Anda di halaman 1dari 26

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah


Dalam rangka konvergensi dengan International Accounting Standards (IAS)
dan International Financial Reporting Standards (IFRS), sejak Desember 2006
sampai dengan pertengahan tahun 2007 kemarin. Bank Indonesia mewajibkan
bank menggunakan laporan keuangan dengan mengacu pada revisi PSAK
50/2006 dan PSAK 55/2006 rencana semula mulai 2009 sementara standar
akuntansi internasional akan diadopsi penuh pada 2010.

Namun Dewan Standar Akuntansi Keuangan Ikatan Akuntan Indonesia


(DSAK-IAI) menunda penghapusan PSAK 31/2000 hingga akhir 2009,
menyusul penangguhan setahun penerapan laporan keuangan sesuai dengan
PSAK 50/2006 dan PSAK 55/2006. Dewan Standar Akuntansi Keuangan
(DSAK) Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) telah merevisi dan mengesahkan
lima Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK)

Tiga dari revisi PSAK tersebut berlaku efektif sejak tanggal 1 Januari 2008
yaitu PSAK No. 13 (revisi 2007) tentang Properti Investasi, PSAK No. 16
(revisi 2007) tentang Aset Tetap serta PSAK No. 30 (revisi 2007) tentang
Sewa.

Sedangkan dua PSAK lainnya, yaitu masing-masing PSAK No. 50 (revisi


2006) tentang Instrumen Keuangan : Penyajian dan Pengungkapan yang
menggantikan Akuntansi Investasi Efek Tertentu serta PSAK No. 55 (revisi
2006) tentang Instrumen Keuangan : Pengakuan dan Pengukuran yang
menggantikan Akuntansi Instrumen Derivatif dan Aktivitas Lindung Nilai
mulai berlaku efektif sejak tanggal 1 Januari 2009.

Adapun PSAK No. 50 (revisi 2006) sebagian besar sudah sesuai dengan
International Accounting Standards (IAS) No. 32 : Financial Instrument :

1
Presentation (Revised 2005) sedangkan PSAK No. 55 (revisi 2006) sebagian
besar sudah sesuai dengan IAS No. 39 :Financial Instrument : Recognition
and Measurement (Revised 2005).

Bank Indonesia mewajibkan bank menyajikan laporan keuangan dengan


mengacu pada PSAK No. 50 (revisi 2006) serta PSAK No. 55 (revisi 2006)
tersebut mulai tahun 2009 seperti yang ditulis dalam harian Bisnis Indonesia
terbitan 18 Januari 2008 kemarin.

Deputi Direktur Penelitian dan Pengaturan Perbankan BI I Gde Made Sadguna


menjelaskan pada harian Bisnis Indonesia bahwa sebagian besar standar
akuntansi untuk laporan keuangan bank disesuaikan dengan standar
internasional.

“PSAK 50 dan 55 sudah sesuai dengan International Financial Reporting


Standards (IFRS) dan berlaku 1 Januari 2009. Pada 2010 akan dilakukan
adopsi penuh tanpa diskresi,” katanya, seperti yang ditulis dalam harian Bisnis
Indonesia terbitan 18 Januari 2008 tersebut.

Adapun beberapa pengaturan dalam PSAK No. 50 dan PSAK No. 55 revisi
2006 tersebut secara mendasar merubah metode pengakuan dan pencatatan
yang diterapkan selama ini dan dampaknya akan merubah sistim pencatatan
bank khususnya, sehingga secara tidak langsung akan memerlukan
penyesuaian pada sistim internal bank.

Diharapkan dengan penerapan PSAK No. 50 dan PSAK No. 55 revisi 2006
tersebut secara tepat dan konsisten, laporan keuangan bank dapat disajikan
secara wajar dan memberikan informasi yang lebih bermanfaat bagi pembaca
laporan keuangan.

Namun, berkaitan dengan krisis finansial global yang melanda dunia dan turut
berdampak pada perekonomian di Indonesia, menyebabkan ketatnya likuiditas

2
perbankan sehingga beberapa waktu yang lalu pihak perbankan telah
mengajukan penundaan penerapan PSAK No. 50 dan PSAK No. 55 tersebut
kepada pemerintah (Bank Indonesia), dengan tujuan agar perbankan bisa lebih
bergerak dan likuiditas sedikit longgar.

1.2 Rumusan Masalah


Berdasarkan uraian yang dikemukakan di atas maka dapat dikemukakan
permasalahan dalam penulisan karya ilmiah ini adalah “bagaimana persepsi
perbankan terhadap PSAK 50 dan PSAK 55”.

1.3 Tujuan Penulisan


Tujuan dari penulisan ini adalah sejauh mana kesiapan perbankan dalam
menerapkan PSAK 50 dan PSAK 55.

1.4 Kegunaan Penulisan


1. Diharapkan dapat berguna sebagai penambah wawasan oleh pihak
perbankan dalam kesiapan penerapan PSAK 50 dan PSAK 55.
2. Bagi kalangan akademisi diharapkan karya ilmiah ini dapat bermanfaat
sebagai bahan referensi mengenai PSAK 50 dan PSAK 55.

3
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian Persepsi


Persepsi adalah suatu proses pengenalan atau identifikasi sesuatu dengan
menggunakan panca indera (Dreverdalam Sasanti, 2003). Kesan yang diterima
individu sangat tergantung pada seluruh pengalaman yang telah diperoleh
melalui proses berpikir dan belajar, serta dipengaruhi oleh faktor yang berasal
dari dalam diri individu.

