Anda di halaman 1dari 13

Ospek: Hal Terbodoh dalam Dunia Pendidikan

OPINI
(sementara) Mas Lingga
| 13 July 2010 | 00:38

1203

12

2 dari 2 Kompasianer menilai Aktual.


Bagi mahasiswa baru, ospek adalah momok yang sangat menakutkan. Tak jarang orang
berusaha sebisa mungkin untuk tidak mengikuti acara orang gila yang satu ini. Layaknya
saya, pengalaman ketika MOS ( masa orientasi siswa ) pada saat SMA jelas menjadi sebuah
pelajaran yang sangat tidak mengenakkan. Namun bukan berarti saya menentang acara OSPE
atau MOS, hanya saja agenda kegiatan dan bentuk kegilaan didalamnya harus dihapus.
Departemen pendidikan perlu bertindak cepat agar kebodohan ini segera berakhir. Apalagi
tujuan sekolah sebenarnya adalah untuk melenyapkan kebodohan.
Secara umum, MOS atau OSPEK diartikan sebagai masa dimana siswa/mahasiswa baru
dikenalkan kepada lingkungan tempat belajar yang baru, staff pengajar dan kakak kelas. Tapi
pada prakteknya, kegiatan ini sama sekali jauh dari yang disebut sebagai pengenalan atau
orientasi. Kegiatan ini hanya sebagai perploncoan dan mengerjai para pendatang baru.
Bagi saya ada beberapa alasan yang mengharuskan MOS/OSPEK itu dihapus oleh
Departemen terkait :
1. Sudah banyak terdapat fakta bahwa kegiatan ini dimanfaatkan oleh kakak kelas sebagai
ajang balas dendam. Ospek digunakan sebagai penyalur bakat militer yang tidak kesampaian.
Imbasnya adalah penyiksaan lahir dan bathin dari mahasiswa/siswa baru. Baca : Mahasiswa
dibunuh saat ospek
2. Korban telah banyak yang berjatuhan, mulai dari yang jatuh sakit hingga yang meninggal
akibat tidak tahan dengan siksaan.
3. Atribut yang dikenakan dalam kegiatan ini adalah atribut orang gila. Dengan alasan untuk
membuat acara semakin semarak, diinstruksikanlah kepada setiap siswa baru untuk memakai
pakaian yang sangat tidak masuk akal.
4. Kalau mungkin ada orang yang mengaku senang mengikuti ospek, saya rasa itu bohong
besar, karena tak pernah saya lihat ada orang yang mau mengikuti ospek untuk kedua kalinya.
5. Tidak terdapat adanya unsur pendidikan dari acara tersebut.
6. Biaya yang tidak sedikit dalam menjalankan acara ini, dan lagi - lagi biaya yang tidak
sedikit itu dipungut dari siswa baru.
7. Masih banyak alternatif lain dan cara yang lebih waras yang bisa digunakan untuk
mengenalkan siswa baru pada kakak kelas, guru/dosen dan lingkungan belajar barunya.
pic source :brotherihda.multiply.com
http://edukasi.kompasiana.com/2010/07/13/ospek-hal-terbodoh-dalam-dunia-
pendidikan/

Ospek itu…
Januari 31st, 2010 § 10 Komentar
i

Rate This

http://coffeeoriental.wordpress.com/2010/01/31/ospek-itu/

Masih Perlukah OSPEK?


Oleh : Mailany | 22-Apr-2010, 01:33:54 WIB

KabarIndonesia - Ospek dapat menjadi sebagai suatu tradisi pada kampus-kampus mengadakan
pengkaderan massal(OSPEK) kepada mahasiswa-mahasiswi baru pada kampus mereka. Kegiatan Ospek, perlu
diperhatikan disini adalah tujuan dan esensi yang diupayakan dari kegiatan tersebut, dan perlu diperjelas,
ospek dengan metode semi militeristik ini “hanya” akan efektif bila dijalankan oleh pihak militer itu sendiri.

