Anda di halaman 1dari 23

Bukan saja kamera digital yang keberadaannya semakin

familiar saja bagi masyarakat di kota-kota besar, perangkat


rekam gambar bergerak yang bernama handycam atau
camcorder pun demikian. Apalagi produsen camcorder dunia
saat ini semakin gencar meluncurkan produk-produknya dengan
harga yang relatif tidak mahal-mahal amat. Untuk tipe
camcorder low end misalnya dapat dimiliki dengan
mengeluarkan isi kocek tiga sampai tiga setengah juta rupiah.
Tidak heran jika sekarang ini di mana ada pesta (perkawinan,
ulang tahun dan hiburan keluarga) tidak sedikit orang yang
mengusung camcorder.

Meski demikian, pemilik camcorder, mayoritas tampaknya


hanya sebatas "nafsu". Hanya mengikuti tren saja, belum
dibarengi keterampilan bagaimana membuat alunan gambar
bergerak itu enak ditonton. Jika Anda pun termasuk salah
seorang yang juga hobi mengabadikan berbagai peristiwa dalam
kehidupan Anda, tidak salah bila sebelum memutuskan untuk
membeli camcorder membaca tulisan ini. Sehingga kelak
mempunyai pedoman bagaimana membuat rekaman video dan
tidak sekadar ikut-ikutan.

Pedoman

Satu hal yang harus Anda jadikan pedoman bila ingin membuat
rekaman video, baik mengenai upacara pernikahan, suatu event
pertandingan, maupun acara liburan bersama teman atau
keluarga; yaitu: tetapkanlah adegan yang akan anda rekam.
Lalu kembangkanlah tema tersebut. Berusahalah untuk
membagi-bagi kejadian tersebut menjadi serangkaian bidikan
atau serangkaian kejadian yang berurutan sehingga penonton
dapat ikut mengalami atau ikut merasakan kejadian tersebut.

Dalam The Video Maker's Handbook, seperti dikutip Sugih


Adibahari, disebutkan, untuk membuat rekaman Anda menarik
secara visual, Anda harus membidik urutan kejadiannya dengan
berbagai jenis atau ukuran bidikan. Bila Anda mengubah atau
memotong di antara dua bidikan yang berurutan, berilah
sisipan bidikan. Hal ini di dunia sinematografi lazim disebut
sebagai intercut tetapi dengan ukuran bidikannya berbeda
cukup mencolok dan sebaiknya juga dari dua sudut bidik yang
berbeda. Sebab bila kedua bidikan tersebut Anda lakukan
dengan ukuran dan sudut bidik yang sama, maka objek akan
terlihat seolah-olah melompat (jumping) di dalam adegan
tersebut.

Misalnya anda membidik seorang balita yang sedang digendong


sang ayah. Mula-mula Anda bidik si balita yang sedang
tersenyum secara close- up, lalu berhenti sejenak (mungkin
sambil menunggu ekspresi si balita selanjutnya). Sesudah itu
Anda mulai membidik lagi, kali ini juga secara close-up. Hasil
yang Anda dapatkan adalah terjadinya suatu lompatan yang
mengganggu antara bidikan yang pertama dan yang kedua. Hal
ini terjadi karena si bayi telah berubah posisi dan ekspresinya
selama Anda berhenti membidik.

Untuk menghindari lompatan akibat pemotongan (jump-cut)


seperti itu, Anda dapat mengubah bidikan yang kedua.
Misalnya menjadi suatu medium shot tentang pelukan hangat si
ayah terhadap anaknya. Atau ubahlah sudut bidiknya, dimulai
dengan bidikan tiga-perempat wajah si bayi kemudian
membidik profilnya. Kedua cara ini memberikan keuntungan
tambahan dalam menyembunyikan perubahan kecil pada objek.
Usahakanlah untuk mengkombinasikan perubahan ukuran bidikan
dan sudut bidik Anda!

Anda juga perlu mengantisipasi adegan yang selanjutnya


diharapkan oleh penonton. Sikap ini akan sangat menolong Anda
dalam menyajikan alunan yang wajar dari rangkaian bidikan
Anda. Membidik objek atau subjek yang saling melengkapi akan
membantu terciptanya alunan tadi. Sudut bidik yang
berlawanan arah menciptakan kesinambungan bidikan yang
sangat berharga. Demikian pula bidikan-bidikan berdasarkan
arah pandangan. Misalnya bidikan tentang beberapa orang yang
sedang menunjuk ke langit diikuti dengan bidikan yang diambil
dari sudut pandang mereka, mengenai apa yang mereka lihat -
detik-detik sebelum sebuah pesawat udara jatuh, misalnya.