Sabri (1993) mendefinisikan persepsi sebagai aktivitas yang memungkinkan


manusia mengendalikan rangsangan-rangsangan yang sampai kepadanya
melalui alat inderanya, menjadikannya kemampuan itulah dimungkinkan
individu mengenali milleu (lingkungan pergaulan) hidupnya. Proses persepsi
terdiri dari tiga tahap yaitu tahapan pertama terjadi pada pengideraan
diorganisir berdasarkan prinsip-prinsip tertentu, tahapan ketiga yaitu stimulasi
pada penginderaan diinterprestasikan dan dievaluasi.

Mar’at (1981) mengatakan bahwa persepsi adalah suatu proses pengamatan


seseorang yang berasal dari suatu kognisi secara terus menerus dan
dipengaruhi oleh informasi baru dari lingkungannya. Riggio (1990) juga
mendefinisikan persepsi sebagai proses kognitif baik lewat penginderaan,
pandangan, penciuman dan perasaan yang kemudian ditafsirkan.

Mar'at (Aryanti, 1995) mengemukakan bahwa persepsi di pengaruhi oleh


faktor pengalaman, proses belajar, cakrawala, dan pengetahuan terhadap objek
psikologis. Rahmat (dalam Aryanti, 1995) mengemukakan bahwa persepsi
juga ditentukan juga oleh faktor fungsional dan struktural. Beberapa faktor
fungsional atau faktor yang bersifat personal antara kebutuhan individu,
pengalaman, usia, masa lalu, kepribadian, jenis kelamin, dan lain-lain yang
bersifat subyektif. Faktor struktural atau faktor dari luar individu antara lain:
lingkungan keluarga, hukum-hukum yang berlaku, dan nilai-nilai dalam

4
masyarakat. Jadi, faktor-faktor yang mempengaruhi persepsi terdiri dari faktor
personal dan struktural. Faktor-faktor personal antara lain pengalaman, proses
belajar, kebutuhan, motif dan pengetahuan terhadap obyek psikologis. Faktor-
faktor struktural meliputi lingkungan keadaan sosial, hukum yang berlaku,
nilai-nilai dalam masyarakat.

Pelaku orang lain dan menarik kesimpulan tentang penyebab perilaku tersebut
atribusi dapat terjadi bila: 1). Suatu kejadian yang tidak biasa menarik
perhatian seseorang, 2). Suatu kejadian memiliki konsekuensi yang bersifat
personal, 3). Seseorang ingin mengetahui motif yang melatarbelakangi orang
lain (Shaver, 1981; Lestari, 1999).

Brems & Kassin (dalam Lestari, 1999) mengatakan bahwa persepsi sosial
memiliki beberapa elemen, yaitu:
a. Person, yaitu orang yang menilai orang lain.
b. Situasional, urutan kejadian yang terbentuk berdasarkan pengalaman
orang untuk meniiai sesuatu.
c. Behavior, yaitu sesuatu yang di lakukan oleh orang lain. Ada dua
pandangan mengenai proses persepsi, yaitu:
1) Persepsi sosial, berlangsung cepat dan otomatis tanpa banyak
pertimbangan orang membuat kesimpulan tentang orang lain dengan
cepat berdasarkan penampilan fisik dan perhatian sekilas.
2) Persepsi sosial, adalah sebuah proses yang kompleks, orang
mengamati perilaku orang lain dengan teliti hingga di peroleh analisis
secara lengkap terhadap person, situasional, dan behaviour.

Berdasarkan uraian diatas, maka dapat diambil kesimpulan bahwa persepsi


suatu proses aktif timbulnya kesadaran dengan segera terhadap suatu obyek
yang merupakan faktor internal serta eksternal individu meliputi keberadaan
objek, kejadian dan orang lain melalui pemberian nilai terhadap objek
tersebut. Sejumlah informasi dari luar mungkin tidak disadari, dihilangkan

5
atau disalahartikan. Mekanisme penginderaan manusia yang kurang sempurna
merupakan salah satu sumber kesalahan persepsi (Bartol & Bartol, 1994).

2.2 Definisi Perbankan


Menurut UU RI No 10 Tahun 1998 tanggal 10 November 1998 tentang
perbankan, dapat disimpulkan bahwa usaha perbankan meliputi tiga kegiatan,
yaitu menghimpun dana,menyalurkan dana, dan memberikan jasa bank
lainnya.Kegiatan menghimpun dan menyalurkan dana merupaka kegiatan
pokok bank sedangkan memberikan jasa bank lainnya hanya kegiatan
pendukung. Kegiatan menghimpun dana, berupa mengumpulkan dana dari
masyarakat dalam bentuk simpanan giro, tabungan, dan deposito. Biasanya
sambil diberikan balas jasa yang menarik seperti, bunga dan hadiah sebagai
rangsangan bagi masyarakat. Kegiatan menghimpun dana, berupa pemberian
pinjaman kepada masyarakat. Sedangkan jasa-jasa perbankan lainnya
diberikan untuk mendukung kelancaran kegiatan utama tersebut.

Menurut undang-undang pokok perbankan no.14 tahun 1967, bank adalah


lembaga keuangan yang usaha pokoknya memberikan kredit dan jasa-jasa
dalam bentuk lalu lintas pembayaran dan peredaran uang.
Bank adalah lembaga keuangan yang fungsi utamanya menyediakan jasa
intermediasi dan jasa keuangan lainnya kepada perusahaan dan rumah tangga,
dengan tujuan untuk memaksimumkan kekayaan pemilik.

Pengertian bank menurut fungsinya sebagai berikut :


 Fungsi utama bank :
- agent of trust
Dasar utama kegiatan perbankan adalah kepercayaan, baik dalam hal
penghimpunan dana maupun penyaluran dana.
- agent of development
- agent of services
Disamping melakukan kegiatan penghimpunan dan penyaluran dana, bank
juga memberikan penawaran jasa perbankan yang lain kepada masyarakat.

