Anda di halaman 1dari 105

- 178 -

G. PEMBAGIAN URUSAN PEMERINTAHAN BIDANG PERHUBUNGAN

SUB – SUB PEMERINTAHAN DAERAH PEMERINTAHAN DAERAH


SUB BIDANG PEMERINTAH
BIDANG PROVINSI KABUPATEN/KOTA
1. Perhubung 1. Lalu Lintas dan 1. Pedoman dan penetapan tata 1. — 1. —
an Darat Angkutan Jalan cara penyusunan dan
(LLAJ) penetapan rencana umum
jaringan transportasi jalan.

2. Penyusunan dan penetapan 2. Penyusunan dan penetapan 2. Penyusunan dan penetapan


rencana umum jaringan rencana umum jaringan rencana umum jaringan
transportasi jalan nasional. transportasi jalan provinsi. transportasi jalan
kabupaten/kota.

3. Pedoman tata cara 3. — 3. —


penyusunan dan penetapan
kelas jalan.

4. Pedoman persyaratan 4. — 4. —
penentuan lokasi, rancang
bangun, dan penyelenggaraan
terminal penumpang.

5. Pedoman tata cara 5. — 5. —


penyusunan dan penetapan
jaringan lintas angkutan
barang.
- 179 -
SUB – SUB PEMERINTAHAN DAERAH PEMERINTAHAN DAERAH
SUB BIDANG PEMERINTAH
BIDANG PROVINSI KABUPATEN/KOTA

6. Penetapan persyaratan teknis 6. — 6. —


dan laik jalan kendaraan
bermotor, kereta gandengan
dan kereta tempelan.

7. Pedoman penetapan 7. — 7. —
persyaratan teknis dan laik
jalan kendaraan tidak
bermotor.

8. Pedoman tata cara 8. — 8. —


pelaksanaan pengujian tipe
kendaraan bermotor.

9. Pedoman tata cara penerbitan 9. — 9. —


dan pencabutan sertifikat
kompetensi penguji kendaraan
bermotor.

10. Pedoman persyaratan dan 10.— 10. —


kriteria teknis unit pengujian
berkala kendaraan bermotor.
- 180 -
SUB – SUB PEMERINTAHAN DAERAH PEMERINTAHAN DAERAH
SUB BIDANG PEMERINTAH
BIDANG PROVINSI KABUPATEN/KOTA

11. Pedoman tata cara 11.— 11. —


pelaksanaan pengujian berkala
kendaraan bermotor.

12. Pedoman tata cara 12.— 12. —


pelaksanaan kalibrasi
peralatan uji kendaraan
bermotor.

13. Pedoman tata cara 13.— 13. —


pelaksanaan pemeriksaaan
kendaraan bermotor di jalan.

14. Pedoman dan tata cara 14.— 14. —


pelaksanaan pemeriksaan
kendaraan bermotor (STNK
dan BPKB).

15. Pedoman persyaratan teknis 15.— 15. —


dan tata cara penyelenggaraan
bengkel umum kendaraan
bermotor.
- 181 -
SUB – SUB PEMERINTAHAN DAERAH PEMERINTAHAN DAERAH
SUB BIDANG PEMERINTAH
BIDANG PROVINSI KABUPATEN/KOTA

16. Pedoman penyelenggaraan 16.— 16. —


angkutan penumpang dengan
kendaraan umum.

17. Pedoman penyelenggaraan 17.— 17. —


angkutan barang.

18. Pedoman penyelenggaraan 18.— 18. —


angkutan barang berbahaya,
alat berat dan peti kemas serta
angkutan barang khusus.

19. Pedoman perhitungan tarif 19.— 19. —


angkutan penumpang.

20. Pedoman persyaratan teknis, 20.— 20. —


rancang bangun, dan tata cara
pengoperasian serta kalibrasi
alat penimbangan kendaraan
bermotor.
- 182 -
SUB – SUB PEMERINTAHAN DAERAH PEMERINTAHAN DAERAH
SUB BIDANG PEMERINTAH
BIDANG PROVINSI KABUPATEN/KOTA

21. Pedoman persyaratan teknis, 21. — 21 Pemberian


tata cara, penentuan lokasi, izin penyelenggaraan dan
rancang bangun, dan pembangunan fasilitas
pengoperasian fasilitas parkir parkir untuk umum.
untuk umum.

22. Pedoman analisis dampak lalu 22. — 22. —


lintas.

23. Pedoman tata cara 23 — 23. —


penggunaan jalan selain untuk
kepentingan lalu lintas.

24. — 24. Pengawasan dan 24. Pengawasan dan


pengendalian operasional pengendalian operasional
terhadap penggunaan terhadap penggunaan jalan
jalan selain untuk selain untuk kepentingan lalu
kepentingan lalu lintas di lintas di jalan
jalan nasional dan jalan kabupaten/kota.
provinsi.

25. Pedoman penyidikan 25. — 25. —


pelanggaran lalu lintas dan
angkutan jalan oleh PPNS.
- 183 -
SUB – SUB PEMERINTAHAN DAERAH PEMERINTAHAN DAERAH
SUB BIDANG PEMERINTAH
BIDANG PROVINSI KABUPATEN/KOTA

26. Pedoman penyelenggaraan 26 — 26. Pengawasan


pendidikan dan latihan penyelenggaraan pendidikan
mengemudi. dan latihan mengemudi.

27. Pedoman penyelenggaraan 27. — 27. —


dan tata cara memperoleh dan
pencabutan Surat Izin
Mengemudi (SIM).

28. Pedoman tata cara dan 28. — 28. —


persyaratan penerbitan serta
pencabutan sertifikat
pengemudi angkutan
penumpang umum dan barang
tertentu.

29. Pedoman pengumpulan, 29. — 29. —


pengolahan dan analisis
kecelakaan lalu lintas.

30. Pedoman penyelenggaraan 30. — 30. —


manajemen dan rekayasa lalu
lintas.
- 184 -
SUB – SUB PEMERINTAHAN DAERAH PEMERINTAHAN DAERAH
SUB BIDANG PEMERINTAH
BIDANG PROVINSI KABUPATEN/KOTA
31. Penetapan lokasi terminal 31. Penetapan lokasi terminal 31. Penetapan lokasi terminal
penumpang Tipe A. penumpang Tipe B. penumpang Tipe C.

32. Penetapan norma, standar, 32. Pengesahaan rancang 32. Pengesahaan rancang
kriteria, dan pengesahan bangun terminal bangun terminal
rancang bangun rancang penumpang Tipe B. penumpang Tipe C.
bangun terminal penumpang
Tipe A.

33.Persetujuan pengoperasian 33. Persetujuan pengoperasian 33. Pembangunan


terminal penumpang Tipe A. terminal penumpang Tipe pengoperasian terminal
B. penumpang Tipe A, Tipe B,
dan Tipe C.

34.Penetapan norma, standar, 34.— 34. —


kriteria rancang bangun
terminal angkutan barang.

35.— 35.— 35. Pembangunan


terminal angkutan barang.

36.— 36.— 36. Pengoperasian


terminal angkutan barang.
- 185 -
SUB – SUB PEMERINTAHAN DAERAH PEMERINTAHAN DAERAH
SUB BIDANG PEMERINTAH
BIDANG PROVINSI KABUPATEN/KOTA
37.Pelaksanaan uji tipe dan 37.— 37. —
penerbitan sertifikat uji tipe
kendaraan bermotor.

38.Registrasi uji tipe bagi 38.— 38. —


kendaraan bermotor, serta
penerbitan dan pencabutan
sertifikat registrasi uji tipe bagi
kendaraan bermotor yang
tipenya sudah mendapatkan
sertifikat uji tipe.

39.Penelitian dan pengesahan 39.— 39. —


rancang bangun dan rekayasa
kendaraan bermotor untuk
karoseri, bak muatan, kereta
gandengan, kereta tempelan
dan kendaraan bermotor yang
dimodifikasi berupa perubahan
sumbu dan jarak sumbu.

40.Meregistrasi kendaraan 40. — 40. —


- 186 -
SUB – SUB PEMERINTAHAN DAERAH PEMERINTAHAN DAERAH
SUB BIDANG PEMERINTAH
BIDANG PROVINSI KABUPATEN/KOTA
bermotor dan menerbitkan
sertifikat registrasi uji tipe
bagi kendaraan bermotor yang
dibuat berdasarkan rancang
bangun yang sudah disahkan.

41.Penerbitan dan pencabutan 41. — 41. —


sertifikat kompetensi penguji
dan tanda kualifikasi teknis
tenaga penguji.

42.Pembangunan fasilitas dan 42. — 42. —


peralatan uji tipe.

43.Akreditasi unit pengujian 43. — 43. —


berkala kendaraan bermotor.

44.Penerbitan sertifikat tanda lulus 44. — 44. —


uji tipe.

45.Pelaksanaan kalibrasi peralatan 45. — 45. —


uji kendaraan bermotor.
- 187 -
SUB – SUB PEMERINTAHAN DAERAH PEMERINTAHAN DAERAH
SUB BIDANG PEMERINTAH
BIDANG PROVINSI KABUPATEN/KOTA
46.Akreditasi unit pelaksana 46. — 46. —
pendaftaran kendaraan
bermotor.

47.Penyusunan jaringan trayek 47. Penyusunan 47. Penyusunan


dan penetapan kebutuhan jaringan trayek dan jaringan trayek dan
kendaraan untuk angkutan penetapan kebutuhan penetapan kebutuhan
yang wilayah pelayanannya kendaraan untuk angkutan kendaraan untuk kebutuhan
melebihi satu wilayah provinsi yang wilayah angkutan yang wilayah
atau lintas batas negara. pelayanannya melebihi pelayanannya dalam satu
wilayah kabupaten/kota kabupaten/kota.
dalam satu provinsi.

48.Penyusunan dan penetapan 48. Penyusunan dan 48. Penyusunan dan


kelas jalan pada jaringan jalan penetapan kelas jalan penetapan kelas jalan pada
nasional. pada jaringan jalan jaringan jalan
provinsi. kabupaten/kota.

49.Pemberian izin trayek angkutan 49. Pemberian izin 49. Pemberian izin
lintas batas negara dan antar trayek angkutan antar trayek angkutan
kota antar provinsi. kota dalam provinsi. perdesaan/angkutan kota.

50.Penyusunan dan penetapan 50. Penyusunan dan 50. Penyusunan dan


jaringan lintas angkutan penetapan jaringan lintas penetapan jaringan lintas
barang pada jaringan jalan angkutan barang pada angkutan barang pada
- 188 -
SUB – SUB PEMERINTAHAN DAERAH PEMERINTAHAN DAERAH
SUB BIDANG PEMERINTAH
BIDANG PROVINSI KABUPATEN/KOTA
nasional. jaringan jalan provinsi. jaringan jalan
kabupaten/kota.
51.Pemberian izin trayek angkutan 51. Pemberian izin 51. —
perkotaan yang wilayah trayek angkutan perkotaan
pelayanannya melebihi satu yang wilayah
wilayah provinsi. pelayanannya melebihi
satu wilayah
kabupaten/kota dalam satu
provinsi.

52.Penetapan wilayah operasi dan 52. Penetapan 52. Penetapan wilayah


kebutuhan kendaraan untuk wilayah operasi dan operasi dan kebutuhan
angkutan taksi yang melayani kebutuhan kendaraan kendaraan untuk angkutan
lebih dari satu wilayah provinsi. untuk angkutan taksi yang taksi yang wilayah
wilayah pelayanannya pelayanannya dalam satu
melebihi kebutuhan kabupaten/kota.
kabupaten/kota dalam satu
provinsi.

53.Pemberian izin operasi 53. Pemberian izin 53. Pemberian izin


angkutan taksi yang melayani operasi angkutan taksi operasi angkutan taksi yang
khusus untuk pelayanan ke dan yang melayani khusus melayani wilayah
dari tempat tertentu yang untuk pelayanan ke dan kabupaten/kota.
memerlukan tingkat pelayanan dari tempat tertentu yang
tinggi/wilayah operasinya lebih memerlukan tingkat
- 189 -
SUB – SUB PEMERINTAHAN DAERAH PEMERINTAHAN DAERAH
SUB BIDANG PEMERINTAH
BIDANG PROVINSI KABUPATEN/KOTA
dari satu provinsi. pelayanan tinggi/wilayah
operasinya melebihi
wilayah kabupaten/kota
dalam satu provinsi.
54.Penetapan norma, standar, 54. — 54. Pemberian
prosedur, dan kriteria serta rekomendasi operasi
pemberian izin operasi angkutan sewa.
angkutan sewa.

55.Penetapan norma, standar, 55. Pemberian rekomendasi 55. Pemberian izin usaha
prosedur, dan kriteria serta izin operasi angkutan angkutan.
pemberian izin operasi pariwisata.
angkutan pariwisata.

56.Penetapan norma, standar, 56. — 56. Pemberian izin usaha


prosedur, dan kriteria angkutan barang.
pemberian izin usaha angkutan
barang.

57.Pemberian persetujuan 57. — 57. —


pengangkutan barang
berbahaya, beracun dan alat
berat.

58.Penetapan tarif dasar 58. Penetapan tarif 58. Penetapan tarif penumpang
- 190 -
SUB – SUB PEMERINTAHAN DAERAH PEMERINTAHAN DAERAH
SUB BIDANG PEMERINTAH
BIDANG PROVINSI KABUPATEN/KOTA
penumpang kelas ekonomi penumpang kelas ekonomi kelas ekonomi angkutan
antar kota antar provinsi. antar kota dalam provinsi. dalam kabupaten/kota.