Membidik suatu kejadian yang panjang dalam satu bidikan yang


panjang agaknya memang kurang seru, malah mungkin sangat
membosankan. Menunjukkan hal-hal yang penting saja akan
lebih menarik bagi kita dan kemudian menggabungkannya akan
merupakan suatu tantangan tersendiri. Suatu cara yang wajar
dan mudah adalah dengan memanfaatkan fasilitas fade in/out
yang terdapat pada hampir semua perangkat camcorder.
Tetapi ada juga cara-cara lain yang lebih kreatif. Anda dapat
melakukan pemotongan (cut-away) dan penyisipan (cut-in)
dalam menggabungkan bidikan-bidikan Anda untuk
menjembatani kesenjangan yang tercipta akibat perubahan
gerakan, posisi, atau selang waktu.

Anda dapat membidik sebuah kapal yang bergerak perlahan


mendekati pelabuhan. Potong bidikan tersebut dengan
mengalihkannya kepada orang-orang yang sedang menanti di
dermaga pelabuhan. Potong lagi, dan bidiklah kembali kapal
yang sedang ditambatkan.

Posisi yang terakhir ini akan terlihat wajar karena pemotongan


bidikan tadi seolah-olah telah memberi waktu yang cukup pada
kapal untuk berada pada posisinya yang baru.

Adegan ini dapat anda lanjutkan sebagai berikut; potong


rekaman dengan membidik wajah seorang gadis yang
mengekspersikan penantian. Pindahkan lagi bidikan ke arah
para penumpang kapal yang sedang turun dari kapal. Lalu
sisipkan suatu detil, misalnya bidikan close-up pada wajah
yang penuh senyum dari salah seorang penumpang, diikuti
dengan suatu bidikan vario pada sang gadis yang sedang
berdiri dilorong penjemputan.

Di sini, pemotongan dan penyisipan bidikan telah mengarahkan


perhatian penonton kepada kejadian berikutnya, tanpa
menyebabkan penonton kehilangan orientasi dan sekaligus
memberikan kesempatan kepada Anda untuk mengubah sudut
bidik kamera. Suatu kejadian yang sebenarnya terjadi dalam
waktu satu jam, telah dirangkum dalam enam bidikan
sederhana dengan transisi yang tak kentara, antara berbagai
kejadian dalam waktu dan tempat yang berbeda. Untuk
memberi kesan yang menyakinkan, bidikan-bidikan tersebut
perlu dipertahankan paling tidak selama tiga detik supaya
penonton dapat menangkap atau menghayati suatu adegan.

Membuat suatu rekaman video yang baik mencakup penguasaan


atas berbagai aspek yang memberi kesan visual, seperti arah
pergerakan gambar dan arah pandangan mata. Hal ini juga
mencakup menciptakan aliran visual dari penggabungan bidikan
dengan cara pemotongan dan penyisipan.

Kuncinya adalah anda harus berpikir secara visual, bukan


memperhatikan setiap bidikan secara sendiri-sendiri melainkan
sebagai suatu rangkaian dari berbagai gambar yang efektif
yang mengembangkan kesan atau perasaan tertentu terhadap
objek. Dengan melatih diri, sikap Visual Literacy ini akan
berkembang menjadi suatu pembawaan Anda. Selamat berlatih!

2
Bagaimana Cara Memilih Handycam Yang Cocok

Istilah handycam pada umumnya digunakan untuk alat


perekam gambar bergerak yang dapat dipegang dengan satu
tangan. Bedanya dengan camcorder professional dari segi
tampilannya bisa dilihat pada gambar dibawah ini

Camcorder professional (sebelah kiri) berukuran lebih besar


dan memiliki lebih banyak fitur atau pengaturan manual
daripada handycam (sebelah kanan). Camcorder professional
juga lebih optimal jika digunakan dengan kedua tangan.

Meskipun demikian, fitur-fitur yang ada pada handycam yang


beredar saat ini sudah sangat memadai untuk pengambilan
gambar yang kualitasnya setara dengan standar camcorder
professional.

Lalu bagaimana kita dapat mengetahui handycam mana yang


cocok untuk keperluan dan budget yang kita miliki? Berikut ini
beberapa faktor atau spesifikasi handycam yang dapat kita
jadikan acuan dalam memilih handycam yang sesuai dengan
kebutuhan kita.