Suatu hari saya ber-chatting ria dengan seorang pemudi yang bernama Ita(nama samaran) di Internet, dan
ternyata dia adalah seorang mahasiswa baru di kampus dia berada. Secara iseng saya bertanya bagaimana
kegiatan ospek di kampusnya, lalu dia mulai bercerita panjang lebar. Intinya, ospek yang dilaksanakan di
kampusnya memang tidak memakai metode semi militeristik, tetapi mahasiswa pelaksana ospek disana
menggunakan metode “membentak”, “berteriak-teriak kasar”, “memukul-mukulkan kertas karton ataupun
kayu ke tanah”, menurut saya tindakan ini juga termasuk metode semi militeristik tapi semi militeristik “dalam
hati”, dimana setiap orang memiliki kerentanan psikologis yang berbeda-beda, sehingga hukuman yang
serampangan ataupun perlakuan yang menekan mental pada ospek dapat menimbulkan suatu “Trauma
Psikologis” tersendiri bagi beberapa orang.

Trauma ini pada akhirnya akan menimbulkan abnormalitas kejiwaan pada seseorang. Dan ketika Ita
mengemukakannya semua pada saya, ternyata “Trauma” itu pada dia, dan sikap dia pun berubah, tanpa sadar
dia menjadi orang yang suka marah dengan meledak-ledak, berteriak-teriak persis ketika para “senior”
berteriak-teriak di kupingnya. Ini hal yang miris sekali, bahwa pengaruh “Trauma” tersebut dapat mengubah
karakter jiwa seseorang menjadi tidak baik.

Sungguh disayangkan jika kegiatan ospek tersebut diisi dengan kenangan-kenangan buruk yang melekat pada
jiwa seseorang, sehingga ketika mahasiswa baru tersebut selesai mengikuti Ospek, ada rasa “kebencian” yang
melekat pada “senior-senior” mereka, mereka akan menjadi orang yang berpura-pura hormat pada “senior”,
padahal di pikiran dan hati mahasiswa tersebut melekat kenangan buruk tentang Ospek yang mereka ikuti.
Padahal jika dilihat dari dalam Ospek ini sangat berperan bagi mahasiswa baru yang sama sekali belum
mengenal lebih dalam tentang apa “isi” kampus yang mereka pilih, bukan lebih mengenal “ke-kekuasaan”,
“ke-senioritasan”, tapi lebih “ke-familiaran”, dan “kenyamanan”

Dalam dunia ke- “MAHASISWA” -an, saya sangat tidak setuju dengan adanya sebutan “senior-junior”,
sepertinya ada jurang yang membedakan dimana “senior” ditempatkan dan “junior” berada, dalam dunia ke-
“MAHASISWA” -an, adalah dimana kita bisa mendapatkan kasih yang tidak kita dapatkan jauh di luar sana,
dimana kampus menjadi seperti “rumah kedua” yang menjadi tempat untuk kita nyaman berada. Jadikan
otoritas bukan untuk berkuasa, tapi memimpin, sebagai pemimpin yang baik, ia tidak selalu mengucapkan kata
“saya” tapi “kita”, tidak selalu menjadi “bos” tapi tetap menjadi pemimpin yang baik. Salam Mahasiswa!

Mailany, Mahasiswi Politeknik Batam

http://www.kabarindonesia.com/berita.php?pil=20&jd=Masih+Perlukah+OSPEK
%3F&dn=20100422001753

Just another WordPress.com weblog


OSPEK DAN PARADOKS IDEALISME MAHASISWA April 7, 2010
Diarsipkan di bawah: Pendidikan dan Pembebasan — algaer @ 5:37 am
Tags: idealisme mahasiswa, Ospek, pendidikan pembebasan