6
Dalam perkembangannya, secara umum bank melayani kegiatan seperti
berikut ini :
a. sebagai tempat untuk penitipan dan penyimpanan uang, bank
memberikan surat atau selembar kertas dalam bentuk :
• rekening koran atau giro yaitu simpanan yang setiap saat
dapat diminta kembali atau dipergunakan untuk melakukan
pembayaran dengan menggunakan check.
• deposito berjangka, yaitu simpanan yang dititipkan ke bank
untuk jangka waktu tertentu.
• Tabungan
b. sebagai lembaga pembeli atau penyalur kredit
c. sebagai perantara dalam lalu lintas pembayaran

 Fungsi untuk bank-bank komersial, dikelompokkan menjadi 3 macam :


a. Pembayaran
Penyelesaian transaksi keuangan. Sistem pembayaran juga melibatkan
penyelesaian transaksi kartu kredit, perbankan elektronik, transfer
kawat dan aspek lain dalam pergerakan dana.
b. Intermediasi Keuangan
Mendapatkan dana dari deposan dan lainnya, dan kemudian
meminjamkan kepada para peminjam.
c. Jasa-jasa keuangan lain
meliputi :
- menjalankan aktifitas OBS
- aktifitas-aktifitas yang berkaitan dengan asuransi dan sekuritas
- jasa perbendeharaan

2.3 PSAK 50 & 55


 PSAK No.50
PSAK No.50 tentang Akuntansi Investasi Efek Tertentu telah disetujui
oleh Komite Standar Akuntansi Keuangan pada tanggal 19 Juni 1998 dan

7
telah disahkan oleh Pengurus Pusat Ikatan Akuntan Indonesia pada tanggal
15 Juli 1998. Pernyataan ini tidak wajib diterapkan untuk unsur yang tidak
material (immaterial items).

PSAK 50 (Revisi) Hanya mengatur perlakuan akuntansi terkait dengan


penyajian dan pengungkapan seluruh instrumen keuangan termasuk
derivatif.

PSAK 50 (Revisi) mengatur penggungkapan untuk seluruh instrumen


derivatif dengan rinci.
Yang Harus Diungkapkan :
1. Format, Tempat dan Klasifikasi Instrumen Keuangan
2. Kebijakan Manajemen Risiko dan Aktivitas Lindung Nilai
3. Persyaratan, Kondisi dan Kebijakan Akuntansi
4. Risiko Tingkat Bunga
5. Risiko Kredit
6. Nilai wajar
7. Pengungkapan Lainnya:
a. Penghentian pengakuan
b. Jaminan
c. Instrumen Keuangan Majemuk dengan Beberapa Derivatif
Melekat
d. Instrumen Keuangan pada Nilai Wajar
e. Reklasifikasi/Penggolongan Kembali
f. Laporan Laba Rugi dan Ekuitas
g. Penurunan Nilai
h. Wanprestasi dan Pelanggaran

 PSAK No.55
PSAK No.55 (Revisi 1999) tentang Akuntansi Instrumen Derivatif Dan
Aktivitas Lindung Nilai telah disahkan oleh Dewan Standar Akuntansi
Keuangan pada tanggal 10 September 1999.

8
PSAK 55 tentang Akuntansi Instrumen Derivatif dan Aktivitas Lindung
Nilai dikeluarkan pada tanggal 21 September 1998. Standar ini mengatur
akuntansi instrumen derivatif, termasuk instrumen derivatif tertentu yang
melekat pada perjanjian lainnya, dan aktivitas hedging (lindung nilai).
Pernyataan ini sebelumnya akan diterapkan secara prospektif mulai
berlaku efektif untuk tahun buku yang dimulai setelah tanggal 1 Januari
2000.

Dari hasil pengamatan Dewan dalam melaksanakan sosialisasi atas PSAK


55, Dewan menerima banyak permohonan untuk mempertimbangkan
penundaan tanggal efektif pemberlakuan PSAK 55 ini. Badan usaha dan
auditor memohon penundaan tersebut untuk mempelajari, memahami dan
menerapkan ketentuanketentuan yang ada dalam pernyataan tersebut pada
transaksi perusahaan. Oleh karena itu, Dewan memutuskan untuk
menunda tanggal efektif pemberlakuan PSAK 55 sesuai dengan paragraf
63.

2.3.1 Tujuan PSAK 55 dan 50


1. Menetapkan prinsip penyajian instrument keuangan sebagai
kewajiban atau ekuitas dan untuk saling hapus aset keuangan
dengan kewajiban keuangan.
2. Prinsip-prinsip ini melengkapi prinsip pengakuran dan
pengukuran dalam PSAK 55 (2006).
3. Digunakan untuk mengundang investor baik di pasar modal
maupun pasar keuangan, serta sebagai prudential regulation yaitu
mendorong proses harmonisasi penyusunan dan analisis laporan
keuangan guna mendorong terciptanya disiplin pasar (market
discipline).

2.3.2 Manfaat PSAK 55 dan 50


Mengetahui dan memahami perubahan apa saja yang terdapat pada Revisi
PSAK Memahami bagaimana relevansi Revisi PSAK dalam setiap

9
transaksi bisnis serta pelaporan keuangan. Memperoleh gambaran
dalam melakukan antisipasi dengan timbulnya Revisi PSAK
Mendapatkan contoh – contoh real dari penerapan revisi PSAK
melalui studi kasus yang disajikan.

2.3.3 Fungsi PSAK 55 dan 50


Untuk meningkatkan penerapan PSAK No. 55 dan PSAK No.50
tentang keuangan sesuai PSAK dimaksud.hal ini dilaksanakan dalam
rangka mengantisipasi perubahan ketentuan perbankan tersebut,
sehingga diharapkan hal-hal tersebut dapat dipahami sebelum
diberlakukannya ketentuan penerapan PSAK 50 & 55.