59.Penetapan persyaratan teknis 59. — 59. —


dan tata cara penempatan,
pengadaan, pemasangan,
pemeliharaan dan
penghapusan rambu lalu lintas,
marka jalan dan alat pemberi
isyarat lalu lintas, alat
pengendalian dan pengaman
pemakai jalan, alat
pengawasan dan pengamanan
jalan serta fasilitas pendukung
di jalan.

60.Penentuan lokasi, pengadaan, 60. Penentuan lokasi, 60. Penentuan lokasi,


pemasangan, pemeliharaan pengadaan, pemasangan, pengadaan, pemasangan,
dan penghapusan rambu lalu pemeliharaan dan pemeliharaan dan
lintas, marka jalan dan alat penghapusan rambu lalu penghapusan rambu lalu
pemberi isyarat lalu lintas, alat lintas, marka jalan dan alat lintas, marka jalan dan alat
pengendali dan pengamanan pemberi isyarat lalu lintas, pemberi isyarat lalu lintas,
pemakai jalan serta fasilitas alat pengendali dan alat pengendali dan
pendukung di jalan nasional. pengamanan pemakai pengamanan pemakai jalan
jalan serta fasilitas serta fasilitas pendukung di
- 191 -
SUB – SUB PEMERINTAHAN DAERAH PEMERINTAHAN DAERAH
SUB BIDANG PEMERINTAH
BIDANG PROVINSI KABUPATEN/KOTA
pendukung di jalan jalan kabupaten/kota.
provinsi.

61.Penetapan lokasi alat 61. — 61. —


pengawasan dan pengamanan
jalan.

62.Akreditasi unit penimbangan 62. — 62. —


kendaraan bermotor.

63.Sertifikasi petugas unit 63. — 63. —


penimbangan kendaraan
bermotor.

64.Kalibrasi alat penimbangan 64. — 64. —


kendaraan bermotor.

65.Pengawasan terhadap 65. Pengoperasian dan 65. —


pengoperasian unit pemeliharaan unit
penimbangan kendaraan penimbangan kendaraan
bermotor. bermotor.

66.Penyelenggaraan manajemen 66. Penyelenggaraan 66. Penyelenggaraan


dan rekayasa lalu lintas di jalan manajemen dan rekayasa manajemen dan rekayasa
- 192 -
SUB – SUB PEMERINTAHAN DAERAH PEMERINTAHAN DAERAH
SUB BIDANG PEMERINTAH
BIDANG PROVINSI KABUPATEN/KOTA
nasional. lalu lintas di jalan provinsi. lalu lintas di jalan
kabupaten/kota.

67.Penyelenggaraan analisis 67. Penyelenggaraan 67. Penyelenggaraan


dampak lalu lintas (andalalin) di andalalin di jalan provinsi. andalalin di jalan
jalan nasional. kabupaten/kota.

68.Sertifikasi kompentensi penilai 68. — 68. —


andalalin.

69.Penetapan persyaratan 69. — 69. —


Penyidik Pegawai Negeri Sipil
(PPNS) bidang LLAJ.

70.Pengusulan pengangkatan dan 70. — 70. —


pemberhentian PPNS bidang
LLAJ.

71.Pengawasan pelaksanaan 71. — 71. —


penyidikan bidang LLAJ.

72.Penetapan kualifikasi tenaga 72. — 72. —


instruktur sekolah mengemudi.

73.Akreditasi pendidikan dan 73. — 73. —


- 193 -
SUB – SUB PEMERINTAHAN DAERAH PEMERINTAHAN DAERAH
SUB BIDANG PEMERINTAH
BIDANG PROVINSI KABUPATEN/KOTA
latihan mengemudi.

74.Penetapan kualifikasi 74. — 74. —


pengemudi.

75.Akreditasi unit pelaksana 75. — 75. —


penerbitan Surat Izin
Mengemudi (SIM).

76.Penyelenggaraan pemberian 76. — 76. —


SIM dan pendaftaran kendaraan
bermotor.

77.Penyelenggaraan pemberian 77. — 77. —


SIM internasional.

78.Akreditasi unit pelaksana 78. — 78. —


penerbitan sertifikat
kompetensi pengemudi
angkutan penumpang umum
dan barang tertentu.

79.Sertifikasi pengemudi angkutan 79. — 79. —


penumpang umum.
- 194 -
SUB – SUB PEMERINTAHAN DAERAH PEMERINTAHAN DAERAH
SUB BIDANG PEMERINTAH
BIDANG PROVINSI KABUPATEN/KOTA

80.Sertifikasi pengemudi dan 80. — 80. —


pembantu pengemudi
kendaraan pengangkut barang
berbahaya dan beracun serta
barang khusus.

81.Penyelenggaraan pencegahan 81. Penyelenggaraan 81. Penyelenggaraan


dan penanggulangan pencegahan dan pencegahan dan
kecelakaan lalu lintas di jalan penanggulangan penanggulangan kecelakaan
nasional dan jalan tol. kecelakaan lalu lintas di lalu lintas di jalan
jalan provinsi. kabupaten/kota.

82.Penelitian dan pelaporan 82. Penelitian dan 82. Penelitian dan


kecelakaan lalu lintas di jalan pelaporan kecelakaan lalu pelaporan kecelakaan lalu
yang mengakibatkan korban lintas di jalan yang lintas di jalan yang
meninggal dunia dan/atau yang mengakibatkan korban mengakibatkan korban
menjadi isu nasional. meninggal dunia dan/atau meninggal dunia dan/atau
yang menjadi isu provinsi. yang menjadi isu
kabupaten/kota.
83.Pedoman persyaratan tenaga 83. — 83. —
auditor keselamatan jalan
nasional, provinsi, dan
kabupaten/kota.
- 195 -
SUB – SUB PEMERINTAHAN DAERAH PEMERINTAHAN DAERAH
SUB BIDANG PEMERINTAH
BIDANG PROVINSI KABUPATEN/KOTA
84.Pedoman persyaratan tenaga 84. — 84. —
investigator kecelakaan lalu
lintas nasional, provinsi, dan
kabupaten/kota.

85.Penerbitan dan pencabutan 85. — 85. —


sertifikat tenaga auditor
keselamatan jalan nasional,
provinsi, dan kabupaten/kota.

86.Penerbitan dan pencabutan 86. — 86. —


sertifikat tenaga investigator
kecelakaan lalu lintas jalan
nasional, provinsi, dan
kabupaten/kota.

87.Penerbitan sertifikat registrasi 87. — 87. —


uji tipe untuk rancang bangun
kendaraan bermotor.

88.Pemeriksaan mutu rancang 88. — 88. —


bangun kendaraan bermotor,
kereta gandengan dan kereta
tempelan.
89.Pengesahan modifikasi 89. — 89. —
- 196 -
SUB – SUB PEMERINTAHAN DAERAH PEMERINTAHAN DAERAH
SUB BIDANG PEMERINTAH
BIDANG PROVINSI KABUPATEN/KOTA
kendaraan bermotor dengan
tidak mengubah tipe.

90.Penelitian dan penilaian 90. — 90. —


kesesuaian fisik kendaraan
bermotor, kereta gandengan,
dan kereta tempelan dengan
Surat Keputusan (SK) rancang
bangun kendaraan bermotor
yang diterbitkan oleh
pemerintah.

91.Penerbitan surat keterangan 91. — 91. —


bebas uji berkala pertama kali.

92.Pengawasan pelaksanaan 92. — 92. Pelaksanaan


pengujian berkala kendaraan pengujian berkala kendaraan
bermotor. bermotor.

93.Penilaian kinerja tenaga penguji 93. — 93. —


berkala kendaraan bermotor.

94.Pemeriksaan kendaraan di jalan 94. Pemeriksaan 94. Pemeriksaan


sesuai kewenangannya. kendaraan di jalan sesuai kendaraan di jalan sesuai
- 197 -
SUB – SUB PEMERINTAHAN DAERAH PEMERINTAHAN DAERAH
SUB BIDANG PEMERINTAH
BIDANG PROVINSI KABUPATEN/KOTA
kewenangannya. kewenangannya.

95.— 95. Pemberian izin 95. —


operasi angkutan sewa
berdasarkan kuota yang
ditetapkan pemerintah.

96.— 96. Pengoperasian 96. —


alat penimbang kendaraan
bermotor di jalan.

97.Perizinan penggunaan jalan 97. Perizinan 97. Perizinan


selain untuk kepentingan lalu penggunaan jalan selain penggunaan jalan selain
lintas di jalan nasional kecuali untuk kepentingan lalu untuk kepentingan lalu lintas
jalan tol. lintas di jalan provinsi. di jalan kabupaten/kota.

98.Pelaksanaan penyidikan 98. Pelaksanaan penyidikan 98. Pelaksanaan penyidikan


pelanggaran ketentuan pidana pelanggaran: pelanggaran:
Undang-undang tentang LLAJ.
a. Perda provinsi a. Perda
bidang LLAJ. kabupaten/kota bidang
LLAJ.
b. Pemenuhan
persyaratan teknis dan b. Pemenuhan
laik jalan. persyaratan teknis dan laik
- 198 -
SUB – SUB PEMERINTAHAN DAERAH PEMERINTAHAN DAERAH
SUB BIDANG PEMERINTAH
BIDANG PROVINSI KABUPATEN/KOTA
jalan.
c. Pelanggaran
ketentuan pengujian c. Pelanggaran
berkala. ketentuan pengujian
berkala.
d. Perizinan
angkutan umum. d. Perizinan angkutan
umum.

99.Pengawasan pemberian SIM, 99. — 99. —


pendaftaran kendaraan
bermotor, dan sertifikat
pengemudi angkutan
penumpang umum dan barang
tertentu.

100.Pengumpulan, pengolahan 100. Pengumpulan, pengolahan 100. Pengumpulan, pengolahan


data, dan analisis kecelakaan data, dan analisis data, dan analisis
lalu lintas tingkat nasional. kecelakaan lalu lintas di kecelakaan lalu lintas di
wilayah provinsi. wilayah kabupaten/kota.

101.— 101. — 101. Pelaksanaan pengujian


berkala kendaraan
bermotor.
- 199 -
SUB – SUB PEMERINTAHAN DAERAH PEMERINTAHAN DAERAH
SUB BIDANG PEMERINTAH
BIDANG PROVINSI KABUPATEN/KOTA
102. — 102. — 102. Pemberian izin usaha
bengkel umum kendaraan
bemotor.

103. — 103. — 103. Pemberian izin trayek


angkutan kota yang
wilayah pelayanannya
dalam satu wilayah
kabupaten/kota.

104. — 104. — 104. Penentuan lokasi fasilitas


parkir untuk umum di jalan
kabupaten/kota.

105. — 105. — 105. Penentuan lokasi fasilitas


parkir untuk umum di jalan
kabupaten/kota.

106. — 106. — 106. Pengoperasian fasilitas


parkir untuk umum di jalan
kabupaten/kota.

107. — 107. — 107. Pemberian izin usaha


mendirikan pendidikan dan
latihan mengemudi.
- 200 -
SUB – SUB PEMERINTAHAN DAERAH PEMERINTAHAN DAERAH
SUB BIDANG PEMERINTAH
BIDANG PROVINSI KABUPATEN/KOTA
2. Lalu Lintas Angkutan 1. Penyusunan dan 1. Penyusunan dan penetapan 1. Penyusunan dan
Sungai, Danau, dan penetapan rencana umum rencana umum jaringan penetapan rencana umum
Penyeberangan jaringan sungai dan danau sungai dan danau antar jaringan sungai dan danau
(LLASDP) antar provinsi. kabupaten/kota dalam dalam kabupaten/kota.
provinsi.

2. Penyusunan dan 2. Penyusunan dan penetapan 2. Penyusunan dan


penetapan rencana umum rencana umum lintas penetapan rencana umum
lintas penyeberangan yang penyeberangan antar lintas penyeberangan dalam
terletak pada jaringan jalan kabupaten/kota dalam kabupaten/kota yang terletak
nasional, dan antar negara, provinsi yang terletak pada pada jaringan jalan
serta jaringan jalur kereta api jaringan jalan provinsi. kabupaten/kota.
nasional dan antar negara.

3. Pedoman penetapan lintas 3. — 3. —


penyeberangan.

4. Penetapan lintas 4. Penetapan lintas 4. Penetapan lintas


penyeberangan yang terletak penyeberangan antar penyeberangan dalam
pada jaringan jalan nasional, kabupaten/kota dalam kabupaten/kota yang terletak
dan antar negara dan jaringan provinsi yang terletak pada pada jaringan jalan
jalur kereta api dan antar jaringan jalan provinsi.. kabupaten/kota.
negara.
- 201 -
SUB – SUB PEMERINTAHAN DAERAH PEMERINTAHAN DAERAH
SUB BIDANG PEMERINTAH
BIDANG PROVINSI KABUPATEN/KOTA
5. Pedoman rancang bangun 5. — 5. —
kapal Sungai, Danau, dan
Penyeberangan (SDP).

6. Pengadaan kapal SDP. 6. Pengadaan kapal 6. Pengadaan kapal


SDP. SDP.

7. Pedoman registrasi kapal 7. — 7. —


sungai dan danau.

8. Pedoman pengoperasian kapal 8. — 8. —


SDP.

