Anda di halaman 1dari 51

PERANAN BONE SCAN DAN MRI

PADA METASTASIS TULANG

Sariningsih
Radiodiagnostik
RS. KankerDharmais
PENDAHULUAN
• Metastasis tulang merupakan keganasan pada
tulang yang paling sering terjadi.
• Keterlibatan skeletal sekitar 30 – 70 % pada
semua penderita kanker.
• Penyebab tersering: kanker payudara (47-85%)
Kanker prostat (54-85%)
Kanker paru ( 32% )
TUJUAN PEMERIKSAAN RADIOLOGI
• Terapi yang optimal.
• Mengidentifikasi metastasis pada tulang sedini
mungkin.
• Menentukan perluasan penyakit.
• Mengevaluasi komplikasi yang menyertai seperti
fraktur patologis dan kompresi sum-sum tulang.
• Memonitor respon terapi.
• guide biopsy jika konfirmasi histologi diperlukan
PATOFISIOLOGI METASTASIS TULANG
Metastasis tulang melalui 3 mekanisme :
• Perluasan langsung
• Aliran vena retrograde
• Dengan emboli tumor melalui sirkulasi darah.
• Invasike bone marrow melalui pembuluh
darah deposit sel-sel tumor di bone marrow
dan trabekula merangsang aktivitas
osteoklas dan osteoblas
• Proses osteoklas dan osteoblas
memperlihatkan gambaran osteolitik ,
osteoblastik atau campuran pada gambaran
radiografi.
• Lesi metastasis agresif  litik.
• Lesi kurang agresif  blastik
• Proses perbaikan setelah terapi /repair 
osteoblastik.
DISTRIBUSI METASTASIS TULANG
• Umumnya diawali lesi intra medula
• Orang dewasa lebih dari 90% ditemukan
pada sum-sum tulang merah, yang berlokasi
pada axial skeleton.
MANIFESTASI KLINIK
• Nyeri tulang
• Fraktur patologik
• Kerusakan neurologis kompresi epidural
spina
BEBERAPA TEKNIK PENCITRAAN
• X Ray konvensional
• bone scan
• SPECT /SPECT - CT
• CT scan
• MRI
• FDG PET, FDG-PET/CT
X - RAY KONVENSIONAL
• Lesi osteolitik : berasal dari keganasan tyroid,
ginjal, kelenjar adrenal, uterus dan saluran
pencernaan.
• Lesi osteoblastik : berasal dari keganasan
prostat
• Lesi campuran osteolitik-osteoblastik: berasal
dari keganasan paru, payudara, serviks ,
ovarium dan testis.
X-RAY KONVENSIONAL
Kelemahan :
• Kelainan terlihat setelah 30 – 75% reduksi
densitas tulang, sehingga deteksi metastasis
terlambat beberapa bulan ( 2 – 18 bulan ).
Laki – laki 55 thn, Ca Paru
Wanita , 53 thn, Ca Paru
Kompresi spinal epidural, lakilaki
70 thn.
Wanita 51 thn, kanker payudara
Lakilaki 54 thn, Ca prostat
Wanita 44 thn, ca paru
Wanita, Ca vulva
Wanita, 50 thn, Adeno ca paru
INDIKASI IMPENDING FRAKTUR
PATOLOGIS
• Kerusakan lebih dari ½ lebar tulang
• Kerusakan tulang > 2,5 cm
• Avulsi pada trochanter minor
• Nyeri yang tidak responsif dengan terapi
radioterapi.
BONE SCAN
• Modalitas primer untuk mendeteksi
metastasis tulang.
• 99Tc-Methylene diphosphonate , 10 -20mCi
• Keuntungan :
Keseluruhan tulang lebih sensitif dari pada
foto polos
Bone scan
• Lesi osteoblastik : hot spot
• Lesi osteolitik : cold / fotopeni
Kelemahan :
• Kurang sensitif mendeteksi lesi osteolitik
tanpa proses osteoblastik (multiple myeloma)
• Sulit membedakan lesi maligna atau benigna.
Gambaran normal bone scan
Lesi metastasis
superscan
Lakilaki 60 thn, KNF
Lakilaki ,79 thn, Ca prostat
MRI
• Lebih sensitif dari pada skintigrafi tulang dalam
mendeteksi metastasis tulang
• Dapat mendeteksi lesi pada sumsum tulang
• Memperlihatkan detail anatomi