Oleh ARWANI
Mahasiswa yang selalu merepresentasikan diri sebagai sosok idealis, pembebas atau pembela
kaum tertindas, tiba-tiba berubah seratus delapanpuluh derajat ketika melaksanakan Ospek
(Orientasi Studi dan Pengenalan Kampus) bagi adik-adik angkatannya. Walau telah ada
perubahan mendasar di kampus-kampus tertentu, akan tetapi, di sebagian besar kampus,
Ospek masih diwarnai dengan unsur kekerasan, penindasan dan militerisme sebagaimana
tercermin dalam tindakan membentak-bentak, menggoblok-goblokkan, dan penciptaan
suasana yang anti dialog. Atau pada pemberian sanksi yang cenderung bersifat fisik semata
seperti push-up, lari jongkok, berdiri dengan satu kaki, lari keliling lapangan, dan lain-lain.
Hukuman semacam itu dipilih tanpa ada kaitan sama sekali dengan pembentukan karakter
dan idealisme mahasiswa.
Ospek yang demikian itu justru menimbulkan “situasi penindasan”. Mahasiswa lama (panitia
Ospek) sebagai penindas dan mahasiswa baru (peserta Ospek) sebagai kaum tertindas.
Sebenarnya, setiap tahun, masyarakat telah menyampaikan banyak kritikan dan keberatan
atas pelaksanaan ospek yang ditengarai banyak diwarnai kekerasan, penindasan dan nuansa
militer seperti itu (hal-hal yang sesungguhnya sangat dibenci dan ingin dihapuskan oleh
mahasiswa dari permukaan bumi Indonesia). Akan tetapi, nyatanya, walau selalu menuai
kritik, pelaksanaan Ospek tidak banyak berubah. Tetap penuh dengan kekerasan, penindasan
dan militerisme, sekalipun setiap tahun selalu ada korban yang berjatuhan, bahkan ada
beberapa yang sampai mengalami kematian yang tidak perlu.
Yang menarik untuk dipertanyakan adalah, kenapa tiba-tiba para mahasiswa panitia Ospek,
yang nota bene dari kalangan aktivis juga, menjadi “bebal” dan seperti tidak mempan kritik.
Sama seperti umpatan mereka terhadap penguasa ketika para mahasiswa itu berdemonstrasi.
Kenapa pula mereka seperti menikmati dan puas menjadi pelaku kekerasan, menjadi penindas
dan bergaya militeristik.
Meminjam analisis Paulo Freire, seorang pemikir dan praktisi pendidikan pembebasan dari
Brasil, para panitia Ospek bisa seperti itu karena dulunya pada waktu menjadi peserta Ospek
mereka juga pernah mengalami “situasi penindasan”. Dalam bukunya Pedagogi of The
Oppressed (diindonesiakan dengan judul Pendidikan Kaum Tertindas, LP3ES, 1985) Freire
mengingatkan bahwa dalam situasi penindasan, kaum tertindas melakukan identifikasi secara
kontradiktif. Mereka mengidentifikasi dirinya sebagai mahluk yang terbenam, terhina,
terlepas dan tercerabut dari kemanusiaannya. Adapun di hadapan mereka adalah kaum
penindas yang berkuasa dengan harkat kemanusian yang sempurna.
Kaum tertindas sulit untuk menemukan citra diri di luar kontradiksi penindas-tertindas.
Karena itu, bagi mereka, upaya pembebasan diri untuk mendapatkan harkat dan martabat
kemanusiannya, adalah dengan menjadi manusia yang memiliki citra diri seperti yang mereka
temukan dalam sosok para penindas. Teori ini bisa menjelaskan mengapa seorang buruh
yang diangkat menjadi mandor atas kawan-kawannya akan bertindak segalak dan sekasar
majikannya, bahkan lebih. Atau dalam masa penjajahan Belanda dahulu, orang-orang
pribumi yang diberi wewenang oleh penjajah Belanda, yang di kenal sebagai londo ireng,
seringkali malah bertindak lebih kejam dibandingkan Belanda itu sendiri.
Teori ini pula yang bisa menjelaskan, mengapa setelah berada dalam penindasan dan
kekerasan pemerintahan Orde Baru selama 32 tahun, seakan-akan kini lahir manusia manusia
khas Orde Baru (homo orbaicus), yaitu manusia-manusia yang mengadopsi budaya
kekerasan, budaya penindasan dan budaya memaksakan kehendak, dari penguasanya itu
(Orde Baru).
Hal yang sama juga terjadi pada panitia Ospek. Yang paling dominan dalam kesadaran
mahasiswa lama panitia Ospek tersebut adalah, Ospek merupakan arena terbaik untuk
menampilkan citra dirinya sebagai penguasa. Citra diri itu mereka dapatkan, dahulu ketika
mengikuti Ospek. Waktu itu, mereka sebagai pihak yang tertindas melakukan identifikasi
bahwa alangkah enaknya, alangkah gagahnya, alangkah berkuasanya, alangkah
bermartabatnya menjadi panitia Ospek.
Kini ketika menjadi panitia, mereka mendesain Ospek yang melahirkan “situasi penindasan”.
Para peserta yang tertindas akan menginternalisasi citra diri pelaksana Ospek yang menindas
itu. Untuk kemudian, pada suatu saat mereka akan mereproduksi citra diri itu ketika
kesempatan memungkinkan. Yaitu ketika mereka menjadi pelaksana Ospek.
Selain itu, penindasan adalah penjajahan kesadaran lewat praktik “pemolaan”. Kaum
tertindas dipaksa untuk memilih atau melakukan apa yang di”pola” oleh penindasnya. Kaum
tertindas tentu akan berfikir seribu kali untuk melakukan perlawanan, karena hal itu akan
