sistem saklar-penahan ekuivalen. (c)
Saklar penahan kiri tertutup. (d) Lambang rangkaian.

Gambar Karakteristik diac

Sebagai contoh apabila tegangan v mempunyai polaritas, maka dioda


yang berada di sebelah kiri akan menghantar bila harga v mulai melampaui
tegangan breakover Diac. Dalam hal ini saklar penahan kiri tertutup. saat v
memiliki polaritas yang berlawanan, maka saklar-penahan kanan yang akan
menutup bila v mulai melampaui tegangan breakover.

Saat penghantaran arus pada Diac sudah mulai berlangsung, satu-


satunya cara untuk membukanya kembali adalah dengan cara pemutusan arus
rendah. Ini berarti mengurangi arus sampai di bawah batas arus-penahan dari
piranti yang bersangkutan.

Pada komponen diac, konsentrasi pengotorannya tidak seperti pada


pengotoran transistor tetapi mempunyai jumlah yang sama pada kedua
pertemuannya sehingga memungkinkan terjadinya operasi yang simetris. Jadi
tidak ada yang dapat disebut anoda atau katoda secara eklusif. Karena lapisan p
dan n dalam komponen tersebut disusun secara seri maka diac tidak akan
konduksi dalam arah maju tetapi selalu mempunyai perilaku seperti diioda
bandangan yang diberi pra tegangan terbalik. Hal ini terjadi tanpa memandang
arah tegangan yang diberikan.

Pada saat suatu tegangan diberikan ke komponen, suatu arus bocor


yang sangat kecil akan mengalir. Keadaan ini disebut keadaan “off”dari diac.
Pada titik ini terjadi jebolan bandangan dan tiba-tiba akan mengalir arus yang
besar. Ini merupakan keadaan “on” diac. Sekali diac dijadikan on dengan
menggunakan tegangan postif atau negatif, komponen ini akan terus
menghantarkan arus sampai tegangannya dihilangkan atau dikurangi menjadi
nol.

Di sini, arus bocor yang kecil (IBO+ untuk tegangan positif atau IB0- untuk
tegangan negatif). Mengalir sampai tegangan yang diberikan mencpai tegangan
breakover. Pada saat tegangan breakover dicapai, arus akan meningkat dengan
tajam dari I+ atau I- . Efek resistansi negatif akan muncul seperti terlihat pada
kurva lengkung ke arah belakang. Akibatnya arus menaik jika teganganya sedikit
diturunkan.

Penggunaannya yang utama adalah untuk memberi denyut picu ke


triac. Tetapi tentu saja denyut pemicu dan sifat konduksi dua arahnya dapat
digunakan pada berbagai tujuan selain pengoperasian triac.

Salah satu penggunaan diac yang paling sederhana adalah sebagai


penyaklar otomatis. Sebuah diac akan memberikan resistansi yang sangat tinggi
baik dalam AC maupun DC sampai tegangan yang diberikan mencapai nilai VBO
kritis. Apabila nilai ini sudah tercapai atau dilampaui maka diac akan konduksi.
Dengan demikian komponen dua terminal yang sederhana ini dapat disakelarkan
dengan tegangan kendali yang menaik dan tetap terkonduksi sampai tegangan
tersebut diturunkan ke nol.

d. TRIAC

Boleh dikatakan SCR adalah thyristor yang uni-directional, karena ketika ON


hanya bisa melewatkan arus satu arah saja yaitu dari anoda menuju katoda.
Struktur TRIAC sebenarnya adalah sama dengan dua buah SCR yang arahnya
bolak-balik dan kedua gate-nya disatukan. Simbol TRIAC ditunjukkan pada
gambar di bawah ini TRIAC biasa juga disebut thyristor bi-directional.

Gambar Simbol TRIAC

TRIAC bekerja mirip seperti SCR yang paralel bolak-balik, sehingga


dapat melewatkan arus dua arah. SCR, TRIAC juga merupakan piranti tiga
terminal yang digunakan untuk pengaturan daya. Berbeda dengan SCR, TRIAC
dapat mengalirkan arus dalam dua arah. Rangkaian penyulut untuk TRIAC dapat
pula berupa R maupun RC. Untuk mendapatkan pengaturan yang simetris, maka
digunakan DIAC.
Gambar triac dan Diac

Triac adalah komponen 3 elektroda dari keluarga thyristor yang dapat


menyakelarkan AC atau DC. Tidak seperti diac, triac mempunyai elektroda
kendali (gerbang) yang terpisah yang akan memberikan level tegangan yang
yang memulai triac untuk konduksi. Seperti Thyristor lainnya, triac mempunyai
perilaku seperti tabung tiratron
Penggunaan Triac tidak seluas SCR karena arus yang dapat ditangani
jauh lebih kecil. Disamping itum SCR tersedia secara luas dalam jumlah yang
jauh lebih besar daripada Triac. Karena susunan internalnya, Triac memiliki
tegangan dan arus pemicu gerbang yang lebih tinggi dibandingkan dengan SCR.

Triac banyak di gunakan dalam rangkaian rangkaian pengendali,


penyaklaran, dan pemicu. Triac digunakan tersndiri atau digabungkan dengan
diac, transistor atau SCR. Daerah kerja triac meliputi jangkah yang lebar,
biasanya berada pada 100V sampai 600V dan 0,5 A sampai 40 A.

Gambar Triac. (a) Rangkaian ekuivalen. (b) Sistem saklar-penahan


ekuivalen. (c) Lambang rangkaian.

