Anda di halaman 1dari 13

Drh.

Ardilasunu Wicaksono
Fakultas Kedokteran Hewan
Institut Pertanian Bogor

Parvovirus dan Distemper


pada Anjing

Canine Parvo Virus


Infeksi Parvovirus mengakibatkan enteritis akut dan leukopenia pada anjing
dan kucing. Infeksi pada kucing dinamakan Feline Panleukopenia dan penyakit ini
diikuti oleh gejala yang sama dengan infeksi Canine Parvovirus Type 2 (CPV-2)
pada anjing. Virus bereplikasi dalam jumlah yang banyak pada feces hewan yang
terinfeksi dan dapat bertahan di lingkungan selama berbulan-bulan.
CPV-2 memerlukan media untuk tumbuh dan berkembang dengan cepat,
sehingga induk semang yang cocok adalah tubuh anjing muda yang berumur
kurang dari 6 bulan. CPV bersifat sangat menular dan sumber penularan yang
utama adalah feses anjing. Feses pada peralatan kandang merupakan sumber atau
pembawa CPV yang potensial. Demikian pula dengan serangga da tikus
merupakan pembawa dan penyebar CPV. Masa inkubasi dari virus ini (CPV-2)
berbeda-beda. Apabila di lapangan masa inkubasinya adalah antara 7-14 hari,
sedangkan apabila di laboratorium hanya memerlukan waktu 1-3 hari saja.
CPV-2 menyebar sangat cepat dari anjing ke anjing lainnya, apalagi pada
anjing dalam suatu kelompok. Infeksi umumnya melalui oronasal, CPV cepat
berbiak dalam jaringan limfoid orofaring mesenterika dan kelenjar thymus,
kemudan terjadi viremia dan masuk ke dalam kelenjar intestin usus halus. Viremia
dapat terjadi pada hari 1-5 pasca infeksi.
Pada kondisi yang normal, CPV berpindah dari sel epitel germinal ke
kelenjar intestinal menuju ujung vili-vili usus kecil. Dalam proses perpindahan
ini, virus mengalami pematangan dan mempunyai kemampuan mengabsorbsi
Ardilasunu Wicaksono 2009

sehingga cepat sekali menyebabkan kerusakan-kerusakan kelenjar intestinal usus


kecil. Kerusakan di dalam sel-sel germinal menyebabkan vili usus menjadi kecil
dan memendek. Dalam perkembangannya, CPV seringkali menginfeksi jaringan
dan organ sebagai berikut:
Pada anjing umur <8 minggu pada jaringan miokardium.
Pada anjing-anjing lebih tua lebih sering menginfeksi jaringan usus halus.
Dari infeksi-infeksi tersebut pada akhirnya induk semang akan mengalami
kerusakan sumsum tulang, jaringan limfoid dan sel-sel hematopoietik.
Gejala klinis yang ditimbulkan dapat berupa radang usus (enteritis) dan
radang otot jantung (miokarditis). Infeksi CPV ini dapat terjadi secara ringan dan
berat. Gejala klinis ini sangat ditentukan oleh kondisi individual induk semang
sendiri, sehingga gejala klinis yang diperlihatkan dapat bervariasi. Berikut adalah
diagram alir proses infeksi:

INFEKSI ORONASAL
Hari-Pasca infeksi

1-2 Limfoglandula regional


Orofaring
Tonsil

3-5
Viremia
(keterlibatan plasma)

Umur 6 minggu sampai 6 bulan

6-10
Jaringan limfoid Kelenjar intestin Paru, hati, ginjal,
Sumsum tulang Sel-sel epitel (patologi minimal)

Titer antibodi
Leukopenia-limfopenia
meningkat
Kelenjar intestin
Gejala klinis Defisiensi Imunitas Nekrosa epitel
terlihat jelas Atrofi kelenjar timus,
Pengeluaran limpa dan
virus limfoglandula
intestinal Permeabilitas meningkat
sampai hari Absorpsi menurun
ke-14
Ardilasunu Wicaksono 2009