memberatkannya sendiri. Lagi pula, belum tentu kawan-kawannya yang lain akan membantu.
Kebanyakan kaum tertindas akan memilih diam dan patuh. Keadaan seperti ini membuat
kaum tertindas akan larut dalam sikap masokhis. Begitu pun yang terjadi pada peserta Ospek.
Mereka melakukan banyak tindakan dan hukuman seperti yang dipolakan oleh para panitia
Ospek, tanpa banyak berani menentang walaupun tindakan-tindakan itu sama sekali tidak
logis, tidak rasional dan tentunya tidak mereka inginkan.
Dari paparan di atas, apabila pelaksanaan Ospek masih diwarnai dengan nuansa penindasan,
setidaknya memunculkan dua hal. Pertama, Ospek melahirkan “situasi penindasan”. “Situasi
penindasan” akan melahirkan sosok-sosok penindas baru (sadistis) yang suatu saat apabila
mendapatkan kesempatan akan mencoba untuk melahirkan situasi penindasan baru, begitu
pula nanti seterusnya, sehingga Ospek itu sendiri merupakan forum konservasi dan
reproduksi penindasan. Kedua, Ospek akan melahirkan generasi yang patuh, acuh tak acuh,
tidak kritis dan tidak berani menentang terhadap praktik-praktik penindasan.
Lebih dari itu, Ospek juga bisa jadi akan melahirkan generasi masokhis. Generasi seperti itu
merupakan lahan subur bagi tumbuhnya praktik-praktik penindasan. Dengan begitu, maka
Ospek justru menjadi sebuah rutinitas yang berperan sebagai konservasi atau pelestari
penindasan. Kalau diproyeksikan dalam kehidupan bangsa, Ospek yang seperti itu justru
memberikan kontribusi negatif terhadap proses demokratisasi yang saat ini mulai bergulir,
karena Ospek justru melahirkan generasi yang berpotensi menjadi penindas, sadistis dan a-
demokratis jika sedang berkuasa, sekaligus generasi yang patuh, masokhis, tidak kritis dan
acuh tak acuh terhadap berbagai praktik penindasan, ketika sedang di bawah kekuasaan pihak
lain.
Visi Ospek yang ideal adalah yang bersuasana egaliter, dan selaras dengan proses
demokratisasi. Dalam kerangka ini, Ospek dilaksanakan sebagai upaya melahirkan
mahasiswa yang sadar akan posisi dirinya sebagai agen of change yang kritis, sadar akan
persoalan sosialnya, berani menentang segala bentuk penindasan dan mempunyai komitmen
atas keberlangsungan proses demokratisasi bangsa.
Visi yang seperti ini tentu saja tidak menghendaki praktik penindasan dan praktik a-
demokratis dalam pelaksanaanya. Visi ini hanya bisa dicapai apabila Ospek, meminjam
Freire, didesain sebagai praktik dari “pendidikan pembebasan”. Pendekatan yang dipakai
adalah pendidikan orang dewasa (andragogy) dengan metode yang bisa mendorong peserta
untuk aktif dan memiliki kesadaran kritis. Pola seperti ini mengharuskan adanya suasana
yang egaliter, hubungan yang komunikatif, empatif dan tidak ada unsur dominasi di
dalamnya. Baik peserta Ospek maupun fasilitator/ panitia Ospek terlibat dalam proses
pencarian bersama. Yang terjadi bukan peserta belajar “dari” fasilitator, tetapi peserta belajar
“bersama” fasilitator.
Ospek merupakan proses belajar bersama ( tranpersonal learning ) dengan berbagai tahapan
meliputi penyadaran ( konsientasi ), pemberdayaan (empowering ), pembebasan (liberasi )
dan pemanusian ( humanisasi ).
Penyadaran merupakan proses yang mengajak peserta untuk memahami dirinya dan realitas
serta problema kehidupan diri maupun sosialnya. Penyadaran akan membawa peserta dari
kesadaran naif atau bahkan magis, menuju manusia dengan kesadaran kritis. Penyadaran
kemudian diikuti dengan pemberdayaan, yaitu upaya menumbuhkan kemampuan analisis
kritis untuk memahami dan memberikan solusi atas berbagai problem kehidupan.
Apbila kedua proses telah terlewati, selanjutnya adalah pembebasan. Dengan kesadaran dan
keberdayaan yang di milikinya, peserta di ajak untuk memberikan penilaian yang mandiri,
menentukan dirinya sendiri serta mempunyai sikap yang mandiri, bebas dari hegemoni masa
lalu tradisi dan negara.
Selain membebaskan peserta Ospek, Ospek seperti itu sekaligus juga membebaskan
mahasiswa lama (panitia ospek) dari belenggu hegemoni citra diri penindasnya dulu,
sehingga mereka tidak lagi “terpenjara” oleh keinginan melakukan penindasan, kekerasan
dan balas dendam.
Ospek yang dilakukan dengan visi dan metode semacam itu, pada satu sisi sesuai dengan
nilai-nilai idealisme yang selama ini dengan bangga diakui sebagai kesejatian mahasiswa.
Sementara di sisi lain diharapkan mampu melahirkan generasi yang demokratis, egaliter,
otonom, dan mempunyai komitmen terhadap berbagai problem masyarakatnya. Rasanya
generasi seperti itulah yang di butuhkan perannya dalam proses tranformasi bangsa
mendatang.
http://algaer.wordpress.com/2010/04/07/ospek-dan-paradoks-idealisme-
mahasiswa/