9. Pedoman persyaratan9. — 9. —
pelayanan kapal SDP.

10. Pedoman 10. — 10.—


pemeliharaan/ perawatan kapal
SDP.
- 202 -
SUB – SUB PEMERINTAHAN DAERAH PEMERINTAHAN DAERAH
SUB BIDANG PEMERINTAH
BIDANG PROVINSI KABUPATEN/KOTA

11. Pedoman tata cara 11. — 11.—


pengawasan terhadap
pemberian surat ukur, surat
tanda pendaftaran dan tanda
pendaftaran, sertifikat kelaikan
kapal, sertifikat pengawakan
kapal, dan surat tanda
kebangsaan kapal sungai dan
danau.

12. Pengawasan terhadap 12. Pengawasan terhadap 12.—


pemberian surat ukur, surat pemberian surat ukur, surat
tanda pendaftaran dan tanda tanda pendaftaran dan tanda
pendaftaran, sertifikat kelaikan pendaftaran, sertifikat kelaikan
kapal, sertifikat pengawakan kapal, sertifikat pengawakan
kapal, dan surat tanda kapal, dan surat tanda
kebangsaan kapal sungai dan kebangsaan kapal sungai dan
danau ≥ 7 GT. danau < 7 GT.

13. Pedoman 13. — 13.—


penyelenggaraan pelabuhan
SDP.
- 203 -
SUB – SUB PEMERINTAHAN DAERAH PEMERINTAHAN DAERAH
SUB BIDANG PEMERINTAH
BIDANG PROVINSI KABUPATEN/KOTA
14. Pedoman penetapan lokasi 14. — 14.—
pelabuhan SDP.
15. Penetapan lokasi pelabuhan 15. Rekomendasi lokasi 15. Rekomendasi lokasi
penyeberangan. pelabuhan penyeberangan. pelabuhan penyeberangan.

16.— 16. — 16. Penetapan lokasi pelabuhan


sungai dan danau.

17. Pedoman pembangunan 17. — 17.—


pelabuhan SDP.
18. Pembangunan pelabuhan SDP. 18.Pembangunan pelabuhan 18. Pembangunan pelabuhan
SDP. SDP.

19. Penyelenggaraan pelabuhan 19.— 19. Penyelenggaraan pelabuhan


penyeberangan. penyeberangan.

20. Pengawasan 20.— 20. —


penyelenggaraan pelabuhan
penyeberangan pada jaringan
jalan nasional dan antar negara
serta jaringan jalur kereta api
nasional dan antar negara.

21. — 21.— 21. Penyelenggaraan pelabuhan


sungai dan danau.
- 204 -
SUB – SUB PEMERINTAHAN DAERAH PEMERINTAHAN DAERAH
SUB BIDANG PEMERINTAH
BIDANG PROVINSI KABUPATEN/KOTA

22. Pedoman penyusunan rencana 22.— 22. —


induk, Daerah Lingkungan
Kerja (DLKr)/Daerah
Lingkungan Kepentingan
(DLKp) pelabuhan SDP.

23. — 23.Pemberian rekomendasi 23. Pemberian


rencana induk pelabuhan rekomendasi rencana induk,
penyeberangan, DLKr/DLKp DLKr/DLKp pelabuhan
yang terletak pada jaringan penyeberangan yang
jalan nasional dan antar terletak pada jaringan jalan
negara serta jaringan jalur provinsi, nasional dan antar
kereta api. negara.

24. Penetapan rencana 24.Penetapan rencana induk, 24. Penetapan rencana induk,
induk, DLKr/DLKp pelabuhan DLKr/DLKp pelabuhan DLKr/DLKp pelabuhan SDP
Penyeberangan yang terletak penyeberangan yang yang terletak pada jaringan
pada jaringan jalan nasional terletak pada jaringan jalan jalan kabupaten/kota.
dan antar negara serta provinsi
jaringan jalur kereta api
nasional dan antar negara.

25. Pedoman sertifikasi pelabuhan 25.— 25. —


SDP.
- 205 -
SUB – SUB PEMERINTAHAN DAERAH PEMERINTAHAN DAERAH
SUB BIDANG PEMERINTAH
BIDANG PROVINSI KABUPATEN/KOTA
26. Penetapan sertifikasi 26.— 26. —
pelabuhan SDP.

27. Pedoman pemeliharaan/ 27.— 27. —


perawatan pelabuhan SDP.

28. Pedoman penetapan kelas alur 28.— 28. —


pelayaran sungai dan danau.

29. — 29.Penetapan kelas alur 29. —


pelayaran sungai.

30. Pedoman tata cara berlalu 30.— 30. —


lintas di sungai dan danau.

31. Pedoman perambuan sungai, 31.— 31. —


danau dan penyeberangan.

32. Pengadaan, pemasangan dan 32.Pengadaan, pemasangan 32. Pengadaan,


pemeliharaan rambu dan pemeliharaan rambu pemasangan dan
penyeberangan. penyeberangan. pemeliharaan rambu
penyeberangan
- 206 -
SUB – SUB PEMERINTAHAN DAERAH PEMERINTAHAN DAERAH
SUB BIDANG PEMERINTAH
BIDANG PROVINSI KABUPATEN/KOTA
33. — 33.— 33. Izin pembuatan tempat
penimbunan kayu (logpon),
jaring terapung dan
kerambah di sungai dan
danau.

34. Pemetaan alur sungai 34.Pemetaan alur sungai lintas 34. Pemetaan alur sungai
untuk kebutuhan transportasi. kabupaten/kota dalam kabupaten/kota untuk
provinsi untuk kebutuhan kebutuhan transportasi.
transportasi.

35. Pembangunan, 35.Pembangunan, 35. Pembangunan,


pemeliharaan, pengerukan alur pemeliharaan, pengerukan pemeliharaan, pengerukan
pelayaran sungai dan danau. alur pelayaran sungai dan alur pelayaran sungai dan
danau. danau kabupaten/kota.

36. — 36.Izin pembangunan 36. —


prasarana yang melintasi
alur sungai dan danau.

37. Pedoman 37.— 37. —


penyelenggaraan angkutan
SDP.

38. Pedoman tarif 38.— 38. —


- 207 -
SUB – SUB PEMERINTAHAN DAERAH PEMERINTAHAN DAERAH
SUB BIDANG PEMERINTAH
BIDANG PROVINSI KABUPATEN/KOTA
angkutan SDP.

39. Penetapan tarif 39.Penetapan tarif angkutan 39. Penetapan tarif angkutan
angkutan penyeberangan kelas penyeberangan kelas penyeberangan kelas
ekonomi pada lintas ekonomi pada lintas ekonomi pada lintas
penyeberangan yang terletak penyeberangan yang penyeberangan dalam
pada jaringan jalan nasional terletak pada jaringan jalan kabupaten/kota yang terletak
dan antar negara, serta provinsi. pada jaringan jalan
jaringan jalur kereta api kabupaten/kota.
nasional dan antar negara.
40. Penetapan tarif 40.Penetapan tarif angkutan 40. Penetapan tarif angkutan
angkutan sungai dan danau sungai dan danau kelas sungai dan danau kelas
kelas ekonomi pada lintas ekonomi antar ekonomi dalam
antar provinsi dan antar kabupaten/kota dalam kabupaten/kota.
negara. provinsi.

41. Pengawasan 41. Pengawasan pelaksanaan 41. Pengawasan pelaksanaan


pelaksanaan tarif angkutan tarif angkutan SDP antar tarif angkutan SDP dalam
SDP pada jaringan jalan kabupaten/kota dalam kabupaten/kota yang terletak
nasional dan antar negara. provinsi yang terletak pada pada jaringan jalan
jaringan jalan provinsi. kabupaten/kota.

42. Pedoman tarif jasa 42. — 42. —


kepelabuhanan SDP.
- 208 -
SUB – SUB PEMERINTAHAN DAERAH PEMERINTAHAN DAERAH
SUB BIDANG PEMERINTAH
BIDANG PROVINSI KABUPATEN/KOTA

43. Penetapan tarif jasa 43. — 43. Penetapan tarif jasa


pelabuhan SDP yang tidak pelabuhan SDP yang tidak
diusahakan yang dikelola diusahakan yang dikelola
pemerintah. kabupaten/kota.

44. Pedoman/persyaratan 44. — 44. —


pelayanan angkutan SDP.

45. Pemberian 45. Pemberian persetujuan 45. Pemberian persetujuan


persetujuan pengoperasian pengoperasian kapal untuk pengoperasian kapal untuk
kapal untuk lintas lintas penyeberangan antar lintas penyeberangan dalam
penyeberangan pada jaringan kabupaten/kota dalam kabupaten/kota pada jaringan
jalan nasional dan antar provinsi pada jaringan jalan jalan kabupaten/kota
negara. provinsi.

46. Pengawasan 46. Pengawasan pengoperasian 46. Pengawasan pengoperasian


pengoperasian penyelenggaraan angkutan penyelenggaran angkutan
penyelenggaraan angkutan sungai dan danau. sungai dan danau.
sungai dan danau.

47. Pengawasan 47. Pengawasan pengoperasian 47. Pengawasan pengoperasian


pengoperasian penyelenggaraan angkutan penyelenggaraan angkutan
penyelenggaraan angkutan penyeberangan antar penyeberangan dalam
penyeberangan pada lintas kabupaten/kota dalam kabupaten/kota pada
- 209 -
SUB – SUB PEMERINTAHAN DAERAH PEMERINTAHAN DAERAH
SUB BIDANG PEMERINTAH
BIDANG PROVINSI KABUPATEN/KOTA
antar provinsi dan antar provinsi pada jaringan jalan jaringan jalan
negara. provinsi. kabupaten/kota.

48. Pengawasan angkutan barang 49. Pengawasan angkutan 48. —


berbahaya dan khusus melalui barang berbahaya dan
angkutan SDP. khusus melalui angkutan
SDP.

2. Perkeretaapian 1. Penetapan rencana induk 1. Penetapan rencana induk 1. Penetapan rencana induk
perkeretaapian nasional. perkeretaapian provinsi; perkeretaapian
kabupaten/kota.

2. Pembinaan yang dilakukan oleh 2. Pembinaan yang 2. Pembinaan yang dilakukan


Pemerintah meliputi : dilakukan oleh pemerintah oleh pemerintah
provinsi meliputi: kabupaten/kota meliputi :

a. Penetapan sasaran a. Penetapan sasaran dan a. Penetapan sasaran dan


dan arah kebijakan arah kebijakan arah kebijakan
pengembangan sistem pengembangan sistem pengembangan sistem
perkeretaapian tingkat perkeretaapian provinsi perkeretaapian
nasional dan perkeretaapian dan perkeretaapian kabupaten/kota yang
lokal yang jaringannya kabupaten /kota yang jaringannya berada di
melebihi satu provinsi; jaringannya melebihi wilayah kabupaten /kota;
wilayah kabupaten /kota;
- 210 -
SUB – SUB PEMERINTAHAN DAERAH PEMERINTAHAN DAERAH
SUB BIDANG PEMERINTAH
BIDANG PROVINSI KABUPATEN/KOTA

b. Pemberian
b. Penetapan arahan, bimbingan, b. Pemberian arahan,
persyaratan, norma, pelatihan dan bantuan bimbingan, pelatihan dan
pedoman, standar, kriteria teknis kepada bantuan teknis kepada
dan prosedur kabupaten/kota, pengguna dan penyedia
penyelenggaraan pengguna dan penyedia jasa; dan
perkeretaapian yang berlaku jasa; dan
secara nasional;
c. Pengawasan terhadap
c. Pelaksanaan c. Pengawasan pelaksanaan
perwujudan pengembangan terhadap pelaksanaan perkeretaapian
sistem perkeretaapian perkeretaapian kabupaten /kota.
tingkat nasional; provinsi.

d. Penetapan d. —
kompetensi Pejabat yang d.—
melaksanakan fungsi di
bidang perkeretaapian,
pemberian arahan,
bimbingan, pelatihan, dan
bantuan teknis kepada
pemerintah daerah dan
masyarakat;dan
e. —
- 211 -
SUB – SUB PEMERINTAHAN DAERAH PEMERINTAHAN DAERAH
SUB BIDANG PEMERINTAH
BIDANG PROVINSI KABUPATEN/KOTA

e. Pengawasan e.—
terhadap pelaksanaan
norma, persyaratan,
pedoman, standar, kriteria
dan prosedur yang
dilakukan oleh pemerintah
daerah dan masyarakat
dan pengawasan terhadap
pelaksanaan perwujudan
pengembangan sistem
perkeretaapian tingkat
nasional.
3. Penetapan persyaratan 3. — 3. —
kelaikan operasi prasarana
kereta api umum.

4. Pengusahaan prasarana kereta 4. Pengusahaan prasarana 4. Pengusahaan prasarana


api umum yang tidak kereta api umum yang tidak kereta api umum yang tidak
dilaksanakan oleh badan usaha dilaksanakan oleh badan dilaksanakan oleh badan
prasarana kereta api. usaha prasarana kereta api. usaha prasarana kereta api.

5. Penetapan persyaratan 5. — 5. —
- 212 -
SUB – SUB PEMERINTAHAN DAERAH PEMERINTAHAN DAERAH
SUB BIDANG PEMERINTAH
BIDANG PROVINSI KABUPATEN/KOTA
perawatan prasarana kereta
api.