10
BAB III
METODE PENELITIAN

3.1 Teknik Pengumpulan Data


Dalam penyusunan karya ilmiah ini penulis melakukan pengumpulan data
dengan menggunakan metode sebagai berikut :
a. Metode Observasi
Observasi yaitu teknik pengumpulan data dimana penulis melakukan
pengamatan terhadap media elektronik terhadap PSAK 50 dan 55 atas
persepsi perbankan.
b. Metode Studi Kepustakaan
Penelitian kepustakaan yaitu pengumpulan data yang didasarkan pada
literatur-literatur yang berhubungan langsung dengan PSAK.

3.2 Jenis dan Sumber Data


1. Jenis Data
Jenis data yang digunakan dalam penyusunan laporan ini adalah data
kualitatif yaitu data yang diperoleh dari hasil pengamatan dan literatur
berupa keterangan-keterangan atau tulisan-tulisan yang berhubungan
dengan persepsi perbankan terhadap PSAK 50 dan 55.
2. Sumber data
Sumber data yang digunakan dalam penyusunan karya ilmiah ini adalah :
a. Data primer adalah data yang diperoleh secara langsung melaui
pengamatan terhadap persepsi perbankan terhadap PSAK 50 dan 55.
b. Data sekunder adalah data yang diperoleh melalui beberapa sumber
yang telah ada, berupa literatur, karya ilmiah sebelumnya,
dokumentasian dan data-data yang berhubungan dengan tujuan
penulisan dan topik permasalahan dalam penyusunan karya ilmiah ini.

3.3 Metode Analisis


Metode analisis yang digunakan dalam penyusunan karya ilmiah ini adalah
metode deskriptif yaitu suatu metode yang digunakan dengan cara

11
mengumpulkan data-data yang kemudian dijadikan dasar dalam melakukan
analisis.

3.4 Pengambilan Kesimpulan


Kesimpulan yang dihasilkan merupakan jawaban atas tujuan penulisan karya
ilmiah ini yang bersumber dari hasil penelitian yang dilakukan oleh penulis.

3.5 Perumusan Saran atau Rekomendasi


Saran atau rekomendasi di rumuskan berdasarkan dari ide-ide penulis yang
bersumber dari hasil penilitian yang dilakukan oleh penulis.

12
BAB IV
PEMBAHASAN

4.1 Pekembangan Dunia Perbankan Saat Ini


 Asal mula kegiatan perbankan
Dalam perkembangan perbankan sejarah mencatat asal mula dikenalnya
kegiatan perbankan terjadi pada zaman kerajan di daratan eropa. Usaha
ini kemudian berkembang ke asia barat yang dibawa oleh para pedagang.
Selanjutnya perkembangan perbankan begitu cepat merambah ke benua
asia, afrika dan amerika dibawa oleh bangsa eropa pada saat melakukan
penjajahan ke negara jajahannya.

Kegiatan perbankan yang pertama adalah jasa penukaran uang. Oleh


karena itu, dalam sejarah perbankan, bank dikenal sebagai meja tempat
menukarkan uang. Penukaran uang dilakukan pedagang antar kerajaan
yang satu dengan kerajaan yang lain. Kegiatan penukaran uang sampai
sekarang masih dilakukan. Kegiatan penukaran uang saat ini dikenal
dengan nama pedagang valuta asing (money changer).

Kegiatan operasional perbankan kemudian berkembang lebih lengkap


menjadi tempat penitipan uang atau yang disebut sekarang ini kegiatan
simpanan. Berikutnya kegiatan perbankan bertambah lagi dengan
kegiatan peminjaman uang (memberikan kredit). Uang yang dititipkan
masyarakat ke bank dalam bentuk simpanan oleh perbankan
dipinjamkan kembali ke masyarakat yang membutuhkan dalam bentuk
pinjaman atau kredit.

Dalam perkembangan selanjutnya jasa-jasa bank berkembang sesuai


perkembangan zaman dan kebutuan masyarakat yang semakin beragam.
Dengan meningkatnya kebutuhan masyarakat akan jasa keuangan, maka
peranan dunia perbankan semakin dibutuhkan oleh seluruh lapisan

13
masyarakat, baik yang berada di negara maju maupun negara
berkembang.

 Sejarah Perbankan
Kegiatan perbankan dikenal mulai zaman babilonia, kemudian
berkembang ke zaman yunani kuno serta zaman romawi. Seiring dengan
perkembangan perdagangan dunia, maka perbankan pun semakin pesat.
Hal ini disebabkan karena perkembangan dunia perbankan tidak terlepas
dari perkembangan perdagangan.

Perkembangan perbankan di indonesia juga tidak terlepas dari zaman


penjajahan hindia-belanda tempo dulu. Pada saat itu terdapat beberapa
bank yang memegang peranan penting dalam pemerintahan penjajahan
belanda. Kemerdekaan bangsa indonesia pada tanggal 17 agusutus 1945
telah mengubah peta perbankan di indonesia. Jumlah perbankan di
indonesia bertambah dari segi kuantitas maupun kualitas pelayanan.
Bank-bank yang ada pada awal kemerdekaan :
a.Bank Rakyat Indonesia yang didirikan pada tanggal 22 februari
1946. bank ini berasal dari DEALGEMENE VOLKCREDIET bank
atau syomin ginko.
b. Bank Negara Indonesia yang didirikan tanggal 5 juli 1946
kemudian menjadi BNI 1946.
c.Bank Surakarta MAI (maskapai adil makmur) tahun 1945 di solo.
d. Bank Indonesia di Palembang tahun 1946.
e.Bank Dagang Nasional Indonesia tahun 1946 di Medan.
f. Indonesian Banking Corporation tahun 1947 di Yogyakarta,
kemudian menjadi Bank Amerta.
g. NV Bank Sulawesi di Manado tahun 1946
h. Bank Dagang Indonesia NV di Banjarmasin tahun 1949.
i. Kalimantan Corporation Tradding di Samarinda tahun 1950
kemudian merger dengan Bank Pasifik.