Top of Form

Go

Bottom of Form

Renungan OSPEK
AMIRUL IHLAS HIROSHI, Sabtu, Juli 10, 2010

***
Oleh: Amirul Ihlas Hiroshi, SKG

Akhir-akhir entah kenapa saya jadi senang membicarakan masalah OSPEK, mungkin karena
sering diskusi dengan teman-teman tentang masalah ini. Beberapa hari yang lalu saya sempat
mem-post tweet dan status Facebook yang berkaitan dengan panitia OSPEK, isinya hadits
Nabi yang shahih, yang tidak perlu dipertanyakan lagi kebenarannya. Seperti yang saya duga,
respon pun datang dari berbagai pihak, termasuk panitia OSPEKnya sendiri. Ada yang
mengatakan tulisan itu bisa menyakiti hati panitia OSPEK, ada yang mengatakan saya tidak
punya punya filter buat menyaring kata-kata, ada yang mengatakan saya frontal, yang intinya
cuma satu: Apa yang saya katakan itu benar, tapi cara penyampaiannya yang salah. Maka
orang-orangpun memberi saran kepada saya agar dalam menyampaikan sesuatu kebenaran,
harus lebih bijak, santun, dan baik. Saya pun menerima saran itu dengan lapang dada.

Apakah cuma sampai disitu?


Tunggu..tunggu…apakah pembaca tidak merasakan sesuatu yang janggal?

Apakah anda tahu apa yang menyebabkan status FB dan tweet saya mendapat respon negatif?
Padahal saya bermaksud menyampaikan kebenaran, mendidik, dan berdakwah. Seperti yang
dijelaskan diawal, jawabannya karena cara penyampaiannya yang salah, dan yang
mengatakan itu adalah orang-orang yang mendukung sistem OSPEK. Nah, sekarang coba
kita renungkan bersama, semua konten yang ada dalam acara OSPEK itu kita yakini bersama
Insya Allah baik dan benar, misalnya saja olahraga agar badan sehat, tugas-tugas yang
banyak agar terbiasa ngerjain tugas kuliah yang juga banyak, melatih kedisiplinan, jiwa
kepemimpinan, kekompakan dan solidaritas angkatan, dan banyak hal-hal baik lainnya.
Intinya kita sepakat bahwa OSPEK itu tujuannya baik. Namun, apakah semua konten itu
telah disampaikan dengan cara yang baik?