6. Penetapan persyaratan kelaikan 6. — 6. —


operasi sarana kereta api.
7. Penetapan izin 7. Penetapan izin 7. Penetapan izin
penyelenggaraan penyelenggaraan penyelenggaraan
perkeretaapian khusus yang perkeretaapian khusus perkeretaapian khusus yang
jaringan jalurnya melebihi yang jaringan jalurnya jaringan jalurnya dalam
wilayah satu provinsi. melebihi wilayah satu kabupaten/kota.
kabupaten/
kota dalam satu provinsi.

8. Penetapan jalur kereta api 8. Penetapan Jalur kereta 8. Penetapan Jalur kereta
khusus yang jaringan melebihi api khusus yang jaringan api khusus yang jaringan
satu provinsi. melebihi satu wilayah dalam wilayah kabupaten
kabupaten/kota dalam /kota.
provinsi.

9. Pengujian prasarana kereta api. 9. — 9. —

10. Penetapan akreditasi atau 10. — 10. —


lembaga penguji berkala
prasarana kereta api.
- 213 -
SUB – SUB PEMERINTAHAN DAERAH PEMERINTAHAN DAERAH
SUB BIDANG PEMERINTAH
BIDANG PROVINSI KABUPATEN/KOTA
11. Pemberian sertifikat prasaran 11. — 11. —
kereta api yang telah
dinyatakan lulus uji pertama
dan uji berkala.

12. Pemberian sertifikat tenaga 12. — 12. —


tanda kecakapan
pengoperasian prasarana
kereta api.

13. Penetapan penunjukan badan 13. — 13. —


hukum atau lembaga lain yang
menyelenggarakan pendidikan
dan/atau pelatihan tenaga
pengoperasian prasarana
kereta api.

14. Penetapan persyaratan dan 14. — 14. —


kualifikasi tenaga perawatan
prasarana kereta api.

15. — 15. Penutupan perlintasan 15. Penutupan perlintasan


untuk keselamatan untuk keselamatan
perjalanan kereta api dan perjalanan kereta api dan
pemakai jalan perlintasan pemakai jalan perlintasan
sebidang yang tidak sebidang yang tidak
- 214 -
SUB – SUB PEMERINTAHAN DAERAH PEMERINTAHAN DAERAH
SUB BIDANG PEMERINTAH
BIDANG PROVINSI KABUPATEN/KOTA
mempunyai izin dan tidak mempunyai izin dan tidak
ada penanggung ada penanggung jawabnya,
jawabnya, dilakukan oleh dilakukan oleh pemilik
pemilik dan/atau dan/atau Pemerintah
Pemerintah Daerah. Daerah.

16. Pelaksanaan uji pertama 16. — 16. —


dan uji berkala sarana kereta
api.

17. Pemberian sertifikat 17. — 17. —


kelaikan sarana kereta api
yang telah dinyatakan lulus uji
pertama dan uji berkala.

18. Pelimpahan wewenang kepada 18. — —


badan usaha atau lembaga
untuk melaksanakan pengujian
berkala sarana kereta api.

19. Penerbitan sertifikat tenaga 19. — —


penguji sarana kereta api yang
memenuhi persyaratan dan
kualifikasi tertentu.
- 215 -
SUB – SUB PEMERINTAHAN DAERAH PEMERINTAHAN DAERAH
SUB BIDANG PEMERINTAH
BIDANG PROVINSI KABUPATEN/KOTA
20. Penetapan persyaratan 20. — —
perawatan sarana kereta api.

21. Penetapan persyaratan dan 21. — —


kualifikasi tenaga perawatan
sarana kereta api.
22. Pemberian sertifikat tanda 22. — —
kecakapan awak kereta api.

23. Penunjukan untuk 23. — 23. —


melaksanakan pendidikan
dan/atau pelatihan awak
sarana kereta api kepada
badan hukum atau lembaga

24. Penetapan jaringan pelayanan 24. Penetapan jaringan 24. Penetapan jaringan
kereta api antar kota lintas pelayanan kereta api pelayanan kereta api dalam
batas negara, antar kota antar kota melebihi satu satu kabupaten/ kota.
melebihi satu provinsi. kabupaten/kota dalam
satu provinsi.

25. Penetapan jaringan 25. Penetapan jaringan 25. Penetapan jaringan


pelayanan kereta api pelayanan kereta api pelayanan kereta api
perkotaan melampaui satu perkotaan melampaui perkotaan berada dalam
provinsi. satu kabupaten/kota kabupaten/kota.
- 216 -
SUB – SUB PEMERINTAHAN DAERAH PEMERINTAHAN DAERAH
SUB BIDANG PEMERINTAH
BIDANG PROVINSI KABUPATEN/KOTA
dalam satu provinsi.

26. Penetapan persetujuan 26. Penetapan persetujuan 26. Penetapan persetujuan


angkutan orang dengan angkutan orang dengan angkutan orang dengan
menggunakan gerbong kereta menggunakan gerbong menggunakan gerbong
api dalam kondisi tertentu. kereta api dalam kondisi kereta api dalam kondisi
tertentu yang tertentu yang pengoperasian
pengoperasian di dalam di dalam wilayah
wilayah kabupaten/kota kabupaten/kota.
dalam satu provinsi.

27. Pemberian izin usaha 27. — 27. —


kegiatan angkutan orang
dan/atau barang dengan
kereta api umum.

28. Izin operasi kegiatan 28. Izin operasi kegiatan 28. Izin operasi kegiatan
angkutan orang dan/atau angkutan orang dan/atau angkutan orang dan/atau
barang dengan kereta api barang dengan kereta api barang dengan kereta api
umum untuk pelayanan umum untuk pelayanan umum untuk pelayanan
angkutan lintas batas negara angkutan antar kota dan angkutan antar kota dan
berdasarkan perjanjian antar perkotaan yang lintas perkotaan yang lintas
- 217 -
SUB – SUB PEMERINTAHAN DAERAH PEMERINTAHAN DAERAH
SUB BIDANG PEMERINTAH
BIDANG PROVINSI KABUPATEN/KOTA
negara dan untuk pelayanan pelayanannya melebihi pelayanannya dalam satu
angkutan antar kota dan satu kabupaten/kota kabupaten/kota.
perkotaan yang melintas dalam satu provinsi.
layanannya melebihi satu
provinsi.
29. Penetapan tarif penumpang 29. Penetapan tarif 29. Penetapan tarif
kereta api dalam hal penumpang kereta api penumpang kereta api dalam
pelayanan angkutan yang dalam hal pelayanan hal pelayanan angkutan yang
merupakan kebutuhan pokok angkutan yang merupakan merupakan kebutuhan pokok
masyarakat dan pelayanan kebutuhan pokok masyarakat dan pelayanan
angkutan yang disediakan masyarakat dan pelayanan angkutan yang disediakan
untuk pengembangan wilayah, angkutan yang disediakan untuk pengembangan
untuk layanan angkutan lintas untuk pengembangan wilayah, untuk pelayanan
batas negara berdasarkan wilayah, untuk pelayanan angkutan antar kota dan
perjanjian antar negara dan angkutan antar kota dan perkotaan yang lintas
untuk pelayanan angkutan perkotaan yang lintas pelayanannya dalam satu
antar kota dan perkotaan yang pelayanannya melebihi kabupaten/kota.
lintas pelayanannya melebihi satu kabupaten/kota
satu provinsi. dalam satu provinsi.

30. Pembentukan badan untuk 30. — 30. —


pemeriksaan dan penelitian
mengenai penyebab setiap
kecelakakaan kereta api.
- 218 -
SUB – SUB PEMERINTAHAN DAERAH PEMERINTAHAN DAERAH
SUB BIDANG PEMERINTAH
BIDANG PROVINSI KABUPATEN/KOTA
31. Penetapan persyaratan 31. — 31. —
PPNS bidang perkeretaapian.

32. Pengangkatan dan 32. — 32. —


pemberhentian PPNS bidang
perkeretaapian.

3. Perhubungan 1. Kapal berukuran tonase kotor 1. Kapal berukuran tonase 1. Kapal berukuran tonase
Laut sama dengan atau lebih dari 7 kotor sama dengan atau kotor sama dengan atau lebih
(GT ≥7) yang berlayar hanya di lebih dari 7 (GT ≥7) yang dari 7 (GT ≥7) yang berlayar
perairan daratan (sungai dan berlayar hanya di perairan hanya di perairan daratan
danau): daratan (sungai dan danau): (sungai dan danau):

a. Penetapan standar laik air a. — a. —


serta pedoman keselamatan
kapal.

b. Penetapan prosedur b. — b. —
pengawasan keselamatan
kapal.

c. Pemberian izin c. Pemberian izin c. —


pembangunan dan pembangunan dan
pengadaan kapal di atas GT pengadaan kapal
- 219 -
SUB – SUB PEMERINTAHAN DAERAH PEMERINTAHAN DAERAH
SUB BIDANG PEMERINTAH
BIDANG PROVINSI KABUPATEN/KOTA
300. sampai dengan GT 300
ditugaspembantuankan
kepada provinsi.
d. Pengaturan pengukuran d. Pelaksanaan d. —
kapal. pengukuran kapal
sampai dengan GT 300
ditugaspembantuankan
kepada provinsi.

e. Pengaturan pendaftaran e. — e. —
kapal.

f. Pengaturan pas kapal f. — f. —


perairan daratan.

g. Menetapkan tanda panggilan g. — g. —


(call sign) kapal.

h. — h. Pelaksanaan h. —
pengawasan
keselamatan kapal.

i. — i.Pelaksanaan pemeriksaan i.—


radio/elektronika kapal.
- 220 -
SUB – SUB PEMERINTAHAN DAERAH PEMERINTAHAN DAERAH
SUB BIDANG PEMERINTAH
BIDANG PROVINSI KABUPATEN/KOTA

j. — j.Pelaksanaan pengukuran j.—


kapal.

k. — k. Penerbitan pas perairan k. —


daratan.

l. — l.Pencatatan kapal dalam l.—


buku register pas
perairan daratan.

m. — m. Pelaksanaan m. —
pemeriksaan konstruksi.

n. — n. Pelaksanaan n. —
pemeriksaan
permesinan kapal.

o. — o. Penerbitan sertifikat o. —
keselamatan kapal.

p. — p. Pelaksanaan p. —
pemeriksaan
perlengkapan kapal.
- 221 -
SUB – SUB PEMERINTAHAN DAERAH PEMERINTAHAN DAERAH
SUB BIDANG PEMERINTAH
BIDANG PROVINSI KABUPATEN/KOTA
q. — q. Penerbitan dokumen q. —
pengawakan kapal.

r. — r. — r. Pemberian surat izin


berlayar.

2. Kapal berukuran tonase 2. Kapal berukuran tonase 2. Kapal berukuran tonase


kotor kurang dari 7 (GT <7) kotor kurang dari 7 (GT <7) kotor kurang dari 7 (GT <7)
yang berlayar hanya di yang berlayar hanya di yang berlayar hanya di
perairan daratan (sungai dan perairan daratan (sungai perairan daratan (sungai dan
danau): dan danau): danau):

a. Penetapan standar laik a. — a. —


air serta pedoman
keselamatan kapal.

b. Penetapan prosedur b. — b. —
pengawasan keselamatan
kapal.

c. Pengaturan c. — c. —
pengukuran kapal.

d. Pengaturan pas kapal d. — d. —


- 222 -
SUB – SUB PEMERINTAHAN DAERAH PEMERINTAHAN DAERAH
SUB BIDANG PEMERINTAH
BIDANG PROVINSI KABUPATEN/KOTA
perairan daratan.

e. — e. Pemberian izin e. —
pembangunan dan
pengadaan kapal.

f. — f. — f. Pelaksanaan
pengawasan
keselamatan kapal.

g. — g. — g. Pelaksanaan
pengukuran kapal.

h. — h. — h. Penerbitan pas
perairan daratan.

i. — i. — i. Pencatatan kapal
dalam buku register pas
perairan daratan.

j. — j. — j. Pelaksanaan
pemeriksaan konstruksi
kapal.

k. — k. — k. Pelaksanaan
- 223 -
SUB – SUB PEMERINTAHAN DAERAH PEMERINTAHAN DAERAH
SUB BIDANG PEMERINTAH
BIDANG PROVINSI KABUPATEN/KOTA
pemeriksaan permesinan
kapal.

l. — l. — l. Pelaksanaan
pemeriksaan
perlengkapan kapal.

m. — m. — m. Penerbitan sertifikat
keselamatan kapal.

n. — n. — n. Penerbitan dokumen
pengawakan kapal.

o. — o. — o. Pemberian surat izin


berlayar.