Infeksi sekunder Diare enteropati


Berat
Sepsis Gram negatif

Mati Sembuh

Disamping banyaknya CPV-2 dan daya tahan individual, maka gejala klinis
yang ditimbulkan akibat inveksi CPV-2 tergantung pada umur, faktor stress, dan
ras. Dari sekian banyak faktor, infeksi ini menunjukkan gejala paling parah pada
anjing berumur <12 minggu, hal ini disebabkan karena anjing seumur itu
mempunyai sel-sel yang sedang aktif membelah (bermitosis) dimana CPV-2
sangat menyukainya, disamping itu umur <12 minggu adalah waktunya imunitas
maternal mulai hilang.
Gejala klinis yang ditimbulkan terbagi menjadi dua tipe yaitu tipe
miokarditis dan tipe enteritis. Sesuai dengan sifat virus CPV yang tumbuh baik
pada sel yang sedang aktif membelah, maka tipe miokarditis lebih banyak
ditemukan pada anak anjing muda, sedangkan pada umur yang lebih tua, tipe
enteritis lebih banyak ditemukan.

Tipe miokarditis
Kasus CPV pada tipe ini lebih banyak ditemukan pada anak anjing
berumur di bawah 4 minggu, yang ditandai dengan kematian anak anjing
mendadak, tanpa menimbulkan gejala klinis muntaber. Anak anjing tumbuh
normal dan pada pemeriksaan umum, anjing tidak menunjukkan adanya kelainan
Ardilasunu Wicaksono 2009

pada jantung dan paru-paru, tetapi beberapa jam sebelum mati anak anjing
tersebut terlihat lemas, sesak napas, menangis, kadang-kadang muntah dan selaput
lendir pucat.

Miokarditis akibat Canine Parvo Virus

Keterangan gambar :
Proses miokarditis terjadi sebagai akibat dari infeksi virus yang
menyerang bagian otot jantung yang masih bermitosis pada anjing muda. Terjadi
kerusakan pada otot jantung yang diikuti dengan degenerasi dan tersumbatnya
pembuluh darah sehingga terjadi ischemia dan mengakibatkan suplai darah ke
bagian otot jantung menjadi berkurang. Tidak adanya suplai darah menyebabkan
oksigen yang masuk ke jaringan menjadi berkurang. Jaringan yang tidak
mendapat oksigen menjadi infark dan berakhir dengan nekrotik. Proses yang
berlangsung kronis menjadikan terbentuknya jaringan ikat menjadi fibrosis. Lesio
berwarna putih yang pada organ jantung memperlihatkan infark yang terjadi yang
akhirnya diikuti dengan fibrosis.
Mortalitas tipe miokarditis berkisar antara 20 hingga 100%. Pada tipe
miokarditis yang akut, umumnya anak anjing tersebut tidak mempunyai kekebalan
bawaan dari induk, sehingga vaksinasi induk yang akan dikawinkan sangat
dianjurkan. Pada anak anjing berumur lebih dari 5 bulan, gejala klinis yang
tampak tidak nyata, tetapi pada infeksi yang akut, ritme puls femoral iregular,
jantung terdengar murmur dan aritmia. Di Indonesia, tipe miokarditis jarang
ditemukan. Hal ini dapat disebabkan karena umumnya induk anjing telah
divaksinasi, sehingga anak yang dilahirkan mempunyai maternal antibodi, yang
bertahan hingga 6 minggu. Apabila anjing terinfeksi berumur lebih dari 6 minggu
Ardilasunu Wicaksono 2009

dan vaksinasi belum dilakukan, maka tipe enteritis umumnya lebih sering terjadi,
mengingat pada umur tersebut derajat pembelahan sel meningkat di kripta usus
dan menurun di sel miosit jantung.

Diagram alur mekanisme kejadian miokarditis akibat infeksi viral

Tipe enteritis
Tipe enteritis, sering juga disebut Canine parvovirus enteritis, infectious
hemorrhagic enteritis, epidemic gastroenteritis atau canine panleucopenia. Di
ndonesia tipe ini dikenal dengan istilah muntaber. Tipe enteritis merupakan tipe
CPV yang paling sering ditemukan, baik pada anjing di kennel, pet shop, tempat
penitipan anjing dan breeding farm maupun anjing yang dipelihara di rumah dan
menyerang semua usia dengan gejala klinis yang khas yaitu muntah dan diare
berdarah, dengan aroma yangsangat khas. Masa inkubasi tipe enteritis 7–14 hari
dengan gejala awal adalah muntah yang diikuti demam, tidak napsu makan, lesu
dan diare mulai dari mencret berwarna kekuningan, abu-abu dengan bau yang
khas hingga berdarah berwarna kehitaman seperti warna aspal.
Secara patologi anatomi (PA), anak anjing yang mati mendadak tidak
menunjukkan adanya kelainan yang berarti pada jantung, tetapi edema paru-paru
sering tampak mulai dari derajat yang ringan hingga parah. Paru paru sedikit
mengeras, berwarna merah muda hingga abu-abu yang disertai dengan perdarahan
hingga permukaaan pleura. Hati tampak agak pucat. Kelainan banyak ditemukan
Ardilasunu Wicaksono 2009