• Harga handycam
Tentukan dahulu range anggaran yang akan disediakan
untuk membeli handycam. Secara umum berlaku prinsip
ada harga ada kualitas, meskipun yang harganya lebih
mahal pun belum tentu lebih baik. Namun jika terdapat
perbedaan harga yang cukup mencolok, sudah pasti ada
perbedaan yang cukup nyata antara handycam yang satu
dengan yang lainnya.
Bandingkan harga handycam yang satu dengan yang
lainnya di satu toko, lalu tetapkan handycam pilihan Anda
dan bandingkan harga handycam tersebut dengan toko
lainnya. Dengan begitu, Anda dapat menemukan harga
yang terbaik.

• Akan dipakai untuk apa handycam tersebut


Pastikan Anda sudah memiliki gambaran akan apa yang
hendak Anda lakukan dengan handycam tersebut agar
memudahkan memilih handycam dari sekian banyak tipe
dan fitur yang disediakan. Misal, apabila kegiatan yang
akan direkam nanti lebih banyak berada di luar ruangan,
jangan sampai memilih handycam yang lebih optimal untuk
kegiatan didalam ruangan. Atau sebaliknya. Untuk
mengetahui apa saja kegunaan fungsi-fungsi yang ada
pada handycam Anda bisa mencari di internet atau
membaca review-review seputar handycam. Waktu yang
Anda gunakan untuk mencari informasi akan terbayar
saat Anda menemukan handycam yang benar-benar cocok
dan dapat bertahan bertahun-tahun.

• Format
Pertama kali, format yang umum digunakan adalah format
VHS (analog). Namun belakangan ini, format digital sudah
mulai mengusik keberadaan format analog. Format analog
memiliki keunggulan dari segi kualitas gambar yang
dihasilkan serta daya tahan penyimpanannya, namun
memiliki kelemahan dalam kesulitan peng-edit-an hasil
akhir. Sedangkan pada format digital, hasilnya sangat
mudah untuk diedit namun untuk menghasilkan kualitas
gambar yang setara dengan format analog para pembeli
harus rela mengeluarkan uang lebih banyak.
Namun teknologi yang semakin berkembang membuat
harga peralatan digital semakin murah. Anda pun dapat
memiliki handycam digital berkualitas baik dengan harga
yang semakin terjangkau. Untuk memudahkan Anda
memilih, apabila hasil rekaman nantinya ingin Anda edit
atau saksikan di komputer, DVD player, atau MP4 player
yang bisa Anda bawa kemana-mana, belilah handycam
digital. Handycam yang ada di pasaran saat ini sebagian
besar menggunakan teknologi digital sehingga tidak akan
sulit untuk menemukannya.
Sistem analog lebih banyak digunakan oleh para
professional untuk mem-backup hasil pekerjaan mereka.
Daya tahan tape analog yang sudah teruji selama
berpulh-puluh tahun juga membuat banyak perusahaan
yang menyimpan data perusahannya pada pita analog.
Meskipun peralatan yang harus dimiliki untuk dapat
menggunakan tape analog harganya selangit, hal itu tidak
menjadi masalah karena mereka memang
membutuhkannya.

• Kemudahan penggunaan handycam


Kalau anda seorang penggemar teknologi maka hal ini
tidak menjadi masalah. Namun jika Anda merasa malas
mempelajari fitur-fitur yang rumit, pastikan dulu Anda
dapat mengoperasikan handycam tersebut sebelum
membeli dan membawanya pulang.

• Layanan pelanggan
Di Indonesia, layanan pelanggan belum menjadi
pertimbangan yang umum pada waktu membeli sebuah
handycam. Namun jika handycam yang Anda beli memiliki
layanan pelanggan yang prima serta dukungan suku cadang
yang lengkap, Anda tidak akan mengalami kesulitan atau
membuang waktu bila suatu saat Anda menemui masalah
dengan handycam yang Anda beli.

Itulah beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam memilih


handycam yang cocok dengan keperluan Anda. Setelah Anda
menentukan anggaran perkiraan penggunaannya, Anda sudah
separuh jalan mendapatkan handycam Anda. Anda juga tidak
akan rugi waktu jika Anda mencari informasi lebih lanjut
seputar handycam yang akan Anda beli.

3. Pedoman Menggunakan "Handycam"

Link

Rony simanjuntak

Bukan saja kamera digital yang keberadaannya semakin


familiar saja bagi masyarakat di kota-kota besar, perangkat
rekam gambar bergerak yang bernama handycam atau
camcorder pun demikian. Apalagi produsen camcorder dunia
saat ini semakin gencar meluncurkan produk-produknya dengan
harga yang relatif tidak mahal-mahal amat. Untuk tipe
camcorder low end misalnya dapat dimiliki dengan
mengeluarkan isi kocek tiga sampai tiga setengah juta rupiah.
Tidak heran jika sekarang ini di mana ada pesta (perkawinan,
ulang tahun dan hiburan keluarga) tidak sedikit orang yang
mengusung camcorder.