3. Kapal berukuran tonase kotor 3. Kapal berukuran tonase 3. Kapal berukuran tonase kotor
lebih dari atau sama dengan kotor lebih dari atau sama lebih dari atau sama dengan
GT 7 (GT ≥ 7) yang berlayar di dengan GT 7 (GT ≥ 7) GT 7 (GT ≥ 7) yang berlayar
laut: yang berlayar di laut: di laut:

a. Penetapan standar laik a. — a. —


air serta pedoman
keselamatan kapal.
- 224 -
SUB – SUB PEMERINTAHAN DAERAH PEMERINTAHAN DAERAH
SUB BIDANG PEMERINTAH
BIDANG PROVINSI KABUPATEN/KOTA
b. Penetapan prosedur b. — b. —
pengawasan keselamatan
kapal.

c. Pemberian izin c. — c. —
pembangunan dan
pengadaan kapal.

d. Pengawasan d. — d. —
pelaksanaan keselamatan
kapal.

e. Pelaksanaan e. — e. —
pengukuran kapal.

f. Pelaksanaan f. — f. —
pendaftaran kapal.

g. Penetapan tanda g. — g. —
panggilan (call sign) kapal.

h. Penerbitan surat tanda h. — h. —


kebangsaan kapal.
- 225 -
SUB – SUB PEMERINTAHAN DAERAH PEMERINTAHAN DAERAH
SUB BIDANG PEMERINTAH
BIDANG PROVINSI KABUPATEN/KOTA

i. Pencatatan kapal i. — i. —
dalam buku register surat
tanda kebangsaan kapal.

j. Penerbitan pas kecil. j. — j. —

k. Pencatatan kapal k. — k. —
dalam buku register pas
kecil.

l. Pelaksanaan l. — l. —
pemeriksaan konstruksi
kapal.

m. Pelaksanaan m. — m. —
pemeriksaan permesinan
kapal.

n. Penerbitan sertifikat n. — n. —
keselamatan kapal.

o. Pelaksanaan o. — o. —
pemeriksaan perlengkapan
kapal.
- 226 -
SUB – SUB PEMERINTAHAN DAERAH PEMERINTAHAN DAERAH
SUB BIDANG PEMERINTAH
BIDANG PROVINSI KABUPATEN/KOTA

p. Pelaksanaan p. — p. —
pemeriksaan
radio/elektronika kapal.

q. Penerbitan dokumen q. — q. —
pengawakan kapal.

r. Pemberian surat izin r. — r. —


berlayar.

4. Kapal berukuran tonase kotor 4. Kapal berukuran tonase 4. Kapal berukuran tonase kotor
kurang dari GT 7 (GT < 7) yang kotor kurang dari GT 7 (GT kurang dari GT 7 (GT < 7) yg
berlayar di laut: < 7) yang berlayar di laut: berlayar di laut:

a. Penetapan standar a. — a. —
laik air serta pedoman
keselamatan kapal.

b. Penetapan prosedur b. — b. —
pengawasan keselamatan
kapal.

c. Pengaturan c. — c. —
pengukuran kapal.
- 227 -
SUB – SUB PEMERINTAHAN DAERAH PEMERINTAHAN DAERAH
SUB BIDANG PEMERINTAH
BIDANG PROVINSI KABUPATEN/KOTA

d. Pengaturan surat d. — d. —
tanda kebangsaan kapal
(pas kecil).
e. — e. Pemberian izin e. —
pembangunan dan
pengadaan kapal.

f. — f. — f. Pelaksanaan
pengawasan
keselamatan kapal.

g. — g. — g. Pelaksanaan
pengukuran kapal.

h. — h. — h. Penerbitan pas
kecil .

i. — i. — i. Pencatatan kapal
dalam buku register pas
kecil.

j. — j. — j. Pelaksanaan
pemeriksaan konstruksi
kapal.
- 228 -
SUB – SUB PEMERINTAHAN DAERAH PEMERINTAHAN DAERAH
SUB BIDANG PEMERINTAH
BIDANG PROVINSI KABUPATEN/KOTA

k. — k. — k. Pelaksanaan
pemeriksaan permesinan
kapal.

l. — l. — l. Penerbitan
sertifikat keselamatan
kapal.

m. — m. — m. Pelaksanaan
pemeriksaan
perlengkapan kapal.

n. — n. — n. Penerbitan
dokumen pengawakan
kapal.

o. Pemberian surat izin o. — o. —


berlayar.

5. Persetujuan lokasi 5. — 5. Penetapan penggunaan


pelabuhan laut. tanah lokasi pelabuhan laut.

6. Penetapan rencana 6. — 6. —
induk pelabuhan laut
- 229 -
SUB – SUB PEMERINTAHAN DAERAH PEMERINTAHAN DAERAH
SUB BIDANG PEMERINTAH
BIDANG PROVINSI KABUPATEN/KOTA
internasional hub, internasional
dan nasional.

7. Pengelolaan 7. Pengelolaan pelabuhan 7. Pengelolaan pelabuhan lokal


pelabuhan laut internasional regional lama. lama.
hub, internasional dan nasional
lama.

8. Pengelolaan 8. Pengelolaan pelabuhan 8. Pengelolaan pelabuhan baru


pelabuhan baru yang dibangun baru yang dibangun oleh yang dibangun oleh
oleh pemerintah. provinsi. kabupaten/kota.

9. Penetapan daerah 9. — 9. —
lingkungan kerja dan daerah
lingkungan kepentingan
pelabuhan laut internasional
hub, internasional dan nasional.

10. Penetapan keputusan 10. — 10. —


pelaksanaan pembangunan
pelabuhan laut internasional
hub, internasional dan nasional.

11. Penetapan keputusan 11. — 11. —


pelaksanaan pengoperasian
- 230 -
SUB – SUB PEMERINTAHAN DAERAH PEMERINTAHAN DAERAH
SUB BIDANG PEMERINTAH
BIDANG PROVINSI KABUPATEN/KOTA
pelabuhan laut internasional
hub, internasional dan nasional.

12. Pertimbangan teknis 12. — 12. —


penambahan dan atau
pengembangan fasilitas pokok
pelabuhan laut internasional
hub, internasional, dan nasional.

13. Penetapan 13. — 13. —


pengoperasian 24 (dua puluh
empat) jam pelabuhan laut
internasional hub, internasional
dan nasional.

14. Penetapan pelabuhan 14. — 14. —


laut untuk melayani angkutan
peti kemas.

15. Pertimbangan teknis 15. — 15. —


penetapan pelabuhan laut untuk
melayani curah kering dan
curah cair.
- 231 -
SUB – SUB PEMERINTAHAN DAERAH PEMERINTAHAN DAERAH
SUB BIDANG PEMERINTAH
BIDANG PROVINSI KABUPATEN/KOTA

16. Persetujuan 16. — 16. —


pengelolaan Dermaga Untuk
Kepentingan Sendiri (DUKS)
yang berlokasi di dalam
DLKr/DLKp pelabuhan laut
internasional hub, internasional
dan nasional.

17. Pemberian izin 17. — 17. —


kegiatan pengerukan dan/atau
reklamasi di dalam DLKr/DLKp
pelabuhan laut internasional
hub, internasional dan nasional.
18. Penetapan pelabuhan 18. — 18. —
yang terbuka bagi perdagangan
luar negeri.

19. — 19. Rekomendasi penetapan 19. Rekomendasi penetapan


rencana induk pelabuhan rencana induk pelabuhan
laut internasional hub, laut internasional hub,
internasional dan nasional. internasional dan nasional.

20. — 20. Penetapan rencana induk 20. —


pelabuhan laut regional.
- 232 -
SUB – SUB PEMERINTAHAN DAERAH PEMERINTAHAN DAERAH
SUB BIDANG PEMERINTAH
BIDANG PROVINSI KABUPATEN/KOTA

21. — 21. — 21. Penetapan rencana induk


pelabuhan lokal.

22. — 22. Rekomendasi penetapan 22. Rekomendasi penetapan


lokasi pelabuhan umum. lokasi pelabuhan umum.

23. — 23. Rekomendasi penetapan 23. Rekomendasi penetapan


lokasi pelabuhan khusus. lokasi pelabuhan khusus.

24. — 24. Penetapan keputusan 24. Penetapan keputusan


pelaksanaan pelaksanaan pembangunan
pembangunan pelabuhan pelabuhan laut lokal.
laut regional.
25. — 25. Penetapan pelaksanaan 25. Penetapan pelaksanaan
pembangunan pelabuhan pembangunan pelabuhan
khusus regional. khusus lokal.

26. — 26. Penetapan keputusan 26. Penetapan keputusan


pelaksanaan pelaksanaan pengoperasian
pengoperasian pelabuhan pelabuhan laut lokal.
laut regional.

27. — 27. Penetapan izin 27. Penetapan izin


pengoperasian pelabuhan pengoperasian pelabuhan
- 233 -
SUB – SUB PEMERINTAHAN DAERAH PEMERINTAHAN DAERAH
SUB BIDANG PEMERINTAH
BIDANG PROVINSI KABUPATEN/KOTA
khusus regional. khusus lokal.

28. — 28. Rekomendasi penetapan 28. Rekomendasi penetapan


DLKr/DLKp pelabuhan laut DLKr/DLKp pelabuhan laut
internasional hub. internasional hub.

29. — 29. Rekomendasi penetapan 29. Rekomendasi penetapan


DLKr/DLKp pelabuhan laut DLKr/DLKp pelabuhan laut
internasional. internasional.

30. — 30. Rekomendasi penetapan 30. Rekomendasi penetapan


DLKr/DLKp pelabuhan laut DLKr/DLKp pelabuhan laut
nasional. nasional.

31. — 31. — 31. Rekomendasi penetapan


DLKr/DLKp pelabuhan laut
regional.

32. — 32. Penetapan DLKr/DLKp 32. Penetapan DLKr/DLKp


pelabuhan laut regional. pelabuhan laut lokal.

33. — 33. Izin kegiatan pengerukan 33. —


di dalam DLKr/DLKp
pelabuhan laut regional.

34. — 34. Izin reklamasi di dalam 34. —


- 234 -
SUB – SUB PEMERINTAHAN DAERAH PEMERINTAHAN DAERAH
SUB BIDANG PEMERINTAH
BIDANG PROVINSI KABUPATEN/KOTA
DLKr/DLKp pelabuhan laut
regional.

35. — 35. Pertimbangan teknis 35. —


terhadap penambahan
dan/atau pengembangan
fasilitas pokok pelabuhan
laut regional.

36. — 36. — 36. Pertimbangan teknis


terhadap penambahan
dan/atau pengembangan
fasilitas pokok pelabuhan
laut lokal.
37. — 37. Penetapan pelayanan 37. —
operasional 24 (dua puluh
empat) jam pelabuhan laut
regional.

38. — 38. Izin kegiatan pengerukan 38. Izin kegiatan pengerukan di


di wilayah perairan wilayah perairan pelabuhan
pelabuhan khusus khusus lokal.
regional.

39. — 39. Izin kegiatan reklamasi di 39. Izin kegiatan reklamasi di


- 235 -
SUB – SUB PEMERINTAHAN DAERAH PEMERINTAHAN DAERAH
SUB BIDANG PEMERINTAH
BIDANG PROVINSI KABUPATEN/KOTA
wilayah perairan wilayah perairan pelabuhan
pelabuhan khusus khusus lokal.
regional.

40. — 40. Penetapan pelayanan 40. —


operasional 24 (dua puluh
empat) jam pelabuhan
khusus regional.

41. — 41. Penetapan DUKS di 41. Penetapan DUKS di


pelabuhan regional. pelabuhan lokal.

42. — 42. — 42. Pelaksanaan rancang bangun


fasilitas pelabuhan bagi
pelabuhan dengan pelayaran
lokal (kabupaten/kota).

43. — 43. — 43. Izin kegiatan pengerukan di


dalam DLKr/DLKp pelabuhan
laut lokal.

44. — 44. — 44. Izin kegiatan reklamasi di


- 236 -
SUB – SUB PEMERINTAHAN DAERAH PEMERINTAHAN DAERAH
SUB BIDANG PEMERINTAH
BIDANG PROVINSI KABUPATEN/KOTA
dalam DLKr/DLKp pelabuhan
laut lokal.

45. — 45. — 45. Penetapan pelayanan


operasional 24 (dua puluh
empat) jam pelabuhan laut
lokal.

46. — 46. — 46. Penetapan pelayanan


operasional 24 (dua puluh
empat) jam pelabuhan
khusus lokal.

47. — 47. Rekomendasi penetapan 47. Rekomendasi penetapan


pelabuhan yang terbuka pelabuhan yang terbuka bagi
bagi perdagangan luar perdagangan luar negeri.
negeri.

48. — 48. — 48. Penetapan besaran tarif jasa


kepelabuhanan pada
pelabuhan lokal yang
diselenggarakan oleh
pemerintah kabupaten/kota.

49. Izin usaha perusahaan 49. — 49. —


- 237 -
SUB – SUB PEMERINTAHAN DAERAH PEMERINTAHAN DAERAH
SUB BIDANG PEMERINTAH
BIDANG PROVINSI KABUPATEN/KOTA
angkutan laut bagi
perusahaan yang berdomisili
dan beroperasi pada lintas
pelabuhan antar provinsi dan
internasional.

50. — 50. Izin usaha perusahaan 50. Izin usaha perusahaan


angkutan laut bagi angkutan laut bagi
perusahaan yang perusahaan yang berdomisili
berdomisili dan beroperasi dan beroperasi pada lintas
pada lintas pelabuhan pelabuhan dalam
antar kabupaten/kota kabupaten/kota setempat.
dalam wilayah provinsi
setempat.
51. — 51. Izin usaha pelayaran 51. Izin usaha pelayaran rakyat
rakyat bagi perusahaan bagi perusahaan yang
yang berdomisili dan berdomisili dan beroperasi
beroperasi pada lintas pada lintas pelabuhan dalam
pelabuhan antar wilayah kabupaten/kota
kabupaten/kota dalam setempat.
wilayah provinsi setempat,
pelabuhan antar/provinsi
dan internasional (lintas
batas).
- 238 -
SUB – SUB PEMERINTAHAN DAERAH PEMERINTAHAN DAERAH
SUB BIDANG PEMERINTAH
BIDANG PROVINSI KABUPATEN/KOTA
52. — 52. Pemberitahuan 52. Pemberitahuan pembukaan
pembukaan kantor cabang kantor cabang perusahaan
perusahaan angkutan laut angkutan laut nasional yang
nasional yang lingkup lingkup kegiatannya
kegiatannya melayani melayani lintas pelabuhan
lintas pelabuhan antar dalam satu kabupaten/kota.
kabupaten/kota dalam
satu provinsi.