Karena lapisan p dan n dalam triac di susun secara seri, maka


komponen ini, seperti halnya dengan diac, tidak dapat melewatkan arus dari
terminal 1 ke terminal 2 dalam arah maju tetapi berperilaku sebagai dioda yang
diberi prategangan terbalik.
Pada saat tegangan di berikan pada komponen ini, misalnya dari
sumber tegangan pada jala jala, arus bocor yang mengalir sangat kecil. Ini di
katakan sebagai kondisi off triac. Apabila tegangan ini dinaikkan, maka akan di
capai nilai kritis (+VBO jika arahnya positif atau -VBO triac arahnya negatif). Pada
hal ini akan terjadi jebol bandangan dan arus besar akan mengalir yang di
tentukan oleh amplitudo arus negatif atau positif yang diberikan ke elektroda
gerbang. Makin tinggi elektroda ini, maka makin besar pula tegangan breakover-
nya

Untuk kerja triac pada keadaan positif atau negatif, seperti halnya pada
tabung trinatron, sekali kondisi DC terbentuk pada triac, elektroda gerbangnya
tidak lagi memegang kendali lagi sampai tegangan dari terminal 1 ke terminal 2
diputuskan atau dikurangi sampai dengan nol.

Tidak seperti halnya diac, triac mempunyai terminal tertentu sehingga


tidak dapat dipertukarkan. Beberapa triac akan bekerja lebih dari biasanya jika di
berikan penyerap panas. Contohnya adalah triac yang diberikan untuk
mengendalikan motor. Misalnya pada kendali tertentu, motor terbesar yang di
kendalikannya adalah ¼ tenaga kuda. Apabila triac tersebut dilengkapi dengan
penyerap panas, maka motor dengan daya ½ daya kuda dapat di kendalikannya
dengan aman.

Gambar dibawah menunjukkan rangkaian RC yang memvariasikan sudut


fase tegangan gerbang Triac. Rangkaian dapat mengatur arus melalui sebuah
beban yang besar. Gambar dibawah menunjukkan tegangan catu dan tegangan
gerbang yang tertinggal. Saat tegangan kapasitor cukup besar untuk mencatu
arus pemicu, Triac akan menghantar. Sekali menghantar, Triac akan terus
menghantar sampai tegangan catu kembali ke 0.

Meskipun Triac dapat menangani arus tinggi, Triac tidaklah sekelas


dengan SCR, yang memiliki rating arus jauh lebih tinggi. Meski demikian, ketika
konduksi pada kedua sisi putaran menjadi penting, Triac merupakan piranti yang
berguna khususnya dalam aplikasi industri.
Gambar Pengendali Fase Triac

Karakteristik Triac

TRIAC tersusun dari lima buah lapis semikonduktor yang banyak


digunakan pada pensaklaran elektronik. TRIAC biasa juga disebut thyristor bi
directional. TRIAC merupakan dua buah SCR yang dihubungkan secara paralel
berkebalikan dengan terminal gate bersama.

Berbeda dengan SCR yang hanya melewatkan tegangan dengan


polaritas positif saja, tetapi TRIAC dapat dipicu dengan tegangan polaritas positif
dan negatif, serta dapat dihidupkan dengan menggunakan tegangan bolak-balik
pada Gate. TRIAC banyak digunakan pada rangkaian pengedali dan
pensaklaran.

TRIAC hanya akan aktif ketika polaritas pada Anoda lebih positif
dibandingkan Katodanya dan gate-nya diberi polaritas positif, begitu juga
sebaliknya. Setelah terkonduksi, sebuah TRIAC akan tetap bekerja selama arus
yang mengalir pada TRIAC (IT) lebih besar dari arus penahan (IH) walaupun
arus gate dihilangkan. Satu-satunya cara untuk membuka (meng-off-kan) TRIAC
adalah dengan mengurangi arus IT di bawah arus IH.

Perbedaan antara SCR dan TRIAC dapat dilihat juga pada Rangkaiannya
yaitu pada rangkaian TRIAC tidak terdapat dioda hal ini disebabkan karena
TRIAC dapat bekerja atau dipicu dengan tegangan positif dan negatif.

Setelah rangkaian selesai di rangkai, kemudian sumber tegangan di


berikan pada rangkaian tersebut dimana kondisi TRIAC pada saat itu belum aktif,
hal ini disebabkan TRIAC belum terpicu.

Apabila sumber tegangan sudah diberikan, maka untuk mengaktifkan


TRIAC dilakukan pemicuan dengan mengatur Resistor Variabel (VR) sampai
lampu menyala atau arus yang mengalir pada TRIAC (IT) lebih besar dari arus
penahan (IH).

Untuk pemicuan TRIAC dengan tegangan positif, polaritas anoda harus


lebih positif dibandingkan katodanya sedangkan untuk pemicuan dengan
tegangan negative maka polaritas katodanya harus lebih positif dibandingkan
anodanya.

Apabila TRIAC sudah aktif maka kita dapat mengetahui besarnya arus
Gate (IG), arus penahan (IH) dengan melihat pada Ampermeter dan juga dapat
mengetahui besarnya tegangan Gate (VGT), tegangan Anoda Katoda (VAK)
pada Voltmeter

Selain mengetahui besarnya arus dan tegangan melalui Ampermeter dan


Voltmeter, untuk mengetahui karakteristik dari arus yang mengalir pada TRIAC
dengan osiloskop.

4.3 Daftar Komponen dan Alat

1. Modul Dasar Elektronika 6. Disket / flashdisk


2. Osoloskop 7. Milimeterblok
3. Multimeter 8. Penggaris /
mistar
4. Steker T 9. Pulpen / pensil
5. Data Sheet SCR, TRIAC, DIAC

4.4 Cara Kerja

PERHATIAN :

1. Percobaan A dan B menggunakan tegangan tinggi langsung


dari jala-jala. Praktikan harus benar-benar memperhatikan keselamatan
dirinya dan rekan kerjanya.
2. gunakan probe 1:10 untuk melakukan pengamatan dengan
osiloskop. Hubungkan osiloskop dengan jala-jala tanpa menggunakan
ground dengan cara meggunakan steker T. dengan demikian bagian
logam dari osiloskop tidak boleh disentuh selama daya untuk modul
ihidupkan karena terdapat tegangan tinggi. Pengaturan osiloskop
dilakukan sebelum melakukan pengamatan.
3. Sebelum melakukan pengamatan, konsultasikan dulu hal-hal
yang belum jelas kepada asisten.
A. Silicon Controlled Rectifier (SCR)
1. Buatlah rangkaian seperti pada
gambar 4.3 saklar daya dalam keadaan OFF (lampu indikator mati).
Hubungkan rangkaian ke jala-jala listrik.