Meski demikian, pemilik camcorder, mayoritas tampaknya


hanya sebatas "nafsu". Hanya mengikuti tren saja, belum
dibarengi keterampilan bagaimana membuat alunan gambar
bergerak itu enak ditonton. Jika Anda pun termasuk salah
seorang yang juga hobi mengabadikan berbagai peristiwa dalam
kehidupan Anda, tidak salah bila sebelum memutuskan untuk
membeli camcorder membaca tulisan ini. Sehingga kelak
mempunyai pedoman bagaimana membuat rekaman video dan
tidak sekadar ikut-ikutan.

Pedoman

Satu hal yang harus Anda jadikan pedoman bila ingin membuat
rekaman video, baik mengenai upacara pernikahan, suatu event
pertandingan, maupun acara liburan bersama teman atau
keluarga; yaitu: tetapkanlah adegan yang akan anda rekam.
Lalu kembangkanlah tema tersebut. Berusahalah untuk
membagi-bagi kejadian tersebut menjadi serangkaian bidikan
atau serangkaian kejadian yang berurutan sehingga penonton
dapat ikut mengalami atau ikut merasakan kejadian tersebut.

Dalam The Video Maker's Handbook, seperti dikutip Sugih


Adibahari, disebutkan, untuk membuat rekaman Anda menarik
secara visual, Anda harus membidik urutan kejadiannya dengan
berbagai jenis atau ukuran bidikan. Bila Anda mengubah atau
memotong di antara dua bidikan yang berurutan, berilah
sisipan bidikan. Hal ini di dunia sinematografi lazim disebut
sebagai intercut tetapi dengan ukuran bidikannya berbeda
cukup mencolok dan sebaiknya juga dari dua sudut bidik yang
berbeda. Sebab bila kedua bidikan tersebut Anda lakukan
dengan ukuran dan sudut bidik yang sama, maka objek akan
terlihat seolah-olah melompat (jumping) di dalam adegan
tersebut.

Misalnya anda membidik seorang balita yang sedang digendong


sang ayah. Mula-mula Anda bidik si balita yang sedang
tersenyum secara close- up, lalu berhenti sejenak (mungkin
sambil menunggu ekspresi si balita selanjutnya). Sesudah itu
Anda mulai membidik lagi, kali ini juga secara close-up. Hasil
yang Anda dapatkan adalah terjadinya suatu lompatan yang
mengganggu antara bidikan yang pertama dan yang kedua. Hal
ini terjadi karena si bayi telah berubah posisi dan ekspresinya
selama Anda berhenti membidik.

Untuk menghindari lompatan akibat pemotongan (jump-cut)


seperti itu, Anda dapat mengubah bidikan yang kedua.
Misalnya menjadi suatu medium shot tentang pelukan hangat si
ayah terhadap anaknya. Atau ubahlah sudut bidiknya, dimulai
dengan bidikan tiga-perempat wajah si bayi kemudian
membidik profilnya. Kedua cara ini memberikan keuntungan
tambahan dalam menyembunyikan perubahan kecil pada objek.
Usahakanlah untuk mengkombinasikan perubahan ukuran bidikan
dan sudut bidik Anda!

Anda juga perlu mengantisipasi adegan yang selanjutnya


diharapkan oleh penonton. Sikap ini akan sangat menolong Anda
dalam menyajikan alunan yang wajar dari rangkaian bidikan
Anda. Membidik objek atau subjek yang saling melengkapi akan
membantu terciptanya alunan tadi. Sudut bidik yang
berlawanan arah menciptakan kesinambungan bidikan yang
sangat berharga. Demikian pula bidikan-bidikan berdasarkan
arah pandangan. Misalnya bidikan tentang beberapa orang yang
sedang menunjuk ke langit diikuti dengan bidikan yang diambil
dari sudut pandang mereka, mengenai apa yang mereka lihat -
detik-detik sebelum sebuah pesawat udara jatuh, misalnya.

Membidik suatu kejadian yang panjang dalam satu bidikan yang


panjang agaknya memang kurang seru, malah mungkin sangat
membosankan. Menunjukkan hal-hal yang penting saja akan
lebih menarik bagi kita dan kemudian menggabungkannya akan
merupakan suatu tantangan tersendiri. Suatu cara yang wajar
dan mudah adalah dengan memanfaatkan fasilitas fade in/out
yang terdapat pada hampir semua perangkat camcorder.
Tetapi ada juga cara-cara lain yang lebih kreatif. Anda dapat
melakukan pemotongan (cut-away) dan penyisipan (cut-in)
dalam menggabungkan bidikan-bidikan Anda untuk
menjembatani kesenjangan yang tercipta akibat perubahan
gerakan, posisi, atau selang waktu.