14
j. Bank Timur NV di Semarang berganti nama menjadi bank gemari,
kemudian merger dengan Bank Central Asia (BCA) tahun 1949.

Sejarah perbankan di Indonesia dimulai dari didirikannya Bank Sentral


pada zaman penjajahan Belanda dengan nama De Javasche Bank pada
tanggal 10 Oktober 1827, hal ini merupakan bukti bahwa perbankan di
bumi nusantara ini sampai sekarang telah berkiprah lebih dari 160 tahun.

Peranan perbankan sangat mempengaruhi perekonomian suatu negara,


dengan kata lain bank dapat dikatakan sebagi darahnya perekonomian
suatu negara. Begitu pentingnya dunia perbankan, sehingga ada
anggapan bahwa bank merupakan ”nyawa” untuk menggerakkan roda
perekonomian suatu negara.

Sebagai perantara keuangan, bank akan memperoleh keuntungan dari


selisih bunga yang diberikan kepada penyimpanan (bunga simpanan)
dengan bunga yang diterima dari peminjam (bunga kredit). Keuntungan
ini dikenal dengan istilah spread based.

Dalam perkembangan dunia perbankan saat ini, dapat terlihat diberbagai


sektor, seperti teknologi informasi berupa:
 Internet banking
Internet banking merupakan layanan perbankan yang memiliki banyak
sekali manfaatnya bagi pihak bank sebagai penyedia dan nasabah
sebagai penggunanya. Transaksi melalui media layanan internet banking
dapat dilakukan dimana saja dan kapan saja. Melalui internet banking,
layanan konvensional bank yang komplek dapat ditawarkan relatif lebih
sederhana, efektif, efisien dan murah. Internet banking menjadi salah
satu kunci keberhasilan perkembangan dunia perbankan modern dan
bahkan tidak menutup kemungkinan bahwa dengan internet banking,
keuntungan (profits) dan pembagian pasar (marketshare) akan semakin
besar dan luas.

15
Namun, meskipun dunia perbankan memperoleh manfaat dari
penggunaan internet banking, terdapat pula resiko-resiko yang melekat
pada layanan internet banking, seperti resiko strategik, resiko reputasi,
resiko operasional termasuk resiko keamanan dan resiko hukum, resiko
kredit, resiko pasar dan resiko likuiditas. Oleh sebab itu, Bank Indonesia
sebagai lembaga pengawas kegiatan perbankan di Indonesia
mengeluarkan Peraturan Bank Indonesia No. 9/15/PBI/2007 Tentang
Penerapan Manajemen Resiko Dalam Penggunaan Teknologi Informasi
Pada Bank Umum agar setiap bank yang menggunakan Teknologi
Informasi khususnya internet banking dapat meminimalisir resiko-resiko
yang timbul sehubungan dengan kegiatan tersebut sehingga
mendapatkan manfaat yang maksimal dari internet banking.

Refleksi Perkembangan Teknologi Informasi Dalam Dunia Perbankan


Di era globalisasi dan tingkat turbulensi persaingan bisnis yang tinggi
dalam saat ini, kehadiran komputer bagi suatu perusahaan sudah
dirasakan sebagai kebutuhan yang krusial untuk kemajuan dan
keberhasilan bisnis sehingga bukan lagi sebagai kebutuhan pendukung
dari manajemen. Kehadiran komputer sebagai alat untuk mengolah data
berdampak besar bagi perusahaan baik dalam manajemen strategik
maupun manajemen operasional, biasanya tercermin dalam tahapan
planning, implementing, monitoring, dan controlling. Kebutuhan
penggunaan alat bantu dalam pengolahan data sesungguhnya sudah
dikenal dari zaman dahulu.

Konon alat yang digunakan untuk pengolahan data pada zaman


purbakala adalah dengan penggunaan tulang yang difungsikan sebagai
pengingat, alat komunikasi, penghitung umur dan pengukur jarak. Di
samping itu bisa juga penggunaan batu karang, lempengan tanah liat,
batu terstruktur, lempengan kayu, simpulan tali, dan kulit binatang
sebagai alat untuk mencatat, berkomunikasi, bertransaksi dan berhitung.
Bangsa Yunani dan Romawi (400 SM) tercatat sebagai bangsa yang

16
mempopulerkan penggunakan lempengan kayu, tulang, lilin dan
tembaga metal untuk pembuatan catatan dalam perhitungan hutang
piutang, pengeluaran, dan pencatatan harta yang dimiliki pertama kali.
Setelah abad 19 terjadi peralihan dari alat manual ke alat mekanik dan
mekanik-elektronik.

4.2 Kesiapan Perbankan Dalam Penerapan PSAK 50 dan 55


4.2.1 Penerapan Perbankan Saat Ini
Dewan Standar Akuntansi Keuangan telah menerbitkan Pernyataan
Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) No. 50 revisi 2006 mengenai
Instrumen Keuangan “ Penyajian dan Pengungkapan” dan Pernyataan
Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) No. 55 revisi 2006 mengenai
Instrumen Keuangan “Pengakuan dan Pengukuran” dimana PSAK 50
dan PSAK 55 tersebut akan berlakuk efektif mulai 1 Januari 2010.