53. — 53. Pemberitahuan 53. Pemberitahuan pembukaan


pembukaan kantor cabang kantor cabang perusahaan
perusahaan pelayaran pelayaran rakyat yang
rakyat yang lingkup lingkup kegiatannya
kegiatannya melayani melayani lintas pelabuhan
lintas pelabuhan antar dalam satu kabupaten/kota.
kabupaten/kota dalam
satu provinsi, lintas
pelabuhan antar provinsi
serta lintas pelabuhan
- 239 -
SUB – SUB PEMERINTAHAN DAERAH PEMERINTAHAN DAERAH
SUB BIDANG PEMERINTAH
BIDANG PROVINSI KABUPATEN/KOTA
internasional (lintas batas).

54. — 54. Pelaporan pengoperasian 54. Pelaporan pengoperasian


kapal secara tidak tetap kapal secara tidak tetap dan
dan tidak teratur (tramper) tidak teratur (tramper) bagi
bagi perusahaan angkutan perusahaan angkutan laut
laut yang berdomisili dan yang berdomisili dan
beroperasi pada lintas beroperasi pada lintas
pelabuhan antar pelabuhan dalam wilayah
kabupaten/kota dalam kabupaten/kota setempat.
satu provinsi.

55. — 55. Pelaporan penempatan 55. Pelaporan penempatan kapal


kapal dalam trayek tetap dalam trayek tetap dan
dan teratur (liner) dan teratur (liner) dan
pengoperasian kapal pengoperasian kapal secara
secara tidak tetap dan tidak tetap dan tidak teratur
tidak teratur (tramper) (tramper) bagi perusahaan
bagi perusahaan pelayaran pelayaran rakyat yang
rakyat yang berdomisili berdomisili dan beroperasi
dan beroperasi pada lintas pada lintas pelabuhan dalam
pelabuhan antar wilayah kabupaten/kota
- 240 -
SUB – SUB PEMERINTAHAN DAERAH PEMERINTAHAN DAERAH
SUB BIDANG PEMERINTAH
BIDANG PROVINSI KABUPATEN/KOTA
kabupaten/kota dalam setempat.
wilayah provinsi setempat,
pelabuhan antar provinsi
dan internasional (lintas
batas).

56. Izin operasi angkutan laut 56. — 56. —


khusus.

57. — 57. Izin usaha tally di 57. Izin usaha tally di pelabuhan.
pelabuhan.

58. — 58. Izin usaha bongkar muat 58. Izin usaha bongkar muat
barang dari dan ke kapal. barang dari dan ke kapal.

59. — 59. Izin usaha 59. Izin usaha ekspedisi/Freight


ekspedisi/Freight Forwarder.
- 241 -
SUB – SUB PEMERINTAHAN DAERAH PEMERINTAHAN DAERAH
SUB BIDANG PEMERINTAH
BIDANG PROVINSI KABUPATEN/KOTA
Forwarder.

60. — 60. Izin usaha angkutan 60. —


perairan pelabuhan.

61. — 61. Izin usaha penyewaan 61. —


peralatan angkutan laut/
peralatan penunjang
angkutan laut.

62. — 62. Izin usaha depo peti 62. —


kemas.

63. Penetapan tarif angkutan laut 63. — 63. —


dalam negeri untuk
penumpang kelas ekonomi.

64. Penyusunan jaringan trayek 64. — 64. —


angkutan laut dalam negeri.

65. Penetapan trayek angkutan 65. — 65. —


laut perintis dan penempatan
kapalnya.

66. — 66. — 66. Penetapan lokasi


- 242 -
SUB – SUB PEMERINTAHAN DAERAH PEMERINTAHAN DAERAH
SUB BIDANG PEMERINTAH
BIDANG PROVINSI KABUPATEN/KOTA
pemasangan dan
pemeliharaan alat
pengawasan dan alat
pengamanan (rambu-rambu),
danau dan sungai lintas
kabupaten/kota

67. — 67. — 67. Pemberian rekomendasi


dalam penerbitan izin usaha
dan kegiatan salvage serta
persetujuan Pekerjaan
Bawah Air (PBA) dan
pengawasan kegiatannya
dalam kabupaten/kota.
68. Penetapan perairan pandu luar 68. — 68. —
biasa.

69. Penetapan perairan wajib 69. — 69. —


pandu.

70. Pelimpahan kewenangan 70. — 70. —


pemanduan.
- 243 -
SUB – SUB PEMERINTAHAN DAERAH PEMERINTAHAN DAERAH
SUB BIDANG PEMERINTAH
BIDANG PROVINSI KABUPATEN/KOTA
4. Perhubungan 1. Angkutan Udara 1. Penetapan norma, standar, 1. — 1. —
Udara prosedur, dan kriteria di bidang
angkutan udara.

2. Penerbitan izin usaha angkutan 2. Pemantauan terhadap 2. —


udara niaga. pelaksanaan kegiatan izin
usaha angkutan udara
niaga dan melaporkan ke
Pemerintah.

3. Penerbitan izin kegiatan 3. Pemantauan terhadap 3. —


angkutan udara. pelaksanaan kegiatan izin
kegiatan angkutan udara
dan melaporkan ke
pemerintah.
4. Penetapan persetujuan rute 4. Pemantauan terhadap 4. —
penerbangan. pelaksanaan kegiatan
Jaringan dan Rute
Penerbangan dan
melaporkan ke pemerintah.

5. — 5. Mengusulan rute 5. —
penerbangan baru ke dari
daerah yang bersangkutan.
- 244 -
SUB – SUB PEMERINTAHAN DAERAH PEMERINTAHAN DAERAH
SUB BIDANG PEMERINTAH
BIDANG PROVINSI KABUPATEN/KOTA
6. Persetujuan penambahan atau 6. Pemantauan pelaksanaan 6. —
pengurangan kapasitas persetujuan rute
angkutan udara rute penerbangan dan
penerbangan. melaporkan ke pemerintah.

7. — 7. Pemantauan terhadap 7. —
pelaksanaan persetujuan
penambahan atau
pengurangan kapasitas
angkutan udara dan
melaporkan ke pemerintah.

8. Persetujuan terbang Flight 8. Pemantauan terhadap 8. —


Approval (FA) untuk: pelaksanaan persetujuan
izin terbang/FA yang
a. Penerbangan ke dikeluarkan oleh
dan/dari luar negeri. pemerintah dan
melaporkan ke pemerintah.
b. Perubahan jadwal
penerbangan dalam negeri
bagi perusahaan angkutan
udara berjadwal.
- 245 -
SUB – SUB PEMERINTAHAN DAERAH PEMERINTAHAN DAERAH
SUB BIDANG PEMERINTAH
BIDANG PROVINSI KABUPATEN/KOTA
c. Penerbangan dalam
negeri bagi perusahaan
angkutan udara tidak
berjadwal antar provinsi
dengan pesawat udara di
atas 30 tempat duduk.

9. — 9. Persetujuan izin terbang/FA 9. —


perusahaan angkutan
udara tidak berjadwal antar
kabupaten/kota dalam 1
(satu) provinsi dengan
pesawat udara di atas 30
tempat duduk dan
melaporkan ke Pemerintah.

10. — 10.Pemantauan terhadap 10.—


pelaksanaan persetujuan
izin terbang/FA
perusahaan angkutan
udara non berjadwal antar
kabupaten/kota dalam 1
(satu) provinsi dengan
pesawat udara diatas 30
tempat duduk dan
- 246 -
SUB – SUB PEMERINTAHAN DAERAH PEMERINTAHAN DAERAH
SUB BIDANG PEMERINTAH
BIDANG PROVINSI KABUPATEN/KOTA
melaporkan ke pemerintah.

11. Penetapan tarif angkutan 11.Pemantauan terhadap 11.—


udara (batas atas) dan tarif pelaksanaan tarif angkutan
referensi angkutan udara. udara (batas atas) dan tarif
referensi angkutan udara
dan melaporkan ke
pemerintah.

12. Pemberian Sertifikasi personil 12.Pemantauan terhadap 12.—


petugas pengamanan operator personil petugas
penerbangan. pengamanan operator
penerbangan dan personil
petugas pasasi dan
melaporkan ke pemerintah.

13. Sertifikasi personil pasasi. 13.— 13.—

14. Penerbitan izin general sales 14.Pemantauan terhadap 14.—


agent. pelaksanaan kegiatan
general sales agent dan
melaporkan ke pemerintah.
- 247 -
SUB – SUB PEMERINTAHAN DAERAH PEMERINTAHAN DAERAH
SUB BIDANG PEMERINTAH
BIDANG PROVINSI KABUPATEN/KOTA

15. — 15.Pemberian izin Ekspedisi 15.—


Muatan Pesawat Udara
(EMPU).

16. — 16.Pemberian arahan dan 16.—


petunjuk terhadap kegiatan
Ekspedisi Muatan Pesawat
Udara (EMPU).

17. — 17.Pemantauan, penilaian, dan 17.—


tindakan korektif terhadap
pelaksanaan kegiatan
EMPU dan melaporkan
kepada pemerintah.

18. — 18.Pengawasan dan 18.—


pengendalian izin EMPU.

19. Penetapan standar dan 19.— 19.—


persyaratan peralatan
pelayanan keamanan dan
keselamatan perusahaan
angkutan udara.
- 248 -
SUB – SUB PEMERINTAHAN DAERAH PEMERINTAHAN DAERAH
SUB BIDANG PEMERINTAH
BIDANG PROVINSI KABUPATEN/KOTA

20. Pengawasan dan pengendalian 20.— 20.—


berlakunya standar dan
persyaratan peralatan
pelayanan keamanan dan
keselamatan perusahaan
angkutan udara:

a. Pemeriksaan secara berkala


dan insidentil terhadap
berlakunya standar dan
persyaratan peralatan
pelayanan keamanan dan
keselamatan perusahaan
angkutan udara;

b. Pemberian rekomendasi
atau teguran apabila tidak
sesuai dengan standar yang
telah ditetapkan;

c. Pemberian arahan, petunjuk


pelaksanaan, bimbingan
dan penyuluhan berlakunya
standar dan persyaratan
- 249 -
SUB – SUB PEMERINTAHAN DAERAH PEMERINTAHAN DAERAH
SUB BIDANG PEMERINTAH
BIDANG PROVINSI KABUPATEN/KOTA
peralatan pelayanan
keamanan dan keselamatan
perusahaan angkutan
udara;

21. — 21.Pengusulan bandar udara 21.—


yang terbuka untuk
melayani angkutan udara
ke/dari luar negeri.
Pengusulan bandar udara
di wilayah kerjanya yang
terbuka untuk angkutan
udara ke/dari luar negeri
disertai alasan dan data
dukung yang memadai.
Mengusulkan penetapan
tersebut kepada
pemerintah.

22. Penetapan besaran tarif jasa 22.— 22.—


kebandarudaraan pada bandar
- 250 -
SUB – SUB PEMERINTAHAN DAERAH PEMERINTAHAN DAERAH
SUB BIDANG PEMERINTAH
BIDANG PROVINSI KABUPATEN/KOTA
udara pusat penyebaran dan
bandar udara bukan pusat
penyebaran yang ruang udara
disekitarnya dikendalikan.

23. Pengawasan tarif jasa 23.— 23.—


kebandarudaraan pada bandar
udara pusat penyebaran dan
bandar udara bukan pusat
penyebaran yang ruang udara
di sekitarnya dikendalikan.
Pemantauan penilaian dan
tindakan korektif terhadap
pelaksanaan tarif jasa bandar
udara, bagi bandar udara di
wilayah kerjanya.
Memberikan laporan secara
periodik kepada pemerintah
atas hasil kegiatan
pengawasan pelaksanaan tarif
jasa bandar udara bagi bandar
udara di wilayah kerjanya.
- 251 -
SUB – SUB PEMERINTAHAN DAERAH PEMERINTAHAN DAERAH
SUB BIDANG PEMERINTAH
BIDANG PROVINSI KABUPATEN/KOTA

2. Pesawat Udara 1. Pemberian tindakan korektif 1. — 1. —


terhadap pelanggaran
ketentuan-ketentuan di bidang
angkutan udara.

2. Pemberian tanda kebangsaan 2. — 2. —


dan pendaftaran pesawat
udara.

3. Sertifikasi kelaikan udara. 3. — 3. —

4. Sertifikasi tipe pesawat udara. 4. — 4. —

5. Sertifikasi tipe validasi pesawat 5. — 5. —


udara.

6. Sertifikasi tipe tambahan 6. — 6. —


pesawat udara.
- 252 -
SUB – SUB PEMERINTAHAN DAERAH PEMERINTAHAN DAERAH
SUB BIDANG PEMERINTAH
BIDANG PROVINSI KABUPATEN/KOTA

7. Sertifikasi produksi. 7. — 7. —

8. Sertifikasi operator pesawat 8. — 8. —


udara.

9. Sertifikasi pengoperasian 9. — 9. —
pesawat udara.

10. Sertifikasi perekayasaan 10. — 10. —


produk aeronautika.

11. Sertifikasi pendaftaran 11. — 11. —


pesawat udara.

12. Dokumen limitasi produksi. 12. — 12. —

13. Sertifikasi distributor produk 13. — 13. —


aeronautika.