Anda dapat membidik sebuah kapal yang bergerak perlahan


mendekati pelabuhan. Potong bidikan tersebut dengan
mengalihkannya kepada orang-orang yang sedang menanti di
dermaga pelabuhan. Potong lagi, dan bidiklah kembali kapal
yang sedang ditambatkan.

Posisi yang terakhir ini akan terlihat wajar karena pemotongan


bidikan tadi seolah-olah telah memberi waktu yang cukup pada
kapal untuk berada pada posisinya yang baru.

Adegan ini dapat anda lanjutkan sebagai berikut; potong


rekaman dengan membidik wajah seorang gadis yang
mengekspersikan penantian. Pindahkan lagi bidikan ke arah
para penumpang kapal yang sedang turun dari kapal. Lalu
sisipkan suatu detil, misalnya bidikan close-up pada wajah
yang penuh senyum dari salah seorang penumpang, diikuti
dengan suatu bidikan vario pada sang gadis yang sedang
berdiri dilorong penjemputan.
Di sini, pemotongan dan penyisipan bidikan telah mengarahkan
perhatian penonton kepada kejadian berikutnya, tanpa
menyebabkan penonton kehilangan orientasi dan sekaligus
memberikan kesempatan kepada Anda untuk mengubah sudut
bidik kamera. Suatu kejadian yang sebenarnya terjadi dalam
waktu satu jam, telah dirangkum dalam enam bidikan
sederhana dengan transisi yang tak kentara, antara berbagai
kejadian dalam waktu dan tempat yang berbeda. Untuk
memberi kesan yang menyakinkan, bidikan-bidikan tersebut
perlu dipertahankan paling tidak selama tiga detik supaya
penonton dapat menangkap atau menghayati suatu adegan.

Membuat suatu rekaman video yang baik mencakup penguasaan


atas berbagai aspek yang memberi kesan visual, seperti arah
pergerakan gambar dan arah pandangan mata. Hal ini juga
mencakup menciptakan aliran visual dari penggabungan bidikan
dengan cara pemotongan dan penyisipan.

Kuncinya adalah anda harus berpikir secara visual, bukan


memperhatikan setiap bidikan secara sendiri-sendiri melainkan
sebagai suatu rangkaian dari berbagai gambar yang efektif
yang mengembangkan kesan atau perasaan tertentu terhadap
objek. Dengan melatih diri, sikap Visual Literacy ini akan
berkembang menjadi suatu pembawaan Anda. Selamat berlatih!

RONY SIMANJUNTAK

Yahoo! for Good


Click here to donate to the Hurricane Katrina relief effort.
webmilis : http://lensa.multiply.com
Archive : http://www.mail-
archive.com/lensa@yahoogroups.com
daftar : [EMAIL PROTECTED]
posting : lensa@yahoogroups.com

------------------------------------------------
Berbagi untuk memberi pengetahuan dan pengalaman
khususnya dunia fotografi baik yang pro & Pemula
silahkan kirimkan hasil photo & pengalaman anda
------------------------------------------------

<*> WARNING, No SPAM and No SARA in This Mailing List

YAHOO! GROUPS LINKS

 Visit your group "lensa" on the web.

 To unsubscribe from this group, send an email to:


[EMAIL PROTECTED]

 Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo!


Terms of Service.

4.
Pedoman Menggunakan "Handycam"
Link

Rony simanjuntak

Bukan saja kamera digital yang keberadaannya semakin familiar


saja bagi masyarakat di kota-kota besar, perangkat rekam gambar
bergerak yang bernama handycam atau camcorder pun demikian.
Apalagi produsen camcorder dunia saat ini semakin gencar
meluncurkan produk-produknya dengan harga yang relatif tidak
mahal-mahal amat. Untuk tipe camcorder low end misalnya dapat
dimiliki dengan mengeluarkan isi kocek tiga sampai tiga setengah
juta rupiah. Tidak heran jika sekarang ini di mana ada pesta
(perkawinan, ulang tahun dan hiburan keluarga) tidak sedikit orang
yang mengusung camcorder.

Meski demikian, pemilik camcorder, mayoritas tampaknya hanya


sebatas "nafsu". Hanya mengikuti tren saja, belum dibarengi
keterampilan bagaimana membuat alunan gambar bergerak itu
enak ditonton. Jika Anda pun termasuk salah seorang yang juga
hobi mengabadikan berbagai peristiwa dalam kehidupan Anda,
tidak salah bila sebelum memutuskan untuk membeli camcorder
membaca tulisan ini. Sehingga kelak mempunyai pedoman
bagaimana membuat rekaman video dan tidak sekadar ikut-ikutan.