Beberapa pengaturan dalam PSAK dimaksud bahkan memerlukan


perubahan pola pikir dan penyesuaian sistem internal bank. Penerapan
peraturan ini tidak mungkin ditunda, karena justru akan mempersulit
posisi bank dalam menghadapi persaingan global yang semakin ketat
serta memperbesar masalah yang akan dihadapi.
PSAK 50 dan 55 merupakan standar akuntansi mengacu pada
International Accounting Standard (IAS) 39 mengenai Recognition
and Measurement of Financial Instruments dan IAS 32 mengenai
Presentation and Disclosures of Financial Instruments. PSAK 50 dan
55 diharapkan dapat mendorong proses harmonisasi penyusunan dan
analisis laporan keuangan. Itu juga akan mendorong terciptanya
market discipline.

Bank Indonesia melalui Surat Edaran Bank Indonesia No. 11/ 4 /DPNP
tentang Pelaksanaan Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia
mengharuskan Bank menerapkan PAPI 2008 sebagai acuan dalam

17
menyusun dan menyajikan laporan keuangan, selain PSAK dan
ketentuan lain yang berlaku.

PAPI merupakan petunjuk pelaksanaan yang berisi penjabaran lebih


lanjut dari beberapa Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK)
yang relevan bagi industri perbankan. PAPI juga mencakup penjabaran
lebih lanjut dari PSAK No. 50 (Revisi 2006) tentang Instrumen
Keuangan: Penyajian dan Pengungkapan, dan PSAK No. 55 (Revisi
2006) tentang Instrumen Keuangan: Selain itu Bank Indonesia juga
melalui surat edaran No. 10/537/DPNP tanggal 2 September 2008
diharapkan perbankan melakukan persiapan dari segi tenaga pelaksana
(sumber daya manusia).

Pernyataan standar akuntansi keuangan (PSAK) 50 dan 55 (revisi


2006) baru akan efektif keseluruhan pada 2012 termasuk
memperhitungkan cadangan kerugian penurunan nilai (CKPN) dengan
mengacu pada data historis selama 3-5tahun.

Deputi Direktur Pengawasan II BI Duddy Iskandar menuturkan PSAK


revisi 2006 sebenarnya mulai berlaku sejak Januari 2010, namun
masalahnya tidak semua bank memiliki data yang tersusun rapih (data
series) dalam Kewajiban Pencatatan data historis.

Misalnya, pencatatan kerugian historis di bidang perkreditan itu harus


lengkap termasuk memasukan kredit bermasalah secara detil. Hal itu,
akan digunakan untuk kepentingan perhitungan cadangan kerugian
penurunan nilai (CKPN) atas kredit tersebut.

PSAK 50 dan 55 (revisi 2006) merupakan standar pembukuan yang


mencakup pancatatan produk dan hasil transaksi keuangan bagi
lembaga keuangan termasuk bank. Akuntansi baru itu, mengacu pada
standar akuntansi internasional International Accounting Standard

18
nomor 39) sebagai pengukuran instrumen keuangan yang diakui secara
global.

Tujuannya untuk menyajikan hasil transaksi dan kinerja keuangan


suatu perusahaan ke publik, agar mendapatkan kepercayaan pasar dan
investor. Penerapan PSAK itu memiliki tujuan strategis diantaranya
digunakan untuk mengundang investor baik di pasar modal maupun
pasar keuangan, serta sebagai prudential regulation yaitu mendorong
proses harmonisasi penyusunan dan analisis laporan keuangan guna
mendorong terciptanya disiplin pasar (market discipline).

Bagi perbankan, tambahnya, ditekankan harus mencapai tiga sasaran


yakni laporan keuangan harus menjadi berstandar internasional,
memberi kemudahan bagi investor dan kreditur asing dalam
memahami kinerja perbankan, serta mempertahankan peluang listing
di luar negeri bagi perbankan Indonesia.

Yang menjadi hambatan utama dalam penerapan adalah masalah


pengembangan infrastruktur khususnya teknologi informasi dimana
dalam model lama masih mengacu kepada nilai buku bukan nilai wajar
sebagaimana PSAK 55.

Namun demikian, sebelum terbitnya PSAK 55, beberapa bank besar


telah melakukan persiapan dengan berpedoman kepada standar
internasional dan juga telah menyiapkan infratstruktur teknologinya
serta menyajikan laporannya secara 'dual system' (berdasarkan nilai
buku untuk regulasi dan nilai wajar untuk kebutuhan internal).

Tersedianya infrastruktur teknologi informasi di bank yang


mampu mendukung pelaksanaan PSAK 50 & 55 merupakan salah
satu faktor pendukung. Faktor lain yang lebih penting adalah

19
kesiapan SDM yang terlibat di dalamnya. Waktunya sudah sangat
mendesak untuk mempersiapkannya.

Dalam PBI No.8/2006 tentang Transparansi Kondisi Keuangan


BPR, disebutkan laporan Keuangan BPR disusun berdasarkan
PSAK yang berlaku. PSAK 50 dan 55 adalah PSAK yang wajib
diterapkan pada perbankan. BPR, sama dengan bank umum,
adalah usaha perbankan sebagaimana yang diatur pada UU
No.10/1998. Dengan demikian, belum ada landasan hukum untuk
mengecualikan BPR dari pelaksanaan PSAK 50 dan 55. Memang
ada yang sempat menyarankan BPR masuk dalam Standar
Akuntansi Usaha Mikro, Kecil dan Menengah, sebagaimana yang
dimaksud dalam UU No.20/2008. Tetapi tidak masuk, karena
volume usaha Mikro itu Rp 300 juta/tahun; usaha Kecil memiliki
volume usaha Rp 2,5 Milyar/Tahun; Volume usaha Menengah Rp
50 Milyar/Tahun. Bagi BPR tidak masuk, karena volume usaha
BPR itu antara Rp 500 Juta sampai Rp 1,5 Triliun.