Saya mengutip hadits nabi untuk nasehat kepada para panitia OSPEK, bukan sembarang
perkataan, namun karena orang-orang menganggap itu frontal, maka nasehat tersebut tidak
bisa diterima. Yeah, that’s the point… Untuk para panita OSPEK yang budiman dan supeeer
(gaya mario teguh), apakah anda-anda semua tidak khawatir, apa yang terjadi pada saya, akan
terjadi juga pada anda. Niat kalian baik untuk mendidik dan mengajarkan banyak hal pada
Mahasiswa baru, namun karena penyampaiannya yang “maaf” agak keras, bukan tidak
mungkin, para mahasiswa baru juga tidak akan bisa menerima itu, seperti halnya anda tidak
bisa menerima nasehat saya. Bukankah akan sia-sia curahan pikiran dan tenaga yang anda
luangkan untuk OSPEK, jika para peserta tidak bisa menerima apa yang anda sampaikan,
padahal anda semua menginginkan kebaikan bagi mereka.

Maka pesan saya kepada saudara-saudaraku panitia OSPEK dan siapapun yang terkait,
perlakukanlah orang lain sebagaimana anda mau diperlakukan. Mendidiklah dengan cara
yang baik, sebagaimana anda ingin dididik dengan cara yang baik. Nasehatilah orang dengan
cara yang baik, sebagaimana anda ingin dinasehati dengan cara yang baik.

Itulah sedikit curahan hati dan saran dari saya, semoga dapat menjadi renungan untuk kita
bersama, dan semoga tulisan ini tidak diboikot dan dianggap frontal (lagi).
Ingatlah saudaraku, cara penyampaian yang santun akan menambah jelas kebenaran yang kita
sampaikan…Apa yang kita sampaikan itu penting, namun cara penyampainnya jauh lebih
penting.

Salemba, 11 Juli 2010


Pukul 02.11 Dini Hari (WIB)
http://reflexiroel.blogspot.com/2010/07/renungan-ospek.html

Ospek Menggali Potensi Mahasiswa


Baru
Top of Form
User Rating: /0
Rate vote com_content 42696

Poor Best
http://w w w .haria

Bottom of Form
Written by Swisma
Saturday, 07 August 2010 06:25
Jam masih menunjukkan pukul 05.00 pagi, namun sepanjang jalan di depan sebuah
universitas sudah dipenuhi para panitia orientasi studi dan pengenalan kampus (ospek).
Beberapa mahasiswa mengenakan jaket almamater sudah tampak berjaga di jalanan. Mereka
merupakan mahasiswa senioran yang sedang mengamati mahasiswa baru yang akan menjalani
masa ospek.
Ospek pada masa itu identik dengan perploncoan. Para mahasiswa senior kerap memberikan
hukuman apabila mahasiswa baru melanggar ketentuan ataupun peraturan mereka.

Kini ritual penyambutan mahasiswa baru yang dulu identik dengan tradisi kekerasan itu sudah
dilarang. Namun masih ada para mahasiswa senior tampaknya tak rela melihat mahasiswa
baru nyelonong ke kampus begitu saja tanpa permisi. Alhasil, demi peneguhan status
keseniorannya, mereka menyodorkan beragam alternatif kegiatan penyambutan mahasiswa
baru, yang diklaimnya ''steril dari aksi kekerasan''.

Memerlukan Bimbingan

Para senior beranggapan, mahasiswa baru memerlukan bimbingan ketika memasuki dunia
kampus yang berbeda dari dunia sekolah.

Di Sumatera Utara sejumlah perguruan tinggi melaksanakan ospek sebagai salah satu tradisi
yang mendapat izin dari pihak fakultas maupun universitas, termasuk di Universitas Sumatera
Utara (USU) dan Universitas Negeri Medan (Unimed) yang mulai menggelar kegiatan ini
Kamis (5/8). Kegiatan itu menjadi icon dalam perkenalan mahasiswa baru dengan senioran
termasuk juga jajaran dekanat maupun universitas.

Seiring serba keterbukaan ini, kini ritual ospek tidak lagi identik kekerasan ataupun pemberian
hukuman. Pamandangan mahasiswa baru pagi-pagi subuh datang ke kampus sudah tidak
terlihat lagi. Pada umumnya perguruan tinggi tersebut menetapkan mahasiswa baru datang ke
kampus sekitar pukul 07.00 WIB tanpa "embel-embel" yang bergelantungan di tubuh.