Pedoman

Satu hal yang harus Anda jadikan pedoman bila ingin membuat
rekaman video, baik mengenai upacara pernikahan, suatu event
pertandingan, maupun acara liburan bersama teman atau keluarga;
yaitu: tetapkanlah adegan yang akan anda rekam. Lalu
kembangkanlah tema tersebut. Berusahalah untuk membagi-bagi
kejadian tersebut menjadi serangkaian bidikan atau serangkaian
kejadian yang berurutan sehingga penonton dapat ikut mengalami
atau ikut merasakan kejadian tersebut.

Dalam The Video Maker's Handbook, seperti dikutip Sugih


Adibahari, disebutkan, untuk membuat rekaman Anda menarik
secara visual, Anda harus membidik urutan kejadiannya dengan
berbagai jenis atau ukuran bidikan. Bila Anda mengubah atau
memotong di antara dua bidikan yang berurutan, berilah sisipan
bidikan. Hal ini di dunia sinematografi lazim disebut sebagai
intercut tetapi dengan ukuran bidikannya berbeda cukup mencolok
dan sebaiknya juga dari dua sudut bidik yang berbeda. Sebab bila
kedua bidikan tersebut Anda lakukan dengan ukuran dan sudut
bidik yang sama, maka objek akan terlihat seolah-olah melompat
(jumping) di dalam adegan tersebut.

Misalnya anda membidik seorang balita yang sedang digendong


sang ayah. Mula-mula Anda bidik si balita yang sedang tersenyum
secara close- up, lalu berhenti sejenak (mungkin sambil menunggu
ekspresi si balita selanjutnya). Sesudah itu Anda mulai membidik
lagi, kali ini juga secara close-up. Hasil yang Anda dapatkan adalah
terjadinya suatu lompatan yang mengganggu antara bidikan yang
pertama dan yang kedua. Hal ini terjadi karena si bayi telah
berubah posisi dan ekspresinya selama Anda berhenti membidik.

Untuk menghindari lompatan akibat pemotongan (jump-cut)


seperti itu, Anda dapat mengubah bidikan yang kedua. Misalnya
menjadi suatu medium shot tentang pelukan hangat si ayah
terhadap anaknya. Atau ubahlah sudut bidiknya, dimulai dengan
bidikan tiga-perempat wajah si bayi kemudian membidik profilnya.
Kedua cara ini memberikan keuntungan tambahan dalam
menyembunyikan perubahan kecil pada objek. Usahakanlah untuk
mengkombinasikan perubahan ukuran bidikan dan sudut bidik
Anda!

Anda juga perlu mengantisipasi adegan yang selanjutnya


diharapkan oleh penonton. Sikap ini akan sangat menolong Anda
dalam menyajikan alunan yang wajar dari rangkaian bidikan Anda.
Membidik objek atau subjek yang saling melengkapi akan
membantu terciptanya alunan tadi. Sudut bidik yang berlawanan
arah menciptakan kesinambungan bidikan yang sangat berharga.
Demikian pula bidikan-bidikan berdasarkan arah pandangan.
Misalnya bidikan tentang beberapa orang yang sedang menunjuk
ke langit diikuti dengan bidikan yang diambil dari sudut pandang
mereka, mengenai apa yang mereka lihat - detik-detik sebelum
sebuah pesawat udara jatuh, misalnya.

Membidik suatu kejadian yang panjang dalam satu bidikan yang


panjang agaknya memang kurang seru, malah mungkin sangat
membosankan. Menunjukkan hal-hal yang penting saja akan lebih
menarik bagi kita dan kemudian menggabungkannya akan
merupakan suatu tantangan tersendiri. Suatu cara yang wajar dan
mudah adalah dengan memanfaatkan fasilitas fade in/out yang
terdapat pada hampir semua perangkat camcorder. Tetapi ada
juga cara-cara lain yang lebih kreatif. Anda dapat melakukan
pemotongan (cut-away) dan penyisipan (cut-in) dalam
menggabungkan bidikan-bidikan Anda untuk menjembatani
kesenjangan yang tercipta akibat perubahan gerakan, posisi, atau
selang waktu.

Anda dapat membidik sebuah kapal yang bergerak perlahan


mendekati pelabuhan. Potong bidikan tersebut dengan
mengalihkannya kepada orang-orang yang sedang menanti di
dermaga pelabuhan. Potong lagi, dan bidiklah kembali kapal yang
sedang ditambatkan.