Kalau diterapkan PSAK 50 dan 55 di BPR mungkin tidak serumit


di Bank Umum, karena di BPR kan tidak ada transaksi lindung
nilai (hedging), forward , dll. Jadi, sistemnya lebih sederhana.

Penerapan PSAK 50 dan PSAK 55


Oleh Fajar Sidik Bisms Indonesia Jakarta Penerapan Pernyataan
Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) 50 dan 55 serta perhitungan
risiko operasional (standar Basel II) terhadap perbankan masih dalam
masa transisi dan akan berlaku sepenuhnya pada tahun depan. Deputi
Gubernur Bank Indonesia Muliaman Darmansyah Hadad menjelaskan
penerapan PSAK 50 dan 55 tentang instrumen keuangan tidak bisa
dihindari, karena kesepakatan umum sebagai sistem akuntansi yang
harus dipatuhi. Namun, pelaksanaannya bagi perbankan nasional
dilakukan bertahap.

20
Saat ini, lanjutnya, penerapan PSAK masih dalam masa transisi selama
setahun, sambil mempelajari penerapan di beberapa negara yang juga
ada persoalan seperti Singapura dan Australia. Selain itu, kata
Muliaman, pembebanan modal untuk memenuhi perhitungan risiko
operasional ditempuh bertahap. Langkah ini dimulai dengan
pembebanan modal inti terhadap risiko operasional ditetapkan di skala
5% pada semester I 2010. Sedangkan semester berikutnya menjadi
10% sampai 2011 harus sepenuhnya menjadi 15%.

Menurut dia, kecukupan modal suatu bank tidak bisa hanya diukur dari
risiko pasar dan kredit, tapi harus memasukkan risiko operasional
supaya mencerminkan keadaan. Pemenuhan modal inti sangat penting
bagi regulator, investor maupun nasabah untuk memastikan kesiapan
bank terhadap profil risiko yang dihadapi.

"Kami sudah hitung dan membuat simulasi, berapa kira-kira rasio


kecukupan modal akan berkurang jika 15% risiko operasional
diberlakukan. Kalau tingkat kesiapan dari setiap bank itu ditentukan
oleh SDM dan dukungan teknologinya yang harus dipenuhi sesuai
standar," jelasnya pekan lalu.

Direktur Direktorat Penelitian dan Pengaturan Perbankan Bank


Indonesia Halim Alamsyah menjelaskan PSAK 50 dan 55 mengubah
pencatatan pada beberapa pos sehingga lebih terlihat kinerja dari bisnis
inti dan bisnis pelengkap bank. Data ini, tuturnya, bisa membantu
regulator untuk menganalisis perbankan.

Lebih transparan beberapa ketentuan, lanjutnya, pencatatannya


menjadi lebih transparan seperti pembedaan kredit yang komitmennya
telah ada dan yang belum terkait dengan kewajiban penyediaan
pencadangan. Selama ini. pencatatan kredit tidak membedakan hal itu.

21
"Memang PSAK yang baru, membuat bank menjadi lebih baik, dan
buat otoritas menjadi lebih mudah memberikan solusi dalam
kebijakan." Halim memaparkan untuk pemenuhan risiko operasional
terdapat dua pendekatan yang bisa digunakan yaitu pendekatan
indikator dasar yaitu memenuhi risiko opera-sioal bertahap 15% dan
pendekatan standar.

Beberapa bank yang besar di usaha mikro kecil dan menengah


IUMKMI. cenderung memilih metode standar karena bisa mengurangi
pembebanan atas modal menjadi lebih kecil. Namun, sejumlah bank
justru bisa kebalikannya, lebih diuntungkan dengan menggunakan
pendekatan indikator dasar.

"Beberapa bank justru meminta diberlakukan segera tapi dengan


pendekatan standar karena beban terhadap modalnya menjadi lebih
ringan." Wadirut BCA Jahja Setiaatmadja menambahkan saat ini
perseroan telah menerapkan PSAK 50 dan 55 sehingga membuat
sistem pencatatan berubah, terutama berkaitan dengan perhitungan
pendapatan bunga bersih tidak lagi memasukan komponen imbal hasil
dari surat berharga.

4.3 Dampak Penundaan Pelaksanaan PSAK 50 dan PSAK 55 Terhadap


Perkembangan Perbankan.
Bank Indonesia (BI) akan menunda pelaksanaan Pernyataan Standar
Akuntansi dan Keuangan (PSAK) 50 dan 55 sesuai permintaan perbankan.
Bank sentral menilai dalam kondisi kekeringan likuiditas belum
memungkinkan pelaksanaan standar tersebut.

Beberapa hal teknis yang perlu mendapat pembenahan seperti fare value yang
menetapkan aset dengan harga yang tepat dalam neraca dan memerlukan
metode maupun sistem pendukung lainnya. Hal ini tidak sejalan dengan
penundaan mark to market karena kalau diterapkan sekarang nilai aset akan

22
turun semua. Dan akan disampaikan pada awal tahun, termasuk hal lain
seperti Basel, percepatan konsolidasi. Semua sedang dipikirkan dan saat ini
masih mentah.

Terkait penerapan dan penentuan bank jangkar, tetap berlaku namun belum
menentukan bahkan mengumumkan bank yang menjadi bank jangkar. Namun,
BI bersama dengan perbankan tetap berkomunikasi bagi bank yang memenuhi
variabel seperti kemampuan dan keuntungan bagi bank yang menjadi bank
jangkar. hal terpenting bank dengan potensi maupun kinerja yang dimiliki
mampu menunjukkan kejangkaranya sehingga mendorong pertumbuhan
ekonomi nasional."Semua bank memiliki potensi menjadi jangkar, namun
harus discreening agar benar-benar menjadi jangkar. Publik sendiri pasti tahu
bank mana saja yang layak untuk itu. Yang penting memiliki kemampuan dan
mendapatkan benefit dari itu.