Gambar 4.17 Percobaan dengan SCR


2. Atur osiloskop pada 10 Volt/Div, 5 mS/Div, kopling DC dan
Trigger pada posisi Internal. Gunakan hanya salah satu kanal saja.
Amati bentuk gelombang pada beban. Kemudian amati pula Anoda-
Katoda SCR. Perhatikan : Gunakan Probe 1:10. Selama memindah-
mindahkan probe dari suatu titik pengamatan ke titik pengamatan yang
lain, matikan saklar daya pada modul.
3. Atur lagi osiloskop pada 0.5 Volt/Div (pengaturan lainnya tetap).
Amati bentuk gelombang pada kapasitor dan Gate-Katode SCR.
4. pengamatan langkah 2 dan 3 dilakukan untuk dua macam firing
delay angle yang berbeda dengan mengubah potensio 500K. Ukur
besarnya hambatan potensio untuk tiap pengamatan.
5. Buatlah rangkaian seperti gambar 4.4 Lakukan pengamatan
seperti sebelumnya

Gambar 4.18 Percobaan SCR Gelombang Full Wave


B. TRIAC dan DIAC

Gambar 4.19 Percobaan dengan TRIAC

1. Buatlah rangkaian seperti pada gambar 4.5 lakukan


pengamatan bentuk gelombang pada beban (10 V/Div), A1 – A2 (10
V/Div), kapasitor (2 V/Div) dan pada G – A 1 (0.05 V/Div). Pengamatan
dilakukan untuk dua sudut yang berbeda. Apakah simetris sudut sulut
belahan positif dan belahan negative ?
2. Ulangi percoban diatas dengan menggantikan resistor 1K
dengan DIAC (gambar 4.6). Bagaimanakah perbedaan dengan
sebelumnya ?

Gambar 4.20 Percobaan dengan TRIAC DIAC


4.5 Lembar Kerja dan Data Hasil Percobaan

Tabel 4.1 SCR

Anoda - Anoda Katoda Gate - Anoda - Katoda Gate -


LAMPU Katoda - Gate - Gate Resistor Beban - Beban Beban

Mati 0 220 220 219 220 220 0

Redup 0 42 60 42 220 222 3

Terang 0 209 9 8 220 222 10

Tabel 4.2 TRIAC

Anoda - Anoda Katoda Gate - Anoda - Katoda Gate -


LAMPU Katoda - Gate - Gate Resistor Beban - Beban Beban

Mati 220 0 220 0 220 0 220

Redup 98 0 52 0 220 3 220

Terang 1 0 0 0 220 219 220

Tabel 4.3 TRIAC dan DIAC

Anoda - Anoda Katoda Gate - Anoda - Katoda Gate -


LAMPU Katoda - Gate - Gate Resistor Beban - Beban Beban

Mati 234 1 231 2 230 3 228

Redup 325 1 325 18 228 158 212

Terang 6 0 6 4 227 228 227


4.6 Analisa Pembahasan Hasil Percobaan

Pada percobaan ini terdapat lima jenis besar tegangan yang akan diukur,
yaitu tegangan dari Anoda ke katoda, Anoda ke Gate, Katoda ke Gate, jika
dipasang Resisitor dan Beban. Masing - masing pecobaan diuji dan diukur pada
saat lampu mati, redup, dan terang. Pengujian tersebut akan dilakukan untuk
semua percobaan yaitu untuk percobaan SCR, SCR dengan Diode, TRIAC, serta
TRIAC dan DIAC.

4.6.1 Percobaan SCR


Pada percobaan SCR, besar tegangan dari Anoda Ke Katoda serta anoda
ke gate paling besar nilainya pada saat lampu mati (pada table 4.6.1). Hal ini
disebabkan karena lapisan N-P yang ada ditengah mendapatkan reverse-bias. Di
mana pada saat lampu mati, tidak ada arus yang mengalir dan tegangan yang
dihasilkan besar. Dapat digambarkan sebagai berikut :

Pada saat lampu dalam keadaan mati, maka tidak ada arus yang bisa
mengalir atau sangat kecil sekali. Arus tidak dapat mengalir sampai pada suatu
tegangan reverse-bias tertentu yang menyebabkan sambungan NP ini jenuh dan
hilang. Tegangan ini disebut tegangan breakdown. Hasil perhitungan masing-
masing tegangannya adalah sebagai berikut: :
Anoda/Katoda

 Pada saat lampu mati


Tegangan Anoda/Katoda = 220 Volt

Hasil pengukuran = 0 Volt

Sehingga dapat dicari persentase kesalahan relatifnya sebagai berikut :

Vpengukura n −Vteori
% kesalahan relatif = x 100 %
Vteori

0 −220
= x 100 %
220

=1%

 Pada saat lampu redup


Tegangan Anoda/Katoda = 220 Volt

Hasil pengukuran = 0 Volt

Sehingga dapat dicari persentase kesalahan relatifnya sebagai berikut :

Vpengukura n −Vteori
% kesalahan relatif = x 100 %
Vteori

220 −220
= x 100 %
220

=1%
 Pada saat Lampu terang
Tegangan Anoda/Katoda = 220 Volt

Hasil pengukuran = 0 Volt

Sehingga dapat dicari persentase kesalahan relatifnya sebagai berikut :

Vpengukura n −Vteori
% kesalahan relatif = x 100 %
Vteori

0 −220
= x 100 %
220

= 1%

Anoda / Gate

Untuk percobaan Anoda Gate, dapat rangkaiannya dapat dilihat pada gambar
berikut :