Memang masih ada perguruan tinggi yang mewajibkan mahasiswanya untuk membawa
perlengkapan seperti topi yang dibuat dari kertas manila dilengkapi dengan identitas
mahasiswa dan kaos kaki dengan dua warna berbeda serta rambut dikepang banyak bagi
mahasiswi.

Cinta Almamater

Seperti di Universitas Negeri Medan (Unimed) yang melaksanakan Masa Pembekalan


Mahasiswa Baru (MPMB) yang lebih banyak kepada proses pengenalan tentang program
studi yang akan dijalani di perguruan tinggi ini yang merupakan tempat mencetak calon-calon
guru.

Rektor Universitas Negeri Medan Prof Syawal Gultom, menyebutkan, guru merupakan salah
satu profesi yang paling bergengsi di negeri ini karena gurulah yang menghasilkan orang-
orang cerdas.
Menurutnya, tanpa guru tidak akan ada orang-orang pintar yang mampu membawa perubahan
untuk bangsa ini. Karena itu kepada para mahasiswa baru hendaknya memanfaatkan
kesempatan dengan baik bisa kuliah.

Pada MPMB itu menurutnya, orientasi mahasiswa baru sangat diperlukan untuk
menumbuhkan kebanggaan dan kecintaan terhadap almamater dan hal itu dilakukan tanpa
kekerasan.

Dalam pelaksanaannya, MPMB Unimed mengagendakan berbagai kegiatan yang intinya


untuk saling mengakrabkan antara mahasiswa senior dengan mahasiswa baru.

Salah satu kegiatan yang dianggap bisa memotivasi para mahasiswa baru itu adalah dengan
kegiatan perenungan. Pada kegiatan ini mahasiswa diarahkan untuk menggugah perasaan
mereka agar mengingat orangtuanya, sehingga menyadari akan perjuangan dan pengorbanan
orangtua yang membesarkan dengan harapan menjadi sarjana dan berguna di masa depannya.

Demikian juga pada ospek di Fakultas Ekonomi Universitas Sumatera Utara (USU) yang
dilaksanakan selama seminggu dan berakhir Senin (9/8) di kampus tersebut Padang Bulan
Medan.

Pencarian Bakat

Ospek yang dibuka Dekan FE USU Drs Jhon Tafbu Ritonga menyebutkan, ospek tahun ini
yang merupakan ke 6 digelar dengan gaya baru. Tahun ini fokusnya adalah pencarian bakat
baru dan pengembangan kewirasusahaan.

"Ospek di FE USU ini dengan format elite tanpa kekerasan bahkan tidak ada bentak-bentakan,
melainkan kegiatan yang bersifat menggali potensi dan bakat serta mendorong karakter
wirausha," ujar mantan Pembantu Rektor III USU ini.

Menurut Ritonga, lebih uniknya lagi para orangtua dapat menyaksikan atraksi mahasiswa baru
seperti nyanyi, pidato, humor dan presenter. Jadi tidak zamannya lagi ospek itu dilaksanakan
dengan kekerasan.

Saling Akrab

Hal itu diakui Lani, mahasiswi FMIPA USU. Menurutnya ospek yang dikutinya cukup
menyenangkan. Selain cepat akrab dengan para mahasiswa baru dan mahasiswa senior, juga
bisa mengenal dari dekat dekanat.

"Saya samasekali tidak merasa diplonco, meskipun kami diminta mengenakan kaos kaki yang
berbeda warna dan nama diubah sesuai dengan nama-nama dari mata kuliah yang akan kami
pelajari nantinya," ujar Lani mantan siswi SMAN 1 Lubukpakam.

Salah satu manfaat yang bisa didapat dari ospek, kata Lani adalah bisa mengetahui tentang
Kartu Rencana Studi (KRS) yang selama di sekolah tidak mengenal sebutan itu untuk
mendapatkan pelajaran.

Pengenalan kampus

Sedangkan menurut mahasiswa senior FMIPA USU Ryan Wahyudi, tujuan ospek adalah
untuk mengenalkan kehidupan kampus.
''Mahasiswa baru masih bingung, apa yang dimaksud sistem kredit semester, dekanat, dan
sebagainya. Nah, sebagai mahasiswa senior kita mencoba memberi penjelasan melalui ospek,''
ujar Ryan.