Sebelumnya, kalangan perbankan mengajukan penundaan sejumlah aturan


hingga satu atau dua tahun k di tengah krisis akibat ketatnya likuiditas. Salah
satunya adalah penerapan Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK)
50 dan 55.

Sebagai informasi PSAK 50 mengatur tentang penyajian dan pengungkapan


instrumen keuangan sementara PSAK 55 mengatur tentang penyajian dan
pengungkapan instrumen keuangan. Rencananya, BI akan mewajibkan bank
menyampaikan laporan keuangan dengan mengacu pada revisi kedua PSAK
tersebut mulai 1 Januari 2009.

Penerapan PSAK 50 dan 55 diharapkan dapat mendorong proses harmonisasi


penyusunan dan analisis laporan keuangan dan disiplin pasar. Selain itu,
penerapan PSAK 50 dan 55 secara tepat dan konsisten diharapkan bisa
membuat laporan keuangan bank dapat disajikan secara lebih wajar dan
memberi informasi yang lebih bermanfaat bagi pembaca laporan keuangan.
Hal ini terkait dengan krisis yang menyebabkan perusahaan-perusahaan

23
sebenarnya bisa membayar namun karena outlook ekonomi tidak baik
akhirnya menyebabkan mereka tidak bisa mendapatkan fasilitas dari
perbankan. Jadi kualitas kredit sedang kita diskusikan dengan BI, kiranya kita
bisa tetap hati-hati tetapi tidak menjadi terlalu konservatif yang nantinya tidak
mempengaruhi kualitas kredit.

Saat ini perbankan menilai kualitas kredit dari status pembayaran dan kondisi
keuangan debitor dan juga prospek bisnisnya. Dari sisi prospek bisnis itu
kemungkinan saat ini tidak terlalu bagus, namun untuk ke depannya
kemungkinan bisa lebih stabil. Mungkin sekarang banyak searang sektor
ekonomi sedang terjadi koreksi dari prospek bisnisnya tetapi setelah koreksi
itu terjadi mungkin akan masuk dalam kondisi yang lebih stabil.

24
BAB V
PENUTUP

5.1 Kesimpulan
Dalam penerapan PSAK 50 dan PSAK 55 merupakan regulasi yang bertujuan
untuk mengatur kinerja perbankan agar lebih mengarah ke discipline market
dengan adanya beberapa perubahan pada kebijakan yang ada seperti, adanya
CKPN, pengakuan data historis. Dalam menerapkan PSAK 50 dan PSAK 55
banyak konsekuensi yang dihadapi oleh perbankan dan dalam realitanya bank
asing dan bank besar yang telah mengimplementasikan revisi PSAK tersebut.
Kendala yang paling menghambat dalam penerapan PSAK ini adalah kesiapan
sumber daya manusia karena. Selain itu PSAK 50 dan PSAK 55 juga
menimbulkan kontroversi, karena penerapan revisi PSAK 50 dan PSAK 55
yang mengacu pada IFRS tersebut adalah penganutan principle basis yang
dianut karena hanya prinsip dan konsep yang ditekankan dan
mengaplikasiannya tergantung pada praktek yang ada, berbeda dengan konsep
sebelumnya yang menganut rule basis yang artinya segala sesuatu diatur.

5.2 Saran
Belum terlaksana dengan baik penerepan PSAK 50 dan PSAK 55 dipengaruhi
oleh kesiapan dari pihak perbankan dalam hal Sumber Daya Manusia yang
masih kurang memadai. Oleh maka perlu dilakukan sosialisasi dari pihak-
pihak yang berkepentingan untuk memberikan petunjuk teknis terhadap
implementasi penerapan PSAK tersebut.

25
DAFTAR PUSTAKA

Arini M. Kasaluri, 2010, http://seminarakuntansi.warsidi.com/2010/06/financial-instrument-


impementasi-psak.html, Akses tanggal 19 November 2010.
Endah, 2010, http://endah26.wordpress.com/2010/05/12/revisi-pengantar-perbankan/, Akses
tanggal 18 November 2010.
Fadjar Ari Dewanto, 2009, http://vibizmanagement.com/column.php?
sub=228&id=1270&page=finance&awal=10, Akses tanggal 20 November 2010.
Fajar Sidik, 2010, http://web.bisnis.com/keuangan/fokusbi/1id180670.html?
PHPSESSID=o74oab7l5vnv5tfel36b8bhij7, Akses tanggal 18 November 2010.
Fajar Sidik, 2010, http://auditme-post.blogspot.com/2010/05/penerapan-psak-50-55-tahun-
depan.html, Akses tanggal 19 November 2010.
Ikatan Akuntan Indonesia, 1998, Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan No. 50
Akuntansi Investasi Efek Tertentu, Jakarta.
Ikatan Akuntan Indonesia, 1999, Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan No. 55
Akuntansi Instrumen Dervatif Dan Aktivitas Lindung Nilai, Jakarta.
Jimmy Wales, 2010, http://id.wikipedia.org/wiki/Bank, Akses tanggal 20 November
2010.
Prima consulting Group, 2009,
http://primaconsultinggroup.blogspot.com/2009/05/workshop-psak-50-55-revisi-2006-

sesuai.html, Akses tanggal 19 November 2010.


Rizka Septyana, 2010, http://re-revalota-soulmate.blogspot.com/2010/04/permasalahan-yang-
ada-di-dunia.html, Akses tanggal 18 November 2010.
Tomi Sujatmiko, 2008,
http://economy.okezone.com/index.php/ReadStory/2008/12/31/277/178329/bi-akan-

tunda-pelaksanaan-psak-50-dan-55/bi-akan-tunda-pelaksanaan-psak-50-dan-55, Akses
tanggal 20 November 2010.

26