pada jejenum dan ileum. Bagian usus ini membengkak, terjadi pembendungan
dan perdarahan. Lumen usus menyempit, dan permukaan selaput lendir usus
berisi cairan sereus granular hingga mukus kental berwarna kuning hingga
kecoklatan, Limfoglandula mesentericus membengkak.

Infeksi canine parvo virus-2 menyebabkan enteritis hemoragika


dan hipremi pada mukosa

Keterangan gambar :
Pada enteritis hemoragika parah akibat parvovirus terlihat dengan adanya
warna merah pada mukosa usus, mukosa yang berlipat dan menebal akibat
peradangan, diikuti dengan eksudat katarrhal sebagai respons peradangan. Darah
yang keluar dari perobekan pembuluh darah akibat gesekan dari feses
menyebabkan kondisi diare berdarah pada anjing hidup yang terkena parvovirus
dengan bau khas amis darah.
Temuan patologis pada saat nekropsi dapat ditemukan gastroenteritis
cattharalis et hemorrhagika, payer patches echymosa, distensi lambung,
myocardium, hati dan ginjal degenerasi, distensi kantung empedu, distensi vesica
urinaria, kongesti paru-paru dan subakut pneumoni, akan tetapi pada kasus lain
terkadang tidak menunjukan adanya lesio pada paru-paru.
Temuan patologi pada kasus CPV antara lain: usus dilatasi berisi cairan,
usus halus lunak dan hiperemi, usus halus berisi cairan berwarna merah
kecokelatan hingga cokelat, terdapat eksudat fibrin dan hemorrhagi.
Limfoglandula mesenterica juga mengalami kebengkakan, sel epitel squamous
dan merenggang timbul ke permukaan mukosa sehingga kripta keluar, beberapa
Ardilasunu Wicaksono 2009

epitel hyperplasia dan kolapsnya lamina propia. Keadaan pada colon juga sama
seperti yang terjadi pada usus halus. Pada pemeriksaan histopatologi ditemukan
adanya badan inklusi yang bersifat basofilik pada sel epitel kripta pada hari ke-5-
10 post infeksi.
Secara histopatologi, terlihat adanya miokarditis difusa non supuratif
dengan infiltrat limfosit, makrofag, sel plasma, dan kadang-kadang neutrofil.
Degenerasi serat miokardium hingga nekrosis dapat terlihat dan adanya badan
inklusi yang bersifat basofilik dapat ditemukan pada sel miokardium. Pada kasus
yang kronis, jantung membesar dan biasanya mengandung jaringan fibrin,
terutama di daerah ventrikel. Kelainan pada paru-paru terlihat adanya pneumonia
interstisialis yang berarti adanya infeksi virus.
Terlihat adanya degenerasi dan nekrosis sel epitel usus yang sangat parah
dan ditandai dengan atropi dan hilangnya vili dan kripta usus. Pada vili usus
terlihat ada pembendungan, atrofi dan badan inklusi yang bersifat eosinofilik.
Nekrosis sel juga terjadi pada jaringan limfoid, limfoglandula, limpa dan thymus.
Pada sumsum tulang belakang, terjadi nekrosis pada mieloid dan erythoid blast.

Kerusakan hebat pada sel epitel dan kolaps lamina


propia usus dikarenakan canine parvo virus-2

Keterangan gambar:
Kerusakan pada gambaran histopatologi dari usus yang terserang
parvovirus terlihat dengan vili-vili usus yang memendek hingga gundul. Hal ini
menyebabkan lapisan mukosa usus menghilang sehingga lapisan submukosa
terangkat ke luar pada daerah lumen usus. Pada submukosa terjadi edema dan
Ardilasunu Wicaksono 2009