14. Sertifikasi penyelenggaraan 14. — 14. —


pendidikan dan pelatihan
penerbangan (penerbang,
teknik, flight engineer, flight
operation officer dan awak
- 253 -
SUB – SUB PEMERINTAHAN DAERAH PEMERINTAHAN DAERAH
SUB BIDANG PEMERINTAH
BIDANG PROVINSI KABUPATEN/KOTA
kabin).

15. Sertifikasi penerbang. 15. — 15. —

16. Sertifikasi teknik. 16. — 16. —

17. Sertifikasi juru mesin pesawat 17. — 17. —


udara.

18. Sertifikasi navigasi pesawat 18. — 18. —


udara.

19. Sertifikasi awak kabin. 19. — 19. —

20. Sertifikasi personil ahli 20. — 20. —


perawatan pesawat udara.

21. Sertifikasi personil penunjang 21. — 21. —


operasi pesawat udara/Flight
Operation Officer (FOO).

22. Sertifikasi Ground Support 22. — 22. —


Equipment (GSE).
- 254 -
SUB – SUB PEMERINTAHAN DAERAH PEMERINTAHAN DAERAH
SUB BIDANG PEMERINTAH
BIDANG PROVINSI KABUPATEN/KOTA
23. Penerbitan izin pengadaan 23. — 23. —
pesawat udara.

24. Sertifikasi persetujuan izin 24. — 24. —


organisasi perawatan pesawat
udara.

25. Sertifikasi penyelenggaraan 25. — 25. —


pendidikan dan pelatihan
penerbangan (penerbangan,
teknik, flight engineer, flight
operation officer dan awak
kabin).

26. Persetujuan rancang bangun 26. — 26. —


komponen pesawat udara.

27. Persetujuan izin persetujuan 27. — 27. —


rancang bangun perubahan
pesawat udara.

28. Penetapan standar laik udara 28. — 28. —


serta pedoman keselamatan
pesawat udara, auditing
management keselamatan
- 255 -
SUB – SUB PEMERINTAHAN DAERAH PEMERINTAHAN DAERAH
SUB BIDANG PEMERINTAH
BIDANG PROVINSI KABUPATEN/KOTA
udara, penyidikan,
penanggulangan kecelakaan,
bencana pesawat udara.
29. Pemeriksaan dokumen dan 29. — 29. —
persyaratan administrasi
pengoperasian pesawat udara
sesuai CASR 21 meliputi
pemeriksaan FA, C of A,C of R,
flight plan, wether forcase,
loading cargo, dispach report.

30. Membantu pelaksanaan ramp 30. — 30. —


check dengan persyaratan
SDM sebagai berikut: Min. D-II
penerbang, teknik pesawat
udara, S-1 teknik aeronautika,
mesin, umum dan telah
mengikuti airworthiness
course, mengikuti dasar
penerbangan bagi S-1 umum.

31. Pemeriksaan dokumen dan 31. — 31. —


persyaratan administrasi awak
sesuai CASR 61 & 65 meliputi
pemeriksaan:
- 256 -
SUB – SUB PEMERINTAHAN DAERAH PEMERINTAHAN DAERAH
SUB BIDANG PEMERINTAH
BIDANG PROVINSI KABUPATEN/KOTA

(1) Licensi Captain, Cockpit;


(2) Lisensi Pramugari dan
Pramugara;

(3) Manifest;

(4) Fuel Quantity pesawat


udara.

32. Membantu pelaksanaan ramp 32. — 32. —


check dengan persyaratan
SDM sebagai berikut:

(1) Min D-II penerbang, D-II


teknik pesawat udara, S-1
teknik aeronautika, mesin
umum;

(2) Telah mengikuti


airworthiness course,
mengikuti dasar-dasar
penerbangan bagi S-1
umum.
- 257 -
SUB – SUB PEMERINTAHAN DAERAH PEMERINTAHAN DAERAH
SUB BIDANG PEMERINTAH
BIDANG PROVINSI KABUPATEN/KOTA

3. Bandar Udara 1. Penetapan norma, standar, 1. — 1. —


prosedur, dan kriteria di bidang
bandar udara.

2. Penetapan lokasi bandar udara 2. Pemberian rekomendasi 2. Pemberian rekomendasi


umum. penetapan lokasi bandar penetapan lokasi bandar
udara umum. udara umum.

3. — 3. Pemantauan terhadap 3. Pemantauan terhadap


pelaksanaan keputusan pelaksanaan keputusan
penetapan lokasi bandar penetapan lokasi bandar
udara umum dan udara umum dan melaporkan
melaporkan ke ke pemerintah, pada bandar
pemerintah, pada bandar udara yang belum terdapat
udara yang belum terdapat kantor adbandara.
kantor adbandara.

4. Penetapan/izin pembangunan 4. Pemberian rekomendasi 4. Penetapan/izin


bandar udara umum yang penetapan/izin pembangunan bandar udara
melayani pesawat udara ≥ 30 pembangunan bandar umum yang melayani
tempat duduk. udara umum yang pesawat udara < 30 tempat
melayani pesawat udara ≥ duduk.
30 tempat duduk.
- 258 -
SUB – SUB PEMERINTAHAN DAERAH PEMERINTAHAN DAERAH
SUB BIDANG PEMERINTAH
BIDANG PROVINSI KABUPATEN/KOTA
5. — 5. Pemantauan terhadap 5. —
penetapan/izin
pembangunan bandar
udara umum yang
melayani pesawat udara ≥
30 tempat duduk dan
melaporkan ke pemerintah
pada bandar udara yang
belum terdapat kantor
adbandara.

6. Penetapan/izin pembangunan 6. Pemantauan terhadap 6. —


bandar udara khusus yang pelaksanaan
melayani pesawat udara ≥ 30 penetapan/izin
tempat duduk. pembangunan bandar
udara khusus yang
melayani pesawat udara ≥
30 tempat duduk dan
melaporkan kepada
pemerintah.

7. Pemberian sertifikat operasi 7. — 7. —


bandar udara.

8. Sertifikasi pengatur 8. Pemantauan terhadap 8. —


- 259 -
SUB – SUB PEMERINTAHAN DAERAH PEMERINTAHAN DAERAH
SUB BIDANG PEMERINTAH
BIDANG PROVINSI KABUPATEN/KOTA
pergerakan pesawat udara di pelaksanaan kegiatan
appron. pengatur pesawat udara di
apron, Pertolongan
Kecelakaan Penerbangan-
Pemadam Kebakaran (PKP-
PK), salvage, pengamanan
bandar udara dan GSE,
pada bandar udara yang
belum terdapat kantor
adbandara.

9. — 9. —
9. Sertifikasi PKP-PK dan salvage.
10. — 10. —
10. Sertifikasi petugas
pengamanan bandar udara.
11. Pemantauan terhadap 11. —
11. Pemberian sertifikasi personil personil teknik bandar
teknik bandar udara. udara dan melaporkan ke
pemerintah, pada bandar
udara yang belum terdapat
kantor adbandara.

12. Pemantauan terhadap 12. —


12. Penetapan bandar udara pelaksanaan penetapan
- 260 -
SUB – SUB PEMERINTAHAN DAERAH PEMERINTAHAN DAERAH
SUB BIDANG PEMERINTAH
BIDANG PROVINSI KABUPATEN/KOTA
internasional. bandar udara internasional
dan melaporkan ke
pemerintah, pada bandar
udara yang belum terdapat
kantor adbandara.

13. — 13. —
13. Pengunaan bandar udara
khusus untuk umum.
14. — 14. —
14. Pembentukan Komite Nasional
Fasilitasi (KOMNASFAL) Udara.
15. Dapat menjadi anggota 15. —
15. Pembentukan Komite Fasilitasi KOMFAL apabila bandar
(KOMFAL) bandar udara. udara berdekatan dengan
wilayah kerjanya.

16. Pemantauan terhadap 16. —


16. Penetapan batas-batas pelaksanaan penetapan
kawasan keselamatan operasi batas-batas kawasan
bandar udara umum yang keselamatan operasi
melayani pesawat udara ≥ 30 bandar udara umum yang
tempat duduk. melayani pesawat udara ≥
30 tempat duduk dan
melaporkan ke
- 261 -
SUB – SUB PEMERINTAHAN DAERAH PEMERINTAHAN DAERAH
SUB BIDANG PEMERINTAH
BIDANG PROVINSI KABUPATEN/KOTA
pemerintah, pada bandar
udara yang belum terdapat
kantor adbandara.

17. Pemantauan terhadap 17. —


17. — pelaksanaan penetapan
batas-batas kawasan
keselamatan operasi
bandar udara umum yang
melayani pesawat udara ≥
30 tempat duduk dan
melaporkan ke
pemerintah, pada bandar
udara yang belum terdapat
kantor adbandara.

18. — 18. —
18. Pemberian tindakan korektif
terhadap pelanggaran
ketentuan-ketentuan di bidang
bandar udara.
19. — 19. —
19. Penetapan standar dan
persyaratan peralatan
penunjang operasi pesawat
- 262 -
SUB – SUB PEMERINTAHAN DAERAH PEMERINTAHAN DAERAH
SUB BIDANG PEMERINTAH
BIDANG PROVINSI KABUPATEN/KOTA
udara.
20. — 20. —
20. Pengawasan dan pengendalian
berlakunya standar dan
persyaratan peralatan
pengoperasian bandar udara:
a. — a. —
a. Pemantauan terhadap
kelengkapan sertifikat
kelayakan operasi peralatan
penunjang pelayanan darat
pesawat udara.
b. — b. —
b. Penilaian terhadap
kemampuan peralatan
penunjang operasi bandar
udara.
c. — c. —
c. Tindakan korektif
terhadap peralatan
penunjang operasi bandar
udara dengan cara
memberikan laporan
kepada pemerintah. d. — d. —
- 263 -
SUB – SUB PEMERINTAHAN DAERAH PEMERINTAHAN DAERAH
SUB BIDANG PEMERINTAH
BIDANG PROVINSI KABUPATEN/KOTA
d. Sertifikat kelaikan
operasi peralatan
penunjang pelayanan darat
pesawat udara diterbitkan
oleh pemerintah. e. — e. —

e. Pelaksanaan
pemeriksaan terhadap
peralatan pelayanan darat
pesawat udara dapat
dilaksanakan oleh badan
hukum yang memenuhi f. — f. —
persyaratan.

f. Pemberian arahan,
petunjuk pelaksanaan,
bimbingan dan penyuluhan
berlakunya standar dan
persyaratan peralatan
pengoperasian bandar 21. — 21. —
udara.

21. Penetapan standar dan 22. — 22. —


persyaratan peralatan
- 264 -
SUB – SUB PEMERINTAHAN DAERAH PEMERINTAHAN DAERAH
SUB BIDANG PEMERINTAH
BIDANG PROVINSI KABUPATEN/KOTA
pengoperasian bandar udara.

22. Pengawasan dan pengendalian


berlakunya standar dan
persyaratan peralatan a. — a. —
penunjang operasi pesawat
udara:

a. Pemeriksaan secara berkala


dan insidentil terhadap
berlakunya standar dan
persyaratan peralatan b. — b. —
penunjang operasi pesawat
udara.

b. Pemberian rekomendasi
atau teguran apabila tidak
sesuai dengan standar yang
telah ditetapkan. c. — c. —

c. Pemberian arahan dan


petunjuk pelaksanaan
berlakunya standar dan
- 265 -
SUB – SUB PEMERINTAHAN DAERAH PEMERINTAHAN DAERAH
SUB BIDANG PEMERINTAH
BIDANG PROVINSI KABUPATEN/KOTA
persyaratan peralatan d. — d. —
penunjang operasi pesawat
udara.

d. Pemberian bimbingan dan


penyuluhan terhadap
berlakunya standar dan
persyaratan peralatan 23. — 23. —
penunjang operasi pesawat
udara.

23. Pengawasan dan pengendalian


berlakunya standar dan a. — a. —
persyaratan peralatan
pengoperasian bandar udara.

a. Pemantauan terhadap
kelengkapan sertifikat b. — b. —
kelayakan operasi peralatan
penunjang pelayanan darat
pesawat udara.
b. Penilaian terhadap
kemampuan peralatan c. — c. —
penunjang operasi bandar
udara.
- 266 -
SUB – SUB PEMERINTAHAN DAERAH PEMERINTAHAN DAERAH
SUB BIDANG PEMERINTAH
BIDANG PROVINSI KABUPATEN/KOTA

c. Tindakan korektif terhadap


peralatan penunjang
operasi bandar udara d. — d. —
dengan cara memberikan
laporan kepada pemerintah.

d. Sertifikat kelaikan operasi


peralatan penunjang
pelayanan darat pesawat e. — e. —
udara diterbitkan oleh
pemerintah.

e. Pelaksanaan pemeriksaan
terhadap peralatan
pelayanan darat pesawat
udara dapat dilaksanakan f. — f. —
oleh badan hukum yang
memenuhi persyaratan.

f. Pemberian arahan, petunjuk


pelaksanaan, bimbingan
dan penyuluhan berlakunya
standar dan persyaratan 24. Ijin pembangunan bandar 24. —
peralatan pengoperasian udara khusus yang
- 267 -
SUB – SUB PEMERINTAHAN DAERAH PEMERINTAHAN DAERAH
SUB BIDANG PEMERINTAH
BIDANG PROVINSI KABUPATEN/KOTA
bandar udara. melayani pesawat udara
dengan kapasitas < 30
24. — (tiga puluh) tempat duduk
dan ruang udara
disekitarnya tidak
dikendalikan dan terletak
dalam 2 (dua)
kabupaten/kota dalam 1
(satu) provinsi, sesuai
dengan batas kewenangan
wilayahnya.
Pemberitahuan pemberian
ijin pembangunan bandar
udara khusus.