Vin = Vr + VGT

Vin = IGT(R) + VGT


Gambar 4.21 Rangkaian Anoda / Gate pada SCR

Ket :
V in : Tegangan Sumber
VGT : 0,75 Volt
IGT : 15 mA

• Pada saat lampu mati


Tegangan Anoda/ Gate = V in - VGT = 220 Volt – 0.75 Volt = 219.25 Volt

Hasil pengukuran = 220 Volt

Sehingga dapat dicari persentase kesalahan relatifnya sebagai berikut :

Vpengukura n −Vteori
% kesalahan relatif = x 100 %
Vteori

220 −219 ,25


= x 100 %
219 ,25

= 0.34 %

• Pada saat lampu redup


Tegangan Anoda/ Gate = V in - VGT = 220 Volt - 0,75 Volt = 219,25 Volt

Hasil pengukuran = 42 Volt

Sehingga dapat dicari persentase kesalahan relatifnya sebagai berikut :

Vpengukura n −Vteori
% kesalahan relatif = x 100 %
Vteori
42 −219 ,25
= x 100 %
219 ,25

= 80,84 %

• Pada saat Lampu terang


Tegangan Anoda/ Gate = V in - VGT = 220 Volt - 0,75 Volt = 219,25 Volt

Hasil pengukuran = 209 Volt

Sehingga dapat dicari persentase kesalahan relatifnya sebagai berikut :

Vpengukura n −Vteori
% kesalahan relatif = x 100 %
Vteori

209 −219 ,25


= x 100 %
219 ,25

= 4,67 %

Katoda /Gate

Untuk tegangan Katoda / Gate tegangannya hampir mendekati 0. Hal tersebut


disebabkan pada saat itu SCR dikatakan dalamm keadaan OFF, di mana
sebelumnya SCR telah ON dengan besar tegangan di Anoda / Katoda dan
Anoda / Gate. Jadi tidak dapat dihitung persentase kesalahannya, karena akan
menghasilkan persentase kesalahan yang besar padahal SCR dalam keadaan
OFF bukan karena kurang presisi alat atau sebab lain seperti kurang telitinya
pembacaan besar tegangan yang dilakukan oleh para praktikan.
Resistor

Perhitungan untuk Resistor digunakan cara yang sama seperti perhitungan


Tegangan di Anoda / Gate sebagai berikut :

Vin = Vr + VGT

Vin = IGT(R) + VGT

Ket :
V in : Tegangan Sumber
VGT : 0,75 Volt
IGT : 15 mA

• Pada saat lampu mati


Vin −Vgt 220 −0,75
Nilai Resistor = = x 103
Igt 15

= 14,6 X 103

Hasil pengukuran = 0.1

Sehingga dapat dicari persentase kesalahan relatifnya sebagai berikut :


Vpengukura n −Vteori
% kesalahan relatif = x 100 %
Vteori

0,1 −14 ,6
= x 100 %
14 ,6

= 99.31%

• Pada saat lampu redup


Vin −Vgt 220 −0,75
Nilai Resistor = = x 103
Igt 15

= 14,6 X 103

Hasil pengukuran = 3,7

Sehingga dapat dicari persentase kesalahan relatifnya sebagai berikut :

Vpengukura n −Vteori
% kesalahan relatif = x 100 %
Vteori

3,7 −14 ,6
= x 100 %
14 ,6

= 74,65%

• Pada saat Lampu terang


Vin −Vgt 220 −0,75
Nilai Resistor = = x 103
Igt 15

= 14,6 X 103

Hasil pengukuran = 4,1

Sehingga dapat dicari persentase kesalahan relatifnya sebagai berikut :

Vpengukura n −Vteori
% kesalahan relatif = x 100 %
Vteori

4,1 −14 ,6
= x 100 %
14 ,6

= 71.91 %

Tabel 4.4 Persentase kesalahan Relatif (%) SCR

Persentase
Anoda / Anoda /
kesalahan Gate / Katoda
Katoda Gate
Relatif ( %)

Mati 1% 0.34 % 99.31 %

Redup 1% 80.84 % 74.65 %

Terang 1% 4.67% 71.91 %


Dari tabel persentase kesalahan di atas terlihat bahwa persentase
kesalahannya cukup besar terutama pada pengukuran di resistor, hal ini
disebabkan karena resistor menyebabkan tegangan dari anoda ke katoda
mendekati 0 dan apabila dihitung persentase kesalahannya, hasilnya sangat
besar. Selain itu dapat pula disebabkan oleh kesalahan praktikan dalam
mengukur ataupun membaca skala hasil pengukuran.

4.6.2 Percobaan TRIAC


Dengan cara yang sama persentase kesalahan relatif (%) pada masing-masing
pengukuran tegangan untuk percobaan ini dapat dilihat pada tabel dibawah ini :

Tabel 4.5 Persentase kesalahan Relatif (%) DIAC

Persentase
kesalahan Relatif Anoda / Katoda Anoda / Gate Gate / Katoda
( %)

Mati 0.34 % 1% 98.63 %

Redup 55.3 % 1% 96.57 %

Terang 99.5 % 1% 98.63 %

Dari tabel persentase kesalahan di atas terlihat bahwa persentase


kesalahannya cukup besar terutama pada pengukuran di resistor, hal ini
disebabkan karena resistor menyebabkan tegangan dari anoda ke katoda
mendekati 0 dan apabila dihitung persentase kesalahannya, hasilnya sangat
besar. Selain itu dapat pula disebabkan oleh kesalahan praktikan dalam
mengukur ataupun membaca skala hasil pengukuran.