hipremi. Hemoragi terlihat sehingga sel darah merah dapat keluar ke lumen usus
menyebabkan enteritis hemoragika.
Setelah hasil nekropsi dilakukan, maka dapat disimpulkan diagnosa
kausalis adalah Canine Parvo Virus. Hal ini ditandai dengan adanya enteritis yang
parah dan bersifat kattharal et hemoragis. Diagnosa ini juga diperkuat dengan
adanya lesio pada jantung dimana terjadi miokarditis yang terlihat di bagian
epikardium dan endokardium dengan mekanisme sebagaimana yang telah
dijelaskan di atas. Tipe miokarditis ini nampak dikarenakan anjing yang nasih
berusia muda sehingga virus menyerang sel-sel jantung yang masih mengalami
perkembangan. Untuk lebih meneguhkan diagnosa ini, tentunya harus dapat
diamati lebih lanjut melalui pengamatan histopatologinya.

Canine Distemper Virus


Distemper pada anjing merupakan penyakit yang sangat mematikan dan
menular yang disebabkan oleh paramyxovirus. Virus ini lebih suka menyerang
dan mengakibatkan kematian pada hewan muda dibandingkan hewan dewasa.
Virus ini merupakan airborne disease yang menyerang organ respirasi, urogenital,
gastrointestinal, nervus opticus, dan sistem saraf pusat. Canine Distemper Virus
sangat resisten terhadap keadaan dingin dan sebagian besar pada negara empat
musim, virus ini menyerang pada musim gugur dan dingin.
Anak anjing berumur 3-6 bulan lebih rentan terkena infeksi dan
mengalami gangguan yang lebih serius seperti peradangan pada paru-paru
(pneumonia), dan peradangan akut pada otak (encephalitis) jika dibandingkan
dengan anjing dewasa. Hampir 15% dari peradangan pada sistem pernapasan
pusat diakibatkan oleh canine distemper virus (CDV). Anak anjing yang masih
menyusui memiliki kemungkinan yang kecil terkena infeksi CDV karena masih
memiliki kekebalan yang didapatkan dari susu kolostrum selama 8-24 jam
pertama setelah kelahiran. Anjing dewasa memiliki kemungkinan yang kecil
untuk dapat terinfeksi CDV karena kekebalan sudah terbangun, namun infeksi
dapat tetap terjadi dan biasanya pada anjing usia 7-8 tahun .
Ardilasunu Wicaksono 2009

Rute transmisi dari virus ini via aerosol-droplet, kontak langsung, dan
dimungkinkan kontak dengan benda-benda yang sudah terkontaminasi. Saat ini
masih belum pasti adanya carrier dari virus ini. Virus bereplikasi di dalam feses
dan urin dari individu yang terinfeksi dan pernah dibuktikan adanya penularan
secara transplacental dari induk ke anak. Rute infeksi yang paling umum adalah
melalui traktus respirasi bagian atas, dikarenakan menginhalasi virus infektif.
Terkadang infeksi terjadi dari ingesti dari materi yang sudah terinfeksi virus. Jika
jalan masuk virus melalui traktus respirasi bagian atas, virus akan masuk dan
menginfeksi tonsil dan limfonodus dan disanana terjadi replikasi virus. Virus
kemudian memasuki aliran darah dan ditransportasikan ke sel-sel epitel di seluruh
tubuh, termasuk epitel pernapasan dan pencernaan.
Gejala klinis dari distemper pada anjing dapat terlihat adanya gangguan
pernapasan dan pencernaan antara lain batuk, diare, muntah, discharge pada
hidung dan mata, anorexia, dan hiperkeratosis pada planum nasalis dan bantalan
kuku (foot pads). Gejala sistem saraf pusat dapat mengikuti setelah adanya gejala-
gejala klinis sebelumnya. Pada hewan karnivora liar, gejala klinis yang sangat
terlihat adalah gejala yang sama dengan infeksi virus rabies seperti
hiperagresivitas. Pada beberapa hewan juga ditemukan adanya konjungtivitis
purulenta dan discharge pada hidung dan kelopak mata menyatu dan penuh
dengan eksudat yang mengering.
Distemper virus menyebabkan demam pada anjing selama hari ke tiga post
infeksi. Demam ini diikuti oleh lymphopenic leukopenia sehingga terjadi kondisi
leukositosis. Hal ini diikuti oleh rhinitis, hipremi konjungtiva, mukopurulent
ocular-nasal discharge, fotofobia, gejala pernapasan, anorexia, depresi, diare, dan
vomitus. Gangguan pernapasan dikarenakan adanya pneumonia ploriferatif
merupakan manifestasi klinis dari canine distemper. Dikarenakan adanya
imunosupresi dari virus ini, sering terjadi infeksi sekunder dari bakteri Bordetella
bronchiseptica. Pustula pada kulit sering ditemukan akibat infeksi sekunder
bakterial.
Ardilasunu Wicaksono 2009