25. —
25. —

26. —
25. Penetapan tatanan 26. —
kebandarudaraan nasional.

26. Pengawasan dan pengendalian 27. —


pembangunan bandar udara 27. —
umum.
- 268 -
SUB – SUB PEMERINTAHAN DAERAH PEMERINTAHAN DAERAH
SUB BIDANG PEMERINTAH
BIDANG PROVINSI KABUPATEN/KOTA

27. Tindakan korektif terhadap


penyimpangan rencana
pembangunan/pengembangan 28. —
dari ketetapan tatanan 28. Pemberian arahan dan
kebandarudaraan. petunjuk pelaksanaan
kepada penyelenggara
28. — bandar udara, serta kantor
terkait lainnya tentang
tatanan kebandarudaraan
dan memberikan
perlindungan hukum
terhadap lokasi tanah dan/
atau perairan serta ruang
udara untuk
penyelenggaraan bandar
udara umum serta
pengoperasian bandar
udara dalam bentuk
Peraturan Pemerintah
Daerah.
29. —
29. —
- 269 -
SUB – SUB PEMERINTAHAN DAERAH PEMERINTAHAN DAERAH
SUB BIDANG PEMERINTAH
BIDANG PROVINSI KABUPATEN/KOTA
29. Pengaturan sistem pendukung
penerbangan di bandar udara
(peralatan penunjang 30. —
penerbangan dan penunjang 30. —
operasi bandar udara).

30. Pengawasan dan pengendalian


sistem pendukung
penerbangan di bandar udara
(peralatan penunjang 31. —
penerbangan dan penunjang 31. —
operasi bandar udara).

31. Pemeriksaan secara berkala


dan insidentil terhadap sistem
pendukung penerbangan di
bandar udara (peralatan
penunjang penerbangan dan 32. —
penunjang operasi bandar 32. —
udara).

32. Pemberian rekomendasi/


teguran apabila sistem
pendukung penerbangan di
bandar udara (peralatan
- 270 -
SUB – SUB PEMERINTAHAN DAERAH PEMERINTAHAN DAERAH
SUB BIDANG PEMERINTAH
BIDANG PROVINSI KABUPATEN/KOTA
penunjang penerbangan dan
penunjang operasi bandar 33. —
udara) tidak sesuai dengan 33. —
standar yang telah ditetapkan.

33. Pemberian arahan, petunjuk


pelaksanaan, bimbingan dan
penyuluhan berlakunya sistem
pendukung penerbangan di
bandar udara (peralatan
penunjang penerbangan dan
penunjang operasi bandar
udara). 34. —
34. —

34. Penetapan standar rencana


induk bandar udara, Kawasan
Keselamatan Operasi
Penerbangan (KKOP) di sekitar
bandar udara, kawasan
kebisingan dan daerah 35. —
lingkungan kerja di sekitar 35. —
bandar udara.
- 271 -
SUB – SUB PEMERINTAHAN DAERAH PEMERINTAHAN DAERAH
SUB BIDANG PEMERINTAH
BIDANG PROVINSI KABUPATEN/KOTA
35. Rekomendasi mendirikan
bangunan pada rencana induk
bandar udara, KKOP di sekitar
bandar udara, kawasan
kebisingan di sekitar bandar
udara dan DLKr yang telah
ditetapkan pada bandar udara
pusat penyebaran dan bukan
pusat penyebaran yang ruang
udara di sekitarnya
dikendalikan.
4. Keselamatan 1. —
Penerbangan 1. —
(Kespen)

1. Penetapan norma, standar, 2. —


prosedur, dan kriteria di bidang 2. —
kespen.
3. —
2. Audit terkait dengan sertifikasi 3. Pemantauan terhadap
operasi bandar udara. personil fasilitas/peralatan
elektonika dan listrik
3. Sertifikasi personil penerbangan dan
fasilitas/peralatan elektronika melaporkan ke
dan listrik penerbangan. pemerintah, pada bandar
udara yang belum terdapat
- 272 -
SUB – SUB PEMERINTAHAN DAERAH PEMERINTAHAN DAERAH
SUB BIDANG PEMERINTAH
BIDANG PROVINSI KABUPATEN/KOTA
kantor adbandara.
4. —
4. Pemantauan terhadap
sertifikasi
fasilitas/peralatan
4. Sertifikasi fasilitas/peralatan elektonika dan listrik
elektronika dan listrik penerbangan dan
penerbangan. melaporkan ke
pemerintah, pada bandar
udara yang belum terdapat
kantor adbandara. 5. —
5. Pemantauan terhadap
kegiatan GSE dan
melaporkan ke
5. Sertifikasi fasilitas/peralatan pemerintah, pada bandar
GSE. udara yang belum terdapat
kantor adbandara.
6. —
6. —

7. —
6. Sertifikasi personil navigasi 7. —
penerbangan.

7. Melakukan pemantauan 8. —
terhadap personil navigasi 8. Pemantauan terhadap
- 273 -
SUB – SUB PEMERINTAHAN DAERAH PEMERINTAHAN DAERAH
SUB BIDANG PEMERINTAH
BIDANG PROVINSI KABUPATEN/KOTA
penerbangan. personil GSE dan
melaporkan ke
8. Sertifikasi personil GSE. pemerintah, pada bandar
udara yang belum terdapat
kantor adbandara.

9. —
9. —

9. Penetapan persetujuan
pemberian izin (pengangkutan 10. —
angkutan bahan dan/atau 10. —
barang berbahaya).

10. Penetapan standar persyaratan 11. —


pengangkutan bahan dan/atau 11. Pemantauan terhadap
barang berbahaya. pelaksanaan
penetapan/izin operasi
11. Penetapan/izin operasi bandar bandar udara umum yang
udara umum yang melayani melayani pesawat udara ≥
pesawat udara ≥ 30 tempat 30 tempat duduk dan
- 274 -
SUB – SUB PEMERINTAHAN DAERAH PEMERINTAHAN DAERAH
SUB BIDANG PEMERINTAH
BIDANG PROVINSI KABUPATEN/KOTA
duduk. melaporkan ke
pemerintah, pada bandar
udara yang belum terdapat
kantor adbandara.
12. —
12. Pemantauan terhadap
pelaksanaan
penetapan/izin operasi
12. Penetapan/izin operasi bandar bandar udara khusus yang
udara khusus yang melayani melayani pesawat udara ≥
pesawat udara ≥ 30 tempat 30 tempat duduk dan
duduk. melaporkan ke
pemerintah, pada bandar
udara yang belum terdapat
kantor adbandara.
13. —
13. Pemantauan terhadap
pelaksanaan standar
operasi prosedur yang
13. Penetapan standar operasi terkait dengan
prosedur yang terkait dengan pengamanan bandar udara
pengamanan bandar udara. dan melaporkan ke
pemerintah, pada bandar
udara yang belum terdapat
kantor adbandara.
- 275 -
SUB – SUB PEMERINTAHAN DAERAH PEMERINTAHAN DAERAH
SUB BIDANG PEMERINTAH
BIDANG PROVINSI KABUPATEN/KOTA
14. —
14. —

14. Penetapan standar dan


persyaratan peralatan 15. —
pelayanan navigasi 15. —
penerbangan.

15. Pengawasan dan pengendalian


berlakunya standar dan
persyaratan peralatan a. —
pelayanan navigasi a. —
penerbangan.

a. Pemeriksaan secara berkala


dan insidentil terhadap
berlakunya standar dan
persyaratan peralatan b. —
pelayanan navigasi b. —
penerbangan.

b. Pemberian rekomendasi
atau teguran apabila tidak c. —
sesuai dengan standar yang c. —
- 276 -
SUB – SUB PEMERINTAHAN DAERAH PEMERINTAHAN DAERAH
SUB BIDANG PEMERINTAH
BIDANG PROVINSI KABUPATEN/KOTA
telah ditetapkan.

c. Pemberian arahan, petunjuk


pelaksanaan, bimbingan
dan penyuluhan berlakunya
standar dan persyaratan
peralatan pelayanan
navigasi penerbangan. 16. —
16. —

17. —
16. Penetapan pelayanan navigasi 17. —
penerbangan di bandar udara.

17. Sertifikat personil


pengangkutan bahan dan/atau a. —
barang berbahaya: a. —

a. Pemerintah melakukan
supervisi dalam proses b. —
pelaksanaan penerbitan b. —
sertifikat.

b. Pemerintah dapat
- 277 -
SUB – SUB PEMERINTAHAN DAERAH PEMERINTAHAN DAERAH
SUB BIDANG PEMERINTAH
BIDANG PROVINSI KABUPATEN/KOTA
melakukan tindakan
korektif (peringatan,
pembekuan atau c. —
pencabutan) bilamana c. —
terdapat pelanggaran dari
kewenangan yang
diberikan.

c. Dalam melakukan supervisi


pemerintah dapat langsung 18. —
berhubungan dengan Dinas 18. —
Perhubungan Provinsi atau
personil yang diberikan 19. —
otorisasi. 19. —

18. Sertifikasi peralatan penunjang 20. —


operasi pesawat udara. 20. —

19. Sertifikasi peralatan


pengoperasian bandar udara. 21. —
21. —
20. Sertifikasi peralatan pelayanan
keamanan dan keselamatan 22. —
perusahaan angkutan udara. 22. —
- 278 -
SUB – SUB PEMERINTAHAN DAERAH PEMERINTAHAN DAERAH
SUB BIDANG PEMERINTAH
BIDANG PROVINSI KABUPATEN/KOTA
21. Sertifikasi personil operasi a. —
pesawat udara. a. —

22. Sertifikasi personil pelayanan


pengoperasian bandar udara.
b. —
a. Pemerintah melakukan b. —
supervisi dalam proses
pelaksanaan penerbitan
sertifikat.

b. Pemerintah dapat
melakukan tindakan c. —
korektif (peringatan, c. —
pembekuan atau
pencabutan) bilamana
terdapat pelanggaran dari
kewenangan yang
diberikan. 23. —
23. —
c. Dalam melakukan supervisi
pemerintah dapat langsung
berhubungan dengan Dinas a. —
Provinsi atau Personil yang a. —
diberikan otorisasi.
- 279 -
SUB – SUB PEMERINTAHAN DAERAH PEMERINTAHAN DAERAH
SUB BIDANG PEMERINTAH
BIDANG PROVINSI KABUPATEN/KOTA

23. Sertifikasi personil pelayanan


keamanan dan keselamatan
perusahaan angkutan udara:
b. —
a. Pemerintah melakukan b. —
supervisi dalam proses
pelaksanaan penerbitan
sertifikat.

c. —
b. Pemerintah dapat c. —
melakukan tindakan
korektif (peringatan,
pembekuan atau
pencabutan) bilamana
terdapat pelanggaran dari 24. —
kewenangan yang 24. —
diberikan.

c. Dalam melakukan supervisi a. —


Pemerintah dapat langsung a. —
berhubungan dengan Dinas
Provinsi atau Personil yang
- 280 -
SUB – SUB PEMERINTAHAN DAERAH PEMERINTAHAN DAERAH
SUB BIDANG PEMERINTAH
BIDANG PROVINSI KABUPATEN/KOTA
diberikan otorisasi.

24. Pengesahan program


penanggulangan gawat darurat b. —
di bandar udara. b. —

a. Dalam melakukan supervisi


Pemerintah dapat langsung
berhubungan dengan Dinas
Perhubungan Provinsi atau
Personil yang diberikan
otorisasi. 25. —
25. —
b. Personil yang memiliki
kualifikasi yang dibuktikan a. —
dengan letter of a. —
authorization/sertifikat
otorisasi pemerintah. Masa
berlaku otorisasi 1 tahun
dan dapat diperpanjang. b. —
b. —
25. Pengesahan program
pengamanan bandar udara:

a. Pemerintah melakukan
- 281 -
SUB – SUB PEMERINTAHAN DAERAH PEMERINTAHAN DAERAH
SUB BIDANG PEMERINTAH
BIDANG PROVINSI KABUPATEN/KOTA
supervisi dalam proses
pelaksanaan pengesahan
sertifikat. c. —
c. —
b. Pemerintah dapat
melakukan tindakan
korektif (peringatan,
pembekuan atau
pencabutan) bilamana
terdapat pelanggaran dari 26. —
kewenangan yang 26. Membantu kelancaran
diberikan. pemeriksaan pendahuluan
kecelakaan pesawat udara:

c. Dalam melakukan supervisi a. Membantu kelancaran


pemerintah dapat langsung Tim investigasi dalam
berhubungan dengan Dinas pencapaian lokasi
Perhubungan Provinsi atau kecelakaan.
Personil yang diberikan
b. Membantu kelancaran
otorisasi.
dalam melaksanakan
tugas monitor pesawat
26. Penelitian awal terhadap
udara milik pemerintah
insiden di appron berdasarkan
dan dalam
peraturan pemerintah:
melaksanakan
koordinasi dengan unit
- 282 -
SUB – SUB PEMERINTAHAN DAERAH PEMERINTAHAN DAERAH
SUB BIDANG PEMERINTAH
BIDANG PROVINSI KABUPATEN/KOTA
terkait.

c. Membantu kelancaran
keimigrasian Tim
Investigasi warga asing.