4.6.3 Percobaan TRIAC dan DIAC


Dengan cara yang sama persentase kesalahan relatif (%) pada masing-masing
pengukuran tegangan untuk percobaan ini dapat dilihat pada tabel dibawah ini :

Tabel 4.6 Persentase kesalahan Relatif (%) TRIAC DAN DIAC

Persentase Anoda / Katoda Anoda / Gate Gate / Katoda


kesalahan Relatif
( %)

Mati 6.72 % 99.54 % 99.31 %

Redup 48.23 % 99.54 % 99.31 %

Terang 97.26 % 1% 97.94 %

Dari tabel persentase kesalahan di atas terlihat bahwa persentase


kesalahannya cukup besar terutama pada pengukuran di resistor, hal ini
disebabkan karena resistor menyebabkan tegangan dari anoda ke katoda
mendekati 0 dan apabila dihitung persentase kesalahannya, hasilnya sangat
besar. Selain itu dapat pula disebabkan oleh kesalahan praktikan dalam
mengukur ataupun membaca skala hasil pengukuran.

4.7 Pertanyaan dan Tugas

Tugas

1. Jelaskan apa yang dimaksud dengan SCR, TRIAC, dan DIAC!


2. Jelaskan perbedaan - perbedaan SCR, TRIAC, dan DIAC!
3. Berikan penjelasan tentang fungsi dan karakteristik dari SCR,
TRIAC, dan DIAC!
4. Terangkan cara kerja osilator relaksasi dengan SCR.
5. Apakah keuntungan-keuntungan penggunaan SCR dan TRIAC
pada pengaturan daya ?
6. Buatlah contoh aplikasi – aplikasi yang menggunakan SCR,
TRIAC, dan DIAC!
7. Menurut data dan analisa yang anda buat, apakah yang akan
terjadi jika hambatan pada masing – masing rangkaian diatas dikurangi,
jelaskan dengan analisa matematis!
8. Mengapa pada rangkaian R diganti dengan diac nyala lampu
pada saat potensio diputar bisa lebih terang dan lebih redup, jelaskan
dengan analisa matematis!
9. Bagaimanakah hubungan antara konstanta waktu jaringan RC
pada Gate dan besarnya sudut tunda penyalaan ?
10. Berikan kesimpulan anda pada masing – masing percobaan
diatas!

Jawaban Pertanyaan

1. - SCR (Silicon Controlled Rectifier) adalah komponen dengan tiga


pemicu yaitu: Anoda(A), Katoda(K) dan Gate(G). SCR atau Tyristor
masih termasuk keluarga semikonduktor dengan karateristik yang
serupa dengan tabung thiratron. Bagian-bagiannya diterangkan
sebagai berikut :
SCR dirancang untuk menyebababkan aliran yang rata dari anoda ke
katoda. SCR dibangun dari empat lapisan P dan N yang saling
berhubungan sebagai berikut:

- Triac adalah tyristor dengan tiga pemicu ,yang mengatur arus ke dua
arah.Ini sejenis dengan dua komponen SCR dihubungkan secara pararel
dan dalam hubungan dengan inverter. setara dengan dua SCR yang
dihubungkan parallel. Dan dijelaskan sebagai berikut:
Triac dibangun dari 5 lapisan NPNPN

- Diac adalah trysitor yang hanya punya dua kaki. DIAC bukanlah termasuk
keluarga thyristor, namun prisip kerjanya membuat ia digolongkan
sebagai thyristor. DIAC dibuat dengan struktur PNP mirip seperti
transistor. Lapisan N pada transistor dibuat sangat tipis sehingga elektron
dengan mudah dapat menyeberang menembus lapisan ini. Sedangkan
pada DIAC, lapisan N di buat cukup tebal sehingga elektron cukup sukar
untuk menembusnya. Struktur DIAC yang demikian dapat juga dipandang
sebagai dua buah dioda PN dan NP, sehingga dalam beberapa literatur
DIAC digolongkan sebagai dioda.Adapun gambar dari struktur dan
symbol DIAC sebagai berikut :

2. - Pada SCR
Struktur : Sebuah SCR terdiri dari tiga terminal yaitu anoda, katoda,
dan gate. SCR berbeda dengan dioda rectifier biasanya.
SCR dibuat dari empat buah lapis dioda.Adapun gambar dari
struktur SCR sebagai berikut :
Karateristik : Adapun karateristik dari SCR yaitu dapat dijelaskan dengan
kurva I-V SCR berikut ini :

Pada gambar tertera tegangan breakover Vbo, yang jika


tegangan forward SCR mencapai titik ini, maka SCR akan
ON. Lebih penting lagi adalah arus Ig yang dapat
menyebabkan tegangan Vbo turun menjadi lebih kecil. Pada
gambar ditunjukkan beberapa arus Ig dan korelasinya
terhadap tegangan breakover. Pada datasheet SCR, arus
trigger gate ini sering ditulis dengan notasi IGT (gate trigger
current). Pada gambar ada ditunjukkan juga arus Ih yaitu
arus holding yang mempertahankan SCR tetap ON. Jadi
agar SCR tetap ON maka arus forward dari anoda menuju
katoda harus berada di atas parameter ini.

Satu-satunya cara untuk membuka (meng-off-kan) SCR


adalah dengan mengurangi arus Triger (IT) dibawah arus
penahan (IH). SCR adalah thyristor yang uni
directional,karena ketika terkonduksi hanya bisa melewatkan
arus satu arah saja yaitu dari anoda menuju katoda. Artinya,
SCR aktif ketika gate-nya diberi polaritas positif dan antara
anoda dan katodanya dibias maju. Dan ketika sumber yang
masuk pada SCR adalah sumber AC, proses penyearahan
akan berhenti saat siklus negatif terjadi.