Erythema akibat infeksi pada kulit yang diikuti


terbentuknya pustula

Keterangan gambar:
Gambar sebelah kiri menunjukkan bagian ventral mandibula anjing yang
kemerahan menunjukkan erythema. Karena keadaan imunosupresif, kulit dengan
mudah teriritasi oleh mikroba lingkungan seperti halnya bakteri. Lama kelamaan
terjadi serangan bakteri yang lebih parah mengakibatkan bentukan pustula seperti
yang terlihat pada gambar sebelah kanan. Lesio seperti ini terjadi akibat serangan
distemper tipe kulit.
Gangguan saraf terjadi 50% pada penyakit distemper. Gangguan pada
saraf terlihat dari hiperagresivitas, disorientasi, myoclonus, hilang kewaspadaan,
konvulsi dari kepala dan kaki, berjalan tanpa arah, dan paresis serta paralisis.
Dapat ditemukan adanya diare, nafas yang berat, dan penampakan rambut yang
kusut. Diare dan muntah menyebabkan dehidrasi dan kehausan. Kelemahan dan
kekurusan dapat dihubungkan dengan penyakit distemper namun juga hewan tetap
dalam keadaan sehat jika penyerangan virus berlangsung dalam keadaan akut.
Kelainan ocular pada canine distemper meliputi lesio retinochoroidal
terutama pada bagian peripheral dan midperipheral nontapetal fundus. Neuritis
pada optik dapat menyebabkan gangguan pengelihatan.
Lesio patologi-anatomi dari canine distemper meliputi kongesti paru-paru
dan konsolidasi akibat adanya pneumonia. Badan sel bersifat eosinofilik bentuk
bulat dan ovoid ditemukan pada sel epitel dari kulit, bronchus, usus, traktus
urinaria, duktus empedu, kelenjar saliva, adrenal, sistem saraf pusat, limfonodus,
dan limpa. Pada saat nekropsi, biasanya ditemukan limpa yang membengkak.
Ardilasunu Wicaksono 2009

Nekropsi pada hewan pernah dilakukan dan ditemukan lesio hemoragi


parah pada jejunum dan colon disertai konsolidasi paru-paru. Evaluasi secara
histopatologi ditemukan reaksi inflamasi ringan sampai kronis pada usus halus
dimana terdapat hiperplasia dari epitel bagian basal sebagai proses regenerasi
awal. Pada vesica urinaria, epitel peralihan mengalami penebalan dan terdapat
badan inklusi eosinofilik.

Pneumonia pada infeksi Canine Distemper Virus

Keterangan gambar:
Pneumonia akibat infeksi virus merupakan pneumonia interstitialis yang
terlihat paru-paru berwarna merah kehitaman, menegang, dan bidang sayatan
kering sehingga diuji apung mengapung. Jika infeksi sekunder terjadi, maka
bakteri akan masuk ke lumen alveol paru-paru dan menyebabkan pneumonia
alveolaris dimanan uji apung akan tenggelam.
Secara miroskopis, canine distemper virus ditandai dengan adanya badan
inklusi intranuklear dan intrasitoplasmik yang memiliki ukuran yang bervariasi
dengan bentuk bulat sampai ovoid. Badan inklusi ini sering ditemukan pada sel
epitel kulit, bronchus, gastrointestinal, traktus urinaria, duktus empedu, kelenjar
saliva, dan adrenal. Hal ini juga dapat ditemukan pada sistem saraf pusat dan sel
reticuloendotelial pada limpa dan limfonodus. Pada paru-paru, virus ini
menginduksi sel raksasa multinuklear di dalam alveolus dan epitel bronchus.
Bronchial pneumonia purulent dapat terjadi oleh serangan infeksi sekunder
setelah terjadi pneumonia interstitialis. Di dalam beberapa kasus didapatkan
keadaan nekrosis dan involusi dari jaringan limfatik. Hal ini juga dapat
Ardilasunu Wicaksono 2009