• Memperlihatkan gambaran multiplanar
• Memperlihatkan resolusi tinggi pada kelainan
jaringan lunak dan medula spinalis.
• Kurang sensitif mendeteksi destruksi corteks
tulang.
• MRI , koil terbaru whole body MRI
MRI
• korpus vertebra normal , pada T1 mempunyai
intensitas signal yang lebih tinggi dari diskusi
intervertebralis .
• Proses metastases osteolitik :
T1 : hipointens
T2 : hiperintens
• Proses osteoblastik : T1 dan T2 hipointens.
Discordant PET/CT findings (true-
positive at PET, false-negative at CT) in
72-year-old woman referred for lung
cancer staging. (a) Transverse PET
(top), PET/CT (middle), and CT
(bottom) scans show acetabular and
spinal metastases identified with PET
(black and yellow arrows) that were
initially interpreted as negative with
CT (white arrows). (b) Follow-up bone
scan (left) and CT scans (right)
obtained 6 weeks later. Posterior
planar bone scan helps confirm
multiple metastatic foci in the ribs,
spine, and pelvis (red arrowheads).
Transverse CT scans help confirm lytic
metastases in the spine and
acetabulum (white arrowheads).
Discordant PET/CT findings (true-
positive at PET, false-negative at CT) in
72-year-old woman referred for lung
cancer staging. (a) Transverse PET
(top), PET/CT (middle), and CT
(bottom) scans show acetabular and
spinal metastases identified with PET
(black and yellow arrows) that were
initially interpreted as negative with
CT (white arrows). (b) Follow-up bone
scan (left) and CT scans (right)
obtained 6 weeks later. Posterior
planar bone scan helps confirm
multiple metastatic foci in the ribs,
spine, and pelvis (red arrowheads).
Transverse CT scans help confirm lytic
metastases in the spine and
acetabulum (white arrowheads).
Discordant PET/CT findings (false-
negative at PET, true-positive at CT) in
48-year-old man with low-grade non-
Hodgkin lymphoma referred for
evaluation of recurrence. (a)
Transverse pelvic CT scan (top), PET
scan (middle), and fused PET/CT scan
(bottom). A malignant-appearing lytic-
sclerotic pubic symphysis lesion is
identified at CT (white arrow). This
lesion was initially interpreted as
negative on the coregistered FDG PET
images (black and yellow arrows). (b)
Follow-up FDG PET scans obtained 3
months later. Coronal (left) and
transverse (right) scans help confirm
the presence of malignant disease in
the pubic symphysis (arrowheads).
ACR Appropriateness Criteria on
Metastatic Bone Disease
2010
ACR Appropriateness Criteria on
Metastatic Bone Disease
ACR Appropriateness Criteria on
Metastatic Bone Disease
KESIMPULAN
• Setiap modalitas pencitraan mempunyai
keunggulan dan keterbatasan dalam
mendeteksi metastasis pada tulang.
• Bone scan merupakan pemeriksaan primer
untuk deteksi metastasis tulang, karena
mempunyai sensitifitas yang tinggi.
• MRI , unggul dalam deteksi infiltrasi awal pada
sumsum tulang, detail anatomi, dan ekstensi
ke jaringan lunak.
KESIMPULAN
• Radiografi dilakukan setelah pemeriksaan
bone scan untuk mendeteksi kelainan
tersebut proses jinak atau keganasan.
• Apabila radiografi belum dapat mendiagnosis,
modalitas lain seperti MRI, CT , atau FDG-
PET/CT dilakukan berdasarkan kondisi klinis
dan lokasi lesi.
Terimakasih