Cara Kerja : Pada prinsipnya SCR dapat menghantarkan arus bila


diberikan arus gerbang (arus kemudi).Arus gerbang ini
hanya diberikan sekejap saja sudah cukup dan thyristor akan
terus menghantarwalaupun arus gerbang sudah tidak ada.
SCR tidak akan menghantar atau on, meskipun diberikan
tegangan maju sampai pada tegangan breakovernya SCR
tersebut dicapai (VBRF). SCR akan menghantar jika pada
terminal gate diberi pemicuan yang berupa arus dengan
tegangan positip dan SCR akan tetap on bila arus yang
mengalir pada SCR lebih besar dari arus yang penahan (IH).

o Pada TRIAC
Struktur : TRIAC tersusun dari lima buah lapis semikonduktor yang
banyak digunakan pada pensaklaran elektronik. TRIAC
biasa juga disebut thyristor bi directional. TRIAC merupakan
dua buah SCR yang dihubungkan secara paralel
berkebalikan dengan terminal gate bersama. Adapun
gambar dari struktur TRIAC sebagai berikut :
Karateristik : Adapun karateristik dari SCR yaitu dapat dijelaskan dengan
gambar berikut ini :

Terdapat parameter-parameter seperti Vbo dan -Vbo, lalu IGT


dan -IGT, Ih serta -Ih dan sebagainya. Umumnya besar
parameter ini simetris antara yang plus dan yang minus.
TRIAC hanya akan aktif ketika polaritas pada Anoda lebih
positif dibandingkan Katodanya dan gate-nya diberi polaritas
positif, begitu juga sebaliknya. Setelah terkonduksi, sebuah
TRIAC akan tetap bekerja selama arus yang mengalir pada
TRIAC (IT) lebih besar dari arus penahan (IH) walaupun arus
gate dihilangkan. Satu-satunya cara untuk membuka (meng-
off-kan) TRIAC adalah dengan mengurangi arus IT di bawah
arus IH.

Cara Kerja : TRIAC bekerja mirip seperti SCR yang paralel bolak-balik,
sehingga dapat melewatkan arus dua arah.Berbeda dengan
SCR yang hanya melewatkan tegangan dengan polaritas
positif saja, tetapi TRIAC dapat dipicu dengan tegangan
polaritas positif dan negatif, serta dapat dihidupkan dengan
menggunakan tegangan bolak-balik pada Gate. TRIAC
banyak digunakan pada rangkaian pengedali dan
pensaklaran.

o Pada DIAC
Struktur : DIAC dibuat dengan struktur PNP mirip seperti transistor.
Lapisan N pada transistor dibuat sangat tipis sehingga
elektron dengan mudah dapat menyeberang menembus
lapisan ini. Sedangkan pada DIAC, lapisan N di buat cukup
tebal sehingga elektron cukup sukar untuk
menembusnya. Struktur DIAC yang demikian dapat juga
dipandang sebagai dua buah dioda PN dan NP, sehingga
dalam beberapa literatur DIAC digolongkan sebagai dioda.
Adapun gambar dari struktur DIAC sebagai berikut :
Karateristik : Adapun karateristik dari DIAC yaitu dapat dijelaskan dengan
gambar berikut ini :

Untuk mengetahui karateristik dari DIAC yang hanya perlu


diketahui adalah berapa tegangan breakdown-nya. Hanya
dengan tegangan breakdown tertentu barulah DIAC dapat
menghantarkan arus. Arus yang dihantarkan tentu saja bisa
bolak-balik dari anoda menuju katoda dan sebaliknya.Karena
DIAC sendiri termasuk sukar dilewati oleh arus dua arah.

Cara Kerja : Pada prinsipnya diac akan menahan arus kearah dua belah
fihak, tetapi setelah tegangan melampaui suatu harga
tertentu, ia akan menghantar secara penuh.

3. - Fungsi dan karateristik dari SCR yaitu sebuah SCR terdiri dari tiga
terminal yaitu anoda, katoda, dan gate. SCR berbeda dengan dioda rectifier
biasanya. SCR dibuat dari empat buah lapis dioda. SCR banyak digunakan
pada suatu sirkuit elekronika karena lebih efisien dibandingkan komponen
lainnya terutama pada pemakaian saklar elektronik.

SCR biasanya digunakan untuk mengontrol khususnya pada tegangan


tinggi karena SCR dapat dilewatkan tegangan dari 0 sampai 220 Volt
tergantung pada spesifik dan tipe dari SCR tersebut. SCR tidak akan
menghantar atau on, meskipun diberikan tegangan maju sampai pada
tegangan breakovernya SCR tersebut dicapai (VBRF). SCR akan
menghantar jika pada terminal gate diberi pemicuan yang berupa arus
dengan tegangan positip dan SCR akan tetap on bila arus yang mengalir
pada SCR lebih besar dari arus yang penahan (IH).

Satu-satunya cara untuk membuka (meng-off-kan) SCR adalah dengan


mengurangi arus Triger (IT) dibawah arus penahan (IH). SCR adalah
thyristor yang uni directional,karena ketika terkonduksi hanya bisa
melewatkan arus satu arah saja yaitu dari anoda menuju katoda. Artinya,
SCR aktif ketika gate-nya diberi polaritas positif dan antara anoda dan
katodanya dibias maju. Dan ketika sumber yang masuk pada SCR adalah
sumber AC, proses penyearahan akan berhenti saat siklus negatif terjadi.

o Fungsi dan karateristik dari TRIAC yaitu TRIAC tersusun dari lima buah
lapis semikonduktor yang banyak digunakan pada pensaklaran elektronik.
TRIAC biasa juga disebut thyristor bi directional. TRIAC merupakan dua
buah SCR yang dihubungkan secara paralel berkebalikan dengan terminal
gate bersama. Berbeda dengan SCR yang hanya melewatkan tegangan
dengan polaritas positif saja, tetapi TRIAC dapat dipicu dengan tegangan
polaritas positif dan negatif, serta dapat dihidupkan dengan menggunakan
tegangan bolak-balik pada Gate. TRIAC banyak digunakan pada rangkaian
pengedali dan pensaklaran. TRIAC hanya akan aktif ketika polaritas pada
Anoda lebih positif dibandingkan Katodanya dan gate-nya diberi polaritas
positif, begitu juga sebaliknya. Setelah terkonduksi, sebuah TRIAC akan
tetap bekerja selama arus yang mengalir pada TRIAC (IT) lebih besar dari
arus penahan (IH) walaupun arus gate dihilangkan. Satu-satunya cara
untuk membuka (meng-off-kan) TRIAC adalah dengan mengurangi arus IT
di bawah arus IH.