Posisi yang terakhir ini akan terlihat wajar karena pemotongan


bidikan tadi seolah-olah telah memberi waktu yang cukup pada
kapal untuk berada pada posisinya yang baru.

Adegan ini dapat anda lanjutkan sebagai berikut; potong rekaman


dengan membidik wajah seorang gadis yang mengekspersikan
penantian. Pindahkan lagi bidikan ke arah para penumpang kapal
yang sedang turun dari kapal. Lalu sisipkan suatu detil, misalnya
bidikan close-up pada wajah yang penuh senyum dari salah seorang
penumpang, diikuti dengan suatu bidikan vario pada sang gadis
yang sedang berdiri dilorong penjemputan.

Di sini, pemotongan dan penyisipan bidikan telah mengarahkan


perhatian penonton kepada kejadian berikutnya, tanpa
menyebabkan penonton kehilangan orientasi dan sekaligus
memberikan kesempatan kepada Anda untuk mengubah sudut bidik
kamera. Suatu kejadian yang sebenarnya terjadi dalam waktu satu
jam, telah dirangkum dalam enam bidikan sederhana dengan
transisi yang tak kentara, antara berbagai kejadian dalam waktu
dan tempat yang berbeda. Untuk memberi kesan yang
menyakinkan, bidikan-bidikan tersebut perlu dipertahankan paling
tidak selama tiga detik supaya penonton dapat menangkap atau
menghayati suatu adegan.

Membuat suatu rekaman video yang baik mencakup penguasaan


atas berbagai aspek yang memberi kesan visual, seperti arah
pergerakan gambar dan arah pandangan mata. Hal ini juga
mencakup menciptakan aliran visual dari penggabungan bidikan
dengan cara pemotongan dan penyisipan.

Kuncinya adalah anda harus berpikir secara visual, bukan


memperhatikan setiap bidikan secara sendiri-sendiri melainkan
sebagai suatu rangkaian dari berbagai gambar yang efektif yang
mengembangkan kesan atau perasaan tertentu terhadap objek.
Dengan melatih diri, sikap Visual Literacy ini akan berkembang
menjadi suatu pembawaan Anda. Selamat berlatih!

5.

Saat ini, kebanyakan orang cenderung mengabadikan momen -


momen penting dalam kehidupan dengan merekamnya menggunakan
kamera video. Kamera video yang banyak beredar dipasaran dan
digunakan masyarakat awam ialah Handycam. Pilihan kamera video
jenis ini cukup beralasan, karena selain penggunaannya yang
mudah, tapi didukung juga oleh harganya yang terjangkau. Bahkan,
beberapa produsen kamera Handycam telah melengkapinya dengan
berbagai fitur yang canggih.

Sangat penting bagi Anda untuk mengetahui hal-hal yang


berkaitan dengan teknik pengambilan gambar atau shooting. hal ini
dilakukan agar pada saat editing diperoleh sumber video yang
bagus, walaupun cuma menggunakan sebuah handycam.

Beberapa hal yang perlu Anda perhatikan saat pengambilan


gambar, diantaranya :

1. Pada saat pengambilan gambar harus dihindari penggunaan zoom


yang berlebihan karena hal ini bisa menyebabkan gambar tidak
fokus (out of focus), terutama pada kamera yang memiliki zoom
digital.
2. Jangan terlalu terpaku merekam objek utama saja, tetapi objek
disekitarnya yang berkaitan perlu juga Anda perhatikan.
3. Hindari pengambilan gambar pada tempat-tempat yang tingkat
pencahayaannya kurang. kalau kamera video yang digunakan
memiliki fasilitas Light jalankan saja fitur ini untuk menambah
pencahayaan. Atau bisa juga menggunakan cahaya tambahan.
4. Gunakan penyangga (tripod) untuk menghasilkan gerakan yang
halus. tripod juga digunakan untuk menghindari guncangan pada
saat perekaman.
5. Gunakan variasi-variasi sudut pandang kamera, seperti Bird eye
View (dari atas), High Angle (dari atas objek), Low Angle (dari
arah bawah objek), Eye Level (sejajar dengan mata objek), Frog
Eye (dari bawah).
6. Hindari penggunaan efek-efek yang terdapat pada kamera
video. penggunaan efek lebih baik pada saat editing saja.
Penggunaan efek pada kamera video bisa dilakukan, apabila Anda
memang tidak ingin mengeditnya kembali di komputer (tetap
disimpan di kaset video).
7. Harus memperhatikan komposisi frame (bingkai), jangan sampai
objek utama terpotong atau tidak masuk ke dalam frame.
8. Jika shot memperlihatkan adegan seseorang berjalan atau
sedang menuju (ke) maka sisakan ruangan di depan orang tersebut.
Ini yang disebut looking space, yaitu jarak pandang objek
terhadap batas frame.
9. Perihal backgroud (latar belakang) juga harus
diperhatikan.karena ada kalanya saat pengambilan gambar juru
kamera tidak memperlihatkan latar belakang.Misalnya,latar
belakang menyatu dengan foreground (latar depan),sehingga
terkesan latar belakang dihasilkan dari foreground.
10. Untuk menghindari suara-suara noise yang ikut terekam,
sebaiknya anda menggunakan kamera video yang memiliki konektor
untuk mikrofon eksternal. Atau anda juga bisa menggunakan
mikrofon yang sudut rekamnya menyempit (mikrofon
omni),sehingga hanya bagian subjek utama saja yang terekam
suaranya.