Menurutnya, kegiatan ospek yang berlangsung selama 3 hari dan akan berakhir hari ini, Sabtu
(7/8) sama sekali jauh dari kekerasan. Bahkan dengan ospek mereka mengajak mahasiswa
cinta budaya dengan mengenakan pakaian batik sebagai ciri khas bangsa Indonesia.

"Jikapun ada tindakan yang kami lakukan kepada mahasiswa baru karena melakukan
pelanggaran disiplin, paling-paling juga disuruh bernyanyi atau menampilkan kebolehannya."

Berorganisasi

Akademisi dari Unimed Chairil Ansyari mengatakan, pada dasarnya orientasi terhadap
mahasiswa baru itu akan bermanfaat jika yang benar-benar diberikan itu adalah pengenalan
dunia kampus.

"Itu akan ada manfaatnya, tergantung kegiatan yang akan diselenggarakan. Namun jika
orientasi tersebut merepotkan, saya pikir tidak akan memberi manfaat," katanya.

Dekan FBS Unimed ini menilai secara umum, ospek yang berjalan di kampus-kampus seperti
di Medan kerap merepotkan dengan meminta si mahasiswa baru membawa kalung jengkol,
topi kerucut, karung goni dan lainnya.

Hal seperti ini sangat merepotkan, karena banyak hal yang diperlukan. Bahkan dengan
kebutuhan tersebut tak jarang merepotkan keluarga. Itu semata demi mendapatkan
perlengkapan yang dimaksud.

Mungkin akan lebih bermanfaat, jika ospek ini lebih mengenalkan kampus pada siswa baru.
Misalnya, belajar berorganisasi, membuat karya ilmiah, games maupun diskusi atau hal
bermanfaat lainnya yang menunjang pengenalan dunia kampus.

Namun sebuah ospek, jika memang dilakukan dalam batas yang wajar, akan meninggalkan
kesan yang berguna dan menjadi kenangan indah nantinya setelah mereka tamat.
http://www.harian-global.com/index.php?
option=com_content&view=article&id=42696:ospek-menggali-potensi-
mahasiswa-baru-&catid=56:edukasi&Itemid=63

OSPEK Mahasiswa Baru


by Zippy on Tuesday, August 10th 2010 56 Comments

in My Story Tags: Kampus, OSPEK, OSPEK Fakultas, PRA OSPEK

Wuiii..lama banget gue gak bercengkrama dengan yang namanya dunia maya, termasuk
aktifitas nge’Blog. Eits..bukan karena rasa malas, tetapi lebih dikarenakan kesibukkan

kampus yang gak bisa ditolerir Selama seminggu lebih, gue mesti NGOSPEK MABA
(Mahasiswa Baru) di kampus gue. Gue ditunjuk sebagai salah satu panitia OSPEK Fakultas
FTSP (Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan). Di dalam kepanitiaan, gue dipercaya
menjabat sebagai Kordinator Seksi Kesekretariatan.
Banyak hal yang gue dapat ketika menjadi panitia OSPEK, mulai dari jualan bazar yang
harganya selangit, sampai mesti bangun subuh dan pulang malem. Dari PRA hingga OSPEK
berlangsung, panitia wajib datang sebelum jam 5 PAGI! (Aje gileee, biasanya jam segitu gue

masih ada di alam bawah sadar! )

Kalau terlambat? Yah..silahkan sarapan pagi, PUSH UP 10 kali secara berirama. Karena
itu, selama kegiatan berlangsung, gue bela-belain tidur di rumah temen yang rumahnya
emang deket sama kampus. Oh..ya, akibat OSPEK, suara gue hingga sekarang masih belum

normal. Masih serak-serak basah Tau kan penyebabnya? Suka teriak-teriakin MABA,

hihihihi…

Kegiatan PRA OSPEK


Sehabis Prosesi Pengambilan Nama Bagus – Ancur-ancuran Mukanya

Kegiatan OSPEK

Kayaknya ini dulu yang bisa gue bagi. Dan..sepertinya gue harus beradaptasi kembali dengan

Blog gue ini setelah lama ditelantarkan


http://narzis.net/2010/08/ospek-mahasiswa-baru.html