- Fungsi dan karateristik dari DIAC yaitu dapat dijelaskan dengan gambar

berikut ini:
Gambar 4.11

Ketika tegangan dari diac bergerak dari tegangan VB,diac break-over dan
berperan sebagai diode penghubung.Peranan ini sama pada kedua arah.
Menambahkan diac pada gerbang triac meningkatkan substansi tegangan
penghidupan dari triac dan dengan demikian didapatkan tenaga yang lebih
dalam pengontrolan dalam tegangan tinggi.

4. Penggunaan OSILATOR SCR


Osilator ralaksasi utamanya digunakan sebagai pembangkit
gelombang sinusosidal. Gelombang gigi gergaji, gelombang kotak dan
variasi bentuk gelombang tak beraturan termasuk dalam kelas ini. Pada
dasarnya pada osilator ini tergantung pada proses pengosongan-pengisian
jaringan kapasitor-resistor. Perubahan tegangan pada jaringan digunakan
untuk mengubah-ubah konduksi piranti elektronik. Untuk pengontrol, pada
osilator dapat digunakan transistor, UJT (uni junction transistors) atau IC
(integrated circuit).

5. Keuntungan penggunaan SCR pada pengaturan daya adalah SCR dapat


mengontrol tegangan tinggi sehingga SCR dapat melewatkan tegangan
dari 0 sampai 220 Volt tergantung pada spesifik dan tipe dari SCR tersebut.
SCR tidak akan menghantar atau on, meskipun diberikan tegangan maju
sampai pada tegangan breakovernya SCR tersebut dicapai (VBRF). SCR
akan menghantar jika pada terminal gate diberi pemicuan yang berupa arus
dengan tegangan positip dan SCR akan tetap on bila arus yang mengalir
pada SCR lebih besar dari arus yang penahan (IH).

- Keuntungan penggunaan TRIAC pada pengaturan daya adalah TRIAC


dapat dipicu dengan tegangan polaritas positif dan negatif, serta dapat
dihidupkan dengan menggunakan tegangan bolak-balik pada Gate
sehingga TRIAC banyak digunakan pada rangkaian pengedali dan
pensaklaran. TRIAC hanya akan aktif ketika polaritas pada Anoda lebih
positif dibandingkan Katodanya dan gate-nya diberi polaritas positif, begitu
juga sebaliknya. Setelah terkonduksi, sebuah TRIAC akan tetap bekerja
selama arus yang mengalir pada TRIAC (IT) lebih besar dari arus penahan
(IH) walaupun arus gate dihilangkan. Satu-satunya cara untuk membuka
(meng-off-kan) TRIAC adalah dengan mengurangi arus IT di bawah arus
IH.

6. Aplikasi SCR
• Sebagai rangkaian Saklar (switch control)
• Sebagai rangkaian pengendali (remote control)
• SCR biasanya digunakan untuk mengontrol khususnya pada tegangan
tinggi
• Pengatur motor
• Pemanas
• AC
• Pemanas induksi

Aplikasi TRIAC
• Sebagai rangkaian pengaturan daya (power control)

Aplikasi DIAC
• Sebagai pemicu TRIAC agar ON pada tegangan input tertentu yang relatif
tinggi.
• Aplikasi dimmer lampu
7. Menurut data dan analisis yang dibuat apabila hambatan pada masing –
masing rangkaian diatas dikurangi,maka besar tegangan pada masing-
masing rangkaian pun juga akan berkurang baik itu pada rangkaian
SCR,SCR dengan Diode,TRIAC,TRIAC DIAC,karena menurut Hukum Ohm
yaitu tegangan sebanding dengan hasil kali antara arus dengan hambatan,
dapat dirumuskan sebagai berikut :

V=IxR

Misal kita ambil contoh yaitu percobaan SCR di mana digunakan resistor
sebesar 2,2 KΩ dan 820 Ω dalam keadaan parallel maka R ekuivalennya

1 1 0,82 + 2,2 1
adalah + = = = 0,597Ω dengan IGT = 15
2,2 0,82 0,82 x 2,2 1,674
mA =

15x10-3 A, VGT = 0,75 v, maka V in = IGT (R) + VGT = 15x10-3 A (0,597) + 0,75
= 0,76 volt. Sangat jauh berbeda hasilnya apabila menggunakan hambatan
seperti hasil perhitungan hambatan pada rangkaian SCR,di mana Nilai

Vin − VGt 220 − 0,75


Resistor = = x 103 = 14,6 X 103 = 14,6 KΩ terlihat
IGt 15

bahwa nilai Vin menjadi lebih besar yaitu 220 v.

8. Karena pada DIAC terdapat tegangan BreakOver (Vbo),walaupun pada SCR


dan TRIAC juga terdapat tegangan BreakOver ini, akan tetapi pada DIAC
tegangan breakOver ini sangat penting. Hanya dengan tegangan breakover
tertentu barulah DIAC dapat menghantarkan arus. Arus yang dihantarkan
tentu saja bisa bolak-balik dari anoda menuju katoda dan sebaliknya.Maka
dari itu terdapat satu variable tegangan lagi yang harus ditambahkan pada
rumus untuk mencari tegangan pada SCR maupun TRIAC yaitu

V in = IGT (R) + VGT

Menjadi
V in = IGT (R) + VGT + Vbo

Penambahan variabel ini tentu saja menambah nilai tegangan Vin sehingga
apabila DIAC dipsang dalam rangkaian nyala lampu pada saat potensio
diputar bisa lebih terang dan lebih redup.Selain itu pengaruh pemasangan
Resistor dalam rangkaian juga sangat besar, karena resistor ini menggeser
phasa tegangan VAC sehingga lampu bisa lebih terang dan lebih redup.