menyebabkan deplesi dari limfosit yang sudah matang pada germinal center dari
limpa.
Lesio pada otak terjadi sebagai gangguan yang terjadi pada distemper
dengan gejala saraf. Pada kasus ini terdapat encephalitis purulent diffuse dengan
badan inklusi yang ditemukan pada sel glia dan histiosit. Tedapat degenerasi
neuron, demyelinasi, gliosis, dan perivascular cuffing. Meningitis nonsupuratif
juga dapat terjadi. Encephalitis meliputi bagian grey dan white matter. Grey
matter terpengaruh jika terdapat gangguan saraf yang terjadi secara akut. Seizure
dapat terjadi akibat dari lesio pada grey dan white matter yang biasa diikuti
dengan penyakit pada bagian grey matter.
Encephalitis pada bagian white matter biasanya menyebabkan demyelinasi
tanpa adanya peradangan. Lesio pada bagian white matter merupakan akibat dari
infeksi distemper kronis. Lesio berbentuk multifokus berada pada organ otak,
medulla spinalis, dan traktus optikus. Pada cairan cerebrospinalis akan tejadi
peningkatan protein dan bisa terdapat atau tidak terdapat limphocytic monocytic
pleiocytosis. Pada lima puluh persen dari hewan yang terkena distemper,
terdeteksi adanya titer antibodi pada sistem saraf pusat.
Lesio okular pada canine distemper meliputi demyelinasi dan peradangan
nonsupuratif pada optic radiation dan traktus optikus. Terdapat infiltrasi sel
radang pada ciliary body, degenerasi dari ganglion retina, edema retina, dan
fokus-fokus bagian retina yang terlepas.
Gejala saraf disertai demam yang diikuti oleh gangguan respirasi, oculo-
nasal discharge, diare, dan atau hiperkeratosis bantalan kaki merupakan ciri-ciri
yang mengarah pada canine distemper, walaupun tidak ada gejala patognomonis
dari penyakit ini.
Hasil nekropsi dapat menunjukkan gejala-gejala yang didiagnosa sebagai
distemper pada anjing. Hal ini dapat dilihat pada lesio paru-paru yang mengalami
pneumonia interstitialis dilanjutkan dengan pneumonia alveolaris sebagai akibat
dari adanya infeksi sekunder bakteri. Enteritis kattharalis et hemoragis yang parah
juga terlihat dan dapat diakibatkan oleh paramyxovirus penyebab distemper.
Dengan kondisi demikian, perjalanan virus menginfeksi tubuh sudah berlangsung
Ardilasunu Wicaksono 2009

sistemik sehingga peradangan sampai ke sistem saraf pusat dimana sudah terjadi
meningoencephalitis yang sudah parah.
Dengan menurunnya sistem kekebalan, infeksi sekunder dengan mudah
dapat terjadi yang menyebabkan peradangan pada bagian luar tubuh yaitu kulit
sebagai pertahanan tubuh pertama. Diawali dengan echymosa dan dilanjutkan
dengan terbentuknya pustula pada bagian tubuh yang jarang ditumbuhi rambut,
dan jika berlangsung kronis menyebabkan hiperkeratosis pada kulit tersebut.
Peneguhan diagnosa distemper ini juga dapat dilakukan dengan pemeriksaan
secara histopatologis.

Daftar pustaka

Ajello SE. 2000. The Merck Veterinary Manual. Ed. 8. USA: Merck & Co, Inc
dan Whitehouse Station.
Carlton WW dan McGavin MD. 1995. Thomson’s Special Veterinary Pathology
2nd edition. USA: Mosby-Year Book.
Dharmojono. 2001. Kapita Selekta Kedokteran Veteriner. Edisi ke-1. Jakarta:
Pustaka Populer Obor.
Jones TC, Ronald DH dan Norval WK. 1996. Veterinary Pathology. Ed. 6. New
Mexico: William & Wilkins.
Sendow I. 2003. Canine Parvovirus pada Anjing. Balai Penelitian Veteriner,
Bogor. WARTAZOA Vol. 13 No. 2
Smith HA dan Thomas CJ. 1962. Veterinary Pathology 2nd edition. Washington
DC, USA

Tilley & Smith. 2000. The 5-Minute Veterinary Consult Canine and Feline. Vol.
2. Tilley & Smith, Inc.

www.cvm.tamu.edu/acvp/CanineDistemper [20 Maret 2009]

www.michigan.gov [20 Maret 2009]

www.radil.missouri.edu [20 Maret 2009]