Apabila Anda hendak membeli camcorder DV, berikut ini akan


diberikan tip dan trik bagaimana cara memilih camcorder DV yang
baik.

1. Jangan langsung “kepincut” dengan tawaran harga murah dari


toko, karena mungkin saja produk tersebut sudah out of date
(alias kadaluwarsa). Bila terjadi kerusakan maka kemungkinan suku
cadangnya tidak ada di pasaran.
2. Perhatikan dukungan port yang dimiliki, apakah menggunakan
FireWire atau USB.
3. Pilih kamera video yang memiliki dukungan banyak fitur
didalamnya.
4. Pilihlah baterai yang bisa diisi ulang (rechargeable), Anda harus
memastikan berapa lama baterai tersebut bisa bertahan.
5. Jumlah piksel lensa CCD yang dimiliki camcorder DV. Ukuran
piksel menentukan kualitas gambar, dimana semakin besar jumlah
piksel yang dimiliki semakin baik kualitas gambar yang dihasilkan.
6. Pemilihan layar LCD. Layar LCD berfungsi untuk melihat objek
bidikan. Teknologi LCD yang ditawarkan setiap merek umumnya
sama, hanya ukurannya saja yang berbeda-beda. Semakin besar
ukurannya (biasanya dalam inchi) maka semakin baik. Anda juga
harus memperhatikan ketajaman layer, biasanya diukur dengan
resolusi gambar.
7. Pada umumnya camcorder DV dilengkapi dengan lensa zoom
optik dan zoom digital. Kamera yang baik tentunya mempunyai
lensa yang lebih besar (secara fisik) dan kemampuan zoom yang
besar pula. Yang perlu diperhatikan adalah kemampuan zoom. Jenis
zoom optik lebih baik dibandingkan dengan zoom digital.
8. Pilihlah kamera DV yang memiliki konektor untuk mikrofon dari
luar.
6

Untuk merekam suatu acara misalnya pernikahan, seminar, wisuda


dll, paling baik memang ada beberapa kamera video(minimal 2)
agar gambar menjadi bervareasi, tidak monoton dan enak untuk
ditonton. Namun apabila kita hanya mempunyai satu kamera,
bagaimanakah agar acara bisa diambil secara baik dan tidak
putus2. Berikut ini ada cara untuk merekam agar suatu acara tidak
terputus dengan gambar yang bervareasi, namun hal ini
membutuhkan proses editing agar gambar enak untuk dinikmati.

Berikut ini contoh pengambilan suatu acara dengan 1 kamera video.

• Misalnya saja dalam acara pernikahan dimana ada acara


pidatonya atau sambutan2. Sebelum acara dimulai biasanya
para tamu sudah hadir terlebih dahulu. Maka kita harus
mengambil gambar sebanyak2nya dari para tamu yang hadir.
Supaya berkesan tidak sepi karena seluruh tamu belum hadir
maka bisa dengan pengambilan gambar close up atau sudut
dimana seolah2 tamu sudah datang semua/penuh.
• Kemudian pada saat sambutan, kita bisa menempelkan
gambar yang kita ambil tadi kesela2 sambutan
tersebut.Dapat juga saat merekam sambutan, kita mengubah
arah kamera secara cepat ke obyek lain misalnya ke arah
tamu atau pengantin.
• Dimana kemudian pada saat pengeditan, gambar saat
berubahnya kamera bisa ditempel dengan gambar2 lain yang
sudah kita ambil sebelumnya. Sehingga seolah2 ada 2
kamera.
Kurang lebih seperti itu caranya, namun setiap acara mungkin agak
berbeda dan tidak setiap acara bisa maksimal penggunan 1
kameranya.