9. Hubungan antara konstanta waktu jaringan RC pada Gate dan besarnya


sudut tunda penyalaan

a) Pada percobaan SCR (Silicon Controlled Rectifier ) dapat disimpulkan


bahwa hasil pengukuran pada SCR memiliki persentase kesalahan relatif
yang cukup besar pada Katoda/Gate (Tegangan Katoda/Gate
tegangannya mendekati 0 dikarenakan pada saat itu SCR dikatakan
dalam keadaan OFF, di mana sebelumnya SCR telah ON dengan besar
tegangan di Anoda/Katoda dan Anoda/Gate) dan Resistor saat lampu
keadaan terang.

b) Pada percobaan SCR (Silicon Controlled Rectifier ) dengan diode dapat


disimpulkan bahwa hasil pengukuran pada SCR dengan diode memiliki
persentase kesalahan relatif yang lebih besar dibandingkan dengan SCR
tanpa diode, yaitu pada Katoda/Gate dan Resistor.

c) Pada percobaan TRIAC dapat disimpulkan bahwa hasil pengukuran


pada TRIAC memiliki persentase kesalahan relatif yang lebih besar
dibandingkan dengan SCR dan SCR dengan diode, yaitu pada saat
kondisi lampu dalam keadaan terang.

d) Pada percobaan TRIAC dan DIAC dapat disimpulkan bahwa hasil


pengukuran memiliki persentase kesalahan relatif sangat besar
dibandingkan dengan SCR, SCR dengan diode, dan TRIAC. .

9. Adapun kesimpulan yang dapat diambil dari masing-masing percobaan yaitu


sebagai berikut:
a. Percobaan SCR
• Besar tegangan dari Anoda Ke Katoda serta anoda ke gate paling besar
nilainya pada saat lampu mati.
• Terdapat tegangan yang menyebakan sambungan NP pada SCR jenuh
dan hilang yaitu tegangan breakdown .Di mana tegangan breakdown
ini menyebabkan nilai tegangan dari anoda ke katoda dan dari anoda
ke gate semakin kecil dari Lampu yang dalam keadaan mati sampai
dalam keadaan terang.

b. Percobaan SCR dengan Diode


• Besar tegangan dari Anoda Ke Katoda serta anoda ke gate paling besar
nilainya pada saat lampu mati.
• Terdapat tegangan yang menyebakan sambungan NP pada SCR jenuh
dan hilang yaitu tegangan breakdown atau tegangan reverse-bias nilai
tegangan menjadi berkurang bila dibandingkan dengan nilai tegangan
pada percobaan lainnya yang merupakan karateristik dari Diode.

c. Percobaan DIAC
• Diac merupakan komponen yang paling sederhana dari keluarga
thyristor, semi konduktor yang terdiri dari tiga lapisan seperti pada
transistor pnp. Diac adalah trysitor yang hanya punya dua kaki. Ini
dirancang (di posisi ke yang lain) untuk dihidupkan oleh tegangan yang
lebih besar dari VB –nya. Tegangan VB sangatlah kecil.Ada perbedaan
diac dengan VB tegangan berkisar antara +- 10 V sampai 15 V.

d. Percobaan TRIAC dengan DIAC


• Besar tegangan dari Anoda Ke Katoda serta anoda ke gate paling besar
nilainya pada saat lampu mati.
• Pada DIAC terdapat tegangan breakover (Vbo). Hanya dengan
tegangan breakover tertentu barulah DIAC dapat menghantarkan arus,
sehingga pada percobaan TRIAC dan DIAC ini nilai Tegangan dari
Anoda ke Katoda dan dari Anoda ke Gate lebih besar bila dibandingkan
dengan Percobaan dengan TRIAC saja.
4.8 Kesimpulan

Dari data hasil percobaan dan analisa hasil percobaan yang telah dilakukan
dapat disimpulkan sebagai berikut :

1. SCR hanya dapat mengalirkan arus satu arah saja. Arus yang mengalir
hanya dari anoda ke katoda atau dari anoda ke gate sehingga besar
tegangan dari anoda ke gate atau dari anoda ke katoda lebih besar
dibandingkan dengan katoda ke gate, resistor ataupun pengukuran pada
beban.

2. Pada percobaan SCR dengan dioda besar tegangan dari anoda ke katoda
serta anoda ke gate lebih kecil dibandingkan dengan percobaan SCR.

3. Pada percobaan SCR besar tegangan dari anoda ke katoda serta anoda ke
gate paling besar nilainya pada saat lampu padam.

4. Pada percobaan SCR dengan dioda nilai tegangan menjadi berkurang


karena pengaruh dari karakteristik dioda yaitu yang mempunyai tegangan
reverse bias tertentu yang menyebabkan sambungan NP pada SCR jenuh
dan hilang serta membuat nilai tegangan menjadi berkurang.

5. TRIAC dapat mengalirkan arus dalam dua arah sehingga nilai tegangan
dari katoda ke gate pada percobaan TRIAC lebih besar bila dibandingkan
dengan percobaan SCR.

6. DIAC berfungsi sebagai pemicu TRIAC sehingga pada pecobaan TRIAC


dan DIAC nilai tegangan secara keseluruhan lebih besar bila dibandingkan
dengan percobaan TRIAC saja.

4.9 Daftar referensi Buku

• Boylestad Robert, Nashelsky Louis,Electronic Devive and Circuit Theory.


USA: Prentice Hall International Edition.1996.
• Malvino, Prinsip – Prinsip Elektronika. Jakarta : Salemba Teknika.2003
• Richard Blocher. 2003. Dasar Elektronika. Andi: Yogyakarta.
• Millmann, Jacob. 1986. Mikroelektronika, Sistem Digital dan
Rangkaian Analog. Erlangga:_ _ _.
• http://id.wikipedia.org/wiki/SCR
• http://id.wikipedia.org/wiki/DIAC